Anda di halaman 1dari 18

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Neonatal Intensive Care Unit atau biasa disingkat dengan NICU adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang difungsikan untuk merawat bayi pematur dan bayi baru lahir sampai usia 30 hari yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus dibawah pemantauan tim dokter, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital. Bayi-bayi yang berada di NICU umumnya adalah bayi dengan risiko tinggi. Bayi risiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian daripada bayi lain misalnya pada bayi dengan sindrom distress nafas (A., Etika, Sylvia, Fatimah, & Harianto, 2004). Angka kematian bayi prematur di Provinsi Jawa Tengah 2, 66 % dari angka kematian bayi. Kejadian kematian bayi premature umumnya diakibatkan oleh beberapa komplikasi yang tidak tertangani dengan baik seperti RDS (Apriliana, 2012). Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan dalam usia gestasi kurang dari 37 minggu., Secara fisiologis, kondisi bayi prematur adalah sebagian masih sebagai janin dan sebagai bayi baru lahir. Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD), merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi premature. Pada bayi dengan RDS mengalami ketidaknyamanan karena gangguan pada frekuensi pernapasan. Oleh karena itu, dalam makalah ini juga akan membahas tentang penerapan terapi music pada bayi premature dengan komplikasi RDS. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah konsep NICU, pengkajian di NICU dan inovasi intervensi di NICU? 1.1 Tujuan 1.3.1Tujuan Umum

Mengetahui konsep NICU dan menyusun pengkajian dan inovasi intervensi di NICU 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Menjelaskan pengertian NICU 2. Menjelaskan konsep sedasi di NICU 3. Menjelaskan konsep RDS pada bayi premature di NICU 4. Menjelaskan analisa penelitian terkait pengkajian di NICU 5. Menjelaskan Alternatif terapi pada bayi premature dengan RDS di NICU 6. Menjelaskan analisa penenlitian terkait terapi music di NICU

1.4 Manfaat 1.4.1 Bagi Institusi Menjadi salah satu acuan pembelajaran bagi Advanced Nursing Practice 1.4.2 Bagi Mahasiswa Menjadi salah satu sumber acuan pembelajaran mengenai konsep NICU, intervensi dan inovasi pengkajian di NICU

BAB 2 TINJUAN PUSTAKA 2.1 NICU (Neonatus Intensive Care Unit) Neonatal Intensive Care Unit atau biasa disingkat dengan NICU adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang difungsikan untuk merawat bayi pematur dan bayi baru lahir sampai usia 30 hari yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus dibawah pemantauan tim dokter, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital. Bayi-bayi yang berada di NICU umumnya adalah bayi dengan risiko tinggi. Bayi risiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian daripada bayi lain misalnya pada bayi dengan sindrom distress nafas (A., Etika, Sylvia, Fatimah, & Harianto, 2004). 2.2 Bayi Prematur Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan dalam usia gestasi kurang dari 37 minggu., Secara fisiologis, kondisi bayi prematur adalah sebagian masih sebagai janin dan sebagai bayi baru lahir. Bayi pematur yang dilahirkan dalam usia gestasi <37 minggu mempunyai resiko tinggi terhadap pernyakit-penyakit yang berhubungan dengan prematuritas, antara lain sindroma gangguan pernafasan idiopatik (penyakit membran hialin/RDS), aspirasi pneumonia karena refleksi menelan dan batuk belum sempurna, perdarahan spontan dalam ventrikel otak lateral (Tobing, 2004). 2.3 Respiratory Distress Syndrome (RDS) Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD), merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi premature. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak napas. Kondisi bayi prematur merupakan faktor resiko terbesar terjadinya RDS. Insidensi RDS juga berhubungan dengan berat lahir bayi

(Tabel 1). Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan RDS pada bayi baru lahir (Tabel 2). Tabel 1. Insidensi RDS dengan Berat Lahir Berat Lahir (Kg) 501-750 751-1000 1001-1250 1251-1500 Tabel 2. Faktor Resiko Penyebab RDS Resiko Tinggi Prematur Laki-Laki Kecenderungan genetic Asfiksia perinatal Ras Kauskasoid Ibu dengan diabetes Chorioamnionitis (UCSF Children's Hospital, 2004) 2.3. Surfaktan Suatu bahan senyawa kimia yang memiliki sifat permukaan aktif. Surfaktan pada paru manusia merupakan senyawa lipoprotein dengan komposisi yang kompleks. Surfaktan dibuat oleh sel alveolus tipe II yang mulai tumbuh pada gestasi 22-24 minggu dan mulai mengeluarkan keaktifan pada gestasi 24-26 minggu, yang mulai berfungsi pada masa gestasi 32-36 minggu. Produksi surfaktan pada janin dikontrol oleh kortisol melalui reseptor kortisol yang terdapat pada sel alveolus type II. Produksi surfaktan dapat dipercepat lebih dini dengan meningkatnya pengeluaran kortisol janin yang disebabkan oleh stres, atau oleh pengobatan deksamethason yang diberikan pada ibu yang diduga akan melahirkan bayi dengan defisiensi surfaktan. Kurangnya surfaktan adalah penyebab terjadinya Resiko Rendah Chronic Intra-uerine stress Rupture membrane Hipertensi maternal atau toksemia IUGR Antenatal Glucocorticoids Penggunaan NAPZA Kelainan hemolitik Insidensi RDS 86% 79% 48% 27%

atelektasis secara progresif dan menyebabkan meningkatnya distres pernafasan pada 24-48 jam pasca lahir (A., Etika, Sylvia, Fatimah, & Harianto, 2004) 2.4 Perkembangan Paru Normal Tabel 3. Tahap Pertumbuhan Paru (Tobing, 2004)

2.5 Tes Kematangan Paru Tes Kematangan Paru yang biasanya dilakukan pada bayi prematur yang mengancam jiwa untuk mencegah terjadinya Neonatal Respiratory Distress Syndrome (RDS). Tes tersebut diklasifikasikan sebagai tes biokimia dan biofisika. a. Tes Biokimia (Lesithin - Sfingomyelin rasio) b. Test Biofisika : Shake test c. TDX- Maturasi paru janin (FLM II) (Tobing, 2004). 2.7 Manifestasi Klinis Gejala klinis RDS dapat muncul setelah lahir selama 4 jam. Gejala klinis RDs adalah : a. Takipnea (RR >60/menit), normal 40 kali/menit b. Retraksi intercostals dan subcostal c. Pernapasan cuping hidung d. Suara merintih saat ekspirasi (grunting) e. Sianosis dalam suhu ruangan f. Hipotensi g. Asidosis h. Hiperkalemia Gambaran radiologis kelainan paru pada PMH dibagi atas 4 derajat yaitu derajat 1 pola retikulogranular (PRG), derajat 2 bronkogram udara (BGU), derajat 3 sama dengan derajat 2 namun lebih beratdengan mediastinum melebar,

derajat 4 kolaps seluruh paru sehingga paru tampak putih (white lung) (Tobing, 2004). 2.6 Patofisiologi

Gambar 1. Patofisiologi RDS (UCSF Children's Hospital, 2004) 2.8. Komplikasi 1. Ruptur alveoli 2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. 3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular 4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi : 1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu.

