Anda di halaman 1dari 24

Dermatitis Seboroik

Luigi Naldi, M.D., and Alfredo Rebora, M.D. Seorang pria 35 tahun mengeluh gatal, kemerahan, dan sisik di kulit kepalanya, alis, dan liang telinga luar. Dia telah mencoba beberapa sampo anti ketombe, hanya menghilangkan keluhan sementara, dan ia semakin malu dengan masalah ini. Pada pemeriksaan fisik ditemukan sisik berminyak pada kulit kepala dan eritema dengan sisik kekuningan di lipatan nasolabial. Bagaimana seharusnya kasusnya ditangani? MASALAH KLINIS Dermatitis seboroik adalah kondisi inflamasi kulit, sering kambuh dan bersifat kronis dengan kecenderungan pada daerah yang kaya dengan kelenjar sebacea.1 Kelainan ini ditandai oleh sisik dan eritematosa, dengan berbagai macam variasi dan karakteristik dari morfologi tergantung pada daerah kulit yang terlibat (Gambar 1 dan Tabel 1). Pada fase akut, sisik menutupi permukaan dan sedikit lembab. Kulit kepala hampir selalu terkena, predileksi lainnya (dalam urutan frekuensi) adalah wajah, dada, dan daerah intertriginosa. Blepharoconjunctivitis dapat terjadi atau mungkin berhubungan dengan lesi kulit. Lesi jarang terjadi pada alat kelamin eksternal laki-laki. Gatal yang moderat dan biasanya terbatas pada kulit kepala dan liang telinga luar. Gangguan tersebut mungkin memalukan secara sosial, terutama karena kulit kepala yang bersisik, yang dapat menyebabkan kegelisahan.2 Dermatitis seboroik merupakan salah satu gangguan kulit yang paling sering, meskipun perkiraan prevalensi dibatasi oleh kurangnya kriteria yang valid untuk diagnosis tingkat keparahan. Bentuk infantile, yang biasanya melibatkan kulit kepala (cradle cap), wajah, dan daerah bokokng. Ini mempengaruhi sebanyak 70% dari bayi yang baru lahir selama 3 bulan pertama tetapi biasanya menghilang

pada usia 1 tahun.3 The 19711974 National Health and Nutrition Examination Survey, yang melibatkan sampel yang representatif dari umur 1-74 tahun di penduduk AS, menunjukkan bahwa prevalensi dermatitis seboroik, yang diperiksa oleh dokter kulit, secara keseluruhan sebanyak 11,6% dan 2,8% (2,6% untuk pria dan 3,0 % untuk perempuan) diantara orang-orang dengan kasus yang dipertimbangkan oleh pemeriksa menjadi significant secara klinis. Dalam sampel ini, prevalensi dermatitis seboroik yang significant secara klinis yang terendah adalah usia kurang dari 12 tahun (<1%) dan tertinggi usia 35-44 tahun (4,1%) .4 Dermatitis seboroik lebih sering terjadi dan lebih parah pada orang yang terinfeksi HIV, terutama pada mereka dengan jumlah CD4 di bawah 400 sel per milimeter,
5,6

dibandingkan orang yang tidak terinfeksi, dan mungkin berkurang

dengan terapi antiretroviral.7 Kondisi kulit seperti ini langka pada orang kulit hitam di Afrika, apabila terjadi pada populasi ini, hal itu menimbulkan kekhawatiran adanya infeksi HIV.8 Dermatitis seboroik telah dilaporkan dikaitkan dengan beberapa kondisi, termasuk neuroleptik yang diinduksi oleh penyakit parkinson, familial amiloidosis dengan polineuropati, dan trisomi 21, tetapi hubungan ini tidak memiliki bukti yang cukup.9-11 Tabel 1. Perbedaan Klnis dari Dermatitis Seboroik Ciri-ciri dan Keterangan Dermatitis seboroik ringan dari kulit kepala yang bersisik merupakan cirri utama yang paling banyak; ketombe, tidak spesifik untuk dermatitis seboroik. Merupakan istilah yang lazim digunakan untuk Blepharitis kondisi kulit kepala dengan sisik halus. Bersisik dan eritema pada pinggiran kelopak mata yang mungkin berhubungan dengan konjungtivitis; dermatitis seboroik merupakan penyebab yang paling Dermatitis Seboroik Pityriasiform Dermatitis Seboroik sering. Bentuk yang jarang pada badan dan ekstremitas dengan erupsi eritematous skuamosa menyeluruh Terdapat pada lipatan tubuh terutama pada daerah

Kelainan Dewasa Pityriasis capitis (ketombe)

Flexural

retroaurikula, lipatan paha bagian dalam, genitalia, lipatan payudara dengan intertiginosa yang kadangkadang oozing lesion gatal, papul folikular eritematosa, kadang-kadang pustule, kebanyakan pada tempat yang kaya kelenjar sebacea, dapat disebabkan komplikasi dari dermatitis seboroik dan sering pada penderita imunokompromise Kemerahan yang luas dan kulit yang bersisk dengan manifestasi sistemik; komplikasi yang jarang dari dermatitis seboroik dengan pengobatan pada bentuk yang banyak dengan kondisi menggunakan kontak iritan; konsekuensi dari kelainan kulit seperti takikardia dan pengaturan termoregulasi

