Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Menua (menjadi tua) adalah suatu proses secra perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus menerus berlanjut secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit, dan terjadi juga pada sistem pencernaan. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman panca indera, menurunnya daya tahan tubuh , lebih mudah terkena konstipasi merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka masih harus berhadapan dengan kehilangan peran diri, kedudukan sosial serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu,

kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran. Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit yang sering ditemukan pada pasien geriatri. Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 1530% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun. Ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin atau inkontinensia jarang dikeluhkan oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu yang biasa, malu atau tabu untuk diceritakan pada orang lain maupun pada dokter, dianggap sesuatu yang wajar tidak perlu diobati. Inkontinensia urine bukan penyakit, tetapi merupakan gejala yang menimbulkan gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta dapat menurunkan kualitas hidup (Rochani, 2002). Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000). B. TUJUAN 1. Mengetahui dan memahami mengenai definisi inkontinensia urin pada lanjut usia. 2. Mengetahui dan memahami mengenai etiologi inkontinensia urin pada lanjut usia. 3. Mengetahui dan memahami mengenai faktor predisposisi atau faktor pencetus inkontinensia urin pada lanjut usia. 4. Mengetahui dan memahami mengenai patofisiologi inkontinensia urin pada lanjut usia. 5. Mengetahui dan memahami mengenai tanda dan gejala inkontinensia urin pada lanjut usia.

6. Mengetahui dan memahami mengenai pemeriksaan penunjang pada lanjut usia. 7. Mengetahui dan memahami mengenai pathway inkontinensia urin pada lanjut usia. 8. Mengetahui dan memahami mengenai asuhan keperawatan inkontinensia urin pada lanjut usia.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR 1. Pengertian BPH (Benign Prostatic Hyperlansia) Benigna prostat hipertrofi adalah pembesaran progresif pada kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih dari 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius. (Doengoes, 2000: 67) Masalah yang sering di alami seorang pria usia lanjut yang berhubungan dengan sistem perkemihan adalah Benign Prostatic Hyperlasia (BPH). Prostat adalah organ perkemihan yang sering mengalami neoplasma : Benigna atau Maligna. Masalah ini sering terjadi pada 50 % pria diatas usia 50 tahun, dan 75 % pria di atas 70 tahun. Di Indonesia insiden ini akan banyak ditemukan sehubungan dengan semakin banyaknya usia lanjut karena meningkatnya usia harapan hidup. Dengan demikian akan banyak pula kasus ini tinggal rawat di rumah sakit yang pada umumnya berindikasi pembedahan.

Pada kondisi ini, sebagai seorang perawat akan sering diperhadapkan dengan masalah keperawatan yang terkait dengan kasus BPH terutama yang berhubungan dengan tindakan pembedahan. Oleh karena itu perawat perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menangani klien BPH khususnya dalam asuhan keperawatan perioperatif (pra bedah, intra bedah, dan pasca bedah).

2. Pengertian Inkotenensia Urin Inkontinensia urin merupakan kehilangan kontrol berkemih yang bersifat sementara atau menetap. Klien tidak dapat mengontrol sfingter uretra eksterna. Merembesnya urine dapat berlangsung terus menerus atau sedikit sedikit (Potter dan Perry, 2005).

Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

B. ETIOLOGI 1. BPH (Benign Prostatic Hyperlansia) BPH adalah pembesaran jaringan kelenjar prostat yang bersifat jinak. Walaupun tidak diketahui secara pasti penyebabnya sebab bersifat universal terjadi pada usia lanjut. Namun demikiandiperkirakan bahwa peningkatan jumlah sel prostat sebagai hasil dari adanya perubahan endokrin yang berhubungan dengan proses penuaan. Terjadinya akumulasi dihydroxytestosteron (hormonm androgen utama dalam kelenjar prostat), stimulasi estrogen, dan aktifitas hormon pertumbuhan lokal lainnya dianggap berperan dalam terjadinya BPH (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000) Demikian pula dengan faktor yang berhubungan dengan diet, pengaruh inflamasi kronik, faktor sosial ekonomi, herediter, dan ras semuanya dapat dipertimbangkan berperan dalam terjadinya BPH (Black & Jacobs, 1997).

