Anda di halaman 1dari 62

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RHINITIS ALERGI

KELOMPOK 1 Anastasya Donadear (220110080001) Sarah R.F. (220110080013) Ayu Agustina (220110080025) Nina Irmayani (220110080037) Ilma Fahma N.S. (220110080049) Rola Oktorina (220110080061) Fitri Risma hayati (220110080073) Silvia Junianty (220110080097) Wimby Dea Rambadi (220110080109) Dewi Asmalinda (220110080121) Dewi Indriyani Utari (220110080133) Siti Annisa Z.N (220110080145) Anis Supi Tasripyah (220110080157)

UNIVERSITAS PADJADJAAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN JATINANGOR, APRIL 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan karunianya sehingga makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Rhinitis Alergi ini dapat diselesaikan. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah respirasi pada khususnya, dan untuk memberikan pengetahuan kepada calon perawat tentang penyakit rhinitis. Dalam pembuatan makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: 1. Irman Soemantri, S.Kp, M.kep, selaku koordinator mata kuliah respiratory yang telah memberikan kasus yang memicu kami untuk mencari informasi lebih banyak demi terselesaikannya pembuatan makalah ini. 2. Restuning Widiasih, S.Kp. M. Kep. Sp. Mat, selaku fasilitator kami yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini. 3. Teman teman SGD Kelompok 1, yang telah bekerja sama dalam pembuatan makalah ini. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, karena kesempurnaan itu hanyalah milik-Nya semata. Kami harap para pembaca berkenan kiranya menyampaikan kritik, usul, dan saran kepada saya sehingga karya tulis yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca kelak.

Jatinangor, April 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Berbagai masalah kesehatan terus menerus bermunculan di Indonesia. Akan tetapi, pemerintah belum cukup mengatasi masalah kesehatan tersebut. Seluruh bidang pelayanan kesehatan sampai saat ini sedang mengalami perubahan dan tidak satu pun perubahan yang berjalan lebih cepat disbanding masalah kesehatan yang terus menerus bertambah, termasuk di bidang keperawatan. Hal ini memberikan suatu tantangan yang sangat menyenangkan dan nyata bagi perawat dan mahasiswa keperawatan dalam mengahdapi masalah tersebut. Tanggung jawab untuk mengkoordinasikan perawatan ini membutuhkan perencanaan dan pencatatan yang dengan jelas mengidentifikasi masalahmasalah dan inetrvensi-intervensi, juga perencanaa perawatan kesehatan jangka pendek dan panjang untuk individu dan keluarga. Salah satu masalah kesehatan yang sering muncul saat ini berhubungan dengan pernafasan. Begitu banyak masalah yang muncul, utamanya karena masalah lingkunagn yang tercemar polusi, gaya hidup masyarakat yang tidak sehat, dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. Beberapa penyakit yang sering terjadi adalah TBC, pneumonia, berbagai penyakit akergi karena udara, dan asma yang sering terjadi di usia kanak-kanak. Dari masalah kesehatan tersebut, calon tenaga kesehatan, harus terus mengkaji berbagai penyakit yang muncul untuk dapat membuat asuhan keperawatan yang sesuai dan tepat agar masalah kesehatan secara bertahap dapat teratasi dan derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan.

B.

Identifikasi kasus

Adapun kasus pemicu dalam masalah ini adalah sebagai berikut : Pasien A 13 tahun datang ke rumah sakit dengan diantar orang tuanya dengan keluhan bersin yang terus menerus, rinorhea, nyeri kepala di daerah frontal, adanya rasa gatal di hidung dan mata, lakrimasi. Orang tuanya menyatakan bahwa hal tersebut seringkali timbul pada musim kemarau ketika banyak debu di jalanan, pasien pun mengalami penurunan berat badan akibat adanya anoreksia. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan : tekanan datah (100/60 nnHg), RR = 30x/m irregular, secret encer. Pertanyaan : 1. Jelaskan oleh anda anatomi dan fisiologi pernafasan bagian atas sesuai dengan kasus 2. 3. Jelaskan pengaturan pernafasan dan mekanisme bersin Jelaskan tentang diferensial diagnosis kasus di atas (rhinitis, sinusitis, faringitis, tosilitis, dan laringitis) 4. 5. Jelaskan konsep penyakit kasus di atas Proses keperawatan a. Pengkajian apa saja yang dapat dilakukan dan dihasilkan sesuai kasus diatas b. Pemeriksaan fisik c. Diagnosa keperawatan dan Rencana tindakan untuk kasus tersebut 6. Jelaskan aspek pendidikan kesehatan yang akan diberikan sesuai kasus di atas Dalam makalah ini kelompok kami membahas sebuah kasus mengenai masalah gangguan pernafasan. Setelah membaca dan mengkaji kasus tersebut dari gejala dan tanda-tanda yang dialami pasien, kami menyepakati bahwa pasien A 13 tahun tersebut menderita penyakit rhinitis, yaitu penyakit inflamasi atau kelainan pada hidung akibat adanya alergi.

Kami menentukan diagnosa keperawatan lalu merancang intervensi, dan program pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kasus tersebut.

C.

Tujuan Maksud pembuatan makalah ini adalah agar kami, sebagai mahasiswa

mampu melakukan identifikasi mengenai kasus yang telah kami sepakati, dalam hal ini kasus pasien A 13 tahun yang menderita penyakit rhinitis, merancang rencana asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, dan evaluasi pada kasus tersebut. Selain untuk mampu merancang asuhan keperawatan yang tepat, dalam pembuatan makalah ini kami mampu untuk merancang program pendidikan kesehatan yang yang terkait dengan kasus tersebut dan mengaplikasikan hasilhasil penelitian yang terkait dengan kasus pada masalah sistem respirasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi sistem pernapasan atas

1. Rongga Hidung (Cavum Nasi)

Hidung meliputi bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur udara. Hidung bagian luar tertutup oleh kulit dan disupport oleh sepasang tulang hidung. Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi atas 2 bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior. a. Bagian bagian rongga hidung 1) Terdapat rambut yang berperan sebagai penapis udara 2) Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar karena strukturnya yang berlapis

3) Sel silia yang berperan untuk melemparkan benda asing ke luar dalam usaha untuk membersihkan jalan napas Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi 4) Dalam rongga hidung 5) Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi 3 saluran oleh penonjolan turbinasi atau konka dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi secara terus-menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paruparu. Jalan napas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru. Hidung bertanggung jawab terhadap olfaktori atau penghidu karena reseptor olfaksi terletak dalam mukosa hidung. Fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia. b. Fungsi hidung 1) Dalam hal pernafasan, udara yang diinspirasi melalui rongga

hidung akan menjalani tiga proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Penyaringan dilakukan oleh membran mukosa pada rongga hidung yang sangat kaya akan pembuluh darah dan glandula serosa yang mensekresikan mukus cair untuk membersihkan udara sebelum masuk ke Oropharynx. Penghangatan dilakukan oleh jaringan pembuluh darah yang sangat kaya pada ephitel nasal dan menutupi area yang sangat luas dari rongga hidung. Dan pelembaban dilakukan oleh concha, yaitu suatu area penonjolan tulang yang dilapisi oleh mukosa. 2) Epithellium olfactory pada bagian medial rongga hidung memiliki fungsi dalam penerimaan sensasi bau.

3)

Rongga hidung juga berhubungan dengan pembentukkan suara-

suara fenotik dimana ia berfungsi sebagai ruang resonansi.

2.

Faring Faring adalah pipa berotot berukuran 12,5 cm yang berjalan dari dasar

tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). Bagian sebelah atas faring dibentuk oleh badan tulang sfenoidalis dan sebelah dalamnya berhubungan langsung dengan esophagus. Pada bagian belakang, faring dipisahkan dari vertebra servikalis oleh jaringan penghubung, sementara dinding depannya tidak sempurna dan berhubungan dengan hidung, mulut, dan laring. a. Faring dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu : 1) Nasofaring Nasofaring adalah faring yang terletak di belakang hidung diatas palatum yang lembut. Pada dinding posterior terdapat lintasan jaringan limfoid yang disebut tonsil faringeal/adenoid. Jaringan ini kadang kadang membesar dan menutupi faring serta menyebabkan pernapasan mulut pada anak anak. Tubulus auditorium terbuka dari dinding lateral nasofaring dan melalui lubang tersebut udara dibawa ke bagian tengah telinga. Nasofaring dilapisi oleh membran mukosa bersilia yang merupakan lanjutan dari membran yang melapisi bagian hidung 2) Orofaring Orofaring dilapisi oleh jaringan epitel berjenjang. Orofaring terletak di belakang mulut di bawah palatum lunak, dimana dinding lateralnya saling berhubungan. Diantara lipatan dinding ini ada yang disebut arkus palatoglosum yang merupakan kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsil palatum. Orofaring merupakan bagian dari sitem pernafasan dan sitem pencernaan, tetapi tidak dapat digunakan untuk menelan dan bernafasa

