Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM

PEMBAHARUAN DI INDIA /PAKISTAN

Disusun Oleh : Kelompok 6

Yensi Sinarmi Yoga Aprial Nengsi

Dosen Pembimbing : Raflisman, S.Hum

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL-QURANIYAH (STIT-Q) MANNA BENGKULU SELATAN


JL. Affan Bachsin No. 29 Manna

TA. 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puja dan Puji syukur selalu penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun, sehingga tugas ini tepat pada waktunya dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak karenanya penyusun menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing Mata kuliah dalam penyusunan Tugas ini. Dan Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dan pada akhirnya penyusun berharap, makalah ini dapat menambah khasanah dan wawasan bagi kita semua. Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini.

Manna, April 2012 Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi

. . .

i ii iii 1 1 3 4 4 5 6 12 18

BAB I. Pendahuluan . A. Latar Belakang . B. Tujuan .. BAB II. Tahapan Penelitian................... A. Tahapan penelitian Ilmiah.. B. Rencana Penelitian. C. Pelaksanaan Penelitian.. D. Penulisan Laporan hasil Penelitian BAB III. Kesimpulan ..

Daftar Pustaka

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada permulaan abad ke-19 imperium Mughal di anak Benua IndoPakistan secara pasti memasuki fase keruntuhan. Walaupun nama dan bayangannya masih tetap nampak, khususnya di Delhi untuk setengah abad kemudian, namun kekuasaanya yang riil telah musnah. Kerajaan-kerajaan kecil, seperti Rajput, Jat, Maratha, Sikh serta lainnya, yang muncul akibat kerapuhan para emperor Mughal setelah Awrangzeb, secara bertahap dilindas oleh East India Company yang mulai membentuk koloninya di Indo Pakistan pada tahun 1757. Setelah pemberontakan 1857, imperium Mughal secara resmi bertekuk lutut di bawah penjajahan Inggeris. Dengan runtuhnya imperium Mughal, masyarakat Muslim Indo-Pakistan pun ikut runtuh. Kemegahan budaya, intelektual dan kekuasaan mereka memudar dengan cepat. Sebaliknya, orang-orang Hindu, yang pada masa kejayaan Islam di anak benua India merupakan masyarakat kelas bawah, kecuali pada Akbar, kini mulai mendominasi seluruh lapangan kehidupan. Hal ini memang bertentangan dengan sejarah masa lalu mereka. Akan tetapi, penganak emasan orang Hindu oleh Inggeris serta kurangnya respons kaum muslimin terhadap kekuasaan dan institusi-institusi Inggris, ditambah lagi dengan ketidakmampuan warisan keagamaan tradisional dalam menjawab tantangan zaman mengakibatkan tenggelamnya masyarakat Muslim Indo-Pakistan. Inilah yang menandai mulainya sejarah kontemporer umat Muslim di anak benua India .

B. Tujuan Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam khususnya Pembaharuan Di India Dan Pakistan Yang antara lain membahas Tentang : a. Gerakan Mujahidin dan Sekolah Deoband b. Sayyid Ahmad Khan dan gerakan Aligarh

BAB II PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM (INDIA DAN PAKISTAN)

A. Mujaddidin Dan Sekolah Deoband a. Lahirnya Gerakan Mujaddidin di India Terjadinya gerakan pembaharuan di India dilatarbelakangi oleh factor kesenjangan perlakuan inggris terhadap umat hindu dan umat Islam dalam sistem pemerintahan, serta kesemenah-menahan inggris terhadap rakyat India. Sejak awal abad XVIII kekuasaan Islam Mongol yang berpusat di Delhi semakin merosot. Lemahnya kemampuan serta kewibawaan sultan tidak dapat mengahalangi kehendak para amir akan melepaskan diri dan berkuasa penuh di wilayah mereka. Selain itu kaum Brahmana mulai bergerak ingin membangun kembali kerajaan Hindu. Rakyat Maratha yang sebelumnya telah berulangkali memberontak dan bergerilya, akhirnya berhasil membebaskan diri dan mendirikan kerajaan Hindu yang merdeka di India Barat. Demikian pula golongan Sikh memenangkan pemberontakannya. Bangsa Inggris semenjak permulaan abad XVII telah tiba di India sebagai pedagang dengan angkatannya yang bernama "The East India Company." Mengetahui pertentangan-pertentangan antara sesama wilayah bawahan kesultanan Islam di satu pihak, dan antara Kesultanan Islam dan bekas kerajaan Hindu sebagai taklukannya di pihak lain, akhirnya bangsa Inggris melaksanakan politik mengail di air keruh. Selera mereka tumbuh hendak menguasai wilayah, terutama di sekitar pabrik-pabrik yang telah mereka dirikan. Dengan politik adu domba yang lihai, mereka berhasil. Madras dikuasai pada tahun 1639. Kota Bombay tahun 1660 jatuh pula ke tangan mereka. Demikianlah selanjutnya dengan kekuatan bedil, politik adu-domba dan senjata uang, dilumpuhkannya kekuasaan hakiki kesultanan Islam

Mongol. Walupun sesekali memberontak, tetapi tetap bisa dikalahakan oleh Inggris. Hal yang sama diderita pula oleh raja-raja Hindu, seperti kerajaan Maratha, yang mencoba melawan Inggris pada tahun 1817-1818 Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Inggris merupakan penguasa yang terkuat di India dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindhu India.Sayyid Ahmad dengan golongan Mujaddidinnya mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Peperangan ini berbuah kemenangan pada kelompok Mujahidin, mereka dapat menguasai Akora yang merupakan pusat kekuatan golongan Sikh. Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam.Sistem pemerintahan imamah dibentuk pada tahun 1827, dalam menjalankan tugasnya, imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting. Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad1 Namun, sistem imamah yang didirikan oleh Sayyid Ahmad tidak bertahan lama, golongan Sikh menganggap gerakan Mujahidin mengancam kekuasaan mereka. Golongan Sikh di bantu oleh golongan-golongan non muslim seperti golongan Barakzai melangsungkan pertempuran di Balekot dan pada pertempuran inilah Sayyid Ahmad mati terbunuh. Menurut Harun Nasution setelah meninggal Sayyid Ahmad, para pengikutnya terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama mereka bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan madrasah deoband, golongan ini berpendapat tidak cukup kekuatan untuk melanjutkan
1 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, 1990, h.160

perjuangan. Namun demikian, madrasah deoband banyak memberikan pengaruh terhadap pembaharuan islam India dengan lahirnya tokoh-tokoh terkenal. b. Gerakan Mujaddidin Islam di India pernah mengalami kemajuan dengan berdirinya kerajaan Mughal sebagai mana yang telah dialami oleh kerajaan Turki Usmani. Kedua kerajaan tersebut mengalami kejayaan antara tahun 15001700 M. Kerajaan Mughal di India sebagai symbol kejayaan Islam di India mengalami kemunduran sejak tahun 1700 M karna daerah kekuasaannya diperkecil oleh kerajaan-kerajaan Hindu yang ingin melepaskan diri. Selain itu, dari dalam kerajaan sering terjadi perang saudara yang memperebutkan kekuasaan di Delhi. Suasana tersebut menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam di India akan kelemahan umat Islam. Salah satu dari pemuka itu ialah Syekh Waliyullah (1703-1762). Ia lahir di Delhi dan mendapat pendidikan dari orang tuanya Syekh Abdurrahim seorang sufi dan ulama yang meiliki madrasah. Setelah dewasa, ia mengajar dimadrasah itu. Selanjutnya, ia pergi haji dan selama setahun di Hijaz ia sempat belajar pada ulama-ulama yang ada di Makkah dan Madinah. Ia kembali ke Delhi pada tahun 1732 dan meneruskan pekerjaannya yang lama sebagai guru. Disamping itu ia gemar mengarang dan banyak menghasilkan karangan-karangan, diantaranya buku Hujjatullah AlBalighah. Dalam karangan-karangan tersebut dituangkan pemikiran-

