Anda di halaman 1dari 13

BAB I PERHITUNGAN SKALAR DAN VEKTOR

1.1.

Pendahuluan Fisika berasal dari bahasa Yunani yang berarti Alam. Karena itu Fisika

merupakan suatu ilmu pengetahuan dasar yang mempelajari gejala-gejala alam dan interaksinya yang terjadi di alam semesta ini. Hal-hal yang dibicarakan di dalam fisika, selalu didasarkan bersifat pada pengamatan Ilmu Fisika eksperimental mendukung dan pengukuran yang perkembangan teknologi, kuantitatif.

enginering, kimia, biologi, kedokteran dan lain-lain.

Dalam Fisika selalu dilakukan

pengukuran. Mengukur berarti membandingkan sesuatu besaran yang diukur dengan besaran standar yang telah didefinisikan sebelumnya . Misalnya panjang suatu batang besi adalah 5 meter, artinya bahwa panjang batang besi tersebut 5 kali besar standar panjang yang telah didefinisikan. 1.2. Standar Untuk Besaran Panjang, Massa, dan Waktu Hukum-hukum fisika dapat dinyatakan dalam besaran-besaran dasar. Besaranbesaran dasar mempunyai definisi yang jelas. Besaran-besaran dasar disebut juga besaran Pokok. Di dalam mekanika, ada tiga besaran pokok, yaitu Panjang (L), Massa (M), dan Waktu (T). Oleh karena itu semua besaran-besaran di dalam mekanika dapat dinyatakan dengan besaran- besaran pokok tersebut. Besaran-besaran di dalam fisika pada umumnya merupakan kombinasi dari beberapa besaran yang lebih mendasar. Misalnya, besaran kecepatan merupakan kombinasi dari besaran panjang dan besaran waktu. Yang dimaksud dengan besaran dasar atau besaran pokok adalah besaran yang didefinisikan dan kemudian dijadikan sebagai acuan pengukuran. 1.2.1. Standar satuan panjang Sebelum tahun 1960, standar satuan panjang didefinisikan sebagai panjang antara dua goresan pada suatu batang terbuat dari Platina-Iridium yang disimpan pada suatu

ruangan yang terkontrol kondisinya standar ini sudah ditinggalkan karena beberapa alasan, antara lain karena ketelitian dari standar ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menuntut ketelitian makin tinggi. Setelah standar panjang di atas ditinggalkan pada tahun 1960, didefinisikan kembali standar panjang baru yaitu : Satu meter didefinisikan sebagai 1 650 763,73 kali panjang gelombang cahaya oranye merah yang dipancarkan oleh lampu Krypton-86. Pada tahun 1983, standar panjang ini didefinisikan kembali, yaitu : Satu meter didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh cahaya di dalam vakum selama waktu 1/299.791.458 detik. Standar ini yang berlaku hingga kini. Dari definisi yang terakhir ini, maka dapat kita tetapkan bahwa kecepatan cahaya di dalam vakum adalah 299 792 458 meter per sekon. 1.2.2. Standar satuan massa Standar untuk satuan massa sistem Internasional adalah kilogram (kg). Massa sebesar 1 kilogram didefinisikan sebagai masa sebuah benda berbentuk silinder yang terbuat dari platina-iridium. Masa standar ini berbentuk silinder dengan diameter 3,9 cm dan tinggi 3,9 cm. Kilogram standar ini disimpan di Lembaga Berat dan Ukuran Internasional, di Sevres, Prancis dan ditetapkan pada tahun 1887. Duplikasi dari kilogram standar ini disimpan di National Institute of Standars and Technology (NIST) di Gaithersburg, Md. Bila kita mempunyai benda bermassa 5 kg, berarti benda tersebut mempunyai massa 5 kali massa standar di atas. 1.2.3. Standar satuan waktu Sebelum tahun 1960, waktu standar dinyatakan dalam hari matahari rata-rata pada tahun1900. Sehingga satu detik didefinisikan sebagai matahari. Pada tahun 1960 satu detik didefinisikan kembali, hal ini dilakukan untuk dapat memperoleh ketelitian yang tinggi, yaitu dengan menggunakan Jam atom. Standar ini didasarkan pada prinsip transisi atom (proses berpindahnya atom dari suatu tingkat energi ke tingkat energi yang lebih rendah). Dalam alat ini, frekuensi transisi atom dapat diukur dengan ketelitian sangat tinggi yaitu 10-12. Frekuensi ini tidak bergantung pada (1/60)x(1/60)x(1/24) hari