secara bersamaan. Saat menelan, pernapasan berhenti sebentar dan orofaring terpisah sempurna dari nasofaring dengan terangkatnya palatum. 3) Laringofaring Laringofaring mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk sistem respirstorik selanjutnya. Merupakan posisi terendah dari faring. Pada bagian bawahnya, sistem respirasi menjadi terpisah dari sistem digestil. Makanan masuk ke bagian belakang, oesephagus dan udara masuk ke arah depan masuk ke laring. b. Terdapat lapisan-lapisan, yaitu : 1) Epitel Mukosa Respiratoria Yaitu epitel berderet silindris dengan 2 tipe : a) Dengan sel goblet. Sel-sel yang akan mensekresi mucus/lendir yang akan menangkap bahan-bahan kotoran dari luar b) Sel-sel yang bercilia. Silia akan bergerak untuk mendorong mucus keluar. Epitelnya tinggi dan bersilindris. Pembuluh Darah Berfungsi untuk menghangatkan. 2) Lamina Propia Terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar dan banyak sabut-sabut elastis. 3) Tunika sub-Mukosa Sekretnya ada yang kental ( mucous ) dan ada yang serous (cair). Fungsinya : untuk melembabkan udara. Mengandung jaringan ikat kendor yang mempunyai banyak jaringan limfoid, yaitu : a) Tonsillae Pharyngica, letaknya di belakang nasopharynx. b) Tonsilla Palatina, terletak di perbatasan rongga mulut dan oropharynx kiri kanan. c) Tonsillae Lingialis, terletak pada akar lidah. d) Tonsillae Tubaria, terletak di sekitar muara Tuba Eusthacii.

3. Laring

Laring tersusun atas 9 Cartilago ( 6 Cartilago kecil dan 3 Cartilago besar ). Terbesar adalah Cartilago thyroid yang berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan membentuk adams apple, dan di dalam cartilago ini ada pita suara. Sedikit di bawah cartilago thyroid terdapat cartilago cricoid. Laring menghubungkan Laringopharynx dengan trachea, terletak pada garis tengah anterior dari leher pada vertebrata cervical 4 sampai 6. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. a. Bagian - bagian laring 1) Kartilago tidak berpasangan a) Kartilago Tiroid (Jakun) terletak di bagian proksinal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormone yang di sekresi saat pubertas. b) Kartilago Krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid. c) Epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglottis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan. 2) Kartilago berpasangan a) Kartilago Aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kartilago krikoid. Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan dari epithelium skuamosa bertingkat. b) Kartilago Kornikulata melekat pada bagian ujung kartilagi aritenoid. Kartilago Kuneiform berupa batang=batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak. c) Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring d) Pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular(pita suara semu)yang tidak berfungsi saat produksi suara.

e) Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada kartilago tiroid dan pada kartilago aritenoid serta kartilago krikoid. Pembuka di antara kedua pita ini adalah glottis. a. Mekanisme kerja glottis 1). Saat bernapas, pita suara terabduksi(tertarik membuka)oleh otot laring, dan glotis berbentuk triangular. 2). Saat menelan, pita suara teraduksi(tertarik menutup), dan glottis membentuk celah sempit. 3). Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran pembukaan glottis dan derajat ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi suara. b).Fungsi spesifik laring 1). Laring sebagai katup, menutup selama menelan untuk mencegah aspirasi cairan atau benda padat masuk ke dalam tracheobroncial 2). Laring sebagai katup selama batuk

4. Trakea Trakea merupakan suatu saluran rigid yang memililiki panjang 11-12 cm dengan diameter sekitar 2,5 cm. Terdapat pada bagian oesephagus yang terentang mulai dari cartilago cricoid masuk ke dalam rongga thorax. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks ke enam sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama. Tersusun dari 16 20 cincin tulang rawan berbentuk huruf C yang terbuka pada bagian belakangnya. Didalamnya mengandung pseudostratified ciliated columnar epithelium yang memiliki sel goblet yang mensekresikan mukus. Terdapat juga cilia yang memicu terjadinya refleks batuk/bersin.Trakea mengalami percabangan pada carina membentuk bronchus kiri dan kanan.

B. Fisiologi saluran pernapasan atas 1. Proses Ventilasi Ventilasi merupakan proses untuk menggerakan gas ke dalam dan keluar paru- paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis dan pernapasan yang utuh. Otot pernapasan inspirasi utama adalah diafragma. Diafragma dipersarafi oleh saraf frenik yang keluar dari medulla spinalis pada vertebra servical keempat. Perpindahan O2 di atmosfer ke alveoli,dari alveoli CO2 kembali ke atmosfer. a. Faktor yang mempengaruhi proses oksigenasi dalam sel adalah : 1) Tekanan O2 atmosfer 2) Jalan nafas 3) Daya kembang toraks dan paru 4) Pusat nafas (Medula oblongata) yaitu kemampuan untuk merangsang CO2 dalam darah 2. Proses Difusi Difusi merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Difusi gas pernapasan terjadi di membran kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipengaruhi oleh ketebalan membran. Peningkatan ketebalan membrane merintangi proses kecepatan difusi karena hal tersebut membuat gas memerlukan waktu lebih lama untuk melewati membran tersebut. Apabila alveoli yang berfungsi lebih sedikit maka darah permukaan menjadi berkurang O2 alveoli berpindah ke kapiler paru, CO2 kapiler paru berpindah ke alveoli. b. Faktor yang mempengaruhi difusi : 1) Luas permukaan paru

2) Tebal membrane respirasi 3) Jumlah eryth/kadar Hb 4) Perbedaan tekanan dan konsentrasi gas 5) Waktu difusi 6) Afinitas gas Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke selsel jaringan tubuh. Hemoglobin eritrosit ini yang terdapat oleh dalam butir darah merah atau tersusun senyawa hemin atau hematin yang mengandung unsur besi dan globin yang berupa Gbr. .Pertukaran O2 dan CO2 antara alveolus dan Pembuluh darah yang menyelubungi Secara sederhana, pengikatan oksigen oleh hemoglobin dapat diperlihatkan menurut persamaan reaksi bolak-balik berikut ini : Hb4 + O2 4 Hb O2 Reaksi di atas dipengaruhi oleh kadar O2, kadar CO2, tekanan O2 (P O2), perbedaan kadar O2 dalam jaringan, dan kadar O2 di udara. Proses difusi oksigen ke dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi oleh tekanan O2 dalam udara inspirasi. Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan O2 nya 104 mm; menuju ke jantung. Dari jantung O2 mengalir lewat arteri sistemik yang tekanan O2 nya 104 mmhg menuju ke jaringan tubuh yang tekanan O2 nya 0 - 40 mmhg. Di jaringan, O2 ini akan dipergunakan. Dari jaringan CO2 akan mengalir lewat vena sistemik ke jantung. Tekanan CO2 di jaringan di atas 45 mm hg, lebih tinggi dibandingkan vena sistemik yang hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis yang tekanan O2 nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke paru-paru lalu dilepaskan ke udara bebas. protein.

Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mmHg dapat mengangkut 19 cc oksigen. Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan dalam darah vena. Dengan demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah 7 cc per 100 mm3 darah.

3. Proses Transportasi Gas pernapasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen ditransfer dari paru- paru alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen ditransfer dari paru- paru ke darah dan karbon dioksida ditransfer dari darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai produk sampah. Pada tingkat jaringan, oksigen ditransfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida ditransfer dari jaringan ke darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan. Transfer ini bergantung pada proses difusi.

4. Transpor O2 Sistem transportasi oksigen terdiri dari sistem paru dan sistem kardiovaskular. Proses pengantaran ini tergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi), aliran darah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan difusi dan kapasitas membawa oksigen. Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang larut dalam plasma, jumlah hemoglobin dan kecenderungan hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen (Ahrens, 1990). Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar oksigen ditransportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan karbon dioksida. Molekul hemoglobin dicampur dengan oksigen untuk membentuk oksi hemoglobin. Pembentukan oksi hemoglobin dengan mudah berbalik (reversibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen ini bisa masuk ke dalam jaringan.

5. Pengangkutan O2 Pertukaran gas antara O2 dengan CO2 terjadi di dalam alveolus dan jaringan tubuh, melalui proses difusi. Oksigen yang sampai di alveolus akan berdifusi menembus selaput alveolus dan berikatan dengan haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebut deoksigenasi dan menghasilkan senyawa oksihemoglobin (HbO). Sekitar 97% oksigen dalam bentuk senyawa oksihemoglobin, hanya 2 3% yang larut dalam plasma darah akan dibawa oleh darah ke seluruh jaringan tubuh, dan selanjutnya akan terjadi pelepasan oksigen secara difusi dari darah ke jaringan tubuh.

