Anda di halaman 1dari 16

WARTA WARTA

INFORMASI PASAR MODAL

Daftar Isi
Hal. 1 DARI REDAKSI
Wawasan: FSA mempublikasikan Better Regulation Action Plan, Ontario Securities Commission (OSC) menerbitkan Understanding Mutual Fund Fees.

BAPEPAM
INDONESIA DAN MANCA NEGARA
Homepage http:www.BAPEPAM.go.id

Hal.2

RAGAM PERISTIWA

EDISI 12 / Desember 2005

Dari Redaksi :
Pada tanggal 15 Desember 2005 yang lalu telah diselenggarakan acara Asian Capital Market Forum (ACMF) Meeting di Hotel Mandarin Oriental Jakarta. Berkaitan dengan peristiwa tersebut, Redaksi menyajikan laporannya sebagai Berita Utama. Rubrik Info memuat Buletin Akuntansi Staf (BAS) yang merupakan kesepakatan interpretasi diantara staf regulator sebagai informasi penting bagi pegawai BAPEPAM yang bertugas di unit kerja dengan lingkup akuntansi. Dalam Rubrik Artikel, Redaksi juga menyajikan tiga buah artikel, yaitu : Merekam Jejak Pasar Modal Indonesia, Perkembangan Reksa Dana, dan sebuah artikel dengan judul Karakteristik Investor dan Industri Reksa Dana yang merupakan artikel sangat menarik yang mengulas tentang hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya rush pada Reksa Dana. Selamat membaca..!! Redaksi

ACMF Work Group Meeting, Diskusi BAPEPAM - KPK, Talkshow Capital Market Week, Seminar XBRL, Seminar Obligasi Daerah.

Hal. 3

BERITA UTAMA

Laporan Kegiatan ACMF di Hotel Mandarin Oriental Jakarta

Hal. 4 Hal. 5

Buletin Akuntansi Staf (BAS). Perkembangan Reksa Dana, Merekam Jejak Pasar Modal Indonesia, Karakteristik Investor, & Industri Reksa Dana.

INFO

ARTIKEL

Hal. 11

STATISTIK

Wawasan :

Perkembangan Pasar Modal Bulan Desember 2005

 Otoritas Jasa Keuangan Inggris, Financial Services Authority (FSA), mempublikasikan road map yang terangkum dalam suatu action plan yang mereka sebut Better Regulation Action Plan dengan tujuan meningkatkan kualitas pengawasan jasa keuangan di Inggris melalui penyeimbangan pengaturan yang menuju pada penerapan pinsip-prinsip utama dibandingkan dengan pengaturan melalui aturan yang terinci dan kaku. Dalam Better Regulation Action Plan tersebut terdapat lebih dari 30 usulan pendekatan yang diajukan oleh FSA antara lain seperti : - Penerapan peraturan pencatatan yang lebih sederhana; terkini; melalui penyederhanaan sampai dengan 40%, yang akan mulai diajukan pada tahun 2006 - menghilangkan penghalang yang membatasi akses untuk masuk ke dalam industri penasihat keuangan - memperkenalkan peraturan yang lebih fleksibel mengenai skema investasi kolektif, dengan cara memodernisasi dan menyederhanakan aturan terkait hingga menjadi separuhnya. - Penyederhanaan prilaku aturan bisnis berkaitan dengan pelayanan nasabah retail. - Membentuk aplikasi yang lebih ringkas dengan mengurangi rata-rata waktu pemrosesan aplikasi hingga 25%. - Memotong arus birokrasi yang berbelit dalam prosedur perizinan. Pendekatan pengaturan yang ada saat ini merupakan gabungan penerapan atau hibrida dari prinsip-prinsip utama dengan pengaturan melalui peraturan dan pedoman yang bersifat sangat terinci. Selanjutnya FSA akan melanjutkan dengan menyediakan pedoman kepada perusahaan yang dapat membantu mendapatkan solusi bagi mereka yang menemui kesulitan terkait dengan penerapan peraturan. (Sumber: FSA/PN/129/2005 02 December 2005 http://www.fsa.gov.uk)  Dalam rangka meningkatkan pemahaman investor Mutual Fund di Kanada, Ontario Securities Commission (OSC) menerbitkan edaran yang berjudul Understanding Mutual Fund Fees. OSC mengingatkan para investor tersebut bahwa terdapat beberapa macam biaya yang terkait dengan investasi dalam mutual fund. Hal ini perlu dilakukan oleh OSC mengingat sebagian investor masih beranggapan bahwa mutual fund merupakan investasi yang bebas biaya, sedangkan kenyataannya biaya yang dikenakan oleh pengelola mutual fund kepada investor berpengaruh secara signifikan terhadap hasil investasi. OSC juga mengharapkan para investor untuk memperhatikan masalah biaya ini sebelum mengambil keputusan untuk membeli unit penyertaan mutual fund. Beberapa poin penting yang dinyatakan dalam edaran tersebut antara lain: - Biaya-biaya dibayar saat investor melakukan pembelian unit Penyertaan Biaya-biaya penjualan/pembelian yang timbul dapat dibebankan secara front load atau back-end load. Front load berarti biaya dibebankan pada awal investasi dalam persentase tertentu dan harus dibayarkan kepada pengelola saat investor membeli unit penyertaan mutual fund. Investor dimungkinkan untuk melakukan negosiasi terhadap biaya yang di bebankan secara front load ini. Sedangkan biaya yang dibebankan secara back-end dibayarkan oleh Manajer Investasi kepada agen penjual dan investor tidak melakukan

bersambung ke halaman 7.
Penerbit : Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), Departemen Keuangan RI; Pelindung: Ketua BAPEPAM; Pengarah: Sekretaris BAPEPAM; Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Kabag. Kerjasama Internasional dan Hubungan Masyarakat; Kontributor Edisi Desember 2005: Agnes Hesti Pratiwi, Etty Retno Wulandari, Herry Siswanto, Basri Pohan, Bayu DK, Iman Djuansyah, Ridiani Kurnia, Yudi Pramono, Farida Resturani, Dian Kartika Utomo, Sudarmaji Sekretariat Redaksi: Syafril Hendrik, Darsono Dharma, Agnes Hesti Pratiwi, Yudi P, Farida R, A. Muharom, Dian KU, Danik S, Iin Sudinurindah, Yono Budiyono, Hendri S, Fadyan S, Andika P. Laksono Distribusi & Dokumentasi: Bagian Kerjasama Internasional & Hubungan Masyarakat Alamat Redaksi : Gedung 16 Lantai, lt. 4, Dept. Keuangan R.I., Jl. Lapangan Banteng Timur 2-4, Jakarta 10710. Telp. 3858001 ext. 4132; Fax. 3858321; E-mail : humas@BAPEPAM.go.id, pr@BAPEPAM.go.id; Website : http://www.BAPEPAM.go.id

RAGAM

PERISTIWA
A CMF Working Group Meeting

Bertempat di Board Room Hotel Mandarin Oriental Jakarta, pada tanggal 15 Desember 2005 telah diselenggarakan ACMF Meeting-Work Group Distribution Rule. Acara dibuka oleh Sekretaris BAPEPAM, Wahyu Hidayat.

Diskusi BAPEP AM - KPK - PP ATK BAPEPAM PPA

Pada tanggal 12 Desember 2005, BAPEPAM menerima kunjungan dari KPK dan PPATK. Kunjungan tersebut diisi dengan acara diskusi seputar masalah pemberantasan korupsi yang dihadiri oleh para pejabat BAPEPAM, DJLK, serta PPATK tersebut diselenggarakan di Lt. 3 Gedung 16 Lantai, Jl. Lapangan Banteng Timur 2-4, Jakarta.

