Anda di halaman 1dari 40

KULIAH 1 RESUSITASI JANTUNG PARU OBJEKTIF: 1.

Menyebutkan 4 peralatan proteksi diri yang digunakan dalam penilaian dan perawatan penderita 2. Menyebutkan 6 langkah Penilaian Korban 3. Menyebutkan 5 langkah prosedur yang dilakukan di Lokasi kejadian 4. Menyebutkan 6 langkah Penilaian Awal 5. Menyebutkan 6 hal yang harus dicari saat Wawancara 6. Menyebutkan 4 tindakan yang dilakukan saat Pemantauan 7. Menyebutkan 6 hal yang harus disampaikan dalam pelaporan 8. Mendemonstrasikan Pemeriksaan Fisik 9. Menyebutkan 5 langkah BHD 10. Menyebutkan 3 kekhususan dalam melakukan BHD bayi dan anak-anak 11. Menjelaskan teknik pengelolaan airway pada anak-anak dan dewasa 12. Menjelaskan teknik pengelolaan breathing pada anak-anak dan dewasa 13. Menjelaskan teknik pengelolaan sirkulasi pada anak-anak dan dewasa 14. Menjelaskan cara membebaskan sumbatan airway oleh benda asing pada anakanak dan dewasa 15. Menyebutkan 2 indikasi RJP 16. Menyebutkan 4 keadaan RJP tidak diperlukan 17. Menyebutkan 4 keadaan dimana RJP boleh dihentikan 18. Menyebutkan 3 keadaan dimana RJP boleh dihentikan sementara 19. Menjelaskan teknik RJP pada orang dewasa, 1 dan 2 orang penolong 20. Memperagakan teknik RJP pada orang dewasa, 1 dan 2 orang penolong 21. Menyebutkan 5 keadaan dimana oksigen harus diberikan 22. Menyebutkan 4 bagian dari sistem pemberian oksigen 23. Menyebutkan 4 bagian dari sistem pemberian oksigen 24. Menjelaskan perbedaan antara kanul hidung, masker rebreathing dan masker non breathing 25. Menjelaskan bahaya pemakaian oksigen PERALATAN DASAR UPAYA PERTOLONGAN PERTAMA Perlengkapan dasar untuk proteksi diri. o Sarung tangan karet, masker, pelindung mata, gaun pelindung. Peralatan dasar untuk perawatan rumah sakit o Pelindung mata o Cervical collar (semua ukuran) o Senter o Long spine board / Short Spine Board o Tensimeter o Stetoskop o Tabung Oksigen portabel

o o o o o o o o o o o

Spatula penekan lidah Orofaringeal airway Peralatan infus Kasa steril Perban Aluminium foil Balut tekan Plester Cairan infus Desinfektans Norit

PENILAIAN KORBAN Penilaian korban merupakan dasar dari semua tindakan pertolongan pertama. Keadaan korban yang tampak mengkhawatirkan dapat membuat panik penolong, sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Hal ini membuat tindakan pertolongan menjadi tidak fokus dan tidak sesuai dengan prioritas pertolongan yang seharusnya diberikan. Oleh karena itu langkah-langkah penilaian korban menjadi prosedur yang harus diikuti oleh setiap Penolong Pertama. Langkah-langkah ini dilakukan untuk dapat menanggulangi kegawatan dan kedaruratan yang dialami korban, tanpa harus melakukan diagnosis. Waktu yang begitu berharga bagi jiwa korban seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan tindakan yang menyelamatkan jiwa, sehingga mencari diagnosis dan penyebab pasti dilakukan setelah kondisi korban stabil, di fasilitas kesehatan yang mencukupi dan bukan merupakan tugas penolong pertama . Perencanaan Penilaian Korban (Patient Assesment Plan) Langkah-langkah penilaian korban dilakukan secara sistematis dengan memprioritaskan penanganan keadaan yang mengancam jiwa dan mencegah perburukan keadaan, baik bertambahnya jumlah korban, maupun mencegah memburuknya keadaan korban. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut : 1. Penilaian Lokasi 2. Penilaian Awal Korban (Primary Survey) 3. Pemeriksaan Fisik Lanjutan (Secondary Survey) 4. Wawancara 5. Pemantauan/Monitoring 6. Pelaporan Pada kasus non-trauma (medik), wawancara dilakukan lebih dulu sebelum pemeriksaan fisik lanjutan (secondary survey), karena tanda-tanda cedera akibat trauma dapat dilihat dan diraba, sedangkan masalah-masalah medis umumnya dirasakan oleh korban.

Penilaian Lokasi Penilaian tempat kejadian bertujuan untuk memastikan keamanan orang-orang di tempat kejadian, mengidentifikasi mekanisme kejadian, dan menetapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk melakukan pertolongan. Walaupun kita belum melakukan kontak apapun dengan korban, tapi pengamatan, keputusan dan tindakan yang dilakukan pada tahap ini menentukan pertolongan dan panggilan bantuan yang dibutuhkan. Pada saat berada di tempat kejadian, seorang penolong pertama harus melakukan : 1. Memastikan keamanan lokasi. Termasuk mengamankan lokasi dan menggunakan alat pelindung diri. Sebelum melakukan pertolongan, setiap penolong harus mampu menilai bahaya yang mengancam dirinya dan orang yang disekitar, serta melihat kemungkinan jalan keluar untuk membawa korban dan penolong keluar dari lokasi kejadian. 2. Memastikan keamanan diri. Setelah memastikan keamanan lokasi, penolong pertama harus memastikan keamanan dirinya sendiri dengan memakai alat pelindung diri (APD). 3. Memperhatikan keamanan korban. Setelah lingkungan dan diri penolong telah aman dari ancaman bahaya, penolong pertama harus memperhatikan keamanan korban. Apabila korban berada pada tempat membahayakan, maka perlu memindahkan korban sebelum melakukan tindakan pertolongan lain. 4. Menentukan mekanisme kejadian. Dengan melihat korban dan sekelilingnya dengan cepat kita dapat dengan cepat menentukan mekanisme kejadian. Walaupun tidak mendetail, namun mekanisme kejadian dapat menjelaskan jenis kejadian (trauma dan non-trauma) dan mekanisme cedera. 5. Kumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk meminta pertolongan dan tindakan selanjutnya, antara lain : Jumlah korban. Bahan berbahaya. Kemungkinan tindakan pertolongan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Penilaian lokasi kejadian harus dilakukan secara cepat, sambil menyusun rencana pertolongan dan membuat perkiraan reaksi dari pertolongan tersebut. Jangan lupa untuk selalu memperkenalkan diri ketika berada di lokasi kejadian. Hal hal yang perlu diperkenalkan antara lain : Nama dan organisasi. Di Indonesia umumnya penolong pertama memiliki latar belakang organisasi yang telah dikenal masyarakat memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan pertama, seperti kepanduan dan tim bantuan medis yang dibentuk masyarakat. Perkenalkan diri sebagai Penolong Pertama yang telah terlatih. Menanyakan kesediaan korban untuk dibantu (ijin). Dalam mengumpulkan data, sumber informasi kita antara lain: Keadaan tempat kejadian. Korban, jika sadar. Kerabat atau orang yang berada di sekitar. Cedera yang jelas, atau perubahan bentuk yang jelas. Tanda atau ciri yang jelas dari cedera atau suatu penyakit.

. Penilaian Awal Korban (Primary Survey) Penilaian awal adalah pemeriksaan korban yang bertujuan untuk mencari dan mengenali keadaan yang mengancam jiwa korban. Penilaian awal harus dilakukan secepat mungkin dan merupakan pemeriksaan yang paling pertama dilakukan pada korban. Tindakan yang menyelamatkan jiwa langsung dilakukan sejalan dengan penilaian awal. Secara berurutan sesuai prioritas tindakan, langkah-langkah penilaian awal adalah sebagai berikut : 1. Menentukan Kesan umum 2. Memeriksa Kesadaran 3. Memeriksa Jalan Napas (Airway) 4. Memeriksa Pernapasan (Breathing) 5. Memeriksa Sirkulasi (Circulation) 6. Kontrol Perdarahan yang Serius 1) Menentukan Kesan umum Mencari kesan umum dilakukan sejak awal melihat korban. Secara singkat dengan melihat keadaan, sikap tubuh korban dan keadaan sekitar, kita dapat menduga apakah kondisi korban akibat trauma atau non-trauma (medis). Jika memungkinkan, kita dapat mengumpulkan keluhan utama dari orang di sekitar. Keluhan utama adalah masalah yang membuat kita dipanggil untuk menolong. Misalnya dengan keluhan utama adanya korban tidak sadar akibat kecelakaan lalu lintas, kita dapat menentukan bahwa ini adalah kasus trauma. Menentukan kesan umum tidak selalu mudah, contohnya bila kita melihat korban tergeletak dengan kepala berdarah disamping tangga. Apakah korban jatuh dari tangga sehingga tergeletak dengan kepala berdarah atau korban terkena serangan jantung sehingga terjatuh dari tangga? Kesan umum bukan kata akhir dari gambaran keadaan korban, tapi membantu kita dalam melakukan alur penanganan yang sesuai. Memeriksa Kesadaran Memeriksa kesadaran sangat penting dalam menentukan langkah selanjutnya. Korban dengan penurunan kesadaran mungkin membutuhkan penanganan jalan napas atau bantuan hidup dasar lainnya. Jika mekanisme cedera menunjukkan adanya kemungkinan cedera tulang belakang, kita langsung memasang alat proteksi tulang belakang, sesuai penanganan cedera tulang belakang. Ada empat (4) tingkat kesadaran yang kita gunakan untuk menilai kesadaran korban, yaitu ASNT : Awas, Suara, Nyeri, Tanpa respon. (Inggris: AVPU: Alert, Voice, Pain, Unresponsive). A : Awas, ada respon. Korban sadar dan masih memiliki orientasi yang jelas, yaitu orientasi diri (sadar/ingat siapa dirinya), orientasi waktu (sadar/ingat jam dan tanggal sekarang), dan orientasi tempat (sadar/ingat dimana dia sekarang). Dengan demikian setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus diajukan. Siapa nama anda?

2)

Waktu saat ini? Di mana anda sekarang? S : Suara, korban memberikan respon terhadap suara, ditunjukkan dengan adanya tanggapan hanya bila ditanya. N : Nyeri, ada respon terhadap rangsang nyeri. Misalnya baru ada respon bila korban dicubit. T : Tanpa respon. Korban tidak memberikan respon terhadap rangsang apapun. Tingkat kesadaran ini membutuhkan pengawasan jalan napas dan atau bantuan hidup lain. Menilai kesadaran anak-anak atau orang lanjut usia lebih sulit dilakukan. Anakanak cenderung takut kepada orang asing dan mencari perlindungan orang tuanya. Kita membutuhkan orang tua anak tersebut atau orang lain yang dekat dengannya untuk menilai kesadaran. Perlu ditambahkan keterangan bila diketahui atau diduga korban menggunakan alkohol atau zat lain yang memabukkan. Misalnya korban tampaknya memberikan respon terhadap suara namun tampak mabuk. 3) Memeriksa Jalan Napas (Airway) Pemeriksaan jalan napas disesuaikan dengan kesadaran korban. Apabila korban sadar dan berbicara lancar, maka untuk sementara dianggap tidak ada gangguan jalan napas. Apabila ada gangguan dalam berbicara dan bernapas, seperti bunyi kumur-kumur atau mengorok, menunjukkan kemungkinan adanya sumbatan jalan napas. Pada korban dengan penurunan kesadaran, menilai jalan napas dan pernapasan dilakukan dengan Lihat, Dengar, dan Rasakan, yang secara lengkap akan dijelaskan dalam Bab . Penanganan langsung dilakukan ketika diketahui adanya gangguan jalan napas. Memeriksa Pernapasan (Breathing) Pemeriksaan pernapasan disesuaikan dengan kesadaran korban. Apabila korban sadar dan berbicara lancar, maka untuk sementara dianggap tidak ada gangguan pernapasan. Apabila korban dengan kalimat yang terputus-putus, ada kemungkinan gangguan pernapasan. Pada korban dengan penurunan kesadaran, sebagaimana telah dijabarkan pada nomor 3, penilaian pernapasan dilakukan dengan Lihat, Dengar, dan Rasakan. Pemeriksaan dilakukan selama 3-5 detik. Ciri-ciri pernapasan yang adekuat adalah : Adanya pergerakan dada (turun-naik) bersamaan kiri dan kanan. Dapat bernapas dengan mudah. Frekuensi pernapasan yang normal, yaitu : Bayi : 25-50 kali/menit Anak : 15-30 kali/menit Dewasa : 12-20 kali/menit Ciri-ciri pernapasan yang tidak adekuat adalah : Pergerakan dada yang kurang atau tidak sama kiri dan kanan Peningkatan usaha untuk bernapas

4)

Sianosis (kebiruan terutama pada bibir dan kuku) Penurunan kesadaran Jumlah pernapasan yang tidak normal Bayi : <20 kali/menit Anak : <10 kali/menit Dewasa : <8 kali/menit Penanganan langsung dilakukan ketika diketahui adanya gangguan pernapasan, sebagaimana juga akan dijelaskan dalam bab tersendiri 5) Memeriksa Sirkulasi (Circulation) Pada korban yang menunjukkan adanya respon, pemeriksaan sirkulasi dilakukan dengan meraba arteri radialis pada anak dan orang dewasa. Pada bayi yang diraba adalah arteri brakialis. Yang diperiksa adalah frekuensi dan iramanya, dilakukan selama 5-10 detik. Pada korban yang tidak menunjukkan respon, pemeriksaan sirkulasi dilakukan dengan meraba arteri karotis pada orang dewasa. Sedangkan pada anak-anak yang agak besar yang diraba adalah arteri karotis atau arteri femoralis, dan pada bayi dan anak yang masih kecil yang diperiksa adalah arteri brakialis. Arteri radialis terletak di pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Pada keadaan tertentu apalagi bila terjadi perdarahan hebat, arteri radialis sering kali sudah tidak teraba lagi. Arteri karotis terletak kira-kira 2 jari ke kanan atau ke kiri dari garis tengah di leher. Arteri brakhialis di daerah lengan atas. Kaki dan tangan korban yang teraba dingin dapat menunjukkan gangguan sirkulasi dan tanda-tanda syok, walaupun juga dapat diakibatkan udara dingin. Penanganan langsung dilakukan ketika diketahui adanya gangguan sirkulasi, berupa RJP (Resusitasi Jantung Paru/CPR: Cardio-Pulmonary Resuscitation) yang langsung diberikan secepat mungkin bila denyut nadi tidak teraba.