6. Transpor CO2 Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel darah merah dan dengan cepat di hidrasi menjadi asam karbonat(H2CO3) akibat adanya anhidrasi karbonat. Asam karbonat kemudian berpisah menjadi ion hydrogen(H+)dan ion bikarbonat (HCO3-). Ion hydrogen di bulfor oleh hemoglobin dan HCO3berdifusi dalam plasma. Selain itu beberapa karbon dioksida yang ada dalam sel darah merah bereaksi dengan kelompok asam amino membentuk senyawa karbamino. Reaksi ini dapat bereaksi dengan cepat tanpa adanya enzim. Hemoglobin yang berkurang (deoksihemoglobin) dapat bersenyawa dengan karbon dioksida dengan lebih mudah daripada oksihemoglobin. Dengan demikian darah vena mentrasportasi sebagian besar karbon dioksida. a. Cara pngangkutan CO2 1) Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2). 2) Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari seluruh CO2). 3) Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah sebagai berikut: CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO-3

Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya gejala asidosis karena turunnya kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan karena keadaan Pneumoni. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi garam basa dalam darah maka muncul gejala alkalosis.

C. Pengaturan pernafasan dan mekanisme bersin 1. Pengaturan pernafasan a. Tiga pusat pengendalian atau pengaturan pernapasan normal yaitu: 1) Pusat Respirasi Terletak pada formatio retikularis medula oblongata sebelah kaudal. Pusat respirasi ini terdiri atas pusat inspirasi dan pusat ekspirasi. 2) Pusat Apneustik Terletak pada pons bagian bawah. Mempunyai pengaruh tonik terhadap pusat inspirasi. Pusat apneustik ini dihambat oleh pusat pneumotakis dan impuls aferen vagus dari reseptor paru-paru. Bila pengaruh pneumotaksis dan vagus dihilangkan, maka terjadi apneustik. 3) Pusat Pneumotaksis Terletak pada pons bagian atas. Bersama-sama vagus menghambat pusat apneustik secara periodik. Pada hiperpnea, pusat pneumostaksis ini merangsang pusat respirasi.

Sendi dan otot

kemoreseptor perifer

Serebrum Pons Medula oblongata Kemoreseptor sentral

Hembusan dada Nervus Frenikus

Diafragma Pengaruh aktivitas pernapasan diatur secara kimia dan secara non kimia. Secara kimia, pengaturan dipengaruhi oleh penurunan tekanan oksigen darah arteri dan peningkatan tekanan CO2 atau konsentrasi hidrogen darah arteri. Kondisi tersebut akan meningkatkan tingkat aktivitas pusat respirasi. Perubahan yang berlawanan mempunyai efek penghambatan terhadap tingkat aktivitas respirasi. Secara nonkimia, pengaturan aktivitas pernapasan secara non kimia lainnya adalah suhu tubuh dan aktivitas fisik. Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan pernapasan menjadi cepat dan dangkal. 2. Mekanisme Bersin Bersin terjadi lewat hidung dan mulut. Udara tersebut keluar sebagai respon yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung. Di dalam tubuh mempunyai sistem penolakan terhadap sesuatu yang tidak seharusnya berada dalam tubuh seperti kehadiran bakteri, kuman, dll. Antibodi mengidentifikasi bahwa barang yang masuk tersebut membahayakan sistem tubuh maka terjadilah bersin. Secara refleks maka otot-otot yang ada di muka menegang, dan jantung akan berhenti berdenyut atau berhenti berdetak untuk sekejap, selama bersin tersebut. Setelah bersin selesai, jantung akan kembali lagi berdenyut. Hidung dan Mulut adanya bakteri)
Bersin

membran hidung

Antibodi (mendeteksi

D. Diferensial diagnosis kasus di atas (rhinitis, sinusitis, faringitis, tosilitis, dan laringitis) 1. Rhinitis Rhinitis alergi adalah penyakit inflamansi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersinsetitasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut (Von Piqruet,1986).

Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its impact on Asthma) adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa terpapar allergen yang diperantai oleh Ig E. a. Penyebab timbulnya rhinitis 1) Rinitis alergi musiman (Hay Fever) umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah seperti benang sari dari tumbuhanyang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap. 2) Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, debu perabot rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat. b. Gejala gejala 1) Bersin berulang-ulang sering kali pagi dan malam hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali). 2) Hidung mengeluarkan secret cair seperti air (runny nose). Itu sebabnya penderita tidak bisa terlepas dari tisue atau sapu tangan. 3) Terasa cairan menetes ke belakang hidung (post nasal drip) karena hidung tersumbat. 4) Pada keadaan lanjut dapat menyebabkan gejala hidung tersumbat serta batuk parah. 5) Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok. 6) Badan menjadi lemah dan tak bersemangat 7) Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. 8) Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi;

kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. 9) Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. 10) Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakius di telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak. 11) Bisa timbul komplikasi berupa sinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung. c. Patofisiologi dan etoilogi rhinitis alergi Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. 1) Dua fase reaksi alergi a) Immediate Phase Allergic Reaction. Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya. b) Late Phase Allergic Reaction. Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam. 2) Berdasarkan cara msuknya allergen dibagi atas : a) Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur b) Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang c) Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah

d) Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan d. Pengobatan 1). Terapi yang paling ideal adalah menghindari atau meminimalkan kontak dengan allergen. Misalnya menghindari penyebab terjadinya reaksi rinitis alergi. Contohnya menjaga kebersihan rumah dan menghindari memakai alat atau bahan yang mudah menyimpan debu misalnya karpet.. 2). Simtomatis (a). Medikamentosa Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamine H1,yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target. (b). Operatif Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior). 3). Imunoterapi (a). Desensitisasi dan hiposensitisasi Pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama. (b). Netralisasi Dilakukan untuk alergi makanan.Pada netralisasi,tubuh tidak membentuk blocking antibody. Komplikasi rhinitis alergi yang sering adalah 1. Polip hidung 2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak. 3. Sinusitis paranasal 2. Sinusitis a. Definisi Yang dimaksud dengan sinusitis adalah radang (proses inflamasi) mukosa sinus paranasal (Mangunkusumo & Rifki, 2006) . Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. bentuknya sangat bervariasi pada setiap individu.

Ada 4 pasang sinus paranasal mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid, dan sinus sphenoid. Sesuai dengan anatomi sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusistis etmoid, sinusitis frontal, sinusitis sfenoid. b. Patofisiologi Bila terjadi edema di kompleks osiometal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi di dalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi oleh mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan terus terjadi, akan terjadi hipoksia dan retensi lendir, sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya bisa terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid, dan kista. 1) Faktor predisposisi atau yang memperberat sinusitis adalah sebagai berikut: a) Obstruksi ostium sinus Secara Fungsional di bagi menjadi 2 yaitu Inflamasi (Infeksi, misalnya virus dan noninfeksi, misalnya rhinitis alergika) dan Noninflamasi kehamilan). Secara Mekanik dibagi menjadi 3 yaitu Polip atau tumor hidung, benda asing, dan deviasi septum hidung atau hipertrofi adenoid. b) Gangguan pertahanan imun Terbagi menjadi gangguan primer (defisiensi antibody dan disfungsi netrofil) dan gangguan sekunder (kerusakan vaskular, misalnya diabetes dan latrogenik, misalnya kemoterapi). c) Klien mukus abnormal. Terbagi atas gangguan fungsi silia dan mukus abnormal (fibrosis kistik) c. Klasifikasi (Rhinitis medikamentosa dan Rhinitis pada

Secara klinis sinusitis dapat sikategorikan sebagai sinusitis akut apabila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu; sinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan; dan sinusitis kronis apabila lebih dari 3 bulan. Apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut; subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversible; kronis bila perubahan histologik mukosa sudah irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan granulasi atau polipoid. 1) Sinusitis akut Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks ostiometal oleh infeksi, obstruksi, alergi, atau infeksi gigi. a) Penyebabnya (1) Rinitis akut; (2) Infeksi faring, misalnya faringitis, adenoiditis, tonsillitis akut; (3) Infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3, serta P1 dan P2 (dentogen); (4) Berenang dan menyelam; (5) Trauma, dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal; dan (6) Barotrauma, dapat menyebabkan nekrosis mukosa. b) Gejala yang bisa timbul (1) Gejala subjektif Dapat dibagi menjadi dua, yaitu gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik seperti demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus yang kental dan berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring, hidung tersumbat, nyeri di daerah sinus yang terkena, kadang-kadang dirasakan juga di tempat lain karena nyeri alih (referred pain). (2) Gejala objektif

Pada

pemeriksaan

sinusitis

akut

akan

tampak

pembengkakan di daerah muka. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis, turbinat hidung membengkak dan kemerahan. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram dan gelap. c) Pengobatan Pasien dengan sinusitis akut akan mengalami perbaikan simtomatik jika demam dan nyeri dikendalikan dengan analgetik, antipiretik, atau seringkali dengan narkotika. Dapat juga dilakukan terapi medikamentosa berupa antibiotika (dari golongan penisilin) selama 10-14 hari, meskipun gejala klinik telah hilang. Diberikan juga obat dekongestan lokal berupa tetes hidung untuk memperlancar drainase sinus. Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang dilakukan, kecuali bila telah terjadi komplikasi ke daerah orbita atau intrakranial; atau bila ada nyeri hebat karena ada sekret yang tertahan sumbatan. 2) Sinusitis Subakut Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut, hanya saja tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda. Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen pada nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit suram atau gelap. a) Pengobatan Untuk terapinya, mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan seperti diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermy), sebanyak 5-6 kali pada dearah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus, atau pencucian sinus. Obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas, atau yang sesuai dengan tes resistensi kuman, selama 10-14 hari, analgetika, antihistamin, dan mukolitik. Dapat diberikan juga obat-obat simtomastis berupa dekongestan lokal

(obat tetes hidung) untuk memperlancar drainase. Obat tetes hidung hanya boleh diberikan selama 5-10 hari karena jika terlalu lama dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa.

