Anda di halaman 1dari 2

20/04/13

[101] Kapitalisme Kuasai Pangan di Negeri Agraris

Negeri Agraris Home Tentang Kami Daftar Agen Kontak Download [101] Kapitalisme Kuasai Pangan di Negeri Agraris

[101] Kapitalisme Kuasai Pangan di Negeri Agraris

Thursday, 04 April 2013 12:12

Pangan di Negeri Agraris Thursday, 04 April 2013 12:12 Seharusnya Indonesia tidak pantas kekurangan pangan. Apalagi
Pangan di Negeri Agraris Thursday, 04 April 2013 12:12 Seharusnya Indonesia tidak pantas kekurangan pangan. Apalagi

Seharusnya Indonesia tidak pantas kekurangan pangan. Apalagi harus mengimpor pangan dalam jumlah sangat besar.

Gonjang-ganjing impor pangan membukakan mata bangsa Indonesia bahwa negeri agraris ini sudah sangat tergantung dari pangan impor. Parahnya lagi, Indonesia sudah masuk dalam perangkap jebakan pangan negara-negara kapitalisme.

Dengan sumber daya alam yang dimiliki, termasuk matahari yang hampir setiap hari bersinar, seharusnya Indonesia tidak pantas kekurangan pangan. Apalagi harus mengimpor pangan dalam jumlah sangat besar yang menghabiskan devisa trilyunan rupiah.

Bukan hanya sumber daya genetik di Indonesia, termasuk yang terbesar di dunia. Potensi lahan untuk pengembangan pertanian masih sangat luas. Data Kementerian Pertanian, luas lahan baku sawah saja mencapai 8,1 juta hektar (ha). Dalam setahun, luas panennya mencapai 13,5 juta ha. Jumlah ini jauh lebih besar dari Thailand yang tiap tahun hanya bisa panen 9 juta ha.

Potensi lainnya adalah Indonesia memiliki lahan telantar yang luasnya mencapai 7,2 juta ha. Dari jumlah tersebut diperkirakan 4,8 juta ha berpotensi untuk pengembangan pertanian.

Dengan potensi sumber daya alam tersebut sangat mudah bagi bangsa Indonesia mencapai target swasembada pangan, khususnya lima komoditas pangan pokok seperti beras, jagung, kedelai, gula dan daging. Potensi besar tersebut harusnya menjadikan Indonesia sebagai negara pemberi pangan dunia.

Apalagi syarat untuk mendukung mencapai target tersebut cukup besar. Misalnya, Indonesia berada di jalur katulistiwa, sehingga mempunyai iklim yang cocok untuk usaha pertanian. Lahan di Indonesia juga relatif subur dan mendukung untuk kegiatan pertanian. Tapi yang terjadi adalah Indonesia justru menjadi negara agraris yang mengimpor pangan.

Dominasi Kepentingan Asing

Apa yang menyebabkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan? Ketua Umum Masyarakat Agribinis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Fadel Muhammad melihat, karena tata kelola pangan (food governance) bangsa Indonesia masih didominasi kepentingan negara maju. Bahkan, empati dan perhatian untuk membangun kecukupan pangan yang adil dan merata di tingkat global masih jauh dari harapan.

Fadel menilai, global mindset yang menganggap pangan adalah komoditas yang harus diperdagangkan dengan memperhatikan aspek daya saing, telah meracuni bangsa Indonesia. Bagi negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, global mindset tersebut telah memukul telak sektor pertanian. “Pemikiran itu malah mendorong negara-negara melakukan impor dengan alasan lebih efisien,” ujarnya.

Salah satu pemikiran yang perlu diwaspadai adalah rekomendasi Organitation for Economic Co Operation and Development (OECD). Lembaga peneliti tersebut menganggap, proteksi impor justru akan menghambat daya saing sektor pertanian. Indonesia juga perlu mereformasi skema subsidi input dan bantuan pangan.

“Pemikiran OECD tersebut sangat liberal dan sesat menyesatkan, sehingga pemerintah Indonesia harus menolak saran-saran tersebut,” tegas Fadel.

Untuk itu mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu berharap, rezim food governance harus lebih proaktif bergerak di tingkat nasional maupun lokal untuk menata kembali kebijakan keamanan pangan nasional yang benar-benar untuk kepentingan rakyat. Apalagi keamanan pangan adalah bagian dari Human Security.

Pengamat Pertanian Khudori juga menilai Indonesia belum mampu sepenuhnya mandiri di bidang pangan. Terlihat dari sejumlah pangan penting yang masih tergantung pada impor. Misalnya, beras, kedelai, gula, jagung, garam, daging sapi, susu, dan lainnya. Padahal, hampir semua produk pangan, kecuali gandum, yang diimpor itu bisa diproduksi sendiri oleh Indonesia.

Ketidakmandirian bisa dilihat dari besarnya porsi impor pangan. Tahun lalu, neraca pangan Indonesia negatif 6,439 juta dolar AS atau naik 88,5 persen dari tahun lalu. Defisit neraca pangan sudah berlangsung selama puluhan tahun dan tidak ada tanda-tanda bakal berkurang. “Yang terjadi justru nilai dan volumenya semakin besar dari tahun ke tahun. Sampai kapan defisit ini bisa dihilangkan?” tegas Khudori.

SEARCH

search

Search

SEBARKANARTIKELINI:

TABLOIDMEDIAUMAT MediaUmat MediaUmat [102] Strategi Perlindungan Khilafah Terhadap Warganya Melalui Sistem Pengawasan
TABLOIDMEDIAUMAT
MediaUmat
MediaUmat [102] Strategi Perlindungan Khilafah
Terhadap Warganya Melalui Sistem Pengawasan
(Al Hisbah) ow.ly/2whtzS
20 hours ago · reply · retweet · favorite
MediaUmat [102] Sabar dan Ridha Terhadap
Qadha’ - Sabar dan ridha terhada qadha’
(ketetapan) Allah SWT adalah di antara
ow.ly/2whph0
21
hours ago · reply · retweet · favorite
MediaUmat [102] Membangun Pemikiran
Ideologis Menuju Kebangkitan Realistis
ow.ly/2whph3
21
hours ago · reply · retweet · favorite
MediaUmat [102] Ormas Dalam Bahaya - Sejak
era reformasi pemaksaan setiap ormas untuk
mencantumkan Pancasila sebagai asas ya
ow.ly/2whph1
21 hours ago · reply · retweet · favorite
Join the conversation

RUBRIKMEDIAUMAT

Bahkan mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang kini menjadi anggota Komisi IV DPR RI, Siswono Yudho Husodo menganggap Indonesia tengah menuju perangkap ketergantungan

20/04/13

[101] Kapitalisme Kuasai Pangan di Negeri Agraris

pangan dari luar negeri (food trap), sehingga menjadi disinsentif bagi usaha pertanian di dalam negeri. Joe lian

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved