Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA TANAH

SAMPEL TANAH BANGLI

OLEH : NI KADEK OKI FEBRIANTI 1105105055

UNIVERSITAS UDAYANA FAKULTAS PERTANIAN AGROEKOTEKNLOGI DENPASAR 2012/2013

KATA PENGANTAR
Salam sejahtera, Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan laporan praktikum ini tepat pada waktunya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan pengetahuan khususnya mengenai fisika tanah. Dengan kata lain, saya berharap laporan ini mampu sedikitnya memupus rasa dahaga para penimba ilmu, sebagai bahan diskusi maupun kontemplasi, di masa kini maupun yang akan datang. saya menyadari, bagaimanapun usaha saya, tak ada gading yang tak retak.Tentunya makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami nantikan.

Denpasar, 1 Desember 2012 Penulis,

DAFTAR ISI

Judul

Hal

Halaman Judul .............................................................................................. Kata Pengantar .............................................................................................. Daftar Isi ........................................................................................... ............

i ii iii

I.

Pendahuluan 1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1.2.Rumusan Masalah ................................................................ ............ 1.3.Tujuan ............................................................................................... 1 1 1

II. Tinjuan Pustaka ................................................................................... 2.1.Berat Volume Tanah ............................................................. 2.2.Berat Jenis Partikel (p) ........................................................ 2.3.Permeabilitas Tanah .............................................................. 2.4.Tekstur Tanah ...................................................................... III. Bahan dan Metode.................................................................................. 3.1.Berat Volume Tanah .............................................................. 3.2.Berat Jenis Partikel (p) ......................................................... 3.3.Permeabilitas Tanah ............................................................... 3.4.Penetapan Tekstur Tanah Dengan Cara Pipet.......................... 4 4 5 6

2 2 2 3 3 4

IV. Hasil dan Pembahasan .......................................................................... 4.1.Berat Volume Tanah ............................................................. 4.2.Berat Jenis Partikel (p) ........................................................ 4.3.Permeabilitas Tanah .............................................................. 4.4. Penetapan Tekstur Tanah Dengan Cara Pipet........................ V. Kesimpulan .............................................................................................

8 8 8 9 9 12

Daftar Pustaka ......................................................................................... ... Lampiran lampiran

13

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah tersusun dari butiran tanah atau partikel lainnya dan rongga-rongga atau pori di antara partikel butiran tanah. Rongga-rongga terisi sebagian atau seluruhnya dengan air atau zat cair lainnya. Rongga-rongga tanah yang tidak terisi oleh air atau zat cair akan terisi oleh udara atau bentuk lain dari gas. Volume yang ditempati oleh bagian besar tanah pada umumnya termasuk bahan penyusun lainnya yaitu bagian padat, cair, dan gas (udara) yang selanjutnya dikenal sebagai sistem tiga fase tanah (three-phase systems). Sifat-sifat mekanis penting tanah, seperti kekuatan (strength) dan pemampatan (compressibility), secara langsung berhubungan dengan atau paling tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar seperti rapat masa (density), berat volume (unit weight), angka pori (void ratio), dan derajat kejenuhan (degree of saturation).

Gambar (a) Elemen tanah di alam, (b) Tiga fase penyusun tanah.

1.2. Rumusan Masalah a. Bagaimana cara menetapkan berat volume tanah dan berapakah berat volume tanah pegok? b. Bagaimana cara menetapkan berat jenis partikel tanah (p) dan berapakah berat berat jenis partikel tanah pegok? c. Bagaimana cara menetapkan permeabilitas tanah dan berapakah jumlah permeabilitas yang dimilliki oleh tanah Pegok? d. Bagaimana cara menetapkan tekstur tanah dengan menggunakan metode pipet serta tekstur apa yang dimiliki oleh tanah Pegok?