3) Sinusitis kronis Berbeda dari sinusitis sebelumnya, sinusitis kronis lebih sulit disembuhkan hanya dengan pengobatan medikamentosa, harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya. Awalnya, silia mengalami kerusakan menyebabkan terjadinya perubahan mukosa hidung. Perubahan ini dapat disebabkan oleh polusi bahan kimia, alergi, atau defisiensi imunologik. Perubahan mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna.
polusi bahan

silia rusak

obstruksi mekanik

gangguan

perubahan

alergi dan defisiensi

infeksi kronis

pengobatan infeksi akut yang tak sempurna

Infeksi kemudian akan menyebabkan edema konka sehingga drainase sekret terganggu dan dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya. a) Gejala yang mungkin timbul: (1) Gejala subjekif Sangat bervariasi dari yang ringan sampai berat, terdiri dari: (a) gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip);

(b) gejala faring, rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan; (c) gejala telinga, pendengaran terganggu; (d) adanya nyeri atau sakit kepala; (e) gejala mata; (f) gejala saluran napas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru-paru berupa bronkitis atau asma bronkial atau bronkietas, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis; dan (g) gejala saluran cerna. (2) Gejala objektif Tidak ditemukan adanya pembengkakan wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok. Mikroba yang ikut berperan menyebabkan infeksi adalah kuman aerob S.aureus, S.viridans, H.influenzae, dan kuman anaerob Peptostreptokokus dan Fusobakterium. b) Pengobatan Pada sinusitis kronis perlu diberikan terapi antibiotika untuk mengatasi infeksi dan obat-obatan simtomatis lainnya. Antibiotika diberikan sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu, dapat juga dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari di daerah sinus yang sakit. Tindakan lain yang dapat diberikan adalah melakukan pembersihan sekret dari sinus yang sakit atau tindakan lain yang dapat membantu memperbaiki drainase sekret.

3. Faringitis
a. Definisi

Faringitis adalah suatu radangan pada tenggorokkan ( faring) yang biasanya disebut juga dengan radang tenggorokkan.
b. Penyebab

Faringitis disebabkan oleh virus maupun bakteri, kebanyakan oleh virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
c. Gejala dan tanda

Gejala faringitis yang ditimbulkan oleh bakteri maupun virus pada umumnya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. selain itu
disertai demam dan pembesaran kelenjar getah bening di leher dan peningkatan jumlah sel darah putih.

d. Jenis faringitis Faringitis Virus Faringitis Bakteri

Biasanya tidak ditemukan Sering ditemukan nanah di nanah di tenggorokan tenggorokan Demam ringan atau tanpa Demam demam sedang ringan sampai

Jumlah sel darah putih Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat ringan sampai meningkat sedang Kelenjar getah normal atau membesar bening Pembengkakan ringan sedikit sampai sedang pada kelenjar getah bening

Tes apus tenggorokan Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif memberikan hasil negatif untuk strep throat Pada biakan di Bakteri tumbuh pada biakan laboratorium tidak tumbuh di laboratorium bakteri e. Pengobatan

Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik) seperti asetaminofen, obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berusia dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Penting bagi penderita untuk meminum obat antibiotik sampai habis sesuai anjuran dokter, agar tidak terjadi resistensi pada kuman penyebab faringitis. Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita memiliki alergi terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.

4. Tonsilitis a. Klasifikasi tonsillitis 1) Radang akut tonsil dapat Tonsillitis akut disebabkan kuman grup A

STREPTOKOKUS hemolitikus, pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Hemofilusvinfluenzae merupakan penyebab tonsillitis akut supiratif. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbantuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yg mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur maka akan terjadi tonsillitis lakunaris. a) Gejala dan tanda Nyeri tenggorokan dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbenuk

folikel, lacuna atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. b) Pengobatan Terapi. Antibiotika spectrum lebar atau sulfonamide, antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan. c) Komplikasi Pada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut. Komplikasi tonsillitis akut lainnya adalah abses peritonsil, abses parafaring, sepsis, bronchitis, nepritis akut, miokarditis serta atritis. 2) Tonsillitis membranosa a) Tonsillitis difteri

Penyebab tonsillitis difteri ialah kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran nafas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring. Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini. (1) Gejala dan tanda (a) Gejala umum, kenaikan suhu tubuh biasanya

subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan nyeri menelan. (b) Gejala lokal, tonsil membengkak ditutupi bercak

putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu. Bila infeksinya brjalan terus, lelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnyasehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck) atau disebut juga Burgemeesters hals. (c) Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh

kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan

tubuh yang pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai decompensation cordis, mengenai saraf cranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria. (2) Diagnosis Berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membrane semu dan didapatkan kuman Coryne bacterium diphteriae. (3) Terapi (a) Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000-100.000 unit tergaantung dari umur dan beratnya penyakit. (b) Antibiotika Penisilin atu Eritromisin 25-50 mg per kg berat badan dibagi dalam 3 dosis selama 14 hari. (c) Kortikosteroid 1,2 mg per kg berat badan per hari. (d) Antipiretik untuk simtomatis. (e) Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu. (4) Komplikasi (a) Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membrane semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda pasien makin cepat timbul komplikasi ini. (b) Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau dekompensasio cordis. (c) Kelumpuhan otot platum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga

menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan kelumpuhan otot=otot pernapasan. (d) Albuminoria sebagai akibat komplikasi ke ginjal b) Tonsillitis septik Penyebabnya adalah Streptokokus hemolitikus yang terdapat dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemi. c) Angina Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa) Penyebabnya adalah kurangnya hygiene mulut, defisiensi vitamin C serta kuman spirilum dan basil fusi form. (1) Gejala Demam sampai 39 C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang-kadang terdapat ganguan pencernaan. Rasa nteri di mulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah. (2) Pemeriksaan Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar sub mandibula membesar. (3) Terapi (a) (b) (c) Memperbaiki hygiene mulut. Antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu. Vitamin C dan vitamin B kompleks.

d) Penyakit kelainan darah Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina

agranulositosis san infeksi mononucleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membrane semu. Kadang-kadang terdapat pendarahan

di selaput lender mulut dan faring dan pembesaran lelenjar submandibula. (1) Leukemia akut Gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan di mukosa mulut, gusi dan di bawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membrane semu tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorokan. (2) Angina agranulositosis Akibat keracunan obat dari golongan amidopirin, sulfa dan arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring dan disekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna. (3) Infeksi mononucleosis Terjadi tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral. Terdapat pembesaran kelenjar limfa leher ketiak dan regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit mononukleus dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain ialah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (reaksi Paul Bunnel) 3) Tonsillitis kronis Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. Kuman penyebabnya sama dengan tonsillitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan Gram negative. a) Patologi Karena proses rdang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan

mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulakan perlekatan dengan jaringan disekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai pembesaran kelenjar limfa submandibula. b) Gejala dan tanda Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisis oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, tenggorok dirasakan kering dan napas berbau. c) Terapi Terapi local ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap. d) Komplikasi Dapat menimbulakan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronis, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatium. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridoksilitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis. Tonsiloktemi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan serta kecurigaan neoplasma. (1) Indikasi tonsilektomi (a) Sumbatan 1. Hyperplasia tonsil dengan sumbatan jalan napas 2. Sleep apnea 3. Gangguan menelan 4. Gangguan berbicara 5. Cor pulmonale

(b) Infeksi 1. Infeksi telinga telah berulang 2. Rhinitis dan sinusitis yang kronis 3. Peritonsiler abses 4. Abses kelenjar limfa leher berulang 5. Tonsillitis kronis dengan gejala nyeri tenggorok yang menetap 6. Tonsillitis kronis dengan napas bau 7. Tonsil sebagai fokal infeksi dari organ tubuh lainnya. (2) Kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas

5. Laringitis a. Definisi Laringitis adalah peradangan pada laring yang terjadi karena banyak sebab. Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan terhadap debu, bahan kimiawi, asap, dan polutan lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran nafas atas. Kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi yang terisolasi yang hanya mengenai pita suara. b. Patofisiologi Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin sekunder. Laringitis biasanyan disertai rinitis atau nasofaring. Awitan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring Dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laringitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan

infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu tubuh. c. Tanda tanda Laringitis akut ditandai Dengan suara serak atau tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali (afonia) dan batuk berat. Laringitis kronis ditandai Dengan suara serak yang persisten. Laringitis kronis mungkin sebagai komplikasi dari sinusitis kronis dan bronchitis kronis.

