Anda di halaman 1dari 118

BAB I PEDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Madrasah, sebagaimana tertuang dalam pasal 17 ayat 2 UU Sisdiknas, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional Hal itu sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dimana madrasah mempunyai fungsi yang sama dengan satuan pendidikan lainnya terutama dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab1 Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, maka keberhasilan madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikannya akan memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. Namun disadari bahwa dalam melaksanakan upaya tersebut tentunya tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Seperti permasalahan yang dihadapi sekolah-sekolah umum lainnya, salah satu permasalahan yang dihadapi oleh madrasah saat ini adalah mutu pendidikan masih tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Natsir Armaya Siregar dan Mohd. Sitompul, bahwa meskipun perkembangan madrasah telah cukuip menggembirakan akan tetapi dari

Republik Indonesia, Undang-Undang R.I Pendidikan Nasional. BAB II Pasal 3.

No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

segi mutu masih belum memuaskan atau kadang-kadang memprihatinkan2. Bermutu tidaknya pendidikan di madrasah tidak lepas dari berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan madrasah. Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu aspek yang secara langsung dapat menunjang efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan di madrasah. Pembiayaan merupakan salah satu faktor penentu bagi terlaksananya proses pendidikan yang pada gilirannya berdampak terhadap peningkatan mutu3. Terkait dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, Departemen

Agama mengemas Development of Madrasah Aliyahs Project (DMAP). Melalui proyek ini diharapkan dapat dilakukan sejumlah langkah strategis dan terobosan untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah aliyah, baik yang menyangkut pengembangan kurikulum, pendanaan, sarana/prasarana, ketenagaan dan

pengawasan, termasuk peningkatan dalam bidang kelembagaan. Secara makro, proyek pengembangan Madrasah Aliyah ini merupakan bagian integral dari kebijakan pemerintah yang direalisasikan dalam pengaturan operasional bersama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama tentang beragam persoalan di bidang pendidikan, yang salah satu di antara persoalan-persoalan tersebut adalah merumuskan strategi dan berbagai program untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam sistem pendidikan.

Natsir Armaya Siregar dan Mohd Saleh Sitompul, Reposisi dan Revitalisasi Madrasah, dalam Jamaludin, Mendiskusikan Kembali Eksistensi Madrasah ( Cet. II: Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 42. 3 Nanang Fatah, Indikator Kemandirian Pembiayaan Madrasah, Edukasi: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan. Volume 5 nomor 1 ( Januari-Maret), h. 39

Sebagai wujud konkrit dari perumusan strategi pengembangan program pendidikan pada Madrasah Aliyah adalah lahirnya Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama nomor E.IV/PP.00.6/KEP/17.A/98, tertanggal 20 Februari 1998, tentang pengembangan Madrasah Aliyah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model pada 26

propinsi yang tersebar di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, dan MAN Model Manado adalah salah satu di antaranya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah, tidak lepas dari upaya perbaikan manajemennya4. Manajemen adalah proses atau kegiatan orang-orang dalam organisasi dengan memanfaatkan sumber-sumber (juga disebut unsur manajemen yaitu sumber daya manusia, dana atau sumber keuangan, dan sarana atau perangkat kerja termasuk di dalamnya metoda/teknologi dan material/bahanbahan) yang tersedia bagi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen juga berarti ketrampilan dan kemampuan untuk memperoleh hasil melalui kegiatan bersama orang lain dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan 5. Jika dikaitkan dengan madrasah, maka manajemen madrasah adalah proses atau kegiatan orang-orang dalam dalam madrasah dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang ada di madrasah, sumber keuangan untuk pembiayaan madrasah, dan sarana serta prasarana yang tersedia untuk tercapainya tujuan madrasah.

Departemen Agama R.I, Profil Madrasah Aliyah, ( Jakarta: Departemen Agama R.I., 2005), h. 15 5 Azhar Arsyad, Pokok-pokok Manajemen; pengetahuan praktis bagi Pimpinan dan Eksekutif (Cet 2: Yogyajarta: Pustaka Pelajar, 2003). H. 4..

Manajemen berbasis madrasah merupakan model

manajemen yang

diterapkan saat ini, dimana manajemen berbasis madrasah merupakan model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada madrasah, memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada madrasah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga madrasah (guru, siswa, kepala madrasah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan , pengusaha,

dsb.) untuk meningkatkan mutu madrasah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku6. Salah satu aspek yang digarap oleh madrasah sesuai dengan model ini adalah pengelolaan keuangan dan pembiayaan, karena madrasahlah yang paling memahami kebutuhannya, sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang untuk pembiayaan kegiatan pendidikan sudah seharusnya dilimpahkan ke madrasah. Madrasah diberikan kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan (income generating activities), sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. Manajemen pembiayaan madrasah merupakan aspek yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari proses manajemen pendidikan secara keseluruhan, karena pada hakekatnya anggaran dan pembiayaan madrasah merupakan penjabaran dari program madrasah dalam bentuk angka-angka yang akan dipertanggungjawabkan bersama pencapaian program pada akhir tahun anggaran.

Sumber keuangan dan pembiayaan pada madrasah secara garis besar dapat
6

Departemen Pendidikan Nasional R. I.. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), h. 23

dikelompokkan atas beberapa sumber, yaitu (1) pemerintah, baik pemerintah pusat melalui APBN melalui Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), pemerintah daerah melalui APBD bidang pendidikan. (2) orang tua dan masyarakat; (3) dana masyarakat, (4) usaha ekonomi madrasah, (4) sumber lain yang tidak mengikat7. Dalam implementasi manajemen berbasis madrasah, manajemen

pembiayaan harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai dari tahap perencanaan, penyusunan penggunaan anggaran, sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana yang diperoleh madrasah benar-benar dimanfaatkan secara tertib, efektif, efisien, tranparan dan akuntabel. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang manajemen pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado.

B. Rumusan Dan Batasan Masalah Berdasarkan fokus penelitian di atas, penulis merumuskan masalah pokok sebagai bahan penelitian ini yaitu bagaimana manajemen pembiayaan pendidikian di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado. Sedangkan sub masalahnya adalah: 1. Bagaimana perencanaan (planning) pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado? 2. Bagaimana pengorganisasian (organizing) pembiayaan pendidikan di

Madrasah Aliyah Negeri Model Manado?


7

Departemen Agama R.I, Pedoman Standar Pelayanan Minimal Madrasah Aliyah. (Jakarta: Departemen Agama R.I., 2005), h. 55-56

3. Bagaimana penggerakan

(actuating) pembiayaan pendidikan di Madrasah

Aliyah Negeri Model Manado? 4. Bagaimana pengawasan (controlling) pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado? C. Pengertian Judul Judul penelitian ini adalah Manajemen Pembiayaaan Pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado. Untuk memahami berbagai aspek yang diteliti maka perlu dipahami istilah (term) yang digunakan agar tidak mendapat kesulitan dalam memahami dan menginterpretasi isi tesis ini maka berikut ini beberapa pengertian istilah yang perlu dijelaskan: Manajemen: merupakan merupakan suatu proses dimana suatu kelompok secara kerjasama mengarahkan tindakan atau kerjanya untuk mencapai tujuan bersama. Proses tersebut mencakup teknik-teknik yang digunakan oleh manajer untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan atau ativitas orang-orang lain menuju tercapainya tujuan bersama; para manajer sendiri jarang melakukan aktivitasaktivitas yang dimaksud8 Pembiayaan: segala sesuatu yang berkenan dengan ongkos dan biaya9. Pendidikan: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

Azhar Arsyad, op.cit. h.1. Zul Fajri dan Ratu Aprilia.. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Jakarta: Difa Publisher, 2006), h.164.
9

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara10. Manajemen Pembiayaan: penentuan kebijaksanaan pengadaan dan penggunaan keuangan untuk mewujudkan kegiatan organisasi kerja berupa kegiatan perencanaan, pengaturan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Berdasarkan pengertian istilah di atas, maka dapat dirumuskan definisi operasional judul penelitian ini yaitu: merupakan penentuan kebijaksanaan pengadaan dan penggunaan keuangan untuk mewujudkan kegiatan organisasi kerja berupa kegiatan perencanaan, pengaturan, pertanggungjawaban dan

pengawasan keuangan dalam bidang pendidikan yang difokuskan pada Madrasah Aliyah Negeri Manado. D. Kajian Pustaka Beberapa penelitian yang mengkaji tentang manajemen pembiayaan pendidikan yang ditemukan peneliti antara lain: penelitian dari Aep Syaefudin Firdaus (2004) yang berjudul: Manajemen Pembiayaan Pendidikan Dan

Dampaknya Terhadap Produktivitas Sekolah (Kajian Pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Di Kabupaten Cianjur) difokuskan pada prencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian pembiayaan pendidikan serta tingkat produktivitas pendidikan di tingkat Madrasah Tsanawiyah. Selanjutnya hasil penelitian dari Yahya ( 2005) yang berjudul Sistem Manajemen Pembiyaan Pendidikan (Suatu Studi Tentang Pembiyaan Pendidikan Sekolah Dasar di Propinsi Sumatra Barat) berkaitan dengan sistem manajemen pembiayaan pendidikan khususnya di Sekolah Dasar di provinsi Sumatra Barat. Studi ini sebagai upaya mencari tahu
10

Republik Indonesia, Undang-Undang R.I Pendidikan Nasional. Bab I Pasal 1.

No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

makna investasi dalam pendidikan, bagaimana mengelola investasi, serta perangkat apa yang dibutuhkan di dalam operasionalnya sehingga pendidikan terlaksana secara adil, merata, layak. efektif dan efisien sebagai cerminan suatu pelayanan yang berkualitas. Hasil penelitian dari Dedy Achmad K (2005) yang berjudul: Manajemen Pembiayaan Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Pendidikan (Kajian pada Sekolah Menengah Umum di Wilayah Dinas Kota Bandung) Penelitian ini mengkaji tentang fenomena faktor-faktor manajemen pembiayaan pendidikan dan pengaruhnya terhadap kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Umum. Penelitian dari Rohandi Yahya yang berjudul: Kontribusi Manajemen Pembiayaan Pendidikan Terhadap Proses Peningkatan Produktivitas Pendidikan (Studi

Deskriptif tentang Manajemen Pembiayaan Pendidikan di SMP Negeri Kabupaten Bandung, tahun 2002/2003). Fokus dalam penelitian ini dibatasi pada

bagaimanakah kontribusi manajemen pembiayaan pendidikan terhadap proses peningkatan produktivitas pendidikan di SMP Negeri Kabupaten Bandung. Berdasarkan studi pustaka, peneliti belum menemukan penelitian yang mengkaji tentang manajamen pembiayaan di Madrasah Aliyah Negeri Model.baik yang ada di kota Manado maupun di luar kota Manado. Oleh karena independensi judul tesis ini cukup cukup tegas dari aspek originilitasnya. E. Metodologi Penelitian 1. Lokasi dan Jenis penelitian Lokasi penelitian adalah Madrasah Aliyah Negeri Manado. Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptitf kualitatif yaitu penelitian tentang

data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar, katakata disusun dalam kalimat, misalnya kalimat hasil wawancara antara peneliti dan informan. 2. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Studi etnografi (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnografi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual dan cara-cara hidup Etnografi adalah pendekatan empiris dan teoretis yang bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan (fieldwork) yang intensif. Etnograf bertugas membuat thick descriptions (pelukisan mendalam) yang menggambarkan kejamakan struktur-struktur konseptual yang kompleks, termasuk asumsi-asumsi yang tak terucap dan taken for granted (yang dianggap sebagai kewajaran) mengenai kehidupan11. Penelitian ethnographic mempelajarai phenomena sebagai kejadian wajarnya12. Seorang etnografer memfokuskan perhatiannya pada detildetil kehidupan lokal dan menghubungkannya dengan proses-proses sosial yang lebih luas. Hasil akhir penelitian komprehensif, suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh disertai interpretasi yang menginterpretasikan seluruh aspekaspek kehidupan dan menggambarkan kompleksitas kehidupan tersebut. Untuk itu, penelitian ini difokuskan pada penelitian mikro etnografi, yaitu difokuskan
11

Sukmadinata dan Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. (Cet. 2; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 62. 12 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Cet..2; Yohyakarta: Rake Sarasin, 2002), h.132.

pada manajemen pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Manado 3. Instrumen Pengumpulan Data Peneliti merupakan instrument utama pengumpul data dalam penelitian ini13 4. Teknik pengumpulan data Sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian kualitatif dan sumber data yang akan digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: dengan analisis dokumen, observasi dan wawancara14 5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan dan Analisis pengumpulan data) data dilakukan bersamaan dengan proses

artinya peneliti melakukan analisis data pada saat data

sementara dan sesudah dikumpulkan. Sebelum analisis data dilakukan, data dikelola dengan cara mengorganisirnya untuk memudahkan dalam proses analisis Dalam menganalisis data akan mengikuti langkah-langkah: a. membaca, menelaah dan mempelajari data b. mereduksi data Setelah semua data dipelajari peneliti mereduksi dengan cara

merangkumnya dalam bentuk abstraksi. Abstraksi adalah hal-hal pokok, proses, dan pernyataan-pernyataan

rangkuman mengenai

yang perlu dijaga sehingga

tetap berada di dalamnya. Data yang masih mentah perlu dimatangkan melalui pola, kategori dan dibuat sistematikanya. Langkah-langkah yang dilakukan setelah mereduksi data adalah :
13 14

Ibid h. 134 Ibid h. 139

10

a) Mengorganisasikan data. b) Menyortir data, c) Pengkategorian data c. Menampilkan data (display) d. Pengecekan keabsahan data. Untuk menguji kebenaran (keabsahan) data peneliti akan melakukan teknik triangulasi. Adapun teknik triangulasi yang dilakukan oleh peneliti adalah: 1) Triangulasi sumber:

2) Triangulasi metode:
3) Triangulasi situasi:

F. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengkaji dan mendeskripsikan perencanaan pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado 2. Mengkaji dan mendeskripsikan pengorganisasian pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado 3. Mengkaji dan mendeskripsikan penggerakan Madrasah Aliyah Negeri Model Manado 4. Mengkaji dan mendeskripsikan pengontrolan pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado Kegunaan dari penelitian ini adalah pembiayaan pendidikan di

11

1. Kegunaan Teoretis. Berbagai pemikiran, konsep, dan gagasan teoretis yang dikemukakan serta diperoleh dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan pada umumnya, dan bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan pada khususnya, terutama manajemen pembiayaan pendidikan di tingkat madrasah 2. Kegunaan praktis a. Memberikan manfaat praktis bagi pimpinan madrasah, para guru maupun stakeholders di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado di dalam MAN

mengembangkan manajemen pembiayaan pendidikan sebagai

Model serta bagi madrasah-madrasah lainnya dalam upayanya untuk menjadi madrasah model. b. Memungkinkan adanya penelitian lebih lanjut oleh peneliti lainnya untuk lebih menggali dan mengembangkan permasalahan yang diteliti. G. Garis Besar Isi Penelitian ini secara sistematik terdiri dari lima bab yang diuraikan dalam beberapa sub bab sebagai berikut: Bab pertama, pendahuluan yang memuat: latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, pengertian judul, tujuan dan kegunaan penelitian, garis-garis besar isi. Bab kedua, tinjauan teoritis yang memuat: konsep dasar manajemen

pembiayaan pendidikan, perencanaan pembiayaan pendidikan, pelaksanaan

12

pembiayaan pendidikan, pengontrolan pembiayaan pendidikan dan pertanggung jawaban pembiayaan pendidikan. Bab ketiga, Metodologi Penelitian yang terdiri dari: lokasi dan jenis penelitian, pendekatan penelitian, instrumen pengumpulan data, teknik

pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data Bab keempat, kajian terhadap perencanaan pembiayaan pendidikan, penmgorganisasian pembiayaan pendidikan, pergerakan pembiayaan pendidikan dan pengontrolan pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado Bab kelima, Kesimpulan dan implikasi penelitian Selanjutnya dilanjutkan dengan daftar pustaka. H. Sistimatika Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. E. BAB II Latar Belakang Masalah Rumusan dan Batasan Masalah Pengertian Judul Tujuan dan Kegunaan Penelitian Garis-Garis Besar Isi Tesis

TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar Pembiayaan Pendidikan B. Perencanaan (planning) Pembiayaan Pendidikan di Madrasah C. Pengorganisasian ( organizing) Pembiayaan Pendidikan Madrasah D. Penggerakan (actuating) Pembiayaan Pendidikan Madrasah E. Pengawasan (controlling) Pembiayaan Pendidikan Pendidikan Madrasah METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian B. Metode Pendekatan C. Metode Pengumpulan Data D. Metode Pengolahan dan Analisis Data

BAB III

13

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Perkembangan dan Kondisi Obyektif MAN Model Manado B. Perencanaan Pembiayaan Pendidikan di Madrasah C. Pengorganisasian Pembiayaan Pendidikan di Madrasah D. Pengerakan Pembiayaan Pendidikan Madrasah E. Pengontrolan Pembiayaan Pendidikan Madrasah BAB V PENUTUP A. A. Kesimpulan .. B. Saran-saran .. DAFTAR KEPUSTAKAAN . LAMPIRAN-LAMPIRAN

14

BAB II TINJAUAN TEORETIS

A. Konsep Dasar Manajemen Pembiayaan Pendidikan di Madrasah Manajemen adalah proses di mana tindakan individual dan group dikoordinasikan Wahjosumidjo ke arah pencapaian tujuan organisasi. Duncan (1989:31) (2003:94) mengartikan manajemen merupakan proses

merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota-anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Terry dan Rue (1997:3) mendefinisikan manajemen sebagai proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian,

penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan semua sumber daya, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Handoko (200:8) manajemen didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan atau (planning), kepegawaian

pengorganisasian

(organizing),

penyusunan

personalia

(staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling). Stoner (1998:2) mengemukakan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Setiap kegiatan perlu diatur agar kegiatan berjalan tertib, lancar, efektif dan efisien. Kegiatan di madrasah yang sangat kompleks membutuhkan

15

pengaturan yang baik. Keuangan dan pembiayaan di madrasah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan butuh uang. Keuangan juga perlu diatur sebaik-baiknya. Untuk itu perlu manajemen pembiayaan yang baik. Sebagaimana yang terjadi di substansi manajemen pendidikan pada umumnya, kegiatan manajemen pembiayaan dilakukan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan atau pengendalian. Beberapa kegiatan manajemen keuangan yaitu memperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana, pelaporan, pemeriksaan dan

pertanggungjawaban10. Di dalam manajemen pembiayaan madrasah terdapat rangkaian aktivitas terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan anggaran, dan pendapatan yang diperlukan dalam pelaksanaan program, pengesahan dan penggunaan anggaran madrasah. Manajemen pembiayaan dapat diartikan sebagai tindakan pengurusan/ketatausahaan pelaksanaan, keuangan yang dan meliputi pencatatan, Dengan

perencanaan,

pertanggungjawaban

pelaporan11.

demikian manajemen pembiayaan

madrasah merupakan rangkaian aktivitas

mengatur keuangan madrasah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung-jawaban keuangan madrasah Melalui kegiatan manajemen pembiayaan maka kebutuhan pendanaan kegiatan madrasah dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Untuk itu tujuan manajemen pembiayaan adalah: a. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan madrasah
10

. Manullang, M. 1990. Dasar-dasar Manajemen. ( Cet. 1. Jakarta: Ghalia Indonesia). h.35

16

11

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Manajemen Keuangan. ateri Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah.(Cet.1 Jakarta: irjen Dikdasmen, Direktorat Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama). h. 14 b. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan madrasah. c. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran madrasah. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan kreativitas kepala madrasah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Manajemen pembiayaan madrasah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Undang-undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. A. Perencanaan Pembiayaan Pendidikan di Madrasah 1. Pengertian Perencanaan merupakan proses awal dari pelaksanaan semua fungsi manajemen. Terry & Rue (2001:11) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu kumpulan keputusan untuk mempersiapkan tindakan-tindakan di masa

mendatang. Saaty (1993:14) memberikan pengertian perencanaan sebagai suatu aktifitas yang bertujuan dan dinamis yang berkaitan dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Burhanuddin (1994:167) mengartikan perencanaan sebagai suatu aktifitas pengambilan keputusan tentang sasaran apa yang akan dicapai, tindakan apa yang akan diambil dalam rangka mencapai tujuan atau sasaran tersebut dan siapa yang akan melaksanakan tugas-tugas tersebut. Turang (2002:1) dalam kaitannya dengan perencanaan pendidikan secara lebih konkrit menegaskan

17

bahwa perencanaan adalah; (1) suatu proses pemikiran, analisis dan keputusan masa depan pendidikan, (2) suatu prediksi, proyeksi dan perkiraan pengembangan pendidikan mendatang, (3) suatu kajian alternatif pencapaian tujuan pendidikan, (4) suatu tulisan sejarah masa depan pendidikan, (5) suatu rancangan pembangunan masa depan pendidikan, (6) suatu fungsi organik manajemen pendidikan dan menjadi dasar atau pedoman pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Berdasarkan pada serangkaian definisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan mempersiapkan serangkaian merupakan suatu untuk proses

pengambilan keputusan

dilakukannya,

tindakan dalam mencapai tujuan organisasi dengan dan tanpa menggunakan sumber-sumber yang ada. Dengan kata lain, perencanaan adalah suatu aktifitas yang dilakukan secara sadar dan pengambilan keputusan yang telah

diperhitungkan secara matang tentang berbagai hal yang akan dikerjakan di masa depan oleh suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian terdapat empat pokok pikiran yang diperoleh dari pengertian-pengertian perencanaan di atas, yaitu: a. Suatu rencana tidak akan timbul dengan sendirinya melainkan lahir sebagai hasil pemikiran yang bersumber pada hasil penelitian yang telah dilakukan. b. Para perencana mutlak perlu memiliki keberanian mengambil keputusan dengan segala resikonya. Dikatakan demikian karena suatu rencana adalah suatu keputusan yang hendak dilaksanakan di masa yang akan datang dan salah satu cirinya adalah ketidak pastian.

