Anda di halaman 1dari 30

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Tanggal : RINCIAN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG LINGKUNGAN

HIDUP TAHUN ANGGARAN 2012 I. PEMANTAUAN KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP a. Peralatan laboratorium permanen Pengadaan peralatan laboratorium permanen baik untuk uji kualitas air, udara dan tanah wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (1) huruf a, b, c, dan d PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012. b. Peralatan laboratorium lainnya 1. Peralatan sampling air portable Peralatan sampling air portable diperlukan untuk pengujian sampel kualitas air untuk parameter DO, BOD, COD, TSS, Amonia, pH dan fecal coliform. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 2. Peralatan sampling udara ambien. Peralatan sampling udara ambien paling sedikit dapat digunakan untuk mengambil sampel untuk parameter: Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Ozon (O3), Timah Hitam (Pb), Total Suspended Particulate (TSP), Particulate Matter dengan ukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dan Particulate Matter dengan ukuran kurang 2,5 mikron (PM2,5). Pengadaan peralatan sampling udara ambien sebaiknya dilengkapi dengan alat ukur meteorologi yang dapat mengukur : kecepatan angin, arah angin, temperatur udara, kelembaban udara dan solar radiation (radiasi sinar matahari). Disamping itu peralatan sampling udara ambien diperlukan untuk melengkapi peralatan pengujian di laboratorium yang sudah tersedia sebelumnya. Bagi kota-kota yang sudah memiliki alat pemantauan kualitas udara ambien otomatis (AQMS). Pengadaan peralatan ini wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (1) huruf a, b, c, dan d PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 1

Peralatan Sampling Udara Ambien (Manual) No Parameter 1. Sulfur dioksida (SO2) 2. Nitrogen dioksida (NO2) 3. Ozon (O3)/ Oksidan fotokimia (Ox) 4. Total Suspended Particulate (TSP) 5. Particulate Matter < 10 um (PM10) 6. Peralatan Sampling Botol Impinger Midget Impinger Botol Impinger High Volume Air Sampler (HVAS) High Volume Air Sampler dilengkapi dengan Gent Sampler Gent Sampler

Particulate Matter < 2,5 Um (PM2,5)

3. Peralatan sampling udara emisi sumber tidak bergerak. Peralatan sampling udara emisi sumber tidak bergerak perlu diadakan terutama bagi kabupaten/kota yang mempunyai banyak industri, pertambangan, dan pembangkit listrik. Peralatan yang perlu diadakan adalah peralatan sampling yang mampu untuk melakukan pengukuran parameter : SO2, NOx, Amonia (NH3), CO, Total partikulat, dan parameter logam. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 4. Peralatan pengujian kualitas tanah Untuk pemantauan kerusakan tanah akibat produksi biomassa diperlukan seperangkat peralatan yang dapat digunakan untuk mengukur parameter fisik, kimia dan biologi tanah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa, Pengadaan alat terdiri dari alat pengambilan sampel tanah dan alat pengujian sampel tanah. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. c. Kendaraan operasional pemantauan dan pengawasan lingkungan Pengadaan kendaraan operasional pemantauan dan pengawasan lingkungan wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (2) huruf a dan b PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012.

II. PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengadaan Instalasi Pengolah Air Limbah Usaha Kecil dan Menengah (IPAL UKM). Pembangunan IPAL UKM dirancang sesuai dengan debit, konsentrasi dan kapasitas pengolahan air limbah sehingga memenuhi baku mutu lingkungan seperti pada Gambar 1 di bawah ini. Gambar 1 Contoh Lay Out IPAL UKM

2. Pengadaan IPAL Fasilitas Kesehatan Pembangunan IPAL fasilitas kesehatan dimaksudkan untuk mengolah air limbah yang dihasilkan dari kegiatan fasilitas kesehatan. 3. Pengadaan Pemusnah Limbah Infeksius Fasilitas Kesehatan Untuk memusnahkan limbah medis yang bersifat infeksius dan patologis seperti bekas jarum suntik dan potongan tubuh, digunakan prinsip insinerasi dengan menggunakan alat yang disebut incinerator. Secara sederhana proses insinerasi dapat digambarkan dalam skema berikut :

Gambar 2. Proses Insinerasi SUPPLAI ENERGI TERKONTROL


UDARA BAKAR TERKONTROL

LIMBAH INFEKSIUS

INCINERATOR

PANAS

PADATAN SISA

GAS BUANG

Limbah medis direaksikan dengan oksigen dari udara dengan bantuan suplai panas dari bahan bakar menghasilkan abu buang serta panas sisa pembakaran. Secara ideal reaksi kimia dari proses pembakaran adalah sebagai berikut : CxHyOz + (x+y/4-z/2) O2 x CO2 + y/2 H2O

Pembakaran dapat terjadi dengan sempurna jika tersedia cukup udara, bahan bakar tambahan untuk pembakar, dan waktu tinggal (time residence) untuk melangsungkan pembakaran. Titik nyala yang umumnya berkisar antara 200-500oC dicapai dengan pemberian panas yang disuplai oleh bahan bakar dari pilot burner di ruang bakar.

Gambar 3. Skema Incinerator

4. Pengadaan Pengolah Sampah dengan prinsip 3 R Pembangunan unit pengolah sampah terutama diarahkan dalam rangka penerapan prinsip 3R (reuse, recycle, recovery). Unit pengelolaan sampah, terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bak sampah; Tong sampah; Gerobak sampah; Alat daur ulang sampah; Alat pencacah sampah; Alat pencacah plastik; Alat pembuat biji plastik; 5

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Alat pemilah sampah; Bangunan rumah atap pengolah sampah; Kendaraan roda dua pengangkut sampah; Truck sampah; Kontainer sampah; Composter conveyor pemilah sampah; dryer; arm roll. Gambar 4. Contoh Lay Out Pengelolaan Sampah Organik

Gambar 5. Contoh Bangunan Unit Pengolah Sampah

Gambar 6. Contoh Alat Transportasi Sampah

III. PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) A. Pembangunan Taman Hijau/Taman Kehati Pembangunan taman hijau /taman kehati merupakan salah satu upaya untuk menangkap gas CO2 yang merupakan salah satu GRK dan sekaligus sebagai paru-paru kota. Kegiatan pembangunan Taman Kehati juga bertujuan sebagai pencadangan sumber daya alam hayati guna penyelamatan tingkat ancaman sangat tinggi terhadap kelestariaannya. Taman Kehati mempunyai fungsi antara lain : a.Sumber bibit, b.Pengembangbiakan tumbuhan dan satwa pendukungnya, c.Sumber genetik tumbuhan dan tanaman asli/lokal yang dibudidayakan secara tradisional, d.Sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, e.Ruang terbuka hijau, f. Penambahan tutupan vegetasi. Berikut contoh taman kehati sebagaimana gambar 7 di bawah ini: Gambar 7. Contoh Gambar Taman Hijau

B. Pengadaan Unit Biogas. Penanganan limbah organik yang baik dapat memperbaiki lingkungan dan menghasilkan nilai tambah ekonomi misalnya bagi para peternak dan petani. Pemanfaatan limbah organik yang tadinya tidak bermanfaat menjadi berhasil guna menjadi gas metan sebagai energi, pupuk cair dan pupuk padat organik. Sumber pencemar yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas, antara lain: 1. kotoran ternak sapi , kerbau dan babi; 2. eceng gondok; 3. sisa proses pembuatan tahu dan ampas tahu; Dalam pembuatan biogas pertimbangan desain teknis perlu dilakukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan desain dan model instalasi biogas, antara lain: 1. desain sederhana, dalam hal konstruksi, operasional dan perawatan; 2. bahan baku mudah didapat, jenis bahan baku yang dapat digunakan adalah bahan bangunan dan bahan fabrikan (fiber); 3. mudah diperbaiki, aman dan bila memungkinkan mudah dipindahkan; 4. harga terjangkau oleh petani dan peternak, dan umur pemakaiannya lama.