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperflasia prostat adalah: a. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut b. Peranan dari growth factor sebagai pemicu pertumbuhan stoma kelenjar prostat c. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati d. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menebabkan menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi kelenjar prostat menjadi berlebihan (poenomo, 2000, hal 74-75).

2. Inkontenensia Urin Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine C. FAKTOR RESIKO BPH sering ditemukan pada seorang pria lanjut usia, oleh karena itu tidak ada pencegahan utamanya. Pria dengan kastraksi atau yang mengalami hypogonadism sebelum pubertas atau pada pria awal dewasa jarang mengalami BPH. Insiden meningkat pada pria kulit hitam, dan kurang pada pria Asia (Black & Jacobs, 1997). Yang utama adalah deteksi dini merupakan pencegahan sekunder yang terbaik. Deteksi dini diperlukan guna menangani secara cepat sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan obstruksi saluran perkemihan bagian bawah.. Sebaiknya pemeriksaan prostat sudah dilakukan pada usia 40 tahun.

Sedangkan pada inkotenensia, faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul (Darmojo, 2009).

D. PATOFISIOLOGI 1. BPH (Benign Prostatic Hyperlansia) BPH sering terjadi pada pria yang berusia 50 tahun lebih, tetpai perubahan mikroskopis pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Penyakit ini dirasakan tanpa ada gejala. Pembesaran prostat yang bersifat junak adalah peningkatan secara abnormal jumlah sel normal(hyperlasia) dalam prostat, agaknya juga terjadi pembesaran sel-sel

prostat(hypertrophy). Kelenjar periurethral yang mengalami hiperplasi pada usia lanjut yang secara bertahap bertumbuh dan menekan pada sekeliling jaringan prostat yang normal yang mendorong kelenjar kedepan, dan membentuk kapsul. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat pembesaran prostat termasuk hambatan aliran urin dan juga akan mengakibatkan terjadinya urinary reflux (backward flow) yang akan menyebabkan dekompensasi uretrovesical junction. Akibat dekompensasi menyebabkan peningkatan tekanan kandung kemih yang lama, menipisnya dinding kandung kemih akibat peregangan dan memudahkan terjadinya infeksi kandung kemih atau terbentuknya batu kandung kemih. Akibat tekanan kandung kemih, ureter akan mengalami tekanan dan obstruksi sehingga dapat menyebabkan hydroureter dan selanjutnya dapat menyebabkan

hydronephrosis,akibatnya piala ginjal dan kaliks akan mengalami distensi dan jaringan parenkim ginjal akan mengalami atrofi. Selanjutnya obstruksi yang terjadi bila berlangsung lama atau mengalami reflux akan menyebabkan terjadinya insufisensi renal.

2. Inkontenensia Urin Pada lanjut usia inkontinensia urin berkaitan erat dengan anatomi dan fisiologis juga dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis dan lingkungan. Pada tingkat yang paling dasar, proses berkemih diatur oleh reflek yang berpusat di pusat berkemih disacrum. Jalur aferen membawa informasi mengenai volume kandung kemih di medulla spinalis (Darmojo, 2000). Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih melalui penghambatan kerja syaraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung kemih yang dipersarafi

oleh saraf simpatis serta saraf somatic yang mempersyarafi otot dasar panggul (Guyton, 1995). Pengosongan kandung kemih melalui persarafan kolinergik parasimpatis yang menyebabkan kontraksi kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung kemih berkurang. Jika kortek serebri menekan pusat penghambatan, akan merangsang timbulnya berkemih. Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini dapat disebabkan karena usia sehingga lansia sering mengalami inkontinensia urin. Karena dengan kerusakan dapat mengganggu kondisi antara kontraksi kandung kemih dan relaksasi uretra yang mana gangguan kontraksi kandung kemih akan menimbulkan inkontinensia (Setiati, 2001).

