Anda di halaman 1dari 41

Edisi 7

Dasar-Dasar

Akuntansi
JILID 1 D I S U S U N
Oleh : Darwin Wira Mustika Jurusan : Sistem Informasi

Kata Pengantar

Sesuai dengan judulnya,buku ini di susun untuk memberi pengetahuan dasar bagi para pemula
yang berminat untuk mempelajari akuntansi. Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan dasar akan menjadi sangat penting terutama bagi mereka yang akan meniti karir di bidang akuntansi. Ibarat membangun sebuah bangunan , kekuatan fondasi akan menjadi faktor yang sangat menentukan kokoh tidaknya bangunan di atasnya. Menurut hemat penulis, bagian paling mendasar yang harus dipahami secara konsepsional sebagai awal dalam mempelajari akuntansi adalah memahami metoda pembukuan berpasanagan, kerena informasi keuangan yang tertuang dalam laporan keuangan merupakan hasil pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan metoda tersebut. Dalam pengertian yang sederhana, metoda pembukuan berpasangan sering diartikan sebagai metoda pembukuan yg dilakukan dengan cara mendebet & mengkredit. Oleh karena itu dalam buku ini penulis berusaha untuk memberikan pemahaman mengenai aturan pendebetan & pengkreditan, sehingga pembaca dapat memahami bagaimana aturan tersebut dilaksanakan. Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengajar mata kuliah Akuntansi pengantar selama lebih dari 40 tahun, pembahasan tantang aturan pendebetan & pengkreditan harus mendapat porsi yang mencukupi, di sertai dengan latihan-latihan yang memadai. Oleh karena itu, berbeda dengan buku-buku teks Akuntansi Pengantar pada umumnya, dalam buku ini penuls sengaja membahas aturan pendebetan & pengkreditan tersebut dalam dua bab, yaitu pada bab 2 & bab 3. Disadari oleh penulis, bahwa hal tersebut sering menimbulkan pengulangan, namun justru dengan pengulangan tersebut pembaca akan lebih memahami materi ajar yang sangat penting ini. Mengingat banyaknya topic yang harus dibahas, dan disesuaikan dengan silabus mata kuliah Akuntansi Pengantar di perguruan tinggi, penulis membagi buku Dasar-dasar Akuntansi ini menjadi dua jilid. Buku ini adalah jilid 1 yang terdiri atas 9 bab. Enam bab pertama merupakan satu rangkaian yang berkaitan satu sama lain yang disebut siklus akuntansi. Pemahaman tentang proses akuntansi merupakan prasyarat untuk membahas masalah-masalah lain dalam bidang akuntansi. Penulis sengaja memilih perusahaan jasa untuk menggambarkan proses kegiatan dalam siklus akuntansi, karena transaksi-transaksi dalam perusahaan jasa relatif sederhana. Dengan demikian, diharapkan pembaca akan lebih mudah memahami tahapan-tahapan kegiatan mulai dari pencatatan transaksi dalam alat pencatatan yang pertama hingga menjadi laporan keuangan: Bab 1 Bab ini terdiri atas dua bagian. Pada bagian pertama diuraikan berbagai pengertian dasar dan istilah akuntansi,seperti: definisi akuntansi, bidang-bidang akuntansi, fungsi dan tujuan akuntansi, pilar-pilar akuntansi, dan pengenalan akan lingkungan akuntansi. Pada bagian kedua akan di bahas tentang persamaan akuntansi disertai contoh-contoh bagaimana menerjemahkan pengaruh transaksi terhadap persamaan akuntansi.

Bab 2 Bab ini memperkenalkan penggunaan akun sebagai alat pencatatan. Pembahasan dimulai dengan pengelompokan akun dan sifat masing-masing kelompok aku, dan di akhiri dengan

penyusun neraca saldo. Bab 3 Dalam bab ini di ternagkan mengenai penggunaan jurnal sebagai alat pencatatan transaksi yang pertama. Penerapan penggunaan jurnal dan posting ke buku besar diberikan berupa contoh dari serangkaian transaksi. Bab 4 Bab ini membahas mengenai pembuatan jurnal penyesuaian. Pertama-tama dibahas alasan mengapa diperlukan penyesuaian pembukuan. Selanjutnya dibahas tentang jenis-jenis penyesuaian yang sering dijumpai dalam praktik pembukuan. Bab ini diakhiri dengan uraian tentang penyusunan neraca saldo setelah disesuaikan. Bab 5 Pada bab ini di uraikan tentang proses pembuatan neraca lajur sepuluh kolom. Pembahasan dilakukan tahap demi tahap mulai dari pembuatan kolom-kolom kertas kerja dan di lanjutkan dengan cara memasukkan data ke dalam masing-masing kolom. Bab ini diakhiri dengan menunjukkan laporan keungan yang disusun melalui pemakaian neraca lajur. Buku ini dirancang untuk digunakan pembaca secara mandiri. Oleh karena itu pada akhir setiap bab disediakan sejumlah pertanyaan, bahan latihan, dan soal. Pertanyaan disediakan untuk menguji pemahaman pembaca setelah selesai mempelajari bab yang bersangkutan. Apabila dijumpai pertanyaan yang tidak dapat dijawab atau pembaca meragukan kebenaran jawabannya, maka pembaca dapat mencari kembali jawabannya dalam teks yang bersangkutan. Melalui cara demikan, pembaca dapat diharapkan menguasai bab demi bab dengan baik. Langkah selanjutnya adalah latihan dengan soal-soal sederhana yang terdapat dalam bahan laihan. Soal-soal pada bagian ini dibuat secara ringkas dan sederhana, sehingga pembaca yang telah menguasai teori yang dibahas pada bab yang bersangkutan, di harapkan dapat memecahkannya dengan mudah. Apabila pertanyaan telah dapat di jawab, dan latihan telah dikerjakan, tahap tahap terkhir adalah mencoba mengerjakan soal-saol. Bobot soal lebih tinggi daripada latihan, dan dapat di jadikan tolak ukur mengenai tingkat pemahaman yang telah di capai pembaca. Penyempurnaan terutama dilakukan pada peristilahan. Dalam hal ini penulis mengacu pada SAK-ETAP (Standar Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) yang telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, pada tanggal 19 Mei 2009. Penulis menyadar bahwa walaupun berbagi upaya penyempurnaan telah dilakukan pada edisi ini, namun masih terdapat banyak kekurangan. Saran dan kritik pembaca akan sangat dihargai demi penyempurnaan untuk edisi berikutnya. Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada para pemakai edisi sebelumnya, baik para dosen, guru, maupun mahasiswa yang telah memberikan masukan yang sangat berguna sehingga edisi revisi ini dapat diterbitkan. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKYPN yang telah menerbitkan buku ini. Semoga bermanfaat.

BAB 1

AKUNTANSI DAN LINGKUNGAN BISNIS A


pakah akuntansi berguna bagi anda ? apakah andsa menggukan informasi akuntansi ? Tanpa disadari, kita semua menggunakan informasi akuntansi dalam kehidupan seharihari untuk satu atau berbagi keperluan tertentu. Sebagai contoh, bila anda sedang mempertimbangkan membeli sebuah mobil baru yang diangsur, anda menggukan informasi akuntansi untuk memastikan apakah anda akan mampu membayar angsuran bulanan. Demikan pula ketika anda memutuskan untuk menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang anda pandang akan memberi manfaat di masa depan . Pada saat itu anda pasti akan mempertimbangkan berapa uang yang harus disediakan untuk belajar di perguruan tinggi tersebut (uang kuliah, uang buku, beban hidup dan sebagainya). Para manajer perusahaa, setiap hari membuat berbagai keputusan yang serupa dengan keputusan anda di atas. Sebagai contoh, untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggan, manajer sebuah restoran mempertimbangkan untuk membeli sebuah mobil agar dapat memberikan layanan dengan mengantar pesanan makanan langsung ke rumah pelanggan. Informasi akuntansi restoran akan menjadi faktor penting dalam memutuskan apakah perusahaan ini harus membeli mobil untuk mengantarkan makanan ke tempat pelanggan. Informasi ini juga akan diperlukan untuk menentukan apakah untuk membeli mobil tersebut perusahaan harus meminjam uang dari bank atau akan mendanai sendiri. Tujuan utama buku ini adalah untuk menjelaskan dan memberi gambaran tentang prinsip dan konsep akuntansi yang akan membantu dalam kehidupan pribadi atau kehidupan professional. Akuntansi akan bermanfaat bagi anda, meskipun anda ukan seorang akuntan atau manajer. Sebagai contoh, seandainya anda adalah seorang insinyur yang sedang merancang sebuah produk, anda harus mempertimbangkan berapa beban untuk proses pengerjaan produk tersebut. Seandainya anda seorang pengacara, anda juga akan menggunakan data akuntansi untuk menangani kasus-kasus hukum atau penyelesaian perkara tertentu. Bab ini akan membahas kerangka akuntansi yang digunakan perusahaan dalam menghimpun dan melaporkan data ekonomi. Data tersebut selanjutnya akan digunakan dalam pengambilan keputusan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti dilukiskan di atas. Meskipun akuntansi dapat di terapkan dalam organisasi-organisasi yang tidak bertujuan

mencari laba, dalam buku kita akan lebih focus pada perusahaan yang bertujuan mencari laba.

AKUNTANSI SEBAGAI SUATU SISTEM INFORMASI

Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, mengolah data menjadi laporan, mengomunkasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan. Akuntansi adalah bahasa bisnis karena dengan akuntansi sebagian besar informasi bisnis dikomunikasikan. Perusahaan mendistribusikan laporan akuntansi yang meringkas kinerja keuangan perusahaan kepada pemilik, kreditur, pemerintah, dan calon investor. Semakin baik anda menguasai bahasa bisnis, akan semakin baik pula anda mengelola perusahaan.

Definisi Akuntansi
Akuntansi dapat didefinisikan dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut pemakai jasa akuntansi, dan dari sudut proses kegiatannya.

Definisi Dari Sudut Pemakai


Ditinjau dari sudut pemakainya, Akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suata entitas. Informasi yang dihasilkan akuntansi diperlukan untuk: 1. Membuat perancanaan yang efektik, pengawasan, pengambilan keputusan oleh manajemen; dan 2. Pertanggungjawaban entitas kepada para invetor, kreditur, badan pemerintah dan sebagainya. Dari definisi ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Akuntansi diselerenggarakan dalam suatau entitas (bias berupa organisasi bisnis mau pun organisasi nirlaba). Informasi akuntansi yang dihasilkan adalah informasi tentang entitas (Catatan: dalam buku ini entetis yang dimaksud adalah entitas bisnis atau perusahaan). 2. Informasi akuntansi sangat penting dalam menyelenggarakan kegiatan perusahaan, Informasi ini digukan dalam pengambilan keputasan intern organisasi (oleh manajemen-yaitu orang yang diberi tugas untuk memimpin perusahaan), dan juga untuk pengambilan keputusan oleh pihak ekstern organisasi (oleh investor-yaitu orang-orang yang menanamkan uangnya dalam perusahaan untuk mendapatkan laba; oleh kreditur yaitu orang-orang yang memberi pinjaman kepada perusahaan dan pihak lainnya).

Definisi Dari Sudut Proses Kegiatan


Ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan sebagi proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, penganalisisan data keuangan suatu entitas. Definisi ini menunjukkan bahwa kegiatan akuntansi merupakan tugas yang kompleks dan menyangkut bermacam-macam kegiatan. Pada dasarnya akuntansi harus:

1. Mengidentifikasikan data mana yang berkaitan atau relevan dengan keputasan yang akan diambil. 2. Memproses atau menganalisis data yang relevan. 3. Mengelolah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Profesi Akuntansi
Kebutuhan akan jasa akuntansi meningkat peat dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan dunia bisnis. Dewasa ini bisnis telah berkembang demikian pesat baik dalam jumlah, ukuran, maupun kompleksitasnya. Sebagai akibatnya, profesi akuntansi juga semakin berkembang. Hal ini menarik minat banyak orang untu meniti karir dibidang akuntansi. Anda mungkin termasuk salah satu di antara mereka yang tertarik untuk menjadi seorang akuntan. Akuntan dapat bekerja dalam bidang (1) akuntansi interen atau (2) akuntansi publik. Akuntan yang bekerja dalam sebuah perusahaan (organisasi yang bertujuan mencari laba) atau suatu organisasi nirlaba, disebut bekerja dibidang akuntansi interen (biasa juga disebut akuntansi prifat). Akuntan beserta stafnya yang bekerja untuk memberi jasa akuntansi bagi masyarakat (publik) disebut bekerja dibidang akuntansi publik.

