Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Dalam rangka kegiatan belajar terarah, dilaksanakan sebuah program based learning. Pada kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk memperdalam bahan yang dipelajarinya dalam bentuk pembahasan suatu kasus. Oleh sebab itulah makalah ini dibuat untuk menunjang proses belajar mahasiswa.

1.2 Tujuan Makalah ini dibuat untuk membahas sejumlah bahan maupun bagian yang perlu diperhatikan lebih dalam dari kasus yang diberikan, yaitu konsumsi lemak dan karbohidrat yang berlebihan, serta kurangnya konsumsi serat dan vitamin.

BAB II ISI
2.1 Identifikasi istilah 2.2 Rumusan masalah - konsumsi lemak dan karbohidrat yang berlebihan, serta kurangnya konsumsi serat dan vitamin.

2.3 Analisi masalah

Struktur makroskopis dan mikroskopis

System digestivus

mekanisme

Enzim pencernaan

Lemak Karbohidrat protein

2.4 Hipotesis -sistem pencernaan melibatkankerja organ, kerja enzim, dan kelenjar saliva. 2.5 Sasaran pembelajaran Struktur makroskopis dan mikroskopis Kelenjar saliva Mekanisme Enzim pencernaan

2.6 Belajar mandiri

Struktur makroskopis1 Organ Pencernaan secara Makroskopis Organ pencernaan, dibedakan menjadi 2 bagian : 1. Saluran Cerna bagian Atas 2. Saluran Cerna bagian Bawah

1. Saluran Cerna Bagian Atas

Mencakup : a. Cavum oris b. Kelenjar-kelenjar Ludah c. Pharynx d. Oesophagus

A. Cavum Oris Selain merupakan sistem pencernaan, rongga mulut juga berfungsi sebagai rongga yang dilalui oleh udara pernapasan dan juga penting untuk pembetukkan suara. Rongga mulut dibagi dalam: 1. Vestibulum oris 2. Cavum oris proprium 1. Vestibulum Oris Merupakan daerah diantara bibir dan pipi di sebelah luar dan gigi-geligi. Selaput lendir melapisi vestibulum oris sebelah dalam. Terdapat glandulae buccales et labiales. Setinggi geraham molar 2 atas ditemukan suatu tonjolan, yaitu papila salivaria buccalis, yang merupakan muara ductus parotidicus. Pendarahan : Aa. Labiales superiores et inferiores, cabang a.fascialis dan a. Temporalis superficialis. Pembuluh balik : V. Facialis anterior et posterior, yang bergabung menjadi v. Facialis communis yang bermuara ke v. Jugularis interna.

Persarafan : o Kulit wajah oleh cabang-cabang N. Trigeminus V o Otot-otot wajah oleh cabang-cabang N. Facialis VII

2. Cavum Oris Proprium


a. Gigi-geligi

Terletak pada processus alveolaris, yang dilapisi oleh selaput lendir. Setiap orang memiliki 16 gigi rahang atas maupun rahang bawah, yang terdiri atas : 2 gigi seri (dens incisivus) 1 gigi taring ( dens caninus ) 2 geraham depan ( dens premolaris ) 3 geraham belakang ( dens molaris )

Pada gigi dapat dibedakan : Corona ( tajuk ) Collum ( leher ) Radix ( akar )

Didalam gigi terdapat suatu rongga ( Cavum ) yang melalui canalis radicis berhubungan dengan dunia luar.

