P. 1
Buletin Terobosan Edisi Interaktif Sumpah Pemuda

Buletin Terobosan Edisi Interaktif Sumpah Pemuda

|Views: 23|Likes:
Dipublikasikan oleh Terobosan Masisir
Buletin Terobosan adalah media independen yang dikelola oleh mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Mesir. Terbit pertama kali sejak 21 Oktober 1990.
Buletin Terobosan adalah media independen yang dikelola oleh mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Mesir. Terbit pertama kali sejak 21 Oktober 1990.

More info:

Published by: Terobosan Masisir on Apr 20, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

Edisi Interaktif Sumpah Pemuda 30 Oktober 2012

Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Demi menumbuhkan rasa nasionalisme, PPMI menggelar rangkaian acara peringatan hari sumpah pemuda.
Simak Laporan Utama hal 4-5

Sekapur Sirih, Keabadian Menulis, Halaman 2 Sikap, Musik Sebagai Alat Pemersatu, Halaman 3 Laporan Utama, PPMI Memperingati Sumpah Pemuda. Halaman 4-5 Seputar Kita, KNRP Menggelar Konser Amal Untuk Rakyat Palestina, Halaman 5. Kometar Peristiwa, Semrawutnya Lalu Lintas Acara Masisir, Halaman 6 Strategi, Jong Java dan Jong Islamieten Bond Tentang Nasionalisme Kebangsaan, Halaman 7 Sketsa, Sumpah Pemuda, Halaman 8 Sastra, Satu Sama, Halaman 9 Opini, Tetaplah Menjadi Aisyah dan Kartini, Halaman 10 Kolom, Pemuda Utopia, Halaman 11

Selamat Membaca! Santai dan penting dibaca Tajam tanpa melukai Kritis tanpa menelanjangi

TëROBOSAN ADVERSITING

Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia sebagai media informasi, opini dan komunikasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Redaksi menerima tulisan dari pelbagai pihak dan berhak mengeditnya tanpa menghilangkan makna dan tujuan.

Sekapur Sirih
anak sekarang lebih suka main video game daripada baca komik, novel, ataupun cerita silat. Memang harus diakui, bahwa anak sekarang dengan anak dulu memang beda. Sekarang zaman visual, dimana anak sudah merasa terhibur hanya dengan bermain video game ataupun nonton film. Kita tidak perlu membaca sejarah lagi, dan kita juga tidak perlu membaca novel lagi karena sudah banyak yang difilmkan. Memang itu juga tidak salah, tapi semua itu tidak akan bisa mengalahkan kedalaman dari membaca buku itu sendiri. Ada apa dengan dunia tulis-menulis kita, hingga sampai saat ini saya masih belum mengetahui karya anak bangsa yang benar-benar hebat, hingga membuat dunia luar pun harus angkat topi. Padahal kalau kita berpikir lebih dalam, kita benar -benar dimudahkan dengan kecanggihan teknologi. Bayangkan seperti penulis ataupun sastrawan zaman dulu seperti Pramoedya Ananta Toer, dulu belajar sendiri, dia buat kliping agar bisa menggambarkan secara detail pohon-pohon dan suasana kota di Indonesia pada awal abad 19an. Dari situ kita bisa membayangkan bagaimana kegigihan dan ketekunan beliau. Dan zaman sekarang, semua serba mudah dan serba cepat. Jika ingin menggambarkan suasana kota eropa ataupun timur tengah, kita tidak perlu harus pergi jauh-jauh kesana, atau pergi modarmandir dari toko buku satu ke yang lainnya. Hanya untuk mencari buku ataupun Koran yang menjelaskan masalah itu. Kita hanya butuh “klik” (Google) maka apa yang akan kita cari akan keluar, dan kita bisa menghemat waktu lebih banyak. Bayangkan hanya tinggal ‘’klik’’. Dunia ini memang tidak ada yang sempurna, adapun kelebihan seberapa cepat dan mudah kita mengakses data, juga ada kekurangan. Yaitu, semakin malas menghapal. Toh, kita hanya mencari setelah menemukan kita hanya tinggal menyimpan saja, adapun menghapal tergantung dari pribadi masing-masing. Tapi dari situ kita bisa mencari data sebanyak-banyaknya dan memperkuat analisa atau imajinasi kita, sehingga data -data itu saling terhubung dan menghasilkan suatu karya tulis. Buat kawan-kawan Masisir, mari kita bangkitkan lagi dunia tulis-menulis. Selagi kita disini, banyak sekali media yang membantu anda untuk meningkatkan kemampuan menulis anda. Selamat belajar!!![ë]

Keabadian Menulis
Ayo menulis!!! Dengan menulis, suaramu tidak akan hilang dihembus oleh angin zaman. Tulis saja! Biarpun sekarang tidak dibaca, tapi kelak tulisanmu akan dibaca dan ditelaah orang-orang sesudahmu. Memang ada beberapa faktor yang mempengaruhi dunia tulis saat ini. Sehingga masih belum ada karya tulis yang bisa menggemparkan dunia. Dahulu, kita punya orang-orang hebat dengan karyanya yang mampu diterima dunia luar. Sebut saja, Pramoedya Ananta Toer dengan “Tetralogi Buru”-nya dan Tan Malaka dengan “Madilog” (Materialisme, Dialektika dan Logika), dan masih banyak lagi. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah perbedaan zaman. Seperti membaca ibarat menghirup nafas, maka menulis adalah menghembuskannya. Menulis selalu berkaitan dengan membaca, begitu pula sebaliknya. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula ide-ide yang ingin diungkapkan selain hanya sekedar berbicara. Memang, lidah bisa saja lebih tajam dari pedang. Tapi ketika menulis, itu semua akan lebih berbahaya ketimbang pedang atau lidah itu sendiri. Karena dengan menulis, ideidemu akan abadi. Lalu apa yang membuat minat baca manusia zaman sekarang menjadi berkurang. Dari 200-an juta lebih penduduk Indonesia, kita bisa melihat. Mungkin hanya segelintir orang yang mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. Itu sudah menunjukkan betapa sedikit minat baca kita. Memang di zaman modern ini segala hal terasa gampang, sehingga orang merasa cukup tanpa harus membaca. Bisa kita lihat, bagaimana anak-

Keluarga Besar TëROBOSAN Megucapkan: Selamat Hari Raya Iedul Adha 1433 H Kulla `Am Antum bi Khayr

Express Copy
Menerima segala jenis fotokopi Mahatthah Mutsallas, Hay `Asyir Building 102 Sweesry. Hp: 01001726484

Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani Sabirin. Pimpinan Redaksi: Tsabit Qodami., Fahmi Hasan Nugroho. Dewan Redaksi: Kadarisman, Abdul Majid, Ahmad Farros El-Halimy, Muslihun Maksum, Habib Rahman Haqiqi, Ulfiya Nur Faiqoh. Reportase: M. Zainuddin, Fitroh Riyadi, Dirga Zabrian, Ainun Mardiah, Erika Nadarul Khoir. Editor: Zulfahani Hasyim, Ahmad Maimun. Pembantu Umum: Keluarga TëROBOSAN. Alamat Redaksi: Indonesian Hostel302 Floor 04, 08 el-Wahran St. Rabea el-Adawea, Nasr City Cairo-Egypt. Telepon: 22609228 E-mail: terobosanmasisir@yahoo.com. Facebook : Terobosan Masisir. Untuk pemasangan Iklan dan Layanan Pelanggan silakan menghubungi nomor telpon : 0109427876 (Tsabit) atau 01122217176 (Fahmi)