Akuntansi Interen
Lingkup aktivitas dan jabatan-jabatan dalam bidang akuntansi interen sangat beraneka ragam. Akuntan interen disebut juga akuntan manajemen. Apabila mereka bekerja dalam perusahaan manufaktu, mereka disebut akuntan beban (Cost Accountant) karena beban dalam perusahaan manufaktur seringkali sangat kompleks sehingga dibutuhkan akuntan yang khusus menanganinya. Akuntan kepala dalam perusahaan besar disebut kontroler. Tidak hanya organisasi bisnis yang mempekerjakan akuntan intern, tetapi juga pemerintah serta organisasi nirlaba. Untuk dapat menjadi seorang akuntan manajemen yang andal, anda dituntut untuk memiliki sertifikat yang diterbitkan oleh Asosiasi Akuntan Manajemen yang menyelenggarakan program pelatihan dan ujian sertifikasi. Sertifikat Akuntan Manajemen merupakan bukti bahwa pemegangnya kompoten dibidang akuntansi manajemen. Sebagai syaratnya untuk menjadi Akuntan Manajemen Bersertifikat, anda haruslah seorang sarjana yang telah berpengalaman kerja di bidang akuntansi interen dan telah lulus ujian sertifikasi. Selain akuntan manajemen, bidang pekerjaan yang dipandang sangat penting dan menarik adalah auditor interen yaitu akuntan yang bertugas mengaudit akuntansi dan produser operasi yang dilaksanakan oleh entitas tempat ia bekerja. Akuntan yang berspesialisasi dalam auditing interen harus memiliki sertifikat auditor interen.

Akuntansi Publik
Dalam bidang akuntansi publik, seorang akuntan bias berpraktik secara perorangan atau bias juga sebagai bagian atau anggota dari suatu kantor akuntan publik. Untuk dapat menjadi seorang akuntan publik harus dipenuhi syarat pendidikan, pengalaman, dan ujian khusus. Syaratsyaratnya tersebut tidak persis sama antara negara satu dengan negara lainnya, bahkan di Amerika

Serikat persyaratan di negara bagian yang satu bias berbeda dengan di negara bagian lain. Di Indonesia, berlaku syarat pendidikan yang agak berbeda dengan negara lain. Seorang calon akuntan harus lulus program S1 jurusan akuntansi (dari suatau universitas atau sekolah tinggi) yang kemudian diikuti dengan mengikuti program pendidikan profesi akuntansi (PPA) sehingga ia dapat menyandang sebutan profesi Akuntan atau disingkat Ak di belakang namanya. Penyelenggara program pendidikan akuntansi adalah lembagah pendidikan tinggi yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. pengalaman kerja di sebuah kantor akuntan publik diperlukan sebagai tempat magang selama beberapa tahun. Selain itu yang bersangkutan harus menempuh ujian sertifikasi akuntan publik yang diselenggarakan oleh organisasi profesi (Ikatan Akuntan Indonesia). Apbila lulus, maka yang bersangkutan dapat disebut Akuntan Publik Bersertifikat(BAP).

Bidang-bidang Akuntansi
Sejalan dengan pengelompokan jabatan-jabatan di bidang akuntansi di atas, dalam praktik dijumpai berbagai bidang pekerjaan akuntansi.

Bidang Akuntansi Publik


Audit atas laporan keuangan (auditing) adalah bidang pekerjaan profesi akuntansi paling utama yang diberikan kepada publik (umum). Audit atas laporan keuangan adalah pemeriksaan secara independen untuk menilai kewajaran laporan keuangan yang disusun manajemen bagi para investor, kreditur, dan pihak luar lainnya. Laporan keuangan yang disusun oleh manajemen, seringkali tidak dipercaya oleh pihak-pihak luar karena adanya perbedaan kepentingan antara manajemen dan pemakai laporan lainnya. Hasil pemiraksaan akuntan publik dituangkan dalam sebuah laporan yang disebut laporan auditor independen. Apabila akuntan publik yakin bahwa laporan keuangan menyajikan informasi secara wajar, maka ia akan memberikan pendapatnya bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi. Akuntansi perpajakan adalah jasa akuntan publik yang banyak dibutuhkan masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai dengan pemberian jasa ini adalah (1) untuk memenuhi peraturan perpajakan yang berlaku, dan (2) untuk membantu membuat perencanaan pajak (tax planning). Konsultasi manajemen adalah pemberian jasa yang meliputi aspek yang luas. Biasanya jasa diberikan bersamaan dengan pemeriksaan atas laporan keuangan. Sebagai auditor, akuntan biasanya mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai operasi perusahaan yang diperiksanya. Oleh karena itu akuntan publik dapat memberikan berbagai pertimbangan dan saran kepada manajemen untuk memperbaiki hasil operasi perusahaan yang menggunakan jasanya.

Bidang Akuntansi Interen


Akuntansi beban menganalisis beban perusahaan untuk membantu manajemen dan pengawasan beban. Biasanya akuntansi beban ditekankan pada beban produksi, tetapi akhir-akhir ini penekanan atas beban pemasaran juga semakin meningka. Selain untuk pengawasan, akuntansi

beban yang baik akan membantu manjemen dalam berbagai hal, antara lain untuk penetapan harga jual produknya sehingga diperoleh laba yang lebih besar. Selain itu, akuntansi beban dapat member innformasi kepada manajemen tentang produk mana yang tidak menguntungkan sehingga produksinya harus di hentikan, dan produk mana yang menguntungkan. Peranggaran menetapkan sasaran penjualan dan laba, serta perencanaan yang terinci untuk mencapai sasaran tersebut. Penyusunan anggaran selalu memperhatikan data masa lalu yang dilaporkan dalam laporan akuntansi. Anggaran juga digunakan untuk mengawasi jalannya operasi perusahaan melalui perbandingan antara data yang sesungguhnya dengan anggaran. Oleh karena itu perusahaan biasanya memandang kegiatan peranggaran sebagai aspek yang penting dari sistem akuntansinya. Perancanaan sistem informasi mengidentifikasi kebutuhan informasi untuk kepentingan interen maupun eksteren. Setelah kebutuhan informasi di ketahui, selanjutnya dirancang dan dikembangkan sistem yang sesuai. Sistem informasi sangat membantu dalam mengawasi jalannya operasi suatu perusahaan. Audit interen adalah audit yang dilakukan oleh auditor interen perusahaan. Perusahaanperusahaan besar umumnya memilki staf audit interen. Para auditor interen bertugas untuk mengevaluasi sistem akuntansi dan manajemen. Tujuan pokoknya adalah untuk membantu manajemen dalam memperbaiki efisiensi operasi dan untuk menjamin bahwa para karyawan dan bagian-bagian perusahaan telah melaksanakan prosedur dan rencana yang ditetapkan manajemen. Akuntansi keuangan adalah akuntansi yang bertujuan utama menghasilkan laporan keuangan untuk kepentingan pihak luar. Yang dimaksud pihak luar adalah pihak-pihak di luar manajemen perusahaan, seperti investor, kreditur, badan pemerintahan dan pihak luar lainnya. Akuntansi manajemen adalah akuntansi yang bertujuan utama menghasilkan informasi untuk kepentingan manajemen. Jenis informasi yang diperlukan manajemen dalam banyak hal berbeda informasi yang diperlukan pihak luar. Umumnya informasi untuk keprluan manajemen bersifat sangat mendalam, dan diperlukan untuk pengambilan berbagai keputusan manajemen. Informasi semacm ini biasanya tidak dipublikasikan kepada umum.

PILAR-PILAR AKUNTANSI
Setiap profesidi tuntut untuk memenuhi persyratan-persyaratantertentu agar jasayang diberikannya dapat diterima masyarakat dan pemakai jasa menjadi terlindung. Di bidang kedokteran berlaku standar pelayanan pasien. Seorang arsitek harus mengikuti standar tertentu dalam merancang bangunan. Hal yang sama dijumpai juga dalam bidang akuntansi. Pilar-pilar utama dalam profesi akuntansi meliputi (1) Etika dalam pelaporan keuangan, (2) Prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan (3) Asumsi.

Etika Dalam Pelaporan Keuangan

Apa yang dimaksud dengan etika ? Etika adalah prinsip-prinsip moral yang menjadi pedoman bertindak atau berprilaku. Kadang-kadang orang yang benar atau salah. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin akan mengatakan bahwa menyalin pekerjaan runmah mahasiswa lain dan kemudian menyerahkan pekerjaan rumah tersebut atas namanya kepada dosen merupakan perbuatan tidak etis. Mahasiswa lain mungkin akan mengatakan bahwa perbuatan tersebut tidak melanggar etika sepanjang dosen tidak secara tegas mengatakan dilarang mengutip pekerjaan mahasiswa lain. Dalam dunia bisnis dijumpai juga hal-hal tidak etis semacam itu. Sebagai contoh, pada perusahaan yang menjual jsa bengkel mobil, kadang-kadang perusahaan membebani pelanggan dengan beban reparasi yang tidak semestinya. Ada pula perusahaan yang menipu pelanggan dengan menjual makanan dalam kaleng yang sudah jelas kedaluwarsa. Memang orang biasa berargumentasi menurut kepentingannya masing-masing, namun orang dituntut untuk menjunjung tinggi etika.Perilaku etis yang tepat menyangkut perilaku yang mempertimbangkan dampak tindakan seseorang terhadap masyrakat dan orang lain. Denagn kata lain, etika bertindak yang tepat adalah bila dalam segalah hal anda tidak hanya mempertimbangkan apa yang terbaik bagi diri anda sendiri, tetapi juga apa yang terbaik bagi orang lain. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang menjunjung tinggi etika bisnis. Mereka tidak hanya memikirkan keuntungan bagi perusahaannya sendiri, tetapi juga memperhatikan kepentingan konsumen dan masyrakat luas. Mereka yakin bahwa posisi kompetitif perusahaan akan semakin kuat apabila perusahaan tersebut selalu mempertahankan standar etika yang tinggi. Mayoritas akuntan melaksanakan tugasnya secara professional dan beretika. Para akuntan umumnya menyadari bahwa jasa mereka akan dihargai masyarakat, apabila mereka bekerja dengan menjunjung tinggi etika professional. Namun sangat disayangkan, nama baik profesi menjadi tercemar oleh penyelewengan yang dilakukan oleh segelintir akuntan. Beberapa tahun yang lalu, dunia dikejutkan oleh skandal akuntansi yang dilakukan oleh Enron, Corp, sebuah perusahaan raksasa di Amerika Serikat. Penyelewengan juga dilakukan oleh WorldCom, sebuah perusahaan besar provider telepon jarak jauh. Skandal ini dan sejumlah skandal lainnya yang melukai perasaan dan kepercayaan para investor serta dunia bisnis. Akibatnya ribuan pegawai tak berdosa kehilangan pekerjaan dan pasar modal di Amerika runtuh. Para akuntan di Indonesia baik yang bekerja di bidang akuntansi privat maupun akuntansi publik, memiliki Kode Etik yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Selain itu, Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menyusun Kode Etik Profesi Akuntan Publik khusus untuk para anggotanya, yaitu mereka yang bekerja sebagai akuntan publik. Khusus untuk para auditor interen, Konsorsium Organisasi Profesi Audit Intern menyusun Kode Etik Audit Internal. Dengan adanya kode etik tersebut, para akuntan dalam melaksanakantugas profesionalnya diwajibkan selalu menjunjung tinggi prilaku etis. Kode etik profesi berkembang terus sejalan dengan perkembangan masyarakat. Namun, etika perilaku bukan hanya sekedar bagaiman berbuta sesuai standar prosfesi yang tertulis. Hal yang lebih panjang adalah kesungguhan setiap anggota profesi untuk memiliki komitmen yang tinggi terhadap perilaku jujur.

Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum


Prinsip akuntansi yang berlaku umum adalah prinsip-prinsp dan konsep yang digunakan para akuntan dalam menyusun laporan keuangan. Sebagaimana dikemukakan di atas, laporan

keuangan digunakan oleh berbagi pihak untuk berbagai kepentingan yang berbeda-beda. Pihakpihak tersebut antar lain manajemen perusahaan itu sendir, kreditur yang member kredit (pinjaman), calon investor yang sedang mempertimbangkan investasi yang akan ia lakukan, pemerintah yang akan memungut pajak, dan pihak-pihak lainnya. Manajemen selaku pihak yang menerbitkan laporan keuangan tidak boleh dan tidak bias hanya mencatat dan melaporkan transaksi yang dianggapnya cocok, dilihat dari sudut kepentingan manajemen sendiri. Oleh karena itu diperlukan prinsip akuntansi yang berlaku umum sebagai pedoman bagi para akuntan di dalam menyusun laporan keuangan. Dengan demikian para pemakai laporan keuangan dapat membandingkan kondisi keungan dan hasil operasi antar perusahaan. Prinsip-prinsip dan konsep-konsep dikembangkan dari hasil penilitian, praktik-parktik yang berlaku di masyarakat, dan pernyataan yang dibuat oleh otoritasyang berwenang. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di kodifikasikan dalam bentuk standar yang tertulis yang diterbitkan oleh organisasi profesi akuntan. Di Indonesia, organisasi profesi para akuntan ialah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Organisasi ini membentuk Dewan Standar Akuntansi Keuangan yang bertanggung jawab untuk merumuskan prinsip-prinssip akuntansi. Selain IAI, Badan Pengembangan Pasar Modal (Bapepam) juga menerbikan berbagai prinsip dan ketentuan yang berlaku, Khususnya bagi perusahaan publik (perusahaan yang menjual sahamnya di pasar modal).

