Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN PERCOBAAN III KLORIDA

DOSEN PEMBIMBING : DR. CHAIRUL IRAWAN

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2 YOGI TRISNO PUTRA M. ARMY CHAIRUDDIN ERNI SRI HARTATI M. AZWAR RAMADHANI (H1E110002) (H1E110029) (H1E110052) (H1E110069)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2013

PERCOBAAN III KLORIDA

3.1

PENDAHULUAN Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kandungan klorida

3.1.1

pada suatu perairan.


3.1.2 Latar Belakang

Hampir semua air alami mengandung ion klorida dan ion sulfat. Konsentrasinya bervariasi, tergantung kandungan mineral bumi di berbagai daerah. Dalam jumlah kecil, mereka tidak berpengaruh. Dalam konsentrasi yang tinggi, mereka menyebabkan masalah. Kadar klorida yang tinggi, misalnya pada air laut, yang diikuti oleh kadar magnesium dan kalsium yang tinggi dapat meningkatkan sifat korosivitas air. Maka dari itu, harus dapat diketahui berapa kandungan kadar klorida pada suatu perairabn untuk mencegah terjadinya hal tersebut, seperti yang akan dilakukan pada percobaan ini. Sebagai ion klorida, yang berupa garam biasa dan sebagainya, secara umum banyak dan sangat diperlukan dalam berbagai kehidupan, termasuk manusia. Sebagai gas, klorin berwarna kuning kehijauan, yang beratnya dua setengah kali massanya, baunya sanagat menyesakkan dan sangat beracun. Dalam bentuk cair, dan solid merupakan agen pengoksidaan yang sangat efektif.

3.2

DASAR TEORI Klorida adalah ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu

elektron untuk membentuk suatu anion (ion bermuatan negatif) Cl. Garam dari asam hidroklorida HCl mengandung ion klorida; contohnya adalah garam meja, yang adalah natrium klorida dengan formula kimia NaCl. Dalam air, senyawa ini terpecah menjadi ion Na+ dan Cl (Aditya, 2009). Kata klorida dapat pula merujuk pada senyawa kimia yang satu atau lebih atom klornya memiliki ikatan kovalen dalam molekul. Ini berarti klorida dapat berupa senyawa anorganik maupun organik. Contoh paling sederhana dari suatu klorida anorganik adalah hidrogen klorida (HCl), sedangkan contoh sederhana senyawa organik (suatu organoklorida) adalah klorometana (CH3Cl), atau sering disebut metil klorida (Aditya, 2009). Klorin (bahasa Yunani Chloros, berarti "hijau pucat"), adalah unsur kimia dengan nomor atom 17 dan simbol Cl yang merupakan salah satu unsur halogen. Sebagai ion klorida, yang berupa garam biasa dan sebagainya, secara umum banyak dan sangat diperlukan dalam berbagai kehidupan, termasuk manusia. Sebagai gas, klorin berwarna kuning kehijauan, yang beratnya dua setengah kali massanya, baunya sangat menyesakkan dan sangat beracun. Dalam bentuk cair dan solid merupakan agen pengoksidaan yang sangat efektif (Rahman, 2009). Klorin (Bahasa Yunani , kuning kehijauan) ditemukan pada tahun 1774 oleh ahli kimia Jerman Carl Wilhelm Scheele. Klorin telah diberikan namanya pada tahun 1810 oleh Sir Humphry Davy, yang menegaskan bahwa klorin sebenarnya sejenis unsur. Gas klorin, juga dikenali sebagai bertholite, pertama kali digunakan sebagai senjata nuklir pada Perang Dunia Pertama pada 22 April, 1915 (Rahman, 2009). Penukar ion adalah elektrolit tak larut berion labil yang mudah dipertukarkan dengan ion medium sekitar tanpa mengalami perubahan fisik struktur elektrolitnya sendiri. Elektrolit penukar ion biasanya makromolekul penukarnya dapat berupa kation ataupun anion. Pada penukar ion alami, bahan organiknya rumit, sekalipun ada juga bahan anorganiknya. Sedangkan pada sintetik, struktur resinnya lebih bersahaja. Penukar ion berlebihan muatan ion

