Anda di halaman 1dari 57

PETUNJUK PRAKTIKUM BIOKIMIA

AKADEMI ANALIS KESEHATAN MANGGALA JL. BRATAJAYA NO. 25, SOKOWATEN, BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunia yang telah diberikan sehingga diktat petunjuk praktikum Biokimia untuk mahasiswa Analis Kesehatan dapat tersusun dengan baik. Petunjuk pratikum ini merupakan materi praktikum yang dilaksanakan dalam satu semester. Tujuan kegiatan praktikum ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa dalam menerapkan konsep biokimia untuk pemeriksaan laboratorium. Materi praktikum terdiri dari analisa Karbohidrat, protein, lipida, vitamin, enzim dalam sampel secara kualitatif maupun kuantitatif. Kami menyadari bahwa petunjuk praktikum ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami dengan senang hati akan menerima saran dari semua pihak demi perbaikan diktat ini.

Yogyakarta, Maret 2013 Koordinator Tim Biokimia

Barinta Widaryanti, M. Biotech

KETENTUAN UMUM

I. TATA TERTIB PRAKTEK BIOKIMIA


Semua mahasiswa yang menjalankan praktikum di Akademi Analis Kesehatan Manggala harus mengetahui dan mentaati peraturan sebagai berikut : 1. Sebelum jam praktikum yang telah ditetapkan, para mahasiswa tidak diperkenankan memasuki ruangan praktikum. 2. Para mahasiswa harus datang tepat pada waktunya, bila terlambat lebih dari 15 menit tanpa alasan yang dapat diterima, mahasiswa tidak diperkenankan mengikuti praktikum yang berlangsung. 3. Setiap kali akan praktikum diadakan pre test dengan bahan dari apa yang dikerjakan nanti, bila tidak lulus mahasiswa tidak diperkenankan praktikum dan harus mengulangi lagi pada hari praktikum yang lain. 4. Setiap kali akan praktikum harus membuat rencana kerja lebih dahulu, dan bila sudah selesai praktikum laporan harus disyahkan pada asisten praktikum. 5. Didalam laboratorium, para mahasiswa harus memakai jas praktikum dengan rapi dan sopan. 6. Pada waktu praktikum, para mahasiswa tidak boleh meninggalkan ruang praktikum tanpa seijin asisten. 7. Semua alat-alat laboratorium yang dipergunakan untuk praktikum menjadi tanggungjawab praktikan, setelah selesai harus dikembalikan dalam keadaan bersih dan lengkap. 8. Apabila praktikan merusakkan atau memecahkan alat-alat laboratorium dengan alasan apapun, diwajibkan mengganti alat tersebut. 9. Bekerja dengan menggunakan asam keras memanaskan) harus dikerjakan dialmari asam. (misalnya menuang atau

10. Mereka yang tidak menjalankan praktikum pada harinya karena berhalangan atau tidak lulus tes atau gagal dalam menjalankan praktikun hari itu, harus mengulang pada hari lain yang ditentukan. 11. Bila 3 (tiga) kali berturut-turut praktikan tidak datang untuk menjalankan praktikum tanpa ada keterangan yang syah maka dianggap mengundurkan diri.

II. LAPORAN PRAKTIKUM Laporan praktikum terdiri dari : laporan sementara dan laporan resmi. Laporan sementara dibuat pada saat praktikum dilaksanakan dan dilaporkan kepada pengawas, sedangkan laporan Resmi dikumpulkan pada saat akan dilaksanakan praktikum selanjutnya. Format laporan praktikum:

TUJUAN :

DASAR TEORI : ALAT DAN BAHAN .. .. :

PROSEDUR KERJA DAN HASIL PENGAMATAN PROSEDUR KERJA

PENGAMATAN

PEMBAHASAN :

KESIMPULAN : JAWABAN PERTANYAAN: REFERENSI :


4

.. ..

MATERI PRAKTIKUM
A. KARBOHIDRAT
I. SIFAT KIMIA MONOSAKARIDA 1. UJI MOLISCH Tujuan : Membuktikan adanya karbohidrat secara kualitatif. Dasar Teori: Heksosa dengan asam pekat dan pemanasan akan menjadi hidroksimetilfurfural, sedangkan pentose akan menjadi furfural. Adanya furfural digunakan sebagai dasar beberapa percobaan, diantaranya reaksi Molisch dan Selliwanoff. Warna ungu yang terjadi pada reaksi Molisch karena kondensasi 4hidroksimetilfurfural dengan alpha naphtol. Reaksi Seliwanoff khas untuk levulosa, tetapi juga positif untuk ketosa lain misalnya ketotriosa, ketopentosa dan lain-lain. Juga positif untuk sukrosa, karena sukrosa oleh HCl (yang terdapat dalam reagen Selliwanoff) akan dihidrolisa menjadi fruktosa dan glukosa. Bahan dan reagen: a. Fruktosa, Glukosa, laktosa, maltose, amilum b. Pereaksi Molisch c. H2SO4 pekat Prosedur : a. Masukkan 15 tetes larutan uji ke dalam tabung reaksi. b. Tambahkan 3 tetes pereaksi Molisch, Campurlah dengan baik. c. Miringkan tabung reaksi, lalu alirkan dengan hati-hati 1 ml H 2SO4 pekat melalui dinding tabung agar tidak bercampur.

Interpretasi Hasil : Reaksi positif : ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan

Hasil Percobaan : No. 1 2 3 4 Zat Uji Hasil Uji Molisch Karbohidrat (+/-)

Pertanyaan : Jelaskan apa yang menyebabkan pereaksi molish dapat digunakan untuk membuktikan adanya karbohidrat Kesimpulan: 2. UJI BENEDICT Tujuan : Membuktikan sifat reduksi gula Dasar Teori: Gula dengan gugus karbonil bebas (aldehid atau keton), dalam larutan alkali berubah menjadi bentuk enol yang reaktif dan mudah dioksidir. Gula disini sebagai pereduksi, sedang zat yang direduksi misalnya : Cu, Bi, Fe(CN)6 dan lain-lain. Reagen yang sering dipakai : larutan Benedict (berisi CuSO 4, Nasitrat dan Na2CO3) dan larutan Fehling (berisi CuSO4, K-Na.Tartrat dan KOH). Na-sitrat dan K-Na.Tartrat untuk mencegah endapan Cu(OH)2 atau Cu.karbonat, dengan terjadinya senyawa kompleks yang larut dan sedikit terdisosiasi, tetapi cukup untuk mengadakan reaksi dengan membentuk Cu++ sedikit demi sedikit sehingga terjadi endapan Cu(OH)2 atau Cu.Karbonat.

Alkali berguna untuk merubah gula menjadi bentuk enol yang reaktif dan dapat mereduksi Cu++ dari senyawa kompleks dengan Sitrat atau Tartrat menjadi Cu+. Cu+ bersama OH- membentuk CuOH yang berwarna kuning dan dengan pemanasan berubah menjadi Cu2O yang berwarna merah. Sifat mereduksi ini dapat digunakan untuk menentukan adanya gula secara kualitatif dan kuantitatif. Bahan dan reagen: a. Fruktosa, Glukosa, laktosa, maltose, amilum b. Pereaksi Benedict Prosedur : a. Masukkan dalam tabung reaksi 5 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Benedict. Campurlah dengan baik. b. Didihkan diatas api kecil selama 2 menit atau masukkan dalam penangas air mendidih selama 5 menit. c. Dinginkan perlahan-lahan. d. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Interpretasi Hasil : Reaksi positif : ditandai dengan timbulnya endapan warna biru kehijauan, kuning, atau merah bata, tergantung pada kadar gula pereduksi yang ada. Uji Benedict dapat pula digunakan untuk menentukan kadar gula dalam urin secara kuantitatif. Warna Biru/ hijau keruh Hijau/ Hijau kekuningan Kuning kehijauan/ kuning keruh Jingga Merah bata Hasil Percobaan : No 1 2 3 4 Zat Uji Hasil Uji Benedict Gula Reduksi (+/-) Penilaian +1 +2 +3 +4 Konsentrasi Kurang dari 0,5% 0,5 1,0% 1,0 2,0% Lebih dari 2%

Pertanyaan: Jelaskan mengapa pereaksi benedict lebih banyak digunakan untuk pemeriksaan glukosa diandingkan pereaksi fehling. Kesimpulan : 3. UJI OSAZON Tujuan : Membedakan bermacam-macam karbohidrat dari gambar kristalnya. Dasar Teori: Monosakarida dan beberapa disakarida dengan fenil hidrazin akan membentuk osazon. Osazon adalah Kristal kuning, tidak larut dalam air dan bentuknya khas untuksetiap macam gula, sehingga dapat dipakai untuk identifikasi. Osazon dari glukosa dan fruktosa sama pada fruktosa. Mula-mula yang bereaksi dengan fenilhidrazin adalah gugus ketonnya, maltose dan laktosa masing-masing membentuk maltosazon dan laktosazon. Sukrosa tidak membentuk osazon. Bahan dan reagen: a. Fruktosa, Glukosa b. Fenilhidrazin-hidroklorida c. Natrium asetat Prosedur : a. Masukkan 2 ml larutan uji ke dalam tabung reaksi b. Tambahkan seujung spatel fenilhidrazin-hidroklorida dan Kristal natrium asetat c. Panaskan dalam penangas air mendidih selama beberapa menit d. Dinginkan perlahan-lahan dibawah air kran e. Perhatikan Kristal yang terbentuk dan identifikasikan dibawah mikroskop

Hasil Percobaan : No 1 2 3 4 Zat Uji Hasil Uji Osazon Gambar Osazon

Pertanyaan: a. Tuliskan reaksi pembentukan pembentukan osazon dari glukosa. b. Jelaskan manfaat reaksi pembentukan osazon untuk keperluan diagnostik Kesimpulan : 4. UJI SELIWANOFF Tujuan : Membuktikan adanya ketosa (fruktosa) Bahan dan reagen: a. Fruktosa, sukrosa, glukosa, laktosa, maltose, amilum b. Pereaksi Seliwanoff Prosedur : a. Masukkan 5 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Seliwanoff ke dalam tabung reaksi b. Didihkan diatas api kecil selama 30 detik atau dalam penangas air mendidih selama 1 menit c. Hasil positif ditandai terbentuknya larutan berwarna merah oranye. Hasil Percobaan : No 1 2 4 5 Zat Uji Hasil Uji Seliwanoff Ketosa (+/-)

Pertanyaan: Jelaskan mengapa reaksi selliwanof menunjukan reaksi positif untuk sukrosa. Kesimpulan: 5. UJI BIAL Tujuan : Membuktikan adanya pentose Bahan dan reagen : a. Fruktosa, Glukosa, sukrosa, maltose, amilum b. Pereaksi Bial c. HCl pekat (37%) Hasil Percobaan : No. Zat Uji 1 2 3 4 Kesimpulan : Hasil Uji Bial Pentosa (+/-)

6. PENGARUH ALKALI Tujuan : Mengetahui pengaruh senyawa alkali pada monosakarida Bahan dan reagen : a. Fruktosa, Glukosa b. Na-Karbonat Prosedur : a. Masukkan larutan uji 1 ml dan sedikit Na-Karbonat yang tidak mengandung air ke dalam tabung reaksi
10

b. Gojog dan bagilah ke dalam 2 tabung, tabung 1 dimasak selama 1 menit kemudian dinginkan dibawah air kran. Tabung 2 ditambahkan 1 ml reagen benedict dan dibiarkan tanpa pemanasan. c. Apa yang terjadi dan bagaimana pengaruh alkali serta apa yang disebut enol Hasil Percobaan : No 1 2 3 4 Pertanyaan: Jelaskan pengaruh alkali pada aldosa dan ketosa. Kesimpulan II. HIDROLISA DISAKARIDA DAN POLISAKARIDA 1. UJI HIDROLISA DISAKARIDA Tujuan : Mengidentifikasi hasil hidrolisis disakarida Dasar Teori: Sukrosa terbentuk dari fruktosa dan glukosa dengan ikatan antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada fruktosa melalui atom oksigen. Hidrolisis sukrosa akan menghasilkan glukosa dan fruktosa. Bahan dan reagen : a. Sukrosa, laktosa, maltosa b. Pereaksi Benedict c. Pereaksi Seliwanoff d. Larutan HCl pekat e. Larutan NaOH 2% Prosedur : Zat Uji Hasil Uji Alkali Enol (+/-)

11

a. Masukkan 5 ml sukrosa 1% ke dalam tabung reaksi dan tambahkan 5 tetes HCl pekat. b. Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air mendidih selama 30 menit. c. Setelah didinginkan, netralkan larutan dengan NaOH 2% dan uji dengan kertas lakmus. d. Selanjutnya, uji dengan benedict dan seliwanoff e. Simpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa? Hasil Percobaan : Perlakuan 5 ml sukrosa 1% + 5 tetes HCl pekat

Uji Benedict Seliwanoff

Hasil Uji

Pertanyaan: Jelaskan hasil hidrolisis sukrosa. Lebih kuat manakah reaksi benedict tehadap hasil sukrosa maltose dan laktosa dibandingkan sebelum dihidrolisa. Kesimpulan

2. UJI HIDROLISA AMILUM Tujuan : Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum (pati). Dasar Teori: Hidrolisa amilum oleh asam menghasilkan glukosa, sedang dengan enzim menghsilkan maltose dan dekstrin. Amilosa dengan jod member warna biru, sedang amilopektin ungu. Pada pemanasan warna hilang dan timbul lagi setelah didinginkan. Pemberian alkali juga menghilangkan warna karena alkali mengikat jodium. Tidak mereduksi, tidak membentuk osazon. Pada waktu hidrolisa dengan enzim atau dengan asam akan menghasilkan antaranya yaitu : amilodekstrin, eritrodekstrin, akhroodekstrin dan akhirnya menjadi maltose dan dekstrin dengan enzim amilasi atau menjadi glukosa bila dengan asam. Dapat diendapkan dengan setengah menjenuhkan ammonium sulfat.

12

Bahan dan reagen : a. Larutan Amilum1% b. Larutan Iodium c. Pereaksi Benedict d. Larutan HCL 2N e. Larutan NaOH 2% f. Kertas lakmus Prosedur : a. Masukkan ke dalam tabung reaksi 5 ml amilum 1%, kemudian tambahkan 2,5 ml HCl 2N b. Campurlah dengan baik, lalu masukkan dalam penangas air mendidih c. Setelah 3 menit, ujilah dengan Iodium dengan mengambil 2 tetes larutan ditambah 2 tetes Iodium dalam porselin tetes. Catatlah perubahan warna yang terjadi. d. Lakukan uji Iodium setiap 3 menit sampai hasil berwarna kuning pucat. e. Lanjutkan hidrolisis selama 5 menit lagi. f. Setelah didinginkan, ambil 2 ml larutan hasil hidrolisis, lalunetralkan dengan NaOH 2%. Uji dengan kertas lakmus. g. Kemudian, ujilah dengan Benedict h. Simpulkan apa yang dihasilkan hidrolisis pati. Hasil Percobaan : Perlakuan 5 ml amilum 1% + 2,5 ml HCl 2N + pemanasan

Hidrolisis (menit) 3 6 9 12 15 18 21

Hasil Uji Iodium

Hasil Hidrolisis

Kesimpulan:

13

III.

IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT KUALITATIF Setiap mahasiswa menerima karbohidrat yang harus di identifikasikan. Masing-masing menerima zat yang tidak sama, mungkin berupa zat padat maupun zat cair. Skema kerjanya sebagai berikut : Bila zat padat. Larutkan dengan air suling. Kalau perlu dipanasi sampai larut dengan mengaduknya. Lakukan percobaan Molisch. Bila hasilnya positif menunjukkan adanya karbohidrat. Lakukan percobaan jod, bila positif warna apa yang terjadi? Mungkin amilum, glikogen atau dekstrin. Bila negative mungkin monosakarida, disakarida atau polisakarida selain yang disebut tadi, misalnya akhrodekstrin, pentosan, inulin dan lain-lain. Jika percobaan (2) negative, lakukan reaksi Benedict. Bila positif mungkin monosakarida atau disakarida (kecuali sukrosa dan trehalosa). Bila percobaan (3) Positif, mungkin monosakarida misalnya glukosa, fruktosa, galaktosa, pentose atau disakarida lainnya misalnya maltose dan laktosa. Lakukan reaksi Selliwanoff. Bila positif menunjukkan afruktosa, bila negative lakukan reaksi Tauber. Bila reaksi Tauber positif menunjukkan adanya pentose misalnya arabinosa. Bila reaksi Selliwanoff dan Tauber negative mungkin glukosa, galaktosa, maltose atau laktosa. Bila percobaan (3) negative, mungkin sukrosa atau polisakarida yang lain misalnya akhrodekstrin, inulin, pentosan dan lain-lain. Lakukan percobaan Selliwanoff dan bila postif mungkin sukrosa dan lanjutkan menghidrolisisnya. Hasil hidrolisis hanya positif terhadap reaksi Benedict dan Selliwanoff untuk membuktikan bahwa zat tersebut benar-benar sukrosa. Bila percobaan (5) negative mungkin pentosan. Lakukan hidrolisis dan teruskan reaksi Benedict dan Tauber. Bila kedua reaksi tersebut positif berarti adanya pentosan sebagai hasil hidrolisis pentosan (misalnya Gummi Arabicum). Glukosa, laktosa dan maltose dapat dibedakan dengan reaksi osazon berdasarkan perbedaan bentuk kristalnya.

1.

2.

3. 4.

5.

6.

7.

14

B. LIPIDA DAN GOLONGANNYA 1. UJI KELARUTAN LIPID Tujuan : Mengetahui kelarutan lipid pada pelarut tertentu Dasar Teori: Makin panjang rantai atom C makin rendah kelarutannya dan adanya gugus hidroksi menaikkan kelarutannya. Garam Na dan K dari asam lemak larut dalam air dan hal ini juga dipengaruhi hal-hal diatas. Bahan dan reagen : a. Minyak kelapa b. Alkohol 96% c. Kloroform d. Eter e. Air suling (Aquadest) f. Larutan Na2CO3 0,5% Prosedur : a. Siapkan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering. Berturut-turut isilah dengan : air suling, alcohol 96%, eter, kloroform, dan larutan Na 2CO3 0,5% sebanyak 1 ml. b. Tambahkan pada setiap tabung 2 tetes minyak kelapa c. Kocoklah sampai homogen, lalu biarkan beberapa saat. d. Amati sifat kelarutannya. Hasil Percobaan : Bahan Tabung 1

Tabung 3 Air suling 1 ml Alkohol 96% 1 ml Eter 1 ml Kloroform Na2CO3 0,5% Minyak kelapa 2 tetes 2 tetes 2 tetes Kocok tabung sampai homogen, biarkan beberapa saat. Hasil : Larut/ tidak larut/ terbentuk emulsi

Tabung 2

Tabung 4 1 ml 2 tetes

Tabung 5 1 ml 2 tetes

15

Pertanyaan : Jelaskan sifat kelarutan minyak kelapa pada masing-masing pelarut. Kesimpulan: 2. UJI PEMBENTUKAN EMULSI Tujuan : Mengetahui terjadinya pembentukkan emulsi dari minyak Dasar Teori: Emulsi adalah partikel-partikel koloid yang lebih besar, yang dibentuk dari non polar lipid didalam air. Untuk menstabilkan biasanya dipakai emulgator (emulsifying agent) misalnya lesitin. Minyak memiliki sifat tidak larut dalam air sehingga akan membentuk emulsi bila dilarutkan dalam air. Bila lipid polar mencapai konsentrasi tertentu, yang terdapat pada medium air, maka akan terbentuk misel. Pengaruh garam empedu untuk menjadikan misel adalah penting untuk penyerapan lemak diusus halus karena dengan demikian lemak mudah dicerna.

Bahan dan reagen : a. Minyak kelapa b. Larutan Na2CO3 0,5% c. Larutan sabun d. Larutan Protein 2% e. Larutan empedu encer Prosedur : a. Siapkan 5 tabung yang bersih dan kering b. Tabung 1 : isi 2 ml air dan 2 tetes minyak kelapa c. Tabung 2 : isi 2 ml air, 2 tetes minyak kelapa, dan 2 tetesNa2CO3 0,5% d. Tabung 3 : isi 2 ml air , 2 tetes minyak kelapa, dan 2 tetes larutan sabun e. Tabung 4 : isi 2 ml larutan protein 2% dan 2 tetes minyak kelapa f. Tabung 5 : isi 2 ml larutan empedu encer dan 2 tetes minyak kelapa g. Kocoklah setiap tabung dengan kuat, lalu biarkan beberapa saat h. Amati terjadinya pembentukkan emulsi Hasil Percobaan : Bahan Tabung 1

Tabung

Tabung

Tabung

Tabung 5

16

2 3 Air suling 2 ml 2 ml 2 ml Minyak kelapa 2 tetes 2 tetes 2 tetes Na2CO3 0,5% 2 tetes Larutan sabun 2 tetes Larutan protein Larutan empedu Kocok tabung dengan kuat, lalu biarkan beberapa saat. Hasil : Terbentuk emulsi stabil/ tidak stabil Pertanyaan: Jelaskan fungsi empedu pada pencernaan lemak.