Pitirosporum (malassezia) folliculitis

Erythroderma (exfoliative dermatitis)

Infantile (bayi/anak-anak) Dermatitis seboroik kulit plak merah-kuning dengan sisik pada kulit kepala kepala(cradle cap) Leiners disease bayi; yang muncul setelah beberapa minngu setelah lahir sulit untuk didefinisikan bahwa termasuk kasus sindrom imunodefisiensi primer yang tidak Pityriasis amiantacea berubungan dengan dermatitis seboroik tebal, asbes seperti sisik yang melekat pada rambut kulit kepala, mungkin berhubungan dengan psoriasis, HIV-related seborrheic dermatitis Drug-related seborrheiclike dermatitis dermatitis atopic, atau tinea kapitis sering explosive, difus, dan inflamasi yang berhubungan dengan kesehatan perseorangan sering pada pasien yang mendapat pengobatan erlotinib atau sorafenib; juga dilaporkan pada pasien yang mendapat terapi interleukin 2 plus sinar ultraviolet dan isotretinoin; efektivitas pengobatan dengan terapi yang sama yang digunakan pada dermatitis seboroik. * HIV merupakan human immunodeficiency virus.

Dermatitis seboroik juga dapat dipicu oleh stres, tetapi tidak didukung dengan data yang ada. Pasien dengan dermatitis seboroik sering dilaporkan mengalami perbaikan setelah terpapar sinar matahari.12 Namun, peningkatan prevalensi dermatitis seboroik juga dilaporkan pada Mountain guide yang terpapar radiasi sinar ultraviolet dalam jangka yang lama.13 Dermatitis seboroik pada wajah juga dapat terjadi pada pasien psoriasis yang diobati dengan psoralen ditambah sinar ultraviolet A; Dermatitis tipe ini dapat dicegah dengan memakai pelindung wajah selama penyinaran.14 Penyebab dermatitis seboroik tidak sepenuhnya dipahami. Meskipun namanya dermatitis seboroik tidak selalu berhubungan dengan sekresi sebum yang berlebihan (yaitu, "sebor-rhea"), tidak pula kelenjar sebasea terutama yang terlibat. Namun, fungsi dari kelenjar sebasea mungkin menjadi faktor permisif karena dermatitis seboroik terjadi paling sering selama periode produksi sebum aktif (misalnya, neonatal period) dan di daerah kulit dimana sebum diproduksi. Tidak ada kecenderungan genetik jelas. Jamur dari genus Malassezia (sebelumnya disebut Pitirosporum ovale),15-17 yang tergantung dengan lipid, terdapat di seluruh kulit yang berpotensi pathogen dan muncul pada kulit yang terkena, dan antifungal agent berguna dalam pengobatan.18,
19

Namun, yang membingungkan tidak adanya korelasi antara

jumlah organisme malassezia dengan tingkat keparahan manifestasi klinis. Proses inflamasi pada orang yang rentan mungkin dimediasi oleh metabolit jamur yaitu asam lemak bebas yang dilepaskan dari trigliserida sebasea. 18 Lapisan lipid Malassezia juga bisa memodulasi produksi sitokin proinflammatory oleh keratinocytes.20 Tabel 2. Diagnosis Banding dari Dermatitis Seboroik Diagnosis Kondisi Umum Psoriasis sisik dari kulit kepala; Plak tipis sampai tebal dengan Penemuan Klinis Kunci Diagnostik

keterlibatan wajah yang mungkin menyerupai dermatitis seboroik; bentuk fleksura yang eritematosa juga ditemukan pada psoriasis

warna sisik putih perak, dan sedikit gatal dibandingkan dengan dermatitis seboroik; kadang-kadang mengenai kuku, ekstensor palmar, permukaan plantar, dan daerah sacrum; arthritis juga terdapat pada 10% kasusu, jarang pada anak-anak, kadang-kadang dapat juga terjadi erupsi Sering dijumpai pada anak-anak di Negara berkembang; mungkin disebabkan kontak dengan orang pemeriksaan mikroskopis secara diagnostic Onset yang lambat pada dermatitis seboroik, biasanya muncul pada bulan ketiga setelah lahir, gatal, iritasi, dan sulit tidur mungkin sering muncul; pada ekstensor dan wajah sering terjadi pada bayi, lokasi pada fleksura meningkat sesuai umur, sering muncul pada sesorang yang memiliki riwayat atopi atau keluarga dengan penyakit atopi (asma atau rhinitis alergi)

Tinea capitis

infeksi, khususnya yang disebabkan oleh Tricchopyton dengan sisik di kulit alopesia

tonsurans, bisa muncul yang terkena; ditemukan pada kepala dan tidak terjadi langsung dan kultur untuk

Dermatitis Atopik

pada bayi, lesi sering ditemukan pada wajah dan kepala yang bersisik; sisik kering pada kulit kepala dan ranmbut yang kering pada dewasa

