Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK DAN STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN DALAM KEPERAWATAN JIWA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Neuro-behavior II.

Disusun oleh TUTOR 2 DAN TUTOR 4 Agustian Barkah Isara Nur Latifah Huseino Ahmad Shella Febrita P.U. Indah Wulandari Denti Mardiyanti Ria Octaviayani Maryam Afifah Azmi Priyanda (220110100062) Karina Amanda (220110100021) Ria Amalia Putri (220110100081) Sarah Nurul K. (220110100106) Rosi Akbar B. (220100100024) Ansar Farisy (220110100039) Desy Mayang Sari (220110100052) An Nisa Rushtika K. (220110100063) Claudia Selviyanti (220110100054) M. Sandi Nizar (220110100130) (220110100135) (220110100134) (220110100014) (220110100058) (220110100053) (220110090033) (220110100001) (220110100037)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2004 gangguan jiwa termasuk ke dalam penyakit yang menempati urutan kedua, sedangkan pada tahun 2008, gangguan jiwa termasuk dalam penyakit yang menempati urutan pertama (The World Health Statistics, 2011). Di Indonesia, khususnya Jawa Tengah, prevalensi gangguan jiwa mengalami peningkatan mulai tahun 2005 hingga tahun 2010 (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa gangguan jiwa termasuk gangguan kesehatan yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Klien yang mengalami sakit secara fisik pun dapat mengalami gangguan pada psikologisnya (jiwa). Penyebabnya bisa dikarenakan oleh proses adaptasi dengan lingkungannya sehari-hari. Misalnya, lingkungan di rumah sakit yang sebagian besar serba putih dan berbeda dengan rumah klien yang bisa beraneka warna, keadaan demikian menyebabkan klien yang baru masuk terasa asing dan cenderung gelisah atau takut. Tidak jarang klien membuat ulah yang bermacam-macam, dengan maksud mencari perhatian orang di sekitarnya. Bentuk dari kompensasi ini bisa berupa teriak-teriak, gelisah, berusaha melarikan diri, menjatuhkan barang atau alat-alat di sekitarnya. Di sinilah peranan komunikasi mempunyai andil yang sangat besar. Komunikasi yang baik dari seorang perawat mampu memberikan kepercayaan diri klien. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa kesan lahiriyah perawat mampu memberikan dampak yang luas bagi perkembangan kesehatan klien, mulai dari profil tubuh/ wajah terutama senyum yang tulus dari perawat, kerapian berbusana, sikap yang familiar, dan cara berbicara (komunikasi) sehingga terkesan low profile atau bertempramen bijak. Menurut Videbeck, penanganan klien dengan gangguan jiwa di rumah sakit terdiri dari penatalaksanaan farmakologi, terapi listrik yang disebut

electro convulsive therapy (ECT), dan penatalaksanaan keperawatan yang di dalamnya terdapat komunikasi terapeutik. Terapi komunikasi yang biasa disebut komunikasi terapeutik ini merupakan suatu interaksi interpersonal antara perawat dengan klien, perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan informasi yang efektif antara perawat dan klien (Videbeck, 2008; 123).

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah kami uraikan di atas, maka dapat rumusan permasalahan yang kami ambil adalah sebagai berikut. 1. 2. Mengetahui pengertian komunikasi terapeutik. Mengetahui pentingnya menjalin komunikasi terapeutik dalam tindakan perawatan, khususnya dalam keperawatan jiwa. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik. Mengetahui karakteristik komunikasi terapeutik. Mengetahui jenis-jenis komunikasi terapeutik. Mengetahui fase-fase hubungan terapeutik antara perawat dengan klien. Mengetahui unsur-unsur komunikasi terapeutik. Mengetahui teknik komunikasi terapeutik. Mengetahui contoh-contoh penerapan komunikasi terapeutik dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal (Northouse, 1998: 12). Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien; perawat membantu dan klien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, tetapi harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan klien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 : 50). Teknik komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain (Stuart & Sundeen,1995). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal yang terencana antara perawat dengan klien untuk mendorong proses penyembuhan klien dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi klien tersebut.

B. Tujuan dan Manfaat Komunikasi Terapeutik Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, maka hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat

kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa. Maka dari itu, perawat perlu menyadari betul tujuan dari komunikasi terapeutik ini dalam setiap penatalaksanaan tindakan keperawatannya. Menurut Purwanto (1994), tujuan sekaligus manfaat dari komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut. a. Klien yang menderita penyakit kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya, ia tidak mampu menerima keberadaan dirinya, mengalami gambaran diri, penurunan harga diri, merasa tidak berarti, dan pada akhirnya merasa putus asa dan depresi. Untuk itu, dengan memulai komunikasi terapeutik, diharapkan perawat dapat membantu klien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran, serta mempertahakan kekuatan egonya. b. Taylor, Lilis, dan La Mone (1997) mengemukakan bahwa individu yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal mempunyai harga diri yang tinggi, sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal akan merasa rendah diri. Klien terkadang menetapkan tujuan yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuannya. Maka, melalui komunikasi terapeutik, perawat dapat membantu klien mengambil tindakan yang efektif dan realistis untuk mengubah situasi yang ada. c. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur, dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya, mengekspresikan kebutuhannya, dan

meningkatkan kemampuan koping (Rogers, 1974 dalam Abraham dan Shanley, 1997). Di sisi lain, keraguan para perawat pun akan berkurang dalam pengambilan tindakan yang efektif dan dapat mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

C. Faktor-faktor Komunikasi Terapeutik Menurut Muliha dan Fatmawati (2009), faktor penunjang dan penghambat dari komunikasi terapeutik, yaitu sebagai berikut. 1. Faktor penunjang a. Dilihat dari klien : Kecakapan dan kemampuan klien dalam menceritakan masalahnya. Sikap klien, yaitu sikap klien yang mau menceritakan masalahnya dengan sungguh-sungguh dan bersedia dibantu. b. Dilihat dari perawat 1) Kecakapan perawat dalam mengajukan pertanyaan terbuka yang dapat menggali seluruh masalah 2) Sikap perawat. Harus bersikap ramah, jangan sampai klien curiga, diharapkan perawat dapat mendekati klien sehingga timbul rasa saling percaya. 3) Pengetahuan perawat. Pengetahuan yang luas dengan mudah dapat mencerna inti pembicaraan serta cepat tanggap terhadap pembicaraan klien. 4) Seluruh komunikasi perawat (mata, hidung, otak, telinga, dan tangan). Seluruh indera perawat harus sehat sehingga dengan cepat dapat mengambil kesimpulan pembicaraan. 2. Faktor penghambat a. Perawat kurang cakap dalam mendengarkan dan mengajukan pertanyaan terbuka serta menyimpulkan inti pembicaraan, sehingga tidak dapat menangkap pembicaraan. b. Sikap perawat yang acuh tak acuh, tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya, sikap yang kurang ramah terhadap klien atau keluarga. c. Pengetahuan klien kurang. Bila demikian, hendaknya perawat dapat menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh klien. d. Prasangka (prejudice) yang tidak mendasar, yaitu kecurigaan yang tidak beralasan, dimana bisa terjadi di masyarakat yang

berpengetahuan rendah atau klien kurang mengerti tentang perawatan.