Capital

Market Week

Bertempat di La Moda Cafe, Plaza Indonesia, pada tanggal 2 Desember 2005 telah diselenggarakan talkshow dengan topik Yuk, Mulai Belanja di Pasar Modal. Acara ini diselenggarakan oleh KSEI bekerjasama dengan APEI sebagai bagian dari rangkaian acara dalam rangka Capital Market Week dari tanggal 1-4 Desember 2005. Capital Market Week yang diadakan di Plaza Indonesia dan Plaza EX ini terdiri dari pameran Perusahaan Efek, creative programme, talkshow, serta entertainment. Rangkaian acara ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan minat masyarakat umum akan peluang investasi di pasar modal Indonesia serta dapat menjaring potential investor di kalangan pengunjung mal. Dengan MS Sembiring (Direktur PT BEJ) dan Haryajid Ramelan (PT Recapital Securities) sebagai pembicara, talkshow ini disiarkan secara langsung oleh Trijaya Network ke 30 kota di seluruh Indonesia. 2
Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

BERITA

UTAMA

A C M F Meeting - WG Distribution Rule


Pada tanggal 15 Desember 2005 BAPEPAM telah menjadi tuan rumah pertemuan sehari Kelompok Kerja Distribution Rule di Hotel Mandarin Oriental Jakarta. Dasar dari pertemuan ini adalah pelaksanaan mandat hasil pertemuan ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) ketiga yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2005 di Yogyakarta. Dalam ACMF, BAPEPAM bertanggung jawab atas topik harmonization of standards of distribution rule dan pada pertemuan ACMF tersebut BAPEPAM diminta membentuk kelompok kerja untuk membahas topik tersebut secara lebih teknis. Sesuai dengan topik yang telah ditetapkan, pertemuan ini mendiskusikan mengenai aspek-aspek yang perlu diselaraskan dalam hal distribution rule yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum pada pasar modal di kawasan ASEAN dalam rangka integrasi ASEAN. Pertemuan ini dihadiri oleh 9 (sembilan) peserta dari 6 (enam) negara yaitu Brunei, Kamboja, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pertemuan dibuka oleh Sekretaris BAPEPAM dan selanjutnya dipimpin oleh Kepala Bagian Aneka Usaha Industri, Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil selaku Koordinator. Agenda pertama pertemuan adalah presentasi matriks mengenai distribution rule dari delapan negara ASEAN oleh BAPEPAM. Data tersebut diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada sepuluh negara anggota ACMF yang dilakukan BAPEPAM tahun lalu. Negara yang memberikan tanggapan atas kuesioner dimaksud adalah Brunei, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing wakil negara anggota mengenai gambaran proses Penawaran Umum di masing-masing yurisdiksi. Dalam proses Penawaran Umum di Singapura, perusahaan yang akan melakukan Penawaran Umum harus menyampaikan pendaftaran kepada Singapore Stock Exchange sebelum menyampaikan prospektus ke Monetary Authority of Singapore (MAS) selaku regulator. Proses penawaran sendiri dibagi menjadi empat bagian, yaitu penyampaian prospektus, pendaftaran, Warta pengalokasian, dan penjatahan. Prospektus disampaikan oleh konsultan hukum yang kemudian akan ditayangkan dalam OPERA (website MAS) untuk mendapat tanggapan publik sampai saat periode pendaftaran. MAS akan melakukan penelaahan atas prospektus dan pendaftaran pada hari ke-14 sampai dengan 21 (paling lambat hari ke-28) setelah penyampaian dokumen. Pendaftaran bagi publik yang ingin membeli Efek dilakukan setelah Pernyataan Pendaftaran dan berlangsung selama seminggu. Proses pengalokasian dan penjatahan dilakukan setelah proses penawaran selesai. Sistem yang dianut Singapura adalah disclosure system dan postvetting regime. Di Thailand proses penawaran dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pendaftaran Penawaran Umum dan Pernyataan Pendaftaran serta pernyataan persetujuan atas pendaftaran Penawaran Umum tersebut. Proses Penawaran Umum dimulai pada waktu calon Emiten dan Penasihat Finansial menyampaikan pendaftaran Penawaran Umum dan Pernyataan Pendaftaran kepada Securities and Exchange Commission of Thailand (SEC) selaku regulator. Informasi tersebut kemudian ditayangkan dalam website SEC. SEC kemudian akan menelaah dokumen dan materi lain terkait serta melakukan kunjungan ke perusahaan yang menjadi calon Emiten dalam jangka waktu 15 hari. Calon Emiten dan Penasihat Finansial harus melakukan koreksi mengenai Pernyataan Pendaftaran dalam jangka waktu 30 hari. Setelah selesai, pendaftaran Penawaran Umum akan efektif dalam jangka waktu 45 hari. Periode penawaran biasanya berlangsung selama 3 hari kerja dan penjatahan Efek berlangsung selama 15 hari (untuk sistem dengan warkat) dan sampai sebelum hari pertama perdagangan (untuk sistem tanpa warkat). Thailand menganut sistem kombinasi antara merit dan disclosure system serta prevetting regime. Untuk Malaysia, Pernyataan Pendaftaran dievaluasi oleh regulator, dalam hal ini Securities Commission of Malaysia, sebelum disampaikan sebagai prospektus yang terdaftar (registrable prospectus ). Prospektus tersebut akan terdaftar dalam jangka waktu 14 hari setelah disampaikan kepada regulator. Proses Penawaran Umum berlangsung selama seminggu dan diikuti dengan penjatahan Efek dan pendaftaran Efek di bursa. Malaysia menganut post-vetting regime dan kombinasi antara merit dan disclosure system. Di Indonesia sendiri, proses Penawaran Umum dimulai saat calon Emiten dan Penjamin Emisi menyampaikan Pernyataan Pendaftaran (prospektus adalah bagian dari Pernyataan Pendaftaran) kepada BAPEPAM dan kemudian memuat prospektus tersebut dalam surat kabar. BAPEPAM akan menelaah aspek keterbukaan atas pendaftaran tersebut dan Pernyataan Pendaftaran menjadi efektif pada hari ke45 sejak diterimanya Pernyataan Pendaftaran secara lengkap atau pada tanggal yang lebih awal jika dinyatakan Efektif oleh BAPEPAM. Penawaran dilakukan setelah tanggal Efektif dan berlangsung selama tiga hari. Proses penawaran, penjatahan, pengembalian uang, dan tanggal pendaftaran di bursa harus diselesaikan paling lambat sepuluh hari setelah tanggal Efektif. Indonesia menganut pre-vetting regime dan full disclosure system. Dua negara lain yaitu Brunei dan Kamboja pada saat ini belum mempunyai pasar modal dan Bursa Efek. Di Brunei, peraturan mengenai perusahaan masih mengacu pada Brunei Companys Act yang juga digunakan sebagai pedoman umum kegiatan pasar modal. Sedangkan Kamboja saat ini baru menyusun rancangan undang-undang terkait dengan pasar modal yang pelaksanaannya baru dimulai tahun 2005 ini. Dari presentasi masing-masing peserta dan hasil survei mengenai distribution rule, disepakati beberapa aspek yang perlu diselaraskan dalam rangka harmonisasi standar, antara lain bahasa yang digunakan untuk dokumen Pernyataan Pendaftaran, persetujuan oleh regulator, waktu dan bagaimana proses efektifnya suatu Pernyataan Pendaftaran, book building process, offering process, dan penjatahan Efek. Hambatan yang dijumpai dalam harmonisasi standar distribution rule adalah perbedaan sistem yang digunakan oleh masing-masing negara anggota, yaitu pre-vetting/post-vetting dan merit/disclosure system, ataupun gabungan dari kedua sistem tersebut. Untuk mengatasi

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

INFO

BULETIN AKUNT ANSI ST AF AKUNTANSI STAF AF::


Kesepakatan pemahaman ketentuan di bidang akuntansi oleh : Etty Retno Wulandari
Perkembangan pasar modal yang pesat menuntut adanya suatu regulasi yang handal yang dapat menuntun para pihak yang terkait untuk menerapkannya secara jelas dan mudah. Terlebih apabila hal tersebut terkait dengan informasi kinerja perusahaan yang akan menjadi pegangan utama bagi para investor dan analis keuangan untuk menilai lebih jauh kelayakan investasi mereka pada perusahaan. Menerbitkan aturan main yang dapat diandalkan dan mudah dipahami tentunya merupakan suatu tantangan yang tidak mudah bagi regulator untuk mewujudkannya. Disinilah pada umumnya permasalahan timbul. Pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan penyusunan peraturan. Meskipun telah melewati proses dengar pendapat ( public hearing ) dengan pelaku pasar modal, terkadang timbul masalah pada saat pengimplementasiannya. Hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena adanya pemahaman yang kurang tepat dari pengguna aturan, kekurangjelasan peraturan yang diterbitkan, maupun ketidakperbedaan tersebut dalam rangka cross border offering, para negara anggota dapat menjalin perjanjian baik secara bilateral maupun multilateral antar mereka yang akan melakukan cross border offfering. Untuk negara anggota yang tergabung dalam BCLMV (Brunei, Cambodia, Laos, Myanmar, Vietnam) juga diharapkan dapat menyelaraskan standarisasi distribution rule, aspek demi aspek. Dalam pertemuan tersebut disimpulkan bahwa dalam hal cross border offering, aspek yang harus diperhatikan adalah kesamaan waktu (timing) dan jenis informasi yang disampaikan kepada publik, jangka waktu penawaran dan keterbukaan, dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses cross border offering. Hasil dari pertemuan ini akan dilaporkan pada pertemuan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu pertemuan ACMF ke-4 di Kuala Lumpur, Malaysia bulan Februari 2006 mendatang. (Agnes)

seragaman pemahaman dari staf regulator dalam menyikapi aturan tersebut secara akurat dan konsisten. Dengan demikian, perbedaan interpretasi atas ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan dapat terjadi antara sesama internal staf BAPEPAM maupun antara internal BAPEPAM dengan pelaku pasar modal. Ada beberapa hal yang dapat ter jadi sebagai akibat perbedaan interpretasi peraturan ini. Pertama, terdapatnya perbedaan perlakuan akuntansi yang dilakukan oleh Emiten atau Perusahaan Publik atas suatu transaksi keuangan yang dapat mempengaruhi daya banding (komparabilitas) informasi keuangan antar perusahaan. Kedua, adanya ketidakkonsistenan staf regulator dalam mengimplementasikan (meng-enforce) peraturan yang dapat membingungkan pelaku pasar modal, khususnya emiten dan akuntan publik. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi perbedaan interpretasi tersebut adalah dengan menyusun suatu kesepakatan interpretasi diantara staf regulator mengenai peraturan yang terkait yang dapat digunakan sebagai pegangan dalam mengimplementasikan peraturan yang ada. Interpretasi yang disusun tetap berada dalam koridor peraturan, yang berarti tidak melewati batasan atau ruang lingkup aturan. Dalam penyusunan interpretasi tersebut tentunya diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai latar belakang penyusunan peraturan dan praktik implementasi yang berlaku. Untuk itu keterlibatan semua pihak yang terkait sangat diperlukan dalam penyusunannya. Dalam rangka memperbaiki implementasi peraturan, khususnya mengurangi perbedaan interpretasi itulah, Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan, khususnya Bagian Standar Akuntansi dan Pemeriksaan bekerja sama dengan biro-biro teknis menyusun Buletin Akuntansi Staf (BAS) yang merupakan interpretasi dan praktik yang diikuti oleh staf di biro-biro teknis, antara lain Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa, Biro Penilaian Keuangan

Perusahaan Sektor Riil, dan Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan bidang akuntansi dan auditing. BAS ini bukan merupakan peraturan atau interpretasi yang diterbitkan oleh BAPEPAM atau mendapat persetujuan resmi dari BAPEPAM. Hingga saat ini, telah disusun 2 (dua) buah BAS. BAS No. 1 mengenai Pemberian Beberapa Jasa Atestasi oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang sama (lihat box ) dan BAS No.2 mengenai Interpretasi atas Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 58 tentang Operasi dalam Penghentian. Agar interpretasi yang telah disepakati ini dapat diketahui dan diakses dengan mudah oleh para staf regulator dan juga para pelaku pasar modal, maka BAS ini ditempatkan dalam website BAPEPAM ( www.BAPEPAM.go.id ). Disamping itu, dengan pendokumentasian BAS dalam website ini juga akan memperkecil kemungkinan hilangnya/ terlupakannya kesepakatan yang telah dilakukan diantara para staf BAPEPAM mengenai interpretasi suatu peraturan di bidang akuntansi. Hal ini tentu akan sangat bermanfaat bagi para staf yang bertugas menangani masalah akuntansi, ter utama untuk karyawan baru maupun staf baru yang bertugas di bidang akuntansi sebagai akibat adanya mutasi para staf. Untuk selanjutnya, dalam rangka menyebarluaskan informasi mengenai isi dari BAS ini, setiap terbitan baru BAS juga akan dimuat dalam Warta BAPEPAM. Dengan terbitnya BAS diharapkan nantinya tidak terdapat lagi perbedaan interpretasi atas peraturan-peraturan BAPEPAM khususnya yang berhubungan dengan akuntansi dan auditing. Oleh karena itu, dukungan dari seluruh pimpinan dan karyawan BAPEPAM dalam penyusunan BAS akan sangat diharapkan agar BAPEPAM dapat meningkatkan kualitas pelayanannya kepada publik. (Etty)

Silahkan baca BAS No. 1 (hal. 7)

)))