4 2 tetes 2 ml -

2 tetes 2 ml

Kesimpulan: 3. UJI SIFAT KETIDAKJENUHAN MINYAK Tujuan : Mengetahui tingkat ketidakjenuhan minyak atau lemak Dasar Teori: Lemak hewan pada umumnya berupa zat padat sedangkan lemak tumbuhan berupa zat cair. Lemak yang memiliki titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh, sedangkan lemak cair atau biasa disebut minyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak diukur dengan bilangan iodium. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap pada asam lemak . tidap molekul iodium mengadakan reaksi adisi dengan ikatan rangkap. Oleh karena itu semakin banyak ikatan rangkap maka semakin banyak pula iodium yang dapat bereaksi. C=C + I2 CC

Bahan dan reagen : a. Minyak kelapa b. Minyak wijen c. Minyak kacang d. Margarin atau lemak padat

17

e. Kloroform f. Hubl Iod Prosedur : a. Masukkan 8 ml kloroform b. Tambahkan 8 tetes reagen Hubl Iod (larutan iod dalam alcohol dengan sedikit HgCl2) c. Bagi ke dalam 4 tabung sama banyak d. Tambahkan setetes demi setetes pada masing-masing tabung, minyak kelapa, minyak wijen, minyak kacang dan margarine yang dilelehkan sambil dikocok hingga warna merah hilang e. Hitung jumlah tetesan yang dibutuhkan f. Bandingkan jumlah tetesan yang dihasilkan Hasil Percobaan : Bahan Tabung 1 Minyak kelapa Setetes demi setetes Margarin Minyak wijen Minyak kacang Hubl iod Hasil : Jumlah tetes minyak 2 ml 2 ml 2 ml

Tabung 2 Setetes demi setetes

Tabung 3

Tabung 4

Setetes demi setetes Setetes demi setetes 2 ml

Pertanyaan ; a. Bandingkan jumlah tetesan antara minyak kelapa, minyak kacang, minyak wijen dan margarine. b. Bagaimana urutan ketidakjenuhannya. Kesimpulan :

4. UJI KOLESTEROL Tujuan : Mengetahui adanya sterol (kolesterol) dalam suatu bahan secara kualitatif Dasar Teori: Kolesterol adalah salah satu sterol yang penting, merupakan komponen utama dalam batu empedu. Kolesterol dapat larut pada pelarut lemak. Jika

18

terdapat dalam konsentrasi tinggi kolesterol dapat mengkristal, dengan sifat tidak berwarna, tidak berbau, titik lebur 150-151 C. Adanya kolesetrol dapat ditentukan dengan reaksi warna, diantaranya adalah reaksi salkowksi. Jika kolesterol dilarutkan dalam kloroform dan dituangkan ke dalam asam sulfat pekat dengan hati-hati, maka bagian asam berwarna kuning dengan fluoresensi hijau. Bagian kloroform berwarna biru dan berubah menjadi merah dan ungu. Bahan dan reagen : a. Kolesterol 0,5% dalam kloroform b. Minyak kelapa c. Minyak ikan d. Asam asetat anhidrid e. Kloroform f. H2SO4 pekat

Prosedur : a. Siapkan 3 tabung reaksi yang bersih dan kering. Isilah tabung pertama dengan 1 ml minyak kelapa, tabung kedua dengan 5 tetes minyak ikan, dan tabung ketiga dengan 5 tetes kolesterol 0,5%. b. Pada setiap tabung, tambahkan kloroform sebanyak 2 ml. c. Tambahkan pula 10 tetes asam asetat anhidrid d. Melalui dinding tabung, tambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat e. Kocoklah hati-hati dan diamkan beberapa detik f. Amati perubahan warana yang terjadi Hasil Percobaan : Bahan Minyak kelapa Minyak ikan Kolesterol 0,5% dalam kloroform Uji dengan Lieberman Burchard Hasil : Terbentuk warna merah, kemudian biru dan hijau (+/-)

Tabung 1 1 ml -

Tabung 2 5 tetes -

Tabung 3 5 tetes

Kesimpulan:

19

5. UJI PEMBENTUKAN AKHROLEIN Tujuan : Mengetahui adanya akhrolein Dasar Teori: Lemak jika dibiarkan pada suhu terbuka akan berbau tidak enak. Hal ini disebabkan oleh proses hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Oksidasi asam lemak tidak jenuh menambah bau tang tidak enak. Gliserol yang dihasilkan dari lemak memiliki sifat tidak larut dalam air dan eter. Jika gliserol dicampur dengan KHSO4 dan dipanaskan akan timbul bau yang tajam seperti terbakar, yang disebabkan karena terbentuknya akrilaldehida atau akrolein. Bahan dan reagen : a. Gliserol b. Minyak kelapa c. KHSO4 Prosedur : a. Siapkan 2 tabung reaksi kering, tabung reaksi 1 diisi dengan 3 tetes gliserol dan tabung 2 diisi dengan 3 tetes minyak kelapa. b. Pada setiap tabung ditambahkan Kristal KHSO4 setebal 1 cm c. Panaskan dengan hati-hati, tabung mana yang berbau merangsang? Hasil Percobaan : Zat Uji Gliserol Minyak kelapa Kristal KHSO4 Dipanaskan hati-hati Hasil : bau merangsang / tidak bau merangsang

Tabung 1 3 tetes Setebal 1 cm

Tabung 2 3 tetes Setebal 1 cm

Pertanyaan: a. Bandingkan bau yang terjadi antara gliserol dan minyak kelapa. b. Apa fungsi KHSO4 dalam percobaan ini Kesimpulan:

20

6. UJI GREASE SPOT Padamkan lebih dahulu semua api karena ether mudah terbakar! Zat padat atau zat cair yang akan diselidiki digojog dengan 2 ml ether dalam tabung reaksi dan biarkan agar lapisan ether keluar. Lapisan ether dipindahkan cawan porselin kering. Biarkan agar menguap (dapat dibantu dengan kipas). Sesudah ether habis usaplah cawan porselin dengan kertas biasa bukan kertas saring. Apa yang terlihat? Apa dasar dan gunanya percobaan ini?

21

C. PROTEIN

1. UJI PENGENDAPAN PROTEIN DENGAN LOGAM Tujuan : Mengetahui pengaruh logam terhadap sifat pengendapan protein Dasar teori: Dasar reaksi ini adalah penetralan muatan. Apabila protein berada pada daerah alkalis terhadap titik isoelektrisnya, dalam hal ini protein bermuatan negatif. Dengan adanya ion positif dari logam berat terjadilah penetralan dan terjadi garam netral protein yang mengendap. Endapan dapat larut lagi dengan penambahan alkali encer. Bahan : 1. Larutan albumin, gelatin, kasein 2. Zn-sulfat 3. Garam lain (besi, tembaga, timbale, raksa) Prosedur 1. Pada 2 ml larutan protein encer ditambahkan setetes larutan Zn-Sulfat encer, akan terjadi endapan putih. Bagilah 2 tabung dan pada salah satu tabung ditambahkan ZnSO4 berlebihan, maka endapan akan larut. 2. Ulangi dengan garam-garam besi, tembaga, air raksa, timbal dan kerjakan seperti diatas. Apa yang terjadi. Hasil Pengamatan Bahan Tb 1 Albumin, 2 ml gelatin, kasein Zn sulfat Berlebih Cu sulfat Pb sulfat FeCl3 HgCl2 Endapan : banyak/sedikit

Tb 2 2 ml

Tb 3 2 ml

Tb 4 2 ml

Tb 5 2 ml

Berlebih Berlebih Berlebih Berlebih

Pertanyaan : Manakah garam yang lebih efektif untuk mengendapkan protein

22

Kesimpulan : 2. UJI PENGENDAPAN PROTEIN DENGAN REAGEN ALKALOID Tujuan: Mengetahui pengaruh reagen alkaloid terhadap sifat pengendapan protein Dasar Teori: Reaksi terjadi pada pH yang lebih asam terhadap titik isoelektrisnya. Dalam hal ini protein bermuatan positif. Ion-ion negative dari asam tungstat, asam fosfotungstat, asam pikrat, asam ferrosianat, asam tanat, asam sulfosalisilat, dan lain-lain, akan menetralkan muatan positif dan mengendapkannya. Bahan : 1. Larutan protein (albumin, gelatin, kasein) 2. Asam sulfosalisilat 20% (asam salisilat + asam sulfat) 3. Reagen Esbach (asam pikrat + asam sitrat) 4. Kalium ferrisianida 5% 5. Asam asetat glasial Prosedur: a. 2 ml larutan protein encer ditambah 1 atau 2 tetes larutan 20% asam sulfosalisilat, terjadi endapan putih atau kekeruhan. b. 1 ml larutan protein encer ditambahkan 2 ml reagen Esbach (campuran antara asam pikrat dan asam sitrat), akan terjadi endapan kuning. c. Campurkan 10 tetes 5% Kalium Ferrisianida dalam 5 tetes asam asetat glacial, diambil 1 tetes untuk dicampurkan larutan protein. Hasil Pengamatan: Bahan Tabung 1 Larutan protein 2 ml Asam sulfosalisilat 20% 2 tetes Reagen Esbach 10 tetes kalium ferrisianida + 5 tetes asam asetat glasial Hasil : Endapan yang terbentuk: Kesimpulan

Tabung 2 1 ml 2 ml

Tabung 3 1 ml 1 tetes

23

3. REAKSI PENGENDAPAN PROTEIN DENGAN ASAM DAN ALKOHOL Tujuan : Mengetahui pengaruh asam dan alcohol pekat terhadap sifat pengendapan Dasar Teori: Gugus NH2, NH, OH dan CO dalam protein, yang dapat mengikat air (hidrasi). Ammonium sulfat pekat dan alcohol pekat akan menghilangkan air (dehidrasi) sehingga protein kehilangan air. Pada saat itu protein akan mempunyai kelarutan yang paling kecil dan mudah diendapkan. Protein yang diendapkan dengan cara ini tidak mengalami perubahan kimia dan mudah dilarutkan kembali dengan menambah air. Pengendapan dengan asam akan terjadi bila jumlah asamnya sedikit, pemberian asam yang berlebihan akan menghidrolisis protein.