E. Konsep Penyakit rhinitis alergi 1. Definisi Rinitis alergi adalah penyait imflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama,serta dilepaskannya mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan denagn allergen spesifik tersebut(Von pirquet 1986). 2. Tanda dan gejala Bersin-bersin,rinore,rasa pasial,kongesti. 3. Macam macam rhinitis a). Rinitis berdasarkan sifat berlangsungnya b). Rinitis alergi musiman;penyebabnya tepung sari,dan spora jamur.timbulnya periodik sesuai denagn musim,pada waktu konsentrasi alergen terbanyak di udara. c). Rinitis alergi sepanjang tahun; penyebab yang paling sering adalah alergen inhalan dan alergen ingestan. gatal,tersumbat,nyaeri kepala,tekanan

4. Rinitis berdasarkan sifat berlangsungnya (WHO) a). Intermiten(kadang-kadang);bila gejala kurang dari empat hari/minggu atau kuarang dari empat minggu. b). Persisten(menetap);bila gejala lebih dari empat hari/minggu atau lebih dari empat minggu. 5. Rrinitis berdasarkan berat-ringan nya a). b). Ringan. Bila tidak ditemukan gangguan tidur,gangguan aktifitas Sedang atau berat;bila terdapat satu atau lebih dari gangguan harian,bersantai,berolahraga,belajar,bekerja dll. tersebut. 6. Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas : a). Alergen inhalan. Alergen inhalan adalah alergen yang masuk bersama udara pernapasan, misal debu rumah, tungau, serpihan epitel, bulu binatang, jamur. b). Alergen ingstan ; yang masuk ke saluran cerna,berupa makanan.misalnya susu,telur,coklat,udang,ikan. c). Alergen injertan ;yang masuk melalui tusukan atau suntikan,misalnya penisilin dan sengatan lebah. d). Alergen kontaktan;yang masuk melalui kontak kulit atau jeringan mukosa. Misalnya bahan kosmetik,perhiasan. 7. Patofisiologi Rinitis alergi merupakan statu penyakit imflamasi yang di awali denag tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. 8. Reaksi alergi 1. reaksi alergi fase cepat(immediate phase allergic reaction) Berlasung sejak kontak langsung denagan alergen sampai satu jam setelahnya. Alergen

makrofag/monosit melepas sitokinin(IL1) pragmen pendek peptida mengaktifkan Th0

komplek peptida MHC klsII

Th1danTh2 IL3,IL4,IL5,IL13

Sel T helper(Th0) diikat sel limfosit B menhasilkan IgE masuk ke jaringan diikat o/reseptor IgE mastosit/basofil jd aktif histamin & prostaglandin

merangsang ujung saraf vidianus

hipersekresi+permeabilitas kel.mukosa gatal,bersin,rinorea

2. alergi fase lambat (late phase allergic reaction) Ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel imflamasi (eosinofil, limfosit, netrofil, basofil, mastosit), peningkatan sitokinin (IL3, IL4, IL5) dan GMCSF dan ICAM1.

a. Ada tiga reaksi : 1). Respon primer (non spesifik) .Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen(Ag).bila tidak berhasil seluruhnya dihilangkan,reaksi berlanjut menjadi respon sekunder. 2). Respon sekunder(spesifik). Mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas selular atau humoral atau keduanya dibangkitkan.bila berhasil dieliminasi maka reaksi selesai,tapi jika Efek dari sistem imunologik maka berlanjut ke tahap tersier. 3). Respon tersier. Dapat bersifat sementara/menetap tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. b. Diagnosa rinitis alergi ditegakan berdasarkan : 1). Anamnesis. Anamnesis sangat penting,karena sering kali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa.hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesisi saja. 2). Pemeriksaan rinoskopi anterior. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. 3). Pemeriksaan neso endoskopi 4). Pemeriksaan sitologi hidung. Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukan kemungkinan alergi inhalan. 5). Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. 6). Uji kulit, alergen penyebab dapat dicari secara invivo. c. Komplikasi-komplikasi rinitis alergi yang sering terjadi: 1). Polip hidung 2). Otitis media yang sering residif,terutama pada anak-anak 3). Sinusitis paranasal

F. Proses keperawatan 1). Pengkajian yang dapat dilakukan Riwayat kesehatan anak mengikuti garis besar yang sama seperti riwayat kesehatan pada orang dewasa, dengan tambahan tertentu yang disajikan. a). Identifikasi data Tempat tanggal lahir, nama kecil, nama depan orang tua, usia

b). Keluhan utama. Keluhan-keluhan ini merupakan pokok masalah dari anak, orang tua, guru, di sekolah atau dari orang lain. c). Riwayat penyakit saat ini. Bagaimana setiap anggota keluarga merespon terhadap adanya gejala-gejala yang dialami oleh anak d). Riwayat kesehatan dahulu e). Riwayat kesehatan keluarga (1). Riwayat kelahiran (a). Prenatal kesehatan ibu, pengobatan, penggunaan alcohol atau obat terlarang, perdarahan vagina, penambahan berat badan, lamanya kehamilan (b). Natal sifat persalinan dan kelahiran, berat badan lahir (c). Neonatal upaya resusitasi, sianosis, ikterik, infeksi. (2). Riwayat pemberian makan (a). Menyusui : Frekuansi dan lamanya menyusui, kesulitan yang ditemukan (b). Pemberian makanan tambahan : jenis, jumlah, frekuensi, muntah kolik, diare, suplemen vitamin, zat besi, dan florida, (c). Pemberian makanan padat : Kebiasaan makan kesuakaan atau ketidaksukaan, jenis dan jumlah makanan yang dimakan; sikap dan respon orang tua (3). Riwayat pertumbuhan dan perkembangan (a). Pertumbuhan fisik berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala saat lahir dan usia 1, 2, 5, dan 10 tahun. (b). Perkembangan usia anak ketika dapat mengangkat kepala, berbalik, mundur, duduk, berjalan, dan berbicara. (c). Perkembangan sosial pola tidur siang dan malam hari, toilet training, masalah-masalah wicara, perilaku kebiasaa, masalahmasalah disiplin, performa sekolah, hubungan dengan orangtua, saudara sekandun, dan teman sebaya. f). Status kesehatan terakhir 1). Alergi, perhatian khusus pada alergi-alergi yang diamali saat masa kanakkanak 2). Imunisasi, termasuk tanggal diberikan dan reaksi-reaksi yang timbul

3). Uji skrining, uji penglihatan, pendengaran, kolesterol, tuberkolosis, golongan darah, penyakit sel sabit, dan kelaian metabolisme sejak lahir

BAB III PEMBAHASAN KASUS Berdasarkan dengan kasus yang ada, pasien A 13 tahun dengan keluhan bersin yang terus menerus, rhinorea, nyeri kepala di daerah frontal, adanya rasa gatal di hidung dan mata, lakrimasi. Pasien tersebut mengalami hal yang demikian

saat musim kemarau ketika banyak debu dijalanan dan ia juga mengalami penurunan berat badan yang disebabkan adanya anoreksia. . Sehingga kami menyimpulkan bahwa pasien A mengalami rhinitis alergi. Karena ia mengalami bersin yang terus menerus, sekretnya pun encer, mengalami sakit kepala. Selain itu timbul rasa gatal pada hidung dan mata yang disebabkan oleh H1 yang dirangsang oleh histamin sehingga timbulah rasa gatal tersebut. Berikut di bawah ini adalah Rencana Asuhan Keperawatan terkait dengan kasus rhinitis. Pengkajian a. Penelurusan data subjektif dan objektif Data objektif : Tekanan Darah ( 100/60 mmHg ) Respiratory Rate 30x/menit irregular Sekret encer

Data subjektif : Bersin, rhinorea Nyeri kepala bagian frontal Gatal di hidung mata, lakrimasi

b. Identifikasi Data Nama : Saudara A TTL : Nama kecil : Nama Orang tua : c. Keluhan utama Bersin terus-menerus, rhinorea, nyeri kepala di daerah frontal, adanya rasa gatal di hidung dan mata, lakrimasi d. Riwayat Kesehatan masa lalu 1. Riwayat kelahiran : 2. Riwayat pemberian makan : 3. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan : e. Riwayat kesehatan sekarang : Rhinitis

f. Status kesehatan terakhir 1. Alergi : 2. Imunisasi : 3. Uji skrining : g. Data-data tambahan yangperlu dikaji 1. Riwayat Keluarga : 2. Riwayat Psikososial, meliputi : 3. Situasi Rumah dan Orang terdekat : 4. Kehidupan sehari-hari : 5. Agama : 6. Su : a) Pemeriksaan fisik (1) Pemeriksaan hidung luar Rinoskopi anterior (inspeksi) Pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan memakai speculum hidung. Di belakang vestibulum dapat dilihat bagian dalam hidung. Hal hal yang harus diperhatikan pada rinoskopi anterior ialah : (a) Mukosa. Dalam keadaan normal mukosa bewarna merah muda. Pada raddang bewarna merah, sedangkan pada alergi akan tampak pucat / kebiru biruan (livid). (b) Septum (palpasi). Biasanya terletak ditengah dan lurus. Diperhatikan apakah terdapat defiasi, Krista, spina, perforasi, hematoma, abses, dan lain lain. (c) Konka. Diperhatikan apakah konka besarnya normal (eutrofi), hipertrofi, hipotrofi atau atrofi (d) Sekret. Bila ditemukan sekret di dalam rongga hidung, harus diperhatikan banyaknya, sifatnya (serus, mukoid, mukokurulen, kurulen, atau bercampur darah) dan lokalisasinya (meatus inferior), medius (superior). Adanya sekret yang encer dan banyak. (e) Massa. Massa yang sering ditemukan dalam rongga hidung adalah polip dan tumor. Pada anak dapat ditemukan benda asing.

(2) Rinoskopi Posterior (inspeksi). Adalah pemeriksaan rongga hidung dari belakang, dengan menggunakan kaca nasofaring. Dengan mengubah ubah posisi kaca, kita dapat melihat koana, ujung posterior septum, ujung posterior konka, sekret yang mengalir dari hidung ke nasofaring (post nasal drip), torus tubarius, ostium tuba dan fosa rosenmuller. (3) Pemeriksaan sitologi hidung. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukan adanya infeksi bakteri. (4) Perkusi dengan cara periksa nyeri tekan sinusitis (5) Periksa indra penghidu.

G. Aspek pendidikan kesehatan yang akan diberikan sesuai kasus diata s SATUAN ACARA PEMBELAJARAN Pentingnya menjaga lingkungan demi terjaminnya kesehatan

Tujuan institusional : Terciptanya keluarga yang lebih mengutamakan kebersihan lingkungan. Tujuan instruksional umum: Terciptanya keluarga yang lebih mengutamakan kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit. Tujuan instruksional khusus: 1. Peserta didik mengetahui pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. 2. Peserta didik mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar untuk mencegah penyebaran kuman penyakit 3. Peserta dapat menerapkan pelaksanaan mencuci tangan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari hari. 4. Peserta didik mampu menerapkan pembuangan sampah pada tempatnya guna menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Know Peserta didik diharapkan mengetahui pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah tumbuh kembangnya kuman penyakit. Peserta didik diharapkan mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar untuk mencegah penyebaran kuman penyakit. Do Show Diharapkan peserta didik mau menerapkan materi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dalam bentuk nyata Melakukan cuci tangan setelah membuang sputum.

Diharapkan peserta didik memperhatikan penyuluhan dengan seksama. Peserta didik diharapkan dapat menunjukan antusiasme ketika diberikan materi penyuluhan Peserta didik diharapkan dapat mengajukan pertanyaan setelah diberikan penyuluhan

H. Penelitian terkait

Akupuntur dan rhinitis


Efek dari terapi akupuntur yang diterapkan kepada pasien dengan usia 15 45 tahun yang kedua kelompok umur tersebut mengalami penyakit rhinitis alergi. Terapi akupuntur ini telah dibandingkan dengan terapi antihistamin konvensional. tanda tanda yang menunjukan kemajuan dan penemuan laboratorium membuktikan bahwa kedua terapi ini baik untuk pasien rhinitis. Namun, terapi akupuntur lebih baik dan memiliki efek yang panjang. Subyek dari pemeriksaan psikosomatik ini adalah pasien dengan vasomotor rhinitis (28) dan pollenosis (23) dan keduanya diberikan akupuntur atau phonostimulation khusus. Akupunktur dilakukan setelah metode klasik dalam phonostimulation kepada 22 orang pasien dari 29 orang. Hasil evaluasi yang berdasarkan tes laryngological dan appraisals dianjurkan kepada pasien yang memiliki masalah masalah khusus. Kondisi Pollenosis tidak dapat berubah dengan perawatan. Pada vasomotor rhinitis, factor factor psikis sangatlah penting. Diawal perawatan, Beberapa pasien biasanya menunjukan peningkatan sedangkan beberapa penderita tidak menunjukan perubahan.efek ini mungkin dapat menjadi saran untuk penelitian ini. Tujuan proyek uji coba ini adalah untuk mengevaluasi efek langsung dari akupunktur dibandingkan dengan kontrol placebo dua (sham akupunktur dan paling transcutaneous stimulasi listrik saraf) dalam perawatan pasien nonallergic rhinitis. Ketiga perawatan ini diberikan sama rata untuk pasien yang sama selama beberapa minggu.

Ternyata Akupunktur menunjukkan peningkatan dalam ketahanan saluran udara dalam hidung setelah perawatan pada 9 dari 13 pasien, sham akupunktur pada 2 dari 9 pasien , dan tiruan aliran listrik di syaraf stimulasi pada 3 dari 10 pasien. Panduan pembelajaran ini mengemukakan sejumlah isu yang berhubungan dengan efek dari akupunktur pada rhinitis nonalergi yang harus diatasi oleh sebuah studi yang melibatkan lebih banyak pasien yang di urutkan secara acak dalam pengobatan dan perawatan kontrol placebo dua dievaluasi dalam kaitannya dengan kredibilitas mereka.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


1) Kesimpulan

Setelah mengkaji kondisi pasien dan mempelajari macam macam penyakit saluran atas pernafasan, kami dapat menyimpulkan bahwa penyakit penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir mirip, namun tetap terdapat perbedaan dari masing masing penyakit. Pada penyakit rhinitis dapat ditemukan adanya sekret yang cair, sakit kepala, bersin yang terus menerus. Sedangkan pada penyakit yang lain (faringitis, laringitis, tonsillitis, dan sinusitis), gejala gejala tersebut tidak sepenuhnya muncul, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien tersebut mengalami penyakit rhinitis alergi. Rhinitis alergi dapat muncul jika lingkungan tempat tinggal kita tidak besih, sehingga dapat menimbulkan alergi pada hal hal tertentu. Dengan menjaga lingkungan, kita dapat terhindar dan meminimalisir timbulnya penyakit. 2) Saran Kami menyarankan kepada masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungannya agar terhindar dari penyakit pernafasan. Selain itu, sebaiknya sebelum makan kita mencuci tangan terlebih dahulu untuk membunuh kuman dan penyakit sehingga memutuskan rantai penyebaran penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.2008. konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.Jakarta:Salemba Medika.

Cherniack. 1997. Terapi mutakhir penyakit saluran pernapasan. Jakarta: Binarupa Aksara.

Gleadle, J.2003. At a Glance Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Erlangga

Soepardi & Iskandar. 2006. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher edisi ke lima. Jakarta: Gaya Baru

Soepardi, E.A.2006.Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima.Jakarta:FKUI Watson, Roger.2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Jakarta :EGC

Doenges, M.E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan {endokumentasian P rawatan Pasien.Jakarta : EGC

http://arbaa-fivone.blogspot.com/2009/02/rinitis.html

. http://www.dkk-bpp.com/index.php? option=com_content&task=view&id=125&Itemid=47

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/laringitis/

http://www.internethealthlibrary.com/Health-problems/Rhinitis%20%20researchAltTherapies.htm

http://medicastore.com/penyakit/782/Rinitis_Alergika_Pereneal.html

http://www.medicastore.com/index.php?mod=iklan

http://myscienceblogs.com/kids/2007/11/02/bersin-mengeluarkan-40000-butirpenyebab-penyakit

www.klikdokter.com/illness/detail/197

www.kabarindonesia.com/berita.php? pil=3&jd=Tips+Praktis+Mengenali+Faringitis+Bakteri&dn=20081204085825

www.surabaya-ehealth.org/content/tips-cegah-penyakit-rinitis-alergi-danrinosinusitis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) Posted Oktober 24, 2007 by Iwan Sain, S.Kp, M.Kes in Pernafasan. Ditandai:Keperawatan, kesehatan, Penyakit, Pernafasan. 44 Komentar Common Cold

Sinusitis Rhinitis Faringitis Tonsilitis/adenoiditis

Common cold Pengertian Adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan gejala-gejala infeksi saluran napas atas.

Etiologi Pikornavirus, koronavirus, miksovirus, paravirus, adenoviris dan rhinovirus

Manifestasi Klnik Kongesti nasal, sakit tenggorok, bersin-bersin, malaise, demam, menggigil, dan sering sakit kepala serta sakit otot, kadang-kadang ada batuk. Gejala berlangsung 5 14 hari

Terapi Medik Pemberian cairan yang adekuat Istirahat Pencegahan menggigil Dekongestan nasal aqueous Vitamin C Ekspectoran sesuai kebutuhan Kumur air garam hangat dapat mengurangi nyeri tenggorok Aspirin/asetaminofen

Intervensi Keperawatan Pendidikan Pasien Mencuci tangan > mencegah penyebaran organisme Menggunkan kertas tissue sekali pakai dan membuangnya dengan baik Menutup mulut ketika batuk Menghindri kerumunan orang banyak

SINUSITIS SINISTIS adalah peradangan membran mukosa dari satu atau lebih sinus maksillaris, frontal, etmoidalis atau sfenoidalis.