Pendarahan :

Pembuluh nadi a. Gigi geligi atas : cabang a. Facialis dan a. Infra orbitalis b. Gigi-geligi bawah a. Alveolaris inferior c. Gigi sisi lingual oleh a. Palatini major, sedangkan sisi labial oleh a. Buccalis

Pembuluh balik a. Rahang atas ke v. Facialis b. Rahang bawah mel. V. Alveolaris inferior ke dalam v. Maxillaris

Persarafan :

Rahang atas: a. Gigi-geligi : nn. Alveolares superiores anteriores medii, post

b. Gingiva : sisi labial oleh nn. Alveolares sup. Dan sisilingual daerah incisicus oleh nn. Nasopalatini c. Daerah lain oleh n. Palatini major

Rahang bawah : o Gigi-geligi : nn. Alceolaris inferior o Gingiva : sisi labial nn. Mentales dan buccalis, sisi lingual N. Lingualis

b. Palatum

Palatum terdiri palatum durum (tulang) dan palatum molle (otot)

Palatum durum adalah suatu sekat yang terbentuk oleh proc. Palatinus ossis maxillae dan proc. Horizontalis ossis palati. Tulang-tulang ini dilapisi olehn selaput lendir di sisi sup. Dan inf. Palatum molle, terdiri atas suatu aponeurosis yang merupakan tempat lekat bagi beberapa otot. Terdiri dari beberapa otot : 1. M. Tensor veli palatini, berfungsi menegangkan palatum molle dan membuka tuba auditiva 2. M. Levator veli palatini, berfungsi menutup tuba auditiva 3. Mm. Uvulae, befungsi memendekan uvula dan mengangkatnya ke arah postero-kranial 4. M. Palatoglossus, berfungsi memperkecil istmus faucium 5. M. Palatopharyngeus, memperkecil isthmus fausium dan menarik larynx ke atas

c. Diaphragma oris

Di dasar mulut terdapat m. Geniohyoideus untuk membuka ,ulut.

d. Istmus faucium

Adalah hubungan antara mulut dan oropharynx.

e. Lidah

Organ yang sangat lentur, terutama berfungsi bila berbicara.

B. Kelenjar-kelenjar ludah Ada 3 macam : 1. Glandula parotis 2. Glandula Submandibularis 3. Glandula Sublingualis

C. Pharynx Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring D. Oesophagus

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang.

2. Saluran Cerna bagian Bawah a. Gaster Mempunyai 2 muara Cardia : oesophagus gaster Pylorus : gaster duodenum

Bagian-bagian gaster : 1. Fundus 2. Corpus 3. Pylorus, dibedakan menjadi anthrum dan canalis pylorus

Lapisan dinding lambung : Tunica mucosa, selaput lendir yang berlipat-lipat, dan juga lipatan yang berjalan dari cardia sampai pylorus disebut magenstrase waldeyer(muara kelenjar-kelenjar mukosa lambung yang menghasilkan HCL dan pepsin) Tunica Submucosa, jar. Ikat yang kuat dan terdapat pemb. Darah Tunica muskularis

b. Duodenum Terdiri dari : 1. Pars superior duodeni 2. Pars descendens duodeni 3. Pars inferior duodeni 4. Pars ascendes duodeni

c.Hepar Menepati sebagian besar rongga abdomen kakan atas. Hepar dilapisi peritonium,kecuali yang melekat langsung pada diaphragma (bare area) Dibedakan menjadi 2 lobus, kanan dan kiri. Secara anatomi dan fungsional batas lobus kanan dan kiri sesuai bidang yang melalui alur yang dibentuk oleh kantung empedu dan VCI.

Pembuluh nadi A. Hepatica communis, cabang a. Coeliaca A. Hepatica propria, cabang a. Hepatica communis A. Hepatica dextra dan sinistra, cabang a. Hepatica propria

Pembuluh balik Menampung darah balik dari alat-alat gastro intestinal melalui v. Porta

d. Vesica fellea(kantung empedu) Saluran empedu(ductus cysticus), mukosanya mempunyai lipatan berbentuk spiral. Pendrahannya oleh a. Cystica

e. Lien(limpa) Lebih lembek dari pada hepar, dan dapat berkontraksi Mempunyai 2 permukaan 1. Facies diaphragmatica, yang menghadap dinding perut
8

2. Facies viceralis yang menghadap rongga perut Fungsi lien : Membersihkan darah Reseroir darah Alat reticulo endothelial

Pendarahan oleh a. Lienale, v. Lienale.