pemikirannya tentang ide-ide pembaharuannya. Ide-ied yang dicetuskan oleh Syekh Waliyullah pada abad 18 tentang pembaharuan diteruskan oleh anaknya syekh Abdul Aziz dan beberapa tokoh lainnya yang terpengaruh oleh ide-ide yang dicetuskan oleh syekh Waliyullah melalui karya-karyanya. Salah seorang dari murid syekh Abdul Aziz yang berpengaruh dalam gerakan melaksankan ide-ide syekh Waliyullah adalah Sayyid Ahmad Syahid.

Ia lahir di Rae Boneli pada tahun 1786. Sayyid Ahmad Syahid dimasa mudanya pernah menjadi pasukan berkuda Nawab Amir Khan. Dari situ ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan militer yang berharga baginya dalam memipmpin geraklan Mujahiddin. Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Lebih terperinci ajarannya mengnai tahuid mengandung hal-hal berikut: 1. Yang boleh disembah hanyalah tuhan, secara langsung tanpa perantara dan tanpa upacra yang berlebih-lebihan. 2. Makhluk tidak boleh diberikan sifat-sifat tuhan, malaikat, roh, wali dan lain-lain, serta tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk menolong manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan. Mereka sama lemahnya dengan manusia dan sama terbatas pengetahuannya mengenai tuhan. 3. Sunnah (tradisi) yang diterima hanyalah sunnah nabi dan sunnah yang timbul pada zaman khalifah yang empat. Kebiasaan membaca tahlil dan menghiasi kuburan adalah bidah yang menyesatkan dan harus dijauhi. Selain itu, sayyid Ahmad juga menentang adanya taqlid terhadap pendapat ulama termasuk pendapat empat imam besar. Berpegang pada salah satu mazhab bukanlah hal yang penting sungguhpun ia sendiri menganut mazhab Hanafi. Ijtihad sangat diperlukan untuk memperoleh interprestasi baru terhadap ayat-ayat al-quran dan hadits.

c. Gerakan Mujahid Modern Ta`rif Jamaat Islami adalah sebuah jamaah Islam modern yang mememfokuskan aktifitasnya utuk menegakkan syariat Islam dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Jamaat Islami tergolong gigih membendung berbagai bentuk aliran sekuleristik yang berusaha keras mendominasi seluruh negeri. Pertama Pendiri Abu al-Ala al-Maududi adal ah pendiri Jamaat Islami. Ia dilahirkan di kota Aurangabad di wilayah

Hyderabad. Memulai pendidikannya di wilayah asuhan orang tuanya sendiri Sayid Ahmad Hasan. Keturunannya dari keluarga Qutb al-Din Maudud. Keluarga ini terkenal degan keteguhannya dalam memegang dan kedudukan rohaninya yang tinggi. Aktifitas dakwah Maududi berawal di dunia jurnalistik pada tahun 1918 M. pada tahun 1920 M beliau membentuk sebuah front jurnalistik yang bertujuan memerdekakan ummat Islam dan menyampaikan Islam. Karir jurnalistiknya sering berpindah-pindah dalam berbagai surat kabar. Ia pernah menjadi penulis direktur dan pemimpin redaksi. Bukunya Jihad Dalam Islam yang beredar tahun 1928 M berpengaruh luas dan mendalam dalam membangkitkan semangat perlawanan menentang Inggris kaum Berhalaisme dan musuh-musuh Islam di mana saja. Tahun 1933 M. Ia menerbitkan majalah Turjuman Al-Quran dari Hyderabad Deccan. Motto majalah ini adalah Wahai ummat Islam embanlah dakwah Al-Quran bergeraklah dan terbanglah menjelajah dunia. Melalui majalah ini Maududi mentransfer pemikiran-pemikirannya ke segenap ummat Islam di anak benua India-Pakistan. Ini merupakan langkah awal yang meratakan jalan menuju berdirinya Jamaat Islami di kemudian hari. Tahun 1937 s.d 1938 M Maududi tinggal di Lahore memenuhi panggilan Dr. Mohammad Iqbal. Di Bathankot ia bersama Iqbal mendirikan sebuah Lembaga Researc Islam. Lembaga ini menjadi tempat pengkaderan dan tempat dia mengarang buku. Namun beberapa lama kemudian sejak kedatangan Maududi Iqbal berpulang menghadap Ilahi. Melalui majalah Turjuman Al-Quran Maududi menyerukan para ulama dan tokoh-tokoh Islam supaya menghadiri konferensi yang

dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 1941 M/1360 H di Lahore. Konferensi ini dihadiri 75 orang dilegasi yang mewakili beberapa negara bagian india. Dalam konferensi inilah Jamaat Islami didirikan dan Maududi terpilih menjadi pemimpinnya.

Ketika itu anak benua india dikuasai Inggris. Maududi mengeluarkan fatwanya yang berani. Ia mengharmkan bekerja utk berbakti kepada kekuatan penjajah. Fatwa inilah yang menyebabkan Jamaat Islami menghadapi serangan dahsyat dari pihak penjajah sejak awal berdirinya. Tanggal 28 Agustus 1947 M Pakistan lahir sebagai negara merdeka yang memisahkan diri dari negara India negara berhala. Kemudian disusul dgn munculnya kepemimpinan Jamaat Islami baru di India. Jamaat menyatakan kemerdekaan dgn sendirinya. Tujuannya tak lain adalah memudahkan urusan-urusan administratif. Jamaat Islami dgn berdikari mendirikan kamp-kamp penampungan Muhajirin Muslimin dan kepada mereka di beri bantuan sampai merasa aman dan damai. Dalam hidupnya Maududi berkali-kali dijebloskan ke dalam penjara krn keberanian dan sikapnya melawan orang-orang yang menentang penerapan hukum Islam di Pakistan. Ia pernah dijatuhi hukuman mati tetpi kemudian mendapatakan keringanan.Penjara-demi penjara dimasukinya namun tidak membuatnya mundur dari sikap dan perjuangannya. Bahkan hal itu semakin memperkuat keyakinannya terhadap dakwah dan prinsip-prinsip Islam. Jamaat Islami banyak membantu Muhajirin Kasmir dalam

perjuangannya melawan India. Mereka dilengkapi dgn amunisi puskesmaspuskesmas dan kamp-kamp pengungsi.Nopember 1971 M Pakistan pecah menjadi dua. Bagian barat tetap disebut Pakistan dan bagian timur disebut Bangladesh. Perpecahan itu telah mengguncang Maududi. Sejak Nopember 1972 M atas permohonan sendiri Maududi mengundurkan diri dari jabatan ketua jamaat krn pertimbangan kesehatannya. Beliau selanjutnya lbh banyak menekuni studi dan menulis terutama merampungkan kitabnya Tafhum Al-Quran. Jabatan ketua jamaat