Prinsip Reliabilitas (Obyektivitas)


Informasi akuntansi didasarkan pada data yang paling bisa diandalkan. Pedoman tentang hal ini adalah prinsip reliabilitas, atau sering juga disebut prinsip obyektivitas. Data yang bisa diandalkan (bisa dipercaya) adalah data yang bisa diferifikasi, artinya dapat dengan mudah dikonfirmasi dengan data independen lainnya yang berkaitan. Sebagai contoh, sebuah pinjaman pada bank didukung oleh surat perjanjian dengan bank. Ini adalah bukti obyektiv tentang adanya pinjaman pada bank. Tanpa adanya prinsip reliabilitas, data akuntansi mungkin hanya akal-akalan atau pendapat, bukan data obyektif. Misalkan Bambang menyerahkan sebuah bangunan gedung kepada Irawan sebagai pembayaran utang. Bambang memikirkan gedung yang diserahkannya kepada Irawan sebagai pembayaran utang. Bambang memperkirakan gedung yang diserahkannya bernilai Rp500.000.000,-. Sebuah perusahaan jasa penilai (appraiser) yang diminta oleh Irawan untuk menilai gedung tersebut menaksir Rp400.000.000,-. Manakah nilai taksiran yang lebih bisa diandalkan antara nilai taksiran Bambang sebesar Rp500.000.000,- ataukah penilaian secara professional sebesar Rp400.000.000,- ? Jawabannya taksiran nilai Rp400.000.000,- lebih bisa diandalkan karena angka ini didukung oleh penilai professional. Irawan harus mencatat gedung yang diterimanya dengan nilai Rp400.000.000,-.

Prinsip Biaya Perolehan


Prinsip biaya perolehan mentepkan jumlah yang dipakai dalam catatan akuntansi untuk pembelian barang dan jasa. Untuk menggambarkan apa yang dimaksud dengan biaya perolehan marilah kita ikuti contoh berikut ini. Misalkan sebuah gedung milik Tuan A (penjual) ditawarkan kepada B (pembeli) dengan harga Rp175.000.000,-. B menawar dengan harga R125.000.000,- tetapi tidak disetujui A. Setelah melalui tawar-menawar akhirnya dicapai kesepakatan harga sebesar

Rp150.000.000,- yaitu harga yang sesungguhnya dibayar oleh B. Harga inilah yang disebut biaya perolehan dalam pembukuan B, bukannya Rp175.000.000,- atau pun Rp125.000.000,- Beberapa hari kemudian B kedatangan C yang menyatakan minatnya untuk membeli gedung tersebut dengan harga Rp160.000.000,-; tetapi harga tersebut tidak disetujui B sehingga tidak terjadi transaksi perpindahan gedung dari seorang penjual kepada pembeli. Harga ini tidak mempengaruhi harga gedung dalam pembukuan B. Gedung tersebut tetap tercatat dalam pembukuan B dengan harga perolehan aslinya atau disebut juga harga perolehan historis yaitu Rp150.000.000,-. Bolehkah B mengubah harga gedung menjadi Rp160.000.000,-, karena ternyata ada orang yang berani membeli dengan harga tersebut? Jawabannya, tidak. Dengan menggunakan angka Rp160.000.000,- dalam pembukuan B, berarti B mengakui keuntungan yang belum terjadi (belum direalisasi). Seminggu kemudian D dating menemui B dan menyatakan minatnya untuk membeli gedung tersebut dengan harga Rp170.000.000,-. Harga ini pun tidak disetujui B, tetapi setelah melalui tawar-menawar akhirnya dicapi kesepakatan harga diantara mereka yakni Rp180.000.000,-. Dengan harga beberapa gedung tersebut akan dicatat dalam pembukuan D (pembeli)? Jawabannya adalah Rp180.000.000,- yaitu biaya perolehan gedung bagi si pembeli. Dalam pertukaran antara pembeli dan penjual, keduanya akan bernegosiasi untuk mencapai harga yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Hanya harga akhir yaitu harga yang disepakati kedua belah pihak yang cukup obyektif untuk tujuan akuntansi. Apabila angka harga suatu barang atau jasa diubah-ubah dalam catatan akuntansi, baik berubah naik atau turun hanya karena ada pihak lain yang menawar atau karena membaca berita di surat kabar bahwa harga naik, maka laporan akuntansi menjadi tidak stabil dan tidak bisa diandalkan.

ASUMSI
Asumsi merupakan fondasi dalam proses akuntansi. Ada tiga asumsi penting yang melandasi proses akuntansi, yaitu Konsep Entitas, Konsep Kelangsungan Usaha, dan Konsep Unit Moneter yang Stabil.

Konsep Entitas
Konsep yang paling mendasar dalam akuntansi adalah entitas. Suatu entitas akuntansi adalah suatu organisasi yang berdiri tersendiri sebagai suatu satuan ekonomi yang terpisah. Penentuan entitas didasarkan pada pengidentifikasian satuan-satuan ekonomi individual yang dibutuhkan data ekonominya. Apabila entitas telah ditetapkan, maka akuntan akan dapat menentukan data ekonomi dan aktivitas mana yang harus dianalisis, dicatat, dan diringkas dalam laporan. Untuk memberi gambaran tentang penerapan konsep ini, mari kita ikuti salah satu contoh di bawah ini. Misalkan Bambang memulai usaha dengan mendirikan sebuah perusahaan dagang yang diberinya nama Usaha Dagang Maju. Ia menyerahkan uang sebagai modal usaha sebesar Rp50.000.000,- yang dipinjamnya dari Bank Mandiri. Sejalan dengan konsep entitas, Bambang harus memperlakukan uang Rp50.000.000,- ini terpisah dari aset pribadinya sepeti pakaian atau mobil pribadinya. Apbila uang Rp50.000.000,- ini dicampurkan dengan uang pribadi dan aset-aset pribadi milik Bambang, akan ditemui kesulitan apabila kita ingin mengukur keberhasilan atau kegagalan Usaha Dagang Maju. Dalam kasus ini usaha dagang maju harus diperlakukan sebagai suatu entitas atau suatu satuan ekonomi yang berdiri sendiri, terpisah dari Bambang selaku

pemiliknya.

Konsep Kelangsungan Usaha


Asumsi ini merupakan dasar atau alasan mengapa akuntansi mengukur aset berdasarkan nilai perolehan historis seperti telah diuraikan di atas. Konsep ini mengasumsikan bahwa entitas akan tetap beroperasi di masa datang untuk waktu yang tidak terbatas. Ini berarti bahwa dengan konsep kelangsungan usaha, akuntan berasumsi bahwa bisnis akan terus beroperasi dalam waktu yang cukup panjang untuk menggunakan segala sumber daya yang dimiliknya guan mencapai tujuan yang diinginkan.

Konsep Unit Moneter Yang Stabil


Dalam akuntansi, perusahaan hanya mencatat data transaksi yang bisa dinyatakan dalam satuan uang. Asumsi ini memungkinkan akuntansi mengkuantifikasi (mengukur) kejadian-kejadian ekonomi. Asumsi ini juga penting untuk menerapkankan prinsip beban perolehan seperti diuraikan di atas. Di Indonesia, kita mencatat transaksi dalam satuan rupiah karena rupiah adalah alat atau media pertukaran yang sah di negara ini. Nilai tukar rupiah berubah dari waktu ke waktu, kadang naik dan kadang turun. Akan tetapi akuntansi mengabaikan kenyataan itu berasumsi bahwa nilai tukar rupiah tetap stabil. Hal ini perlu, karena bila nilai tukar rupiah di perhitungkan dalam akuntansi, maka angka-angka dalam catatan akuntansi akan turut berubah dari waktu ke waktu dan hal itu akan mengakibatkan laporan akuntansi menjadi kacau dan tidak bisa diandalkan.

JENIS-JENIS ORGANISASI BISNIS


Di muka telah disinggung bahwa akuntansi digunakan baik dalam organisasi yang bertujuan mendapatkan laba (organisasi bisnis), maupun dalam organisasi yang tidak bertujuan mendapatkan laba atau biasa disebut organisasi nirlaba (misalkan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, rumah yatim piatu, dsb). Namun dalam buku ini kita hanya akan membahas akuntansi untuk diterapkan pada organisasi atau entitas bisnis. Oleh karena itu pada paragraf berikut akan dijelaskan jenis-jenis organisasi bisnis yang terdapat di masyarakat.

Tiga Jenis Organisasi Bisnis


Suatu bisnis dapat diorganisasikan dalam salah satu berikut ini: (1) badan usaha perorangan, (2) badan usaha persekutuan, dan (3) badan usaha perseroan.

Badan Usaha Perorangan


Bisnis yang dimiliki oelh satu orang disebut badan usaha perorangan. Biasanya pemilik merangkap juga sebagai pimpinan perusahaan. Kebanyakan badan usaha perorangan merupakan perusahaan kecil seperti misalnya toko-toko kelontong yang terdapat di mana-mana. Bidang Usahanya rgerak di bidang perdagangan barang dan ada pula yang bergerak di bidang jasa, seperti misalnya salon kecantikan, bengkel mobil atau motor, kantor pengacara, kantor akuntan, dan lain sebagainya. Biasanya tidak dibutuhkan modal awal yang banyak untuk mendirkan sebuah

perusahaan perorangan. Laba yang diperoleh dinikmati senidri ileh pemilik. Sebaiknya bila perusuhaan merugi, pemilik harus menanggungnya sendiri. Dalam hal perusahaan memiliki utang, maka pemilik bertanggung jawab penuh untuk melunasinya manakala keuangan perusahaan tidak mencukupi untuk mlunasi utang tersebut.

Badan Usaha Persekutuan


Suatu bisnis yang dimiliki oleh dua orang atau lebih yang bersekutu untuk melaksanakan usaha bersama dengan nama bersama disebut badan usaha persekutuan. Dalam banyak hal, persekutuan hamper tidak berbeda dengan badan usaha perorangan, kecuali dalam hal kepemilikanny. Pada persekutuan terdapat lebih dari satu orang pemilik. Ini berarti bahwa modal perusahaan juga berasal dari beberapa orang penyetor modal. Dalam bentuk suatu persekutuan, para sekutu biasanya membuat perjanjian yang antara lain berisi tentang modal awal, tugas masing-masing sekutu, pembagian laba (atau rugi), dan penyelesaian yang dilakukan seandainya ada sekutu yang meninggal atau mengundurkan diri. Setiap sekutu turut bertanggung jawab atas utang persukutuan (dalam istilah hukum disebut tanggung jawab renteng), arinya dalam persekutuan tidak mampu membayar utangnya, maka kekayaan pribadi setiap sekutu harus digunakan untuk melunasi utang persekutuan.

Badan Usaha Perseroan


Perseroan adalah bisnis yang dimiliki oleh para pemegang saham (pesero) yaitu orang-orang yang memiliki saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan harus memiliki anggaran dasar yang disahkan oleh menteri hukum dan HAM. Berbeda dengan bandan usaha perorangan dan persekutuan, sebuah perseroan adalah entitas yang merupakan badan hukum terpisah dari pemiliknya. Perbedaan status hukum antara perseroan dengan badan usaha perorangan dan persekutuan yang tradisioanal ini penting artinya dalam situasi berikut. Apabila sebuah perusahaan perorangan atau persekutuan tidak mampu membayar utang kepada pihak luar, maka pemilik atau para pemilik harus menggunakan kekayaan pribadinya untuk mlunasi utang tersebut. Akan tetapi apabila sebuah perseroan bangkrut, pemberi kredit tidak bisa menyita kekayaan pribadi pemegang saham.

TRANSAKSI BISNIS
Tidak semua kejadian ekonomi yang mempengaruhi entitas bisnis dicatat dalam suatu sistem akuntansi. Hanya transaksi bisnis yang akan dicatat dalam catatan akuntansi. Apa yang dimaksud dengan transaksi bisnis? Suatu transaksi bisnis adalah suatu kejadian ekonomi atau kondisi yang secara langsung mempengaruhi posisi keuangan entitas atau secara langsung mempengaruhi hasil operasi entitas tersebut.

HUBUNGAN ANTARA ASET DENGAN SUMBER-SUMBER ASET


Kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan disebut aset. Aset tersebut bisa berasal dari pemilik perusahaan yang disebut modal (atau ekuitas), dan bisa juga berasal dari pinjaman dari luar

perusahaan yang disebut kewajiban.

LAPORAN KEUANGAN DAN PERSAMAAN AKUNTANSI


Seperti di kemukakandi atas, salah satu fungsi utama akuntansi adalah menyediakan laporanlaporan periodic untuk manajemen, investor, kreditur, dan pihak-pihak lain di luar perusahaan. Laporan keungan utama yang dihasilkan dari proses akuntansi terdiri atas: (1) (2) (3) (4) Neraca Laporan Laba-Rugi Laporan Perubahan Modal Laporan Arus Kas

Pada umumnya laporan keuangan disusun setahun sekali (tahunan), namun ada pula perusahaan yang menyusun laporan keuangannya tiap kuartal, bahkan tiap bulan. Meskipun laporan keuangan dihasilkan pada tahapan akhir dari proses akuntansi, namun ada baiknya pada ini di gambarkan lebih dahulu bentuk dan isi laporan keuangan secara sederhana. Dengan mempelajari apa yang dicantumkan dalam laporan keuangan, diharapkan para pembaca dapat lebih muda mempelajari berbagai tahap kegiatan di dalam akuntansi.

Neraca
Neraca atau sering juga disebut laporan posisi keuangan adalah salah satu daftar yang menggambarkan aset (harta kekayaan), kawajiban, dan modal (ekuitas) yang dimiliki oleh suatu entitas (perusahaan) pada suatu saat tertentu. Dalam contoh di halaman buku berikut dilukiskan neraca perusahaan angkutan aman, yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan tersebut pada tanggal 31 Desember 2010. Judul suatu neraca terdiri atas (1) nama entitas atau perusahaan, (2) nama laporan (dalam hal ini neraca), dan (3) tanggal neraca. Badan atau isi laporan terdiri dari tiga bagian yaitu: aset, kewajiban, dan modal.

ASET
Aset adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang biasa dinyatakan dalam satuan uang. Jenis-jenis sumber ekonomi atau lazim disebut aset perusahaan bisa bermacammacam. Ada aset yang berupa barang berwujud seperti kas, persediaan barang dagangan, tanah, gedung dan mesin.

KEWAJIBAN
Kewajiban adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan dengan uang atau jasa pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang. Dengan kata lain, kewajiban merupakan tagihan para kreditur kepada perusahaan.

MODAL (EKUITAS)
Modal atau ekuitas dicantumkan dalam neraca di bawah kewajiban. Modal pada hakikatnya merupakan hak pemilik perusahaan atas kekayaan (aset) perusahaan. Besarnya hak pemilik sama dengan aset bersih perusahaan, yaitu selisih antara aset dan kewajiban.

Laporan Laba-Rugi
Tujuan utama perusahaan adalah mendapatkan laba. Laporan laba-rugi disusun dengan maksud untuk menggambarkan hasil operasi perusahaan dalam suatu periode waktu tertentu. Dengan kata lain, laporan laba-rugi menggambarkan keberhasilan atau kegagalan operasi perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya.

Laporan Perubahan Modal


Hasil operasi perusahaan yang berupa laba atau rugi akan berpengaruh terhadap modal pemilik (disebut juga ekuitas pemilik). Apabila perusahaan memperoleh laba, maka laba tersebut akan menambah modal pemilik. Sebaliknya jika perusahaan menderita rugi, maka modal pemilik menjadi berkurang.

LAPORAN TRANSAKSI TERHADAP LAPORAN KEUANGAN


Dalam uraian diatas telah disinggung bahwa neraca menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu. Telah ditegaskan pula bahwa jumlah aset perusahaan selalu sama dengan jumlah kewajiban dan modal. Seandainya neraca disusun setiap kali setelah terjadi suatu transaksi, maka aset selalu seimbang dengan jumlah kewajiban dan modalnya. Namun dalam praktik hal ini tidak pernah dilakukan perusahaan, karena selain tidak praktis, neraca umumnya hanya disusun pada tiap akhir periode tertentu. Meskipun demikian setiap orang yang mempelajari akuntansi harus selalu membayangkan pengaruh setiap transaksi yang terjadi terhadap neraca. Selain itu harus dibayangkan bahwa walaupun amgka-angka dalam neraca berubah karena adanya transaksi, tetapi jumlah aset selalu sama dengan jumlah kewajiban dan modal.

BAB 2

SISTEM PEMBUKUAN BERPASANGAN P

ada Bab 1 telah diuraikan informasi-informasi keuangan yang dihasilkan akuntansi

yang dituangkan dalam bentuk laporan-laporan keuangan. Sebagaimana telah di jelaskan, laporan keuangan adalah merupakan hasil akhir dari suatu proses akuntansi. Pada bab ini akan dibahas sistem akuntansi yang diperlukan untuk dapat menghasilkan data yang akan dicantumkan dalam laporan keuangan. Dalam contoh-contoh transaksi pada bab 1, akibat dari suatu transaksi langsung ditunjukkan pengaruhnya terhadap posisi keuangan (neraca). Dalam praktik yang sesungguhnya hal semacam itu tidak lazim dilakukan, sebab selain transaksi cukup banyak jumlahnya, laporan keuangan juga tidak diperluka setiap terjadi transaksi. Pengaruh transaksi terhadap laporan keuangan tidak langsung digambarkan dalam laporan keuangan, tetapi ditampung lebih dahulu dalam alat-alat pencatatan yang merupakan bagian dari suatu sistem akuntansi. Untuk menciptakan suatu sistem akuntansi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi manajemen, diperlukan adanya suatu sistem pengelompokan, sehingga data untuk laporan keuangan dapat diperoleh melalui cara-cara yang teratur.

KATEGORI DATA YANG DIBUTUHKAN


Untuk dapat menyusun neraca dan laporan laba rugi seperti diuraikan pada bab 1, maka suatu sistem akuntansi harus dapat menghasilkan lima kategori informasi, yaitu : aset, kewajiban, modal, pendapatan dan beban. Tiga kategori informasi yang pertama menyangkut neraca, sedangkan dua kategori informasi yang terakhir menyangkut laporan laba rugi. Di dalam menganalisis transaksi yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi pada Bab 1, hanya digunakan tiga kategori informasi yaitu : aset, kewajiban, dan modal. Dengan cara demikian, maka modal akan mencakup juga pertambahan karena adanya pendapatan dan pengurangan karena terjadinya beban. Apabila diperhatikan dengan seksama, maka modal pada tanggal neraca dipengaruhi oleh:(1) saldo awal modal, (2) tambahan modal bersih (tambahan modal setelah dikurangi pengambilan prive), dan (3) laba bersih untuk periode yang bersangkutan (pendapatan dikurangi beban).

AKUN SEBAGAI ALAT PENCATATAN


Akun adalah salah satu alat untuk mencatat transaksi-transaksi keuangan yang bersangkutan dengan aset, kewajiban, modal, pendapatan, dan beban. Tujuan pemakaian akun adalah untuk mencatat data yang akan menjadi dasar penyusunan laporan-laporan keuangan. Akun memberikan informasi tentang operasi-operasi perusahaan dari hari ke hari. Sebagai contoh, misalnya dari akun dapat diketahui jumlah piutang perusahaan kepada para debitur, jumlah kewajiban perusahaan kepada para kreditur, harga beli aset yang dimiliki perusahaan, sumbersumber dan besarnya pendapatan. Dengan menggunakan akun, maka transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat dicatat secara cepat dan lengkap. Jumlah akun yang perlu diadakan dalam pembukuan suatu perusahaan tergantung kepada kebutuhan. Kumpulan akun akun yang digunakan dalam pembukuan suatu perusahaan disebut buku besar atau ledger. Buku besar dapat berupa sebuah buku yang halaman-halamannya berfungsi sebagai akun, atau bisa juga berupa kumpulan kartu-kartu. Dalam buku besar biasanya akun-akun disusun dengan urutan tertentu, yaitu akun-akun neraca disusun paling depan, sesudah itu barulah akun-akun yang akan dicantumkan dalam laporan laba-rugi. Akun dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu: 1. Akun neraca atau biasa juga disebut akun rill yaitu akun-akun yang pada akhir periode akan dilaporkan dalam neraca. Sesuai dengan uraian di muka, yang disebut akun neraca atau akun rill ialah akun-akun aset (harta), akun-akun kewajiban (utang), dan akun-akun modal. 2. Akun laba-rugi atau biasa juga disebut akun nominal, yaitu akun-akun yang pada akhir periode akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi. Akun-akun ini meliputi akun-akun pendapatan dan akunakun beban.

NAMA AKUN
Setiap akun harus diberi nama yang jelas, sehingga mudah diketahui hal apa yang dicatat dalam masing-masing akun itu. Gambaran mengenai nama-nama akun dapat dilihat dari isi laporan-laporan keuangan yang telah dijelaskan dalam Bab 1. Sebagai conroh, misalnya : suatu akun aset yang diberi nama akun Peralatan Salon. Menunjukkan bahwa dalam akun tersebut dicatat hal yang berhubungan dengan segalah jenis peralatan salon seperti pengering rambut, alat-alat keriting rambut, dan sebagainya. Jumlah akun-akun akan tergantung pada seberapa jauh jenis-jenis pendapatan dan beban harus dirinci, sehingga dapat dilakukan pengawasan yang sebaik-baiknya. Sebagai contoh misalnya di dalam suatu perusahaan yang memiliki satu buah truk, maka pemakaian satu buah akun yang diberi nama akun Beban Kendaraan untuk mencatat segala macam beban yang berhubungan dengan truk tersebut, dipandang cukup memadai.

BENTUK DAN ISI AKUN


Dalam praktik dikenal berbagai macam-macam bentuk akun, tetapi yang paling banyak digunakan (khususnya untuk keperluan menjelaskan mekanisme penggunaan akun dalam pengajaran akuntansi di sekolah) adalah akun yang berbentuk huruf T. Akun ini terdiri atas dua sisi, yaitu sisi kiri yang disebut sisi debet dan sisi kanan yang disebut sisi kredit.

Hubungan Antara Akun-Akun Rill Dengan Neraca


Posisi saldo-saldo akun rill di dalam buku besar adalah sejalan dengan penyajian pos-pos dalam neraca yang disusun dalam bentuk akun. Akun-akun aset (harta) yang dicantumkan pada sisi kiri neraca, adalah akun-akun yang biasanya mempunyai saldo debet, sedangkan akun-akun kewajiban dan modal yang dicantumkan pada sisi kanan neraca adalah akun-akun yang biasanya mempunyai saldo kredit. Atas dasar hubungan tersebut pertambahan aset dicatat di sisi debet, dan pertambahan kewajiban serta modal dimasukkan ke dalam sisi kredit. Sebaliknya apabila akun aset berkurang, maka hal tersebut dicatat di sisi kredit. Demikian pula apabila kewajiban serta modal berkurang, maka pengurangan tersebut dicatat di sisi debet.

Hubungan Antara Akun Nominal Dengan Modal


Akun-akun nominal adalah akun-akun yang digunakan untuk mencatat sumber-sumber pendapatan dan beban yang terjadi dalam usaha memperoleh pendapatan tersebut. Pada Bab 1 telah dijelaskan bahwa apabila pendapatan lebih besar daripada beban, maka perusahaan memperoleh laba, dan hal ini akan meyebabkan modal menjadi bertambah. Akan tetapi jika beban lebih besar, maka perusahaan menderita rugi dan modal perusahaan menjadi berkurang. Dengan lain perkataan, pendapatan cenderung untuk menambah modal, dan beban cenderung untuk mengurangi modal. Atas dasar hal inilah maka seperti halnya akun modal, setiap pertambahan dicatat disebelah kredit dan pengurangan atas pendapatan dicatat disebelah debet.

AKUN PRIVE
Pemilik perusahaan perseorangan atau sekutu-sekutu dari suatu persekutuan, biasanya secara periodik mengambil uang atau barang dagangan dari perusahaannya untuk keperluan pribadi. Pengambilan barang atau uang semacam ini disebut pengambilan prive. Pengambilan prive menyebabkan modal pemilik berkurang. Oleh karena itu pengambilan prive dapat dicatat dengan mendebet akun modal. Namun demikian pada umumnya perusahaan menyelenggarakan suatu akun khusus yang disebut akun prive.