6)

Kontrol Perdarahan yang Serius Kita harus mengenali keadaan yang mengancam jiwa dengan cepat. Jangan terpaku pada luka yang kurang berbahaya sebelum cedera yang mengancam jiwa teratasi. Perdarahan yang serius dapat segera diketahui dari banyaknya darah yang keluar dari suatu luka, namun bisa juga baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan dengan teliti. Periksa korban untuk mengetahui perdarahan yang serius. Gunakan sarung tangan untuk melakukan pemeriksaan pada daerah yang sulit dilihat, seperti pada punggung. Semua perdarahan yang serius harus dianggap sebagai keadaan yang mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan segera. Penanganan perdarahan dan syok secara lengkap akan dibahas dalam tersendiri. Penilaian awal (Primary Survey) harus dilakukan secara lengkap, dan keadaan yang mengancam jiwa harus ditanggulangi sebelum melakukan pemeriksaan fisik lanjutan (Secondary Survey).

Pemeriksaan Fisik Lanjutan (Secondary Survey) Setelah melakukan Penilaian Awal untuk mengenali dan menanggulangi keadaan yang mengancam, kita mulai memeriksa seluruh tubuh dengan cermat untuk mencari adanya cedera atau penyakit. Umumnya pemeriksaan fisik dilakukan berurutan dari kepala sampai kaki, tapi dapat berubah tergantung korban, terutama bila ada luka yang jelas tampak berbahaya. Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk mencari cedera atau masalah medik yang dapat mengancam jiwa jika terlambat ditangani. Jika mekanisme cedera menunjukkan kemungkinan cedera tulang belakang atau terlihat jejas di sekitar leher, kita langsung memasang alat proteksi tulang belakang. Pemeriksaan fisik merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Selama memeriksa, penting untuk mendengarkan keluhan korban. Pemeriksaan fisik terdiri dari pemeriksaan seluruh tubuh dan pemeriksaan tanda vital. A. Pemeriksaan Seluruh Tubuh (dari kepala sampai kaki) Cara untuk melakukan pemeriksaan fisik adalah dengan : Lihat (Inspeksi) : Dengan melihat kita mencari tanda adanya cedera atau penyakit. Pertama kali dengan melihat secara sepintas tubuh secara keseluruhan, kemudian periksa dengan teliti. Dengar (Auskultasi) : Dengan mendengar kita mencari tanda adanya cedera atau penyakit. Yang paling penting adalah mendengar keluar masuknya udara dari paruparu untuk menentukan keadaan pernapasan. Raba (Palpasi) : Dengan meraba kita mencari tanda adanya cedera atau penyakit. Hati-hati dalam melakukan penekanan karena menimbulkan nyeri. Tanda cedera yang harus dicari: Bentuk (Deformity) : Adanya perubahan bentuk Luka (Open wound) : Adanya luka terbuka Nyeri (Tenderness) : Adanya rasa nyeri Bengkak (Swelling) : Adanya pembengkakan Kita singkat menjadi DOTS. Pemeriksaan seluruh tubuh dimulai dari kepala sampai kaki secara berurutan dari atas kebawah, dari depan ke belakang. Dengan melihat dan meraba menggunakan kedua tangan dengan tekanan yang sama, bandingkan bagian tubuh kiri dan kanan untuk menentukan kesimetrisan, cari bau dan suara yang tidak biasa. Kepala Kulit kepala dan tulang tengkorak : Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Telinga dan hidung : Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS), darah atau cairan lain disekitar hidung dan telinga. Mata : Periksa pupil mata, adanya perubahan bentuk, pembengkakan, darah disekitar dan didalam bola mata. Ketidaksimetrisan pupil dapat disebabkan cedera,

penyakit sebelumnya, atau mungkin bola mata palsu. Pupil yang tidak normal dapat berupa tidak adanya reaksi terhadap cahaya, pupil yang sangat kecil, atau pupil yang tidak sama kiri dan kanan. Mulut : Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Periksa pula adanya sumbatan jalan napas oleh benda asing, gigi yang lepas dan lain-lain.

Leher Pemeriksaan leher sangat penting mengingat di leher terdapat pembuluh darah besar dan saluran napas. Pemeriksaan dilakukan dari bagian depan ke belakang. Pada korban trauma dengan kecurigaan cedera tulang belakang, pemeriksaan leher dapat didahulukan bersamaan dengan Penilaian Awal (Primary Survey), dan langsung memasang alat proteksi tulang belakang. Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan. Apabila ada luka terbuka langsung ditangani dengan kasa oklusif untuk mencegah masuknya udara ke vena besar. Periksa posisi trakea, apakah tetap ditengah. Raba tulang leher. Pada beberapa negara, ada korban yang mengenakan tanda medik dilehernya apabila memiliki penyakit tertentu. Dada Pemeriksaan dada sangat penting karena di daerah dada terdapat organ vital dan pembuluh darah besar. Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Raba tulang iga dari depan ke belakang (tulang belakang) untuk memeriksa adanya perubahan bentuk. Raba tulang dada. Periksa kesimetrisan paru kiri dan kanan dengan melihat dan meraba kesimetrisan gerakan dada, juga dengan mendengar suara paru kiri dan kanan jika terlatih menggunakan stetoskop. Perut Trauma pada daerah perut dapat mengakibatkan cedera organ dalam, walaupun tidak tampak jejas dari luar. Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Periksa keadaan dinding perut, apakah kaku/keras atau kembung (teregang). Keadaan ini dapat menunjukkan cedera di dalam perut. Jika korban mengeluh nyeri pada salah satu kuadran perut, maka kuadran tersebut diraba paling akhir. Luka lecet, sayat, dan luka tusuk, berpotensi mengakibatkan keluarnya organ dalam, perdarahan dan infeksi. Tutup segera dengan kasa steril yang dibasahi NaCl 0,9 %.

Panggul Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Palpasi seluruh bagian tulang dengan lembut. Walaupun perubahan bentuk tidak selalu tampak jelas, patah tulang panggul dapat mengakibatkan perdarahan yang berat. Waspadai kemungkinan cedera tulang belakang, karena cedera tulang panggul dapat diikuti cedera tulang belakang. Cedera pada daerah genital dapat ditunjukkan dengan priapismus (ereksi terus menerus pada pria). Punggung Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Jangan membalikkan korban jika penolong seorang diri. Periksa dengan lembut kedudukan tulang belakang, apakah masih segaris. Luka terbuka pada daerah punggung ditangani sama dengan luka pada daerah dada. Anggota gerak atas Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Periksa pulsasi nadi radialis. Periksa pergerakan/motorik, minta korban untuk menggerakan ujung jari. Periksa sensorik, tekan dengan lembut ujung jari, kemudian tanyakan apakah korban merasakannya. Anggota gerak bawah Periksa adanya perubahan bentuk, luka terbuka, pembengkakan, dan nyeri tekan (DOTS). Periksa pulsasi nadi, pada kaki dapat diraba arteri dorsalis pedis di punggung kaki. Periksa pergerakan/motorik, minta korban untuk menggerakan ujung jari. Periksa sensorik, tekan ujung jari kaki dengan lembut, kemudian tanyakan apakah korban merasakannya. B. Pemeriksaan Tanda Vital Tanda vital meliputi pernapasan, nadi, keadaan kulit, pupil, dan tekanan darah . Pemeriksaan tanda vital perlu diulang (monitoring), karena perubahan tanda vital, misalnya penurunan tekanan darah, menunjukkan perubahan kondisi korban. Untuk melakukan pemeriksaan tanda vital, alat yang dibutuhkan : Jam tangan dengan hitungan detik

darah.

Senter, untuk memeriksa pupil Stetoskop, untuk memeriksa tekanan darah dan pernapasan Tensimeter (sphygmomanometer), untuk mengukur tekanan

Pernapasan Satu kali pernapasan terdiri dari satu kali menghirup napas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan yang normal dilakukan dengan mudah dan tanpa usaha. Frekuensi pernapasan berubah-ubah sesuai dengan usia. Frekuensi pernapasan yang normal, yaitu : Bayi : 25-50 kali/menit Anak : 15-30 kali/menit Dewasa : 12-20 kali/menit Untuk menghitung frekuensi pernapasan, kita menghitung jumlah pergerakan naikturunnya dada atau perut selama 30 detik, kemudian kita kalikan dua. Pada saat menghitung frekuensi pernapasan, berpura-puralah melakukan hal lain sehingga korban dapat bernapas secara biasa. Memeriksa pernapasan dapat dengan menggunakan stetoskop, atau dengan meletakkan tangan korban dan tangan pemeriksa diatas dada atau perut korban untuk merasakan pergerakan dada atau perut. Periksa pula keteraturan dan kedalaman pernapasan. Suara yang tidak normal (mengorok atau mengi) menunjukkan adanya sumbatan jalan napas. Pernapasan yang tidak normal berupa : Napas yang pendek Napas yang sangat lambat Napas yang sangat cepat Nadi Denyut nadi disebabkan oleh denyut jantung yang merambat dalam arteri. Denyut nadi dapat kita raba pada pembuluh arteri yang terletak di atas tulang yang menonjol dekat permukan kulit. Frekuensi nadi yang normal : Bayi : 120-150 kali/menit Anak : 80-150 kali/menit Dewasa : 60-80 kali/menit Saat memeriksa nadi, perhatikan hal-hal berikut : Frekuensi nadi : Cepat atau lambat. Kekuatan denyut : kuat, lemah atau sangat kuat. Irama: Teratur atau tidak teratur. Frekuensi, kekuatan dan irama nadi menunjukkan kegiatan jantung pada saat itu. Cara memeriksa : Denyut nadi dapat diraba pada : o Arteri brakialis : Pada lipat siku. o Arteri karotis : Pada lateral/pinggir kanan atau kiri leher. o Arteri femoralis : Pada lipat paha. Tekan arteri dengan menggunakan tiga jari, jangan gunakan ibu jari.

Hitung jumlah denyut selama 15 detik, kemudian kalikan 4.

Kulit Pemeriksaan suhu, warna dan kondisi kulit dapat menunjukkan kondisi sirkulasi korban. Warna Kulit Warna kulit dapat menunjukkan keadaan jantung, paru-paru dan sirkulasi. Warna kulit yang mungkin ada korban antara lain : Pucat : Dapat disebabkan syok atau serangan jantung, yang menyebabkan gangguan aliran darah. Juga dapat disebabkan rasa takut, pingsan atau tekanan emosi. Kemerahan : Dapat disebabkan tekanan darah yang tinggi, alkohol, terbakar sinar matahari, sengatan panas (heat stroke), demam, infeksi atau penyakit lain. Kebiruan/sianosis : Merupakan masalah serius, dan pertama kali terlihat pada ujung jari dan mulut/bibir. Warna biru disebabkan tingginya kadar CO2, yang dapat disebabkan penurunan kadar O2, syok, serangan jantung, keracunan, dan lain-lain. Kekuningan : Dapat disebabkan penyakit hati. Selain di kulit, tampak pula pada bagian putih (sklera) mata. Bercak atau bintik hitam kebiruan atau kemerahan : Dapat disebabkan perdarahan di bawah kulit, dapat terjadi penyakit yang berat seperti demam berdarah atau kelainan darah. Dapat dibedakan dengan gigitan nyamuk dengan menekan bintik tersebut, pada gigitan nyamuk bintik tersebut akan memudar atau menghilang, sedangkan pada demam berdarah bintik tersebut akan tetap jelas. Pada orang-orang yang berkulit gelap, pemeriksaan warna kulit dapat dilakukan pada bibir, kuku, telapak tangan, daun telinga, bagian dalam kelopak mata, gusi dan lidah. Suhu Kulit Suhu tubuh yang normal adalah 37,2 C. Pengukuran suhu yang cukup akurat dapat dilakukan menggunakan termometer di lipat ketiak selama 5 menit. Jika tidak ada termometer, suhu tubuh dapat diperkirakan dengan menyentuh kulit korban dengan punggung telapak tangan. Walaupun tidak akurat, namun dapat memberitahukan apakah suhu korban tinggi atau rendah dibandingkan dengan suhu pemeriksa. Kondisi Kulit Kondisi kulit menggambarkan kelembaban kulit, seperti kering, lembab atau basah. Makna dari kondisi kulit tergantung suhu dan lingkungan. Pengisian Kembali Kapiler (Capillary refill) Metode ini bertujuan memeriksa kemampuan darah mengisi kapiler, bermanfaat untuk menentukan kondisi syok. Caranya adalah dengan menekan bantalan kuku sampai kulit dibawah kuku berwarna pucat, dan perhatikan berapa lama warna kemerahan muncul kembali pada kulit dibawah kuku, normalnya selama 2 detik. Waktu yang lebih lama dari 2 detik menunjukkan penurunan aliran darah pada anggota gerak tersebut yang dapat disebabkan oleh syok. Pupil Pupil adalah bulatan di dalam bagian hitam dari mata. Bulatan tersebut merupakan celah yang dapat menyempit dan melebar kembali untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke bola mata.

