Anda di halaman 1dari 8

PULE PANDAK Nama latin: Rauwolfia serpentina Benth Nama daerah: Akar tikus Sifat Kimiawi : Mengandung alkaloid,

terdiri dari 3 group yaitu alkaline kuat : quarterary ammonium compound serpentine, sarpagine dan samantine, penyerapan jelek jika digunakan per-oral ; tertiary amine derivate yohimbine, ajmaline, ajmalicine, tetraphylline dan tetraphyllicine ; alkaline lemah secondary amines reserpine, rescinnamine, deserpidine, raunesine dan canescine. Efek Farmakologis : Akar rasa pahit, dingin, sedikit beracun. Penenang dan penurun tekanan darah, melancarkan sirkulasi, menghilangkan sakit, penurun panas dalam dan panas liver, anti radang. Batang dan Daun Pahit, manis, sejuk. Menolak angin, menurunkan tekanan darah, melancarkan darah beku. Deskripsi tanaman: Perdu rendah, tingginya 30-50 cm. Daun tunggal berbentuk anak tombak berujung lancip. Pada masa vegetatif, satu ruas terdiri dari 3 daun. Mahkota bunga bagian luar putih, bagian dalam beralur kemerahan, membentuk tabung kecil dengan bagian tengah berbentuk pundi-pundi. Membentuk karangan dipuncak batang, tapi pada masa vegetatif selanjutnya karangan bunga terdesak ke samping oleh kuncup hingga yang mulamula terminalis akan berubah axialis. Buah batu berbiji dua yang menonjol, tampak dari luar, mula-mula hijau lalu merah dan akhirnya hitam mengkilat. Habitat: Tumbuh pada daerah berdrainase baik pada ketinggian 50-300 m dpl. Bagian tanaman yang digunakan: Akar Kandungan kimia: Alkaloid ajmalina; Serpentina; Alstonina; Reserpina; Sarpagina; Yohimbina; Alkaloid Khasiat: Antiinflamasi; Hipotensif; Sedatif; Analgesik; Antipiretik Nama simplesia: Rau wolfiae Radix, Mustelae Radix

khasiat pule pandak Nama ilmiah : Rauvolia serpentina L. Nama daerah : pulai pandak atau akar tikus Nama asing : rauwolfia serpentina (India) Khasiat untuk pengobatan 1) Obat kerongkongan Akar pule pandak dibersihkan, diiris tipis, lalu dihisap. 2) Luka atau digigit ular Petiklah beberapa helai daun pule segar. Lumatkan atau tumbuk, lalu hasil lumatan ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. 3) Luka atau koreng Akar kering pule pandak digiling halus, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit. 4) Khasiat lain (megobati tekanan darah tinggi, susah tidur, sakit perut, panas tinggi yang menetap, radang empedu, kejang pada ayan, panas pada malaria dan flu, sakit tenggorokan, bisul, gatal-gatal, gangguan jiwa, dan meningkatkan nafsu makan) Akar pule pandak yang kering direbus. Minum air rebusan akar tersebut.

Pule pandak

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Magnoliopsida Gentianales Apocynaceae Rauwolfia

Spesies: R. serpentina Nama binomial Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz[1] Pule pandak adalah tanaman bunga dari famili Apocynaceae yang telah banyak digunakan dalam industri obat.[2] Tanaman ini tersebar di India,Myanmar, Thailand, dan Indonesia (terutama Jawa).[3] Nama ilmiahnya Rauvolfia serpentina dibuat untuk menghormati seorang ahli botani berkebangsaan Inggris, Leonhard Rauwolf.

