Anda di halaman 1dari 19

Manajemen Keperawatan

STIK SINT CAROLUS JAKARTA

18 EMOTIONAL COMPETENCIES
MAKALAH

ANALISIS KASUS KEPEMIMPINAN

Disusun Sebagai Persyaratan Untuk Menyelesaikan Mata Ajar Manajemen Keperawatan

Dosen Pembimbing : Asnet Leo Bunga, S.Kp, M.Kes Oleh : 1. Ns. Johansen Hutajulu, AP, S.Kep Nim. 2012-01-007 2. Ns. Khusnul Khotimah, S.Kep Nim. 2012-01-008 3. Ns. Lastriyanti, S.Kep Nim. 2012-01-009 4. Ns. Laurentina N.E, S.Kep Nim. 2012-01-010 5. Ns. Br. Hubertus Nono, S.Kep Nim. 2012-01-016

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS JAKARTA 2013

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

KONSEP TEORI KECERDASAN EMOSIONAL

1.

Pengertian Kecerdasan Emosional Emosi (emotion) berasal dari kata movere, kata kerja dalam bahasa latin yang

berartimenggerakan, bergerak, ditambah awalan e- untuk memberi artibergerak menjauh, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman, 2007: 7). Dalam makna paling harfiah, Oxford English Dictionary (Goleman, 2007: 411) mendefinisikan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Lalu Ekman dan Epstein (Goleman, 2007: 414-421) mengungkapkan beberapa ciri emosi diantaranya, yaitu respon yang cepat tetapi ceroboh; pertama adalah perasaan, kedua adalah pemikiran; realitas simbolik yang seperti kanak-kanak; masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang; dan realitas yang ditentukan oleh keadaan. Lebih lanjut Chaplin (2004: 163) menguraikan arti emosional sebagai suatu yang berkaitan dengan ekspresi emosi, atau dengan perubahanperubahan yang mendalam yang menyertai emosi. Sedangkan kecerdasan diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan konsep abstrak serta menghadapi dan menyesuaiakan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif (Chaplin, 2004: 253). Disamping itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996) mengartikan kecerdasan sebagai perihal cerdas; kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian dan ketajaman pikiran). Gardner (Goleman, 2007) seorang ahli psikologi dari Harvard adalah orang yang melihat keterbatasan cara berpikir konvensional tentang kecerdasan. Dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind pada tahun 1983 (Goleman, 2007), Gardner menyatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolotik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spectrum kecerdasan yang lebar, dengan tujuh varietas utama yang dikenal sebagai multiple intelligence. Salah satu aspek kecerdasan ganda (multiple intelligence) yang diungkapkan Gardner adalah kecerdasan pribadi yang terdiri dari kecerdasan intrapribadi dan kecerdasan antarpribadi. Gardner dalam Goleman (2007: 52) memberikan ringkasan pendek mengenai kecerdasan pribadi yaitu: Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami orang lain; yaitu kemampuan memahami apa yang memotivasi seseorang, memahami bagaimana mereka bekerja dan bagaimana bekerja bahumembahu dengan orang lain. Sedangkan kecerdasan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

intrapribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan model tersebut sebagai alat ukur untuk menempuh kehidupan secara efektif. Goleman mengembangkan teori kecerdasan pribadi Gardner tersebut dengan mengenalkan istilah emotional intelligence. Istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence) diperkenalkan pertama kali pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Yale University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Salovey dan Meyer (Goleman, 2005) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Sebuah model pelopor lain untuk kecerdasan emosi diungkapkan oleh seorang Psikolog Israel yaitu Reuven Bar-On. Bar-On (Goleman, 2005) menjabarkan kecerdasan emosi sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Sedangkan Goleman sendiri (2005: 512) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan dalam menggunakan perasaan secara optimal untuk mengenal dan mengatur diri sendiri serta mengelola emosi yang terdapat dalam diri sendiri dan orang lain agar energi emosi tersebut pada waktu yang tepat dengan frekuensi yang cukup dapat diterapkan secara efektif dalam membina hubungan yang baik dengan orang lain. 2. Aspek-aspek Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional terbagi dalam beberapa aspek kemampuan yang membentuknya. Aspek-aspek kemampuan yang membentuk kecerdasan emosional tidak seragam untuk setiap ahli tergantung dari sudut pandang dan pemahaman. Lima aspek utama yang terdapat dalam kecerdasan emosional menurut Salovey (Goleman, 2007: 58-59), adalah: a. Mengenali emosi sendiri Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting dan ketidakmampuan untuk mencermati perasaan diri sendiri dapat membuat seseorang berada dalam kekuasaan perasaan.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