D. Karakteristik Komunikasi Terapeutik Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik, yaitu sebagai berikut (Arwani, 2003 : 54). 1. Ikhlas (Genuiness) Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh klien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun nonverbal akan memberikan bantuan kepada klien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat. 2. Empati (Empathy) Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi klien. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi klien dan tidak berlebihan. Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan mampu merasakan dunia pribadi klien. Empati berbeda dengan simpati, empati cenderung bergantung pada kesamaan pengalaman di antara orang yang terlibat komunikasi. 3. Hangat (Warmth) Hubungan saling membantu (helping relationship) dibuat untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan unek-unek secara bebas. Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan klien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi sehingga klien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

E. Jenis-jenis Komunikasi Terapeutik Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi, yaitu verbal, tertulis, dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik. 1. Komunikasi verbal

Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung. Komunikasi verbal yang efektif harus: a. Jelas dan ringkas Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa, dan di mana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. b. Perbendaharaan kata (mudah dipahami) Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan, Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru Anda akan lebih baik jika dikatakan, Duduklah, sementara saya mendengarkan paru-paru Anda. c. Arti denotatif dan konotatif

Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan, atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat perlu berhatihati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalahtafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, prosedur terapi dan kondisi klien. d. Selaan dan kesempatan berbicara Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga katakata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin ditunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang. e. Waktu dan relevansi Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, bukan waktunya untuk menjelaskan risiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.

f. Humor Dugan (1989) dalam Purba (2003) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam

memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) dalam Purba (2006) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dengan klien. 2. Komunikasi Tertulis Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain- lain. Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari : a. b. c. d. e. f. g. Lengkap Ringkas Pertimbangan Konkrit Jelas Sopan Benar

Fungsi komunikasi tertulis adalah: a. Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik, misalnya; persetujuan operasi. b. Alat pengingat/ berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan. c. Dokumentasi historis, misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau. d. Jaminan keamanan, seperti surat keterangan jalan.

e.

Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat pengangkatan.

Keuntungan komunikasi tertulis adalah: a. b. c. d. e. f. g. h. Adanya dokumen tertulis Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman. Dapat meyampaikan ide yang rumit. Memberikan analisa, evaluasi, dan ringkasan. Menyebarkan informasi kepada khalayak ramai. Dapat menegaskan, menafsirkan, dan menjelaskan komunikasi lisan. Membentuk dasar kontrak atau perjanjian. Untuk penelitian dan bukti di pengadilan.

Kerugian komunikasi tertulis adalah: a. b. c. d. e. f. g. 3. Memakan waktu lama untuk membuatnya. Memakan biaya yang mahal. Komunikasi tertulis cenderung lebih formal. Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran. Susah untuk mendapatkan umpan balik segera. Bentuk dan isi surat tidak dapat diubah bila telah dikirimkan. Bila penulisan kurang baik, maka akan membingungkan si pembaca.

Komunikasi Nonverbal Komunikasi nonverbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk

menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat nonverbal

menambah arti terhadap pesan verbal. Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut: a. Kinesik Kinesik adalah pesan nonverbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Perhatikan bahwa dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan, para penyuluh

10

tidak saja menggunakan kata-kata secara verbal, tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat, misalnya untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya, obat yang mujarab, cara memakai kondom, cara mengaduk obat, dan lain-lain. b. Proksemik Proksemik, yaitu bahasa nonverbal yang ditunjukkan oleh ruang dan jarak antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek. c. Haptik Haptik seringkali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi. Atas dasar itu, maka ada ahli komunikasi nonverbal yang mengatakan bahwa haptik itu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus, dan mencubit. Haptik mengindikasikan relasi antarorang yang sedang berkomunikasi. d. Paralinguistik Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal. Sebagai contoh, orang-orang Muang Thai merupakan orang yang rendah hati, mirip dengan orang Jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras. Mengkritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung, tetapi dengan anekdot. Ini berbeda dengan orang Batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras. e. Artifak Kita memahami artifak dalam komunikasi nonverbal dengan sebagai benda material di sekitar kita. Sepeda motor, mobil, kulkas, pakaian, televisi, komputer mungkin hanya sebuah benda. Namun, dalam situasi sosial tertentu benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain. Kita dapat menduga status sosial seseorang melalui pakaian atau mobil yang mereka gunakan. Makin mahal mobil yang mereka pakai, maka makin tinggi status sosial orang itu.

11

f.

Logo dan Warna Kreasi pan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupakan karya komunikasi bisnis, tetapi model kerja ini juga dapat ditiru dalam komunikasi kesehatan. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol dari suatu karya organisasi atau produk, terutama bagi organisasi swasta. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk, warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi.

g.

Tampilan Fisik Tubuh Tampilan fisik dapat memberikan kesan atau pengaruh kepada lawan bicara. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut, dan lain-lain). Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. Untuk itu, penampilan fisik seorang perawat haruslah meyakinkan bagi klien agar klien dapat terpengaruhi untuk mengetahui informasi, menikmati informasi, dan menyebarluaskan informasi.

F. Fase-fase Hubungan Terapeutik 1. Orientasi (Orientation) Pada fase ini, hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan klien. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok, yaitu testing, building trust, identification of problems and goals, clarification of roles, dan contract formation. 2. Kerja (Working) Pada fase ini, perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan klien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok, yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.

12

3.

Penyelesaian (Termination) Pada fase ini, perawat mendorong klien untuk memberikan penilaian atas tujuan yang telah dicapai agar menjadi suatu hal yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani, 2003 : 61).

