Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

ACARA IV IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA

Oleh: Nama NIM Rombongan : Febrina Safaati : A1L010189 : C2

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Tanaman secara umum dibagi menjadi dua, yaitu tanaman yang menguntungkan dan tanaman yang merugikan. Tanaman yang menguntungkan biasanya merupakan tanaman yang sengaja ditanam dan dibudidayakan oleh manusia karena mempunyai nilai ekonomis. Sedangkan tanaman yang merugikan adalah tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya atau dalam bahasa pertanian sering disebut dengan gulma (weed) (Filter, 1981). Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi melalui kompetisi. Terdapat beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti rumput-rumputan, teki dan alang-alang. Gulma yang tumbuh biasanya yang dapat berassosiasi dengan tanaman budidaya. Gulma yang tumbuh bersama tanaman akan menjadi pesaingan bagi tanaman dalam memperoleh kebutuhan hidup. Persaingan akan terjadi bila salah satu bahan yang berlebihan berkurang. Akibat persaingan gulma ini akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman budidaya (Sukman, 1991). Gulma, merupakan tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dengan ekosistem yang dikembangkan oleh manusia dalam membudidayakan tanaman pada suau lahan. Hingga saat ini batasan gulma masih bersifatkonroversi, tergantung kepada konsepsi dan ruang kajiannya. Dalam ekosistem termasuk ekosistem pertanian, setiap spesies mampu berkembang biak dengan cepat dan bersaing untuk mendapatkan dan memanfaatkan unsure hara, air, ruang, CO2, dan cahaya yang seharusnya di manfaatkan untuk tanaman yang kita budidayakan, baik itu dilahan kering maupun di lahan basah. Akibat sangat berpengaruh bagi tanaman budidaya kita antara lain penurunan hasil panen, dapat sebagai tempat inang bagi organisme pengganggu tanaman, baik itu hama maupun penyakit, menyulitkan dalam pemeliharaan tanaman dan saat pemanenan, serta menambah biaya produksi,

yang mengakibatkan penurunan keuntungan. Karenanya pengenalan spesies gulma dan sifat-sifatnya diperlukan dalam usaha mengendalikan populasi gulma dalam lahan budidaya tanaman (Badrus, 2003;Tjitrosoedarmo, 1984). B. Tujuan 1. Mengetahui spesies gulma yang tumbuh mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya yang tumbuh di lahan pertanian, baik di lahan basah maupun lahan kering. 2. Mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan: 1. 2. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya. Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang (Moenandir, 1988). Menurut Natawigena (1993), beberapa diantara kerugian-kerugian yang disebabkan oleh gulma, antara lain: 1. 2. Menurunkan hasil (akibat persaingan dalam mendapatkan air, unsure hara, udara, ruang, cahaya matahari, dan sebagainya). Menurunkan kualitas hasil. Beberapa bagian dari gulma yang ikut terpanen akan memberikan pengaruh negatif terhadap hasil panenan.

Identifikasi sangat penting terutama dalam memahami tanda-tanda karakteristik seperti yang berkenaan dengan morfologi (terutama morfologi luar) gulma. Dengan memahami karakteristik tersebut, dalam melakukan upaya Disamping itu juga kita harus pengendalian gulma akan lebih mudah.

memperhatikan faktor-faktor lain, seperti misalnya iklim, jenis tanah, biaya yang diperlukan, dan pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkannya (Moenandir, 1990). Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Pada klasifikasi bisa sistem buatan pengelompokan tumbuhan yang tumbuhanhanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja,sehingga kemungkinan terjadi beberapa mempunyaihubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dansebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaanmungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demikian inilah yangmerupakan kelemahan utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasisistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifatmorfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasisistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yangmempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompokyang sama (Sastro Utomo, 1990).

