Anda di halaman 1dari 31

Wisata Budaya dan Spiritual

Rabu, 15 Februari 2012

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN BUDAYA PADA MASYARAKAT PERKOTAAN (Studi Kasus : Surabaya)

Oleh: Kelompok 1/ P2 :

Bhintary Fauzya Putri Helvira Kurniati Afrodita Indayana Beni Nuryanto

(J3B110014) (J3B110045) (J3B110049) (J3B210074)

Dosen: Ir. Dr. Ricky Avenzora, M.Scf Ir. Tutut Sunarminto, M.Si Rini Untari,S. Hut, M.si

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta dan rasa, Kebudayaan dimiliki

oleh setiap bangsa, oleh karena itu kebudayaan dari setiap bangsa saling berbedabeda. Meskipun terkadang ada kesamaan seperti halnya rumpun dan ras. Di Indonesia antara kebudayaan dan budaya dibedakan berdasarkan pengertiannya. Budaya ialah sesuatu hal yang semiotik, tidak kentara atau bersifat laten artinya keseluruhan hal yang alamiah. Sedangkan kebudayaan ialah seluruh cara hidup manusia untuk mempertahankan hidupnya artinya, keseluruhan hal yang bukan alamiah yaitu hasil ciptaan manusia. Kebudayaan juga dapat dijelaskan adalah sebuah jaringan makna yang dianyam manusia tersebut dalam hidup, dan mereka bergantung pada jaringan-jaringan makna tersebut. Perkotaan merupakan pusat peradaban manusia yang berkembang secara dinamis dan tumbuh sebagai konsentrasi penduduk, prasarana dan sarana, kegiatan sosial dan ekonomi, serta inovasi. Secara alami perkotaan tumbuh dengan kecepatan yang jauh meninggalkan wilayah sekitarnya, menyisakan persoalan disparitas tingkat perkembangan wilayah. Perkembangan kawasan perkotaan yang sedemikian cepat tidak dibarengi oleh peningkatan kapasitas pemangku kepentingan untuk mempertahankan kualitas lingkungan kehidupan perkotaan. Surabaya merupakan daerah yang memiliki ragam kebudayaan di dalammnya. Pada masyarakat perkotaan di Surabaya sering kali budaya-budaya tradisional yang ada sering di tiadakan atau juga sudah tidak ada lagi, maka dari itu pentingnya mengetahuisuatu budaya dalam masyrakat perkotaan dengan melalui mengetahui aspek dan juga elemen masyarakat perkotaan. B. Tujuan Praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan memiliki tujuan yaitu mampu mengenali, mengetahui dan memahami serta mampu mengidentifikasi aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan serta mahir dalam mengidentifikasi mengenai kehidupan berbudaya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.

Identifikasi Identifikasi adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama

dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari proses imitasi dan sugesti yang pengaruhnya sangat kuat (Alamsyah, 2009). Identifikasi adalah pemberian tanda-tanda pada golongan barang-barang atau sesuatu. Hal ini perlu, oleh karena tugas identifikasi ialah membedakan komponenkomponen yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak menimbulkan kebingungan. Dengan identifikasi dapatlah suatu komponen itu dikenal dan diketahui masuk dalam golongan mana. Cara pemberian tanda pengenal pada komponen, barang atau bahan bermacam-macam antara lain dengan menggantungkan kartu pengenal (Harjoso, 2010). B. Budaya Kata budaya dan kebudayaan pada dasarnya memiliki makna yang sama yakni symbol-simbol yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan. Budaya adalah suatu hasil pikiran, rasa maupun tindakan budidaya baik itu dari tingkat individu, kelompok dan keluarga (Ratna Suranti, 2006). Menurut Soemardjan dan Soemardji, kebudayaan adalah hasil karya , cipta, rasa dan karya masyarakat, dimana: 1. Karya adalah sesuatu yang menghasilkan teknologi dan kebudayaan

keberadaan yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya. 2. Cipta adalah kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat. 3. Rasa adalah meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah kemasyarakatan dalam arti luas

C.

Aspek dan Elemen Budaya Menurut J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan

dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas dan artefak. Wujud kebudayaan tersebut sebagai berikut. 1. Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak (tidak dapat diraba atau disentuh). Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepalakepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. 2. Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. 3. Artefak (karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh, wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. D. Masyarakat Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2010). Peter L. Berger mengatakan masyarakat

adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagianbagian yang membentuk suatu kesatuan. Sedangkan Marx mengatakan bahwa masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya. Harold J. Laski berpendapat bahwa masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan. E. Masyarakat Perkotaan Teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota dibagi menjadi lima, yaitu netral afektif, orientasi diri, universalisme, prestasi dan heterogenitas. Ciri masing-masing tipe sebagai berikut. 1. Netral Afektif, Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih

mementingkan Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya. 2. Orientasi Diri, Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat

mempertahankan dirinya sendiri. Pada umumnya di kota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang di kota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik. 3. Universalisme, Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum. Oleh karena itu, pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme. 4. Prestasi, Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya. 5. Heterogenitas, Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.

III. METODE PRAKTIKUM

A.

Waktu dan Lokasi Praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan

dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Februari 2012 pukul 10.30 13.50 WIB. Bertempat di Kampus Diploma IPB, ruang CB K03. Praktikum ini dilakukan dengan durasi waktu 1x200 menit. B. Alat dan Bahan Kegiatan praktikum yang dilakukan dengan mencari studi literatur melalui buku atau media internet. Alat yang digunakan untuk membantu kelancaran dan kemudahan praktikum memiliki fungsi masing-masing sebagai berikut (Tabel 1). Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan
No. 1. 2. 3. 4. 5. Alat-alat Alat Tulis Tallysheet Note book Buku/internet Printer Fungsi Mencatat objek pengamatan Mempermudah dalam pencatatan hasil Membuat dan menyusun laporan Sumber Informasi Mencetak hasil laporan

C.