G. Unsur-unsur Komunikasi Terapeutik Unsur-unsur yang terkandung dalam komunikasi terpeutik antara lain (Potter dan Perry, 2010) : 1. Keramahan Keramahan merupakan bagian dari komunikasi terpeutik. Keramahan diberikan untuk memberikan kesan pertama yang menarik hati lawan bicara. 2. Penggunaan Nama Pengenalan diri merupakan suatu yang penting agar tidak menimbulkan keraguan. Memanggil klien dengan nama akan menunjukkan

penghargaan diri terhadap klien itu sendiri. 3. Dapat Dipercaya Orang yang dapat dipercaya adalah orang yang apabila membantu orang lain tidak akan memberikan keraguan terhadap orang yang dibantunya. Untuk itu seorang perawat harus menunjukkan kehangatan, konsistensi, reliabilitas, kejujuran, kompetensi, dan rasa hormat. 4. Otonomi dan Tanggung Jawab Seorang perawat harus mampu membuat pilihan sendiri dan berani untuk mempertanggung jawabkan atas pilihan atau keputusan yang diberikan (Townsend, 2003). 5. Asertif Komunikasi asertif memungkinkan kita untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran tanpa menuduh atau melukai orang lain (Grover, 2005). Sikap asertif akan memberikan kepercayaan diri sekaligus penghormatan terhadap orang lain.

13

H. Teknik Komunikasi Terapeutik 1. Mendengar aktif Adalah konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang menggunakan semua indra. Menurut Ellis (1994) mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang lain bahwa apa yang dikatakannya adalah penting dan dia adalah orang yang penting. Mendengarkan juga menunjukkan pesan Anda bernilai untuk saya dan Saya tertarik pada Anda. 2. Mendengar pasif Adalah kegiatan mendengar dengan kegiatan nonverbal untuk klien. Misalnya, dengan kontak mata, menganggukkan kepala dan juga keikutsertaan secara verbal, misalnya uh huuh, mmhumm, yah. 3. Penerimaan Adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Dikarenakan hal tersebut, perawat harus sadar terhadap ekspresi non verbal. Perawat perlu menghindari memutar mata ke atas, menggelenggelengkan kepala, memandang dengan muka masam pada saat berinteraksi dengan klien. Beberapa cara untuk menunjukkan penerimaan (Potter & Perry,1993) : a. b. c. d. Mendengar tanpa memotong pembicaraan. Menyediakan umpan balik yang menunjukkan pengertian. Yakin bahwa tanda nonverbal sesuai dengan verbal. Hindari mendebat, mengekspresikan keraguan atau usaha untuk mengubah pikiran klien. 4. Klarifikasi Klarifikasi sama dengan validasi, yaitu menanyakan pada klien apa yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada. 5. Focusing

14

Adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. 6. Observasi Observasi merupakan kegiatan mengamati klien, kegiatan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah. 7. Menawarkan informasi Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. Keuntungan dari teknik ini adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan, dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. Perawat sebaiknya menghindari pemberian nasehat pada saat pemberian informasi. 8. Diam (memelihara ketenangan) Diam dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. 9. Asertif Kemampuan dengan cara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain. Komunikasi asertif (Smith, 1992) : a. Mampu menggunakan berbagai strategi komunikasi untuk

mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tertentu yang secara terus menerus melindungi hak diri dan orang lain. b. Memiliki perilaku yang positif mengenai komunikasi dengan jujur/ terus terang dan adil. c. Merasa nyaman dalam mengontrol perasaan negatif, misalnya cemas, tegang, malu, atau takut. d. Merasa yakin bahwa kita dapat melakukan sendiri dengan jalan tetap menghormati diri dan orang lain. e. Menjaga hak diri dan orang lain sama pentingnya. Menggunakan kata tidak sesuai kebutuhan Mengkomunikasikan maksud dengan jelas

Tahap-tahap agar menjadi lebih asertif : a. b.

15

c. d. e. f. g.

Mengembangkan kemampuan mendengar Pengungkapan komunikasi disertai bahasa tubuh yang tepat Meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri Menerima kritik dengan ramah Belajar terus menerus

10. Menyimpulkan a. Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkann pemahaman. b. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama dengan ide dalam pikiran (Varcarolis,1990). 11. Giving recognition (memberi pengakuan/ penghargaan) Memberi penghargaan merupakan teknik untuk memberikan pengakuan dan menandakan kesadaran (Schult & Videbeck,1998). Misalnya, perawat : Saya melihat Anda sudah bisa memakai baju dengan rapi hari ini, Saya melihat Anda tampak segar dan bersih hari ini. 12. Offering self (menawarkan diri) Adalah menyediakan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan (SchultVidebeck,1998). Misalnya, perawat : Saya akan duduk menemani Anda selama 15 menit. 13. Offering general leads (memberi petunjuk umum) Mendukung klien untuk meneruskan (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : Dan kemudian?, Teruskan. 14. Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka) Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Misalnya : Darimana Anda akan mulai?, Apa yang Anda pikirkan pagi ini?. Kegiatan ini akan bernilai apabila klien menunjukkan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien, dan akan menjadi nonterapeutik apabila perawat mendominasi interaksi dan menolak respon klien. 15. Placing the time in time (menempatkan urutan/ waktu)

16

Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian lain (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : Hal itu terjadi sebelum atau sesudah?Apa yang terjadi sebelumnya?. 16. Encourage description of persepsi) Meminta pada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan atau diterima (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : Apa yang terjadi? Ceritakan apa yang Anda alami? 17. Encourage comparison (mendukung perbandingan) Menanyakan pada klien mengenai kesamaan atau perbedaan (Schult & Videbeck, 1998). Misalnya: Apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya? Apakah hal ini mengingatkan Anda pada sesuatu hal? 18. Restating (mengulang) Pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien (Stuart & Sundeen, 1995). Misalnya: Anda berkata bahwa ibu Anda meninggalkan Anda saat Anda berumur 5 tahun. Teknik ini bernilai terapeutik karena menunjukkan bahwa perawat mendengar dan melakukan validasi, mendukung klien dan memberikan perhatian terhadap apa yang baru saja dikatakan klien. Teknik ini juga bisa digunakan pada saat kita akan klarifikasi. Misalnya: Klien: Saya benci tempat ini. Saya tidak betah di sini! Perawat: Anda tidak ingin ada di sini? 19. Reflecting (refleksi) Mengembalikan pikiran dan perasaan klien (Schult & Videbeck, 1998). Mengembalikan ide, perasaan dan pertanyaan kepada klien (Stuart & Sundeen, 1995). Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat tentang penilaian atau persetujuan. Misalnya: Klien: Haruskah saya pulang akhir minggu ini? Perawat: Menurut Anda, haruskah Anda pulang akhir minggu ini? 20. Exploring (eksplorasi) Mempelajari suatu topik lebih mendalam. Misalnya: Ceritakan tentang apa yang telah Anda gambarkan tadi. perception (mendukung deskripsi dari

17

21. Presenting reality (menghadirkan realitas/ kenyataan) Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai. Misalnya: Saya tidak mendengar seorang pun bicara, Saya adalah yang merawat Anda, Ini adalah rumah sakit. 22. Voucing doubt (menyelipkan keraguan) Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas. Misalnya: Saya melihat bahwa hal itu sulit untuk dipercaya. Teknik ini digunakan pada saat perawat ingin memberi petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain.