1.3.Tujuan a. Untuk mengetahui metode yang dipergunakan untuk menetapkan berat volume tanah dan jumlah berat volume tanah yang dimiliki oleh tanah Pegok. b. Untuk mengetahui metode yang dipergunakan untuk menetapkan berat jenis partikel tanah dan jumlah berat berat jenis tanah yang dimiliki oleh tanah Pegok. c. Untuk mengetahui metode yang dipergunakan untuk menetapkan permeabilitas tanah dan jumlah permeabilitas tanah yang dimiliki oleh tanah Pegok. d. Untuk mengetahui bagaimana cara menentukan tekstur tanah menggunakan metode pipet dan mengetahui tanah Pegok termasuk kedalam kelas tekstur apa yang mana.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Berat Volume Tanah Berat volume tanah (Bulk density) merupakan perbandingan berat tanah dengan volume total tanah. Berat volume tanah salah satu sifat tanah yang mempengaruhi sifat porositas tanah, pergerakan air, peredaran udara dan pergerakan akar tanaman. Besar kecilnya nilai berat volume tanah dipengaruhi oleh berat jenis partikel, susunan partikel dan bahan organik. Pada umumnya berat volume tanah untuk tanah pertanian berkisar antara 1,1 1,6 g/cm3.

Gambar (a) Elemen tanah di alam, (b) Tiga fase penyusun tanah.

Pada gambar diatas ditunjukkan suatu elemen tanah yang dinyatakan dalam volume, V, dan berat, W, sebagaimana yang terdapat dalam keadaan di alam. Untuk mengembangkan hubungan berat volume, elemen tanah tersebut dapat dibagi dalam tiga fase (yaitu tanah padat, air dan udara) sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.1b. Dengan demikian volume total tanah dapat dinyatakan sebagai berikut : V =V +V =V +V +V (2.1) Dimana, Vs = Volume tanah padat, Vv = Volume pori, Vw = Volume air yang mengisi pori, Va = Volume udara pada pori. Dengan mengabaikan berat udara maka berat total tanah adalah : W =W +W (2.2) dimana, Ws = berat butiran tanah, Ww = berat air. Hubungan volume biasanya digunakan untuk menyatakan ketiga fase elemen tanah, yaitu angka pori (void ratio), porositas (porosity) dan derajat kejenuhan (degree of saturation). Angka pori (e) didefinisikan sebagai perbandingan volume pori dengan volume butiran tanah, dengan demikian

2.2. Berat Jenis Partikel (p) Berat jenis partikel adalah perbandingan antara berat kering tanah dengan volume tanah (tidak termasuk pori yang terdapat diantara partikel), yang dinyatakan dalam gram/cm3. Berat jenis tanah-tanah mineral umumnya berkisar antara 2,60 2,70 g/cm3 , sedangkan berat jenis partikel bahan organik tanah, berkisar antara 1,30 1,50 g/cm3.

Penetapan berat jenis pertikel dipergunakan dalam pergerakan pertikel tanah dalam air, laju pengendapan dan perhitungan porositas tanah. 2.3. Permeabilitas Tanah Permeabilitas adalah tanah yang dapat menunjukkan kemampuan tanah meloloskan air. Tanah dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian. Pada ilmu tanah, permeabilitas didefenisikan secara kualitatif sebagai pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat. Selain itu permeabilitas juga merupakan pengukuran hantaran hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap mempunyai kecepatan yang sama. 2.4. Tekstur Tanah Tekstur tanah merupakan satu sifat fisik tanah yang secara praktis dapat dipakai sebagai alat evaluasi atau jugging ( pertimbangan ) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tekstur tanah menunjukkan perbandingan relatif antara Pasir ( sand ) berukuran 2 mm 50 mikron, debu ( silt ) berukuran 50 2 mikron dan liat ( clay ) berukuran < 2 mikron. Klasifikasi tekstur ini berdasarkan jumlah partikel yang berukuran < 2 mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm dengan jumlah yang nyata, maka penambahan / penyisipan kata kata berkerikil atau berbatu ditambahkan pada nama kelas tekstur tadi. Sebagai contoh lempung berbatu. Untuk keperluan pemilihan ada 12 kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu kemudian disederhanakan menjadi 7 kelas yang terdiri dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus. Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat sifat kimia, fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas yaitu tanah bertekstur kasar dan tanah bertekstur halus. Tanah bertekstur halus ( dominant liat ) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar ( dominan pasir ). Sehingga tanah tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur unsur hara yang lebih besar. Dan umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air ( water retension ). Tanah tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air.

