Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Asam Terepthalat atau 1,4 benzene dicarboxylic acid dengan rumus molekul C6H4(COOH)2 merupakan salah satu senyawa berupa kristal putih yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri serat sintetis. Bahan ini merupakan produk turunan dari para-xylene yang selanjutnya melalui proses polimerisasi dengan ethylen glikol akan menghasilkan serat poliester (polyester fiber) untuk keperluan industri tekstil. Hal ini menjadikan konsumsi terbesar TPA dilakukan oleh industri tekstil.

1.2 Sejarah Proses Asam Terephthalat bukan menjadi bahan industri kimia yang penting setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu, serat fiber yang dibuat dari poli(etilena terphthalat) dikomersialisasikan oleh Industri Kimia Imperial di Inggris pada tahun 1949 dan Du Pont di Amerika pada tahun 1953. Kedua perusahaan tersebut memproduksi polimer yang dibutuhkan untuk operasi fiber dari dimetil terephthalat dan etilen glikol. Asam terephthalat diproduksi dari oksidasi larutan asam nitrat dari p-xylene, dan kedua perusahaan tersebut menggunakan teknologi yang sama. Versi dari proses oksidasi asam nitrat, yang sudah lama tidak digunakan secara komersial, termasuk penggunaan udara pada langkah pertama untuk mengurangi konsumsi asam nitrat. Meskipun dimetil tereftalat digunakan secara luas untuk produksi poli(etilena tereftalat), penggunaan polimer kelas asam tereftalat menawarkan keuntungan biaya yang berbeda untuk produsen. Secara khusus, proses poliester yang didasarkan pada tereftalat harus dirancang untuk pemulihan metanol yang merupakan produk samping esterifikasi. Proses yang dapat dibandingkan yang didasarkan pada asam tidak memerlukan desain tersebut. Selain itu, asam tereftalat memberikan hasil yang lebih tinggi dari poliester per kilogram dari bahan awal, dan etilena glikol kurang dibutuhkan selama poliesterifikasi yang mengurangi ukuran aliran daur ulang dan meningkatkan kualitas akhir polimer.

Polimer kelas asam tereftalat menjadi tersedia secara komersial dari Amoco Chemicals Corporation, yang merupakan anak perusahaan dari Perusahaan Minyak Standars dari Indiana, pada tahun 1965. Proses Amoco didasarkan pada oksidasi pxilena, tetapi unit pemurnian terpisah digunakan untuk mencapai kemurnian produk yang dibutuhkan oleh produsen poliester. Meskipun Amoco teknologi adalah yang paling populer, proses lain telah dikembangkan.

I.3 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk Sifat Fisis dan Sifat Kimia Bahan Baku dan Produk I.3.1 Bahan baku: Paraxylene Sifat Fisis Berat molekul, BM, gram/mol Titik didih normal, Tb (1 atm), oC Titik beku normal, Tf (1 atm), C Spesific gravity, , (kilogram/l) Indeks refraksi, n20 D Panas Pembakaran (25oC ), Hc, kkal/mol Panas penguapan pada Tb, Hv, kkal/mol Panas pembentukan, Hf , kkal/mol Suhu kritis, Tc C Tekanan kritis, Pc, atm
o o

: 106,168 : 138,7 : 13,263 : 0,8657 : 1,49582 : -1088,16 : 8,6 : 5838 : 343,2 : 34,74

Sifat Kimia Dealkilasi Dealkilasi xylene akan membentuk senyawa dengan BM yang lebih rendah. Reaksi dealkalinasi xylene dengan hydrogen terjadi pada suhu 590o-680oC dan pada tekanan 10-40 atm. Perbandingan antara hydrogen dengan senyawa hidrokabon adalah 3:1 Reaksi : C6H4(CH3)2 + H2 C6H5CH3 + H2 ==> ==> C6H5CH3 + CH4 C6H6 + CH4