I.

Komunikasi

Terapeutik

dalam

Strategi

Pelaksanaan

Tindakan

Keperawatan Jiwa Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah teknik khusus, ada beberapa hal yang membedakan berkomunikasi antara orang gangguan jiwa dengan gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah sebagai berikut. 1. Penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri, sedangkan penderita gangguan penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang wajar (kecuali klien dengan perubahan fisik, misalnya klien dengan penyakit kulit, klien amputasi, klien pentakit terminal, dll). 2. Penderita gangguan jiwa cenderung asyik dengan dirinya sendiri, sedangkan penderita penyakit fisik membutuhkan support dari orang lain. 3. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, sedangkan penderita penyakit fisik bisa saja jiwanya sehat tetapi bisa juga ikut terganggu. Sebenarnya ada banyak perbedaan, tetapi intinya bukan pada mengungkap perbedaan antara penyakit jiwa dan penyakit fisik tetapi pada metode komunikasinya. Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar pengetahuan tentang ilmu komunikasi yang benar. Ide yang mereka lontarkan terkadang melompat, fokus terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan dan mengolah kata-kata bisa saja kacau balau.

18

Ada beberapa trik yang dapat kita gunakan ketika harus berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa: 1. Pada klien dengan halusinasi, perbanyaklah aktivitas komunikasi, baik meminta klien berkomunikasi dengan klien lainnya maupun dengan perawat. Klien halusinasi terkadang menikmati dunianya dan harus sering harus dialihkan dengan aktivitas fisik. 2. 3. Klien dengan harga diri rendah harus banyak diberikan reinforcement. Klien yang menarik diri harus sering dilibatkan dalam aktivitas atau kegiatan yang kelompok. Ajari dan contohkan cara berkenalan dan berbincang dengan klien lain, beri penjelasan manfaat berhubungan dengan orang lain dan akibatnya jika dia tidak mau berhubungan, dll. 4. Klien yang mengalami perilaku kekerasan, maka harus direduksi atau ditenangkan dengan obat-obatan sebelum kita support dengan terapiterapi lain. Jika klien masih mudah mengamuk, maka perawat dan klien lainnya dikhawatirkan bisa menjadi korban.

19

BAB III STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA


Berikut ini merupakan beberapa contoh penerapan komunikasi terapeutik dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa bagi klien yang mengalami waham, risiko bunuh diri, defisit perawatan diri, perilaku kekerasan, isolasi sosial, harga diri rendah, dan halusinasi.

SP Waham A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif : Klien selalu mengucapkan kalimat yang sama berulang kali, isi pembicaraan tidak sesuai dengan realita, mendominasi pembicaraan. Data Subyektif : Klien mengatakan, Saya ini seorang bos, Saya orang kaya, Saya punya banyak toko emas. 2. Diagnosa Keperawatan Gangguan proses pikir : waham kebesaran. SP-1 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum : Klien dapat berorientasi pada realita. Tujuan khusus : a. b. c. d. 4. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi. Klien dapat mengidentifikasi cara memenuhi kebutuhannya. Klien dapat memasukkan jadwal terapi ke dalam jadwal kegiatannya.

Tindakan Keperawatan a. b. Bina hubungan saling percaya. Identifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi.

20

c. d. e.

Bantu klien orientasi realita. Bantu klien memenuhi kebutuhannya. Anjurkan klien memasukkan terapi ke dalam jadwal kegiatannya.

A. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Selamat pagi, Bapak Memperkenalkan diri Perkenalkan, nama saya A. Bapak bisa memanggil saya dengan Suster A. Hari ini saya yang akan merawat Bapak mulai pukul 08.00-14.00. Siapa nama, Bapak? Bapak senangnya dipanggil apa? Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana perasaan Bapak pagi ini? Bagaimana tidurnya semalam? Kegiatan apa saja yang sudah Bapak lakukan pagi ini? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Baiklah, Bapak I, bagaimana kalau sekarang kita berbincangbincang tentang bidang yang bapak sukai? Pak, tujuan kita berbincang-bincang pagi ini agar kita saling mengenal. Bagaimana, setuju, Pak? Baik kalau begitu, bagaimana kalau kita sepakati waktu berbincangnya dulu, Bapak ingin berapa lama kita berbincangbincang? Bagaimana kalau dari jam 11.00-11.15, jadi 15 menit, bagaimana, Pak, setuju tidak? Menurut Bapak, kita lebih baik berbincang di mana? 2. Kerja Pak, sebelumnya saya ingin bertanya bagaimana awal mula Bapak bisa berada di sini? Sudah berapa lama Bapak tinggal di sini? Dengan siapa Bapak kesini? Apa yang membuat Bapak bisa berada disini? Bapak tahu sekang Bapak berada di mana? Benar, Pak, sekarang Bapak berada di Rumah Sakit Jiwa CSR, Bapak sedang dirawat untuk memulihkan kondisi Bapak. Sebelum Bapak berada di sini, kegiatan apa yang sering Bapak lakukan di rumah? Apa ada keinginan yang belum bisa Bapak penuhi? Coba Bapak sebutkan keinginan Bapak sekarang! Bidang apa