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL

Perkembangan Reksa Dana


oleh : Ridiani Kurnia
Reksa dana seperti layaknya embrio yang baru mulai tumbuh sehingga masih harus mengalami banyak tantangan. Sudah beberapa kali reksa dana mengalami gelojak seiring dengan adanya perubahan kondisi ekonomi makro dan perubahan kebijakan. Redemption tidak perlu terjadi apabila kenaikan suku bunga secara gradual, harga obligasi relatif stabil dan pengetahuan yang cukup bagi para nasabah dalam menempatkan portofolionya Perkembangan Reksa Dana tahun 2000 sampai dengan 2005 dapat dilihat dari perkembangan NAB dan jumlah investor Reksa Dana. NAB mulai mengalami peningkatan di tahun 2004 yang mencapai Rp. 110 triliun, dan mencapai puncaknya pada bulan Pebruari 2005, dengan total dana masyarakat yang dikelola mencapai Rp. 113 triliun. Namun kemudian mengalami penurunan di triwulan terakhir 2005, juga jumlah investor. Per tanggal 14 Pebruari 2004, total dana masyarakat yang diinvestasikan pada berbagai Reksa Dana dalam denominasi mata uang Rupiah sebesar Rp. 110.616.771.032.183,00 dan untuk Reksa Dana dalam denominasi mata uang Dolar Amerika Serikat sebesar US $ 308,317,500.91. Hal ini didukung oleh situasi ekonomi yang relatif stabil dan kondusif bagi perkembangan Reksa Dana dan semakin banyaknya jumlah Wakil Agen Penjual Reksa Dana serta penggunaan media elektronik seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air sebagai salah satu sarana untuk melayani lebih banyak investor Reksa Dana. Selama tahun 2004, sebagai Reksa Dana yang baru mulai berkembang tingkat imbal hasil (return) Reksa Dana Indonesia jauh melebihi return Reksa Dana di Asia umumnya. Tercatat, investor Reksa Dana di Indonesia memperoleh return rata-rata 34%, diikuti India dan Filipina dengan tingkat return 27% (Lipper Company). Pertumbuhan Reksa Dana 2004 mencapai sekitar 46% dibanding periode sama tahun sebelumnya, menjadi sekitar Rp. 100 triliun, namun peningkatan Reksa Dana Indonesia kurang didukung oleh perbaikan ekonomi sedangkan peningkatan kinerja Reksa Dana di Filipina dan India didukung oleh perbaikan ekonomi yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja perusahaannya Penurunan Kinerja Reksa dana Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana mengalami penurunan sejak bulan Maret 2005. Penurunan ini seiring dengan kondisi perekonomian Indonesia yang kurang mendukung. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi makro Indone- Tabel 4: Perkembangan SBI tahun 2005 sia pada periode Januari sampai dengan September 2005 yang menunjukkan pergerakan relatif menurun. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar US yang mencapai level Rp. 12.000 terjadi akibat naiknya harga minyak dunia yang mencapai level tertinggi di US$ 71 per barel di akhir Agustus 2005. Tabel 1 : Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

Peningkatan suku bunga akibat inflasi ini menurunkan harga obligasi termasuk Obligasi Pemerintah (Surat Utang Negara) yang menjadi mayoritas portofolio Reksa Dana, khususnya Reksa Dana Pendapatan Tetap. Ekspektasi inflasi membuat penurunan harga obligasi semakin tajam yang tercermin dari meningkatnya yield obligasi. Sebagai Tabel 2 : Perkembangan Harga Minyak ilustrasi dapat dilihat dari tabel 5 yang Dunia tahun 2005 menggambarkan perkembangan obligasi negara dan obligasi korporasi dalam periode Juni sampai dengan September 2005. Selain dari pada itu kenaikan tingkat suku bunga deposito dan valas menjadikan harga obligasi turun sehingga kurang diminati investor. Tabel 5.

Kondisi ini menyebabkan semakin melonjaknya beban negara atas subsidi BBM sehingga memaksa pemerintah Indonesia menaikkan harga bahan bakar minyak dalam negeri. Kenaikan harga BBM sebesar 80% telah menyebabkan ekspektasi inflasi semakin meningkat dan mengakibatkan tingkat inflasi naik tajam, dimana pada awal Januari inflasi berada di level 1,42 % dan di akhir Oktober mencapai 15.65 %. Untuk meredam laju inflasi, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter telah menaikkan suku bunga SBI sekitar 258 bp dimana pada bulan Januari 2005 tingkat suku bunga SBI 1 bulan adalah 7,42 % dan di bulan Oktober 2005 menjadi 11%. Pada saat ini juga, Bank Indonesia melakukan kebijakan uang ketat (Tight Money Policy) dan meningkatkan Giro Wajib Minimum dari perbankan sehingga mengurangi likuiditas di pasar. Tabel 3 : Inflasi Tahun 2005

Dampak selanjutnya adalah return Reksa Dana Pendapatan Tetap menjadi berkurang dan bahkan negatif, sehingga mendorong investor Reksa Dana melakukan redemption. Tabel : Perkembangan NAB

Sumber : Riset BAPEPAM Dalam situasi seperti ini, investor berlomba-lomba melakukan redemption karena mereka beranggapan makin lambat redemption akan semakin rugi sehingga timbulah massive redemption. Aksi redemption dalam jumlah besar memaksa Manajer Investasi untuk menjual portofolio Reksa Dana terutama Obligasi Pemerintah (SUN), sehingga tindakan ini menambah

W a r t a BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL
supply obligasi di pasar dan menyebabkan harga-harga obligasi semakin menurun karena likuiditas pasar menjadi semakin berkurang. Investor yang paham akan produk Reksa Dana haruslah mengetahui atau memahami hal-hal yang berkaitan dengan Reksa Dana antara lain tingkat suku bunga yang terukur, kondisi pasar, dan komponen pajak serta valuasi pasar yang terjadi. Telah banyak dilakukan penelitian-penelitian oleh para pengamat pasar modal dan pasar uang atas terjadinya penarikan besar-besaran atas dana di Reksa Dana. Berkaitan dengan hal tersebut berdasarkan riset yang BAPEPAM lakukan terhadap kurang lebih 800 responden di empat kota besar di Indonesia, Jakarta, Medan, Makasar, Surabaya, Semarang, Bandung, Solo, dan Yogyakarta menunjukkan bahwa pemahaman investor Reksa Dana yang dijadikan responden relatif kurang mempunyai pemahaman yang baik mengenai Reksa Dana, hal ini terlihat dari jawaban sebagian besar responden yang menganggap bahwa investasi awal yang ditanamkan pada Reksa Dana tidak mungkin turun. Pemahaman investor yang kurang sebagaimana ditulis Susidarto di harian Kompas dapat disebabkan oleh oleh beberapa hal. Pertama, ketidaksiapan investor atau nasabah menerima kehadiran Reksa Dana dikarenakan informasi yang diberikan agen penjual Reksa Dana dalam hal ini perbankan asimetris. Reksa Dana berkembang pesat tidak terlepas dari dukungan dunia perbankan beserta jaringannya di seluruh Indonesia. Bank sebagai agen penjual kurang memberikan informasi yang lengkap atau memberikan informasi sepihak (menonjolkan benefit tanpa mengeksplorasi risiko yang bakal muncul) sehingga dengan informasi yang asimetris tersebut nasabah menjadi kecele. Padahal NAB berfluktuatif bahkan nasabah bisa mengalami kerugian pokok investasi yang ditanam. Sehingga akan mengalami rush setelah NAB turun dan mereka mengalihkan dananya ke deposito atau membeli mata uang asing yang memicu lemahnya nilai tukar rupiah. Kedua, pemberlakuan regulasi baru BAPEPAM mengenai perhitungan NAB per unit / NAV - Mark to market. NAB adalah nilai wajar dari portofolio suatu Reksa Dana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah unit penyertaan yang telah beredar pada saat tertentu. Mark to market adalah memperhitungkan nilai riil pasar secara langsung dari portofolio yang dipilih. Namun ada MI yang menggunakan metode sendiri untuk menarik pasar yang dimana tidak memperlihatkan naik turunnya nilai sesuai pasar tetapi cenderung meningkat karena dihitung berdasarkan rata-rata. Management, PT Danareksa Investment Management, PT BNI Securities, PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas, PT Realiance Asset Management, dan PT Euro Capital Peregrine Sekuritas. Disamping itu sebagai salah satu solusi apabila terjadi redemption dalam jumlah yang besar dan diperlukan likuiditas dalam jangka pendek telah diatur mekanisme MRA. MRA adalah suatu mekanisme di mana nasabah dapat menjual obligasinya dan mendapatkan dana dengan tepat waktu. BAPEPAM dan KSEI saat ini juga sedang mengembangkan suatu wacana mengenai central fund hub atau C-Trust yang merupakan sistem untuk sentral pelaporan Reksa Dana yang berpusat di KSEI. C-Trust selanjutnya diharapkan akan mendukung pengembangan transaksi Reksa Dana yang transparan dan lebih efisien. C-Trust dibentuk untuk mengefisienkan cara pemasukan data yang terintegrasi serta mengamankan data dalam satu tempat dimana semua MI dan bank kustodian sudah memakai e-monitoring yang tersambung dengan KSEI dapat dengan mudah mengoperasikan sistem tersebut. C-Trust seterusnya akan meneruskan data investor dari semua bank yang disimpan bank kustodian sentral dan MI tidak akan mengetahui data tersebut. Jadi industri Reksa Dana punya dua sistem konfirmasi yaitu konfirmasi dari fund manager ke kustodian dan konfirmasi dari kustodian ke KSEI maka jika sebelumnya konfirmasi membutuhkan waktu 2-3 hari, maka dengan C-Trust seluruhnya bisa langsung online dan menjadi electronic based . Siapapun akan mudah untuk melihat NAB, data-data yang akurat. Sebagaimana dikemukakan Presdir PT KSEI, C-Trust dalam jangka panjang juga akan lebih memudahkan investor yang berinvestasi di berbagai jenis produk investasi dan di berbagai perusahaan sekuritas untuk mendapatkan laporan investasi konsolidasinya, tanpa harus menunggu laporan dari berbagai perusahaan sekuritas dan manajer investasi. Dalam rangka mengetahui penyebab terjadinya redemption yang terjadi saat ini BAPEPAM selain melakukan penelitian dari sisi investor juga telah memeriksa empat Manajer Investasi yang dinilai melakukan pelanggaran atas peraturan yang ada. Sebagaimana diketahui mulai Juni 2005 BAPEPAM telah menetapkan harga referensi dan standar deviasi baru untuk obligasi pemerintah dan korporasi yang dijadikan acuan para MI dalam melakukan valuasi portofolio. Keempat MI yang diperiksa tersebut adalah PT BNI Securities, PT Trimegah Securities Tbk, PT Bahana TCW Investment Management, dan PT Mandiri Manajemen