18

c. Suatu rencana adalah berorientasi masa depan. Artinya, setiap perencanaan yang dirumuskan adalah harus mampu memprediksikan apa yang akan terjadi masa depan. d. Rencana harus mempunyai makna. Maksudnya, apabila rencana itu dilaksanakan, ia harus mempermudah usaha yang akan dilakukan dalam pemcapaian tujuan organisasi yang bersangkutan. 1. Fungsi dan Kegunaan Berpijak dari uraian tentang pengertian perencanaan sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa perencanaan mempunyai kegunaan yang sangat signifikan manajemen pembiayaan pendidikan. Hal ini didasarkan pada beberapa pemikiran yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain, Widjayakusuma, dkk. (2002:109) bahwa perencanaan dalam suatu organisasi memegang peranan yang cukup urgen dalam pencapaian tujuan organisasi tersebut. Selanjutnya, menurutnya bahwa terdapat empat peranan penting dari sebuah perencanaan yaitu sebagai berikut : a) Mengurangi atau mengimbangi ketidak-pastian dan perubahan-perubahan di masa mendatang; b) Memusatkan perhatian pada pencapaian sasaran; c) Memastikan proses pencapaian tujuan dapat terlaksana secara efisien dan efektif; dan, d) Memudahkan pengawasan. Sehubungan dengan itu, Burhanuddin dalam M. Karebet Widjaya Kusuma dan M. Ismail Yusanto (2002:111) menjelaskan bahwa perencanaan memiliki fungsi utama dan pertama dan kegunaan yang baik dalam pengelolaan suatu organisasi utamanya dalam aplikasi langkah-langkah manajerial. Lebih lanjut

19

menurut mereka fungsi dan kegunaan yang diharapkan dari adanya aktifitas perencanaan ini adalah : a. Agar kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan tertentu (organisasi), tertib dan lancar. b. Mendorong suatu pelaksanaan kegiatan organisasi secara produktif. c. Mengusahakan penggunaan alat-alat dan sumber-sumber lainnya secara efisien dan benar-benar mendukung bagi pencapaian tujuan organisasi. d. Memberikan gambaran yang lengkap bagi seluruh kegiatan yang akan dikerjakan. Dengan demikian dapat ditentukan keterampilan mana yang dibutuhkan dan kepada personil yang macam apa suatu kegiatan dilimpahkan. e. Dapat memberikan petunjuk bagi setiap personil, khususnya pemimpin organisasi untuk mengadakan pengawasan dan menilai setiap kegiatan yang dilakukan, apakah sudah sesuai dengan harapan-harapan sebelumnya. f. Selanjutnya atas dasar point 5 di atas, para administrator dapat melakukan pembinaan organisasi secara terarah, sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan. Sejalan dengan pemikiran-pemikiran tersebut, dapatlah dijelaskan bahwa perencanaan mempunyai fungsi dan kegunaan pada beberapa unsur penting dalam pengelolaan organisasi. Fungsi dan kegunaan dimaksud adalah sebagai berikut: a. Perencanaan berperan mengkoordinasikan berbagai bagian dengan adanya tujuan organisasi. b. Dengan perencanaan dapatlah dipilih metode kerja yang paling baik.

20

c. Perencanaan menggariskan strategi, kebijaksanaan dan program-program sehingga delegasi kekuasaan untuk bertindak diperlancar dan kepastian dapat terjamin. d. Perencanaan merupakan dasar atau pedoman untuk pengawasan, perencanaan menghasilkan standar yang dapat dipakai dengan alat pengukur hasil kerja. e. Dengan perencanaan maka semua anggota organisasi memperhatikan adanya tujuan-tujuan atau target organisasi sehingga segala kegiatan itu dapat difokuskan secara efisien dan efektif. f. Perencanaan bertujuan untuk menunjang tercapainya tujuan-tujuan organisasi, baik primer maupun sekunder. g. Untuk meningkatkan produktivitas anggota organisasi. Dalam kaitannya dengan kegunaan perencanaan manajemen pendidikan, termasuk di dalamnya adalah manajemen pembiayaan pendidikan Turang (2002:1) menegaskan bahwa perencanaan dalam hal ini menduduki posisi penting utamanya dalam, (1) mengantar, mengarahkan dan mengendalikan perobahanperobahan dan kemajuan pendidikan, (2) menjamin efisiensi dan efektivitas pengembangan pendidikan, (3) memberikan kesatuan motivasi, dan persepsi bagi para penyelenggara pendidikan dan masyarakat publik, terutama pihak-pihak yang langsung berkepentingan dengan pendidikan (stakeholders), (4) memberikan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta langkah-langkah strategik pengembangan pendidikan, (5) lebih tertuju pada pembangunan dan pengembangan pendidikan dari pada segi-segi rutin, (6) mengajarkan para penyelenggara pendidikan dan pihak stakeholders tentang bagaimana pembangunan pendidikan, (7) merupakan

21

pendorong dan sekaligus memberikan arah dan tujuan untuk terjadinya suatu perubahan penyelenggaraan pendidikan. Mengacu pada uraian-uraian tentang kegunaan-kegunaan perencanaan dalam suatu organisasi seperti telah diutarakan di atas, maka secara garis besar dapat dinyatakan bahwa kegunaan adanya perencanaan utamanya dalam manajemen pembiayaan pendidikan : a. Ada garis besar atau kerangka kerja yang dapat dijadikan pedoman dalam pembiayaan. b. Dengan adanya perencanaan pembiayaan, maka proses pencapaian tujuan dapat dilalui dengan mulus. c. Dengan kepastian berbagai program tempat. d. Langkah-langah kerja dalam pembiayaan selalu dikontrol oleh standar yang dinyatakan dalam bentuk perencanaan salah satu cara yang paling lumrah dikemukakan dalam penyusunan suatu rencana adalah dengan menyatakan bahwa perencanaan berarti mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan, apa, dimana, bagaimana, siapa dan mengapa. b. Karakteristik Perencanaan Pengalaman menunjukkan bahwa ditemukannya jawaban atas pertanyaan apa, dimana, bagaimana, siapa dan mengapa sebagaimana tersebut pada point ke empat (d) tersebut, akan berakibat pada tersusunnya suatu rencana yang baik. Perencanaan yang baik sudah barang tentu harus memiliki karakteristik dasar. Adapun karakteristik dasar perencanaan sebagaimana dirangkum dari beberapa dapat menghemat dana, waktu dan

22

pemikiran pakar manajemen antara lain,

Burhanuddin (1994:170) dan

Widjayakusuma (2002:109-112), adalah sebagai berikut : a. Rencana harus mempermudah tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. b. Rencana sungguh-sungguh memahami hakikat tujuan yang hendak dicapai. c. Pemenuhan persyaratan keahlian teknis penyusunan suatu rencana untuk kemudian disahkan oleh manajer seyogyanya diserahkan kepada orang-orang yang betul-betul memenuhi persyaratan keahlian menyusun rencana. d. Rencana harus disertai oleh rincian yang cermat. Artinya perencanaan merupakan suatu bentuk keputusan apa yang akan dikerjakan di masa depan dan juga memberikan petunjuk operasionalisasinya. e. Rencana harus senantiasa mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan. f. Kesederhanaan sebagai ciri rencana menyangkut berbagai hal seperti teknik penyusunannya, bahasa yang digunakan, sistematikanya, formatnya,

penekanan berbagai prioritasnya, dan sebagainya. g. Fleksibilitas. Suatu rencana yang baik adalah rencana yang mempunyai pola dasar dan relatif permanen. h. Rencana harus memberikan tempat pada pengambilan resiko. i. Rencana harus bersifat pragmatik. j. Sebagai instrumen peramalan masa depan. Sehubungan dengan hal tersebut, Turang (2002:10) menegaskan bahwa perencanaan yang baik harus memperhatikan karakteristik dasar perencanaan yang beliau sebut dengan istilah azas-azas perencanaan pendidikan yaitu : (1)

23

finalistic (ada tujuan dan sasaran), (2) futuristic (berorientasi masa depan), (3) rational (bukan emosional), (4) systemable (bertahap dan berkelanjutan), (5) managable (dapat dikelola), (6) evaluable (dapat dievaluasi). Terkait dengan manajemen pembiayaan, perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen pembiayaan Perencanaan pembiayaan adalah

suatu proses yang rasional dan sistematis dalam menetapkan langkah-langkah kegiatan yang terkait dengan pembiayaan berbagai program atau kegiatan akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengertian tersebut mengandung unsur-unsur bahwa di dalam perencanaan pembiayaan pendidikan ada proses, ada kegiatan yang rasional dan sistematis serta adanya tujuan yang akan dicapai. Perencanaan pembiayaan sebagai proses, artinya suatu kejadian membutuhkan waktu, tidak dapat terjadi secara mendadak. Perencanaan pembiayaan sebagai kegiatan rasional, artinya melalui proses pemikiran yang didasarkan pada data yang riil dan analisis yang logis, yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak didasarkan pada ramalan yang intuitif. Perencanaan pembiayaan sebagai kegiatan yang sistematis, berarti perencanaan meliputi tahap tahap kegiatan. Kegiatan yang satu menjadi landasan tahapan berikutnya. Tahapan kegiatan tersebut dapat dijadikan panduan sehingga penyimpangan dapat segera diketahui dan diatasi. Sedangkan tujuan perencanaan pembiayaan itu sendiri arahnya agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan. Yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan pembiayaan madrasah antara lain menganalisis program kegiatan dan prioritasnya, menganalisis dana yang ada dan yang mungkin bisa diadakan dari

24

berbagai sumber pendapatan dan dari berbagai kegiatan. Perencanaan pembiayaan madrasah disesuaikan dengan rencana pengembangan madrasah secara

keseluruhan, baik pengembangan jangka pendek maupun jangka panjang. Kalau dianalisis pembuatan perencanaan pembiayaan pendidikan di madrasah, dirumuskan sikuensi perencanaan pembiayaan yang strategis sebagai berikut: 1) misi (mission), 2) tujuan jangka panjang (goals), 3) tujuan jangka pendek(objectives), 4) program, layanan, aktivitas(programs, services, activities), tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek berdasarkan kondisi riil unit sekolah(site-based unit goals & objectives), 5) target: baik outcomes maupun outputs, 6) anggaran (budget), dan 7) perencanaan pembiayaan yang strategis (strategic financial plan) 12 Proses perumusan perencanaan pembiayaan yang strategis, memerlukan
12

.Imron, Ali. 2004. Manajemen Keuangan Berbasis Sekolah. Dalam Maisyaroh dkk, 2004. Perspektif Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah.( Cet. 2 Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang) h. 26 kajian secara cermat tentang evaluasi diri lembaga pendidikan yang bersangkutan, visi, misi, tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek lembaga pendidikan. Kemudian ditetapkan program kegiatan dan berbagai layanan yang dilaksanakan lembaga pendidikan yang sesuai dengan tujuan jangka panjang dan pendek serta target yang akan dicapai baik output maupun outcomesnya, dan disusunlah anggaran sehingga jadilah perencanaan pembiayaan yang strategis sesuai dengan kondisi madrasah. Perencanaan dibuat oleh kepala madrasah, guru, staf madrasah dan pengurus komite sekolah. Mereka mengadakan pertemuan untuk menentukan

25

kebutuhan dan menentukan kegiatan madrasah

dalam waktu tertentu.

Berdasarkan analisis ini diperoleh banyak kegiatan yang perlu dilakukan sekolah dalam satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan dua puluh lima tahun. Untuk itu perlu diurutkan tingkat kebutuhan kegiatan dari yang paling penting sampai kegiatan pendukung yang mungkin bias ditunda pelaksanaannya. Hal ini terkait dengan tersedianya waktu, keberadaan tenaga dan jumlah dana yang tersedia atau yang bias diupayakan ketersediaannya. Analisis sumber-sumber dana dan jumlah nominal yang mungkin diperoleh, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan hasil analisis yang dilakukan. Perpaduan analisis kegiatan dan sumber dana serta menyangkut waktu pelaksaannya ini seringkali menghasilkan apa yang dinamakan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Madrasah (RAPBM). Setiap sekolah wajib menyusun RAPBM sebagaimana diamanatkan di dalam pasal 53 Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu Rencana Kerja Tahunan hendaknya memuat rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa kerja satu tahun; RAPBM merupakan rencana perolehan pembiayaan pendidikan dari berbagai sumber pendapatan serta susunan program kerja tahunan yang terdiri dari sejumlah kegiatan rutin serta beberapa kegiatan lainnya disertai rincian rencana pembiayaannya dalam satu tahun anggaran. Dengan demikian RAPBM berisi tentang ragam sumber pendapatan dan jumlah nominalnya baik rutin maupun pembangunan, ragam pembelanjaan dan jumlah nominalnya dalam satu tahun anggaran.

26

Dalam penyusunan RAPBM, kepala madrasah sebaiknya membentuk tim yang terdiri dari dewan guru dan pengurus komite madrasah. Setelah tim dan Kepala madrasah menyelesaikan tugas, merinci semua anggaran pendapatan dan belanja madrasah, Kepala madrasah menyetujuinya. Pelibatan para guru dan pengurus komite sekolah ini akan diperoleh rencana yang mantap, dan secara moral semua guru, kepala madrasah dan pengurus komite madrasah merasa bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana tersebut. Kebutuhan dana untuk kegiatan operasinal secara rutin dan pengembangan program madrasah secara berkelanjutan sangat dirasakan setiap pengelola lembaga pendidikan. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan madrasah semakin banyak dana yang dibutuhkan. Untuk itu kreativitas setiap pengelola madrasah dalam menggali dana dari berbagai sumber akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan program madrasah baik rutin maupun pengembangan di lembaga yang bersangkutan. Pasal 46 Undang-undang No 20 Tahun 2003 dan pasa 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan menyatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Berdasarkan tuntutan kebutuhan di madrasah tersebut utamanya kebutuhan pengembangan

pembelajaran yang sangat membutuhkan biaya yang relatif banyak, maka sumber pendapatan diupayakan dari berbagai pihak agar membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah, disamping madrasah perlu melakukan usaha mandiri yang bisa menghasilkan dana. Hal ini akan terwujud apabila menajemen sekolah

27

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di samping kreativitas sekolah juga menjadi andalan utama. Berbagai perkembangan yang ada di abad 21, mengakibatkan adanya pengaruh langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan perolehan keuangan sekolah, yaitu praktek pembukuan yang sesuai dengan akuntansi (accounting), sekolah yang memiliki piagam (charter schools), daya tarik sekolah(magnet school), privatisasi sekolah (the privatization of school), vouchers, sistem yang terbuka dalam mengelola sekolah (open systems), dan manajemen berdasarkan kondisi riil sekolah (site-based management)13. Untuk itu madrasah perlu memenuhi poin-poin tersebut agar perolehan dana bisa lebih ditingkatkan. Hal ini terjadi karena masyarakat sangat mempercayai keunggulan

13

. Ibid. h 35 sehingga mereka merasa respek terhadap lembaga pendidikan. Sumber-sumber pendapatan madrasah bisa berasal dari pemerintah, usaha mandiri sekolah, orang tua siswa, dunia usaha dan industri, sumber lain seperti hibah yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yayasan penyelenggara pendidikan bagi lembaga pendidikan swasta, serta masyarakat luas. Adapun sumber pendapatan madrasah adalah: Sumber

keuangan dari pemerintah bisa berasal dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/ kota. Sumber keuangan pendidikan yang berasal dari pemerintah pusat dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan yang berasal dari pemerintah kabupaten dan kota dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selanjutnya melalui kebijakan pemerintah yang ada, di tahun 2007 di dalam pengelolaan keuangan

28

dikenal sumber anggaran yang disebut Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). DIPA meliputi Administrasi Umum, yaitu alokasi dari Pemerintah yang bersumber APBN penerimaan dari pajak, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak(PNBP) yang bersumber dari dana masyarakat Beberapa kegiatan yang merupakan usaha mandiri madrasah yang bisa menghasilkan pendapatan madrasah antara lain : (1) pengelolaan kantin sekolah, (2) pengelolaan koperasi madrasah, (3) pengelolaan wartel, (4) pengelolaan jasa antar jemput siswa, (5) panen kebun madrasah, (6) kegiatan yang menarik sehingga ada sponsor yang memberi dana, (7) kegiatan seminar/pelatihan/ lokakarya dengan dana dari peserta yang bisa disisihkan sisa anggarannya untuk madrasah (8) penyelenggaraan lomba kesenian dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang sebagian dana bisa disisihkan untuk madrasah Sumber dana yang berasal dari orang tua siswa dapat berupa sumbangan fasilitas belajar siswa, sumbangan pembangunan gedung dan iuran komite. Selain itu bisa juga sekolah mengembangkan penggalian dana dalam bentuk: amal jariyah, zakat mal, uang tasyakkuran, amal Jumat Sumber dana dari dunia usaha dan industri dilakukan melalui kerja sama dalam berbagai kegiatan, baik bantuan berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. Sumber dana dari masyarakat demikian juga bisa berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. B. Pengorganisasian Pembiayaan Pendidikan di Madrasah 1. Pengertian Organisasi adalah suatu sistem, mempunyai struktur dan perencanaan yang

29

dilakukan dengan penuh kesadaran, di dalamnya orang-orang bekerja dan berhubungan satu sama lain dengan satu cara yang terkordinasi dan kooperatif guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, Beach (1990:132). Ada pula yang mengatakan bahwa organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal dalam persekutuan mana selalu terdapat hubungan antara seorang/ sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang/kelompok orang lain yang disebut bawahan (Siagian, 1980:117). Begitu pula yang dijelaskan oleh Terry dalam Widjayakusuma (2002:127) bahwa pengistilahan organisasi berasal dari kata organism (organisme) yang merupakan sebuah entitas dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan mereka satu sama lainnya dipengaruhi oleh hubungan mereka terhadap keseluruhan. Lebih luas lagi istilah ini dimaknakan sebagai suatu aktifitas mengusahakan hubungan-hubungan perilaku yang efektif antar orangorang hingga mereka dapat bekerja sama secara efisien sehingga mendapatkan kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mewujudkan tujuan atau sasaran tertentu. Burhanuddin (1994:193) mengatakan bahwa ada dua hal penting yang dapat dipahami dari pengertian organisasi, yaitu: (1) organisasi dipandang sebagai wadah, tempat dimana kegiatan administrasi dan manajemen dilaksanakan, dan (2) organisasi adalah sebagai proses yang berusaha menyoroti interaksi (hubungan) antara orang-orang yang terlibat di dalam organisasi itu. Dari pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

30

pengorganisasian pada hakikatnya mengandung pengertian sebagai proses penetapan struktur peran-peran melalui penentuan aktifitas-aktifitas yang dubutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dan bagian-bagiannya, pengelompokkan aktifitas-aktifitas, penugasan kelompok-kelompok aktifitas kepada manajer-manajer, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi, baik horisontal maupun vertikal dalam struktur organisasi. Terkait dengan pengorganisasian berbagai kegiatan yang tentunya membutuhkan pembiayaan di madrasah maka pengorganisasian pembiayaan merupakan proses penetapan struktur peran-peran oleh pengelola kegiatan dan pembiayaan melalui penentuan aktifitas-aktifitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan madrasah, pengelompokkan aktifitas-aktifitas, penugasan kelompok-kelompok aktifitas kepada kepala tata usaha dan pengelola kegiatan, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi, baik horisontal maupun vertikal dalam struktur organisasi madrasah. 2. Prinsip-Prinsip Pengorganisasian Untuk memproses suatu organisasi agar berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan, maka sangat dibutuhkan beberapa prinsip dasar sebagai panduan pelaksanaan. Dalam hal ini menurut beberapa pakar manajemen antara lain, Burhanuddin (1994:203), Harjito (1995:34) dan Kadarman, et. al. (1996:38), terdapat kurang lebih tujuh prinsip organisasi yang dipandang penting. Ketujuh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:(1) Perumusan tujuan. Setiap