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Penetapan Berat Volume Tanah a. Bahan dan Alat Ring sampel Pisau lapang Karet gelang Kertas label Timbangan Oven

b. Cara Kerja Timbang ring sampel dalam keadaan kosong, misal beratnya Y gram Letakkan tabung tersebut dengan kondisi tegak berdiri pada permukaan tanah yang akan diukur berat volume tanahnya. Tekan tabung tadi secara perlahan-laha sehingga semua bagian tabung masuk kedalam tanah Angkat tabung beserta tanahnya, kemudian bersihkan kotoran yang masih menempel pada sisi tabung bagian luar, ratakan permukaan tanah dan permukaan kedua ujung ring dengan menggunakan pisau lapang kemudian tutup kedua ujung ring sampel dengan penutupnya. Ring tersebut dibawa ke laboratorium, kemudian keringkan dalam oven dengan temperatur 1050 C, sampai beratnya konstan. Timbang ring beserta isinya, misalnya berat X gram Keluarkan tanah dalam ring dan hitung berat kering tanah dengan jalan mengurangi X dengan Y, misalnya beratnya Z gram. Hitung volume tanah atau sama dengan volume tanah, misal volumenya A cm3 Hitung berat volume tanah dengan rumus : 3 Berat volume tanah (b) =

3.2. Penetapan Berat Jenis Partikel (p) a. Bahan dan Alat Piknometer/erlemeyer Air bebas ion Neraca Kompor Botol semprot Timbangan b. Cara Kerja - Tentukan kadar air kering udara yang akan dipergunakan atau digunakan tanah kering mutlak - Timbang piknometer/labu erlemeyer

Timbang 50 gram tanah kering mutlak, kemudian dimasukkan kedalam piknometer/labu erlemeyer 100 ml Isikan piknometer dengan air bebas ion/aquadest sambil membilas tanah yang menempel dileher piknometer sampai terisi penuh Didihkan piknometer secara perlahan-lahan beberapa menit, sesekali labu digoyangkan hati-hati untuk mencegah hilangnya tanah secara bersama buih. Dinginkan piknometer beserta isinya sampai mencapai suhu ruangan, kemudian tambahkan aquadest dingin yang telah didihkan sebelumnya sampai batas volume, tutup dan bersihkan bagian luar piknometer dengan lap kering. Piknometer serta isinya ditimbang, misalnya beratnya Z gram. Z = berat tanah + berat labu + berat air Berat air = Z berat labu berat tanah (X) Berat jenis = 1, maka berat air sama dengan volume air Hitung volume tanah dengan jalan mengurangi volume piknometer dengan volume air (A) Hitung berat jenis partikel dengan rumus : Berat jenis partikel (p) = g/cm3

3.3. Penetapan Permeabilitas Tanah a. Bahan dan Alat Ring sampel Alat penetapan permeabilitas Stopwatch Air bebas ion b. Cara Kerja - Contoh tanah diambil dari lapang dengan tabung silinder - Contoh tanah dengan tabungnya direndam dalam bak air setinggi 3 cm dari dasar bak selama 24 jam. Maksud perendaman adalah untuk mengeluarkan udara yang ada dalam pori-pori tanah sehingga tanah menjadi jenuh. - Setelah perendaman selesai, contoh tanah disambung dengan satu tabung silinder lagi. - Tabung kemudian dipindah ke alat penetapan permeabilitas. - Lakukan pengukuran volume air yang mengalir melalui alat penetapan permeabilitas tanah tersebut dalam waktu tertentu. - Lakukan pengukuran volume air tersebut sebanyak 5 kali, kemudian hasilnya dirataratakan - Hitung permeabilitas dengan rumus : K= Dimana : K = permeabilitas tanah (cm/jam) Q = banyak air yang mengalir setiap pengukuran (ml) T = waktu pengukuran (jam) L = tebal contoh tanah (cm) h = tinggi permukaan air dari permukaan contoh (cm) A = luas permukaan contoh tanah (cm3)

