Anda di halaman 1dari 15

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1.

Kunjungan K-4 2.1.1. Definisi Kunjungan ibu hamil adalah pertemuan (kontak) antara ibu hamil dan

petugas kesehatan yang memberi pelayanan antenatal untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang datang ke fasilitas pelayanan, tetapi dapat juga sebaliknya yaitu ibu hamil yang dikunjungi petugas kesehatan di rumahnya ataupun di posyandu (Depkes RI, 2005). Kunjungan K-4 adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan, dengan distribusi kontak sebagai berikut : minimal 1 kali pada triwulan I, minimal 1 kali pada triwulan II, dan minimal 2 kali pada triwulan III (Depkes RI, 1995).

2.1.2. Cakupan Pelayanan Ibu Hamil (Cakupan K-4) Dengan indikator cakupan pelayanan ibu hamil (K-4) dapat diketahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, disamping menggambarkan

6
Universitas Sumatera Utara

kemampuan manajemen ataupun kelangsungan program KIA (Depkes RI, 1995). Rumusnya adalah sebagai berikut : Jumlah kunjungan ibu hamil keempat (K4) ------------------------------------------------------- x 100% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

2.1.3. Pelaksanaan Pelayanan Antenatal Pelaksanaan pelayanan antenatal hingga ibu hamil mencapai

kunjungan K4 dilakukan sesuai pedoman pemeriksaan antenatal yaitu standar Antenatal Care 7T. untuk memperluas cakupan pelayanan antenatal di masyarakat, kegiatan pemeriksaan dapat diintegrasikan dan

dikoordinasikan dengan kegiatan lain, misalnya : kegiatan puskesmas keliling, kegiatan tim KB keliling, kegiatan perawatan kesehatan

masyarakat, kegiatan posyandu, dan lain-lain. Tempat pemberian pelayanan antenatal dapat bersifat statis (tetap) dan aktif (mobile), yaitu puskesmas, puskesmas pembantu, pondok bersalin desa, posyandu, rumah penduduk, rumah sakit pemerintah / swasta, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, dan tempat praktek swasta (bidan, dokter) (Depkes RI, 2005).

2.2.

Standar ANC 7T Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan

kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan

Universitas Sumatera Utara

antenatal seperti yang ditetapkan dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal bagi Petugas Puskesmas. Walaupun pelayanan antenatal selengkapnya mencakup banyak hal yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium atas indikasi, serta intervensi dasar dan khusus (sesuai risiko yang ada), namun dalam penerapan operasionalnya dikenal standar minimal 7T untuk pelayanan antenatal yang terdiri atas : Timbang berat badan, ukur tinggi badan, (ukur) Tekanan darah, (pemberian imunisasi) Tetanus Toksoid (TT) lengkap, (ukur) Tinggi fundus uteri, (pemberian) Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, Tes Penyakit Menular Seksual (PMS), Tanya jawab

(Pusdiknakes, 2003, Depkes RI, 2005).

2.2.1. Timbang Berat Badan Ibu hamil yang melakukan kunjungan harus ditimbang berat badannya. Penimbangan berat badan dilakukan tanpa sepatu dan memakai pakaian yang seringan-ringannya. Selain menimbang berat badan, tinggi badan ibu hamil juga harus diukur. Pengukuran dilakukan dengan meteran dengan satuan cm, tanpa sepatu. Tinggi yang kurang dari 145 cm, ada kemungkinan dapat mempengaruhi proses persalinan CPD (Cephalo Pelvic disproportion) (Burns, 2000). Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Contoh, wanita dengan BB sebelum hamil 51 kg dan tinggi badan 157 meter. Maka IMTnya 51/(1,57) 2 = 20,7.

Universitas Sumatera Utara

Nilai IMT mempunyai rentang : <19,8 (underweight) , 19,8-26,6 (normal), 26,6-29,0 (overweight), dan >29,0 (obese). Penambahan berat badan per trimester lebih penting daripada penambahan berat badan keseluruhan. Pada trimester pertama peningkatan berat badan hanya sedikit, 0,7 1,4 kg. Pada trimester berikutnya akan terjadi peningkatan berat badan yang dapat dikatakan teratur, yaitu 0,35-0,4 kg per minggu (Salmah, 2006).