2. Retinopathy premature Kegagalan berhubungan fungsi neurologi, masa terjadi gestasi, sekitar adanya 10-70% hipoxia, bayi yang

dengan

komplikasi

intrakranial, dan adanya infeksi (The Texas Neonatal Research Group, 2004). 2.9 Pemeriksaan Penunjang Tabel 4. Pemeriksaan Penunjang RDS (Tobing, 2004)

2.10 Mengukur Derajat Sesak Napas

Gambar 2. Sistem Skoring Downes (Jackson, 2007)

Gambar 3. Silverman Retraction Score (Jackson, 2007) 2.11 Pengkajian Pada Bayi Prematur 1. Tentukan Usia Gestasional 2. Kaji sistem respiratori Pengkajian dan Perawatan Segera (30 menit pertama setelah kelahiran) a. Hitung RR bayi selama 1 menit penuh. Frekuensi nafas neonates normanya adalah 30-60 kali/menit. Frekuensi Pernapasan mungkin tidak teratur 15 menit pertama setelah kelahiran dan bisa mencapai 100x/menit. b. Perhatikan tanda-tanda sesak nafas seperti retraksi dada, grunting, pernapasan cuping hidung, takipnea, takikardi dan pergerakan dada yang asimetris. Pada bayi dengan RDS maka manifestasi klinis di atas akan muncul, oleh karena itu segera lakukan: Terapi oksigen Pasang monitor pulse oxymetry (pertahankan 85%-95%) Sediakan penghangat, incubator atau matras termal Periksa kadar serum glukosa Jika memungkinkan tetap lakukan kangaroo care

Pengkajian Masa Transisi (6-12 jam pertama setelah lahir) dan Lanjutan a. Lanjutkan untuk observasi status respirasi, detak jantung setiap 4 jam sekali selama 24 jam pertama setelah kelahiran

b. Berikan dukungan pada ibu untuk melakukan kangaroo care c. Pertahankan suhu ruangan netral/ neutral thermal environment (NTE). 3. Kondisi Termoregulasi Pengkajian dan Perawatan Segera (30 menit pertama setelah kelahiran) Keringkan badan neonates dan selimuti dengan selimut hangat serta pasang dry cap pada kepala neonates jika tidak memungkinkan segera rawat didalam incubator. Sediakan skin to skin contact segera bila memungkinkan untuk membantu sistem adaptasi bayi Pertahankan suhu aksila 36.50-37.40 C dan ukur secara teratur setiap 30 menit. Pastikan suhu di sekitar 260-270 C

4. Kaji kemungkinan Hipoglikemi Lakukan screening tes plasma glukosa dalam 2 jam pertama setelah kelahiran Jika kadar glukosa kurang dari 40-45 mg/dL maka segera konfirmasi ke laboratorium 5. Kaji Kemungkinan sepsis Kemungkinan sepsis akan meningkat bila usia gestasi <37 minggu, ada infeksi intra amniotic, demam intrapartum > 38o C dan berat <2500 gram. Berikut tanda-tanda sepsis yang perlu diperhatikan : Suhu tidak stabil Letargi Iritabilitas Jitterness Hipotonia Hipotensi dan perfusi buruk.

Lakukan monitor tanda-tanda infeksi minimal selama 48 jam setelah kelahiran (Association of Women's Health Obstetric and Neonatal Nurses, 2010)

