P. 1
METODE PENELITIAN DENGAN PENDEKATAN GROUNDED THEORY, BAB 4 Thesis

METODE PENELITIAN DENGAN PENDEKATAN GROUNDED THEORY, BAB 4 Thesis

|Views: 614|Likes:
Dipublikasikan oleh Aziz Fuadi
Bab ini membahas tentang metode penelitian dengan pendekatan Grounded Theory
Bab ini membahas tentang metode penelitian dengan pendekatan Grounded Theory

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Aziz Fuadi on Apr 18, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $10.00 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/06/2014

$10.00

USD

pdf

text

original

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1. Alasan Logis Digunakannya Pendekatan Alternatif yang Dipilih Untuk mengetahui secara detail tentang fenomena kohesi dalam tim maka digunakanlah pendekatan alternatif. Dengan pendekatan ini penulis akan dapat menggali sikap, perilaku, persepsi, kebiasaan dan pemikiran anggota tim tentang kohesi sehingga dapat diperoleh penjelasan tentang tingkat kohesi dalam tim. Creswell (2007:39-40) dalam bukunya berjudul ‘‘Qualitative Inquiry & Research Design“ menyatakan bahwa penelitian kualitatif digunakan ketika ingin (a) menggali masalah yang ada dan mendapatkan jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan hanya melihat informasi dari literatur dan berdasarkan hasil riset yang lain, (b) mengetahui secara detail dan lengkap tentang masalah yang diteliti, (c) memberdayakan informan sehingga peneliti mendapatkan jawaban permasalahan dari mereka berawal dari analisa data sampai interpretasi, (d) mengetahui dalam konteks apa informan memberikan informasinya, (e) menindaklanjuti hasil penelitian kuantitatif sehingga mendapatkan jawaban dari pertanyaan “mengapa“ dan ukuran kuantitatif tidak cocok dengan permasalahan, (f) mengembangkan teori atau teori yang ada tidak seluruhnya mampu menangkap kompleksitas masalah yang diteliti.

41

42

Penelitian ini dilakukan dengan jalan mengamati anggota tim dalam kepanitiaan, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa, perasaan, norma, sikap mental, karakter, nilai-nilai dan penafsiran mereka dengan terhadap lingkungan kerjanya dalam sebuah tim. Dalam penelitian ini yang diamati adalah tim kepanitiaan yang sedang menangani kegiatan pendidikan dan pelatihan.

4.2. Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini sekunder. Data primer jenis datanya adalah data primer dan

diambil dari hasil pengamatan langsung dan

wawancara semi terstruktur dengan anggota dalam satu tim kepanitiaan. Ada 4 tim kepanitiaan yang anggotanya dipilih sebagai informan. Masingmasing tim terdiri dari 5 orang anggota dengan job description yang berbeda. Tim kepanitiaan tersebut adalah tim untuk Diklat Guru Mapel Bahasa Indonesia Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Dasar, Diklat Guru Mapel Penjaskes Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Dasar, Diklat Guru Mapel IPS Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Dasar dan Diklat Tematik Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Dasar. Target informan dari penelitian ini adalah sejumlah 19 orang karena peneliti juga sebagai anggota tim yaitu masuk dalam tim kepanitiaan Diklat Guru Mapel IPS Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Dasar. Informan yang berhasil diwawancarai sejumlah 16 orang karena 3 orang informan tidak bersedia untuk diwawancarai dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu.