SINUSITIS AKUT Etiologi penyakit oleh streptococcus pneumoniae, haemophilus influensae, staphilococcus aureus.

Gejala Nyeri diatas area sinus, sekresi nasal yang purulen

Patofisiologi Kongesti nasal oleh inflamasi > obstruksi rongga sinus > Kondisi ini merupakan media pertumbuhan bakteri.

Terapi Medis Tujuan : mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukosa nasal dan

menghilangkan nyeri. Pemberian antibiotik (pilihan) seperti amoksisillin dan ampisillin. Pemberian dekongestan oral (drixoral dan dimetapp) atau topikal (afrin dan otrivin)

Intervensi Keperawatan Penddikan pasien Tingkatkan masukan cairan Lakukan kompres hangat setempat Ajarkan metode untuk meningkatkan drainase seperti mandi uap, mandi hangat, sauna fasial. Informasikan tentang efek samping sprey hidung seperti kongesti rebound Ajarkan cara pencegahan infeksi sinusitis

SINUSITIS KRONIK Penyebab > obstruksi hidung kronik akibat rabas dan edema mukosa hidung.

Gejala Batuk, sakit kepala kronis pada daerah periorbital dan nyeri wajah (paling menonjol saat bangun tidur pd pagi hari)

Terapi Medis Sama dengan pengobatan sinusitis akut Pembedahan untuk memperbaiki deformitas struktural yang menyumbat ostia (ostium sinus)

Intervensi Keperawatan

Pendidikan pasien Drainase sinus (mandi uap dll) Meningkatkan masukan cairan Memasang penghagat lokal (kantung panas basah) Jelaskan tanda dini infeksi sinus

RHINITIS Pengertian Inflamasi membran mukosa hidung yang dikelompokkan rhinitis allergik dan non allergik Rhinitis allergik > mungkin suatu tanda dari allergi Rhinitis non allergik disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti hipertensif

Gejala Kongesti nasal, rabas nasal (purulent dengan rhinitis bakterialis), gatal pada nasal, bersin-bersin, sakit kepala

Terapi Medik Tergantung penyebabnya (Allergik atau non allergik) Pemberian antihistamin Dekongestan Kortikosteroid topikal Natrium kromolin

Intervensi keperawatan

Pendidikan Pasien Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari allergen atau iritan spt (debu, asap tembakau, asap, bau, tepung, sprei Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey nasal salin. Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan iritan. Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan serosol. Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat apapun thd hidung

FARINGITIS Faringitis Akut > inflamasi febris tenggorok yang disebabkan oleh virus (70%) dan bakterial (streptokokkus group A 30 %)

Gejala Membran mukosa sangat merah Tonsil kemerahan Folikel limfoid membengkak dan dipenuhi eksudat Pembesaran dan nyeri tekan pada nodus limfe servikalis Demam, malaise, sakit tenggorok, serak, batuk, dan rhinitis

Patofisiologi Infeksi virus hilang dalam 3 10 hari Komplikasi mastoiditis, sinusitis, otitis media, abses peritonsilar, adenitis servikal, demam reumatik dan nefritis

Terapi Medik Bila penyebabnya bakterial maka pemberian agen bakterial (penisilin) diberikan

selama 10 hari Berikan diet cair dan lunak Anjurkan banyak minum (2-3 L/hari)

Intervensi Keperawatan Pendidikan Kesehatan Istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit Buang tissu secara benar seteah digunakan (mencegah penyebaran infeksi) Kumur salin hangat (40,6 oC 43,3 o C) Irigasi pd tenggorok mengurangi spasme pd tenggorok Kolaborasi pmberian analgesik Pemberian antitusif (kodein, dekstrometrofan) Lakukan perawatan mulut Jelaskan tentang pentingnya terapi antibiotik secara tuntas

Faringitis Kronik > terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkungan berdebu, menggunakan suara berlebihan, menderita akibat batuk kronis, dan penggunaan habitual alkohol dan tembakau

Jenis Hipertrofik > penebalan umum dan kongesti membran mukosa faring Atrofik > tahap lanjut dari jenis pertama (membran tipis, licin, keputihan, berkerut) Granular kronik pembengkakan folikel limfe pada dinding faring

Gejala Keluhan sensasi iritasi dan sesak pada tenggorok yg terus menerus, lendir pada tenggorok, adanya kesulitan menelan

Terapi Medik Berikan sprei nasal atau obat-obatan yang mengandung epinefrin sulfat (afrin) atau fenilefrin hidroklorida Bila tdp allergi, berikan dekongestan anthistamin Berikan aspirin atau asetaminofen Hindari kontak dengan orang lain

Intervensi Keperawatan Pendidikan kesehatan Hindarkan kontak dengan orang lain sampai demam benar-benar menghilang. Hindari penggunaan alkohol, tembakau, asap rokok dan pemajanan thd dingin Hindari polutan lingkungan dengan menggunkan masker Anjurkan untuk memperbanyak minum Anjurkan berkumur dengan larutan salin normal

Tonsilitis Peradangan tonsil Penyebab umum adalah streptokokkus grup A Gejala : sakit leher, nyeri menelan, menggigi, demam, dan sakit otot. Biakan tenggorok harus dilakukan untuk menentukan penyebab Terapi : meningkatkan jumlah cairan yang masuk ; obat kumur salin ; pemberian antibiotik

LARINGITIS Inflamasi pada laring

Penyebab : terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan thd debu, bahan kimiawi, asap, infeksi saluran napas atas ; hampir selalu disebabkan oleh virus Gejala > akut : suara serak atau tidak dpt mengeluarkan suara, batuk berat. Kronik suara serak yang persisten Terapi medik > akut : istirahat berbicara, hindari merokok, istirahat ditempat tidur, menghirup uap dingin atau aerosol. bila Kronik: istirahatkan suara, hilangkan infeksi pernapasan yg ada (primer), batasi merokok, penggunaan kortikosteroid topikal Intervensi keperawatan: Instruksikan pasien mengistirahatkan suara dan memepertahankan kelebaban lingkungan, sarankan penggunaan ekspektoran bila ada sekresi laringeal, berikan cairan ( 3 Liter) untuk mengencerkan sekresi HIDUNG Pengertian Hidung Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru. Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata. Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago). Di dalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan menjadi 2 rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang. Tulang yang disebut konka nasalis menonjol ke dalam rongga hidung, membentuk sejumlah lipatan. Lipatan ini menyebabkan bertambah luasnya daerah permukaan yang dilalui udara. Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah. Luasnya permukaan dan banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk dengan segera. Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (silia). Biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. Cara ini membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru. Bersin secara otomatis membersihkan saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi, sedangkan batuk membersihkan paru-paru. Sel-sel penghidu terdapat di rongga hidung bagian atas. Sel-sel ini memiliki silia yang mengarah ke bawah (ke rongga hidung) dan serat saraf yang mengarah ke atas (ke bulbus olfaktorius, yang merupakan penonjolan pada setiap saraf olfaktorius/saraf penghidu). Saraf olfaktorius langsung mengarah ke otak.

SINUS PARANASALIS

Tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis, yang merupakan ruang berrongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung. Terdapat 4 kelompok sinus paranasalis: Sinus maksilaris Sinus etmoidalis Sinus frontalis Sinus sfenoidalis.
Dengan adanya sinus ini maka: - berat dari tulang wajah menjadi berkurang - kekuatan dan bentuk tulang terpelihara - resonansi suara bertambah. Sinus dilapisi oleh selapus lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Partikel kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir lalu disapu oleh silia ke rongga hidung. Pengaliran dari sinus bisa tersumbat, sehingga sinus sangat peka terhadap ifneksi dan peradangan (sinusitis).

