Anda di halaman 1dari 5

KALIMAT Pengertian 1.

kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981:6). 2. Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara actual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk, 1984:224). 3. Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap, adalah kalimat (Keraf, 1978: 156). Syarat kalimat : (i) unsur predikat, (ii) permutasi unsur kalimat. Predikat dalam suatu kalimat dapat berwujud kata kerja, yakni kata sifat, kata benda, kata bilangan dan kata keterangan. Ex: siswa SMA sedang ujaian S P Perubahan urutan/perubahan urutan : sedang ujian//siswa SMA Siswa SMA yang sedang ujian itu Ciri-Ciri kalimat : a. Sebagai suatu bahasa atau satuan gramatikal. b. Terdiri atas satu kata atau lebih/terdiri atas klausa. c. Secara relatif dapat berdiri sendiri. d. Memiliki atau mengandung pikiran yang lengkap. e. Mempunyai pola intonasi akhir. f. Dalam konvensi tulis, ditandai oleh awal huruf kafital dan diakhiri tanda baca (tanda titik untuk kalimat deklaratif, tanda tanya untuk kalimat interogatif, dan tanda seru untuk kalimat interjektif). Jenis kalimat dapat digolongkan berdassarkan beberapa ukuran atau sudut pandang, yakni (i) jumlah dan macam klausa; (ii) struktur interen klausa atasan atau utama; (iii) jenis tanggapan yang diharapkan; (iv) sifat hubungan pelaku (aktor) dan perbuatan (aksi) dalam klausanya; (v) ada atau tidaknya unsur ingkar dalam predikat utama; (vi) kesederhanaan dan kelengkapan dasar; (vii) posisi dalam percakapan; (viii) kontek dan jawaban yang diberikan. MACAM-MACAM KALIMAT Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah dan Macam Klausa yang Membentuknya 1. Kalimat Sederhana atau Tunggal Kalimat sederhana atau tunggal merupakan kalimat yang terdiri atas satu klausa bebas tanpa klausa terikat. Kalimat tunggal hanya mengandung satu unsur S, P, O, Pel dan Ket. Tentu saja kelima unsur itu tidak harus muncul semua sekaligus karena unsur minimal sebuah kalimat adalah S dan P. Mengingat unsur pembentuk utamanya yaitu S dan P yang serba tunggal itulah kalimatnya dinamakan kalimat tunggal. 2. Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas gabungan dari dua atau lebih klausa pembentuknya. Dalam hal ini, berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat itu dibedakan adanya kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkst, dan kalimat majemuk kompleks. Kalimat majemuk setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk setara dihubungkan dengan konjungsi koordinatif seperti dan, tetapi, atau, dan lalu. Namun banyak juga yang tidak menggunakan konjungsi. Kalimat majemuk bertingkat Klaimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antar klausa-klausanya tidak setara atau sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa

bawahan. Kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan konjungsi subordinatif, separti kalau, ketika, meskipun, daan karena. Namun ada juga yang tidak menggunakan konjungsi. Kalimat majemuk kompleks atau campuran Kalimat majemuk kompleks merupakan jenis kalimat yang terdiri atas tiga klausa atau lebih, di mana ada yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan kenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis response yang diharapkan, (3) sifat hubungan actor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsure negative pada kalimat utama. 1. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. a. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas: Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas: Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal. Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaanpertanyaan. Contoh : (Apa yang kau bawa itu?) Lukisan. Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat. Contoh : Meskipun hujan. (Dia tetap datang cepat) b. Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263) Contoh : Karena itu, harga minyak naik. 2. Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas: Panggilan. Contoh : Bakso! Seruan, biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. Contoh : Halo! Judul, merupakan suatu ungkapan topic atau gagasan. Contoh : Dampak negative penayangan TV. Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa. Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Salam Contoh : Selamat pagi! Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.). Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928. 1. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurangkurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya,

dalam kalimat mayor, terdapat unsure pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas: 1. Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain. Contoh : Yang berkaca mata hitam itu teman saya. Orang itu badannya sangat gemuk. Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong. 2. Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri, 1985:316). Contoh : Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu. Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya. Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh. 3. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan. Contoh : Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak. Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang. Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja. 2. Berdasarkan response yang diharapkan, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan) (Ramlan, 1981:10). Contoh : Cita-cita anak itu sangat mulia. Saya tidak membawa uang sama sekali. Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera. 2. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan. Contoh : Kakak sudah menikah? Mengapa anak itu tidak tidur? Siapa pemilik rumah itu? 3. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada

bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan. Contoh : Masuklah! Marilah kita belajar bersama-sama! Jangan membuang sampah di sembarang tempat! 3. Berdasarkan hubungan actor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas : 1. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan I atau kan. Contoh : Anak itu memetik bunga di taman. Ayah membelikan kakak baju baru. Pembantu itu sedang menyapu halaman. 2. Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks i dan kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri, 1985:434) Contoh : Badannya dilumuri minyak. Kita apakan barang-barang ini? Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu. 3. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut. Contoh : Jangan menyiksa diri sendiri. Wanita itu berhias di depan cermin. 4. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan (Samsuri, 1985:198). Contoh : Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan. Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi. Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang. 4. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan. Contoh : Petani itu membajak sawah. Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman. Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir. 2. Kalimat negative, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak,

tiada (tak), bukan, jangan. Unsure negative tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsure negative jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri, 1985:250) Contoh : Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat. Bukan buku itu yang saya cari. Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia.