Anda di halaman 1dari 19

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


ANAMNESIS Nama Lengkap Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pekerjaan Pendidikan Terakhir Tgl kunjungan AMC Tgl Home visit I Tgl Home visit II Nama : Nn. P Umur : 56 thn : Nn. P : 56 thn : Perempuan : Ketanggungan Wirobrajan 2/679, Kec. Wiwobrajan : Islam : Buruh : SD : 13 Maret 2013 : 13 Maret 2013 : 14 Maret 2013 Ruang : Poli DSM Tempat Stase : AMC

Tanggal 13 Maret 2013 KELUHAN UTAMA 1. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke AMC dengan keluhan gatal pada daerah leher dan pundak kiri. Keluhan ini dirasa sudah 1 bulan yang lalu. 3 bulan SMRS pasien mengeluh gatal pada selangkangan kanan dan kiri serta di daerah bawah payudara, namun sekarang sudah membaik dan timbul pada daerah leher. Pasien sudah pernah 1 kali berobat ke bidan di beri obat dermovat krim (klobetasol propionat) namun belum membaik. Gatal dirasa umat-umatan, gatal bertambah jika berkeringan dan bila kecapekan, selain gatal tidak ada keluhan lain. 2. Riwayat Penyakit Dahulu Pernah gatal di selangkangan dan bawah payudara namun sudah sembuh Riwayat Penyakit DM, astma, penyakit atopik disangkal, RM.01. : Gatal-gatal di leher

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Riwayat penyakit Jantung disangkal Riwayat alergi tetrasiklin

3. Riwayat Penyakit Keluarga Ibu kandung pasien meninggal karena kangker payudara Riwayat alergi disangkal 4. Riwayat Pengobatan Sebelumnya Pasien hanya 1 kali mengobatkan penyakitnya ke bidan 5. Riwayat Pribadi Pasien merupakan seorang perempuan 56 tahun belum menikah. Pasien tinggal bersama keponakanya laki-laki umur 25 tahun di rumah orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah meninggal Untuk kebutuhan sehari-harinya pasien bekerja sebagai buruh, membersihkan rumah tetangga dan membantu mencucikan baju orang. Hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Penghasilan pasien perbulan kurang lebih 300 ribu perbulan 6. Riwayat Agama Pasien beragama Islam dan mengaku selalu mengerjakan sholat wajib. 7. Riwayat Sosial Pasien termasuk orang yang supel bergaul dengan tetangga sekitarnya dan tidak ada masalah dengan lingkungan sekitar. 8. Riwayat Ekonomi Kondisi ekonomi pasien hanya cukup untuk makan sehari-hari meskipun pas-pasan. Neurologi Respirasi : Panas (-), pusing (+), kelumpuhan anggota gerak (-), kesadaran menurun (-) : Batuk (-), pilek (-), sesak napas (-), pernapasan dangkal (-) RM.02.

Anamnesis Sistem

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Kardiovaskular Gastrointestinal Urogenital Muskuloskeletal Integumentum PEMERIKSAAN JASMANI PEMERIKSAAN UMUM Kesan umum Kesadaran Tanda Utama Nadi / HR Suhu badan Pernafasan Tekanan Darah BB TB Gizi : 82 x/menit : 37C : 20 x/menit : 130/80 mmHg : 54 kg : 155 cm : cukup : Baik : Kompos mentis : Pucat (-), takikardi (-), : Mual (-), Muntah (-),nyeri uluhati (-), BAB cair (-) warna hitam, perut : BAK lancar, nyeri BAK (-), BAK sering (-) : Lemas (-), kaku sendi (-), nyeri sendi (-) : Gatal (+) Nama : Nn. P Umur : 56 thn Ruang : Poli DSM Tempat Stase : AMC

kembung(-), sakit pada anus (-), flatus (+)

Status Generalis Kulit : Ditemukan plak eritem lokasi di leher dan pundak kiri, konfluen, tengahnya mengalami penyembuhan, dengan tepinya aktif disertai skuama halus. Kelenjar limfe Kepala Muka : pembesaran (-) : Simetris, mesochepal, distribusi rambut merata : Simetris, tidak ada jejas Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikhterik (-/-), pupil isokor 3 mm, reflek cahaya (+/+) RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Hidung Mulut/Gigi Telinga Leher Otot Tulang Sendi : : Deviasi sputum (-), discharge (-) : Bibir kering (-), lidah tidak kotor, carries (-) : Simetris, serumen (-/-) : pembesaran kelejar tiroid dan kelenjar limfe (-) : tonus normal. : deformitas (-). : gerakan bebas, anggota gerak lemas (-), nyeri gerak (-).

Thoraks

Inspeksi : Simetris, gerakan respirasi dalam batas normal, massa (-), retraksi suprasternal (-), retraksi intercosta (-), hematom (-),deformitas (-). Jantung Palpasi : : iktus kordis tak kuat angkat Batas kanan atas Batas kiri atas Batas kanan bawah Batas kiri bawah Auskultasi : S1 > S2 reguler, bising (-), gallop (-) Paru-paru Depan : Inspeksi : Kanan retraksi intercosta (-), tidak ada ketinggalan gerak, hematom (-). Palpasi Perkusi Vokal fremitus kanan sama dengan kiri, ketinggalan gerak (-) Sonor pada seluruh lapang paru Ronkhi basah (-), krepitasi (-), Kanan Simetris, Ketinggalan gerak (-), vokal fremitus ka=ki. Auskultasi Suara dasar vesikular, Ronkhi kering (-), Belakang Inspeksi Palpasi Kiri retraksi intercosta (-), tidak ada ketinggalan gerak, hematom (-). Vokal fremitus kanan sama dengan kiri, ketinggalan gerak (-) Sonor pada seluruh lapang paru Suara dasar vesikular, Ronkhi kering (-), Ronkhi basah (-), krepitasi (-), Kiri Simetris, Ketinggalan gerak (-), vokal fremitus ka=ki. RM.04. Tampak simetris, retraksi suprasternal (-), Tampak simetris, retraksi suprasternal (-), : SIC II, LPS dextra ; : SIC II, LMC sinistra : SIC IV, LPS dextra ; : SIC IV, LMC sinistra

Perkusi Batas-batas Jantung

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Perkusi Sonor pada seluruh lapang paru Ronkhi basah (-), krepitasi (-). Abdomen : lihat status lokalis abdomen Sonor pada seluruh lapang paru Suara dasar vesikular, Ronkhi kering (-), Ronkhi basah (-), krepitasi (-), Auskultasi Suara dasar vesikular, Ronkhi kering (-),

Inspeksi : perut tegang (-), dinding abdomen sama dengan dinding dada, sikatrik (-) Auskultasi : peristaltik (+) Palpasi : tegang (-), defans muskular (-), massa (-), nyeri tekan pada epigastrium(-) , nyeri lepas tekan (-), turgor kulit kembali cepat < 2 detik (normal), hepar dan lien tak teraba, nyeri ketok ginjal (-/-), murphy sign (-) Perkusi : Timpani (+) Ektremitas : Akral hangat, perfusi jaringan baik, kapilari refil < 2 detik, deformitas (-). Superior kanan Superior kiri Inferior kanan Inferior kiri : Edem (-), sianosis (-), tonus cukup : Edem (-), sianosis (-), tonus cukup : Edem (-), sianosis (-), tonus cukup : Edem (-), sianosis (-), tonus cukup

Usulan Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikroskop dengan KOH HASIL KUNJUNGAN KE RUMAH : KONDISI PASIEN Kunjungan ke rumah dilakukan pada tgl 12 Maret 2013 pukul 13.00-14.00 WIB. Kunjungan kedua dilakukan pada tgl 13 Maret 2013 pukul 15.00- 17.00. Pasien tampak sedang duduk-duduk di rumah. Kondisi pasien tampak sehat, bisa melakukan aktivitas sehari-hari. KEADAAN RUMAH a) Lokasi b) Kondisi rumah c) Luas : Rumah yang dihuni pasien terletak di pemukiman yang padat, : bangunan permanen yang baru saja dibangun, dinding bagian : luas rumah 50 m2 , jumlah orang dalam1 rumah ada 2 orang RM.05. saling berimpit antar tetangga, didepan rumah terdapat jalan kecil. depan tembok,dinding dapur tembok, atap dari genting.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


