Anda di halaman 1dari 39

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA I. : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J.

KANTU : D61 112 101

LATAR BELAKANG Dalam mempelajari ilmu tentang fosil dan hubungannya tentang penentuan

umur suatu lingkungan yang ada di sekitarnya terlebih dahulu kita harus mengetahui bagaimana proses terbentuknya fosil tersebut, unsur apa yang terkandung di dalam fosil tersebut dan dimana lingkungan hidup dari fosil itu sebelumnya. Untuk mempelajari hal tersebut kita harus mengenal fosil tersebut termasuk dalam kingdom apa? kita juga harus mengenal bagian-bagian yang ada pada tubuh fosil tersebut dapat diklasifikasi dengan baik dan dapat mengenal dengan baik pendukung lainnya. Begitu pula dalam mempelajari fosil tentang filum Porifera, kita harus mengenal jenis dari filum tersebut agar dapat di klasifikasikan sesuai kelas,ordo dan seterusnya. Dalam mempelajari filum coelenterata ini, kita dapat mengetahui bagaimana keadaan laut yang merupakan tempat organisme ini hidup. Selain itu kita dapat mengetahui komunitas apa saja yang hidup di sekitar fosil ini pada waktu itu. Dengan hal tersebut kita dapat bagaimana kondisi lingkungan laut pada saat itu. Sehingga menjadi lebih mudah dalam menentukan umur bumi. I.1. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini ialah untuk mengenalkan kepada mahasiswa baru teknik geologi universitas hasanuddin fosil-fosil yang terdapat pada filum coelenterata. Sedangkan maksud dari praktikum ini agar mahasiswa (praktikan) mampu mendeskripsi fosil pada filum coelenterata serta dapat mengklasifikasikan fosil-fosil pada filum ini.

I.2. Alat dan Bahan I.2.1. Alat : 1. Lap Kasar 2. Lap Halus 3. ATM (Alat tulis-menulis) 4. Buku penumtun praktikum Paleontologi 2013 5. Kertas F4 6. Format praktikum I.2.2. Bahan : 1. Sampel (fosil invertebrata) 2. Larutan HCl

I.3. Teori Ringka Kata coelenterata berasal dari bahasa yunani, yaitu coelenterons yang berarti rongga. Sehingga dapat didefinisikan coelenterata merupakan hewan invertebrata yang memiliki rongga tubuh yang berfungsi sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler). I.3.1 Ciri-ciri Coelenterata Berbentuk simetri radial/biradial, dengan satu lubang yang berfungsi sebagai mulut (dikelilingi oleh tentakel). Termasuk fauna invertebrate (tidak bertulang belakang). Mulut langsung berhubungan dengan rongga Gastrovaskuler >> enteron. Sistem saraf terletak disepanjang dinding tubuhnya. Disekitar mulut terdapat tentakel yang berfungsi sebagai anus. Mempunyai 2 bentuk:

Polyp : Berbentuk seperti tabung & membuka keatas, sebagian mulut dikelilingi oleh tentakel dan bagian bawahnya tertutup, menambatkan diri pada dasar (benthos secyl) & kerangkanya bersifat calcareous. Medusa : Tidak mempunyai bagian yang keras. Bentuknya seperti paying dengan tentakel yang menggantung sepanjang tepi dengan mulut terdapat pada bagian akhir manubrium. Terdapat gonad, yang berfungsi sebagai penghasil sel-sel reproduksi. Hidup secara koloni dan soliter, terutama dalam bentuk secyl.

I.3.2 Syarat-Syarat Hidup Coelenterata Tropik Neritic Atas ( 150 m ) Hidup marine Sirkulasi air cukup baik I.3.3 Bagian-bagian tubuh Coelenterata Oral Disk : Katub yang terletak pada tubuh fosil.

Oral Opening : Tempat keluar-masuknya makanan. Exoskeleton Hypostoma : Rangka bagian luar. : Bagian yang tertambat pada fosil, pada filum lain

diistilahkan dengan Holdfast. Calix fosil. Enteron calix Test : Bagian keseluruhan dari tubuh fosil. : Garis tumbuh pada fosil dan juga sebagai pemisah antar : Kamar/garis-garis halus yang terdapat di permukaan tubuh

I.3.4 Perkembangbiakan Coelenterata Terdapat dua cara perkembangbiakan pada filum Coelenterata: Sexual Pada Medusa : Gonad menghasilkan sel jantan & sel betina (hermprodit). Sel jantan dikeluarkan melalui mulut, berenang masuk ke individu lain yang sama spesiesnya melalui mulut. Sel jantan & sel betina akan membentuk zygot, lalu membentuk larva bercilia, berenang melalui mulut menjadi individu baru. Pada Polyp betina. Aseksual (hanya pada Polyp) Fision : bagian keras membelah menjadi 2 bagian, tetapi : Gastrodermis menghasilkan sel jantan dan sel

masih saling menempel. Rejuvenencens : bagian keras membelah menjadi 2 bagian, dimana masing-masing menjadi individu baru.