f. Intestinum Dibedakan menjadi 2 1. Intestinum tenue a. 2/5 bagian jejenum b. 3/5 bagian ileum Terletak intra peritoneal dan berkelok-kelok. Ada 4 lapis : Tunica mucosa, berlipat-lipat sehingga permukaan usus menjadi lebih luas Tunica submukosa, terdpat pembuluh darah dan saraf Tunica muscularis, longitudinalis dan circularis Tunica serosa, meliputi seluruh intestinum tenuae

Pendarahan oleh aa. Jejunales et ilei, cabang dari a. Mesenterica sup Pembuluh baliknya vv. Jejunales et ilei dan v. Mesenterika superior.

2. Intestinum crassum Berbentuk seperti huruf u terbalik Terdiri dari, coecum, colon ascendens, flexura coli dextra, colon transversum, flexura coli sinistra, colon descendens, colon sigmoideum, rectum anus. Dinding intestinum crassum terdiri dari 4 lapis: Tunica mucosa, tidak mempunyai villi Tunica submucosa, terdiri dari jaringan ikat longgar Tunica muskularis, circularis dan longitudinalis Tunica serosa, mempunyai kantung-kantung peritonium dan berisi jaringan lemak.

3. Coecum Terletak pada fossa iliaca dextra dan diproyeksikan pada dinding abdomen pada pertengahan SIAS kanan. Pada coecum bermuara : Ileum Appendix vermiformis/processus vermiformis

Pendarahan oleh a. Ileo colica dan a. Coecalis ant dan post.

4. Colon ascendens Dimulai pada junctura iliocoecalis sampai flexura coli dextra. Pendarahan oleh a. Colica dextra(cabang a. Mesenterica superior) 5. Appendix vermiformis Sering dianggap usus yang tidak mempunyai fungsi. Pendarahan oleh aa. Appendiculares cabang a. Ileocolica.
10

6. Colon Transversum Di bawah bidang transpyloric, menyilang pars descendens duodeni. Pendarahan oleh a. Colica media dan a. Colica sinistra. 7. Colon Descendens 8. Colon sigmoideum Menyerupai huruf s dan memanjang dari crista iliaca sampai vertebrae s2-3. Pendarahan oleh aa. Sigmoidae(2-4buah).

g. Rectum Panjang 12-15 cm, merupakan lanjutan dari colon sigmoideum yang memanjang dari vertebra s3 sampai anus. Bagian-bagian rectum berdasarkan bentuknya Pars ampularis recti (melebar) Pars analis recti (menyempit)

Lapisan dinding rectum : Tunica muscularis o Tunica muscularis longitudinalis, diperkuat serabut-serabut m. Levator dan pada waktu kontraksi dapat mengkerut. o Tunica muscularis circularis, merupakan bagian otot usus yang diurus oleh saraf otonom m. Sphincter ani externus. Tunica mucosa,

Pendarahan oleh a. Rectalis sup, med dn inf. Saling beranastomosis dan membentuk circulasi collateral. Vena rectalis superior, media dan inferior. Struktur mikroskopis sistem digestive2-4 Cavum oris Terdapat bagian-bagian Labium oris Buccal Dent Gingivae Linguae
11

Pallatum molle dan durum

Labium oris Dibagi dalam 3 area : 1. Area cutanea, struktur kulit tipis 2. Area merah bibir, ep. Berlapis gepeng tidak bertanduk 3. Area oral mukosa, ep. Berlapis gepeng tidak bertanduk

Lingua, semua permukaan dorsal merupakan papil-papil lidah, ep. Berlapis gepeng bertanduk atau tidak. Terdapat papil-papil : 1. Papila filiformis, terbanyak diseluruh permukaan dorsal, 2/3 anterior lidah dan tidak ada taste buds. 2. Papilla fungiformis, tersebar diantara papila filliformis, ep. Berlapis gepeng tidak/sedikit bertanduk. 3. Papila foliata, beberapa taste buds di dinding sumur 4. Papila circumvallata, mirip papila fungiformis. Taste buds, terdapat 3 sel, reseptor, sustentakular, basal. Gigi, terdapat beberapa lapisan dari luar ke dalam : 1. Ep. Email luar 2. Saluran stelatum 3. Stratum intermedium 4. Ameloblas 5. Email 6. Dentin 7. Predentin 8. Ondotoblas 9. Pulpa dentis