Bahan : 1. Larutan protein (albumin, gelatin, kasein) 2. Ethanol 3. HNO3 pekat Prosedur : 1. Jenuhkan 5 ml larutan protein dalam tabung reaksi dengan ammonium sulfat, dengan cara menggojoknya dengan penambahan ammonium sulfat (NH4SO4) padat berlebihan. Terjadi endapan protein yang jika diencerkan dengan larutan protein tersebut akan larut lagi. 2. Pada 2 ml alcohol pekat ditambahkan 1 atau 2 tetes larutan protein pekat (misalnya serum darah yang diencerkan) terjadi endapan protein yang tebal dan putih yang akan larut lagi segera sesudah ditambah air. 3. Pada 3 ml larutan HNO3 pekat dalam tabung reaksi, ditambahkan 3 ml larutan protein lewat dinding tabung dengan memiringkan tabung itu. Dibidang batas akan terjadi lapisan putih (percobaan Holler) Hasil pengamatan Bahan Tabung 1 Larutan protein 2 ml Alkohol/etanol HNO3 pekat Hasil:

Tabung 2 2 ml 1-2 tetes

Tabung 3 3 ml 3 ml

24

Endapan:

Kesimpulan:

4. REAKSI BIURET Tujuan : Membuktikan adanya ikatan peptida dari protein. Dasar Teori Reaksi warna umum untuk peptid dan protein. Reaksi ini juga positif terhadap Biuret (kondensasi 2 molekul urea yang dipanaskan). Reaksi positif dengan warna ungu terjadi karena adanya kompleks senyawa yang terjadi antara Cu dengan N dari molekul ikatan peptide dan O dari air. Reaksi Biuret juga positif terhadap senyawa organik yang mempunyai gugus CONH, CHNH2, C(NH)NH2, CRHNNH2, CHOHCH2NH2, CHNHNH2, CHNH2CHOH. Reaksi Biuret terganggu dengan adanya CuOHO 2 membentuk warna biru tua. Reaksi ini juga positif terhadap hidrolisa protein : protean, metaprotein, proteosa, pepton, polypeptide kecuali asam amino. Warna yang terjadi tergantung dari panjangnya ikatan peptide bila ikatan peptide panjang warna yang terjadi ungu, bila pendek warna yang terjadi merah muda. Asam amino-asam amino memberikan reaksi Biuret negatif karena tidak adanya ikatan peptide sehingga reaksi ini dapat digunakan untuk menunjukkan selesainya hidrolisis protein. Bahan dan reagen : a. Larutan albumin, gelatin, kasein b. Larutan NaOH 40% c. Larutan CuSO4 0,5% Prosedur : a. Sediakan 4 tabung reaksi yang bersih, lalu masing-masing isilah dengan larutan albumin, gelatin dan kasein sebanyak 2 ml. b. Tambahkan pada setiap tabung 1 ml NaOH 40% dan tetes CuSO4 0,5% c. Campurlah dengan baik d. Amati perubahan warna yang terjadi Interpretasi hasil: Reaksi positif ditandai cincin ungu

25

Hasil Percobaan : No Zat Uji 1 2 3 4

Hasil Uji Biuret

Peptida(+/-)

Kesimpulan: 5. REAKSI MILLON NEASSE Tujuan : Mengetahui adanya tirosin didalam protein. Dasar Teori: Reaksi ini positif karena adanya pengikatan Hg dengan gugus hidroksil fenil jadi reaksi ini untuk menunjukkan adanya tirosin, tetapi tidak spesifik karena fenol juga memberikan reaksi positif. Bahan : a. Larutan albumin, gelatin, kasein b. HgSO4 1% c. Asam sulfat 10% d. NaNO2 Prosedur a. Masukan 2 ml larutan protein ke dalam tabung reaksi b. Tambahkan reagen 1 ml reagen merkuri sulfat (1% HgSO 4 dilarutkan dalam 10% asam sulfat). c. Masaklah, mungkin terjadi endapan kuning. d. Dinginkan dibawah air kran, lalu tambahkan setetes NaNO2 panaskan lagi, endapan atau larutannya akan menjadi merah. Interpretasi hasil: Mula-mula endapan kuning, berubah menjadi merah setelah penambahan natrium nitrit Hasil Pengamatan No 1 2 3 Zat Uji Reaski Millon Nease Tirosin (+/-)

26

Kesimpulan :

6. REAKSI HOPKINS-COLE Tujuan : Untuk mengetahui adanya triptofan di dalam protein. Dasar Teori: Reaksi ini positif ditandai dengan terjadinya cincin ungu pada bidang batas, karena terjadinya kondensasi 2 inti indol dari triptofan dengan aldehid (aldehid disini yang dipakai adalah asam glioksilat). Pada reaksi akhrea rosenhein dipakai formaldehid. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung triptofan. Bahan: a. Larutan albumin, gelatin, kasein b. Formaldehid encer c. Asam sulfat pekat Prosedur a. Masukan 1 ml larutan protein ke dalam tabung b. Tambahkan 1 tetes larutan formaldehid encer (diencerkan 500 kali) c. Tambahkan 1 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan sehingga terjadi 2 lapisan. Terjadi lingkaran ungu dibidang perbatasan. Jika digojok maka seluruh larutan menjadi ungu. Interpretasi hasil: Terjadi cincin ungu pada perbatasan larutan Hasil Pengamatan: No Zat Uji 1 2 3

Reaski Hopkins colle

Triptofan (+/-)

Kesimpulan :

27

7. REAKSI XANTOPROTEIN Tujuan : Membuktikan adanya asam amino tirosin, triptofan atau fenilalanin yang terdapat dalam protein. Bahan dan Alat : a. Larutan albumin, gelatin dan kasein b. Larutan HNO3 pekat c. Larutan NaOH 40% d. Alat pemanas e. Pipet ukur f. Pipet tetes Dasar Teori: Reaksi positif ditandai dengan terjadinya warna kuning setelah penambahan HNO3 dan dipanaskan. Pada penambahan alkali akan memberikan warna orange. Reaksi ini terjadi karena netrasi inti bensen (cincin fenil). Karena itu reaksi ini positif untuk protein yang mengandung asam amino dengan inti bensen misalnya tirosin, fenil alanin, triptofan. Prosedur : a. Sediakan 3 tabung reaksi yang bersih dan masing-masing isilah dengan larutan albumin, gelatin dan kasein sebanyak 2 ml. b. Pada setiap tabung, tambahkan 1 ml HNO3 pekat. Perhatikan adanya endapan putih yang terbentuk. c. Kemudian panaskan selama 1 menit dan amati terbentuknya warna kuning. d. Selanjutnya dinginkan dibawah kran, lalu tambahkan NaOH 40% setetes demi setetes melalui dinding tabung hingga terbentuk lapisan. e. Perhatikan perubahan warna yang terjadi Interpretasi hasil : Reaksi positif : bila pada bidang perbatasan antara protein dan NaOH terbentuk warna jingga. Hasil Percobaan : No Zat Uji 1 2

Hasil Uji Xantoprotein

Tirosin/ Triptofan/ Fenilalanin (+/-)

28

3 Kesimpulan: 8. SULFUR TEST Tujuan : Mengetahui adanya gugus S pada asam amino penyusun protein Dasar Teori: Reaksi positif ditandai dengan terjadinya warna hitam dari PbS setelah protein ditambah alkali garam Pb dan dipanaskan. Alkali berguna untuk melepas S organic menjadi an organic. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung asam amino dengan atom S misalnya sistein dan metionin. Bahan: Serum darah yang diencerkan NaOH 40%. Pb asetat Prosedur: Masukan 1 ml larutan protein (serum darah yang diencerkan) Tambahkan 1 ml NaOH 40%. Masaklah 1 menit untuk merubah S organik menjadi Na-Sulfida. Tambahkan 1 tetes Pb-asetat Interpretasi hasil : Terbentuk warna coklat-hitam ats terbentuknya PbS Hasil Pengamatan No Zat Uji 1 2 3

Reduksi sulfur

Sistein, metionin(+/-)

Kesimpulan :

29

9. SIFAT BERBAGAI MACAM PROTEIN a. Albumin dan Globulin Tujuan : Mengetahui sifat-sifat albumin dan globulin. Percobaan 1 : Pengendapan Pada 2 ml serum encer ditambahkan 1 atau 2 tetes asam sulfosalisilat akan terjadi endapan putih. Percobaan 2: Penggumpalan Pada 2 ml serum encer ditambahkan asam asetat 2% dengan hati-hati sampai warna merah muda hilang, saat ini tidak terjadi kekeruhan. Panaskan, maka akan terjadi gumpalan. Dinginkan dan buktikan bahwa gumpalan ini tidak larut dalam asam encer atau alkali encer b. Kasein Tujuan : Mengetahui reaksi pengendapan kasein serta membuktikan kandungan P organic Percobaan 3 : Pengendapan Pada 5 ml larutan kasein yang alkalis ditambahkan setes indicator Bromcressol hijau, terjadi warna biru. Kemudian ditambahkan setetes demi setetes asam asetat 2% sampai warna larutan menjadi agak hijau (pH: 4,7) akan terjadi endapan kasein. Percobaan 4 : Reaksi Neumann (untuk membuktikan P organic dalam Kasein) Masukkan sedikit Kasein kering kedalam tabung yang kering, lalu tambahkan 2 tetes HNO3 pekat dan 10 tetes asam sulfat pekat. Kemudian dengan memegang tabung dengan penjepit, tabung dipanaskan dengan sangat hati-hati diatas api yang kecil dengan mengocoknya sehingga keluar asap sulfat pekat. Pada suhu ini maka tabung seharusnya telah tidak berwarna. Jika isi tabung masih berwarna coklat atau hitam maka tabungnya ditaruh dirak kering, dan melalui dinding tabung dengan hati-hati ditambahkan setetes asam nitrat pekat lagi dan dipanaskan lagi hingga keluar asap putih dari asam sulfat, dan larutannya sampai tidak berwarna. Dengan cara demikian maka semua P telah dirubah menjadi asam fosfat. Biarkan tabungnya mendingin dengan sendiri dirak. Kemudian tambahkan 2 ml ammonium molibdat dan dipanaskan. Terjadi endapan kuning jeruk dari ammonium fosfomolibdat, jika ada fosfor (P) dalam proteinnya.