b. Mengelola emosi Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. c. Memotivasi diri sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berekreasi. Kendali diri emosional - menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati- adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan. d. Mengenali emosi orang lain Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. e. Membina hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Kemampuan dalam membina hubungan merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antarpribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apa pun. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi. Disisi lain Bar-On (Goleman, 2005: 580) membagi kemampuan pokok kecerdasan emosional ke dalam lima gugus umum sebagai berikut: a. Keterampilan intrapribadi Kemampuan menyadari diri, memahami emosi diri, dan mengungkapkan perasaan serta gagasan. b. Keterampilan antarpribadi Kemampuan menyadari dan memahami perasaan orang lain, peduli kepada orang lain secara umum, dan menjalin hubungan dari hati ke hati yang akrab.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

c. Adaptabilitas Kemampuan menguji perasaan diri, kemampuan mengukur situasi sesaat secara teliti, dengan luwes mengubah perasaan dan pikiran diri, lalu menggunakannya untuk memecahkan masalah. d. Strategi pengelolaan stress Kemampuan mengatasi stress dan mengendalikan luapan emosi. e. Motivasi dan suasana hati Kemampuan bersikap optimis, menikmati diri sendiri, menikmati kebersamaan dengan orang lain, dan merasakan serta mengekspresikan kebahagiaan. Goleman mengadaptasi model teori Salovey dan Bar-On tersebut kedalam sebuah versi yang menurutnya paling bermanfaat untuk memahami cara kerja kecerdasan emosional dalam kehidupan individu. Adaptasi Goleman (2005: 513) meliputi lima dasar kecakapan emosional dan sosial yang dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial sebagai berikut: a. Kecakapan Pribadi 1) Kesadaran diri Mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri ; memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. 2) Pengaturan diri Menangani emosi kita sedemikian sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran; mampu pulih kembali dari tekanan emosi. 3) Motivasi Menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustrasi. b. Kecakapan Sosial 1) Empati Merasakan yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

2) Keterampilan sosial Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar; menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan perselisihan, dan untuk bekerjasama dan bekerja dalam tim. Boyatzis kemudian melakukan penelitian untuk mendapatkan tingkat reliabilitas dan interkorelasi yang lebih baik daripada model kompetensi emosional yang dikemukakan oleh Goleman (Boyatzis & Goleman, 2005). Penelitian ini menghasilkan sebuah instrumen pengukuran kompetensi emosional yaitu Emotional Competence Inventory. Emotional Competency Inventory atau disingkat ECI (Boyatzis & Goleman, 2005) merupakan alat ukur untuk menilai kompetensi emosional individu maupun organisasi yang didasarkan pada kompetensi emosional dari Goleman dalam bukunya Working With Emotional Intelligence dan Self-Assessment Questionnaire (SAQ) dari Boyatzis. ECI mengemukakan 18 kompetensi emosional yang dikelompokkan dalam 4 kerangka kerja (klaster) yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, kesadaran sosial, dan pengaturan hubungan. Instrumen ECI tersebut menjadi acuan peneliti untuk mengukur kecerdasan emosional dalam penelitian ini. Secara lebih rinci kerangka kerja (klaster) kecerdasan emosi dalam ECI (Boyatzis & Goleman, 2005) adalah sebagai berikut: a. Kesadaran diri: Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan intuisi. Klaster kesadaran diri terdiri dari tiga kompetensi sebagai berikut: a) Kesadaran emosi : Mengenali emosi diri sendiri dan efeknya. b) Penilaian diri secara teliti : Mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri. c) Percaya diri : Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri. b. Pengaturan diri: Mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Klaster pengaturan diri terdiri dari enam kompetensi sebagai berikut: a) Kendali emosi diri : mengelola emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang mengganggu.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

