Anda di halaman 1dari 7

Nama Nim Study kasus

: Afrodita Indayana : J3B110049 : Kupang

Laporan Inventarisasi Dinamika dan Perilaku Budaya di Kawasan Perkotaan Eleme N o n Kebud ayaan 1 Bahasa Kupang dipengar uhi oleh sejarah dari kota Kupang yang didatang Bahasa i oleh berbagai macam pendata ng yang menyeb abkan suatu proses akultura si dan Sejak Zaman Koloni al Portug is dan terus berke mbang hingga sekara ng Singgah nya para pendata ng dari berbagai daerah yang dapat mempen garuhi Dinamik a Budaya Bahas a Melay u Kupan g (BMK ) http://khuclukz.wordp ress.com/2007/08/24/ belajar-bahasakupang/ [Di akses : Jumat , 13.14 WIB] http://bahasa.kompasi ana.com/2012/01/22/ mengenal-sub-bahasamelayu-indonesiatimur/ [Di akses : Jumat , 13.05 WIB] Deskrip si Awal Waktu Pemicu Perubahan Bentu k Sumber

Potensi Wisata

asimilas i hingga inovasi bahasa ang ada pada kesehari an masyara kat perkotaa n yang ada di Kupang 2 Sistem Kekera batan Kupang adalah salah satu kota yang memilik i berbagai macam etnis dilihat dari berbagai macam agama, dan Sistem kekera batan ini menga nut dari zaman nenek moyan g Pengaru h banyakn ya etnis dan keperca yaan yang berbeda Sistem klen, dan sistem pengk otakkotaka n masya rakat yang memp unyai kedaul atan adat buday Merupakan suatu kearifan lokal yang dapat dipelajari http://jurnalisntt.blogspot.com/2009 /02/pesona-arsitekturdan-megalitik- [Di akses : Jumat , 13.16 WIB] http://www.kupangkl ubhouse.com/aboutusi ndonesian.htm [Di akses : Jumat , 13.11 WIB]

budaya yang ada hal tersebut sehingg a mempen garuhi proses sosiolog i sistem kekerab atan yang berbeda beda di Kupang

a masin g masin g

1. Bahasa
Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan bahwa bahasa merupakan sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Secara umum bahasa juga merupakan suatu instrument vital dalam suatu proses interaksi dan komunikasi antar individu, maupun antar golongan. Kupang adalah suatu ibu kota provinsi yang berisi penduduk dari berbagai macam etnis dan golongan, Hal tersebut dipengaruhi oleh latar belakang sejarah kota Kupang yang merupakan salah satu kota yang menjadi tempat persinggahan Portugis pada zaman dahulu, yang membawa berbagai macam etnis dari berbagai macam daerah yang disinggahinya sebelum singgah di Kupang. Malaka merupakan salah satu daerah yang disinggahi oleh portugis, karena pada waktu itu malaka merupakan salah satu pusat perdagangan dunia pada masanya. Singgahnya bangsa

portugis di Malaka kemudian singgah di beberapa daerah lain di Indonesia dan akhirnya di Kupang secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak yang cukup besar dalam sistem komunikasi verbal yang digunakan untuk berbagai kegiatan vital masyarakat. Fakta tersebut membuktikan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi dinamika budaya masyarakat Kupang. Dinamika yang terjadi dibuktikan dengan fakta akulturasi bahasa yang terjadi dimana adanya sebuah kasus percampuran budaya bahasa yang terjadi antara budaya lokal dengan budaya pendatang. Proses akulturasi tersebut sehingga mempengaruhi proses terjadinya asimilasi yang berarti ada sebuah proses penyesuaian atas terjadinya proses akulturasi budaya bahasa, dari proses tersebut telah terbukti dengan lahirnya sebuah bahasa hasil akulturasi dan asimilasi bahasa salah satunya disebut Bahasa Melayu Kupang (BMK). Bahasa Melayu Kupang adalah sebuah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kupang khusunya pada perkotaan dalam kegiatan sehari hari. Bahasa ini telah menjadi suatu bahasa daerah yang digunakan masyarakat selain bahasa Indonesia. Penutur utama Sub-bahasa Melayu Kupang adalah masyarakat kota Kupang, namun masyarakat lain di daratan Timor terutama di kota Soe (Kabupaten TTS), Kefamenanu (Kabupaten TTU) dan Atambua (Kabupaten Belu) juga menggunakan bahasa ini dalam pergaulan sehari-hari. Masyarakat Kabupaten Sabu-Raijua dan Rote-Ndao, dua kabupaten pulau yang terletak dekat Kupang juga menggunakan bahasa ini dalam pergaulan sehari-hari terutama di perkotaan. Tentu saja Sub-bahasa Melayu Kupang memiliki lokalitas yang juga dipengaruhi oleh bahasa asing, namun unsur Melayu cukup dominan. Sub-bahasa Melayu Kupang sedikit mirip dengan sub-bahasa Melayu Ambon, namun hanya beberapa kosa kata saja. 1. Kata ganti orang