Pada respon/refleks pupil yang normal, bila mata diberi sinar terang, maka pupil akan mengecil, dan kedua pupil harus sama ukurannya. Apabila cahaya lingkungan cukup terang, maka lindungi mata korban dari cahaya lingkungan sebelum melakukan pemeriksaan. Kelainan yang dapat terjadi antara lain: Tidak bereaksi terhadap cahaya (tetap melebar), tetap mengecil walaupun cahaya tidak terlalu terang seperti pentul jarum (pin point pupil, dapat terjadi pada overdosis obat), atau ukuran kedua pupil tidak sama (dapat terjadi pada cedera kepala dan stroke). Semua kelainan ini menunjukkan adanya masalah pada pusat saraf (otak), dengan catatan kondisi mata korban normal. Tekanan Darah Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan jantung, yang kemudian diteruskan keseluruh pembuluh darah. Tekanan darah terdiri dari tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik ditimbulkan oleh kontraksi jantung, sedangkan tekanan diastolik ditimbulkan saat jantung berelaksasi. Dalam keadaan normal kedua tekanan ini akan turun dan naik secara bersamaan. Secara normal tekanan darah akan sedikit naik turun sesuai dengan aktivitas dan emosi, juga dapat berubah sesuai usia, jenis kelamin dan penyakit. Tekanan darah wanita biasanya 10 mmHg lebih tinggi dari pria. Alat yang dibutuhkan Alat pengukur tekanan darah (tensimeter, sphygmomanometer). Terdiri alat pengukur berbentuk jarum atau air raksa, dan manset yang direkatkan di lengan atas dan dihubungkan dengan pipa karet ke alat pengukur.. Stetoskop, jika tidak ada stetoskop dapat dengan palpasi jari. Cara mengukur tekanan darah 1. Pasang manset pada lengan atas, dengan tepi bawah manset terletak 1 jari diatas lipat siku. Ada beberapa ukuran manset, tapi umumnya yang digunakan hanya satu jenis ukuran. 2. Pompa manset, sambil meraba arteri radialis sampai denyut nadi teraba, kemudian pompa lagi sampai 30 mmHg lebih tinggi. 3. Pasang stetoskop pada arteri brakialis, atau bila tidak ada gunakan 3 jari tangan untuk meraba arteri brakialis. 4. Turunkan jarum/air raksa perlahan-lahan sambil mendengarkan denyut nadi. Angka yang ditunjukkan ketika bunyi yang pertama muncul adalah tekanan sistolik. Angka yang ditunjukkan ketika denyut nadi menghilang adalah tekanan diastolik. Bila dengan palpasi jari, hanya dapat menentukan tekanan sistolik yaitu pada saat teraba denyut nadi arteri brakialis. Nilai Normal Tekanan Darah Dewasa Anak (<12 tahun) Sistolik 130-90 mmHg (2 x umur) + 80 mmHg Diastolik 90-70 50-80 mmHg Tekanan darah yang rendah menunjukkan kegagalan sirkulasi, yang dapat diakibatkan gangguan jantung, kehilangan cairan dan gangguan saraf. Namun karena banyak hal yang mempengaruhi tekanan darah, kita juga harus mempertimbangkan tanda vital lainnya.

Wawancara Sebelum melakukan wawancara kita perlu mengulang kembali langkah-langkah penilaian lokasi. Pada kasus medik, wawancara (dalam istilah medik disebut anamnesis) dan pemeriksaan tanda vital didahulukan daripada pemeriksaan seluruh tubuh. Pengumpulan informasi dapat dilakukan wawancara korban (bila sadar), keluarga korban dan orangorang disekitar. Hal-hal yang perlu dicari dengan wawancara, antara lain : Keluhan/Gejala (Symptoms) : Adalah yang kondisi yang digambarkan korban, seperti nyeri, pusing, lemas dan lain. Keluhan/gejala bisa kita dapatkan langsung dari korban, atau dari keluarga dan orang lain yang mendengar keluhan korban. Usahakan untuk menanyakan pertanyaan terbuka, seperti Apa yang anda rasakan? dan bukan pertanyaan tertutup seperti Apakah kaki anda sakit?. Alergi (Allergies) : Tanyakan apakah korban memiliki alergi terhadap zat, obat atau makanan tertentu. Obat (Medications) :Tanyakan apakah korban mengkonsumsi obat tertentu, atau apakah korban sedang dalam pengobatan. Hal ini dapat membantu menjelaskan kondisi korban, terutama bila berhubungan dengan obat-obatan yang dikonsumsinya. Riwayat Penyakit (Pertinent Past History) :Tanyakan apakah korban sedang menderita penyakit tertentu, yang mungkin berhubungan dengan kondisi korban pada saat ini. Makanan (Last oral intake) : Tanyakan apa yang saja yang telah dimakan dan diminum korban, juga waktu terakhir korban makan dan minum. Kejadian (Events) : Tanyakan aktivitas korban sebelum kejadian, atau jalannya kejadian yang berhubungan dengan kondisi korban. Pemantauan/Monitoring Setelah penilaian dan tindakan yang diberikan, korban mungkin masih belum stabil sehingga memerlukan pemantauan. Walaupun korban sudah stabil masih ada kemungkinan terjadinya perburukan keadaan sehingga proses pemantauan dilakukan terus menerus sampai dialihkan pada perawatan selanjutnya. Tindakan yang dilakukan pada pada pemantauan adalah: Memeriksa kesadaran Memeriksa jalan napas (Airway) Memeriksa pernapasan (Breathing). Memeriksa sirkulasi (Circulation). Mengulangi Pemeriksaan Fisik (Secondary Survey). Periksa hasil tindakan yang sudah diberikan, ulangi jika perlu. Lakukan tindakan yang diperlukan sesuai hasil pemantauan. Tenangkan dan beri rasa aman pada korban. Pada korban yang stabil (tanda vital normal, tidak ada cedera yang mengancam jiwa), pemeriksaan diatas dilakukan tiap 15 menit. Sedangkan pada korban yang tidak stabil

pemeriksaan dilakukan tiap 5 menit. Jangan tinggalkan korban sebelum dialihkan pada perawatan selanjutnya.

Pelaporan Ketika kita akan mengalihkan korban pada petugas medik selanjutnya, baik di RS maupun Paramedik yang datang, kita perlu memberikan informasi yang tepat tentang kondisi korban. Hal ini disebut serah terima catatan medik. Laporan meliputi : 1. Usia dan jenis kelamin korban. 2. Keluhan utama. 3. Kesadaran. 4. Keadaan Airway, Breathing, Circulation. 5. Hasil pemeriksaan fisik (Secondary Survey). 6. Kejadian (Events) yang berhubungan dengan kondisi korban. 7. Riwayat Penyakit. 8. Tindakan yang sudah dilakukan dan hasilnya. Laporan juga meliputi perkembangan hal-hal diatas selama Pemantauan/Monitoring. Penutup Pertolongan pertama kegawatan dan kedaruratan harus memprioritaskan keadaan yang mengancam jiwa terlebih dahulu. Ketidakpastian diagnosis tidak boleh menghalangi tindakan yang menyelematkan jiwa, dan memang bukan menjadi tugas penolong pertama untuk memastikan diagnosis. Untuk itu langkah-langkah penilaian korban harus dilakukan secara sistematis, sehingga pertolongan dapat diberikan sesuai prioritas. BANTUAN HIDUP DASAR Manusia membutuhkan oksigen untuk kepentingan metabolisme sel-sel dalam tubuhnya agar bisa tetap hidup. Oksigen dihantarkan dari lingkungan ke sel dengan bantuan sistem pernapasan dan sistem kardiovaskuler atau sirkulasi. Apabila sel-sel tidak mendapatkan oksigen, dalam waktu yang relatif singkat sel-sel tersebut akan mati, terutama sel otak dan jantung. Hipoksia (kekurangan oksigen) dikenal sebagai pembunuh tercepat, yang umumnya terjadi karena ketidakmampuan mengantarkan darah yang teroksigenasi ke otak dan struktur-struktur vital lainnya. Keadaan ini terjadi karena berhentinya fungsi sistem pernapasan (henti bernapas) dan sirkulasi (jantung berhenti berdenyut dan memompakan darah), yang dikenal sebagai mati klinis. Pada keadaan mati klinis, korban masih dimungkinkan untuk hidup dengan mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi. Pada keadaan tertentu yaitu bila korban ditemukan dalam keadaan beku karena

pengaruh lingkungan, seperti tenggelam di air es, belum dapat dinyatakan mati sampai korban dihangatkan, kemudian baru ditentukan kematian korban. Telah disepakati bahwa 6-8 menit merupakan waktu terlama otak dapat hidup tanpa oksigen. Kerusakan sel otak dimulai 4-6 menit setelah berhentinya pernapasan dan sirkulasi. Setelah 10 menit terjadi henti jantung biasanya sudah terjadi mati biologis, yaitu kematian sel disertai pembusukan. Setelah mati biologis, manusia tidak dapat dihidupkan kembali. Untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi yang terhenti mendadak, harus segera dilakukan upaya yang dikenal sebagai Bantuan Hidup Dasar (BHD) sehingga ventilasi (pertukaran gas O2 - CO2) dan perfusi (aliran darah paru-paru yang mengangkut O2 dan CO2) yang adekuat dapat dipulihkan. Semakin cepat BHD dilakukan kemungkinan keberhasilannya makin tinggi. Bantuan hidup dasar dilakukan dengan harapan oksigenasi sel akan terpenuhi sehingga keadaan mati klinis bisa dipulihkan dan tidak berlanjut menjadi mati biologis. Pulihnya dari keadaan mati klinis ditandai dengan timbulnya napas dan denyut jantung spontan pada korban. Keterlambatan dilakukannya BHD dapat menyebabkan mati sosial, yaitu suatu keadaan korban yang pernapasan dan sirkulasinya pulih namun telah terjadi kerusakan otak, sehingga korban tidak dapat melakukan kegiatan apapun, termasuk berpikir. Bantuan hidup dasar diperlukan pada berbagai keadaan seperti pada korban tenggelam, tersengat listrik, kecelakaan lalu lintas, korban kebakaran, serangan jantung, dan keadaan kegawatdaruratan lainnya. Bantuan hidup dasar (BHD) merupakan upaya oksigenasi darurat yang terdiri dari: 1. Penilaian kesan umum. 2. Airway control dan cervical control, penguasaan jalan napas. 3. Breathing support; ventilasi buatan dan oksigenasi paru-paru darurat. 4. Circulation support; pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan pengelolaan syok. Menjaga airway yang terbuka dan terlindung serta menjamin ventilasi yang adekuat/ tercukupi merupakan prioritas. Masalah airway mematikan paling cepat daripada breathing dan circulation. Oleh karena itu pada pertolongan pra rumah sakit masalah airway merupakan masalah yang pertama ditangani, kemudian dilanjutkan dengan breathing dan circulation. Untuk mempermudah dikenal dengan A-B-C. Pada pelaksanaan di lapangan dilakukan secara simultan/ bersamaan (bila tenaga mencukupi). Airway dan kontrol leher Anatomi dan fisiologi airway (jalan napas) Airway atau jalan napas adalah saluran yang mengantarkan udara dari luar yang akan mengalami pertukaran di alveolus. Jalan napas terdiri dari jalan napas atas dan bawah, yang keduanya dipisahkan oleh glotis yang terletak di atas pangkal tenggorokan. Umumnya manusia bernapas melalui hidung, namun bila terpaksa manusia bernapas lewat mulut. Udara napas yang dihirup melalui hidung akan diteruskan ke nasofaring. Udara napas yang dihirup melalui mulut akan dilanjutkan ke orofaring, yang bisa dilihat bila kita membuka mulut. Setelah melalui faring udara kemudian menuju laring,

diteruskan ke trakea, lalu ke bronkus, kemudian ke bronkiolus hingga mencapai bronkiolus respiratorius.

Udara yang berasal dari lingkungan memiliki suhu dan kelembaban yang berbeda dengan tubuh. Ketika melalui hidung udara pernapasan dilembabkan dan dihangatkan. Oleh bulubulu hidung, udara yang melaluinya mengalami penyaringan dari debu dan kotoran. Udara yang melalui hidung atau mulut akan diteruskan ke faring (orofaring dan nasofaring). Pada akhir faring saluran bercabang 2. Bagian depan/ anterior adalah laring (tenggorokan) yang merupakan saluran napas, sedangkan bagian belakang/ posterior adalah esophagus (kerongkongan) yang merupakan bagian dari saluran cerna. Udara napas meninggalkan faring menuju laring. Sebelum memasuki laring akan didapati epiglotis yang ibarat daun pintu pelindung laring, sehingga laring hanya dilalui oleh udara dan tidak makanan. Bila secara tidak sengaja ada benda selain udara masuk ke laring akan terjadi refleks batuk. Laring dibangun oleh cincin tulang rawan yang saling berhubungan. Pada laring terdapat pita suara. Pada pita suara ini terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara ke trakea yang disebut glotis, pemisah saluran napas atas dan bawah. Udara napas kemudian melalui trakea, yang di sokong cincin tulang rawan berbentuk seperti sepatu kuda. Memasuki rongga thoraks trakea bercabang 2 di karina, menjadi bronkus utama kanan dan kiri, yang merupakan bagian dari paru-paru. Selanjutnya udara napas menuju cabang-cabang bronkus, kemudian bronkiolus, lalu bronkiolus terminalis dan berakhir di alveolus tempat terjadinya pertukaran gas O2 dengan CO2. Bagaimana tanda-tanda airway normal? Orang sadar dan dapat berbicara dengan suara yang jelas, tidak terputus-putus, dapat dinyatakan bahwa airway dalam keadaan baik. Saat bernapas tidak ditemukan adanya suara-suara napas tambahan. Saat menarik napas hanya terdengar bunyi napas inspirasi. Bagaimana cara menilai airway? Mengenali adanya gangguan airway dilakukan dengan look, feel, dan listen. Lakukan penilaian dalam 5 detik. Penilaian airway bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan. Look/ lihat. Penurunan kesadaran dan agitasi (gaduh gelisah) menandakan adanya hipoksia (kekurangan oksigen). Sianosis (kebiruan) menandakan adanya

hipoksemia lama (kekurangan oksigen dalam darah dan jaringan). Pada korban luka bakar perhatikan kemungkinan adanya trauma inhalasi/ terhirupnya gas beracun, seperti dahak hitam, bulu-bulu hidung yang tampak terbakar. Trauma inhalasi merupakan ancaman terhadap airway, karena jaringan yang membangun jalan napas bisa mengalami pembengkakan. Curigai adanya gangguan airway pada korban yang menolak berbaring. Feel/ rasakan. Rasakan adanya aliran udara napas yang keluar dari hidung dan mulut korban. Tidak adanya aliran udara napas menandakan sumbatan, atau korban tidak bernapas. Listen/ dengar. Dengarkan adanya suara napas tambahan, atau napas yang berbunyi seperti mendengkur/ ngorok, berkumur-kumur, bersiul, atau suara parau, menandakan adanya sumbatan jalan napas. Bagaimana tanda dan gejala gangguan airway? Gangguan airway dapat dikenali apabila ditemukan adanya suara napas tambahan baik saat ekspirasi (mengeluarkan napas) maupun saat inspirasi (menarik napas). Korban yang nampak kesulitan dan perlu usaha tambahan untuk bernapas patut dicurigai terdapat gangguan airway. Korban tampak menggunakan otot-otot napas tambahan, seperti retraksi (penarikan ke dalam) sela iga, dan pernapasan cuping hidung (hidung kembang kempis). Pada korban yang tidak bernapas tanda-tanda tersebut tidak dapat ditemukan lagi. Bila gangguan berlanjut, korban bisa mengalami sianosis (kebiruan). Sianosis dapat dilihat pada ujung jari, bibir, maupun lidah. Dalam pengelolaan gangguan airway, perlu diketahui jenis dan derajat sumbatan airway agar dapat ditentukan tindakan selanjutnya. Jenis sumbatan Jenis sumbatan dapat berupa benda padat, cair, atau bagian dari tubuh. Sumbatan airway oleh benda padat pada orang dewasa sering terjadi bila korban tersedak saat makan. Sumbatan dapat berupa daging, bakso, maupun makanan lainnya. Gigi palsu yang lepas bisa menjadi salah satu penyumbat airway. Muntahan seringkali menjadi ancaman airway pada setiap penderita trauma. Lidah menjadi penyebab sumbatan airway tersering pada penderita tidak sadar . Jaringan tubuh di sepanjang jalan napas yang mengalami pembengkakan atau luka potensial sebagai sebab sumbatan airway. Infeksi saluran napas maupun gangguan pernapasan lain seperti asma potensial menjadi penyebab sumbatan jalan napas. Derajat sumbatan Sumbatan pada airway dapat terjadi total maupun parsial/ sebagian. Total Korban yang mengalami sumbatan total akan memperlihatkan universal sign of choking (tanda universal). Korban akan memegangi lehernya antara ibu jari dan jari lainnya. Korban tidak dapat bicara, bernapas, maupun batuk. Keadaan korban dapat memburuk dengan cepat, kesadaran korban dengan cepat menurun karena kegagalan mempertahankan ventilasi dan perfusi. Korban harus ditolong dengan segera. Pada korban yang masih berusaha bernapas akan tampak sebagai gerakan

paradoksal dada dan perut (see-saw breathing). Gerakan berupa dada bergerak turun ketika perut bergerak naik. Parsial/ sebagian Korban yang mengalami sumbatan parsial masih bisa bernapas dan bicara, walaupun tidak adekuat/ kurang memadai. Pada keadaan ini akan terdengar suara napas tambahan baik saat ekspirasi maupun inspirasi. Jika korban yang mengalami sumbatan parsial dan pernapasannya masih baik, biasanya masih memiliki refleks batuk. Korban akan batuk sebagai upaya spontan untuk mengeluarkan benda asing. Sumbatan parsial dapat segera berubah menjadi total. Oleh karena itu perlu dilakukan pertolongan segera. Suara napas tambahan pada sumbatan airway parsial : Mengorok (snoring) Penyebab utama sumbatan airway pada korban tidak sadar adalah jatuhnya pangkal lidah ke belakang, ke dinding faring. Sumbatan ini menghasilkan bunyi mengorok terutama saat mengeluarkan napas. Berkumur-kumur (gurgling) Bunyi berkumur-kumur dihasilkan bila cairan atau semi cairan seperti darah, ludah, lendir, dan muntahan menyumbat airway. Bunyi terjadi saat inspirasi dan ekspirasi. Stridor Suara keras seperti burung gagak yang terdengar saat inspirasi. Terjadi bila terdapat peradangan yang menyebabkan pembengkakan laring. Keadaan ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian dengan cepat. Stridor dapat ditemukan pada bayi yang mengalami infeksi saluran napas, luka inhalasi atau terhirupnya gas beracun, cedera langsung pada laring atau benda asing. Bila mendapati kondisi ini lakukan: 1) Penilaian awal dan buka jalan napas. 2) Berikan oksigen bila tersedia. 3) Segera bawa ke rumah sakit. Bagaimana cara melakukan pertolongan terhadap gangguan airway? Sebelum melakukan pertolongan pastikan keamanan tempat kejadian dan diri anda sebagai penolong. Selalu gunakan alat pelindung diri. Perlu disadari bahwa menjamin terbukanya airway merupakan langkah penting pertama untuk pemberian oksigen pada korban. Bila airway tidak terbuka maka tidak ada oksigen yang masuk untuk mengalami pertukaran gas. Pertolongan terhadap gangguan airway meliputi langkah-langkah sebagai berikut: 1. Lakukan penilaian awal terhadap airway. 2. Buka jalan napas. 3. Lakukan penilaian derajat dan jenis sumbatan. 4. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan. Penilaian awal terhadap airway

Guncangkan bahu korban dan panggil namanya. Periksa kesadaran korban dan ajak korban bicara. Pak!!, Bu!!, Mbak!!, Mas!!. Pancing jawaban verbal: Bagaimana keadaan anda?, Apa yang dirasakan?. Korban yang mampu berbicara dan memberikan jawaban adekuat menandakan bahwa airway korban bebas dan tidak mengalami hipoksia. Jawaban yang positif dan sesuai, tidak ada kesulitan saat berbicara, berbicara saat ekspirasi saja, dan tidak pada saat inspirasi, tidak ada bunyi napas tambahan menandakan jawaban yang adekuat. Korban yang kesadarannya menurun, termasuk korban yang gaduh gelisah menandakan mengalami hipoksia. Curigai adanya gangguan airway pada korban yang menolak dibaringkan pada posisi terlentang. Pastikan bahwa korban tidak mengalami cedera kepala, leher, dan tulang belakang. Bila korban mengalami atau diduga mengalami cedera tersebut maka lakukan perlindungan terhadap leher dan lakukan imobilisasi segaris, agar tidak mengalami pergerakan. (pembahasan lebih lanjut lihat bab...cedera leher). Membuka jalan napas Tehnik membuka jalan napas dapat dilakukan dengan dan tanpa bantuan alat khusus. Membuka jalan napas tanpa alat bantu/ manual o Head tilt dan chin lift Penolong berlutut di sisi korban. Tengadahkan kepala korban dengan cara posisikan telapak tangan di dahi korban, kemudian dorong ke arah belakang (head tilt). Pada saat yang bersamaan angkat dagu dengan jarijari tangan yang lain (chin lift). Cara ini tidak dianjurkan pada korban trauma yang mengalami atau dicurai mengalami cedera kepala, leher, dan tulang belakang.

o Jaw thrust Jaw thrust merupakan tehnik mendorong mandibula (rahang bawah) ke arah depan. Penolong berlutut di dekat kepala korban yang terbaring terlentang, dengan posisi seolah-olah mengapit kepala korban dengan kedua tangan. Dorong rahang bawah dengan mendorong kedua sudutnya ke depan dengan jari-jari kedua tangan dari sisi kiri dan kanan sehingga mulut korban terbuka. Cara ini baik untuk korban yang tidak sadar dan mengalami atau dicurigai mengalami cedera kepala, leher, dan tulang

belakang. Tehnik ini memungkinkan pergerakan yang dialami leher dan kepala sangat minimal.

o Triple airway manuver Tehnik ini terdiri dari menengadahkan kepala, mendorong rahang bawah ke depan, disertai dengan membuka rahang bawah. Cara ini tidak dianjurkan pada korban trauma yang mengalami atau dicurai mengalami cedera leher. Membuka jalan napas menggunakan alat bantu jalan napas Pada keadan sulit mempertahankan terbukanya jalan napas korban dengan manipulasi kepala dan rahang, pasanglah oropharingeal airway (oral airway/OPA) atau nasopharingeal airway (nasal airway). Alat bantu oral dan nasal airway digunakan apabila terjadi sumbatan airway karena jatuhnya pangkal lidah. o Oropharingeal airway (OPA) Oropharingeal airway adalah alat yang dipasang dari mulut sampai faring, berfungsi untuk menjaga agar pangkal lidah tidak jatuh ke belakang. Alat ini biasanya terbuat dari plastik. Oropharingeal airway digunakan pada korban yang tidak sadar dan tidak memiliki refleks muntah. Oropharingeal airway tersedia dalam berbagai ukuran. Bagaimana cara memasang OPA? Pemasangan OPA dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan bantuan spatula lidah dan tanpa bantuan spatula lidah. Menggunakan spatula lidah 1) Lakukan penilaian awal. Pastikan korban tidak sadar dan buka jalan napas korban. 2) Tentukan ukuran OPA yang sesuai dengan korban. Ukuran yang tepat adalah bila panjang OPA sesuai dengan jarak antara ujung bibir dengan ujung bawah daun telinga (anak telinga), atau jarak antara pertengahan bibir dengan sudut rahang bawah. Lebih dianjurkan cara mengukur panjang OPA dari ujung bibir sampai ujung bawah daun telinga (anak telinga). 3) Buka mulut korban, pastikan bahwa tidak ada benda asing yang dapat terdorong masuk. Membuka mulut korban dilakukan dengan