sesudahnya dipegang oleh Miyan Thufail Muhammad.27 Pebruari 1979 M ia mendapat hadiah King Faisal Fondation dalam bidang pengkhidmatan

terhadap Islam. Hadiah tersebut didonasikan utk membangun sebuah lembaga ilmu pengetahuan Islam di Lahore. 1 Dzulqaidah 1399 H/22 September 1979 M Maududi wafat setelah menjalani operasi di New York. Jenazahnya dibawa ke Lahore. Ucapan taziyahpun berdatangan dari seluruh dunia Islam.Dalam bidang dakwah Maududi telah mewariskan kader-kader kepustakaan dan karya tulis yang tidak sedikit. karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dicetak berulang kali.2: d. Madrasah Deoband 1. Sejarah Madrasah Deoband Deobandi (Urdu: devband) adalah Islam Sunni Paham gerakan politik yang timbul dan memulai dari India dan Pakistan dan kemudian menyebar ke negara-negara lain, seperti Afganistan, Afrika Selatan, dan Inggris dengan kedatangan imigran dari Asia Selatan. Nama Deobandi berasal dari kata Deva dan Ban, sebuah hutan belantara di bagian provinsi utara India, (Uttar Pradesh) India, di mana sekolah Darul Uloom Darul Ulum Deoband yang didirikan oleh Maulana Qasim Nanautavi, Maulana Kifayatullah berada. Deobandi mengikuti fiqhAbu Hanifa dan Aqidah dari Abu Mansur Maturidi, secara historis Deobandi mengadopsi pemikiran Shah Wali-Allah, pembaharu Islam di anak benua India pada abad ke delapanbelas yang

menggabungkan semua disiplin ilmu agama seperti: Teologi, ilmu Logika (Mantiq), Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith dan Filsafat. Dalam tempo kurang lebih seratus tahun Madrasah Deobandi telah berhasil mencetak ratusan siswa yang ikut mengembangkan ilmu keislaman di Asia Selatan. dari Nama Deobandi berasal dari kata Deva dan Ban, sebuah hutan belantara di bagian provinsi utara India, (Uttar Pradesh) India, di mana
2 Farhan, Al-Islam Pusat Kumunikasi dan Informasi Islam Indonesia, PT. Mutiara Bandung: 1986. hal.112-135

sekolah Darul Uloom Darul Ulum Deoband yang didirikan oleh Maulana Qasim Nanautavi, Maulana Kifayatullah berada. Deobandi mengikuti fiqh dari Abu Hanifa dan Aqidah dari Abu Mansur Maturidi Secara historis Deobandi mengadopsi pemikiran Shah Wali-Allah, pembaharu Islam di anak benua India pada abad ke delapanbelas yang menggabungkan semua disiplin ilmu agama seperti: Teologi, ilmu Logika (Mantiq), Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith dan Filsafat. Dalam tempo kurang lebih seratus tahun Madrasah Deobandi telah berhasil mencetak ratusan siswa yang ikut mengembangkan ilmu keislaman di Asia Selatan. Umumnya para alumni siswa dari Deobandi seusai menamatkan pendidikannya banyak menggunakan nama tambahan di belakang namanya semisal Maulana Shafi Usmani Deobandi, Maulana

Kifayatullah Deobandi dsb. Kerekatan nama pendidikan ini dengan para alumninya merupakan tolok-ukur dalam berbagai gerakan yang dibentuk oleh para alumni, beberapa organisasi yang berafiliasi kepada paham politik Deobandi, di antaranya adalah: Jamiyat Ulama-e-Islam (JUI), sebuah organisasi politik sosial yang terkemuka di Pakistan kemudian berubah menjadi Jamiyat Ulama-e-Islam dari Fazlur Rahman (JUIF) dan Jamiyat Ulama-e- Islam dari Samiul Haque (JUIS), pada pemilu 2002 partai ini tergabung dalam koalisi partai-partai Islam Majlis Muttahida Amal (MMA) gabungan dari berbagai sekte di Pakistan, seperti: Deobandi, Ahlul Hadith, Brelvi, Shiah dan Jamaat Islami. Syariat Tauhid Wassunnah Sebuah gerakan Dawah yang berkiblat kepada Deobandi didirikan oleh Maulana Hussain Ali pada tahun 1957 di Provinsi Punjab. Hingga saat ini organisasi ini bekerja dalam penegakkan Tauhid dan penerapan Sunnah, serta menentang hal-hal yang dianggap bidah dan khurafat. Organisasi ini juga merupakan organisasi

10

tandingan atas faham politik dari organisasi Barelwi yang berkembang pesat diseluruh provinsi Pakistan khususnya pada provinsi Sind 3 Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan di kawasan Saharanpur, India bagian utara. Lembaga ini didirikan pada tahun 1867 sebagai maktab biasa, kemudian menjadi terkenal karna peranan tokoh-tokohnya seperti M.Q Nanotawi, R.A gangohi, Mahmud Al-Hasan dan A.H Madani dalam memperjuangkan kepentingan kaum muslimin di Anak Benua India, dengan cara mereka yang khas. Karena peranannya yang demikian lembaga ini sering disebut sebagai Gerakan Deoband. Memang , berakhirnya kekuasaan Mughal dan semakin kokohnya posisi Inggris di anak Benua, telah membuka kesempatan bagi para pemuka muslim seperti ulama Deoband guna memperluas pengaruh di masyarakat.4 Deoband didirikan sebagai kontinuitas tradisi keilmuan dalam Islam serta respon terhadap kondisi lokal. Maktab yang mula-mula didirikan oleh Abu Husain di Deoband tak berbeda dengan lembaga pendidikan sejenis yang tersebar dikalangan muslim India kala itu. Karena diorganisir dimasjid setempat, kelihatannya maktab tersebut lebih ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat sekelilinganya. Hanya setelah tahun 1874, para pengasuh maktab Deoband mendapatkan bantuan termasuk tanah guna mendirikan bangunan khusus untuk pendidikan. Mulai saat itulah Nanotawi dan Gongohi yang lulusan madrasah Delhi dan pendatang ke Doeband memperkenalkan sebuah kurikulum setandar Dars Nizamiyah. Dengan pengetahuan dan reputasi para pengasuh Deoband serta sistem pendidikan yang diterapkannya, Deoband menarik minat para pencari ilmu dari luar daerah.5

3 Murray Thurston Titus, Islam in India and Pakistan, University of California Press (1990) hal. 232-250 4 Ensiklopedi Islam Indonesia, penerbit Djambotan, Jakarta: 1992 h. 210 5 Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia Bandung, Bandung: 1997 h. 70