Tahapan kerja Mahasiswa akan bekerja dalam kelompok yang telah ditentukan. Masing-

masing kelompok akan dibagi dalam lokasi yang berbeda untuk mengidentifikasi aspek dan elemen budaya pada kawasan perkotaan yang diamati. Tahapan kerja yang dilakukan yaitu sebagai berikut. 1. Membagi lokasi yang akan menjadi sasaran kajian per kelompok praktikum yaitu di Surabaya 2. Melakukan studi literatur terkait dengan aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan tersebut. 3. Mengidentifikasi aspek dan elemen budaya untuk setiap masing-masing kelompok praktikum sesuai lokasi yang telah ditentukan.

4.

Menginventarisasikan beberapa aspek dan elemen budaya pada lokasi tersebut seperti pada Tabel 2.

5. 6.

Mendiskusikan materi pada tulisan secara kelompok dan mendeskripsikan Membagi materi tulisan menjadi sub-bab yang kemudian dibahas secara perorangan setiap anggota kelompok.

7.

Membuat laporan hasil praktik dan memaparkan ke dalam kelas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Identifikasi aspek dan elemen budaya dimasukan ke dalam tallysheet dan

dideskripsikan masing-masing obyek yang ditentukan. Aspek dari elemen budaya akan diidentifikasi dan diberikan deskripsi singkat mengenai aspek dan elemen tersebut. Tabel 2. Inventarisasi Aspek dan Elemen Budaya di Masyarakat Perkotaan
No. 1. Aspek dan Elemen Budaya Aspek Budaya: Jenis Kebudayaan Material Immaterial Deskripsi Ada banyak hal ide atau gagasan yang berkaitan dengan social budaya perkotaan di kota Surabaya ini, sebagian besar berupa sejarah. Pertama mengenai ide dan gagasan dinamakannya Kota Surabaya yang berarti Sura yaitu ikan hiu dan Baya yaitu Buaya yang mempunyai filosofi akan simbol kekuatan darat dan laut Surabaya sebagai kota metropolitan menjadi pusat kegiatan perekonomian di daerah Jawa Timur dan sekitarnya sektor pariwisata memiliki objek wisata alam Kebun Binatang Wonokromo dan Pantai Kenjeran Sektor industri pengolahan mencakup industri besar dan sedang. Kawasan yang menjadi sentra industri besar untuk wilayah Surabaya . Gedung Pusat Souvenir khas di Jawa Timur menyediakan berbagai kerajinan tangan seperti pernik kaca, kerajinan kayu, batik dan lainnya. Bahasa yang digunakan pada masyarakat perkotaan yang berada di Surabaya yaitu bahasa Suroboyoan Sistem pengetahuan masyarakat Surabaya pada umumnya sama pada sistem pada kota kota lain, yaitu

a.

Ide/ gagasan

b.

Aktivitas manusia

c.

Benda-benda hasil karya manusia

2.

Elemen Budaya: a. Bahasa

b.

Sistem pengetahuan

No.

Aspek dan Elemen Budaya

Jenis Kebudayaan Material Immaterial

Deskripsi menggunakan sekolah sekolah atau lembaga pendidikan yang bersifat formal dan informal Dharma Wanita merupakan organisasi yang membina anggota dan memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak. KORPRI (Korps Pegawai Republik Indonesia) adalah wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia demi meningkakan perjuangan, pengabdian serta kesetiaan kepada cita-cita perjuangan Bangsa Indonesia Televisi, Tv Kabel, Media Online, Radio, Organisasi Kewartawanan, Internet Service Provider dan alat-alat transportasi lainnya. Pusat perdagangan, bisnis, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia Timur. Ada beberapa kepercayaan atau agama yang dianut oleh masyarakat perkotaan di Surabaya yaitu islam, protestan, katolik, hindu, budha dan konguchu. Namun yang lebih dominan agama islam. Ludruk yang merupakan seni pertunjukan drama yang menceritakan kehidupan rakyat sehari-hari, Kidungan yang merupakan pantun yang dilagukan, dan mengandung unsur humor maupun Tari Remo yang merupakan tarian selamat datang yang umumnya dipersembahkan untuk tamu istimewa.

c.

Orgaisasi sosial

d.

Sistem perlengkaan hidup dan teknologi

e.

Sistem mata pencaharian

f.

Sistem religi

g.

Kesenian

B.

Pembahasan Kota Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur. Kota ini merupakan

kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai tiga juta jiwa. Kota Surabaya merupakan pusat perdagangan, bisnis, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia Timur. Kota Surabaya sering disebut pula dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan di Surabaya akan dibahas sebagai berikut. 1. Aspek Budaya Aspek budaya dibedakan menjadi tiga, yaitu ide atau gagasan, aktivitas manusia dan benda-benda hasil karya manusia. Jenis kebudayaan tersebut kemudian dapat dibedakan menjadi material dan immaterial. Aspek budaya akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut. a. Ide atau gagasan (Afrodita Indayana, J3B110049) Dalam kegiatan kehidupan bermasyarakat, Surabaya merupakan satu kota yang mempunyai tingkat populasi yang tinggi sehingga hal tersebut akan mempengaruhi beberapa aspek yaitu ekologi,ekonomi,dan sosial budaya. Pengaruh tersebut dapat dalam berbentuk positif dan negatif. Maka diperlukan ide serta gagasan yang tepat untuk mengurangi dampak negatif yang akan menganggu kehidupan masyarakat Surabaya. 1) Ekologi Untuk mengurangi dampak negatif dalam bidang ekologi masyarakat serta pemerintah bekerja sama untuk melahirkan sebuah ide atau gagasan berupa pembangunan sejumlah taman kota yang tentuya mempunyai dampak multiplayer yang baik pada aspek sosial budaya serta ekonomi, selain untuk mengurangi tingkat polusi udara akibat kepadatan penduduk yang menggunakan kendaraan bermotor. Hal tersebut juga di dukung oleh UU 26/2007 tentang Penataan Ruang yang berisi tentang ketentuan setiap kota mempunyai lahan seluas 30% dari luas kota yang berfungsi sebagai lahan terbuka hijau. Taman kota yang di bangun di kota Surabaya

telah mencapai 20% dari luas kota sehingga perlu sedikit lagi kerjasama antara masyarakat dan pemerintah untuk memenuhi instruksi UndangUndang yang berlaku. Selain itu gagasan ini dibangun bukan sematamata karena instruksi undang-undang namun murni dari ide masyarakat perkotaan Surabaya karena kotanya yang telah mempunyai tingkat polusi udara yang tinggi sehingga masyarakat menginginkan adanya taman kota ini. Taman kota tersebut antar lain Taman Prestasi, Taman Bungkul, Taman Yos Sudarso, Taman Kalimantan, Taman Sulawesi, Taman Pelangi, Taman Apsari, Taman Flora (eks kebun bibit), Taman Dr. Soetomo, Taman Mayangkara, Taman Ronggolawe, Taman Mundu dan Taman Buah Undaan Surabaya. Selain itu ide gagasan lain mengenai ekologi berupa lomba kerjabakti antar kampung dan kerjasama masyarakat untuk membersihkan sungai-sungai yang ada di Surabaya (Gambar 1).

Gambar 1. Lomba Kerja Bakti antar Kampung, Surabaya

2) Ekonomi Ide dan gagasan masyarakat terkait dengan masalah ekonomi sangat beragam dengan skala mikro maupun makro. Pada skala mikro banyak LSM yang mendirikan atau mengadakan berbagai macam pelatihan atau kursus untuk memproduksi suatu hasil karya kreatifitas yang mempunyai daya jual, salah satunya seperti yang dilakukan oleh organisasi FRESH Surabaya (Fredom of Sharing Surabaya) dengan mengadakan sebuah acara sharing terbuka mengangkat tema Kreativitas Tanpa Batas (Gambar 2).

10

Gambar 2. FRESH Surabaya Selain itu dalam skala makro pemerintah kota Surabaya juga mempunyai ide dan gagasan yang dapat meningkatkan perekonomian salah satunya berupa pembangunan Jembatan Suramadu (Gambar 3). Yang berfungsi untuk

mempermudah dan memperlancar jalur transportasi dari Surabaya ke Madura ataupun sebaliknya.

Gambar 3. Jembatan Suramadu

3) Sosial Budaya Ada banyak hal ide atau gagasan yang berkaitan dengan social budaya perkotaan di kota Surabaya ini, sebagian besar berupa sejarah. Pertama mengenai ide dan gagasan dinamakannya Kota Surabaya yang berarti Sura = ikan hiu dan Baya = Buaya yang mempunyai filosofi akan simbol kekuatan darat dan laut, namun ada banyak versi untuk sejarah ini, menurut Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah

11

kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya (Gambar 4).

Gambar 4. Lambang Surabaya Ide dan gagasan yang bersejarah selanjutnya ialah peristiwa pertempuran para pemuda Surabaya dan peristiwa perobekan bendera belanda pada tgl 10 november 1945 oleh para pemuda Surabaya yang mengundang berbagai macam dukungan dan pujian dari seluruh rakyat Indonesia sehingga ide, gagasan serta keberanian yang di miliki oleh para pemuda Surabaya ini dikenang sejarahnya dan di hari tersebut di namakan hari pahlawan yang hingga saat ini masih sering kita peringati. Selain itu, gagasan atas perobekan dan keberanian para pemuda Surabaya melawan bendera belanda pada Hotel Yamato tersebut dikenang dengan di bangunnya sebuah tugu berupa Tugu Pahlawan (Gambar 5).

Gambar 5. Tugu Pahlawan, Surabaya

12

b. Aktivitas manusia (Beni Nuryanto, J3B210074) Surabaya sebagai kota metropolitan menjadi pusat kegiatan perekonomian di daerah Jawa Timur dan sekitarnya. Sebagian besar penduduknya bergerak dalam bidang jasa, industri, dan perdagangan sehingga jarang ditemukan lahan persawahan. Banyak perusahaan besar yang berkantor pusat di Surabaya, seperti: PT Sampoerna Tbk, Maspion, Wing's Group, Unilever, dan PT PAL. Kawasan industri di Surabaya diantaranya Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan Margomulyo. Sektor industri pengolahan dan perdagangan yang mencakup juga hotel dan restoran, merupakan kontributor utama kegiatan ekonomi surabaya yang tergabung dalam nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Surabaya pada sektor pariwisata memiliki objek wisata alam Kebun Binatang Wonokromo dan Pantai Kenjeran. Kota ini juga mempunyai banyak wisata sejarah dari kenangan Soerabaja Tempo Doeloe, gedung-gedung tua peninggalan zaman Belanda dan Jepang salah satunya adalah Hotel Oranje atau Yamato. Di samping dianugerahi wisata sejarah, Surabaya juga kaya akan wisata belanja. Sebagai kota perdagangan, surabaya memiliki cukup banyak pusat perbelanjaan dan mall (Gambar 6).

Gambar 6. Kegiatan Perbelanjaan di Mall Surabaya Sektor industri pengolahan mencakup industri besar dan sedang. Kawasan yang menjadi sentra industri besar untuk wilayah Surabaya Pusat adalah Kecamatan Bubutan industri besar di wilayah Surabaya Utara terdapat di Kecamatan Pabean Cantikan dan Semampir ,wilayah Surabaya Timur di Sukolilo dan Gubeng, untuk wilayah Surabaya Selatan di Wonokromo dan Karangpilang, di wilayah Surabaya

13

Barat terkonsentrasi ditiga kecamatan yaitu Asemrowo, Tandes, dan Lakarsantri. Kawasan industri sedang untuk wilayah Surabaya Pusat berada di Kecamatan Simokerto dan Bubutan, wilayah Surabaya Utara di Kenjeran dan Pabean Cantikan, wilayah Surabaya Timur di Tambaksari dan Sukolilo, wilayah Surabaya Selatan di Sawahan dan Karangpilang, dan wilayah Surabaya Barat berada di tiga kecamatan yaitu Asemrowo, Lakarsantri dan Sukomanunggal (Gambar 7).

Gambar 7. Kawasan Industri Surabaya Masyarakat Surabaya sangat gemar melakukan aktivitas belanja karena ditunjang dengan banyaknya pusat perbelanjaan di pusatpusat kota Surabaya sehingga ini menjadi faktor utama masayarakat Surabaya melakukan kegiatan tersebut, namun lain halnya ketika melihat dari segi ekonomi pada masyarakat pinggiran dari kota Surabaya, sama seperti kota kota besar lainnya Surabaya masih banyak masyarakat yang belum memiliki penghasilan yang mencukupi untuk melakukan aktivitas belanja ini yang membuat masayarakat pinggiran Surabaya menjadikan masyarakat yang kreatif yang membuat hasil karya sendiri, seperti border dan membuat produk-produk kulit yang terletak di daerah Tanggulangin (Gambar 8).

14

Gambar 8. Produk Kerajinan Kulit Surabaya c. Benda-benda hasil karya manusia (Helvira Kurniati, J3B110045) Proyek Pusat Kerajinan Tangan didasari atas pemahaman nilai

budaya bangsa yang tidak mendapat tempat di kalangan masyarakat. Masyarakat sekarang semakin tidak menghargai budaya sendiri karena menggangap budaya sebagai sesuatu yang kuno dan membosankan. Pusat Kerajinan tangan ini berusaha mempresentasikan, memberikan jawaban pemahaman seni dan budaya pada masyarakat. Pusat Kerajinan Tangan terproses melalui pemilihan lokasi yang paling tepat, kemudian direspon dengan susunan perletakan massa bangunan dan dengan program fasilitas-fasilitas Galeri dan edukasi. Tema desain terpilih yaitu tren modern dipadukan dengan budaya Jawa Timur pada khususnya dengan tujuan agar bangunan ini menjadi bagian dari sejarah perkembangan arsitektur di Surabaya. Pengendalian secara visual manusia menjadi bagian yang dicermati dalam desain ini. Konsep final `modernitas yang berakulturasi dengan budaya? sebagai acuan mendesain menjadi terjemahan masyarakat yang terbiasa dengan kehidupan modern sehingga mereka dapat menerima kebudayaan yang dianggap sesuatu yang kuno. Bangunan sebagai bagian dari perjalanan suatu desain menjadi salah satu cara pembelajaran yang efektif bagi masyarakat. Produk kerajinan tangan khas daerah di Jawa Timur berada di Jalan Raya Bandara Juanda Surabaya, tepatnya di Gedung Pusat Souvenir UKM dan Gedung Pamer Produk UKM Jatim. Keberadaan dua gedung tersebut sangat strategis karena cukup dekat dengan Bandara Juanda serta didukung dengan area yang memadai. Mengenai produk kerajinan yang dapat diperoleh ini cukup lengkap dan bervariasi.

15

Merupakan produk-produk souvenir UKM unggulan dan terbaik di seluruh Kabupaten maupun Kota di Provinsi Jawa Timur. Produknya seperti pernik kaca, kerajinan kayu, onyx, batik dan masih banyak lagi (Gambar 9).

Gambar 9. Benda Hasil Kerajinan Masyarakat Perkotaan Surabaya Khusus untuk produk makanan dan minuman khas Jawa Timur yang tahan lama akan dikelompokkan dalam area tersendiri. Untuk memberikan pelayanan yang optimal dan memuaskan kepada seluruh masyarakat selaku pelanggan pada umumnya dan khususnya kepada buyer dari dalam dan luar negeri, Gedung Pusat Souvenir ini buka setiap hari termasuk sabtu dan minggu dari pagi hingga malam hari. 2. a. Elemen Budaya Bahasa (Afrodita Indayana, J3B110049) Dialek Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orangorang Surabaya kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih kasar. Wilayah Selatan, Perak (Kab. Jombang - bukan Tanjung Perak di Surabaya). masih menggunakan Dialek Surabaya, sementara Perak Selatan telah menggunakan