Sifat-Sifat Akun Sifat-Sifat Akun Riil


Dalam uraian di muka telah dijelaskan bahwa sisi kiri akun-akun aset digunakan untuk mencatat pertambahan dan sisi kanan digunakan untuk mencatat pengurangan. Selain itu telah dijelaskan juga bahwa prosedur pengunaan akun-akun kewajiban dan akun-akun modal adalah berlawanan dengan akun aset, yaitu sisi kanan digunakan untuk mencatat pertambahandan sisi kiri digunakan untuk mencatat pengurangan. Untuk semua jenis akun, baik akun-akun aset, kewajiban, maupun modal, sisi kiri disebut sisi debet dan sisi kanan disebut sisi kredit. Dengan demikian sisi debet bisa menunjukkan pertambahan dan bisa juga penguranga, tergantung pada jenis akunnya. Begitu pula sisi kredit, bisa menunjukkan penambahan atau pengurangan.

Sifat-Sifat Akun Nominal


Aturan pendebitan dan pengkreditan untuk akun-akun pendapatan dan beban, didasarkan pada hubungan antara akun-akun tersebut terhadap modal. Laba bersih atau rugi bersih dalam suatu periode seperti yang nampak dalam laporan laba-rugi, adalah merupakan pertambahan bersih atau pengurangan bersih atas modal. Agar pengumpulan data untuk menyusun laporan rugilaba dapat dilakukan dengan mudah, maka dalam buku besar harus dibuat akun-akun untuk mencatat pendapatan dan beban.

Saldo Normal Akun


Akun merupakan alat untuk mecatat pertambahan atau pengurangan dalam satuan uang. Penambahan dicatat pada salah satu sisi akun dan pengurangan dicatat pada sisi lainnnya. Jumlah pertambahan dapat diketahui dengan menjumlahkan sisi pertambahan, demikian pula jumlah pengurangan dapat diketahui dengan menjumlahkan sisi pengurangan. Saldo akun adalah selisih antara jumlah sisi debet dengan jumlah sisi kredit. Jumlah sisi pertambahan dalam suatu akun bisa sama atau lebih besar daripada sisi pengurangannya, Akan tetapi hampir semua akun pada umumnya bersaldo positip (pertambahan lebih besar dari pada pengurangan).

PEMBUKUAN BERPASANGAN
Sistem pencatatan transaksi-transaksi keuangan dalam suatu perusahaan disebut pembukuan atau memegang buku (bookkeeping). Pemakaian akun dimaksudkan untuk dapat menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dan perubahan-perubahan serta sebab-sebab yang mengakibatkan perubahan pada kondisi keuangan perusahaan. Sistem pembukuan yang dipandang paling memuaskan untuk mencapai tujuan tersebut disebut sistem pembukuan berpasangan. Di dalam sistem pembukuan berpasangan setiap transaksi keuangan yang terjadi selalu dicatat dengan cara sedemikian rupa sehingga jelas pengaruhnya terhadap aset, kewajiban, modal, pendapatan dan beban. Prinsip utama sistem ini ialah bahwa setiap transaksi selalu dicatat dengan mendebet mengkredit dua buah akun atau lebih dengan jumlah yang sama. Dengan demikian setiap transaksi paling sedikit akan berpengaruh terhadap dua buah akun, yaitu satu akun didebet dan satu akun yang lain dikredit. Apabila perusahaan menggunakan sistem pembukuan berpasangan, maka transaksi tidak mungkin dicatat hanya dengan mendebet atau mengkredit saja.

Penerpan Sistem Pembukuan Berpasangan


Untuk menerapkan sistem pembukuan berpasangan dalam pencatatan transaksi, maka tiap transaksi yang terjadi harus dianalisis lebih dahulu. Yang dimaksud dengan menganalisis transaksi adalah menentukan dampak dari suatu transaksi terhadap komponen laporan keuangan (aset, kewajiban, modal, beban, pendapatan), Seperti diuraikan pada awal bab ini. Tahapan dalam menganalisis transaksi meliputi: a) Menentukan komponen laporan keuangan yang terpengaruh. b) Menentukan nama akun dari komponen laporan yang terpengaruh. c) Menentukan akun yang didebet dan akun yang dikredit beserta jumlah rupiahnya. Untuk mendapatkat gambaran yang lebih jelas tentang penerapan aturan pendebitan dan pengkreditan, maka di bawah ini akan dikemukakan cara melakukan pencatatan dalam akun-akun buku besar pada Perusahaan Angkutan Aman selama bulan Oktober 2010. Pada awal bulan Oktober 2010, Budi mendirikan perusahaan angkutan yang diberi nama Perusahaan Angkuta Aman dan menanamkan modalnya dalam perusahaan tersebut berupa : uang tunai sebanyak Rp 7.400.000,00 dan peralatan kantor seharga Rp 150.000,00. Analisis transaksi: a) Akun aset dan akun modal bertambah. b) Nama akun-akun aset yang dipakai adalah Kas dan Peralatan Kantor, dan akun modal adalah Modal-Budi. c) Debet: Kas sebesar Rp 7.400.000,00 karena aset bertambah. Debet: Peralatan Kantor Rp 150.000,00 karena aset bertambah. Kredit: Modal-Budi Rp 7.550.000,00 karena modal bertambah.

NERACA SALDO
Dalam sistem pembukuan berpasangan, pendebetan sebagai akibat dari suatu transaksi harus sama dengan pengkreditan dari transaksi yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam buku besar, jumlah pendebitan-pendebitan, harus selalu sama dengan jumlah pengkreditan-pengkreditannya. Untuk menguji kebenaran pendebitan dan pengkreditan ini, maka pada akhir masa tertentu harus dibuat Neraca Saldo. Yang dimaksud dengan neraca saldo ialah daftar yang berisi saldo-saldo dari seluruh akun yang ada di dalam buku besar pada suatu saat tertentu. Tujuan pembuatan neraca saldo adalah: 1. Untuk menguji kesamaan debet dan kredit di dalam buku besar. 2. Untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca saldo dapat dibuat setiap saat setelah pencatatan suatu transaksi, akan tetapi untuk praktisnya neraca saldo biasanya dibuat pada akhir tiap-tiap bulan. Neraca saldo berisi nama-nama akun yang terdapat dalam buku besar beserta jumlah saldonya masing-masing. Nama perusahaan dan tanggal pembuatan neraca saldo dituliskan pada bagian atas, sedangkan nama-nama akun ditulis denga urut-urutan yang sama seperti yang dilakukan dalam buku besar, dan jumlah rupiahnya harus dimasukkan kedalam kolom yang sesuai. Saldo debet ditempatkan di sebelah kiri dan saldo kredit di sebelah kanan. Neraca saldo yang disusun pada akhir bulan pertama sejak perusahaan didirikan merupakan ringkasan dari catatan-catatan selama satu bulan. Neraca saldo yang disusun pada akhir bulanbulan berikutnya merupakan ringkasan catatan selama beberapa bulan. Misalnya : neraca saldo perusahaan angkutan Aman yang disusun pada tanggal 31 Desember 2010 merupakan ringkasan catatan-catatan selama bulan Oktober, November dan Desember (perusahaan angkutan Aman baru didirikan awal bulan Oktober 2010). Jadi jika suatu perusahaan telah berjalan selama 11 bulan, di mana pada akhir tiap bulan disusun neraca saldo, maka neraca saldo yang disusun pada akhir bulan kesebelas apabila data-datanya hanya menyangkut transaksi-transaksi bulan kesebelas saja, tidak akan bermanfaat. Misalkan akun Kas sampai dengan akhir bulan kesepuluh menunjukkan saldo debet: Rp250.000.00. Selama bulan kesebelas akun Kas telah didebet Rp 20.000,00 dan kredit Rp 35.000,00. Apabila neraca saldo pada akhir bulan kesebelas hanya menyangkut transaksi-transaksi bulan kesebelas saja, maka saldo akun Kas dalam neraca saldo akan menunjukkan saldo kredit sebesar Rp 15.000,00. Jelaslah bahwa neraca saldo yang disusun dengan cara demikian tidak akan menunjukkan hal sesungguhnya, sebab akun Kas pada akhir bulan kesebelas hanya seharusnya menunjukkan saldo debet sebesar Rp 235.000,00 (saldo sampai dengan bulan kesepuluh Rp250.000,00 ditambah debet Rp 20.000,00 dan dikurangi kredit Rp 35.000,00).

Proses Pembuatan Neraca Saldo


Penyususunan neraca saldo dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Pertama-tama jumlahkan kolom debet dan kolom kredit semua akun yang terdapat di buku besar.

(2) Tulislah hasil penjumlahan tersebut pada kolom yang sesuai dalam akun yang bersangkutan. Penulisan angka hasil penjumlahan ini dilakukan dengan pensil karena hanya bersifat sementara. (3) Hitunglah saldo semua akun yang terdapat dalam buku besar, yaitu dengan cara menghitung selisih jumlah kolom debet dan jumlah kolom kredit yang telah dilakukan pada pad butir (2) di atas. (4) Susunlah neraca saldo yang berisi nama semua akunnyang terdapat dalam buku besar beserta saldonya masing-masing yang telah di tentukan pada butir (3) di atas.

Penyebab Ketidak Seimbangan Neraca Saldo


Apabila neraca saldo yang disusun perusahaan menunjukkan bahwa jumlah sisi debet tidak sama dengan jumlah sisi kredit, maka hal ini member petunjuk adanya kesalahan. Beberapa kemungkinan yang menjaddi penyebab ketidak seimbangan tersebut adalah: 1. Kesalahan di dalam menyusun neraca saldo. a) Salah menjumlahkan kolom saldo (rupiah) b) Satu buah akun atau lebih, belum dicantumkan dalam neraca saldo, atau salah menuliskan jumlah saldonya. 2. Kesalahan di dalam menentukan saldo akun. a) Salah menghitung jumlah saldo. b) Saldo debet suatu akun ditulis sebagai saldo kredit, atau sebaliknya. c) Salah menghitung jumlah pada salah satu sisi akun. 3. Kesalahan mencatat transaksi didalam buku besar. a) Transaksi telah dicatat dengan jumlah pendebitan yang tidak sama besar dengan jumlah pengkreditan. b) Pendebetan telah dicatat sebagai pengkreditan atau sebaliknya. c) Lupa mencatat suatu pendebetan atau pengkreditan.

Dari uraian di ata telah jelas bahwa catatan di dalam buku besar harus dilakukan secara teliti dengan menggunakan akun yang tepat dan jumlah yang benar. Jelaslah pula bahwa kesalahan pencatatan dalam buku besar akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam penyusunan neraca saldo, dan selanjutnya laporan keuangan juga tidak akan memberikan gambaran yang benar.

BAB 3

JURNAL DAN POSTING B

uku besar yang terdiri ata akun-akun adalah utnuk mencatat transaksi perusahaan.

Dalam buku besar pengaruh transaksi-transaksi perusahaan diklasifikasikan dan ringkas. Dalam bab yang lalu telah dijelaskan cara mencatat pendebetan dan pengkreditan pada akun-akun yang dilakukan secara langsung untuk tiap transaksi. Di dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya, pencatatan atas suatu transaksi atau sekelompok transaksi yang sama, harus didasari oleh tanda bukti berupa dokumen-dokumen transaksi seperti faktur, kwitansi dan sebagainya. Pengaruh transaksi tidak dicatat secara langsung dalam buku besar, tetapi masing-masing transaksi dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-elemen persamaan akuntansi (aset, kewajiban, modal, pendapatan dan beban) dan kemudian baru dipndahkan ke buku besar. Hasil analisis transaksi tersebut dituangkan dalam suatu alat pencatatan yang disebut jurnal. Dengan demikian jurnal merupakan penghubung antara transaksi dengan buku besar.

JURNAL
Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukkan akun yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing. Setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan. Sebelum dibukukan ke buku besar, harus dicatat dahulu dalam jurnal. Oleh karena itu buku jurnal sering disebut juga sebagai buku catatan pertama (book of original entry). Manfaat pemakaian jurnal adalah sebagi berikut: 1. Jurnal merupakan alat pencatatan yang dapat memnggambarkan akun-akun yang terpengaruh oleh suatu transaksi. 2. Jurnal juga merupakan alat pencatatan yang memberi gambaran secara kronologis (menurut urutan waktu terjadi transaksi). 3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjadi beberapa jurnal khusus yang dapat dikerjakan oleh beberapa orang secara bersamaan. 4. Jurnal menyediakan ruang yang cukup untuk keterangan transaksi. Apabila transaksi dicatat secara langsung ke buku besar dan terjadi kesalahan dalam mencatatnya, maka letak kesalahan tersebut di buku besar akan sulit ditemukan. Jenis-jenis kesalahan yang sulit ditemukan bila transaksi dicatat langsung ke buku besar, misalnya: lupa mendebet atau mengkredit satu akun, dan melakukan pendebetan atau pengkreditan pada sisi akun yang salah. Dengan menggunakan jurnal, maka setiap transaksi dicatat secara utuh pada suatau tempat, sedangkan dalam buku besar sebagian dari transaksi dicatat pada suatu akun dan sebagian lagi dalam akun yang lain. Jurnal adalah catatan berupa pendebetan dan pengkreditan yang merupakan pengaruh dari transaksi-transaksi secara kronologis beserta penjelasan-penjelasan yang yang diperlukan untuk transaksi-transaksi tersebut. Data-data transaksi yang terkumpul di buku besar merupakan sumber untuk menyusun laporan keuangan. Jurnal dan akun-akun buku besar mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan di dalam mencatat transaksi-transaksi perusahaan. Jurnal mencatat pengaruh dari tiap-tiap transaksi perusahaan terhadap persamaan akuntansi secara kronologis, sedangkan akun-akun buku besar mengelompokkan dan meringkas pengaruh transaksi-transaksi terhadap aset, utang, modal, pendapatan, dan beban. Dengan demikian jurnal tidaklah menggantikan kedudukan buku besar. Jurnal adalah buku pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi pada saat transaksi terjadi. sedangkan buku besar merupakan buku terakhir di mana pendebetan dan pengkreditan dari jurnal dipindahkan kedalamnya, sehingga dapat dikumpulkan dalam akun-akun yang tepat.