02

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

Sikap

Musik Sebagai Alat Persatuan
Ketika bahasa, kesadaran tanah air, nasionalisme dan ideologi tidak lagi bisa menjadi pemersatu umat, musik bisa menjadi alternatif untuk alat persatuan umat. Bahkan, universalitas musik mampu untuk menembus batas teritorial negara, suku, ras hingga agama sekalipun, sebuah batasan yang tidak bisa ditembus oleh ideologi manapun maka dari itu ruh pluralisme bisa lebih terasa dalam musik. Nasyid bukan hanya terdengar di negara Melayu, ia pun terdengar dengungnya di Eropa. Dangdut pun bukan hanya dinikmati di Indonesia, ia pun bisa sukses merambah negeri Paman Sam. Musik bukan hanya menjadi alat pemersatu umat, namun musik pun bisa menjadi sarana untuk menyebarkan ideologi tertentu. Sebagaimana Rhoma Irama, si Raja Dangdut yang mahir menyelipkan pesan-pesan moral dan esensi keagamaan dalam lagu-lagu yang ia ciptakan. Atau Maher Zain yang mencoba universalkan dakwah esensi Islam dalam berbagai lagunya. Maka, terlepas dari perdebatan halal atau haramnya musik, musik tetaplah memiliki sifat universal yang tidak terkalahkan. Namun sangat disayangkan, universalitas musik saat ini mulai dikoyak sedemikian rupa oleh beberapa oknum yang sebagian dari mereka justru mengaku dirinya termasuk kaum intelektual. Sebagian kelompok telah mengidentikkan beberapa jenis musik dengan ideologi kelompok tertentu. Selera bermusik saat ini tidak lagi diatur oleh jiwa seni dan rasa keindahan, namun telah diatur oleh ideologi dan keyakinan kelompok. Mari kita berbicara tentang nasyid dan dangdut. Memang diakui bahwa unsur moral dan keislaman dalam dangdut mulai pudar ketika memasuki abad ke 21. Saat popularitas Rhoma Irama mulai tergantikan oleh Inul Daratista, dan musik dangdut tergerus oleh hegemoni pop, mulai sejak itu dangdut semakin identik dengan goyang pinggul, koplo, dan wanita seksi berpakaian minim. Lain halnya dengan nasyid yang sejak awal hingga sekarang tidak pernah lepas dari unsur Islami. Namun pada dasarnya, baik dangdut maupun nasyid memiliki sifat universal yang sama. Keduanya memegang peran penting dalam penyebaran dakwah Islam di Indonesia kisaran tahun tujuh puluh hingga saat ini, berjalan bersama pop, rock, hiphop, rap, yang juga disisipi dengan ajaran -ajaran keislaman. Kita arahkan pandangan kita ke dalam ruang lingkup kehidupan Masisir dan melihat apa yang terjadi saat ini. Diakui atau tidak, dalam tubuh Masisir terdapat dua kelompok besar yang saling mempengaruhi satu sama lain, dengan pemisah yang abstrak antara dua kelompok besar itu, Bainahumâ barzakh lâ yabghiân. Tidak ada kabar yang pasti antara keduanya selain bisikan cerita dari mulut ke mulut. Satu kelompok terkesan menjadikan kelompoknya ekslusif dan sulit disentuh, sedangkan kelompok lain selalu menaruh curiga tanpa pernah ada percakapan dua arah yang seimbang antara keduanya. Dan telah menjadi rahasia umum bahwa kedua kelompok ini saling berlomba untuk menyebarkan pengaruhnya di atas yang lain. Meski banyak usaha untuk menutup-nutupi, perbedaan ini tetap ada dan semakin mencuat setiap kali ada pemilihan Presiden PPMI yang biasanya terdiri dari dua kandidat dari kelompok yang berbeda. Perbedaan itu bukan hanya dalam masalah ideologi atau politik, bahkan telah merambah ke ranah musik. Satu jenis musik telah diidentikkan dengan satu kelompok, dan satu komunitas lain secara naluri telah sepakat untuk tidak mendengarkan jenis musik tertentu. Maka, saat ini jarang kita saksikan ada penampilan dangdut bersama nasyid dalam satu panggung. Bukan karena selera penonton ataupun keinginan panitia penyelenggara, namun justru karena ideologi dan kesepakatan kelompok tertentu untuk memilih satu dari yang lainnya. Sewajarnya, peminat rock tidak harus memperolok peminat pop Melayu atau pop Korea. Begitupun peminat dangdut tidak sewajarnya memperolok peminat nasyid. Sikap seperti ini yang justru menjadikan barzakh yang seharusnya dihilangkan malah semakin jelas dan memisahkan kedua belah pihak. Kita sering menyalahkan PPMI yang tidak mampu mempersatukan Masisir secara utuh, kita pun sering membandingbandingkan kinerja PPMI satu periode dengan periode lainnya yang kebetulan dipimpin oleh perwakilan kelompok yang berbeda. Namun kita tidak pernah menyalahkan diri sendiri ketika kita tidak ingin disatukan oleh PPMI, dan kita pun tidak pernah berusaha untuk bersikap objektif ketika membandingkan antara satu periode PPMI dan lainnya. Maka dari mana persatuan harus dimulai? Dari PPMI kah atau diri sendiri kah? Mari kita renungkan sejenak dua bait syair dari ketiga lagu dari berbagai aliran musik yang berbeda ini: Janganlah saling menghina Satu suku bangsa dengan lainnya Karena kita satu bangsa Dan satu bahasa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika Lambang negara kita Indonesia Walaupun bermacam-macam aliran Tetapi satu tujuan (135 juta jiwa – Rhoma Irama) Wahai ummat Islam bersatulah Rapatkan barisan jalin ukhuwah Luruskan niat satukan tekad Kita sambut kemenangan Dengan bekal iman maju ke hadapan Al-Qur’an dan Sunnah jadi panduan Sucikan diri ikhlaskan diri Menggapai ridho Ilahi (Senandung Persatuan – Izzatul Islam) Bhinneka Tunggal Ika, satu dalam rasa, dan keadilan itu belum tentu sama rata! Warna yang melebur, tenang di dalam kontras Jiwa kita kokoh, seperti batu keras Aku dan Kau, yang terangkum dalam waktu, Tapi tunggu dulu, kau tau arti satu?? Come on put your fist up… Unity! Semua bergerak… Unity! We gotta take the power back… Unity! Semua teriak… UNITY…!! (Unity—Bondan Prakoso and Fade 2 Black) [ë]