16

Dialek Kulonan. Malang (beberapa daerah di wilayah Kabupaten dan Kota Malang juga menggunakan dialek ini). Wilayah Utara, Madura dapat menggunakan Dialek ini secara aktif. Wilayah Barat yaitu wilayah Gresik.Timur, belum diketahui secara pasti, namun di sepanjang pesisir tengah Jawa Timur (Pasuruan, Probolinggo sampai Banyuwangi) Dialek ini juga banyak digunakan. Akhir-akhir ini, banyak media lokal yang menggunakan dialek Surabaya sebagai bahasa pengantar mereka. Orang Surabaya lebih sering menggunakan partikel "rek" sebagai ciri khas mereka. Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel lain adalah "seh" (e dibaca seperti e dalam kata edan), yang dlam bahasa Indonesia setara dengan partikel "sih". Orang Surabaya juga sering mengucapkan kata "titip" secara /tetep/, dengan i diucapkan seperti /e/ dalam kata "edan"; dan kata "tutup" secara /totop/ dengan u diucapkan seperti /o/ dalam kata "soto". Selain itu, vokal terbuka sering dibuat hambat, seperti misalnya: "kaya" (=seperti) lebih banyak diucapkan /k@y@?/ daripada /k@y@/, kata "isa" (=bisa) sering diucapkan /is@?/ daripada /is@/. Kosakata dalam bahasa Surabaya sebagai berikut.

"Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam); "kathuken" berarti "kedinginan" (bahasa Jawa standar: kademen); "gurung" berarti "belum" (bahasa Jawa standar: durung); "gudhuk" berarti "bukan" (bahasa Jawa standar: dudu); "deleh" berarti "taruh/letak" (delehen=letakkan) (bahasa Jawa standar: dekek); "kek" berarti "beri" (kek'ono=berilah) (bahasa Jawa standar: wenehi); "ae" berarti "saja" (bahasa Jawa standar: wae); "gak" berarti "tidak" (bahasa Jawa standar: ora); "arek" berarti "anak" (bahasa Jawa standar: bocah); "kate/kape" berarti "akan" (bahasa Jawa standar: arep); "lapo" berarti "sedang apa" atau "ngapain" (bahasa Jawa standar: ngopo); "opo'o" berarti "mengapa" (bahasa Jawa standar: kenopo); "soale" berarti "karena" (bahasa Jawa standar: kerono); "atik" (diucapkan "atek") berarti "pakai" atau "boleh" (khusus dalam kalimat"gak atik!" yang artinya "tidak boleh");

17

"longor/peleh" berarti "tolol" (bahasa Jawa standar: goblok/ndhableg); "cek" ("e" diucapkan seperti kata "sore") berarti "agar/supaya" (bahasa Jawa standar: ben/supados);

"gocik" berarti "takut/pengecut" (bahasa Jawa standar: jireh); "mbadok" berarti "makan" (sangat kasar) (bahasa Jawa standar: mangan); "ciamik soro/mantab jaya" berarti "enak luar biasa" (bahasa Jawa standar: enak pol/enak banget);

"rusuh" berarti "kotor" (bahasa Jawa standar: reged); "gae" berarti "pakai/untuk/buat" (bahasa Jawa standar: pakai/untuk=kanggo, buat=gawe);

"andhok" berarti "makan di tempat selain rumah" (misal warung); "cangkruk" berarti "nongkrong"; "babah" berarti "biar/masa bodoh"; "matek" berarti "mati" (bahasa Jawa standar: mati); "sampek/sampik" berarti "sampai" (bahasa Jawa standar: nganti); "barekan" berarti "lagipula"; "masiyo" berarti "walaupun"; "nang/nak" berarti "ke" atau terkadang juga "di" (bahasa Jawa standar: menyang);

"mari" berarti "selesai";(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan "wis mari tah?" yang berarti "sudah selesai kah?" Pengertian ini sangat berbeda dengan "mari" dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, "mari" berarti "sembuh"

"mene" berarti "besok" (bahasa Jawa standar: sesuk); "maeng" berarti tadi. "koen" (diucapkan "kon") berarti "kamu" (bahasa Jawa standar: kowe). Kadangkala sebagai pengganti "koen", kata "awakmu" juga digunakan. Misalnya "awakmu wis mangan ta?" (Kamu sudah makan kah?") Dalam bahasa Jawa standar, awakmu berarti "badanmu" (awak = badan)

"lading" berarti "pisau" (bahasa Jawa standar: peso); "lugur" berarti "jatuh" (bahasa Jawa standar: tiba); "dhukur" berarti "tinggi" (bahasa Jawa standar: dhuwur);

18

"thithik" berarti "sedikit" (bahasa Jawa standar: sithik); "temen" berarti "sangat" (bahasa Jawa standar: banget); "pancet" berarti "tetap sama" ((bahasa Jawa standar: tetep); "iwak" berarti "lauk" (bahasa Jawa standar: lawuh, "iwak" yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, "mangan karo iwak tempe", artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);

"engkuk" (u diucapkan o) berarti "nanti" (bahasa Jawa standar: mengko); "ndhek" berarti "di" (bahasa Jawa standar: "ing" atau "ning"; dalam bahasa Jawa standar, kata "ndhek" digunakan untuk makna "pada waktu tadi", seperti dalam kata "ndhek esuk" (=tadi pagi),"ndhek wingi" (=kemarin));

"nontok" lebih banyak dipakai daripada "nonton"; "yok opo" (diucapkan /y@?@p@/) berarti "bagaimana" (bahasa Jawa standar: "piye" atau *"kepiye"; sebenarnya kata "yok opo" berasal dari kata "kaya apa" yang dalam bahasa Jawa standar berarti "seperti apa")

"peno"/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu

"jancuk" ialah kata kurang ajar yang sering dipakai seperti "fuck" dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif "diancuk"; variasi yang lebih kasar ialah "mbokmu goblok"; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah

"waras" ialah sembuh dari sakit (dlm bahasa jawa tengah sembuh dari penyakit jiwa)

"embong" ialah jalan besar / jalan raya "nyelang" arinya pinjam sesuatu "parek/carek" artinya dekat "ndingkik" artinya mengintip "semlohe" artinya sexy (khusus untuk perempuan) Selain itu, sering pula ada kebiasaan di kalangan penutur dialek Surabaya,

dalam mengekspresikan kata 'sangat', mereka menggunakan penekanan pada kata dasarnya tanpa menambahkan kata sangat (bangat atau temen), misalnya "sangat panas" sering diucapkan "puanas", "sangat pedas" diucapkan "puedhes", "sangat

19

enak" diucapkan "suedhep" dsb. Salah satu ciri lain dari bahasa Jawa dialek Surabaya, dalam memberikan perintah menggunakan kata kerja, kata yang bersangkutan direkatkan dengan akhiran -no. Dalam bahasa Jawa standar, biasanya direkatkan akhiran ke -ke) lampune!" (Hidupkan lampunya!) -ke) kopi sakbungkus!" (Belikan kopi sebungkus!) Logat Doudoan merupakan sempalan dari Dialek Surabaya, yang seperti pada logat Bawean merupakan akulturasi dari beberapa bahasa. Ditengarai logat Doudoan ini dipengaruhi selain Dialek Surabaya juga oleh Dialek Pantura Jawa Timur, Dialek Madura, dan lain-lain. Beberapa kosakata yang membedakan dari Dialek Surabaya, yaitu:

Pangot atau ongot alih-alih kata lading yang berarti pisau (ditengarai berasal dari Dialek Pantura Jawa Timur) Kpiy atau piy alih-alih kata yaapa atau kkapa yang berarti bagaimana (dari Bahasa Jawa standar)

Thethek alih-alih kata mentor yang berarti kacang mete dan sebagainya Sebagian besar kosakata logat ini hampir sama dengan Dialek Surabaya

sehingga dapat dimasukkan ke dalam golongan Dialek Surabaya. Kemudian, ada beberapa kata dalam bahasa Jawa (baik Dialek Surabaya maupun Bahasa Jawa standar) yang diucapkan berbeda, antara lain:

Penggunaan suku kata berakhiran -h dan -oh menggantikan -ih dan -uh. Contoh: putih menjadi puth, uruh (busa) menjadi uroh, dsb.

Penggunaan i jejeg dan u jejeg pada beberapa suku kata yang harusnya dibaca i miring dan u miring. Contoh: cilik (kecil) menjadi ciliyk, kisut (keriput) menjadi kisuwt, dsb.

b. Sistem pengetahuan (Beni Nuryanto, J3B210074) Sistem pengetahuan masyarakat Surabaya pada umumnya sama pada sistem pada kota kota lain, yaitu menggunakan sekolah sekolah atau lembaga pendidikan yang bersifat formal dan informal. Pendidikan formal itu adalah suatu pendidikan yang dalam teknis pembelajarannya telah diatur oleh pemerintah dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Sedangkan pendidikan informal, yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

20

Bentuk-bentuk dari kegiatan pendidikan formal itu dari taman kanak kanak sampai perguruan tinggi, sedangkan bentuk dari pendidikan informal sangat bermacam macam, seperti: kursus keahlian Gambar 10 (kursus border ,menjahit,menyetir,dan kursus komputer), sanggar seni (bernyanyi,membuat patung, menggambar, dan teater), sanggar budaya Gambar 11 (menari tradisional,teater tradisional), sekolah alam (sekolah insane mulia Surabaya).

Gambar 10. Kursus Border Masyarakat Surabaya

Gambar 11. Sanggar Budaya Surabaya (Tari Rantak di Parade Bunga Surabaya 2008) Sekolah alam ini melakukan kegiatan pendidikannya di area yang terbuka dan berbasis dengan alam dan pondok pesantren, lembaga pendidikan belajar akademik seperti primagama, dll. Selain dalam bentuk sekolah atau kelompok belajar, sistem pengetahuan di Surabaya juga dipengaruhi dan didukung oleh kearifan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat dimana di dalam suatu populasi masyarakat selalu ada pihak sebagai pembimbing seperti orang tua dan tokoh masyarakat yang selalu

21

membimbing generasi di bawahnya dalam segala hal yang positif dan biasanya peran tersebut tidak bisa di gantikan di sekolah. c. Organisasi sosial (Bhintary Fauzya Putri, J3B110014)

1) KORPRI KORPRI (Korps Pegawai Republik Indonesia) adalah wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia demi meningkakan perjuangan, pengabdian serta kesetiaan kepada cita-cita perjuangan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 2945 bersifat demokratis, mandiri, bebas, aktif, profesional, netral, produktif dan bertanggung jawab. KORPRI didirikan pada tanggal 29 November 1971 dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Yang dimaksud Pegawai Republik Indonesia meliputi Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta anak perusahaannya, Perangkat Pemerintah Desa dan nama lain dari desa. KORPRI berdasarkan Pancasila dan bercirikan profesionalitas, pengabdian, kemitraan, kekeluargaan dan gotong royong. Fungsi KORPRI yaitu, Perekat persatuan dan kesatuan bangsa, Pelopor peningkatan kesejahteraan dan

profesionalitas anggota , Pelindung dan pengayom anggota, Penyalur kepentingan anggota, Pendorong peningkatan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat dan lingkungannya, Pelopor pelayanan publik dalam mensukseskan program-program pembangunan, Mitra aktif dalam perumusan kebijakan instansi yang bersangkutan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pencetus ide, serta pejuang keadilan dan kemakmuran bangsa 2) Dharma Wanita Tugas dari Dharma Wanita yaitu membina anggota dan memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian sosial Melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian serta berbudi pekerti luhur.