2.12 Penatalaksanaan RDS Tujuan Manajemen RDS Tujuan manajemen penanganan bayi premature dengan RDS adalah : a. Mencegah hipoksemia dan asidosis b. Mengoptimalkan manajemen cairan : mencegah kelebihan intake cairan atau edema saat menangani hipovolemia dan hipotensi c. Mengurangi kebutuhan metabolic dan memaksimalkan intake nutrisi d. Meminimlakan kerusakan sekunder pada paru akibat volutrauma dan keracunan oksigen (UCSF Children's Hospital, 2004). 2.13 Manajemen RDS Tiga pilar utama dalam pencegahan dan penanganan RDS pada adalah antenatal glukokortikoid, CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), serta Terapi Pengganti Surfaktan. 1. Antenatal Glikokortikoid Membantu mempercepat proses maturitas paru pada janin. Pemberian kortikosteroid dilakukan pada ibu minimal 24 sampai 48 jam (maksimal 7 hari) sebelum jadwal kelahiran (The Texas Neonatal Research Group, 2004). 2. Eksogenus Surfaktan Pemberian surfaktan merupakan salah satu terapi rutin yang diberikan pada bayi prematur dengan RDS. Sampai saat ini ada dua pilihan terapi surfaktan, yaitu natural surfaktan yang berasal dari hewan dan surfaktan sintetik bebas protein, dimana surfaktan natural secara klinik lebih efektif. Hasil dari studi meta analisis dengan Randomised Control Trial (Soll,2003) menunjukkan bahwa hampir 40% menurunkan angka kematian dan 30-70% menurunkan insiden pneumothorax pada RD. Pada suatu studi meta analisis yang membandingkan antara penggunaan surfaktan derifat binatang dengan surfaktan sintetik bebas protein pada 5500 bayi yang terdaftar dalam 16 penelitian random, 11 penelitian memberikan hasil yang signifikan bahwa surfaktan derifat binatang lebih banyak menurunkan angka kematian dan pneumothorak dibandingkan dengan surfaktan sintetik bebas protein (Soll and Blanco, 2003).

Dosis dan Cara Pemberian Surfaktan Dosis yang digunakan bervariasi antara 100mg/kg sampai 200mg/kg. Dengan dosis 100mg/kg sudah dapat memberikan oksigenasi dan ventilasi yang baik, dan menurunkan angka kematian neonatus dibandingkan dosis kecil, tapi dosis yang lebih besar dari 100mg/kg tidak memberikan keuntungan tambahan. Saat ini dosis optimum surfaktan yang digunakan adalah 100mg/kg. Sampai saat ini surfaktan diberikan secara injeksi bolus intratrakeal, karena diharapkan dapat menyebarkan sampai saluran napas bagian bawah. Dengan pemberian secara bolus dapatmempengaruhi tekanan darah pulmonar dan sistemik secara fluktuatif. Surfaktan dapat juga diberikan secara intratrakeal melalui endotrakeal tube (ETT) dengan bantuan NG tube. Cateter (NG tube) dapat dimasukkan tanpa melepas ventilator dengan melalui lubang penghisap sekret pada ETT. Sebagai alternatif, NGT dapat dimasukkan dengan terlebih dahulu melepas dengan cepat sambugan antara ETT dengan slang ventilator. Dosis diberikan secara terbagi menjadi 4 dosis supaya pemberiannya homogen sampai ke lobus paru bagian bawah. Setiap seperempat dosis diberikan dengan posisi yang berbeda. Sebelum surfaktan dimasukkan ke dalam ETT melalui NGT pastikan bahwa ETT berada pada posisi yang benar dan ventilator di atur pada kecepatan 60x/menit, waktu inspirasi 0,5 detik, dan FiO21,0. ETT dilepaskan dari ventilator dan kemudian : a. Kepala dan badan bayi dimiringkan 5-10 ke bawah kepala menoleh ke kanan, masukkan surfaktan seperempat dosis pertama melalui NGT selama 2-3 detik setelah itu lepaskan NGT dan lakukan ventilasi manual untuk mencegah sianosis selama 30 detik, b. Kepala dan badan bayi dimiringkan 5-10 ke bawah kepala menoleh ke kiri, masukkan surfaktan seperempat dosis kedua melalui NGT selama 2-3 detik setelah itu lepaskan NGT dan lakukan ventilasi manual untuk mencegah sianosis selama 30 detik,

