Anda di halaman 1dari 30

PEMBUATAN LARUTAN

dr. Nurlaili Susanti

KONSEP PEMBUATAN LARUTAN


Al-Anbiya : 30

Al-Qamar : 49

Al-Anbiya : 30

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Al-Qamar : 49

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran

Pengertian

Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi

Zat pelarut disebut solvent Ex : air, alkohol, amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat Zat yang terlarut disebut solute

Jenis larutan

Larutan encer : larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut.
Larutan jenuh : larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.

Larutan lewat jenuh : larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu.

Larutan gas : dibuat dengan mencampurkan suatu gas dengan gas lainnya. Karena semua gas bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran gas adalah homogen ia merupakan larutan

Larutan cairan : dibuat dengan melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian cairan adlah air, maka larutan disebut larutan berair
Larutan padatan : adalah padatan-padatan dimana satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kelarutan

POLARITAS

PEMBENTUKAN KOMPLEKS

CO-SOLVENCY

KELARUTAN

SALTING IN

KELARUTAN

SALTING OUT

TEMPERATUR

1.

Polaritas
Kelarutan suatu zat memenuhi aturan like dissolves like artinya solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar, solute yang non polar akan larut dalam solvent yang bersifat non polar. Contoh : Garam-garam anorganik larut dalam air Alkaloid basa larut dalam kloroform

2.

Co-solvency
Co-solvency adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Contoh : Luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air-gliserin.

3. Kelarutan
Kelarutan zat anorganik umumnya adalah :

Larut dalam air

Semua garam klorida larut, kecuali : AgCl, PbCl2, Hg2Cl2 Semua garam nitrat larut, kecuali nitrat base seperti bismuth subnitras Semua garam sulfat larut, kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.

Tidak larut dalam air

Semua garam karbonat tidak larut, kecuali K2CO3, Na2CO3, (NH4)CO3 Semua oksida dan hidroksida tidak larut, kecuali KOH, NaOH, NH4OH, BaO, Ba(OH)2 Semua garam posphat tidak larut, kecuali K3PO4, Na3PO3, (NH4)PO4

4. Temperatur

Zat padat pada umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat tersebut bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Zat terlarut + pelarut + panas larutan Beberapa zat lain justru tidak larut jika suhunya dinaikkan (bersifat eksoterm), karena pada kelarutannya menghasilkan panas. Zat terlarut + pelarut larutan + panas

Contoh : K2SO4, KOH, CaHPO4, minyak atsiri, gas-gas yang larut.

5. Salting Out

Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.

Contoh : Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila ke dalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air, maka minyak atsiri akan memisah.

6. Salting In

Peristiwa bertambahnya kelarutan dari suatu senyawa organik dengan penambahan suatu garam dalam larutannya.

Contoh : riboflavin tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum karena terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4.

7. Pembentukan Kompleks

Peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.
Contoh : Iodium larut dalam KI atau NaI jenuh. KI + I2 KI3 HgI2 + 2 KI K2HgI4

KONSENTRASI LARUTAN

Digunakan untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif Konsentrasi didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume (berat , mol) tertentu dari pelarut.

Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume

Fraksi Mol
Adalah : Perbandingan antara jumlah mol dari suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan Contoh : dalam larutan yang mengandung 1 mol alkohol dan 3 mol air, maka fraksi mol alkohol adalah dan air Jumlah kedua fraksi mol (fraksi mol zat terlarut + fraksi mol pelarut) sama dengan 1

X=

mol zat terlarut Mol zat terlarut + mol pelarut

Molaritas
Adalah : jumlah mol zat terlarut per liter larutan Contoh : larutan 6,0 molar HCl ditulis 6,0 M, berarti bahwa larutan dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada air yang cukup dan kemudian volume larutan dibuat menjadi satu liter M = mol zat terlarut

Liter larutan

Molalitas
Adalah : jumlah mol zat terlarut per satu kilogram pelarut Contoh : Tulisan 6,0 m HCl dibaca 6,0 molal, dan menyatakan suatu larutan yang dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada satu kilogram air m = mol zat terlarut

Kg pelarut

Normalitas
Adalah : Jumlah gram ekuifalen solute per liter larutan Contoh : Tulisan 0,25 N KMnO4 dibaca 0,25 normal, dan menyatakan larutan yang mengandung 0,25 gram ekuifalen dari kalium permanganat per liter larutan N = Ekivalen zat terlarut

L larutan

Persen Berat
Adalah : Jumlah massa zat terlarut dibagi jumlah larutan dikali 100% Contoh : 3 % berat H2O2 adalah 3 gram H2O2 tiap 100 gram larutan %w/w = gram zat terlarut x 100%

gram larutan

Persen Volume
Adalah : persen dari volume zat terlarut dalam dalam suatu volume larutan Contoh : 12% volume adlah suatu larutan yang dibuat dari 12 ml alkohol dan solvent ditambahkan hingga volume menjadi 100 ml %v/v = ml zat terlarut x 100%

ml pelarut

Persen berat volume


Adalah : menyatakan massa zat terlarut dalam suatu volume larutan %w/v = gr zat terlarut x 100%

ml larutan

Part per million


Adalah : menyatakan satu milligram zat terlarut dalam satu liter larutan Ppm = 1 mg zat terlarut

I L larutan

Part per billion


Adalah : menyatakan satu microgram zat terlarut dalam satu liter larutan Ppb = 1 microgram zat terlarut

I L larutan

PENGENCERAN
Adalah berkurangnya rasio zat terlarut di dalam larutan akibat penambahan pelarut. PEMEKATAN adalah bertambahnya rasio konsentrasi zat terlarut di dalam larutan akibat penambahan zat terlarut.

RUMUS
V1 . N1 = V2 . N2 V1 = Volume pekat V2= volume encer N1 = Normalitas pekat N2= Normalitas encer

Contoh Botol asam klorida yg diambil dari gudang beretiket 1 M. Kita membutuhkan larutan asam dengan kadar 0,2 sebanyak 100 ml. Bagaimana pengenceran asam tersebut ? Jawab: V1 = ? V2 = 100 ml N1 = 1 M N2 = 0,2 M Maka : V1 x 1 = 100 x 0,2 100 x 0,2 V1 =------------------ = 20 ml 1 Sehingga HCl yang harus diambil dari botol sebanyak 20 ml

Pencampuran konsentrasi yang berbeda


RUMUS = M camp = V1 M1 + V2M2 V1 + V2 Contoh = Larutan H2SO4 1 M dengan volume 10 ml hendak dicampur dengan Larutan H2SO4 2 M dengan volume 20 ml M camp = 1.10 + 2.20 = 50 = 1,6 M 10 + 20 30

PRAKTEK SAAT PRAKTIKUM