Anda di halaman 1dari 57

Kelompok 4 : Lidra Yanti Meisir Efendi Mila Gusmawati Mirajul Anwar Nanda Novita Neftriani Azrul

XI IPA 4 T.A 2010/2011 SMA N 1 Ampek Angkek

SISTEM KOORDINASI suatu sistem yang mengatur keserasian kerjasama sistem organ yang terdapat dalam tubuh, sehingga setiap sistem organ tersebut dapat melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing.

Sistem Koordinasi melibatkan : Sistem Saraf Sistem Hormon Sistem Indra

Sistem saraf adalah sekumpulan sel-sel saraf atau neuron-neuron, yang berfungsi menyelenggarakan kerjasama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh
Disusun oleh: Neuron Neuroglia

sel-sel yang memiliki kepekaan terhadap rangsangan Fungsi : melanjutkan impuls dari organ penerima rangsangan ke pusat susunan saraf ataupun sebaliknya.

Macam-macam sel saraf (neuron) menurut struktur dan fungsinya :


1. Neuron sensorik : sel saraf yang menghantarkan impuls dari reseptor ke susunan saraf pusat. 2. Neuron motorik : sel saraf yang menghantarkan impuls dari susunan saraf pusat ke organ efektor. 3. Neuron intermediet : sel saraf yang menghubungkan antara sel saraf sensorik dengan sel saraf motorik.

kelompok sel Fungsi : memberikan nutrisi / makanan serta proteksi pada sel saraf agar dapat menjalankan kegiatannya dengan baik. pemisah neuron dengan jaringan lainnya.

Neuron sensoris / reseptor bertugas menerima rangsang dan meneruskannya ke saraf pusat untuk diolah. Apapun bentuk rangsangannya, akan dirubah menjadi sinyal listrik (impuls listrik) dan diteruskan ke saraf pusat. Itulah salah satu keajaiban dari otak. Walaupun semua impuls itu berupa arus listrik, tetapi otak dapat membedakan rangsangan tersebut sebenarnya berupa apa.

1. 2. 3.

Rangsangan diterima reseptor Terjadi depolarisasi pada reseptor Impuls dijalarkan

Polarisasi : keadaan istirahat, bagian dalam membran lebih negatif daripada bagian luar membran Depolarisasi : keadaan terangsang, bagian dalam membran lebih positif dari bagian luar membran Hiperpolarisasi Repolarisasi : keadaan kembalinya neuron ke keadan istirahat/ polarisasi

Depolarisasi

Polarisasi

SINAPSIS

1. 2. 3.

4.
5.

6.

Impuls sampai di ujung akson pra sinaps Terjadi eksositosis vesikel neurotransmiter Neurotransmiter keluar di celah sinaps Neurotransmiter berenang menuju & menempel di reseptornya, di neuron pasca sinaps Menempelnya neurotransmiter pada reseptornya mengakibatkan terjadinya depolarisasi neuron pasca sinaps, shg terbentuk impuls baru Impuls yg terbentuk akan dirambatkan sampai ke saraf pusat


1. 2. 3.

Adalah zat yang bertugas membawa impuls dalam sinapsis Contoh neurotransmiter:
Asetilkolin Dopamin Serotonin Noradrenalin

4.

Otak Saraf pusat

Otak besar Otak tengah Otak depan Otak kecil Sumsum lanjutan

Saraf sadar

Sumsum tulang belakang


Sistem saraf 12 pasang saraf otak (saraf kranial)

Saraf somatik
31 pasang saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal) Saraf tak sadar

Saraf tepi Saraf otonom

Saraf simpatetik
Saraf parasimpatetik

1. Sistem saraf pusat


a. Otak (brain / cranium) b. Sum-sum

2. Sistem saraf perifer


a. 12 pasang dari kranial b. 31 pasang dari vertebral

Otak merupakan pusat koordinasi utama, terletak di rongga kepala dan dilindungi oleh tempurung kepala.