Betuk Jurnal
Dalam praktik akuntansi dikenal berbagai bentuk jurnal, mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit. Pada bab ini akan diperkenalkan bentuk jurnal yang paling sederhana, yang disebut jurnal dua kolom. Sebenarnya kolom yang terdapat dalam jurnal ini lebih dari dua buah, tetapi kolom yang tersediah untuk mecatat jumlah rupiahnya hanya dua, yaitu satu kolom untuk

mencatat jumlah rupiah yang didebet, dan kolom lain untuk mencatat jumlah rupiah yang dikredit. Contoh bentuk jurnal adalah sebagai berikut:
Tanggal (1) 1 Keterangan (2) Ref Debet (3) (4) Jumlah Kredit (5)

Pemakaian Kolom-kolom dalam lembar jurnal adalah sebagai berikut: Kolom (1) : untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi. Kolom ini terbagi atas dua bagian. Bagian kiri digunakan untuk mencatat tahun dan bulan, sedangkan bagian kanan untuk mencatat tanggal. Kolom (2) : untuk mencatat nama akun yang di debet dan nama akun yang dikredit. Dalam kolom ini dicatat juga keterangan atau uraian singkat tentang transaksi yang dicatat. Kolom (3) : untuk mencatat nomor akun yang didebet maupun akun yang kredit. Cara pemakaian kolom ini akan di terangkan pada bagian lain pada bab ini. Kolom (4) : untuk mencatat jumlah rupiah yang harus didebetkan ke dalam akun yang namanya telah tertulis pada kolom (2). Kolom (5) : untuk mencatat jumlah rupiah yang harus didebetkan ke dalam akun yang namanya telah tertulis pada kolom (2).

Nama Akun Dalam Jurnal


Semua transaksi yang terjadi harus dicatat dalam jurnal dengan menuliskan nama akun yang didebet dan nama aku yang dikredit, sesuai dengan peraturan pendebetan dan pengkreditan seperti telah diuraikan pada Bab 2. Nama akun yang digunakan dalam menjurnal harus sama dengan nama akun yang digunakan di dalam buku besar. Sebagi contoh misalnya perusahaan

membeli sebuah gedung, maka akun yang harus digunakan adalah akun Gedung dan bukannya akun beli Gedung. Contoh yang lain, misalnya perusahaan menerima uang, maka akun yang harus digunakan adalah akun Kas dan bukannya akun Teriman Uang. Contoh lembar jurnal yang telah digunakan adalah sebagai berikut:
Tanggal (1) 2010 Nov. Keterangan (2) 1.Kas 1 Modal,Amir 1 (Setoran Modal Dari Amir) 2. Peralatan Kantor Kas (Pembelian Computer) 3 Ref Debet (3) (4) Jumlah Kredit (5)

Rp.100.000.000,00

Rp100.000.000,00

500.000,00 500.000,00

Jurnal yang dibuat untuk suatu transaksi tertentu disebut ayat jurnal. Antara ayat jurnal yang satu dengan ayat jurnal yang lain hendaknya diberi jarak satu baris, sehingga jelas terlihat batas antara ayat jurnal yang satu dengan ayat jurnal yang lainnya. Kolom nomor akun tidak diisi pada saat menjurnal. Kolom ini harus diisi dengan nomor akun setelah suatu ayat jurnal dicatat dalam akunakun yang bersangkutan di buku besar. Dengan cara demikian maka kan dapat di ketahui ayat jurnal mana yang telah dibukukan ke buku besar dan jurnal-jurnal mana yang belum dicatat ke buku besar.

POSTING
Proses memindahkan ayat-ayat jurnal yang telah dibuat dalam buku jurnal ke buku besar disebut posting. Yaitu memindahkan angka yang tercantum dalam kolom debet jurnal ke dalam sisi debet suatu akun dan memindahkan angka yang tercantum dalam kolom kredit jurnal ke dalam sisi kredit akun yang lain. Seperti telah diuraikan di atas, nama akun yang diposting di buku besar harus sesuai dengan nama akun yang tertulis di dalam jurnal. Uratan-uratan kegiatan memindahkan ke akun buku besar ini harus sejalan dengan urutan-urutan mendebet dan mengkredit dari jurnal. Dalam perusahaan-perusahaan besar, posting ke buku besar biasanya dilakukan dengan menggunakan mesin pembukuan atau secara otomatis dilakukan dengan komputer. Apabila posting dilakukan dengan tangan (dengan cara manual), maka cara yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1) Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal dicatat kembali dalam akun yang bersangkutan.

2) Apabila posting telah dilakukan, maka nomor halaman jurnal harus dituliskan dalam kolom F (folio) di akun. 3) Langka berikutnya adalah menuliskan nomor akun yang telah diposting pada kolom Nomor Akun di dalam jurnal. Prosedur ini mempunyai dua tujuan yaitu. a) Untuk menunjukkan bahwa ayat jurnal tersebut telah diposting. b) Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan akun di buku besar.

Kode Akun
Kelompok-kelompok utama akun di buku besar telah dijelaskan dalam bab yang lalu. Jumlah akun-akun yang digunakan dalam perusahaan tergantung pada sifat operasi perusahaan, volume kegiatan perusahaan, dan sampai beberapa jauh dibutuhkan rincihan. Seperti telah dikemukakan pada Bab 2, apabila perusahaan membutuhkan informasi yang sangat rinci, maka jumlah yang perlu disediakan akan semakin banyak.

Penggunaan Jurnal Dan Buku Besar


Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penggunaan jurnal dan buku besar, marilah kita ikuti contoh dalm kasus berikut ini: Sejak beberapa bulan yang lalu, Budi mengusahakan suatu percetakan kecil di rumhanya, yang dilakukan sebagai usaha sambilan. Pada tanggal 1 April 2010, Budi bermaksud untuk memperbesar usahanya dalam bentuk suatu perusahaan percetakan yang akan ditanganinya secara sungguh-sungguh. Perusahaan tersebut diberi nama Percetakan Rapih. Harta kekayaan budi dalam usaha lama dialihkan pada perusahaan yang baru, yaitu berupa: uang tunai Rp290.000,00, piutang Rp65.000,00, perlengkapan (barang-barang kebutuhan untuk percetakan seperti: kertas, tinta cetak, dan sebagainya) Rp1.125.000,00, mesin cetak seharga Rp3.000.000,00, dan gedung Rp9.000.000,00. Transaksi di atas dapat dicatat dalam pembukuan perusahaan percetakan Rapih dalam bentuk 5 buah ayat jurnal yang masing-masing mendebet akun aset dan mengkredit akun Modal Budi dengan jumlah yang sama, atau dapat juga menjurnal seluruh transaksi di atas dalam saru ayat jurnal dengan cara mendebet 5akun aset dan mengkredit akun Modal untuk jumlah seluruhnya.

Neraca Saldo
Setelah semua ayat jurnal yang dibuat selama periode diposting kebuku besar, maka pada akhir periode perlu disusun neraca saldo. Manfaat dan proses penyusunan neraca saldo telah dijelaskan pada Bab 2. Sebagaimana dijelaskan pada bab tersebut, tujuan utama penysunan neraca saldo adalah untuk menguji bahwa setelah semua posting dilakukan, jumlah debet sama dengan jumlah kredit. Hal ini sejalan dengan penerapan metoda pembukuan berpasangan yang mencatat setiap transaksi dengan cara melakukan pendebetan dan pengkreditan dengan jumlah yang sama.

Penetapan Saldo
Dalam perusahaan yang menggunakan akun saldo berjalan, saldo akun dapat diketahui setiap saat sehingga neraca saldo dapat disusun dengan mengutip jumlah saldo yang telah tersedia pada setiap

akun. Akan tetapi bila perusahaan menggunakan akun bentuk T, maka saldo akun harus dihitung dahulu dan setelah itu disusun neraca saldo. Langka pertama di dalam menyusun neraca saldo pada perusahaan yang menggunakan akun bentuk T adalah menjumlahkan kolom debet atau kredit yang mempunyai dua atau lebih pendebetan atau pengkreditan. Untuk akun-akun yang memiliki jumlah debet dan jumlah kredit harus dihitung saldonya. Contoh akun semacam ini adalah akun Kas pada halaman 144. Sisi debet dan sisi kredit akun dijumlahkan, kemudian saldonya (selisihnya) ditulis pada sisi yang besar sejajar dengan jumlah dari sisi yang besar tersebut.

BAB 4

PENYESUAIAN PEMBUKUAN P

ada bab 3 telah diterangkan 3 tahap kegiatan dalam proses akuntansi yaitu:

1) Mencatat transaksi-transaksi dalam jurnal. 2) Membukukan (posting) ayat-ayat jurnal ke buku besar. 3) Menyusun neraca saldo, yaitu membuat daftar saldo-saldo akun yang ada di buku besar pada akhir periode. Seperti telah di uraikan pada Bab 3, penyusunan neraca saldo biasanya dilakukan pada tiap-tiap akhir bulan atau pada akhir periode akuntansi. Saldo-saldo ini merupakan ringkasan dari pengaruh transaksi yang telah dicatat dalam suatu periode akuntansi. Sebagaimana disebutkan pada bab yang lalu, salah satu tujuan pembuatan neraca saldo adalah untuk mempersiapkan penyusunan laporan keuangan. Namun demikian, laporan keuangan seringkali tidak dapat disusun langsung dari neraca saldo, karena data yang tercantum dalam neraca saldo masih memerlukan penyesuaian terlebih dahulu. Oleh karena itu salah satu tahapan dalam proses penyusunan laporan keuangan adalah melakukan penyesuaian pembukan dengan cara membuat jurnal penyesuaian yang akan diterangkan dalam bab ini.

MENGAPA DIPERLUKAN PENYESUAIAN


Pembuatan penyesuaian pada umumnya berkaitan dengan penentuan laba bersih perusahaan. Seperti kita ketahui, tujuan utama perusahaan adalah mendapatkan laba, sehingga penetuan laba yang tepat adalah merupakan salah satu fungsi akuntansi yang sangat penting. Sehubungan dengan hal ini dalam akuntansi dikenal beberpa konsep dan prinsip yang erat kaitannya dengan penentuan laba yang akan diterangkan dalam uraian berikut, yaitu konsep akuntansi akrual, asumsi periode akuntansi, prinsip pendapatan & prinsin penandingan.

Dasar Akrual Dan Dasar Tunai


Akuntansi mengenal dua dasar yaitu dasar akrual dan dasar tunai. Dalam dasar akrual, akuntansi mengakui pengaruh transaksi pada saat transaksi tersebut terjadi. Apabila terjadi transaksi pemberian jasa, penjualan barang, atau pengeluaran beban, maka transaksi-transaksi tersebut akan dicatat dalam pembukuan sebagai pedapatan atau beban, tanpa memandang apakah kas sudah diterima atau dikeluarkan. Sebaliknya apabila digunakan dasar tunai, transaksi pendapatan dan beban hanya akan dicatat apabila terjadi penerimaan atau pengeluaran kas.

Periode Akuntansi
Apabila kita ingin mengetahui dengan pasti keberhasilan operasi perusahaan, maka cara yang paling ekstrim adalah dengan menghentikan operasi perusahaan, menjualmsemua aset, melunasi semua utang, dan mengembalikan kas yang tersisa kepada para pemilik perusahaan. Proses semacam ini disebut likuidasi, yang artinya sama dengan membubarkan perusahaan. Apabila kas yang diterima dari proses likuidasi tersebut lebih besar dari kas. Sebaliknya jika kas yang diterima lebih kecil dari modal yang ditanamkan, perusahaan dikatakan gagal dan pemilik menderita kerugian. Cara penentuan keberhasilan perusahaan semacam ini tidak lazim dan tidak praktis. Penentuan keberhasilan (atau kegagalan) perusahaan tidak harus dilakukan dengan membubarkan perusahaan lebih dahulu. Cara yang lazim adalah dengan membuat laporan kemajuan perusahaan secara periodic, tanpa harus membubarkan perusahaan.