c. Gelatin

30

Didapatkan dari kolagen didalam tulang rawan, tendo, kulit dan dibuat dengan jalan memanaskannya dengan air. Jika gelatin untuk beberapa lama bersentuhan dengan air maka akan membengkak, tetapi tidak larut kecuali jika dipanaskan dengan air. Larutan gelatin yang mengandung paling sedikit larutan protein jika didinginkan akan menjendal (gelatinneren)natau paling tidak menjadi sangat kental. Gelatin adalah suatu protein tidak sempurna karena hanya mengandung terutama asam-asam amino alifatis dan hanya sedikit tirosin dan asam amino aromatis lainnya. Tidak mengandung triptofan dan metionin. Percobaan 5 : Pembengkakan dan kelarutan Kocoklah sedikit gelatin dengan 10 ml air dan biarkan selama 10 menit. Adakah pembengkakan? Kemudian panaskan, lebih baik dengan mengaduknya (larutkah?) larutan gelatin yang terjadi untuk percobaan selanjutnya. Percobaan 6 : Penjendalan (gelatinneren) Sebagian larutan gelatin dipindahkan ke dalam tabung reaksi kira-kira 2 ml dan masukkan tabung reaksi kedalam es batu. Apa yang terjadi? Percobaan 7 : Pengendapan a. Tunjukkan bahwa gelatin dapat diendapkan dengan setengah menjenuhi garam ammonium sulfat. b. Tunjukkan bahwa gelatin tidak member endapan dengan pemberian campuran Kalium Ferrosianida dan asam asetat. Percobaan 8 : Reaksi warna Lakukan reaksi Biuret, Millon Nasse, Hopkins Colle, Xanto protein dan test sulfur. Bagaimana pendapat saudara mengenai gelatin?

10. IDENTIFIKASI ZAT PROTEIN YANG TIDAK DIKETAHUI Yang diberikan berupa zat padat atau larutan. Bila zat itu padat maka cobalah melarutkan sedikit zat tersebut, kemungkinan bahan pelarutnya adalah : air dingin, air panas, larutan garam encer (ammonium sulfat), alkali encer atau asam encer. Harus diingat bahwa protein sukar larut dan bila larut maka larutannya umumnya agak kental. Langkah pertama untuk analisis ini adalah membuktikan adanya protein dalam larutan ini dengan reaksi biuret. Bila reaksi biuret positif menunjukkan adanya protein atau derivatnya kecuali asam amino. Jika larutan tadi ternyata negatif, maka dilanjutkan dengan percobaan-percobaan berikut : 1. Buatlah larutan menjadi pH 5,4 (ini ditunjukkan dengan tepat hilnagnya warna merah dari klorfenol merah setelah ditambahkan Na2CO3 2%). Suatu presipitasi

31

2.

3.

4.

5.

6.

yang kemudian menjadi koagulasi pada waktu dididihkan menunjukkan adanya metaprotein. Bila tidak terjadi presipitasi pada pH 5,4 tapi terjadi koagulasi bila larutan itu dididihkan pada pH tersebut, maka kemungkinan ada albumin atau globulin. Albumin atau globulin dapat dibedakan dengan penambahan ammonium sulfat. Jika hasilnya negatif, lanjutkan dengan percobaan berikut. Buatlah larutan yang asli menjadi pH 4,7 (tepat timbulnya warna hijau dari Brom Cresol Hijau). Terjadi presipitasi menunjukkan adanya kasein, saringlah dan sisa yang tertinggal pada kertas saring dikeringkan dengan melekatkan berkali-kali diantara lipatan kertas saring, lalu kerjakan Neumman test untuk meyakinkan adanya kasein. Bila semua percobaan diatas negatif dan dengan asam ferrosianat juga negative maka kemungkinan ada gelatin. Lakukanlah percobaan untuk gelatin. Reaksi warna untuk sistein dan triptofan biasanya juga negative bila itu gelatin. Bila semua percobaan diatas negatif, cobalah dikerjakan pengendapan dari larutan yang asli dengan menjenuhnya menggunakan ammonium sulfat. Bila ada endapan menunjukkan adanya proteosa, lakukan reaksi biuret dan reaksi warna lain. Reaksi ini akan positif bila ada polipeptida. Bila semua percobaan diatas tetap negatif, cobalah lakukan percobaan formaldehid untuk asam amino. Tetapi dibuktikan dulu bahwa dalam larutan tersebut tidak ada garam ammoniumnya. Kemudian kerjakan semua reaksi warna dan bagaimana dengan reaksi biuretnya?

Catatan : untuk setiap pekerjaan baik yang negatif maupun positif jangan dibuang, bagi yang positif harus dikerjakan reaksi-reaksi selanjutnya yaitu : reaksi pengendapan dan reaksi warna yang lengkap.

32

D. ENZIM

1. PENGARUH KONSENTRASI ENZIM Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap perombakan suatu bahan. Dasar Teori : Konsentrasi enzim akan mempengaruhi kegiatan enzim tersebut dalam memecah suatu bahan (pati). Semakin besar volume enzim berarti konsentrasi enzim tinggi, sehingga aktifitas enzim juga semakin bertambah. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan warna yang terjadi melalui uji iodium atau dari endapan yang terjadi melalui uji Benedict. Bahan dan reagen : Larutan pati 2% Larutan Iodium Reagen Benedict Enzim amilase

Prosedur : 1. Sediakan 3 tabung reaksi: tabung 1 diisi enzim sebanyak 0,5 ml. tabung 2 diisi enzim sebanyak 1,0 ml. tabung 3 diisi enzim sebanyak 1,5 ml. 2. Tambahkan pada masing-masing tabung larutan pati 2% sebanyak 2 ml, kemudian simpan selama 15 menit. 3. Selanjutnya uji dengan iodium dan Benedict seperti diatas Hasil Percobaan : No. Konsentrasi Substrat Konsentrasi Enzim Perubahan Warna Uji Iodium Uji Benedict
33

1. Amilum 2 ml Amilase 0,5 ml 2. Amilum 2 ml Amilase 1,0 ml 3. Amilum 2 ml Amilase 1,5 ml Kesimpulan :........................................................................................................................ ....................

2. PENGARUH SUBSTRAT Tujuan : Untuk mengetahui adanya pengaruh substrat pada kegiatan enzim. Dasar Teori : Konsentrasi substrat berpengaruh terhadap efektifitas enzim dalam perombakan. Bila konsentrasi substrat bertambah maka kecepatan reaksinya atau efektifitas enzim juga bertambah. Hal ini bisa dilihat melalui endapan yang terbentuk dari uji Benedict. Bahan dan reagen : Larutan pati 2% Enzim amilase Larutan Iodium Reagen Benedict Prosedur : 1. Sediakan 3 tabung reaksi, isilah dengan larutan pati berturut-turut 8 ml, 4 ml, dan 2 ml. 2. Tambahkan pada masing-masing tabung reaksi sebanyak 2 ml enzim amilase, kemudian simpan selama 15 menit. 3. Selanjutnya test dengan Iodium sampai warna Iodium tidak berubah. 4. Lakukan uji Benedict, amati perubahan yang terjadi dan perhatikan pada tabung mana terjadi hidrolisa lebih dahulu. Hasil Percobaan :

34

No. 1 2 3

Konsentrasi substrat Lart. pati 8 ml Lart. pati 4 ml Lart. pati 2 ml

Konsentrasi enzim Amilase 2 ml Amilase 2 ml Amilase 2 ml

Perubahan warna Uji Iodium Uji Benedict

Kesimpulan:................................................................................................................... .............................................................................................................................................

3. ENZIM UREASE Tujuan : Untuk mengetahui kerja enzim urease dalam suspensi kedelai. Dasar Teori : Oleh urease yang terdapat didalam suspensi kedelai, ureum diubah menjadi CO 2 dan NH3. NH2 urease C = O H2O NH2 Dengan adanya NH3 yang bersifat sebagai basa lemah, maka pH akan naik dan menyebabkan phenolphtalein berubah jadi merah. Kerja enzim dapat dihambat atau rusak karena: Enzim dipanaskan Adanya inhibitor (racun) misalnya Hg Bahan dan reagen : Suspensi kedelai
35

CO2

+ 2 NH3

Larutan ureum Larutan phenolphtalein (pH 8,3 10) Larutan HgCl2 1% Prosedur : 1. Sediakan 3 tabung reaksi, masing-masing diisi dengan 1 ml larutan ureum 1%. 2. Kemudian tabung 1 ditambah 5 tetes filtrat kedelai ditambah 1 tetes PP. Tabung 2 ditambah 5 tetes filtrat kedelai yang sudah dididihkan ditambah 1 tetes PP. Tabung 3 ditambah 5 tetes filtrat kedelai ditambah 1 tetes PP ditambah 5 tetes larutan HgCl2. 3. Masukkan ketiga tabung reaksi tadi ke dalam penangas air 40C selama beberapa waktu dan amati hasilnya.

Hasil Percobaan : Bahan Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3 Larutan ureum 1% 1 ml 1 ml 1 ml Filtrat kedelai 5 tetes 5 tetes Filtrat kedelai dipanaskan 5 tetes Phenolphtalein (PP) 1 tetes 1 tetes 1 tetes Larutan HgCl2 1% 5 tetes Campurlah,lalu masukkan dalam penangas air 40C selama beberapa waktu Hasil : Warna merah muda (+/-) Kesimpulan: ............................................................................................................................................. 4. REAKSI GMELIN TERHADAP CAT EMPEDU Tujuan : Untuk mengetahui pigmen-pigmen empedu. Dasar Teori : Dalam empedu terkandung bermacam-macam pigmen empedu. Bermacam-macam pigmen ini dapat dibuktikan melalui warna-warna yang ditimbulkan dari reaksi

36

empedu terhadap oksidator kuat (HNO3 conc). Seperti: Oranye merah : Bilirubin Hijau Kuning Hijau-biru Biru-violet : Biliverdin : Meso bilirubin : Meso biliverdin : Meso bilicyanin

Dan bila dipanaskan reaksi akan bertambah kuat dan cepat. Bahan dan reagen : Larutan empedu Larutan HNO3 conc Larutan Iodium 0,5% Prosedur : 1) Masukkan 1 ml larutan HNO3 conc ke dalam tabung reaksi, tambahkan dengan hati-hati larutan empedu. Kemudian goyangkan dengan hati-hati, perhatikan timbulnya warna-warna pada bidang perbatasan. Selanjutnya simpulkan pigmenpigmen apa saja yang terdapat dalam empedu. 2) Ulangi percobaan tersebut dengan menggunakan larutan iodium 0,5% sebagai oksidatornya. Hasil Percobaan : Bahan Larutan empedu encer Larutan HNO3 pekat Larutan Iodium 0,5% Hasil : Perhatikan warna yang terbentuk antara kedua lapisan Tabung 1 1 ml 1 ml Tabung 2 1 ml 1 ml

Kesimpulan : 4. PEMERIKSAAN ENZIMATIK PADA MADU

37

Tujuan : Untuk mengetahui reaksi enzimatik pada madu. Dasar Teori : Madu adalah bahan yang memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah madu (Apis melifera) dan berasal dari sari bunga atau dari cairan yang berasal dari bagian-bagian tanaman yang dikumpulkan, diubah, diikat dengan senyawa-senyawa tertentu oleh lebah dan disimpan dalam sarangnya. Komponen utama madu adalah glukosa dan fruktosa. Senyawa dan bahan-bahan lain yang terkandung dalam madu adalah protein, asam amino, enzim, asam-asam organik, mineral, tepung sari bunga, sukrosa, maltosa, dan keaktifan enzim diastase.