Gambar 8. Contoh Desain Biodigiser (eceng gondok)

Desain Biodigister Tampak Samping dan Atas

Gambar 9. Contoh Rencana Desain Biodigiser (Kotoran Sapi)

10

Instalasi Penglolahan Air Limbah (IPAL) Biogas Industri Tahun dan Ternak Gambar 10. Prinsip kerja Teknologi Biogas

Gambar 11. Teknis IPAL Biogas Industri Tahu

11

Investasi awal yang diperlukan untuk membangun sarana fisik IPAL biogas industri tahu diperkirakan sebesar Rp. 9.5 juta per meter kubik bangunan, ditambah dengan biaya pemipaan Rp.125.000 per meter (LPTP, 2010). Penentuan kapasitas IPAL yang dirancang didasarkan pada volume air limbah produksi tahu dikalikan dengan waktu tinggal yang biasanya 3 hari, sebagai berikut: Volume limbah per hari (m3/hari) = Jumlah bahan baku kedelai (kg/hari) x 15 liter Kapasitas IPAL (m3) = Volume limbah (m3/hari) x 3 hari waktu tinggal Investasi Bangunan IPAL (Rp) = Rp. 9.5 X Kapasitas IPAL (m3) Sedangkan biaya pembangunan biodigester ternak sapi tergantung pada bahan bangunan yang digunakan. Biodigester dengan bahan utama fero semen diperkirakan memerlukan biaya sebesar Rp.10 juta rupiah untuk setiap unit biodigester terkecil yang efesien untuk dibangun. Unit biodigester terkecil tersebut kurang lebih berukuran 4 m3 yang dapat manampung kotoran sapi maksimal 4 ekor. Gambar 12. Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan ferro semen

12

Gambar 13. Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan Fiber

Gambar 14. Gambar Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan Fiber

13

IV. PERLINDUNGAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP.

A. Sumur Resapan Dalam proses pembuatan sumur resapan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah komponen bangunan sumur resapan, persyaratan lokasi pembuatan dan persyaratan konstruksi/desain dari sumur resapan itu sendiri.
1) Komponen Bangunan Sumur Resapan : Saluran air sebagai jalan air yang akan dimasukkan ke dalam sumur; Bak kontrol yang berfungsi untuk menyaring air sebelum masuk sumur resapan; Pipa pemasukan atau saluran air masuk. Ukuran tergantung jumlah aliran permukaan

yang akan masuk;


Sumur resapan; serta Pipa pembuangan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan jika air dalam sumur

resapan sudah penuh.


2) Persyaratan Lokasi :

Sumur resapan dangkal harus berada pada lahan yang datar, tidak berada pada lahan yang berlerang, curam, atau labil; Sumur resapan dangkal dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimal 10 meter diukur dari tepi) dan berjarak minimum 1 meter dari pondasi bangunan; Lokasi sumur resapan yang akan dibuat supaya dicatat koordinat geografisnya yang meliputi: lintang dan bujur, ketinggian lokasi (dpl). Dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) atau dengan ekstrapolasi peta topografi yang tersedia. Data koordinat sumur resapan ini selanjutnya diperlukan untuk menyusun sistem basis data pengelolaan lahan dan air sekaligus memantau kinerja pelaksanaan kegiatan yang telah berjalan.
3) Persyaratan Konstruksi / Desain Teknis Sumur Resapan : Bentuk sumur resapan dangkal boleh bundar atau empat persegi. Sumur resapan dangkal harus diberi penutup, dapat menggunakan pelat beton

bertulang.
Air hujan yang masuk ke dalam sumur resapan dangkal harus melalui bak kontrol

sebagai sediment mengendap di bagian bawahnya.

14

Saluran air hujan yang masuk ke dalam sumur resapan dapat menggunakan pipa

berdiameter 6 inchi.
Jarak bak kontrol dengan sumur resapan dangkal kurang lebih 50 centimeter. kedalaman sumur resapan dangkal sekitar antara 2 10 meter diatas air tanah dangkal

(sesuai dengan kedalaman air tanahnya).


kontruksi bangunan pada dinding sumur resapan dangkal dapat menggunakan batako,

bata merah dengan komposisi ada sela-sela /pori-pori dengan kasar(pecahan bata merah, kerikil yang berongga). disusun secara berongga.