RINITIS ATROFI DEFINISI Rinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang ditandai atrofi progresif mukosa

hidung dan tulang penunjangnya disertai pembentukan sekret yang kental dan tebal yang cepat mengering membentuk krusta, menyebabkan obstruksi hidung, anosmia, dan mengeluarkan bau busuk. Rinitis atrofi disebut juga rinitis sika, rinitis kering, sindrom hidung-terbuka, atau ozaena. INSIDENSI Rinitis atrofi merupakan penyakit yang umum di negara-negara berkembang. Penyakit ini muncul sebagai endemi di daerah subtropis dan daerah yang bersuhu panas seperti Asia Selatan, Afrika, Eropa Timur dan Mediterania. Pasien biasanya berasal dari kalangan ekonomi rendah dengan status higiene buruk. Rinitis atrofi kebanyakan terjadi pada wanita, angka kejadian wanita : pria adalah 3:1. Penyakit ini dikemukakan pertama kali oleh dr.Spencer Watson di London pada tahun 1875.1 Penyakit ini paling sering menyerang wanita usia 1 sampai 35 tahun,

terutama pada usia pubertas dan hal ini dihubungkan dengan status estrogen (faktor hormonal). KLASIFIKASI Rinitis atrofi berdasarkan gejala klinis diklasifikasikan oleh dr. Spencer Watson (1875) sebagai berikut: 1. Rinitis atrofi ringan, ditandai dengan pembentukan krusta yang tebal dan mudah ditangani dengan irigasi. 2. Rinitis atrofi sedang, ditandai dengan anosmia dan rongga hidung yang berbau. 3. Rinitis atrofi berat, misalnya rinitis atrofi yang disebabkan oleh sifilis, ditandai oleh rongga hidung yang sangat berbau disertai destruksi tulang. Berdasarkan penyebabnya rinitis atrofi dibedakan atas: 1. Rinitis atrofi primer, merupakan bentuk klasik rinitis atrofi yang didiagnosis pereksklusionam setelah riwayat bedah sinus, trauma hidung, atau radiasi disingkirkan. Penyebab primernya merupakan Klebsiella ozenae. 2. Rinitis atrofi sekunder, merupakan bentuk yang palng sering ditemukan di negara berkembang. Penyebab terbanyak adalah bedah sinus, selanjutnya radiasi, trauma, serta penyakit granuloma dan infeksi. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi dibagi menjadi primer dan sekunder. Rinitis atrofi primer adalah rinitis atrofi yang terjadi pada hidung tanpa kelainan sebelumnya, sedangkan rinitis atorfi sekunder merupakan komplikasi dari suatu tindakan atau penyakit. Rinitis atrofi primer adalah bentuk klasik dari rinitis atrofi dimana penyebab pastinya belum diketahui namun pada kebanyakan kasus ditemukan klebsiella ozaenae. Rinitis atrofi sekunder kebanyakan disebabkan oleh operasi sinus, radiasi, trauma, penyakit infeksi, dan penyakit granulomatosa atau. Operasi sinus merupakan penyebab 90% rinitis atrofi sekunder. Prosedur operasi yang diketahui berpengaruh adalah turbinektomi parsial dan total (80%), operasi sinus tanpa turbinektomi (10%), dan maksilektomi (6%). Penyakit granulomatosa yang mengakibatkan rinitis atrofi diantaranya penyakit sarkoid, lepra, dan rhinoskleroma. Penyebab infeksi termasuk tuberkulosis dan sifilis. Pada negara berkembang, infeksi hanya berperan sebanyak 1-2% sebagai penyebab rinitis atrofi sekunder. Meskipun infeksi bukan faktor kausatif pada rinitis atrofi sekunder, namun sering ditemukan superinfeksi dan hal ini menjadi penyebab terbentuknya krusta, sekret, dan bau busuk. Terapi radiasi pada hidung dan sinus hanya menjadi penyebab pada 2-3% kasus, sedangkan trauma hidung sebanyak 1%. Selain faktor diatas, beberapa keadaan dibawah ini juga diduga sebagai penyebab rinitis atrofi:

1) Infeksi kronik spesifik oleh kuman lain Yakni infeksi oleh Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa, Kokobasilus, Bacillus mucosus, Diphteroid bacilli, Cocobacillus foetidus ozaena. Telah dilaporkan terjadinya rinitis atrofi pada seorang anak 7 tahun dari satu keluarga setelah anak dari tetangga keluarga tersebut yang diketahui menderita rinitis atrofi menginap bersamanya. 2) Defisiensi besi dan vitamin A Dilaporkan terjadi perbaikan pada 50% pasien yang mendapat terapi besi dan pada 84% pasien yang diterapi dengan vitamin A mengalami perbaikan simptomatis. Adanya hiperkolesterolemia pada 50% pasien rinitis atrofi menunjukkan peran diet pada penyakit ini. 3) Perkembangan Dilaporkan adanya pengurangan diameter anteropsterior hidung dan aliran udara maksiler yang buruk pada penderita rinitis atrofi. 4) Lingkungan Dilaporkan telah terjadi rinitis atrofi pada pasien yang terpapar fosforit dan apatida. 5) Sinusitis kronik 6) Ketidakseimbangan hormon estrogen Dilaporkan adanya perburukan penyakit saat hamil atau menstruasi. 7) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun 8) Teori mekanik dari Zaufal 9) Ketidakseimbangan otonom 10) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS) 11) Herediter Dilaporkan adanya rinitis atrofi yang diturunkan secara dominan autosom pada sebuah keluarga dimana ayah serta 8 dari 15 anaknya menderita penyakit ini. 12) Supurasi di hidung dan sinus paranasal 13) Golongan darah PATOGENESIS

Analisis terhadap mukosa hidung menemukan hal yang sama baik pada rinitis atrofi primer maupun sekunder. Mukosa hidung yang normal terdiri atas epitel pseudostratifikatum kolumnar, dan glandula mukosa dan serosa. Pada rinitis atrofi, lapisan epitel mengalami metaplasia squamosa dan kehilangan silia. Hal ini mengakibatkan hilangnya kemampuan pembersihan hidung dan kemampuan membersihkan debris. Glandula mukosa mengalami atrofi yang parah atau menghilang sama sekali sehingga terjadi kekeringan. Selain itu terjadi juga penyakit pada pembuluh darah kecil, andarteritis obliteran (yang dapat menjadi penyebab terjadinya rinitis atrofi atau sebagai akibat dari proses penyakit rinitis atrofi itu sendiri). Secara patologis, rinitis atrofi dapat dibagi menjadi dua, yakni tipe I, adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriola terminal akibat infeksi kronik yang membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen; dan tipe II, terdapat vasodilatasi kapiler yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Endarteritis di arteriola akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Selain itu didapatkan sel endotel bereaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif. Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun, dimana terdeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi klirens mukus dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel, membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. GEJALA KLINIS Pemeriksaan fisik terhadap rinitis atrofi dapat dengan mudah dikenali. Tanda pertama sering berupa bau (foeter ex nasi) dari pasien. Pada beberapa kasus, bau ini bisa berat. Hal ini akan menyebabkan ganggguan pada setiap orang kecuali pasien, karena pasien mengalami anosmia. Beberapa pasien juga memperlihatkan depresi yang terjadi sebagai implikasi sosial dari penyakit. Pasien biasanya mengeluh obstruksi hidung (buntu), krusta yang luas, dan perasaan kering pada hidung. Gejala klinis rinitis atrofi secara umum adalah : Gejala : obstruksi hidung (buntu) sakit kepala - epistaksis pada pelepasan krusta

- bau busuk pada hidung (foeter ex nasi) yang dikeluhkan oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Bau ini tidak diketahui oleh pasien karena atrofi dari mukosa olfaktoria. - Faringitis sikka - Penyumbatan yang terjadi karena lepasnya krusta dari nasofaring masuk ke orofaring. Tanda : - foeter ex nasi - krusta dihidung berwarna kuning, hijau, atau hitam - pelepasan kusta akan memperlihatkan ulserasi dan perdarahan mukosa hidung

BAB IPENDAHULUAN A . L a t a r B e l a k a n g M a s a l a h Berbagai masalah kesehatan terus menerus bermunculan di Indonesia.Akan tetapi, pemerintah belum cukup mengatasi masalah kesehatan tersebut.Seluruh bidang pelayanan kesehatan sampai saat ini sedang mengalami perubahan dan tidak satu pun perubahan yang berjalan lebih cepat disbandingm a s a l a h k e s e h a t a n y a n g terus menerus bertambah, termasuk di b i d a n g keperawatan.Hal ini memberikan suatu tantangan yang sangat menyenangkan dan nyata bagi perawat dan mahasiswa keperawatan dalam mengahdapi masalah tersebut.Tanggung jawab untuk mengkoordinasikan perawatan ini membutuhkan p e r e n c a n a a n d a n p e n c a t a t a n y a n g d e n g a n j e l a s m e n g i d e n t i f i k a s i m a s a l a h - masalah dan inetrvensiintervensi, juga perencanaa perawatan kesehatan jangka pendek dan panjang untuk individu dan keluarga.Salah satu masalah kesehatan yang sering muncul saat ini berhubungand e n g a n p e r n a f a s a n . Begitu banyak masalah yang muncul, utamanya k a r e n a masalah lingkunagn yang tercemar polusi, gaya hidup masyarakat yang tidak sehat, dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.Beberapa penyakit yang sering terjadi adalah TBC, pneumonia, berbagai penyakit akergi karena udara, dan asma yang sering terjadi di usia kanak-kanak.D a r i m a s a l a h k e s e h a t a n t e r s e b u t , c a l o n t e n a g a k e s e h a t a n , h a r u s t er u s m e n g k a j i berbagai penyakit yang muncul untuk dapat m e m b u a t a s u h a n keperawatan yang sesuai dan tepat a g a r m a s a l a h k e s e h a t a n s e c a r a b e r t a h a p dapat teratasi dan

derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan.B . I d e n t i f i k a s i

kasus