Oksidasi Oksidasi paraxylene pada fase cair berlangsung pada suhu 100-300oC dan tekanan operasi yang digunakan bervariasi sampai dengan 40 atm. Umumnya digunakan udara sebagai senyawa oksidator dan reaksinya bersifat eksotermis Reaksi : C6H4(CH3)2 + 3O2 Pirolisis Pirolisis paraxylene akan membentuk produk paraxylene (CH2C6H4CH2) pada suhu diatas 1000oC. Produk ini merupakan prototype dari senyawa hidrokarbon yang dikenal dengan nama chicibabin hidrokarbon. Ammoksidasi Reaksi antara paraxylene dengan ammonia dinamakan reaksi ammoksidasi. Reaksi ini terjadi pada suhu tinggi ( 700-950oC) dan tekanan 5-30 atm. NH3 + udara + CH3C6H4CH3 I.3.2 Solvent Asam Terephtalat Dalam pembuatan Asam terephtalat digunakan asam asetat sebagai solvent. Sifat Fisis Asam Asetat Berat molekul, BM, gram/mol Titik didih normal, Tb (1 atm), C Spesific gravity, , (kilogram/l) Indeks refraksi, n20 D Panas Pembakaran (25oC ), Hc, kkal/mol Panas penguapan pada Tb, Hv, kkal/mol Panas pembentukan, Hf , kkal/mol Suhu kritis, Tc C Tekanan kritis, Pc, atm Sifat kimia a. Asam asetat bereaksi dengan alkohol membentuk senyawa ester, contohnya butil asetat. Butil asetat
o o

==>

C6H5CH3(COOH)2 + 2H2O

==>

CH3C6H4CN + H2O

: 60,052 : 117,8 : 0,8657 : 1,37182 : -209,4 : 5810 : -116,2 : 321,4 : 57,4

CH3COOH psi. b. Halogenasi

==>

CH2=CO + H2O

Asam Asetat membentuk asetat anhidrid pada suhu 40-60oC dan tekanan 60

Substitusi pada grup methyl membentuk di, tri chloro acetic jika gas chlorine dilewatkan pada asam asetat panas. c. Asam Asetat bereaksi dengan ammonia membentuk amida CH3COOH + NH3 CH3COOH + NH3 ==> CH3CONH2 + H2O CH3CN + 2H2O

d. Asam asetat bereaksi dengan amida membentuk nitril ==>

I.3.3 Sifat Fisis dan Kimia Asam Terephtalat

Rumus Bangun Asam Terephthalat Sifat Fisis Wujud Bentuk Warna Bau Berat molekul, gram/mol Titik sublim, Ts, oC Panas sublimasi, Hs, kJ/mol Kapasitas panas, Cp, J/kg K Kerapatan massa 25oC, , kg/L

Wujud Asam Terephthalat

: Padat : Kristal : Putih : Tidak berbau : 166,131 : 404 : 142 : 1202 : 1,510

Panas pembakaran, Hc, (25oC, kJ/mol) Panas penguapan pada Td, Hv, kJ/mol Panas pembentukan, Hf, (25oC, kJ/mol) Kelarutan dalam solvent (gr/100 gr solvent) Solvent Air Metanol Asam asetat 25 oC 0,0017 0,1000 0,0130 150 oC 0,2400 3,1000 0,3800

: 3223 : 57,3 : -816

200 oC 1,7000 1,5000

250 oC 12,6000 5,7000

Sifat Kimia
o

Reaksi asam terepthalat dengan thionil klorida membentuk senyawa klorida asam. (HOOC)C6H4(COOH) + 2 SOCl2 (ClCO)C6H4(COCl)

Chlorine, bromine, dan iodine, bereaksi dengan asam terepthalat dalam larutan asam sulfat dengan penambahan asam tetrahalogen membentuk heksahalogen benzene.

Asam terepthalat bereaksi dengan ethylene glycol menghasilkan polyethylene terepthalat. 1,4C6H4(COOH)2 + HOCH2CH2OH asam terepthalat ethylene glycol OH-(- CH2CH2O2(C6H4CO2)NCH2CH2-)-OH polyethylene terepthalat

I.4 Kegunaan Asam Terephthalat 1. Dalam reaksi polimerisasi menggunakan ethylene glycol akan menghasilkan serat polyester dengan proses pemintalan leleh, dimana reaksi dari asam tereftalat dengan etilena glikol akan dihasilkan chip serat yang padat berbentuk butiran selanjutnya akan dilelehkan dan dilakukan proses penarikan untuk menghasilkan serat tekstil.

2. Melalui proses polimerisasi ethylene glycol menghasilkan serat polyester atau polyester fiber sebagai bahan baku industri kecil, sedangakan polyester yang dilapisi emulsi kimia dapat digunakan sebagai x-ray dan microfilm 3. Produksi herbisida 4. Produksi bahan baku dalam industri cat 5. Salah satu bahan pembuatan botol minuman 6. Bahan baku dalam pembuatan minyak pelumas berkualitas tinggi 7. Sebagai pengisi dalam beberapa granat asap militer, terutama Amerika M83 granat asap yang menghasilkan asap putih tebal ketika dibakar. 8. Bahan baku polymer filament yarn

Karena pentingnya asam terephthalat dalam industri kimia, banyak para konsumen atau pasar yang menggunakan produk asam terphthalat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data dari Biro Pusat Statistik : Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Ekspor (kg) 202711030 27166263 19060151 33580401 51631394 Impor (kg) 17151725 7643424 9376643 30851812 49882096

Dari data diatas dapat jumlah impor dan ekspor asam terephthalat terus mengalami peningkatan, artinya kebutuhan akan asam terephthalat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sehingga ada peluang untuk mendirikan pabrik asam terephthalat di Indonesia.

BAB II RANCANGAN PROSES

II.1 Proses Pembuatan II.1.1 Mekanisme Reaksi dan Kondisi Operasi secara Umum Dasar reaksi yang berlangsung adalah oksidasi katalitik dari p-xylene membentuk asam terepthalat (TPA). Mekanisme reaksi ini mengikuti reaksi radikal bebas. Reaksi yang terjadi secara stoikiometri ditulis sebagai berikut:

Reaksi pembuatan asam terepthalat dari p-xylene dan oksigen ini dapat menggunakan katalis cobalt(II) asetat dalam fasa cair, mangan atau Natrium bromida. P-xylene dilarutkan ke dalam solvent, misalnya asam asetat. Kemudian larutan di masukan ke reaktor. Tekanan pada reaktor sekitar 2000 kPa (290 psi). Reaksi terjadi secara eksotermik dengan suhu sekitar 200C (392F). dengan mengontrol tekanan pada reaksi campuran, akan membuat uap yang terbentuk, dapat keluar dari reaktor.

II.1.2 Jenis-Jenis Proses Pembuatan Asam Terepthalat 1. Proses du Pont Pada proses ini, udara (O2), p-xylene, dan HNO3 encer (30-40% berat) dimasukkan ke dalam reactor dan reaksi terjadi pada fase cair. Gas NO yang dihasilkan akan dioksidasi menjadi NO2 dan digunakan untuk memproduksi HNO3. Kondisi reaktor dijaga pada suhu 165 oC dan tekanan 140 psig dan akan diperoleh yield sebesar 80%. Reaksi yang terjadi: C6H4(CH3)2 + 3 O2 (HOOC)C6H4(COOH)

p-xylene

asam terepthalat

Pemakaian HNO3 dalam proses ini memiliki beberapa kelemahan: Pabrik HNO3 perlu didirikan di dekat lokasi pabrik asam terepthalat dikarenakan kebutuhannya besar, yaitu 2 lb/lb p-xylene Proses yang terjadi sangat eksplosif Produk mengandung impuritas nitrogen

2. Proses Eastman-Kodak Eastman-Kodak Company memproduksi asam terepthalat secara konvensional dengan proses oksidasi fase cair. Bahan baku yang digunakan adalah para-xylene, asam asetat sebagai solvent, Co(II) asetat sebagai katalis, dan asetaldehid. Asetaldehid digunakan sebagai promoter oksidasi dan akan teroksidasi menjadi asam asetat sebagai produk samping. Kondisi operasi berlangsung pada suhu 121-177 oC dan tekanan 100-200 psig. Konversi yang dihasilkan hanya sebesar 82% mol.

3. Proses Henkel Proses ini dimulai dengan reaksi oksidasi naphthalene menjadi pthalic anhydride, kemudian diubah menjadi monopotassium o-pthalat dan dipotassium o-pthalat. Dipotassium o-pthalat diisomerisasikan pada suhu 100-130 oC dan tekanan 145-725 psi. Hasil dari proses isomerisasi ini adalah dipotassium terepthalat yang kemudian dilarutkan ke dalam air dan direcycle ke awal proses. Kristal asam terepthalat yang terbentuk diambil dengan filtrasi dan dikeringkan.