Prinsip : Enzim diastase : Madu ditambah pati dan dipanaskan 45C selama 1 jam. Pati akan terhidrolisa menjadi maltosa. Jika postif, larutan I2 akan membentuk warna kehijauan atau coklat (enzim diastase positif), bila biru berarti negatif.

Bahan dan reagen : Madu Larutan amylum 1% Aquadest Larutan I2 (1 gr I2 dan 2 gr KI dalam 300 ml aquadest) Prosedur : 1. 10 ml larutan madu ditambah 20 ml aquadest steril (1:2), dicampur. Larutan dibagi menjadi 3 bagian (@ 10 ml). 2. Tb. 1 : 10 ml larutan ditambah 0,01 ml larutan amylum 1%. 3. Tb. 2 : 10 ml larutan ditambah 0,02 ml larutan amylum 1%. 4. Tb. 3 : 10 ml larutan ditambah 0,02 ml larutan amylum 1%.

38

5. Tabung 1 dan 2, dipanaskan 45C selama 1 jam, sedangkan tabung 3 tidak dipanaskan. 6. Ditambah larutan I2 pada masing-masing tabung sebanyak 1 ml. 7. Amati warna yang terjadi. Madu yang dalam pengolahannya banyak mengalami pemanasan atau madu buatan akan memberikan reaksi enzim diastase negatif (biru), sedangkan madu asli atau madu yang pengolahannya baik akan memberikan reaksi enzim diastase positif (kehijauan / coklat).

Hasil Pemeriksaan : Bahan Larutan madu + aquadest (1:2) Larutan amylum 1% Pemanasan Larutan I2 Hasil : Amati warna kehijauan / coklat (+/-) Tabung 1 10 ml 0,01 ml dipanaskan 1 ml Tabung 2 10 ml 0,02 ml dipanaskan 1 ml Tabung 3 10 ml 0,02 ml tidak 1 ml

E. VITAMIN 1. PENENTUAN ADANYA VITAMIN A Tujuan : Untuk mengetahui adanya vitamin A dalam suatu bahan secara kualitatif. Dasar Teori : Vitamin A berasal dari provitamin A yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan sebagai karoten dan karotenoid. Penentuan adanya vitamin A dapat dilakukan dengan pereaksi Carr-Price ataupun dengan pereaksi trichloracetat. Bila pada larutan vitamin A yang cukup murni ditambah pereaksi Carr-Price akan timbul warna biru sebab vitamin A dan karoten dalam chloroform membentuk zat warna biru dengan antimon trichlorida. Yang mana warna ini cepat mencapai maksimum dan kemudian akan berubah menjadi merah coklat. Intensitas warna ini sesuai dengan kadar vitamin A di dalam larutan (bahan makanan), sehingga reaksi ini dapat dijadikan dasar penentuan kuantitatif vitamin A secara kolorimetri.

39

Bahan dan reagen : 1. Minyak ikan 2. Chloroform 3. Asam asetat anhidrad 4. SbCl3 Prosedur : 1. Masukkan 5 tetes larutan minyak ikan ke dalam tabung reaksi. 2. Tambahkan 10 tetes chloroform dan campur dengan baik. 3. Tambahkan 2 tetes asam asetat 2N. 4. Lalu ditambahkan SbCl3 kedalamnya. 5. Amati warna yang terjadi yang akan segera berubah menjadi merah coklat, adanya warna biru menandakan vitamin A positif. 6. Intensitas warna biru ini tergantung pada kadar vitamin A dalam sampel. Hasil Percobaan : Bahan Minyak ikan Chloroform Asam acetat 2N SbCl3 kristal Campurlah dengan baik Hasil : Perhatikan warna yang terbentuk Tabung 5 tetes 10 tetes 2 tetes Sepucuk sendok

5. PENENTUAN ADANYA VITAMIN B1 ( Aneurin HCl, Thiamin HCl) Tujuan : Untuk mengetahui adanya vitamin B1 secara kualitatif. Dasar Teori : Vitamin B1 mempunyai inti pirimidin dan thiazol dan larut dalam air. Dalam suasana asam kuat vitamin B1 tahan panas, akan tetapi dalam suasana netral dan basa tidak tahan panas. Vitamin B1 stabil terhadap oksidasi oleh udara, tetapi mudah terurai oleh zat-zat pengoksidasi dan oleh penyinaran sinar ultra violet. Salah satu cara penentuan adanya

40

vitamin B1 dengan pereaksi Bismuth Kalium Jodida, yang mana bila bismuth dicampur dengan thiazol akan terbentuk endapan merah jingga. Bahan dan reagen : 1. Larutan Thiamin HCl 1% 2. Larutan Sulfathiazol 1% 3. Larutan Kalium Jodida 5% 4. Larutan Bismuth Nitrat Prosedur: 1. Masukkan 5 tetes larutan thiamin 1% ke dalam tabung reaksi. 2. Tambahkan 5 tetes larutan Bismuth Nitrat, campur. 3. Kemudian tambahkan pula setetes larutan KJ 5%. 4. Amati perubahan warna yang terjadi, bila terbentuk warna endapan merah jingga berarti vitamin B1 positif. 5. Ulangi percobaan ini dengan menggunakan sulfothiazol 1% sebagai pengganti sampel. Hasil Percobaan : Bahan Larutan thiamin 1% Larutan sulfothiazol 1% Larutan Bismuth Nitrat Larutan KI 5% Campur dengan baik Hasil : Perhatikan endapan warna yang terbentuk Tabung 1 5 tetes 5 tetes 1 tetes Tabung 2 5 tetes 5 tetes 1 tetes

5. PENENTUAN VITAMIN D Tujuan : Untuk mengetahui adanya vitamin D dengan pereaksi Carr-Price. Dasar Teori :

41

Vitamin D tahan terhadap oksidasi. Pemanasan dengan hidrogen peroksida akan merusak vitamin A, sedang vitamin D tetap tidak berubah. Dengan pereaksi Carr-Price vitamin D memberikan warna jingga-kuning. Warna ini juga dapat dipakai untuk penetapan kadar vitamin D dalam suatu bahan secara kolometri. Bahan dan reagen : 1. Minyak ikan 2. Larutan H2O2 5% 3. Chloroform 4. Asam acetat anhidrat 5. Kristal SbCl3 Prosedur : 1. Masukkan 1 ml larutan minyak ikan ke dalam tabung reaksi dan tambahkan 1 ml larutan H2O2 5%. 2. Kocoklah campuran itu selama 1 menit dan panaskan perlahan-lahan sampai tidak ada lagi gelembung-gelembung gas yang keluar (jangan sampai mendidih). 3. Dinginkan isi tabung dibawah kran. 4. Selanjutnya lakukan uji dengan pereaksi Carr-Price seperti pada penentuan adanya vitamin A. 5. Perhatikan warna yang timbul, adanya warna jingga-kuning berarti vitamin D positif. Hasil Percobaan : Bahan Tabung 1 Minyak ikan 1 ml Larutan H2O2 5% 1 ml Panaskan tidak sampai mendidih, lalu uji dengan pereaksi Carr-Price Hasil : Warna jingga-kuning (+/-)

6. PENENTUAN ADANYA VITAMIN C Tujuan : Untuk mengetahui adanya vitamin C dengan pereaksi Benedict.

42

Dasar Teori : Sumber vitamin C adalah sayuran dan buah-buahan segar, sehingga vitamin C disebut Fresh Food Vitaminh. Semakin tua buah-buahan tersebut, kandungan vitamin C berkurang. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Oleh karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan dihindari. Pemasakan dengan air sedikit dan ditutup dengan rapat sehingga empuk dapat merusak vitamin C (FG Winarno, 1984). Vitamin C mempunyai daya reduksi maupun oksidasi, sebab vitamin C di alam berada dalam bentuk tereduksi (asam ascorbat) maupun dalam bentuk teroksidasi (asam dehidroascorbat). Bahan dan reagen : 1. Larutan asam ascorbat 1% 2. Larutan Benedict Prosedur : 1. Masukkan sedikit larutan asam ascorbat 1% ke dalam tabung reaksi. 2. Tambahkan 1 ml reagen Benedict. 3. Panaskan di atas api, biarkan mendidih selama 2 menit. 4. Perhatikan warna dari endapan yang terjadi. Warna hijau kekuningan sampai merah bata berarti vitamin C positif. 5. Ambillah 2 potong pisang yang masih segar, sepotong dimasukkan ke dalam air dan sepotong lagi ke dalam larutan asam ascorbat 1%. 6. Keduanya diamkan kira-kira setengah jam. 7. Pada potongan yang dimasukkan dalam larutan asam ascorbat tidak akan terjadi oksidasi senyawa-senyawa fenol yang terdapat dalam pisang, sehingga potongan ini tidak menjadi hitam seperti potongan yang dimasukkan dalam air biasa. Hasil Pemeriksaan : Prosedur A Bahan Larutan asam ascorbat 1% Benedict Panaskan sampai mendidih 2 menit Tabung 1 ml 1 ml

43

Hasil : Amati warna endapan hijau kekuningan sampai merah (+/-)

Prosedur B Bahan Potongan pisang Air Larutan asam ascorbat 1% Diamkan setengah jam Hasil : Amati perubahan warna Tabung 1 1 potong Sampai terendam Tabung 2 1 potong Sampai terendam