Otak besar/Otak depan (Cerebrum) Otak tengah Otak belakang

Bagian belakang (lobus oksipitalis) berperan dalam penglihatan Bagian samping (lobus temporalis) berperan sebagai pusat pendengaran Bagian depan (lobus frontalis) berperan sebagai penendalian otot Bagian tengah (lobus parietalis) berperan peka trerhadap perubahan panas, dingin, tekanan dan sentuhan pada kulit.

GAMBAR PEMBAGIAN OTAK BESAR

terletak didepan otak kecil dan jembotan varol Fungsi : pusat dan refleksi mata dan pendengaran. mengontrol gerakan, kedudukan tubuh dan kesadaran

Jembatan Varol (pons varoli) penghubung lobus kiri dengan lobus kanan otak kecil penghubung otak kecil dengan korteks otak besar. Sum-sum lanjutan (medula oblongata) membentuk bagian bawah batang otak. Otak Kecil (cerebellum) mengatur sikap/posisi tubuh, kesimbangan dan koordinasigerakan otot yang terjadi secara sadar

Sum-sum lanjutan (medula oblongata) menghubungkan otak dengan sum-sum tulang


belakang

pusat pengatur pernapafasan Sum-sum tulang belakang (medula spinalis) lanjutan dari sum-sum lanjutan sampai ke vertebrata
lumbalis ke dua (ruas ke dua tulang ekor)

pusat terjadinya gerak refleks penghubung impuls dari dan ke otak.

Gerak Refleks adalah gerak capat yang terjadi sebagai mekanisme respon untuk mengelak dari rangsangan yang membahayakan. Refleks berasal dari kata reflexus yang artinya melengkung balik Gerak refleks dapat dibedakan menjadi: - Refleks bawaan/tunggal - Refleks kompleks - Refleks dipelajari

Busur refleks : Rangsangan Reseptor Saraf Sensoris Saraf Pusat Saraf Motorik Efektor (organ pelaksana)

Sistem saraf tepi berfungsi menghubungkan sistem saraf pusat dengan organ-organ tubuh Berdasarkan arah impuls, saraf tepi terbagi menjadi: - Sistem saraf aferen - Sistem saraf eferen Aferen membawa impuls dari reseptor ke saraf pusat Eferen membawa impuls dari saraf pusat ke efektor

Sistem saraf tepi terbagi menjadi dua, yaitu:

Sistem saraf somatik

Terdiri atas 12 pasang saraf otak (saraf kranial) dan 31 pasang saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal) Saraf kranial terdiri atas: Sensorik (1,2 dan 8) Motorik (3,4,6,11 dan 12) Sensorik dan motorik (5,7,9 dan 10) Saraf spinal merupakan saraf campuran sensorik (berasal dari dorsal) dan motorik (berasal dari ventral)

Sistem saraf otonom Disebut juga saraf tak sadar Sistem saraf otonom dibedakan menjadi: - Sistem saraf simpatik - Sistem saraf parasimpatik
parasimpatik
Mengecilkan pupil Menstimulasi aliran ludah

simpatik
Membesarkan pupil Menghambat aliran ludah Mempercepat detak jantung Mengerutkan bronkus Menghambat peristalsis dan sekresi Menstimulasi perubahan glikogen ke glukosa Sekresi andrenalin dan norandrenalin Rantai Ganglia simpatik Menghambat kontraksi kandung kemih

Memperlambat detak jantung


Membesarkan bronkus Menstimulasi peristalsis dan sekresi Menstimulasi pelepasan bilus Mengerutkan kandung kemih

Mata adalah alat indra yang peka terhadap cahaya Mata dilindungi oleh alis, kelopak mata dan kelenjar air mata. Dinding bola mata terdiri dari tiga lapis, yaitu: Sklera Koroidea retina

Sklera adalah lapisan terluar, keras dan berwarna putih (putih mata) Bagian depan lapisan ini menonjol dan disebut kornea Koroidea merupakan lapisan kedua, mengandung banyak pembuluh darah. Bagian depan lapisan ini sedikit terbuka dan disebut dengan pupil Sel-sel koroidea disekitar pupil mengandung warna yang disebut iris Lensa mata terletak dibelakang pupil, berfungsi membentuk bayangan benda. Lensa mata berbentuk cembung dan lentur