Beta, artinya saya/aku dalam bahasa Indonesia. Kata ini sebenarnya merupakan kosa kata Melayu namun kebanyakan dari kita mengetahui bahwa kata ini hanya digunakan oleh orang Ambon dan (Timor) Kupang.

Katong/batong, artinya kami yang merupakan singkatan dari kami orang atau beta orang.

Dong, artinya mereka berasal dari kata dia orang yang disingkat menjading dong

Kata ganti orang ketiga tunggal tetap dia, sedangkan Engkau/anda dalam sub-bahasa Melayu Kupang adalah Lu, mirip bahasa Jakarta, mungkin karena pengaruh etnis Tionghoa. 2. Beberapa contoh kata lainnya

Pi, merupakan singkatan dari kata pergi Pung, berarti punya A kurang? artinya ada apa merupakan singkatan dari apa yang kurang = ada apa. Talalu, artinya terlalu (kata favorit bang Haji Roma) Su, merupakan singkatan dari sudah Tambahan : Sonde, artinya tidak, pengaruh bahasa Belanda Zonder. Harim, artinya cewek merupakan pengaruh bahasa arab serta campuran beberapa bahasa daerah setempat.

Jika kata-kata itu kita gunakan dalam kalimat tanya dan jawaban di bawah ini maka akan kelihatan pengaruh bahasa Melayu.

Pertanyaan : Lu mau pi mana (Engkau mau pergi ke mana) ? Jawaban: Beta mau pi sana (saya mau pergi ke sana).

Pertanyaan: A kurang (ada apa) ? Jawaban: Dong talalu pamalas (mereka terlalu malas). Bahasa Melayu Kupang (BMK) telah terbukti merupakan salah satu bahasa yang

merupakan hasil akulturasi dan asimilasi dari berbagai macam daerah dengan melihat banyaknya kosa kata yang mirip dengan bahasa dari daerah lain, ataupun banyaknya kosakata yang merupakan hasil penyesuaian (asimilasi) dari daerah lain, namun pengaruh dinamika budaya tidak berhenti hingga disitu. Proses asimilasi yang terjadi telah mempengaruhi terjadinya proses interferensi (masuknya unsur serapan ke dalam bahasa lain yg bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa) Morfologis Bahasa Melayu Kupang (BMK) pada Bahasa Indonesia yang diaplikasikan di Sekolah. Fakta tersebut memberikan kesimpulan bahwa siswa mendapatkan kesulitan dalam penggunaan sistem Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam lingkuan sekolah, sehingga

