Anda di halaman 1dari 6

MODUL 4 Metode Magnetotelurik

Wahyu Dwi N, Dini Suci Lestari, Kiagus Aufa Ibrahim, Aziz Ainun N, M Abdurachman S, Tubagus Abid A, Raymond Tanumiharja, Rahmat Maulana 10210084, 10210019, 10210024, 10210048, 10210060, 10210071, 10210078, 10210101 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia Email: wahyu.dwi.n@live.com Asisten: Rahman Nurhakim (10209039) Habibi Abdillah (10209101) Tanggal Praktikum: 07-04-2013
Abstrak Tujuan praktikum kali ini adalah untuk memahami prinsip kerja metoda magnetotellurik, prinsip kerja akuisisi data magnetotellutik serta mampu melakukan interpretasi kualitatif data magnetotellurik.. Metoda magnetotellurik (MT) adalah suatu metoda dari geofisika yang bersifat pasif yang memanfaatkan medan EM alami sebagai sumber gelombang atau energi untuk mengetahui struktur tahanan jenis bawah permukaan. Percobaan kali ini dibagi 2 yaitu ploting data rho xy dan rho yx terhadap perioda serta ploting data fasa xy dan fasa yx terhadap perioda. Percobaan kedua adalah menggunakan software ip2win untuk mendapatkan resistivitas bahan penyusun lapisan. Hasil dari praktikum kali ini adalah mampu menginterpretasikan lapisan bawah permukaan dari resisitivitas bahan yang didapatkan. Kata Kunci: Magnetotellurik, Skin Depth, Static Shift.

I.

Pendahuluan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk memahami prinsip kerja metoda magnetotellurik, prinsip kerja akuisisi data magnetotellutik, mampu menjelaskan pengolahan data dan pemodelan data pada magnetotellurik serta mampu melakukan interpretasi kualitatif data magnetotellurik. Metoda magnetotellurik (MT) adalah suatu metoda dari geofisika yang bersifat pasif yang memanfaatkan medan EM alami sebagai sumber gelombang atau energi untuk mengetahui struktur tahanan jenis bawah permukaan. Medan EM yang digunakan mempunyai rentang frekuensi yang panjang sehingga mempu menyelidiki bawah permukaan dari kedalaman puluhan hingga ribuan meter. Sumber alami medan EM berasal dari tiga sumber bergantung frekuensi yaitu aktivitas petir (>1Hz), resonansi lapisan ionosfer bumi (<1Hz) dan bintik hitam matahari (<<1Hz).

Prinsip kerja dari metoda ini adalah proses induksi elektromagnetik yang terjadi pada anomaly bawah permukaan.medan EM yang menembus bawah permukaan akan menginduksi anomaly konduktif bawah permukaan bumi sehingga menghasilkan E dan magnetic sekunder (arus eddy), yang kemudian akan direkam oleh alat magnetotellurik. Kontras resistivitas yang besar di antara atmosfer bumi dan permukaan bumi mensyaratkan bahwa gelombang EM merambat vertical di bawah permukaan. Berdasarkan pada sifat penjalaran medan EM pada anomaly konduktif, kedalaman penetrasi bergantung pada frekuensi dan resistivitas material bawah permukaan. Material yang lebih resistivitas yang kecil mempunyai daya tembus yang kecil, sedangkan medan EM yang mempunyai frekuensi yang tinggi mempunyai daya tembus yang kecil. Secara umum, gelombang EM pada metoda ini dapat diturunkan dari persamaan Maxwell berikut:

(1)

(2) (3) (4)

Untuk medium homogeny isotropis berlaku: ; dan dengan: E = intensitas medan listrik B = induksi medan magnetic H = intensitas medan magnetic J = rapat arus listrik D = perpindahan dielektrik = rapat muatan listirk = permeabilitas magnetic = permitivitas listrik = konduktivitas listrik. Berikut ini adalah asumsi dan pendekatan yang digunakan adalah: 1) Bumi tidak membangkitkan medan EM tetapi hanya menyerap medan EM 2) Sumber medan dibangkitkan oleh sistem arus ionosfer skala besar yang relative jauh dari permukaan bumi, sehingga dapat dianggap sebagai gelombang bidang. 3) Tidak ada akumilasi muatan bebas. 4) Perpindahan E adalah kuasi-statik untuk sounding periode MT, sehigga induksi medan EM adalah proses difusi di dalam bumi. 5) Variasi permitivitas listrik dan permeabilitas megnetik batuan diasumsikan tidak siginifikan dibandingkan variasi konduktivitas bulk batuan. 6) Di bawah permukaan tanah tidak terdapat sumber muatan. Dengan melakukan operasi curl pada persamaan maxwell diatas, sehigga diperoleh persamaan berikut: ( ( ) ) (5) (6)

Dengan dengan menggunakan pendekatan ketiga maka diperoleh . Jika gelombang merambat ke arah sumbu z, sehingga medan H dapat dinyatakan sebagai berikut: . Dimana E0 dan H0 adalah E dan H pada permukaan (z=0). Skin depth () adalah kedalama dimana amplitude medan berkuran hingga 1/e atau sekitar 37%. (7)

Untuk kasus struktur 1-D, variasi hanya bergantung pada kedalaman, sehingga tidak ada perbedaan E dalam arah x dan arah y, begitu juga H nya. Demikian berlaku:

Sehingga resistivitas semu dan fase pada 1-D dalam bentuk impedansi gelombang di permukaan adalah | | |
( ) | ( )

| |

(8) (9)

Sedangkan pada kasus 2-D, besar E dan H dipengaruhi oleh arah pengukuran yang dilakukan terhadap arus jurus/strike. Oleh karena intu, gelombang EM dapat didekomposisi menjadi 2 jenis polarisasi, mode Transverse Electric (TE) yaitu jika medan listrik searah strike dan Transverse Magnetic (TM) yaitu jika medan listrik tegak lurus strike.

inversi dimana parameter efek static shift dilibatkan sebagai parameter pemodelan inversi. Pengambilan data MT dilakukan melalui pengukuran simultan komponen orthogonal dari E dan H, yang terdiri dari komponen x dan y. arah x positif biasanya digunakan sebagai acuan dalam arah utara, sedangkan arah y positif sebagai arah timur.

Gambar 1. Polarisasi TE dan TM metoda MT pada 2-D

Dengan demikian untuk resistivitas 2-D berlaku:

kasus

struktur

Sehingga resistivitas semu dan fase pada kasus 2-D dengan mengacu pada gambar 1 adalah Modus TE: | | ; Modus TM: | | ; | | (11) | | (10)

Gambar 2. Konfigurasi Pengukuran E dan H pada metoda MT Tabel 1. Resistivitas Material

Static shift adalah fenomena dimana terjadinya perubahan resistivitas semu secara vertical dalam kurva sounding. Fenomena tersebut disebabkan oleh adanya anomaly konduktif kecil dipermukaan yang menyebabkan terjadinya pengumpulan muatan pada batas anomaly tersebut. pengumpulan tersebut akan menyebabkan penurunan medan listrik yang terukur sehingga akan mempengaruhi impedansi yang terukur. Cara untuk menghilangkan efek static shift adalah dengan melakukan koreksi terhadap struktur dangkal dimana data responnya dapat diperoleh dari pengukuran TDEM atau metoda lain yang tidak terpengaruh efek ini atau melakukan koreksi secara langsung dalam proses pemodelan

Material Udara Pirit Kwarsa Kalsit Garam Batu Granit Andesit Basal Gamping Batu Pasir Batu Tulis Pasir Lempung Air Tanah Air Asin Magnetit Kerikil Kering Aluvium Kerikil

Resistivity 0 0.01-100 500-800000 1012-1013 30-1013 200-10000 1.7x102-4.5x105 200-100000 500-10000 200-8000 20-2000 1-1000 1-100 0.5-300 0.2 0.01-1000 600-10000 10-800 100-600

II. Metode Percobaan Setelah mendapatkan data magnetotellurik dari asisten yang berupa Zxy real, Zxy imaginer, Z yx real dan Zyx imaginer. Data tersebut dihitung dengan menggunakan persamaan (8) dan (9) hingga mendapatkan data restivitas semu (xy dan yx) dan fasanya (xy dan yx). Resistivitas semu dan fasanya diplot terhadap periodanya. Percobaan kedua adalah menginterpretasi lapisan bawah permukaan dengan menggunakan program ip2win dengan menggunakan data yang telah disediakan. Pada data tersebut terdapat 5 titik yang akan diatur layernya dari 2 layer sampai 4 layer tiap titiknya hingga mencapai error yang paling kecil. Dari data yang telah diatur tersebut didapat resistivitas bahannya dan dari data tersebut diinterpretasikan hingga mendapatkan jenis batuan yang ada di bawah permukaan dari data resistivitasnya. III. Data dan Pengolahan
Gambar 5. Grafik Site Y Perioda Terhadap xy dan yx

Gambar 4. Grafik Site X Perioda Terhadap xy dan yx

Gambar 3. Grafik Site X Perioda Terhadap xy dan yx Gambar 5. Grafik Site Y Perioda Terhadap xy dan yx