Peranan Otoritas dan Pelaku Pasar Modal dalam mengembangkan industri Reksa dana
Dalam rangka menfasilitasi perkembangan Reksa Dana BAPEPAM selaku otoritas pasar modal telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam industri Reksa Dana dan profesi terkait. Adapun kebijakan yang telah dikeluarkan adalah : a. Peraturan No. IV.C.2 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor : Kep-24/PM/2004 tanggal 19 Agustus 2004 tentang Penentuan Nilai Pasar Wajar (NPW) Efek Dalam Portofolio Reksa Dana, dimana dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa Manajer Investasi wajib menentukan NPW mengacu pada Harga Referensi. b. Surat Edaran masing-masing SE-02/ PM/2005 tanggal 9 Juni 2005 dan SE03/PM/2005 tanggal 29 Juli 2005. Kedua SE tersebut mengatur tentang Batas Toleransi (standar deviasi) penentuan NPW yang diperdagangkan secara over the counter baik untuk Obligasi Perusahaan maupun Surat Utang Negara. c. Peraturan IV.C.4 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No. Kep-08/PM/2005 tentang Reksa Dana Terstruktur yang produknya antara lain; Reksa Dana Terproteksi, Reksa Dana Penjaminan, dan Reksa Dana Indeks. Ketentuan dalam peraturan ini memberikan wacana tersendiri dan solusi alternatif bagi industri Reksa Dana yang sedang mengalami penurunan, dimana redemption atas unit penyertaan Reksa Dana diharapkan akan sesuai dengan jatuh tempo dari portofolio yang mendasarinya. Reksa Dana Terproteksi adalah jenis Reksa Dana yang memberikan proteksi atas investasi awal, melalui mekanisme pengelolaan portofolio. Dalam rangka pemberian proteksi, Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian dana yang dikelolanya, pada efek bersifat utang yang masuk kategori kelayakan investasi (investment grade). Manajer Investasi membuat Reksa Dana Terproteksi baik untuk penyelamatan maupun yang bersifat murni yang efektifnya diberikan BAPEPAM di bulan Oktober 2005 berjumlah 18 Reksa Dana Terproteksi dengan 12 Manajer Investasi yaitu : PT Trimegah Securities, PT Schroders Management Investasi, PT Fortis Investment Management, PT ABN AMRO Manajemen Investasi, PT Bhakti Asset Management, PT Bahana TCW Investment Management, PT PNM Investment

bersambung ke hal-11

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL
Wa w a s a n .
BULETIN AKUNTANSI STAF BAPEPAM BAS No. 1 PEMBERIAN BEBERAPA JASA ATESTASI OLEH KANTOR AKUNTAN PUBLIK (KAP) YANG SAMA IKHTISAR: Interpretasi dalam Buletin Akuntansi Staf ini menyajikan pandangan staf mengenai pemberian beberapa jasa atestasi oleh KAP yang sama yang terdaftar di BAPEPAM kepada Emiten atau Perusahaan Publik yang sama. TANGGAL: 20 Juni 2005 PENJELASAN LEBIH LANJUT, Hubungi : Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan (62 21) 3857901, Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa (62 21) 3857822, Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil (62 21) 3857823 Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), Jl. Dr. Wahidin Raya, Jakarta 10710 INFORMASI TAMBAHAN: Pernyataan dalam Buletin Akuntansi Staf bukan merupakan peraturan atau interpretasi yang diterbitkan oleh BAPEPAM atau mendapat persetujuan resmi dari BAPEPAM. Pernyataan tersebut merupakan interpretasi dan praktik yang diikuti oleh staf di Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa, Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil, dan Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan dalam melaksanakan tugasnya. BULETIN AKUNTANSI STAF NO. 1 Buletin Akuntansi Staf ini memberikan interpretasi atas Peraturan BAPEPAM No. VIII.A.2 tentang Independensi Akuntan Yang Memberikan Jasa Audit di Pasar Modal angka 3 yang menyatakan bahwa Dalam memberikan jasa profesional, khususnya dalam memberikan opini atau penilaian, Akuntan wajib senantiasa mempertahankan sikap independen .... TOPIK 1: INDEPENDENSI AKUNTAN Fakta: 1. Emiten A berencana menunjuk KAP XY untuk melakukan general audit atas Laporan Keuangannya. Disamping itu, Emiten A juga berencana untuk menunjuk KAP tersebut untuk melakukan forensic audit. 2. Emiten B berencana menunjuk KAP XY untuk melakukan general audit atas Laporan Keuangannya. Disamping itu, Emiten B yang juga bertindak selaku Manajer Penjatahan dalam Penawaran Umum Efeknya bermaksud menunjuk KAP XY untuk melakukan pemeriksaan atas Laporan Pemesanan dan Penjatahan Efek tersebut. Pertanyaan: Berkaitan dengan fakta 1 dan 2 di atas, apakah penunjukan KAP XY untuk melakukan 2 penugasan atestasi pada Emiten atau Perusahaan Publik yang sama melanggar peraturan BAPEPAM No. VIII.A.2 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit di Pasar Modal ?. Jawab : Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), dalam hirarki standar Auditing disebutkan bahwa : Perikatan atestasi meliputi audit atas laporan keuangan historis, pemeriksaan (examination) atas laporan keuangan prospektif dan tipe perikatan atestasi lain. Sedangkan, Perikatan non atestasi meliputi standar jasa akuntansi dan standar jasa konsultasi. Dengan demikian, forensic audit dan pemeriksaan atas Laporan Pemesanan dan Penjatahan Efek termasuk dalam pengertian perikatan atestasi. Dalam Peraturan BAPEPAM No. VIII.A.2 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit di Pasar Modal angka 3.d disebutkan beberapa hal yang berkaitan dengan pemberian jasa akuntan yang dapat mempengaruhi independensi. Pemberian jasa forensic audit dan pemeriksaan atas Laporan Pemesanan dan Penjatahan Efek tidak termasuk sebagai pemberian jasa yang dapat mempengaruhi independensi akuntan. Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, pelaksanaan dua jasa atau lebih yang semuanya termasuk jasa atestasi pada entitas yang sama tidak mempengaruhi independensi Akuntan, karena jasa-jasa tersebut dapat saling mendukung. Oleh karena itu penunjukan sebuah KAP untuk beberapa penugasan jasa atestasi pada entitas yang sama (seperti pada dua fakta diatas), tidak bertentangan dengan Peraturan BAPEPAM No.VIII.A.2. pembayaran, tetapi pada saat investor melakukan redemption sebelum jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan dimana biasanya 7 (tujuh) tahun, maka investor tersebut akan dikenakan biaya. Nilai biaya redemption ini akan berkurang seiring dengan semakin lamanya investor mempertahankan investasinya dalam mutual fund tersebut.