31

organisasi haruslah mempunyai tujuan jelas sebagai dasar pendiriannya. Karena hanya dengan tujuan yang jelas akan memberikan pedoman yang mantap bagi setiap anggotanya khususnya dalam menentukan aktifitas manajerial beserta tanggung jawabnya. (2) Kesatuan arah. Artinya semua aktifitas yang terjadi dalam suatu organisasi harus mengarah pada satu tujuan dan cita-cita bersama. (3) Pembagian kerja. Berbagai bentuk aktifitas yang diperlukan dalam proses pencapaian tujuan organisasi perlu dibagi dalam beberapa kelompok aktifitas berdasakan potensi dan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing kelompok (tenaga kerja). Wursanto (1988:48) mengatakan bahwa melalui penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing. Syarat ini akan dapat mengupayakan efisiensi kerja yang baik. (4) Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Pendelegasian wewenang adalah prinsip berikutnya yang harus dilakukan setelah pembagian kerja. Hal ini dimaksudkan agar setiap bagian dapat menjalankan segala aktifitas manajerial dan dapat dituntut tanggung jawabnya. Tentu saja dalam penerapan prinsip ini perlu diperhatikan adanya keseimbangan antara kewenangan dan tanggung jawab pekerjaan. Keseimbangan ini akan mewujudkan mekanisme kerja yang sehat dan pada akhirnya pendelegasian wewenang juga akan memotivasi bawahan untuk lebih percaya diri, bekerja lebih baik, kreatif dan bertanggung jawab. (5) Koordinasi. Pelaksanaan aktifitas beserta kewenangan setiap bagian tentu akan saling berpengaruh dan berkaitan satu dengan lainnya. Karena itu diperlukan adanya koordinasi antar bagian. Prinsip ini menjadi penting mengingat dalam prakteknya kerap kali ditemukan kasus dimana setiap bagian tanpa sadar menjadi lebih mementingkan

32

bagiannya sendiri. (6) Rentang manajemen. Efektifitas dan efisiensi pengendalian bawahan langsung dipengaruhi oleh rentang manajemen yakni beberapa bawahan langsung yang dapat diawasi secara efektif dan efisien yang jumlahnya bergantung pada kondisi dan situasi yang dihadapi. (7) Tingkat pengawasan. Guna memudahkan penyusunan organisasi harus dilakukan dengan memperhatikan tingkat-tingkat pengawasan secara struktural. Prinsip pengorganisasian dalam pengorganisasian pembiayaan pendidikan di madrasah yaitu:(1) Perumusan tujuan. Madrasah harus mempunyai tujuan yang jelas karena hanya dengan tujuan yang jelas akan memberikan pedoman yang mantap bagi setiap personil madrasah khususnya dalam menentukan aktifitas manajerial para personil yang mengelola berbagai pembiayaan yang ada di madrasah beserta tanggung jawabnya. (2) Semua pengelol\a kegiatan mengarahkan aktifitasnya pada satu tujuan dan cita-cita bersama. (3). Berbagai bentuk kegiatan yang diperlukan dalam proses pencapaian tujuan madrasah perlu dibagi dalam beberapa kelompok aktifitas berdasakan potensi dan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing personil pengelola kegiatan. (4) Kepala madrasah mendelegasikan wewenang kepada personil yang terkait dengan kegiatan pembiayaan dan harus dilakukan setelah pembagian kerja. (5) Pelaksanaan berbagai kegiatan beserta kewenangan pengelola kegiatan di madrsah akan saling berpengaruh dan berkaitan satu dengan lainnya. Sehingga perlu adanya koordinasi antara pengelola kegiatan agar supaya semua kegiatan bisa saling mengisi dan satu pengelola kegiatan tidak memandang kegiatannya lebih pnting dari kegiatan yang lain.

33

C. Penggerakan Pembiayaan Pendidikan Terry (2001:181) mengatakan bahwa penggerakan adalah mengintegrasikan usaha-usaha anggota atau kelompok sedemikian rupa sehingga dengan selesainya tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka, mereka memenuhi tujuan-tujuan individual dan kelompok. Dengan kata lain, menempatkan semua anggota kelompok agar bekerja secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi. Arifin Abdurachman (1971:78) berpendapat bahwa, penggerakan adalah kegiatan manajemen untuk membuat orang lain suka dan dapat bekerja. Siagian (1980:128), mengatakan bahwa penggerakan adalah keseluruhan pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikan rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis. Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa, penggerakan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting. Sebab tanpa fungsi ini, maka apa yang telah direncanakan dan diorganisir itu tidak dapat direalisasikan dengan baik. Dengan kata lain, penggerakan menempati posisi yang vital bagi langkah-langkah manajemen dalam merealisasi segenap tujuan, rencana dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pembahasan fungsi penggerakan terkait dengan penggerakan pembiayaan pendidikan di madrasah, kepala madrasah sebagai pemimpin merupakan salah satu aspek yang sangat urgen, sehingga dapat dinyatakan bahwa penggerakan, sebenarnya telah memadai hanya dengan mendefinisikan kepemimpinan itu sendiri. Seperti pernyataan Kadarman (1996:56), bahwa

34

kepemimpinan dapat diartikan sebagai suatu seni atau proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka mau berusaha untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok. Kepemimpinan dapat juga dijelaskan sebagai suatu kemampuan, proses atau fungsi yang digunakan untuk mempengaruhi atau mengarahkan orang lain untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Lain halnya dengan Kotter (1997:78), menawarkan pendapat yang agak berbeda dan bahkan terkesan lebih progresif. Menurutnya, kepemimpinan dapat diartikan sebagai suatu proses pergerakan atau perpindahan suatu group atau beberapa group dalam arah yang sama tanpa adanya paksaan. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang menghasilkan pergerakan dalam minat jangka panjang groupnya. Dengan demikian seorang pemimpin bertugas untuk menggerakkan, mengarahkan, mendorong dan memberi keyakinan kepada orang-orang yang kelompok, baik itu dipimpinnya dalam suatu entitas atau

individu sebagai entitas terkecil sebuah komunitas ataupun

hingga skala negara, untuk mencapai tujuan sesuai dengan kapasitas kemampuan yang dimiliki. Pemimpin juga harus dapat memfasilitasi anggotanya dalam mencapai tujuannya. Ketika pemimpin telah berhasil membawa organisasinya mencapai tujuannya, maka saat itu dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil menggerakkan dan mengarahkan organisasinya dalam arah yang sama tanpa paksaan. Pendapat di atas mendeskripsikan sedemikian pentingnya faktor kepemimpinan dalam mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi. Semua manajer adalah pemimpin karena mereka mempengaruhi orang lain dalam

35

organisasi. Bahkan Kotter (1997:78) menegaskan bahwa terjadinya peningkatan pesat lebih dari apa yang kita sadari berkaitan dengan kebutuhan akan kepemimpinan dalam pekerjaan manajerial dan kesulitan dalam menyediakan kepemimpinan yang efektif dalam pekerjaan tersebut. D. Pengawasan Pembiayaan Pendidikan di Madrasah 1. Pengertian Mockler dalam Stoner (1992:58) menjelaskan bahwa pengawasan sebagai suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan, agar mendisain sistem umpan balik informasi, untuk

membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan, menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan tersebut, dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya organisasi telah digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien guna tercapainya tujuan organisasi. 2. Proses Pengawasan Sehubungan dengan pengertian pengawasan sebagaimana

dikemukakan di atas, Mockler dalam Stoner (1992:60) juga membagi proses pengawasan ke dalam empat langkah pengendalian manajemen sebagai berikut : a. Menetapkan standar dan metode mengukur prestasi kerja. Karena perencanaan merupakan tolok ukur merancang pengawasan, maka hal itu berarti bahwa langkah pertama dalam proses pengawasan ialah menyusun rencana. Akan tetapi karena perencanaan berbeda dalam perincian dan kerumitannya, dan karena manajer biasanya tidak dapat mengawasi segala-

36

galanya, maka harus ditetapkan standar khusus. Standar yang dimaksud adalah kriteria yang sederhana untuk prestasi kerja, yakni titik-titik yang terpilih di dalam seluruh program perencanaan untuk mengukur prestasi kerja tersebut guna memberikan tanda kepada manajer tentang perkembangan yang terjadi di dalam organisasi itu tanpa perlu mengawasi setiap langkah untuk proses pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan. b. Melakukan pengukuran prestasi kerja. Langkah kedua dalam pengawasan ialah mengukur, atau

mengevaluasi prestasi kerja terhadap standar yang telah ditentukan. Pengukuran prestasi kerja terhadap standar secara ideal hendaknya dilakukan atas dasar pandangan ke depan, sehingga penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dari standar dapat diketahui lebih dahulu. Jika tidak mempunyai kemampuan seperti itu, penyimpangan-penyimpangan harus dapat diketahui sedini mungkin. c. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar. Setelah dua proses sebelumnya dilalui, maka yang perlu dilakukan pada langkah ini adalah membandingkan hasil pengukuran dengan target atau standar yang telah ditetapkan. Bila prestasi sesuai dengan standar, manajer akan menilai bahwa segala sesuatunya berada dalam kendali. d. Mengambil tindakan korektif. Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak diambil tindakan untuk membetulkan penyimpangan yang terjadi. Jika standar ditetapkan untuk mencerminkan struktur organisasi dan prestasi kerja diukur dalam standar ini,

37

maka pembetulan terhadap penyimpangan yang negatif dapat dipercepat, karena manajer sudah mengetahui dengan tepat bagian manakah dari pelaksanaan tugas oleh individu atau kelompok kerja serta tindakan koreksi harus dilakukan. Anthony (1992:85) memperjelas pembahasan tentang pengawasan manajemen dengan membandingkan pengendalian formal organisasi dengan dua tipe pengendalian lainnya, yaitu pengendalian pada kelompok informal dalam organisasi dan pengendalian yang berkaitan dengan tujuan intristik manajer secara pribadi melalui perbandingan dalam tabel 1. Ketiga macam pengendalian yang digambarkan dalam tabel tersebut, harus bekerja dalam arah yang sama, sekalipun seperti diakui oleh beliau sendiri bahwa hal ini belum perna terwujud. Tabel 1: Pengendalian Dalam Organisasi
Aspek Pengendalian Pelaku Kendali Kendali Ukuran Prestasi Anggaran Biaya Target Penjualan Norma kelompok Isyarat bagi Tindak Koreksi Deviasi Imbalan Untuk Prestasi Penghargaan manajemen Insentuf uang Promisi Pengakuan rekan Keanggotaan Kepemimpin an Kepuasan karena terkendali Sanksi Untuk Wan Prestasi Minta Penjelasan

Formal Organisasi

Kelompok Informal

Strategic Plan Organisasi Tanggapan atas persaingan Keterikatan bersama Cita-cita kelompok Tujuan dan aspirasi pribadi

Deviasi

Pribadi Manajer

Harapan pribadi Target antara

Dugaan akan kegagalan di masa depan Target tak tercapai

Ejekan Pengasing an Permusuha n Masa gagal

Sumber : Anthony dan J. Dearden (1992:85)

38

3. Syarat-Syarat Pengawasan Dalam melaksanakan pengawasan pada umumnya ada dua prasyarat yang harus dimiliki. Dua prasyarat dimaksud adalah sebagai berikut : a. Pengawasan membutuhkan perencanaan. Sebelum teknik pengawasan dapat dipergunakan atau disusun sistemnya, pengawasan harus didasarkan pada perencanaan. Perencanaan yang lebih jelas, lebih lengkap dan lebih terpadu akan meningkatkan efektifitas pengawasan. Secara sederhana, dapatlah dikatakan tidak ada kemungkinan bagi manajer untuk memastikan bahwa unit organisasinya sedang melaksanakan apa yang diinginkan dan diharapkan, kecuali apabila ia mengetahui lebih dahulu apa yang dia harapkan. Hubungannya yang penting dengan perencanaan strategis organisasi dapat dilihat pada tabel 2 yang dibuat oleh Anthony (1992:88) tentang hubungan perencanaan strategis dengan pengendalian manajemen. Tabel 2 : Hubungan Perencanaan Strategis Dan Pengendalian Manajemen AKTIFITAS Perencanaan Strategis Pengendalian Manajemen HASIL AKHIR Tujuan, Sasaran, Kebijakan Penerapan Strategi Pelaksanaan Tugas-Tugas Individual Yang Efektif & Efisien

Pengendalian Tugas

Sumber : Anthony dan J. Dearden (1992:85)

39

b. Pengawasan membutuhkan struktur organisasi yang jelas. Pengawasan bertujuan untuk mengukur aktifitas dan mengambil tindakan guna menjamin bahwa rencana sedang dilaksanakan. Untuk itu harus diketahui orang yang bertanggung jawab atas terjadinya penyimpangan rencana dan yang harus mengambil tindakan untuk membetulkannya. Pengawasan aktifitas dilaksanakan melalui orang-orang, akan tetapi tidak dapat diketahui siapakah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya penyimpangan dan tindakan koreksi yang perlu diambil, kecuali apabila tanggung jawab dalam organisasi dinyatakan dengan jelas dan terinci. Oleh karena itu prasyarat yang penting dalam efektivitas pengawasan ialah struktur organisasi yang jelas, lengkap dan menyatu. Pengawasan pembiayaan pendidikan di madrasah dilakukan oleh kepala madrasah dan instansi vertikal di atasnya, serta aparat pemeriksa keuangan pemerintah. Terkait dengan pengawasan dari luar sekolah, kepala sekolah bertugas menggerakkan semua unsur yang terkait dengan materi pengawasan agar menyediakan data yang dibutuhkan oleh pengawas. Dalam hal ini kepala madrasah mengkoordinasikan semua kegiatan pengawasan sehingga kegiatan pengawasan berjalan lancar. Kegiatan pengawasan pelaksanaan pembiayaan pendidikan dilakukan dengan maksud untuk mengetahui: (a) kesesuaian pelaksanaan anggaran dengan ketentuan yang telah ditetapkan dan dengan prosedur yang berlaku, (b) kesesuaian hasil yang dicapai baik di bidang teknis administratif maupun teknis operasional dengan peraturan yang ditetapkan, (c) kemanfaatan sarana yang ada (manusia,

40

biaya, perlengkapan dan organisasi) secara efesien dan efektif, dan (d) sistem yang lain atau perubahan sistem guna mencapai hasil yang lebih sempurna. Tujuan pengawasan pembiayaan ialah untuk menjaga dan mendorong agar: (a) pelaksanaan anggaran dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah digariskan, (b) pelaksanaan anggaran sesuai dengan peraturan instruksi serta asasasas yang telah ditentukan, (c) kesulitan dan kelemahan bekerja dapat dicegah dan ditanggulangi atau setidak-tidaknya dapat dikurangi, dan (d) pelaksanaan tugas berjalan efesien, efektif dan tepat pada waktunya. Sebagaimana telah dikatakan bahwa pengawasan itu terdiri dari berbagai aktivitas yang bertujuan agar pelaksanaan menjadi sesuai dengan rencana. Dengan demikian pengawasan itu merupakan proses, yaitu kegiatan yang berlangsung secara berurutan. Menurut Pigawahi, proses pengawasan mencakup kegiatan berikut: pemahaman tentang ketentuan pelaksanaan dan masalah yang dihadapi, menentukan obyek pengawasan, menentukan sistem, prosedur, metode dan teknik pengawasan, menentukan norma dan yang dapat dipedomani, sebab menilai

penyelenggaraan,

menganalisis

menentukan

penyimpangan,

menentukan tindakan korektif dan menarik kesimpulan atau evaluasi14. Langkah pengawasan itu meliputi: menetapkan standar, mengukur prestasi kerja dan membetulkan penyimpangan. Dilakukannya penetapan standar, mengingat

perencanaan merupakan tolok ukur untuk merancang pengawasan, maka hal itu
14

. Kadarman, A.M. dan Udaya, Jusuf. 1992. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. ( Cet. 1.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama). h. 45

41

berarti bahwa langkah pertama dalam pengawasan adalah menyusun rencana. Akan tetapi perencanaan memiliki tingkat yang berbeda dan pimpinan tidak mengawasi segalanya, maka ditentukan adanya standar khusus. Selanjutnya mengukur atau mengevaluasi prestasi kerja terhadap standar yang telah ditentukan dan membetulkan penyimpangan yang terjadi. Jika ada penyimpangan dapat segera dan cepat dilakukan pembetulan. Pengawasan keuangan memiliki fungsi mengawasi perencanaan

pembiayaan dan pelaksanaan penggunaan keuangan. Walaupun perencanaan yang baik telah ada, yang telah diatur dan digerakkan, belum tentu tujuan dapat tercapai, sehingga masih perlu ada pengawasan. Pada dasarnya pengawasan merupakan usaha sadar untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan

penyimpangan pelaksanaan dari rencana yang telah ditetapkan. Apakah pelaksananya telah tepat dan telah menduduki tempat yang tepat, apakah cara bekerjanya telah betul dan aktivitasnya telah berjalan sesuai dengan pola organisasi. Kalau terdapat kesalahan dan penyimpangan, maka segera diperbaiki. Oleh sebab itu setiap manajer pada setiap tingkatan organisasi berkewajiban Pemeriksaan merupakan bagian dari pengawasan, yaitu tindakan membandingkan antara keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya.. Pemeriksaan kas adalah suatu tindakan membandingkan antara saldo kas baik berupa uang tunai, kertas berharga maupun giral yang berada dalam pengurusan pemegang kas dengan tata usahanya. Penerimaan dan pengeluaran keuangan madrasah harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan secara rutin sesuai peraturan yang berlaku. Pelaporan dan

42

pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari orang tua siswa dan masyarakat dilakukan secara rinci dan transparan sesuai dengan sumber dananya. Pelaporan dan pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari usaha mandiri madrasah dilakukan secara rinci dan transparan kepada dewan guru dan staf madrasah. Pertanggungjawaban pembiayaan pendidikan di madrasah dilaksanakan dalam bentuk laporan bulanan dan triwulan kepada: a. Kepala Kanwil Departemen Agama up. Kepala Bidang Mapenda

Islam/Bagais/TOS b. Kantor Departemen agama setempat Khusus untuk keuangan komite madrasah, bentuk pertanggungjawabannya sangat terbatas pada tingkat pengurus dan tidak secara langsung kepada orang tua peserta didik15.

43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Jenis Penelitian Penelitian ini berlokasi di MAN Model Manado, secara keseluruhan dilaksanakan selama 5 bulan, sejak bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2009. Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptitf kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar, kata-kata disusun dalam kalimat, misalnya kalimat hasil wawancara antara peneliti dan informan. Sesuai dengan karakter tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu berusaha mendapatkan informasi yang selengkap mungkin sesuai dengan fokus permasalahan dalam penelitian ini. B. Metode Pendekatan Penelitian ini akan menggunakan pendekatan etnografi. Studi etnografi (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnografi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual dan cara-cara hidup (Sukmadinata, 2006: 62). Etnografi adalah pendekatan empiris dan teoretis yang bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan (fieldwork) yang intensif. Etnograf bertugas membuat thick descriptions (pelukisan mendalam) yang menggambarkan kejamakan strukturstruktur konseptual yang kompleks, termasuk asumsi-asumsi yang tak terucap

44

dan taken-for-granted (yang dianggap sebagai kewajaran) mengenai kehidupan. Seorang etnografer memfokuskan perhatiannya pada detil-detil kehidupan lokal dan menghubungkannya dengan proses-proses sosial yang lebih luas. Hasil akhir penelitian komprehensif, suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh disertai interpretasi yang menginterpretasikan seluruh aspek-aspek kehidupan dan menggambarkan kompleksitas kehidupan tersebut. Untuk itu, penelitian ini akan difokuskan pada penelitian mikro etnografi, yaitu difokuskan pada manajemen pembiayaan pendidikan di Madrasah Aliyan Negeri Model Manado. C. Metode Pengumpulan Data Sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian kualitatif dan sumber data yang digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan analisis dokumen, observasi dan wawancara. Untuk mengumpulkan data dalam kegiatan penelitian diperlukan cara-cara atau teknik pengumpulan data tertentu, sehingga proses penelitian akan dapat berjalan lancar. Sumber data dan jenis data yang terdiri atas kata-kata dan tindakan, sumber tertulis, foto, dan data statistik. Selain itu masih ada sumber data yang tidak dipersoalkan di sini seperti yang bersifat nonverbal (Moleong, 2007: Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif pada umumnya menggunakan teknih observasi, wawancara, dan dokumentasi, atas dasar konsep tersebut, maka ketiga teknik pengumpulan data di atas digunakan dalam penelitian ini dan dipaparkan sebagai berikut: 1. Observasi

45

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik penelitian yang sangat penting. Pengamatan itu digunakan karena berbagai alasan. Ternyata ada beberapa tipologi pengamatan. Terlepas dari jenis pengamatan, dapat dikatakan bahwa pengamatan terbatas dan tergantung pada jenis dan variasi pendekatan (Moleong, 2007: 242). Jorgensen dalam Mulyana (2004:164), mengemukakan bahwa metode pengamatan berperanserta dapat didefinisikan berdasarkan tujuh ciri berikut: minat khusus pada makna dan interaksi manusia berdasarkan perspektif orang-orang dalam atau anggota-anggota situasi atau keadaan tertentu, fondasi penelitian dan metodenya adalah kedisinian dan kekinian kehidupan sehari-hari, bentuk teori dan penteorian yang menekankan interpretasi dan pemahaman eksistensi manusia, logika dan proses penelitian yang terbuka, luwes, oportunistik, dan menuntut redefinisi apa yang problematic, berdasarkan fakta yang diperoleh dalam situasi nyata eksustensi manusia, pendekatan dan rancangan yang mendalam, kualitatif, dan studi kasus, penerapan peran partisipan yang menuntut hubungan langsung dengan pribumi lapangan, penggunaan pengamatan langsung bersama metode lainnya dalam mengumpulkan informasi. Menurut Arikunto (2006:229), sebagai contoh dapat dikemukakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui proses belajar mengajar di kelas. Variabel akan diungkap didaftar, kemudian di tally kemunculannya, dan jika perlu kualitas kejadian itu dijabarkan lebih lanjut. Teknik observasi ini digunakan untuk mengamati secara langsung dan tidak langsung tentang perilaku personel dimadrasah manajemen pembiayaan pendidikan di madrasah yang terkait dengan

46

2. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan pewawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186). Peneliti harus mencatat teknik yang mana kondisi dan situasi yang mana mendukung penerimaan informasinya yang paling tepat. Sebaiknya pada waktu uji coba, digunakan tape recorder (Arikunto, 2007: 228). Teknik wawancara dipergunakan untuk mengadakan komunikasi dengan pihak-pihak terkait atau subjek penelitian, antara lain kepala sekolah, pembantu kepala sekolah urusan kurikulum, sarana prasarana, guru, pengurus komite sekolah, dan siswa dalam rangka memperoleh penjelasan atau informasi tentang hal-hal yang belum tercantum dalam observasi dan dokumentasi. Wawancara ini dilakukan peneliti dengan subjek penelitian yang terkait dengan manajemen pembiayaan pendidikan di MAN Model Manado sekaligus digunakan untuk mengkonfirmasikan data yang telah terkumpul melalui observasi dan dokumentasi.

