Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUANG JIWA DEPRESI

OLEH 2.2 REGULER NAMA: 1. NI MADE DESIANA DEWI 2. NI WAYAN DESI APSARI (P07120011037) (P07120011039)

JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES DENPASAR 2013

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ALAM PERASAAN : DEPRESI A. Kajian Teori I. Pengertian 1. Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, keindahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, Sadock, 1998). 2. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kekecewaan pada alam perasaan, (affective atau mood disorder) yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa (Dadang Hawari, 2001) 3. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung tidak bersemangat, merasa tak berguna, merasa tak berharga, merasa kosong dan tak ada harapan berpusat pada kegagalan dan bunuh diri, sering disertai ide dan pikiran bunuh diri klien tidak berniat pada pemeliharaan diam dan aktivitas seharihari (Budi Anna Kaliat, 1996) Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik dan komponen somatik yang terjadi akibat mengalami kesedihan yang panjang. II. PENYEBAB TERJADINYA DEPRESI 1. Kekecewaan. Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saatsaat khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah pertama depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan dan keputusasaan. 2. Kurang Rasa Harga Diri Ciriciri universal yang lain dari orang yang depresi adalah kurangnya rasa harga diri sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih-lebihkan menjadi estrim, karena harapan-harapan yang realistis membuat dia tak mampu merestor dirinya

sendiri hal ini memang benar khususnya pada individu yang ingin segalanya sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya 3. Perbandingan yang tidak adil Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi 4. Penyakit Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organik contoh individu yang mempunyai penyakit kronis seperti ca. mamae dapat menyebabkan depresi. 5. Aktivitas Mental yang Berlebihan Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi. 6. Penolakan Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak terpenuhi maka terjadilah depresi. III. GEJALA-GEJALA DEPRESI 1. Gejala Fisik dari Depresi Gangguan tidur, kelesuan fisik, hilangnya nafsu makan dan penyakit fisik yang ringan. 2. Gejala Emosional dari Depresi Kehilangan kasih sayang, kesedihan, hilangnya kekuatan, hilangnya konsentrasi, rasa bersalah, permusuhan dan hilangnya harapan. IV. PATOPSIKOLOGI Alam perasaan adalah kekuatan/ perasaan hati yang mempengaruhi seseorang dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya berada dalam afek yang tidak stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak pernah sedih, kecewa, takut, cemas, marah dan sayang emosi ini terjadi sebagai kasih sayang seseorang terhadap rangsangan yang diterimanya dan lingkungannya baik interenal maupun eksternal. Reaksi ini bervariasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai maladaptif.

Pohon Masalah Resiko tinggi terjadi kekerasan Yang diarahkan pada diri sendiri Akibat

Depresi

Core Problem

Harga diri rendah Koping individu tak efektif Koping keluarga tak efektif

Penyebab

Rentang Respon Respon adaptif Respon maladaptif

Responsif 1.

Reaksi kehilangan Supresi yang wajar

Reaksi kehilangan Mania/ yang memanjang Depresi

Reaksi Emosi Adaptif Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap rangsangan yang diterima dan berlangsung singkat. Ada 2 macam reaksi adaptif : a. Respon emosi yang responsif Keadaan individu yang terbuka mau mempengaruhi dan menyadari perasaannya sendiri dapat beradaptasi dengan dunia internal dan eksternal b. Reaksi kehilangan yang wajar Reaksi yang dialami setiap orang mempengaruhi keadaannya seperti : Bersedih Berhenti kegiatan seharihari Takut pada diri sendiri Berlangsung tidak lama.

2.

Reaksi Emosi Maladaptif Merupakan reaksi emosi yang sudah merupakan gangguan respon ini dapat dibagi 2 tingkatan yaitu :

a.

Supresi Tahap awal respon maladaptif individu menyangkal perasaannya dan menekan atau menginternalisasi aspek perasaan terhadap lingkungan

b.

Reaksi kehilangan yang memanjang Supresi memanjang mengganggu fungsi kehidupan individu Gejala : bermusuhan, sedih terlebih, rendah diri.

c.

Mania/ Depresi Gangguan alam perasaan kesal dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat dan menetap pada individu yang bersangkutan

V. TINGKAT DEPRESI 1. Depresi Ringan Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir komunikasi sosial dan rasa tidak nyaman. 2. Depresi Sedang a. Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis b. Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi verbal komunikasi non verbal meningkat. c. Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non verbal meningkat d. Partisipasi sosial : menarik diri tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung 3. Depresi Berat a. b. c. Gangguan afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang Gangguan proses pikir Sensasi somatik dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tibatiba hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan

B. I. 1. Faktor Predisposisi a. b.

ASUHAN GANGGUAN ALAM PERASAAN

KEPERAWATAN

KLIEN

DENGAN

PENGKAJIAN Faktor Genetik Dikaitkan dengan faktor keturunan Teori Agresi Berbalik pada Diri Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak mampu mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri c. Kehilangan Objek Pada masa kanakkanak jika terjadi kehilangan trauma d. Model Kognitif Depresi terjadi karena gangguan proses pikir penilaian negatif terhadap diri, lingkungan dan masa depan e. Teori Belajar Ketidakberdayaan Keadaan prilaku dan ciri kepribadian seseorang yang percaya bahkan dirinya kehilangan kontrol terhadap lingkungan Ditandai : tampak pasif, tidak mampu menyatakan keinginan, opini negatif tentang diri. 2. Faktor Presipitasi a. Putus/ Kehilangan hubungan Kehilangan pada kehidupan dewasa faktor predisposisi terjadi gangguan kehilangan nyata/ samar-samar Kehilangan orang yang dicintai Kehilangan fungsi tubuh Kehilangan harga diri b. Kejadian besar dalam kehidupan Peristiwa tak menyenangkan Pengalaman negatif dari peristiwa kehidupan depresi c. Perubahan peran faktor predisposisi terjadi gangguan pada masa remaja jika terjadi kehilangan