3. PENENTUAN KADAR VITAMIN C Tujuan : Mengetahui kadar vitamin C dalam sari buah yang diperiksa secara iodometri. Dasar Teori : Vitamin C mudah teroksidasi. Iodium juga mudah mengoksidasi vitamin C. Vitamin C dititrasi menggunakan larutan iodium dengan konsentrasi tertentu. Setelah tercapai titik ekuivalensi, sedikit kelebihan akan memberikan warna biru tua dengan amilum yang ditambahkan sebagai indikator. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan vitamin C dalam sari buah. Bahan dan reagen : 1. Perasan buah 2. Larutan Iodium 0,01 N yang mengandung 16 gram KI tiap liter. 3. 1 ml larutan Iodium sesuai dengan 0,88 mg vitamin C bentuk lakton. 4. Larutan amilum 1%. Prosedur : 1. Pembuatan sari buah : buah dipotong menjadi dua, sari buah dikeluarkan dengan

44

menggunakan perasan buah kemudian disaring. 2. Pipet 5 ml sari buah jernih ke dalam erlenmeyer 125 ml. 3. Tambahkan 20 ml aquadest dan 2-3 ml indikator amylum 1%. Jika sekiranya kandungan vitamin C sangat rendah dapat dipipet 25 ml sari buah tanpa penambahan aquadest. 4. Titrasi dengan larutan Iodium 0,01 N secara cepat tetapi tepat sampai pertama kali timbul warna biru tua yang stabil kurang lebih selama 1 menit. Titrasi harus cepat, sebab senyawa-senyawa lain seperti glutation dan sistein yang mungkin ada dalam sari buah tersebut juga dapat dioksidasi oleh larutan iodium tetapi secara lambat. Jadi dengan titrasi cepat tadi dapat mengurangi kemungkinan adanya kesalahan. 5. Catat volume larutan Iod 0,01 N yang digunakan untuk titrasi. Lakukan titrasi sebanyak 3 kali. Hasil Percobaan : Bahan Sari buah Aquadest Indikator Jumlah 5 ml 20 ml 2-3 ml Uji I Uji II Uji III

amylum 1% Titrasi dengan iodium 0,01N sampai biru stabil Hasil : Catat volume larutan Iod 0,01N & lakukan perhitungan / 100ml

Perhitungan : Banyaknya vitamin C dalam sari buah/100 ml = = MAKANAN I. TEPUNG KEDELAI Tepung kedelai banyak mengandung protein lebih sedikit lemak dan mg/ml F. BAHAN

45

karbohidrat. Juga mengandung mineral-mineral dan vitamin-vitamin serta enzimenzim. Protein kedelai terutama terdiri dari glisinine yang mengandung asam amino asam amino esensial dan asam amino juga mengandung albumin. Sebagai makanan, glisinine mempunyai nilai sama dengan kasein. Karbohidrat seluruhnya kira-kira ada 30%, tetapai yang dapat dipakai sebagai sumber tenaga hanya kira-kira separuhnya. Macam karbohidrat dalam tepung kedelai misalnya gula mereduksi, sukrosa, rafinosa, polisakarida-polisakarida. Amilum terdapat dalam jumlah sedikit. Macam-macam lemak yang ada: gliserida-gliserida dan fosfatida dari berbagai macam lemak. Vitamin-vitamin yang ada terdiri dari karoten, vitamin B, D, E, dan K. Dalam kedelai terdapat enzim urease yang dapat menghidrolisis ureum netral menjadi ammonium karbonat. Percobaan 1 : Menunjukkan lemak Tunjukkan adanya lemak pada tepung kedelai dengan grease spot test. Percobaan 2 : Menunjukkan protein Sedikit tepung kedelai larutkan dalam air. Kerjakan reaksi-reaksi warna untuk protein, reaksi mana yang positif? Bagaimana kesimpulannya? Percobaan 3 : Menunjukkan karbohidrat Bagian bawah dari larutan tepung kedelai dalam air terdapat amilum yang mengendap. Panaskan, lalu dinginkan, kemudian tetesi dengan jod. Apa yang terjadi? Larutan tepung kedelai di deproteinisasi dengan jalan dididihkan dan tambahkan beberapa tetes asam acetat 2%, saring. Filtratnya yang jernih dipakai untuk menunjukkan adanya gula. Filtrat dihidrolisis, kemudian lakukan percobaan Benedict. Percobaan 4 : Menunjukkan adanya enzim urease Sediakan 2 tabung reaksi, tabung 1 diisi 2 ml larutan ureum, tabung 2 diisi 2 ml aquadest. Masing-masing tabung diberi 1 tetes fenol merah, kemudian ditambah asam acetat 2% sampai warna tepat kuning. Panaskan 60C (tabung masih dapat dipegang dengan tangan). Masing-masing diberi sedikit tepung kedelai, dikocok. Diamkan beberapa lama. Apa yang terlihat? Terangkan!

46

II.

AIR SUSU Air susu merupakan bahan makanan yang sempurna karena mengandung semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk tetap sehat. Jika orang dewasa hanya minum air susu saja, maka ini tidak mencukupi, volume yang harus diminum sangat banyak. Kadar protein dan lemak sangat tinggi sedangkan kandungan besinya sangat rendah. Komposisi air susu tergantung dari macamnya binatang yang membuatnya, juga termasuk kesehatan dan makanan yang dimakan binatang itu sendiri. Komposisi air susu manusia dan sapi adalah sebagai berikut: Jumlah Protein 1,5% 3,5%

Air susu manusia Air susu sapi

Kasein 1,0% 3,0%

Laktaalbumin Lemak 0,5% 3,5% 0,5% 3,5%

Laktosa Garam 7,0% 0,2% 5,0% 0,7%

Ternyata bahwa air susu sapi mengandung lebih banyak protein tetapi kadar laktosanya lebih sedikit daripada air susu manusia. Lemak dalam air susu relatif lebih mengandung banyak asam lemak-asam lemak dengan berat molekul kecil, selain itu juga terdapat sedikit lesitin dan kolesterol. Laktosa adalah karbohidrat utama di dalam air susu. Ca dan K adalah kation utama tetapi juga ada Na, Mg, dan sedikit Fe. Anion yang terpenting adalah fosfat, meskipun juga terdapat sedikit klorida. Dalam air susu juga ada sedikit vitamin yang larut dalam air dan lemak, kecuali vitamin D. Enzimenzim proteolitik dalam getah lambung dan dalam usus dapat menggumpalkan air susu. Getah lambung anak kecil mempunyai enzim istimewa untuk menggumpalkan air susu, yang disebut rennin. Pada penggumpalan air susu, dengan adanya kalsium rennin mengubah kasein dalam air susu menjadi parakasein secara irreversibel. Kemudian parakasein dicerna oleh pepsin. Pengendapan kasein oleh asam lemah (percobaan 4) tidak disertai dengan hidrolisis sebagian besar lemak yang tadinya ada di dalam air susu. Zat cair yang tertinggal di dalamnya disebut wei. Di dalam wei terdapat semua laktalbumin, semua laktosa dan sebagian besar garam-garam yang tadinya ada di dalam air susu, maka dari itu wei juga masih merupakan bahan makanan yang penting.
47

Percobaan 1 : Pemeriksaan di bawah mikroskop Taruhlah setetes air susu di bawah mikroskop dan gambarlah apa yang terlihat. Mikroskopis air susu terdiri dari plasma yang cair, yang mengandung sejumlah besar bola-bola lemak kecil sebagai suspensi. Jika air susu yang tidak dipanaskan dibiarkan saja, bola-bola lemak akan mengapung di permukaan dan merupakan room. Room yang terjadi jika susu dimasak mengandung sejumlah protein disamping lemak. Percobaan 2: Penetapan berat jenis Dengan hidrometer tetapkanlah berat jenis air susu. Berat jenis whole milk biasanya 1.030. Jika diencerkan berat jenisnya akan menurun, tetapi penganbilan lemaknya akan menaikkan berat jenis air susu. Dengan demikian dari berat jenis saja kita dapat mengetahui kualitas air susu. Percobaan 3: Reaksi air susu Selidikilah reaksi air susu dengan kertas lakmus merah dan biru. Air susu yang masih baru reaksinya praktis netral, tetapi jika dibiarkan saja, maka reaksinya berubah menjadi asam oleh karena pengaruh mikrobia. Oleh mikrobia laktosa akan dihidrolisis menjadi glukosa dan galaktosa yang selanjutnya berubah menjadi asam laktat. Percobaan 4: Pengendapan kasein Encerkan 10 ml air susu dengan 10 ml air, kemudian tambahkan asam acetat 2% tetes demi tetes sampai terjadi endapan kasein yang membawa sebagian besar lemak di dalamnya. Zat cair yang tertinggal adalah jernih, saringlah dengan kertas saring basah yang diperkuat dengan plat. Endapan dan filtratnya dipergunakan untuk percobaanpercobaan berikut. Percobaan 5: Reaksi-reaksi warna protein Sebagian endapan dilarutkan, kemudian kerjakan reaksi-reaksi warna untuk protein. Percobaan 6: Reaksi Neumann untuk kasein Sisa endapan dikeringkan di atas kertas saring dengan memijat-mijatnya. Endapan

48

kering ini dipakai untuk menyelidiki P organik dalam kasein. Percobaan 7: Grease spot test Sebagian dari endapan kering, dikocok dengan eter sedikit, dan kerjakan grease spot test (tes noda lemak) untuk menunjukkan lemak. Percobaan 8: Menunjukkan adanya laktalbumin Filtrat dibuat pH 5,4 lalu panaskan. Adanya koagulan menunjukkan adanya laktalbumin. Saring dan filtratnya untuk percobaan berikutnya. Percobaan 9: menunjukkan adanya laktosa Sebagian dari filtrat, kerjakan Benedict dan Osazon. Kesimpulan apakah yang dapat diambil tentang karbohidrat yang terdapat dalam air susu? Percobaan 10: Menunjukkan adanya ion Ca dan P organik Sedikit filtrat ditambah beberapa tetes ammonium hidroksida lalu panaskan. Terjadi endapan gelatinous dari ca dan Mg fosfat. Saring dengan kertas saring. Endapan dilarutkan dengan menuangi asam acetat encer (2ml air + 10 tetes asam acetat glasial) di atas kertas saring, filtratnya dikumpulkan dalam tabung reaksi bersih. Pada sebagian dari larutan dalam asam acetat encer ini, tambahkan larutan K-oksalat yang jernih. Larutan menjadi keruh, oleh karena terjadi Ca-oksalat. Ini membuktikan adanya Ca dalam air susu. Dengan sisa larutan dalam asam acetat encer ini, kerjakan percobaab ammonium molibdat untuk menunjukkan adanya fosfat anorganik.