Dermatitis Kontak

eritema dan sisik

Gambaran polimorfik, termasuk

mungkin muncul dan bisa komplikasi dari dermatitis seboroik sebagai reaksi pengobatan dengan obat topical (terutama pada liang telinga atau daerah intertrigenosa)

eritem, edema, vesikel, dan erosi pada fase akut dan eritem, likenifikasi, dan hyperkeratosis pada fase kronik. Tes tusuk digunakan untuk menegakkan diagnose; iritasi dermatitis popok hanya terbatas pada daerah popok dan dermatitis seboroik terjadi pada lipatan kulit

Rosacea

tahap awal dari telangiektasis eritematosa rosasea yang bisa berulang pada daerah wajah bagian tengah

Deskuamasi atipikal; telangiektasis dan edema yang berulang mungkin bisa ditemukan, yang munngkin mirip dengan dermatitis seboroik Disebabkan oleh Corinebacterium minutissimun; lesi yang stabil dan asimptomatik; kadang-kadang terdapat kerutan halus dan warna yang memudar dari merah sampai coklat; warna flouresensi merah terang pada penerangan denga lampu wood

Erythrasma

yang ditandai dengan karakteristik yang eritematosa pada daerah intertriginosa

Kondisi yang jarang Langerhans-cell histiocytosis Bentuk difuse yang akut; penyakit Letterer siwe, yang terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun; papul pada kulit, sisik, Kondisi yang multisystem; gambaran lesi tulang yang osteolitik dan diabetes insipidus; disamping papul, pustule kutaneus, besikel atau keduanya, lesi bisa menjadi tebal, petekie

serta krusta pada kulit kepala, fleksura pada leher, aksila, dan perineum WiskottAldrich syndrome Dermatitis pada wajah, kulit kepala, dan daerah fleksura yang terjadi pada 1 bulan setelah lahir; dermatitis yang mengelupas Lupus erythematosus pada bayi, bentuk lupus kutaneus subakut pada wajah (terutama pada kulit periorbita) dan bisa juga terdapat pada kulit kepala; pada oarng dewasa, ruambutterfly pada lupus kutaneus yang akut dan bilateral dan mirip dengan dermatitis seboroik Dermatomyositis eritema ringan dan sisik pada kulit kepala bagian belakang

dan purpura; dan bisa juga terjadi pada palmoplantar dan kuku

Kelainan X-linked resesif, sering terjadi pada anak laki-laki; seperti dermatitis atopic, terjadi perdarahan karena trombositopenia, dan infkeis sinopulmonal yang berulang dapat terjadi. Biasanya plak eritematosa yang anular pada kasus lupus kutaneus subakut; terjadi potosensitivitas; berhubungan dengan konsisi AV blok congenital dengan atau tanpa kardiomiopati, penyakit hepatobilier, dan trombositopenia; anti Ro anti bodi pada anak-anak; ruam butterfly jareng terjadi pada lipatan nasolabial; lesi kutaneus biasanya merupakan gejala klinis yang lain pada sistemik lupus eritematosus

Poikiloderma dengan gatal dan kehilangan rambut; tanda kutaneus yang lain (plak pada siku dan lutut dan lipatan kuku) biasanya gejala kinis dan laboratorium pada

inflamasi ekstensor proksimal miopati

STRATEGI DAN BUKTI DIAGNOSA Diagnosis dermatitis seboroik berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik (Tabel 2). Diagnosis banding tergantung pada usai pasien, lokasi (atau situs) yang terlibat, dan ras pasien atau kelompok etnis. Kondisi umumnya membingungkan dengan dermatitis seboroik termasuk psoriasis, dermatitis atopik, dan pada anak-anak, tinea capitis. Membedakan dermatitis seboroik dengan psoriasis pada wajah sangat sulit untuk dibedakan. Pemeriksaan mikroskopis langsung dari spesimen dari kerokan permukaan kulit dengan kalium hidroksida mungkin berguna untuk menyingkirkan tinea capitis. Biopsi kulit jarang diperlukan untuk diagnosis, tetapi dapat berguna dalam kasus-kasus yang jarang untuk menyingkirkan diagnosis lain seperti kutaneus lupus eritematosus. PENGELOLAAN Agen topikal yang digunakan dalam sebagian besar kasus dermatitis seboroik (Tabel 3). Acak uji yang dilakukan dalam penggunaan beberapa agen ini, tidak semua yang tersedia di Amerika Serikat.

Intervensi Obat Antijamur Ketokonazol

Tabel 3. Topikal untuk Pengobatan Dermatitis seboroik Formulasi Penggunaan Penggunaan dalam Efek samping pengubatan 2% dalam sampo, busa, gel, atau krim Kulit kepala : 2 kali seminggu untuk pembersihan kemudian untuk mentenent 1 kali seminggu Di tempat lain: 2 kali sehari, dilanjutkan 2 kali seminggu kemudain 1 kali seminggu 1,3-8,0 (nilai yang lebih tinggi dalam studi yang lebih besar) untuk pembersihan
21,22

Keterangan

Dermatitis kontak iritan pada <1% pasien; gatal dan rasa terbakar pada

Tersedia dalam bentuk generic; lebih banyak data yang mendukung untuk lesi di kulit kepala dibandingkan di tempat lain; beberapa formulasi ada yang mahal seperi dalam bentuk busa. Tidak tersedia di Amerika Serikat, bukti yang tersedia