21

yang Bapak sukai? Tadi Bapak bilang Bapak memiliki toko emas, apakah Bapak suka dengan bisnis? Apa yang membuat Bapak menyukai bisnis? Bagaimana dengan politik? Mana yang bapak lebih sukai, politik atau bisnis? Mengapa Bapak lebih menyukai itu? Bapak tahu tidak sekarang Bapak ada dimana? Karena bapak sedang berada di sini, apakah menurut Bapak, Bapak bisa menjalankan bidang yang Bapak minati tersebut? Bagaimana caranya? 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaaan Bapak setelah kita berbincang-bincang mengenai bidang bapak yang bapak sukai? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Bisa Bapak sebutkan kembali bidang apa yang Bapak sukai beserta alasannya? Tindak lanjut Oke, Pak, besok kita akan berbincang-bincang lagi mengenai kemampuan yang Bapak miliki. Maka dari itu, tolong dipersiapkan dan dipikirkan kembali kira-kira kemampuan apa yang sudah Bapak miliki sekarang ini dan yang dapat Bapak kembangkan di kemudian hari, dikaitkan dengan bidang yang Bapak minati tersebut Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Baiklah, Pak, saya rasa pertemuan pagi ini sudah cukup, besok kita berbincang lagi. Bapak ingin jam berapa berbincang-bincangnya? Bagaimana kalau jam 11.00-11.15? Bapak ingin berbincangbincangnya di mana? Bagaimana kalau di ruang makan? Setuju, Pak? Oke, kalau begitu kita sepakat ya, Pak, besok berbincangbincang sesuai kesepakatan kita tadi? Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak, sampai jumpa besok. Selamat pagi!

22

SP Risiko Bunuh Diri A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif: a. Sering menangis b. Sering melamun c. Tidak mau berkomunikasi d. Ekspresi wajah tampak sedih dan tidak berdaya Data Subyektif: a. Klien pernah mencoba meminum cairan kimia pemutih baju b. Klien mengatakan ingin bunuh diri c. Klien mengatakan kondisi jiwanya tidak karuan 2. Diagnosa Keperawatan Risiko bunuh diri. SP-2 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum: Klien tetap berada dalam keadaan aman dan selamat. Tujuan khusus: a. Klien dapat mengetahui aspek positif yang dimiliki. b. Klien dapat berpikir positif tentang dirinya. c. Klien dapat mengetahui bahwa dirinya adalah individu berharga. 4. Tindakan Keperawatan a. b. c. Identifikasi aspek positif yang dimiliki oleh klien. Ajarkan cara berpikir yang positif terhadap klien. Ajarkan kepada klien bahwa ia adalah individu yang berharga.

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Selamat siang, Mas B? Masih ingat dengan saya? Ya betul, saya Suster R Memperkenalkan diri

23

Siang ini saya bertugas untuk merawat Mas lagi mulai pukul 14.0019.00 Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana keadaan Mas B siang ini? Ada yang ingin diceritakan kepada saya? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Baiklah kalau tidak ada, seperti yang sudah kita sepakati kemarin, bagaimana kalau kita mulai berbincang-bincang mengenai betapa berharganya hidup itu? Mas B maunya kita berapa lama berbincangbincangnya? Bagaimana kalau 15 menit? Mas B setuju? Mas B maunya di mana? Bagaimana kalau di taman saja? 2. Kerja Mas B, dalam hidup Mas apa saja yang perlu Mas syukuri? Siapa saja yang akan sedih dan rugi kalau Mas meninggal? Coba saya ingin tahu dan ingin mendengar hal-hal apa saja yang baik dalam kehidupan Mas B? Keadaan yang bagaimana yang dapat membuat Mas merasa puas? Iya, saya lihat kehidupan Mas baik kok. Dan itu patut Mas syukuri. Coba Mas B sebutkan lagi kegiatan apa saja yang masih dapat Mas lakukan selama ini? Bagaimana kalau kita latih kemampuan Mas, setuju? Ya, baik sekali, Mas 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Mas B setelah kita berbincang-bincang? Merasa sedikit lega? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Coba Mas B ulangi lagi apa saja kegiatan yang baik dalam kehidupan Mas? Wah, bagus sekali, Mas Tindak lanjut Mas B, tolong ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan Mas jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan ya. Bagus. Coba, ingat-ingat lagi hal-hal lain yang masih Mas miliki dan perlu disyukuri!

24

Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Besok jam 8 kita akan bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik. Bagaimana, setuju, Mas? Tempatnya di mana? Baiklah. Kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera hubungi saya ya. Selamat siang!

SP Defisit Perawatan Diri A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif: a. Rambut kotor, acak-acakan b. Badan (termasuk mulut dan gigi) dan pakaian kotor dan bau c. Kuku panjang dan tidak terawatt d. Klien tampak malas, tidak ada inisiatif Data Subyektif: a. Klien merasa lemah b. Klien merasa malas untuk beraktivitas c. Klien merasa tidak berdaya 2. Diagnosa Keperawatan Defisit perawatan diri: personal hygiene, berhias, makan, dan eliminasi. SP-1 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum: Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri. Tujuan khusus: a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. b. Klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri. c. Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat. d. Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri. e. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri. 4. Tindakan Keperawatan

25

a.

Latih klien cara perawatan kebersihan diri dengan cara: 1) Menjelaskan pentingnya menjaga akebersihan diri 2) Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri 3) Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri 4) Melatih klien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri

b.

Bantu klien latihan berhias. Latihan berhias pada pria harus dibedakan dengan wanita. Pada klien laki-laki, latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut dan bercukur, sedangkan pada klien perempuan latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut dan berhias atau berdandan.

c.

Latih klien makan secara mandiri dengan cara: 1) Menjelaskan cara mempersiapkan makan 2) Menjelaskan cara makan yang tertib 3) Menjelaskan cara merapikan peralatan makan setelah makan 4) Mempraktikkan cara makan yang baik

d.

Ajarkan klien melakukan BAB/ BAK secara mandiri dengan cara: 1) Menjelaskan tempat BAB/ BAK yang sesuai 2) Menjelaskan cara membersihan diri setelah BAB/ BAK 3) Menjelaskan cara membersikan tempat BAB/ BAK

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Assalamualaikum. Selamat pagi, Ibu Memperkenalkan diri Boleh saya berkenalan dengan Ibu? Nama saya A. Ibu boleh panggil saya Suster A. Saya mahasiswa keperawatan yang sedang praktek di sini. Kalau boleh saya tahu, nama Ibu siapa? Senangnya dipanggil dengan sebutan apa? Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat)