Saluran Cerna Beberapa sifat umum dinding saluran cerna : 1. T. mukosa, epitel mukosa
12

2. T. submukosa, merupakan jar. Ikat padat, terdapat pembuluh darah, limfe dan saraf. 3. T. Muskularis eksterna, sirkular dan longitudinal 4. T. Adventisia, jar. Ikat longgar, dan sering kali terdapat banyak jar. Lemak. Oesophagus T. Mukosa, berlapis gepeng tanpa tanduk T. Submukosa, terdapat kelenjar mukus tubulosa T. Muskularis, o 1/3 prox. Otot lurik o 1/3 tengah campuran otot polos dan lurik o 1/3 distal otot polos Gaster, seluruh permukaan gaster terdapat foveola gastrica. 3 daerah, cardia, fundus dan pilorus. Lapisan otot tebal mengelilingi/mecampur makanan. Mensekresikan enzim-enzim tertentu. Intinya oval, terdapat kelenjar cardia, fundus dan pilorus di lamina proprianya. Kelenjar cardia dan pilorus o Tubulosa simplex, mukus o Jumlah sedikit Kelenjar fundus o Simplex tubulosa bercabang o Kelenjar terbagi atas bagian leher, korpus dan fundus o Ada 4 macam sel Usus halus Dibagi dalam 3 bagian : duodenum, jejenum dan ileum. Epitel selapis torak dan goblet. Terdapat vili intestinal(untuk memperbesar penyerapan) Duodenum, terdapat kelenjar brunner, komplex tubulosa bercabang mukus Jejunum, tidak terdapat kel. Brunner ataupun agmina peyeri Chief sel, sel terbanyak, pyramid, mengandung pepsinogen. Parietal sel, menghasilkan HCl dan faktor intrinsik lambung. Mucous neck sel, bentuk kubus, lebih pucat dari chief sel Enterochromafin cell

13

Ileum, terdapat agregat limfonodus(agmina peyeri) di lamina propria meluas ke t. Submukosa

Colon Anus T. Submukosamengandung banyak pemb. Darah, saraf dan badan vater pacini T.m. sirkular menebal pada ujungnya T. Mukosa tidak mengandung plica sirkularis dan vili intestinal Sel goblet banyak diantara sel epitel T. M. Longitudinal membentuk 3 pita longitudinal.

Appendix Evaginasi dari usus besar Panjangnya 2-18 cm Lumen sempit

Mekanisme system kerja digestive5,6 Sistem pencernaan melaksanakan 4 proses pencernaan dasar : 1. Motilitas, Mengacu kepada kontraksi otot yang mencampur dan mendorong isi saluran pencernaan. Otot polos di dinding saluran pencernaan terus-menerus berkontraksi dengan kekuatan rendah dikenal sebagai tonus. motilitas pencernaan : Propulsive, gerakan memajukan makanan dengan kecepatan yang berbeda disetiap regionya Mencampur, dengan getah pencernaan untuk mencerna makanan dan membantu menyerap makanan.

2. Sekresi Sejumlah getah pencernaan disekresikan ke dalam lumen saluran pencernaan oleh kelejarkelenjar eksokrin. Sekresi pencernaan berupa air, elektrolit, enzim, garam empedu dan mucus.
14

3. Pencernaan Proses penguraian makanan dari struktur kompleks diubah menjadi satuan yang lebih kecil yang dapat dicerna oleh enzim-enzim dalam system pencernaan. 4. Penyerapan Memeindahkan hasil pencernaan + air, vit dan elektrolit dari lumen saluran pencernaan ke darah/limfe.