;4

kira-kira 3% pasien; obat kategori C pada kehamilan

untuk mencegah kekambuhan lesi pada kulit kepala saat 6 bulan dengan sekali seminggu untuk regimen

Bifonazol

1% dalam sampo atau krim

untuk maintenent maintenen23 Pada kulit kepala : 3 5 untuk kali seminggu untuk pembersihan pembersihan

Reaksi iritasi local sekitar 10% pasien

Pada tempat lain : 1 kali sehari untuk Ciclopiroxolamin (disebut juga ciclopirox) 1,0 % atau 1,5% dalam sampo atau krim pembersihan Pada kulit kepala : 2 3-5 untuk s/d 3 seminggu untuk pembersihan, 1 atau 2 kali seminggu untuk maintenen, Di tempat lain : 2 kali sehari untuk pembersihan dan 1 kali sehari untuk maintenen Kortikosteroid Hidrokortison 1% dalam krim Pada daerah selain atau 2 kali sehari Kurangnya data pembersihan 25,26; 5 untuk pencegahan kekambuhan lesi pada kulit kepala dengan regimen sekali seminggu Dermatitis kontak iritan pada < 1% pasien, rasa gatal dan terbakar pada 2 % pasien, dermatitis kontak alergi merupakan kasus yang jarang yang mungkin bisa terjadi, obat kategori B dalam kehamilan Atropi pada kulit dan pertumbuhan rambut yang berlebihan, penggunaan secara

terbatas

Tersedia dalam bentuk generic, studi pada wajah dan kulit kepala dan pada regimen dalam waktu singkat, lebih mahal dari ketokonazol

Tersedia dalam bentuk generic, bukti yang tersedia terbatas

pada kulit kepala : 1 untuk mengestimasi

10

topical yang terus menerus dan efek sistemik pada penggunaan yang luas, obat kategori Betametason dipropionat 0,05% dalam lotion Pada kulit kepala dan tempat lainya : 1 atau 2 kali sehari Kurangnya data untuk mengestimasi C dalam kehamilan Atropi pada kulit dan pertumbuhan rambut yang berlebihan, penggunaan secara topical yang terus menerus dan efek sistemik pada penggunaan yang luas, obat kategori C Klobetasol 17 butirat 0,05 % dalam krim Pada daerah selain atau 2 kali sehari Kurangnya data dalam kehamilan Atropi pada kulit dan pertumbuhan rambut yang Tersedia dalam bentuk generic, bukti yang tersedia Tersedia dalam bentuk generic, bukti yang tersedia terbatas; kortikosteroid topical tidak digunakan pada wajah

pada kulit kepala : 1 untuk mengestimasi

11

berlebihan, penggunaan secara topical yang terus menerus dan efek sistemik pada penggunaan yang luas, obat kategori Klobetasol dpropionat 0,05 % dalam sampo Pada kulit kepala : 2 Kurangnya data kali seminggu dengan penggunaan yang singkat ( harus dicuci setalah 10 menit penggunaan ) untuk mengestimasi C dalam kehamilan Atropi pada kulit dan pertumbuhan rambut yang berlebihan, penggunaan secara topical yang terus menerus dan efek sistemik pada penggunaan yang luas, obat kategori C Desonid 0,05 % dalam lotion Pada kulit kepala Kurangnya data dalam kehamilan Atropi pada kulit

terbatas; kortikosteroid topical tidak digunakan pada wajah

Bukti yang tersedia terbatas; salah satu pilihan yang mahal

Tersedia dalam

12

dan tempat lainnya : untuk mengestimasi 2 kali sehari

dan pertumbuhan rambut yang berlebihan, penggunaan secara topical yang terus menerus dan efek sistemik pada penggunaan yang luas, obat kategori C dalam kehamilan

bentuk generic, bukti yang tersedia terbatas

Garam Lithium Lithium Sucsinat

Komposisi obat sucsinat ditambah 0,05% zinc sulfat

Selain di kulit kepala : 2 kali sehari

Kurangnya data untuk mengestimasi

Reaksi iritasi local sekitar 7% pasien dalam pengobatan

Tidak tersedai di Amerika Serikat; berdasarkan studi efek terjadi < 8 minggu pengobatan; hanya penilaian pada obat dan percobaan pada pasien yang

dtambah Zinc Sulfat salep : 8% lithium

13

Lithium Glukonat

8% dalam Gel

Selain di kulit kepala : 2 kali sehari

5 untuk pembersihan yang hanya tersedia pada percobaan dengan placebo

Reaksi iritasi local dalam pengobatan

terinfeksi HIV Tidak tersedai di berdasarkan studi efek terjadi < 8 minggu pengobatan

sekitar <10% pasien Amerika Serikat;

Kalsineurin Inhibitor Pimekrolimus 1% dalam krim

Selain di kulit kepala : 2 kali sehari

Kira-kira hanya coba

Rata-rata reaksi sebagai berbandingan dengan placebo (26% vs 12%); memungkinkan untuk meningkatan resiko kanker kulit dengan penggunaan dalam jangka lama; obat kategori C dalam kehamilan

Bukti terbatas untuk efektivitas pada lesi kulit wajah yang ringan sampai berat;

tersedia 10 dalam uji local yang tinggi

14

Obat Miskaleneus Selenium sulfide

2,5% dalam sampo

Pada kulit kepala: 2 kali seminggu

4 hanya tersedia dalam percobaan

Reaksi iritasi local pada 3% pasien dalam pengobatan; warna rambut yang memudar; obat kategori C dalam kehamilan Reaksi iritasi local pada 3% pasien dalam pengobatan

Tersedia dalam bentuk generic, bukti yang tersedia terbatas; sedikit lebih mahal dibandingkan dengan sedian lain Data yang tersedia terbatas

Zinc Pirition

1% dalam sampo

Pada kulit kepalla : 2 kali seminggu

Kurangnya data untuk mengestimasi

15

Agen antijamur topikal Agen antijamur topikal merupakan pilihan pengobatan dermatitis seboroik. Berdasarkan studi seperti: ketoconazole, bifonazole, dan ciclopiroxolamine (juga disebut ciclopirox), yang tersedia dalam formulasi yang berbeda seperti krim, gel, busa, dan shampoo. Ada setidaknya 10 percobaan acak dari ketoconazole, beberapa terbatas pada perawatan kulit kepala dan pengobatan beberapa area tubuh. Dalam percobaan double-blind dengan melibatkan 1162 orang dengan dermatitis seboroik yang ringan sampai yang berat mempengaruhi beberapa bagian tubuh, pengobatan berhasil (atas dasar skor penilaian global) dalam 4 minggu pada 56% pasien yang menerima ketoconazole busa dua kali sehari, dibandingkan dengan 42% yang menerima busa placebo (P <0,001) .22 Hasil yang mirip diperoleh dalam penelitian yang membandingkan obat plasebo dalam bentuk krim.22 Dalam percobaan membandingkan ketokonazole 2% gel, digunakan sekali sehari, dengan plasebo pada 459 subyek dengan penyakit sedang sampai berat pada tempat yang berbeda di tubuh, 25% dari subjek dengan pengobatan aktif dan 14% diberikan placebo dianggap selesai atau hampir selesai pada hari ke 28 (P = 0,001) .30 Penggunaan ketoconazole secara intermiten dapat mempertahankan remisi. Dalam satu studi, 312 pasien dengan lesi dermatitis pada kulit kepala yang dibersihkan dengan sampo dua kali seminggu yang mengandung 2% ketoconazole yang kemudian terdaftar dalam uji coba terkontrol menggunakan plasebo profilaksis 6 bulan, tingkat kekambuhan adalah 47% pada pasien yang menggunakan plasebo, 31% pada pasien yang menggunakan shampoo ketoconazole sekali setiap minggu, dan 19% di antara pasien menggunakan pengobatan aktif sekali seminggu.23 Bifonazole juga telah terbukti efektif dalam pengobatan dermatitis seboroik. Dalam uji coba secara acak yang melibatkan 100 pasien, 43% pasien yang menggunakan bifonazole krim 1% sekali sehari, dibandingkan dengan 23% dari mereka yang menggunakan plasebo, menunjukkan sembuh dalam 4 minggu menurut skala perkembangan global.24 Bifonazole sampo yang digunakan tiga kali seminggu juga telah terbukti secara signifikan lebih besar daripada placebo.31 16

Dalam uji coba secara acak membandingkan shampoo ciclopiroxolamine yang digunakan sekali atau dua kali seminggu dengan plasebo pada 949 pasien dengan lesi kulit kepala, yang mengalami penyembuhan dalam 4 minggu adalah 45% dan 58% dengan perawatan active sekali seminggu dan dua kali seminggu, dan 32% dengan plasebo (P <0,001 untuk kedua perbandingan dengan placebo). Di antara 428 pasien dengan respon yang kemudian secara acak untuk menggunakan ciclopiroxolamine profilaksis sekali seminggu, Ciclopiroxolamine profilaksis setiap 2 minggu, atau placebo selama 4 bulan, tingkat kambuh secara berurutan adalah 15%, 22%, dan 35%.25 Data terbatas yang tersedia untuk perbandingan agen antifungal yang berbeda. Dalam uji coba yang melibatkan 303 pasien dengan dermatitis seboroik wajah, penggunaan ciclopiroxolamine krim dua kali sehari selama 28 hari, diikuti dengan penggunaan sehari sekali untuk tambahan 28 hari, memberikan hasil remisi yang signifikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan ketoconazole gel digunakan dua kali seminggu untuk 28 hari dan kemudian sekali seminggu (57% vs 44% pada 56 hari dalam masa pengobatan, P = 0,03). Namun, hasil ini adalah sulit untuk diinterpretasikan karena frekuensi aplikasi yang lebih rendah untuk ketokonazol daripada ciclopiroxolamine. 32 toleransi efek samping lokal serta keseluruhan lebih baik dengan ciclopiroxolamine dibandingkan dengan ketoconazole.26 tidak efek samping mayor yang dilaporkan yang disebabkan oleh agen antijamur topikal, meskipun sensitivitas kontak telah dilaporkan dengan penggunaan jangka panjang pada kasus yang jarang.33 Kortikosteroid topikal Beberapa penelitian secara acak yang secara langsung membandingkan kortikosteroid topikal jangka pendek termasuk perkiraan peningkatan potensi, hidrokortison, betametason dipropionat, clobetasol 17 butirat, dan clobetasol dipropionat dengan antijamur topikal agents.34, 35 Percobaan ini telah menunjukkan tidak ada perbedaan yang significant atau perbedaan kecil dalam mendukung agen antijamur, tetapi kurang berpengaruh, hanya 72 orang.
35