11

Beberapa orang yang terlibat dalam pendirian sekolah tersebuut dididik di Delhi pada tahun 1840-an dan terligat dalam dua lembaga penting: lingkungan ulama refomis yang terkait dengan keluarga Syah Wali Allah dan Sayyid Ahmad Barelwi dan Kolese Delhi, yang didirikan oleh Inggris untuk mengajarkan mata vpelajaran Eropa dan Ketimuran dengan bahasa pengantar Urdu dan bukian dengan bekas bahasa Istana (bahasa Peresia) atau bahasa-bahasa keagamaan (Sanssekerta dan Arab). Di antara mereka yang kemudian aktif di Deoband adalah anak dan ponakan seorang pengajar di kolese Delhi, Maulana Mamluk Ali: Muhammad Yakub Nanautawi -kepala sekolah atau shard mudarris pertama (1867-1888) dan seorang mursyid atau pembimbing spiritual yang sangat dihormati disekolah tersebut. Di Delhi ada juga Rasyid Ahmad Gangohi (1829-1905), kepala sekolah (muhtamim) awal yang juga seorang ahli hadits dan fiqih, dan haji imdadullah (1817-1899), yang pergi ke Makkah setelah pemberontakan 1857 dan menjadi pir kesayangan ulama Deobandi awal. Dengan dimulai hanya dengan dua belas siswa, sekolah tersebut pada akhir abad kesembilan belas menerim,a ratusan siswa. Pada ulang tahunnya yang keseratus pada 1967, sekolah ini telah meluluskan 3.795 orang siswa yang dating dari seluruj pelosok India, 3.191 orang siswa dari Pakistan Timur dan Barat, dan 431 dari luar India-pakistan. Meskipun beragam asal usulnya, para siswa tersebut dipersatukan oleh pemakaian bersama bahasa Urdu dan Asrama. Para siswa ini segera menjadi sebuah pusat metropolitan. Pada tahun-tahun pertama, para siswanya datang dari Asia Tengah, Afganistan dan seluruh penjuru India; pada akhir abad kedua pulu, terdapat siswa dari Afrika Timur dan Selatn, dan juga dari Eropa dan Amerika.6

6Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, PT Mizan, jilid pertama, Bandung: 2007 h. 367368

12

Deobandi pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan diri dalam dunia pendidikan. Biasanya para alumni dari Sekolah ini sangat sulit memisahkan diri dari nama Deobandi seusai tamat pendidikannya, sebagai contoh banyak mereka yang menggunakan nama tambahan di belakang namanya semisal Maulana Shafi Usmani Deobandi, Maulana Kifayatullah Deobandi dsb. Kerekatan nama pendidikan ini dengan para alumninya merupakan tolok-ukur dalam berbagai gerakan yang dibentuk oleh para alumni. Adapun Gerakan Dawah yang berkiblat kepada Deobandi adalah gerakan Isyaat Tauhid Wassunnah, sebagai lembaga Dawah yang didirikan oleh Maulana Hussain Ali pada tahun 1957 di Provinsi Punjab. Hingga saat ini jamaah ini bekerja dalam penegakkan Tauhid dan penerapan Sunnah, serta menentang hal-hal yang dianggap bidah dan khurafat. Pada dasarnya gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap faham Brelvi yang berkembang pesat diseluruh provinsi Pakistan dan khususnya di provinsi Sind. Sekelompok besar ulama di Darul Ulum Deoband telah menentang pendirian negara yang didirikan di sepanjang garis sektarian, khususnya tuntutan Muhammad Ali Jinnah Muslim Liga Partisi Inggris-India menjadi Muslim dan bagian non-Muslim Ia telah mengemukakan bahwa alasan yang nyata bagi oposisi mereka terhadap Pemisahan adalah keinginan mereka untuk mengislamkan seluruh India 7 Maulana Husain Ahmad Madani adalah salah satu ulama yang menentang gagasan Pakistan. Dia juga Syekh-ul-Hadits (Kepala departemen hadits) dari Darul Ulum Deoband dan memimpin Jamiat Ulema-e-Hind, sebuah organisasi ulama, yang melihat tidak ada Islam dalam gagasan Pakistan. Dia berkata: "Semua harus berusaha bersamasama untuk suatu pemerintahan yang demokratis di mana Hindu, Muslim,
7 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990, h.163

13

Sikh, Kristen dan Parsis termasuk kebebasan tersebut adalah sesuai dengan Islam.." Sekolah advokat versi ortodoks Islam dan telah berulang kali menjauhkan diri dari ekstremisme agama. Pada tahun 1857, British East India Company meletakkan dengan tangan berat gerakan kemerdekaan dimulai oleh pasukan India utara yang berbeda, yang dilakukan atas nama Bahadur Shah Zafar Gurakani dinyatakan tak berdaya. Kaisar Zafar menjadi Kaisar Mughal terakhir, karena ia digulingkan tahun berikutnya dan diasingkan ke Burma, dengan banyak anak-anaknya dihukum mati. Hal ini ditandai saat mani untuk kesadaran Indo-Islam, khusus untuk para elite Islam didirikan di India utara, yang cenderung untuk melihat kekalahan 1857 sebagai akhir politik mereka dan awal dari apa yang bisa menjadi masa gelap Islam sejarah di India. Dalam situasi ini, sekelompok teolog dipelajari, dipimpin oleh Maulana Muhammad Qasim Nanautawi, mendirikan Darul Ulum Seminari di kota Deoband, dalam rangka melestarikan budaya Indo-Islam dan melatih pemuda dalam pengetahuan Islam. Dasar dari Darul Ulum Deoband dibaringkan di 1283 H (21 Mei 1866 M) di bawah pohon delima. Nanautawi mengklaim bahwa ia telah diilhami untuk melakukannya oleh mimpi di mana Nabi Muhammad berbicara kepadanya.8[ Filosofi pedagogis Deoband difokuskan pada pengajaran mengungkapkan ilmuilmu Islam, yang dikenal sebagai manqulat, dengan penduduk Muslim India Nanautawi melembagakan metode modern belajar: Mengajar di dalam kelas, kurikulum yang tetap dan dipilih dengan cermat, ceramah oleh fakultas yang berbeda diakui sebagai pemimpin di bidang mereka, masa ujian, pers penerbitan dan sebagainya. Fakultas menginstruksikan mahasiswa terutama dalam bahasa Urdu, lingua franca dari bagian urban
8 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. h. 174-175

14

di wilayah ini, dan dilengkapi dengan studi bahasa Arab (untuk alasan teologis) dan Persia (untuk alasan budaya dan sastra). Pada waktunya, ini juga tanpa disadari disemen hubungan tumbuh dari bahasa Urdu dengan masyarakat Muslim utara India. Para pendiri sadar memutuskan untuk bercerai seminari dari partisipasi politik atau pemerintah. Sebaliknya, itu adalah untuk dijalankan sebagai sebuah lembaga otonom, yang didukung oleh kontribusi keuangan sukarela dari umat Islam pada umumnya. Lebih dari 15.000 lulusan telah pergi untuk menemukan madrasah serupa (sekolah) di seluruh Asia Selatan dan lebih jauh, para pengikut teologi ini sekolah sering digambarkan sebagai pengikut Deobandi sekolah pemikiran.

2. Pola pendidikan Kurikulum Deoband adalah berdasarkan silabus Indo-Islam abad ke-17 yang dikenal sebagai Dars Nizami. Kurikulum inti mengajarkan hukum Islam (syariah), hukum Islam (fiqh), spiritualitas Islam tradisional (tasawuf, yang merupakan fokus tasawuf), serta bidang lainnya beberapa studi Islam.9 Sepeninggalan Sayyid Ahmad Syahid, gerakan intelektual

melawan kolonial Inggris terus dilakukan oleh para pengikut Sayyid Ahmad Syahid. Pada tahun 1857 madrasah Deoband melalui Mawlana Muhammad Qasim Nanantawi dan Mawlana Ishaq, seorang cucu dari Syah Abdul Aziz ditingkatkan menjadi perguruan tinggi. Ide-ide Syah Waliullah yang kemudian ditonjolkan oleh sayyid Ahmad Syahid dan gerakan Mujahidin, itulah menjadi pegangan bagi Deoband10 Ide-ide itu meliputi:

9 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990, h.175 10 Ibid, h.163

15

Bidang agama, pemurnian ajaran Islam India dari paham-paham salah yang dibawa tarekat dan dari keyakinan animisme lama dan pemurnian dari perkatek keagamaan seperti bid'ah.

