Anda di halaman 1dari 11

BIOTEKNOLOGI TANAH Bioteknologi tanah ialah prinsip biologi, biokimia, dan rekayasa dalam pengelolaan tanah dengan memanfaatkan

agen hayati/jasad hidup dan komponen-komponennya untuk meningkatkan produktivitas/kualitas tanah. Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut Mikoorganisme tanah memegang peranan penting didalam pembentukan tanah, pertumbuhan tanaman dan siklus C. Kemajuan dalam biologi molekuler memungkinkan untuk melakukan kajian terhadap banyak mikroba yang tidak tumbuh pada media di laboratorium. Hal ini memungkinkan untuk lebih memahami populasi mikroba tanah, yang selanjutanya mengelola m.o tersebut kearah yang lebih menguntungkan (Paul & Clark, 1996). Populasi m.o tanah pada umumnya resisten terhadap perubahan dan mampu bertahan untuk jangka waktu yang lama. Sebaliknya m.o yang diintroduksi biasanya tidak dapat bertahan dalam persaingan yang sangat tinggi,yang terdiri dari bermacam-macam m.o dalam habitat dan lingkungan yang beragam didalam tanah. Mikroorganisme merupakan penyumbang terbesar dari biomassa di dunia ini. Selain itu m.o melakukan paling banyak proses fisiologis mulai dari dekomposisi hingga berbagai reaksi yang berkaitan dengan N, P, K, S dan siklus unsur hara lainnya dalam suatu lingkungan yang lebih luas. Penerapan bioteknologi tanah dalam bidang pertanian lebih diarahkan pada penggunaan mikroba untuk digunakan sebagai pupuk hayati (biofertiliser) dan bioremediasi. Pupuk hayati adalah suatu bahan yang berasal dari jasad hidup, khususnya mikroba yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi suatu tanaman. Dalam hal ini yang dimaksud dengan berasal dari jasad hidup adalah mengacu pada hasil proses mikrobiologis. Oleh karena itu istilah pupuk hayati lebih tepat disebut sebagai inokulan mikrobia, seperti yang dikemukakan oleh Rao (1982). Mikroba yang umum digunakan untuk membuat formulasi suatu pupuk hayati adalah kelompok bakteri dan jamur serta sianobakteri. Teknologi Kompos Bioaktif . Proses pengkomposan alami memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.

Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produkproduk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain. Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. SuperDec dan OrgaDec, biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), dikembangkan berdasarkan filosofi tersebut. Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderma pseudokoningii , Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman. Biofertilizer Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan ( leguminose ). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman

sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas, Rhiphosant, Kamizae, OST dan Simbionriza. Agen Biokontrol Di alam terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme pathogen dan hama. Organisme patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangakan populasi kedua jenis organisme ini, maka hama dan penyakit tanaman dapat dihindari. Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago.

BIOTEKNOLOGI LINGKUNGAN Bioteknologi lingkungan penggunaannya banyak melibatkan mikroorganisma untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan alam sekitarnya. Peningkatan kualitas lingkungan tersebut meliputi pencegahan terhadap masuknya berbagai pollutan agar lingkungan tidak terpollusi; membersihkan lingkungan yang terkontaminasi oleh pollutan; dan membangkitkan serta memberdayakan sumber daya alam yang masih memiliki nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Essensi kajian bioteknologi lingkungan sesungguhnya untuk meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan manusia melalui pemberdayaan lingkungan secara teknik. Bioteknologi lingkungan kelihatannya seperti kajian yang sangat menjanjikan kepada kita semua terutama menjanjikan kesejahteraan dalam meningkatkan kehidupan modern yang mengarah kepada kehidupan modern yang lebih baik lagi. Perlakuan teknologi secara mikrobiologi telah dikembangkan sejak awal abad ke-20-an, seperti mengaktivasi berbagai kotoran (hewan dan juga manusia) dan pencernaan anaerobik hewan, kotoran-kotoran lain yang berserakan di lingkungan tempat tinggal kita. Pada waktu yang sama, teknologi-teknologi baru secara konstan ditujukan

untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang trend sekarang ini , terutama masalah lingkungan hidup, seperti detoksifikasi zat-zat kimia yang berbahaya yang sudah banyak menyatu ke dalam berbagai tumbuhan dan hewan peliharaan kita. Beberapa perangkat alat penting yang sering digunakan untuk melihat karakteristik dan proses pengontrolan pollutan dalam teknologi lingkungan juga telah dikembangkan secara bertahap sesuai dengan biaya yang tersedia. Contoh: mengukur biomassa secara tradisional, seperti zat padat yang mudah menguap, yang tidak memiliki relevansi berkurang atau hilang, meskipun perangkat ini digunakan khusus untuk biologi molekuler guna mengeksplor persebaran komunitas mikrobial. Proses kerja bioteknologi lingkungan sesuai dengan prinsip kerja yang sudah diaplikasikan pada bidang mikrobiologi dan rekayasa (engineering), akan tetapi aplikasi prinsip-prinsip ini secara normal membutuhkan beberapa tingkatan empirisme. Meskipun bukan suatu pengganti untuk prinsip-prinsip, empirisme musti terkait, karena material yang diperlakukan dengan bioteknologi lingkungan adalah sangat kompleks dan tidak dapat dipisahkan dalam berbagai waktu dan tempat. Prinsip-prinsip rekayasa mengarah kepada perangkat kuantitatif, sedangkan prinsip-prinsip mikrobiologi seringkali mengarah kepada observasi. Kuantifikasi merupakan essensi, jika proses ini handal (reliable) dan hemat biaya (cost-efective). Bagaimanapun, kompleksitas dari komunitas mikrobial terlibat dalam bioteknologi lingkungan. Kompleksitas ini seringkali berada di luar deskripsi kuantitatif, tidak memiliki nilai observasi kuantitatif dari nilai yang terbaik. Kajian bioteknologi lingkungan mengakar kepada prinsip-prinsip dan aplikasi biologi, yang berkaitan dengan teknologi. Strategi kita dalam mengembangkan bioteknologi lingkungan berbasis kepada konsep-konsep dasar dan perangkat yang bersifat kuantitatif saja. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dan aplikasi biologi disini adalah memberdayakan semua proses mikrobiologikal agar dapat dipahami, diprediksi, dan merupakan satu kesatuan pemahaman. Setiap aplikasi bioteknologi lingkungan memiliki ciri-ciri khusus tersendiri yang musti dipahami kita. Ciri khusus ini tidak dilakukan secara jungkir balik, tetapi dilakukan secara step by step. Ilmu-ilmu pengetahuan apa saja yang terlibat kedalam kajian bioteknologi lingkungan, di antara nya: dasar-dasar taksonomi makhluk hidup, dasar-dasar mikrobiologi lingkungan, metabolisma, genetika, dan ekologi mikrobial. Di samping itu, pengetahuan lain juga terlibat, seperti: stokiometri dan energetika dari reaksi-reaksi mikrobial. Oleh karena itu, bioteknologi lingkungan merupakan ilmu aplikatif yang musti ditumbuhkembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan manusia ke arah kemakmuran.

Seperti kita ketahui kerusakan lingkungan kini tak kunjung reda. Berbagai faktor menambah tingkat kerusakan lingkungan yang mengakibatkan terancamnya eksistensi makhluk hidup yang bernaung di suatu lingkungan. Berbagai solusi telah dicanagkan, di sahkan dan diterapkan. Bahkan ada beberapa solusi yang saya kupas di artikel saya sebelumnya. Tapi rasanya ada solusi yang belum saya singgung, yaitu solusi dengan bioteknologi. Bioteknologi tidak hanya berperan di dalam proses pembuatan makanan, rekayasa genetika ataupun kedokteran, namun bioteknologi dapat pula menyelamatkan lingkungan. Lagi-lagi solusi kerusakan yang satu ini berbasis sains, sama halnya seperti teknologi hijau. Tentunya solusi yang ditawarkan oleh bioteknologi ini berlabel ramah lingkungan dan bisa dikatakan sebagai teknologi hijau. Hingga saat ini tidak sedikit masalah lingkungan yang menggunakan bioteknologi sebagai solusinya. Penerapannya bisa dilakukan pada restorasi ekologi, kontrol hama penyakit tanaman, pendeteksian polutan di darat, laut, dan udara, perombakan limbah menjadi energi, skreening toksisitas, serta konservasi dan pelestarian makhluk hidup. Perombakan limbah menjadi energi merupakan topik yang paling menarik dalam bioteknologi. Pasalnya kompleksitas dalam masalah ini cukup unik dan bisa dibilang rumit. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah teknik gasifikasi yang pada dasarnya adalah proses termikimia yang mengubah bimassa menjadi bahan bakar. Aplikasi Bioteknologi Lingkungan BIOGAS Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob). Komponen biogas antara lain sebagai berikut : 60 % CH4 (metana), 38 % CO2 (karbon dioksida) dan 2 % N2, O2, H2, & H2S. Pembuatan Biogas: Biogas dibuat dengan memanfaatkan kotoran ternak, karena itu dapat mengurangi pencemaran oleh kotoran ternak, dan sisa-sisa biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.