Klasifikasi permeabilitas tanah menurut Uhland dan Oneal (1951) adalah sebagai berikut: Kelas Permeabilitas (cm/jam) Sangat lambat < 0,125 Lambat 0,125 0,50 Agak lambat 0,50 2,00 Sedang 2,00 6,25 Agak cepat 6,25 12,50 Cepat 12,50 25,00 Sangat cepat >25,00 3.4. Penetapan Tekstur Tanah Dengan Cara Pipet Penetapan Tekstur dengan Cara Pipet : Cara kerja : - Timbang tana 20 gram kering udara dan dimasukkan dalam erlemeyer 500 ml - Tambahkan 15 ml air dan 15 m H2O2 30 % dan kocok memutar menggunakan tangan. - Biarkan semalam, apabila buih banyak tempatkan dalam bak air dan tambahkan alkohol. - Tempatkan diatas hot plate atau pemanas dengan suhu rendah dan tambahkan dengan H2O2 30% sedikit demi sedikit sampai tidak timbul buih. - Bila tanah mengandung CaCO3 bebas, tambahkan 45 ml HCL 0,4 N didihkan 60 menit, biarkan mengendap dan lakukan dekantasi. - Tambahkan air sampai menjadi 300 ml, kemudian ditempatkan diatas hot plate dengan menaikkan suhu perlahan-lahan dan didihkan selama 1 jam (untuk menghilangkan sisa H2O2 30 %) setelah itu dinginkan. - Setelah dingin tambahkan 25 ml larutan NaP2O7 5% dan biarkan semalam. - Hari berikutnya dikocok dengan pengocok (mixer) selama 5 menit, lalu pasirnya dipisahkan dengan ayakan 0,053 mm. Pasir di oven dengan suhu 1050 sampai konstan. - Fitratnya untuk penentuan debu dan liat. - Fitrat hasil saringan tadi dimasukkan ke dalam tabung 1000 ml dan tempatkan diatas meja kocok sampai semua larutannya mengendap, dan langsung dipipet sebanyak 20 ml catat suhunya. - Hasil pemipetan dipindahkan ke tin timbangan (sebelumnya tin ditimbang dulu). Keringkan dalam oven selama semalam dengan suhu 1050 C. Ini menunjukkan fraksi 50 = berat B - Diamkan jangan sampai kena getaran (suhu no. 1 menentukan waktu pemipetan yang kedua) - Setelah waktu pemipetan kedua, pipet lagi sebanyak 20 ml, masukkan kedalam tin. Keringkan dalam oven semalam lalu timbang. Berat ini menunjukkan beratt fraksi yang berukuran lebih kecil dari 50 = berat C. - Suhu pemipetan kedua dicatat, untuk menentukan waktu pemipetan ketiga. - Selama tepat waktunya, pipet lagi sebanyak 20 ml. Masukkan dalam tin dan keringkan dalam oven selama semalam. Berat fraksi ini menunjukkan fraksi yang lebih kecil dari 2 = berat D

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penetapan Berat Volume Tanah Sebelum menghitung berat volume tanah, maka kita harus mengetahui kadar air kering udara, berat volume dan volume ring sampel terlebih dahulu. Proses penghitungannya adalah sebagai berikut : Diketahui : berat tin = 8,853 gr, berat tin dan tanah = 19,913 gr, berat tanah basah = 11,06 gr, dan berat tanah kering = 10,46 gr. Kadar air kering udara = = 5,736 % Berat Volume Diketahui : berat tanah + ring = 176,15 g, berat ring = 74,86 g, berat tanah = 101,29 g Volume ring = .r2.t = 3,14. (2,5 cm)2. 5cm = 98.125 cm3 Berat volume tanah = = = 1,032 g/cm3 =

4.2. Penetapan Berat Jenis Partikel Untuk menetapkan berat jenis partikel maka sebelumnya harus menghitung berat tanah terkoreksi, berat air, volume air, volume tanah dan selanjutnya menghitung berat jenis partikel. Penghitungan ini dilakukan karena komponen satu dengan yang lainnya saling berhubungan satu sama lain. Diketahui : Berat jenis air Berat pignometer + air + tanah Berat pignometer Berat pignometer + tanah Kadar air kering udara Volume pignometer Berat tanah kering terkoreksi = = = 52,002 gr

= 0,997 g = 177,82 g = 50,665 g = 105,65 g = 5,736% = 100 ml

11

Berat air = (berat pignometer + air + tanah) berat pignometer berat tanah terkoreksi = 177,82 g 50,665 g 52,002 g = 75,153 g Volume air = = = 75,378 g Volume tanah = volume pignometer volume terkoreksi = 100 ml 75,378 g = 24,622 cm3