Bidang politik dan pendidikan, Deoband mengambil sikap anti Inggris. Sikap anti inggris ini dilator belakangi oleh para pendiri deoband mayoritas pemuka gerakan mujahidin. Mereka mendirikan deoband untuk menentang pendidikan sekuler inggris dan juga sebagai reaksi terhadap usaha kristenisasi di India.

3. Dampak Sekolah Deoband Banyak sekolah-sekolah Islam modern di India, Bangladesh dan Pakistan - dan baru-baru di Afghanistan, Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan - serta di ratusan tempat lain di seluruh dunia berafiliasi, atau teologis terkait, untuk Darul Ulum Deoband . seminari Terkenal telah ditetapkan oleh lulusannya, misalnya Nadwatul Ulama di Lucknow, Madrasah In'amiyyah Camperdown, dekat Durban di Afrika Selatan, dan tiga seminari penting di Pakistan, yaitu. Darul Ulum Karachi, Jamiah Ashrafia Lahore11, dan Jamia Zia-ul-Quran (masjid Bagh-wali Al-maroof), Faisalabad. Gerakan Kemerdekaan India Dalam pertemuan Jamiat Ulema-eHind di Calcutta, pada tahun 1926, para peserta termasuk lulusan Darul Ulum, Deoband dan mereka mendukung kelompok yang menyerukan kemerdekaan lengkap India dari pemerintahan Inggris. Kongres Nasional India adalah untuk mendeklarasikan kemerdekaan lengkap tujuan tiga tahun kemudian, dalam sidang di Lahore. Kebebasan terkenal tempur Khan Abdul Gaffar Khan, yang mengunjungi Darul Ulum selama kunjungannya ke India pada tahun 1969,

11 Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993.h.132

16

telah berkata12: "Saya telah memiliki hubungan dengan Darul Ulum sejak saat Syaikh-ul-Hind, Maulana Mehmud Hasan, adalah hidup. Duduk di sini, kami digunakan untuk membuat rencana untuk gerakan

kemerdekaan, bagaimana kita bisa mengusir Inggris dari negara ini dan bagaimana kita bisa membuat India bebas dari kuk perbudakan dari Raj Inggris. Lembaga ini telah melakukan upaya besar untuk kebebasan negara ini "

B. Sayyid Ahmad Khan dan Gerakan Aligarh a. Sayyid Ahmad Khan Sayyid Ahmad Khan lahir di Delhi pada tahun 1817 dan menurut keterangan ia berasal dari keturunan Husein, cucu Nabi Muhammad melalui Fatimah dan Ali. Neneknya Sayyid Hadi adalah Pembesar Istana di zaman Alamghir II (1754- 1759). Ia mendapat didikan tradisional dalam pengetahuan agama dan di samping Bahasa Arab ia juga belajar Bahasa Persia. Sayyid Ahmad Khan adalah orang yang rajin membaca. Ketika usianya 18 tahun ia bekerja pada Serikat India Timur, kemudian bekerja pula sebagai hakim, tetapi pada tahun 1846 ia pulang kembali ke Delhi untuk meneruskan studi. Pada masa Pemberontakan 1857 ia berusaha mencegah terjadinya kekerasan dan banyak menolong orang Inggris dari pembunuhan. Pihak Inggeris menganggap ia telah banyak berjasa dan ingin membalas jasa tersebut, tetapi hadiah yang dianugerahkan Inggeris ditolaknya, ia hanya menerima Gelar Sir dari pemerintahan Inggeris dari berbagai hadiah yang ditawarkan tersebut. Hubungannya dengan pihak Inggeris sangat baik dan inilah yang dipergunakannya untuk kepentingan ummat Islam India. Ahmad Khan berpendapat bahwa usaha peningkatan kedudukan dan kesejahteraan ummat Islam India dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggeris sebagai penguasa di India. Dalam fikirannya, menentang
12Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. h.177

17

kekuasaan Inggeris tidak akan membawa kebaikan bagi ummat Islam India tetapi akan menjadikan umat Islam semakin mundur serta akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India. Selain itu dasar ketinggian dan kekuatan Barat, termasuk di dalamnya Inggeris, adalah ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sehingga untuk mendapatkan kemajuan, ummat Islam harus pula menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Jalan yang harus ditempuh ummat Islam memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan itu bukanlah bekerja sama dengan Hindu dalam menentang Inggeris tetapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan Inggeris. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia menerbitkan majalah Tahzib alAkhlak. Pada tahun 1875, ia mendirikan lembaga pendidikan Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) yang kemudian berkembang menjadi Universitas Aligarh. Untuk mengukuhkan ide-idenya ia mendirikan All India Muhammadan Education Conference (1886). Ia juga tercatat sebagai anggota parlemen di Legislatif Council selama empat tahun (1878 1882). Beberapa hasil karya Sayyid Ahmad Khan adalah Atsar al-Sanadid (1874) yang merupakan hasil penelitiannya tentang arkeologi di Delhi dan sekitarnya, Essay on life of Muhammad (1870), Tafsir al-Quran sebanyak 6 jilid, Ibthal al-Ghulami (1890) dan Tabyin al-Kalam (1860). Selain itu juga menulis dua buku Tarikh Sarkhasi Bignaur (1858) dan Asbab Baghawad Hind (1858). Dari hasil karyanya ini terihat pula bahwa Sayyid Ahmad Khan termasuk penulis yang produktif. Ahmad Khan mengakhiri perjuangannya dengan berpulangnya ke rahmatullah pada tanggal 27 Maret 1898 setelah menderita sakit beberapa lama dalam usia 81 tahun, dan dimakamkan di Aligarh. Atas usaha usahanya dan atas sikap kooperatif yang ditunjukkannya terhadap Inggeris, Sayyid Ahmad Khan akhirnya berhasil dalam merobah pandangan Inggeris terhadap ummat Islam India. Sementara itu kepada ummat Islam dianjurkan agar tidak bersikap melawan tetapi sikap berteman dan bersahabat dengan Inggeris. Cita citanya untuk menjalin hubungan baik

18

antara Inggeris dan ummat Islam dimaksudkan agar ummat Islam dapat merobah nasib dari kemunduran. Keinginan ini telah dapat diwujudkan Sir Sayyid pada masa hidupnya13.