terjadi kasus Interferensi bahasa tersebut. Kasus interferensi bahasa tersebut kemudian membuat para guru serta pihak yang mengutamakan pendidikan untuk generasi muda berfikir dan berinisiatif membuat suatu inovasi berupa suatu sistem pendidikan yang mengemas bagaimana menggabungkan dua bahasa yang berbeda tersebut menjadi satu dalam satu waktu pengajaran khusus, agar para siswa dan siswi dapat membedakan dan belajar, kapan ketika BMK digunakan dan kapan Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu diaplikasikan, Inovasi tersebut dikemas dengan membuat suatu mata pelajaran baru bagi semua siswa dan siswi yaitu mata pelajaran muatan lokal bahasa melayu kupang. Proses terjadinya sebuah dinamika budaya selalu menghasilkan akulturasi, asimilasi dan inovasi yang pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik untuk masyarakat Kupang khususnya. Fakta tersebut telah disepakati dengan aplikasi bahasa yang telah dilakukan sejak zaman nenek moyang mereka, dan pada dasarnya proses tersebut juga tidak mengganggu kearifan lokal yang ada, Karena proses dinamika ini terlahir akibat perilaku masyarakat yang menyepakati tentang adanya suatu proses dinamika bahasa yang akhirnya di aplikasikan hingga sekarang.

2. Sistem Kekerabatan Kupang merupakan kota yang telah melalui proses pengaruh dinamika budaya dengan akulturasi, asimilasi, dan inovasi dari masyarakat yang sekitar. Pengaruh yang dihasilkan tidak hanya pada elemen bahasa saja, namun pengaruh dinamika ini juga mempunyai efek hingga perilaku sosiologis yang dianut oleh masyarakat. Perilaku sosiologis tersebut berupa sistem kekerabatan yang berbeda pada setiap golongan yang ada. Komunitas muslim di Kupang pada zaman dahulu telah memberlakukan sistem klen yang dianut dalam sistem kekerabatan mereka, hal ini bertujuan agar kelompok mereka tidak tercampuri oleh budaya lain, sehingga ketika ada anggota masyarakat yang ingin menikah dengan komunitas ini, anggota masyarakat tersebut harus masuk kedalam komunitas terlebih dahulu. Sistem ini memang cenderung diskriminatif namun sistem ini juga mempunyai dampak konservatif pada komunitasnya sendiri, namun pada saat ini sistem ini telah dihapuskan dan hanya ada beberapa kelompok saja yang menganut sistem ini, sistem klen ini tidak terpengaruh akan sistem keturunan patrilenial ataupun matrilenial. Fakta lain terjadi dengan bentuk sistem kekerabatan yang dijalin melalui Rumah adat Bena terbuat dari kayu, bambu dan alang- alang berderet rapi pada sisi kiri dan kanan

berhadapan dengan halaman tengah berbentuk segi empat yang disebut kisanata. Hubungan harmonis terjalin antar klan yang mendiami rumah berarsitektur tradisional dalam sistim matrilinear. Rumah adat di Kampung Bena terdiri dari tiga jenis bangunan utama yaitu sao saka puu, sao saka lobo dan sao wua ghao serta bangunan pendukung lainnya yakni ngadhu, bhaga, sao kaka dan wekawoe. Hubungan vertikal degan sistem pola kekerabatan antar klan yang ada di Bena berlangsung harmonis dengan model Kampung Bena yang memiliki halaman kisanatha bersama menunjukan kesetaraan antar suku. Kearifan peradaban pada arsitektur tradisional Bena ini adalah setiap kegiatan yang akan dilaksanakan di Kampung Bena selalu didasari pada kepercayaan terhadap leluhur serta menghargai keberadaan alam, sehingga setiap kegiatan diusahakan meminimalisasi eksploitasi alam dan lingkungan. Kegiatan sosiologi dalam bentuk sistem kekerabatn pada masyarakat Kupang, pada dasarnya menganut sistem yang berbeda beda, hal tersebut dipengaruhi oleh banyaknya budaya yang datang dan mempunyai kedaulan masing masing. Fakta tersebut tidak serta merta menganalogikan bahwa dinamika social dalam bentuk akulturasi, asimilasi dan inovasi tidak berkembang dalam hal ini, namun masyarakat berfikir bahwa setiap elemen masyarakat mempunyai hak untuk membatasi adanya dinamika budaya tersebut, dan keputusan masyarakat tersebut tidak sepenuhnya akan membuat suatu dampak negative yang besar, karena masyarakat tentu telah mengasumsikan hal tersebut, sehingga mereka membuat suatu kegiatan positif yang sifatnya untuk menutupi hal yang sifatnya agak sedikit diskriminatif tersebut.