bahan yang

Bagian dasar sumur resapan dangkal diisi dengan pecahan batu, ijuk serta arang yang Bak kontrol dan sumur resapan dangkal dibersihkan setiap musim kemarau dan musim

penghujan dengan mengangkat bahan pengendap (arang aktif, pasir, kerikil dan ijuk). Gambar 15. Desain Konstruksi Sumur Resapan Dangkal

bak kontrol sedimen


Injuk Koral Pasir Arang Aktif

2-10 m tergantun g Jenis dan Lapisan Tanah


10-15 cm kerakal / koral

15

Gambar 16. Desain Sistem peresapan pada Saluran Air Hujan (Tampak Samping)

16

Gambar 17. Desain Tutup dan Buis Beton Sistem peresapan pada Saluran Air Hujan

Gambar 18. Desain Sistem peresapan pada Saluran Air Hujan (tampak atas).

17

Gambar 19. Desain Bak Kontrol Sistem peresapan pada Saluran Air Hujan.

Gambar 4 memperlihatkan desain yang unik pada buis beton yang ditanam pada bak/ sumur peresapan. Bentuk/tipe sistem peresapan ini sengaja didesain agar air yang masuk ke dalam sumur dapat segera diresapkan ke dalam tanah. Sehingga laju infiltrasi tanah menjadi lebih besar, selain itu desain ini juga memperhatikan kekuatan rancang bangun sistem peresapan itu sendiri. B. Lubang Resapan Biopori Lubang Resapan Biopori (LBR) adalah lubang silidris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 30 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang kemudian diisi sampah orgtanik untuk mendorong terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. Lokasi Pembuatan Lobang Resapan Biopori (LBR) dapat dibuat di halaman rumah, perkantoran, lapangan parkir, parit atau selokan yang berfungsi untuk aliran pembuangan air hujan saja, serta di lahan kebun dan areal terbuka lainnya.

18

Cara Pembuatan : 1. Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman 100 cm atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat dengan menggunakan bambu, pipa besi atau alat bor tanah. Jarak antar lubang 50 100 cm; 2. Mulut atau pangkal lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2- 3 cm, setebal 2 cm disekeliling mulut lubang; 3. Isi lubang LBR dengan sampah organik yang berasal dari dedaunan, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur; 4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang atau menyusut karena proses pelapukan; serta 5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil setelah 2 3 bulan. Gambar 20. Pembuatan lubang resapan dengan bor tanah atau Lubang Biopori

Membuat lubang dengan bor tanah

19

Jumlah LBR yang disarankan Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus : Intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (m2) laju resapan air perlubang (liter / jam). Contoh: Untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m bidang kedap perlu dibuat sebanyak : (50 x 100) : 180 = 28 lubang. Gambar 21. Peralatan dalam membuat LRB dan bahan pengisi LRB

20

C. Embung (Kolam Tampungan Air) Metode kolam tampungan drainase dalam skala besar sangat mudah untuk disosialisasikan melalui pola pemenuhan kebutuhan bahan urugan atau bahan galian C (Gambar 22). Pemerintah dan masyarakat dapat mencari lokasi tambang galian C, kemudian dikeruk. Hasil galiannya dipakai sebagai bahan urug, bekas galiannya dipakai sebagai kolam resapan air hujan sekaligus dapat dikembangkan untuk rekreasi. Cara ini banyak dipraktekkan di negara-negara maju sehingga dalam jangka waktu tertentu mereka mempunyai banyak sekali danau buatan dari tambang galian C. Di samping itu, konstruksi kolam dapat dibangun di areal permukiman. Gambar 22. Kolam penampung air hujan (embung) dan drainase ramah lingkungan pada pemukiman dan areal pertanian/perkebunan

bekas galian C yang dimanfaatkan sebagai kolam tampungan air (embung) sekaligus untuk rekreasi masyarakat

kolam konservasi di areal pertanian / perkebunan

. Selain di areal permukiman, dikenal juga kolam konservasi air hujan di areal pertanian (Gambar 8). Kelebihan air hujan yang jatuh di areal pertanian, termasuk limpasan dari jalan dan perkampungan di sekitar areal pertanian, dapat ditampung pada kolam-kolam penampungan, tidak langsung dibuang ke sungai. Pemerintah atau masyarakat dapat memanfaatkan tanah kas desa atau membeli beberapa hektar lahan untuk dijadikan kolam konservasi air hujan. Dimensi areal konservasi disesuaikan dengan luas daerah tangkapan air hujan yang akan dimasukkan ke kolam tersebut dan karakteristik air hujan. Perencanaan dimensi kolam dapat dilakukan dengan hitungan rumus-rumus drainase hujan aliran biasa.