3. Dokumentasi Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen baik yang berada di sekolah ataupun yang berada berada diluar sekolah, yang ada hubungannya dengan penelitian tersebut. Menurut Arikunto (2007:231), dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

47

prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.. Dokumen dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Dokumen digunakan untuk keperluan penelitian menurut Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2007:217), karena alasan : 1) dokumen digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong, 2) berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian, 3) berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks, 4) dokumen harus dicari dan ditemukan, 5) hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang manajemen pembiayaan pendidikan di MAN Model Manado. Dokumen antara lain berupa kebijakan-kebijakan kerja pemerintah, rencana

pengembangan

madrasah, pengelola

program kegiatan

madrasah,

laporan-laporan anggaran

pertanggunjawaban

di madrasah,

Rencana

pendapatan dan belanja madrasah, profil madrasah dan dokumen-dokumen lain yang dianggap relevan dengan fokus permasalah. Dokumentasi digunakan untuk mempelajari berbagai sumber dokumentasi terutama yang berada di sekolah itu sendiri dan didukung oleh sumber-sumber yang representatif.

E. Metode Pengolahan dan Analisis Data Manurut Patton (dalam Moelong, 2007:280), pengolahan data adalah

proses kategori urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan

48

arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Sedangkan menurut Bogdan dan Tylor (dalam Moleong, 2007:280), analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis seperti yang di saranakan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis tersebut, jika dikaji definisi pertama lebih menitik beratkan pada pengorganisasian data sedangkan definisi tersebut dapat pengorganisasian data sedangkan definisi yang kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data, dan dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan, analisis data, adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya. Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah, langkah berikutnya ialahmengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan rangkuman yang inti, proses dengan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap beradadi dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategorikategori itu dibuat sambil melakukan koding. Tahap akhir dari analisis data ini adalahmengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah tahap ini mulailah kini

49

tahappenafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan metode tertentu (Moleong, 2007: 247). Analisis data dilakukan dalam suatu proses, proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dan dilakukan secara intensif, yakni sesudah meninggalkan lapangan, pekerjaan menganalisisdata memerlukan usaha pemusatan perhatian dan pengarahan tenaga fisik danpikiran dari peneliti, dan selain menganalisis data peneliti juga perlumendalami kepustakaan guna mengkonfirmasikan atau menjustifikasikan teori baru yang mungkin ditemukan. Menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2007:308), pada dasarnya analisis data ini didasarkan pada pandangan paradigmanya yang positivisme. Analisis data itu dilakukan dengan mendasarkan diri pada penelitian lapangan apakah : satu atau lebih dari satu situs. Jadi seorang analisis sewaktu hendak mengadakan analisis data harus menelaah terlebih dahulu apakah pengumpulan data yang telah dilakukannya satu situs atau lebih. Dalam penelitian ini dilaksanakan pada satu situs yaitu di MAN Model Manado Adapun tahapan dalam menganalisis data adalah: 1. Reduksi Data Reduksi data merupakan kegiatan merangkum catatancatatan lapangan dengan memilah hal-hal yang pokok yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, rangkuman catatan-catatan lapangan itu kemudiandisusun secara sistematis agar memberikan gambaran yang lebih tajam serta mempermudah pelacakan kembali apabila sewaktu-waktu data diperlukan kembali.

50

2. Display data Display data berguna untuk melihat gambaran keseluruhan hasil penelitian, baik yang berbentuk matrik atau pengkodean, dari hasil reduksi data dan display data itulah selanjutnya peneliti dapat menarik kesimpulan data memverifikasikan sehingga menjadi kebermaknaan data. 3. Kesimpulan dan Verifikasi Untuk menetapkan kesimpulan yang lebih beralasan dan tidak lagi berbentuk kesimpulan yang coba-coba, maka verifikasi dilakukan sepanjang penelitian berlangsung sejalan dengan memberchek, trianggulasi dan audit trail, sehingga menjamin signifikansi atau kebermaknaan hasil penelitian. Selanjutnya untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik trianggulasi,yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainnya. Menurut Moleong (2007:330), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzin (dalam Moleong, 2007:330) membedakan empat macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Trianggulasi dilakukan melalui wawancara, observasi

51

langsung dan observasi tidak langsung, observasi tidak langsung ini dimaksudkan dalam bentuk pengamatan atas beberapa kelakukan dan kejadian yang kemudian dari hasil pengamatan tersebut diambil benang merah yang menghubungkan diantara keduannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan akan melengkapi dalam memperoleh data primer dan skunder, observasi dan interview digunakan untuk menjaring data primer yang berkaitan manajemen pembiayaan pendidikan di MAN Model Manado. Tahap-tahap dalam pengumpulan data dalam suatu penelitian, yaitu tahap orientasi, tahap ekplorasi dan tahap member chek. Tahap orientasi, dalam tahap ini yang dilakukan peneliti adalah melakukan prasurvey ke lokasi yang akan diteliti, dalam penelitian ini, prasurvey dilakukan di MAN Model Manado, melakukan dialog dengan kepala sekolah, beberapa perwakilan guru, juga dari pegawai administrasi serta pengurus komite Madrasah. Kemudian peneliti juga melakukan studi dokumentasi serta kepustakaan untuk melihat dan mencatat data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Tahap eksplorasi, tahap ini merupakan tahap pengumpulan data di lokasi penelitian, dengan melakukan wawancara dengan unsur-unsur yang terkait, dengan pedoman wawancara yang telah disediakan peneliti, dan melakukan observasi tidak langsung tentang kondisi sekolah dan mengadakan pengamatan langsung tentang penanganan pendidikan pascagempa di sekolah itu. Tahap member chek, setelah data diperoleh di lapangan, baik melalui observasi, wawancara ataupun studi dokumentasi, dan responden telah mengisi data kuesioner, serta responden diberi kesempatan untuk menilai data informasi yang telah diberikan kepada peneliti, untuk melengkapi atau merevisi data yang baru, maka data yang ada tersebut

52

diangkat dan dilakukan audit trail yaitu menchek keabsahan data sesuai dengan sumber aslinya.

53

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Perkembangan dan Kondisi Obyektif MAN Model Manado Keberadaan MAN Model Manado saat ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan perkembangan yang cukup panjang yang diawali dari perkembangan Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Manado. Dalam proses ini terjadi peralihan fungsi dari PGAN Manado yang merupakan wujud kesadaran akan pentingnya pendidikan agama bagi umat Islam Sulawesi Utara, khususnya di kota Manado, maka diupayakanlah pendirian sekolah PGA. Tepatnya tanggal 1 Oktober 1965, melalui upacara resmi yang berlangsung di Aula Kodam 13 Merdeka (sekarang Korem 131 Santiago) diresmikanlah pendirian PGA Manado. Para tokoh yang berperan dalam hal ini, adalah Ustadz Musonif, BA. (waktu itu sebagai, Kepala Jawatan Pendidikan Agama Provinsi Sulawesi Utara, sekarang Bagian Pergurais di lingkungan Departemen Agama), Ustadz Haji Abdul Kadir Abraham (waktu itu sebagai, Kepala Kantor Agama Manado-Minahasa), Drs. H. Djainuddin Ahmad, dan Ustadz Drs. H. Abdurrahman Noh. Sejak kelahirannya, PGA Manado belum langsung memilki gedung sendiri untuk kelangsungan PBM (proses belajar mengajar), maka ditempulah kesepakatan bahwa untuk memenuhi kegiatan PBM, dipinjamlah gedung SDN 12 Manado, dengan konsekwensi kegiatan PBM PGA Manado berlangsung di sore hari. Nanti pada medium Maret 1966, PGA Manado dapat dikatakan telah

54

memiliki sarana gedung sendiri, baik untuk kelangsungan kegiatan PBM maupun pengelolaan administrasi sekolah. Sarana gedung dimaksud adalah yang kini menjadi lokasi MAN Model Manado. Dulunya baik lokasi maupun gedung di tempat itu merupakan kompleks persekolahan khusus etnis Tionghoa, yakni SMP dan SMA Hwa Chiau. Sebagai akibat dari krisis politik bangsa Indonesia di masa itu (adanya rangkaian peristiwa PKI pada 30 September 1965 hingga terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966), sehingga persekolahan Hwa Chiau pada akhirnya ditinggalkan pemiliknya (orang-orang Cina waktu itu), maka para pengelola PGA Manado waktu itu berinisiatif untuk menggunakannya. Secara formal, langkah tersebut didukung Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara di masa itu, hal ini sesuai SK Pemda Sulut No. 1 Tahun 1965, tentang penempatan tanah dan gedung yang ditinggalkan para residivis PKI di masa itu. Sejak didirikan (1 Oktober 1965) PGA Manado dipimpin oleh Ustadz Musonif, BA dengan wakil kepala Drs. H. Djainuddin Ahmad. Seiring dengan perpindahan kegiatan kependidikan (baik proses belajar mengajar maupun pengelolaan adminstrasi) PGA Manado dari SDN 12 ke lokasi persekolahan Hwa Chiau, berlangsung pula proses pergantian pimpinan (kepala sekolah). Terhitung mulai awal April 1966 PGA telah dipimpin oleh Drs. H. Djainuddin Ahmad. Sejak berdirinya PGAN Manado hingga berubah nama menjadi MAN Manado telah mengalami enam kali pergantian Kepala sekolah

55

Tabel. 1 Daftar Pejabat Kepala PGAN Manado Kurun Tahun 1965 s.d 1995 No. 1. 2. 3. 4. 5. N a ma Musonif, BA. Drs. H. Djainuddin Ahmad Abdullah Sidiqi Periode 1965-1966 1966-1975 1975-1978 Jabatan Sekarang Mantan Kepala Perwakilan Depag (setingkat dengan Kanwil Depag) Mantan Kakanwil Depag Sulut Almarhum Dosen STAIN Manado Dosen STAIN Manado Pengawas

Drs. Ridwan Sarib 1978-1981 Dra. Hj. Zubaedah Albugis, 1981-1989 M.Si. 6. Drs. Suwarto 1989-1995 Sumber Data: TU. MAN Model Manado, 2009.

Dalam perkembanganya PGAN Manado sempat mengalami tiga kali perubahan tingkatan, dari PGAN 6 tahun menjadi PGAN 4, dan akhirnya menjadi PGAN 3 tahun. Berdasarkan SK Menteri Agama RI, No. 64 tanggal 25 April 1990 tentang alih fungsi PGAN menjadi MAN Manado.15 maka di masa

kepemimpinan Drs. Suwarto (Tahun 1989) mulai berlangsung proses peralihan PGAN Manado menjadi MAN Manado. Secara bertahap mulai Tahun Pelajaran 1990/1991 dimulailah

penyelenggaraan kegiatan PBM MAN Manado untuk kelas I. Sementara untuk Kelas II dan III, masih berlangsung kegiatan PBM dengan kurikulum PGAN Manado, hingga berakhir pada tahun pelajaran 1992/1993. Dengan demikian, keorganisasian MAN Model Manado masih menjadi satu dengan PGAN Manado.

15

Departemen Agama, SK Menteri Agama No. 64 Tahun 1990, Jakarta, tanggal 25 April

1990.

56

Dengan terbitnya Surat Keputusan (SK) Menteri Agama No. 65 tertanggal 7 Maret 1992 tentang kuasa peralihan tugas pegawai dan guru dari PGAN ke MAN, maka sejak saat itu baik secara struktur organisasi maupun

penyelenggaraan pendidikan dari kelas I sampai dengan kelas III secara utuh telah beralih fungsi menjadi MAN Manado. Sejak saat itu baik secara struktur

organisasi maupun penyelenggaraan pendidikan dari kelas I s.d. kelas III, maka MAN Manado dianggap telah melengkapi seluruh administrasi yang disyarakan pada perubahan status dimaksud. Dengan demikian pembenahan secara interen dilakukan terhadap program kurikulum dan ketenagaannya. Dalam perkembangannnya, seiring dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan berbasis madrasah, dan untuk mencapai output yang unggul, maka melalui SK Dirjen Bimbagais Departemen Agama RI, nomor: E.IV/PP.00.6/KEP/17.A/98 tertanggal 20 Februari 1998 tentang penetapan 35 buah MAN yang tersebar di 26 propinsi menjadi Madrasah Aliyah 16, maka sejak tahun 1998 MAN Manado berubah status menjadi MAN Model Manado. Berikut ini disajikan daftar pejabat Kepala Madrasah. Tabel 2. Daftar Pejabat Kepala MAN Manado Kurun waktu Tahun 1998 s.d 2009 No. 1. 2. 3. Nama Drs. Suwarto Drs. Hi. Sukarmi Imran Akili, S.Ag.
16

Periode 1989-1995 1995-1996 1996-2000

Jabatan sekarang Pengawas Pensiunan Depag Sulut Pengawas

Departemen Agama, Pedoman Umum Pengelolaan MAN Model (t.t. : Departemen Agama-Asian Development Bank, 2000), h. 1-2.

57

4. 5. 6 7

Drs. Sjamsuddin N. Tuli Drs. H. Abd. Rahim, M.Pd

2000- 2003 2002 -

Pengawas

Kepala MAN Model Manado Pada periode kepemimpinan Kepala MAN Model Manado yang dijabat

Sumber Data: TU MAN Model Manado, 2009.

oleh .............................. menunjukkan bahwa perkembangan madrasah ini telah memasuki era kemajuan yang cukup signifikan dengan ditandai dengan relatif pesatnya perkembangan jumlah siswa yang masuk setaiap tahunnya. Hal ini menujukkan tingginya harapan orang tua siswa terhadap MAN Model Manado sebagai lembaga pendidikan bermutu. Keberhasilan yang dicapai ini dilandasi oleh Visi MAN Model Manado yaitu Terwujudnya Sumber Daya Manusia yang Islami, berkualitas, Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terampil dan mandiri serta bermanfaat bagi masyarakat.
17

Dalam penjabaran Visi secara

operasional, telah ditetapkan Misi MAN Model Manado yaitu : a. b. Menegakkan disiplin bagi seluruh civitas akademika Madrasah. Menyiapkan sumber daya manusia berkualitas yang

berakhlakul karimah dan berwawasan Qurani. c. Meningkatkan penguasaan IPTEK dan komunikasi untuk dapat bersaing di era globalisasi. d. Meningkatkan prestasi Olah Raga dan Seni

17

Lihat : Profil Madrasah Aliyah Negeri Model Manado, 2009

58

e.

Menyiapkan Kemandirian melalui kegiatan Keterampilan dan Kewirausahaan dalam membangun kemitraan. 18 Secara umum, tujuan jangka panjang MAN Model Manado dilandasi

dengan tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UUSPN No 20 tahun 2003 yaitu: Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.19 Sedangkan tujuan secara khusus adalah: a. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan

pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. b. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan, sosial budaya, dan alam sekitar. Selanjutnya dalam profil MAN Model Manado dinyatakan bahwa tujuan jangka pendek MAN Model Manado adalah: a. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam menghadapi Ujian Nasional b. Mempersiapkan siswa untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan minat dan kemampuannya.

18

Ibid

Departemen Pendidikan Nasional RI, Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Cet. Pertama, Setjen Depdiknas, Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depdiknas, Jakarta, 2003), h. 8

19

59

c. Memberi bekal keterampilan (Vocational Skill) untuk dapat berwirausaha dan mandiri. 1. Sistem Kurikulum dan Fasilitas Penunjang Pembelajaran a. Program kurikulum MAN Model Manado Sebagai bagian dari pendidikan nasional, maka pemberlakuan sistem kurikulum yang berlaku di Madrasah Aliyah Nageri (MAN) Model Manado merujuk pada Kurikulum 2004 untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada jenjang kelas X dan kelas XI. Hal ini berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 18 ayat (3) yang menyebutkan bahwa Pendidikan Menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah

(MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Dengan demikian satuan pendidikan Madrasah Aliyah menggunakan Kurikulum yang sama dengan kurikulum yang digunakan di sekolah-sekolah di bawah Departemen Pendidikan Nasional, yaitu kurikulum berbasis komptetensi. Sedangkan kelas III masih menggunakan kurikulum 1994 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan edisi penyempurnaan pada tahun 1999. Pemberlakuan masing-masing kurikulum tersebut selanjutnya

ditetapkan oleh Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama (Mapenda) Departeman Agama menjadi Kurikulum Madrasah Aliyah. Aspek yang

60

menjadi karakteristik Kurikulum Madrasah Aliyah terdapatnya mata pelajaran agama Islam sebagai kurikulum plus dipandang dari lembaga pendidikan umum lainnya. Kebijakan dari Departemen Agama ini berupa rumpun 5 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang terinci yaitu mata pelajaran al-Quran Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab. Sebagai salah satu MAN Model dari 35 MAN Model lainnya di Indonesia yang dikembangkan oleh Development of Madrasah Aliyah Project (DMAP), maka Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado

Mengusahakan peningkatan mutu mata pelajaran inti yaitu: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris Dalam upaya mengadakan penyiasatan kurikulum terhadap mata pelajaran umum tersebut telah dilaksanakan internalisasi nilai-nilai islami melalui pendekatan al-Quran. Misalnya untuk mata pelajaran biologi yang berupaya mengadakan tadabbur terhadap hukum-hukum alam melalui ayatayat al-Quran atau merujuk proses kejadian manusia yang terdapat di dalam al-Quran.20 Upaya mengintegrasikan nilai-nilai Qurani ini belum seluruhnya terlaksana. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai kendala. Salah satu hambatannya adalah karena pada umumnya guru mata pelajaran umum relatif sangat minim pengetahuan agamanya. Apalagi bila diperhadapkan dengan kajian al-Quran yang memerlukan pemahaman yang kompleks. Berkaitan dengan pengembangan kurikulum yang sesui dengan minat, bakat, dan kemampuan akademik siswa, maka MAN Model Manado
Hasil Wawancara dengan Drs. Sapril, Guru Inti Mata Pelajaran Biologi MAN Model Manado selaku Ketua MGMP Rumpun IPA, tanggal 25 Januari 2006, di Manado
20

61

melaksanakan 4 program studi sebagai penjurusan yang diperuntukan bagi siswa kelas X, XI, dan XII. Program studi tersebut adalah : b. Program Studi Ilmu Agama Islam Terdiri dari beberapa mata pelajaran agama seperti Usul Fiqh, Tafsir, ilmu Kalam, Tasawuf sebagai mata pelajaran jurusan disamping mata pelajaran umum lainnya. Dalam Program studi ini siswa dididik untuk mendalami ilmu agama sebagai bekal untuk melaksanakan syiar Islam di dalam masyarakat. Siswa pada program ini dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Agama seperti STAIN, IAIN, atau UIN yang terdapat beberapa fakultas dan jurusan antara lain Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin, Adab, dan Dawah. c. Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam Pembelajaran di program studi ini dititik beratkan pada pembelajaran praktis di laboratorium, sehingga siswa dapat mencoba dan mempraktekkan teori yang didapat dalam pelajaran dengan suatu percobaan di laboratorium. Siswa juga diajak ke lapangan untuk meneliti dan mengamati langsung beberapa fenomena alam, keragaman hayati, dan penerapan ilmu IPA bidang di

industri.Mata pelajaran pada program Studi ini antara lain Fisika,

Kimia, Biologi dan beberapa Mata pelajaran umum lainnya. d. Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial Pembelajaran pada program studi ini lebih menerapkan pada proses sosial di masyarakat, seperti interaksi antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Juga tak kalah pentingnya adalah praktek pengelolaan Ekonomi suatu