III. A. Bahan dan Alat 1. Bahan

METODE

Bahan sekaligus media yang digunakan dalam praktikum ini ada dua macam yaitu lahan sawah dan lahan kering. 2. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya yaitu: a. Alat sguare method ukuran 50 cm x 50 cm b. Buku deskripsi gulma atau herbarium c. Cangkul d. Kantong plastic e. Alat tulis f. Kertas Koran g. Lem atau Label h. Oven i. Timbagan Elektrik B. Prosedur Kerja 1. Identifikasi Vegetasi Gulma a. Dibuat petak contoh dengan ukuran 50 cm x 50 cm dengan square method pada lahan kering b. Gulma yang tumbuh pada petak tersebut diambil atau dicabut c. Diidentifikasi jenis gulma yang ada dengan menggunakan buku deskripsi gulma berdasarkan ciri morfologinya, dan tulislah nama species, morfologi dan perkembangbiakannya, daur hidupnya serta tempat tumbuhnya d. Jenis gulma dipisahkan berdasarkan golongan, yaitu rumput, teki tekian, dan daun lebar

2. Analisis Vegetasi Gulma a. Dibuat petak contoh dengan ukuran 50 cm x 50 cm dengan square method pada lahan kering sebanyak lima petak contoh pada masing-masing jenis lahan b. Semua gulma yang tumbuh pada petak contoh tersebut diambil atau dicabut c. Dihitung jumlah masing-masing gulma yang ada, kemudian dimasukan dalam kantong kertas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 700 C sampai kering konstan d. Diovenan selama dua hari e. Masing-masing jenis gulma yang telah dikeringkan ditimbang. f. Dihitung kerapatan, frekuensi, dan dominansi masing-masing jenis gulma. g. Dihitung nilai jumlah dominasi masing-masing jenis gulma. h. Ditentukan jenis gulma yang dominan.

IV. A. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data Analisis Gulma Sebelum Pengendalian Petak No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Gulma Digitaria ciliaris Cyperus brevifolius Alternanthera sp Ageratum conyzoides Eupotorium aderatum Euphorbia hirta Eleusin indica (L) Axonopus compressus Cyperus rotundus Fimbristylis ovata Jumlah Contoh I II III 0 0 5 0 4 2 0 0 0 9 16 0 0 0 4 0 8 22 1 2 0 37 48 7 10 2 0 0 28 0 0 0 95 Jumlah Frekuensi (K) 48 7 15 6 4 10 50 1 2 9 152 (F) 1/3 1/3 2/3 2/3 1/3 2/3 2/3 1/3 1/3 1/3 14/3 Bobot Kering (D) gram 12,1 1,5 2,9 1,1 1,3 2,4 12,3 1,4 1 1,25 37,25 KR FR DR SDR (%) 23,8 5,3 10,6 7,0 4,4 9,1 26,7 3,9 3,7 5,4 99,9

(%) (%) (%) 31, 32, 7,1 6 7 4,6 7,1 4,0 14, 9,8 7,7 3 14, 3,9 2,9 3 2,6 6,6 32, 9 0,7 1,3 5,9 99, 9 7,1 14, 3 14, 3 7,1 7,1 7,1 99, 9 3,4 6,4 4 33, 0 3,8 2,7 3,3 99, 9

Data Analisis Gulma Setelah Pengendalian Petak No. 1 2 3 4 5 Nama Gulma Cyperus rotundus Leptochloa chinensis (L) Ludwiga peruviana (L) Eleusin indica (L) Lindernia antipoda Contoh I II 13 5 1 0 0 19 0 0 0 15 0 15 III 0 0 0 4 1 5

Jumlah Frekuensi Bobot Kering KR (K) 13 5 1 19 1 39 (F) 1/3 1/3 1/3 2/3 1/3 6/3 (D) gram 1.6 0,1 0,2 2 0,2 4,1

FR

DR

SDR (%) 29,6 10,6 8 43,5 8 99,7

(%) (%) (%) 33, 16, 39, 3 12, 8 2,5 48, 7 2,5 99, 8 6 16, 6 16, 6 3,3 16, 6 99, 7 0 2,4 4,9 48, 7 4,9 99, 9

Jumlah

B. Pembahasan 1. Identifikasi gulma a. Gulma teki-tekian Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus. b. Gulma rumput-rumputan

Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).

c. Gulma daun lebar Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica). 1. Eleusin indica (L)

Nama umum Indonesia Inggris Jepang Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Rumput belulang, [jampang, carulang (Sunda)], [suket lulangan, suket welulang (Jawa)] : Goose grass, bullgrass, crabgrass : Ohishiba

Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Poales : Poaceae (suku rumput-rumputan) : Eleusine : Eleusine indica (L.) Gaertn

Rumput ini punya ciri: 1. Tumbuh liar, biasanya di lapangan atau pinggir jalan 2. Akarnya sangat kuat 3. Tinggi mencapai 80cm 4. Daun berbentuk pita dan berseling 5. Bunga berbentuk seperti payung, berwarna hijau muda atau putih kehijauhan Arti penting dan ciri morfologi: Rumput ini bermanfaat karena punya kandungan kimia yaitu mengandung saponin, tanin, polifenol, protein dan lemak. Rumput berumur pendek, kerapkali berumpun kuat, kadang-kadang pada buku yang bawah keluar akar: batang kerapkali berbentuk cekungan yang terbentang; tinggi 0,1-1,9 m. Batang menempel pipih sekali, bergaris, kerap bercabang. Daun dalam dua baris. Pelepah daun menempel kuat bertulas. Lidah seperti selaput, pendek. Helaian bentuk garis dengan tepi kasar pada ujung, pada pangkalnya ada rambut panjang, 12-40 x 0,41-1 cm. Bulir terkumpul 2-12, satu sisi. Poros bulir bersayap dan berlunas, panjang 2,5-17 cm. Anak bulir berdiri sendiri, berseling kiri kanan lunas, duduk, rapat menutup secara genting, menempel rapat, panjang 4-7 mm. Sekam terekat rapat berlunas, dua yang terbawah tetap tinggal lama. Benang sari 3; kepala sari pendek. Tangkai putik 2; kepala putik sempit, ungu. Di tempat cerah matahari, kerapkali di tanah keras karena terinjak; 1-2000 m.

2. Euphorbia hirta

Klasifikasi: Kerajaan Kelas Ordo Genus Spesies : Plantae : Magnoliopsida : Magnoliophyta : Euphorbia : E. hirta

Arti penting dan cirri morfologi: Herba satu tahun, dengan batang tegak atau naik sedikit demi sedikit, tinggi 0,1-0,6 m. Batang terutama berambut pada ujungnya. Daun berbaris 2 memanjang, dengan pangkal miring, setidaknya pada ujung bergerigi, sisi bawah berambut jarang, panjangnya 0,5-5 cm, tangkai 2-4 mm. Cyathia dalam payung tambahan yang berbentuk setengah bola, yang sendiri-sendiri atau dua-dua terkumpul menjadi karangan bunga yang bertangkai pendek, duduk di ketiak daun, piala panjang 1 mm, barambut menempel. Buah tinggi 1,5 mm. Berasal dari Amerika tropis, di Jawa umumnya bersifat liar. Hidup pada daerah dengan ketinggian 1-1400 m, daerah padang rumput, halaman, tepi jalan, tanggul, tegalan dan kebun.

2. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan melakukan berbagai perhitungan yang mempunyai tujuan untuk mengetahui suatu dominansi gulma pada suatu lahan. Perhitungan tersebut antara lain: a. Kerapatan yaitu menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiap petak contoh. Kerapatan mutlak (Km) suatu spesies sama dengan jumlah individu spesies itu dalam petak contoh. Kerapatan relatif (Kr) = Kerapatan mutlak spesies itu X 100 % Jumlah Kerapatan mutlak semua spesies b. Frekuensi jenis tumbuhan adalah beberapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat jenis tersebut dan sejumlah petak contoh yang dibuat. Frekuensi mutlak (Fm) suatu spesies sama dengan hasil pembagian jumlah petak contoh berisi spesies itu dengan semua petak contoh yang diambil. Frekuensi relatif (Fr) = Frekuensi mutlak spesies itu X 100 % Jumlah Frekuensi mutlak semua spesies c. Dominansi menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan dalam hal bersaing terhadap jenis lainnya. Dominansi dinyatakan dengan istilah kelindungan (coverage) atau luas basal atau biomassa atau volume. Dominansi mutlak (Dm) suatu spesies sama dengan biomassa atau bobot kering gulma. Dominansii relatif (Dr) = Dominansi mutlak suatu spesies d. Perbandingan nilai penting (SDR) SDR menunjukkan jumlah nilai penting dibagi jumlah besaran SDR, biasanya dipakai karena jumlahnya tidak lebih dari 100 % sehingga mudah diinterpretasi. SDR suatu jenis sama dengan nilai penting dibagi 3. X 100 % Jumlah Dominansi mutlak semua spesies