21

Gambar 23. Kolam konservasi air hujan di areal pertanian

sawah / tegalan sempadan sungai sungai selokan menuju kolam kolam tampungan air

D. Penanaman Pohon di Sekitar Mata Air Penanaman pohon di sekitar sumber mata air yang berada di luar dan dalam kawasan hutan diutamakan jenis tanaman lokal yang berumur panjang. Namun demikian apabila ada alasan teknis lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (saran dari ahli) dapat menggunakan tanaman lainnya dari luar daerah. Umur dan besar bibit tanaman disesuaikan kondisi setempat. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Lokasi penanaman dapat berada di luar dan dalam kawasan hutan, dan harus berada di sekitar sumber atau mata air; Mudah terjangkau untuk akses pemeliharaan; Lahan untuk lokasi penanaman bukan milik perseorangan atau sejenisnya untuk memudahkan pengendalian; Koordinasi dengan instansi terkait.

Komponen kegiatan penanaman pohon di sekitar sumber mata air yang berada di luar kawasan hutan meliputi : 1) Pengadaan bibit tanaman; 2) Biaya penanaman; 3) Biaya pemeliharaan.

22

Gambar 24. Jarak tanam pohon di sekitar mata air

Mata Air

Jarak Tanam Pohon (3x3 meter, atau 4x4 meter, atau 5x5 meter)

Teknis pelaksanaan penanaman pohon di sekitar mata air : Pohon yang akan ditanam dipastikan memiliki ketinggian dan diameter batang yang mencukupi dan dapat hidup di lokasi penanaman; Tanam pohon yang sudah dipilih terlebih dahulu jenis pohonnya sesuai dengan kondisi dan karakteristik lokasi penanaman, masukkan kedalam lubang tanam yang telah disediakan terlebih dahulu; Gunakan jarak tanam yang ideal dan mencukupi untuk ruang tumbuh tanaman, bisa 3x3 meter, 4x4 meter, atau 5x5 meter (tergantung dari jenis pohon yang ditanam); Berikan pupuk organik (lebih direkomendasikan daripada pupuk jenis kimia) di sekitar lokasi penanaman pohon, dan siram dengan air secukupnya; Kemudian lakukan penjarangan dan penyiangan pohon dalam pemeliharaannya, untuk memastikan kondisi pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Pencacah Gulma (Enceng Gondok) dan Pembuatan Media Tanam (Bitumen)

E.

Pada dasarnya semua bahan organik yang mengandung unsur Karbon (C) dan Nitrogen (N) dapat dikomposkan. Bahan organik yang dimaksud antara lain jerami (limbah pertanian), tanaman air (Eceng Gondok, Azolla, Ganggang biru) kotoran ternak, limbah industri (padat dan cair), limbah rumah tangga (tinja, urine, sampah rumah tangga dan sampah kota). Pemilihan 23

bahan organik yang akan dikomposkan harus dilakukan dengan baik terutama dengan besarnya nisbah Karbon Nitrogen (C/N), karena nisbah C/N akan menentukan kecepatan/laju pengomposan. Bahan organik yang mempunyai nisbah C/N yang tinggi memerlukan waktu pengomposan yang cukup lama. Persyaratan agar terjadi pengomposan yang optimal adalah nisbah C/N antara 30 s/d 50. Dalam penuntun praktis ini bahan baku organik yang digunakan adalah Eceng Gondok, jerami dan kotoran ternak. Selain itu digunakan bahan lain yaitu EM4 untuk pasokan mikroorganisme. Gambar 25. Jerami dan Enceng Gondok sebagai material potensial untuk pembuatan pupuk organik