d) Lantai Rumah e) Pembagian ruangan f) Jendela rumah rumah dan kamar g) Pencahayaan : Cahaya yang masuk ke ruang cukup, Pencahayaan diukur dengan cara manual yaitu pemeriksa kemampuan membaca di dalam ruangan tanpa menggunakan alat bantu penerangan. h) Kebersihan dan tata letak barang dalam ruangan i) Sanitasi Dasar j) Halaman k) Kesan kebersihan l) Kepemilikan barang : Pasien memiliki kursi dan meja tamu, memiliki tempat tidur, lemari pakaian, perlengkapan dapur, mesin cuci, dan perlengkapan eletronik berupa 1 unit tv 14. Tabel. Variabel dan Nilai Skor Variabel Rumah Sehat
No 1 2 3 4 5 6 Variabel Lokasi Kepadatan Hunian Lantai Pencahayaan Ventilasi Air bersih Skor a. Tidak rawan 3 b. Rawan banjir 1 a. Tidak padat (> 8 m2 / orang) 3 b. Padat (< 8 m2 / orang) 1 a. Semen, ubin, keramik, kayu 3 b. Tanah a. Cukup 1 3

: lantai plester bersih : terdapat 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 kamar : terdapat 2 jendela berukuran 1x0,5 m2, jendela terdapat di depan

mandi di dalam rumah

: kebersihan dalam rumah kurang

cukup dan tata letak barang-barang dalam rumah berantakan dan kotor. : persediaan air berasal dari sumur, jamban terletak didalam : memiliki halaman sempit didepan rumah : kurang rumah, sarana pembuangan air lmbah dialirkan ke selokan kecil dibelakang rumah

b. Tidak cukup 1 a. Ada ventilasi 3 b. Tidak ada ventilasi 1 a. Air dalam kemasan 3 b. Ledeng / PAM c. Mata air terlindung 3 2

d. Sumur pompa tangan 2

RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


e. Sumur terlindungi f. 2 Sumur tidak terlindung 1 1

g. Mata air tidak terlindung 1 7 Pembuangan kotoran (kakus) h. Lain-lain a. Leher angsa 3 b. Plengsengan 2 c. Cemplung / cubluk 2 d. Kolam ikan/ sungai/ kebun 1 8 Septik tank e. Tidak ada 1 a. Dengan jarak >10 m dari sumber air minum 3 9 Kepemilikan WC b. Lainnya 1 a. Sendiri 3 b. Bersama 2 10 SPAL c. Tidak ada 1 a. Saluran tertutup 3 b. Saluran terbuka 2 11 Saluran got c. Tanpa saluran 1 a. Mengalir lancar 3 b. Mengalir lambat 2 12 Pengelolaan sampah c. Tidak ada got 1 a. Diangkut petugas 3 b. Ditimbun 2 c. Dibuat kompos 3 d. Dibakar 2 e. Dibuang ke sungai 1 f. 13 14 Polusi udara Bahan bakar masak Dibuang sembarangan 1 g. Lainnya 1 a. Tidak ada gangguan polusi 3 b. Ada gangguan 1 a. Listrik dan gas 3 b. Minyak tanah 2 c. Kayu bakar 1 TOTAL d. Arang/ batu bakar 1 41

Penetapan skor kategori rumah sehat sebagai berikut : RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Baik Sedang Kurang : skor 35-42 (>83 %) : skor 29-34 (69-83 %) : skor <29 (<69 %)

Pada pasien termasuk kedalam kategori rumah yang baik. NILAI APGAR FAMILY APGAR keluarga merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengukur sehat/tidaknya suatu keluarga yang dikembangkan oleh Rusen, Geyman dan Leyton, dengan menilai 5 fungsi pokok keluarga /tingkat kesehatan keluarga.
KRITERIA ADAPTASI PERTANYAAN Apakah pasien puas dengan keluarga karena masing-masing anggota keluarga telah menjalankan kewajiban sesuai dengan KEMITRAAN seharusnya? Apakah pasien puas dengan keluarga karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang PERTUMBUHAN dihadapi ? Apakah pasien puas dengan kebebasan yang diberikan keluarga HAMPIR SELALU (2) KADANGKADANG (1) HAMPIR TIDAK ADA (0)

RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


untuk mengembangkan kemampuan pasien KASIH SAYANG miliki? Apakah pasien puas dengan kehangatan yang KEBERSAMAAN diberikan keluarga Apakah pasien puas dengan waktu yang disediakan keluarga untuk menjalin kebersamaan TOTAL 2 1 0

Skor klasifikasi APGAR : 8-10 4-7 0-3 Fungsi keluarga baik Disfungsi keluarga sedang Disfungsi keluarga berat

