Anda di halaman 1dari 14

ACARA II DINAMIKA FLUIDA

A. Pendahuluan 1. Latar belakang Tiga keadaan dasar, atau fasa materi adalah padat, cair, gas. Kita dapat membedakan ketiga fase ini sebagai berikut : fase padat mempertahankan suatu bentuk dan ukuran yang tetap: sekalipun suatu gaya yang besar di kerjakan pada benda padat, ia tidak akan mudah berubah bentuk atau volumenya. Fase cair tidak mempertahankan bentuk yang tetap ia mengikuti bentuk wadahnya- tetapi seperti halnya fase padat, pada fase ini tidak mudah dapat di mampatkan, dan volumenya dapat di ubah jika hanya di kerjakan pada gaya yang sangat besar. Fluida boleh didefinisikan sebagai suatu zat yang terus menerus berubah benruk apabila mengalami tegangan geser, fluida tidak mampu menahan tegangan geser tanpa berubah bentuk. Umunya, makin besar laju deformasi fluida, makin besar pula tegangan geser untuk fluida tersebut. Viskositas atau kekentalan adalah ukuran untuk menyatakan hambatan atau ketahanan fluida terhadap deformasi. Dinamika fuida (fluida dynamics) merupakan pelajaran tentang fluida yang bergerak, yang jauh lebih kompleks. Bahkan dinamika fluida ini merupakan cabang mekanika yang paling kompleks. Untungnya, kita dapat menganalisis beberapa keadaan penting dengan menggunakan model-model ideal sederhana dan prinsip-prinsip umum seperti hukum Newton dan kekekalan energi. Aplikasi percobaan dinamika fluida ini adalah pada irigasi pertanian, yang membutuhkan perhitungan yang tepat agar

penggunaan dan pengukuran debit air dapat sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga didapatkan hasil yang maksimal.

2. Tujuan Praktikum Tujuan praktikum acara II. Dinamika Fluida adalah : a. Menghitung besar debit saluran dengan pendekatan dan laju aliran luas penampang. b. Mengetahui besarnya factor koreksi/ correction factor (Cf) dari system pengukuran yang di gunakan. 3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara I Kalorimetri dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 24 September 2012 pada pukul 07.30-12.00 WIB bertempat di Laboraturium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka Konsep tekanan sangat berguna terutama berurusan dengan fluida. Sebuah fakta ekperimental menunjukkan bahwa fuida menggunakan tekanan kesemua arah. Pada titik tertentu dalam fluida diam, takanan sama untuk semua arah. Tekanan pada salah satu sisi harus sama dengan tekanan pada sisi yang berlawanan. Jika fluida tidak mengalir, maka tekanan harus sama(Giancoli, 1995). Ciri-ciri karakterisitik umum dari fulida adalah aliran fluida dapat merupakan aliran tunak (steady) atau tak tunak (non-steady). Bila kecepatan fluida v di setiap titik yang diberikan adalah konstan di dalam waktu, maka gerak fluida tersebit dikatakan aliran tunak. Yakni, setiap titik yang di berikan di dalam aliran tunak maka kecepatan setiap partikel fluida lain yang lewat selalu sama. Aliran fluida dapat merupakan aliran berolak (rotationa) atau aliran tak berolak (irratational). Jika elemen fluida di setiap titik tidak mempunyai kecepatan sudut netto terhadap titik tersebut, maka aliran fluida tersebut adalah aliran tak berolak. Aliran fluida termampatkan atau tak termampatkan. Cairan-cairan biasanya dapat di tinjau sebagai yang mengalir secara tak temampatkan.akhirnya , aliran

