Anda di halaman 1dari 8

Kelompok :I

1. 2. 3. 4. 5. 6. Eny Susyanti Galvani Volta Simanjuntak Mikael K. Osok Ni Putu Ayu Siti Rochani Th. Titin Marlina

Pembahasan Kasus 1 1. Self Awareness Emotional Self awareness: Tidak mengenal emosi dirinya sendiri yang harus ditunjukan oleh seorang Leader. Sehingga menimbulkan perilaku: Defensif dan tidak sabar terhadap kritik dan keluhan keluhan staf, cenderung memberikan perintah singkat, hal ini memberi dampak akan ketidak percayaan dari perawat di Unitnya. Accurate Self Assessment: Tifani mengetahui kekuatannya yaitu mampu membuktikan diri sebagai perawat yang kompeten. Hal ini adalah dasar promosi menjadi menajer Unit dan setelah menjadi manajer Unit dia juga mampu mengelola Logistik Unitnya. Namun kelemahannya adalah dia tetap menunjukan emosi negative dalam suasana konsultasi pada saaat staf menyampaikan keluhan. Dia tidak mampu untuk tetap sabar dan tenang bila menghadapi masalah dengan stafnya. Self Confiedence: Tidak percaya diri dimana, Tifany mulai takut pergi bekerja, dia merasa bahwa rekan rekan sebelumnya telah berbalik melawan dia dan tidak menghargai seberapa keras ia bekerja untuk mereka.

2.

Self Management Emotional Self-control: Tifani tidak mampu mengontrol emosinya, terbukti dari perkataannya: Aku terlalu sibuk untuk berbicara dengan Anda sekarang dan bukti lain juga bahwa Tifani mulai takut untuk pergi kerja karena ketidakmampuannya beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi. Dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat kerjaanya dan berpindah ke Agen Asuransi. Transparency: Tifani tidak dipercaya oleh para stafnya, tidak memiliki integritas, akutabilitas dan kredibilitas, yang dibuktikan dengan tidak mampu menyelesaikan masalah dengan stafnya tapi dia langsung membicarakannya kepada atasanya. Adaptability: Kemampuan adaptasi berakhir setelah 6 bulan dia bertugas, hal ini disebabkan karena dia tidak mampu mencari alternative pemecahan masalah di Unitnya. Achievement Orientation: Tifani adalah tipe Manajer yang berorientasi pada tugas bukan berorientasi pada relasi. Initiative: Tifani tidak memiliki Inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya, sehingga tidak ada perubahan dalam hubungan dengan staf di Unitnya. Optimism: Dalam menghadapi masalah sebagai Manajer Unit, Tifani pesimis: dia merasa rekan rekan sebelumnya telah berbalik melawan dia, dan tidak menghargai berapa keras dia bekerja untuk mereka. Dia memandang bahwa masalah di Unitnya muncul karena staf yang dia pimpin tidak mengambil tanggung jawab yang cukup untuk peran mereka di Unit.

3. Social Awareness Emphaty: Tifani tidak menunjukkan empati terhadap staf, karena dia tidak biasa mendengarkan kritik, keluhan dan aspirasi staf. Organization Awareness: Tifani tidak mengenal emosi kelompok dan kekuatan hubungan dengan staff kerjanya Tifani menganggap staffnya picik dan tidak bertanggung jawab. Tifani tidak menggunakan komunikasi asertif dan tidak mempunyai hubungan kerja yang baik dengan staff karena tidak ada kepercayaan. Service Orientation: Tifani berusaha untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan terpenuhinya logistic di Unitnya, namun Tifani tidak mampu melayani kebutuhan staffnya sebagai pelanggan internal.

4. Relationship Management Developing Others: Tifani tidak dapat memberdayakan staffnya, ia tidak mempunyai perencanaan untuk merubah pendekatan dengan staffnya. Tifani kurang peka akan pengembangan kebutuhan di Unitnya. Inspirational Leadership: Tifani tidak mampu membangkitkan semangat kerja staff, tidak mampu menjalin komunikasi yang efektif, dan tidak mampu memberikan arahan kapada staff. Change catalyst: Tifani tidak mampu untuk mengenal perubahan, tidak mampu menghilangkan hambatan dan tidak mampu menentukan arah perubahan Unitnya. Influence: Tifani tidak mampu untuk mempengaruhi orang lain.

Conflict Management: Tifani tidak mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak menemukan win win solution. Teamwork & collaboration : Tifani tidak dapat bekerja sama dalam team, dan lemah dalam kolaborasi.

KESIMPULAN : Tifani memiliki self awarness dan sosial awarness rendah, dia belum memiliki emotional inteleggent yang baik, ini dapat disebabkan karena kurangnya pengalama, Saran: Tifani harus lebih banyak lagi belajar mengenal dirinya sendiri, membuka diri terhadap lingkungan sosial, dan meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal dalan relasi dengan individu lainnya.