Pemerian dan ekologi Perdu tegak ini tumbuh mencapai 1 m, batangnya silindris dengan percabangan berarna coklat abu-abu yang mengeluarkan cairan jernih bila dipatahkan.[2] Tanaman ini kadang ditemukan di pekarangan rumah sebagai tanaman hias, tetapi lebih sering tumbuh liar di ladang, hutan jati atau tempat-tempat lain sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut.[2] Bunganya bunga majemuk, dengan mahkota bunga putih atau daduberkumpul berbentuk payung keluar dari ketiak daun atau ujung percanbangan.[2] [sunting]Manfaat Nilai pule pandak sebagai tanaman obat terletak pada kandungan alkaloidnya, keberadaan alkaloid ini sangat tergantung pada lingkungan terutama faktor-faktor yang memengaruhi proses enzimatik antara lain jenis tanah, unsur hara, curah hujan, temperatur, dan cahaya.[3] Pule pandak dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi (hipertensi), sakit kepala, vertigo, insonmnia, radang empedu, epilepsi, bisul, serta luka akibat gigitan ularatau kalajengking. [2] Pule Pandak (Rauvolfia serpentine [L.] Bentham ex. Ku) Sinonim : = Ophioxylon obversum, Mq. = 0. serpentinwn, Linn. = O. trifoliatum, Gaertn. = Hunteria sundana, Mq. Familia : Apoeynaceae Uraian : Pule pandak kadang ditemukan di pekarangan rumah sebagai tanaman hias, namun lebih sering tumbuh liar di ladang, hutan jati, atau tempat lainnya sampai ketinggian 1.000 m dpl. Perdu tegak, tahunan, tinggi mencapai 1 m, bergetah, batang silindris, percabangan warna cokelat abu-abu, mengeluarkan cairan jernih bila dipatahkan. Daun tunggal, bertangkai pendek, duduk berkarang atau berhadapan bersilang, bentuk taji atau bulat telur memanjang, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 3 - 20 ern, lebar 2 - 9 cm, permukaan atas hijau, permukaan bawah warnanya lebih muda. Perbungaan majemuk, bentuk payung yang keluar dari ujung tangkai, mahkota bunga warnanya merah. Buahnya buah batu, bulat telur, masih muda hijau bila masak warnanya hitam, berbiji satu. Akar panjang dan besar. Akar keringnya disebut Rauwolfia Serpentina.

Nama Lokal : Pulai pandak (Jawa). akar tikus (Sumatera).; Yin tu luo fu mu (China). serpent wood, serpentine (Inggris).; Chandrika chhota chand, sarpaganh (India, Pakistan).;

Penyakit Yang Dapat Diobati : Tekanan darah tinggi (hipertensi), sakit kepala, vertigo, diare,; Sakit tenggorokan, sakit pinggang, sakit perut pada disentri, ; Muntah, Malaria, influenza, radang kandung empedu, bisul,; Hepatitis akut, susah tidur (insomnia), gangguan jiwa (mania), ; Kurang napsu makan, hiperfungsi kelenjar gondok (hipertiroid),; kudis (skabies), biduran (urtikaria), gigitan ular/kalajengking,; Luka terpukul atau terbentur (memar), hernia.; Komposisi : SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Akar bersifat pahit, dingin, dan sedikit beracun. Batang dan daun bersifat pahit, manis, dan sejuk. KANDUNGAN KIMIA : Akar mengandung 3 grup alkaloid, yang jenis dan jumlahnya tergantung dari daerah asal tumbuhnya. Grup I termasuk alkaline kuat (quarterary ammonium compound): serpentine, serpentinine, sarpagine, dan samatine. Penyerapannya jelek bila digunakan peroral (minum). Grup II (tertiary amine derivate): yohimbine, ajmaline, ajmalicine, tetraphylline, dan tetraphyllicine. Grup III termasuk alkaline lemah (secondary amities): reserpine, rescinnamine, deserpidine, raunesine, dan canescine. Reserpine berkhasiat hipotensif, ajmaline, serpentine, dan rescinnamine berkhasiat sedatif, yohimbine merangsang pembentukan testosteron yang dapat membangkitkan gairah seks.

PULE PANDAK SEBAGAI "GINSENG JAWA"

Tanaman pulai atau pule (Alstonia scholaris) lebih dikenal masyarakat, karena sering digunakan sebagai peneduh dan elemen taman di kota-kota besar. Termasuk di kota Jakarta. Pule yang berupa pohon besar itu juga merupakan tanaman obat. Bagian yang dimanfaatkan kulit batangnya. Masyarakat Jawa Tengah menyebut jamu dari kulit batang pulai ini sebagai "babakan pule". Rasa kulit batang pulai luarbiasa pahit. Pule pandak (Rauwolfia serpentina dan Rauwolfia verticillata) bukan keluarga pulai. Bahkan tanaman pule pandak hanya berupa semak dengan tinggi 1 sd. 1,5 m. Meskipun kurang populer, pule pandak merupakan tanaman obat penting. Salah satu khasiatnya adalah afrosidiak (meningkatkan gairah seksual). Sebab fungsi pule pandak mampu mengobati lemah syahwat yang disebabkan oleh gangguan fisik (akibat tekanan darah tinggi) dan juga akibat tekanan psikis. Hingga pule pandak bisa disamakan dengan purwoceng (Pimpinella pruatjan), yang selama ini lebih dikenal sebagai "ginseng jawa".