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

03

Laporan Utama

PPMI Memperingati Sumpah Pemuda
Zaman semakin berubah, dan gaya hidup manusia pun berubah. Jika pada era tahun 80-90 kita pernah mendengar bahasa gaul-nya Debby Sahertian seperti eke, akika, begindang, separatus, cucok, cacamarica, dan sebagainya, saat ini bahasa Indonesia dengan gaya baru muncul, seperti cius, miapah, cemungudh, dan maacih. Seolah lupa atau tidak tahu bahwa puluhan tahun lalu para pemuda Indonesia telah sepakat untuk meninggalkan bahasa daerahnya masing-masing dan sepakat untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ya, Bahasa Indonesia, salah satu poin dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperingati hari Sumpah Pemuda itu, tahun ini PPMI menggelar serangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama kurang lebih dua minggu. Rangkaian kegiatan dalam peringatan Sumpah Pemuda kali ini terdiri dari tiga macam kegiatan: perlombaan olah raga antar pelajar Asia dalam Asean Games, dialog umum tentang kepemudaan, dan pentas seni dan budaya Indonesia. Kegiatan pertama adalah perlombaan olah raga antar pelajar Asia yang diadakan pada hari Kamis (18/10) kemarin. “Asean Games kita mengadakan kerjasama dengan beberapa negara Asean seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Afghanistan. Kegiatan itu berlangsung selama satu hari, tanggal 18 kemarin. Ada futsal, voli dan pertandingan persahabatan basket antara Indonesia dan Filipina. Cuma untuk final voli kita adakan besoknya, tanggal 21.” Ujar Fadhillah Kartolo, ketua panitia rangkaian kegiatan Peringatan Sumpah Pemuda ketika diwawancarai oleh TëROBOSAN. Rangkaian kegiatan kedua adalah dialog umum, al-Nadwah Al-`Ammah yang dilaksanakan di Aula Madinatul Bu`uts alIslamiyah, pada senin (22/10). Dialog umum ini diisi oleh tiga orang pembicara dari berbagai negara, Dr. Ibrahim dari Burkina Faso, Dr. Syarofuddin dari Nigeria, dan Dr. Zawawi Abdul Wahid dari Indonesia. Acara yang bertemakan Daur al -Syabâb fî Binâ Jîl al-Mutamayyiz li alWathan ini dihadiri oleh beberapa ketua persatuan pelajar dari berbagai negara dan sekitar lima puluh orang mahasiswa dari negara asing. Dalam acara ini, Dr. Zawawi, yang baru saja menyelesaikan studi doktoral di Universitas Al-Azhar ini menjelaskan te nta ng peran para p e m u da dalam persatuan dan perjuangan k e m e r dekaan Indonesia. Ia menjelaskan Presiden PPMI memberikan kenang-kenangan kepada salah seorang pembicara dalam acara dialog umum kepemudaan, Dr. Ibrahim dari Burkina Faso. bahwa Sumpah Pemuda berhasil menjadi batu loncaIndonesia yang sebagian suka diklaim tan dalam kesadaran nasionalisme keoleh negara lain. Biar orang tahu, ini loh bangsaan tanpa melihat suku, ras, hingga batik punya Indonesia, ini loh angklung agama. Ia lalu membahas tentang peran budaya Indonesia.” Ujar Jamil melanjutpenting keluarga sebagai faktor pertama kan. dalam proses pendidikan dan juga metode Dana yang digunakan untuk serangal-Azhar dalam mendidik pemuda agar kaian acara ini menurut Fadillah, ketua menjadi generasi istimewa yang mampu panitia telah mencapai angka lebih dari untuk berjuang demi nusa dan bangsa. 7.000 Pound, dan jumlah ini diperkirakan Untuk acara puncak, panitia telah meakan terus bertambah hingga acara punmersiapkan acara pentas seni dan budaya cak nanti. Pihaknya juga menyebutkan Indonesia, yang bertajuk Indonesian Cul- bahwa sumber dana untuk acara ini seluture Parade. Bertempat di Auditorium ruhnya berasal dari PPMI, dan sampai American Future, selasa (30/10). Jamil berita ini diangkat, proposal yang diajuAbdul Latif, Presiden Persatuan Pelajar kan oleh panitia ke pihak KBRI belum juga dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) menjecair. laskan bahwa rangkaian kegiatan Sumpah Fadhillah menambahkan, harapan dari Pemuda kali ini tidak hanya diadakan diadakannya rangkaian acara ini di antadalam ruang lingkup internal Masisir, ranya adalah agar para pelajar dari negara namun lebih ditekankan pada hubungan lain bisa melihat budaya Indonesia, memdengan persatuan pelajar dari berbagai pererat hubungan kekeluargaan antara negara, hal ini ditandai dengan dua dari beberapa organisasi persatuan pelajar tiga jenis kegiatan melibatkan persatuan luar negeri di Mesir, dan agar meningkatpelajar dari negara-negara lain. Jamil kan kesadaran nasionalisme di kalangan meneruskan “Acara Asean Games kemarin Masisir khususnya. kita bekerjasama dengan PMRAM, ThaiPENA Mesir land, Filipina. Terus untuk acara dialog Acara peringatan Sumpah Pemuda ini umum di Buuts kita bekerjasama dengan merupakan acara yang kedua kalinya Parlemen Mahasiswa Asing yang berada dalam kurun waktu lima tahun terakhir. di Buuts. Dan untuk acara grand closing Sebelumnya, pada tahun lalu pernah nanti, para perwakilan dari berbagai nediadakan rangkaian acara serupa oleh gara kita undang, dan acaranya pun akan komunitas yang menamakan dirinya menggunakan bahasa Inggris atau Arab PENA, Pemuda Nasionalis Indonesia, yang agar mereka juga tahu. Paling ada Bahasa saat itu Jamil Abdul Latif menjadi salah Indonesia, tapi tetap ada penerjemahnya satu penggeraknya bersama dengan Nunanti.” Ujarnya. hdi Febriansyah, M. Thabrani Basya, Uun “Pada acara pentas seni nantinya akan Nashikhun, dan beberapa orang lainnya. diperkenalkan berbagai macam budaya Pada saat itu, PENA Mesir menggalang

04

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

Doc. TëROBOSAN

Seputar Kita

KNRP Gelar Konser Amal Untuk Rakyat Palestina
even organizer bersama LSM Sinai, Syathibi Center, Wihdah, PPMI dan Ikram Mesir dari Malaysia. Dan seperti yang diberitakan di website resmi Sinai Mesir, acara ini diliput oleh tiga stasiun TV yang berasal dari tiga negara yang berbeda: Misr25 dari Mesir, Al-Aqsa TV dari Palestina dan Aqsa dari Malaysia. Terhitung sejak satu minggu sebelum acara, telah dibentuk sebuah tim yang terdiri dari mahasiswa Indonesia dan Malaysia untuk menggalang dana dari para pelajar dan masyarakat kedua negara yang berada di berbagai daerah di Mesir. Putra Erianton selaku ketua panitia menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan dana sumbangan yang terkumpul dari acara tersebut adalah sebesar 27.360,75 USD. Dana yang terkumpul itu saat ini telah dibawa oleh rombongan tim KNRP bersama grup Izzatul Islam ke Palestina pada hari Rabu (24/10) untuk dihibahkan kepada rakyat Palestina dalam bentuk hewan kurban untuk Idul Adha dan kebutuhan pokok lain. Sebelumnya juga diberitakan bahwa KNRP telah menampung bantuan dari rakyat Indonesia berupa 200 ekor daya Akar. Namun pihaknya kembali menegaskan bahwa PENA Mesir saat itu lebih dekat jika disebut sebagai event organizer, yaitu para panitia penyelenggara yang menamakan dirinya PENA Mesir. Akhirnya ada dua hal yang menjadi harapan Jamil dari diadakannya rangkaian acara Sumpah Pemuda ini. Agar menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan Masisir sebagai pemuda, dan agar para mahasiswa mampu untuk kolaborasikan sikap moderat dari al-Azhar dengan semangat kepemudaan, menjadi mahasiswa Azhar yang moderat, semangat dan mampu berbuat untuk nusa dan bangsa.
[ë] Fahmi.

Senin petang (22/10) lalu, Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) menggelar acara konser amal di Aula Andalus, Al-Azhar Conference Centre. Acara yang bertajuk Mahrajan al-Anasyid alIslamiyah li Da`m Sya`b Filisthin ini menampilkan grup Da`I Nada dari mahasiswa Indonesia, grup Ikram Mesir dari mahasiswa Malaysia dan Izzatul Islam (Izis), grup nasyid dari Indonesia yang didirikan di UI Depok pada bulan Desember 1994. Acara ini dihadiri oleh lebih dari seribu orang hadirin ditambah dengan utusan dari KBRI, PPMI, Wihdah, PMRAM, para undangan yang berasal dari berbagai negara. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara KNRP dan Rafi`I Group sebagai kerjasama setidaknya dengan 32 organisasi yang ada di kalangan Masisir, kerjasama yang dijalin antar organisasi itu berbentuk partisipasi, dukungan dan juga publikasi. Rangkaian kegiatan peringatan hari Sumpah Pemuda saat itu menurutnya lebih tertuju kepada lingkungan internal Masisir, maka dari itu pihaknya beserta para panitia saat ini menjadikan rangkaian acara Sumpah Pemuda tidak hanya untuk internal Masisir secara khusus, namun untuk negara lain pada umumnya. Ditanya mengenai keadaan PENA dan perannya saat ini, Jamil menjelaskan bahwa PENA yang terbentuk saat itu lebih dekat disebut sebagai event organizer atau penyelenggara acara ketimbang sebagai organisasi atau komunitas independent. Ia pun menambahkan bahwa penamaan PENA Mesir sendiri pun masih debatable saat itu, apakah kelak akan menjadi sebuah organisasi resmi seperti beberapa LSM lain di Masisir yang terdaftar di MPA, atau menjadi komunitas independent seperti Rumah Bu-

kambing dan uang tunai sebesar Rp. 1 milyar, yang berhasil dikumpulkan dalam program Qurban for Palesine, program unggulan KNRP yang telah berjalan kurang lebih sejak dua bulan silam, seperti yang diberitakan oleh dakwatuna.com. Dalam acara malam itu juga dilelang sebuah poster WPAP Pop Art Syaikh Ahmad Yassin, salah seorang pendiri Hamas yang terbunuh pada tahun 2004. Lelang poster itu dimenangkan oleh salah seorang mahasiswa yang berasal dari Malaysia dengan harga 3.000 USD. Dan seperti dilansir oleh pkspiyungan.org, poster itu kelak akan dipasang di rumah Syaikh Ahmad Yasin di Gaza. Lebih lanjut Erianton mengatakan “Semoga dengan adanya acara ini, menjadikan umat muslim di Indonesia, Malaysia dan negara-negara lain, khususnya para wafidin di negeri ini menjadi semakin cinta terhadap saudara kita di Palestina. Dan juga untuk menambah kecintaan kita kepada Al-Aqsa, karena al-Aqsa bukan hanya milik rakyat Palestina ataupun bangsa Arab, namun Al-Aqsa adalah milik kita semua”. [ë]

