Anda di halaman 1dari 5

JENIS-JENIS KAYU DI INDONESIA DAN TEGANGAN IJIN

A. Jenis-jenis Kayu Jenis-jenis kayu digolongkan berdasarkan tingkatan: Keawetan Daya tahan terhadap pengaruh perusakan rayap,serangga dan binatang lainnya, daya tahan terhadap pengaruh cuaca dsb. Jenis kayu berdasarkan tingkat keawetannya dibedakan dalam beberapa kelas seperti pada Tabel 1.1. Tabel 1.1. Jenis kayu berdasarkan tingkat keawetannya

Kekuatan Untuk menentukan tingkat kekuatan kayu berdasarkan pada kuat lentur, kuat tekan dan berat jenis kayu. Berat jenis kayu ditentukan oleh kadar lengas kayu dalam keadaan kering udara (tabel 1.2).

Tabel 1.2. Jenis kayu berdasarkan tingkat kekuatan

Berdasarkan Tingkat pemakaian Tingkat I dan II : Untuk Keperluan konstruksi-konstruksi berat, tidak terlindung dan terkena tanah lembab Tingkat I : Kayu jati, merbau, bengkirai, belian ) Tingkat II : Kayu rasamala, merawan dsb) Tingkat III : Untuk Keperluan konstruksi-konstruksi beratTerlindung ( kayu puspa, kamfer, kruing ) Tingkat IV : Untuk keperluan Konstruksi ringan yang terlindung.( Meranti, suren, jeungjing ) Tingkat V : Untuk keperluan pekerjaan sementara

B. Berat Jenis Kayu Berat jenis kayu ditentukan pada kondisi dimana kadar lengas kayu dalam keadaan kering udara. Berat jenis yang digunakan adalah berat jenis kering udara. Berat jenis kayu sangat menentukan kekuatan dari kayu. Selain berat jenis, kekuatan kayu juga ditentukan oleh mutu kayu. Mutu kayu dibedakan dalam dua macam, yaitu mutu A dan mutu B yang selanjutnya dapat dibaca pada PKKI (Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia) 1961 (NI-5). Kekuatan kayu digolongkan dalam kelas kuat I, II, III, IV, dan V. Tegangan tegangan ijin untuk kayu mutu A dengan kelas kuat tertentu dapat dilihat pada daftar Iia PPKI 1961. Untuk kayu mutu B tegangan-tegangan ijin dalam daftar IIa harus dikalikan dengan faktor reduksi sebesar 0,75. Apabila diketahui berat jenis kayu, maka tegangantegangan ijin kayu mutu A dapat langsung dihitung dengan rumus seperti terdapat pada daftar IIb PPKI 1961, sebagai berikut: lt =170.g (kg/cm2) ds// = tr// = 150.(kg/cm2) d s^ = 40.g (kg/cm2) t / / = 20.g (kg/cm2) dimana g adalah berat jenis kering udara.

Untuk kayu mutu B rumus tersebut di atas harus diberi faktor reduksi sebesar 0,75. Jika suatu kayu diketahui jenisnya maka dengan menggunakan lampiran I PKKI 1961 dapat diketahui berat jenisnya. Dari Tabel 1.1 tersebut untuk perhitungan tegangan ijin sebagai berat jenis kayu diambil angka rata-rata dengan catatan bahwa perbedaan antara berat jenis maksimum dengan berat jenis minimum tidak boleh lebih dari 10% berat jenis minimum. Atau Bj-maks Bj-min Bj-min. Jika perbedaan tersebut lebih dari 100% harus digunakan berat jenis yang minimum. Seperti misalnya Kayu Keruing dari Tabel 1.1 mempunyai Bj-maks = 1,01 dan Bjmin =0,51, maka Bj-maks Bj-min = 1,01- 0,51 = 0,5 < Bj-min = 0,51 sehingga dapat digunakan Bj-rata-rata = 0,79. Dengan cara lain, kita dapat langsung menggunakan kelas kuat kayu yang terendah dari Tabel 1.1 tersebut. Untuk kayu mutu B rumus tersebut di atas harus diberi faktor reduksi sebesar0,75. Jika suatu kayu diketahui jenisnya maka dengan menggunakan lampiran I PKKI 1961 dapat diketahui berat jenisnya. Dari Tabel 1.1 tersebut untuk perhitungan tegangan ijin sebagai berat jenis kayu diambil angka rata-rata dengan catatan bahwa perbedaan antara berat jenis maksimum dengan berat jenis minimum tidak boleh lebih dari 10% berat jenis minimum. Atau Bj-maks Bj-min Bj-min. Jika perbedaan tersebut lebih dari 100% harus digunakan berat jenis yang minimum. Seperti misalnya Kayu Keruing dari Tabel 1.1 mempunyai Bj-maks = 1,01 dan Bjmin =0,51, maka Bj-maks Bj-min = 1,01- 0,51 = 0,5 < Bj-min = 0,51 sehingga dapat digunakan Bj-rata-rata = 0,79. Dengan cara lain, kita dapat langsung menggunakan kelas kuat kayu yang terendah dari Tabel 1.3 tersebut. Tabel 1.3 beban yang diijinkan untuk masing-masing paku