teknik cross finger, yaitu ibu jari dan jari telunjuk salah satu tangan penolong disilangkan, kemudian gerakkan ibu jari mendorong gigi bawah dan jari telunjuk mendorong gigi atas, sehingga gigi atas dan bawah saling menjauhi. 4) Gunakan spatula lidah untuk menekan lidah. 5) Masukkan pipa OPA ke dalam mulut dengan lengkungan cembung menghadap kearah langit-langit. Masukkan sampai mulut OPA menyentuh gigi korban. 6) Fiksasi/ pertahankan posisi OPA dengan menggunakan plester, namun jangan sampai menutupi lubang OPA. Tanpa bantuan spatula lidah 1) Lakukan penilaian awal. Pastikan korban tidak sadar dan buka jalan napas korban. 2) Tentukan ukuran OPA yang sesuai dengan korban 3) Buka mulut korban, pastikan bahwa tidak ada benda asing yang dapat terdorong masuk. 4) Masukan pipa OPA ke dalam mulut dengan posisi terbalik, yaitu lengkungan cembung menghadap ke lidah. 5) Dorong pipa perlahan sampai ada tahanan oleh langit-langit lunak. 6) Putar 180 derajat , masukkan sampai mulut OPA menyentuh gigi korban. 3) Fiksasi OPA dengan menggunakan plester, namun jangan sampai menutupi lubang OPA. Setelah memasang OPA lakukan kembali evaluasi airway. Bila pemasangan OPA berhasil maka suara ngorok akan menghilang. Perhatian! Bila OPA digunakan pada korban yang masih sadar dan memiliki refleks muntah dapat merangsang korban muntah atau kekakuan laring, sehingga pita suara mengatup. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan airway. Ukuran dan cara memasang yang tidak tepat akan menyebabkan gangguan airway yang lebih buruk. Hati-hati terjepitnya lidah atau bibir korban oleh pipa airway. Pada bayi dan anak-anak pemasangan OPA dilakukan dengan bantuan spatula lidah. o Nasopharingeal airway (NPA) Selain OPA, dikenal juga Nasopharingeal airway atau pipa nasal adalah alat yang dipasang dari hidung sampai faring, digunakan juga untuk menjaga agar pangkal lidah tidak jatuh ke belakang, terbuat dari plastik lunak dan elastis. Nasopharingeal airway tidak menyebabkan refleks muntah, sehingga baik digunakan pada korban sadar dan masih memiliki refleks muntah. Pada korban tidak sadar yang sulit memasukkan alat bantu

airway melalui mulut, misalnya bila mulut terkatup rapat, nasopharingeal airway dapat digunakan sebagai pilihan. Nasopharingeal airway tersedia dalam berbagai ukuran. Pemasangan NPA memerlukan ketrampilan khusus yang dimiliki oleh tenaga kesehatan setingkat paramedis ke atas, oleh karena itu pemakaian NPA tidak akan dijabarkan pada pembahasan ini. Perhatian! Ukuran pipa yang terlalu panjang dapat menyebabkan udara mengalir ke lambung dan menyebabkan kembung (distensi lambung). Keadaan ini menyebabkan korban potensial mengalami muntah. Lakukan penilaian derajat dan jenis sumbatan Periksa apakah korban mengalami sumbatan airway, dengan look, feel, listen. Nilai derajat sumbatannya, total ataukah parsial. Tentukan jenis sumbatannya, benda padat atau cairan. Pengetahuan mengenai derajat dan jenis sumbatan merupakan dasar untuk mengambil tindakan selanjutnya. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan Pada korban yang mengalami sumbatan parsial dan masih dapat batuk dengan kuat, maka korban dimotivasi untuk batuk sebagai upaya mengeluarkan benda asing, sebelum dilakukan pertolongan lainnya. Apabila sumbatan menetap maka lakukan tindakan pembebasan jalan napas dan aktifkan sistem pelayanan gawat darurat. Pada korban yang mengalami sumbatan parsial dengan pernapasan yang buruk, perlakukan seperti korban dengan sumbatan total. Tanpa alat/ manual o Sapuan jari Sapuan jari dilakukan pada korban yang sama sekali tidak sadar. Bisa dilakukan pada sumbatan karena, benda padat, cair, maupun campuran (seperti muntahan) pada rongga mulut maupun faring. Pada orang dewasa dapat dilakukan dengan membuta, benda asing tidak perlu terlihat oleh mata. Langkah-langkah: 1) Baringkan korban pada posisi terlentang. Penolong berada di samping korban. 2) Buka jalan napas dengan mendongakkan kepala. Bersamaan dengan tindakan ini buka mulut korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu jari dan jari-jari lainnya. Miringkan kepala ke salah satu sisi. 3) Masukan jari telunjuk, atau jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam rongga mulut. Lakukan penyisiran dalam rongga mulut sampai sekitar faring di bagian pangkal lidah, kemudian disapukan ke samping ke arah pipi bawah. 4) Bila benda padat lakukan gerakan mengait dan gerakkan benda asing keluar. Bila muntahan atau benda cair, sebelum dimasukkan ke rongga mulut lapisi jari dengan kassa.

Perhatian! Hati-hati jangan sampai menggerakkan benda asing masuk ke dalam. Sapuan jari secara membuta tidak dilakukan pada anak-anak maupun bayi, karena dapat melukai jaringan lunak rongga mulut dan faring

o Back Blows Pada korban yang mengalami sumbatan, namun masih sadar dan bernapas, lakukan back blows. Penolong berdiri di samping korban agak ke belakang. Posisikan korban sedikit membungkung dan sangga dadanya. Beri 5 pukulan di antara kedua tulang belikat di punggung dengan tumit tangan. Bila sumbatan tidak berhasil dikeluarkan dengan cara ini, lakukan manuver Heimlich. o Manuver Heimlich Manuver Heimlich dilakukan dengan hentakan di garis tengah daerah abdomen dibawah diafragma. Hentakan ini menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma sehingga udara di paru-paru bergerak dengan cepat dan diharapkan mendorong benda asing keluar. Hati-hati dalam melakukannya, karena beresiko mencederai organ-organ dalam abdomen. Manuver Heimlich lebih efektif dilakukan pada korban dengan sumbatan jalan napas total.

Gambar letak posisi tangan Manuver Heimlich pada korban sadar 1) Penolong berdiri di belakang korban, rangkul korban, selipkan salah satu lutut penolong diantara kedua kaki korban. Posisi ini akan lebih menahan korban terutama bila korban tiba-tiba menjadi tidak sadar. 2) Kepalkan salah satu tangan penolong dan pegang kepalan dengan tangan yang lain. 3) Letakkan kepalan diantara xifoid dan pusar di garis tengah. 4) Lakukan hentakan perut (abdominal thrust) yang cepat ke arah atas/ diafragma hingga benda asing keluar atau korban menjadi tidak sadar. Setiap gerakan lakukan terpisah dan jelas. Bila penolong terlalu kecil atau terlalu pendek lakukan manuver Heimlich seperti pada korban tidak sadar.

Manuver Heimlich pada korban tidak sadar Sumbatan jalan napas total pada korban tidak sadar, bisa dikenali saat dilakukan pernapasan buatan. Saat diberi bantuan napas akan dirasakan adanya tahanan. Bisa juga korban mulanya sadar menjadi tidak sadar. Bila didapati keadaan ini segera aktifkan sistem pelayanan gawat darurat. Langkah-langkah: 1) Baringkan korban pada posisi terlentang. 2) Buka jalan napas dengan mendongakkan kepala. Lakukan sapuan jari. 3) Berikan pernapasan buatan 2 kali. Bila pernapasan buatan pertama mengalami tahanan, perbaiki posisi kepala untuk membuka jalan napas. Kemudian lanjutkan dengan yang kedua. 4) Penolong berlutut, dengan posisi seolah-olah menunggangi korban menghadap kepalanya. 5) Letakkan tumit salah satu tangan antara tulang xifoid dengan pusar di garis tengah. Letakkan tangan kedua diatas tangan pertama. 6) Lakukan 5 kali hentakan cepat ke arah diafragma korban. 7) Ulangi langkah 2-6 sampai benda asing keluar atau datangnya petugas yang lebih ahli. Manuver Heimlich pada diri sendiri Sebisa mungkin mintalah pertolongan orang lain. Untuk melakukan manuver Heimlich pada diri sendiri letakkan kepalan kedua tangan antara tulang xifoid dan pusar. Lakukan hentakan cepat ke arah atas/ diafragma. Bila tidak berhasil, bisa dilakukan hentakan perut dengan memanfaatkan tepi meja atau kursi. Tindakan ini cukup beresiko. Perhatian ! Pada korban hamil atau terlalu gemuk lakukan hentakan dada (chest thrust). Kepalan diletakkan antara pertengahan tulang dada dan tulang xifoid. Perhatikan posisi penolong dan korban. Ketidakseimbangan posisi dapat menyebabkan korban menjatuhi penolong atau sebaliknya, terutama pada posisi berdiri. Hentakan yang terlalu keras dan posisi yang tidak tepat dapat melukai organ dalam abdomen. Menggunakan alat Suction / Penyedot Suction digunakan bila jenis penyumbat adalah cairan, atau setengah cair, seperti darah, ludah, lendir, muntahan. Bila didapati suara napas tambahan seperti berkumur (gurgling) maka gunakan suction (bila tersedia) untuk mengeluarkan sumbatan. Alat suction bekerja dengan memakai tenaga penghisap untuk menjaga

airway tetap bersih. Namun perlu diingat selain cairan, udara pernapasan pun akan ikut terhisap. Tersedia 2 jenis ujung suction yang biasa digunakan, ujung yang kaku dan lunak. Kedua ujung suction berlubang-lubang. Jenis yang kaku lebih baik digunakan pada jenis sumbatan oleh cairan yang lebih padat atau kental, seperti muntahan. Ujung suction lunak baik digunakan pada cairan seperti darah, atau pada bayi dan anak. Posisi terbaik untuk menjaga terbukanya airway Recovery position atau posisi pulih merupakan posisi yang tepat untuk menjaga agar airway tetap terbuka tanpa menggunakan bantuan alat. Posisi ini dilakukan pada korban tidak sadar yang denyut nadinya teraba dan pernapasannya adekuat, serta tidak mengalami atau dicurigai mengalami cedera kepala, leher, tulang belakang, serta cedera lain yang tidak memungkinkan korban dimiringkan. Dengan menempatkan korban pada posisi pulih, cairan baik berupa muntahan, darah, lendir, maupun cairan lainnya akan mengalir keluar rongga mulut dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Ingat bahwa setiap korban potensial untuk muntah. Bagaimana cara melakukan posisi pulih? Langkah-langkah melakukan posisi pulih: Berlututlah di sisi kiri korban. Luruskan lengan kiri di samping badan korban sehingga posisi tangan kiri di samping atas kepala. Posisikan lengan kanan menyilang dada dengan tangan kanan menyentuh pipi kiri korban. Tekuk lutut kanan korban. Gulingkan korban ke sisi tubuh sebelah kiri. Usahakan saat menggulingkan korban, kepala, badan, dan anggota badan korban bergerak bersamaan. Lakukan evaluasi ulang A-B-C secara berkala.

Gambar recovery position Breathing Anatomi dan fisiologi breathing (pernapasan) Pada bagian ini akan dibicarakan tentang kebutuhan udara pernapasan yang harus dicukupi dalam proses bernapas. Proses bagaimana inspirasi (menarik napas) dan ekspirasi (membuang napas) tidak akan diuraikan panjang lebar.

Proses pernapasan sampai ke tingkat sel terjadi karena adanya kerjasama antara sistem pernapasan, sirkulasi dan sistem saraf. Ada gangguan pada salah satu sistem akan mempengaruhi sistem lainnya. Sistem pernapasan terdiri dari rangkaian saluran udara yang mengantarkan udara luar agar dapat mencapai membran kapiler alveoli, pemisah antara sistem pernapasan dan sirkulasi. Oleh karena itu saluran udara ( airway) dan proses bernapas (breathing) merupakan dua komponen yang saling terkait. Seringkali tanda dan gejala gangguan yang terjadi pada keduanya sulit untuk dipisahkan dengan jelas. Sistem sirkulasi menyediakan pompa, pembuluh darah, dan darah untuk mengangkut hasil pertukaran gas ke dan dari paru-paru. Sistem saraf dan rangsangan kimiawi yaitu kadar karbondioksida, secara refleks (spontan, dan tanpa disadari) akan merangsang diafragma (sekat rongga dada) dan otot-otot pernapasan lainnya untuk melakukan proses pernapasan. Setiap kali inspirasi atau ekspirasi yang normal terdapat sejumlah volume udara yang keluar masuk jalan napas, disebut sebagai volume tidal. Besarnya volume tidal kurang lebih 500 mL atau 10 mL/ kgBB. Volume pernapasan 1 menit adalah jumlah total udara yang masuk ke dalam saluran napas dalam 1 menit, merupakan perkalian antara volume tidal dengan frekuensi(laju) pernapasan dalam 1 menit. Bila frekuensi pernapasan 15x/menit dan volume tidal 500 mL maka volume pernapasan dalam 1 menit adalah 7500 mL/ menit. Volume pernapasan 1 menit inilah yang berusaha dipenuhi dalam setiap kali bernapas termasuk dalam bantuan napas. Dengan dicukupinya volume pernapasan 1 menit diharapkan kebutuhan oksigenasi akan tercukupi. Bagaimana tanda-tanda breathing normal? Pernapasan yang normal dan tidak mengalami gangguan tampak dari tidak adanya usaha tambahan dalam bernapas. Dada bergerak naik turun secara bersamaan kiri dan kanan sesuai dengan siklus inspirasi dan ekspirasi. Tidak tampak adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan, seperti penarikan ke dalam sela-sela iga, cekungan di atas tulang dada, maupun tarikan leher. Korban dapat berbicara dan menyelesaikan kalimatnya. Pembicaraan tidak terputus-putus. Frekuensi napas orang dewasa dalam keadaan normal berkisar antara 12-20 kali/ menit. Bagaimana cara menilai breathing? Gangguan breathing dapat dinilai dengan look, feel, dan listen. Untuk melakukannya dekatkan telinga penolong diatas/dekat mulut dan hidung korban dengan pandangan mata melihat ke dada korban, sambil mempertahankan airway tetap terbuka. Lakukan penilaian kurang dari 10 detik. Look/ lihat. Lihat pergerakan naik turun dada. Perhatikan apakah dada sisi kiri dan kanan bergerak bersamaan. Bila tidak bersamaan perhatikan adanya pembelatan (splinting) atau adanya flail chest (dibicarakan lebih lanjut pada pembahasan trauma dada). Perhatikan usaha tambahan untuk bernapas yaitu penggunaan otot-otot napas tambahan dan pernapasan cuping hidung (cuping hidung tampak kembang kempis). Perhatikan adanya pernapasan yang terlalu cepat atau terlalu lambat, serta pernapasan yang megap-megap (seringkali merupakan tanda-tanda henti jantung). Adanya trauma atau perlukaan di dada