Berdasarkan hasil penilaian APGAR kesimpulannya disfungsi keluarga sedang

GENOGRAM Dibuat tanggal 13 Maret 2013 Genogram keluarga Ny. P

Kp 70th

RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA

D , B

Keterangan ; Perempuan Laki-laki Pasien Perempuan meninggal FAMILY MAP B Breadwinner kp Laki-laki meninggal Kanker Payudara D decision maker

pasien 56 th

Keponakan laki-laki

NILAI SCREEM
ASPEK SOSIAL CULTURAL SUMBER DAYA PATOLOGI Interaksi pasien dengan Tidak ada masyarakat baik Pasien dan keluarga tidak jelas kebenarannya. tidak Tidak ada

mempercayai mitos-mitos yang

RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Bila merasa sakit pasian langsung berobat ke puskesmas RELIGIUS atau kedokter Keluarga pasien waktu ECONOMY dan rajin beragama Tidak ada mengikuti cuci dan Ada

muslim, mengerjakan shalat 5 pengajian Bekerja buruh

membersihkan rumah tetangga Pendapatan per bulan dibawah EDUCATION UMR Memiliki TV sebagai sumber informasi, Pendidikan terakhir MEDICAL pasien SD Pasien dan keluarga menjangkau PUSKESMAS Pasien asuransi tidak memilki sebagai kartu pelayanan kesehatan primer Tidak ada Tidak ada

FUNGSI KELUARGA a. Fungsi biologis dan reproduksi Pasien melewati masa produktif usia produksinya, pasien tidak memiliki suami. b. Fungsi afektif Pasien hidup berdua dengan keponakan laki-lakinya, pasien belum menikah, dan kedua orang tuanya sudah meninggal. c. Fungsi ekonomi Pasien bekerja buruh, membersihkan rumah tetangga dan membantu mencucikan baju orang. d. Fungsi religius Pasien dan keluarga termasuk keluarga yang religius e. Fungsi sosialisasi dan pendidikan Pendidikan terakhir pasian adalah SD f. Fungsi sosaial dan budaya RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Pasien termasuk orang yang supel dan aktif dilingkungan tempat tinggalnya. LOKASI RUMAH S Jl.S. Parman Gang Abiyoso
MADRASAH MUALIMIN

Rumah pasien

DENAH RUMAH Denah rumah Ny. P dibuat 13 Maret 2013 S wc Kamar R. Tamu Dapur

DIAGNOSIS KLINIS: Tinea Corporis DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA : Tinea Corporis pada wanita 56 tahun yang belum menikah dengan hubungan keluarga harmonis dan disfungsi keluarga sedang serta tingkat ekonomi rendah PENATALAKSANAAN : RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Promotif Memberi penjelasan kepada pasien akan penyakitnya Memberi penyuluhan tentang kebersihan lingkungan Menjelaskan tentang cara penularan tinea Mengajarkan pasien untuk senantiasa menjaga agar kulitnya tidak terlalu lembab Preventif Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas (karet, nylon), mengenakan pakaian dalam yang longgar yang terbuat dari katun, memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari berkeringat yang berlebihan. Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing, anjing,atau kontak pasien lain. Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki. Meningkatkan hygiene dan memperbaiki makanan. Menghindari kontak langsung dengan mereka yang menderita tinea fasialis. Menjaga kulit agar tetap bersih dan kering, mencuci muka setelah berolahraga ataupun berkeringat Mencuci barang-barang pribadi secara berkala (seprei, pakaian, dan lain-lain) Jangan berbagi perlengkapan perawatan diri (handuk, sisir, sikat) Memotong kuku untuk menghindari garukan

Farmakologi Griseovulvin 0,5-1 gr/ hari selama 2 minggu atau Ketokonazol 200mg/ hari selama 2 minggu Ketokonazol krim 20mg 2% 2x1 ue selama 2 minggu Loratadin 10mg 2x1 Bedak Salisilat 3x1 ue

RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Tinea corporis adalah Infeksi jamur pada kulit halus (glabrous skin) di daerah wajah, leher, badan, lengan, tungkai dan pantat (glutea)1 B. Etiologi Tinea corporis disebabkan oleh jamur golongan Dermatofita yang mempunyai sifat mencernakan keratin. adalah genus Tricophyton, Microsporum dan Epidermophyton.1 C. Cara penularan Penularan infeksi jamur dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung melalui epitel kulit dan rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tak langsung dapat melalui tanaman, kayu, pakaian, dan barang-barang lain yang dihinggapi jamur, atau dapat juga melalui debu dan air.2 D. Patofisiologi Dermatofita biasanya berada di daerah yang tidak hidup, seperti lapisan kulit, rambut, dan kuku, menyukai daerah yang hangat, lembab membantu proliferasi jamur. Jamur memyebabkan keratinisasi dan enzimnya bisa masuk lebih dalam dari stratum corneum, biasanya infeksi terbatas pada epidermis. Mereka biasanya tidak masuk lebih dalam, hal ini tergantung dari mekanisme pertahan non-spesifik itu dapat termasuk aktivasi serum inhibitor, komplemen, dan PMN. Masa inkubasi 1-3 minggu, dermatofita menyebar secara sentrifugal.3 E. Gejala klinik Keluhan gatal terutama bila berkeringat. Oleh karena gatal dan digaruk, lesi semakin meluas, terutama di daerah kulit yang lembab. kelainan yang terlihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Khas dari infeksi ini ada central healing (dibagian tepi meradang dan bagian tengah tenang).1,4 F. Pemeriksaan Penunjang RM.014.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Gejala klinis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan histopatologik dan imunologik tidak diperlukan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis yang berupa kerokan kulit. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH lalu diperiksa langsung dengan mikroskop. Pemeriksaan kerokan kulit dengan ditambahkan KOH akan dijumpai adanya hifa. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung dengan sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pembiakan dilakukan pada medium agar Sabouraud karena dianggap merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan jamur. Pemeriksaan lainnya dengan lampu wood (sinar ultraviolet), pada tinea kapitis akan memunculkan fluoresensi berwarna kehijauan.5 G. Terapi Tinea korporis dengan lesi yang tidak luas dapat digunakan terapi topikal, untuk lesi yang luas dan dengan inflamasi yang berat diindikasikan terapi oral. Obat topikal harus bisa penetrasi ke dalam kulit dan bertahan di dalamnya untuk menekan jamur. Pemilihan terapi didasarkan pada tempat dan luasnya infeksi, juga efikasi dan keamanan obat. Agen antifungi oral untuk pengobatan dermatofitosis:6 Golongan Miscellaneous Azoles Triazoles Obat Griseofulvin Ketoconazole Itraconazole Fluconazole Voriconazole Terbinafine Dosis Dewasa: Fluconazole, 150 mg/mgg Itraconazole, 100 mg/hari Terbinafine, 250 mg/hari Griseofulvin, 500 mg/hari Anak-anak: Griseofulvin, 10-20 mg/kg/hari Itraconazole, 5 mg/kg/hari Terbinafine, 3-6 mg/kg/hari

Allylamines

Agen antifungi topikal untuk pengobatan dermatofitosis: 6 Golongan Morpholine derivatives Allylamines and benzylamine derivatives Obat Amorolfine Naftifine, Terbinafine, Butenafine RM.015.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Azole derivatives Bifonazole, butoconazole, clotrimazole, croconazole, eberconazole, econazole, fenticonazole, flutrimazole, isoconazole, ketoconazole, miconazole, omoconazole, oxiconazole, sertaconazole, sulconazole, terconazole, tioconazole. Ciclopiroxolamine, haloprogin, tolnaftate, ointment, undecilenic acid. griseofulvin, Whitfields

Miscellaneous compounds

RM.016.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA

REFERENSI
1. Adhi Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi V . Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2007 2. Trelia Boel. Mikosis Superfisial. Available from : http://library.usu.ac.id 3. Jack L.lesher. Medical College of Georginia. Tinea Corporis. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com 4. Ditto anurogo. Tips praktis mengenali tinea korporis. Diunduh dari: http://www.kabarindonesia.com/ 5. Weller R, Hunter JA, Savin JA, Dahl MV. Clinical Dermatology. Edisi ke-4. Massachusetts: Blackwell Publishing; 2008.h.251. 6. Palacio A, Garau M, Escalada AG, Calvo MT. Trends in the treatment of dermatophytosis. Revista Iberoamericana de Micologia. 2000; 148-56.

RM.017.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA LAMPIRAN DOKUMENTASI


Tampak depan rumah

Kamar pasien

RM.018.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESUS ILMU KESEHATAN KELUARGA


Dapur

Kamar mandi

RM.019.