26

Apakah Ibu S tidak keberatan untuk mengobrol dengan saya? Menurut Ibu sebaiknya kita ngobrol tentang apa? Bagaimana kalau kita ngobrol tentang kebersihan diri? Berapa lama kira-kira bisa ngobrol? Ibu maunya berapa menit? Bagaimana kalau 10 menit? Bisa? Bagaimana kalau kita mengobrol di teras depan sana? Ibu setuju? 2. Kerja Ibu S, biasanya Ibu mandi berapa kali dalam sehari? Apakah hari ini Ibu sudah mandi? Menurut Ibu apa kegunaan mandi? Apa alasan Ibu sehingga tidak bisa merawat diri dengan bersih? Menurut Ibu, apa manfaatnya kalau kita menjaga kebersihan diri? Kira-kira tanda-tanda orang yang tidak merawat diri dengan baik seperti apa ya? Gatal, kulit berminyak, mulut bau, kepala berketombe Apa lagi? Kalau kita tidak menjaga kebersihan diri, penyakit apa yang akan muncul? Betul, kudis, panu, ketombe, dll Apa lagi? Apa yang Ibu lakukan untuk merawat rambut? Kapan saja Ibu keramas? Pakai shampoo tidak? Berapa kali Ibu sikat gigi dalam sehari? Kapan saja waktunya? Di mana biasanya Ibu BAB dan BAK? Setelahnya disiram tidak? Berapa gayung air untuk menyiramnya? Menurut Ibu, kalau mau mandi apa saja yang perlu dipersiapkan? Nah, sekarang kita ke kamar mandi. Kita akan latihan cara menggosok gigi dengan benar dan bersih hasilnya ya. Sekarang coba siapkan sikat gigi Ibu. Ambil pasta gigi. Kumur-kumurlah. Lalu, sikat gigi dengan arah dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Bagus. Sekarang kumurkumur lagi sampai bersih ya 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap dan latihan tentang perawatan diri tadi? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Coba sebutkan lagi cara-cara mandi yang benar dan bersih seperti yang Ibu sudah lakukan tadi? Bagus!

27

Tindak lanjut Nah, Ibu mau sikat gigi berapa kali dalam sehari? Oke, mari kita masukkan ke dalam jadwal aktivitas harian ya, Bu?

Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Ibu S, bagaimana kalau besok pagi kita ketemu lagi jam 07.30. Kita akan mengobrol selama 20 menit untuk latihan menjaga kebersihan badan dan rambut juga mengganti pakaian. Bagaimana, Ibu setuju? Mau bertemu di mana nanti? Di sini lagi? Baiklah, sampai ketemu besok ya, Bu. Selamat pagi. Assalamualaikum

SP Perilaku Kekerasan A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif : a. b. c. d. e. f. g. h. Klien tampak tegang saat bercerita Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan amarahnya Mata melotot, pandangan tajam Mengancam secara verbal dan fisik Nada suara tinggi Tangan mengepal Berteriak/ menjerit Memukul

Data Subyektif : a. b. c. 2. Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan. Klien mengatakan merasa orang lain mengancam. Klien mengatakan orang lain jahat.

Diagnosa Keperawatan Risiko tinggi merusak lingkungan dan orang sekitar b.d. perilaku kekerasan. SP-1

3.

Tujuan Keperawatan

28

Tujuan umum : Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika. Tujuan khusus : e. f. g. h. Klien dapat membina hubungan saling percaya Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan i. j. k. l. 4. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan Klien dapat mempraktikkan cara mengontrol perilaku kekerasan Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

Tindakan Keperawatan a. b. c. Bina hubungan saling percaya. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya. d. Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini. e. Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara yang dilakukan pada : 1) Diri sendiri 2) Orang lain/keluarga 3) Lingkungan f. g. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan. Diskusikan bersama klien tentang cara mengontrol fisik dan bantu klien dalam mempraktikkan latihannya. h. Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan di dalam jadwal kegiatan hariannya.

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi

29

Salam terapeutik Assalamualaikum. Selamat pagi. Memperkenalkan diri Perkenalkan, Mbak, nama saya S. Mbak bisa panggil saya Suster S. Mbak namanya siapa? Biasanya dipanggil apa?

Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana perasaan Mbak pagi hari ini? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Topik: Baiklah Mbak D, saat ini kita akan membahas tentang penyebab Mbak marah dan mengontrol rasa marah secara fisik Waktu: Mbak D ingin berapa lama kita berbincang-bincang? Tempat: Di mana tempat yang Mbak D inginkan untuk kita berbincang-bincang?

2.

Kerja a. Identifikasi penyebab perilaku kekerasan Apa yang menyebabkan Mbak D marah? b. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan Saat Mbak D sedang marah, apa yang akan Mbak rasakan? Apakah dada Mbak berdebar-debar lebih kencang? Atau mata melotot? c. Identifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan Saat Mbak D marah, apa yang Mbak lakukan? d. Identifikasi akibat risiko tinggi perilaku kekerasan Apakah dengan cara itu marah/ kesal Mbak dapat terselesaikan?, Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mbak D alami?, Betul, Mbak jadi masuk ke ruang isolasi e. Menyebutkan cara mengontrol risiko tinggi perilaku kekerasan Pertama, mari kita coba melakukan latihan tarik napas dalam. Sekarang Mbak D bisa berdiri atau duduk rileks, lalu tarik napas dalam dari hidung tahan sebentar, lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Ini dilakukan sebanyak 5 kali ya Mbak? f. Membantu klien mempraktikkan cara latihan cara mengontrol fisik

30

Sekarang coba Mbak lakukan bagaimana latihan napas dalam? Pertama tarik napas melalui hidung, ya seperti itu Mbak bagus, kemudian hembuskan melalui mulut. Ini dilakukan selama 5 kali ya Mbak. Ayo sekarang lakukan kembali, tarik napas dalam-dalam melalui hidung, Mbak D rasakan betapa sejuknya udara bersih yang masuk ke paru-paru kita, kemudian hembuskan pelan-pelan melalui mulut, ya seperti itu Mbak, bagus.. g. Membantu klien memasukkan kegiatan sehari-hari Nah, Mbak D, tadi telah melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam, bagaimana kalau latihan ini kita jadikan jadwal kegiatan sehari-hari Mbak?, Baik, kita masukkan ya ke jadwal kegiatan sehari-hari Mbak?, Kapan waktu yang Mba; D inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 09.00 pagi? 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Mbak setelah melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Kelihatannya Mbak terlihat sudah lebih rileks. Kalau begitu coba Mbak praktikkan lagi latihan teknik napas dalam yang saya ajarkan tadi Tindak lanjut Ya bagus, Mbak. Mbak telah bisa melakukannya dengan baik. Besok kita akan bertemu kembali untuk mengajarkan Mbak D teknik relaksasi lain yang dapat membantu mengontrol rasa marah Mbak. Tapi sebelumnya Mbak D harus bisa mengatasi rasa marah Mbak dengan teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Baik Mbak D, kita sudah selesai berbincang-bincangnya. Besok saya akan menemui Mbak kembali untuk melihat perkembangan kondisi Mbak D dan mengajarkan teknik relaksasi yang lain. Mbak