E. MANIFESTASI KLINIS 1. BPH (Benign Prostatic Hyperlansia) Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai lower urinary Tract Symtoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan gejala obstruktif. a. Gejala iritatif Yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), nyeri pada saat miksi (disuria).

b. Gejala Obstruktif Yaitu pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau miksi menunggu lama (hesistensi), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency) dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urine dan inkontinensia karena overlow. Tanda dan gejala pada pasien yang telah lanjut penyakitnya yaitu gagal ginjal, peningkatan tekanandarah denyut nadi, respirasi. Tanda dan gejala dapat dilihat dari stadiumnya 1) Stadium I Ada obstruksi tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis

2) Stadium II Ada retensi urine tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisi 50-150 cc, ada rasa tidak enak pada waktu BAK (disuria), nokturia. 3) Stadium III Urine selalu tersisa 150 cc atau lebih 4) Stadium IV Retensi Urine total buli-buli penuh, pasien kesakitan, urine menetes secar periodik. (Depkes, 1996, hal 109)

Untuk mengukur besarnya BPH dapat dipakai berbagai pengukuran, yaitu: a. Rectal Grading Dengan rectal toucher diperkirakan seberapa prostat menonjol ke dalam lumen dari rectum. Rectal toucher sebaiknya dilakukan dengan buli-buli kosong karena bila penuh dapat membuat kesalahan. Gradasi ini sebagai berikut: 0-1 cm . . . . . . . grade 0 1-2 cm . . . . . . . grade 1 2-3 cm . . . . . . . grade 2 3-4 cm . . . . . . . grade 3 >4 cm . . . . . . . grade 4

b. Clinical Granding Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa Urine Sisa urine Sisa urine 0 cc . . . . . . . . . . . . . . . normal 0-50 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 1

Sisa urine 50-150 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 2 Sisa urine >150 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 3

Sama sekali tidak bisa kencing . . . . . . . grade 4

c. Beberapa upaya untuk mengkaji BPH : Lakukan pemeriksaan fisik secara umum , termasuk digital rectal examination (DRE). Pemeriksaan laboratorium : Darah, urine, dan fungsi ginjal. X-ray termasuk intravenous pyelogram dan cystosgraphy prosedur tindakan lain : misalnya kakaterisasi dan cystoscopy.

2. Inkontenensia Urine a. Inkontinensia stres: keluarnya urin selama batuk, mengedan, dan sebagainya. Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stres. b. Inkontinensia urgensi: ketidakmampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih. c. Enuresis nokturnal: 10% anak usia 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun mengompol selama tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang abnormal dan menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak stabil. d. Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi (pancara lemah, menetes), trauma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal), fistula (menetes terus-menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus besar) atau penyakit sistemik (misalnya diabetes) dapat menunjukkan penyakit yang mendasari.

F. KOMPLIKASI Klien BPH akan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih akibat kandung kemih tidak mengalami pengosongan sempurna yang disebabkan oleh adanya obstruksi sebagian atau total pada bagian proksimal uretra. Urin residu akan merupakan lingkungan yang baik sebagai tempat berkembang biaknya bakteri. Batu dapat teerbentuk sebagai akibat terjadinya alkalinization dari urine residu. Robekanpembuluh darah akibat peregangan yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya

10

hematuria. Peningkatan tekanan pada kandung kemih akan menyebabkan dinding kandung kemih mengalami peregangan dan menyebabkan terbentuknya divertikula. Komplikasi yang sangat serius akibat retensi urin adalah disfungsi kandung kemih, hydroureter, kerusakan jaringan parenkim ginjal akibat hydronephrosis, dan terjadi pyelonephritis. Dan komplikasi di atas dapat menyebabkan gagal ginjal.

G. PENATALAKSANAAN 1. BPH (Benign Prostatic Hyperlansia) Tujuan penanganan medik yaitu memperbaiki aliran urin dari kandung kemih, mengurangi/menghilangkan gejala-gejala, dan mencegah atau menangani komplikasi akibat BPH. Apabila ditemukan klien berindikasi peningkatan obstruksi urethra,dilakukan tindakan penanganan sesuai dengan indikasi. Berbagai tindakan sebagai pilihan penanganan BPH dapat dikategorikan dalam tindakan pengobatan, nonsurgical invasive (invasif tanpa tindakan pembedahan, dan surgical invasive (tindakan invasif dengan pembedahan). a. Terapi Pengobatan : Pemberian hormon dapat mengurangi/menghambat pertumbuhan jaringan melalui penghambatan hormon adrogen. Pengobatan dilakukan secara kontinu. Efek samping dari pengobatan ini adalah disfungsi ereksi, dimana ditemukan 10 % dari klien mengalami penurunan libido( Lewis,Heitkemper & Dirksen, 2000). Pengobatan herbal dapat digunakan untuk klien BPH.

b. Nonsurgical Invasive : Pemasangan indwelling kateter secara temporer dapat digunakan untuk mengurangi gejala. Pemasangan kateter dalam waktu yang lama agar dihindari guna mencegah terjadinya risiko infeksi. Pemasangan Ballon dilatasi dalam uretra untuk meregangkan uretra sehingga aliran urin menjadi bebas dan lancar. Tindakan pemasangan ballon ini merupakan tindakan yang tidak permanen (bersifat sementara).

11

c. Surgical Therapy : Tindakan pembedahan dilakukan guna mnengatasi adanya obstruksi urin akibat BPH. Bagian dari kelenjar prostat yang menyebabkan obstruksi dilakukan pengangkatan yang disebutProstatectomy. Indikasi prostatectomy adalah sebagai berikut ; Bagian atas saluran kemih mengalami dilatasi (hydroureter, hydronephrosis) dan adanya gangguan fungsi ginjal. Nyeri yang hebat. Total urinary obstruction. Pengobatan yang diberikan kurang berespon. Adanya batu kandung kemih, sebagai bukti adanya obstruksi yang lama sehubungan dengan BPH dan adanya infeksi. Obstruksi yang lama dengan adanya hydroureter dan hydronephrosis yang mengganggu fungsi ginjal. Hematuria yang lama dan hebat. Menurunnya kualitas hidup sebagai akibat BPH. Retensi urinary yang kronik. Adanya infeksi saluran kemih yang berulang-ulang.

2. Inkontenensia Urine a. Latihan otot-otot dasar panggul Latihan penyesuaian berkemih Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen Tindakan pembedahan memperkuat muara kandung kemih b. Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan dan lain-lain keadaan patologik yang menyebabkan iritasi pada saluran kemih bagian bawah. c. Terapi non farmakologi Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah : 1) Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam.

12

2) Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaan lansia. 3) Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir). d. Terapi farmakologi Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine. Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat. e. Modalitas lain Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet seperti urinal, komod dan bedpan. 1) Pampers Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi dimana pengobatan sudah tidak berhasil mengatasi inkontinensia urin. Namun pemasangan pampers juga dapat menimbulkan masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni melebihi daya tampung pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit menjadi lembab, selain itu dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan alergi. 2) Kateter Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karena dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukan batu. Selain kateter menetap, terdapat kateter sementara yang merupakan alat yang secara rutin digunakan untuk mengosongkan kandung kemih. Teknik ini

13

digunakan pada pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini juga beresiko menimbulkan infeksi pada saluran kemih. 3) Alat bantu toilet Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjut yang tidak mampu bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebut akan menolong lansia terhindar dari jatuh serta membantu memberikan kemandirian pada lansia dalam menggunakan toilet.