Beberapa biaya-biaya khusus yang timbul dalam rangka pembukaan rekening :


 Biaya perdagangan jangka pendek, biaya ini timbul bila investor menarik investasinya dalam jangka waktu 90 hari sejak awal investasi;  Biaya pembukaan rekening;  Biaya tahunan atas jenis mutual fund tertentu (RRSP, RIFs, atau RESP);  Biaya pengalihan, timbul bila investor mengalihkan jenis fund. - Biaya-biaya yang dibebankan kepada fund (secara tidak langsung ditanggung investor) Biaya manajemen; biaya operasional; pajak muncul secara kolektif dalam bentuk persentase dari total nilai fund. Persentase ini disebut sebagai Management Expense Ratio (MER). Nilai MER ini tergantung dari seberapa besar biaya pengelolaan dari tiap fund tersebut. Biaya pengelolaan tersebut mencakup biaya marketing, penjualan, administrasi, pengelolaan portofolio, bahkan biaya trailer atau biaya yang timbul saat agen penjual harus melakukan layanan tertentu kepada nasabahnya juga termasuk dalam komponen MER ini. Biaya perantara pedagang yang timbul akibat transaksi efek dalam pengelolaan portofolio fund ini tidak termasuk sebagai komponen MER, mengingat biaya ini juga berpengaruh terhadap nilai investasi maka unsur biaya ini masuk dalam Trading Expense Ratio (TER)yang harus dilaporkan dalam Laporan Kinerja Fund oleh Manajemen secara 6 (enam) bulanan. - Anjuran untuk membaca Prospektus dan Laporan Keuangan sebelum melakukan investasi Di Kanada, terdapat berbagai macam jenis mutual fund dengan berbagai macam jenis biaya dan tujuan. Terkait dengan ini, dalam rangka melayani investor, OSC melalui Investor Education Fund menyediakan suatu fasilitas untuk mempermudah investor menghitung pengaruh biaya tersebut atas investasinya sehingga lebih mudah menentukan pilihan investasi. Fasilitas tersebut berupa Mutual Fund Fee Impact Calculator dan dapat diakses di website www.investorED.ca (Hersis)

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL

Merekam Jejak P asar Modal Indonesia Pasar


oleh : Basri Pohan
Pada tanggal 10 Agustus 2005 yang lalu merupakan Ultah ke-28 diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Paket deregulasi pemerintah dari tahun 1987 sampai dengan tahun 1995 telah membawa dampak bagi perkembangan pasar modal. Jumlah perusahaan yang melakukan Penawaran Umum bertambah menjadi 248 Emiten pada tahun 1995 atau meningkat 10 kali dari tahun 1987. Infrastruktur seperti fasilitas simpan meminjam Efek, repo Surat Utang Negara, perdagangan obligasi order driven, remote trading, dan rencana otomasi penyelesaian transaksi Reksa Dana hampir mengikuti praktik internasional. Sampai dengan Oktober 2005 ketergantungan dunia usaha terhadap pasar modal sebagai sumber pendanaan mencapai Rp. 357,73 triliun atau 50 persen lebih dibanding dengan kredit perbankan Rp. 665,5 triliun. Aktifitas pasar modal Indonesia pasca lebaran tahun ini kurang semarak. Sebelumnya IHSG sempat mengalami penurunan yang cukup tajam pada posisi paling rendah 1000,87 tetapi mencatat rekor tertinggi 1192 pada awal Agustus 2005. Terhadap Reksa Dana terjadi penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebagai dampak dari penjualan yang cukup besar khususnya untuk Reksa Dana Pendapatan Tetap. Tercatat per 28 Oktober 2005 NAB Reksa Dana hanya Rp. 31,9 triliun. Padahal sebelumnya NAB mencapai Rp. 104 triliun dan sempat menjadi perhatian otoritas perbankan yang dikhawatirkan membayangi stabilitas keuangan Indonesia. Dari sisi eksternal kecenderungan meningkatnya suku bunga internasional dan ketatnya persaingan bisnis ditingkat lokal dan global berdampak pada kinerja Emiten. Dalam perkembangannya, tantangan tersebut semakin diperberat oleh potensi resiko dari fenomena ketidakseimbangan global yang dipicu oleh defisit neraca berjalan dan defisit anggaran Amerika Serikat. Potensi tersebut dapat mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi dunia dan kestabilan pasar modal global. Fenomena lain adalah meningkatnya harga minyak dunia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta tren menaiknya suku bunga SBI selanjutnya mempengaruhi kinerja Emiten. Melihat besaran-besaran kondisi ekonomi makro selama triwulan ketiga tahun ini sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap kinerja pasar modal di masa yang akan datang. Agenda Yang Tertunda Pada tahun 2003 telah dibentuk komite yang mengkaji hasil studi demutualisasi bursa. Komite ini bertugas menyosialisasikan hasil kajian, memilih alternatif model demutualisasi bursa, melaksanakan langkah-langkah restrukturisasi lembaga bursa, dan menyusun business plan serta pelaksanaan demutualisasi Bursa Efek. Sampai saat ini isu demutualisasi bursa tersebut belum jelas. Sepertinya sangat tergantung dari dukungan DPR melalui perubahan Undang-Undang Pasar Modal. Menurut data federasi bursa dunia dalam satu dekade ini beberapa Bursa Efek di belahan dunia telah berubah menjadi entitas usaha dengan profit oriented melalui demutualisasi. Terakhir Bursa Efek yang telah didemutualisasi adalah Bursa Malaysia. Melalui demutualisasi dapat dinilai kinerja manajemen bursa, terjadi pemisahan kepemilikan, manajemen dan keanggotaan bursa. Tujuan lain adalah sebagai persiapan menghadapi persaingan global sesama Bursa Efek yang semakin ketat dan mengurangi beban pengaruh anggota bursa terhadap manajemen bursa. Nasdaq sebagai Bursa Efek terbesar kedua di Amerika Serikat juga sedang menghadapi ancaman persaingan dari electronic communications networks (ECN) dan alternative trading system (ATS) yang juga menyediakan sarana perdagangan yang dapat mempertemukan order pemodal. Sementara itu ide pemungutan fee dari pelaku pasar modal juga menjadi agenda yang masih tertunda, padahal direncanakan akan diterapkan pada awal tahun 2005 ini. Otoritas pasar modal Thailand semenjak tahun 1991 telah mengenakan fee sebesar 0,02 persen sampai dengan 0,08 persen dari nilai emisi dan menerima 50 juta Baht pertahun dari Bursa Efek Thailand. Apabila otoritas pasar modal Indonesia mengenakan fee maka sudah terkumpul penerimaan negara Rp. 236,28 miliar yang bersumber dari pengenaan fee 0,08 persen terhadap Rp. 295,35 triliun nilai emisi tahun 1996 sampai dengan 2004. Belum lagi kontribusi dari SROs dan lisensi fee dari Perusahaan Efek, Wakil Perusahaan Efek, profesi, dan lembaga penunjang pasar modal dan sanksi denda. BAPEPAM sampai dengan akhir September 2005 mengatur dan mengawasi 19.281 pihak diantaranya 5 SROs, 17.051 orang Wakil Perusahaan Efek, 170 Perusahaan Efek dan 2055 lembaga profesi dan penunjang pasar modal. Belum termasuk 511 Emiten atau perusahaan publik dan 322 Reksa Dana. Sejak Oktober 2002 menurut Undang-Undang nomor 24 tentang Surat Utang Negara BAPEPAM diberi tugas mengatur dan mengawasi perdagangan Surat Utang Negara. Terakhir sesuai Undang-Undang nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah BAPEPAM juga mengatur dan mengawasi Penawaran Umum Obligasi Daerah. Sangat pantas BAPEPAM disediakan anggaran yang memadai seperti yang telah diamanatkan Undang-Undang Pasar Modal. Agenda lain yang ramai dibicarakan adalah perjalanan pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diwarnai tarik ulur berbagai kepentingan yang merepresentasikan dinamika politik di negeri ini. Semula menurut Undangundang Bank Indonesia, OJK akan terbentuk selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 2002. Tetapi disepakati OJK terbentuk paling lambat tahun 2010. Bahkan Menteri Keuangan akan menjadikan OJK sebagai sistem pengawasan dan pengaturan lembaga keuangan dalam satu atap secara independen, konsisten tanpa diskriminasi. Sebagai langkah awal berdirinya OJK, Presiden telah menyetujui penggabungan Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK) dan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Aspek Likuiditas Menurut data Bursa Efek Jakarta (BEJ) dari akhir tahun 2004 sampai triwulan pertama tahun 2005 masih terdapat 61,6 persen atau 207 Emiten yang sahamnya tercatat di papan pengembangan. Bahkan dalam triwulan pertama tahun ini dari 310 Emiten yang listed di BEJ, hampir 9 persen atau 29 Emiten yang sahamnya tidak ditransaksikan dan 54,5 persen ditransaksikan dengan frekuensi lebih kecil dari 0,1 persen dari total frekuensi perdagangan. Sebelumnya dari Agustus 2001 sampai dengan Agustus 2003, hampir setiap bulan kurang lebih 12,34 persen saham tidak ditransaksikan dan hampir 66 persen saham di BEJ atau 200 Emiten lebih yang sahamnya ditransaksikan lebih kecil dari 0,1 persen dari total frekuensi perdagangan. Kemudian ketika pemilihan 3 Emiten