4. Proses Amoco Pada proses ini, reaksi oksidasi paraxylene oleh udara terjadi pada fase cair dengan menggunakan asam asetat sebagai solvent, Co(II) asetat sebagai katalis. Kondisi operasi reaktor dijaga pada suhu 175-250 oC dan tekanan 220435 psia. Asam asetat setelah dipisahkan akan dimanfaatkan kembali sebagai umpan reaktor.

Keuntungan proses ini: Konversi paraxylene mencapai 98% mol dan yield asam terepthalat yang dihasilkan minimal 95%. Menghasilkan kemurnian produk yang lebih dari 99%

II.1.3 Deskripsi Proses Amoco 1. Tinjauan Proses Secara Umum Pembuatan asam terepthalat dari bahan baku para-xylene dengan proses Amoco adalah reaksi oksidasi yang berlangsung pada fase cair dengan menggunakan O2 sebagai oksidator, asam asetat sebagai solvent, dan Co(II) asetat sebagai katalis. Reaksi oksidasi paraxylene pada fase cair dilakukan pada suhu 225
o

C dan tekanan 15 atm (absolute). Dalam industri kimia, reaksi oksidasi merupakan sarana yang efektif dalam

sintesis senyawa kimia. Reaksi oksidasi didefinisikan sebagai suatu reaksi yang menghasilkan senyawa oksida. Secara umum, dalam reaksi ini terjadi proses pelepasan sejumlah elektron sehingga zat yang teroksidasi akan mengalami penambahan bilangan oksidasi. 2. Tinjauan Kinetika dan Thermodinamika 1. Tinjauan Kinetika Persamaan pendekatan kecepatan reaksi pembentukan asam terepthalat dari oksidasi p-xylene dengan udara adalah k = (1,19.108) (e1780/RT) m3/kmol.det. Bila ditinjau dari segi kinetika reaksi sesuai dengan rumus Arhennius: k = A.e(-E/RT) Dalam hubungan ini: k = konstanta kecepatan reaksi A = faktor frekuensi E = energi aktivasi R = konstanta gas ideal T = temperatur Dari persamaan di atas, harga A, E, dan R tetap, sehingga harga k hanya dipengaruhi oleh fungsi T (suhu), untuk ruas kanan semakin besar maka reaksi akan berlangsung cepat.

2. Tinjauan Thermodinamika Pembentukan asam terepthalat melalui oksidasi p-xylene dengan udara merupakan reaksi eksotermis. Hal ini ditunjukkan dengan harga entalpi yang negatif yaitu -326 kkal/mol asam terepthalat yang terbentuk. Karena reaksi berlangsung eksotermis maka kenaikan temperatur dalam tekanan tetap akan mengurangi konversi sehingga akan menyebabkan asam terepthalat yang dihasilkan akan semakin berkurang. Selain itu, untuk menentukan apakah reaksi berjalan eksotermis atau endotermis perlu pembuktian dengan menggunakan panas pembentukan standar (Hof) pada 1 atm dan 298,15 K dari reaktan dan produk. Reaksi: H3C-C6H4-CH3 (l) + 3 O2 (g) HOOC-C6H4-COOH (s) + 2 H2O (l) Hof reaksi = Hof produk - Hof reaktan Jika Hof reaksi berharga negatif maka reaksi akan bersifat eksotermis, sebaliknya jika berharga positif reaksi akan bersifat endotermis. Hof H3C-C6H4-CH3 (l) Hof HOOC-C6H4-COOH (s) Hof 2 H2O (l) = -5.840 kkal/kgmol = -19.500 kkal/kgmol = -68.317 kkal/kgmol

Hof reaksi = [ (2x-68.317) + (-19.500) ] - [-5.840] = -150.294 kkal/kgmol Dari perhitungan Hof reaksi di atas maka dapat disimpulkan bahwa reaksi pembentukan asam terepthalat bersifat eksotermis. Reaksi dapat balik (reversible) atau searah (irreversible) dapat ditentukan secara thermodinamika yaitu berdasarkan persamaan vant Hoff:

dengan:

Go = -RT ln K
sehingga:

10

Jika Ho merupakan entalpi standar (panas reaksi) dan dapat diasumsikan konstan terhadap temperatur, persamaan di atas dapat diintegrasikan menjadi: ln (k/k1) = -[ (Ho/R) (1/T-1/T1) ] Data-data energi gibbs (gibbs heat of formation): Gof H3C-C6H4-CH3 (l) Gof 2 H2O (l) = -4.192 kkal/kgmol Gof HOOC-C6H4-COOH (s) = -17.913,70 kkal/kgmol = -56.910,96 kkal/kgmol Gof total = [ (2x-56.910,96) + (-17.913,70) ] - [-4.192] = -127.543,62 kkal/kgmol Go = -RT ln K k standar pada 298,15 K: K = e (Go/RT) = e (127.543,62/ 1,987x298,15) = 3,16.1093 Harga K yang sangat besar (3,16.1093) mengindikasikan reaksi pembentukan asam terepthalat bersifat searah (reversible).

3. Kurva Temperature versus Konversi Kedua konsep termodinamika dan kinetika, hubungan suhu vs konversi dapat dievaluasi secara simultan, dengan demikian diharapkan kondisi operasi optimum dengan konversi maksimum dapat diperoleh. Rumus Xa vs T -Pada tinjauan thermodinamika

(Levenspiel,1957) Setelah mendapatkan nilai konstanta kesetimbangan (K), maka kita dapat mencari konversi dengan rumus di bawah ini :

11

(Levenspiel,1957) Dengan nilai K adalah G total = - 535.683,204 J/mol

Pada suhu 300 K

= 155.660

Pada suhu 400 K

= 4.068

12

Pada suhu 500 K

= 2.568

Pada suhu 600 K

= 2.058

Pada suhu 700 K

= 1.809

13

Dari perhitungan tersebut dapat dibuat tabel hubungan konversi Xa dengan suhu. Tinjauan Thermodinamika T(K) 300 400 500 600 700 Xa 0,994 0,803 0,721 0,673 0,644

1 0.95 0.9 0.85 0.8 0.75 0.7 0.65 0.6 0.55 0.5 200 300 400 500 Temperatur (T) 600 700 800

Konversi (Xa)

Grafik Hubungan Temperatur dengan Konversi pada Tinjauan Thermodinamika


-Pada Tinjauan Kinetika Persamaan pendekatan kecepatan reaksi pembentukan asam terepthalat dari oksidasi p-xylene dengan udara adalah k = (1,52.1014) (e-10000/RT) m3/kmol.det. (Reff : Westerterp). Bila ditinjau dari segi kinetika reaksi sesuai dengan rumus Arhennius: k = A.e(-E/RT) Dalam hubungan ini: k = konstanta kecepatan reaksi A = faktor frekuensi E = energi aktivasi R = konstanta gas ideal T = temperatur

14

Dan, -ln (1-XA) = k t (Reff: Levenspiel,1957) Dimana t adalah lama waktu reaksi di dalam reaktor. t= 2 jam = 7200 detik (Reff: Kirk, R.E. and Othmer, D.F., 1983, Encyclopedia of Chemical Technology) Pada suhu 300 K k = (1,52.1014) (e-10000/8,314.300) m3/kmol.det k = 1,544.10-4 -ln (1-XA) = k t XA = 0.671 Pada suhu 400 K k = (1,52.1014) (e-10000/8,314.400) m3/kmol.det k = 1,808.10-4 -ln (1-XA) = k t XA = 0.728 Pada suhu 500 K k = (1,52.1014) (e-10000/8,314.500) m3/kmol.det k = 2,855.10-4 -ln (1-XA) = k t XA = 0.872 Pada suhu 600 K k = (1,52.1014) (e-10000/8,314.600) m3/kmol.det k = 3,171.10-4 -ln (1-XA) = k t XA = 0.898 Pada suhu 700 K k = (1,52.1014) (e-10000/8,314.700) m3/kmol.det k = 5,123.10-4 -ln (1-XA) = k t XA = 0.975

15

Tinjauan Kinetika T(K) 300 400 500 600 700


1 0.95 0.9 0.85 0.8 0.75 0.7 0.65 0.6 0.55 0.5 200 300 400 500 Temperatur (T) 600 700 800

Xa 0,671 0,728 0,872 0,898 0,975

Konversi (Xa)