31

D mau jam berapa kita ketemu? Baik jam 09.00 ya Mbak, sesuai kesepakatan kita. Tempatnya di sini ya, Mbak? Sampai jumpa besok. Assalamualaikum

SP Isolasi Sosial A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif: a. Klien tampak sering murung dan menyendiri b. Kontak mata kurang Data Subyektif: Klien mengatakan bahwa tidak ada gunanya lagi ia berinteraksi dengan orang lain. Ia hanya ingin hidup sendiri saja. 2. Diagnosa Keperawatan Isolasi sosial b.d. sistem pendukung yang tidak adekuat. SP-1 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum: Klien dapat melakukan hubungan social secara bertahap. Tujuan khusus: a. b. c. Klien mampu membina hubungan saling percaya pada perawat. Klien mampu mengenal penyebab menarik diri. Klien mampu mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. d. e. 4. Klien mampu berkenalan dengan orang lain. Klien mampu memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya.

Tindakan Keperawatan a. b. c. Bina hubungan saling percaya. Bantu klien mengenal penyebab menarik diri. Bantu klien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. d. e. Kaji kemampuan klien membuna hubungan dengan orang lain. Ajarkan klien berkenalan dengan orang lain.

32

f. g.

Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Selamat pagi, Mbak Memperkenalkan diri Perkenalkan, saya Perawat B. Saya yang akan membantu dan merawat Mbak hari ini. Nama Mbak siapa? Biasanya dipanggil apa? Kalau butuh bantuan, Mbak dapat menghubungi saya Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana perasaan Mbak saat ini? Apakah ada keluhan? Semalam bisa tidur nyenyak? Obatnya sudah diminum? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Mbak R, bagaimana kalau pagi ini kita mengobrol tentang keluarga dan teman-teman Mbak? Mbak mau berapa lama bercakap-cakap? Bagaimana kalau 10 menit. Mbak R mau bercakap-cakap di mana? Bagaimana kalau ruangan ini? 2. Kerja Siapa saja yang tinggal serumah dengan Mbak? Siapa yang paling dekat dengan Mbak? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan Mbak? Apa yang membuat Mbak jarang bercakap-cakap dengannya? Selama dirawat di sini, apakah Mbak merasa kesepian? Siapa saja yang Mbak kenal di ruangan ini? Kegiatan apa saja yang biasa Mbak lakukan dengan teman yang Mbak kenal? Apa yang menghambat Mbak dalam berteman dan bercakap-cakap dengan klien lain? Menurut Mbak R, apa saja keuntungan kalau kita mempunyai teman? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? (sampai klien menyebutkannya). Nah, kalau kerugiannya tidak mempunyai teman apa ya? Ya, apa lagi? (sampai klien menyebutkan beberapa). Jadi banyak

33

juga ruginya tidak mempunyai teman ya? Kalau begitu, apakah Mbak R ingin belajar untuk mengenal orang lain? Bagus, bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain? Begini Mbak, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita, nama panggilan yang kita sukai, asal dan hobi kita. Contoh: Nama saya X, panggil saya X. Asal saya dari Bandung dan hobi saya memasak. Selanjutnya Mbak menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Ibu siapa? Senang dipanggil siapa? Asalnya dari mana/ hobinya apa?. Ayo Mbak dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan Mbak. Coba berkenalan dengan saya! Ya, bagus sekali! Coba sekali lagi! Bagus sekali! 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Mbak R setelah kita berbincang-bincang dan latihan berkenalan tadi? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Selanjutnya coba Mbak ingat-ingat lagi cara berkenalan dengan orang lain seperti yang telah kita pelajari tadi dan coba dipraktikkan dengan saya lagi Tindak lanjut Baik Mbak R, bagaimana kalau Mbak latihan berkenalan dengan salah seorang teman Mbak yang ada di ruangan? Mbak R mau berkenalan dengan siapa? Nanti kalau ada kesulitan kita bicarakan lagi Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Mbak R, kita cukupkan dulu pertemuan kita pagi ini. Besok kita ketemu lagi untuk melatih Mbak berkenalan dengan banyak orang. Saya akan membawa salah seorang teman saya, Perawat Y. Bagaimana, Mbak siap? Oke, mau ketemu lagi jam berapa? Bagaimana kalau jam 11.00? Mbak R mau bercakap-cakap di mana?

34

Bagaimana kalau di ruang makan lagi? Baik, sampai ketemu besok ya, Mbak

SP Harga Diri Rendah A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif: a. b. Klien tampak tidak mau bergabung dengan orang-orang sekitarnya. Inisiatif diri klien kurang.

Data Subyektif: a. b. Klien merasa malu bertemu dengan orang lain. Klien sering mengeluh merasa tidak berdaya ketika melakukan suatu aktivitas. 2. Diagnosa Keperawatan Gangguan konsep diri: harga diri rendah. SP-1 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum: Klien dapat mengembalikan kembali harga dirinya. Tujuan khusus: a. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. b. c. Klien dapat menilai kemampuan klien yang dapat digunakan. Klien dapat memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan klien. d. e. f. 4. Klien dapat berlatih sesuai dengan kemampuan yang dipilih. Klien dapat pujian yang wajar terhadap keberhasilan yang dicapai. Klien dapat memasukkan kegiatannya ke dalam jadwal harian klien.

Tindakan Keperawatan a. b. c. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. Bantu klien menilai kemampuan klien yang dapat digunakan. Bantu klien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan klien.

35

d. e. f.

Latih klien sesuai kemampuan yang dipilih. Berikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan.