Peralatan yang Digunakan a. Peralatan Manual

(1). Sekop, cangkul atau garpu digunakan untuk pengadukan, pengumpulan dan penggeseran bahan kompos, pembalikan dan penempatan dalam wadah. (2). Ayakan / saringan digunakan untuk mengayak pupuk organik yang sudah matang, untuk mendapatkan ukuran yang diinginkan. (3). Parang atau sabit digunakan untuk pencacahan secara manual apabila bahan kompos berukuran besar. (4). Ember digunakan untuk pencampuran air dengan mikroorganisme pengaktif ataupun untuk perbanyakan mikroorganisme pengaktif. Pencampuran dapat dilakukan dalam gembor. (5). Gembor digunakan untuk menyiram bahan kompos dengan bahan pengaktif atau agar merata untuk menjaga kelembaban. (6). Sarung tangan, masker dan sepatu bot digunakan sebagai pelindung untuk menjaga kesehatan dengan semaksimal mungkin menghidari kontak langsung dengan bahan baku dan kompos. 24

(7). Timbangan digunakan untuk menyiapkan bahanbahan kompos dengan perbandinganperbandingan tertentu dan untuk menimbang pupuk organik yang dihasilkan. (8). Termometer digunakan untuk mengukur suhu pada saat proses pengomposan. Jika suhu terlalu tinggi maka harus dilakukan penurunan dengan cara pembalikan, atau dibuat ventilasi untuk aliran udara. (9). pH-meter digunakan untuk mengukur derajat kemasaman, yaitu dengan ditancapkan ke dalam campuran kompos dalam bak pengomposan. b. Mesin Pencacah Salah satu faktor yang menentukan kualitas kompos Eceng Gondok yang dihasilkan, adalah tingkat kehalusan pencacahan Eceng Gondok dan bahan baku lainnya. Semakin halus bahan-bahan sebelum dikomposkan, kualitas kompos yang dihasilkan cenderung semakin baik. Pencacahan dapat dilakukan misalnya dengan mesin pemotong rumput gajah, mesin penggiling, atau modifikasi keduanya. Pada umumnya mesin pencacah memiliki 3 bagian yaitu : motor penggerak (mesin diesel berkekuatan 8 PK, 10 PK dan seterusnya tergantung jumlah dan kapasitas penggilingan). Bagian pencacah/penggiling yang terdiri dari leher/ as roda, dan komponen yang bergerak yaitu pisau-pisau. Bagian tranmisi berupa sabuk (karet) yang dipasang dengan ketegangan tertentu, tidak terlalu kendor maupun terlalu kencang. Ada pula yang berupa gigi atau batang kaku. Gambar 26. Mesin pencacah dan penggiling (Dok: NM, 2005), (b) mesin pencacah, (c) pisau-pisau pencacah, (d) pencacahan, (e) hasil pencacahan (Dok: HM, 2006).
b

Mesin ini harus dioperasikan sesuai petunjuk pengopera-sian yang diinformasikan pada saat membeli atau dalam manual alat, serta harus dirawat bagianbagiannya sehingga pisaupisaunya tidak tumpul, mesin tidak berkarat dan macet, 25

sehingga dapat digunakan untuk waktu bertahun-tahun.

c.

Bak Pengomposan Agar mendapatkan hasil pupuk organik yang baik, bak pengomposan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1). Memiliki kapasitas volume, dan lingkungan yang diinginkan. (2). Terletak di tempat yang memungkinkan diterimanya sinar matahari sehingga tercapai suhu pengomposan yang diperlukan dan tertutup dari curah hujan. Bak pengomposan dapat berupa lubang yang digali di tanah, bak dari kayu atau bambu, bekas drum, bak dinding beton, ataupun bak pengomposan plastik yang telah dijual di pasaran.

Gambar 27. Contoh bak pengomposan dari bambu, dengan satu sisi yang dapat dibuka/ tutup dan (b) Contoh desain bak pengomposan dari beton, dengan sekat kayu yang dapat dibuka/tutup.

(a)

(b)

26

Gambar 28. Berbagai macam teknologi penghalus dan pengayak pupuk organik yang matang.