14

Asuhan Keperawatan pada Klien BPH:

Perawat sangat berkepentingan dalam asuhan keperawatan klien, karena pada umumnya klien BPH tinggal rawat di rumah sakit karena dilakukan pembedahan. Fokus asuhan keperawatan terutama pada pra-bedah dan pasca-bedah. Pengkajian Keperawatan : Data objektif dan data subjektif harus dikumpulkan dari klien BPH, yaitu : Data Subjektif : - Informasi tentang status kesehatan : Pengobatan : testosteron dan estrogen yang diberikan pada klien sebagai pengobatan BPH. - Persepsinya tentang kesehatan : pengetahuan sehubungan dengan BPH, kurang minum pola eliminasi : berkemih yang mendesak (uninary urgency), aliran urin yang lemah, merasa tidak sempurna dalam berkemih, urin menetes, retensi urin, inkontinen, nocturi - Persepsi kognitif : dysuria, merasa kurang nyaman pada kandung kemih. - Reprodusi/Seksual : Kecemasan tentang disfungsi seksual. Data Objektif : - Umumnya terjadi pada pria lanjut usia. - Adanya distensi kandungkemih teraba pada palpasi, dan teraba adanya pembesaran pada prostat (dilakukan pemeriksaan rektal). - Ditemukan pembesaran prostat pada ultrasonography, pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekosit, bakteri, atau hematuria, meningkatnya BUN dan kreatinin serum A. Asuhan Keperawatan sebelum pembedahan : Pengkajian : Klien mungkin secara samar-samar mengetahui tentang mengapa kelenjar prostat membesar, dan klien mungkin merasa ketakutan sehubungan dengan pengkajian/test dan hasilnya. Hati-hati menjelaskan setiap bagian dari proses pengakajian yang dilakukan. Bila perlu perlihatkan pada klien/keluarganya gambar organ reproduksi dan kelenjar prostat dan jelaskan pengaruh adanya pembesaran prostat dengan ekresi urin.

15

Tanyakan pada klien manifestasi klinik yang terjadi pada klien termasuk pola berkemih, adanya urgency, frequency, menurunnya atau terjadinya gangguan aliran urin, hambatan berkemih, dan nocturia. Tanyakan juga kemungkinan adanya hematuria. 1. NDx : Retensi urin berhubungan dengan Pembesaran prostat/obstruksi urethra. Tujuan : Klien akan bebas dari gejala-gejala BPH ditandai dengan : tidak ditemukan adanya Frequency, urgency, hesitancy, aliran yang melemah, retensi, atau nocturia. Implementasi ; - Observasi kekuatan aliran urin. Rasional : Aliran yang melemah, menunjukkan adanya obstruksi pada saluran perkemihan bagian bawah. - Lakukan perkusi/palpasi area suprapubis. Rasional : Distensi kandung kemih dapat dirasakan pada area suprapubis. - Monitor vital sign, observasi kemungkinan hipertensi, edema perifer, perobahan kesadaran. Rasional : Kehilangan fungsi ginjal akan menghasilkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi zat-zat toksik. - Berikan rendaman hangat bila ada indikasi. Rasional : Memungkinkan relaksasi otot, menurnkan edema, dan dapat mendorong terjadinya pengosongan. - Pasang indwelling kateter sesuai indikasi. Rasional : Indwelling kateter sebagai alat memperetahankan aliran urin dari kandung kemih secara adekuat/lancar. 2. NDx : Nyeri akut sehubungan dengan adanya iritasi mukosa sebagai akibat adanya distensi kandung kemih Tujuan : Klien akan melaporkan nyeri terkontrol/berkurang, ditandai dengan ; - Klien nampak relaksasi. - Tidur cukup. - Melaporkan nyeri hilang/berkurang. - Vital sgn dalam batas normal. Implementasi : - Kaji adanya nyeri. Rasional : Nyeri akibat obstruksi saluran kemih dirasakan pada area sekitar kandung