b) Transparansi (sifat dapat dipercaya) : menjaga integritas, berperilaku sesuai dengan nilai-nilai diri. c) Adaptabilitas : keluwesan dalam menghadapi perubahan. d) Prestasi : berusaha keras untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan. e) Inisiatif : kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. f) Optimisme : kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan. c. Kesadaran Sosial: Menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan dan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain. Klaster kesadaran sosial terdiri dari tiga kompetensi sebagai berikut: a) Empati : mengindra perasaan dan perspektif orang lain, dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka. b) Kesadaran politis : mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan. c) Orientasi membantu orang lain : mengantisipasi, mengenali dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. d. Pengaturan Hubungan: Kemampuan dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Klaster pengaturan hubungan terdiri dari enam kompetensi sebagai berikut: a) Mengembangkan orang lain : merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka. b) Kepemimpinan yang inspiratif : Membangkitkan inspirasi serta memandu kelompok dan orang lain. c) Katalisator perubahan : memulai dan mengelola perubahan. d) Pengaruh : memiliki taktik yang efektif untuk membujuk seseorang (persuasi). e) Manajemen konflik : negosiasi dan pemecahan silang pendapat. f) Kolaborasi dan kooperasi : kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama. Menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional Goleman (2007) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi

kecerdasan emosional seseorang yaitu: a. Faktor internal Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam individu yang dipengaruhi oleh anatomi saraf emosinya seperti korteks, neokorteks, lobus prefrontal, sistem limbik, amigdala dan hal-hal lain yang berada pada otak emosional. Korteks berperan penting
dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Neokorteks merupakan tempat pikiran, memuat pusat-pusat yang mengumpulkan dan memahami apa yang diserap oleh indra. Neokorteks menambahkan pada perasaan apa yang kita pikirkan tentang perasaan itu dan memungkinkan kita untuk mempunyai perasaan tentang ide-ide, seni, simbol-simbol, khayalan-khayalan. Lobus prefrontal, dapat bertindak sebagai saklar peredam yang memberi arti terhadap situasi emosi sebelum berbuat sesuatu. Sedangkan, sebagai bagian yang berada dibagian otak yang mengurusi emosi yaitu system limbic. Bagian ini sering disebut sebagai emosi otak yang letaknya jauh didalam hemisfer otak besar dan terutama bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan implus. Bila kita dikuasai oleh hasrat atau amarah, sedang jatuh cinta atau mundur ketakutan, maka system limbic itulah yang sedang mencengkeram kita. Selain itu ada amigdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak dan gudangnya ingatan emosional.

b.

Faktor eksternal Faktor eksternal dimaksudkan sebagai faktor yang datang dari luar individu yaitu lingkungan keluarga dan non keluarga. Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi yaitu belajar bagaimana merasakan dan menanggapi perasaan diri sendiri, berpikir tentang perasaan tersebut sehingga mengambil pilihanpilihan yang dimiliki untuk akhirnya bertindak serta bagaimana membaca dan mengungkapkan harapan dan rasa takut. Sedangkan hal yang terkait dengan lingkungan
non keluarga adalah lingkungan masyarakat, pendidikan dan media massa baik cetak

maupun elektronik serta informasi yang canggih lewat jasa satelit.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

ANALISIS KASUS

Kasus 1 (Kasus Manajer Baru Perawat) : Tifany bekerja di sebuah RS Universitas yang besar. Dia lulusan program S1 3 tahun yang lalu, dan pada pekerjaan pertamanya sebagai staf perawat diunit bedah yang kompleks , dengan cepat membuktikan bahwa dirinya menjadi staf perawat yang kompeten. Setelah setahun bekerja, Tifany dipromosikan menjadi Kepala unit karena kemampuan dan sikap positifnya. Pada tahun yang ketiga, ia dipromosikan untuk menjadi manajer unit menggantikan manajer unit sebelumnya yang pindah ke bagian rawat jalan pada RS yang sama. Meskipun ia mampu dengan cepat belajar mengelola logistik unitnya, namun, ia kehilangan kepercayaan dari para perawat di unitnya karena dia bereaksi defensif dan tidak sabar menghadapi kritik dan keluhan2 staf, cenderung memberikan perintah singkat dan menyatakan bahwa "Aku terlalu sibuk untuk berbicara dengan Anda sekarang ". Untuk pertama kalinya sejak ia mulai bekerja di unit, Tifany mulai-takut pergi bekerja. Dia merasa bahwa rekan-rekan sebelumnya telah berbalik melawan dia dan tidak menghargai seberapa keras ia bekerja untuk mereka. Dia sering menganggap perhatian mereka sebagai picik dan memandang mereka sebagai tidak mengambil tanggung jawab yang cukup untuk peran mereka pada unit. Secara khusus dia menyampaikan pada direktur keperawatan tentang masalah staf, tetapi direktur hanya tertawa dan mengatakan bahwa"bulan madu sudah berakhir", dan bahwa sesuatu akan berakhir pada waktunya. Setelah enam bulan, hubungannya dengan staf telah memburuk sampai pada titik yang Tifani, merasa dikhianati, dikorbankan, dan kecewa. Ia meninggalkan Medical Center untuk bekerja dalam posisi agen asuransi.

Tugas : Diskusikan pendapat saudara tentang kasus tersebut berdasarkan kecerdasan emosional.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

10

Analisis Kasus Menggunakan Emotional Competencies :

EMOTIONAL COMPETENCIES
PERSONAL COMPETENCE
SELF AWARENESS 1. Emotional Self-awareness Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mengenal emosi dirinya dengan bersifat defensif. Tidak bisa mengendalikan emosi dirinya sendiri. Tidak sabar dalam menghadapi stafnya sehingga tidak mendapat kepercayaan dari stafnya.

SOCIAL COMPETENCE
SOCIAL AWARENESS 10. Emphaty Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak menunjukkan sikap emphati kepada stafnya. Tyfani tidak menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan dari stafnya. Tidak perduli terhadap keluhan dari staf,terkesan menghindar untuk berkomunikasi dengan stafnya . 11. Organizational Awareness Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mampu mengenal dan mengendalikan emosi stafnya sehingga tidak mampu membangun hubungan baik dengan stafnya. Tidak menunjukkan prilaku asertif dalam membangun relationship antara dirinya dan stafnya. 12. Service Orientation Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani berusaha untuk memenuhi kebutuhan logistik pada unit kerjanya. Tyfani tidak mengantisipasi masalah, tidak mengenal masalah dan tidak mampu memecahkan masalah yang ada. Tidak menjalankan perannya sebagai pemimpin yang mampu mengayomi staf. RELATIONSHIP MANAGEMENT 13. Developing Others Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mampu mengembangkan dirinya maupun

2. Accurate Self Assesment Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani merasa terlalu merasa berkuasa karena dia mendapat promosi jabatan. Tyfani tidak terbuka terhadap umpan balik. Tidak mempunyai kesabaran dalam menghadapi stafnya.

3. Self Confidence Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani menunjukkan kompetensi dalam posisinya yang lama. Tyfani tidak percaya diri sehingga dia mulai takut pergi bekerja dan tidak menunjukkan dia sebagai pemimpin. Sekalipun dia sudah bekerja keras untuk stafnya tetap merasa tidak dihargai. SELF MANAGEMENT 4. Emotional Self Control Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mempunya kontrol emosi dan tidak mampu beradaptasi.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

11

Tyfani mengadu kepada direktur keperawatan tentang masalanya.

5. Transparency Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak bisa dipercaya oleh stafnya dan tidak mempercayai stafnya. Tidak mempunyai integritas antara dirinya dengan stafnya. Tidak menerima masukan dan kritik dari stafnya. 6. Adaptability Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak bisa beradaptasi dengan posisi barunya sebagai manajer unit dan keluar dari pekerjaannya pada bulan ke enam. Tidak bisa beradaptasi dengan konflik di unit yg dipimpinnya. 7. Achievement Orientation Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak berusaha untuk menjadi lebih baik Tidak memperbaiki keadaan agar terbina hubungan. 8. Initiative Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mempunyai inisiatif untuk stafnya tetapi dia hanya ingin mengkondisikan terhadap masalah dirinya sendiri dengan melapor kepada pimpinan. Tidak ada perubahan dalam unit maupun staf yang dipimpinnya.

stafnya sendiri. Tyfani tidak mengadakan pengembangan formal maupun informal. 14. Inspirational Leadership Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mempunyai visi yang baik. Tidak membangkitkan semangat stafnya, tetapi malah memupuskan semangat stafnya dengan tidak mau berkomunikasi dengan stafnya. Alasannya dia selalu sibuk. 15. Change Catalyst Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mampu mempercepat perubahan. Tidak mampu mengelola masalah yang dihadapinya.

9. Optimism Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah :

16. Influence Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani tidak mempunyai kemampuan yang efektif / prilaku asertif untuk mempengaruhi orang lain dalam situasi kerja. 17. Conflict Management Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah : Tyfani dalam menghadapi konflik, dia tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Tidak mampu memunculkan solusi yang cemerlang. Dia tidak mampu bernegosiasi dengan stafnya dan hanya konsultasi ke atasannya. Pemecahan masalah nya hanya menghindari masalah dan keluar dari medical center. 18. Teamwork & Collaboration Analisis Kelompok tentang kasus pertama adalah :

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

12

Tyfani merupakan tipe pemimpin yang pesimis. Tyfani tidak gigih dalam memperjuangkan stafnya. Dia pesimis dalam masalah yang dihadapinya sehingga dia keluar dari Medical Center dan bekerja di agen asuransi.

Tyfani tidak mampu bekerja sama dengan stafnya. Tidak mampu berkolaborasi dengan tim maupun pimpinannya. Sebab seharusnya dia harus mendengarkan pimpinannya, tetapi dia malah memilih keluar dari medical center.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

13

Kasus 2 : Joni telah bekerja sebagai staf perawat di bagian medical pada dua lembaga yang berbeda selama 6 dan 5 tahun. Ketika anak pertamanya lahir, ia memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan sebagai manajer mutu untuk rumah sakit komunitas di pinggiran kota sehingga ia senang mempunyai jam kerja yang teratur dan dapat mengatur jadwalnya untuk menyesesuaikan dengan jam kerja istrinya. Posisi yang telah diterimanya ternyata memiliki tantangan lebih dari yang diantisipasi antara lain : tidak seimbangnya kualitas yankep antar unit 2 keperawatan , dokter marah atas catatan laporan kondisi pasien, baru-baru ini RS mendatangkan konsultan akreditasi dan merekomendasikan lebih dari selusin kekurangan yang perlu diperbaiki dalam waktu 6 bulan, dan skor kepuasan pasien menurun di berbagai area. Pertemuan pertamanya dengan tim eksekutif rumah sakit, dia diharapkan melakukan perbaikan2. Pada hari itu, Joni menyesal telah meninggalkan kenyamanan sebagai tenaga keperawatan di RS sebelumnya, di mana ia tahu apa yang harus dilakukannya. Sebagai seorang staf perawat, masalah2 yang terjadi pada satu pasien segra dapat diatasinya. Setelah berkonsultasi dengan manajer dari tempat kerja yang lama dan dengan perawat pendidik di sebuah universitas setempat tempat ia terdaftar sebagai mahasiswa master, Joni mulai dapat menangani tentang bagaimana pendekatan tanggung jawab barunya. Dia memahami rumah sakit. Dia percaya pada kemampuannya sendiri untuk belajar apa yang diperlukan dan maju selangkah setiap waktu dan Joni menyadari bahwa dibutuhkan rencana sistematis dan komprehensif . Selama minggu berikutnya, ia berbicara kepada karyawan2 rumah sakit dan beberapa dokter di posisi kepemimpinan. Dari beberapa pertemuannya Joni mendengarkan curhat karyawan tentang masalah yang mereka hadapi dalam pekerjaan mereka atau dengan teman bekerja mereka; termasuk marah terhadap "agenda kualitas" yang diterima dari CEO. Joni tidak berusaha untuk menaggapi, dia mendengar komentar, ia juga tidak membiarkan dirinya bersikap defensif dan marah. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa ia hanya mencoba untuk belajar tentang masalah yang dihadapi rumah sakit sehingga ia bisa mengumpulkan beberapa ide tentang bagaimana untuk maju. Dalam beberapa minggu, Joni telah mengidentifikasi area-area di rumah sakit dengan menekankan pada tantangan mutu, dikombinasikan dengan rekomendasi kekurangan2 dari lembaga akreditasi, hingga pada area dengan prioritas tinggi, Joni sudah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