2.2.2. Tekanan Darah Tekanan darah perlu diukur untuk mengetahui perbandingan nilai dasar selama masa kehamilan. Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan nilai tinggi palsu pada sistolik adalah ketika ibu merasa cemas atau kandung kemih penuh. Tekanan darah diukur harus dalam keadaan rileks (Salmah, 2006). Tekanan darah normal untuk ibu hamil adalah 110/80 130/90

mmHg. Bila lebih dari ukuran tersebut, kemungkinan dapat menyebabkan preeklampsia. Preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan bayi dengan gejala tekanan darah meningkat, bengkak di kaki dan di tungkai atau seluruh tubuh ibu hamil jika gangguannya lebih berat (Solihah, 2005). Tekanan darah yang adekuat diperlukan untuk mempertahankan fungsi plasenta, tetapi tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg pada saat awal pemeriksaan mengindikasikan potensi hipertensi dan membutuhkan pemantauan ketat selama kehamilan (Salmah, 2006).

Universitas Sumatera Utara

10

2.2.3. Tetanus Toxoid (TT) Lengkap Pada saat pemeriksaan kehamilan ini ibu hamil diberi suntikan tetanus toxoid (TT). Pemberian vaksin (toxoid) melalui suntikan, diperlukan untuk melindungi ibu hamil saat bersama bayinya terhadap tetanus

neonatorum (tetanus saat nifas). Sosialisasi dan pengertian tentang pemberian TT diperlukan untuk menghindari fitnah yang luas beredar seolah-olah TT merupakan suntikan Keluarga Berencana (KB), sehingga ibu hamil menjadi tidak subur lagi setelah melahirkan (Achsin, 2003). Ibu hamil yang belum pernah mendapat imunisasi TT pada kehamilan sebelumnya atau pada waktu akan menjadi pengantin, maka perlu mendapat dua kali suntikan TT dengan jarak minimal satu bulan. Imunisasi TT yang pertama diberikan pada kunjungan antenatal yang pertama. Bila sudah pernah, maka cukup diberikan sekali selama kehamilan. Suntikan TT melindungi ibu dan bayinya dari penyakit tetanus neonatorum (Salmah, 2006). Setiap ibu hamil harus mengetahui dan memahami manfaat pemberian TT ini, khususnya bila mereka tiba-tiba harus bersalin di luar jangkauan rumah sakit / rumah sakit bersalin, dokter atau bidan dan terpaksa ditolong dukun bersalin. Meskipun saat ini dukun bersalin umumnya telah terlatih untuk menolong persalinan normal secara steril

sehingga tetanus dapat dicegah, tetapi di lain pihak, rasa kekuatiran pertolongan secara tradisional harus tetap diperhitungkan. Pemberian TT pada ibu hamil dimaksudkan untuk memberi kekebalan terhadap tetanus untuk dirinya dan janin dalam kandungannya (Achsin, 2003).

Universitas Sumatera Utara

11

2.2.4. Tinggi Fundus Uteri Pemeriksaan lain adalah mengukur tinggi fundus uteri dengan

perabaan. Cara pemeriksaan ini menurut Leopold dibagi dalam 4 tahap yaitu Leopold I, II, III dan IV. Maksud pemeriksaan Leopold I untuk menentukan tinggi fundus uteri untuk mengetahui tuanya kehamilan. Tua kehamilan

disesuaikan dengan hari pertama haid terakhir. Selain itu, dapat pula ditentukan bagian janin mana yang terletak pada fundus uteri. Bila kepala, akan teraba benda bulat dan keras, sedangkan bokong tidak bulat dan lunak. Pada Leopold II ditentukan batas samping uterus dan dapat ditentukan letak punggung janin yang membujur dari atas ke bawah menghubungkan bokong dengan kepala. Pada letak lintang dapat ditentukan kepala. Pada letak lintang dapat ditentukan kepala janin. Pada Leopold III dapat ditentukan bagian apa yang terletak di sebelah bawah. Sedangkan Leopold IV, selain menentukan bagian janin mana yang terletak di sebelah bawah, juga dapat menentukan berapa bagian dari kepala telah masuk ke dalam pintu atas panggul (Wiknjosastro, 2005).