c. Kepala dan badan bayi dimiringkan 5-10 ke atas kepala menoleh ke kanan, masukkan surfaktan seperempat dosis ketiga melalui NGT selama 2-3 detik setelah itu lepaskan NGT dan lakukan ventilasi manual untuk mencegah sianosis selama 30 detik, d. Kepala dan badan bayi dimiringkan 5-10 ke atas kepala menoleh ke kiri, masukkan surfaktan seperempat dosis keempat melalui NGT selama 2-3 detik setelah itu lepaskan NGT dan lakukan ventilasi manual untuk mencegah sianosis selama 30 detik (A., Etika, Sylvia, Fatimah, & Harianto, 2004) 3. Terapi Oksigen Suplementasi oksigen sangat dibutuhkan oleh bayi dengan masalah pernapasan. Pemantauan saturasi oksigen dan atau tekanan oksigen arteri perlu dilakukan, terapi oksigen tanpa penilaian tekanan oksigen dan atau saturasi oksigen akan sangat bahaya. Pertahankan tekanan oksigen arteri 40-80 mmHg dan atau tingkat saturasi oksigen 88-92%. Tujuan terapi oksigen ini adalah untuk menangani hipoksemi, mengurangi kerja otot pernapasan, dan menurunkan beban kerja miokardium. Terapi oksigen dapat diberikan melalui incubator, head box, nasal kanul, nasal CPAP, nasal intermittent positive pressure ventilation (NIPPV), dan ventilator (Miall & Wallis, 2011). a. Inkubator Menggunakan selang dengan aliran tinggi Butuh waktu + 10 menit untuk stabilisasi oksigen Kadar O2 turun dengan cepat bila tutupnya dibuka Tidak direkomendasikan untuk di ruang bersalin

Gambar 4. Alat Inkubator b. Head box 02 Kec. Aliran 5 7 L /menit Kec. Aliran > 7 L/menit dapat menyebabkan O2 , suara bising, bayi muntah Perlu kec. aliran tinggi untuk mencapai konsentrasi O2 yg adekuat dan mencegah penumpukan CO2 Aliran gas 2-3L/menit diperlukan untuk mencegah rebreathing CO2

Gambar 5. Head Box c. Nasal kanul O2 Kec . Aliran rendah < 2L/menit ( low flow ) Untuk suplai O2 minimum Metode yg disukai untuk CLD Risiko kecil terjadi obstruksi oleh mukus Tidak perlu humidifikasi FiO2 tidak mudah ditentukan

Gambar 6. Nasal Kanul d. CPAP( Continous Positive Airway Presure )

Merupakan alat yang mempertahankan tekanan positif pada jalan napas neonates saat pernapasan spontan. Salah satu indikasi penggunaan CPAP adalah pada bayi dengan RDS. CPAP dianggap gagal bila: Tingkat FiO2 < 60% PaCO2 > 60 mmHg Asidosis metabolik menetap _ BE > -10 Retraksi yang jelas saat terapi CPAP Sering terjadi episode apnea dan atau bradikardi (Kamlin et al, 2006)

Gambar 6. CPAP

BAB 3 ANALISIS

3.1 PICOT Framework Population Intervention Bayi Prematur dengan komplikasi RDS
Berikut beberapa penelitian terkait innovative care: Terapi musik rekaman -

Comparison
diberika music terapi rekamana

Outcome
bayi menunjukkan peningkatan SPO2 signifikan Meningkatkan kualitas music bayi tidur menuju yang

Time
Pemberian dilakukan selama bayi prematur dengan RDS yang dirawat di NICU

30 bayi prematur -

transition selama dilakukan endotrachal suctioning Pemberian

terutama saat intervensi keperawatan

secara live kepada 31 bayi prematur di NICU selama 30 menit dengan

deep sleep Menstabilkan frekuensi pernapasan bayi prematur

(Chou, Wang, & 2003)


live &

Chen,

volume 55-70 dB Terapi musik (Arnon Shapsa, 2006) Pemberian musik CD klasik

Mozart terhadap 14 bayi prematur di NICU selama 1530 menit dengan

Terapi music klasik Mozart (Apriliana, 2012)