14

merencanakan untuk segra bekerja keras. Joni mengidentifikasi berbagai proses dan interuensi yang akan dibutuhkan dalam berbagai area: beberapa penataan QI diperlukan atau tim proses, yang lain dibutuhkan metode pengukuran baru, dan yang lain dibutuhkan perubahan personel. Dalam beberapa kasus, dia menentukan bahwa ia perlu pelatih individu dan kelompok untuk pekerjaan mereka agar dapat meningkatkan kualitas. Selain itu, Joni membayangkan kemungkinan perubahan struktural dan fasilitas yang akan memperlambat untuk implementasi tapi akhirnya akan membawa perbaikan yang signifikan. Joni mengajukan rencananya pada pemimpin formal dan informal pada lembaga tersebut dan minta masukan, selanjutnya ia melakukan revisi rencana. Berikutnya dia membawanya ke tim eksekutif untuk memperoleh koreksi dan saran serta persetujuan mereka Dalam waktu 6 minggu, Joni memiliki rencana kerja yang telah disetujui untuk 12 bulan pertama dari karyanya di RS. Joni hanya menemukan sedikit perlawanan, tetapi banyak karyawan yang mau bekerjasama-untuk bergerak maju sesuai semua inisiatif yang dia usulkan.

Tugas: Diskusikan pendapat saudara tentang kasus tersebut berdasarkan kecerdasan emosional.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

15

Analisis Kasus Menggunakan Emotional Competencies :

EMOTIONAL COMPETENCIES
PERSONAL COMPETENCE
SELF AWARENESS 1. Emotional Self-Awareness Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mampu mengenal emosinya. Dia mampu mengendalikan emosi dirinya sendiri. Dia sabar dalam menghadapi stafnya. Dia mampu memikirkan pemecahan masalah yang dihadapinya. Mampu memunculkan ide yang cemerlang.

SOCIAL COMPETENCE
SOCIAL AWARENESS 10. Emphaty Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni memiliki sikap emphati terhadap stafnya. Joni menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan dari keseluruhan bidang pelayanan di RS. Perduli terhadap keluhan dari staf,tidak menghindar, mau berkomunikasi dengan staf dan pimpinan. Perduli terhadap mutu pelayanan RS. 11. Organizational Awareness Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mampu mengenal dan mengendalikan emosinya dan stafnya. Mampu membangun hubungan baik dengan stafnya. Stafnya mau mengikuti dan menjalankan ide yang diusulkannya. Memberikan pesan positif untuk stafnya. 12. Service Orientation Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni dapat mengantisipasi masalah. Mengenal masalah dan mampu memecahkan masalah yang ada. Menjalankan perannya sebagai pemimpin yang mampu mengayomi stafnya. RELATIONSHIP MANAGEMENT 13. Developing Others Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah :

2. Accurate Self Assesment Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni terbuka terhadap umpan balik dari pimpinan RS, konsultan akreditasi dan stafnya. Dia yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Dia mengetahui kekurangan dari dirinya sendiri. Dia mampu menjadi pendengar yang baik bagi stafnya dan tidak bersifat defensif maupun marah marah. 3. Self Confidence Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni percaya diri sehingga dia mampu bekerja dengan gigih untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Joni merasa dihargai oleh stafnya karena dia sudah bekerja keras untuk stafnya dan memperolah hasil yang maksimal. SELF MANAGEMENT 4. Emotional Self Control Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah :

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

16

Joni mampu mengendalikan emosinya dengan cara tidak membiarkan dirinya bersikap defensif dan marah terhadap stafnya serta menerima segala masukan yang membangun. Dia memcoba untuk belajar tentang masakalah yang dihadapi di RS sehingga ia mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Dia mampu membuat rencana yang sistematis dan komprehensif. 5. Transparency Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mengakui segala bentuk kekurangannya dan menyadari mendapat sedikit perlawanan dari stafnya. Joni bisa dipercaya oleh staf dan pimpinannya untuk memajukan pelayanan keperawatan di RS. Mempunyai integritas yang tinggi, kredibel, akuntabel antara dirinya dengan staf dan pimpinannya. Mau menerima masukan dan kritik segala aspek kekurangannya. 6. Adaptability Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mampu beradaptasi dengan posisi barunya sebagai manajer mutu di RS. Mampu beradaptasi dengan konflik di unit yg dipimpinnya walaupun dia sempat merasa menyesal meninggalkan pekerjaan lamanya. Mampu menjalankan segala prosedur sesuai dengan standar yang diharapkan. 7. Achievement Orientation Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni berusaha untuk menjadi lebih baik atau memperbaiki keadaan. Joni mendapat kepercayaan dari staf dan pimpinannya.

Joni selain mengembangkan dirinya mengambil program master, dia mampu mengembangkan stafnya dengan mengadakan penataan QI serta mengadakan pendidikan formal maupun informal. Melakukan perubahan struktural dan fasilitas untuk pengembangan stafnya.

14. Inspirational Leadership Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mempunyai visi yang baik. Membangkitkan semangat stafnya, Mau berkomunikasi dengan stafnya. Menjadi Role model bagi stafnya.

15. Change Catalyst Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mampu mempercepat perubahan. Dia mampu mengelola masalah yang dihadapinya dan mampu memunculkan pemecahan masalah yang baik.

16. Influence Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mempunyai kemampuan yang efektif untuk mempengaruhi orang lain dalam situasi kerja.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

17

Joni menekankan mutu pelayanan RS dengan mengkaji kekurangan unit kerjanya.

8. Initiative Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mempunyai inisiatif untuk stafnya dan mengkondisikan terhadap masalah dirinya sendiri serta meminta masukan dari segala pihak yang bisa meningkatkan kualitas pelayanan RS. Dia membuat rencana kerja untuk RS. Dia mengembangkan dirinya dan stafnya dari segi formal maupun informal. Membuat banyak perubahan dalam bidang struktural dan fasilitas pelayanan yang akan membawa perubahan yang signifikan. 9. Optimism Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni gigih dalam memperjuangkan kemajuan pelayanan keperawatan di RS. Dia optimis dalam masalah yang dihadapinya sehingga dia berhasil memberikan perbaikan mutu dalam pelayanan keperawatan. Dia optimis bahwa semua stafnya mau bekerja sama untuk kemajuan pelayanan RS.

Mampu meyakinkan pihak RS untuk membuat sebuah kebijakan demi kemajuan yang diharapkan RS. 17. Conflict Management Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni dalam menghadapi konflik tidak seimbangnya yankep antar unit 2 keperawatan serta dokter yang marah atas catatan laporan kondisi pasien , Joni bisa memecahkan masalahnya sendiri maupun kolaborasi dengan berbagai pihak yang berkompeten. Dia mampu bernegosiasi dengan stafnya dan konsultasi ke atasannya. Pemecahan masalah nya difokuskan untuk menghindari masalah yang ada. 18. Teamwork & Collaboration Analisis Kelompok tentang kasus kedua adalah : Joni mampu bekerja sama dengan staf dan pimpinannya. Mampu berkolaborasi dengan tim maupun pimpinannya. Mampu membentuk situasi kerja yang kondusif.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