Pembahasan Kasus 2 1. Self Awareness Emotional Self awareness: Joni cukup mengenal emosi dirinya sendiri dengan menjadi pendengar yang baik. Joni percaya pada kemampunnya sendiri untuk belajar dan menyadari bahwa dia butuh perencanaan yang sistimatis dan komprehensif dalam menjalankan tugas barunya. Accurate Self Assessment: Dengan pengalaman kerja selama 11 tahun maka Joni sudah sanggat mengenal kekuatan dan kelamahan dirinya. Dia tahu kapan harus menjadi pendengar yang baik dan menganalisa masalah yang ditemukan dilapangan dengan menerima umpan balik, untuk selanjutnya menyusun strategi bahkan meminta saran pada manajer dan perawat pendidik tempat dia terdaftar sebagai mahasiswa master. Dari berbagai pertemuannya, mendengar curhat karyawan, dia tidak membiarkan dirinya bersikap defensive dan marah. Self Confiedence: Joni memiliki kepercayaan diri yang tinggi, untuk belajar segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara sistematis dan komprehensif.

2. Self Management Emotional Self-control : Joni mampu mengontrol emosinya, dengan tidak berusaha untuk menanggapi, sebaliknya ia menyatakan bahwa ia hanya mencoba belajar tentang masalah yang dihadapi sehingga ia bisa

mengumpulkan beberapa ide tentang bagaimana untuk maju atau berkembang. Transparency: Joni hanya menemukan sedikit perlawanan dalam 12 bulan pertamannya di Rumah Sakit, banyak karyawan yang mau bekerjasama dengan

Joni karena dia dapat dipercaya dan mempunyai integritas yang tinggi dan berbekal pengalamannya dapat diandalkan. Adaptability: Joni memiliki adaptasi yang baik, dia mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan semua pihak lain di Rumah Sakit. Sehingga dia mampu mengindentifikasi area area yang bermasalah dan kebutuhan perubahan yang diperlukan. Achievement Orientation: Joni menekankan pada tantangan mutu,

dikombinasikan dengan rekomendasi kekurangan kekurangan dari lembaga akreditasi seperti metode pengukuran baru, penataan Quality improvement dan perubahan personil. Sehingga dalam waktu 6 minggu, Joni memiliki rencana kerja yang telah disetujui. Initiative: Joni Memiliki Inisiatif untuk berkolaborasi dalam menyusun rencana strategis dengan pemimpin Formal, Informal dan Tim eksekutif untuk mendapat koreksi dan saran serta persetujuan. Sehingga banyak karyawan yang mau bekerjasama untuk bergerak maju sesuai inisiatif yang dia usulkan. Optimism: Joni mendapat banyak dukungan sehingga dia optimis untuk dapat menyelesaikan rencana kerjanya sebagai manajer mutu.

3. Social Awareness Emphaty: Joni memahami kebutuhan mutu Rumah Sakit tempat dia bekerja, dan dia menyadari bahwa dibutuhkan rencana yang sistematis dan komprehensif sehingga selama beberapa minggu berikutnya dia berbicara kepada karyawan karyawan di Rumah Sakit dan beberapa dokter di posisi kepemimpinan. Sikap empatinya yang tinggi memudahkan dia mengenal orang lain.

Organization Awareness: Joni mampu memahami kebutuhan organisasi tempat dia bekerja saat ini dan mencoba memahami budaya kerja organisasi dengan melakukan pendekatan pendekatan. Joni mengambil nilai yang positif dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan organisasi. Kemampuan Joni mengenal emosi kelompok diapresiasi dengan baik dan memperkuat hubungan dengan staff kerjanya. Service Orientation: Joni mengidentifikasi berbagai proses dan intervensi yang akan dibutuhkan dalam berbagai area. Orientasi terhadap peningkatan kualitas, perubahan metode baru, penambahan personal termasuk pelatihan individu dan kelompok.

4.

Relationship Management Developing Other: Joni memiliki kepekaan dalam kebutuhan pengembangan dan memperkuat pengembangan dengan penataan QI, perubahan metode pengukuran baru, perubahan personel, pelatihan individu dan kelompok serta perubahan structural dan fasilitas. Inspirational Leadership: sebagai pemimpin Joni mempunyai visi, mampu berkomunikasi efektif dan menjadi role model bagi staf yang dipimpinnya. Change catalyst: Joni mampu menjadi fasilitator dalam perubahan sekaligus memberikan arah pada perubahan tersebut melalui rencana kerja yang telah disetujui. Influence: sebagai pemimpin, Joni mampu mempengaruhi orang lain untuk bekerja, bergerak dan bekerjasama sesuai dengan yang dia harapkan.

Conflict Management: Joni mampu memahami semua perspektif baik dari surveyor akreditasi, karyawan Rumah Sakit yang menerima agenda kualitas dari CEO dan pemimpin formal dan informal yang dia temui. dapat memahami semua perspektif dan negosiasi dari staf yang dipimpinnya. Dengan perspektif dari berbagai pihak tersebut ia mampu melakukan negosiasi untuk mencapai tujuan. Teamwork & collaboration: Joni sebagai tim leader yang mampu bekerjasama secara horizontal dan vertical.

KESIMPULAN: Sebagai pemimpin, Joni memiliki kapabiltas untuk mengelola perbaikan mutu di Rumah Sakit Komunitas, Joni memiliki personal competence yang meliputi self management dan self awareness. Hal lain yang juga dikuasai dengan baik adalah social competence yang meliputi social awareness dan relationship management.

Komentar Kelompok: Dengan menganalisa kedua kasus di atas dapat menjadi pembelajaran bahwa pemimpin yang baik didukung oleh pengalaman dan kecerdasan emosional yang matang.