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL
peraih top performing listed companies tahun 2005 versi majalah investor 233 Emiten atau 70,61 persen tereliminasi karena tidak memenuhi persyaratan keaktifan transaksi dan pemegang saham kurang dari 300 pihak. Bagi pemodal yang memiliki saham jenis ini kehilangan pintu keluar dari BEJ. Mereka kesulitan menjual kembali pada harga wajar. Saham yang mereka pegang tergolong saham tidak likuid atau sering disebut saham tidur. Banyak faktor yang menyebabkan saham menjadi tidak likuid. Bisa disebabkan frekuensi perdagangan sangat sedikit sebagai akibat minimnya jumlah pemegang saham tersebut. Dan juga dikarenakan saham yang tersedia diperdagangkan sedikit (free float). Atau juga informasi mengenai Emiten saham tersebut sangat minim dan persepsi negatif riwayat perusahaan. Saham tidak likuid lebih cenderung akan ditransaksikan apabila pelaku pasar memiliki informasi lebih atas saham tersebut. Likuiditas saham sangat berkaitan dengan tempat dimana saham itu diperdagangkan. Pasar disebut likuid jika saham yang dicatatkan gampang dijual dan dibeli pada harga pasar yang berlaku. Atau dimungkinkan menjual dalam volume besar secara cepat tanpa mempengaruhi harga secara signifikan. Penyebab lain adanya saham tidur disebabkan sarana perdagangan itu sendiri seperti continous auction di BEJ. Terjadi mismatch antara ketersediaan pembeli dan penjual pada periode tertentu pada saham tertentu. Saham tidur ini dikhawatirkan menjadi virus dan mengancam keuangan pemodal yang kebetulan terlanjur memiliki saham ini dalam jumlah besar. Bursa Efek yang masih memiliki banyak saham tidur dianggap belum mencapai maksud dan tujuan dari pendiriannya. Adalah tugas Bursa Efek sebagai secondary market yang menyediakan likuiditas saham, sebagai sarana tabungan jangka pendek, dan sekaligus perantara bagi perusahaan pencari modal jangka panjang. Target BEJ menambah pemodal menjadi 2 jutaan dalam 3 tahun ke depan akan sulit dicapai jika aspek likuiditas ini terabaikan. Pemodal menjadi frustasi karena broker sudah enggan meneruskan pesanan nasabah atas saham tidur tersebut. Agar dapat terjual kadang-kadang broker membuat harga sendiri. Bursa Efek yang menganut market maker ada kewajiban menampilkan harga beli dan jual. Selisih harga beli dan jual menjadi kompensasi inventory risk yang ditanggung market maker. Berikut ini beberapa upaya yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi aspek likuiditas. Yang pertama, menyediakan sarana perdagangan alternatif. Dengan kemajuan teknologi sangat dimungkinkan menyediakan call auction versi elektronik Warta seperti yang dilakukan beberapa Bursa Efek luar negeri. Sistem ini agak mirip dengan pra pembukaan di BEJ. Dengan call auction volatilitas harga berkurang dan pasar terbuka lebar bagi setiap pemodal. Disini terjadi pencarian harga (price discovery) secara efisien sehingga harga tunggal atas suatu saham menjadi nilai konsensus yang lebih merefleksikan keinginan pelaku pasar. Kelebihan lain adalah memberikan suasana perdagangan yang termonitor dan pemodal akan lebih terkonsentrasi pada saham-saham tertentu. Dengan call aution waktu perdagangan dapat dimulai dari jam 10 pagi sampai dengan 3 sore. Kemudian dialokasikan selama 30 menit untuk pencarian harga (price discovery). Setelah itu jam 3.30 sore ditentukan harga konsensus. Untuk tahap awal sahamsaham dari kelompok perdagangan jasa dan investasi dapat diperdagangkan dengan sistem ini. Selanjutnya saham lain dapat diikutsertakan sesuai dengan free float dan riwayat keuangan Emiten. Penggunaan sarana perdagangan ini tergantung pada kemauan BEJ dan BAPEPAM. Pendapatan BEJ dari fee transaksi dalam jangka pendek akan berkurang. Yang kedua, memperlonggar persyaratan saham yang dapat dijadikan saham induk (underlying) Kontrak Opsi Saham (KOS). Menurut BEJ saham yang memenuhi syarat likuiditas seperti frekuensi, volatilitas, dan kapitalisasi pasar tertentu dapat menjadi saham induk KOS. BEJ khawatir saham tidak likuid menjadi sasaran manipulasi. Harga saham tidak likuid dapat diatur agar KOS posisi out the money atau at the money menjadi in the money. Yang menjadi pertanyaan apakah karena saham kurang likuid yang dapat diatur tidak boleh menjadi saham induk? Padahal KOS itu sendiri adalah upaya pertaruhan dengan volatilitas. Sepanjang suatu saham juga volatile, maka dapat dipertimbangkan menjadi saham induk. Karena membeli saham kurang likuid itu mahal, maka pelaku pasar akan bersedia bertaruh atas fluktuasi harga dan mereka akan masuk ke pasar KOS. Hal ini sejalan dengan tujuan KOS yaitu menggiring pemodal spekulator masuk pasar KOS. Karena ada unsur premium dan proses pencarian harga (price discovery) yang merefleksikan persepsi pasar maka saham kurang likuid dapat menjadi likuid. Yang ketiga, penyelesaian transaksi KOS tidak harus dengan cash settlement seperti yang disyaratkan BEJ sekarang ini. Dengan cash settlement juga dimungkinkan penjual (writer) dapat menjual sebanyakbanyaknya KOS tanpa menyerahkan saham. Semakin banyak KOS yang dijual maka resiko bawaannya juga semakin meningkat. Situasi ini dapat memancing pembeli atau penjual KOS memainkan harga untuk mengamankan posisinya. Untuk itu BEJ perlu mempertimbangkan penyelesaian KOS tidak harus dengan cash tetapi juga dengan delivery. Yang perlu diperhatikan BEJ menetapkan KOS yang beredar dengan underlying saham kurang likuid tersebut tidak melebihi rata-rata volume transaksi saham tersebut dalam periode tertentu. Misalnya saham XYZ dengan free float 1,5 miliar saham, maka KOS XYZ hanya diterbitkan dengan underlying kurang dari free float (1,5 miliar saham). Akses informasi transaksi Informasi asimetris ada di pasar modal manapun. Bagi pemodal yang memiliki sedikit informasi mendapatkan petunjuk dari informasi yang tersedia di wilayah publik. Pasar non reguler yang ada di BEJ seperti pasar tunai, pasar negosiasi, dan pasar tutup sendiri mengandung informasi berharga bagi pelaku pasar. Karena pasar ini merupakan negosiasi langsung dua pihak tanpa memperhatikan prioritas pihak-pihak lain, seperti prioritas waktu, maka harga yang terbentuk tidak mencerminkan semua kekuatan pasar saat itu. Tercatat di BEJ selama tahun 2004 dari total volume perdagangan 76.834.317.217 saham atau 22,94 persen adalah transaksi non reguler. Sisanya 77,06 persen atau 334.934.023.000 saham adalah transaksi reguler. Dari 22,94 persen tersebut sebanyak 56.497.349.432 saham atau 73,5 persen adalah tutup sendiri. Dan selama triwulan pertama 2005 nilai transaksi tutup sendiri mencapai Rp. 34,7 triliun atau 35,08 persen dari total nilai transaksi reguler. Pada pasar modal luar negeri seperti New York Stock Exchange (NYSE) menyediakan 4 sesi untuk transaksi jenis ini. Kenapa saham yang memiliki hak dan kewajiban yang persis sama memiliki harga yang jauh berbeda pada saat yang sama? dan sejauh mana transaksi tersebut berguna bagi pemodal? Transaksi ini umumnya melibatkan pemodal institusi/besar dengan berbagai cara dan teori untuk keuntungan pribadinya. Mereka menggunakan public information dan non public information untuk menghargai suatu saham. Mereka bisa saja sudah menerima atau memiliki informasi lebih dari beberapa publikasi perusahaan atau dari pertemuan dengan para analis saham. Informasi tersebut mungkin tidak diperoleh pemodal lain. Kalaupun ada tidak semua pemodal memiliki keahlian menilai informasi tersebut. Pemodal A berdasarkan informasi yang dimilikinya menganggap saham ABC sangat menarik. Volume perdagangan saham ABC meningkat menjadi 5 juta saham yang sebelumnya hanya rata-rata 2 juta saham selama enam bulan terakhir. Pemodal lain mengalami kesulitan menginterpretasikan kenaikan