volume <45 dB

3.2 Terapi Musik Klasik Pada Bayi Prematur Dengan RDS Berikut adalah penjelasan dari tiga penelitian tentang terapi musik pada bayi prematur. Chou, Wang, & Chen,(2003) telah melakukan penelitian terhadap 30 bayi premature yang dirawat di NICU. Dilakukan intervensi dengan memperdengarkan music Transition pada saat bayi di lakukan endotrakeal sunctioning. Hasilnya menunjukkan bahwa bayi premature yang diberikan terapi music saat dilakukan intervensi suction mengalami peningkatan SPO2 secara signifikan dari pada yang tidak (p<0,1). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian terapi music pada bayi saat melakukan intervensi keperawatan dapat meningkatkan kualitas perawatan dan kualitas hidup bayi. Pemberian stimulasi music ternyata memberikan manfaat yang signifikan bagi bayi prematur. Terapi music live lebih memberikan pengaruh positif daripada music rekaman dan mampu memperbaiki parameter psikologi dan perilkau bayi preamtur di NICU. Dengan masing-masing 31 sampel diberikan terapi music langsung dan music rekaman selama 3 hari berturut-turut dengan durasi pemebrian 30 menit dengan volume 55-70 dB.. Kriteria inklusi yang ditarik adalah usia kurang atau samadengan 32 minggu, berat kurang atau sama dengan1500 gram, mampu mendengar dengan distortion product otoacoustic emissions (DPOAEs). Kesimpulan yang didapat adalah pemberian terapi music secara live mampu menurunkan detak jantung dan membantu bayi prematur untuk tidur yang dalam (deep sleep) (Arnon & Shapsa, 2006). Penelitian lain terhadap 14 bayi prematur yang mengalami gangguan pada sistem pernapasan setelah diberikan terapi musik klasik Mozart selama 15-30 menit setiap harinya dengan volume <45dB dapat memperbaiki frekuensi pernapasan pada bayi prematur. Dari tiga penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi musik klasik baik secara live maupun recording dengan volume(dB) tertentu mampu membantu dalam meningkatkan kualitas perawatan dan kenyamanan bayi.

DAFTAR PUSTAKA A., N., Etika, R., Sylvia, D., Fatimah, I., & Harianto, A. (2004). Pemberian Surfaktan Pada Bayi Prematur Dengan Respiratory Distress Syndrome. Surabaya: Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK. Unair/RSUD Dr. Soetomo. Apriliana, S. (2012). Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Frekuensi Pernapasan Bayi Prematur di Ruang Perinatologi RSUD Banyumas. Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman Fakultas Kedokteran dan IlmuImu Kesehatan. Arnon, S., & Shapsa, A. (2006). Birth. J Pediatric , 33:131-136. Association of Women's Health Obstetric and Neonatal Nurses. (2010). Assessment and care of the late preterm infant. Evidence Based Clinical Practical Guidelines , 51-54. Chou, L., Wang, R., & Chen. (2003). Oxygen Saturation In Premature Infants Receiving Endotracheal Suctioning. The Journal Of Nursing Research , 11(3):209-216. Jackson, M. R. (2007). Respiratory Assesment of Newborn. Dipetik maret 7, 2013, dari http://puffnicu.tripod.com/rd.html Kamlin. (2006). Oxygen Saturation In Healthy Infants Immediately After Birth. J Pediatr , 148:585-9. Miall, & Wallis. (2011). The Management Of Respiratory Distress In The Moderately Preterm Infants. Arch Dis Child Educ Pract Ed , 1-8. The Texas Neonatal Research Group. (2004). Early surfactant for neonates with mild tomoderate respiratory distress syndrome: a multicenter, randomized trial. J Pediatr , 144:804-810. Tobing, R. (2004). Kelainan Kardiovaskular Pada Sindrom Gawat Napas Neonatus. Sari Pediatri Vol. 6 No. 1 , 40-46.

UCSF

Children's

Hospital.

(2004).

Retrieved

Maret

4,

2013,

from

http://www.ucsfbenioffchildrens.org/pdf/manuals/25_RDS.pdf