satu uji acak terkontrol

pada plasebo menunjukkan bahwa 0,05% desonide lotion lebih baik dibandingkan 17

Dengan plasebo pada 81 pasien dengan lesi wajah pada dermatitis atopik atau seborrheic, tetapi tingkat respons antara pasien dengan dermatitis seboroik tidak dilaporkan secara terpisah.36 ada kesepakatan bahwa kortikosteroid topical yang digunakan dalam waktu yang singkat dapat menyembuhkan eritema dan gatal. Tidak ada data yang bisa menunjukkan mengenai kombinasi kortikosteroid topical dengan antifungal topical lebih baik dibandingkan dengan terapi tunggal. Atrophy kulit dan hypertricosis merupakan akibat dari penggunaan steroid jangka panjang. Selenium Sulfida Persiapan Dalam uji coba secara acak yang melibatkan 246 pasien dengan ketombe sedang sampai berat, untuk membandingkan selenium sulfide shampoo 2,5%, ketokonazole sampo 2%, dan plasebo. Semua shampoo digunakan dua kali seminggu. Penurunan skor untuk ketombe pada minggu ke 4 adalah 67% dengan selenium sulfida, 73% dengan ketokonazol, dan 44% dengan plasebo; pengurangan secara signifikan lebih besar dengan kedua shampoo obat dibandingkan dengan placebo.29 Gatal dan sensasi terbakar yang lebih umum dengan sulfida shampoo dibandingkan dengan ketokonazol. Data percobaan untuk penggunaan selenium sulfida di daerah lain selain kulit kepala kurang. Garam Lithium topikal Suksinat lithium topikal dan glukonat lithium adalah agen alternatif yang efektif untuk pengobatan dermatitis seboroik di daerah lain selain kulit kepala. Mekanisme kerjanya kurang dipahami. Dalam percobaan plasebo terkontrol lithium succinate yang melibatkan dua peridode. 4 minggu masa pengobatan dipisahkan oleh 2 minggu periode washout, lithium succinate salep dua kali sehari memberikan pengurangan yang significant dalam eritema, scaling, dan persentase daerah kulit yang terkena.37 Dalam uji acak yang melibatkan 12 pasien, lithium suksinat memberikan hasil yang significant daripada plasebo untuk pengobatan lesi pada pasien HIV. terbukti lebih efektif daripada
38

Glukonat lithium dua kali sehari dalam


27

plasebo

percobaan

minggu

melibatkan 129 pasien dengan lesi wajah,

dan terbukti lebih unggul 2% 18

ketokonazol 2% selama 8 minggu yang melibatkan 288 pasien dengan lesi wajah, dalam studi terakhir, tingkat remisi lengkap adalah 52% dengan penggunaan lithium glukonat dan 30% dengan penggunaan ketoconazole, tapi ketoconazole digunakan hanya dua kali seminggu.39 Iritasi kulit adalah efek samping yang paling umum yang terkait dengan garam lithium topikal. Topikal Calcineurin Inhibitor Inhibitor kalsineurin mencegah aktivasi T-sel dengan menurunkan regulasi aktivitas tipe 1 dan 2 Sel T-helper. Dalam uji coba secara acak yang melibatkan 96 pasien dermatitis seboroik wajah dari sedang sampai yang parah, perubahan ratarata dari awal sampai 4 minggu dua kali sehari dengan menggunakan pimekrolimus 1% dibandingkan dengan plasebo.28 Percobaan acak tidak menunjukkan perbedaan yang significant antara pimecrolimus dan kortikosteroid topikal.40, 41 Terapi topikal lainnya Data terbatas tersedia untuk memberikan dukungan untuk penggunaan zinc pyrithione topikal. Dalam satu percobaan, zinc pyrithione 1% kurang efektif dibandingkan ketokonazol 2% (keduanya digunakan sebagai sampo dua kali seminggu) dalam mengurangi keparahan ketombe pada 4 minggu (67% peningkatan dalam skor keparahan vs 73% perbaikan, P <0,02) . 42 Data terbatas juga tersedia untuk metronidazol gel, dengan percobaan sebagian besar gagal untuk menunjukkan perbedaan hasil yang significant dibandingkan dengan placebo.43 coaltar shampoo terkadang diajukan pada dermatitis seboroik, meskipun data pendukung penggunaannya jarang. Dalam satu uji coba secara acak, coaltar sampo 4% dibandingkan dengan placebo memberikan hasil yang significant dalam penurunan ketombe.44 Tingkat respons yang tinggi telah dilaporkan dalam banyak uji coba dengan penggunaan plasebo saja. Namun, masih belum jelas apakah tingkat ini disebabkan respon plasebo atau emolien efek dari placebo.22, 28 Fototerapi 19