18

Perbandingan antara kasus 1 dan 2 dari segi justifikasi, perbedaan maupun penyebab secara keseluruhan bisa dilihat sebagai berikut : PERBANDINGAN ANTARA KASUS 1 DAN 2 KASUS 1 KASUS 2 Dari kasus pertama Tifany dia tidak Dari kasus kedua Joni adalah sosok memiliki sosok pimpinan yang baik pemimpin yang baik karena Joni karena tidak memiliki lima komponen memiliki lima komponen emotional emotional intelligence,emotional intelligence,emotional competencies competencies atau bisa dikatakan atau bisa dikatakan bahwa self bahwa self awareness / sosial awareness awareness / sosial awareness yang yang rendah. Hal ini menjadi penting tinggi. Hal ini penting karena didalam karena didalam profesi keperawatan profesi keperawatan memerlukan memerlukan kemampuan untuk kemampuan untuk mengatur emosi mengatur emosi demi kebutuhan pasien demi kebutuhan pasien dan . membangun hubungan yang kondisif dengan stafnya. Tyfani memiliki pengalaman kerja yang Joni memiliki pengalaman kerja yang masih minim untuk menjadi seorang lebih lama / cukup untuk menjadi pemimpin. seorang pemimpin. Tyfani mendapat promosi dari Joni mendapat pekerjaan dengan pindah pekerjaannya terdahulu. area kerja/ memulai tempat kerja baru. Ketidakmampuan mengendalikan Kemampuan mengendalikan emosi emosi membuat seseorang tidak membuat seseorang memahami dirinya memahami dirinya dan orang lain lebih dan orang lain lebih baik hal ini akan baik hal ini akan berdampak pada berdampak positif pada pemberian pemberian pelayanan dan peningkatan pelayanan dan peningkatan mutu mutu pelayanan yang buruk. pelayanan yang baik. Selain mengkondisikan dirinya sebagai Selain mengkondisikan dirinya sebagai manajer mutu pelayanan, dia tidak manajer mutu pelayanan, dia juga mampu memberikan waktu untuk mampu memberikan waktu untuk dirinya, stafnya maupun untuk dirinya, stafnya dan keluarganya. keluarganya. Tyfani tidak berusaha untuk Joni berusaha untuk mengembangkan mengembangkan dirinya dan stafnya dirinya dengan mengambil program melalui bidang formal dan informal master dan stafnya melalui bidang formal dan informal. Tyfani tidak mampu menunjukkan Joni mampu menunjukkan prilaku prilaku asertif seperti selayaknya asertif seperti selayaknya seorang seorang perawat yang profesional perawat yang profesional dalam dalam mengembangkan hubungan yang mengembangkan hubungan yang kondusif. kondusif. Tifany lari dari masalah karena tidak Joni tidak mencoba lari dari masalah mampu membina hubungan baik yang dihadapinya. Kemampuan dengan stafnya,merasa mengendalikan emosi membuat dihianati,dikorbankan dan dikecewakan seseorang memahami dirinya dan orang ahinya ia meninggalkan medical center lain lebih baik hal ini akan berdampak untuk bekerja dalam posisi agen pada pemberian pelayanan dan asuransi. peningkatan mutu pelayanan.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id

Manajemen Keperawatan

19

Seharusnya Tifani harus mampu belajar mengenal dirinya sendiri, serta meningkatkan kemampuan berprilaku asertif dalan hubungan dengan individu stafnya. Kesimpulan : Pemimpin yang tidak mampu mengontrol prilaku maupun emosinya akan mengalami krisis kepercayaan diri. Bagi pemimpin yang kurang baik memiliki emotional intelegent yang rendah karena tidak mampu menggunakan emosi secara efektif.

Joni harus mengembangkan dirinya agar lebih menuju pribadi yang lebih baik lagi demi dirinya dan unit kerja yang dikelolanya.

Kesimpulan : Pemimpin yang mampu mengontrol prilaku maupun emosinya akan mampu meningkatkan kepercayaan diri. Bagi pemimpin yang baik memiliki emotional intelegent yang tinggi karena mampu menggunakan emosi secara efektif.

NB : MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKURANGAN HASIL ANALISA KELOMPOK IV.

===== TERIMA KASIH =====

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus (STIK SC) Jl. Salemba Raya 41 Jakarta 10440-Indonesia Phone : (62-21) 3904441 Ext. 2368 E-mail : stiksc@stik-sintcarolus.ac.id/ Website : www.stik-sintcarolus.ac.id