berpotensi mengganggu pernapasan korban. Apabila korban tidak bernapas sama sekali, gerakan pada dada ini tidak terlihat. Feel/ rasakan. Rasakan adanya aliran udara napas di pipi penolong yang keluar dari hidung dan mulut korban saat ekspirasi. Tidak adanya aliran udara napas menandakan sumbatan jalan napas, atau korban tidak bernapas. Listen/ dengar. Dengarkan bunyi napas korban. Perhatikan ada tidaknya bunyi napas tambahan, seperti mengi. Pancing jawaban verbal dari korban. Korban yang dapat berbicara menandakan masih dapat bernapas. Kalimat yang terputus-putus menandakan terdapat ancaman breathing. Bagaimana tanda dan gejala gangguan breathing? Gangguan breathing dapat terjadi karena gangguan pergerakan diafragma dan otot-otot pernapasan, gangguan sistem saraf yang mengatur pernapasan, atau kadar karbondioksida yang meningkat. Cedera pada kepala, leher maupun tulang belakang berpotensi menyebabkan gangguan breathing, karena akan mempengaruhi pusat pernapasan di otak. Gangguan breathing akan menyebabkan pernapasan korban tidak adekuat. Pada orang dewasa frekuensi (laju) pernapasan kurang dari 8 kali/ menit atau lebih dari 30 kali/ menit menunjukkan adanya gangguan breathing. Sesak dan suara napas tambahan seperti mengi (bunyi ngik-ngik saat ekspirasi) menunjukkan korban mengalami gangguan breathing. Tanda-tanda sesak dapat dilihat dari frekuensi pernapasan yang cepat serta penggunaan otot-otot bantu pernapasan, berupa sela-sela iga yang tertarik ke dalam (retraksi), leher tampak tertarik, retraksi diatas tulang dada, tulang selangka, maupun diperut bagian atas. Pada korban yang pernapasannya tidak adekuat dapat ditemukan pergerakan dada kiri dan kanan yang tidak sama, atau ada bagian dada yang pergerakannya tidak bersesuaian seperti pada flail chest. Gangguan breathing yang berat bisa menyebabkan korban menjadi henti napas, yang ditandai oleh tidak adanya pergerakan dada maupun abdomen dan suara napas tidak terdengar lagi. Bagaimana cara melakukan pertolongan terhadap gangguan breathing? Setelah melakukan tindakan yang menjamin airway terbuka selanjutnya adalah menjamin oksigen yang melalui airway dapat mengalami pertukaran gas. Pada pengelolaan breathing perlu diperhatikan adanya pertukaran udara keluar masuk paru-paru (ventilasi) dan tercukupinya oksigen yang akan mengalami pertukaran gas. Ketika bernapas kita menghirup udara dari lingkungan yang mengandung oksigen 21%. Sebanyak 4%-5% oksigen yang dihirup akan dimanfaatkan tubuh, dan sisanya 16%-17% akan dikeluarkan bersama udara ekspirasi. Oksigen yang dikandung udara ekspirasi masih cukup untuk membantu pernapasan korban yang membutuhkan napas buatan, sedangkan karbondioksida yang juga dikeluarkan membantu merangsang pusat pernapasan korban. Meskipun demikian memberikan pernapasan buatan menggunakan alat bantu seperti BVM (Bag Valve Mask) lebih diprioritaskan mengingat BVM memberikan oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi serta lebih aman baik bagi korban maupun penolong. Pernapasan buatan pada dasarnya adalah memberikan udara bertekanan positif yang mengandung oksigen, kemudian membiarkan udara mengalir keluar secara pasif dari

paru-paru korban, seperti layaknya proses inspirasi dan ekspirasi. Pernapasan buatan dapat dilakukan dengan cara mulut-mulut, mulut-hidung, mulut-stoma, mulut-masker/ sungkup muka, atau dengan bantuan BVM (Bag Valve Mask). Kapan pernapasan buatan dilakukan ? Pernapasan buatan dilakukan bila penolong mendapati korban dengan henti napas, pernapasan terlalu lambat atau terlalu cepat, atau bila pernapasan korban terlalu dangkal. Pernapasan buatan dinilai cukup bila dada kiri dan kanan bergerak naik turun bersamaan, terasa dan terdengar aliran udara keluar saat korban ekspirasi. Pernapasan buatan mulut-mulut Pernapasan buatan langsung mulut ke mulut sangatlah beresiko. Kemungkinan kontak dengan cairan tubuh korban termasuk muntahan sangat besar. Untuk melakukan pernapasan buatan mulut ke mulut gunakanlah alat pelindung barrier device, face shield. Alat pelindung ini berupa sebuah lembaran dari plastik tipis dan lentur menutupi wajah korban terutama bagian mulut korban, dilengkapi dengan katup satu arah sehingga cairan tubuh korban tidak mengenai penolong. Bisa dilipat sehingga praktis dibawa kemana-mana. Langkah-langkah memberikan pernapasan buatan mulut ke mulut: 1) Pastikan keamanan diri dan lingkungan, kemudian aktifkan SPGDT. 2) Baringkan korban pada posisi terlentang. 3) Atur posisi penolong. Berlutut disamping kepala korban. 4) Lakukan langkah-langkah pengelolaan airway. 5) Pasang alat pelindung; barrier device, face shield. 6) Penolong menarik napas dalam saat akan memberikan napas buatan, agar volume tidal terpenuhi. 7) Jepit lubang hidung korban dengan ibu jari dan jari telunjuk. 8) Tutupi mulut korban dengan mulut penolong. Mulut penolong harus dapat menutupi keseluruhan mulut korban agar tidak terjadi kebocoran. 9) Berikan hembusan napas 2 kali, sambil tetap menjaga terbukanya airway. Beri kesempatan untuk ekspirasi. Waktu yang diperlukan untuk tiap hembusan 1,5 - 2 detik. Volume udara yang diberikan sebesar volume tidal yaitu 10 mL/ kgBB atau 700-1000 mL, atau sampai dengan dada korban terlihat mengembang. Hati-hati, jangan terlalu kuat atau terlalu banyak karena dapat melukai paru-paru korban atau masuk ke lambung. 10) Lakukan evaluasi ulang A dan B. Jika saat melakukan pernapasan buatan dirasakan ada tahanan atau terasa berat, atau dada tidak naik turun dengan baik, perbaiki tehnik membuka airway korban misalnya dengan memperbaiki posisi kepala. Jika setelah posisi diperbaiki masih terasa berat, curigai adanya sumbatan airway. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas. 11) Bila tidak ada gangguan lain, teruskan pernapasan buatan dengan kecepatan 12-15 kali/ menit. Pernapasan buatan mulut hidung

Tehnik pernapasan buatan mulut ke hidung dilakukan bila tidak mungkin melakukan pernapasan mulut ke mulut, misal mulut korban yang terkatup rapat dan tidak bisa dibuka (trismus), atau mulut korban mengalami cedera berat. Langkah-langkah yang dilakukan sama seperti pernapasan buatan mulut ke mulut. Perbedaannya adalah pernapasan buatan dilakukan ke hidung korban. Pada tehnik ini mulut korban yang harus ditutup. Pernapasan buatan mulut-stoma. Pada korban yang pernah mengalami tindakan pembuatan lubang pernapasan di leher, masuknya udara pernapasan tidak lagi melalui mulut atau hidung. Udara masuk melalui lubang buatan di leher yang disebut stoma. Langkah-langkah melakukan pernapasan buatan mulut ke stoma pada dasarnya sama dengan mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pernapasan buatan mulut-masker/ sungkup muka. Tehnik pernapasan buatan mulut ke masker lebih efektif dan lebih aman dibanding cara-cara pernapasan yang telah dijelaskan sebelumnya. Masker yang digunakan mempunyai katup satu arah sehingga cairan maupun udara ekspirasi yang keluar dari korban kecil kemungkinannya mengenai penolong. Masker menutupi hidung dan mulut korban, sehingga tidak ada kontak/hubungan langsung antara penolong dengan korban. Efektivitas didapatkan karena masker yang digunakan akan menutupi baik mulut maupun hidung korban dan lebih terkontrol. Masker yang baik untuk pernapasan buatan memiliki ukuran yang sesuai, terbuat dari bahan transparan/ tembus pandang, dan dilengkapi katup satu arah atau dapat dihubungkan dengan katup satu arah pada bagian atasnya. Masker tersedia dengan berbagai ukuran. Kesesuaian ukuran penting agar masker dapat melekat erat pada wajah sehingga tidak terjadi kebocoran. Bahan transparan memungkinkan penolong dapat melihat adanya cairan mapun muntahan yang keluar dari korban. Langkah-langkah pernapasan buatan mulut ke masker : 1) Pastikan keamanan diri dan lingkungan, kemudian aktifkan SPGDT. 2) Baringkan korban pada posisi terlentang. 3) Atur posisi penolong. Bila penolong hanya seorang, berlutut disamping kepala korban. Bila penolong lebih dari satu orang, salah satu penolong yang memegangi masker berlutut di atas kepala korban menghadap ke kaki korban. 4) Lakukan langkah-langkah pengelolaan airway. 5) Pasang masker yang ukurannya sesuai dengan korban.Masker yang ukurannya sesuai akan menutupi bagian hidung dan mulut korban sekaligus. Masker pernapasan buatan berbentuk menyerupai buah jambu air yang terbelah dua sama besar, ada bagian yang menyempit dan ada bagian yang melebar. Posisikan bagian yang menyempit di bagian hidung korban, dan bagian yang melebar di bagian dagu. 6) Pertahankan posisi masker dan rapatkan. Posisi masker yang benar dan rapat penting untuk keberhasilan pernapasan buatan. Mempertahankan posisi masker bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Pertahankan posisi masker dengan posisi kedua tangan seperti saat melakukan jaw thrust atau triple airway manauver. Kedua ibu jari menahan masker bagian hidung, sementara jari-jari lainnya menahan bagian dagu dan merapatkannya dengan menahan masker bagian rahang bawah korban, sambil melakukan tindakan membuka airway. Pertahankan posisi masker dengan salah satu tangan menahan bagian hidung, tangan lainnya menahan bagian dagu sambil membuka airway korban. 7) Penolong menarik napas dalam saat akan memberikan napas buatan, agar volume tidal terpenuhi. 8) Berikan hembusan napas 2 kali, sambil tetap menjaga terbukanya airway. Beri kesempatan untuk ekspirasi. Waktu yang diperlukan untuk tiap hembusan 1,52 detik. Volume udara yang diberikan sebesar volume tidal 10 mL/ kgBB, atau sampai dengan dada korban terlihat mengembang. 9) Lakukan evaluasi ulang A dan B. Jika saat melakukan pernapasan buatan dirasakan ada tahanan atau terasa berat, atau dada tidak naik turun dengan baik, perbaiki posisi kepala korban. Perbaiki tehnik membuka airway korban. Jika setelah posisi diperbaiki masih terasa berat, curigai adanya sumbatan airway. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas. 10) Bila tidak ada gangguan lain, teruskan pernapasan buatan dengan kecepatan 12-15 kali/ menit. BVM ( Bag Valve Mask) Pernapasan buatan yang dilakukan dengan bantuan BVM lebih dianjurkan, karena memiliki lebih banyak keuntungan. Selain keuntungan seperti yang didapatkan dengan menggunakan masker, BVM memberikan oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada korban karena dapat dihubungkan dengan sumber oksigen. BVM dianjurkan digunakan oleh dua orang penolong. Akan terlalu sulit bila digunakan oleh seorang penolong. Sesuai namanya bag valve mask (BVM) terdiri dari kantung, katup satu arah, dan masker/ sungkup muka. Isi kantung sekitar 1600 mL dan dapat dihubungkan dengan sumber oksigen. Masker pada BVM memiliki bentuk yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Masker tersedia dalam berbagai ukuran untuk dewasa, anak, dan bayi. Penggunaan BVM untuk pernapasan buatan tidak akan dijelaskan lebih lanjut, karena penggunaannya memerlukan ketrampilan setingkat paramedis. Perhatian!: Pemompaan udara pernapasan dilakukan saat korban inspirasi. Pemberian bantuan napas disesuaikan dengan kebutuhan korban. Perhatikan volume tidal dan frekuensi napas yang dibutuhkan korban. Pemasangan masker harus sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan korban dan ketat. Bila korban memiliki gigi palsu, biarkan gigi palsu tersebut tetap pada tempatnya, karena akan mempermudah dicapainya posisi masker yang ketat. Namun bila gigi tersebut lepas, segera keluarkan dari mulut korban dan amankan. Lepasnya