Sama dengan ginseng, purwoceng dan pasak bumi, bagian tanaman pule pandak yang dimanfaatkan adalah akarnya. Kalau akar ginseng dan purwoceng membentuk umbi, maka akar pule pandak hanya melingkar-lingkar seperti ular. Sifat akar pule pandak ini juga berlainan dengan akar pasak bumi yang lurus masuk ke dalam tanah seperti "pasak" yang

ditancapkan ke "bumi". Akar pule pandak berwarna merah mencolok. Akar yang tertinggal di dalam tanah karena tanamannya dicabut, terbakar atau terputus oleh cangkul, akan menumbuhkan individu tanaman baru. Hingga pule pandak bisa diperbanyak dengan stek akar maupun dengan biji. Oleh masyarakat tradisional, akar pule pandak sering dimanfaatkan untuk menawarkan bisa (antidote) akibat gigitan ular dan serangga serta obat penenang (sedative). Selain sebagai penawar bisa dan penenang, pule pandak juga berkhasiat melancarkan peredaran darah.

Berdasarkan analisis farmakologis, akar pule pandak mengandung alkaloid resepine, reserpinine, rescinnsmine, yohimbine, ajmaline, ajmalinine, ajmalicine, serpentine dan serpentiine. Alkaloid yohimbine inilah yang berkhasiat mengobati gangguan syaraf (menenangkan), sekaligus mengembalikan keperkasaan seksual pria. Namun yohimbine yang terkandung dalam akar pule pandak kurang begitu penting jika dibandingkan dengan alkaloid reserpine yang mampu menurunkan tekanan darah (mengatasi hipertensi). Sementara alkaloid ajmaline mampu menormalkan denyut jantung. Dengan khasiat seperti ini, potensi pule pandak sebagai pengganti ginseng menjadi sangat besar. Meskipun kandungan alkaloid dalam akar pule pandak sangat ditentukan oleh umur tanaman dan lokasi budidayanya. Semakin kering dan tandus kawasan budidayanya, semakin tinggi kadar alkaloid dalam akarnya. Akar pule pandak terbaik saat ini dihasilkan oleh India dan Pakistan. Di Indonesia, budidaya pule pandak banyak dilakukan di kawasan hutan jati yang gersang seperti di Kab. Grobogan, Blora dan Bojonegara.

Sebenarnya, yang selama ini dikenal sebagai pule pandak dan dimanfaatkan sebagai tanaman obat hanyalah Rauwolfia serpentina. Sementara Rauwolfia verticillata lebih dikenal sebagai tanaman hias. Sebab penampilan tanaman maupun bunganya tampak lebih indah Rauwolfia verticillata. Sementara kandungan alkaloid Rauwolfia verticillata, terutama reserpinnya, hanya sekitar 30% dari alkaloid Rauwolfia serpentina. Namun sejak akhir tahun 1990an, mulai ada minat mengembangan Rauwolfia verticillata untuk mengantisipasi pengambilan Rauwolfia serpentina dari alam, terutama dari hutan-hutan jati. Sebab secara teknis, Rauwolfia verticillata relatif lebih mudah dibudidayakan dibanding dengan Rauwolfia serpentina. Meskipun sebenarnya, sejak 20 tahun terakhir sudah mulai banyak upaya untuk membudidayakan pule pandak Rauwolfia serpentinasecara lebih serius. Upaya budidaya ini dilakukan karena faktor efisiensi. Sebab sebelumnya, sebagai substitusi ginseng yang harus diekspor dari Korea, perusahaan jamu menggunakan Rafflesia padma. Akibatnya, eksplorasi Rafflesia padma dari Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo, Jawa Timur mencapai titik kulminasinya. Tumbuhan yang sudah langka ini menjadi semakin langka.