Fototerapi ultraviolet B kadang-kadang dianggap sebagai pilihan untuk dermatitis yang luas dan sulit disembuhkan, tetapi belum dipelajari dengan percobaan secara acak.45,46 Rasa terbakar dan gatal-gatal mungkin terjadi pada pengobatan jangka panjang, dan perlu diperhatikan efek karsinogenik pada kulit. Terapi antijamur sistemik Data terbatas tentang efektivitas agen antijamur sistemik untuk dermatitis seboroik. Dalam uji coba secara acak yang melibatkan 63 pasien dermatitis seboroik yang ringan sampai sedang, dosis mingguan tunggal 300 mg fluconazole tidak lebih baik daripada placebo setelah 2 weeks.47 Dalam uji coba, acak terkontrol plasebo yang melibatkan 174 pasien,
48

Terbinafine oral(dengan dosis

250 mg per hari selama 4 minggu) tidak lebih baik dari plasebo pada pasien dengan lesi terutama melibatkan daerah kulit yang terekspos, seperti wajah, sedangkan perbedaan tercatat pada pasien dengan lesi terutama melibatkan area kulit yang tidak terekspos, seperti kulit kepala, sternum, dan area interscapular, namun kesimpulan berdasarkan analisis subkelompok yang bermasalah. Keamanan profile agen antifungal sistemik harus dipertimbangkan dengan cermat dalam perencanaan pengobatan untuk kondisi kronis seperti dermatitis seboroik. AREA YANG TIDAK DIMENGERTI Untuk meningkatkan kualitas dalam pengobatan untuk dermatitis seboroik, kriteria divalidasi untuk diagnosis dan divalidasi untuk keparahan, ukuran hasil klinis yang relevan yang dibutuhkan. Kebanyakan uji coba terapi adalah jangka pendek yang dikontrol, dalam kasus agen topikal, atau plasebo terkontrol. Seharusnya ada studi jangka panjang membandingkan strategi manajemen yang berbeda, termasuk pengobatan nonpharmacologic, seperti fototerapi, dan intervensi sederhana untuk menghilangkan sisik, seperti pengobatan dengan agen keratolitik. Ada beberapa data yang digunakan untuk pengobatan penyakit pada bayi. Demikian pula, data pengobatan pasien dengan HIV terkait dermatitis

20

seboroik

38

dan pasien yang tidak memiliki respon terhadap pengobatan topikal

konvensional sangat terbatas. PEDOMAN Pedoman berbasis bukti, yang dikembangkan oleh The Finnish Medical Society Duodecim dan direvisi pada bulan April 2007, tersedia melalui The National Guideline Clearinghouse (www.guideline.gov). Bimbingan berbasis bukti juga tersedia di Clinical Knowledge Summaries of the U.K National Helath System (cks.library.nhs.uk). Rekomendasi dalam artikel ini umumnya konsisten dengan panduan ini. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pasien harus diedukasi tentang kekambuhan dermatitis seboroik kronis dan harus memahami bahwa pengobatan mungkin tidak mengakibatkan penyembuhan yang lengkap. Untuk pasien seperti yang dijelaskan dalam sketsa, saya akan merekomendasikan pengobatan lesi kulit kepala dengan shampoo yang mengandung ketokonazole 2% dua kali seminggu selama 1 bulan, dengan tujuan membuat remisi, diikuti dengan penggunaan sampo ini sekali setiap minggu. Demikian pula, lesi wajah dapat dikontrol dengan penggunaan krim ketokonazol 2% dua kali sehari selama 4 minggu, kemudian dua kali seminggu atau kurang sering, tergantung pada respon pasien. Alternatif yang bisa digunakan yaitu sampo yang mengandung 2,5% selenium sulfida atau ciclopiroxolamine untuk lesi kulit kepala, dan ketokonazol busa atau gel, krim ciclopiroxolamine, termasuk garam lithium untuk lesi wajah. Pengambilan keputusan juga harus memperhitungkan biaya account dan preferensi pasien dalam bentuk pengobatan yang diberikan.