fluida dapat merupakan aliran kental (viscous) atau kental (nonviscous). Viskositas gerak fluida adalah analogi dari gesekan di dalam gerak benda padat. Di dalam suatu bagian sempitdari tabung maka garis-garis arus haruslah berdesak-desakan lebih rapat daripada di dalam suatu bagian yang lebar. Maka, kita menyimpulkan bahwa garis-garis arus yang jarak antaranya satu sama lain adalah lebar menunjukkan daerah-daerah laju rendan dan garis-garis arus yang jarak antarnaya satu sama lain adalah sangat dekat menunjukkan daerah-daerah laju tinggi(Halliday, 1978). Semua fluida sejati mempunyai atau menunjukkan sifat-sifat atau karakteristik-karakteristik yang penting dalam dunia rekayasa. Kerapatan, komperisibilitas, kapilaritas, dan tekanan uap. Adalah sifat-sifat yang diminati untuk fluida-fluida dalam keadaan diam; namun untuk fluidafluida sejati yang bergerak masih ada sebuah sifat lagi yang penting yaitu viskositas ( Oison, 1993) Fluida berbeda dengan zat padat, yaitu tak dapat menopang tegangan geser. Jadi, fluida berubah bentuk untuk mengisi tabung dengan bentuk bagaimanapun. Bila sebuah benda tercelup dalam fluida seperti air, fluida mengadakan sebuah gaya yang tegak lurus permukaan benda disetiap titik pada permukaan. Jika benda cukup kecil sehingga kita dapat mengabaikan tiap perbedaan kedalaman fluida, gaya per satuan luas yang diadakan oleh fluida sama di setiap titik pada permukaan benda. Gaya per satuan luas ini dinamakan tekanan fluida P : P= (Tipler, 1991). Bluff body ditempatkan didalam saluran dengan berbagai pengaturan, misalkan saja penempatan sebuah silinder dengan diameter kecil sebagai pengontrol aliran sebelum melewati bluff body utama. Hal tersebut biasanya dilakukan unruk mengurangi atau mereduksi gaya yang diakibatkan fluida pada bluff body utama. Gaya-gaya yang ditimbulkan antara lain gaya geser, gaya normal, dan gaya hambat. Adapun

penggunaan saluran sempit turut memepengaruhi karakteristik fluida (Makka, 2012). Laju aliran volume disebut juga debit aliran (Q) yaitu jumlah volume aliran per satuan waktu. Debit aliran dapat dituliskan pada persamaan sebagai berikut : Q=A.V Dimana nilai Q tergantung dari luas penampang (A) dari fluida mengalir dan kecepatan aliran fluida (V). Selain itu debitaliran (Q) bisa juga didapat dari persamaan Q= Dimana debit adalah jumlah volume fluida yang mengalir dalam periode waktu tertentu (Wicaksono). Menggunakan pelampung memerlukan suatu nilai pembanding antara kecepatan aliran gerakan pelampung terhadap kecepatan aliran. Besarnya nilai itu setipa saluran akan dapat berbeda-beda tergantung jenis pelampung dan kedalaman aliran. Faktor lain yang menentukan ketelitian pengukuran debit menggunakan pelampung adalah panjang lintasan pelampung di panjang saluran tertentu yang diukur. Oleh karena itu pengukuran panjang lintasan pelampung juga perlu perhatian khusus karena pelampung belum tentu lurus sepanjang arah saluran, tetapi umunya pelampung melintas berbelok dan tidak lurus. Faktor lokasi, angin dan manusia juga akan mempengaruhi hasil pengukuran (Soewarno). Dinamika fluida atas permukaan peregangan adalah penting dalam proses ekstrusi. produksi bahan terpal muncul dalam sejumlah proses manufaktur industri dan mencakup baik logam dan lembaran polimer. Contoh banyak dan mereka termasuk pendingin penangas plat logam yang tak terbatas ina colling, lapisan batas di sepanjang conveyers penanganan material, extruction aerodinamis dari lembaran plastik, lapisan batas di sepanjang film cair dalam proses kondensasi, produksi kertas, meniup kaca, logam pemintalan , dan menggambar film plastik, untuk nama hanya