62

perusahaan/ organisasi, yaitu pembukuan neraca dan lain-lain. Mata Pelajaran pada program studi ini antara lain Ekonomi Akuntansi, Sosiologi Antropologi, Tata negara dan beberapa mata pelajaran umum lainnya. e. Program Studi Bahasa Bagi siswa yang mengikuti program studi ini, maka diharapkan dapat memiliki penguasaan terhadap bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Dengan menggunakan Laboratorium Bahasa yang cukup memadai, siswa memperoleh kecakapan berbahasa asing yang meliputi kecakapan mendengarkan (Listening), mengucapkan (Speaking), dan percakapan

(dialogue). Mata Pelajarannya antara lain : bahasa Inggris, bahasa Jepang dan beberapa mata pelajaran umum lainnya. Selain program kurikuler sebagaimana yang telah dipaparkan, MAN Model Manado menawarkan Program intra kurikuler berupa Keterampilan yang dimulai sejak tahun 1998. Bersama 82 madrasah Aliyah lain se Indonesia baik negeri maupun swasta, MAN Model Manado mendapat bantuan berupa workshop baik gedung maupun peralatannya dari IDB (Islamic Development Bank). MAN Model Manado saat ini mengembangkan 3 paket keterampilan yakni, keterampilan Tata Busana, Tata Boga, dan Keterampilan Produksi perabot Rumah tangga (Meubelair). Dengan Tenaga pengajar yang kompeten dibidangnya, paket keterampilan MAN Model Manado siap mendidik para siswa untuk mendapatkan keterampilan (vocational skill) sebagai bekal setelah lulus nanti. Secara teknis paket keterampilan dilaksanakan pada seluruh siswa

63

kelas X (sepuluh) pagi hari bersamaan dengan jam reguler lainnya selama 3 jam pelajaran/minggu. Kemudian setelah naik ke kelas XI (sebelas), siswa yang berminat melanjutkan pendidikan keterampilan akan dididik untuk mendapatkan keterampilan lanjutan hingga benar-benar terampil dan menguasainya. Keterampilan lanjutan ini karena hanya diikuti oleh sebagian siswa kelas XI (yang berminat) maka pelatihannya dilaksanakan pada waktu sore hari setelah jam reguler pagi hari selesai, yakni mulai dari jam 14.30 s.d 17.00 selama 3 hari/minggu. f. Keterampilan Tata Busana Pada keterampilan ini siswa akan dilatih untuk membuat pola pakaian, pakaian anak, busana muslim, dan lain lain. Siswa juga dilatih untuk berwira usaha dan praktek industri ke tempat industri konveksi yang ada di sekitar manado. Pelatihan didukung dengan peralatan mesin jahit listrik, mesin obras, dan mesin neci, serta peralatan pendukung lainnya. g. Keterampilan Tata Boga Pada keterampilan ini siswa akan dilatih untuk membuat makanan kecil baik yang berasal dari daerah maupun yang nasional, membuat berbagai jenis minuman daerah, masakan daerah maupun nasional dan kontinental. Peralatan yang digunakan dalam keterampilan ini berupa kompor gas, blender, mixer, oven, kulkas dan peralatan pendukung lainnya. h. Keterampilan Produksi Perabor Rumah Tangga (meubelair) Siswa akan dilatih untuk dapat membuat konstruksi dasar meubelair, membuat meja kursi tamu, meja kursi makan, lemari dan rak/buffet.

64

Pelatihan didukung dengan peralatan tangan dan mesin baik portable maupun statis seperti sekap (ketam) listrik portable dan statis, gergaji listrik portable dan statis, bor portable dan statis, serta peralatan pendukung lainnya. Dalam Upaya mengadakan pembinaan kesiswaan maka MAN Model Manado melaksanakan program ekstra kurikuler yang bertujuan untuk menunjang kegiatan siswa di luar kegiatan Kurikuler dan intra kurikuler. Kegiatan ini untuk mengembangkan minat, bakat, dan kepribadian siswa berkenaan dengan kemampuan dirinya dalam bidang tertentu (personal skill). MAN Model Manado memfasilitasi dan membimbing berbagai ragam kegiatan ekstrakurikuler pada bidang-bidang unggulan yaitu: Pramuka, PMR/UKS, Seni Suara/Musik, Teater, Siswa Pecinta Alam (Sispala), Seni Baca al-Quran, dan Seni Rupa. Dalam bidang olah raga berupa jenis olah raga prestasi seperti bola basket, bola volley, dan bola kaki 2. Sarana penunjang dan fasilitas pembelajaran Kelengkapan fasilitas penunjang dan sarana pembelajaran yang representatif di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado menujunkkan besarnya perhatian pemerintah pada institusi madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam. Sudah selayaknya bila berbagai komponen yang terlibat di dalamnya akan memiliki kinerja yang optimal karena ditunjang oleh fasilitas gedung belajar yang nyaman dan berbagai fasilitas belajar lainnnya seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel keterampilan, sarana ibadah, fasilitas olah

65

raga serta fasilitas PSBB sebagai Pusat Sumber Belajar Bersama yang lengkap, maka sudah tentu kualitas pembelajaran akan saling melengkapi. Keberadaan sarana fisik dengan berbagai fasilitas yang relatif lengkap ini memungkinkan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado untuk merancang inovasi pendidikan dan mengembangkan pola belajar yang efektif dan terencana serta berorientasi pada tujuan pendidikan nasional

Tabel 3. Kelengkapan Umum Fasilitas Fisik Sarana Gedung MAN Model Manado
No. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Fasilitas Gedung Kantor Kepala Madrasah Ruang Kantor Tata Usaha Ruang Dewan Guru Rumah Dinas Asrama Siswa Putra Asrama Siswa Putri Kamar Mandi / WC Jumlah Ruang / Lokal 1 2 2 2 1 2 12 Keterangan Unit Baru

Sumber Data: TU. MAN Model Manado, 2009 Guna melengkapi fasilitas penunjang pembelajaran, maka MAN Model memiliki berbagai gedung dan fasilitas fisik sebagai sumber belajar siswa yang secara bertahap dibangun sebagai realisasi dari pencanangan Madrasah ini menjadi Madrsah aliyah Negeri (MAN) Model Manado. Kelengkapan sarana

66

penunjang sangat kondusif bagi pelaksanaan proses belajar mengajar dalam program kelas efektif. Sarana Gedung dan Fasilitas penunjang pendidikan ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Keadaan Sarana Penunjang Pendidikan dan Sumber Belajar Pada MAN Model Manado
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Fasilitas Gedung Ruang Belajar Laboratorium Biologi / Kimia Laboratorium Fisika Laboratorium Komputer Laboratorium Bahasa Ruang Perpustakaan Ruang Komputer Ruang Multi Media Gedung Keterampilan Tata Busana Jumlah Ruang / Lokal 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 lantai 2 lantai 2 Keterangan

10 Gedung Keterampilan Tata Boga 11 Gedung Keterampilan Meubelair 12 Mesjid 12 Green House

Sumber Data: TU. MAN Model Manado, 2009 Selain sarana gedung pada MAN Model sebagaimana yang disajikan pada tabel 2 di atas, berbagai fasilitas dan media penunjang pembelajaran yang memadai telah dimiliki. Berbagai fasilitas yang tersedia ini merupakan bantuan peralatan penunjang pendidikan baik yang diperoleh dari Development

Madrasah Aliyahs Project (DMAP), Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Daftar Isian Proyek Anggaran (DIPA) dan sumber dana rutin yang

67

dianggarkan secara periodik oleh pihak madrasah maupun Majelis Madrasah. Kesemuanya ini tentunya akan memfasilitasi kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa. Berbagai fasilitas dimaksud secara umum dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. Fasilitas dan Media Penunjang Pendidikan Pada MAN Model Manado

No.

Jenis Fasilitas Gedung

Jumlah Unit
6 12 4 2 4 2 1 2 1 1 2 1 2 3 Set 25 1 1 Item 4 set Item 1

Keterangan

1 Komputer Kantor 2 Komputer Siswa 2 Printer 3 Over Head Projector (OHP) 4 Televisi Colour 29 inci 5 VCD 6 DVD 7 LCD Infokus 8 Lap Top 9 Handy Cam 10 Kamera Digital 11 Elekton Yamaha 12 Gitar Listrik 13 Sound Sistem 14 Mesin Jahit Listrik Semi Otomatis 15 Mesin Obras listrik 16 Mesin Pemotong kain 17 Perangkat Pertukangan listrik 18 Kompor Gas LPJ 19 Perangkat Tata Boga 20 Mobil Kijang

Sumber Data : TU. MAN Model Manado, 2009

68

Memperhatikan kelengkapan fasilitas dan media pembelajaran sebagai sarana pendukung pendidikan seperti laboratorium Biologi, Fisika, Kimia,

Laboratorium Bahasa, dan Laboratorium Multimedia maka Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado telah dianggap repsentatif sebagai lembaga pendidikan yang dapat menerapkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa melalui kegiatan praktikum laboratorium dan lapangan, di samping

pembelajaran teori di kelas. Selain ditunjang oleh sarana pendidikan sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, maka sejalan dengan program pengembangan Madrasah yang

diproyeksikan sebagai Madrasah Model, maka MAN Model Manado dijadikan sebagai Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) dan MDC sebagai Pusat

Informasi Madrasah di Sulawesi Utara. Legalitas ini setidaknya dapat terlihat dengan dibangunnya gedung PSBB sebagai salah satu unit pelaksana teknis di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado yang memiliki fungsi sebagai wadah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Madrasah Aliyah dalam lingkup kelompok kerja madrasah (KKM). PSBB dalam lingkup kerjanya lebih tertuju pada tersedianya fasilitas bagi guru untuk mengadakan peningkatan dan pengembangan kompetensi guru secara profesianal. Model penerapannya adalah melalui pola pendidikan dan latihan serta penataran bagi guru dan komponen yang terkait dengan peningkatan mutu madrasah. Dalam kapasitasnya sebagai pusat diklat, maka

69

Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) memiliki fasilitas yang dirancang untuk menyelenggarakan forum ilmiah secara berkala dari guru bina dengan seluruh rumpun mata pelajaran sehingga diharapkan dapat mengembangkan pendekatan dan instrumen pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan pendidikan. Fasilitas yang diperuntukkan untuk kegiatan dimaksud. Tabel 6. Fasilitas Penunjang Pada Pusat Sumber Belajar Bersama (PSSB) MAN Model Manado
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aula PSBB Laboratorium Biologi Laboratorium Fisika Laboratorium Kimia Laboratorium Bahasa Ruang Audio Visual Ruang Kepala PSBB Ruang Staf Pengelola Ruang Rapat Jenis Fasilitas Gedung Jumlah Ruang / Lokal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 2 lantai Keterangan lantai 2

10 Ruang Sekretariat Panitia 11 Perpustakaan 12 Asrama PSBB


12

Kamar Mandi / WC

Sumber Data : TU. MAN Model Manado, 2006 Selanjutnya sebagai sarana pendukung Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado, yang dilengkapi dengan sarana Asrama PSBB berlantai 2 dengan fasilitas 40 kamar tidur.

Dengan upaya pengadaan sarana pembinaan tenaga pendidikan baik gedung Pusat dan Asrama di madrasah ini, maka Pusat sumber belajar bersama

70

(PSBB) Madrasah Aliyah Negeri Model (MAN) Model memiliki tujuan ideal, yakni: Pertama: Menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menyokong kegiatan kelas tradisional. Kedua: Mendorong penggunaan modelmodel pembelajaran terkini yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional. Keberadaan PSBB MAN

Model juga menjadi salah satu unit pelaksanaan teknis yang diharapkan menjadi financial support pengotonomisasian dan kemandirian MAN Model Manado di masa depan. 3. Keadaan Tenaga Pengajar dan Pegawai Tata Usaha Secara umum tenaga pengajar di MAN Model Manado dianggap memiliki kompotensi untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas, populis dan Islami yang sesui dengan bidang keahliannnya. Tenaga pengajar ini berupakan lulusan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka yang ada di Indonesia. Dengan keberadaaan tenaga pengajar yang bergelar magister pada rumpun mata pelajaran unggulan, yakni ilmu pengetahuan alam dan bahasa Inggris ini maka Madrasah Aliyah sudah memiliki kompetensi dasar sehingga diharapkan akan mampu mengakomodir berbagai strategi pengembangan kurikulum di MAN Model Manado. Keadaan Tenaga pengajar pada MAN Model Manado dapat disajikan pada tabel sebagai berikut:

71

Tabel 7. Keadaan Tenaga Pengajar MAN Model Manado Menurut Kualifikasi status Kepegawaian No. Status Kepagawaian Guru Guru NIP. 15 Guru NIP. 13 GTT/Honor Jumlah Guru L P Jumlah Keterangan Termasuk Kepala Madrasah

1 2 3

21 1 -

36 2 2

57 3 2 61

22 40 Total Jumlah Sumber Data : TU. MAN Model Manado, 2009

Keadaan ketenagaan guru mata pelajaran sebagaimana yang disajikan tersebut menunjukkan bahwa MAN Model Manado telah memiliki tenaga pengajar yang memadai. Apalagi sebagaian besar adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil, baik di lingkungan Departemen Agama, maupun dari Dinas Pendidikan Nasional sebagai guru yang diperbantukan (DPK). Keseluruhan tenaga pengajar tersebut melaksanakan tugas kegiatan belajar mengajar pada berbagai mata pelajaran yang sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kelompok mata pelajaran yang diajarkan dan kualifikasi pendidikan guru yang bertugas di MAN Model Manado dipaparkan pada tabel berikut:

Tabel 8

72

Keadaan Tenaga Pengajar Menurut Kelompok Mata Pelajaran yang diajarkan dan Latar Belakang pendidikan
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Guru Mata Pelajaran Matematika Ilmu Alam (IPA) Ilmu Sosial (IPS) Ilmu Agama Islam (PAI) Bahasa Indonesia Bahasa Asing Keterampilan dan TIK Kesenian dan Pend. Jasmani Jumlah Pendidikan terakhir S1 4 13 9 6 6 10 7 2 57 S2 2 1 1 4 Jumlah 4 15 9 7 6 11 7 2 61

Sumber Data : TU. MAN Model Manado, 2009 Selain itu dalam upaya mencapai tujuan lembaga madrasah sebagaimana telah diprogramkan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado, maka diperlukan pelaksana administrasi yang diharapkan mendukung kegiatan

kependidikan yang berlangsung. Kegiatan administrasi ini memiliki tugas untuk mengadakan penataan dan pengadministrasian seperti kegiatan surat menyurat resmi, kearsipan, admnistrasi kepegawaian, kesiswaan, keuangan, inventarisasi, dan dokumentasi serta membantu tugas-tugas kepala madrasah. Alhamdulillah, seiring dengan dikukuhkan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado, pemerintah juga dalam hal ini Departemen Agama telah mengangkat guru-guru mata pelajaran umum ditempatkan di madrasah aliyah

sesuai dengan yang dibutuhkan, dengan bertambahnya jumlah ketenagaan baik tenaga guru dan pengawai tata usaha akan lebih bermakna bagi program kelas

73

efektif di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado. Keadaan ketenagaan yang menjadi pegawai dapat disajikan pada tabel berikut: Tabel 9. Keadaan Ketenagaan Pegawai pada MAN Model Manado No . 1 2 3 4 5 6 Jenis Ketenagaan Laboran Kepala TU Staf TU Peg. Honorer TU Security Cleaning Service Jumlah Total Jumlah Pegawai L 1 2 3 1 1 8 P 1 4 2 7 Jumlah 1 1 6 5 1 1 15 Keterangan

Tenaga Honorer Tenaga Honorer

Sumber: TU. MAN Model Manado, Maret 2009 Secara hirarki keorganisasian, madrasah ini memiliki struktur yang relatif sama dengan SMA, baik dari segi fungsi dan kewenangan, maupun tugas-tugas yang diemban setiap komponen sebagai pembantu kepala madrasah . Namun demikian terdapat perbedaan dari segi jabatan wakil kepala madrasah pada bidang Sumber Daya Manusia yang sekaligus selaku Kepala PSBB pada MAN Model Manado yang tidak terdapat di sekolah lainnya. Tugas yang diemban ini terkait erat dengan pemberdayaan guru dan siswa madrasah termasuk dalam pengelolaan dan pengebangan program kelas efektif 4. Kesiswaan Sebagai penyelenggara pendidikan setaraf SMU, maka dalam

perkembangannya MAN Model Manado merupakan lembaga pendidikan yang telah diperhitungkan di Propinsi Sulawesi Utara. Hal ini di tandai dengan

74

terdapatnya siswa yang berasal dari berbagai daerah kabupaten dan kota di Sulawesi Utara bahkan berasal dari provinsi lain. Peningkatan jumlah input siswa lebih disebabkan oleh peningkatan mutu pelayanan pendidikan seiring dengan pemberlakuan madrasah sebagai model dan prestasi yang dicapai dalam setiap lomba dan pertandingan yang diikuti oleh siswa. Perkembangan jumlah siswa

yang mendaftar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan signifikan sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 10. Perkembangan Siswa MAN Model Manado Kurun 2002-2009
Jenjang Kelas No. 1 2 3 4 5 6 7 Tahun Pelajaran I/X 2002 / 2003 2003 / 2004 2004 / 2005 2005 / 2006 2006 / 2007 2007 / 2008 2008 / 2009 180 193 219 252 255 255 277 II/XI 169 145 131 182 232 245 187 III 113 127 143 127 175 198 207 462 465 493 561 662 698 671 Jumlah

Sumber Data: TU. MAN Model Manado, Maret 2009 Dalam hal penerimaan siswa baru pada Tahun Pelajaran. 2008/2009. MAN Model Manado telah menerapkan pola penerimaan dengan memasang tiga indikator. Pertama: Menerima siswa yang memiliki kualitas agama dan

75

intelegensia yang baik. Kedua: Memiliki nilai akhlak yang teladan dan mampu membangun kepribadian diri (personality development). Ketiga: memiliki inovasi untuk pengembangan. Indikator ini menjadi tolak ukur penerimaan siswa baru MAN Model Manado karena didasarkan atas empat sasaran yang ingin dicapai. Pertama, terciptanya kondisi belajar yang kondusif serta didukung oleh kemampuan intelegensia siswa yang mampu bersaing. Kedua: Terciptanya kader-kader muda yang berkualitas berakhlak, bermoral, dan berkepribadian yang baik. Ketiga, dihasilkannya output yang memliki dasar ketrampilan serta ilmu pengetahuan yang relevan. Keempat, Terjadinya MAN Model Manado sebagai sekolah pembina dan unggulan dalam penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkankan data penerimaan calon siswa baru ditemukan bahwa

satuan pendidikan asal calon siswa pendaftar pada MAN Model Manado merupakan lulusan dari jenjang pendidikan SMP dan MTs, baik negeri maupun swasta. Sistem seleksi yang diterapkan dalam penerimaan calon siswa baru dilakukan dengan mempertimbangkan nilai rapor, nilai ujian nasional, dan mengikuti ujian tes tertulis dengan materi Agama Islam terpadu, IPA terpadu, IPS terpadu, dan Matematika. Disaping itu setiap calon siswa mengikuti uji kompetensi dalam bentuk praktek baca tulis al-Quran dan ibadah shalat. Data

76

siswa pada pendaftaran calon siswa baru dapat terlihat pada penyajian tabel sebagai berikut : Tebel 11 Keadaan Siswa yang terdaftar dan Diterima di MAN Model Manado Tahun Pelajaran 2008 /2009
Jumlah Pendaftar L 1 2 3 4 5 MTs Negeri MTs Swasta SMP Negeri SMP Swasta Paket B Jumlah 59 57 45 35 196 P 45 43 36 34 158 104 100 81 69 0 354 Jumlah Yang diterima L 53 39 35 21 148 P 42 33 31 22 1 129 95 72 66 43 1 277

No.