Dinding pencernaan Mukosa

Dibagi menjadi 3 bagian : 1. Membrane mukosa a. Lap. Epitel bagian dalam berfungsi sebagai permukaan protektif b. Mengalami modifikasi di daerah-daerah tertentu untuk sekresi dan absorbs i. Sel eksokrin : Sekresi getah pencernaan ii. Sel endokrin : Sekresi hormone saluran pencernaan iii. Sel epitel : penyerapan nutrient 2. Lamina Propria a. Tempat epitel melekat b. Dilewati pemb. Darah, limfe dan searat saraf c. Mengandung GALT(gut associated lymphoid tissue) untuk pertahanan melawan bakteri usus 3. Mukosa Muskularis a. Lap. Otot polos di sebelah luar : sebelah lapisan mukosa Submukosa o Lapisan tebal jar ikat yang menyebabkan saluran pencernaan mempunyai elastisitas dan distensibilitas o Punya pemb darah, limfe yang lebih besar o Terdapat jaringan saraf
15

Muskularis Eksterna o Lapisan otot polos utama di sal. Pencernaan yang mengelilingi submukosa o Terdiri dari 2 lapisan Sirkuler dalam, kontraksinya menyebabkan kontriksi atau penurunan garis tengah lumen di titik kontraksi Lap. Longitudinal luar, kontraksinya menyebabkan saluran memendek

Serosa o Mengeluarkan cairan serosa encer yang melumasi dan mencegah gesekan antara organ-organ pencernaan dan visera di sekitarnya

Reseptor pada saluran pencernaan 1. Kemoreseptor, komponen-komponen kimia 2. Mekanoreseptor, peregangan dan ketegangan dalam lumen 3. Osmoreseptor, osmolaritas isi lumen.

Mulut a. Lidah, untuk memandu makanan waktu mengunyah dan menelan. Tertanam taste buds b. Faring, saluran bersama untuk pencernaan dan pernafasan. Mastikasi/mengunyah,bertujuan Menggiling dan memecah makanan menjadi lebih kecil Mencampur makanan dengan saliva Merangsang papil pengecap

c. Gigi, pemotongan, perobekan, penggilingan dan pencampuran d. Saliva, 99,5% H2o, 0,5% protein dan lektrolit Untuk pencernaan karbohidrat di mulut Mempermudah proses menelan makanan Efek antibakteri Pelarut molekul-molekul yang merangsang taste buds

16

Peningkatan sekresi saliva 1. Refleks saliva sederhana, ada bolus di mulut 2. Refleks saliva didapat, melihat, mencium dan mendengar

e. Esofagus Tahapan 1. Orofaring a. Berlangsung 1 detik b. Perpindahan dari mulut mel faring masuk esophagus c. Trakea tertutup, esophagus terbuka 2. Esofagus Trakea tertutup, menyebabkan otot-otot faring mendorong bolus ke esophagus

Lambung Fungsi lambung : Menyimpan makanan yang masuk untuk dialirkan ke usus halus Mensekresikan hcl dan enzim-enzim yang memulai pencernaan protein Mencampur makanan dengan sekresi lambung (kimus)

4 aspek motilitas lambung : 1. Pengisian lambung, dalam keadaan kosong50ml, bisa mengembang samapai 1 l 2. Penyimpanan lambung, disimpan sampai batas lambung 1,5 l 3. Pencampuran lambung, makanan bercampur dengan sekresi lambung 4. Pengosongan lambung, kontraksi peristaltic antrum(gaya pendorong pengosongan lambung)

Asam

17

Kimus di lambung + HCL amsuk ke duodenum dinetralisasi oleh natrium bikarbonat yang dihasilkan pancreas Bila asam tidak dinetralkan dapat mengiritasi mukosa duodenum dan menghambat pengosongan lambung.