(a)

(b)

(d) Teknik Pembuatan Media Tanam dari Enceng Gondok a) Proses Pengomposan :

(e)

Pengomposan adalah suatu usaha pengolahan bahan organik secara biologi menjadi produk yang bersifat higienis dan humik, dapat memperbaiki struktur tanah dan memberikan zat makanan bagi tanaman. Pengomposan merupakan gabungan dari proses fisik, kimia dan enzimologi yang terjadi selama degradasi bahan organik dengan kondisi yang optimal. Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik maupun anaerobik. Pengomposan secara aerobik sering digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan serta tidak memerlukan kontrol proses yang sulit. Pengomposan secara aerobik membutuhkan mikroba aerob untuk mendegradasi bahan organik, sementara pengomposan anaerobik membutuhkan mikroba anaerobik. b) Perubahan Fisik : Selama proses pengomposan terjadi perubahan fisik dan kimia dari bahan yang dikomposkan. Perubahan warna di akhir pengomposan warna berubah menyerupai warna tanah. Perubahan suhu Perubahan suhu merupakan parameter bagi tingkat kegiatan perombakan bahan organik oleh mikroorganisme. Jika proses pengomposan terjadi dengan baik, suhu akan naik pada awal pengomposan kemudian turun, sampai akhir pengomposan suhu sedikit di atas suhu udara. Penyusutan volume dan pengurangan bobot. Penyusutan volume dan pengurangan bobot yang terjadi selama proses pengomposan disebabkan adanya proses 27

pencernaan oleh mikroorganisme. Selama proses ini bahan organik diuraikan menjadi unsur-unsur yang dapat diserap oleh mikroorganisme tersebut. Perubahan bau (kompos yang sudah matang tidak berbau, atau hampir berbau sama dengan tanah/humus). Perubahan struktur kompos (struktur kompos biasanya lepas, tidak lengket dan tidak menggumpal). c) Persiapan Bahan dan Penetapan Formula : Pemilihan dan penetapan formula bahan baku pupuk organik sangat penting agar memenuhi kriteria persyaratan terjadinya proses pengomposan yang ideal. Dalam hal pemilihan bahan baku Eceng Gondok, jerami dan kotoran ternak harus diperhatikan ukuran, kelembaban dan pembandingan bahan baku. Untuk memenuhi persyaratan ukuran yang ideal, Eceng Gondok dan jerami dapat dicacah dengan mesin pencacah. Sedangkan kotoran ternak yang digunakan dapat disesuaikan dengan potensi daerah misalnya kotoran ayam, sapi, kambing, kerbau atau guano (burung). Dalam hal penentuan formula bahan baku dapat dipilih beberapa alternatif antara lain: Eceng Gondok : kotoran ternak = 70%:30 % (dalam berat). Eceng Gondok : jerami : kotoran ternak 35% : 35% : 30% (dalam berat). Sebagai pengaktif mikroorganisme dapat digunakan EM4 atau produk sejenis lainnya yang mudah diperoleh di pasaran. d) Pengemasan : Pengemasan pupuk organik biasanya dilakukan untuk keperluan komersial atau jika akan disimpan. Pengemasan pupuk organik untuk keperluan komersial dimaksudkan untuk: Memudahkan bongkar muat Menjaga kualitas pupuk Agar kelihatan menarik F. Pencegah Longsor Tebing Sungai Ramah Lingkungan

Tebing sungai yang merupakan bagian dari sempadan sungai, merupakan komponen ekosistem sungai yang sangat penting dan perlu kita jaga kelestariannya. Terdapat 2 (dua) mahzab besar dalam hal pengelolaan dan penanganan permasalahan tebing sungai, diantaranya adalah melalui konsep sipil teknis yang salah satunya melalui penurapan sungai; serta konsep ekohidraulik sungai yang lebih pro-lingkungan. 28

Gambar 29. Konsep penanganan bantaran sungai melalui sipil teknis penurapan versus konsep eko-hidraulik

Gambar 30. Penggunaan tebing turap versus konstruksi eko-hidraulik

Dikes, non eco-hydraulic construction

Eco-hydraulic construction

29

Kombinasi yang dapat digunakan dalam usaha perlindungan tebing sungai adalah dengan melakukan penurapan tebing sungai tetapi dengan mengkombinasikannya dengan penanaman pohon, seperti dapat terlihat pada di bawah ini : Gambar 31. Penerapan konsep eko-hidraulik dalam penurapan tebing sungai

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

BALTHASAR KAMBUAYA

30