Berat jenis partikel = = = 2,112 g/cm3 Jadi berat jenis partikelnya adalah 2,112 g/cm3

4.3. Permeabilitas Tanah Permeabilitas tanah dihiyung dengan rumus : K = Keterangan : K = permeabilitas (cm/jam) Q = banyaknya air yang mengalir (ml) t = waktu pengukuran (jam) L = tebal contoh tanah (cm) H = tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) A = luas permukaan contoh tanah (cm3) Diketahui : t1 = 5 menit t2 = 5 menit t3 = 5 menit H = 5 cm r = 2,5 cm Perhitungan : t tot = = = 0,083 jam Q tot = = = 8,33 ml
12

Q1 = 10 ml Q2 = 7 ml Q3 = 8 ml L = 5 cm

= r2 = 3,14.(2,5 cm)2 = 19,62 cm2

K= = = = 5,116 cm/jam Jadi permeabilitas tanahnya 5,116 cm/jam 4.4. Penetapan Tekstur Tanah Menggunakan Cara Pipet Sebelum lebih lanjut menghitung persentase masing-masing pasir debu dan liat serta langsung menyocokkannya dengan segitiga tekstur tanah, maka kita sebelumnya harus mengitung berat dari masing-masing partikel tersebut. Diketahui : Pasir = 53,221 g petridis pasir = 47,34 g Liat = 50,762 g petridis liat = 50,620 g Debu liat = 48,904 g petridis debu dan liat = 48,593 g Perhitungan : a. Berat Pasir = 53,221 g 47,34 g = 5,881 g b. Berat liat = 50,762 g - 50,620 g x 50 0,75 = 0,142 g x 50 0,75 = 6,35 g c. Berat debu, liat = 48,904 g 48,593 g x 50 0,75 = 0,311 g x 50 0,75 = 14,8 g = 14,8 g - 6,35 g = 8,48 g

d. Berat debu

e. Berat sampel = 5,881 g + 6,35 g + 8,48 g = 20,681 g Perhitungan persentase : % Pasir = = 28,43 % % liat = = 30,70 %

13

% debu

= = 40,86 %

Dari hasil perhitungan persentase masing-masing partikel, kemudian di cocokkan dengan segitiga kelas tekstur tanah sehingga di temukan kelas tekstur tanah yang diinginkan.

Jadi persentase masing-masing partikel adalah : Pasir = 28,43 %, liat = 30,70 %, dan debu = 40,86 %. Hasil tersebut kemudian di cocokan pada segitiga kelas tekstur dan diperoleh kesimpulan tanah Bangli termasuk kedalam kelas tekstur Lempung berliat.

14

BAB V KESIMPULAN Dari hasil praktikum yaang dilaksanakan dapat disimpulkan Berat Volume Tanah Bangli adalah 1,032 g/cm3 , Berat Jenis Partikel adalah 2,112 g/cm3, Permeabilitas Tanah adalah 5,116 cm/jam dan penetapan Tekstur Tanah Menggunakan Cara Pipet memperoleh persentase masing-masing partikel adalah : Pasir = 28,43 %, liat = 30,70 %, dan debu = 40,86 % hasil tersebut kemudian di cocokan di segitiga kelas tekstur dan diperoleh kesimpulan tanah Bangli termasuk kedalam kelas tekstur Lempung berliat.

15

DAFTAR PUSTAKA http://sarahauliafadhilah.blogspot.com/2012_06_01_archive.html Desember pukul 09.34 Wita) (diakses tanggal 21

http://yogafp.blogspot.com/2010/05/laporan-pengukuran-berat-isi-dan-berat.html tanggal 21 Desember pukul 10.20 Wita) https://docs.google.com:muntohar.files.wordpress.com/2008/09/bab2limited.pdf+berat+volume+tanah (diakses tanggal 21 Desember pukul 10.35 Wita) http://nabilussalam.wordpress.com/2011/04/07/permeabilitas-tanah/ Desember pukul 10.53 Wita) (diakses

(diakses

tanggal

21

http://llmu-tanah.blogspot.com/2011/12/tekstur-tanah.html (diakses tanggal 21 Desember pukul 11.04 Wita)

16