Asal Satuan Pendidikan

Total Jumlah

Total Jumlah

Sumber Data: TU. MAN Model Manado,Maret 2009 Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan minat siswa untuk masuki dan bersekolah di MAN Model Manado relatif tinggi. 2008/2009 perkembangan dari Khusus pada tahun ajaran

keadaan siswa yang sedang menempuh

pendidikan di MAN Model Manado pada saat ini sudah mencapai jumlah 638 orang siswa yang tersebar pada 23 kelas serta berada pada tiga jurusan yaitu IPA, IPS dan Bahasa. Keadaan siswa MAN Model Manado dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 12. Keadaan Siswa MAN Model Manado Tahun Pelajaran 2008/2009

77

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

X-Effective class X- 1 X- 2 X- 3 X- 4 X- 5 X- 6 Sub Jumlah XI - Ilmu Bahasa XI - Effective class XI - Ilmu Alam - 1 XI - Ilmu Alam - 2 XI - Ilmu Sosial - 1 XI - Ilmu Sosial - 2 XI - Ilmu Agama Islam Sub Jumlah XII - Bahasa XII - Effective class XII - IPA -1 XII - IPA -2 XIII - IPS -1 XII - IPS-2 XII - IPS-3 XII - Ilmu Agama Islam Sub Jumlah Total Jumlah

10 8 12 15 13 11 15 95 2 12 9 9 11 14 12 69 8 9 11 8 2 15 12 14 79 243

20 19 21 18 18 17 16 150 7 22 25 25 17 14 7 117 9 18 22 21 26 16 16 0 128 395

30 27 33 33 31 28 31 245 9 34 34 34 28 28 19 186 17 27 33 29 28 31 28 14 207 638

Sumber Data: MAN Model Manado,Maret 2009 Pada pelaksanaan Ujian Akhir Nasional tahun pelajaran 2008/2009, MAN Model Manado telah mengikutsertakan siswanya dengan jumlah 207 peserta, dan sebanyak 100 %. Dinyatakan lulus. Keberhasilan ini diikuti dengan

prestasi siswa yang memperoleh peringkat baik untuk mata pelajaran ekstra standar NUN berada dalam kategori sedang, karena nilai yang diperoleh berkisar antara 5.00 sampai 6.50. Sesuai data yang diperoleh, alumni yang telah lulus itu, menyebar ke beberapa perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, baik yang Perguruan Tinggi yang

78

ada di Sulawesi Utara, mauapun di Pulau Jawa serta selebihnya mengikuti jenis pendidikan lain berupa kursus-kursus ketrampilan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa MAN Model Manado sudah mampu bersaing dalam dunia pendidikan. B. Manajemen Pembiayaan Pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Model Manado 1. Perencanaan Pembiayaan Perencanaan pembiayaan terkait dengan program-program yang akan dikembangkan di madrasah selain program atau kegiatan rutin yang setiap tahun dilaksanakan. Madrasah Aliyah Negeri Model Manado melaksanakan kegiatan perencanaan dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut: a. Pengumpulan data. Kegiatan ini bertujuan untuk mengindentifikasi dan mengakomodasi daya dukung penyelenggaraan pendidikan melalui penyediaan data yang akurat dari berbagai sumber antara lain kepala madrasah, komite madrasah guru, tenaga administrasi, dan orang tua siswa. Berkaitan dengan proses pengumpulan data, berikut ini adalah hasil wawancara dengan beberapa informan. Hasil wawancara dengan kepala madrasah: Langkah pertama yang dilakukan sebelum melakukan perencanaan program adalah mengumpulkan data. Kegiatan pengumpulan data ini melibatkan warga madrasah melalui pertemuan yang menghadirkan warga madrasah dan komite madrasah, melalui pengamatan, dokumentasi madrasah berupa program kerja sekolah yang lama, laporan kerja kepala sekolah, laporan perkembangan madrasah serta berbagai dokumen lainnya. (EM, W01)

79

Hal yang senada diungkapkan oleh ketua komite madrasah: Sebelum melakukan perencanaan terhadap berbagai program yang akan ditetapkan pihak madrasah melaksanakan kegiatan mengumpulkan berbagai informasi menyangkut keadaan terkini sekolah. Informasi yang mereka kumpulkan berasal dari berbagai sumber termasuk dari saya melalui perbincangan formal maupun nonformal, selain itu pertemuanpertemuan dengan dewan guru maupun pertemuan dengan orang tua merupakan sumber untuk mencari data yang mereka butuhkan.(BT, W03). Seorang guru yang merupakan wakil kepala madrasah urusan dan prasarana mengungkapkan: Sebelum menyusun rencana program madrasah kami mengumpulkan data mengenai keadaan madrasah dari berbagai sumber termasuk saya sebagai koordinator sarana dan prasarana. yang juga merupakan pengelola kegiatan terkait dengan sarana dan prasarana Data yang dikumpulkan menyangkut keadaan dan kondisi sarana dan prasarana yang ada di madrasah (JR, W06) Hal ini dikuatkan oleh wakil kepala sekolah urusan kurikulum. Sebelum melaksanakan kegiatan perencanaan untuk pengembangan madrasah kami mengumpulkan data menyangkut kondisi dan keberadaan sekolah serta kurikulum yang diterapkan. Sebagai wakil kepala madrasah urusan kurikulum dan pengelola kegiatan pengembangan kurikulum di madrasah ini, saya dimintakan berbagai masukan menyangkut perkembangan kurikulum, model dan metode pembelajaran yang paling tepat untuk diterapkan dalam madrasah, serta program-program terkait kurikulum yang cocok dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan madrasah. (AR, W08) b. Penyusunan rencana dan program yang akan dilaksanakan. Selanjutnya menyusun rencana dan program-program yang akan dilaksanakan. Dari dokumentasi berupa rencana pengembangan madrasah ditemukan programprogram yang direncanakan dibagi dalam tujuh kategori yaitu: 1) Pengembangan Administrasi dan ketenagaan: a) Pelayananan administrasi dan rumah tangga madrasah sarana

80

b) Kesejahteraan guru dan tenaga administrasi c) Kegiatan operasional kantor 2) Pengembangan Kurikulum a) Administrasi kurikulum b) Kegiatan penataran c) Ulangan/ujian 3) Pengembangan kegiatan Kesiswaan 4) Kehumasan 5) Pengembangan Program-program binaan khusus 6) Peningkatan sarana dan prasarana madrasah. 7) Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan 8) Peningkatan partisipasi masyarakat Dalam kegiatan penyusunan rencana program madrasah dibentuk tim

work penyusunan program madrasah yang terdiri dari pimpinan sekolah, perwakilan guru dan tenaga administrasi yang merupakan pengelola kegiatan dan komite madrasah. Penyusunan rencana program didasarkan pada visi,misi, tujuan dan sasaran yang ditetapkan Berikut ini hasil wawancara dengan beberapa informan menyangkut

kegiatan perencanaan program madrasah. Wawancara dengan kepala madrasah: Dalam menyusun rencana program madrasah, kami melibatkan warga madrasah sehingga semua kepentingan terwakili. Rencana program juga mengacu dari visi,misi tujuan dan sasaran madrasah. Dalam perencanaan kami menentukan ponti-point yang menjadi prioritas serta mempertimbangkan daya dukung sumber daya manusia, sarana prasarana dan dana. (EM, W13)

81

Wawancara dengan salah satu guru yang merupakan ketua rumpun mata pelajaran IPA Komunitas madrasah dilibatkan dalam kegiatan merencanakan program termasuk saya wakil dari guru rumpun mata pelajaran IPA sekaligus koordinator program bilingual. Saya dimintakan untuk merencanakan berbagai program untuk mengembangkan program yang menjadi salah satu program madrasah (M, W14) Wawancara dengan seorang guru yang merupakan anggota koordinator kurikulum Kami dilibatkan dalam kegiatan perencanaan program madrasah. Sebagai pengelola kurikulum saya dimintakan untuk membuat rencana program yang terkait dengan kurikulum dan proses belajar mengajar antara lain rencana program tahunan, program kerja semester, program kelas, jadwal kegiatan belajar mengajar, silabus dan rencana program pembelajaran, kisi-kisi penilaian, evaluasi, pembinaan KBM, worskhop dan MGMP madrasah (AR.W19) Wawancara dengan seorang guru koordinator kesiswaan Sebagai koordinator dan sekaligus pengelola kegiatan kesiswaan, saya dilibatkan dalam kegiatan perencanaan program madrasah terkait dengan kegiatan kesiswaan. Saya dimintakan untuk merencanakan berbagai program antara lain penerimaan siswa baru, pengenalan sekolah, pembinaan OSIM dan kedisiplinan siswa, kegiatan ekstrakurikuler, dan sebagainya yang terkait dengan kesiswaan (PT, W22) Wawancara dengan koordinator urusan administrasi sekolah: Dalam kegiatan perencanaan saya dilibatkan sesuai dengan kapasitas saya sebagai koordinator urusan administrasi, adapun hal yang direncanakan adalah menyangkut berbagai hal yang terkait dengan pembinaan dan pengelolaan administrasi madrasah. (AK, W22) Wawancara dengan ketua komite madrasah: Sebagai mitra madrasah kami merencanakan berbagai program yang akan dikembangkan oleh madrasah dan tentunya tak lepas dari peran kami sebagai badan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan di madrasah, pendukung, pengontrol dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di . (BT, W24)

82

Rencana program yang telah dibuat kemudian dipaparkan oleh masingmasing pengelola program kemudian dimasukkan kedalam rencana anggaran dan belanja madrasah. Program-program yang akan dilaksanakan mempertimbangkan aspek-aspek: peningkatan kualitas, modal dasar/starting point, kemampuan pengelola, biaya, waktu, manfaat. c. Penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja Madrasah (RAPBM) Rencana anggaran pendapatan dan belanja madrasah disusun oleh team penyusun Rencana anggaran pendapatan dan belanja madrasah. Progam-program tersebut disesuaikan dengan sumber-sumber dana yang ada di madrasah. Adapun sumber-sumber dana yang ada di madrasah adalah dana dari DIPA, komite sekolah, bantuan dari pemerintah dan sponsorship. Rencana program yang telah dibuat disampaikan kepada kepala madrasah sebagai pejabat pembuat komitmen. Rencana program yang telah dibuat dipilah mana yang dananya akan diusulkan untuk didapatkan dari DIPA, blockgrant serta dari komite maupun dari sponshorship. Khusus untuk DIPA rencana program

diusulkan pada penyusunan rencana kerja/anggaran kementerian/lembaga, selanjutnya setelah melalui proses kemudian madrasah mendapatkan DIPA . Setelah mendapatkan DIPA pihak madrasah mengadakan rapat untuk

menyampaikan bahwa madrasah telah mendapatkan DIPA sekaligus menetapkan program-program yang akan dilaksanakan dengan mengacu pada rencana anggaran pendapatan dan belanja madrasah.

83

Walaupun kegiatan perencanaan program dan pembiayaan melibatkan komunitas madrasah termasuk pengelola kegiatan namun masih ditemukan adanya beberapa kelemahan antara lain a. Fungsi perencanaan dalam manajemen pembiayaan MAN Model Manado pada kenyataannya belum menggunakan konsep perencanaan pendidikan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, perencanaan terhadap seluruh proses kegiatan yang berlangsung pada setiap kegiatan masih terpola dengan konsep umum yang diberikan oleh institusi terkait yaitu Departemen Agama. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Kepala Madrasah yang menyatakan bahwa : MAN Model Manado dalam merencanakan aktifitasnya baik pada bidang pendidikan, pelatihan dan pelayanan termasuk pembiayaan, masih bersifat sentralistik. Maksudnya, seluruh rangkaian kegiatan masih menuruti konsep perencanaan kegiatan dan anggaran yang diberikan oleh Departeman Agama. Sehingga hal-hal yang seharusnya direncanakan sesuai dengan spesifik kebutuhan lokal belum benar-benar teridentifikasi. . b. Dalam perumusan perencanaan program dan pembiayaan, para pengelola kegiatan cenderung tidak melibatkan komponen-komponen terkait dan berkompetensi dalam pengembangan program yang dikelola c. Perencanaan yang dirumuskan oleh para pengelola kegiatan pada MAN Model Manado, belum menggambarkan adanya relevansi dengan konsep

pengembangan MAN Model Manado. d. Perencanaan kegiatan pada MAN Model Manado masih lebih berorientasi pada peningkatan aspek kualitas guru dan tenaga kependidikan lainnya,

sehingga aspek kualitas siswa masih sering terabaikan dan kurang mendapat

84

prioritas. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh seorang informan yang merupakan guru bahasa Indonesia yaitu: Program-program kegiatan yang selama ini diusulkan oleh pengelola kegiatan dalam perencanaan pembiayaan kegiatan lembaga, cenderung lebih mengutamakan aspek guru dan karyawan. Sementara aspek proses pendidikan dan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan kepentingan kesiswaan kurang mendapat perhatian yang serius. . e. Proses perencanaan pembiayaan yang dilakukan oleh pengelola kegiatan pada MAN Model Manado masih menggunakan pola tradisional, sehingga hasil perencanaan yang dirumuskan cenderung tidak menggambarkan konsep pengembangan jangka panjang, melainkan lebih terfokus pada aktifitasaktifitas yang bersifat insidentil. Pada bidang ini, persoalan-pesoalan yang timbul cenderung disebabkan oleh beberapa unsur permasalahan sebagai berikut : Tidak adanya tenaga profesional atau yang ahli di bidang perencanaan. Hal ini merupakan alasan pertama dan utama sehingga proses perencanaan pembiayaan pada MAN Model Manado, tidak berjalan sesuai dengan semestinya. Dengan kata lain, selama ini proses perencanaan hanya ditangani dan dilakukan oleh tenaga-tenaga yang kurang memiliki skill di bidang perencanaaan. Faktor belum tersedianya tenaga ahli dimaksud sangat dimaklumi karena beberapa alasan yaitu: (1) pengembangan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Manado menjadi MAN Model Manado, masih terhitung baru, (2) rekrutmen dan penempatan tenaga pada MAN Model secara umum ditetapkan oleh Kanwil Dep. Agama. Sementara pada institusi MAN Model Manado dan pembentukan team perencanaan pembiayaan dilakukan oleh Kepala MAN Model Manado.

85

Sebagaimana dikemukakan pada pembahasan acuan teoritik, bahwa perencanaan merupakan proses awal dari pelaksanaan semua fungsi manajemen. Perencanaan juga yang akan menentukan arah dari gerak aktifitas suatu organisasi. Dilihat dari sisi manfaat seperti yang telah dikemukakan oleh para pakar manajemen, perencanaan dalam sebuah organisasi termasuk perencanaan pembiayaan pada MAN Model Manado memegang peranan yang sangat penting khususnya dalam tiga hal pokok yaitu : (1) merumuskan arah kegiatan, (2) menentukan volume kegiatan, (3) memprediksikan bidang garapan atau program kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam merealisasikan tiga hal tersebut, senantiasa dituntut adanya tenaga profesional. Dimaksudkan dengan tenaga profesional adalah tenaga yang memiliki karakteristik sebagai perencana yang ahli. Selanjutnya Turang (2002:29) menyarankan, seharusnya setiap lembaga pendidikan memiliki wadah khusus Perencana Pendidikan. Selanjutnya beliau merumuskan beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh tenaga Perencana Pendidikan yaitu sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) Ahli/profesional dalam perencanaan pendidikan dan manajemen pebangunan pendidikan. Memiliki wawasan luas tentang organisasi/lembaga yang direncanakan. Memahami secara umum kecenderungan lembaga yang dikelola. Mempunyai idealisme, dan visi masa depan pendidikan bagi masyarakat, pemerintah dan negara. Mempunyai kemampuan mencermati / mengamati secara umum pelaksanaan pembangunan bidang-bidang lain yang terkait dengan pembangunan pendidikan. Rumusan yang dikemukakan oleh Turang di atas, nampaknya secara operasional dapat dijabarkan pada beberapa karakteristik sebagai

86

berikut : 1) Memiliki kemampuan berusaha menyadari peluang-peluang yang tersedia. 2) Memiliki kemampuan untuk menetapkan tujuan dan sasaran. 3) Berkemampuan mempertimbangkan permis-permis perencanaan. 4) Mempunyai kemampuan mengidentifikasi berbagai alternatif,

membandingkan, menilai dan memilah artenatif-alternatif tersebut. 5) Mempunyai kemampuan dalam merumuskan rencana-rencana penunjang. 6) Memiliki kemampuan merencanakan anggaran belanja dalam pengelolaan organisasi pendidikan. 7) Memiliki kemampuan merumuskan rencana strategis. Karakteristik-karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh perencana pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas adalah sebuah keniscayaan. Sebab, seorang perencana bila memiliki karakteristik-karakteristik tersebut, akan melahirkan konsep perencanaan yang baik termasuk perencanaan pembiayaan. Konsep perencanaan yang baik paling tidak adalah seperti yang telah

dikemukakan pada pembahasan teori perencanaan BAB II tesis ini, dan atau yang dikemukakan oleh Turang (2002:28) bahwa perencenaan yang baik adalah, (1) konkrit, (2) memuat berbagai alternatif, (3) mengidentifikasi berbagai isyu, (4) ringkas, (5) menampung aspirasi dan peran serta dari berbagai pihak, (6) mudah dievaluasi, (7) terdapat hubungan fungsional setiap input terhadap output. (8) dapat direvisi, (9) dapat dilaporkan, (10) lengkap penyelesaian, (11) dapat menguatkan perencana , pelaksana dan pihak-pihak lainnya.

87

f. Kurang memahami prosedur perencanaan dengan tepat. Unsur

kedua

penyebab timbulnya permasalahan di bidang perencanaan pembiayaan adalah karena para perencana pada MAN Model Manado kurang memahami dengan sebenarnya prosedur dan mekanisme perencanaan, baik yang menyangkut syarat-syarat ataupun teknik-teknik perencanaan termasuk didalamnya perencanaan pembiayaan pendidikan. Secara substansial, alasan kedua ini merupakan dampak lanjut dari alasan yang pertama di atas. Akibatnya, hasil dari perencanaan yang dirumuskan cenderung tidak maksimal. Padahal, maksimalnya suatu hasil perencanaan yang dirumuskan sangat ditentukan oleh prosedur dan mekanisme perencanaan. Prosedur dan mekanisme dalam suatu proses aktifitas, adalah sangat berkaitan erat dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, dalam hubungannya dengan aktifitas perencanaan pembiayaan pada MAN Model Manado, prosedur dan mekanisme perencanaan dimaksud paling tidak mencakup dua hal penting yaitu : (1) Prosedur yang berkaitan dengan persyaratanpersyaratan perencanaan. (2) Prosedur yang berhubungan dengan langkah-langkah dan teknik-teknik perencanaan yang baik. Penjelasan tentang kedua hal tersebut, telah dikemukakan dalam pembahasan tentang syarat-syarat dan langkah-langkah perencanaan pada bagian II tesis ini. Dalam perencanaan strategis pendidikan, secara gamblang dikemukakan oleh Turang (2002:36) bahwa prosedur dan mekanisme yang dapat digunakan dalam perumusan perencanaan pendidikan secara garis besar adalah sebagai berikut :

88

1) Identifikasi masalah strategik jangka panjang kedepan. Dalam hal ini terdapat tiga masalah strategik masa depan di era globalisasi. yaitu: (1) masalah mutu pendidikan dalam konteks peningkatan mutu SDM, dan tuntutan lingkungan eksternal. (2) Masalah relevansi pendidikan dengan perkembangan IPTEK, tuntutan pembangunan nasional, daerah, dan perkembangan regional internasional. (3) Masalah keterkaitan pengembangan pendidikan, sosial ekonomi dan kultural daerah, terutama menyangkut masalahmasalah ; kemiskinan, pengangguran, narkoba, dan penyakit sosial lainnya. 2) Perumusan visi pendidikan masa depan. Dalam kaitan ini, visi dipahami sebagai wawasan yang dijadikan sumber arahan bagi MAN dalam proses perumusan misi. Dengan kata lain, visi adalah pandangan jauh kedepan kemana MAN Model Manado akan diarahkan. Pemaknaan sederhana tentang visi ini, maka paling tidak perumusan visi yang baik adalah mengandung beberapa unsur yaitu, (1) muncul dari suatu cita-cita dan hasrat yang akan diwujudkan pada suatu waktu tertentu, (2) mengikuti syaratsyarat, prosedur dan mekanisme perumusan visi yang baik, (3) memiliki kekuatan dalam penanggulangan masalah yang kelak akan dihadapi oleh MAN Model Manado , (4) memiliki nilai karakteristik yang sesuai dengan karakteristik MAN Model Manado.. 3) Perumusan misi pendidikan di masa depan. Misi dalam kaitan ini diartikan sebagai tindakan untuk merealisasikan visi dan aksi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok-kelompok terkait.

89

Maksudnya, merumuskan misi pada MAN Model Manado senantiasa harus memperhatikan tugas dan fungsi serta kompetensi lembaga tersebut,

mempertimbangkan faktor-faktor kepentingan kelompok-kelompok terkait. Secara gamblang, rumusan misi 4) Perumusan tujuan. Bertitik tolak dari rumusan visi dan misi di atas, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai dan dihasilkan serta kapan proses pencapaiannya. Jadi pada hakekatnya tujuan adalah tahapan wujud konkrit MAN menuju visi dan misi yang telah dirumuskan. . 5) Menganalisis dan merumuskan program sesuai bidang garapan. Mekanisme selanjutnya menurut proses perencanaan strategis khusunya dalam perencanaan pembiayaan pada MAN Model Manado sesuai dengan visi, misi dan tujuan yang telah dirumuskan ke dalam bentuk program dan bidang garapan apa yang seharusnya dibiayai. C. Pengorganisasian Pembiayaan Pendidikan Dalam hubungannya dengan aspek pengorganisasian pembiayaan langkah-langkah yang dilaksanakan adalah 1. Pembagian tugas yang terkait dengan pembiayaan dimana bendahara komite mengelola uang komite, bendhara rutin mengelola dana DIPA serta dibentuk panitia pada kegiatan tertentu dengan tugas dan fungsi sesuai jabatannya dalam kepanitian. Namun terkait dengan aspek pengorganisasian pembiayaan

90

2.

Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab terkait dengan pembiayaan misalnya dalam kegiatan yang membutuhkan kepanitiaan, KPA memberikan wewenang kepada panitia dan panitia bertanggung jawab terhadap kegiatan yang dilaksanakan termasuk pembiayaan, yang dibuktikan melalui nota, kwitansi serta laporan pertanggungjawaban kegiatan.

3. Adanya koordinasi terkait dengan pembiayaan antara bendahara, pejabat pembuat kebijakan dan kuasa pengguna anggaran untuk semua program yang membutuhkan pembiayaan Konsultan Pengembangan MAN Model Manado menjelaskan bahwa : Pada hakekatnya pola kerja terstruktur menurut Kanwil Dep. Agama Propinsi Sulawesi Utara menjadi dasar pengorganisasian setiap lembaga yang bernaung di bawahnya, dan pengorganisasian pembiayaan pada MAN Model Manado belum sesuai dengan pola tersebut.. Pernyataan di atas diperjelas oleh informan lainnya yang merupakan ketua rumpun mata pelajaran IPA menyatakan bahwa : Pengorganisasian pembiayaan pada MAN Model Manado sudah menggunakan pola kerja terstruktur sesuai petunjuk Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Utara dan sudah dikembangkan menurut kebutuhan madrasah walapun belu semuanya bisa terakomodir. (CLW/03). Berkaitan dengan Pernyataan di atas, Kepala MAPENDA Kanwil Dep. Agama Propinsi Sulawesi Utara menyatakan bahwa : Pengorganisasian sebagai salah satu fungsi manajerial dalam pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado belum teraplikasi secara maksimal terutama yang berkaitan dengan penerapan prinsipprinsip dan teknik-teknik pengorganisasian moderen. (CLW/02). Berdasarkan hasil temuan penelitian dalam kaitannya dengan fungsi pengorganisasian dalam pengorganisasian pembiayan pendidikan pada MAN

91

Model Manado, maka peneliti berkesimpulan bahwa fungsi ini dalam operasionalnya belum secara total menggunakan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengorganisasian yang seharusnya. Sehingga, hal inilah yang mengakibatkan timbulnya beberapa permasalahan utama yang berhubungan dengan fungsi pengorganisasian dimaksud. Dengan kata lain, selama ini fungsi tersebut secara operasional dalam pembiayan pendidikan pada MAN Model Manado hanya yang penting tujuan setiap

dilaksanakan sesuai apa adanya dengan maksud

kegiatan dapat dicapai. Padahal, secara ideal tercapainya tujuan organisasi disamping melaksanakan fungsi perencanaan sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka fungsi organisasi juga turut menentukan proses pencapaian tujuan. Sebagaimana telah dikemukakan oleh para pakar manajemen di dalam pembahasan acuan teoritik pada Bab II tesis ini, bahwa pengorganisasian merupakan keseluruhan rangkaian proses pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka setidaknya dalam proses pengorganisasian pembiayaan terdapat beberapa unsur penting yang harus

diperhatikan. Unsur-unsur dimaksud antara lain adalah sebagai berikut : a. Pembagian kerja yang harus dilakukan dan menugaskannya pada personilpersonil tertentu, kelompok-kelompok dan bagian-bagian yang terdapat dalam suatu organisasi; b. Pembagian kegiatan menurut level kekuasaan dan tanggung jawab;

92

c. Pengelompokkan tugas menurut tipe dan jenis organisasi; d. Pengaturan hubungan kerja antara anggota organisasi. Untuk dapat memenuhi unsur-unsur di atas sekaligus menciptakan dan menggerakkan MAN Model Manado dalam proses pencapaian tujuan, maka terdapat beberapa prinsip yang harus di perhatikan, yaitu : a. Rumusan tujuan yang jelas. Tujuan menjadi dasar dalam organisasi. Tanpa tujuan, organisasi akan berjalan tanpa arah dan mudah terombang ambing. Anggota kelompok harus benar-benar memahami dan menjiwai tujuan yang akan dicapai. Karena dengan dipahaminya tujuan-tujuan organisasi secara baik, maka akan memungkinkan mereka memperoleh pedoman dalam bekerja dan menilai hasil yang telah dicapai. Disamping itu, dimungkinkan para anggota organisasi bertindak dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara sadar. b. Pembagian kerja dalam suatu organisasi harus dilaksanakan dengan memperhatikan keberagaman potensi dan minat para anggotanya. c. Pendelegasian wewenang dan penetapan hirarkinya harus terdapat

relevansinya dengan tanggung jawab dan dilakukan secara jelas agar dapat memberikan gambaran pola hubungan kerja. d. Kesatuan arah. Artinya, semua aktifitas dan sumber yang digunakan adalah benar-benar mengarah pada tujuan yang sama.

93

e. Kesatuan komando. Maksudnya, setiap anggota organisasi hanya memiliki satu komando yang merupakan atasan langsung, kepada siapa ia menerima perintah, dan kepada siapa ia harus melaporkan hasil kegiatannya. f. Kemampuan pengawasan yang fungsional. Maksudnya, seorang pemimpin dalam sebuah organisasi tidak hanya mengawasi hubungan kerja antara dia dengan bawahannya, tetapi juga harus mampu menguasai hubungan kerja antara sesama bawahannya. Dalam mengaplikasikan sejumlah prinsip-prinsip organisasi tersebut, maka diperlukan beberapa teknik pendekatan dalam pelaksanaannya. Beberapa teknik pendekatan dimaksud antara lain adalah sebagai berikut : a. Pendekatan tujuan. Teknik ini merupakan pendekatan yang lebih menitik beratkan pada pentingnya tujuan untuk dapat direalisasikan dan termasuk jenis pendekatan yang hingga kini masih banyak digunakan oleh organisasi. Adapun langkah-langkah penggunaan pendekatan ini mencakup : (1) Analisis tujuan organisasi, (2) perumusan tujuan, (3) mendeskripsi keadaan yang sedang berlangsung, (4) mengidentifikasi berbagai kemudahan dan hambatan, dan (5) mengembangkan serangkaian kegiatan. Di samping lima langkah tersebut, pendekatan ini juga memerlukan dukungan dari delapan komponen kritis organisasi, terutama untuk mengetahui berbagai faktor kritisnya serta mendapatkan kepastian peran fungsionalnya dalam menanggulangi ketidak efektifan organisasi. Adapun faktor-faktor kritis dimaksud, yaitu: (1) Sumber Daya Manusia (SDM), (2) sumber dana, (3) material, (4) aturan dan hukum

94

yang berlaku dalam organisasi, (5) prosedur dan mekanisme, (6) metode, (7) pengendalian, dan (8) pemasaran. b. Pendekatan sistem. Teknik ini memandang organisasi sebagai sebuah sistem dengan lebih menekankan pentingnya faktor input, procces, output, dan outcomenya sebagai lokasi kajian keefektifan organisasi. Teknik pendekatan ini biasanya memiliki tiga tahapan dalam menanggulangi ketidak efektifan organisasi. Ketiga tahapan dimaksud yakni : (1) Penentuan lokasi ketidak efektifan organisasi, (2) penentuan dan analisis masalah, dan (3) pengembangan serangkaian kegiatan. Sebagaimana halnya pendekatan tujuan, penerapan pendekatan sistem ini juga membutuhkan dorongan dari delapan komponen kritis organisasi terutama dalam mendeteksi berbagai faktor kritisnya serta mendapatkan kepastian peran fungsional dalam menanggulangi ketidak efektifan organisasi. Komponen-komponen dukungan dimaksud yakni: (1) Koordinasi, (2) struktur, (3) SDM, (4) pembagian tugas, (5) aturan organisasi dan hukum yang berlaku, (6) pemasaran. (7) Informasi. (8) Dana. c. Pendekatan lingkungan. Dalam pendekatan ini proses pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh berbagai perilaku yang berbeda (Nakamura dan Smallwood dalam Harjito (1995:41). Oleh karena itu dalam pendekatan ini organisasi ditekankan untuk mementingkan kemauan dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik di lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Dalam menanggulangi ketidak efektifan organisasi, pendekatan ini memiliki tiga langkah, yaitu: (1) Menentukan

perubahan yang mengganggu efektifitas organisasi, (2) analisis perubahan, (3)

95

mengembangkan serangkaian kegiatan. Seperti halnya dengan kedua pendekatan sebelumnya, penerapan pendekatan lingkungan juga

membutuhkan dorongan dari delapan komponen kritis organisasi terutama dalam mendeteksi berbagai faktor kritisnya serta mendapatkan kepastian

peran fungsional dalam menanggulangi ketidak efektifan organisasi. Komponen-komponen dukungan dimaksud yaitu: (1) Struktur, (2) prosedur, (3) aturan organisasi dan hukum yang berlaku, (4) sumber dana, teknologi, (6) SDM, (7) pemasaran, dan (8) informasi. Tiga teknik pendekatan organisasi tersebut di atas, dalam relevansinya dengan pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado dapat dijabarkan pada beberapa bentuk teknik pendekatan sebagai berikut : a. Pendekatan Internal. Pendekatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melakukan, memelihara dan meningkatkan hubungan kerja administratif fungsional. di lingkungan Departemen Agama, baik ditingkat pusat, daerah dan lokal. Pendekatan ini merupakan strategi awal yang harus dilakukan pihak madrasah dalam mengorganisir aktifitas pembiayaan pendidikan. b. Pendekatan Eksternal. Pendekatan ini adalah satu upaya yang perlu dilakukan pihak madrasah untuk membuat, memelihara dan meningkatkan hubungan kerja fungsional dengan berbagai instansi dan institusi di luar lingkungan Departeman Agama dalam rangka memperoleh dana pendidikan. c. Pendekatan Regional. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menempatkan MAN Model Manado sebagai agen perubahan yang memiliki daya dorong yang (5)

96

ampuh bagi pembangunaan masyrakat (community development) sekitar. Untuk itu pendekaatan regional diperlukan untuk menggalang kerjasama dengan berbagai potensi yang tersedia di lingkungan masyarakat dalam rangka menggalang dana. d. Pendekatan Kolaborasi Operasional. Pembiayaan berbagai Program dan kegiatan yang dilaksanakan MAN Model Manado senantiasa

memperhitungkan secara rasional untuk memungkinkan hasil yang optimal dengan penyelenggaraan yang efisien. Untuk ini MAN Model Manado perlu mengimplementasikannya dalam berbagai bentuk penyelenggaraan. Program kegiatan dengan pendekatan yang fleksibel dan dinamis yang disepakati bersama oleh pihak-pihak yang terkait sangat banyak memberikan keuntungan dalam pengorganisasian pembiayaan pendidikan MAN Model Manado. Bertitik tolak dari uraian-uraian di atas baik yang berkaitan dengan pemaknaan pengorganisasian maupun teknik-teknik pendekatan yang harus digunakan, maka terdapat beberapa aspek yang setidaknya dijadikan fokus dalam mengaplikasikan fungsi pengorganisasian dalam pembiayaan pendidikan pada MAN Model. Beberapa aspek dimaksud meliputi : a. Struktur Organisasi. Tersedianya struktur organisasi secara jelas, akan

memberikan gambaran dan sekaligus pemandu bagi pengelolaan operasional MAN Model Manado. Dilihat dari fungsi dan tujuan MAN Model Manado, dalam tata kerja pengelolaannya dapat dipilah ke dalam tiga komponen

organisasi yaitu ; (1) pengelola, (2) pelaksana, dan (3) penyantun.

97

b. Deskripsi Kerja. Aspek ini merupakan salah satu bagian penting sebagai aplikasi fungsi pengorganisasian dalam pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado. Aspek ini juga berfungsi memberi penjelasan secara rinci tentang apa dan bagaimana merealisasikan kerja sesuai dengan komposisi komponen-komponen yang tergambar dalam struktur organisasi. c. Mekanisme Kerja. Aspek ini adalah penting dalam memelihara hubungan kerja, baik internal maupun eksternal. Manfaatnya adalah : (1) Menghindari terjadinya tumpang tindih/ambivalensi dalam melaksanakan tugas dan untuk menyederhanakan jalur birokrasi. (2) Memperjelas kewenangan dan tanggung jawab masing-masing komponen organisasi, (3) Mengoptimalkan kinerja masing-masing komponen organisasi. (4) Menghindari atau mengurangi kemungkinan munculnya pengaruh psikologis sebagai akibat dan tanggung jawab dari hubungan formal kelembagaan dari masing institusi yang terkait. D. Penggerakan Pembiayaan Pendidikan Seperti halnya dengan dua aspek yang telah dikemukakan di atas, aspek penggerakan pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado secara sederhana dapat dikatakan telah terproses secara natural sesuai dengan bentuk manajerial dan model oganisasi yang dianut oleh lembaga tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, seorang informan yang merupakan guru senior pada madrasah ini mengungkapkan : Fungsi penggerakan sebagaimana banyak dijelaskan dalam literaturliteratur manajemen, secara operasional relatif teraplikasikan walaupun belum secara maksimal dalam proses yang terkait dengan manajemen pembiayaan pada MAN Model Manado, khusunya yang berkaitan dengan motivasi kerja. Hal inilah yang menyebabkan proses pencapaian

98

tujuan yang direncanakan belum terlaksana secara optimal. (CLW/02). Pernyataan di atas diperjelas lagi oleh informan lainnya yang merupakan koordinator urusan kesiswaam menyatakan bahwa : Sampai dengan saat ini pola motivasi kerja yang dilaksanakan pada lingkup pengelola kegiatan masih sebatas pembinaan-pembinaan, pembagian job sesuai dengan bidangnya, memberi nilai maksimal (angka terbaik) yang diwujudkan dalam bentuk DP3 dan dikeluarkan setiap akhir tahun kerja. (CLW/07). Menganalisis hasil wawancara di atas, peneliti berkesimpulan bahwa permasalahan inti yang nampak dalam proses fungsi penggerakan dalam manajemen pembiayaan pada MAN Model Manado secara substansial lebih terfokus pada permasalahan pola motivasi kerja yang belum terarah. Hal ini disebabkan oleh karena masih belum maksimalnya pemahaman tentang motivasi kerja baik yang berkaitan dengan manfaatnya, karakteristik, maupun teknik-teknik penggerakan yang seharusnya ada dalam manajemen pembiayaan di madrasah ini Bentuk motivasi kerja yang belum terarah dan aspek kepemimpinan yang merupakan bagian terpenting dalam proses pengelolaan PSBB cenderung lemah, merupakan sisi lain dari permasalahan yang nampak dalam manajemen pembiayaan pada MAN Model Manado. Permasalahan-permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan lemahnya aplikasi fungsi penggerakan dalam manajemen pembiayaan pendidikan di madrasah ini. Adapun lemahnya aplikasi fungsi tersebut lebih disebabkan oleh masih lemahnya pengetahuan para pengelola akan makna dan manfaat dari fungsi penggerakan dalam manajemen pembiayaan pendidikan Dalam kajian teoritis tentang fungsi-fungsi manajerial sebagaimana

99

telah dikemukakan bahwa penggerakan dalam sebuah organisasi merupakan pengintegrasian berbagai usaha untuk memposisikan semua anggota.organisasi agar bekerja secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola arganisasi. Dengan kata lain, penggerakan adalah keseluruhan pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis. Pernyataan di atas, memberikan gambaran bahwa fungsi penggerakan dalam sebuah organisasi menempati posisi yang vital bagi langkah-langkah manajemen dalam merealisir segenap tujuan, rencana dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk itu, dalam kaitannya dengan aplikasi fungsi penggerakan dalam manajemen pembiayaan pendidian pada MAN Model Manado, terdapat dua aspek utama yang relevan dengan fungsi tersebut yaitu sebagai beikut : a. Kepemimpinan Kepemimpinan sebagaimana telah banyak diuraikan pengertiannya pada bagian II tesis ini, secara eksplisit adalah suatu aktifitas memimpin yang dilakukan seseorang dengan segenap potensi yang dimilikinya untuk mempengaruhi, mendorong, mengarahkan dan menggerakkan orang-orang yang dipimpin agar mau bekerja dengan semangat dan memiliki kepercayaan diri dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi.

100

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepemimpinan dalam sebuah organisasi mempunyai beberapa fungsi yaitu: (1) Fungsi yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai; yaitu seorang pemimpin harus berusaha membantu kelompok untuk memikirkan, memilih dan merumuskan tujuan yang akan dicapai. (2) Fungsi yang berhubungan dengan pengarahan pelaksanaan setiap kegiatan dalam rangka mencapai tujuan kelompok. Dalam hal ini lebih erat kaitannya dengan aktifitas manajerial pemimpin yang dilakukannya dalam rangka menggerakkan kelompok untuk memenuhi tuntutan organisasi. Teknik-teknik pengarahan/ penggerakan dimaksud antara lain, actuiting, leading, directing, motivating dan staffing. (3) Fungsi yang berkaitan dengan penciptaan suasana kerja yang mendukung proses kegiatan administrasi berjalan dengan lancar, penuh semangat, sehat dan dengan kreativitas yang tinggi. Terdapat beberapa usaha praktis yang boleh dilakukan oleh pemimpin dalam menciptakan suasana/iklim organisasi yang sehat, antara lain adalah: (1) Memberikan semangat dan dorongan kepada anggota kelompok untuk mencapai suatu taraf produktifitas kerja yang tinggi, (2) menumbuhkan sikap percaya diri pada setiap anggota organisasi, (3) memupuk suasana kerja sama dalam kelompok. Hal ini dapat dilakukan oleh pemimpin dengan cara mengikut-sertakan seluruh anggota kelompok dalam menyelesaikan setiap persoalan atau kegiatan sesuai dengan tugas-tugas yang telah dideskripsikan dan dispesifikasikan untuk setiap unit. Di samping itu, pemimpin sendiri harus pandai memberikan panutan pada anggotanya, bahwa ia juga sebenarnya merupakan personil yang mementingkan kerjasama, (4) mengusahakan suatu tempat kerja yang

101

menyenangkan, sehat dan penuh kemudahan bagi para personil untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditentukan dengan lancar, aman dan bergairah, (5) menanamkan dan memupuk perasaan bersama pada masing-masing anggota, bahwa mereka juga merupakan bagian dari pada kelompok. Semangat demikian dapat ditumbuhkan melalui usaha-usaha seperti, memberikan penghargaan kepada \setiap anggotanya sesuai dengan prestasi yang dicapai, dan dapat pula dilakukan dengan menunjukkan sikap terbuka, objektif dan tidak menganak-emaskan anggota tertentu. Sewaktu-waktu dapat pula diciptakan melalui aktivitas-aktivitas sosial, rekreatif dan social meeting yang diadakan bersama anggota kelompok. Dengan demikian secara sadar akan tumbuh suatu perasaan harga menghargai dan saling memperhatikan, dan (6) menerapkan konsep kepemimpinan demokratis dan efektif. Untuk merealisasikan fungsi-fungsi kepemimpinan tersebut di atas, seorang pemimpin dituntut agar memiliki karakteristik kepemimpinan yakni; (1) konstruktif, (2) kreatif, (3) partisipatif, (4) kooperatif, (5) pendelagasian yang baik, (6) kapasitas integratif yang memadai, (7) rasionalitas dan objektitivitas, (8) pragmatisme, (9) sederhana dan bersahaja, (10) adaptabilitas dan fleksibilitas. Beberapa karakteristik di atas, adalah sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin khususnya dalam lingkaran aktifitas manajemen pembiayan pendidikan pada MAN Model Manado. Hal ini mengingat bahwa aspek kepemimpinan merupakan faktor yang paling menetukan dalam menggerakkan roda organisasi madrasah ini.

102

b. Motivasi Kerja Guna mempermudah pemahaman motivasi kerja, berikut ini dikemukakan pengertian motif, motivasi dan motivasi kerja. Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri anggota organisasi yang perlu dipenuhi agar mereka dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan anggota organisasi agar mampu mencapai tujuan dari motifnya. Motivasi dapat pula dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal). Sedangkan motivasi kerja sebagai kondisi yang berpengaruh, membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Mangkunegara, 2000:85). Berbagai istilah motivasi yang ada secara substansial mencakup dua pengertian, (1) suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh para manajer, dan (2) suatu dorongan psikis dari dalam diri seseorang yang menyebabkan ia berperilaku secara tertentu, terutama di dalam suatu lingkungan pekerjaan. Memotivasi (to motivate) berarti tindakan dari seseorang yang ingin mempengaruhi orang lain untuk berperilaku (to behave) secara tertentu. Jika digunakan dalam konteks ini, maka motivasi menjelaskan suatu aktivitas manajemen, atau sesuatu yang dilakukan seorang manajer untuk membujuk atau mempengaruhi bawahannya agar bertindak secara organisatoris dengan cara tertentu untuk menghasilkan sesuatu yang efektif. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa peran dari seorang manajer adalah memotivasi seseorang. Dalam hal ini ada hubungan antara kepemimpinan dan motivasi.