Mulailah dicari alternatif substitusi untuk memperoleh tumbuhan yang khasiatnya lebih kurang sama dengan ginseng korea. pasak bumi (Eurycomae longifoliae) dari Kalimantan, sebenarnya juga memiliki kandungan yang mirip dengan ginseng. Namun upaya eksplorasi atau budidayanya relatif sulit. Sebab rata-rata pabrik jamu berada di Jawa, sementara habitat asli pasak bumi ada di Kalimantan. Padahal sebenarnya tumbuhan ini pun relatif mudah dibudidayakan. Terbukti pada akhir tahun 1980an pasak bumi bisa dibudidayakan secara massal di Darwin, Australia Utara. Sampai kemudian pilihan jatuh pada pule

pandak Rauwolfia serpentina yang kandungan zat aktif dalam akarnya mirip dengan ginseng korea. Namun upaya budidaya pule pandak secara serius sampai sekarang belum pernah dilakukan. Pelaku budidaya pule pandan selama ini hanyalah sebatas para petani penggarap di sekitar hutan jati, atau kolektor tanaman obat.

Padahal pule pandak sangat mudah dibudidayakan. Tanaman pule pandak juga sering disebut akar tikus, karena akarnya yang lurus itu kadang-kadang tampak mirip dengan ekor tikus. Nama lain tanaman ini adalah akar ular (snake-root atau arbre aux serpents). Sebab sepintas, akar pule pandak juga kelihatan seperti ular, selain juga sering digunakan untuk mengobati gigitan ular berbisa atau serangga beracun lainnya. Tanaman ini terdapat menyebar mulai dari India, Srilanka, Bangledesh dan seluruh kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sebaran tanaman pule pandak di Indonesia, terutama terkonsentrasi di pulau Jawa. Pule pandak bisa tumbuh baik mulai dari dataran rendah dengan ketinggian 0 m. dpl. sampai ke dataran tinggi 1000 m. dpl. Pule pandak juga toleran terhadap bermacam agroklimat. Mulai dari kawasan basah seperti Jawa Barat sampai dengan yang ekstrim kering seperti di NTT. Namun kandungan alkaloid serpentinnya, akan optimal kalau pule pandak dibudidayakan di kawasan seperti Kab. Grobogan, Blora, Rembang dan terus ke Jawa Timur yang beriklim kering.

Budidaya pule pandak bisa dilakukan dengan biji maupun stek akar. Budidaya dengan stek akar sebenarnya lebih menguntungkan, karena ketika tanaman digali dan dicabut, pasti banyak akar kecil-kecil yang tidak terpakai. Akar ini bisa disemaikan untuk memperoleh individu tanaman baru. Budidaya dengan biji juga mudah dilakukan, sebab pule pandak sudah mulai berbunga dan mengeluarkan biji pada umur satu tahun semenjak ditanam. Sifat pule pandak ini mirip dengan tanaman buah makasar (Brucea javanica) yang juga mampu berbuah pada umur satu tahun semenjak tanam. Bunga pule pandak akan muncul di pucuk tanaman berupa malai kecil. Bunga Rauwolfia serpentinalebih kecil dibanding bunga Rauwolfia verticillata. Bunga ini akan berubah menjadi buah setelah terserbuki. Tiap buah pule pandak hanya mengandung satu biji. Biji dari buah yang telah tua harus segera disemai di dalam pot atau polybag dengan media tanah yang gembur.

Penyemaian ini harus dilakukan secepat mungkin, sebab masa istirahat (dorman) biji pule pandak sangat singkat. Di habitat asilnya, buah pule pandak akan dimakan oleh burung atau hewan pemakan buah lainnya. Biji pule pandak yang tidak tercerna akan keluar bersama dengan faces dan segera tumbuh di lokasi yang berjauhan dari induknya. Meskipun pule pandak relatif tahan dengan berbagai agroklimat serta kodisi tanah, namun untuk memperoleh kualitas akar yang baik, diperlukan lahan yang gembur dan berlapisan humus tebal. Di lahan seperti ini pertumbuhan akar pule pandak akan bisa optimal. Selain itu pemanenannya juga akan lebih mudah jika dibandingkan dengan budidaya di lahan yang bertanah liat atau tanah keras lainnya. Meskipun pule pendak sudah bisa dipanen akarnya pada umur satu tahun, namun volume akar maupun kualitasnya masih sangat rendah. Idealnya pule pandak dipanen akarnya pada umur antara 3 sd. 5 tahun, hingga diperoleh kandungan alkaloid penting yang optimal.