Ide-Ide Pembaharuan Sayyid Ahmad Khan Sayyid Ahmad Khan melihat bahwa ummat Islam India mundur karena tidak mengikuti perkembangan zaman. Ummat Islam tidak menyadari bahwa peradaban Islam masa klasik telah runtuh dan digantikan peradaban modern yang berasal dari dunia Barat. Dasar peradaban baru ini ialah ilmu pengetahuan dan tekhnologi sebagai pondasi kokoh bagi kemajuan dan kekuatan orang Barat modern yang berasal dari hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu akal bagi Sayyid Ahmad Khan mendapat penghargaan tinggi, namun bagi sebahagian kalangan ummat Islam tradisional pada masanya berpegang teguh bahwa kekuatan akal bukan tidak terbatas. Oleh karena itu, Ahmad Khan percaya pada kekuatan dan kebebasan akal, sungguhpun mempunyai batas, ia percaya pada kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam menentukan kehendak dan melakukan perbuatan. Dengan kata lain, ia mempunyai faham qadariah (free will and free act) dan tidak faham jabariah atau fatalisme. Manusia menurutnya dianugerahi Tuhan daya daya, seperti daya berfikir, yang disebut akal, dan daya fisik untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mempergunakan daya daya yang diberikan Tuhan kepadanya itu. Ahmad Khan menolak pula faham taklid bahkan tidak segan segan menyerang faham ini. Sumber ajaran Islam menurut pendapatnya hanyalah alQuran dan Hadis. Pendapat ulama di masa lampau tidak mengikat bagi ummat Islam dan di antara pendapat mereka ada yang tidak sesuai lagi dengan zaman modern.

13 Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj. Ghufran A. Masadi, judul asli: A History of Islamic Societies, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999, Jilid ke-3 hal.37-44

19

Secara sederhana bentuk-bentuk ide pembaharuan Sayyid Ahmad Khan dapat pula dikembangkan sebagai berikut : a) Bidang Keagamaan Salah satu warisan keagamaan yang ditinjau dan diperbaharui kembali, dan sangat fundamental serta mencakup seluruh aspek Islam, adalah tafsir al-Quran. Untuk kegiatan ini, anak benua Indo-Pakistan dapat berbangga diri, karena amat produktif dalam menelorkan mufassir liberal dan radikal semisal Sayyid Ahmad Khan ini. Pembaharuan penafsiran al-Quran yang dilakukan adalah berusaha mengadaptasikan ajaran-ajaran al-Quran dengan tuntutantuntutan zaman modern. Ini terwujud dengan terbitnya volume pertama dari enam jilid tafsir karya Ahmad Khan pada tahun 1880. Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa al-Quran dan hadis merupakan sumber hukum Islam. Ia sangat selektif dalam menerima hadis. Dengan munculnya hadis-hadis palsu, ia berpandangan bahwa tugas kaum muslimin sekarang dalam memelihara hadis adalah merumuskan standar penilaian modern terhadap hadis-hadis ia tidak menjelaskan standar tersebut. Oleh karena itu, ia hanya menerima hadis yang sesuai dengan nash dan ruh al-Quran, yang sesuai dengan akal dan pengalaman manusia, dan yang tidak bertentangan dengan hakikat-hakikat sejarah. Berkaitan dengan pembagian hadis kepada Mutawatir, Masyhur dan Ahad, ia berpendapat bahwa hadis Mutawatir dapat diterima, hadis Masyhur tidak dapat diterima kecuali setelah diadakan penelitian, sedangkan hadis Ahad tidak dapat diterima sama sekali. Menurut Sayyid Ahmad Hadis yang dapat diterima tersebut dibagi kepada dua bagian yaitu hadis yang berkaitan dengan agama dan hadis yang berkaitan dengan dunia. Hadis yang berkaitan dengan ruang lingkup agama bersifat mengikat dan wajib diikuti, sedangkan hadis yang berkaitan dengan perkara dunia, tidak termasuk tugas kerasulan secara

20

mutlak dan hanya berlaku khusus bagi kondisi dan keadaan bangsa Arab pada masa nubuwwah, dan tidak mengikat bagi seluruh kaum muslimin. Berkaitan dengan permasalahan fiqh, Sayyid Khan mempunyai pandangan tersendiri yang mendekatkan antara perkara-perkara dan dengan pemahaman peradaban barat, antara lain dalam masalah jihad, bunga bank, poligami dan had. b) Bidang Pendidikan Sebagai telah disebut di atas, Sayyid Ahmad Khan beranggapan bahwa jalan bagi ummat Islam India untuk melepaskan diri dari kemunduran dan selanjutnya mencapai kemajuan, adalah dengan memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Untuk mencapai tujuan ini maka sikap mental ummat yang kurang percaya kepada kekuatan akal, kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada adanya hukum alam, harus dirobah terlebih dahulu. Perobahan sikap mental itu diusahakannya melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel artikel dalam majalah Tahzib Al Akhlaq. Usaha melalui pendidikan juga tidak dilupakannya, bahkan pada akhirnya ke dalam lapangan inilah dicurahkannya perhatian dan usahanya. Salah satu jalan yang efektif untuk merobah sikap mental suatu bangsa menurut Sir Sayyid haruslah melalui pendidikan. Pada tahun 1861 Sayyid Ahmad Khan mendirikan Sekolah Inggeris di Muradabad. Di tahun 1876 ia mengundurkan diri sebagai pegawai Pemerintah Inggeris dan sampai akhir hayatnya di tahun 1898, ia mementingkan pendidikan ummat Islam India. Di tahun 1878, ia mendirikan sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di Aligarh yang merupakan karyanya yang bersejarah dan berpengaruh dalam upaya memajukan ummat Islam India. Sekolah itu mempunyai peranan penting dalam kebangkitan ummat Islam India, dan sekiranya tidak karena lembaga pendidikan tersebut ummat Islam India di Pakistan sekarang akan lebih jauh lagi ketinggalan dari ummat-ummat lain..

21

MAOC dibentuk sesuai dengan model sekolah di Inggeris dan bahasa yang dipakai di dalamnya ialah Bahasa Inggeris. Direkturnya berbangsa Inggeris sedang guru dan staffnya banyak terdiri atas orang Inggeris. Ilmu pengetahuan modern merupakan sebahagian besar dari mata pelajaran yang diberikan dengan tidak mengabaikan pendidikan agama. Sedangkan pada sekolah Inggeris yang diasuh Pemerintah pendidikan agama tidak diajarkan. Dalam sistem pendidikan di MAOC pendidikan agama Islam dan ketaatan siswa menjalankan ajaran agama mendapat prioritas yang utama. Keistimewaan lainnya, sekolah tersebut terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, baik Hindu, Parsi dan Kristen, bukan hanya bagi orang Islam. Sebelumnya pada tahun 1869/1870 Sayyid Ahmad Khan telah berkunjung ke Inggeris, untuk mempelajari sistem pendidikan Barat. Sekembalinya dari kunjungan itulah ia membentuk Panitia Peningkatan Pendidikan Ummat Islam. Salah satu tujuan panitia tersebut adalah menyelidiki sebab-sebab ummat Islam India sedikit sekali memasuki sekolah sekolah Pemerintah. Di samping itu dibentuk pula Panitia Dana Pembentukan Perguruan Tinggi Islam. Di tahun 1886 ia juga membentuk Muhammedan Educational Conference dalam usaha mewujudkan pendidikan nasional yang seragam bagi ummat Islam India. Program dari lembaga ini yakni menyebarluaskan pendidikan Barat di kalangan ummat Islam, menyelidiki pendidikan agama yang diberikan di sekolah sekolah Inggeris yang didirikan oleh kalangan Islam serta menunjang pendidikan agama yang diberikan di sekolah sekolah swasta. Pada tahun itu juga diterbitkan pula jurnal mingguan Aligarh Institut yang menyebarluaskan informasi dan problematika mengenai seputar pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan, serta lembaga ini juga melakukan kegiatan penterjemahan buku Inggeris ke Bahasa India.