2.2.5. Tablet Zat Besi Zat besi penting untuk mengompensasi peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan, dan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan janin yang adekuat. Kebutuhan akan zat besi meningkat selama kehamilan, seiring dengan pertumbuhan janin. Ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan zat besinya yang meningkat selama kehamilan dengan meminum tablet tambah darah, dan dengan memastikan bahwa ia makan dengan cukup dan seimbang. Makanan yang mengandung banyak zat besi

Universitas Sumatera Utara

12

antara lain daging, terutama hati dan jeroan, telur, polong kering, kacang tanah, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau seperti bayam, sawi hijau, dan lain-lain (Pusdiknakes, 2003). Tanpa persediaan zat besi yang cukup, ibu dapat mengalami anemia. Ibu yang anemia akan cenderung mengalami kelahiran prematur, jatuh sakit (karena pertahanan yang lemah terhadap infeksi), melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah perdarahan pasca salin, dan meninggal. Banyak ibu-ibu yang sudah mengalami anemia saat ia hamil. Jarak kehamilan terlalu dekat, malaria, cacing tambang, dan infeksi yang sering dan kronis, adalah beberapa penyebab anemia (Achsin, 2003). Untuk meningkatkan persediaan zat besi selama kehamilan, semua ibu harus minum tablet tambah darah. Berikan setiap ibu paling sedikit 90 tablet. Ibu harus meminum satu tablet tambah darah setiap hari selama kehamilannya. Salah satu efek samping dari penggunaan zat besi adalah sembelit. Bidan seharusnya memberikan konseling kepada ibu bahwa mereka akan mengalami sembelit. Untuk mencegah atau mengurangi sembelit, sebaiknya bidan mengajarkan ibu untuk mengkonsumsi makanan berserat, banyak minum air putih, dan melakukan senam (exercise) setiap hari. (Pusdiknakes, 2003).

2.2.6. Test PMS Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual. Apapun bentuk hubungan seksual tersebut bisa menyebabkan PMS. Kadang-kadang PMS juga bisa terjadi hanya karena saling menyentuh genitalia yang terinfeksi

Universitas Sumatera Utara

13

PMS. PMS bisa ditularkan dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya sebelum dilahirkan atau sewaktu melahirkan. Pemeriksaan PMS dilakukan pada ibu yang mengeluh pada fungsi organ seksualnya, seperti terjadinya keputihan, gatal pada daerah kelamin, dan pencegahan terhadap penyakit infeksi menular seksual yang berbahaya seperti HIV/AIDS. Terdapat beberapa jenis tes / pemeriksaan yang bisa memperlihatkan apakah seorang wanita terkena infeksi jenis PMS tertentu. Tetapi tes-tes tersebut hanya tersedia di tempat terbatas, dan kadang-kadang tes tersebut tidak memberikan hasil yang akurat atau tidak mendeteksi semua jenis PMS, disamping itu juga mahal (Burns, 2000).

2.2.7. Tanya Jawab Seorang bidan, akan bertanya tentang riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya, termasuk berbagai masalah kesehatan lain seperti perdarahan atau bayi yang telah meninggal. Keterangan ini akan membantu untuk mempersiapkan masalah yang sama pada kehamilan kali ini. Dengan tanya jawab ini, bidan dapat membantu memastikan ibu untuk makan

dengan baik dan memberi nasehat makanan bergizi; Memberikan tablet zat besi dan asam folat, untuk mencegah anemia; Memeriksa ibu, untuk memastikan kesehatan ibu dan bahwa bayi berkembang dengan baik; Memberi vaksinasi anti tetanus; memberikan obat pencegah malaria, dan memberikan pemeriksaan laboratorium HIV/AIDS, dan shypilis (Burns, 2000).

Universitas Sumatera Utara

14

2.3.

Tanda-tanda Bahaya Kehamilan Trimester III Tanda bahaya selama hamil trimester III adalah sebagai berikut :

1. Ibu mengeluarkan darah dari kemaluan sebelum ada tanda-tanda akan melahirkan, timbul setelah kehamilan berumur 28 minggu. Jika tanda tersebut disertai dengan rasa nyeri perut, kemungkinan terjadi kelainan ari-ari ibu yang terlepas dari perlekatannya pada dinding rahim. 2. Ibu mengeluarkan cairan ketuban dari kemaluan, timbul sebelum terasa mulas-mulas tanda dari awal persalinan. Cairan ketuban berwarna putih keruh mirip air kelapa, atau mungkin juga sudah berwarna kehijauhijauan. Tanda-tanda tersebut menandakan ibu mengalami ketuban

pecah dini. Selaput ketuban sudah pecah lebih dahulu sebelum persalinan dimulai. 3. Ibu hamil tampak pucat, mata berwarna merah dadu, bibir dan telapak tangan kurang merah. Ini menandakan ibu mengalami kekurangan darah (anemia). Tanda-tanda ini disertai pening, lesu, lemas, dan mudah lelah. Jika sudah berat, dapat timbul keluhan sesak nafas, jantung berdebardebar. 4. Ibu mengalami kejang-kejang. Keadaan kejang berarti ada penyakit yang berat seperti infeksi. Hal tersebut dapat membahayakan ibu sendiri

maupun janin yang dikandungnya. Keadaan ini kemungkinan ibu mengalami keracunan kehamilan (Nadesul, 2005). 5. Nyeri perut bagian bawah Hal ini dapat disebabkan oleh robekan plasenta dari dinding rahim. Ini sangat berbahaya dan mengancam jiwa bila tidak segera mendapatkan pertolongan. Nyeri yang hebat dirasakan sekitar bulan ke-7 atau 8

Universitas Sumatera Utara

15

kehamilan bisa berarti akan mengalami persalinan yang lebih cepat. Hal ini dapat disebabkan oleh bayi salah letak. 6. Perdarahan dari liang vagina Perdarahan yang terjadi pada trimester III kehamilan, hal ini disebabkan oleh gangguan plasenta. Hal ini membahayakan jiwa ibu dan bayinya. 7. Demam Demam tinggi, terutama yang diikuti dengan tubuh menggigil, rasa sakit seluruh tubuh, sangat pusing, bisa disebabkan oleh malaria. 8. Odema (pembengkakan) Pembengkakan ringan pada kaki dan tumit sering merupakan hal yang biasa pada kehamilan. Tetapi pembengkakan di tangan dan muka bisa merupakan tanda bahaya toksemia (keracunan kehamilan) terutama bila disertai rasa pusing-pusing, pandangan kabur, atau nyeri perut. Toksemia bisa menyebabkan kejang-kejang, dan membahayakan

keselamatan jiwa ibu dan bayi (Burns, 2000). 9. Bayi kurang bergerak seperti biasa Ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama bulan ke-5 atau ke-6 dan akan meningkatkan ketika kehamilan sudah memasuki trimester III. Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik (Pusdiknakes, 2003).

Universitas Sumatera Utara

16

2.4.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kunjungan K-4 Green (1980) menyebut tiga faktor yang mempengaruhi orang atau

kelompok dalam perubahan perilaku, sebagai berikut : 1. Faktor yang mempermudah (predisposing factor) yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat. 2. Faktor pendukung (enabling factor) yaitu jarak fasilitas kesehatan, keterpaparan media. 3. Faktor pendorong (reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku seseorang yang dikarenakan dorongan orang lain seperti dukungan dari suami/keluarga, dan petugas kesehatan (Istiarti, 2000).

2.5.1. Faktor Predisposisi (Faktor Ibu) 1. Pengetahuan Pengetahuan seorang ibu tentang kehamilan sangat diperlukan untuk menjalani proses kehamilannya. Banyak sumber informasi yang dapat diperoleh ibu untuk meningkatkan pengetahuan tentang kehamilannya, seperti dari petugas kesehatan (bidan, dokter) saat menjalani pemeriksaan dengan melakukan tanya jawab (konseling), maupun dari media massa yaitu informasi yang diperoleh dari media elektronik (televisi) maupun media cetak (majalah, koran, tabloid, poster, dan lain-lain). Pada umumnya, jika

Universitas Sumatera Utara

17

pengetahuan ibu sudah baik maka akan memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Akan tetapi seseorang yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang baik dan bertempat tinggal dekat dengan sarana kesehatan, bisa saja belum pernah memanfaatkan sarana kesehatan. Ada juga ibu yang tidak mau memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan karena kurang pengetahuan yang baik tentang fasilitas kesehatan yang ada, tetapi karena sesuatu hal maka ibu tersebut akan menggunakan fasilitas kesehatan tersebut. Misalnya ketika seorang ibu hamil terpaksa minta bantuan dokter / bidan karena mengalami perdarahan yang pada awalnya melakukan pemeriksaan di dukun bayi, tetapi karena pelayanan yang diberikan dokter (bidan) cukup baik maka ibu hamil tersebut akan memanfaatkan sarana kesehatan yang sudah ada (Istiarti, 2000).