labilnya (ion lawan) disebut kation pada penukar kation dan anion pada anion. Jadi jelas, penukar kation terdiri atas anion polimer/makromolekul dengan muatan negatif dan kation labil, begitu sebaliknya. Sebutan penukar ion belum lama digunakan produk anorganik mula mula yang dipakai untuk menghilangkan kebasaan disebut permutit, tetapi banyak orang menyamakannya dengan penukar ion yang kita kenal sekarang. Lalu bahan organik yang dibuat dinamakan penukar basa, tetapi telah dibedakan antara yang penukar anion dan kation. (Dorfner, 1995). Hampir semua air alami mengandung ion klorida dan ion sulfat. Konsentrasinya bervariasi, tergantung kandungan mineral bumi di berbagai daerah. Dalam jumlah kecil, mereka tidak berpengaruh. Dalam konsentrasi tinggi, mereka menyebabkan masalah. Biasanya konsentrasi klorida rendah. Sulfat dapat lebih bermasalah karena sulfat ada dalam konsentrasi yang lebih besar. Kadar rendah atau menengah dari kedua senyawa ion tersebut menambah rasa segar pada air. Pada kenyataannya, mereka dibutuhkan karena alasan ini. Jumlah konsentrasi yang berlebihan dari keduanya tentu akan membuat air jadi tidak enak diminum. Aturan EPA tentang air minum merekomendasikan konsentrasi ion klorida maksimum sebesar 250 mg/l dan ion sulfat maksimum 250 mg/l (sebagai Cl - dan SO4-, bukan sebagai CaCO3). Air yang mengandung ion kalsium sulfat memiliki rasa yang berkarakter, rasanya seperti pahit. Pada kenyataannya, telah dibandingkan rasa air dengan gypsum terlarut didalamnya. Saat 30 40 grain/gallon dari kalsium sulfat larut dalam air, kebanyakan orang dapat merasakannya. Jika jumlah magnesium sulfat atau natrium sulfat seimbang dalam air, tidak akan terasa. Keduanya memiliki efek pencahar jika kadar konsentrasinya lebih dari 30 grain. Dengan begitu, air tersebut bisa menjadi masalah, khususnya untuk orang-orang yang tidak terbiasa dengan air seperti itu (Sutysio, 2009). Sebagai tambahan dari sifat pencaharnya dan rasa yang mirip obat, air sulfat juga memiliki tingkat padatan tinggi, jumlah garam natrium dan keasaman yang besar. Ini bisa menjadi masalah dalam mengolah air. Klorida menjadikan air terasa asin. Dalam kadar konsentrasi apapun, ini menjadi terasa dan tergantung dari individu masing-masing. Dalam konsentrasi tinggi, klorida menyebabkan air menjadi payau, rasa asin yang sama sekali tidak diinginkan. Walaupun klorida

sangat larut, klorida memiliki stabilitas. Stabilitas ini memungkinkan mereka bertahan dari perubahan dan tetap konstan dalam air apapun, kecuali air yang dicemari oleh industri dan kotoran manusia. Klorida dan sulfat dapat dihilangkan dari air dengan reverse osmosis. Deionisasi (demineralisasi) atau distilasi juga akan menghilangkan klorida dan sulfat dari dalam air, tetapi metode ini tidak cocok untuk perumahan dibanding reverse osmosis (Sutysio, 2009). Kadar klorida yang tinggi, misalnya pada air laut, yang diikuti oleh kadar magnesium dan kalsium yang juga tinggi dapat meningkatkan sifat korosivitas air. Perairan yang demikian mudah mengakibatkan terjadinya perkaratan peralatan yang terbuat dari logam. Klorida tidak bersifat toksik bagi makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Perairan yang diperuntukan bagi keperluan domestik, termasuk air minum, pertanian, dan industri, sebaiknya memiliki kadar klorida lebih kecil dari 100 mg/l (Cornwell, 1991). Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air, untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas). Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf, dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber, Priestley, and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. Sejak Revolusi Industri, senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan, meliputi produksi massal senyawa kimia organik seperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah, produksi gelatin, dan aditif makanan. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya (Erwin, 2009). Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+ :