22

Pada tahun 1920 MAOC ini berkembang menjadi Universitas Aligarh yang secara berlanjut meneruskan tradisi sebagai pusat gerakan pembaharuan Islam India. Universitas inilah yang menjadi penggerak utama terwujudnya pembaharuan di kalangan umat Islam India.14 c) Bidang Sosial Politik Dalam bidang politik ide Sayyid Ahmad Khan ini merupakan refleksi dari gejolak sosial politik yang terjadi antara umat Islam dan Inggris pada tahun 1857. Pemikirannya inilah yang dituangkan dalam buku karangannya Asbab Baghawat Hind yang berisi tentang usaha Sayyid Ahmad Khan untuk meyakinkan pihak Inggris, bahwa umat Islam tidak terlibat pemberontakan itu. Dalam usahanya, ia meyakinkan pihak Inggeris bahwa dalam Pemberontakan 1857 ummat Islam tidak memainkan peranan utama, Ahmad Khan mengeluarkan panflet yang berisikan penjelasan tentang faktor penyebab pecahnya pemberontakan tersebut. Di antara faktor penyebab tersebut adalah : 1) Intervensi Inggeris dalam soal keagamaan seperti pendidikan agama Kristen yang diberikan kepada yatim piatu di panti panti yang diasuh oleh orang Inggeris, pembentukan sekolah sekolah missi Kristen, dan penghapusan pendidikan agama dari perguruan perguruan tinggi. 2) Tidak turut sertanya orang orang India, baik Islam maupun Hindu, dalam lembaga lembaga perwakilan rakyat, sehingga berakibat : a) Rakyat India tidak mengetahui tujuan dan niat Inggeris yang sebenarnya dan menganggap Inggeris datang untuk merobah agama mereka menjadi Kristen. b) Pemerintah Inggeris tidak mengetahui keluhan keluhan rakyat India.

14 Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta : Bulan Bintang, 1992 hal 73-74

23

c) Pemerintah Inggeris tidak berusaha mengikat tali persahabatan dengan rakyat India, sedang kestabilan dalam pemerintahan bergantung pada hubungan baik dengan rakyat. Sikap tidak menghargai dan tidak menghormati rakyat India membawa akibat yang tidak baik. Lebih lanjut, Sayyid Ahmad Khan menyatakan bahwa di antara golongan Islam yang ikut serta dalam pemberontakan 1857 adalah mereka yang kerap kali melakukan perbuatan tidak baik dan tercela serta perbuatan kriminal. Dan jika hanya segelintir ummat Islam yang bersalah tidaklah pada tempatnya pula untuk menetapkan keseluruhan ummat Islam India bertanggung jawab terhadap pemberontakan tersebut. Dengan demikian tidak pada tempatnya Pihak Inggeris menaruh rasa curiga terhadap ummat Islam India. Sikap Sayyid dalam bidang politik terlihat pula pada pertengahan kedua dari abad ke-19, ketika rasa nasionalisme India telah mulai timbul dan terbentuknya Partai Kongres Nasional India di tahun 1885. Sayyid Ahmad Khan menjauhkan diri dari gerakan ini, dengan alasan bahwa bahasa yang dipakai Kongres terhadap Pemerintah Inggris kurang sopan. Menurut Rayendra Prasadia, ia pada mulanya adalah penyokong nasionalisme India. la pemah menerangkan bahwa Hindustan merupakan negara bagi orang Hindu dan dalam kategori Hindu termasuk orang India Islam dan orang India Kristen. Tetapi akhimya ia dipengaruhi oleh Mr. Back, salah satu Direktur MAOC yang berpendapat bahwa pendidikan ummat Islam India belum sampai ke taraf yang membuat mereka akan dapat mengambil keuntungan dari permainan dalam bidang politik. Sebaliknya turut campur dalam bidang politik akan merugikan ummat Islam India. Sayyid Ahmad Khan memang berpendapat bahwa pendidikanlah satu satunya jalan bagi ummat Islam India untuk mencapai kemajuan. Kemajuan tidak akan dicapai melalui jalan politik.

24

Oleh karena itu ia menganjurkan supaya ummat Islam India jangan turut campur dalam agitasi politik yang dilancarkan Partai Kongres. Usaha usaha untuk merobah sikapnya terhadap Partai Kongres tidak berhasil. Ia berkeyakinan bahwa anggota kasta kasta dan pemeluk agama agama yang berlainan di India tidak bisa disatukan menjadi satu bangsa. Tujuan dan cita cita mereka saling berlainan. Wujud Partai Kongres Nasional India sebenarnya tidak mempunyai dasar. Gerakan yang dijalankan Partai Kongres, demikian ia selanjutnya menjelaskan, bukan hanya akan merugikan bagi ummat Islam, tetapi juga bagi seluruh India. Dalam ide politik yang ditimbulkan Sayyid Ahmad Khan di atas telah kelihatan pengertian bahwa ummat Islam merupakan satu ummat yang tidak dapat membentuk suatu negara dengan ummat Hindu. Umat Islam harus mempunyai negara tersendiri. Bersatu dengan ummat Hindu dalam satu negara akan membuat minoritas Islam yang rendah kemajuannya, akan lenyap dalam mayoritas Hindu yang lebih tinggi kemajuannya. Di sini telah dapat dilihat bibit dari ide Pakistan yang muncul kemudian di abad ke-20. Dari usaha-usaha pembaharuan Sayyid Ahmad Khan terlihat yang paling menonjol adalah dalam bidang pendidikan. Terlihat sikapnya terhadap pendidikan ummat Islam memang terlihat sangat mengagumkan, namun pengaruh tersebut tidak terbatas dalam bidang pendidikan saja. Melalui buku karangannya dan tulisan-tulisannya Tahzib al-Akhlaq ide ide pembaharuan yang dicetuskannya menarik perhatian golongan terpelajar Islam India. Penafsiran penafsiran baru yang diberikannya terhadap ajaran-ajaran Islam lebih dapat diterima golongan terpelajar ini dari pada tafsiran tafsiran lama.

25

b. Aligarh dan Pengaruhnya bagi Pembaharuan India-Pakistan Malapetaka hebat yang melanda India, yaitu Pemberontakan tahun 1857 telah berlalu. Pemberontakan itu merupakan akibat dari keinginan akan adanya pendidikan di India, dan akibat dari kenyataan bahwa Bangsa India tidak memahami hak Pemerintah, yang sasarannya adalah kita ini, terhadap kita dan tidak mengerti tentang kewajiban kita terhadapnya. Selain ini semua, juga terdapat keinginan akan adanya hubungan antara para penguasa dan rakyat dalam hal keinginan untuk memperoleh pendidikan itu. Pada saat ini, universitas universitas yang didirikan di India dengan tujuan mendirikan pendidikan tingkat tinggi. Kebanyakan para negarawan menyetujui adanya pendidikan tingkat tinggi itu dan menganggapnya sebagai kewajiban pemerintah, sementara sebagian kecil di antara mereka bersikap menentangnya. Akan tetapi, tak seorang pun yang berfikir bahwa bersamaan dengan pendidikan itu, latihan yang baik pun diperlukan, sebab tak seorang pun dapat meningkatkan dirinya sebagai manusia (beradab) hanya dengan pendidikan semata mata, demikian juga dengan pendidikan itu saja sikap moralnyapun tidak dapat ditingkatkan, bahkan dia akan menjadi semacam kuda bengal yang tidak mau dikendalikan oleh penunggangnya. Demikianlah keadaan masyarakat India masa itu, tidak dipungkiri walaupun dengan berbagai ide pembaharuan yang ditelorkan oleh pembaharupembaharu seperti Sayyid Ahmad Khan dan rekan-rekannya, namun sikap mental tak bisa sepenuhnya terpengaruh dengan ide pembaruaan tersebut. Hal ini akan terbukti dengan sejarah Aligarh selanjutnya pasca Sayyid Ahmad Khan. Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat pada tanggal 24 Maret tahun 1898, ide ide pembaharuan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh pengikut dan pada akhirnya lahirlah sebuah gerakan yang disebut Gerakan Aligarh yang berpusat MAOC sendiri.