2. Sikap Menurut Thurstone yang dikutip Ahmadi (2002) menyatakan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Orang dikatakan memiliki sikap positif terhadap suatu obyek psikologi apabila ia suka atau memiliki sikap yang favorable, sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap yang negatif terhadap obyek psikologi bila ia tidak suka atau sikap unfavorable terhadap obyek psikologi. Sedangkan menurut Walgito (2003), sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg,

Universitas Sumatera Utara

18

yang disertai dengan adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak

langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat / pernyataan responden terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2003). Keikutsertaan seseorang di dalam suatu aktivitas tertentu sangat erat hubungannya dengan pengetahuan, sikap, niat, dan perilakunya. Sebagai contoh, keikutsertaan ibu hamil dalam pemeriksaan antenatal, adanya pengetahuan terhadap manfaat pelayanan antenatal selama kehamilan akan menyebabkan orang mempunyai sikap yang positif terhadap hal tersebut. Selanjutnya sifat yang positif ini akan mempengaruhi niat untuk ikut serta dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemeriksaan antenatal. Niat untuk ikut serta dalam suatu kegiatan sangat tergantung pada seseorang mempunyai sikap positif atau tidak terhadap kegiatan pemeriksaan antenatal. Adanya niat untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya sangat menentukan apakah kegiatan akhirnya dilakukan (Istiarti, 2000).

2.5.2. Faktor Pendukung Dalam Kunjungan K-4 1. Jarak Fasilitas Kesehatan Faktor yang mendukung dalam kunjungan K-4 adalah jarak fasilitas kesehatan yang meliputi 1) sarana dan prasarana kesehatan dan 2)Kemudahan dalam mencapai sarana kesehatan tersebut. Sarana dan prasarana kesehatan meliputi seberapa banyak fasilitas-fasilitas kesehatan, konseling maupun

Universitas Sumatera Utara

19

pusat-pusat informasi bagi individu/masyarakat. Kemudahan bagaimana kemudahan untuk mencapai sarana kesehatan tersebut termasuk biaya, jarak, waktu/ lama pengobatan, dan juga hambatan budaya seperti malu mengalami penyakit tertentu jika diketahui masyarakat (Notoatmodjo, 2003).

2. Keterpaparan Media Keterpaparan media dapat dinyatakan dengan media sebagai sumber informasi tentang kunjungan K-4 yang diterima oleh masyarakat khususnya ibu hamil. Sumber informasi merupakan asal atau sumber pesan yang disampaikan tentang sesuatu. Sumber informasi yang diperoleh ibu sehubungan dengan informasi tentang kunjungan K-4 berasal dari petugas kesehatan maupun melalui media massa. Informasi yang diperoleh melalui petugas kesehatan dapat berupa penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang kunjungan K-4 maupun melalui interaksi ibu dengan petugas kesehatan. Sedangkan informasi yang diperoleh dari media berasal dari media elektronik (radio, televisi, VCD), sedangkan media cetak berupa brosur-brosur, bukubuku, majalah, koran, dan lain-lain (Notoatmodjo, 2003).

2.5.3. Faktor Pendorong Dalam Kunjungan K-4 1. Dukungan Suami / Keluarga Faktor pendorong dalam kunjungan K-4 selain dari petugas puskesmas adalah dukungan suami dan keluarga. Dukungan suami dan keluarga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan perilaku ibu

Universitas Sumatera Utara

20

hamil. Contohnya suami / keluarga perlu memberikan penjelasan dan mengajarkan pada ibu untuk memeriksa kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan. Dukungan seperti itu memberi kontribusi yang besar dalam tercapainya kunjungan K-4 dan meminimalkan risiko yang terjadi selama kehamilan dan persalinan (Notoatmodjo, 2003).

2. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan dari petugas puskesmas merupakan salah satu faktor penting dalam perilaku kesehatan. Contoh dalam kasus kunjungan K-4, apabila seorang ibu telah mendapat penjelasan tentang memeriksa kehamilan yang benar dari petugas puskesmas dan mencoba menerapkannya, akan tetapi karena lingkungannya belum ada yang menerapkan, maka ibu tersebut menjadi asing dan bukan tidak mungkin ibu tidak mau melakukan kunjungan ke petugas kesehatan untuk memeriksa kehamilannya (Notoatmodjo, 2003).

Universitas Sumatera Utara