Peran sosial yang menimbulkan stressor : bertetangga, pekerjaan, perkawinan, pengangguran, pensiunan. d. Sumber koping tidak adekuat Sosial ekonomi, pekerjaan, posisi sosial, pendidikan Keluarga kurang dukungan Hubungan interpersonal isolasi diri/ sosial e. karena : Obat-obatan Penyakit fisik (infeksi, virus, tumor) timbul nyeri sehingga membatasi fungsi individu berinteraksi depresi 3. Prilaku Prilaku yang berhubungan dengan depresi : a. Afektif Marah, anxietas, apatis, perasaan dendam, perasaan bersalah, putus asa, kesepian, harga diri rendah, kesedihan. b. Fisiologis Nyeri perut, anorexia, nyeri dada, konstipasi, pusing, insomnia, perubahan menstruasi, berat badan menurun. c. Kognitif Ambivalen, bingung, konsentrasi berkurang motivasi menurun, menyalahkan diri, ide merusak diri, pesimis, raguragu. d. Prilaku Agitasi, ketergantungan, isolasi sosial, menarik diri. 4. Mekanisme Koping Reaksi berduka yang tertunda mencerminkan penggunaan eksagregasi dari mekanisme pertahanan penyangkal (denial) dan supresi yang berlebihan dalam upayanya untuk menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Depresi adalah suatu perasaan berduka abortif yang menggunakan mekanisme represi, supresi, denial dan disosiasi.. Perubahan Fisiologik Gangguan alam perasaan terjadi sebagai respon terhadap perubahan fisik oleh

II. 1. Tidak

DIAGNOSA KEPERAWATAN Gangguan alam perasaan: depresi a. Data subyektif: mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri. b. Data obyektif: Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang diseret.Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. 2. a. b. Koping maladaptif DS bahagia, tak ada harapan. DO dapat mengontrol impuls. : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak

Diagnosa Keperawatan a. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri berhubungan dengan depresi yang ditandai dengan ide bunuh diri. b. Depresi berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan perasaan tak berhjarga tidak ada harapan, murung dan merasa kosong.

c. Harga diri rendah berhubungn dengan koping individu tak efektif ditandai dengan keputusan, berpusat pada kegagalan d. Koping individu tak efektif berhubungan dengan koping keluarga tak efektif. III. PRIORITAS INTERVENSI Pada dasarnya intervensi difokuskan pada : 1. Lingkungan Prioritas utama dalam merawat klien depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan, jauhkan dari bendabenda berbahaya seperti : gunting, pisau, ciptakan lingkungan yang aman, kurangi rangsangan dan suasana terang. 2. Hubungan perawat klien Intervensi : Bina hubungan saling percaya dan hangat Bersikap empati Beri waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab Variabel harus bersedia menerima, diam, aktif dan jujur. 3. Afektif Tujuan Intervensi 4. Kognitif Tujuan : Bertujuan meningkatkan kontrol diri terhadap tujuan dan prilakunya, meningkatkan harga diri dan membantu memodifikasi harapan negatif Intervensi : Bantu klien mengkaji perasaan kaji klien tentang masalah Terima persepsi klien tapi tidak menerima kepuasan klien Bersamasama mendefinisikan masalah memberi klien control diri, harapan, realisasi bahwa perubahan mungkin terjadi 5. Intervensi Perilaku : Menerima dan menenangkan klien bukan mengembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir : Dorong klien untuk mengekspresikan pengalaman menyakitkan dan menyedihkan secara verbal

Tujuan Intervensi Tujuan Intervensi

: Mengaktifkan klien yang diarahkan pada tujuan realitas : Klien diberi tanggung jawab dalam aktivitas secara bertahap : Bantu klien meningkatkan ketrampilan sosial :

6. Intervensi Sosial

Kaji ketrampilan sosial, support dan interest klien Kaji sumber sosial yang tersedia Roleplay tentang situasi dan interaksi sosial Beri reinforcement positif tentang ketrampilan sosial yang efektif Dorong klien untuk memulai sosialisasi pada area yang lebih luas 7. Intervensi Fisiologis Tujuan : Meningkatkan status kesehatan klien, kebutuhan dasar seperti makan, minum, istirahat, kebersihan dan penampilan diri perlu mendapat perhatian khusus Intervensi : Termasuk perawatan fisik dan therapy somatik Jika klien tidak mampu merawat diri Bantu klien memenuhi kebutuhan nutrisi, tidur dan kebersihan diri. Therapi somatik : beri obat anti depressant yaitu : Tricylins dan monoamine oksidasi (MAO) D. EVALUASI Adanya perubahan respon maladaptif kearah adaptif klien dapat ; Menerima dan mengakhiri perasaannya dan perasaan orang lain Memulai komunikasi Mengontrol perilaku sesuai keterbatasannya Menggunakan proses pemecahan masalah.