kepercayaan.43 Peneliti mencatat seluruh informasi yang ada tanpa merekayasa pendapat dan pemikiran informan serta tanpa memaksakan diri untuk mendapatkan data yang diinginkan. kerja sama dan kepercayaan antar anggota. Shanley dan Langfred (1998) yang mengartikan kohesi sebagai sikap saling membantu. Ho-Pong To and dari beberapa pendapat yaitu: Chan (2006) yang memaknai kohesi dengan unsur pembentuknya interaksi. Pertanyaan dalam wawancara dibuat berdasarkan pengertian kohesi yang disimpulkan oleh penulis Chan. Jadi peneliti membebaskan informan untuk mengemukakan apa yang pandangan-pandangannya dihadapi. Robbins (2007) mendefinisikan kohesi sebagi tingkat ketertarikan antar anggota kelompok dan termotivasi untuk tetap tinggal di dalam kelompoknya. Dailey (1997) yang mengartikan kohesi sebagai keinginan bagi anggota kelompok untuk tinggal di kelompoknya. rasa memiliki. Dari beberapa definisi kohesi tersebut selanjutnya dibuat daftar pertanyaan semi terstruktur tentang kohesi yang meliputi unsur . keinginan untuk berpartisipasi dan saling membantu. sedangkan Michalisin dan Tangpong (2007) mengartikan kohesi sebagai derajat ketertarikan anggota tim untuk tetap tinggal pada timnya. Di samping data dan penafsiran peneliti terhadap primer mengumpulkan data sekunder berupa daftar kepanitiaan dan dokumen pendukung lainnya yaitu job description dan data pegawai pada Balai Diklat Keagamaan Surabaya.

penelitian dari individu-individu yang telah . sesuai dengan dalam menjawab pertanyaan peneliti. Pertanyaan tesebut dibuat sebagai panduan peneliti untuk mengumpulkan data di lapangan. Data hasil wawancara ini digabungkan dengan pengamatan langsung sampai tidak ada lagi data baru yang menjelaskan fenomena yang sedang diteliti.44 ketertarikan anggota tim untuk tinggal di dalam tim termasuk persepsi mereka terhadap anggota tim. Prosedur Pengumpulan Data Penelitian ini melibatkan semua anggota tim kepanitiaan sehingga informannya adalah. semua anggota tim kepanitiaan pada 4 diklat dengan jumlah 20 orang. sikap saling percaya. Konsep purposive sampling dipakai dalam riset kualitatif dengan tujuan untuk menggali informasi dan memperoleh pemahaman tentang permasalahan dan fokus dipilih (Creswell. Wawancara kemauan informan dilakukan pada saat jam kerja yaitu pada saat anggota tim melaksanakan tugas kepanitiaan. rasa memiliki tim.3. Setaip informan diberikan pertanyaan yang bersifat semi terstruktur dengan lama wawancara yang bervariasi. 2007: 125). penggalian pemahaman tentang interaksi dalam tim. partisipasi anggota dan sikap saling membantu. tetapi tidak menutup kemungkinan melebarnya pertanyaan pendalaman tentang fenomena yang ada. 4.

penelitian ini diharapkan mampu menggali fenomena kohesi dalam tim dan faktor yang . bukan sekedar sederet angka atau sejumlah tema yang kurang berkaitan (Strauss dan Corbin. Proposisiproposisi yang telah disusun akan terbentuk menjadi sistem proposisi. sub kategori. Menurut Glaser (2006) dalam bukunya “ The Discovery of Grounded Theory: Strategy for Qualitative Research” menekankan bahwa teori yang dihasilkan dari data bukan berarti semua hipotesis dan konsep datang dari data namun merupakan hasil kerja yang sistematis dalam hubungannya dengan data selama proses penelitian sehingga ide bisa saja datang dari sumber lain. 2007). Penyusunan proposisi tersebut dilakukan setelah proses selective coding. namun penelitian ini tidak semata-mata ingin membangun teori namun teknik analisisnya berfungsi untuk menggali fenomena yang ada dalam bentuk temuan konsep. Teknik Analisis Analisis dalam penelitian ini menggunakan grounded theory. sub kategori dengan kategori dan kategori dengan kategori inti. Temuan penelitiannya merupakan rumusan teori tentang realitas yang diteliti. kategori dan kategori inti.4. yaitu prosedur yang sistematis yang diperoleh secara induktif untuk menghasilkan teori dari sebuah fenomena. Dengan ditemukannya serangkaian proposisi tersebut. Meskipun tujuan utama dalam teknik grounded theory adalah membangun teori.45 4. Dari temuan tersebut selanjutnya disusun proposisi yang menjelaskan hubungan anatara konsep dengan sub kategori.