Bakteri yang membantu pembentukan biogas : a) Bakteri fermentative b) Bakteri asetogenik c) Bakteri metana Cacing Tanah Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Di Indonesia, cacing tanah telah banyak diternakkan. Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya. Manfaat Cacing Tanah Mengurangi pencemaran sampah organic Menyuburkan Tanah Memperbaiki aerasi dan struktur tanah Meningkatkan ketersediaan air tanah Makanan manusia

Mikroorganisme Pengolah Limbah Mikroorganisme dapat dimanfaatkan oleh kalangan industri untuk mengolah limbah sebelum limbahnya dibuang ke lingkungan. Misalnya, industri yang limbahnya mengandung lemak dapat memanfaatkan mikroorganisme pencerna lemak sebelum membuang limbah ke sungai. Proses pengolahan limbah dengan metode Biologi adalah metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme yang digunakan umumnya bakteri aerob Proses pengolahan air limbah a) Pengumpulan

b) c) d) e) f) g) h) i)

Pemilahan Pengaliran limbah Pengendapan Proses aerob Kucuran air Proses anaerob Sumber energy Pembuangan sampah

Dekomposisi Minyak Bumi Degradasi minyak bumi dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri, beberapa khamir, jamur, sianobakteria, dan alga biru. Mikroorganisme ini mampu menguraikan komponen minyak bumi karena kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya. Mikroorganisme ini berpartisipasi dalam pembersihan tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak bumi menjadi gas karbon dioksida (CO2). Sebagai contoh, bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi. Di dalam minyak bumi terdapat dua macam komponen yang dibagi berdasarkan kemampuan mikroorganisme menguraikannya, yaitu komponen minyak bumi yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme dan komponen yang sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Komponen minyak bumi yang mudah didegradasi oleh bakteri merupakan komponen terbesar dalam minyak bumi atau mendominasi, yaitu alkana yang bersifat lebih mudah larut dalam air dan terdifusi ke dalam membran sel bakteri. Jumlah bakteri yang mendegradasi komponen ini relatif banyak karena substratnya yang melimpah di dalam minyak bumi. Isolat bakteri pendegradasi komponen minyak bumi ini biasanya merupakan pengoksidasi alkana normal. Komponen minyak bumi yang sulit didegradasi merupakan komponen yang jumlahnya lebih kecil dibanding komponen yang mudah didegradasi. Hal ini menyebabkan bekteri pendegradasi komponen ini berjumlah lebih sedikit dan tumbuh lebih lambat karena kalah bersaing dengan pendegradasi alkana yang memiliki substrat lebih banyak. Isolasi bakteri ini biasanya memanfaatkan komponen minyak bumi yang masih ada setelah pertumbuhan lengkap bakteri pendegradasi komponen minyak bumi yang mudah didegradasi. Jenis Hidrokarbon yang Didegradasi Mikroba a) Hidrokarbon Alifatik Mikroorganisme pedegradasi hidrokarbon rantai lurus dalam minyak bumi ini jumlahnya relatif kecil dibanding mikroba pendegradasi hidrokarbon aromatik. Di antaranya adalah Nocardia, Pseudomonas, Mycobacterium,

khamir tertentu, dan jamur. Mikroorganisme ini menggunakan hidrokarbon tersebut untuk pertumbuhannya. Penggunaan hidrokarbon alifatik jenuh merupakan proses aerobik (menggunakan oksigen). Tanpa adanya O2, hidrokarbon ini tidak didegradasi oleh mikroba (sebagai pengecualian adalah bakteri pereduksi sulfat).

Gambar 1. Reaksi degradasi hidrokarbon alifatik b) Hidrokarbon Aromatik Banyak senyawa ini digunakan sebagai donor elektron secara aerobik oleh mikroorganisme seperti bakteri dari genus Pseudomonas. Metabolisme senyawa ini oleh bakteri diawali dengan pembentukan Protocatechuate atau catechol atau senyawa yang secara struktur berhubungan dengan senyawa ini. Kedua senyawa ini selanjutnya didegradasi menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus Krebs (siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.

Gambar 2. Reaksi degradasi hidrokarbon aromatik Faktor Pembatas Biodegradasi Kemampuan sel mikroorganisme untuk melanjutkan pertumbuhannya sampai minyak bumi didegradasi secara sempurna bergantung pada suplai oksigen yang mencukupi dan nitrogen sebagai sumber nutrien. Seorang ilmuwan bernama Dr. D. R. Boone menemukan bahwa nitrogen tetap merupakan nutrien yang paling penting untuk degradasi bahan bakar. Selain itu keaktifan mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti temperatur dan pH. Kondisi lingkungan yang tidak sesuai menyebabkan mikroba ini tidak aktif bekerja mendegradasi minyak bumi. Sebagai contoh, penambahan nutrien anorganik seperti fosfor dan nitrogen untuk area tumpahan minyak meningkatkan kecepatan bioremediasi secara signifikan.

BIOTEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN

Perkembangan bioteknologi secara umum sejalan dengan perkembangan di bidang biologi molekuler, peran bioteknologi selama satu dasa warsa ke belakang dan ke depan telah dan akan tetap memberikan dampak yang sangat besar pada bidang pertanian, kesehatan, lingkungan dan ekonomi pada umumnya. Indonesia mempunyai posisi strategis dalam memanfaatkan kekayaan alam, namun hingga kini peran bioteknologi masih jauh dari harapan. Oleh karena itu diperlukan suatu kesamaan persepsi dalam mengembangkan bioteknologi di Indonesia. Dengan banyaknya aktivitas industri dan kerusakan lingkungan selama lebih 20 tahun terakhir ini. Pengembangan bioteknologi ke depan mempunyai tugas untuk merehabilitasi kerusakan alam, membersihkan segala jenis pencemaran dan mengurangi dampak kerusakan. Bioteknologi lingkungan dapat menimbulkan efek negative dan positif.

Banyak bioteknologi yang dilakukan untuk bertujuan ramah lingkungan. Fenomena alam yang biasa saja kerap kali jadi inspirasi bagi peneliti untuk menciptakan teknologi ramah lingkungan. Alam sering memberi ide cemerlang bagi hidup manusia. Sebut saja proses pelapukan kayu, ranting, daun atau lainnya. Saat bahan-bahan itu melebur, terjadi pembusukan yang membuatnya hancur bersama alam. Tak ada sampah atau limbah. Bila ditelaah lebih detail, proses tersebut dimotori oleh mikroorganisme. Ada produk yang menggunakan jasa biotekonologi untuk menciptakan produk ramah lingkungan, produk tersebut adalah plastik ramah lingkungan. Plastik adalah benda yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Rasanya, kita tidak bisa lepas dari plastik karena plastik memang sangat sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sebagai pembungkus, tempat menyimpan sesuatu, tas, dan sebagainya. Jika plastik sudah tidak terpakai otomatis plastik tersebut dibuang. Terkadang sampah plastik dibuang begitu saja di sembarang tempat, padahal sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk memngurai atau hancur. Adakah plastik yang ramah lingkungan dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengurai? Mungkin pertanyaan itulah yang terlintas di benak kita? Sampah plastik sifatnya tidak mudah diurai oleh mikroba. Oleh karenanya plastik tidak mudah hancur atau busuk. Butuh waktu ratusan tahun agar plastik dapat terurai. Sampah plastik yang tertanam di tanah, akan menyebabkan tanah menjadi kurang subur. Plastik yang kita gunakan sehari-hari berasal dari petrochemicals yang tidak dapat diperbaharui. Sampah yang menumpuh dan hanya diuruk atau ditimbun dengan tanah akan sangat berbahaya. Sampah yang membusuk dapat menghasilkan gas. Dengan bioteknologi, telah tercipta plastik ramah lingkungan yang mudah terurai oleh mikroba.
Plastik tersebut dikenal dengan nama Bioplastic. Bahan-bahan pembuatan bioplastic adalah bahan ramah lingkungan atau biodegradable plastic. Bahan-bahannya pun sangat mudah ditemukan, khususnya di wilayah Indonesia. Bahan mentah untuk bioplastik adalah tepung dan minyak yang bersumber dari tanaman seperti jagung dan gula bit. Saat ini, kami mampu membuat rantai molekul berbahan dasar tanaman yang sama dengan rantai molekul bahan sepadan yang berasal dari minyak bumi.

DAFTAR PUSTAKA http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/bioteknologi-tanah/ Martomidjojo, Russamsi. 2009. Bioteknologi Lingkungan. Univeritas Kuningan (http://russamsimartomidjojocentre.blogspot.com/2009/10/bioteknologi-lingkungan.html) Arisanti, Yeni. 2011. Bioteknologi Solusi Kerusakan Lingkungan Ala Sains di Era Modern. Surabaya (http://elh.sebelas.net/2011/05/27/bioteknologi-solusi-kerusakan-lingkungan-ala-sainsdi-era-modern/) Azizah, Dita Nur. 2011. Bioteknologi Yang Ramah Lingkungan. Universitas Gajah Mada Yogyakarta (http://pmiigadjahmada.wordpress.com/2011/04/08/bioteknologi-yang-ramahlingkungan/) Isroi, S.Si, M.Si. 2005. Bioteknologi Mikroba Untuk Pertanian. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Bogor (http://www.ipard.com/art_perkebun/feb21-05_isr-I.asp) Yunus. 2012. Bioteknologi Lingkungan. http://bengkelbiologi.blogspot.com/2012/02/bioteknologi-lingkungan.html Grup Berita Duisburg. Bioplastik Potensi dan Tinjauan . German (http://magazine.godsdirectcontact.net/indonesian/178/ga_44.htm) Hadi, Sapto Nugroho. 2003. Degradasi Minyak Bumi via Tangan Mikroorganisme. Situs Kimia Indonesia (http://www.chem-istry.org/artikel_kimia/kimia_material/degradasi_minyak_bumi_via_tangan_mikroorganisme/)