Panen pule pandak antara umur 3 sd. 5 tahun ini masih lebih cepat dibandingkan panen ginseng korea (Panax ginseng), yang baru bisa dilakukan antara umur 6 sd. 10 tahun. Akar pule pandak yang sudah dipanen, biasanya dicuci bersih, dipotong dengan ukuran antara 5 sd. 10 cm. kemudian dikeringkan dengan penjemuran sampai benar-benar kering. Karena panen pule pandak biasanya dilakukan pada musim kemarau, maka pengeringan dengan penjemuran ini tidak akan bermasalah. Saat ini penghasil akar pule pandak utama dunia adalah Thailand, meskipun kualitasnya masih di bawah India dan Pakistan. Sebenarnya, budidaya pule pandak bukan hanya berpeluang ekonomis untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, melainkan juga untuk ekspor. Sebab meskipun reserpine yang terkandung dalam pule pandak sudah bisa dibuat sintetisnya, namun kualitas reserpine asli dari pule pandak tetap lebih baik. Salah satu khasiat ekstrak pule pandak yang saat ini menonjol adalah sebagai obet penenang (Tranquillizer), terutama pada penderita stres berat. (R) * * *

1. Macam-macam obat sedatif 2. Alkaloid Rauwolfia Diperoleh dari akar tumbuh-tumbuhan Rauwolfia serpentine (pule pandak) dan alkaloid terutama yang digunakan adalah reserpina. Reserpina sekarang sudah dapat dibuat secara sintetis. Reserpina selain digunakan sebagai obat sedatif, juga digunakan sebagi obat antihipertensi (menurunkan tekanan darah tinggi). Kerja ikutan yang tidak diingini dari reserpina ialah dapat mengakibatkan turunnya tekanan darah sehingga mengakibatkan hipotensi dan gejala-gejala alergi. Penggunaan reserpina sebagai neuroleptik sekarang sudah jarang digunakan, tetapi sebaliknya banyak digunakan untuk pengobatan tekanan darah tinggi. Dosis biasa:oral 3x sehari 0,25-5 mg. 1. Turunan dari Fenothiazina Turunan-turunan dari fenothiazina yang masih banyak digunakan ialah: 1. Klorpromazina (sinonim = Largactil). Obat ini berkhasiat menenangkan gejala-gejala penyakit jiwa, sebagai akibatnya penderita menjadi lambat dalam gerak-geriknya. Dosis: oral 3x sehari 100 mg. 1. Promazina.

Daya kerjanya kurang kuat bila dibandingkan dengan Klorpromazina, tetapi kerja ikutannya juga lebih ringan. Digunakan pada orang-orang tua dan lemah dengan dosis yang 2 kali lebih besar daripada Klorpromazina. 1. Meprobamat (Miltown) Meprobamat bersifat sebagai sedatif dan kerja menidurkannya ringan. Walaupun kegiatan menidurkannya tidak sekuat seperti reserpin dan klorpromazin, tetapi meprobamat berguna dalam psychoterapi sebagai obat tambahan. Meprobamat ini banyak disalahgunakan untuk pengobatan menenangkan ketegangan batin atau kecemasan. Kerja ikutannya dapat mengakibatkan otot-otot menjadi lemah, menimbulkan perasaaan letih dan pusing. Pemakaian meprobamat yang terlalu sering dapat mengakibatkan kebiasaaan. Dosis biasa: oral 3-4x sehari 400 mg. 1. Diazepam (sinonim valium). Diazepam ini terutama digunakan pada keadaan ketegangan jiwa danmempunyai efek menidurkan. Kerja ikutannya hanya menimbulkan perasaan mengantuk. Dosis: oral 3x sehari 2 mg, dalam keadaan tertentu dapat dipertinggi sampai 60 mg seharinya.