beberapa. kualitas dari produk akhir depens pada laju perpindahan panas pada permukaan peregangan (Govardhan, 2012). Fenomena aliran di sekitar dua badan menggertak bersama-sama atau in side-by-side pengaturan adalah salah satu dari struktur masalah yang menarik interaksi cairan dalam rekayasa. Seperti yang didefinisikan oleh Zdravkovich (1987), gangguan yang dibawa oleh pengaturan mantan disebut gangguan bangun dan dengan susunan yang terakhir disebut gangguan kedekatan. silinder-seperti struktur menemukan aplikasi teknologi banyak baik dalam arus udara dan air (Kumar, 2009) Arus ekspansi mendadak telah menjadi topik penyelidikan banyak cairan newtonian, khususnya dalam kondisi bergolak-aliran, di mana aliran adalah secara bersamaan geometris sederhana dan dinamis kompleks dengan daerah aliran geser dan ekstensional dalam kombinasi dengan semua mekanisme produksi yang bergolak, di disipasi dan diffusion (Poole, 2009). Pada saat fluida melewati pipa mengecil mendadak horisontal, maka akan terjadi perbedaan kecepatan aliran pada lapis batas bagian luar, sehingga akan terjadi perbedaan (Muhajir, 2009). Aliran atau debit fluida (J) : ketika suatu fluida yang mengisi sebuah pipa mengalir di dalam pipa dengan laju rata-rata v, aliran atau debit adalah J = A. V Di mana A adalah luas penampang melintang pipa. Satuan J adalah m3/ dt dalam SI dan ft3/ dt dalam satuan umum Amerika. Kadang-kadang J di sebut sebagai laju aliran atau laju debit (Bueche, 2006).

C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja 1. Alat a. Set pompa beserta selang b. Model saluran (yang telah di modifikasi) c. Alat ukur : mistar, ember, stopwatch.

d. Penampung 2. Bahan a. Pelampung b. Beban c. Air 3. Cara Kerja a. Menyusun peralatan dan bahan sesuai dengan susunan percobaan. b. Mengukur debit terukur dengan cara mengisi ember dengan air hingga mencapai volume 8L dan menghitung waktunya. c. Mengukur debit saluran (tanpa beban) dengan cara menghitung waktu jalannya pelampung dari awal hingga akhir, mengulang 3x dengan mengubah ukuran penampang menjadi 0,65 ; 0,75 : 0,85 : 1,05. d. Mengulangi langkah no. 3 tetapi member beban pada pelampung.

P Gambar 2.1 Gambar Model Saluran

Gambar 2.2 Gambar pelampung tanpa beban dan dengan beban

0.65 dm 1.4 dm

0.75 dm 1.4 dm

0.85 dm

1.05 dm

1.4 dm

1.4 dm

Gambar 2.3 Gambar papan penampang

D. Hasil dan Analisis Hasil Percobaan 1. Data hasil percobaan Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Debit Terukur No. Waktu (detik) 14,8 14,7 14,5 Qa rata-rata : Sumber : Laporan Sementara Volume (dm) 8 8 8 Qa (dm/dt) 0,540 0,544 0,551 0,545

Tabel 2.2 Hasil Pengukuran Debit Saluran No. Pelampung Ketinggian (cm) 1. 0,65 2. 3. Tanpa 4. Beban 0,75 5. 6. 7. 0,85 8. 9. 10. 1,05 11. 12. 13. 0,65 14. 15. 16. 0,75 17. 18. Dengan 19. Beban 0,85 20. 21. 22. 1,05 23. Waktu (s) 8,8 11,1 9,9 10,4 10,9 11,6 11,3 10,7 11,4 15 15,3 13,7 9,8 10,5 8,6 11,7 10,1 11 12,2 11,6 12,3 11,5 11 V (cm) 0,568 0,450 0,505 0,481 0,459 0,431 0,442 0,467 0,438 0,333 0,327 0,365 0,510 0,476 0,581 0,427 0,495 0,455 0,410 0,431 0,406 0,435 0,455 A (dm) 0,91 Qu (dm/dt) 0,518 0,409 0,459 0,505 0,428 0,425 0,526 0,555 0,521 0,489 0,481 0,536 0,646 0,433 0,529 0,448 0,519 0,478 0,783 0,823 0,775 0,639 0,669