22

Dharma Wanita Persatuan berfungsi sebagai wadah untuk melakukan pembinaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan Tugas Pokok Organisasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 7. Tujuan Organisasi Dharma Wanita Persatuan adalah terwujudnya kesejahteraan anggota dan keluarganya melalui peningkatan kualitas sumber daya anggota, untuk mendukung tercapainya tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Anggota organisasi ini meliputi, Istri Pegawai Negeri Sipil (PNS),

Istri Pejabat Negara Bidang Pemerintahan, Istri Pensiunan dan Janda PNS, Istri Pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang belum berstatus persero, Istri Pensiunan dan Janda Pegawai BUMN dan BUMD yang belum berstatus Persero, Istri Kepala Perwakilan Republik Indonesia (RI) diluar Negeri, Istri Perangkat Pemerintahan Desa, Istri Anggota Tentara Nasional Indoneia (TNI), istri Purnawirawan TNI, istri Polisi Republik Indonesia (POLRI), dan istri Purnawirawan POLRI yang suaminya ditugasi dalam lingkungan instansi pemerintah sipil, Pensiunan Pegawai Negeri Sipil Wanita

d. Sistem perlengkapan hidup dan teknologi (Helvira Kurniati, J3B110045) Masyarakat Kota Surabaya sudah semakin maju dalam sistem perlengkapan hidup dan teknologinya. Televisi, Tv Kabel, Media Online, Radio, Organisasi Kewartawanan, Internet Service Provider dan alat transportasi (motor, mobil, kereta api, pesawat dan lain-lain) sudah dapat digunakan oleh masyarakat perkotaan Surabaya. Surabaya memiliki berbagai media komunikasi sebagai berikut. 1) Televisi Merupakan media elektronik yang sudah berkembang pesat di Kota Surabaya. Surabaya menyiarkan saluran televisi lokal maupun nasional sebagai berikut.

TVRI Nasional - televisi stasiun siaran nasional pertama di Indonesia TVRI Jawa Timur - televisi stasiun siaran lokal pertama di Kota Surabaya RCTI Jawa Timur (juga menayangkan berita lokal Jawa Timur, disamping merelai RCTI Nasional)

SCTV Jawa Timur (juga menayangkan berita lokal Jawa Timur, disamping merelai SCTV Nasional). SCTV pertama kali didirikan di Surabaya pada tanggal 24 Agustus 1990 sebelum akhirnya menjadi televisi nasional.

23

MNCTV ANTV Indosiar Metro TV Trans TV Trans 7 Global TV TV One JTV, stasiun televisi swasta lokal pertama di Indonesia SBO TV Spacetoon Surabaya (TV Anak) Broadcast Media Group Arek TV MNTV BCTV(Business Channel) TV E (Televisi Edukasi) BBS TV MADURA CANNEL TV MADURA SUMENEP M&HTV (Medical & Health) TV9 Surabaya TV

2) Radio Surabaya memiliki puluhan radio, di antaranya: Suara Surabaya (Gambar 12), Radio Giga, Hard Rock FM dan lainnya. Radio yang berada di Surabaya dan frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Radio Surabaya dan Frekuensinya
Nama Suara Surabaya Radio Giga Hard Rock FM ColorsRadio Istara Radio Suzana Frekuensi FM 100.0 FM 99.6 FM 89.7 FM 87.7 FM 101.10 FM 91.30 Mercury Trijaya FM Global FM MTB FM MDC FM B-FM Nama FM 96.0 FM 104.7 FM 90.90 FM 102.7 FM 100.5 FM 92.90 Frekuensi

24

Nama myRadio Radio Kota Metro Female JT Media RRI Pro2 SASFM

Frekuensi FM 94.4 FM 88.10 FM 88.50 FM 88.9 FM 90.10 FM 95.2 FM 97.2 Pas FM Sonora RRI

Nama FM 98.0 FM 99.2

Frekuensi FM 104,3

Cakrawala Wijaya JJ EBS

FM 101.50 FM 103.5 FM 105.9 FM 105.9

Gambar 12. Radio Suara Surabaya 3) Media cetak

Surat kabar, antara lain: Jawa Pos, Radar Surabaya, Memorandum, Indonesia Daily News, Surabaya Post, Surabaya Pagi, Harian Pagi SURYA

Majalah, antara lain: Mentari (majalah anak-anak), VENUS (majalah wanita tren dan gaya hidup metroplis), Jayabaya (majalah berbahasa Jawa), Panyebar Semangat (majalah berbahasa Jawa), Liberty, Darmo Insight (Majalah Gratis paling eksis), Al Mursyid,Majalah FUN (Majalah ber Bahasa Inggris untuk anak), Majalah AYO (Majalah Anak-anak), Muzakki, Al-Falah, NURUL HAYAT (majalah komunikasi antar pembayar zakat, DOGFans News (media untuk penggemar dan pebisnis anjing).

Tabloid yang beredar di Surabaya, antara lain: Tabloid Nyata (gaya hidup), Tabloid Bunda (keluarga), Tabloid Ototrend (otomotif), Tabloid Ultima (game), Tabloid Agrobis (pertanian), Tabloid Komputek (komputer), Tabloid Gugat (politik), Tabloid Posmo (mistis), Tabloid Nurani (religius-Islam), Tabloid Gloria (religius-Kristen), Tabloid KISAH NYATA, Tabloid HOBIKU (tanaman hias), Tabloid GARDENIA (tanaman hias), Tabloid Top Phone (bursa handphone), Tabloid Probiz (properti bisnis).

