Anda di halaman 1dari 2

Penanganan Dehidrasi 1.

Dehirasi Isotonik

Bila kalium telah dikoreksi dan kembali ke dalam sel, natrium akan keluar danmasuk ke ruang ekstraseluler. Oleh karena masuknya natrium ke ruangekstraseluler yang berlebihan maka tidak dipenukan koreksi natrium ekstraselulerpada terapi ini fase kedua, dan secara umum hanya diberikan dua per tiga dariperkiraan defisin natrium dan air dalam 24 jam pertama.

Air dan natrium yang diberikan pada fase pertama dihitung dari sisa kebutuhandalam 24 jam pertama.

Jumlah total koreksi cairan yang diberikan dalam 24 jam pertama dihitung darikehilangan cairan yang masih berlangsung dan kebutuhan normal pasienditambah dengan defisitnya.2. Dehidrasi Hipotonik

Prinsip penanganan merip dengan dehidrasi isotonic, kecuali terapi yang dibuatuntuk mengganti kehilangan natrium tambahan, melebihi pemberian natrium padaterapi dehidrasi normanahemi.

Deficit ekstranatrium (mmol) = (135 perkiraan kadar natrium plasma(mmol/L)dikali BB (kg) dikali 0,6 lalu ditambahkan pada dehidrasi isotonik).

Bila natrium akan diberikan dalam bentuk (garam kering), missal garamhipotonik, dehidrasinya agar berubah dari hiponatremik menjadi isonatremik.Dalam praktek ini tidak dianjurkan meningkatkan natrium secara mendadak, dantambahan natrium dapat ditambahkan ke dalam cairan infus dalam beberapa hari(kecuali pasien mengalami hiponatremik, yang jarang terjadi bila kadarnya > 20mmol/L )3. Dehidrasi Hipertonik

Secara sirkulasi diperbaiki, penurunan konsentrasi natrium plasma danosmolalitas yang terlalu cepat, dapat menyebabkan air bergeser ke sel otak, yangsering kali menimbulkan kejang. Penurunan natrium plasma tidak boleh lebih dari10 mmol/L/24 jam.

Berikan dua per tiga kebutuhan cairan rumatan dan setengah dari cairan penggantidengan larutan dekirasa 5% natrium 0,45% tambahkan setiap ada kehilangancairan yang abnormal.

Atasi kejang dengan pemberian manitra intravena selama dehidrasi dapat terjadihypokalemia dan koreksi jenaan pemberian kalsium glukonar intravena