Pada perhitungan nilai Koefisien Relatif (Kr) untuk gulma pada lahan kering didapatkan dari semua gulma 99,8%. Dengan Kr tertinggi Eleusin indica (L) dengan 48.7 % dan Kr terendah Ludwiga peruviana (L) dan Lindernia antipoda dengan Kr 2.5 %. Pada perhitungan nilai Frekuensi Relatif (Fr) untuk gulma pada lahan kering didapatkan data Frekuensi Relatifnya terendah adalah Eleusin indica (L) sebesar 3.3% sedangkan frekuensi tertinggi yaitu Cyperus rotundus, Leptochloa chinensis (L), Ludwiga peruviana (L), Lindernia antipoda sebesar 16.6 %. Pada lahan basah, Frekuensi Relatif besarnya sama antar semua gulma. Pada perhitungan nilai Dominansi Relatif (Dr) untuk gulma pada lahan kering didapatkan data yaitu Dominansi Relatif yang terbesar adalah Eleusin indica (L) sebesar 48.7 %. Sedangkan yang terkecil yaitu Leptochloa chinensis (L) sebesar 2.4 %. Pada perhitungan nilai SDR untuk gulma pada lahan kering didapatkan data yaitu SDR yang terbesar adalah Eleusin indica (L) sebesar 43.5 % sedangkan yang terkecil yaitu Ludwiga peruviana (L) dan Lindernia antipoda sebesar 8%. Perbandingan dari kedua tabel gulma yang belum menggunakan herbisida dan yang sudah menggunakan herbisida relatif berbeda jumlahnya pada lahan yang sebelum di beri herbisida jumlah gulma lebih banyak di bandingkan sesudah diberi herbisida,karena herbisida sangat baik peranannya untuk membrantas gulma karena perannya untuk mengendalikan gulma pada lahan budidaya dan menekan persaingan tanaman budidaya dengan gulma yang ada di dalam lahan tersebut. Absorpsi herbisida, yang berarti herbisida yang diserap oleh tumbuhan dan masuk dalam tubuhnya secara difusi, osmose, imbibisi, dan lain-lain. Absorpsi herbisida akan serupa dengan absorpsi nutrisi, sehingga perlu diingat adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Translokasi herbisida dalam tubuh tumbuhan terjadi setelah herbisida masuk ke dalamnya (Jody Moenandir, 1990).

Cara aplikasi penting dalam penentuan derajat keberhasilan pengendalian gulma, seperti aplikasi yang mengurangi kontak dengan tanaman budidaya dan memperbanyak kontak dengan gulma, ialah dalam alur setempat, langsung dan lain-lain. Cara terbaik ialah semprotan terarah dengan menggunakan gugusan non selektif dan kontak ke dalam herbisida yang selektif (Jody Moenandir, 1990).

V. A. Simpulan

SIMPULAN DAN SARAN

1. Gulma merupakan tumbuhan yang tidak diharapkan kehadirannya karena dapat mengganggu tanaman yang dibudidayakan dan dapat menurunkan hasil produksi. 2. Jumlah populasi gulma pada suatu lahan sangat mempengaruhi produktivitas tanaman utama yang terdapat pada lahan tersebut jika tidak dikendalikan. B. Saran Dalam melakukan praktikum hendaknya praktikan lebih teliti dalam menentukan identifikasi pada gulma tersebut dan teliti pada saat menimbang dan menghitung KR, FM, FR, DM, DR, SDR.

DAFTAR PUSTAKA Barus, Emanuel, 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius: Yogyakarta. Fitler, A.H. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajahmada Press. Yogyakarta. Moenandir, J. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Press. Jakarta. Moenandir, J. 1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Rajawali Press: Jakarta. Moenandir, Jody. 1990. Fisiologi Herbisida. Rajawali Press. Jakarta. Nata wigena, H. 1995. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Trigenda Karya: Bandung. Sastroutomo, Sutikno. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Sukman, Yernelis. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers: Jakarta. Tjitrosoedarmo, S. 1984. Pengeloaan Gulma di Perkebunan. Gramedia. Jakarta.

BIODATA

Nama NIM Alamat

: Febrina Safaati : A1L010189 : RT 06/II Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes 52273

Tempat, tanggal lahir : Magelang, 29 Februari 1992

No telp E-mail

: 085640422984 : chybycha@yahoo.co.id

Anda mungkin juga menyukai