Disarankan untuk menggunakan rumus yang ada untuk menghitung tegangan ijin apabila telah diketahui berat jenis kayu. 1.1 Kelas Kuat Kayu Kelas kuat jenis kayu juga digunakan untuk menentukan modulus elastisitas kayu sejajar serat (E), yang dapat dilihat pada daftar I PPKI 1961. Apabila telah diketahui berat jenis kayu, maka untuk menentukan modulus elastisitas kayu harus diketahui kelas kuat kayu. Untuk itu hubungan antara kelas kuat dan berat jenis kayu di dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini. Tabel. 1.4 Hubungan antara kelas kuat dan berat jenis

1.2 Faktor Reduksi Harga-harga tegangan ijin dalam daftar IIa PKKI 1961 maupun rumus tegangan yang telah diberikan di atas adalah untuk pembebanan pada konstruksi yang bersifat tetap dan permanen serta untuk konstruksi yang terlindung. Jadi, untuk sifat pembebanan tetap, foktor reduksi =1, untuk konstruksi terlindung, faktor reduksi =1. Apabila pembebanan bersifat sementara atau khusus untuk kontruksi tidak terlindung, maka harga tegangan ijin tersebut harus dikalikan dengan faktor reduksi: - untuk kontruksi tidak terlindung, = 5/6 - untuk konstruksi yang selalu basah (terendam air), = 2/3 - untuk pembebanan yang bersifat semestara, = 5/4 - untuk pembebanan yang bersifat khusus (getaran dll) = 3/2 Faktor reduksi tersebut di atas, juga berlaku untuk mereduksi kekuatan alat sambung. 1.3 Penyimpangan Arah Gaya Terhadap Arah Serat Kayu Apabila arah gaya yang berkerja pada bagian-bagian konstruksi menyimpang dengan sudut terhadap arah serat kayu, maka tegangan ijin tekan/tarik kayu harus dihitung : .Sin . Faktor reduksi seperti yang diuraikan di atas juga harus diperhitungkan. 1.4 Soal-Soal dan Pembahasan 1. Suatu konstruksi gording menahan beban tetap terbagi sebesar 50 kg/m. Kelas kayu adalah kelas A. Gording terbuat dari kayu dengan Bj= 0,6. Hitung tegangantegangan ijinnya? Apabila panjang gording 3 m dengan peletakan sendi-rol, serta dimensi gording 6/8, kontrol apakah konstruksi tersebut aman. Lendutan dan berat sendiri gording diabaikan

Penyelesaiaan: Konstruksi gording terlindung, = 1 Pembebanan permanen, = 1 Bj = 0,6 maka:

Mmaksimum (Mmaks) = 1/8.q. l2 = 1/8.50.32 = 56,25 kg.m = 5625 kg.cm Tahanan momen (W) = 1/6. b. h2 = 1/6.6.82 = 64 cm3

Gaya lintang maksimum (Dmaks) = .. q. l = 1/2.50.3 = 75 kg Konstruksi aman 2. Suatu batang tarik yang disambung dengan alat penyambung baut. Kekuatan satu buah baut =50 kg. Konstruksi tidak terlindung dan beban tidak permanen. Apabila gaya tarik yang bekerja pada kontruksi tersebut sebesar 0,6 ton, Hitung jumlah baut yang dibutuhkan. Penyelesaian : Konstruksi tidak terlindung, = 5/6 Pembebanan tidak permanen = 5/4 P baut reduksi = 50.5/6. 5/4 = 52,08 kg

Jumlah baut yang digunakan 12 buah.