25

e.

Sistem mata pencaharian (Bhintary Fauzya Putri, J3B110014) Surabaya merupakan salah satu pintu gerbang perdagangan utama di wilayah

Indonesia Timur. Dengan segala potensi, fasilitas, dan keunggulan geografisnya Surabaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Sektor primer, sekunder, dan tersier di kota ini sangat mendukung untuk semakin memperkokoh sebutan Surabaya sebagai kota perdagangan dan ekonomi. Bersama-sama sektor swasta saat ini, kota Surabaya telah mempersiapkan sebagai kota dagang international. Pembangunan gedung dan fasilitas perekonomian modern merupakan kesiapan Surabaya sebagai bagian dari kegiatan ekonomi dunia secara transparan dan kompetitif. Keberadaan perbankan mulai dari bank sentral, bank swasta nasional devisa dan non devisa, bahkan bank asing memperlihatkan perputaran uang dan modal yang tinggi dan telah mengglobal. Perekonomian Surabaya cukup menggairahkan dengan meningkatnya jumiah kredit untuk kegiatan modal kerja, investasi, dan konsumtif, khususnya kredit modal dan investasi pada sektor Industri dan perdagangan. f. Sistem religi (Helvira Kurniati, J3B110045) Agama Islam adalah agama mayoritas penduduk Surabaya. Surabaya merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam yang paling awal di tanah Jawa dan merupakan basis warga Nahdatul Ulama yang beraliran moderat. Masjid Ampel didirikan pada abad ke-15 oleh Sunan Ampel, salah satu pioner adalah Walisongo (Gambar 13). Agama lain yang dianut sebagian warga adalah Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Walaupun Islam merupakan mayoritas di Surabaya kerukunan umat beragama saling menghormati, menghargai dan saling menolong untuk sesamanya cukuplah besar, niat masyarakat Surabaya dalam menjalankan ibadahnya, hal ini bisa dilihat bangunan Masjid Agung Surabaya bersebelahan dengan salah satu gereja besar di kota ini.

26

Gambar 13. Masjid Sunan Ampel, Surabaya Di kota ini juga berdiri Gereja Bethany yang merupakan gereja terbesar di Asia Tenggara (Gambar 14). Tidak hanya itu saja banyaknya yayasan-yayasan sosial yang berazaskan agama juga banyak, mereka bekerja sama dalam kegiatan bakti sosial. Bahkan ada satu wadah Kerukunan Umat Beragama di Surabaya yang sering Exist dalam menyikapi suatu problem sosial manusia agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang akan merusak persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia pada umumnya serta masyarakat Jawa Timur khususnya.

Gambar 14. Gereja Bethany, Surabaya g. Kesenian (Bhintary Fauzya Putri, J3B110014) Kota Surabaya sering disebut pula dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Surabaya dikenal memiliki kesenian khas antara lain Ludruk (Gambar 15) yang merupakan seni pertunjukan drama yang menceritakan

27

kehidupan rakyat sehari-hari, Kidungan yang merupakan pantun yang dilagukan, dan mengandung unsur humor maupun Tari Remo yang merupakan tarian selamat datang yang umumnya dipersembahkan untuk tamu istimewa.

Gambar 15. Ludruk Selain kesenian khas diatas, budaya panggilan arek diterjemahkan sebagai Cak untuk laki-laki dan Ning untuk wanita. Sebagai upaya untuk melestarikan budaya, setiap satu tahun sekali diadakan pemilihan Cak & Ning Surabaya. Cak & Ning Surabaya dan para finalis terpilih merupakan duta wisata dan ikon generasi muda kota Surabaya.

28

V. KESIMPULAN

29

DAFTAR PUSTAKA

http://dechyku.wordpress.com/2010/12/12/definisi-masyarakat/ http://docnetters.wordpress.com/2011/03/06/taman-taman-kota-di-surabaya/ (Diakses: Sabtu, 11 Februari 2012 pukul 11.35) http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d1888f04c12d582a1cc400616c95a60e20097 2103 http://subiyakto.wordpress.com/2010/04/30/aspek-budaya-material-dan-nonmaterial-masyarakat http://www.surabaya.go.id/organisasi/index.php?id=2 http://www.google.co.id/search?q=pariwisata+di+surabaya&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a (Diakses: Senin, 14 Februari 2012 pukul 17.33)

http://www.google.co.id/search?q=perdagangan+surabaya&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a (Diakses: Senin, 14 Februari 2012 pukul 17.45) http://www.google.co.id/search?q=kegiatan+kesenian+budaya+di+surabaya&ie=utf8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a (Diakses: Senin, 14 Februari 2012 pukul 17.55) http://www.navigasi.net/goart.php?a=krtglang (Diakses: Senin, 14 Februari 2012 pukul 18.32) http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d1888f04c12d582a1cc400616c95a60e20097 2103 http://www.surabaya.go.id/index.php (Diakses: Sabtu, 11 Februari 2012 pukul 11.45) http://suarakawan.com/2011/03/22/bersih-bersih-kali-surabaya-ciptakan-surabayaindah/ (Diakses: Sabtu, 11 Februari 2012 pukul 10.55) http://id.shvoong.com/business-management/management/2084019-pengertianidentifikasi/#ixzz1mOtyDfMJ (Diakses: Sabtu, 11 Februari 2012 pukul 10.25)

30