G. UJI KANDUNGAN NUTRISI DALAM BIJI-BIJIAN Tujuan: Menentukan adanya protein, karbohidrat, lemak dan sianida dalam bahan yang belum diketahui kandungannya secara kualitatif Bahan dan reagen:

49

1. Biji-bijian yang bukan merupakan bahan makanan yang dikenal 2. Reagen Bauman (Fehling A: fehlingB:K4Fe (CN)6=2:2:1), Benedict, Iodium, Kalium oksalat jenuh, indikator pp, Formaldehid. Prosedur 1. Hidrolisis sampel a. Timbang bahan yang telah ditumbuk halus 25 gram b. Pindahkan ke dalam erlenmeyer c. Tambahkan 250 ml HCl 0.45 N d. Panaskan dan netralkan dengan NaOH e. Saring dan filtratnya digunakan untuk percobaan selanjutnya 2. Uji HCN a. Sampel yang telah ditumbuk dimasukan kedalam beaker glass b. Letakkan sepotong kertas saring (yang telah direndam dalam larutan sodium karbonat 5 g, asam pikrat 0,5 g dan akuades 100 ml) diatas sampel c. Jika terdapat gas HCN, maka akan mengubah warna kuning pada kertas saring menjadi coklat 3. Uji adanya karbohidrat, protein dan lemak Uji polisakarida a. Sampel yang dihaluskan ditetesi dengan iod b. Hasil positif ditandai dengan terjadinya warna biru atau ungu Uji glukosa a. Sampel hasil hidrolisis sebanyak 1 ml ditambah NaOH 10%, dipanaskan, bila terjadi warna kuning kecoklatan menunjukan adanya glukosa b. Uji pula dengan benedict Uji protein dan lemak c. Lakukan dengan uji biuret d. Lakukan grease spot test Uji kuantitatif glukosa dengan metode Cause de Bauman a. 25 ml larutan Bauman dimasukan ke dalam erlenmeyer b. panaskan sampai mendidih c. titrasi menggunakan larutan sampel hasil hidrolisis sampai terjadi warna

50

biru-hijau-merah-bata/kuning d. untuk mengetahui kadarnya gunakan larutan blanko (25 ml larutan Bauman dititrasi dengan larutan standar glukosa 1%) uji kuantitatif protein dengan cara titrasi formol a. bahan yang diuji dihaluskan dan dilarutkan dalam air b. pindahkan 10 ml larutan kedalam erlenmeyer, tambahkan 20 ml akuades dan 4 ml kalium oksalat jenuh (Kalium oksalat : akuades; 1:3) dan PP 1%, diamkan selama 2 menit c. titrasi larutan dengan 0.1 N NaOH sampai warna merah jambu atau warna standar (warna standar dapat dibuat dari 10 ml susu + 10 ml akuades + 0.4 ml K oksalat + 1 tetes indikator rosanilin klorioda) d. setelah warna tercapai tambahkan formaldehid 40% e. titrasi kembali dengan NaOH f. buat titrasi blanko menggunakan 20 ml akuades+0.4 ml K oksalat jenuh + 1 ml indikator PP + 2 ml formaldehid. g. Titrasi menggunakan NaOH 0.1 N h. Titrasi terkoreksi kedua titrasi dikurangi titrasi blanko merupakan titrasi formol.

1. PENETAPAN KADAR PROTEIN SECARA BIURET Tujuan: Memetapkan kadar protein dengan metode biuret Teori: Senyawa yang berisi dua atau lebih ikatan peptida akan memberikan warna ungu bila

51

direaksikan dengan larutan kupri sulfat encer dalam alkali. Warna yang terbentuk disebabkan oleh kordinasi kompleks dari atom Cu dan 4 atom nitrogen. Bahan dan reagen: 1. Larutan protein standar: Buat larutan protein dari albumin atau kasein dalam akuades berkadar 1-10 mg/ml 2. Sampel protein 3. Reagen biuret: 1.5 kuprisulfat (CuSO4.5H2O) dan Na-Ktartrat (NaKC4H4O6.4H2O) dan 500 ml akuades, masukan dalam labu takar 1 liter kemudian ditambah dengan 10 % NaOH 300 ml, larutkan sampai 1 liter. Prosedur: 1. Buat larutan standar protein dengan kadar 1-10 mg/ml masing-masing sebanyak 1 ml dan tambahkan 4 ml larutan biuret. 2. Kocok dan diamkan selama 30 menit pada suhu kamar. 3. Gunakan 1 ml akuades + 4 ml biuret sebagai blanko juga didiamkan sselama 30 menit 4. Baca serapan pada 540 nm 5. Buat kurva standarnya dan tentukan kadar protein pada sampel yang diberikan.

REAGEN UNTUK PRAKTIKUM BIOKIMIA

1. Pereaksi Molish a. Timbang 12.5 gram a-naphtol

52

b. Larutkan dalam alkohol 95% sampai volume 250 ml c. Pereaksi dibuat baru setiap kali akan digunakan 2. Larutan amylum 1% a. Timbang 1 gram pati/amylum b. Larutkan dengan 5 ml air c. Tuang dan suspensikan larutan ke dalam 95 ml akuades yang baru berhenti mendidih d. Aduk dan biarkan dingin ketika larutan menjadi jernih 3. Larutan iodium 0.1M a. Timbang 1.26 gram iod (I2) dan 2-2.5 gr kalium iodide (KI) b. Larutkan dalam air dan encerkan sampai 1 liter 4. Pereaksi Benedict a. Timbang 173 kristal natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonat anihrat b. Larutkan ke dalam 800 ml akuades. c. Aduk, kemudian saring larutan. d. Tambahkan 17.3 gram tembaga sulfat yang telah dilarutkan dalam 100 ml akuades. e. Buat volume total 1 liter dengan penambahan akuades 5. Pereaksi Barfoed a. Timbang 13.3 gr Kristal tembaga asetat . b. Larutkan dalam 200 ml akuades, saring bila perlu c. Tambahkan 1.9 ml asam asetat glacial d. Pereaksi baru dibuat setiap kali digunakan
53

6. Pereaksi Bial a. Timbang 0.5 gram orsinol b. Larutkan dalam alkohol 95% sampai volume 100 ml 7. Pereaksi Selliwanoff a. Campurkan 3.5 ml resorsinol 0.5 % dengan 12 ml asam klorida pekat b. Encerkan dengan akuades sampai volume 35 ml 8. Larutan Na2CO3 5% a. Timbang 5 gram Na2CO3 anhidrat b. Larutkan dengan akuades sampai volume 100 ml 9. Larutan HCl 2 N a. Ambil 16.7 ml asam klorida pekat b. Encerkan dengan akuades sampai volume 100 ml 10. Larutan NaOH 2% a. Timbang 2 gram NaOH b. Larutkan dalam akuades sampai volume 100 ml 11. Larutan Asam Asetat encer (30% v/v) a. Larutkan asam asetat glacial ke dalam akuadest sampai volume 100 ml 12. Larutan glukosa standar (10 mg/ml) a. Timbang 1 gram glukosa anhidrat b. Larutkan dalam akuades sampai volume 1 liter. 13. Larutan Pb-asetat a. Buat larutan Pb-asetat jenuh dan netralkan larutan dengan NaOH

54

b. Tambahkan K/Natrium oksalat anhidrat secukupnya ke dalam filtrat, untuk menghilangkan kelebihan Pb. 14. Kertas Pb-asetat a. Celupkan kertas saring ke dalam larutan Pb-asetat jenuh b. Setelah kering dan kenakan pada gas H2S sehingga berwarna hitam. 15. Larutkan 25 gram ammonium molibdat dalam 450 ml akuades a. Tambahkan sambil diaduk 25 ml asam sulfat pekat. b. Pada wadah yang lain, larutkan 3 gram Na2HAsO4.7H2O dalam 25 ml akuades c. Tuangkan larutan ke dalam larutan molibdat dan diaduk d. Simpan larutan ke dalam botol warna gelap dan inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam (pereaksi ini berwarna kuning) 16. Larutan NaOH 40% a. Timbang 40 gram NaOH b. Larutkan dalam 60 ml akuades, setelah larut encerkan sampai 100 ml c. Simpan larutan ke dalam botol plastic 17. Larutan kasein netral (2%) a. Larutkan 20 gr kasein dalam 500 ml akuades kemudian tambahkan 500 ml NaOH 0.02 N 18. Larutan HgCl2 1% a. Larutkan 1 gram HgCl2 dalam akuades hingga volume 100 ml 19. Larutan CuSO4 0.2% a. Larutkan 0.2 gram CuSO4 dalam akuades sampai volume 100 ml

55

20. Larutan asam asetat 0.2 M a. Larutkan 11.55 ml asam asetat glacial dengan akuades sampai volume 1 liter 21. Larutan Natrium asetat 0.2 M a. Larutkan 16.4 gram natrium asetat atau 27.2 gram Na-asetat.3 H2O (NaC2H3O2.3H2O) dalam akuades hingga volume 100 ml 22. Larutan buffer asetat pH 3.8 a. Tambahkan 44 ml larutan asam asetat 0.2 M dengan 6 ml natrium asetat 0.2 M.kemudian encerkan sampai volum 100 ml 23. Larutan buffer asetat pH 4.7 a. Tambahkan 50 ml larutan asam asetat 0.2 M dengan 50 ml larutan natrium asetat 0.2 M 24. Larutan HCl 0.4% a. Larutkan 10.8 ml HCl pekat (37%) dalam akuades hingga volume 1000 ml 25. Indikator phenolptalein (pp) a. Larutkan 1 gram Na2CO3 anhidrat dengan akuades sampai volume 100ml 26. Larutan sucrose 5% a. Timbang 5 gram sukrosa dan larutkan dengan akuades sampai volume 100 ml 27. Larutan KI 5% a. Larutkan 5 gram kalium iodide dengan akuades sampai volume 100 ml 28. Larutan Bi(NO3)3 0.2 M a. Tambahkan 50 ml asam nitrat ke dalam 500 ml akuades dengan hati-hati. Larutkan 97 gram bismuth nitrat pentahidrat ke dalam campuran dan

56

encerkan dengan akuades sampai 1 liter. 29. Larutan FeCl3 1 N a. Larutkan 9 g FeCl3.6H2O dalam akuades sampai volume 100 ml 30. Larutan NaOH 3N a. Timbang 12 gram NaOH b. Larutkan dalam akuades sampai volume 100 ml

57