gigi palsu merupakan ancaman terjadinya sumbatan jalan napas. Lakukan penilaian berkala keberadaan gigi palsu selama menolong korban. Circulation Anatomi dan fisiologi sistem sirkulasi Pembahasan mengenai anatomi dan fisiologi sistem sirkulasi akan dijelaskan lebih lanjut pada pembahasan Perdarahan dan syok. Pada bagian ini akan diulas anatomi dan fisiologi yang berhubungan langsung dengan bantuan hidup dasar. Sistem sirkulasi merupakan penyedia pompa, pembuluh darah dan darah sebagai pengangkut hasil pertukaran dari dan ke paru-paru, serta dari dan ke sel-sel tubuh. Jantung sebagai pompa memungkinkan darah yang melalui pembuluh darah terus mengalir dalam sebuah sirkuit yang tertutup. Pada keadaan normal laju jantung dalam memompa darah sekitar 80 kali/menit. Apabila ada gangguan pada salah satu komponen sistem sirkulasi maka oksigen yang dibutuhkan sel tidak akan sampai ke sasaran. Jantung terletak di rongga dada, diantara kedua paru-paru, pada garis tengah di bawah tulang dada, dan menyerong ke dada sebelah kiri.Jantung terdiri dari 2 buah atrium (serambi), dan 2 buah ventrikel (bilik), yang masing-masing dipisahkan oleh sekat. Secara fungsional jantung dibagi menjadi pompa kanan dan pompa kiri. Pompa kanan menerima darah yang mengandung karbondioksida (darah kotor) dan memompakannya menuju sirkulasi paru-paru. Di paru-paru akan terjadi pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Darah yang telah mengandung oksigen (darah bersih) diterima oleh bagian kiri jantung, kemudian dipompakan ke peredaran darah sistemik (seluruh tubuh), yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup sel-sel.

Gambar jantung dan posisinya terhadap tulang-tulang iga dan dada Bagaimana cara menilai sistem sirkulasi?

Penilaian sistem sirkulasi meliputi penilaian ada tidaknya denyut nadi, tanda-tanda perdarahan, serta tanda dan gejala syok. Tanda dan gejala perdarahan dan syok akan dijelaskan lebih lanjut. Penilaian ada tidaknya denyut nadi diperiksa pada arteri-arteri tertentu terutama yang letaknya lebih ke permukaan. Tempat penilaian yang umum adalah arteri radialis, arteri karotis, dan arteri brakhialis. Arteri radialis terletak di pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Pada keadaan tertentu apalagi bila terjadi perdarahan hebat, arteri radialis sering kali sudah tidak teraba lagi, maka dianjurkan meraba arteri karotis. Arteri karotis terletak kirakira 2 jari ke kanan atau ke kiri dari garis tengah di leher. Perabaan arteri brakhialis dilakukan terutama pada bayi dan anak-anak. Arteri brakhialis terletak di daerah siku sebelah dalam. Lakukan perabaan pada arteri selama tidak lebih dari 5 detik. Nilai frekuensi, pengisian nadi, kuat lemahnya, dan keteraturannya. Pada tahap bantuan hidup dasar kepentingan pemeriksaan nadi adalah pada ada tidaknya denyut nadi. Bila denyut nadi tidak teraba maka perlu segera dilakukan kompresi jantung luar. Bagaimana tanda dan gejala gangguan sistem sirkulasi? Tanda dan gejala gangguan sistem sirkulasi dapat dikenali melalui perabaan denyut nadi serta ada tidaknya perdarahan dan syok. Gangguan sirkulasi dikenali bila frekuensi nadi melebihi 100 kali/ menit atau kurang dari 60 kali/ menit . Nadi yang lemah, dan tidak teratur menandakan adanya gangguan sirkulasi. Pada BHD yang harus segera diketahui penolong adalah ada tidaknya denyut nadi korban. Adanya tanda dan gejala perdarahan dan syok menunjukkan keadaan kegawatdaruratan sistem sirkulasi. Untuk mengetahui adanya syok dilakukan pemeriksaan suhu, warna kulit, dan pengisian kapiler pada ujungujung jari. Bagaimana cara melakukan pertolongan terhadap gangguan sistem sirkulasi? Pengelolaan sistem sirkulasi meliputi pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung luar, penghentian perdarahan dan pengelolaan syok. Kompresi jantung luar akan dijelaskan pada pembahasan Resusitasi Jantung Paru. Pengelolaan perdarahan dan syok akan dijelaskan pada pembahasan perdarahan dan syok. RESUSITASI JANTUNG PARU Resusitasi jantung paru merupakan upaya mengembalikan fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan untuk menjamin tercukupinya oksigenasi sel-sel terutama sel-sel otak dan jantung, ketika fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan berhenti mendadak. Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan bagian dari bantuan hidup dasar (BHD). Kapan RJP perlu dan tidak perlu dilakukan? RJP dilakukan bila terjadi henti napas dan atau henti jantung . Henti napas terjadi bila korban tidak bernapas, ditandai dengan tidak adanya pergerakan dada dan aliran udara napas. Henti jantung terjadi bila jantung berhenti berdenyut dan memompakan

darah, ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri-arteri besar, seperti arteri karotis, arteri brakialis dan arteri femoralis. Resusitasi jantung paru tidak perlu dilakukan bila telah terdapat tanda-tanda pasti kematian pada korban, yaitu lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), dan pembusukan. Lebam mayat dapat dikenali sebagai warna merah sampai dengan kebiruan pada bagian terendah dari tubuh korban saat korban ditemukan. Pada korban yang ditemukan dalam keadaan terlentang lebam mayat dapat ditemukan di daerah punggung korban. Kaku mayat terjadi mulai 4 jam setelah kematian, dan menghilang setelah 10 jam. kekakuan ini dapat ditemukan pada batang tubuh dan anggota tubuh korban. Pada mayat yang membusuk korban sulit untuk dikenali dan bau busuk akan tercium dari mayat. Pada cedera yang tidak memungkinkan korban hidup seperti terpisahnya kepala dari badan maka penolong tidak perlu lagi melakukan RJP. Pada bayi yang lahir sudah dalam keadaan mati atau mati didalam kandungan maka RJP tidak diperlukan lagi. Persiapan RJP Sebelum melakukan RJP penolong perlu melakukan persiapan-persiapan untuk menjamin RJP dan pertolongan lain yang dibutuhkan korban dapat dilakukan dengan baik. Hal yang pertama dan utama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan tempat kejadian. Pastikan keamanan diri penolong dan gunakan alat pelindung diri (APD). Setelah memastikan keamanan maka lakukan langkah-langkah: 1. Lakukan penilaian kesan umum. Goyangkan bahu korban. Ajak korban bicara dan pancing jawaban verbal untuk mengetahui kesadaran dan keadaan airway korban. Bila ternyata korban tidak memberikan respon terhadap panggilan segera minta bantuan, dengan berteriak tolong, dan segera aktifkan SPGDT. Bila korban memberikan respon positif, posisikan korban pada posisi pulih atau seperti saat ditemukan. Pertolongan dari tenaga medis tetap diperlukan karena keadaan korban bisa saja memburuk dalam hitungan menit. Lakukan evaluasi berkala pada korban sampai korban ditangani oleh yang lebih ahli. 2. Minta tolong. Aktifkan SPGDT. 3. Perbaiki posisi korban dan buka pakaian yang menutupi dada (ekspos dada korban). Resusitasi akan lebih efektif bila posisi korban tidur telentang, dengan alas yang rata dan keras. Posisikan korban pada posisi telentang dengan kedua lengan di sisi kanan dan kiri korban (posisi anatomis). Ketika melakukan perubahan posisi selalu perhatikan kesatuan/kesegarisan antara kepala, leher, dan tubuh, termasuk bahu dan tulang belakang. Ingat untuk selalu melindungi leher korban terutama bila dicurigai adanya cedera leher. Bebaskan dada korban dari pakaian yang menutupi untuk mempermudah tindakan dan penilaian korban. 4. Atur posisi penolong. Segera berlutut di samping korban sejajar dengan bahunya, agar saat melakukan bantuan napas dan sirkulasi penolong tidak perlu banyak bergerak, sehingga akan menghemat waktu.

Langkah-langkah RJP Setelah melakukan prosedur dasar sebagai persiapan sebelum melakukan RJP, teruskan dengan: 1. Airway control dan cervical control, penguasaan jalan napas. a. Buka jalan napas. Cara membuka jalan napas akan dijelaskan secara rinci pada pembahasan bantuan hidup dasar. b. Nilai derajat dan jenis sumbatan. Lakukan dengan pedoman look, feel, listen. Untuk mempermudah berlututlah di samping korban di dekat kepalanya. Miringkan kepala penolong dekat mulut dan hidung korban dengan mata melihat ke arah dada korban, sambil buka jalan napasnya. Dengan cara seperti ini penolong dapat melakukan penilaian airway sekaligus breathing. Telinga penolong mendengarkan (listen), pipi penolong bisa digunakan untuk merasakan (feel), dan mata penolong melihat (look) pergerakan dada dan adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan. c. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan. Langkahlangkah dalam membebaskan jalan napas ini juga akan dijelaskan pada pembahasan bantuan hidup dasar. 2. Breathing support; ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat. a. Sambil mempertahankan jalan napas bebas, pastikan korban bernapas. Periksa pernapasan korban dengan look, feel, listen. b. Jika pernapasan memadai, dan tidak ada dan tidak dicurigai adanya cedera leher posisikan korban pada posisi pulih. Lakukan evaluasi A dan B berkala. c. Bila korban tidak bernapas, berikan napas buatan 2 kali. Kemudian periksa tanda-tanda sirkulasi. Bila korban hanya memerlukan napas buatan maka lakukan napas buatan dengan frekuensi 12-15 kali/ menit. Lanjutkan dengan evaluasi ulang A dan B secara berkala. 3. Circulation support; pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung. a. Pastikan ada tidaknya denyut jantung korban dengan melakukan perabaan pada arteri karotis. b. Jika teraba arteri karotis, maka lanjutkan pengelolaan korban dengan melakukan evaluasi ulang A dan B berkala. c. Jika tidak teraba arteri karotis, lakukan kompresi/ pijat jantung luar. langkah-langkah melakukan kompresi jantung luar akan dterangkan di bawah. 4. Lakukan reevaluasi/ penilaian ulang A-B-C. a. Bila masih tidak teraba nadi lanjutkan kompresi jantung luar dan lakukan evaluasi ulang setiap 4 siklus. b. Bila teraba nadi, namun tidak bernapas, berikan bantuan napas saja dengan kecepatan 12-15 kali/menit.

c. Bila korban bernapas spontan dan teraba nadi, posisikan pada posisi pulih, dengan catatan tidak ada atau tidak dicurigai cedera leher. Langkah-langkah kompresi jantung luar 1) Tentukan ujung tulang xifoid. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah menelusuri lengkung tulang iga kanan atau kiri sampai bertemu bagian tulang dada atau sternum, dikenal sebagai xifoid, bagian menyerupai ujung pedang. 2) Dari ujung xifoid, letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tulang dada, satu jari di atas xifoid dan satu lagi di sebelahnya, ke arah kepala. Tepat di samping jari yang lebih dekat ke kepala merupakan titik kompresi. 3) Letakkan tumit salah satu tangan di posisi yang sudah ditentukan tadi. Tangan yang lain ditempatkan di atas tangan pertama. Dianjurkan jari-jemari kedua tangan saling mengait. Tekanan hanya diberikan melalui tumit tangan tersebut, usahakan agar jari-jari penolong tidak menyentuh bahkan menekan tulang-tulang iga korban. 4) Saat melakukan penekanan dinding dada, posisi badan penolong tegak lurus bidang datar, dengan kedua lengan lurus. Penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya. Lakukan 15 kali kompresi secara berkala, dengan kedalaman 3,8 5 cm. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit. 5) Setiap kali setelah kompresi biarkan dada korban mengembang, kembali ke posisi semula. Jangan lepaskan tangan penolong dari dada korban atau merubah posisi tangan. 6) Waktu untuk menekan dan melepas adalah sama, yaitu 1 : 1. Satu siklus pernapasan buatan dan kompresi jantung luar terdiri dari 15 kompresi dan 2 napas buatan (15:2). Perbandingan ini berlaku baik untuk 1 penolong maupun 2 penolong. Lakukan 4 siklus secara lengkap. Setelah lengkap 4 siklus, lakukan evaluasi ulang mulai dari A, B, dan C. Bagaimana tanda-tanda RJP yang dilakukan berhasil? Keberhasilan RJP tidak lepas dari keberhasilan setiap langkah RJP yang dilakukan. Apabila RJP yang dilakukan berhasil maka pada korban didapati tanda-tanda kembali berfungsinya sistem pernapasan dan sistem sirkulas. Korban dapat bernapas spontan, tampak dada korban bergerak naik turun dan adanya aliran udara napas. Denyut nadi kembali teraba dan denyut jantung kembali terdengar melalui stetoskop. Kulit korban yang semula pucat berangsur normal. Korban dapat melakukan gerakan terarah dan korban berusaha menelan. Pupil akan mengecil bila terkena cahaya yang menandakan adanya reaksi pupil yang positif. Kapan RJP dihentikan? Penolong yang kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan tindakan resusitasi boleh menghentikan upaya RJP yang sedang dilakukannya. Apabila bantuan dan petugas lain yang lebih ahli sudah datang, penolong boleh menghentikan tindakan resusitasi dan mengalihkan pada petugas tersebut. Kadang kala korban ditemukan dalam keadaan tidak