21

REFERENSI 1. Hay JR, Graham-Brown RA. Dandruff and seborrhoeic dermatitis: causes and management. Clin Exp Dermatol 1997;22:3-6. 2. Hirt M, Ross WD, Kurtz R, Gleser GC. Attitudes to body products among normal subjects. J Abnorm Psychol 1969;74:486-9. 3. Foley P, Zuo Y, Plunkett A, Merlin K, Marks R. The frequency of common skin conditions in preschool-aged children in Australia: seborrheic dermatitis and pityri- asis capitis (cradle cap). Arch Dermatol 2003;139:318-22. 4. Skin conditions and related need for medical care among persons 1-74 years, United States, 1971-1974. Hyattsville, MD: National Center for Health Statistics, 1978. (DHEW publication no. 79-1660.) 5. Coopman SA, Johnson RA, Platt R, Stern RS. Cutaneous disease and drug re- actions in HIV infection. N Engl J Med 1993;328:1670-4 6. Mallal SA. The Western Australian HIV Cohort Study, Perth, Australia. J Acquir Immune Defic Syndr Hum Retrovirol 1998; 17:Suppl:S23-S27. 7. Dunic I, Vesic S, Jevtovic DJ. Oral can- didiasis and seborrheic dermatitis in HIV- infected patients on highly active antiret- roviral therapy. HIV Med 2004;5:50-4. 8. Mah A, Simon F, Coulibaly S, Toun- kara A, Bobin P. Predictive value of sebor- rheic dermatitis and other common derma- toses for HIV infection in Bamako, Mali. J Am Acad Dermatol 1996;34:1084-6. 9. Binder RL, Jonelis FJ. Seborrheic der- matitis in neuroleptic-induced parkinson- ism. Arch Dermatol 1983;119:473-5. 10. Rocha N, Velho G, Horta M, Martins A, Massa A. Cutaneous manifestations of familial amyloidotic polyneuropathy. J Eur Acad Dermatol Venereol 2005;19:605-7. 11. Ercis M, Balci S, Atakan N. Dermato- logical manifestations of 71 Down syn- drome children admitted to a clinical ge- netics unit. Clin Genet 1996;50:317-20.

22

12. Berg M. Epidemiological studies of the influence of sunlight on the skin. Photo- dermatol 1989;6:80-4. 13. Moehrle M, Dennenmoser B, Schlagen- hauff B, Thomma S, Garbe C. High preva- lence of seborrhoeic dermatitis on the face and scalp in mountain guides. Dermatol- ogy 2000;201:146-7. 14. Tegner E. Seborrhoeic dermatitis of the face induced by PUVA treatment. Acta Derm Venereol 1983;63:335-9. 15. Gupta AK, Boekhout T, Theelen B, Summerbell R, Batra R. Identification and typing of Malassezia species by amplif ied fragment length polymorphism and se- quence analyses of the internal transcribed spacer and large-subunit regions of ribo- somal DNA. J Clin Microbiol 2004;42: 4253-60. 16. Xu J, Saunders CW, Hu P, et al. Dan- druff-associated Malassezia genomes re- veal convergent and divergent virulence traits shared with plant and human fungal pathogens. Proc Natl Acad Sci U S A 2007; 104:18730-5. 17. Tajima M, Sugita T, Nishikawa A, Tsuboi R. Molecular analysis of Malassezia microf lora in seborrheic dermatitis patients: comparison with other diseases and healthy subjects. J Invest Dermatol 2008;128:345-51. 18. DeAngelis YM, Gemmer CM, Kaczvin- sky JR, Kenneally DC, Schwartz JR, Dawson TL Jr. Three etiologic facets of dandruff and seborrheic dermatitis: Malassezia fun- gi, sebaceous lipids, and individual sensi- tivity. J Investig Dermatol Symp Proc 2005; 10:295-7. 19. Pirard-Franchimont C, Xhauf laire- Uhoda E, Pirard GE. Revisiting

dandruff. Int J Cosmet Sci 2006;28:311-8. 20. Thomas DS, Ingham E, Bojar RA, Holland KT. In vitro modulation of human keratinocyte pro- and anti-inf lammatory cytokine production by the capsule of Malassezia species. FEMS Immunol Med Microbiol 2008 August 21 (Epub ahead of print). 21. Carr MM, Pryce DM, Ive FA. Treat- ment of seborrhoeic dermatitis with keto- conazole: I. Response of seborrhoeic der- matitis of the scalp to topical 23

ketoconazole. Br J Dermatol 1987;116:213-6.

22. Elewski BE, Abramovits W, Kempers S, et al. A novel foam formulation of keto- conazole 2% for the treatment of sebor- rheic dermatitis on multiple body regions. J Drugs Dermatol 2007;6:1001-8. 23. Peter RU, Richarz-Barthauer U. Success- ful treatment and prophylaxis of scalp seborrhoeic dermatitis and dandruff with 2% ketoconazole shampoo: results of a multicentre, double-blind, placebo-con- trolled trial. Br J Dermatol 1995;132:441-5. 24. Zienicke H, Korting HC, Braun-Falco O, et al. Comparative eff icacy and safety of bifonazole 1% cream and the correspond- ing base preparation in the treatment of seborrhoeic dermatitis. Mycoses 1993;36: 325-31. 25. Shuster S, Meynadier J, Kerl H, Nolt- ing S. Treatment and prophylaxis of sebor- rehic dermatitis of the scalp with antipity- rosporal 1% ciclopirox shampoo. Arch Dermatol 2005;141:47-52. 26. Unholzer A, Varigos G, Nicholls D, et al. Ciclopiroxolamine cream for treating seborrheic dermatitis: a double-blind par- allel group comparison. Infection 2002;30: 373-6. 27. Dreno B, Moyse D. Lithium gluconate in the treatment Eur J Derma- tol 2002;12:549-52. 28. Warshaw EM, Wohlhuter RJ, Liu A, et al. Results of a randomized, doubleblind, vehicle-controlled eff icacy trial of pime- crolimus cream 1% for the treatment of moderate to severe facial seborrheic der- matitis. J Am Acad Dermatol 2007;57:257- 64. of seborrhoeic

dermati- tis: a multicenter, randomised, double- blind study versus placebo.

24