Doc. TëROBOSAN

TO ING Të Bë ëS
Dalam perjalanan menuju Indonesian Culture Parade, To dan Ing terlibat percakapan... To : Ing! Sekarang kan lagi rameramenya semangat sumpah pemuda… Ing : Ciyus..?? Teyus..?? To : Masa lu ngga inget, tiga butir sumpah pemuda? Ing : Amaca..?? Aquh inget ko qaqaa.. To : Asem! Coba sebutin..!! Ing : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia To : Terus.. Ing : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia To : Yang terakhir…!! Ing : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Alay Indonesia.. To : Sialan lu…![ë]

Tim bola voli Indonesia dalam Asean Games

Doc. Facebook.com/ivc.masisir

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

05

Komentar Peristiwa

Semrawutnya Lalu Lintas Acara Masisir
PPMI adalah organisasi induk yang membawahi organisasi yang berada di Masisir. Sebagai organisasi induk, PPMI mempunyai tanggung jawab untuk mengatur roda lalu lintas organisasi di bawahnya. Beberapa hari yang lalu tepatnya 22 Oktober, setidaknya ada 5 agenda yang diadakan dalam satu hari tersebut. PPMI sendiri mempunyai dua agenda besar yaitu dialog umum (Nadwah `Ammah) tentang pemuda dan kebangsaan di Madinatul Bu’uts dan Konser Amal Untuk Rakyat Palestina. Sementara tiga agenda lain adalah ORKABA IKPM, Bedah Tesis Dr. Zawawi Abdul Wahid, MA. dan Pesta Rakyat HUT Gamajatim Ke-14. Hal ini tentu menggambarkan betapa berjubelnya agenda yang ada di Masisir. Menariknya, dua dari lima agenda di atas diisi oleh seorang pemateri yang sama, yaitu Dr. Zawawi Abdul Wahid, MA. Bagaimana kisah sebenarnya? Silahkan simak ulasan berikut ini. Minggu malam yang lalu (21/10) TëROBOSAN menyambangi sekretariat KSW di kawasan Hay-9. Tampak suasana tengah ramai, terlihat beberapa orang sedang berkumpul di kursi balai dekat pintu masuk. Mereka adalah panitia acara bedah tesis karya Dr. Zawawi Abdul Wahid, MA. Kami dapati panitia dari KSW, Senat Syariah Islamiyah dan almamater AlHikmah sedang membincangkan sesuatu. Kami pun memutuskan untuk mendekati forum, ternyata ada yang tengah mereka risaukan. Ketika itu saudara M. Yusuf Nur Hasan, Ketua KSW kedapatan sedang menelpon seseorang. Setelah kami bertanya mengenai hal apa yang tengah dibincangkan mereka menerangkan perihal acara yang diadakan mereka terancam molor lantaran pihak Dr. Zawawi juga diminta mengisi acara Nadwah ‘Ammah yang diadakan PPMI di Asrama Madinatul Bu’uts. Karena hari sudah malam, TëROBOSAN pamit. Esoknya, salah satu kru TëROBOSAN kembali menuju sekretariat KSW untuk mengikuti jalannya acara bedah tesis karya Dr. Zawawi. Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 15.45 CLT, panitia sedang sibuk menyiapkan acara di sekretariat KSW. Tapi kekalutan panitia mulai tercium ketika Dr. Zazawi tak kunjung datang sementara peserta acara sudah berbondong-bondong memenuhi aula Griya Jawa Tengah. Ditambah lagi ketika Prof. DR. Sangidu, M.Hum. hadir di sekretariat satu jam kemudian. Terlihat beberapa kali pihak panitia gabungan yang berasal dari organisasi Senat Syariah Islamiyah, KSW, PCINU Mesir dan Forum Al-Hikmah berkali- Dialog Umum tentang Kepemudaan di Madinatul Bu`uts, Senin (22/10) kali menghubungi Dr. Zawawi lewat telepon seluler. Rakyat Palestina yang diadakan di aula Ketika kami mewawancarai ketua pani- Andalus, ACC. tia, Shun Fan Ulum Fiy mengatakan: “Tadi Sementara ketika kami menanyakan hal malam telpon Mas Jamil. Katanya iya, dia ini kepada Presiden PPMI, Jamil Abdul Latif, siap untuk memberikan sambutan dalam ia mengatakan bahwa pihak PPMI seacara”. Dia menambahkan bahwa se- benarnya sudah lebih dahulu menentukan benarnya kita sudah mengkonfirmasi acara jadwal acara dialog umum itu, meski sebedah tesis seminggu sebelumnya. Namun benarnya pemateri yang dijadwalkam bumendekati hari pelaksanaan, panitia di- kanlah Dr. Zawawi. Namun karena bekagetkan dengan selebaran pamflet acara berapa nama yang diminta menjadi pengisi dialog umum yang diadakan oleh PPMI di acara tidak menyanggupi, maka akhirnya Madinatul Bu`uts dengan nama pemateri pihak PPMI merajuk Dr. Zawawi. Perihal yang sama. Salah seorang dari pihak panitia ini, pihak PPMI mengaku salah dan mengaku baru mengetahui adanya acara meminta maaf. “Saya akui salah dan kurang dialog umum itu dua hari sebelumnya, atau koordinasi. Tapi karena pembicara lainnya tanggal 20 Oktober kemarin. Dia menam- juga dari doktor, maka kita sebagai penyebahkan, sebenarnya Dr. Zawawi enggan lenggara acara ingin menghadirkan permengisi acara dialog umum di Madinatul wakilan yang juga doktor”, ujarnya. KeBu’uts karena mepetnya persiapan dan mudian Presiden juga menyatakan perminpadatnya kegiatan beliau. Namun setelah taan maafnya kepada pihak panitia bedah dibujuk akhirnya beliau bersedia menjadi tesis ketika kami wawancarai. pembicara dalam acara ini, yang meruKetika ditanya mengenai banyaknya pakan salah satu rangkaian kegiatan perin- acara pada hari tersebut, Presiden PPMI gatan hari Sumpah Pemuda. mengatakan bahwa sebenarnya tumpang Malam sebelum acara, pihak panita tindihnya acara memang kasus lama. Nabedah tesis mendapat kepastian kedatan- mun pihak PPMI berusaha untuk mengan Dr. Zawawi dari pihak PPMI, namun dudukkan masalah semacam ini. Seperti pada akhirnya mereka harus menggerutu yang mereka agendakan bulan November karena keterlambatan yang diakibatkan mendatang yaitu acara Coffee Break. Di arus macet di kawasan Hay-7 sampai Suq forum tersebut dia menginginkan hubunSayyarat, bahkan acara terpaksa molor gan semua organiasi untuk lebih terkoordisampai dua jam dari yang diagendakan nasi. Selanjutnya terkait masalah dukungan karena hal tersebut. Panitia bedah tesis PPMI dalam acara-acara Masisir, dia berterlihat kecewa karena Presiden PPMI yang harap agar mendapat konfirmasi dari pihak malamnya mengaku siap memberikan sam- panitia supaya tidak terjadi kesalahpahabutan tetapi tidak kunjung muncul dalam man dengan organisasi di bawah naungan acara tersebut, dikarenakan ia juga diminta PPMI. Semoga berjubelnya lalu lintas untuk memberikan sambutan sebagai Pre- kegiatan Masisir bisa didudukkan bersama! siden PPMI dalam acara Konser Amal untuk [ë] Tsabit.