26

Ada beberapa tokoh Aligarh yang berpengaruh dan melanjutkan ideide pembaharuan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan, di antaranya Nawab Muhsin al-Muluk Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat, maka kepemimpinan Aligarh pindah ke tangan Sayyid Mahdi Ali, yang dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al Mulk (1837 1907). Pada mulanya ia adalah pegawai Serikat India Tiffluk, kemudian menjadi pembesar di Hyderabad. Ia pernah berkunjung ke Inggeris untuk keperluan Pemerintah Hyderabad. Di tahun 1863 ia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan antara keduanya terjalin tali persahabatan yang erat. la banyak rnenulis artikel Tahzib Al Akhlaq dan kemudian juga di majalah yang diterbitkan MAOC la pindah ke Aligarh dan menetap di sana mulai pari tahun 1893. Pada tahun 1897 ia menggantikankan kedudukan Sayyid Ahmad Khan di MAOC Ia mempunyai jasa yang besar dalam menyebarkan ide ide Sayyid Ahmad Khan yang dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference. Jasanya dalam memajukan MAOC terlihat dengan bertambah banyaknya jumlah murid lembaga pendidikan tersebut. Muhsin al-Mulk berhasil membuat golongan ulama India merobah sikap keras terhadap Gerakan Aligarh. Sebagaimana diketahui bahwa Deoband yang banyak menghasilkan ulama ulama India tradisional, mempunyai sikap yang tidak kooperatif dengan Inggeris, sedang Sayyid Ahmad Khan terkenal dengan sikap pro Inggeris. Jadi antara MAOC terdapat perbedaan bukan hanya dalam soal-soal keagamaan saja tetapi, juga mengenai sikap politik. Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan Aligarh, lebih jauh ia mampu menarik beberapa lawan politik pendiri Perguruan Tinggi tersebut. Ia adalah orang yang paling cinta damai, namun ia dihadapkan juga kepada kontraversi Hindu-Urdu yang telah ada sejak akhirakhir kehidupan Sayyid Ahmad. Inilah yang pada akhirnya menyebabkan ia

27

mengundurkan dari Perguruan Tinggi tersebut. Ia wafat 16 Oktober 1907, dan dikuburkan di samping kuburan Sayyid Ahmad Khan di Aligarh.15

15 Murray Thurston Titus, Islam in India and Pakistan, University of California Press (1990) hal.274-281

28

BAB III KESIMPULAN

Kesemenaan Inggris terhadap masyarakat India dan terjadinya kesenjangan perlakuan antara islam dan hindu India dalam hak sebagai warga Negara, menuai kritik dari para tokoh India, sehingga gerakan anti inggris bermunculan. Gerakan Mujahidin di pelopori oleh Sayyid Ahmad mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam., imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting. Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad Dari para Murid Syah Waliullah berdirilah dua perguruan tinggi di India Deoband dan Aligarh. Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik Aligarh dan Deoband. Dari segi politik Deoband anti terhadap Inggris dan Aligarh justru sebaliknya pro terhadap Inggris. Dari segi keagamaan Deoband tetap

mempertahankan taklid kepada ulama' klasik dan menutup pintu ijtihad, beda halnya dengan gerakan Aligarh mereka tidak menutup pintu ijtihad. Tetapi pada akhirnya sikap Deoband yang tadinya keras bisa melembut dan berubah terhadap sikap yang tadinya mempertahankan tradisi dan menutup pintu ijtihad, perlahan mulai membuka pintu ijtihad. Hingga berdirinya Negara Pakistan yang dipelopori oleh Iqbal dan Jinnah, Deoband dan Aligarh telah banyak melahirkan tokoh-tokoh India seperti Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Nawab Muhsin Al-Mulk, Viqar Al-Mulk , Altaf Husain Ali , Chiragh Ali, Maulvi Nazir Ahmad, Muhammad Shibli Nu'mani. Pembaharuan di India/Pakisan bahwa, dapat di simpulkan syariat Tauhid Wassunnah Sebuah gerakan Dawah yang berkiblat kepada Deobandi didirikan oleh Maulana Hussain Ali pada tahun 1957 di Provinsi Punjab. Hingga saat ini organisasi ini bekerja dalam penegakkan Tauhid dan penerapan Sunnah, serta menentang hal-hal

29

yang dianggap bidah dan khurafat. Organisasi ini juga merupakan organisasi tandingan atas faham politik dari organisasi Barelwi yang berkembang pesat diseluruh provinsi Pakistan khususnya pada provinsi Sind Ide-ide pembaharuan; 1. Bidang Agama 2. Bidang Pendidikan 3. Sosial Politik Di antara faktor penyebab sosial politik:\ a. Intervensi Inggeris dalam soal keagamaan seperti pendidikan agama Kristen yang diberikan kepada yatim piatu di panti panti yang diasuh oleh orang Inggeris, pembentukan sekolah sekolah missi Kristen, dan penghapusan pendidikan agama dari perguruan perguruan tinggi. b. Tidak turut sertanya orang orang India, baik Islam maupun Hindu, dalam lembaga lembaga perwakilan rakyat, sehingga berakibat: 1) Rakyat India tidak mengetahui tujuan dan niat Inggeris yang sebenarnya, dan 2) Menganggap Inggeris datang untuk merobah agama mereka menjadi Kristen. 3) Pemerintah Inggeris tidak mengetahui keluhan keluhan rakyat India. c. Pemerintah Inggeris tidak berusaha mengikat tali persahabatan dengan rakyat India, sedang kestabilan dalam pemerintahan bergantung pada hubungan baik dengan rakyat. Sikap tidak menghargai dan tidak menghormati rakyat India membawa akibat yang tidak baik.

30

DAFTAR PUSTAKA

Nasution Harun, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan, Jakarta:Bulan Bintang, 1990 Ensiklopedi Islam Indonesia, penerbit Djambotan, Jakarta: 1992 Syaukani Ahmad, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia

Bandung, Bandung: 1997 Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, PT Mizan, jilid pertama, Bandung: 2007 Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993 Murray Thurston Titus, Islam in India and Pakistan, University of California Press (1990) Farhan, Al-Islam Pusat Kumunikasi dan Informasi Islam Indonesia, PT. Mutiara Bandung: 1986. Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta : Bulan Bintang, 1992. Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj. Ghufran A. Masadi, judul asli: A History of Islamic Societies, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999, Jilid ke-3

31