Grafik Hubungan Temperatur dengan Konversi pada Tinjauan Kinetika


Grafik hubungan antara temperature dan konversi dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Dari gambar terlihat bahwa berdasarkan tinjauan thermodinamika, semakin tinggi suhu, maka konversi yang diperoleh akan semakin kecil (reaksi eksotermis). Sedangkan berdasarkan tinjauan kinetika, semakin tinggi suhu maka konversi yang diperoleh akan semakin besar.
1 0.95 0.9 0.85 0.8 0.75 0.7 0.65 0.6 0.55 0.5 200

Konversi (Xa)

Tinjauan Thermodinamika Tinjauan Kinetika

250

300

350

400

450

500

550

600

650

700

750

800

Temperatur (T)

Grafik Hubungan Temperatur dengan Konversi


16

Konversi maksimum dapat diketahui dari titik potong antara garis tinjauan thermodinamika dan garis tinjauan kinetika. Berdasarkan gambar, diperoleh konversi maksimum yang dapat dicapai adalah pada suhu 440 K dimana konversi yang diperoleh adalah 0,77 (77%). Berdasarkan literatur dengan menggunakan proses Amoco diperoleh suhu operasi sebesar 448 K sampai 498 K dengan perolehan konversi 95%, persen penyimpangan suhu sekitar 1,8 % dan penyimpangan konversi sebesar 18,9 % dari konversi diatas. Penyimpangan terjadi karena waktu tinggal dalam reaktor yang kurang optimum. Dalam literatur, waktu tinggal dalam reaktor sekitar 30 menit- 2 jam tergantung pada proses. Sedangkan pada perhitungan hanya menggunakan waktu maksimum yaitu 2 jam. Lamanya waktu tinggal akan mempengaruhi konversi asam terephthalat.

II.1.4. Langkah Proses Pemurnian Asam terephtalat tersedia secara komersial oleh Amoco Chemical Co pada tahun 1965. Proses Amoco melibatkan pemurnian asam tereftalat mentah oleh langkah terpisah untuk mencapai kemurnian produk tinggi yang diperlukan untuk pembuatan poliester. Teknologi Amoco adalah yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, namun proses lain telah dikembangkan dan beroperasi secara komersial. Asam asetat, udara, p-xylene, dan katalis dimasukkan ke dalam reaktor oksidasi yang dijaga pada suhu 175-225 C dan 1500-3000 kPa (~ 15 - 30 atm). Udara ditambahkan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan stoikiometri untuk meminimalkan pembentukan produk samping. Proses ini berlangsung secara eksotermik sampai sebatas 2 108 J / kg dari p-xylena bereaksi, dan panas ini dilepaskan dengan membiarkan pelarut asam asetat mendidih. Uap tersebut terkondensasi dan direfluks ke reaktor, dan menetapkan hubungan suhu-tekanan. Kondensasi uap digunakan untuk menghasilkan uap, yang digunakan sebagai sumber panas di bagian lain dari proses. Dua mol air terbentuk per mol p-xylene

17

bereaksi. Waktu tinggal adalah 30 menit-2 jam tergantung pada proses. Lebih dari 98% dari xilena-p akan dikonversi dan yield untuk asam tereftalat paling sedikit 95% mol pada plant modern. Effluent dari reaktor adalah slurry asam tereftalat karena larut sampai batas tertentu di hampir semua pelarut, termasuk asam asetat- pelarut air yang digunakan di sini. Slurry ini melewati sebuah surge vessel yang beroperasi pada tekanan lebih rendah daripada reaktor. Banyak asam tereftalat dikristalkan dan slurry ini kemudian siap untuk diproses pada kondisi tekanan atmosfer. Kristal Asam tereftalat direcovery dengan filtrasi, dicuci, dikeringkan, dan disalurkan ke bagian penyimpanan, untuk digunakan lebih lanjut sebagai umpan dalam langkah pemurnian. Proses disebut grade teknis atau kasar dari asam tereftalat, tetapi kemurnian biasanya lebih besar dari 99%. Kemurnian ini cukup untuk mencapai tingkat yang diperlukan dalam polimerisasi. Pengotor utamanya adalah asam 4formylbenzoic [619-66-9], yang tidak sempurna dioksidasi p-xilena dan monofungsional berkaitan dengan esterifikasi. Asam 4-Formylbenzoic biasanya disebut sebagai 4-carboxybenzaldehyde (4-CBA) dalam industri. Air yang terbentuk dalam reaksi serta beberapa produk yang tidak diinginkan harus dihilangkan dari pelarut asam asetat .Oleh karena itu, mother liquor dari filter dimurnikan dalam residu still untuk menghilangkan pemberat lainnya, dan dalam menara dehidrasi untuk menghilangkan air. Asam asetat dimurnikan dari bagian bawah menara dehidrasi didaur ulang ke reaktor.