06

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

Doc. TëROBOSAN

Strategi

Jong Java dan Jong Islamieten Bond tentang Nasionalisme Kebangsaan
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho*
Jika pada akhir tahun 2008 lalu Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak meluncurkan program 1Malaysia, program persatuan bangsa Malaysia tanpa melihat suku, etnis ataupun ras, Indonesia justru telah menjalankannya 80 tahun lebih awal, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Inti dari kedua program itu sama, yaitu menumbuhkan kesadaran nasionalisme kebangsaan. Berbicara tentang sumpah pemuda tidak akan terlepas dari dua organisasi besar pemuda: Jong Java atau Tri Koro Darmo, dan Jong Islamieten Bond. Tulisan singkat ini akan mencoba memaparkan dua organisasi itu dan perannya dalam Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan tiga poin sumpah pemuda. Jong Java adalah organisasi pemuda di bawah naungan Budi Utomo, organisasi yang sering disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional Indonesia, hingga hari jadinya 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah (2010) berkata lain, ia menjelaskan bahwa Budi Utomo dalam berbagai macam kongresnya justru menolak istilah nasionalisme dan persatuan Indonesia, organisasi ini hanya memperjuangkan etnis Jawa, dengan Jawa sebagai bahasanya dan kebatinan sebagai agama Jawa. Hal itu terlihat karena Budi Utomo sendiri merupakan sebuah perkumpulan ekslusif yang para anggotanya berasal dari kaum bangsawan Jawa. Lebih lanjut dikatakan bahwa Budi Utomo yang berasal dari para bangsawan dan priayi justru menjadi tangan kanan pelaksana Indirect Rule System dari pemerintah kolonial Kerajaan Protestan Belanda, dan tidak sejalan dengan rakyat yang menginginkan kemerdekaan. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Jong Java sebagai anak organisasi Budi Utomo juga menolak cita-cita persatuan Indonesia, bahkan mereka juga menentang ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas masyarakat saat itu. Dalam tubuh Jong Java tidak diperkenankan adanya diskusi-diskusi yang membahas tentang keislaman, namun sebaliknya diperbolehkan berbagai macam diskusi yang membahas tentang teosofi dan ajaran kejawen. Jong Java pun tidak memperkenankan para anggotanya untuk berkecimpung dalam kancah perpolitikan nasional. Mansur (2010) lebih lanjut menuliskan: “Walaupun Boedi Oetomo sudah berusia sembilan tahun (1908-1917), tetap tidak berpihak kepada ajaran Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas rakyat saat itu. Lalu bagaimana gerakan Tri Koro Dharmo-Jong Java sebagai onderbouw dari Boedi Oetomo? Tentu orientasinya sejalan dengan induknya, Boedi Oetomo, yakni menentang Islam.” Sikap Jong Java yang ekslusif dan menentang cita-cita persatuan Indonesia sebagaimana induknya, menyebabkan Syamsurijal yang saat itu menjabat sebagai ketua Jong Java keluar dari keanggotaan Jong Java. Ia kemudian membentuk organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) pada 1 Januari 1925 atas nasehat dari Agus Salim. Sikap organisasi JIB lebih terbuka ketimbang Jong Java, hal itu terlihat dari keanggotaannya yang tidak terbatas pada pemuda bangsawan Jawa. JIB, sebagaimana organisasi Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul ulama yang telah berdiri saat itu memiliki cita-cita yang sama, sebagaimana telah dirumuskan dalam kongres Syarikat Islam 1916 yaitu kemerdekaan Indonesia dan pemerintahan sendiri, Self Government. Tidak seperti Jong Java dan Budi Utomo yang sejak awal berdiri (1908) sampai pembubarannya (1930) masih tetap memperjuangkan Jawanisme atau Jawa Raya dan menolak cita-cita persatuan Indonesia. Menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa organisasi, melestarikan budaya Jawa dan mempertahankan kejawen sebagai agama. Jong Islamieten Bond dalam kongresnya yang ketiga, Jogjakarta 23-27 Desember 1927, membicarakan masalah Islam dan kebangsaan juga nasionalisme dalam pandangan Islam yaitu mencintai tanah air, bangsa dan agama. Organisasi ini kelak berperan banyak dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda II bersama Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Indonesia, dan beberapa organisasi pemuda lainnya. Tujuh bulan sebelum Kongres Pemuda II, Budi Utomo mengadakan kongres di Surakarta pada 6-9 April 1928, yang menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia sebagai reaksi atas berbagai kongres yang diadakan oleh JIB tentang Islam dan persatuan Indonesia. Maka untuk menentang kongres Budi Utomo April 1928 itu, PPPI segera menyelenggarakan Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928 di Kramat Raya 106 Jakarta. Bisa disimpulkan bahwa Kongres Pemuda II merupakan reaksi atas kongres yang diselenggarakan oleh Budi Utomo yang menentang nasionalisme. Bisa terlihat dari isi kongres yang salah satunya melahirkan tiga butir Sumpah Pemuda yang ketiganya terkait dengan nasionalisme kebangsaan. Dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda yang diterbitkan oleh Yayasan Gedung Bersejarah Jakarta, disebutkan bahwa Kongres Pemuda II ini dihadiri oleh sekitar 750 orang dari berbagai organisasi pemuda dari seluruh wilayah di Indonesia. Kongres ini pun tidak hanya dihadiri oleh pemuda, namun juga dihadiri perwakilan dari partai politik seperti Sartono SH dari Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Jakarta dan S.M. Kartosuwiryo dari Pengurus Besar Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Kongres inilah yang kelak melahirkan tiga butir sumpah pemuda. Kongres ini pun tidak luput dari pengawasan Pemerintah Kolonial Belanda, mereka mengirim pasukan polisi yang bersenjata untuk mengawasi jalannya kongres. Telah disebutkan bahwa Budi Utomo yang beranggotakan para bangsawan Jawa lebih berpihak pada Belanda dan menjadi tangan kanan Belanda dalam pelaksanaan indirect rule system , maka dalam kongres ini pun Jong Java mengutus perwakilan R.M. Mas Said yang merupakan Mantri Polisi Pemerintah Kolonial Belanda. Kehadiran mantri polisi dalam kongres ini menjadikan Jong Java tidak dapat berpihak kepada perjuangan pemuda pelajar yang menginginkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Kondisi seperti ini berdampak pada pelaksanaan kongres, salah satunya adalah ketika menanyikan lagu Indonesia Raya, polisi Wage Rudolf Supratman tidak diperkenankan untuk melantunkan syairnya, ia hanya diperkenankan untuk melantunkan nadanya saja dengan menggunakan biola. Peran organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) sangat besar dalam kebangkitan nasionalisme kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun deislamisasi sejarah Indonesia menyebabkan nama dan peran organisasi itu lenyap dari ingatan sebagaimana Syarikat Islam (1906). *Penulis adalah Kru TëROBOSAN