Budding

: pada dinding tubuhnya bisa mengadakan tunas

baru, kecuali pada bagian yang ada sengatnya, biasanya disekitar mulut. I.3.5 Klasifikasi Coelenterata I.3.5.1 Kelas Hydrozoa Hidupnya ada yang soliter (terpisah) dan ada yang berkoloni

(berkelompok). Hydrozoa yang soliter mempunyai bentuk polyp, sedangkan yang berkoloni dengan bentuk polyp dominan dan beberapa jenis membentuk medusa. Contoh Hydra dan Obellia. Kelas hydrozoa terbagi menjadi beberapa ordo, yaitu : Ordo Hyroida : Pada ordo ini yang hidup secara soliter berbentuk

seperti polyp, sedangkan yang hidup berkoloni sebagai medusa. Exoskeleton berbentuk seperti dendritic ataupun seperti bunga dengan komposisi zat tanduk. Ordo Hydrocorallina : Rangka terdiri dari jaringan-jaringan zat yang calcareous itu dikeluarkan oleh Coenenchym ternyata mempunyai lubang yang menyerupai tabung. Tabung yang besar disebut Gastropor sedangkan tabung yang kecil disebut Dactylopor yang merupakan pelindung dari polyp. Ordo Trachylina : Yang berbentuk sebagai medusa mempunyai

selaput yang sangat tipis dan berkembang langsung ovum, melalui tingkatan, sedangkan yang berbentuk sebagai polyp akan segera mengalami pertumbuhan yang akhirnya berbentuk pula sebagai medusa. Ordo Suphonora : Yang berbentuk sebagai polyp ternyata mempunyai

rangka yang bertugas sebagai pelindung yang bertugas membentuk fidding (mencerna makanan).

I.3.5.2 Kelas Scyphozoa Bentuk tubuh Scyphozoa menyerupai mangkuk atau cawan, sehingga sering disebut ubur-ubur mangkuk. Contoh hewan kelas ini adalah Aurelia Aurita, berupa medusa berukuran garis tengah 7-10 mm, dengan pinggiran berlekuk-lekuk 8 buah. Hewan ini banyak terdapat di sepanjang pantai. Seperti Obelia, Aurellia juga mengalami pergiliran keturunan seksual dan aseksual. Aurellia memilki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu betina. I.3.5.3 Kelas Anthozoa Anthozoa adalah hewan yang berbentuk seperti bunga atau hewan bunga. Anthozoa dalam daur hidupnya hanya mempunyai polyp. Bila dibandingkan, polyp Anthozoa berbeda dengan polyp pada Hydrozoa. Tubuh kelas ini mempunyai sifat bilateral simetri. Tubuh lebih pendek dari golongan-golongan yang lain akan tertambatp pada dasar yang tetap pada eksalatonnya. Anthozoa yang mempunyai rangka terdiri dari zat citine yang umumnya menghasilkan rangka-rangka yang pokok yang dilapisi dengan epidermis atau kulit-kulit luar membentuk struktur dimana merupakan rangka luar yang sesungguhnya. Kelas anthozoa terbagi atas 3 sub-kelas, yaitu: Kelas Octacorallia. Ciri utama mempunyai 8 tentakel, dimana akan bertemu dibagian pinggirnya dengan oral disk yang terdapat pada sebelah mulutnya. Hidup berkoloni dengan bentuk coral bulat atau bercabang. Terbagi atas 6 ordo, yaitu: o Ordo Stolorifera Polyp timbur dari suatu atau lebih colonial tube, dan terikat pada satu basal stolen. Ordo ini hidup di daerah tropis pada laut dangkal.

