Anda di halaman 1dari 9

STIK SINT CAROLUS JAKARTA

ANALISA KASUS MENGGUNAKAN PRINSIP 18 EMOTIONAL COMPETENCE

LAPORAN DISKUSI

Disusun Sebagai Persyaratan Untuk Menyelesaikan Mata Ajar Manajemen Kepemimpinan

Dosen Pembimbing : Asnet Leo Bunga, SKp.,MKes

Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dwiyanto Janice Sepang Marthalena Simamora Sr. Madelina Sitanggang Olgrid Algarini Allo Sugeng Rianto (Nim. 2012-01-001) (Nim. 2012-01-006) (Nim. 2012-01-011) (Nim. 2012-01-013) (Nim. 2012-01-017) (Nim. 2012-01-019)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS (STIK SC) T.A. 2012/2013

ANALISA KASUS BERDASARKAN 18 EMOTIONAL COMPETENCIES KASUS 1 1. Self Awarness Emotional self awareness Berdasarkan kasus I dapat disimpulkan bahwa Tifany mampu mengenal emosinya sendiri, tetapi dia tidak mengetahui cara mengendalikan emosinya. Tifany cenderung menunjukkan sikap defens dan tidak sabar dalam menghadapi kritik dari stafnya. Accurate self assessment Tiffany memiliki kekuatan dalam hal ini mampu dengan cepat belajar manajemen logistic diunitnya, tapi dia tidak menyadari bahwa diunit tersebut masalah yang ada bukan hanya logistic tetapi terdapat banyak masalah yang lebih kompleks untuk dihadapi. Dalam menghadapi masalah ini Tifany bersikap tidak terbuka terhadap umpan balik dan justru bereaksi defensive dan tidak sabar menghadapi kritik dan keluhan-keluhan dari staf sehingga dia kehilangan kepercayaan dari staff di unitnya. Self confidence Berdasarkan kasus diatas dalam perjalanannya sebagai kepala unit Tifany mengalami rasa kehilangan kepercayaan diri dibuktikan dengan takutnya untuk pergi bekerja. Dia merasa bahwa rekan-rekannya telah berbalik melawan dia dan tidak mengahargai seberapa dia telah bekerja untuk rekan-rekannya.

2. Self Management Emotional self-control Tifany tidak memiliki control emotional yang baik. Cenderung memberikan perintah singkat dan tidak pernah memberi waktu untuk staf nya. Transparency Pada kondisi ini Tifany tidak lagi memiliki kepercayaan dari staffnya dan juga tidak lagi memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaannya. Selain itu konsistensi terhadap nilai yang dianut Tifany mulai tidak baik, hal ini

tergambar dari pernyataan darinya aku terlalu sibuk untuk berbicara dengan anda sekarang. Adaptability Tifany tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi di unitnya dan tidak berusaha untuk membuat strategi

pemecahan masalah dan mencoba cara-cara baru untuk mengatasi masalah dan cenderung berfikiran negative terhadap staf nya. Achievement orientation Berdasarkan kasus diatas terlihat bahwa Tifany tidak berorientasi pada tujuan sehingga tidak tercapai tujuan yang diharapkan dan yang terjadi adalah buruknya hubungan antara pemimpin dan staf nya. Sedangkan salah satu strategi dalam mencapai suatu tujuan organisasi adalah adanya kerjasama antara pemimpin dengan bawahan, namun dalam kasus ini tifany tidak mampu melakukannya. Initiative Tiffany tidak memiliki inisiatif dalam mengatasi konflik yang terjadi dan tidak berusaha untuk mencari strategi pemecahan masalah tetapi justru menghadap kedirektur keperawatan untuk menyampaikan tentang masalah stafnya, sebelum mencoba untuk mengatasi masalah bersama dengan stafnya. Optimism Tifany tidak memiliki optimisme dalam kepemimpinannya bahwa ia mampu mengatasi masalah yang ada, tetapi dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari unit tersebut dan bekerja di tempat lain.

3. Social Awarness Emphaty Tifany tidak memiliki rasa empati terhadap stafnya. Hal ini tergambar dari cara kepemimpinannya yang cenderung memberikan perintah singkat dan pernyataannya yang mengatakan Aku terlalu sibuk untuk berbicara dengan anda sekarang Organizational awareness

Pada kasus diatas terlihat Tifany tidak mengenal emosi stafnya dan tidak memiliki hubungan yang baik dengan stafnya, tetapi lebih focus pada dirinya. Dia selalu menganggap perhatian dari stafnya sebagai sebagai picik dan merasa rekan-rekannya telah berbalik melawan dia. Service orientation Dalam hal ini Tiffany tidak melakukan antisipasi akan masalah yang terjadi diunitnya, dan tidak mampu memenuhi kebutuhan stafnya.