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

07

Sketsa

Sumpah Pemuda
Oleh: Moh. Hadi bakri Raharjo*
Selama ratusan tahun, Kerajaan Protestan Belanda menjajah bangsa Indonesia. Memeras hasil kekayaan alam dan sumber daya manusia dengan semena-mena untuk dinikmati olehnya sendiri serta dibawa pulang ke Belanda, sedangkan bangsa Indonesia sebagai pribumi tidak bisa menikmatinya dengan leluasa. Layaknya orang yang teraniaya, rakyat Indonesia tentunya berusaha melawan kejahatan itu dengan sekuat tenaga. Namun perlawanan itu sia-sia karena kurangnya kekuatan. Kalaupun berhasil, itu tidak sepenuhnya mengusir penjajah dari Indonesia karena perlawanan tersebut tidaklah menyeluruh. Hanya sebatas perlawanan mandiri dari satu komunitas di perkampungan, misalnya. Sehingga Belanda yang masih hidup dan berhasil lolos dapat berpindah dari satu markas ke markas yang lain yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai bentuk reaksi para pemuda Indonesia terhadap pemerintah kolonial dan atas kepedulian mereka kepada nasib rakyat Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1908, didirikanlah organisasi pemuda yang dinamakan Budi Utomo. Organisasi pemuda yang menurut penulis adalah organisasi penggalang kekuatan para pemuda skala nasional dengan strategi halus mengelabuhi Belanda dengan kegiatan sosial, kebudayaan, perekonomian rakyat dan yang lebih penting adalah kegiatan kependidikan. Hari itu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Karena pada saat itu adalah awal kebangkitan rakyat Indonesia dari keterpurukan, bersatu untuk sama-sama memiliki orientasi merdeka dari penjajahan dan melawan kolonialisme baik dengan otot (kekuatan fisik) maupun dengan otak (strategi) yang diprakarsai oleh Dr. Sutomo. Ini merupakan titik awal yang terang bagi bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Selanjutnya pada tahun 1926 diselenggarakan Kongres Pemuda I dengan hasilnya adalah bersatunya para pemuda dari segala daerah, meski belum terlalu berhasil karena para pemuda masih menonjolkan rasa kedaerahannya. Kemudian diselenggarakan Kongres Pemuda II pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Trilogi Sumpah Pemuda yang dikonsep oleh Muhammad Yamin dan dibacakan oleh Sugondo. Sumpah Pemuda merupakan konsepsi awal NKRI. Pada saat itu, disepakati sebuah nama bangsa, yaitu bangsa Indonesia, ditetapkannya Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, serta bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu antardaerah. Sumpah Pemuda adalah langkah lanjutan dari Kebangkitan Nasional. Kesatuan para pemuda dan kematangan konsep membuat bangsa Indonesia semakin optimis akan tercapainya kemerdekaan Indonesia. Hingga pada 17 Agustus 1945 tercapailah cita-cita agung tersebut. Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Air Indonesia Tumpah darah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti tempat kelahiran. Begitu pula dengan tanah air memiliki arti negeri tempat kelahiran. Para pemuda yang lahir di daerah masing-masing, menyatukan nama tempat kelahiran mereka, yaitu Indonesia. Kalimat sumpah pertama pada Sumpah Pemuda ini mampu menyatukan semangat nasionalisme para pemuda. Karena tanah kelahiran adalah tempat yang dimuliakan dan yang wajib dibela dan dipertahankan apalagi jika ada yang mengusiknya. Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia Setelah sumpah pertama yang berisi komitmen kesamaan sejarah, maka kalimat sumpah yang kedua ini merupakan tingkatan kedua setelah terbangunnya fondasi kebersatuan semangat juang yang ada dalam hati masing-masing pemuda. Para pemuda dan pemudi bersumpah untuk membangun dan bernaung pada bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia. Mereka membangun bangsa, mempersatukan kakek buyut mereka dalam satu keturunan, mengumpulkan berbagai adat istiadat masing-masing lalu menyerahkannya pada satu kepemilikan, yaitu Indonesia, berusaha menyatukan bahasa, menyatukan sejarah dan membentuk pemerintahan yang menjadi cikal bakal pemerintahan Republik Indonesia setelah merdeka. Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia Persatuan dan kesatuan para pemuda sudah terbangun dengan kokoh melalui dua kalimat sumpah yang telah disebutkan. Namun, persatuan dan kesatuan yang sudah terbangun belumlah sempurna jika belum ada satu media bahasa yang mempersatukan. Mengingat bangsa Indonesia yang majemuk terdiri dari suku-suku dan daerahdaerah yang memiliki bahasa yang berbedabeda. Kesatuan bahasa itu sangat diperlukan sebagai alat komunikasi dan interaksi dalam satu komunitas. Sementara para pemuda dari segala penjuru tanah air telah bersatu padu membangun komunitas baru, yaitu Indonesia. Oleh karena itu, para pemuda dan pemudi Indonesia bersepakat dan bersumpah untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan sumpah pemuda, para pemuda dan pemudi Indonesia dulu bersatu padu mempelopori klimaks perjuangan bangsa Indonesia hingga tercapailah cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tugas keberlangsungan pengejawantahan kalimat-kalimat sumpah pemuda otomatis diambil alih oleh generasi pemuda selanjutnya. Dan dalam perjalanannya tentu mengalami berbagai macam romantika. Hingga saat ini, pengejawantahan atau realisasi dari sumpah pemuda semakin sulit dirasakan. Nilai-nilai sumpah pemuda semakin lama semakin memudar. Tawuran di mana-mana, primordialisme kian suburnya, sistem pemerintahan yang kacau tidak tertata, serta generasi muda masa kini yang gemar mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan bahasa-bahasa alay yang merajalela, adalah beberapa contoh memudarnya nilai-nilai sumpah pemuda. Tugas pemuda zaman sekarang lebih berat. Karena mengisi kemerdekaan, mempertahankan dan melestarikan konsep serta nilai-nilai yang telah diperjuangkan dan dirumuskan oleh para pendahulu lebih berat ketimbang menyusun strategi dan memperjuangkan kemerdekaan. Kalau tidak bisa bertahan, bisa jadi akan dijajah lagi. Namun dijajah secara konsep, nilai, bahasa, ide dan pemikiran. Akan tetapi jika bisa bertahan, para pemuda bersatu padu menghayati dan mengejawantahkan hakikat sumpah pemuda serta berani melawan, maka wujud ideal Indonesia yang diharapan oleh para pahlawan bukanlah sebatas angan. *Penulis adalah Ketua Senat Ushuluddin Periode 2012-2013, Keluarga TëROBOSAN.

08

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

Sastra
Oleh: Ainun Mardiyah*
Pandanganku masih kelam melekat. Namun selangkah demi selangkah, samarsamar suara itu datang menghampiri. Semakin dekat dan semakin jelas. Pendengaran kupertajam, hingga kupastikan bahwa suara itu memanggil namaku. Lirih. “Nu...rul, Nurul...” Tidak ada yang pantas untuk kucurigai melainkan seberkas cahaya putih yang makin besar dan terang. Horizontal memanjang, dan semakin lebar. Suara itu terus kudengar. Kali ini sudah jelas. Dan sepenuhnya aku sadar. Seseorang membangunkanku dari alam bawah sadar. “Iya, iya, hmm...” gumamku. Dengan nada malas. Selimut ku sibakkan. Dan mataku akhirnya penasaran dengan siapa yang tega membagunkan di tengah lelapnya tidurku. Tak berselang lama, “Aagrh!!” Spontan aku berteriak kencang. Tiada peduli siapa yang akan terganggu dengan lengkingan teriakku. Diikuti sebuah bantal melayang di udara. Tepat mengenai wajah mengerikan, berkostum putih dengan ujung kepala, tangan dan kaki terikat. Pocong! Seketika terdengar bahak membahana. Apartemenku berubah layaknya gedung tertutup dengan gema yang terus memantul. Tawa tak tertahankan. “Ahahaha!” bahkan si pocong itu turut memegang perutnya tak kuasa menahan tawa. Klap! Lampu kamar menyala. Barulah kulihat dalam pupil mata yang mengecil, sosok manusia-manusia usil yang begitu menyebalkan. siapa lagi kalau bukan para penghuni apartemen tempat tinggalku. Seorang dari delapan orang itu mendekat, “Maalisy, Nurul. Kita hanya ingin bikin surprise buat kamu.” Ucapnya dari dekat. Mulutku yang masih manyun perlahan mulai tersenyum. Maklum saja, mulai tengah malam ini, umurku melewati angka dua puluh satu. “Happy Birthday, Nurul” ucap salah seorang lagi seraya mendekat. Prok!! Senyumku bercampur dengan desah napas penuh kekesalan. Dan perlahan kurasakan benda berbau amis itu meluncur mulus dari atas ubun-ubun menuju pipiku. Bercampur dengan kulitnya yang keras dan kasar. Sepertinya satu telur saja tidak cukup. Entah lah, sepertinya setiap penghuni rumah sudah berhasil memecahkan telur di sekujur tubuhku. “Kyaaa!!” *** Sore itu. Selepas merayakan ulang tahun di sebuah warung makan Indonesia di kawasan Hay Asyir, Nasr City. Bersama beberapa kawan karibku. Kami menunggu bus yang bisa membawa kami ke kawasan Hay Tamin. Beberapa bus melintas. Sesekali minibus tiga perempat lewat, juga bus merah yang lebih besar sekedar berjalan dengan elegannya. Di depan kami, mereka mengepulkan asap hitam pekat yang segera kami tangkis dengan telapak tangan sebelum polusi itu benar-benar menusuk penciuman dan membuat kami terbatuk-batuk. Detik demi detik berlalu. Pusaran waktu terus berputar dan takdir belum mengijinkan kami bertemu dengan satu bus pun. Suara adzan bergema di langit Cairo. Matahari tenggelam di balik gedung-gedung yang bertebaran dan timbul tenggelam di ujung barat cakrawala. Maghrib. Seorang kawan mengusulkan untuk sholat di sebuah masjid yang tak jauh dari tempat kami menunggu bus. Seraya memegangi perutnya yang sedikit lebih buncit daripada sebelum kami memasuki warung makan tadi. Aku menahan senyum, tidak jauh berbeda dengan kondisiku. Ho! Memasuki mushola sayyidat, lalu tuntaskan tiga rokaat. Tentu dengan rukuk dan sujud yang lebih tumakninah dari sholatsholat biasanya. Bukan kenapa. Lambung siapa yang sanggup menahan goyangan perut saat muatannya sungguh overload? Selesai sholat, aku mundur merapat, hingga punggungku terasa lebih nyaman saat ia mencium diding bisu. Dan sedikit demi sedikit perut ini serasa tersayat. Perlahan demi perlahan. Lalu berhenti, aku menarik napas lega. Barangkali tadi terlalu banyak makan sambal di warung makan. Seorang wanita Mesir paruh baya, menghampiriku yang memisah diri dari kawan-kawan. Dari balik kerudung besarnya tangannya menyembul dengan sebungkus isy berisi sayuran dan jubnah. Ia membaginya dua dan memberiku separuh. “La, syukron ya Mama,” tolakku halus, beberapa kali. Namun seperti kebanyakan watak orang Mesir, ia terus memaksa. “Kamu harus hargai pemberian saya.” Itu kalimat yang terus diulangnya, hingga mau tak mau aku terima. Bukan karena apa, tapi lidahku tak mau diajak kompromi oleh makanan ini. Juga satu hal, lambungku sudah full. Aku dan kawan-kawan keluar masjid. Tak lupa ku ucapkan salam perpisahan dengan ibu paruh baya itu. Isy yang diberinya ku masukkan dalam kantong plastik yang ujungnya tergenggam dengan jemariku. Kembali, kami menunggu bus di sebuah Mahattah. Mataku tertuju pada isy dalam plastik itu. Tanpa pikir panjang, tak sampai sedetik ia sudah bertemu dengan sampahsampah dalam sebuah box besar yang tak sanggup menampung batas maksimal. Rasa itu kembali menyayat. Ugh! Lagilagi. Seorang kawan menyadari, “Nurul, sakit perut ya?” tanyanya khawatir. Aku nyengir seraya menekan perut dalam-dalam. Masih dapat ku lihat isy itu menangis di antara kawanan sampah busuk. Memang, belum saatnya ia berada di sana. Nyeri itu semakin menjadi. Perih. Dan masih sempat ku lihat, seekor kucing meloncat gesit ke atas tumpukan sampah. Mengendus isy yang tadi ku buang. Lidahnya menjulur beberapa kali merasakan permukaan isy yang kasar. Melewati batas keseimbangan, isy itu akhirnya terjatuh ke aspal. Jubnah dan sayuran berceceran, kini berlumur debu dan polusi jalanan kota. Kucing itu meloncat ke bawah, kembali mengendus dan menjilat. Sebelum akhirnya ia berlari dari pukulan ringan sebuah tongkat. Seorang kakek renta, dengan jalabiah abu-abu kusut dan berdebu. Berjalan sepenggal demi sepenggal, lalu menunduk dengan lemah dan pelan. Lambungku semakin nyeri. Namun terasa lebih saat kakek itu memungut isy dan mengumpulkan isinya yang tercecer dengan jemari kasarnya. Sorot wajahnya tak berubah, menyiratkan pilu dan hidup di bawah bayangan kemiskinan, kelaparan. Raut wajahku yang berubah, skleraku sudah basah. “Nurul, ini bus kita...” seorang kawan menarik lenganku. Episode kakek renta itu semakin menjauh. Tergantikan oleh bayangan berapa butir telur yang dini hari tadi terbuang untuk sebuah kegembiraan. Juga berapa Junaih yang berakhir pada lambung yang tersayat oleh penuhnya. Semua sama. Sama-sama sakit. Satu sakit menahan lapar. Dan yang lain sakit menahan kenyang. Mengapa tidak, untuk sama-sama berbagi? *Penulis adalah Kru TëROBOSAN.

