Anda di halaman 1dari 2

Identifikasi Budaya Pada Masyarakat Non Perkotaan (Surabaya) a.

Ide atau gagasan (Afrodita Indayana, J3B110049) Dalam kegiatan kehidupan bermasyarakat, Surabaya merupakan satu kota yang mempunyai tingkat populasi yang tinggi dengan didukung letak geografis yang strategis berada di pesisir pantai timur laut pulau jawa dan menjadi sebuah pusat perdagangan dan industri,yang membuat Surabaya dihuni berbagai etnis,kepadatan populasi tersebut akan mempengaruhi beberapa aspek yaitu ekologi,ekonomi,dan sosial budaya di perkotaan maupun non perkotaan. Pengaruh tersebut dapat dalam berbentuk positif dan negatif. Maka diperlukan ide serta gagasan yang tepat untuk mengurangi dampak negatif yang akan menganggu kehidupan masyarakat Surabaya di perkotaan maupun non perkotaan. Masyarakat non perkotaan di kawasan Surabaya mempunyai berbagai macam ide dan gagasan. Dari segi ekologi banyak gagasan yang di ciptakan,antara lain masih digunakannya alat transportasi utama berupa delman di kawasan non perkotaan,sebagai alat transportasi untuk mengantar ke suatu tempat. Kegiatan masyarakat berupa kerjabakti kampung juga sering dilaksanakan sehingga membantu menyumbangkan dampak positif pada aspek ekologi di kawasan non perkotaan di Surabaya. Ide atau gagasan pada aspek ekonomi juga masih terlihat di kawasan non perkotaan berupa adanya beberapa masyarakat yang memanfaatkan kreatifitasnya untuk memproduksi suatu benda yang berfungsi dan memiliki daya jual di perkotaan. Letak Surabaya yang strategis berada di pesisir membuat sedikit masyarakat non perkotaan memilih mata pencaharian sebagai nelayan dan petani garam,bukan hanya itu ada pula masyarakat yang masih mengembangkan system pertanian. Masyarakat non perkotaan juga mempunyai banyak ide atau gagasan pada aspek social budaya,hal tersebut dikarenakan Surabaya mempunyai basis social dari kampung, maka setiap kampung memiliki identitas kebudayaannya sendiri-sendiri, disamping ludruk yang memang mayoritas dimiliki oleh kampung-kampung tersebut. Di samping ludruk Surabaya juga kaya dengan kesenian Siteran, Genderan, Jaran kepang, Gong Bumbung, dan Kentrung. Sejak awal Surabaya adalah wilayah strategis, maka daerah ini juga didiami oleh multi etnis. Maka berkembang pula di Surabaya pada era itu beragam kesenian seperti reyog, dan sandur

b. Bahasa (Afrodita Indayana, J3B110049)

Dialek Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih kasar. Wilayah Selatan, Perak (Kab. Jombang - bukan Tanjung Perak di Surabaya). masih menggunakan Dialek Surabaya, sementara Perak Selatan telah menggunakan Dialek Kulonan. Malang (beberapa daerah di wilayah Kabupaten dan Kota Malang juga menggunakan dialek ini). Wilayah Utara, Madura dapat menggunakan Dialek ini secara aktif. Wilayah Barat yaitu wilayah Gresik.Timur, belum diketahui secara pasti, namun di sepanjang pesisir tengah Jawa Timur (Pasuruan, Probolinggo sampai Banyuwangi) Dialek ini juga banyak digunakan. Logat Doudoan merupakan sempalan dari Dialek Surabaya, yang seperti pada logat Bawean merupakan akulturasi dari beberapa bahasa. Ditengarai logat Doudoan ini dipengaruhi selain Dialek Surabaya juga oleh Dialek Pantura Jawa Timur, Dialek Madura, dan lain-lain. Beberapa kosakata yang membedakan dari Dialek Surabaya, yaitu:

Pangot atau ongot alih-alih kata lading yang berarti pisau (ditengarai berasal dari Dialek Pantura Jawa Timur)

Thethek alih-alih kata mentor yang berarti kacang mete dan sebagainya Sebagian besar kosakata logat ini hampir sama dengan Dialek Surabaya sehingga dapat

dimasukkan ke dalam golongan Dialek Surabaya. Kemudian, ada beberapa kata dalam bahasa Jawa (baik Dialek Surabaya maupun Bahasa Jawa standar) yang diucapkan berbeda, antara lain:

Penggunaan suku kata berakhiran -h dan -oh menggantikan -ih dan -uh. Contoh: putih menjadi puth, uruh (busa) menjadi uroh, dsb.

Penggunaan i jejeg dan u jejeg pada beberapa suku kata yang harusnya dibaca i miring dan u miring. Contoh: cilik (kecil) menjadi ciliyk, kisut (keriput) menjadi kisuwt, dsb.