Menurut Strauss dan Corbin (2007) pengkodean terdiri dari tiga tahap yaitu open coding. peristiwa atau sebuah fenomena.46 menentukan Surabaya. Semua data ditarik substansinya menjadi konsep. Coding ini diawali dengan proses open coding yaitu pengkonsepan pada tingkat awal yang ditulis dari data yang diperoleh dari catatan lapangan yaitu hasil wawancara dan pengamatan. peneliti memulai dengan prosedur theoritical sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan .4. Peneliti memfokuskan analisisnya pada pola kejadian yang selanjutnya akan ditarik konsepnya. 4. Konsep yang telah teridentifikasi selanjutnya dikelompokkan menjadi kategori.1. Kejadian yang berbeda kemungkinan akan memunculkan kategori-kategori baru. Agar masalah yang diteliti menjadi fokus maka dalam open coding. Open Coding Strauss dan Corbin (2007) menjelaskan bahwa coding merupakan proses penguraian data. Dalam proses ini peneliti mengidentifikasi dan menyusun konsep berdasarkan sifat dan ukurannya. kohesi dalm tim kepanitiaan di Balai Diklat Keagamaan Analisis menggunakan grounded theory dimulai dengan proses pengkoden (coding). axial coding dan selective coding. Penggalian konsep dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang data selanjutnya membandingkan persamaan dan perbedaannya pada masingmasing insiden. pengkonsepan dan penyusunan kembali dengan cara-cara baru.

Axial Coding Axial coding adalah prosedur penempatan data kembali dengan cara-cara baru setelah pengkodean terbuka dengan membuat hubungan antar kategori. 2007). 2004). Strauss dan Corbin menyarankan agar peneliti mempertimbangkan hal-hal berikut: (a) selama pengkodean terbuka banyak kategori berbeda yang teridentifikasi.2. sedangkan konsekuensi menunjukkan hasil yang diperoleh individu atau kelompok dari tindakan/interaksi yang dilakukannya (Strauss dan Corbin.47 konsep-konsep yang terbukti berhubungan secara teoritik dengan teori yang sedang dibangun (Glaser dan Holton. strategi aksi/interaksi dan konsekuensi. Dalam pengkodean ini analisis difokuskan pada spesifikasi kategori berdasarkan kondisi yang memunculkannya yaitu konteks. Karenanya. Strauss dan Corbin (2007) mengemukakan bahwa meskipun peneliti sudah sampai pada axial coding namun pada saat yang bersamaan bisa menggunakan open coding untuk menemukan kategorikategori baru. 4. mengatasi.4. (b) label konseptual aktual yang ditempatkan pada kategori tidak harus menunjukkan hubungan . Strategi aksi/interaksi menunjukkan hal-hal yang dilakukan individu atau kelompok dalam memberikan reaksi terhadap fenomena. Konteks menunjukkan sejumlah sifat khusus yang berhubungan dengan suatu fenomena yang memunculkan digunakannya aksi/interaksi untuk mengelola. melaksanakan dan memberikan tanggapan terhadap fenomena tertentu.

3. yaitu penghubungan subkategori fenomena. (d) subkategori dikaitkan dengan kategorinya melalui model paradigma. Selective Coding Menurut Strauss dan Corbin (2007) selective coding adalah proses pemilihan kategori inti. pengaitan kategori inti dengan kategori lainnya secara sistematis. (b) mengaitkan kategori tambahan dengan kategori inti dengan menggunakan paradigma. tindakan/interaksi dan konsekuensi. (d) mengabsahkan hubungan tersebut terhadap data. kategori kondisi yang menunjukkan kondisi kausal. (c) setiap kategori akan menunjukkan sifat dan terukur. strategi dan konsekuensi. (c) menghubungan kategori berdasarkan ukurannya.4. 4. dengan konteks. (e) mengganti kategori-kategori yang perlu diperbaiki. strategi yang mempengaruhi. Tahapan yang harus dilalui dalam selective coding adalah: (a) menjelaskan dan menganalisis alur cerita.48 suatu kategori dengan suatu kondisi. Proses analisis data pada grounded theory dalam bentuk bagan seperti di bawah ini: dapat digambarkan . pengabsahan hubungan dan mengganti kategori yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut.

Selanjutnya sub kategori dan dengan ”model paradigma”.49 Gambar 4. Dari model dihubungkan paradigma ini dimungkinkan terbentuk atau tidak terbentuk sub kategori baru. data tesebut diberi label.1 Proses Analisis Data Open coding Categories Subcategories Axial coding Uncover relationships among categories Selective coding Discover the ‘core’ category . Dari konsep yang mempunyai kemiripan akan kategori terbentuk sub kategori.1 dapat dijelaskan sebagai berikut: analisis coding diawali dengan dari data. develop theoretical framework Concepts Arah Analisis Sumber: Harwood (2002) dalam Warburton (2005) Propses analisis data model Harwood (2002) seperti pada Gambar 4. selanjutnya pengkonsepan mengumpulkan konsep yang mempunyai kemiripan. Jika tidak terbentuk sub kategori baru. Pada saat yang sama dapat ditemukan kategori dengan cara mengidentifikasi bahwa konsep tersebut layak sebagai kategori. langkah selanjutnya adalah .

tetapi jika diperoleh bukti. maka dicari bukti dari data yang menunjukkan bahwa sub kategori tersebut memang muncul berdasarkan data.2. sub kategori dipakai dan dihubungkan dengan kategori. Jika tahapan analisis model Harwood (2002) diurai menjadi maka akan terlihat seperti pada Gambar 4.50 pemilihan kategori inti (core category). sub kategori dan kategori yang telah ditemukan. alur . Langkah terakhir adalah pemilihan kategori inti (selective coding) di mana kategori tersebut mewakili seluruh konsep. sub kategori tidak dipakai. Jika tidak diperoleh bukti. namun jika terbentuk sub kategori baru.

2 Tahapan dalam Analisis Coding Data O p e n C o d i n g Pengkonsepan Kategori Pengumpulan konsep yang mempunyai kemiripan Pembentukan sub kategori/kategori dari konsep yang mempunyai kemiripan A x i a l C o d i n g Penghubungan sub kategori dengan kategori melalui model paradigma Terbentuk sub kategori baru Tidak ada Cari bukti dari data Tidak terbentuk sub kategori baru Ada Sub kategori tak terpakai Hubungkan dengan kategori Sub kategori terpakai Selective Coding Pemilihan kategori inti Sumber: Strauss dan Corbin (2007 ) diolah 4.5. Theoritical Sampling (Penyampelan Teoritis) .51 Gambar 4.

penyampelan dilakukan berdasarkan tujuan teoritis. Fase Desain Penelitian . 4. Tahapan dalam Grounded Theory Menurut Pandit (1996) tahapan dalam grounded theory terdiri dari: fase desain penelitian. teori coding di dan mana peneliti data menggabungkan proses analisis selanjutnya menentukan data-data yang akan dikumpulkan dan di mana mendapatkannya yang berguna untuk pengembangan teori.1. Peneliti mengidentifikasi munculnya gap di dalam teori sehingga akan menuntun peneliti untuk mendapatkan sumber-sumber data selanjutnya dengan menerapkan gaya wawancara yang sesuai. Peneliti mendasarkan penyampelan teoritikanya pada konsep-konsep yang terbukti berhubungan secara teoritik dengan teori yang ia kembangkan. Karenanya.6. Penyampelan teoritik bersifat kumulatif sehingga konsep-konsep yang berhubungan akan berakumulasi melalui hubungan timbal balik antara pengumpulan dan analisis data (Strauss dan Corbin. fase penyusunan data.52 Menurut Glaser (2004) penyampelan teoritis adalah sebuah proses pengumpulan data untuk menghasilkan pengumpulan.6. fase pengumpulan data. 2007). fase analisis data dan fase perbandingan literatur. 4.