Retina atau selaput jala sebagai penangkap bayangan benda. Retina mengandung reseptor yang peka terhadap cahaya, yaitu:
Sel batang (basilus) berfungsi pada cahaya suram dan tidak mengenal

warna Sel kerucut (konus) berfungsi pada cahaya terang dan mengenal warna

GAMBAR STRUKTUR MATA

Telinga adalah organ yang peka terhadap suara. Telinga terdiri dari: - telinga luar - Telinga tengah - Telinga dalam

Telinga luar terdiri atas:


- Daun telinga - Lubang telinga - Gendang telinga

Cairan endolimfa

ampula Cairan limfa

Telinga tengah terdiri atas:


- Tulang martil (malleus) - Tulang landasan (inkus) - Tulang sanggurdi (stapes)

Telinga tengah dihubungkan dengan mulut oleh saluran eustachius

Cairan endolimfa

ampula Cairan limfa

Telinga dalam terdiri atas:

Koklea berfungsi dalam penerimaan suara Saluran gelung berfungsi sebagai alat keseimbangan

- Rumah siput (koklea) - Tiga saluran gelung (kanalis semisirkularis)

Kulit adalah alat indra yang peka terhadap rangsangan berupa sentuhan, tekanan, sakit, panas dan dingin
sakit

dingin

panas sentuhan

tekanan

Hidung mempunyai kemoreseptor yang peka terhadap rangsangan zat kibia berbentuk gas, yaitu bau.

Lidah memiliki kemoreseptor yang peka terhadap zat kimia yang larut dalam air. Permukaan lidah kasar karena dipenuhi tonjolan-tonjolan yang disebut papila Di celah-celah papila terdapat kuncup-kuncup pengecap. Ada empat kuncup pengecap, yaitu:
Pengecap manis pada ujung lidah Pengecap asin pada tepi lidah Pengecap pahit pada pangkal lidah Pengecap asam pada tepi lidah bagian belakang

Astigmatis (mata silindris) Penyebab: bola mata tidak bulat Akibat: tidak dapat melihat garis-garis horisontal dan vertikal bersamaan Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata silindris Miopi (rabun jauh) Penyebab: lensa mata tidak dapat menipis Akibat: tidak dapat melihat jauh dengan jelas Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata berlensa cekung Hipermetropi (rabun dekat) Penyebab: lensa mata tidak dapat menebal Akibat: tidak dapat melihat dekat dengan jelas Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata berlensa cembung

Presbiopi Penyebab: daya akomodasi mata berkurang Akibat: tidak dapat melihat jauh maupun dekat dengan jelas Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata bifokal Rabun senja Penyebab: kekurangan vitamin A Akibat: tidak dapat melihat dengan baik pada saat senja dan malam hari Pencegahan dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A Keratomalasi Penyebabkekurangan vitamin A yang parah Akibat: kornea mata keruh, permukaan mata kering dan kasar dan penglihatan berkurang hingga kebutaan

Katarak Penyebab: lensa mata keruh dan kabur Akibat: cahaya tidak sampai ke retina Dapat diatasi dengan operasi Juling Penyebab: ketidakserasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan kiri Dapat diatasi dengan operasi Glaukoma Penyebab: penyumbatan disaluran bola mata menyebabkan peningkatan tekanan pada bola mata Akibat: kebutaan Kelainan ini dapat diatasi dengan obat-obatan dan operasi Otosklerosis Penyebab: tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak leluasa Akibat: tuli konduksi yang menahun

Buta Warna Penyebab: keturunan Akibat: tidak dapat melihat warna tertentu Kelainan ini tidak dapat disembuhkan. Lebih banyak menyerang laki-laki Radang telinga Penyebab: baketri dan virus Menyerang bagian luar melalui kotoran yang masuk ketika berenang Menyerang bagian dalam, bakteri atau virus masuk dari rongga mulut melalui saluran eustachius Anosmia penyebab: cidera/infeksi didasar kepala, keracunan timbal, merokok, tumor otak bagian depan Akibat: kehilangan kemampuan unutuk membau/mencium Pengobatan tergantung dari penyebabnya