Motilitas lambung juga dipengaruhi emosi dan nyeri Sedih, nyeri dan takut menurunkan motilitas Marah dan agresi meningkatkan motilitas

HCL, disekresikan oleh sel parietal ke lumen lambung Fungsi : 1. Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin dan mengaktifkan lingkungan asam, untuk kerja pepsin 2. Membantu penguraian makanan yang lebih besar menjadi lebih kecil 3. Bersama saliva mematikan mikroorganisme Pepsinogen, disintesi di reticulum endoplasma, untuk mencerna protein Mukus, mengatasi cedera pada mucus lambung Faktor intrinsic, penting untuk penyerapan vit. B12(untuk pembentukan eritrosit) Gastrin, merangsang sekresi HCL

Pancreas dan hati Pancreas eksokrin, mensekresi natrium bikarbonat 3 jenis enzim : (bekerja dalam suasana netral) 1. Enzim proteolitik pancreas a. Tripsinogen b. Kimotripsin c. Prokarboksipeptidase 2. Amilase pancreas a. Mengubah polisakarida menjadi disakarida b. Disekresikan dalam bentuk aktif karena tidak berbahaya
18

3. Lipase pancreas a. Mencerna lemak b. Menghidrolisis trigliserida, monogliserida + as lemak bebas c. Disekresikan dalam bentuk aktif Hati Fungsi : 1. Sekresi garam empedu yang penting untuk system pencernaan 2. Pengolahan metabolic, karbohidrat, lemak prtein 3. Detoksikasi senyawa asing 4. Sintesi prot. Plasma 5. Penyimpanan glikogen, lemak, besi, vitamin 6. Ekskresi kolesterol dan bilirubin Usus halus Motilitas, diinisiasi oleh sel pacemaker intrinsic 1. Segmentasi Segmentasi, mencampur dan mendorong kimus secara perlahan Diantara segmen-segmen yang berkontraksi ada daerah yang berisi kimus kecil Fungsi dari pencampuran adalah, mencampur kimus dengan getah pencernaan dan memaparkan seluruh kimus ke permukaan absorptive usus halus 2. Peristaltic(mendorong) Mendorong kimus di usus halus, sangat lambat 1 cm/menit

Motilitas diantara waktu makan Gel. Berawal dilambung, migrasi ke usus halus dan perlu waktu kurang lebih 100150 menit sampai ke bagian akhir usus halus Setiap kontraksi menyapu sisa makanan, bakteri ke arah kolon

Sekresi enzim mucus : 1. Peptidase


19

2. Sukrase, maltase, isomaltase, lactase 3. Lipase intestinum Sel epitel usus halus mengandung 3 kategori enzim 1. Enterokinase, mengaktifkan tripsinogen 2. Disakarida 3. Aminopeptidase,. Intestinal vilii melakukan bebeapa penyerapan Penyerapan air, melalui difusi(osmosis) Penyerapan ion Na(untuk membantu penyerpan Kh dan prot) Penyerapan Cl, duodenum dan yeyenum Ion bikarbonat Vitamin, diserap secara pasif bersama air Fe dan Ca, membentuk hemoglobin

Usus besar Terdiri dari : 1. Kolon a. Ascenden b. Transversum c. Descenden 2. Sigmoid 3. Sekum 4. Apendiks 5. Rectum Fungsi utama kolon Penyerapan air dan elektrolit Menyimpan feses sebelum defekasi o bag proximal untuk penyerapan
20

o bag distal untuk penimbunan Motilitas usus besar : 1. Gerakan mencapur, seperti segmentasi tapi sangat jarang, maju mundur mengaduk isi kolon 2. Gerakan massa, mendorong isi kolon ke bagian distal ususu besar, terjadi 3-4 kali setelah makan Defekasi Gerakan masa di kolonmendorong isi kolon ke rectum, terjadi peregangan rectum, merangsang reseptor regang di dinding rectum dan memicu reflex defekasi Bila defekasi ditunda, dinding rectum akan melemas, keinginan untuk buang air besar mereda sampai gerakan massa berikutnya mendorong lebih banyak feses ke rectum Pencernaan usus besar Tidak terjadi pencernaan karena tidak terdapat enzim pencernaan Bakteri kolon mampu mencerna sebagian selulosa untuk kepentingan metabolism mereka sendiri Penyerapan usus besar: Dalam keadaan normal terdapat penyerapan garan dan air Na plg aktif diserap, cl mengikuti dan air melalui osmosis Dengan penyerapan air dan garam, terbentuklah feses padat