4. Relationship Management Developing others Pada kasus ini Tiffany tidak melakukan pengembangan stafnya hal ini disebabkan karena tifany kurang memiliki kepekaan terhadap pentingnya pengembangan staf dan lebih memandang stafnya secara negatif. Inspirational leadership Dari kasus ini tidak dijelaskan visi yang akan dicapai, dan dari kasus digambarkan tidak adanya suatu komunikasi efektif antara pimpinan dan staff. Tiffany juga tidak memberi motivasi kepada staffnya. Change catalyst Pada kasus ini Tifany tidak melakukan perannya sebagai change katalist. dan ini terlihat dari semakin buruknya situasi hubungan kerja di unitnya. Influence Tifany sebagai pimpinan tidak dapat mempengaruhi stafnya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam unit tersebut. Conflict Management Pada kasus ini Tifany tidak mampu menyelesaikan masalah bahkan tidak dapat melakukan negosiasi antara pimpinan dan staff sehingga tidak ditemukan suatu penyelesaian masalah dan tifany akhirnya memilih mengundurkan diri .

Teamwork & collaboration

Dari kasus ini Tiffany tidak dapat menjalin kerjasama team yang baik, hal ini terlihat Tiffany lebih memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di RS tersebut untuk menjadi seorang agent asuransi.

KASUS 2

1. Self Awarness Emotional self awareness Pada kasus diatas Joni mampu mengenal emosinya, tahu dampaknya dan tahu cara bagaimana jalan keluar yang harus dilakukan. Hal ini terlihat dari kemampuannya untuk mengidentifikasi masalah yang timbul dan tahu cara menyelesaikannya secara sistematis dan komprehensif. Accurate self assessment Dalam hal ini Joni percaya akan kemampuannya dan mau untuk belajar tentang masalah yang dihadapinya, terbuka terhadap umpan balik dan mendengarkan keluhan dengan penuh perhatian dari staffnya masalah yang dihadapi dalam pekerjaan mereka. Self confidence Joni memiliki rasa percaya diri dan keyakinan bahwa dirinya mampu mengatasi masalah yang terjadi,percaya pada kemampuannya sendiri untuk belajar apa yang diperlukan dan maju selangkah setiap waktu dan menyadari bahwa dibutuhkan rencana sistematis dan comprehensive. tentang

2. Self Management Emotional self-control Pada kasus diatas Joni memiliki kemampuan dalam mengontrol emosi, berusaha untuk menanggapi, medengarkan komentar, tidak membiarkan dirinya bersikap defensive dan marah.

Transparency

Joni memiliki hubungan dan transparansi yang baik, hal ini terbukti dengan dia dipercaya untuk menyelasaikan masalah dan selama minggu berikutnya dia berbicara kepada atasan dan bawahannya untuk mengumpulkan beberapa ide tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah. Adaptability Pada kasus diatas Joni mampu melepaskan cara sebelumnya dan mencoba cara-cara baru dalam meyelesaikan masalah. Hal ini terlihat dari strategi yang direncanakannya seperti mengidentifikasi area-area di rumah sakit dengan menekankan pada tantangan mutu, merencanakan untuk segera bekerja keras, mengidentifikasi berbagai proses dan intervensi yang dibutuhkan dalam berbagai area. Achievement orientation Dari kasus diatas terlihat jelas bahwa Joni memiliki Achievement orientation (pencapaian tujuan) yang jelas yaitu meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan pasien sesuai standar akreditasi. Initiative Joni mengajukan rencananya yang sudah dibuat pada pimpinan formal dan informal serta meminta masukan selanjutnya melakukan revisi rencana dan membawanya ke tim eksekutif untuk memperoleh koreksi dan saran serta persetujuan. Optimism Joni memiliki optimisme yang tinggi dapat menyelesaikan masalah dengan rencana yang sudah disusun dan disetujui.