1996). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas internal.6. dengan tujuan agar memudahkan proses analisis data dan evaluasi terhadap proses (Pandit. selanjutnya pemilihan kasus yang bermanfaat secara teoritis (Pandit. buku-buku literatur dan internet. usaha memfokuskan pada masalah yang diteliti dan membatasi variasi yang tidak relevan. Selanjutnya peneliti masuk ke lapangan untuk mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara yang mendalam sekaligus melakukan analisis data. 1996) 4. Fase Pengumpulan Data Pengumpulan datanya dilakukan dengan memilih informan yang mampu memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai tujuan penelitian.6.3. . Fase Penyusunan Data Kegiatan dalam fase ini adalah melakukan penyusunan peristiwa secara berurutan.2. 4. Tahap pertama dari fase ini adalah membuat protokol pengumpulan data yang akurat dengan menggali informasi dari informan (data primer) dan dari sumber data sekunder yang terdiri dari jurnal ilmiah.53 Fase ini meliputi pendefinisian pertanyaan penelitian.

4.6. Pada proses ini akan ditemukan konsep melalui proses coding yaitu open coding. Fase Analisis Data Analisis data adalah pusat dari penelitian grounded theory (Pandit. Fase Perbandingan Literatur Fase perbandingan literatur dilakukan dengan cara membandingkan temuan yang muncul dari hasil penelitian dengan teori yang ada dalam literatur. Tahap-tahap tersebut bisa digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut: .5.4.6. 1996). axial coding dan selective coding seperti yang penulis uraikan sebelumnya. Di sini dilakukan kegiatan membandingkan dengan kerangka kerja yang bertentangan yang bertujuan untuk menyempurnakan definisi konstruk dan validitas internal serta perbandingan dalam kerangka kerja yang selaras yang bertujuan untuk meningkatkan validitas eksternal di mana teori yang muncul mampu digeneralisasi.54 4.

Jika proposisi tidak terangkai. kategori dan kategori inti perlu ditampilkan menjadi sistem proposisi.6. namun agar temuan dari penelitian tersebut menjadi rumusan teori maka proposisi yang menunjukkan hubungan antara konsep dengan sub kategori. Glaser dan Strauss (2006) juga menyatakan bahwa proposisi bisa ditampilkan atau tidak. Proposisi haruslah terangkai dan terkait satu dengan lainnya sehingga menjadi satu totalitas sistem yang terpadu.55 Gambar 4. . Menurut Ihalauw (2008) teori terbangun dari sistem proposisi. Tahapan Fase Penyusunan Proposisi penelitian menurut Pandit (1996) tidak memasukkan penyusunan proposisi sebagai tahapan yang harus dilalui.6.3 Tahapan Grounded Theory Data Analysis (4) Theory Development (5) Data Ordering (3) Theory Saturation ? Data Collection (2) No Theoretical Sampling (1) Yes Reach Closure (6) Sumber: Pandit (1996) 4.

penyusunan proposisi.56 maka tidak akan membentuk suatu teori namun hanya merupakan himpunan proposisi. Tahap tersebut diawali dari pembuatan daftar pertanyaan dari pengertian kohesi selanjutnya melakukan penggalian data melalui wawancara. Gambar 4. sedangkan untuk tahapan penelitian ini secara garis besar jika dibuat dalam bentuk bagan yang dimulai dari penggunaan literatur sampai pada pembuatan simpulan dan saran dapat dilihat pada gambar 4. Tahapan tersebut di atas adalah tahapan grounded theory menurut Pandit (1996).4. perbandingan literatur. diakhiri dengan pembuatan simpulan dan saran. Tahapan Penelitian . pengamatan dan data sekunder. analisis coding.4.

Michalisin dan Tangpong (2007) Hasil observasi Daftar pertanyaan wawancara semi terstruktur Wawancara dengan informan Analisis coding (penemuan konsep. Robbins (2007). Pemeriksaan Keabsahan Data Dalam penelitian kualitatif.7. teknik pemeriksaan keabsahan data terdiri dari empat kriteria sesuai dengan pendapat Lincoln dan Guba yang dikutip oleh Moleong ( 2007) yaitu: derajat kepercayaan ( credibility). Dailey (1997). . kategori dan kategori inti) Data sekunder Penyusunan proposisi Perbandingan literatur Simpulan dan saran 4. Shanley dan Langfred (1998). Ho-Pong To and Chan (2006). sub kategori.57 Pengertian kohesi dari literatur :Chan.

4. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik yang disarankan oleh Moleong. kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability).7. Derajat Kepercayaan (Credibility) Moleong (2007) menyatakan bahwa credibility dalam penelitian kualitatif adalah menggantikan konsep validitas internal pada penelitian kuantitatif. 4.58 keteralihan (transferability).1. Agar data-data tersebut dapat dipercaya. 2007). 4.1. Hal di dilakukan untuk mengurangi bias peneliti. menghilangkan pengaruh sesaat dan mengurangi pengaruh peneliti pada konteks (Moleong. maka ada beberapa teknik yang bisa diterapkan yaitu: perpanjangan keikutsertaan. pengecekan sejawat. ketekunan pengamatan. kecukupan referensial.2.7. Ketekunan Pengamatan . namun tidak menggunakan teknik pengecekan sejawat.1. peneliti perlu mendapatkan datadata tersebut dengan cara terlibat secara langsung di lapangan sebagai anggota tim. triagulasi.7. analisis kasus negatif dan pengecekan anggota. Credibility adalah tingkat kepercayaan terhadap data-data yang diperoleh dari hasil penelitian.1. Perpanjangan Keikutsertaan Jika data yang diperoleh dari hasil penelitian masih belum jenuh dalam arti masih ada data-data baru.

Penerapan triangulasi di sini meliputi triangulasi teknik. Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur yang relevan dengan topic yang sedang diteliti secara rinci (Moleong.1. yaitu dengan wawancara dan observasi.59 Sugiyono (2005: 124-125) menjelaskan bahwa meningkatkan ketekunan dilakukan dengan mengamati situasi sosial dengan cermat dan berkesinambungan sehingga akan terbentuk kronologi sebuah peristiwa atau sebab-sebab terbentuknya sebuah peristiwa. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan sumber yang berbeda. Triangulasi Menurut Sugiyono (2005) triangulasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dari sumber data yang telah ada. Peneliti juga perlu membaca hasil-hasil penelitian dan referensi yang terkait dengan masalah yang diteliti. Moleong (2007) mengutip pendapat Denzin. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda. 4. metode. investigator . peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian dengan cermat sehingga diperoleh deskripsi data secara akurat dan sistematis. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada waktu yang berbeda.3.7. membedakan triangulasi menjadi empat yaitu triangulasi sumber. Di samping itu. sumber data dan waktu. 2007).

2007). Triangulasi investigator artinya data yang diperoleh di lapangan dicari oleh investigator atau peneliti yang berbeda. Analisis Kasus Negatif Analisis ini dilakukan jika dari data-data yang terkumpul terdapat data yang tidak sesuai dengan pola atau berlawanan dengan kecenderungan umum dari data.4. teori dan sumber data. 4.7. Selanjutnya data ini digunakan sebagai bahan pembanding (Moleong. 4.1. Dengan triangulasi ini diharapkan data akan dapat dipercaya (kredibel). sumber data. Kecukupan Referensial Dengan referensi yang cukup diharapkan peneliti mampu menajadi modal bagi peneliti untuk menggali data secara detail dan dapat dipercaya (Moleong.7.1. investigator. sedangkan triangulasi teori adalah proses untuk meningkatkan kredibilitas data dengan menganalisis data dari berbagai sudut pandang teoritis. 2007). waktu. Hal ini sama dengan pendapat Rothbauer (2008: 893) yang menulis tentang triangulasi dalam “ The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods" menjelaskan bahwa jenis triangulasi terdiri atas triangulasi metode.5. Dalam penelitian ini penulis menggunakan triangulasi teknik (metode).60 dan teori. .