Pencernaan Kimiawi7 Pencernaan makanan secara kimiawi terjadi dengan bantuan zat kimia tertentu. Enzim pencernaan merupakan zat kimia yang berfungsi memecahkan molekul bahan makanan yang kompleks dan besar menjadi molekul yang lebih sederhana dan kecil. Molekul yang sederhana

21

ini memungkinkan darah dan cairan getah bening (limfe) mengangkut ke seluruh sel yang membutuhkan. Secara umum enzim memiliki sifat : bekerja pada substrat tertentu, memerlukan suhu tertentu dan keasaman (pH) tertentu pula. Suatu enzim tidak dapat bekerja pada substrat lain. Molekul enzim juga akan rusak oleh suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Demikian pula enzim yang bekerja pada keadaan asam tidak akan bekerja pada suasana basa dan sebaliknya. Macam-macam enzim pencernaan yaitu : 1. Pencernaan dalam mulut Saliva Mengandung air : 99.5% ph : 6,8 Bahan padat ; albumin dan globulin, musin Enzim : amylase saliva yang bekerja pada ikatan glikosidik.yang mengkatalisa hidrolisis polisakarida jadi maltose. Tidak aktif pada ph asam (lambung)

2. Enzim Lambung a) Protein + Hcl lambung terjadi denaturasi : struktur tersier protein hilang karena penghancuran ikatan hydrogen sehingga enzim protelitik dapat bekerja. b) Pepsin : sel chief menghasilkan proenzim pepsinogen + Hcl akan menjadi pepsin. Yang mencernakan protein menjadi proteosa dan pepton. Pepsin spesifik untuk ikatan peptide yang dibentuk oleh asam amino aromatic dan asam amino dikarboksilat. c) Rennin : - hanya pada labung bayi, untuk koagulasi susu (kasein susu + Ca rennin jadi Ca parakaseinat.) d) Lipase : hidrolisis triasilgliserol . fungsi lipolitiknya tidak penting karena Ph optimalnya 7,5, tidak sesuai denga Ph lambung. 3. Enzim getah pancreas a) Tripsin : tripsinogen = enzim proteolitk disekresi sebagai zimogen. Diaktifkan dalam duodenum oleh enterokinase jadi tripsin. Protease +

tripsin jadi polipeptida. Pepton dihidrolsis pada ikatan peptide yang mengandung asam amino lysun / arginin.
22

b) Kimotripsin : adalah enzim proteolitik mencerna proteosa dan pepton jadi polipeptida. Kemotripsinogen diaktifkan menjadi kemotripsin oleh tripsin c) Karboksi peptidase : katalisis hidrolisa pada ikatan peptide di ujung molekul di sisi karboksil bebas polipeptida jadi asam amino. d) Amylase pancreas : menghidrolisis pati jadi maltose. e) Lipase pancreas : hidrolisis lemak jadi asam lemak , gliserol, mono dan di gliserida. f) Kolesterol esterase : menghidrolisis koleterol ester jadi kolesterol bebas dan asam lemak. g) RNase dan DNase : katalisa asam nukleat (RNA dan DNA) jadi nukelotida. 4. Enzim usus a) Aminopeptidase : ubah polipeptida jadi asam amino dan peptide yang lebih pendek.cara kerjanya : menghidrolisis ikatan peptide di ujung molekul di sisi yang mengandung gugus amino bebas. b) Dipeptidase : peptide jadi asam amino. c) Disakaridase ; disakarida jadi monosakarida. d) Fosfatase : lepaskan fosfat dari senyawa fosfat organic yang berasal dari makanan seperti hexosefosfat, gliserofosfat nukleotida. e) Polinukleotidase : asam nukleat jada nukleotida. f) Nukleotidase : nukleosida (purin ) jadi fosfolisasi pentose. Mukleosida (pirimidin) jadi uridin, sistidin, dan timidin. g) Lesitinase : lesitin jadi gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin. 5. Empedu Fungsi : emulsifikasi, netralisasi, ekskresi, metabolism pigmen empedu. Pencernaan dan penyerapan karbohidrat, protein, lemak5,6 Karbohidrat Karbohidrat makanan disajikan ke usus halus untuk diserap terutama dalam bentuk disakarida. Disakaridase dalam brush border usus halus selanjutnya menguraikan disakarida menjadi monosakarida.