16

kemih/suprapubis. - Lakukan tindakan relaksasi misalnya deep breathing exercise atau pengalihkan perhatian dengan memberikan aktifitas yang bervariasi. Rasional : Meningkatnya relaksasi, mengalihkan perhatian akan meningkatkankemampuan koiping klien. - Gunakan rendaman air hangat terutama pada daerah genitalia dan sekitarnya. Rasional : Rangsang hangat akan mengakibatkan vasodilatasi, sehingga akan terjadi relaksasi. - Pertahankan tirah baring . Rasional : Nyeri akan meningkatkan stres sehingga penggunaan energi akan meningkatkan. Energi diperlukan untuk mendorong kekuatan/desakan pengeluaran urin. - Pasang indwelling kateter. Rasional : Mengeluarkan urin akan mengurangi distensi kandung kemih dan mencegah kegelisahan klien. - Diskusikan dengan dokter tentang pemberian obat : - Golongan narkotik Rasional : Memberikan relaksasi fisik dan mental. - Antibiotik Rasional : Mencegah adanya bakteri dalam saluran kemih. 3.NDx : Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi/pemahaman tentang penyakit, manifestasinya, dan tindakan. Tujuan : Klien akan meningkat pengetahuannya tentang penyaki, manifestasi dan tindakan yang d ilakukan, yang ditandai dengan : - Klien menunjukkan kepatuhan dalam menjalani tindakan/pengobatan. - Klien pernyataan klien mendukung tindakan yang diberikan. - Klien mampu menjelaskan kembali tentang pengetahuan, manfestasi penyakit dan tindakan yang dilakukan. Implementasi : - Dorong klien untuk mengungkapkan ketakutannya/perasaannya dan keprihatinannya. Rasional : Klien merasa diberi perhatian serius, klien yakin perawat akan membantu dengan baik. - Berikan informasi bahwa penyakit ini bukan akibat hubungan seksual.

17

Rasional ; Informasi yang adekuat akan mengurangi kecemasannya. - Sarankan:untuk menghindari minuman yang beralkohol/stimulan. Rasional : Stimulan akan meningkatkan GFR sehingga produk urin akan meningkat sehingga distensi kandung kemih akan bertambah. - Diskusikan dengan dokter tentang pemberian informasi mengenai penyakit dan tindakannya. Rasional : Pemahaman yang keliru tentang penyakit dan tindakannya/pengobatan akan meningkatkan kecemasannya atau kurang kooperatif dalam tindakan yang dilakukan. B. Asuhan Keperawatan Perioperatif : Pengkajian : Kaji kemampuan klien mengosongkan kandung kemihnya. Kandung kemih klien di palpasi kemungkinan adanya distensi kandung emih. Palpasi dilakukan di area suprapubis. Jika klien tidak dapat berkemih dengan sempurna, pertimbangkan kemungkinan pemasangan indwelling kateter. Oleh karena itu kaji adanya kebutuhan pemasangan kateter. Pada pengkajian pra-bedah, perhatikan pengkajian yang berhubungan dengan aspek fisik dan psikososial. Kaji tingkat pengetahuan klien sehubungan dengan pembedahan dan hasilnya. Oleh karena banyak jenis tindakan pembedahan yang dapat dilakukan, jadi mungkin klien tidak mengerti implikasi dari tindakan yang akan dilakukan. implikasi dari tindakan yang diterima klien. 1. NDx : Ketakutan sehubungan dengan masalah yang dialami saat ini, tindakan dan fungsi seksual Tujuan : Klien akan dapat mengontrol ketakutannya ditandai dengan pernyataan sehubungan dengan pemahamannya yang adekuat, kemampuan untuk bertanya secara jelas, dan kemampuan untuk berisitrahat dengan baik. 2. NDx : Nyeri akut sehubungan dengan tindakan invasif/edema daerah trauma. Ditandai dengan : Klien melaporkan nyeri, gelisah, murung, perhatian terfokus, respon otonomi. pada dirinya, ketegangan otot. Tujuan : Klien akan melaporkan bahwa nyeri terkontrol /berkurang., ditandai dengan : - Klien nampak relaksasi. - Tidur cukup. - Tenang.