lingkungan dimana jam atom ini berada. Oleh karena itu satu detik didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh atom Cesium untuk bergetar sebanyak 9 192631 770 kali. Dengan menggunakan jam atom ini, waktu hanya berubah 1 detik setiap 300 000 tahun. 1.3. Besaran dan Dimensi Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Dalam fisika besaran terbagi atas besaran pokok, besaran turunan dan besaran pelengkap. 1.3.1 Besaran Pokok dan Besaraan Turunan Besaran pokok adalah besaran yang tidak tergantung pada besaran lain dan besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran- besaran pokok. Pada tahun 1960, suatu komite internasional telah menetapkan 7 besaran yang merupakan besaran pokok berdimensi dan 2 besaran pokok tidak berdimensi (besaran pelengkap). Sistem tersebut dikenal sebagai System International (SI). Adapun besaran-besaran pokok yang ditetapkandi dalam Sistem International (SI) tersebut adalah : Tabel 1: Besaran pokok, satuan, dan dimensinya menurut Sistem Internasional (SI) No 1 2 3 4 5 6 7 Besaran Pokok Panjang massa waktu kuat arus listrik suhu intensitas cahaya jumlah zat Satuan meter kilogram sekon ampere kelvin mol kandela (lilin) Singkatan m kg s A K Mol Cd Dimensi L M T I N J

Tabel 2 : Besaran pokok yang tidak berdimensi (besaran Pelengkap) No 8 9 Besaran Pokok Sudut datar Sudut ruang Satuan Radian Steradian Singkatan Rad Sr Dimensi -

Contoh dari besaran turunan adalah: kecepatan, percepatan, gaya, usaha, daya, volume, massa jenis dan lain-lain. 1.3.2 Dimensi Dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran pokok. Dimensi suatu besaran dinyatakan dengan lambang huruf dan diberi tanda kurung persegi (lihat tabel 1). Dengan mengetahui dimensi dan satuan dari besaran-besaran pokok, maka dengan menggunakan analisis dimensional dapat ditentukan dimensi dan satuan dari besaran turunan.

No 1 2 3

Besaran Turunan Luas Volume Massa jenis

Rumus Panjang x lebar Panjang x lebar x tinggi massa volume


perpindahan waktu kecepa tan waktu

Dimensi [L]2 [L]3 [M][L]-3

Kecepatan

[L][T]-1

5 6 7

Percepatan Gaya Usaha dan energi

[L][T]-2 [M][L][T]-2 [M][L]2[T]-2

massa x percepatan gaya x perpindahan


gaya luas

Tekanan

[M][L]-1[T]-2

Daya 9 Impuls dan Momentum

usaha waktu

[M][L]2[T]-1 gaya x waktu [M][L][T]-1

10

1.4 Besaran Skalar dan Besaran vektor: Besaran skalar adalah besaran yang hanya mempunyai besar saja (tanpa mempunyai arah). Contoh: massa, panjang, waktu dan lain-lain. Sedangkan besaran vektor adalah besaran yang mempunyai besar dan arah. Contoh: kecepatan, percepatan, gaya dan lain-lain. Menyatakan besaran vektor harus dengan angka yang menunjukkan besarnya dan menentukan kemana arahnya. Jika digambarkan dengan vektor, panjang vektor menyatakan besar dan arah tanda panah menyatakan arah besaran vektor. Operasi matematika untuk kedua besaran ini mempunyai cara yang berbeda. 1.4.1. Penjumlahan Vektor: Dalam menetukan nilai dan arah vektor resultan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode grafis dan metode analitis. Metode Grafis: Dengan menggunakan metode segitiga dan poligon, kita dapat melukis vektor resultan dari dua buah vektor atau lebih. Dari gambar vektor resultan tersebut, kita dapat menentukan besar dan arah vektor resultan dengan melakukan pengukuran (bukan menghitung). Cara menentukan vektor resultan seperti ini disebut metode grafis. Langkah-langkah menentukan besar dan arah vektor resultan dengan metode grafis, adalah sebagai berikut : 1. Tetapkan sumbu X positif sebagai acuan menentukan arah. Ingat, sudut positif diukur dengan arah berlawanan arah jarum jam, sedangkan sudut negatif diukur dengan arah searah jarum jam. 2. Gambar setiap vektor yang akan dijumlahkan. Arah vektor digambar terhadap sumbu x positif dengan menggunakan busur derajat

3. Gambar vektor Resultan dengan metode segitiga (untuk 2 vektor) dan metode poligon (lebih dari 2 vektor) 4. Ukur panjang vektor Resultan dengan mistar, sedangkan arah vektor Resultan diukur terhadap sumbu x positif dengan busur derajat Contoh soal : 1. Tentukan besar dan arah vektor resultan dari vektor perpindahan A sepanjang 20 m dengan arah -30o terhadap sumbu x positif dan vektor perpindahan B sepanjang 30 m dengan arah +45o terhadap sumbu x positif. Petunjuk : Kita harus menetapkan skala panjang terlebih dahulu. Setelah itu, gambar vektor A dan B secara terpisah. Terakhir, gambar vektor resultan R=A+B dengan metode segitiga atau poligon, lalu kita menentukan besar dan arahnya Panduan solusi : Langkah 1, misalnya kita menetapkan skala panjang vektor perpindahan 5 m = 1 cm (catatan : anda dapat menetapkan skala sesuai dengan kemauan anda, penetapan skala di atas hanya sebagai contoh). Dengan demikian, besar perpindahan 20 m digambar dengan panjang vektor 4 cm (ingat, 20 : 5 = 4), dengan arah -30o terhadap sumbu x positif (gambar a). Langkah 2, gambar vektor perpindahan B (besarnya 30 m) dengan panjang tanda panahnya 6 cm (ingat, skala yang kita tetapkan 5 m = 1 cm, jadi 30 m = 6 cm ) dan arahnya sebesar 45o terhadap sumbu x positif. (gambar b). Lihat gambar di bawah.