sadar tanpa penolong tahu apakah korban sudah lama meninggal atau baru saja terjadi henti napas dan henti jantung. Apabila kemudian didapatkan informasi bahwa korban sudah lama meninggal maka RJP boleh dihentikan. Tindakan RJP dihentikan bila sirkulasi (denyut nadi) dan pernapasan sudah kembali pulih, yaitu korban sudah dapat bernapas spontan dan nadi kembali berdenyut spontan. Pada korban dengan sengatan listrik atau tenggelam, biasanya jantung merespon lebih lama terhadap tindakan RJP. Kapan RJP boleh dihentikan untuk sementara ? Resusitasi jantung paru boleh dihentikan untuk sementara apabila korban perlu dipindahkan. Pemindahan korban dapat terjadi pada berbagai keadaan, seperti korban dipindahkan ke tandu, keluar atau masuk ambulan, melalui tangga, melalui lorong yang sempit, ketika korban dinaikan atau diturunkan dari pesawat. Pada tindakan bantuan hidup yang lebih lanjut kadang dilakukan tindakan defibrilasi (memberikan kejutan pada jantung dengan alat khusus), saat melakukan defibrilasi ini RJP harus dihentikan sementara. Kesalahan-kesalahan seputar RJP Kesalahan-kesalahan seputar RJP akan mempengaruhi keberhasilan RJP yang dilakukan. Kesalahan dapat berhubungan dengan korban, penolong, maupun hubungan antara korban dan penolong. Posisi korban yang tidak tepat misalnya tidak horizontal, alas yang digunakan berbaring tidak keras merupakan kesalahan yang berhubungan dengan korban. Kesalahan yang berhubungan dengan penolong dapat terjadi saat memberikan bantuan airway, breathing, maupun sirkulasi. Tehnik yang tidak tepat dan kurang optimal dalam membuka jalan napas akan mempengaruhi keberhasilan pemberian oksigen pada korban. Contoh dari pemberian pernapasan buatan yang tidak adekuat adalah terdapat kebocoran udara saat memberikan bantuan napas dan pemberian tiupan terlalu cepat sehingga tidak memberi kesempatan ekspirasi. Bantuan sirkulasi dalam RJP yang tidak adekuat antara lain posisi siku dan bahu tidak tepat serta posisi siku tertekuk dan tidak tegak lurus bidang datar. Posisi tumit tangan tidak tepat, terlalu ke samping kiri atau kanan korban, terlalu ke arah kepala (atas) atau terlalu bawah. Posisi yang tidak tepat bisa mengakibatkan cedera baru karena patahnya tulang iga. Kedalaman saat melakukan penekanan yang kurang atau terlalu cepat juga mempengaruhi keberhasilan kompresi jantung luar. Jumlah pijatan jantung dan bantuan napas yang tidak sesuai merupakan kesalahan lain yang bisa dilakukan penolong. Efek samping dilakukannya RJP Walaupun dilakukan dengan benar RJP dapat menyebabkan efek samping, apalagi bila RJP dilakukan dengan tidak benar. Patah tulang iga terutama pada orang tua merupakan salah satu yang dapat terjadi bila posisi tangan penolong saat melakukan kompresi jantung tidak tepat. Patah tulang iga yang terjadi dapat menyebabkan hemothoraks (terkumpulnya darah di dalam rongga antara paru dan dinding dada, yang menyebabkan penguncupan paru). Kesalahan dalam melakukan RJP dapat mengakibatkan luka dan

memar pada paru, hati atau limpa, serta pneumothoraks (terdapat udara di rongga antara paru dan dinding dada, yang juga menyebabkan penguncupan paru). Meskipun tindakan RJP mengandung resiko namun bila RJP tidak dilakukan dengan segera dapat menyebabkan kematian korban. TERAPI OKSIGEN Oksigen Adalah suatu molekul berbentuk gas dengan rumus kimia 02. Oksigen diperlukan oleh sel hidup sebagai bahan bakar untuk mendapatkan energi. Oksigen dalam kandungan yang berbeda-beda dapat ditemukan di dalam air, udara dan tanah. Kandungan oksigen di dalam udara bervariasi, tergantung tempat karena pada tekanan yang lebih rendah konsentrasi suatu zat akan menjadi lebih kecil. Pada daerah setinggi permukaan laut konsentrasi oksigen sekitar 21 %, semakin tinggi suatu tempat konsentrasi oksigen akan berkurang. Manusia mendapatkan oksigen dari proses bernapas yang disebut respirasi, secara garis besar proses bernapas dibagi menjadi 2 yaitu inhalasi (menarik napas) dan ekspirasi (membuang napas). Saat inhalasi manusia menghirup oksigen (21 %) yang akan masuk kedalam paru dan mengalami pertukaran dengan karbondioksida. Ketika mengeluarkan napas manusia masih mengeluarkan oksigen sekitar 18 %. Volume udara yang dapat dihirup manusia tanpa paksaan pada saat bernapas berkisar antara 10-15 ml/kg, ini disebut volume tidal, sehingga makin berat seseorang maka makin besar juga kebutuhan oksigennya. Indikasi pemberian terapi oksigen Oksigen adalah obat. Pemberian oksigen pada pasien dengan henti napas bertujuan untuk mencegah terjadi hipoksia, yaitu keadaan dimana sel-sel dalam tubuh kekurangan oksigen. Pemberian pernapasan buatan hanya memberikan oksigen sekitar 18 % sedangkan tubuh pada saat hipoksia membutuhkan kandungan oksigen yang cukup besar, namun pemberian pernapasan buatan tetap harus dilakukan karena selain untuk mencegah hipoksia lebih lanjut, juga utuk merangsang paru agar dapat timbul pernapasan spontan. Pemberian oksigen dengan alat tertentu dianjurkan untuk diberikan apabila tersedia sarana yang tepat dan pemberi pertolongan tahu cara pemakainya, karena bahaya pemakaian oksigen sangat fatal. Pada umumnya ada beberapa keadaan dimana oksigen dibutuhkan : Serangan jantung. Gagal jantung. Gagal napas Komplikasi saat persalinan. Keracunan. Umumnya pada keadaan diatas beberapa organ yang berfungsi menyalurkan oksigen (seperti jantung dan paru) tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga oksigen harus diberikan.

Sistem pemberian oksigen Sistem pemberian oksigen terdiri dari: Tabung ( silinder ) dengan katup Oksigen biasanya ditempatkan di dalam tabung yang mempunyai katup. Di banyak negara oksigen dapat dikenali dari warna tabungnya, biasanya hijau atau abu-abu, tapi di Indonesia tabung oksigen tidak mempunyai standar (biasanya putih), jadi sebelum menggunakankan sebaiknya dilakukan konfirmasi terlebih dahulu. Katup dari tabung ini terletak di puncak tabung, berfungsi untuk membuka dan menutup tabung. Tabung oksigen harus diperiksa setiap hari (lihat bahaya penggunaan oksigen) dan tekanan harus diuji setiap tahun karena bertekanan tinggi (2000 psi, pond/square inch). Simpan tabung di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung dengan suhu di bawah 50 derajat celcius. Regulator Alat ini berhubungan dengan katup tabung dan berfungsi untuk menurunkan tekanan sehingga oksigen yang diberikan tekanannya tidak tinggi seperti di dalam tabung. Tekanan diturunkan dari 2000 psi menjadi 40-70 psi. Flowmeter Alat ini mengatur banyaknya aliran oksigen yang diberikan (dalam liter/menit). Saluran pengaliran oksigen ke penderita Berupa kanul hidung, masker dan non-rebreathing mask. Saluran pengaliran oksigen ke penderita Sungkup RJP Disebut juga pocket face mask, dibuat untuk memberikan ventilasi saat RJP. Alat ini terbuat dari plastik yang lembut, sesuai dengan wajah penderita dan dilengkapi saluran untuk disambungkan dengan tabung oksigen. Kelebihan sungkup ini: Menghindari kontak langsung dengan mulut atau hidung pasien. Memungkinkan pemberian oksigen tambahan. Bila dilengkapi dengan katup satu arah maka tidak ada kontak dengan udara yang dihembuskan pasien. Mudah diajarkan dan dipelajari. Dapat memberi ventilasi dan oksigenasi yang lebih efektif. Lebih baik dibandingkan tehnik bag-valve-mask dalam memberikan volume tidal yang adekuat. Dengan alat ini ventilasi dapat diberikan oksigen dengan konsentrasi 50 % dengan aliran sebanyak 10 liter/menit.

Bag-valve-devices Alat ini terdiri dari kantong yang dapat mengembang sendiri dan ada katupnya. Alat yang tersedia kira-kira volumenya 1600 ml yang biasanya cukup adekuat untuk mengembangkan paru-paru pasien. Penolong harus berada di bagian kepala pasien, kepala pasien harus diangkat/head tilt dan diberi sedikit pengganjal, mulut pasien harus tetap terbuka. Pemakaian alat ini dengan dua orang penolong akan lebih efektif, seseorang memegang sungkupnya dan seorang lagi memeras kantong udaranya. Bila ada orang ketiga dapat membantu dengan menekan tulang krikoid. Bila pertolongan hanya dilakukan seorang diri, tangan kiri penolong menahan sungkup dengan 2 atau 3 jarinya di mandibula dan jari yang lainya memegang sungkupnya. Kepala harus dijaga tetap ekstensi dan mandibula didorong ke anterior sambil mempertahankan sungkup tetap menempel ditempatnya. Kantung udara diremas dengan tangan kanan, sambil diperhatikan ada tidaknya pergerakan dada. Hal yang harus diingat adalah saat memeras kantung tidak boleh sampai keseluruhan kantung terperas, cukup hanya untuk membuat dada penderita mengembang. Kerugian dari alat ini adalah sulitnya mengatur tidal volume yang diberikan. Kanul hidung Alat ini biasanya digunakan pada pasien tanpa atau dengan gangguan pernapasan ringan. Alat ini berbentuk selang dengan 2 cabang di bagian tengah. Alat ini paling mudah dan sering digunakan di rumah sakit. Kerugian dari alat ini adalah oksigen yang diberikan tercampur dengan udara luar dan pada flow rate yang tinggi dapat menyebabkan kekeringan membran mukosa hidung. Setiap peningkatan 1 liter/menit akan meningkatkan konsentrasi oksigen yang terhirup sekitar 4 %, sehingga konsentrasi oksigen yang dapat diberikan melalui kanul hidung sebanyak 1-6 liter pada pasien dengan volume tidal normal adalah 24-44 %. Sungkup muka Alat ini berupa masker tembus pandang yang menutupi mulut dan hidung penderita. Terdapat sejumlah lubang di kedua sisi masker. Biasanya dapat ditoleransi pada pasien dewasa. Oksigen yang diberikan harus lebih dari 5 liter/menit (untuk mencegah udara yang dihembuskan dari pernapasan berakumulasi dan terhirup kembali). Aliran yang dianjurkan adalah 8-10 liter/menit. Sama seperti kanul hidung, oksigen yang diberikan akan bercampur dengan udara ruangan, tetapi cara ini dapat memberikan konsentrasi oksigen 40-60 % dan diberikan pada mereka yang memerlukan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi Sungkup muka dengan penampungan oksigen/face mask with reservoir/non rebreathing face mask Sungkup muka ini dilengkapi kantung tambahan sehingga tidak terjadi percampuran antara oksigen yang diberikan dengan udara luar. Dengan alat ini kita dapat memberikan pasokan oksigen dengan konsentrasi lebih dari 60%. Pemberian oksigen 6 liter/menit akan memberikan konsentrasi oksigen 60 % dan setiap kenaikan 1liter/menit akan

meningkatkan konsentrasi 10 %. Jadi jika digunakan dengan cara yang benar, pemberian oksigen 10 liter/menit akan memberikan konsentrasi oksigen 100%. Cara ini biasanya digunakan untuk pasien yang tidak sadar dan bernapas spontan karena pasien yang sadar berisiko untuk menimbulkan mual dan muntah. Bahaya yang berhubungan dengan penggunaan oksigen Kebakaran: Tidak diijinkan merokok atau menggunakan api ketika sedang menggunakan oksigen. Oksigen tidak meledak, namun dapat membesarkan api sehingga api akan berkobar lebih besar lagi. Ledakan: Jangan pernah menggunakan minyak atau pelumas di sekitar tabung oksigen. Minyak dan pelumas yang berdekatan dengan oksigen kosentrasi tinggi dapat menyebabkan ledakan. Kerusakan katup: Hindari jatuhnya tabung atau penempatan tabung yang memungkinkannya untuk jatuh. Regulator atau katup yang rusak dapat menyebabkan silinder menjadi proyektil.