Tabel 4. Resistivity dan Error untuk 3 Layer Titik 1 2 3 4 5 Resistivitas 31.4 33.2 108 37 12 Semu 16.7 134 61.7 46.1 217 (m) 116 787 Error (%) 4.73 10.9 4.14 6.43 5.55 Gambar 7. Pseudo Cross Section dan Resistivity Cross Section Untuk 2 Layer Tabel 2. Resistivity dan Error untuk 2 Layer Titik 1 2 3 4 5 Resistivitas 14.2 34.1 31.8 89.6 81.7 Semu 13.4 132 112 1116 46.6 (m) Error (%) 5.59 18.8 25.3 12.3 236 Tabel 3. Material Penyusun Bawah Permukaan Berdasarkan Data Diatas
Titik Material 1 Pirit, Pasir, Lempung, Air Tanah, Magnetit, Aluvium 2 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempung, Air Tanah, Magnetit, Aluvium, kerikil 3 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempung, Air Tanah, Magnetit, Aluvium, kerikil 4 Pirit, Kwarsa, Garam Batu, Granit, Andesit, Basal, Gamping, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lempung, Air Tanah, Magnetit, Kerikil Kering, Aluvium, Kerikil 5 Pirit, Kwarsa, Kalsit, Garam Batu, Granit, Andesit, Basal, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lemmpung, Air Tanah, Magnetit, Aluvium, Kerikil

Tabel 5. Material Penyusun Bawah Permukaan Berdasarkan Data Diatas


Titik Materi al 1 Pirit, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m 2 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Kerikil 3 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Kerikil 4 Pirit, Kwarsa, Garam Batu, Granit, Basal, Gampin g, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Kerikil Kering, Aluviu m, Kerikil 5 Pirirt, Garam Batu, Granit, Basal, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Kerikil

Gambar 9. Pseudo Cross Section dan Resistivity Cross Section Untuk 4 Layer Tabel 6. Resistivity dan Error untuk 4 Layer Titik 1 2 3 4 5 Resistivitas 12.2 37.6 33.2 49.7 40.6 Semu 16.4 134 65.2 832 281 (m) 197 104 Error (%) 4.62 10.7 3.36 5.19 3.33

Gambar 8. Pseudo Cross Section dan Resistivity Cross Section Untuk 3 Layer

Tabel 7. Material Penyusun Bawah Permukaan Berdasarkan Data Diatas


Titik Materi al 1 Pirit, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m 2 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Kerikil 3 Pirit, Garam Batu, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Kerikil 4 Pirit, Kwarsa, Garam Batu, Granit, Basal, Gampin g, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Kerikil Kering, Aluviu m, Kerikil 5 Pirirt, Garam Batu, Granit, Basal, Batu Pasir, Batu Tulis, Pasir, Batu Tulis, Pasir, Lempun g, Air Tanah, Magnet it, Aluviu m, Keriki

Hubungan antara grafik fasa terhadap perioda dan grafik resistivitas terhadapa perioda dengan skin depth adalah semakin besar resistivitas bahan yang didapat maka semakin dalam lapisan tanah yang dapat diukur, semakin kecil frekuensi yang digunakan maka semkain besar lapisan tanah yang terukur. Hal ini dapat ditunjukkan oleh persamaan (7). V. Kesimpulan Perbedaan metoda 1-D dan 2-D adalah variasi resistivitas yang digunakan. Pada percobaan menggunakan ip2win didapatkan material penyusun lapisan bawah tanah dari resistivitas bahan yang didapatkan. Hubungan grafik fasa terhadap perioda dan resistivitas terhada perioda adalah semakin besar resistivitas maka semakin dalam lapisan tanah yang terukur. VI. Pustaka
[1] The Physics of Vibration and Waves. Sixth Edition. HJ. Pain. Hal 202-216 [2] http://www.ukm.my/rahim/Resistivity% 20lecture.htm diakses pada 10 April 2013 pukul 22.00

IV. Pembahasan Terdapat perbedaan pencarian resistivitas menggunakan metoda Magnetotellurik 1-D dengan menggunakan metoda Magnetotellurik 2-D. Perbedaannya adalah pada kasus 1-D variasi resistivitas hanya bergantung pada kedalaman tanah, sedangkan pada kasus 2-D variasi resistivitas bergantung pada kedalaman dan arah x dan y. Pada kasus 1-D arah x dan y E maupun H tidak ada perbedaan, sedangkan pada kasus 2-D besar medan EM dipengaruhi oleh pengukuran yang dilakukan terhadap arah strike yang digunakan. Data yang didapatkan pada program ip2win berupa resistivitas bahan penyusun materialnya. Pada gambar 7-9 tidak menunjukkan perbedaan bahan penyusun lapisan bumi, karena error yang didapat tidak jauh berbeda. Material penyusun bahan lapisan bawah permukaan dapat dilihat pada tabel 4-7. Penggunaan banyaknya layer berpengaruh pada ketelitian dari penyusun lapisan, karena semakin banyak layer yang digunakan maka semakin banyak lapisan yang dapat dilihat/dideteksi.