Overhead air dikirim ke pengolahan limbah, dan dasar residu still dapat diproses untuk recovery katalis. Atau, beberapa mother liquor dari filter dapat didaur ulang langsung ke reaktor. Pembersihan aliran limbah dari proses tersebut telah sangat berkembang dan banyak dipraktekkan secara komersial. Nitrogen dan oksigen yang tidak terpakai dari oksidasi reaktor discrubb untuk recover dan penggunaan kembali komponen berharga. Gas kemudian dapat lulus untuk langkah oksidasi katalitik,

18

diikuti oleh scrubber kedua untuk menghilangkan jejak komponen dan dengan demikian memenuhi persyaratan lingkungan. Air limbah diperlakukan oleh oksidasi aerobik dengan bakteri khusus yang menyesuaikan diri untuk rangka memenuhi persyaratan lingkungan. Atau, proses pengolahan air limbah anaerob telah dikembangkan dan terpasang secara komersial yang menghasilkan limbah slurry jauh lebih sedikit, memerlukan lebih sedikit energi, dan selain menghasilkan metana, yang dapat dibakar untuk pemulihan energi . Asam asetat didaur ulang sebagai pelarut dan dapat diisolasi sebagai produk sampingan. Reaksi suhu bisa rendah, 120-1400 C, dan waktu tinggal cenderung tinggi, dengan nilai-nilai dari dua jam atau lebih. Proses Amoco digunakan untuk memurnikan asam tereftalat yang dihasilkan oleh oksidasi udara bromin-dipromosikan dari p-xylena. Pengotor utama dalam produk oksidasi adalah 4-formylbenzoic asam dan proses Amoco menghilangkan pengotor kurang dari 25 ppm. Logam dan kotoran organik berwarna juga hampir seluruhnya dihilangkan oleh pemurnian.

Asam tereftalat mentah dan air dimasukkan ke tangki pencampuran untuk membentuk slurry minimal 15% asam tereftalat basah. Slurry dipompa ke penukar panas, untuk meningkatkan suhu slurry yang cukup untuk melarutkan asam tereftalat. Larutan mengalir melalui reaktor hidrogenasi yang berisi katalis palladium karbon. Hidrogen ditambahkan ke dalam reaktor, di mana ia larut dalam larutan umpan. Reaktor suhu diatur di atas tekanan parsial uap untuk mempertahankan fase cair. Dalam reaktor, asam 4-formylbenzoic dihidrogenasi menjadi asam p-toluic, dan kotoran berbagai warna dihidrogenasi untuk produk berwarna. Katalis sangat selektif; hilangnya asam tereftalat dengan reduksi asam karboksilat atau hidrogenasi cincin kurang dari 1%. Pengaruh keseluruhan hidrogenasi adalah konversi ketidakmurnian untuk bentuk yang tetap di dalam mother liquor selama langkah kristalisasi berikutnya. Asam tereftalat dimurnikan dengan kristalisasi dalam vessel di mana tekanan dan suhu secara berurutan

19

menurun. Seperti yang telah disebutkan di atas, kotoran tetap berada di mother liquor untuk sebagian besar. II. 2 Reaktor Untuk Pembuatan Asam Terephthalat Pada proses pembuatan asam terephthalat menggunakan Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) sering juga disebut dengan Continous Stirred Tank Reactor (CSTR) atau Mixed Flow Reactor. RATB adalah salah satu reaktor ideal yang berbentuk tangki alir berpengaduk yang biasa digunakan untuk reaksi homogen atau reaksi yang terjadi dalam satu fase saja. Contohnya: 1. cair-cair 2. gas-gas Sehingga untuk reaksi fase gas (non katalitik) reaksinya berlangsung cepat, contohnya pada reaksi pembakaran Untuk reaksi fase cair (katalitik) reaksinya dalam sistem koloid. Keuntungan: - Pengontrolan suhu mudah sehingga kondisi operasi yang isotermal bisa terpenuhi. - Mudah dalam melakukan pengontrolan secara otomatis sehingga produk lebih konsisten dan biaya operasi lebih rendah. Terdapat pengaduk sehingga suhu dan komposisi campuran adalah reaktor yang selalu homogen bisa terpenuhi. Kerugian : - Reaksinya berlangsung isotermal sehingga dipakai katalisator yang aktifitasnya rendah dan butir katalisator kecil sehingga tidak ada tahanan perpindahan panas