23

Glukosa dan galaktosa diserap oleh transportasi aktif sekunder, sementara pembawa kotranspor di batas luminal mengangkut monosakarida dan Na dari lumen ke dalam interior sel usus. Operasi pembawa kotranspr ini , yang tidak secara langsung menggunakan energi , bergantung pada gradien konsentrasi Na yang diciptakan oleh pompa Na-K yang memerlukan energi. Glukosa , setelah dikumpulkan di dalam sel oleh pembawa kotranspor, keluar dari sel mengikuti penrunan gradien konsentrasi untuk masuk ke dalam darah di dalam vilus. Fruktosa diserap ke dalam darah semata-mata melalui difusi terfasilitasi. Protein Protein yang disajikan ke usus halus untuk diserap terutama dalam bentuk asam amino dan beberapa fragmen peptida kecil. Asam amino diserap menembus sel usus melalui transportasi aktif sekunder, serupa dengan penyerapan glukosa dan galaktosa. Dengan demikian , glikosa, galaktosa, dan asam amino semuanya memperoleh tumpangan gratis dari transportasi natium yang menggunakan energi, peptida kecil masuk melalui bantuan pembawa lain dan diurikan menjadi konstituen Lipid Sebagian besar pencernaan lemak terjadi di dalam usus halus. Langkah pertama, proses pengolahan asam lemak netral (trigliserida) yang terdapat melimpah pada makanan oleh garamgaram empedu. Garam-garam empedu memecah globula lemak ke dalam bentuk droplet-droplet yang berdiameter 1 m. Droplet bercampur dengan garam empedu membentuk gumpalan yang disebut micelles. Langkah kedua, enzim yang disekresi oleh getah pankreas yaitu pancreatic lipase menghidrolisis setiap molekul lemak menjadi asam lemak dan monogliserida yang merupakan produk akhir pencernaan lemak. Absorpsi Lipids dalam Usus Halus Absorpsi lipids terutama terjadi dalam jejenum (bagian tengah usus halus). Lipids diabsorpsi oleh usus halus dalam bentuk monogliserida, asam lemak rantai pendek dan asam lemak rantai panjang. -konstituen asam amino nya oleh aminopeptidase di brush

border.seperti monosakarida, asam amino masuk ke jaringan kapiler yang ad dalam vilus.

24

BAB III KESIMPULAN

sistem pencernaan melibatkankerja organ dan enzim.

25

DAFTAR PUSTAKA

1. Winasi Wong, kindangan K, inggriani Y. buku ajar traktus digestivus. Edisi 2.jakarta : fakultas kedokteran Ukrida; 2010. 2. Burkitt HG, Young B, Heath JW. Buku ajar & atlas wheater histology fungsional. Edisi 3. Jakarta : EGC; 1995. 3. Junqueira LC, carneiro J, Kelley RO. Histologi dasar. Edisi ke 8. Jakarta : EGC; 1997. 4. Gunawijaya FA, katrawiguna E, penuntun praktikum kumpulan foto mikroskopik histology.jakarta : universitas trisakti. 5. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke system. Edisi ke 2. Jakarta : EGC; 2001. 6. Guyton AC, Hall JE.Fisiologi kedokteran.Edisi ke 11.Jakarta:EGC;2008. 7. Murray RK, granner DK, rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke 27. Jakarta: EGC; 2009.

26

Anda mungkin juga menyukai