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Selamat pagi, Ibu R Memperkenalkan diri Saya Suster Am. Hari ini saya yang akan menemani Ibu Membuka pembicaraan dengan topik umum Apa yang Ibu rasakan sekarang? Bagaimana tidur Ibu semalam? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Ibu, hari ini kita akan ngobrol-ngobrol. Bagaimana kalau kita ngobrol tentang kegiatan yang ibu sukai? Kita ngobrol selama 15 menit saja, bagaimana, Ibu bisa? Tempatnya Ibu mau di mana? 2. Kerja Bu R, kegiatan apa yang Ibu senangi? Apa Ibu suka memasak dan merapikan tanaman? Ya, bagus sekali kegiatannya. Selain itu ada lagi tidak? Ayo coba ibu ingat-ingat lagi Nah, kegiatan itu bisa dilakukan di sini lho. Nyapu, olahraga, dan nyuci piring bisa lho Ayo, kita coba sekarang nyapu ya. Iya, bagus sekali ibu. Ibu bisa melakukannya dengan baik Sekarang, kita buat lagi jadwal kegiatan yang baru. Kita masukkan ke jadwal kegiatan sehari-hari Ibu yuk 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Ibu setelah ngobrol-ngobrol tadi? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Bu tadi kita sudah bicara banyak tentang kegiatan yang disukai Ibu. Bisa Ibu sebutkan lagi? Tindak lanjut

36

Nah, Ibu bisa melakukan semua kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang kita susun tadi. Suster akan liat ya Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Bagaimana kalau nanti kita ketemu lagi seperti ini? Kita latihan merapikan tanaman ya. Kita akan ketemu lagi jam setengah 2 ya. Kita ketemuan di taman saja bagaimana, Bu? Baik, sampai jumpa nanti

SP Halusinasi A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Data Obyektif: a. b. Klien tampak tenang, kontak mata kurang Klien tampak sering bernyanyi sendiri

Data Subyektif: Klien merasa sering mendengar suara-suara yang ingin melamarnya. Suara itu kadang-kadang membuat klien sangat takut. 2. Diagnosa Keperawatan Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. SP-1 3. Tujuan Keperawatan Tujuan umum: Klien dapat mengendalikan halusinasinya. Tujuan khusus: a. Klien mampu menyebutkan isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan perasaan. b. Klien mampu memperagakan cara mengontrol halusinasinya dengan menghardik. 4. Tindakan Keperawatan a. b. c. Identifikasi jenis halusinasi. Identifikasi isi halusinasi. Identifikasi waktu halusinasi.

37

d. e. f. g. h.

Identifikasi frekuensi halusinasi. Identifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi. Identifikasi respon klien terhadap halusinasi. Ajarkan klien menghardik halusinasi. Masukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan.

B. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK 1. Orientasi Salam terapeutik Assalamualaikum, Mbak I Memperkenalkan diri Mbak I masih ingat dengan saya? Ayo, siapa coba nama saya? Iya, betul sekali, saya Perawat L yang sedang praktik di sini Membuka pembicaraan dengan topik umum Bagaimana perasaan Mbak I hari ini? Oh iya, tadi pagi Mbak I bangun jam berapa? Kemudian sudah melakukan apa saja pagi ini? Apa Mbak I sudah mandi? Evaluasi/ validasi kontrak (topik, waktu, tempat) Mbak I masih ingat apa yang kemarin kita bicarakan? Hari ini kita mau berbincang-bincang tentang apa? Ya betul, hari ini kita akan bercakap-cakap tentang suara yang Mbak I rasakan dan cara mengontrolnya dengan menghardik. Mbak I masih ingat kemarin kita mau bicara di mana dan berapa lama? Mbak lupa yah? Hari ini kita akan berbincang-bincang di teras, waktunya tidak lama hanya sekitar 15 menit. Bagaimana Mbak I sudah siap? 2. Kerja Apakah Mbak I mendengar suara tanpa ada wujudnya? Apa yang dikatakan suara itu? Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktuwaktu? Kapan yang paling sering Mbak I dengar? Berapa kali sehari Mbak alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri? Apa yang Mbak I rasakan pada saat mendengar suara itu? Apa yang Mbak lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-

38

suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul? Mbak I, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang keempat minum obat dengan teratur Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik? Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung Mbak bilang, Pergi! Saya tidak mau dengar! Saya tidak mau dengar! Kamu suara palsu!. Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba Mbak peragakan! Nah begitu, bagus! Coba lagi! Ya bagus, Mbak sudah bisa 3. Terminasi Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang Bagaimana perasaan Mbak setelah peragaan latihan tadi? Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini Coba Mbak I ulangi lagi apa yang sudah kita pelajari hari ini? Iya bagus, Mbak Tindak lanjut Kalau suara-suara itu muncul lagi, silahkan coba cara tersebut! Terus berlatih ya, Mbak, walaupun saya sedang tidak ada. Bagaimana kalau kita buat jadwal latihannya? Mau jam berapa saja latihannya? Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topik, waktu, tempat) Baiklah, Mbak, besok kita akan bertemu untuk belajar dan melatih cara kedua, yaitu mengontrol halusinasi dengan becakap-cakap dengan orang lain. Mbak I mau dimana tempatnya? Jam berapa Mbak bisanya? Bagaimana kalau jam 10.00? Waktunya hanya 15 menit saja. Baiklah, sampai jumpa. Assalamualaikum

39

BAB IV PENUTUP
Pada kenyataanya, perawat di samping kodratnya sebagai makhluk individu dan mahluk sosial, perawat juga merupakan makhluk profesi yang memerlukan skill di bidangnya, khususnya di bidang keperawatan. Perawat harus mampu menjalankan segala tahapan dalam komunikasi terapeutik yang meliputi tahap awal, lanjutan, dan terminasi. Kemampuan menerapkan teknik komunikasi terapeutik memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan karena komunikasi terjadi tidak dalam kemampuan tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak

terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi perawat. Komunikasi juga akan memberikan dampak terapeutik bila dalam penggunaannya diperhatikan sikap dan teknik komunikasi terapeutik. Hal lain yang cukup penting diperhatikan adalah dimensi hubungan. Dimensi ini merupakan faktor penunjang yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan kemampuan berhubungan terapeutik.

40

DAFTAR PUSTAKA
Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan. Jakarta : Graha Ilmu. Potter, P.A & Perry, A.G. 1993. Fundamental of Nursing Concepts, Process and Practice. Third edition. St.Louis: Mosby Year Book. Purwanto ,Heri. 1994. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta : EGC. Stuart, G.W & Sundeen S.J. 1995. Pocket guide to Psychiatric Nursing. Third edition. St.Louis: Mosby Year Book. Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktik. Jakarta : EGC.
http://b3900k.blogspot.com/2012/01/gambaran-kasus-dan-spstrategi.html#.UKYqwmfT5hU, diakses pada 16 November 2012 pukul 19.01 http://eprints.undip.ac.id/17835/1/3744.pdf http://amyededio.blogspot.com/2011/05/1.html, diakses pada 16 November 2012 pukul 19.03 http://chelsyarachel.blogspot.com/2012/02/contoh-sp-keperawatan-jiwa.html, diakses pada 16 November 2012 pukul 19.07 http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012/03/strategi-pelaksanaantidakan.html, diakses pada 16 November 2012 pukul 19.10

41