Prinsip Pendapatan
Prinsip pendapatan mengatur tentang (1) kapan pendapatan dicatat dan (2) jumlah pendapatan yang dicatat. Apabila kita bicara tentang pencatatan suatu transaksi dalam akuntansi, maka biasanya yang terbayang adalah kegiatan membukukan transaksi ke dalam buku besar, membuat neraca saldo, dan menyusun laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena hasil akhir proses akuntansi dan perhatian kita sering ditujukan pada laporan keuangan. Akan tetapi pembahasan tentang prinsip pendapatan buku ini akan ditekankan pada pembuatan jurnal, kerana penjurnalan merupakan tindakan yang pertama dalam kegiatan proses akuntansi.

Prinsip Penandingan
Prinsip penandingan adalah dasar untuk mencatat beban. Beban-beban seperti misalnya

beban sewa, beban gaji, dan beban advertensi adalah pengorbanan yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan. Beban adalah bagian dari beban perolehan aset yang digunakan untuk memperoleh pendapatan.

Prinsip Akuntansi Dan Penentuan Laba Bersih


Prinsip-prinsip dan konsep akuntansi yang telah diuraikan di atas berpengaruh pada penentuan laba bersih perusahaan. Oleh karena itu, saldo-saldo akun yang tercantum dalam neraca saldo harus diteliti satu demi satu untuk menentukan apakah saldo tersebut telah sesuai dengan prinsip dan konsep akuntansi di atas. Apabila kita amati akun-akun yang tercantum dalam neraca saldo, maka akan kita jumpai bahwa kebanyakan akun dapat dikutip langsung dari neraca saldo ke dalam laporan keuangan tanpa perubahan. Namun beberapa akun yang lain memerlukan penyesuaian terlebih dahulu. Sebagai contoh misalnya saldo akun Kas menunjukkan jumlah kas yang tersedia pada hari terakhir dari suatu periode, sedangkan saldo akun Perlengkapan menunjukkan harga beli (di sebut beban perolehan) perlengkapan pada awal periode ditambah harga perlengkapan yang dibeli selama periode itu.

DUA KATEGORI JURNAL PENYESUAIAN


Penyesuaian dalam pendapatan dan beban akan berdampak pada aset dan kewajiban, dan pada akhirnya akan berdampak juga pada modal perusahaan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan proses penyesuaian adalah: 1) Agar setiap akun nominal (akun-akun pendapatan dan akun-akun beban) menunjukkan pendapatan dan beban yang seharusnya diakui dalm suatu periode akuntansi. 2) Agar setiap akun rill, khususnya akun-akun aset dan akun-akun kewajiban, menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode akuntansi. Sebagian besar penyesuaian yang harus dilakukan pada akhir periode dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok deferal dan kelompok akrual. Kelompok deferral timbul dari pencatatan akuntansi yang dilakukan sedemikian rupa sehingga terjadi penundaan pengakuan suatu beban atau suatu pendapatan. Deferal atau penundaan bisa berupa penundaan pengakuan beban atau penunduaan pengakuan pendapatan. Kelompok akrual timbul dari keterlambatan pencatatan akuntansi yang terjadi sedemikian rupa sehingga perusahaan belum mencatat beban yang sudah terjadi serta pendapatan yang telah menjadi hak perusahaan. Akrual bisa berupa beban yang maih harus dibayar atau pun pendapatan yang masih akan diterima (disebut juga piutang pendapatan).

JURNAL PENYESUAIAN

Penyesuaian atas saldo-saldo akun di buku besar dilakukan dengan membuat jurnal yang disebut jurnal penyesuaian. Atas dasar dua ketegori jurnal penyesuaian yang telah diuraikan di atas, kita dapat membagi lagi jurnal penyesuaian menjadi lima tipe, yaitu: 1. Beban dibayar di muka 2. Depresiasi 3. Beban masih harus dibayar 4. Pendapatan masih akan diterima 5. Pendapatan diterima di muka Pembahasan tentang jurnal penyesuaian yang harus dibuat untuk masing-masing tipe di atas akan dilakukan dengan menggunakan contoh hipotetis Perusahaan Percatakan Rapih yang merupakan kelanjutan dari pencatatan dalam jurnal dan posting ke buku besar tersebut pada bab 3 yang lalu. te

Beban Dibayar Di Muka


Pos beban dibayar di muka terdiri dari berbagai pembayaran di muka untuk bermacam-macam keperluan. Dengan akun yang disediakan di buku besar untuk pos ini bisa lebih dari satu buah. Pada perusahaan Percatakan Rapi terdapat tiga akun yang termasuk kategori ini, yaitu Asuransi Dibayar di Muka, Perlengkapan, dan akun aset tetap (yaitu akun Mesin dan Gedung). Pembahasan tentang depresiasi aset tetap diuraikan dalam paragraph tersendiri, mengingat banyak konsep yang harus dipahami tentang hal tersebut.

Asuransi Dibayar Di Muka


Perusahaan Percetakan Rapih mengasuransikan mesin-mesin cetaknya pada sebuah perusahaan asuransi. Sehubungan dengan itu Percetakan Rapih harus membayar premi asuransi yang sebesarnya Rp.20.000,00 perbulan. Pada tanggal 2 April 2010, perusahaan membeyar premi asuransi untuk 3 bulan sekaligus yaitu untuk bulan April, Mei, da Juni 2010.

Depresiasi
Perusahaan pada umumnya memiliki aset-aset berupa gedung, mesin, kendaraan, peralatan, mabel, dan sebagainya. Ciri khas aset-aset semacam itu adalah masa penggunaannya yang panjang, bahkan ada yang bisa digukan sampai berpuluh-puluh tahun. Karena masa penggunaannya cukup panjang, maka aset-aset semacam itu disebut aset tetap. Pada saat dieproleh (misalnya, dibeli), aset tetap dicatat sebesar beban perolehannya (cost) sesuai dengan prinsip akuntansi yang mengatur hal itu. Pada hakekatnya, pengeluaran untuk membeli aset tetap merupakan beban yang ditangguhkan berjangka panjang. Dalam uraian di atas, pemakaian perlengkapan terlihat jelas dari penurunan jumlah perlengkapan. Jumlah perlengkapan yang dipakai adalah selisih antara jumlah perlengkapan yang dibeli dikurangi dengan jumlah perlengkapan yang tersisa pada akhir periode. Dalam hal aset tetap, penurunan nilainya tidak terlihat dengan jelas. Dengan adanya pemakaian aset tetap dalam operasi perusahaan, kemampuan aset utnuk menghasilkan jasa yang bermanfaat menjadi menurun, dan berakibat menurunnya nilai aset tetap tersebut. Penurunun kemampuan dan nilai aset karena digunakan dalam operasi perusahaan merupakan beban yang dikorbankan untuk memperoleh

pendapatan. Pembebanan penurunan nilai ini dilakukan akuntan dengan menyebarkan secara sistematis beban perolehan aset tetap sepanjang masa manfaat (umur ekonomis) aset tersebut. Proses pengalokasian beban perolehan ini disebut depresiasi.

Depresiasi Mesin
Di atas telah dijelaskan bahwa deprisiasi adalah proses pengalokasian beban perolehan aset tetap secara sistematis selama masa manfaat (umur) aset tetap tersebut. Proses pengalokasian biasanya dilakukan setiap akhir periode (setiap akhir bulan atau akhir tahun, tergantung periode akuntansi perusahaan). Misalkan Budi memperkirakan bahwa kedua mesin cetak yang dimiliki percetakan akan dapat digunakan secara ekonomis selama 4 tahun. Salah satu cara untuk menghitung beban depresiasi adalah dengan membagi beban perolehan aset (Rp4.800.000,00) dengan taksiran umur (4 tahun atau 48 bulan). Berhubung Percetakan Rapih menetapkan periode akuntansi selama 1 bulan (penyusunan laporan keuangan dilakukan secara sebulan), maka depresiasi dihitung utnuk jangka waktu satu bulan. Beban depresiasi mesin perbulan adalah Rp4.800.000,00 dibagi 48 = Rp100.000,00 Pembebanan depresiasi sebesar Rp100.000,00.

Akun Akumulasi Depresiasi


Pembebanan depresiasi adalah proses pengalokasian beban perolehan aset tetap. Dalam hal depresiasi mesin di atas, yang dialokasikan adalah beban perolehan mesin sebesar Rp4.800.000,00 selama 4 tahun atau 48 bulan. Kalau yang dialokasikan (Rp4.800.000,00) berada dalam akun Mesin, mengapa bukan akun mesin yg dikredit Mengapa yang dikredit justru akun akumulasi depresiasi? Sebenarnya tidaklah salah kalau kita mengkredit akun mesin, namun informasi yang dihasilkan akan berbeda. Manajemen biasanya berkeinginan agar beban perolehan aset tetap selalu nampak dalam neraca. Apabila akun mesin dikredit setiap bulan sebesar depresiasi bulanan, maka saldo akun mesin yang dilaporkan dineraca akan semakin menurun dan beban perolehanaslinya menjadi tidak kelihatan lg. Informasi tentang beban perolehan (cost) aset tetap berguna bagi manajemen, misalnya dalam rangka pengambilan keputusan untuk membeli mesin baru. Dengan membuat ayat jurnal penyesuaian seperti di atas, akun mesin tidak dikredit melainkan tetap menunjukkan saldo beban perolehannya. Akun Akumulasi Depresiasi menghimpun (mengakumulasi) beban depresiasi bulanan sehingga akan selalu nampak jumlah depresiasi yang telah dibukukan. Saldo akun Akumulasi Depresiasi pada suatu saat tertentu adalah kumpulan depresiasi bulanan yang telah dilakukan sampai saat itu. Akumulasi depresiasi adalah sebuah aset kontra, artinya akun ini merupakan aset yang bersaldo normal kredit. Sebuah akun kontra memiliki dua karakteristik pokok, yaitu: 1) Sebuah akun kontra selalu berpasangan dengan dan mengikuti akun pasangannya. 2) Saldo normal sebuah akun kontra adalah kebalikan dari saldo akun pasangannya. Sebagai contoh, Akun Akumulasi Depresiasi mesin adalah akun kontra yang selalu mengikuti akun Mesin. Akun Mesin adalah akun bersaldo debet, sengkan Akumulasi Depresiasi yang merupakan kontra aset, selalu bersaldo kredit.

Nilai Buku
Neraca melaporkan mesin beserta akumulasi depresiasinya. Karena merupakan akun kontra, maka Akumulasi Depresiasi dikurangkan terhadap Mesin. Hasil akhirnya, yaitu beban perolehan mesin dikurangi dengan akumulasi depresiasi mesin merupakan nilai buku mesin. perhitungan nilai buku mesin adalah sebagai berikut: Mesin. Rp4.800.000,00 Dikurangi: Akumulasi Depresiasi Mesin. 100.000,00 Nilai buku mesin... Rp4.700.000,00 ============

Beban Masih Harus Dibayar


Beban seperti beban asuransi atau beban sewa biasanya dibayar perusahaan di muka, artinya jasa belum kita terima tapi kita harus sudah membayar lebih dahulu. Seperti telah diterangkan di atas, pembayaran di muka seperti ini termasuk kelompok deferral. Di pihak lain sejumlah beban tertentu biasanya dibayar dibelakang. Artinya jasa sudah diterima atau dikonsumsi perusahaan,tetapi pembayarannya baru dilakukan kemudian.

Pendapatan Masih Akan Diterima


Seperti telah kita pelajari di atas, beban dapat terjadi sebelum perusahaan melakukan pembayaran, sehingga pada akhir periode menimbulkan kewajiban (utang). Demikian pula, perusahaan dapat memperoleh pendapatan padahal belum menerima uangnya. Hal demikian disebut pendapatan masih akan diterima. Yaitu pendapatan yang telah menjadi hak perusahaan tetapi masih merupakan tagihan.