18

Implementasi : - Kaji tingkat nyeri, radiasi, dan tanda-tanda vital. Rasional : Semakin kearak skor yang tinggi semakin menunjukkan tingkat nyeri hebat. Bila ditemukan peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan klien dalam kondisi stres akibat nyeri. - Jelaskan pada klien terjadinya nyeri. Rasional : Pemahaman yang keliru tentang nyeri akan meningkatkan stress sehingga nyeri akan semakin meningkat intensitasnya. - Kaji kemungkinan terjadinya distensi kandung kemih setelah pembedahan. Rasional : Distensi kandung kemih terjadi sebagai akibat sumbatan bekuan darah pada saluran perkemihan. Peregangan kandung kemih akan menyebabkan nyeri. - Kolaborasi : Obat analgetik atau antispasmodik. Rasional : Obat ini akan mengurangi nyeri dan mencegah terjadinya spasme kandung kemih - Berikan diet tinggi serat. Rasional : Diet rendah serat akan mendorong klien mengedan saat defekasi sehingga menimbulkan tarikan/regangan pada area jahitan atau menyebabkan perdarahan. 3, NDx : Risiko terjadinya injury sehubungan dengan adanya pemasangan kateter, irigasi atau drai pada suprapubis. Tujuan : Klien akan bebas dari injury seperti adanya infeksi, sumbatan kateter, atau injury akibat pemasangan kateter. Ditandai dengan ; - Tidak ada demam. - Laboratorium lekosit normal. - Penyembuhan luka pembedahan baik. - Katater berfungsi dengan baik. - Tidak ada perdarahan. - Aliran urin lancar. Implementasi : - Kaji aliran urin melalui kateter. Rasional : ketidaklancaran aliran urin melalui kater sebagai akibat adanya sumbatan bekiuan darah pada lumen kateter. - Lakukan irigasi kandung kemih melalui kateter.

19

Rasional : irigasi akan mempertahankan aliran lancar dan membersihkan kandung kemih dari bekuan darah dan jaringan nekrotis lainnya sehingga urin warna urin kembali normal, dan mencegah terjadinya overdistensi kandung kemih yang dapat menyebabkan perdarahan. - Berikan informasi kepada klien tentang pemasangan drain dan kateter. Rasional : Kurangnya pengetahuan klien tentang tindakan yang dilakukan akan memungkinkan klien menarik/memegang kateter/drain. - Observasi keadaan luka pembedahan apakah ada tanda-tanda radang. Rasional : Adanya edema, kemerahan pada permukaan kulit di area pembedahan menunjukkan terjadinya infeksi skunder. - Pertahankan tehnik aseptik terutama saat perawatan luka pembedahan, hindari lakukan enema, rectal tube, atau pemasangan termometer rektal.

20

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan makalah diatas dapat kita menarik suatau kesimpulan bahwa BPH adalah pembesaran jaringan kelenjar prostat yang bersifat jinak. Walaupun tidak diketahui secara pasti penyebabnya, sebab bersifat universal terjadi pada usia lanjut. Namun demikian diperkirakan bahwa peningkatan jumlah sel prostat sebagai hasil dari adanya perubahan endokrin yang berhubungan dengan proses penuaan. Juga dilihat dari perjalanan penyakit dari BPH adalah antara lain : Pembesaran prostat yang bersifat junak adalah peningkatan secara abnormal jumlah sel normal(hyperlasia) dalam prostat, agaknya juga terjadi pembesaran sel-sel prostat(hypertrophy). Kelenjar periurethral yang mengalami hiperplasi pada usia lanjut yang secara bertahap bertumbuh dan menekan pada sekeliling jaringan prostat yang normal yang mendorong kelenjar kedepan, dan membentuk kapsul.

21