3. Social Awarness Emphaty Dari kasus diatas Joni menunjukkan sikap empaty dengan mendengarkan curhat karyawan tentang masalah yang mereka hadapi dalam pekerjaan mereka atau dengan teman bekerja mereka termasuk marah terhadap agenda kualitas yang diterima dari CEO Organizational Awreness

Joni memiliki kekuatan hubungan yang baik dengan pimpinan dan bawahan, hal ini terbukti dengan program yang sudah disetujui oleh pimpinan dapat dijalankan dan mendapat sedikit perlawanan. Service orientation Joni memiliki service orientasi yang baik dan berusahauntuk memperbaiki kekurangan dengan segera. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan

4. Relationship Management Developing others Pada kasus diatas Joni peka terhadap kebutuhan pengembangan orang lain yaitu dengan perlunya pelatihan individu dan kelompok untuk pekerjaan mereka agar dapat meningkatkan kualitas. Inspirational leadership Pada kasus diatas Joni memiliki insting kepemimpinan yang sangat baik, mampu berkomunikasi efektif dan mampu membangkitkan semangat dan Joni siap untu bekerja keras. Change catalyst Sebagai change catalyst, Joni mampu membayangkan kemungkinan perubahan structural dan fasilitas yang akan memperlambat untuk implementasi tapi akhirnya akan membawa perbaikan yang significant. Influence Dari kasus diatas, Joni mampu mempengaruhi karyawan untuk bekerjasama untuk bergerak maju sesuai semua inisiatif yang diusulkan walaupun Joni menemukan adanya perlawanan. Conflict Management Dari kasus diatas Joni mampu menyelesaikan masalah dan terjadi negosiasi antara pimpinan dan bawahan sehingga program yang direncanakan dapat dijalankan.

Teamwork & collaboration

Dari kasus diatas, joni adalah seorang yang mampu bekerja dalam tim dan dapat bekerjasama dengan baik hal ini terlihat dimana pimpinan dan karyawan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah.

JUSTIFIKASI/ANALISA

Berdasarkan kedua kasus diatas dapat dilakukan analisa sebagai berikut: A. Pada kasus I, sebagai seorang manager baru Tifany digolongkan sebagai pemimpin yang kurang baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain: 1. Tifany hanya memiliki sedikit pengalaman sebagai seorang pemimpin. Tifany baru lulus S1 Keperawatan pada 3 tahun yang lalu dan hanya memiliki pengalaman bekerja sebagai staf perawat di unit bedah selama 1 tahun. Namun karena kemampuan dan sikap positifnya, tifany dipromosikan menjadi kepala unit. Jika dilihat dari segi pengalaman kerjanya, Tifany relative masih sangat kurang

berpengalaman untuk langsung menjabat sebagai menager baru atau kepala unit karna tidak semua orang yang kompeten dalam praktek lapangan dapat langung menjadi seorang pemimpin sekalipun kepemimpinan dapat dipelajari. 2. Dari segi knowledge, Tifany cukup dapat diandalkan hal ini terbukti dari dirinya yang dengan cepat membuktikan bahwa dirinya menjadi staf perawat yang kompeten. Namun dari segi EI/ EQ Tifany kurang dapat mengontrol dirinya. 3. Tifany menunjukkan perubahan attitude kea rah yang negatif. Pada awal pekerjaannya tiffany memiliki sikap yang positif, namun dalam masa kepemimpinannya sebagai kepala unit Tifany tidak menunjukkan sikap yang gigih dalam mencapai tujuan dan tidak terbuka terhadap saran/ masukan dari stafnya.

B. Pada kasus 2, menunjukkan seorang manajer yang baik dalam menjalankan kepemimpinannya dan memiliki Emitional Competence yang baik. Hal ini juga didukung oleh beberapa factor yaitu: 1. Pengalaman kerja. Joni memiliki pengalaman kerja yang lebih lama dalam bagian keperawatan, dan hal ini menunjukkan bahwa Joni lebih banyak menghadapi masalah dalam hal keperawatan dan mencari

penyelesaikan masalah. 2. Knowledge Dari segi pengetahuan Joni juga memiliki kemampuan akademik yang cukup sehingga membuat dia layak untuk menjadi seorang pemimpin dan dianggap kredibel dibidangnya. Hal ini dibuktikan dengan rencana atau strategi pemecahan masalah yang dibuat oleh Joni dalam waktu 6 minggu dan telah disetujui. 3. Attitude Joni memiliki kepribadian yang lebih matang untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini terlihat dari kemampuaannya membina hubungan yang baik dengan stafnya dan orang-orang disekitarnya. Joni juga mampu mempengaruhi stafnya untuk bekerjasama melaksanakan semua strategi yang sudah direncanakan sekalipun menemukan sedikit perlawanan.

KESIMPULAN: Dari kedua kasus diatas dapat disimpulkan bahwa Emotional Intelegence Emotional sangat Intelegence mempengaruhi kepemimpinan bagaimana karena emosi

manggambarkan

berfungsi pada diri sendiri dan orang lain serta kemampuan menggunakan emosi secara efektiv demi tercapainya tujuan organisasi.