1,05

1,91

1,47

0,91

1,05

1,91

1,47

24. Sumber : Laporan Sementara

14

0,357

0,525

Tabel 2.3 Hasil Perhitungan Cf (Correction Factor) No. Pelampung Qa (dm/dt) 1. 0,545 Tanpa 2. 0,545 Beban 3. 0,545 4. 0,545 1. 0,545 Dengan 2. 0,545 Beban 3. 0,545 4. 0,545 Sumber : Laporan Sementara Qu (dm/s) 0,426 0,480 0,534 0,502 0,475 0,481 0,793 0,611 Cf 1,180 1,135 1,020 1,086 1,147 1,133 0,687 0,892

E. Pembahasan Laju aliran volume disebut juga debit aliran (Q) yaitu jumlah volume aliran per satuan waktu. Debit aliran dapat dituliskan pada persamaan sebagai berikut : Q=A.V Dimana nilai Q tergantung dari luas penampang (A) dari fluida mengalir dan kecepatan aliran fluida (V). Selain itu debitaliran (Q) bisa juga didapat dari persamaan Q= Dimana debit adalah jumlah volume fluida yang mengalir dalam periode waktu tertentu. Pada percobaan yang telah dilakukan ini yang mempengaruhi nilai Cf adalah tinggi penampang, kecepatan aliran, panjang lintasan serta jenis pelampung yang digunakan. Namun pada percobaan ini ditemukan faktorfaktor lain yang ternyata juga mempengaruhi nilai Cf yaitu faktor lokasi, angin dan manusia juga akan mempengaruhi hasil pengukuran. Hasil percobaan debit terukur menunjukkan data yang berbedabeda. Telah dilakukan 3 kali percobaan dan didapatkan nilai debit terukur

sebesar 0,540 dm3/ dt, 0,544 dm3/dt, dan 0,551 dm3/ dt. Dan didapatkan hasil nilai debit terukur rata-rata sebesar 0,545 dm3/ dt. Sedangkan hasil pada percobaan debit saluran dengan pelampung tanpa beban dan dengan beban pada penampang 0,91 m2 memiliki nilai debit saluran sebesar 0,462 dm3/ dt dan 0,536 dm3/ dt. Pada penampang 1,05 m2 memiliki nilai debit saluran sebesar 0,452 dm3/ dt dan 0,482 dm3/ dt. Pada penampang 1,91 m2 memiliki nilai debit saluran sebesar 0,534 dm3/ dt dan 0,794 dm3/ dt. Serta pada penampang 1,47 m2 memiki nilai sebesar 0,502 dm3/ dt dan 0,629 dm3/ dt. Dari hasil percobaan di dapatkan nilai-nilai Cf dengan pelampung tanpa beban dan dengan beban pada penampang 0,91 m3 adalah sebesar 1,180 dan 1,147. Pada penampang 1,05 m2 memiliki nilai sebesar 1,135 dan 1,133. Pada penampang 1,91 m2 memiliki niali Cf sebesar 1,020 dan 0,687. Pada penampang 1,47 m2 memiliki nilai sebesar 1,086 dan 0,892. Dari hasil percobaan tersebut didapat hasil nilai nilai debit saluran. Nilai debit saluran pada percobaan dengan menggunakan pelampung tanpa beban dengan pelampung yang menggunakan bebeban terdapat perbedaan. Pada nilai debit saluran dengan menggunakan pelampung memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan pelampung yang tanpa beban. Sedangkan nilai Cf berbanding terbalik dengan nilai debit saluran, karena pada nilai Cf didapatkan hasil pada percobaan dengan menggunakan pelampung tanpa beban memiliki nilai Cf yang lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan beban. Menggunakan pelampung memerlukan suatu nilai pembanding antara kecepatan aliran gerakan pelampung terhadap kecepatan aliran. Besarnya nilai itu setipa saluran akan dapat berbeda-beda tergantung jenis pelampung dan kedalaman aliran. Faktor lain yang menentukan ketelitian pengukuran debit menggunakan pelampung adalah panjang lintasan pelampung di panjang saluran tertentu yang diukur. Oleh karena itu pengukuran panjang lintasan pelampung juga perlu perhatian khusus

karena pelampung belum tentu lurus sepanjang arah saluran, tetapi umunya pelampung melintas berbelok dan tidak lurus. Cf

1.5 1 0.5 0 0 2 4 6 Tanpa beban Dengan Beban


(n)

Pada grafik tersebut terlihat adanya penurunan nilai Cf pada saat pengulangan yang ketiga. Hal ini di mungkinkan karena adanya faktorfaktor pengganggu seperti angin. Kemudian dapat dilihat pada grafik bahwa nilai Cf pada pelampung yang memakai beban mengalami penurun nilai Cf yang lebih besar dibandingkan dengan pelampung yang tanpa beban. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Cf juga di pengaruhi oleh pelampung yang digunakann di dalam percobaan. Aplikasi percobaan dinamika fluida ini adalah pada irigasi pertanian, yang membutuhkan perhitungan yang tepat agar penggunaan dan pengukuran debit air dapat sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga didapatkan hasil yang maksimal.

F. Kesimpulan 1. Jadi laju aliran (v) dan luas penampang (A) mempengaruhi besarnya debit saluran (Q) 2. Nilai pengamatan debit terukur rata-rata adalah 0,545 dm3/ dt. 3. Jadi, besarnya Cf (correction factor) pada percobaan kami dari system pengukuran yang di gunakan. a. Tanpa beban -pada tinggi penampang 0,65 dm = 1,180

-pada tinggi penampang 0,75 dm = 1,135 -pada tinggi penampang 0,82 dm = 1,020 -pada tinggi penampang 1,05 dm = 1,086 b. Dengan beban -pada tinggi penampang 0,65 dm = 1,147 -pada tinggi penampang 0,75 dm = 1,133 -pada tinggi penampang 0,82 dm = 0,687 -pada tinggi penampang 1,05 dm = 0,892 4. Ciri-ciri karakterisitik umum dari fulida adalah aliran fluida dapat merupakan aliran tunak (steady) atau tak tunak (non-steady). 5. Ketinggian penampang mempengaruhi nilai Cf. 6. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah kecepatan aliran fluida, tinggi penampang, panjang lintasan dan pelampung yang digunakan. 7. Besarnya faktor koreksi pada percobaan dengan menggunakan beban memiliki nilai lebih kecil dibandingkan dengan pelampung yang tanpa beban. 8. Faktor lain yang mempengaruhi hasil percobaan adalah faktor lokasi, angin dan manusia juga akan mempengaruhi hasil pengukuran. 9. Fluida yang digunakan dalam acara ini adalah air. 10. Aplikasi dinamika fluida pada pangan adalah pada proses irigasi sawah.

2. Analisis Hasil Percobaan a. Pengukuran Debit Pompa 1. Qa = V1 / t1 = 8/ 14,82 = 0,540 dm 2. Qa = V2 / t2 = 8/ 14,7 = 0,544 dm 3. Qa = V3 / t3 = 8/ 14,5 = 0,551 dm Qa rata-rata = (0,540+0,544+0,551) / 3 = 0,545 dm/ dt b. Pengukuran Debit saluran Qu tanpa beban 1. Qu = A1 x V1 = 0,91*0,586 = 0,518 dm/dt 2. Qu = A2 x V2 = 0,91*0,450 = 0,409 dm/dt 3. Qu = A3 x V3 = 0,91*0,505 = 0,459 dm/dt 4. Qu = A4 x V4 = 1,05*0,481 = 0,505 dm/dt 5. Qu = A5 x V5 = 1,05*0,459 = 0,482 dm/dt 6. Qu = A6 x V6 = 1,05*0,431 = 0,452 dm/dt 7. Qu = A7 x V7 = 1,19*0,442 = 0,526 dm/dt 8. Qu = A8 x V8 = 1,19*0,467 = 0,555 dm/dt 9. Qu = A9 x V9 = 1,19*0,483 = 0,521 dm/dt 10. Qu = A10 x V10 = 1,47*0,333 = 0,489 dm/dt 11. Qu = A11 x V11 = 1,47*0,327 = 0,481 dm/dt 12. Qu = A12 x V12 = 1,47*0,365 = 0,536 dm/dt Qu dengan beban 1. Qu = A1 x V1 = 0,91*0,510 = 0,464 dm/dt 2. Qu = A2 x V2 = 0,91*0,476 = 0,433 dm/dt 3. Qu = A3 x V3 = 0,91*0,581 = 0,529 dm/dt 4. Qu = A4 x V4 = 1,05*0,427 = 0,448 dm/dt 5. Qu = A5 x V5 = 1,05*0,495 = 0,519 dm/dt 6. Qu = A6 x V6 = 1,05*0,455 = 0,478 dm/dt 7. Qu = A7 x V7 = 1,19*0,410 = 0,783 dm/dt 8. Qu = A8 x V8 = 1,19*0,431 = 0,823 dm/dt 9. Qu = A9 x V9 = 1,19*0,406 = 0,775 dm/dt 10. Qu = A10 x V10 = 1,47*0,435 = 0,639 dm/dt

11. Qu = A11 x V11 = 1,47*0,455 = 0,669 dm/dt 12. Qu = A12 x V12 = 1,47*0,357 = 0,525 dm/dt c. Pengukuran Faktor Koreksi(Cf) Cf tanpa beban 1. Cf 2. Cf 3. Cf 4. Cf = Qa1 / Qu1 = 0,545 / 0,426 = 1,180 = Qa2 / Qu2 = 0,545 / 0,480 = 1,135 = Qa3 / Qu3 = 0,545 / 0,534 = 1,020 = Qa4 / Qu4 = 0,545 / 0,502 = 1,086

Cf dengan beban 1. Cf 2. Cf 3. Cf 4. Cf = Qa1 / Qu1 = 0,545 / 0,475 = 1,147 = Qa2 / Qu2 = 0,545 / 0,481 = 1,133 = Qa3 / Qu3 = 0,545 / 0,793 = 0,876 = Qa4 / Qu4 = 0,545 / 0,611 = 0,892

DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Frederick J & Eugene Hecht. 2006. Teori dan Soal-soal Fisika Universitas Edisi Kesepuluh. Erlangga. Jakarta. Giancolli, Douglas C. 1997. Fisika Jilid 1 Edisi Empat. Erlangga. Jakarta. Govardhan, K & N. Kishan. 2012. Unsteady MHD Boundary Layer Flow of an Incompressible Micropolar Fluid Over a Stretching Sheet. Jurnal of Applied Fluid Mechanics, Vol. 5, No. 3, pp. 23-28, 2012. Halliday, David. 1978. Fisika Edisi Ketiga. Erlangga. Jakarta. Kumar, M.B Shyam & S. Vengadesan.2009. Large Eddy Simulation of Flow Interference Between Two Unequal Sized Square Cylinders. International Jurnal of Computational Fluid Dynamics Vol. 23, No.10, Desember 2009, 671-686. Makka, Akbar Masyian & Wawan Aries Widodo. Studi Ekperimen Aliran Melintasi Silinder Sirkular Tunggal dengan Bodi Pengganggu Berbentuk Silinder yang Tersusun Tandem dalam Saluran Sempit Berpenampang Bujur Sangkar. Jurnal Teknik ITS Vol. 1 , No. 1, (Sept, 2012) ISSN :2301-9271. Mujahir, Khairul. 2009. Karakteristik Aliran Fluida Gas-Cair melaui Pipa Sudden Contraction. Jurnal Teknologi, Volume 2 No.2, Desember 2009, 176-184. Oison, Reuben M & Steven J. Wright. 1990. Dasar-dasar Mekanika Fluida Teknik Edisi Kelima. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Poole, R.J dkk. 2009. The Effect Of Expansion Ratio For Creeping Expansion Flows Of UCM Fluids. J. Non-Newtonian Fluid Mech.163 (2009) 35-44. Soewarno & Petrus Syariman. Persamaan Empiris untuk Menghitung Debit Slauran Irigasi Jatiluhur. Bul Pusair. Tippler, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta. Wicaksono, Rizky Hario. Variasi Jarak Nozel Terhadap Perubahan Putaran Turbin Pleton. Jurusan Teknik mesin Universitas Gunadarma.