Satu Sama

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

09

Opini

Tetaplah Menjadi Aisyah dan Kartini!
Oleh: Nurlaily Farades*
Berjuang merupakan kata yang selalu ada pada setiap otak manusia, tak terkecuali wanita. Wanita merupakan mujahidah terhebat yang diciptakan Allah, di mana mereka tak hanya memperjuangkan hak diri sendiri, tapi juga hak suami dan anakanaknya dalam seluruh aspek. Wanita adalah sumber inspirasi suaminya dan merupakan guru bagi anak-anaknya, pantaslah jika Allah meletakkan surga di bawah telapak kaki seorang wanita. Namun sayang, pada masanya (pra Islam) wanita hanya dijadikan budak yang tak berharga. Hak-hak mereka diabaikan, bahkan keberadaan mereka pun dianggap aib dan harus dimusnahkan. Islam datang menyirami kehidupan yang gersang, dan mengubahnya menjadi taman yang indah. Sejak saat itulah kupukupu tak lagi takut melebarkan sayapnya, menunjukkan kehindahan sayap yang mereka miliki. Siti Aisyah adalah salah satu kupu-kupu yang bersayap indah itu. Siti Aisyah menghiasi sayapnya dengan iman, ilmu, dan keberanian. Sehingga Allah memilihnya menjadi pendamping Rasulullah SAW di usianya yang belia. Selain mendampingi Rasulullah, Siti Aisyah juga mendalami berbagai disiplin ilmu. Gelar Umm al-Mu’minin pun tersemat ketika usianya masih muda. Ketika berbicara masalah usia, maka usia muda adalah masa kegemilangan bagi manusia, di mana banyak hal yang dengan mudah dapat diterima dan dikritisi. Pada masa itu segala organ tubuh masih berfungsi dengan baik. Jika diibaratkan dengan kopi, maka usia muda merupakan kopi panas yang masih tercium aroma wanginya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kopi panas itu menggoda dan lebih nikmat untuk diminum ketimbang kopi yang telah dingin. Begitulah masa muda. Soekarno pun berkata bahwa beliau hanya membutuhkan sepuluh orang pemuda untuk menggoncang dunia. Dan tidak hanya pria yang dapat menggoncangkan dunia, wanita pun tidak kalah. Raden Ajeng Kartini buktinya. Kartini telah berusaha mengubah dunia di usianya yang muda. Ia mengubah dunia dengan membebaskan kaum hawa di zaman kolonial melalui tulisan-tulisannya. Laiknya Siti Aisyah, masa kecil dan masa muda Kartini dihabiskan dengan membaca, memperdalam pengetahuan dan berjuang untuk kemaslahatan bangsa. Kita bisa bilang bahwa para pemuda dan pemudi sekarang sudah tidak lagi menjadi generasi yang dapat menggoncangkan dunia seperti yang Soekarno inginkan. Mereka lebih terlihat sebagai sekelompok manusia yang terlena dengan perkembangan zaman dan tidak memanfaatkannya untuk pengembangan dirinya. Para penjajah telah sukses mendoktrin ajaran mereka kepada para pemuda, di mana kebebasan merupakan kunci utama dalam menjalani seluruh aktifitas hidup. Kebebasan tanpa batas. Memang pada dasarnya manusia memiliki kebebasan dalam memilih sesuatu, namun ketika seseorang telah mengaku sebagai seorang mulim, maka kata bebas memiliki defenisi yang lain. Bebas menurut Islam memiliki tiga makna. Pertama identik dengan fitrah yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah dan dicemari. Pada fitrahnya, manusia terlahir sebagai makhluk dan hamba Allah yang suci. Maka, bebas berarti hidup sesuai dengan fitrahnya. Yang kedua adalah iradah atau keinginan yang diberikan Allah kepada hambanya. Dalam hal ini, makna bebas tergantung kepada diri manusia masing-masing, mau senang di dunia ataupun di akhirat. Dan yang terakhir adalah ikhtiyar (memilih kepada jalan yang lurus). Maka bisa disimpulkan bahwa kebebasan sejati mencerminkan keindahan, sedangkan kebebasan palsu mencerminkan kebodohan dan kebiadaban. Seiring perkembangan zaman, tekhnologi pun berkembang. Banyak produk yang diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Tak perlu lagi ke tukang pos hanya untuk menanyakan kabar, cukup buka handphone, pilih sms, tulis pesan dan send, selang beberapa menit balasan pun datang dan berakhirlah proses menanyakan kabar. Begitu pun dalam mencari sesuatu. Orang tak lagi dituntut untuk berkeliling mencari tau laiknya para ulama dahulu mencari hadits. Dan orang juga tak harus bereksperimen seperti Einstein untuk mengetahui teori gravitasi bumi. Mbah google telah memiliki semua jawaban itu. Betapa rasa syukur tak akan berhenti terucap atas perkembangan itu. Namun kenapa kemajuan teknologi saat ini tidak seimbang dengan produktifitas para pemudanya? Seperti yang telah kita ketahuai bersama, televisi dan surat kabar telah memberikan banyak bukti betapa fenomena anak muda sekarang mengalami kemerosotan dari tahun ke tahun. Banyak kelompok pria yang terlibat dalam aksi tawuran, tertangkap saat pesta narkoba, dan aksi kriminal lainnya. Seperti tak mau kalah, sebagian wanita pun menunjukkan aksinya dalam memperburuk dunia. Mereka hanya sibuk memikirkan fashion yang semakin berkembang tanpa memikirkan hal penting lainnya. Mulai dari model rambut, make-up, sepatu, sampai pita rambut pun diikuti perkembangannya. Semua itu kini dijadikan sebagai kebutuhan primer di atas pendidikan. Menjadi cantik adalah tujuan sebagian besar para wanita sekarang. Karena bagi mereka hanya kecantikan yang akan meadikan mereka dikenal semua orang. Banyak acara-acara televisi yang secara sengaja ataupun tidak disengaja menyampaikan hal tersebut. Bagi mereka yang memiliki uang tak sulit untuk menjadikan diri lebih cantik. tapi bagi mereka yang hanya hidup dari hari ke hari, tak elak kehormatanlah yang mereka gunakan sebagai alat untuk memperoleh uang. Tak ada ilmu yang dapat dijadikan senjata, hanya itu yang dapat mereka lakukan. Lalu dimana KartiniKartini sekarang? Maka dari itu marilah kita mulai merajut kembali keindahan bangsa yang pernah kita rasakan. Ilmu, iman, usaha dan keberanian, empat kata yang bisa jadi kunci memusnahkan penjahahan yang telah dilakukan kepada kita. Saat ini, pedang tidak lagi menjadi senjata yang ampuh untuk digunakan dalam berperang, ilmulah yang kini berperan sebagai meriam yang dapat menghasilkan ledakkan dahsyat. Dan ilmu pun tak akan berfungsi tanpa adanya pondasi iman sebagai pijakan. Gunakan teknologi sebagai wasilah untuk menyampaikan ide dan berbuatlah dengan keikhlasan dan keberanian. Maka tetaplah mejadi Kartini dan Siti Aisyah masa kini. *Penulis adalah Mahasiswi Al-Azhar tingkat 3, anggota kajian ilmu falak Afda.

10

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

Kolom

Pemuda Utopia
Oleh: Umar Abdullah* Ideal pemuda menjadi kunci masa depan bukanlah utopia. Menyorot kasus anarkis yang dilakukan pemuda sampai menyebabkan tewasnya seorang pelajar SMA, sebenarnya bukan berita baru. Tetapi peristiwa lama yang sering berulang, jika dibiarkan, akan menjadi hal yang lumrah. Bahkan bisa berakar menjadi kebiasaan jika tidak ada langkah preventif yang diterapkan sebagai solusi. Belum lagi berkembangnya tradisi pop yang menyeleweng,maraknya generasi konsumtif serba instan dan condong hedonis yang semakin menjangkiti generasi muda sekarang dan banyak hal lain yang semakin mengaburkan harapan akan menjadi generasi pemuda sekarang. Permasalahannya, dalam kasus ini, siapakah yang bersalah? Apakah patut kita menyalahkan generasi muda saja? Ataukah lembaga dan institusi pendidikan? Bisa jadi orang tua dan lingkungan sekitar-lah tempat kita menuding sebagai pucuk penyebab degenerasi moral para pemuda? Beragam faktor dan variabel yang muncul ketika membahas kemerosotan moralitas suatu generasi menjadikan kasus ini tergolong unik. Maka dalam memecahkan persoalan tersebut, tidak bisa sekedar melalui satu perspektif, harus diurai satu-persatu pelbagai fakotr yang terkait, baru bisa dipreteli satu persatu. Dalam Psikologi Pendidikan, sebenarnya sudah diperkenalkan tiga faktor utama pembentuk dan pemengaruh karakter seseorang, yaitu: rumah, sekolah dan lingkungan. Keluarga, kerabat dan segala media edutainment yang terdapat di rumah, baik visual, cetak maupun audio, semuanya merupakan sarana pembentukan karakter dan paradigma. Jelas faktor utama adalah yang pertama. Interaksi yang lahir antara sang anak dengan pelbagai perkakas kehidupan di sekitar ia berdiam, kemudian segala informasi yang ia tangkap dan ia proses tatkala berumur 1 – 6 tahun, akan menjadi patokan akan menjadi seperti apa dia akan berkembang. C.G. Jung menyatakan bahwa memori seorang anak pada umur belia masih belum sanggup memilah informasi yang ia terima. Apapun akan ia lahap. Hal ini sepertinya diikuti oleh Dorothy Law Nolte, seorang penulis asal Amerika yang terkenal akan puisinya, “Children Learn What They Live.” Sedikit kutipan dari puisi tersebut, Dorothy mengatakan bahwa seorang anak akan belajar memaki jika ia dibesarkan dengan celaan, ia akan selalu menyesali diri jika selalu dihina, ia akan belajar percaya diri jika selalu dimotivasi, dan seorang anak akan belajar menemukan cinta jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan. Tetapi tentu saja, pernyataan tersebut tidaklah akurat. Dalam faktualnya, akan banyak faktor yang mempengaruhi diri seorang anak dalam perkembangannya dan membentuk suatu pola teratur dalam setiap orang. Jung menyebutnya sebagai arketipe. Peristiwa yang menimbulkan jejak kuat pada memori seorang anak, boleh jadi akan menjadi pemicu baginya dalam pelbagai tindakan yang akan ia lakukan saat besarnya nanti. Kasih sayang yang diterima seorang anak sejak dini, tetapi terputus total karena perlakuan dari si orang tua pada umur 10 – 15 tahun misalkan, akan menyebabkan sang anak lari mencari rasa nyaman dan apresiasi dari teman sebayanya. Akibatnya, rumah baginya tidak lagi sebagai tempat anak berpulang, melainkan hanya sebuah media ‘kosong’ yang malah semakin menambah beban mental. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pelepasan segala penat yang ia dapatkan di luar rumah, berubah menjadi alat lain penambah masalah. Kasus ini selalu terjadi jika rumah kehilangan fungsinya, yang bisa disimpulkan jika hal ini terjadi: orang tua yang acuh. Seringkali kasus bermula ketika orang tua tidak lagi peduli pada perkembangan jiwa anak melainkan hanya melihat elevasi unsur ekstrinsik saja, seperti prestasi, akademik, uang jajan dan sebagainya. Lantas orang tua terlalu memaksakan ideal mereka kepada sang anak, hingga akhirnya ideologi anak pun terkurung atas nama ‘penghormatan.’ Hal ini berlaku jika tidak adanya keterlibatan untuk saling memahami, antara si anak dengan orang tuanya. Jika kasus ini terjadi, akan lahir pola ‘pemberontakan’ pada diri sang anak yang menyebabkan dia selalu menentang sistem dan peraturan. Lagi, akibatnya akan muncul sebuah tendensi untuk selalu bersikap keras kepala, condong adu otot dan selalu ingin menang, dihormati dan dihargai. Seharusnya, orang tua perlu menyadari akan perubahan sikap yang terjadi pada anaknya. Sayang, acapkali para wali lebih menyalahkan sekolah dan menuduh para guru bahwa mereka ‘tidak berhasil mendidik anak.’ Begitu juga dengan pemaksaan harapan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh sang anak. Memang, orang tua lebih banyak memakan asam garam kehidupan dan lebih mengerti beribu palang yang bakal merintangi kehidupan anaknya, sesuai dengan apa yang mereka pernah alami dulu. Tetapi zaman juga terus berubah, itu kenyataan. Kita tidak bisa hidup di masa lalu, karena itu seyogyanya orang tua dan anak saling bekerjasama, saling berkomunikasi aktif dan sama-sama mencapai satu kesepakatan dan kepemahaman untuk saling menghidupi. Andaikata hal ini tercapai, maka generasi muda mampu mengeluarkan potensi-potensi paling cemerlang yang mereka miliki. Karena itu, signifikansi pendidikan dan pembentukan karakter anak akan sangat menentukan manusia seperti apa ia menjadi. Berhubung pelbagai inovasi dan kontribusi lebih sering muncul dan lebih dapat tersalurkan ketika muda. maka seyogyanya yang tua membatu yang muda dalam pembenahan dan penanaman kembali bibit-bibit luar biasa kepada yang muda. Tapi perlu dicatat, mereka juga harus melihat faktual dan bekerjasama dengan yang muda untuk saling bersinergi menghasilkan yang terbaik bagi kesemuanya. Jika hal ini tercapai dan diterapkan dalam ranah nasionalisme dan atas nama agama, misalkan. Maka tidak ada istilah pemuda yang bereuforia dengan kegalauan dan hedonism mereka. Pemuda utopia jadi paradoks. *Penulis adalah keluarga Buletin Informatika.

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

11

Space Kosong (12x9 cm)

12

TëROBOSAN, Edisi Interaktif Sumpah Pemuda, 30 Oktober 2012

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->