Anda di halaman 1dari 1

Analisa Kasus (Waham) Tn. J (27 tahun), single.

Lulusan salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup terkemuka di Bandung, dibawa ke RSJ oleh kedua orangtuanya karena diduga mengalami gangguan kejiwaan setelah dia mengamuk di rumahnya. Hari Jumat tanggal 11 November dibawa ke RSJ dan selama 2 hari diikat karena mengamuk, setelah 2 hari ikatannya dilepaskan. Tn.J mengatakan bahwa dirinya baik dan sehat-sehat saja, jiwanya tidak bermasalah. Saat dilakukan anamnesa, klien mampu menjawab sejumlah pertanyaan yang dilontarkan oleh perawat. Namun, setelah digali perasaan klien oleh perawat dapat diketahui kalau klien merasa tidak nyaman berada di RSJ dan merasa memang dia tidak seharusnya berada di sana. Klien juga menutup diri dan tidak ingin sampai teman-temannya tahu dia berada di RSJ. Di tengah anamnesa, klien sempat bercerita tentang siapa dirinya dengan rasa percaya diri dan terlihat agak bangga, saat itu juga terkadang ada beberapa hal pertanyaan dari perawat yang tidak dapat dijawabnya dengan tepat. Tn. J merasa tidak percaya dengan adanya perawat di RSJ trsebut, karena baginya yang dia butuhkan untuk mengatasi permaslahan jiwanya adalah seorang psikiater atau psikolog bukan seorang perawat. Ketika perawat mencoba menggali hal ini, klien mengatakan Perawat tugasnya hanya merawat, tidak ada hubungannya dengan psikis, yang saya butuhkan adalah psikolog karena dia punya rumusnya, seperti saya orang sipil yang punya rumus untuk membuat jembatan.