103

Motivasi juga dapat berarti dorongan psikis yang ada dalam diri seseorang yang mendorong untuk berperilaku. Namun motivasi tidaklah memberikan pengaruh satu-satunya atas tingkat prestasi seseorang. Ada dua faktor lainnya yang berhubungan dengan tingkat prestasi yaitu; (1) kemampuan dan persepsi tentang perannya (role perception), maksudnya pengertian tentang perilaku yang mana adalah yang penting untuk mencapai suatu prestasi yang tinggi, dan (2) kemampuan dan persepsi tentang peran saling berhubungan. Dengan demikian, bila salah satu dari faktor tersebut di atas rendah maka tingkat prestasi juga akan rendah, meskipun faktor-faktor lainnya adalah tinggi. Dalam kaitannya dengan proses motivasi kerja anggota organisasi di lingkungan MAN Model Manado, terdapat beberapa teknik motivasi kerja yang dapat dilaksanakan, yaitu ; 1) Teknik pemenuhan kebutuhan anggota Pemenuhan kebutuhan anggota organisasi merupakan satu hal penting yang mendasari perilaku kerja. Artinya, tidak mungkin dapat memotivasi kerja anggota tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkannya. 2) Teknik komunikasi persuasif. Teknik komunikasi persuasif merupakan salah satu teknik

memotivasi kerja anggota organisasi yang dilakukan dengan cara mempengaruhi mereka secara ekstralogis. Teknik ini biasanya menggunakan rumus ADIDAS (Mangkunegara, 2000; 89) yaitu, Attention (Perhatian), Desire (Hasrat), Interest (Minat), Decision (Keputusan), Action (Aksi atau Tindakan), dan Satisfaction (Kepuasan). Adapun cara pemanfaatannya, pertama kali pemimpin harus

104

memberikan perhatian kepada anggota yang dipimpinnya tentang pentingnya tujuan dan suatu pekerjaan agar timbul minat anggota yang bersangkutan terhadap pelaksanaan kerja, dan jika telah timbul minatnya maka hasratnya menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan kerja dalam mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian, anggota yang dipimpinnya akan bekerja dengan motivasi tinggi dan merasa puas terhadap hasil pekerjaannya. Berdasarkan uraian tentang aplikasi fungsi penggerakan di atas,

maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan program kegiatan yang pada MAN Model Manado merupakan unsur kunci bagi kredibilitas lembaga tersebut. Efektifitas, efisiensi dan produktifitas pengelolaan program dan kegiatan merupakan indikator atas keseluruhan manajemen pembiayaan pendidikan. Oleh karena itu di dalam pelaksanaan kegiatan senantiasa dua aspek penggerakan tersebut. E. Pengawasan Pembiayaan Pendidikan Dalam hubungannya dengan proses pengawasan, salah seorang pejabat di lingkungan Mapenda Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Utara menyatakan bahwa, pengawasan dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Mapenda Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Utara terhadap pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado adalah menggunakan kontrol mekanisme dengan teknik pengumpulan laporan baik lisan maupun tulisan melalui data statistik dan dilakukan secara langung. memperhatikan urgensitas

105

Menurut beberapa orang guru yang dipandang mengetahui proses proses pembiayaan pendidikan MAN Model Manado mengemukakan bahwa, dalam proses pengawasan terhadap pembiayaan pendidikan tidak melibatkan baik secara perorangan ataupun secara kolektif guru dan siswa. Adapun pengawasan yang berlangsung selama ini hanyalah dilakukan oleh institusi-institusi yang lebih tinggi kedudukannya dalam struktur seperti, Kepala MAN Model Manado dan Mapenda Kanwil Dep. Agama Propinsi Sulawesi Utara. Serta Kandep Agama kota Manado Sehubungan dengan hal tersebut, seorang tenaga lingkungan MAN Model Manado menyatakan, administrasi di

pengawasan yang dilakukan

terhadap pembiayaan pendidikan oleh Mapenda Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Utara dan Departemen Agama kota Manado, ditemukakan beberapa kelemahan yang menonjol antara lain kurang jelasnya standar dan

metode pengukuran prestasi kerja yang digunakan dan pada gilirannya berdampak pada kesulitan melakukan penilaian terhadap prestasi kerja dan kebijakan mengambil tindakan korektif. Berdasarkan analisis hasil wawancara di atas, peneliti menginterpretasi bahwa secara garis besar kelemahan pada aspek pengawasan adalah belum terlaksananya kedua fungsi tersebut dalam mewujudkan pemahaman makna dan arti penting dengan landasan nilai-nilai manajerial serta terwujudnya upaya kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi. . Pada pembahasan temuan penelitian, telah dinyatakan bahwa berdasarkan analisis hasil observasi dan wawancara secara garis besar permasalahan yang

106

muncul pada aspek pengawasan/pengendalian adalah ketidak jelasan standar yang digunakan dalam mengaplikasikan fungsi pengawasan / pengendalian terhadap pembiayaan pendidikan di madrasah ini. Hal ini kemudian berdampak pada lemahnya fungsi tersebut dalam mewujudkan pemahaman makna dan arti penting dengan landasan nilai-nilai manajerial serta terwujudnya upaya kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi. Secara teoritis sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan bab II tesis ini, pengawasan merupakan suatu upaya sistematis untuk memberi garansi terhadap pelaksanaan kegiatan atau tugas organisasi agar berjalan sesuai dengan rencana. Dengan demikian, maka terdapat empat unsur yang berhubungan dengan fungsi pengawasan, yaitu: (1) aktifitas penilaian berorientasi dan memonitoring, (2)

pada seluruh aktifitas organisasi, (3) pengawasan dilaksanakan

dengan tujuan pokok untuk membuat segenap aktifitas manajemen berjalan sesuai rencana, (4) sistematis, rasional serta sesuai dengan rencana, tujuan dan aturan main orgaisasi. Berdasarkan empat unsur yang melekat pada fungsi pengawasan tersebut, secara jelas pengawasan adalah mempunyai tujuan akhir yaitu terwujudnya pelaksanaan secara baik sesuai dengan rencana dan tanpa penyimpangan dari ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, dua syarat pengawasan yang harus dipenuhi dalam proses pelaksanaan pengawasan adalah: (1) pengawasan membutuhkan rencana-rencana, dan (2) Pengawasan membutuhkan struktur

organisasi yang jelas. Adapun dalam proses pelaksanaannya, pengawasan dapat berupa :

107

a. Pengawasan melekat Serangkaian kegiatan pengawasan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan organisasi atau satuan kerja secara sistemik agar pelaksanaan tugas berjalan sesuai dengan rencana, peraturan perundang-undangan serta memenuhi asas efisiensi dan efektivitas. Pengendalian secara sistemik didasarkan pada delapan sistem, yaitu : (1) pengorganisasian yang mantap, (2) prosedur yang jelas, (3) kebijakan yang jelas, (4) perencanaan yang matang, (5) sistem pencatatan yang akurat, (6) sistem pelaporan yang tepat, (7) pembinaan personil, dan (8) Review internal. b. Pengawasan fungsional. Pengawasan yang dilakukan oleh aparat baik internal pemerintah maupun eksternal pemerintah dilaksanakan terhadap pelaksanaan tugas umum

pemerintahan dan pembangunan agar sesuai dengan rencana, peraturan perundang-undangan, memenuhi asas efisiensi dan efektivitas serta tujuan fungsional. c. Pengawasan masyarakat. Pengawasan yang dilaksanakan oleh masyarakat, disampaikan secara lisan, tulisan, atau bentuk lainnya kepada aparatur negara berupa sumbangan pikiran, saran perbaikan, gagasan, keluhan atau pengaduan yang bersifat membangun, atau disampaikan melalui media massa. Apapun bentuk pengawasan yang dipilih dan dilakukan, seharusnya tetap menggunakan beberapa langkah strategis dalam proses pelaksanaannya yaitu, (1) menetapkan standar kualitas dan metode mengukur prestasi kerja yang jelas, (2)

108

melakukan pengukuran atas prestasi kerja secara baik berdasarkan standar yang ditetapkan, dan (3) memutuskan dan mengambil tindakan korektif dan perbaikan. Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sama urgennya dengan fungsi lainnya seperti perencanaana dan pelaksanaan, dengan pemahaman bahwa pengawasan memiliki konstribusi yang seimbang dalam pencapaian tujuan organisasi yang ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi, pengawasan sangat bermanfaat dalam

mengendalikan seluruh pelaksanaan tugas agar berjalan sesuai dengan rencana serta tidak menyimpang dan dapat dipertanggung jawabkan. Hasil pengawasan berfungsi sebagai umpan balik atau bahan masukan bagi para pihak pengambil keputusan / kebijakan. Sedangkan aspek perencanaan berfungsi sebagai bahan pertimbangan penetapan rencana / program kerja. Pengambilan keputusan / kebijakan yang didasarkan pada masukan hasil pengawasan yang dilaksanakan dengan benar, jujur, adil dan khususnya dijiwai oleh norma-norma dan nilai positif (agama), niscaya akan menghasilkan keputusan yang adil dan bijaksana guna perencanaan selanjutnya. Berdasarkan hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa pelaksanaan

pengawasan dalam manajemen pembiayaan pendidikan di madrasah ini sangat bermanfaat khususnya dalam beberapa hal sebagai berikut : a. Melalui pengawasan dapat dicegah berbagai penyimpangan baik dalam penggunaan kekuasaan, kedudukan terkait dengan pembiayaan; b. Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan dan menindak

109

secara tegas penyalahgunaan dan penyimpangan penggunaan dana; c. Mendinamisasikan manajemennya; d. Mempertebal rasa tanggung jawab seluruh personil dalam pelaksanaan tugas organisasinya; e. Menjaga dan memelihara secara baik pola hubungan organisasi yang telah ditetapkan; f. Mengefektivkan dan mengefisienkan pemanfaatan seluruh fasilitas MAN Model Manado secara maksimal; g. Pembagian tugas dan tanggung jawab terhadap pengelola kegiatan didasarkan atas pertimbangan yang rasional dan objektif; h. Mempertegas sistem, prosedur dan mekanisme kerja agar tidak bertentangan dengan rencana yang ditetapkan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan dalam manajemen pembiayaan pada MAN Model Manado khususnya pengawasan pada bidang pelaksanaan program adalah, pencegahan, pemeliharaan, dorongan, kontrol dan penyeimbang. Mekanismenya adalah; (1) pengendalian dan pengawasan ini dilakukan oleh kepala madrasah, dan (2) dilakukan oleh instansi tertinggi yang menaunginya untuk kebijakan evaluasi program dan anggaran. Kegiatan pengendalian dan pengawasan pembiayaan pada MAN Model Manado perlu dilakukan melalui beberapa metode dan pendekatan, yaitu; (a) kegiatan yang bersifat reguler melalui rapat koordinasi, rapat dinas atau rapat staf berdasarkan organisasi madrasah ini serta segenap aktifitas

110

penjadwalan yang telah ditetapkan, (b) kegiatan yang bersifat insidental yang dilakukan pada waktu monitoring pelaksanaan kegiatan yang sedang berjalan, (c) kajian atas laporan pertanggung jawaban unit pelaksana baik yang bersifat reguler maupun laporan dari suatu kegiatan terprogram. Pengawasan dalam pembiayaan pendidikan merupakan kontrol atas kinerja personil dan tingkat keberhasilan program kerja. Kegiatan ini harus diposisikan sebagai kegiatan yang bersifat built in (melekat) dalam konteks manajemen pembiayaan pendidikan di MAN Model Manado.

111

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasar pada uraian-uraian yang telah dikemukakan pada

pembahasan bab-bab sebelumnya, maka dikemukakan kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut : 1. Perencanaan pembiayaan pndidikan pada MAN Model Manado belum menggunakan prosedur perencanaan sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan manajemen moderen seperti langkah-langkah atau prosedur perencanaan, pendekatan-pendekatanan yang harus digunakan dalam proses perencanaan, sasaran-sasaran perencanaan, dan rencana strategis. 2. Pengorganisasian pembiayaan pada MAN Model Manado belum tertata dan berfungsi secara tepat sesuai dengan prinsip-prinsip pengorgnisasian menurut teori manajemen moderen. 3. Fungsi penggerakan pembiayaan pada MAN Model Manado belum

teraplikasi dengan jelas dan terarah khususnya dalam hal penerapan motivasi kerja. 4. Fungsi pengawasan dalam pembiayaan pendidikan pada MAN Model Manado belum dilaksanakan secara efektif dan efisien.

B. Saran-Saran Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, maka disarankan :

112

1. Agar perencanaan pembiayaan pada MAN Model Manado mengacu pada rumusan visi, misi dan tujuan strategis MAN Model Manado. 2. Agar diadakan struktur dan pedoman pengorganisasian yang rinci dan operasional dalam kegiatan pmbiayaan pada MAN Model Manado

sehingga deskripsi dan mekanisme kerja dapat diimplementasikan. 3. Agar pimpinan MAN Model Manado melaksanakan program motivasi kerja secara optimal terhadap seluruh staf yang ada . 4. Agar pengawasan dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam aspekaspek yang terkait dengan pembiayaan pada MAN Model Manado.

113

DAFTAR PUSTAKA Allen, K.W. & Allen, L., Organization and Administration of The Learning Resources Center in The Community College, USA : The Sohoe String Press, Inc. 1973. Alwasilah, A. Chaedar, Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif, Cet. I, Pustaka Jaya, Jakarta, 2002 Anwar, Mohammad, Idochi. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan. Bandung: Alfabeta. 2003. Arikunto, Suharsimi.. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. 2006 Aryad, Ashar. Pokok-pokok Manajemen, pengetahuan praktis pimpinan dan eksekutif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. bagi

A. Maliki Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, Cet. I, Jakarta : Yayasan Pendidikan Islam FajarDunia, 1999. Anthony, R.N. dan J. Dearden, Sistem Pengendalian Manajemen, (Terjemahan), Jakarta ; Erlangga, 1992. Arifin Abdurrachman, Teori Pengembangan dan Filosofi Kepemimpinan Kerja, Cet ke 3 Jakarta ; Bathara, 1999. Arifin Abdurrachman, Teori Pengembangan dan Filosofi Kepemimpinan Kerja, Jakarta ; Bathara, 1971. Beach, Dale S., Personnel : The Management of People at Work , New York ; Macmillan Publishing Co. Inc., 1990. Burhanuddin, Analisis Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan , Cet.I, Bumi Aksara, Jakarta, 1994. Departemen Agama RI., Sejarah Perkembangan Madrasah, Cet. II, Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Madrasah Aliyah, 1999/2000. DMAP., Pedoman Umum Pengelolaan MAN Model, Jakarta: PPA Consultants, 2000. Departemen Agama. Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah. Jakarta: Departemen Agama, 2005.

114

Departemen Agama. Pedoman Standar Pelayanan Minimal Madrasah Aliyah. Jakarta: Departemen Agama, 2006. Departemen Agama. Perencanaan Dan Pembiayaan Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama, 2007 Departemen Agama, Petunjuk teknis pencairan anggaran dilingkungan Departemen Agama tahun untuk lingkungan Madrasah Aliyah Negeri. Jakarta: Departemen Agama, 2006. Departemen Pendidikan Nasional. Sistem Pelaporan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2002 Departemen Pendidikan Nasional. Manajemen Keuangan. Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2002 Departemen Pendidikan Nasional. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah . Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003. Departemen Pendidikan Nasional. UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas, 2006. Departemen Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas, 2008

Duncan, J, 1999, Management. Random House, Alabama, USA.


Gaffar, Fakry. Perencanaan Pendidikan: Teori dan Metodologi. Jakarta: Depdikbud, 1998. Gomes, Faustino Cardoso, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Andi offset, 2001. Handoko, T. Hani, Manajemen Personalia dan Sumber daya Manusia, Yogyakarta : BPFE, 2000. Handoko, T. Hani & Reksohadiprodjo, Organisasi Perusahaan, Teori, Struktur, Dan Perilaku, Yogyakarta : BPFE, 2000. Hardjito, D., Teori Organisasi dan Teknik Pengorganisasian , Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995. Herbert Hicks G., & Gullet, Organisasi, Teori Dan Tingkah Laku, Jakarta : Bumi Aksara, 1995.

115

Hunsaker, Phillip L., Teknik Pendampingan Dalam Memecahkan Masalah, Cet. XII, Penerbit Kanisius, Yokyakarta, 1987. Indrawijaya, Adam, Perilaku Organisasi, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000. Indriyo Gitosudarmo & Sudito, Perilaku Keorganisasian, Yogyakarta : BPFE, 2002. Imron, Ali. Manajemen Keuangan Berbasis Sekolah. Dalam Maisyaroh dkk, 2004. Perspektif Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang, 2004. Jamaluddin. Mendiskusikan Kembali Eksistensi Madrasah,Logos Jakarta: Wacana Ilmu, 2003. Kadarman, A.M. et.al., Pengantar Ilmu Manajemen, Jakarta ; Gramedia, 1996 Kotter, J.P. Faktor Kepemimpinan, Membangun Tim Manajemen Unggul , Jakarta; The Free Press, 1997. Kotter, J. P. Faktor Kepemimpinan: Membangun Tim Manajemen Unggul. Jakarta: The Free Press, 1999. Moleong L. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. Merril, I. R. and H. A. Drob, Criteria for Planing The Colleg and University Learning Resource Center, Washington DC : AECT, 1977. Miftah Thoha, Perilaku Organisasi, Konsep Dasar Dan Aplikasinya , Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2001. , Perspektif Perilaku Birokrasi, Jakarta : Rajawali Press, 1991. Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. XVI, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007 M. Sukmono, Karangan Dalam Majalah Manajemen dan Usahawan, FEUI, No. 2/XXI/92. Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yohyakarta: Rake Sarasin, 2002. Mudhoffir, Prinsip-Prinsip pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001.

116

Muhlisin, dkk., Berharap Pada Kemandirian Madrasah Jurnal Perta, Vol. VI/No.01/2003. Mulyana, Dedy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : Remaja Rosda Karya. 2004. Mulyadi. Pemeriksaan Kas, Pusat Pendidikan dan Latihan Anggaran. Jakarta: Prenada Media, 1992. Mukhtar, M. Madrasah Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos, 2001. M. Widjayakusuma Karebet, dkk., Pengantar Manajemen Syariah, Cet.1, Khairul Bayan, Jakarta, 2002. Nasution, S., Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Tarsito, Bandung, 1996. Nasution, S. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung:Tarsito, 1996. Nata, Abuddin., Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2003. Rahim, H. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos, 2001. Saaty, L. Thomas, Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Jakarta ; Pustaka Binaman Pressindo, 1993. Shaleh, A. R. Pendidikan agama dan keagamaan. Jakarta: Gemawindu Pancareksa, 2000 Siagian , S.P., Filsafat Administrasi, Cet ke 3 Jakarta ; Gunung Agung, 2001. Sostromidjoyo. Administrasi Keuangan. Yokyakarta: Radya Indria, 1998. Sukmadinata dan Syaodih, Nana. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006. Soenarto, Training Program Evaluation : Desain Dan Prosedur Evaluasi Program Pelatihan, CDIE, Yogyakarta, 2004. Soewarso Hardjosoedarmo, Dasar-dasar Total Quality Manajemen, Yogyakarta, Andi Offset, 1997. Stepen R. Cover, The Seven Habits of Hightly Efective People, Alih Bahasa Drs. Budiyanto, Gramedia Jakarta, t.th.

117

Stoner, James A.F., Management, Jilid 1, (Terjemahan), Jakarta ; Intermedia, 1992. Sutarji, Administrasi Pendidikan, Surabaya : Usaha Offset Priting, 1993. Tajudin Noer Efendi, Sumber Daya Manusia Peluang Kerja dan Kemiskinan, Yogyakarta ; PT. Tiara Wacana, 1989 Terry, George R. & Leslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen, Diterjemahkan oleh G.A. Ticoalu, Jakarta ; Bumi Aksara, 2001. Turang Jan, Perencanaan Pendidikan, Yayasan Mapalus Matuari Minaesa (YM3), Tomohon, 2002. UU No. 20 / 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Rajagrafindo Persada, Jakarta. 2005


Weiss, C.H., Evaluation Research: Methods for Assessing Program Effectiveness. Englewood Cliffs, Prentice Hall, Inc. 1993.

Widjayakusuma Karebet, dkk, Pengantar Manajemen Syariah, Cet.1, Khairul Bayan, Jakarta. 2002
Wursanto, I.G. Dasar-Dasar Manajemen Personalia, Cet ke 4 Pustaka Dian, Jakarta 2001. Yanes. Introduction to shool Finance Technique and Social Policy. New York: Macmillan Publishing. 1995. Zul Fajri dan Aprilia Ratu. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Difa Publisher, 2006.

118