Continued Stirred Tank Reactor

20

II. 3

Diagram Alir

II.4

Harga Asam Terphthalat

Harga Asam Terephthalat menurut Merck KGAa Jerman per 5 September 2012 : Nomor Produk 8007620100 8007621000 Kemasan Botol plastik Botol plastik Jumlah/Pk 100 g 1 kg Harga Rp 341.330,Rp 706.200,-

21

BAB III PENUTUP III.1 Kesimpulan 1. Asam Terepthalat atau 1,4 benzene dicarboxylic acid dengan rumus molekul C6H4(COOH)2 merupakan salah satu senyawa berupa kristal putih yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri serat sintetis. Adapun penggunaan asam terephthalat antara lain menghasilkan serat polyester yang digunakan pada industri tekstil, produksi herbisida, bahan baku dalam industri cat, salah satu bahan pembuatan botol, dan bahan baku polymer filament yarn. 2. Proses pembuatan asam terephtalat antara lain Proses Du-Pont, Eastman-Kodak, Henkel, dan Amoco. Yang paling sering digunakan adalah Proses Amoco. Kedua konsep termodinamika dan kinetika, hubungan suhu vs konversi dapat dievaluasi secara simultan agar diperoleh kondisi operasi yang diinginkan, titik potong yang menunjukkan suhu optimum untuk kondisi operasi (agar diperoleh konversi maksimal) ditinjau dari segi thermodinamika dan kinetika adalah pada suhu 440 K dengan konversi 0,77. Sedangkan pada literatur, konversi yang tercapai adalah 95% dengan suhu 448-498 K. Jadi, penyimpangan suhunya adalah sebesar 1,8% dan penyimpangan konversi adalah sebesar 18,9%. 3. Reaktor yang digunakan adalah CSTR (Continuous Stirred Tank Reactor) karena cenderung lebih mudah dalam pengontrolan dan dapat digunakan untuk kapasitas besar.

III.2 Saran 1. Untuk produsen : meningkatkan kapasitas produksi asam sulfat serta menjaga kualitas produk untuk menjaga kepercayaan masyarakat 2. Untuk konsumen : memilih asam terephthalat yang memiliki kualitas yang baik 3. Untuk peneliti : perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan konversi yang lebih tinggi untuk meningkatkan hasil produksi

22

DAFTAR PUSTAKA European and Japanese Chemical Industries Symposium, Industrial and Engineering Chemistry Vol. 62 No. 4 April 1970. Hindmarsh Eric, John Arthur Turner, David Parker. 1998. Process for the production of terephthalic acid. US Pat. RE36008: E. I. du Pont de Nemours and Company Wilmington Del. Kiefer Judy E., Willian V. Phillips, Thomas E. Woodruff. 1986. Process for the purification of terephthalic acid. US Pat. 4605763: Eastman Kodak Company Rochester N.Y. Kirk, R.E. and Othmer, D.F., 1983, Encyclopedia of Chemical Technology, 1st Edition., Vol.17, The Inter Science Encyclopedia, inc., New York. Levenspiel,O. 1957. Chemical Reaction Engineering. New York: Mc Graw Hill Book Co. Packer, Lawrence G. and David E. James. 1986. Purification of Terephthalic Acid. US Pat. 4626598: Amoco Corporation Chicago. Smith,J.M., H.C.Van Ness., M.M.Abbott.2001. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics sixth ed. Singapore : Mc Graw Hill Book Co. United States Enviromental Protection Agency AP 42, Fifth Edition, Volume I Chapter 6: Organic Chemical Process Industry. http://en.wikipedia.org/wiki/Terephthalic_acid http://migasnet11-winda8010.blogspot.com/2010/01/macam-macam-reaktorheterogen.html http://www.chemspider.com/Chemical-Structure.7208.html http://www.merckmillipore.com/indonesia/chemicals/terephthalic-acid/ http://www.scribd.com/doc/105695045/oksidasi-kitaaa

23