NERACA SALDO SETELAH DISESUAIKAN


Pada awal bab ini telah diterangkan bahwa langka-langka dalam siklus akuntansi dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 1) Mencatat transaksi-transaksi dalam jurnal. 2) Membukukan (posting) ayat-ayat jurnal ke buku besar. 3) Mnyusun neraca saldo, yaitu membuat daftar saldo-saldo akun yang ada di buku besar pada suatu saat tertentu. 4) Membuat jurnal penyesuaian dan membukukan angka-angkanya ke dalam akun-akun besar yang bersangkutan. Apabila data yang tercantum dalam neraca saldo tidak memerlukan penyesuaian, maka langkah keempat adalah menyusun laporan keuangan yang datanya dikutip dari neraca saldo tersebut. Akan tetapi jika data dalam pembukuan masih memerlukan penyesuaian seperti telah dibahas di atas, maka langkah berikutnya adalah: 5) Menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan. 6) Menyusun laporan keuangan. Dalam contoh kasus Percetakan Rapih di atas, kita telah membuat 8 ayat jurnal penyesuaian. Apabila ayat-ayat jurnal tersebut dibukukan ke dalam buku besar, maka sejumlah akun di buku

besar akan berubah saldonya, bahkan muncul beberapa akun baru yang tidak ada dalam neraca saldo yang telah kita susun sebelumnya. Pada Bab3 disebutkan bahwa salah satu tujuan pembuatan neraca saldo adalah untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan. Tujuan ini berlaku apabila neraca saldo tidak memerlukan penyesuaian. Apabila data dalam neraca saldo masih harus disesuaikan lebih dahulu, maka angka-angka dalam neraca saldo tidak sepenuhnya dikutip kedalam laporan keuangan. Oleh karena kita memerlukan neraca saldo yang baru, yang disebut neraca saldo yang telah disesuaikan. Neraca saldo setelah disesuaikan dapat dikerjakan langsung dari buku besar setelah jurnal penyesuaian dibukukan kedalamnya. Apabila buku besar terdiri dari banyak akun, maka proses posting jurnal penyesuaian dan penyusunan neraca saldo yang baru, akan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh kare itu agar penyusunan laporan keuangan dapat segera diperoleh melalui bantuan suatu kertas kerja yang terdiri atas tiga pasang kolom. Kolom pertama berisi data neraca saldo sebelum disesuaikan, kolom kedua memuat pendebetan dan pengkreditan untuk akun-akun yang perlu disesuaikan, dan kolom ketiga berisi neraca saldo sesudah disesuaikan.

ALTERNATIF LAIN
Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir periode dilakukan dengan tujuan agar data di buku besar mencerminkan keadaan yang benar, sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum. Ini berarti bahwa jurnal penyesuaian yang harus dibuat tergantung kepada apa yang sudah dicatat sebelumnya, sebagaimana tercermin dalam neraca saldo sebelum disesuaikan. Hal ini terutama berkaitan dengan pembayaran beban di muka dan penerimaan pendapatan diterima di muka (pos-pos deferal).

Asuransi Dibayar Di Muka


Sebagaimana diuraikan di atas, pada tanggal 3 April 2010 Percetakan Rapih membayar premi asuransi untuk tiga bulan (April, Mei, dan Juni) sebesar Rp60.000,00. Premi asuransi adalah beban bagi perusahaan. Dalam contoh yang lalu Percetakan Rapih mencatat transaksi tersebut dengan mendebet Akun aset ini dipilih dengan pertimbangan bahwa premi yang dibayar menyangkut lebih dari satu periode. Alternatif lain, Percetakan Rapih tidak mencatat transaksi ini dengan mendebet akun aset, melainkan mendebet akun beban, yaitu akun Beban Asuransi.

Pendapatan Sewa Diterima Di Muka


Percetakan Rapih memiliki sebuah gedung yang sebagian ruangannya disewakan kepada perusahaan lain dengan tariff Rp15.000,00 sebulan. Sebagaimana diuraikan di atas, pada tanggal 3 April 2010 Percetakan Rapih menerima pembayaran sewa di muka untuk 6 bulan (bulan April sampai dengan Oktober 2010) sebesar Rp90.000,00 Sewa adalah pendapatan bagi perusahaan. Dalam contoh yang lalu, Percetakan Rapih mencatat transaksi tersebut dengan mengkredit akun Pendapatan Sewa Diterima di Muka (sabuah akun kewajiban), sebagaimana tercermin juga dalam

neraca saldo tanggal 30 April 2010. Akun kewajiban ini dipilih dengan pertimbangan bahwa sewa yang diterima menyangkut lebih dari satu periode. Alternatif lain, Percetakan Rapih tidak mencatat transaksi dengan mengkredit akun kewajiban, melainkan mengkredit akun pendapatan, yaitu akun Pendapatan Sewa.

BAB 5

NERACA LAJUR P

embuatan jurnal penyesuaian seperti telah diterangkan pada Bab 4, dilakukan

sebagai persiapan untuk menyusun neraca dan laporan laba-rugi. Dengan melaksanakan penyesuaian, maka akun-akun rill akan menunjukkan saldo yang sesuai dengan keadaan pertanggal neraca; bgitu pula halnya dengan akun-akun nominal akan menunjukkan saldo yang tepat untuk periode yang bersangkutan. Dalam perusahaan kecil dengan akun buku besar yang tidak begitu banyak, penyusunan laporan-laporan keuangan dapat dilakukan secara langsung dari neraca saldo yang telah disesuaikan, seperti talah diterangkan pada Bab 4. Akan tetapi pada perusahaan yang memiliki akun buku besar dalam jumlah yang banyak, penyusunan laporan-laporan keuangan secara langsung dari neraca saldo yang sudah disesuaikan tidaklah mudah. Cara demikian tidak jarang menimbulkan kesalahan di dalam menyusun laporan-laporan keuangan, atau apabila dapat diketahui bahwa terjadi suatu kesalahan, maka usaha untuk mencari letak kesalahan seringkali membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu agar penyusunan laporan-laporan keungan dapat dilakukan dengan teliti, dibutuhkan suatu alat yang disebut neraca lajur.

TUJUAN PEMAKAIAN NERACA LAJUR


Neraca lajur adalah suatu kertas berkolom-kolom (berlajur-lajur) yang dirancang untuk menghimpun semua data akuntansi yang dibutuhkan pada saat perusahaan akan menyusun laporan-laporan keuangan dengan cara yang sistematis. Sebenarnya neraca lajur lebih tepat disebut sebagai kertas kerja yang digunakan sebagai alat pembantu dalam menyusun laporan-laporan keuangan. Neraca lajur tidak merupakan bagian dari catatan-catatan akuntansi yang formal. Oleh karena sifatnya tidak formal, maka penyusunannya dapat juga dilakukan dengan menggunakan pensil, shingga lebih mudah dikoreksi apabila terjadi kesalahan. Neraca lajur sangat bermanfaat untuk memeriksa data yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Dalam neraca lajur, saldo akun-akun buku besar disesuaikan, diseimbangkan dan disusun menurut cara-cara yang sesuai dengan penyusunan akun-akun dalam laporan keuangan. Pemakaian neraca lajur juga dapat menunjukkan bahwa prosedur-prosedur yang perlu dilakukan untuk menyusun laporan keuangan telah dilaksanakan seluruhnya. Neraca lajur bukan laporan keuangan. Oleh karena itu neraca lajur tidak perlu dipublikasikan pada pihak luar. Perlu disadari pula bahwa neraca lajur tidak dapat mengantikan kedudukan catatan-catatan akuntansi atau laporan-laporan keuangan, melainkan semata-mata hanya merupakan alat pembantu untuk menyusun laporan keuangan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembuatan neraca lajur adalah: 1) Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan. 2) Untuk menggolongkan dan meringkas informasi dari neraca saldo dan data penyesuaian, sehingga merupakan persiapan sebelum disusun laporan keuangan yang formal. 3) Untuk mempermudah menemukan kesalahan yang mungkin dilakukan dalam membuat jurnal penyesuaian.

PROSES PENYUSUNAN NERACA LAJUR


Penyusunan neraca lajur merupakan kelanjutan dari pembuatan kertas kerja untuk menentukan neraca saldo setelah disesuaikan, seperti telah dibahas pada Bab 4. Data neraca saldo setelah disesuaikan salanjutnya dipisahkan menjadi dua golongan, yaitu data yang akan dicantumkan dalam neraca dan data yang akan dicantumkan dalam laba-rugi. Pembuatan neraca lajur diakhiri dengan menentukan saldo atau laba rugi yang akan menjadi penyeimbang neraca lajur.

PENGERTIAN Neraca Lajur adalah kertas kerja berkolom-kolom untuk memudahkan dalam membuat penyesuaian dan penyusunan laporan keuangan. Neraca Lajur disusun dengan memindahkan data-data Neraca Saldo dan Jurnal Penyesuaian..

BENTUK NERACA LAJUR Berikut ini adalah bentuk Neraca Lajur 10 (sepuluh) kolom.

NERACA LAJUR Perkiraan Neraca Saldo D K Penyesuain D K Neraca Saldo setelah Penyesuain D K
Rugi-Laba Neraca

5 Langkah Prosedur Menyusun Neraca Lajur


1) Masukkan saldo-saldo akun buku besar kedalam kolom neraca saldo pada formulir neraca lajur Nama-nama akun dan saldo-saldo akun pertanggal 31 Desember disalin disalin dalam kolom-kolom neraca saldo seperti terlihat dalam contoj dihalaman 252. Dalam praktik, jumlah-jumlah ini dapat disalin langsung dari buku besar, sebab apabila harus disusun dahulu daftar-daftar saldo dalam bentuk neraca saldo secara khusus, maka akan terjadi pekerjaan ulang. 2) Masukkan ayat-ayat jurnal penyesuaian ke dalam kolom penyesuaian Neraca lajur yang telah berisi data-data penyesuaian dapat dilihat dalam contoh di halaman 254. Dalam buku ini pembuatan jurnal penyesuaian telah dibahas sebelum perusahaan membuat neraca lajur, dengan maksud agar kita memahami lebih dahulu tujuan dan cara mengerjakan penyesuaian. Namun dalam praktik pembuatan neraca lajur dapat dilakukan lebih dahulu dan menuliskan penyesuaian yang diperlukan dalam kolom penyesuaian di neraca lajur. 3) Mengisi kolom-kolom neraca saldo setelah disesuaikan Contoh neraca lajur dengan kolom-kolom neraca saldo setelah disesuaikan yang telah diisi dapat dilihat pada halaman 256. Tiap-tiap saldo akun yang tercantum dalam kolom-kolom neraca saldo, digabungkan dengan angka-angka yang tercantum dalam kolom penyesuaian, dan jumlah ini kemudian dicantumkan dalam kolom-kolom neraca saldo setelah disesuaikan. Sudah barang tertentu apabila di dalam kolom penyesuaian tidak ada angka yang perlu disesuaikan, maka angka dalam kolom neraca saldo dipindahkan ke dalam kolom neraca saldo setelah disesuaikan tanpa perubahan. 4) Memindahkan jumlah-jumlah di dalam kolom-kolom neraca saldo setelah disesuaikan ke dalam
kolom-kolom laba & rugi atau kolom-kolom neraca

Langkah pembuatan neraca lajur berikutnya adalah memindahkan saldo-saldo akun aset, utang, modal & prive, ke dalam kolom neraca dan memindahkan saldo-saldo akun beban dan pendapatan ke dalam kolom laba-rugi di dalam neraca lajur. Proses memindahkan ini dilakukan mulai dari akun yang dicantumkan paling atas di dalam neraca lajur. Pada umumnya akun yang tercantum paling atas adalah akun Kas. Saldo akun Kas dipindahkan ke dalam sisi debit dari kolom neraca. Setelah itu akun-akun berikutnya baris demi baris dipindahkan ke dalam sisi yang tepat dan kolom yang tepat, sesuai dengan jenis akunnya. Pemindahan baris demi baris seperti diuraikan di atas, akan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dlm pemindahan ke dalam kolom dan sisi yg tepat.

5) Menjumlahkan kolom-kolom laba-rugi dan kolom-kolom neraca, memasukkan angka


lababersih atau rugi bersih sebagai angka pengimbang ke dalam kedua pasang kolom di atas dan sekali lagi menjumlahkan kolom-kolom tersebut

Laba bersih atau rugi bersih unuk suatu periode ditentukan dengan cara menghitung selisih antara jumlah sisi kiri (debit) dan jumlah sisi kanan (kredit) pada kolom-kolom laba rugi. Contoh neraca lajur yang sudah selasai dikerjakan dapat dilihat di halaman 260. Dari contoh tersubut dapat dilihat bahwa jumlah sisi kredit (pendapatan) lebih besar daripada jumlah sisi debit (beban). Selisih lebih untuk sisi kredit menunjukkan laba bersih. Jumlah sisi kredit (pendapatan) Jumlah sisi debit (beban) Selisih: laba bersih Rp 488.150,00 Rp 301.050,00 Rp 187.100,00 ============

PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DARI NERACA LAJUR


Pada awal bab ini telah diuraikan bahwa salah satu tujuan pembuatan neraca lajur adalah untuk mempermudah penyusunan laporan-laporan keuangan. Dengan telah diselesaikannya neraca lajur, maka penyusunan laporan-laporan akan menjadi lebih mudah karena semua informasi yang diperlukan untuk menyusun neraca dan laporan laba-rugi telah tersedia.