HCl + H2O H3O+ + Cl Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam klorida adalah asam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air. Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam, Ka, yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Untuk asam kuat seperti HCl, nilai Ka cukup besar. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl. Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl, ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Untuk larutan asam klorida yang kuat, asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik, dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna (Erwin, 2009). Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia, asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Oleh karena alasan inilah, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik (Erwin, 2009). Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20,2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif, walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat (Erwin, 2009). Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida, menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa (Anonim4, 2009). Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk

bahan kimia berbahaya. Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu menghancurkan bahan makanan yang masuk ke dalam usus. Dalam skala industri, HCl biasanya diproduksi dengan konsentrasi 38%. Ketika dikirim ke industri pengguna, HCl dikirim dengan konsentrasi antara 32~34%. Pembatasan konsentrasi HCl ini karena tekanan uapnya yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan ketika penyimpanan (Dayono, 2009). Lalu apa sajakah kegunaan HCl di kehidupan kita sehari-hari? Nah, berikut ini adalah beberapa bidang yang memanfaatkan HCl, baik pada skala industri maupun skala rumah tangga :
1. Asam klorida digunakan pada industri logam untuk menghilangkan

karat atau kerak besi oksida dari besi atau baja.


2. Sebagai bahan baku pembuatan vinyl klorida, yaitu monomer untuk

pembuatan plastik polyvinyl chloride atau PVC.


3. HCl merupakan bahan baku pembuatan besi (III) klorida (FeCl 3) dan

polyalumunium chloride (PAC), yaitu bahan kimia yang digunakan sebagai bahan baku koagulan dan flokulan. Koagulan dan flokulan digunakan pada pengolahan air.
4. Asam klorida dimanfaatkan pula untuk mengatur pH (keasaman) air

limbah cair industri, sebelum dibuang ke badan air penerima.


5. HCl digunakan pula dalam proses regenerasi resin penukar kation

(cation exchange resin).


6. Di laboratorium, asam klorida biasa digunakan untuk titrasi penentuan

kadar basa dalam sebuah larutan.


7. Asam klorida juga berguna sebagai bahan pembuatan cairan

pembersih porselen.
8. HCl digunakan pada proses produksi gelatin dan bahan aditif pada

makanan.
9. Pada skala industri, HCl juga digunakan dalam proses pengolahan

kulit.
10. Campuran asam klorida dan asam nitrat (HNO3) atau biasa disebut

dengan aqua regia, adalah campuran untuk melarutkan emas.

11. Kegunaan-kegunaan lain dari asam klorida diantaranya adalah pada

proses produksi baterai, kembang api dan lampu blitz kamera. (Dayono, 2009). I. ALAT DAN BAHAN
A. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi :


1. 2. 3. 4. 5. B. Bahan

Gelas ukur Pipet tetes. Gelas beker. Buret. Erlenmeyer.

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:


1. 2. 3. 4. 5.

Sampel air sumur cempaka Larutan AgNO3 1/35,34. Larutan NaCl 0,1 N. Larutan K2Cr2O4 10%. Larutan HNO3 pekat.

II.

PROSEDUR KERJA
A. Standarisasi Larutan AgNO3 1. Mengambil 10 ml larutan NaCl 0,1 N. 2. Menambahkan 3 tetes HNO3 pekat. 3. Menambahkan 3 tetes K2Cr2O4 10%. 4. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 sampai terdapat endapan putih dan

mencatat banyaknya larutan AgNO3 yang digunakan.


5. Melakukan dengan sistem duplo. B. Pengukuran Sampel 1. Mengambil 20 ml sampel air. 2. Menambahkan 3 tetes HNO3 pekat. 3. Menambahkan 4 tetes K2Cr2O4 10%.

4. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 sampai larutan berubah warna dan

mencatat banyaknya larutan AgNO3 yang digunakan III. Hasil dan Pembahasan A. Hasil dan Perhitungan 1. Hasil Tabel 1. Standarisasi larutan AgNO3 No 1 Langkah Percobaan Memipet 10 ml larutan standar NaCl 0,1 N, Memasukkan ke dalam labu erlenmayer. 2 Menambahkan 3 tetes HNO3 pekat dan menambahkan 3 tetes 3 K2Cr2O4 10%. Mengisi buret dengan larutan AgNO3. 4 Menitrasi larutan NaCl 0,1 N dengan larutan AgNO3 sampai terdapat endapan putih dan mencatat volume akhir Perubahan warna dari kuning menjadi keruh dan terdapat endapan putih V = 1,5 ml Warna = kuning Hasil

Tabel 2. Pengukuran sampel No 1 Langkah Percobaan Memipet 20 ml sampel air cempaka, Memasukkan ke dalam labu erlenmayer. 2 Menambahkan 3 tetes HNO3 pekat dan menambahkan 4 tetes 3 K2Cr2O4 10%. Mengisi buret dengan larutan AgNO3. 4 Menitrasi dengan larutan AgNO3 Perubahan warna dari Warna = kuning Hasil

sampai berubah warna dan mencatat volume akhir

kuning menjadi bening. V = > 50 ml

2. Perhitungan
Standarisasi Larutan AgNO3 :

Diketahui Ditanya Jawab

: V AgNO3 = 1,5 ml : N AgNO3 = ? : N AgNO3 = 10x0 , 1 1,5


= 0,7 N

Pengukuransampel : a. Faktor ketelitian

Diketahui : V AgNO3 = 1,5 ml Ditanya Jawab : faktor ketelitian = ? : 10 ml AgNO 3 10 1,5

Faktor ketelitian =

=
b. Konsentrasi Klorida

= 6,67

Diketahui : V sampel = 20 ml V AgNO3 = > 50 ml = Faktor ketelitian = 6,67 Ditanya Jawab : Konsentrasi klorida = ? :

Kons. Cl- = 1 x ( ml AgNO 0,3) x ( fak. ketelitian ) x ( x35 , 34 ( 1000 100 ) 35,34 )
3

= 10 x (

- 0,3) x 6,67 x 1

= tidak ada kandungan klorida B. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan pengujian klorida pada suatu peraiaran yaitu menggunakan sampel air sungai cempaka. Dengan memakai metode pengujian Mohr Method atau Argentometric yaitu mentitrasi larutan sampel dengan larutan AgNO3. 1. Standarisasi Larutan AgNO3 Standarisasi AgNO3 dengan NaCl merupakan titrasi yang termasuk dalam presipitimetri jenis argentometri. Reaksi yang terjadi adalah: NaCl(aq) + AgNO3 (aq) AgCl(s) + NaNO3(aq) Pada awalnya larutan AgNO3 dan larutan NaCl merupakan larutan yang jernih dan tak berwarna. Ketika 10 ml larutan standar NaCl 0,1 N ditambahkan 3 tetes HNO3 pekat yang berwarna putih. larutan tetap jernih dan tidak berwarna. Penambahan HNO3 ini dimaksudkan agar pH larutan tidak terlalu asam ataupun basa. Larutan kemudian berubah menjadi warna kuning setelah ditambahkan 3 tetes K 2CrO4 10 % yang merupakan indikator. Seharusnya setelah diberi larutan K2CrO4 10 % larutan ditambahkan lagi dengan serbuk ZnO atau MgO sehingga apabila dititrasi dengan larutan AgNO3 maka akan terdapat endapan merah pada saat titik akhir titrasi. Tapi pada saat percobaan ini, penambahan serbuk ZnO atau MgO tidak dilakukan sehingga pada saat larutan dititrasi dengan larutan standar AgNO3 1/35,45 N larutan pada titik akhir titrasi menjadi keruh. Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran, sehingga larutan menjadi berubah warna. Reaksi menjadi : 2AgNO3(aq) + K2CrO4 Ag2CrO4(s) + 2KNO3(aq)

Volume akhir sebanyak 1,5 ml. 2. Pengukuran Sampel Pada tahapan percobaan pengukuran sampel, sampel yang dipakai yaitu air sampel yang berasal dari sungai di wilayah cempaka. Dalam pengujian konsentrasi klorida pada sampel air ini, penambahan serbuk ZnO dan MgO juga tidak dilakukan. Sehingga titrasi dilakukan sampai warna sampel berubah menjadi keruh. Larutan berubah menjadi berwarna kuning dan kemudian dititrasi dengan AgNO3 sehingga terjadi perubahan warna, tetapi perlu diperhatikan di dalam percobaaan ini belum terjadi perubahan warna menjadi bening karena volume akhir titrasi yang sudah mencapai angka 50 ml, tetapi tidak mengalami perubahan maka dari itu proses titrasi dihentikan. Berdasarkan hal tersebut dapat dipastikan volume akhir titrasi nilainya > 50 ml dan setelah dilakukan perhitungan didapatkan hasil bahwa air sungai cempaka tidak mengandung klorida, kemungkinan mengandung unsur tersebut memang ada tetapi dapat dipastikan hanya dalam kadar yang sedikit. Konsentrasi klorida pada air sungai cempaka ini berada di bawah ambang batas menandakan bahwa air sungai cempaka masih layak untuk dipakai kegiatan rumah tangga sehari-hari (memasak, minum, mandi, dll).

IV.

KESIMPULAN Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan:


1) Klorida adalah ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu

elektron untuk membentuk suatu anion (ion bermuatan negatif) Cl. klorida dapat pula merujuk pada senyawa kimia yang satu atau lebih atom klornya memiliki ikatan kovalen dalam molekul.
2) Standarisasi larutan AgNO3 mendapatkan volume akhir 1,5 ml setelah

terdapatnya endapan putih.


3) Air sungai cempaka yang dititrasi dengan AgNO 3 didapatkan volume

titrasi sebesar >50 ml.

4) Setelah dilakukannya perhitungan dan analisis melalui pembahasan dapat

dipastikan air sungai cempaka tidak mengandung klorida dan apabila memang ada terkandung klorida di dalamnya pun pasti dalam kadar yang sedikit. Sehingga dapat dikatakan air sungai cempaka masih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat untuk kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya. 2009. Klorida. http://aimyaya.com/id. Diakses tanggal 26 November 2010. Cornwell, D.A. and Davis, M.L. 1991. Introduction to Environmental Engineering.2nd edition. Mc-Graw-Hill.Inc. New York. Dayono. 2009. Direktori Artikel Aneka Ilmu Pengetahuan: Mengenal Kegunaan Larutan Asam Klorida (HCl). http://anekailmu.blogspot.com/2009/06/mengenal kegunaan larutan asam klorida.html.

Diakses tanggal 26 November 2010. Erwin. 2009. Asam Klorida. http://erwinharyanto.blogspot /Asam_klorida. Diakses tanggal 26 November 2010. Dorfner, Koniad dan Hartono, Anton. J. 1995. IPTEK Penukar Ion. Andi Offset. Yogyakarta. Rahman. 2009. Klorin. http://rahmanjaya.wordpress.com/klorin. Diakses tanggal 26 November 2010. Sutysio. 2009. Reverse Osmosis. Indonesia | AIR | Puretrex /klorida_sulfat.html. Diakses tanggal 26 November 2010.

LAMPIRAN Pertanyaan dan jawaban 1. Jelaskan mengapa klorin yang melebihi baku mutu berbahaya bagi kesehatan? Jawaban: Klorin, khlorin atau chlorine merupakan bahan utama yang digunakan dalam proses khlorinasi. Sudah umum pula bahwa khlorinasi adalah proses utama dalam proses penghilangan kuman penyakit air ledeng, air bersih atau air minum yang digunakan oleh masyarakat. Proses khlorinasi sangat efektif untuk menghilangkan kuman penyakit terutama dalam penggunaan air ledeng. Tetapi

dibalik kefektifannya klorin juga dapat berbahaya bagi kesehatan. Orang yang meminum air yang mengandung klorin memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker kandung kemih, dubur ataupun usus besar. Sedangkan bagi wanita hamil dapat menyebabkan melahirkan bayi cacat dengan kelainan otak atau urat saraf tulang belakang, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur atau bahkan dapat mengalami keguguran kandungan. Selain itu pada hasil studi efek klorin pada binatang ditemukan pula kemungkinan kerusakan ginjal dan hati(http://aimyaya.com/id). 2. Jelaskan apa alas an klorin banyak digunakan sebagai disinfektan? Jawaban : 1. Mudah dikemas, dapat dikemas dalam bentuk gas, larutan, dan bubuk. 2. Relatif mudah. 3. Memiliki daya larut tinggi serta dapaat larut pada kadar yang tinggi (7.000mg/liter). 4. Residu klorin dalam bentuk larutan tidak berbahaya bagi manusia, jika terdapat dalam kadar yang tidak berlebihan. 5. Bersifat sangat toksik bagi mikroorganisme, dengan cara menghambat aktivitas metabolisme mikroorganisme tersebut.