61 4. 4.7. Pengecekan ini meliputi data.7. kategori. Pengecekan Anggota Menurut Moleong (2007) untuk memperoleh derajat kepercayaan. misalnya hasil studi eksplorasi tentang proses pengambilan keputusan pada konflik karyawan perusahaan bisa diterapkan untuk menangani konflik pegawai pada departemen kepolisian. informan dan desain . peneliti perlu mengadakan pengecekan anggota dalam proses pengumpulan data. kategori. penafsiran dan kesimpulan peneliti secara pribadi kepada informan atau dengan berdiskusi secara kelompok kepada para informan dalam forum diskusi. penafsiran dan kesimpulan.2. Jika data. Pengecekan ini bisa dilakukan secara informal dengan cara menyampaikan data.6. Tujuan pengecekan ini adalah untuk mengetahui apakah data yang diperoleh peneliti sesuai dengan apa yang diberikan oleh informan. kategori analitis. peneliti dapat menggunakan dua strategi yaitu pertama peneliti menggambarkan secara detail kepada pembaca mengenai konteks. Selanjutnya Jensen mengutarakan bahwa untuk meningkatkan transferability. Keteralihan (Transferability) Konsep transferability menurut Jensen (2008: 886) dalam “ The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods " adalah bahwa hasil penelitian dapat ditransfer pada situasi dan konteks yang lain di luar konteks studi. penafsiran dan kesimpulan dari informan telah mendapatkan persetujuan dari informan berarti telah memenuhi kredibilitas.1.

7. 4. 2008).7.3. Dependability juga berarti bahwa penelitian tersebut terbuka dengan perubahan dan variasi tergantung pada perkembangan di lapangan (Jensen. Confirmability ini harus mampu mencapai tujuan penelitian kualitatif yaitu terbentuknya pemahaman tentang fenomena dari pandangan peneliti dan informan serta memberikan pengalaman kepada pembaca. London. Sage Publication Ltd. Michael and Fiona Wood. yaitu melalui wawancara dapat dikonfirmasi tentang apakah analisis data dan hasil penelitian merefleksikan interpretasi dan persepsi dari informan.4. A Vocabulary in Research Concepts. 2006. DAFTAR PUSTAKA Bloor. Kepastian (Confirmability) Menurut Jensen (2008) confirmability berarti bahwa data yang diperoleh peneliti kebenarannya. Keywords in Qualitative Methods. .62 penelitian dan kedua peneliti menggunakan purposive sampling dalam teknik pengambilan sampelnya. Kebergantungan (Dependability) Penelitian dikatakan mempunyai dependability jika orang lain dapat mereplikasi proses penelitian tersebut sehingga peneliti harus memaparkan informasi tentang metodologinya secara rinci dan akurat. 4.

California. Jensen. Strauss. 2008. Second Edition. Glaser. California: Sage Publication. Glaser. Lexy J. Devon. 1. Metodologi Penelitian Kualitatif. Kathy and Antony Bryant . 1996. The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods. 2007. Inc. Moleong. Vol 1&2. The Qualitative Report. John W.63 Charmaz. 2008.html. A Division of Transaction Publisher. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research . Inc. Given.O. CV Alfabeta. Inc. Sugiyono. Jakarta. Strauss. New Jersey: Aldine Transaction. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Approach. John J. Cetakan Keduapuluh Empat. 2007. Pustaka Pelajar. Barney G. 2005. Remodelling Grounded Theory. Bandung. Ihalauw. 4. (Vol. Barney G. The Grounded Theory Review. Remaja Rosdakarya. Pandit. Cetakan II. Rutger-The State University. . Edited by Lisa M. Given. (Volume 2). Memahami Penelitian Kualitatif. Anshelm and Juliet Corbin. 2007. Komponen dan Proses. The Creation of Theory: A Recent Application of the Grounded Theory Method. Bandung. SAGE Publications. and Anselm L. California. (http://www. Edited by Lisa M. Grasindo. PT. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data .nova. Naresh R. 2006. Creswell. Konstruksi Teori. 4) No. PT. 2008. Jakarta. No. Vol 1&2. diakses 25 Oktober 2010). Edisi Revisi.edu/ssss/QR/QR2-4/pandit. Terjemahan.I. The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods. and Judith Holton. 2004. SAGE Publications.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->