Langkah 3, gambar vektor resultan R = A + B (gambar c)

Langkah 4, ukur panjang vektor R dengan mistar dan arah vektor R dengan bujur sangkar. Besar vektor R diperoleh dengan mengalikan panjang vektor R dengan skala panjang vektor (Catatan : menentukan besar dan arah vektor Resultan dengan metode grafis merupakan salah satu pendekatan. Ketelitian hasil yang diperoleh juga sangat bergantung pada skala gambar, ketelitian mistar, busur derajat serta ketepatan anda dalam menggambar dan membaca skala. Jika anda ingin menentukan besar dan arah vektor Resultan secara lebih tepat, dapat digunakan perhitungan matematis (bukan dengan pengukuran), yakni menggunakan metode analitis) Metode Analitis: Dalam menentukan besar dan arah vektor Resultan dengan metode analitis, kita dapat menggunakan 2 cara yaitu menggunakan Rumus Cosinus dan menggunakan Vektor Komponen. Kita meninjau vektor perpindahan yang segaris kerja. Misalnya kamu berpindah sejauh 200 m ke arah timur (vektor A), lalu berjalan kembali arah barat sejauh 300 m (vektor B).berapakah perpindahan total yang kamu lakukan dihitung dari kedudukan awalmu ? Panduan Jawaban : Untuk vektor2 yang segaris kerja, arahnya dapat dibedakan dengan memberi tanda + dan -. Jika kita tetapkan arah timur bertanda +, maka arah barat bertanda -. Berdasarkan ketetapan kita tadi, maka besar vektor A = +200 m dan besar vektor B = -300 m. dengan demikian besar vektor Resultannya adalah : R = A + B = (+200 m) + (-300 m) = 200 m 300 m = -100 m (tanda hanya menunjukan bahwa arah vektor Resultan ke barat atau sesuai dengan arah vektor B)

Menentukan vektor Resultan Pada Segitiga Siku-siku Dari kedudukan awalmu, kamu berjalan ke timur sejauh 300 m (vektor A), lalu berbelok ke selatan sejauh 400 meter (vektor B). Tentukan perpindahan total! Panduan jawaban : Terlebih dahulu kita tetapkan skala perpindahan, misalnya 100 m = 1 cm. dengan demikian, perpindahan ke timur sejauh 300 m digambar dengan panjang vektor 3 cm, sedangkan perpindahan ke selatan sejauh 400 m digambarkan 4 cm, lihat gambar berikut:

Vektor resultan dapat kita tentukan besarnya dengan rumus Phytagoras dalam segitiga siku-siku.

Jadi, besar vektor Resultan = 500 m Menentukan arah vektor Resultan Kita sudah mengetahui besar vektor Resultan. Bagaimana dengan arah vektor Resultan tersebut? untuk menentukan arah vektor Resultan terhadap salah satu vektor komponennya, kita menggunakan rumus Sinus, Cosinus dan Tangen pada segitiga.

Menentukan Vektor Resultan dengan Rumus Cosinus Untuk menghitung resultan dua vektor yang tidak segaris kerja dan tidak saling tegak lurus bisa menggunakan rumus cosinus. Rumus Cosinus yang digunakan untuk menghitung resultan besar dua vektor yang arahnya sembarang adalah:

Dua vektor F1 dan F2 seperti gambar:

Untuk menentukan arah vektor resultan dapat dihitung dengan menggunakan aturan sinus:

Contoh soal : Dua vektor F1 dan F2 memiliki pangkal berhimpit, di mana besar F1 = 4 N dan besar F2 = 3 N. jika sudut yang dibentuk kedua vektor adalah 60o, berapakah besar dan arah vektor resultan ?

Arah vektor:

Menentukan Vektor resultan dengan vektor Komponen Dalam menggambarkan sesuatu, kita selalu menggunakan koordinat x dan y (untuk dua dimensi) atau koordinat xyz (untuk tiga dimensi). Nah, apabila sebuah vektor membentuk sudut terhadap sumbu x positif, pada bidang koordinat xy, maka kita bisa menguraikan vektor tersebut ke dalam komponen sumbu x atau komponen sumbu y. kedua vektor komponen tersebut biasanya saling tegak lurus. Untuk memudahkan pemahaman anda, kita gambarkan sebuah vektor pada bidang koordinat xy, sebagaimana tampak pada gambar di bawah:

Besar vektor komponen Fx : Besar vektor komponen Fy : Besar vektor Resultan F:

Fx = F cos Fy = F sin

Arah vektor ():