o Ordo Telestocea Pada umumnya koloni ordo ini terdiri dari beberapa cabang (steam) yang sangat sederhana dan timbul dari dasar yang sangat kecil. o Ordo Alcyonaceae Merupakan koral yang lunak dimana mempunyai polyp dengan bagian bawah melekat dengan bagian dalam mesenchym dan hanya koral saja yang menyembur keluar. o Ordo Coenothrcalia Mempunyai rumah yang masif terdiri dari jaringan-jaringan skeleton dengan komposisi aragonite. o Ordo Gorgonacea Khusus mempunyai dinding-dinding zat tanduk, dijumpai tidak kurang dari 1000 spesies. o Ordo Pennatulacea Merupakan koloni yang mempunyai bentuk besar dan panjang serta merupakan secondary polyp yang tumbuh secara real. Kelas Zoantharra Jumlah mesentrilis 6 buah atau kelipatan 6. Mempunyai bentuk silindris memperlihatkan kenampakan luar ridial simetri dengan oral dan oral disk yang disekelilingnya terdapat banyak tentakel. Terdiri dari 5 ordo, yaitu: o Ordo Axitiniaria Mempunyai bentuk seperti botol, tidak mempunyai rangka, serta menambatkan diri pada dasar laut. o Ordo Sceleratinia

Pada tubuhnya terdapat septa-septa, pada eksiskeleton yang dikeluarkan oleh sel-sel epidermis. Pada umunya bagian

exoskeleton pada masing-masing individu polyp mempunyai basal disk, mempunyai oral disk dan beberapa tentakel disekelilingnya. o Ordo Zoanthidea Mempunyai cara hidup berkoloni atau soliter, tidak mempunyai pedal disk, rangkanya sangat pendek, dan sangat sedikit dijumpai sebagai fosil. o Ordo Antiphalaria Umumnya disebut black koral, terlihat sebagai tumbuhan yang panjang dan ramping, koloni dari zat tanduk dengan rangka yang berduri. o Ordo Ceriantharia Berbentuk silinder ramping, hidup terpendam di dalam lumpur, hanya pada bagian oral disk atau tentakel-tentakel saja yang nampak, dan tidak mempunyai skeleton. Kelas Tabula Sesuai dengan namanya maka cirri-ciri dari kelas ini adalah mempunyai tabulae yang datar dan kuat tetapi tidak mempunyai septa-septa yang berbentuk silindris maupun primatis. Jenis ini mempunyai jangka hidup Ordovisium bawah hingga Perem, dijumpai beberapa yang merupakan fosil indeks dan mempunyai penyebaran yang luas, yaitu: Favosites dan Hallysites

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Oral Disk Oral Opening Calix Exoskeleton Enteron Hypostoma

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Exoskeleton 5. Enteron 6. Hypostoma
Ventral Dorsal Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:2 : 222 : Coelenterata : Anthozoa : Rugosa : Omphymanidae : Omphyma : Omphyma subturbinata (ORB.) : Petrifikasi (Permineralisasi) : Conical : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Silur Tengah : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa, Ordo Rugosa, family Omphymanidae, genus Omphyma dengan nama spesies Omphyma subturbinata (ORB.). Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma

Ventral

Dorsal

Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:3 : 1654 : Coelenterata : Anthozoa : Sceleratinia : Montlivaltianidae : Montlivaltia : Montlivaltia sp. : Petrifikasi (Mineralisasi) : Branching : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Jura Atas (160-141 juta tahun lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa, Ordo Sceleratinia, family Montlivaltianidae, genus Montlivaltia dengan nama spesies Montlivaltia sp. Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma

Ventral

Dorsal

Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:4 : 1802 : Coelenterata : Anthozoa : Tabulata : Hippuritellanidae : Hippuritella : Hippuritella resectus DEFR. : Petrifikasi (Mineralisasi) : Tabular : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Kapur Atas (370-360 juta tahun lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa, Ordo Tabulata, family Hippuritellanidae, genus Hippuritella dengan nama spesies Hippuritella resectus DEFR.

Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa air, es maupun angin. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Di dalam cekungan material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Kemudian terjadi proses leaching/pencucian dimana bagian tubuh yang kurang resisten tergantikan oleh mineral yang lebih resisten. Selanjutnya organisme ini mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Seiring berjalan waktu organisme tersebut menjadi keras/membatu dan menjadi fosil. Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat melalui proses-proses tektonik.

Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai fosil. Fosil ini memilki bentuk Tabular yaitu bentuk fosil yang menyerupai

tabung. Adapun bagianbagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil,

Hypostoma adalah bagian pada tubuh fosil yang tertambat, bagian ini pada filum lain disebut holdfast,

Oral opening yaitu tempat kelur masuknya makanan pada fosil, Chalix adalah garis-garis halus yang ada pada tubuh fosil, Oral disk adalah katub yang terletak pada tubuh fosil, Endoderm adalah lapisan bagian dalam pada tubuh fosil. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCL 0,1 M, sehingga dapat

diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Devon Tengah atau sekitar 370360 juta tahun yang lalu. Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu

batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat me ngetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI: 1. Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
2. www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi 3. www.wikipedia.com/Hippuritella

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma

Ventral

Dorsal

Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:5 : 805 : Coelenterata : Anthozoa : Rugosa : Zonophyllumidae : Zonophyllum : Zonophyllum pyriforme : Petrifikasi (Mineralisasi) : Conical : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk filum Coelenterata, kelas Anthozoa dan merupakan ordo Rugosa, family Zonophyllumidae, Genus Zonophyllum dengan nama spesies Zonophyllum pyriforme.

Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, maupun es. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh materialmaterial sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Di dalam cekungan material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Kemudian terjadi proses leaching/pencucian dimana bagian tubuh yang kurang resisten tergantikan oleh mineral yang lebih resisten. Selanjutnya organisme ini mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Seiring berjalan waktu organisme tersebut menjadi keras/membatu dan menjadi fosil. Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat melalui proses-proses tektonik.

Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai fosil. Fosil ini memilki bentuk Konikal yaitu bentuk fosil yang menyerupai kerucut, yang diameternya dari bawah ke atas semakin besar. bagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : Test yaitu bagian keseluruhan dari tubuh fosil, Adapun bagian

Hypostoma bagian pada tubuh fosil yang tertambat, Oral opening yaitu tempat kelura masuknya makanan pada fosil, Chalix garis-garis halus yang ada pada tubuh fosil, Oral disk katub yang terletak pada tubuh fosil, Enteron adalah garis pembatas antara ruang chalix. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCL 0,1 M, sehingga dapat

diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Devon Tengah atau sekitar 370360 juta tahun yang lalu. Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan, menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat me ngetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI: 1. Asisten Paleontologi 2011/2012.Penuntun Praktikum Paleontologi

2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
2. www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi 3. www.wikipedia.com/Zonophyllum

ASISTEN

PRAKTIKAN

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma

Ventral

Dorsal

Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:6 : 278 : Coelenterata : Anthozoa : Rugosa : Gyronemanidae : Gyronema : Gyronema armat : External Mold : Conical : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa dan merupakan ordo Rugosa, family Gyronemaidae, Genus Gyronema dengan nama spesies Gyronema armata.

Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, maupun es. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh materialmaterial sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Di dalam cekungan material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Kemudian terjadi proses leaching/pencucian dimana bagian tubuh yang kurang resisten tergantikan oleh mineral yang lebih resisten. Selanjutnya organisme ini mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Seiring berjalan waktu organisme tersebut menjadi keras/membatu dan menjadi fosil. Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat melalui proses-proses tektonik.

Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai fosil. Fosil ini memilki bentuk Konikal yaitu bentuk fosil yang menyerupai kerucut, yang diameternya dari bawah ke atas semakin besar. bagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil. Adapun bagian

Hypostoma adalah bagian pada tubuh fosil yang tertambat,bagian ini pada filum lain disebut holdfast.

Oral disk adalahkatub yang terletak pada tubuh fosil. Enteron adalah garis pembatas antara ruang chaliks. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCL 0,1 M, sehingga dapat

diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Devon Tengah atau sekitar 370360 juta tahun yang lalu. Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu

batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat me ngetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI: 1. Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
2. www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi 3. www.wikipedia.com/ Gyronema

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma

Ventral

Dorsal

Samping

No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan

:7 : 459 : Coelenterata : Anthozoa : Tabulata : Favositesidae : Favosites : Favosites polymorphus GOLDF. : Petrifikasi (Mineralisasi) : Tabular : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa ordo Tabulata, family Favositesidae, Genus Favosites, spesies Favositesidae. Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, maupun es.

Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh materialmaterial sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Di dalam cekungan material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Kemudian terjadi proses leaching/pencucian dimana bagian tubuh yang kurang resisten tergantikan oleh mineral yang lebih resisten. Selanjutnya organisme ini mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Seiring berjalan waktu organisme tersebut menjadi keras/membatu dan menjadi fosil. Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat melalui proses-proses tektonik.

Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai fosil. Fosil ini memilki bentuk Tabular yaitu bentuk fosil yang menyerupai tabung. Adapun bagianbagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil. Hypostoma adalah bagian pada tubuh fosil yang tertambat, bagian ini pada filum lain disebut holdfast. oral opening adalah tempat kelur masuknya makanan pada fosil.

Chalix adalah garis-garis halus yang ada pada tubuh fosil. oral disk adalah katub yang terletak pada tubuh fosil. Enteron adalah garis pembatas antara ruang chaliks. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCL 0,1 M, sehingga dapat

diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Devon Tengah atau sekitar 370360 juta tahun yang lalu. Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu

batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat me ngetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI: 1. Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
2. www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi 3. www.wikipedia.com/favositespolymorpus

ASISTEN

PRAKTIKAN

( ADNAN ISWANDI)

( RICHY JOHANIS KANTU )

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/TGL ACARA : SENIN, 18 MARET 2013 : COELENTERATA NAMA NO. MHS : RICHY J. KANTU : D61 112 101 Keterangan: 1. Oral Disk 2. Oral Opening 3. Calix 4. Test 5. Exoskeleton 6. Enteron 7. Hypostoma Ventral No. Urut No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur L.P Keterangan :8 : 155 : Coelenterata : Anthozoa : Rugosa : Omphymanidae : Omphyma : Omphyma subturbinata (ORB.) : Petrifikasi (Mineralisasi) : Conical : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Silut Tengah (435-423 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal : Dorsal Samping

Fosil ini termasuk dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa, ordo Rugosa, family Omphymanidae, Genus Omphyma, dan spesies Omphyma subturbinata (ORB.).

Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lainlain Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Di dalam cekungan material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Kemudian terjadi proses leaching/pencucian dimana bagian tubuh yang kurang resisten tergantikan oleh mineral yang lebih resisten. Selanjutnya organisme ini mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Seiring berjalan waktu organisme tersebut menjadi

keras/membatu dan menjadi fosil. Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat melalui proses-proses tektonik.

Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai fosil.Fosil ini

memilki bentuk Tabular yaitu bentuk fosil yang menyerupai tabung. Adapun bagianbagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil.

Hypostoma adalah bagian pada tubuh fosil yang tertambat, bagian ini pada filum lain disebut holdfast.

Oral opening adalah tempat kelur masuknya makanan pada fosil. Chalix adalah garis-garis halus yang ada pada tubuh fosil. Oral disk adalah katub yang terletak pada tubuh fosil. Enteron adalah garis pembatas antara ruang chaliks. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCL 0,1 M, sehingga dapat

diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Silur Tengah atau sekitar 435423 juta tahun yang lalu. Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu

batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat me ngetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI: 1. Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 2. Tabel Skala Waktu Geologi 3. www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi 4. www.wikipedia.com/Omphymasubturbinata

ASISTEN

PRAKTIKAN

V. Kesimpulan dan Saran V. 1. Kesimpulan 1. Umur dari fosil coelenterate berkisar antara Silur Bawah hingga Kapur Atas yaitu sekitar 100 sampai 435 juta tahun yang lalu. 2. Fosil Coelenterata banyak ditemukan pada daerah laut dangkal. 3. Tubuh Coelenterata terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut. 1) Oral Disk : Katub yang terletak pada tubuh fosil. 2) Oral Opening : Tempat keluar masuknya makanan 3) Eksoskeleton : Rangka bagian luar 4) Hypostoma : Tempat tertambat fosil 5) Enteron : Garis tumbuh pada fosil 6) Chalix : Kamar pada fosil 7) Test : Keseluruhan dari tubuh fosil

V. 2. Saran V.2.1. Saran Untuk Laboratorium Kenyamanan saat praktikum sudah sangat memuaskan bagi praktikan, pertahankan agar seluruh praktikum-praktikum selanjutnya dapat lebih

memuaskan lagi. V.2.2. Saran Untuk Asisten Cara mengajar dan menjelaskan sudah sangat memuaskan dan harapannya tetap dipertahankan agar praktikan dapat lebih mengerti lagi serta asisten dapat lebih mengajari praktikan saat asistensi sehingga praktikan dapat lebih paham mengenai apa yang dipraktikumkan.

DAFTAR PUSTAKA

Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

Tabel Skala Waktu Geologi www.artidefinisi.com/definisi/paleontologi