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

ARTIKEL
volume tersebut jika tidak memiliki informasi pasar non reguler. Seandainya broker melapor kepada Bursa Efek bahwa pemodal A telah membeli 3 juta saham ABC, maka pemodal lain dapat menggunakan informasi ini untuk menghargai saham ABC. Kemudian pemodal A kembali berinisiatif membeli saham ABC setelah memiliki 3 juta saham, maka pemodal lain dapat mempertimbangkan hal itu sebagai sinyal positif. Logika pasar juga akan berlaku apabila pemodal A menjual saham ABC. Sampai saat ini BEJ tidak menyatakan bahwa transaksi jenis ini akan tersedia bagi pemodal. Informasi transaksi tersebut akan berguna sekalipun tersedia setelah sesi perdagangan tutup. BEJ dapat meminta anggotanya untuk menyediakan informasi transaksi ini kepada publik. Volume, nama pembeli, dan penjual akan menjadi informasi berharga bagi pemodal yang tidak mempunyai banyak informasi di pasar. Bila pemodal diberikan signal melalui data informasi transaksi maka efisiensi harga semakin meningkat. Dan menjadi bermanfaat bagi pemodal karena perhitungan IHSG BEJ belum berdasarkan saham yang tersedia diperdagangkan (free float shares) pada hari itu. Informasi penting lain adalah transaksi yang dilakukan direktur atau komisaris Emiten dan pihak yang memiliki 5% (lima perseratus) atau lebih saham. Menurut peraturan transaksi mereka wajib dilaporkan kepada BAPEPAM selambat-lambatnya dalam waktu 10 (sepuluh) hari sejak terjadinya transaksi. Sayangnya informasi transaksi ini masih sangat terbatas dan tidak dapat diakses secara cepat oleh pemodal. Pemodal meyakini mereka sebagai orang dalam Emiten dianggap mengetahui lebih banyak mengenai prospek usaha Emiten dibanding dengan pihak lain. Meskipun pemodal tidak memperoleh informasi verbal dari mereka tetapi minimal dapat diamati dari perilaku transaksinya. Untuk itu otoritas pasar modal perlu menyediakan informasi tersebut secara merata dan mempertimbangkan untuk mempercepat waktu pelaporan dari 10 hari menjadi selambatnya-lambatnya 2 hari setelah terjadi transaksi. (Basri)

Kharakteristik Investor dan Industri Reksa Dana


oleh : Bayu DK
High Risk High Return, No Risk No Return! Ini adalah prinsip utama dalam manajemen keuangan yang ternyata masih belum dipahami oleh mayoritas investor Indonesia. Karakter investor Indonesia kurang suka terhadap risiko tetapi masih menginginkan imbal hasil yang tinggi, suatu hal yang tidak masuk akal. Sesuai dengan karakter investor Indonesia, instrumen investasi yang paling diminati adalah instrumen investasi yang rendah risiko seperti deposito dan Surat Utang Negara. Reksa Dana sebagai instrumen yang dipersepsikan masyarakat identik dengan deposito juga mengalami booming mulai tahun 2000 sampai awal 2005 karena menawarkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi. Lagi-lagi sesuai dengan karakter investor Indonesia yang sangat suka dengan kepastian (lawan dari risiko), porsi terbesar dari Reksa Dana yang tumbuh adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap yang mencapai sekitar 80% dari seluruh NAB Reksa Dana. Reksa Dana Pendapatan Tetap ini adalah Reksa Dana yang menginvestasikan dananya pada Efek bersifat hutang tetapi pada kenyataannya sebagian besar ditempatkan pada obligasi, baik SUN maupun obligasi korporasi sehingga bisa memberikan imbal hasil dengan jumlah yang tetap dan periodik sesuai dengan jadwal pembayaran bunga obligasi dari para penerbit obligasi. Sebenarnya instrumen Reksa Dana Pendapatan Tetap ini sangat berbeda dengan deposito dikarenakan obligasi sebagai underlying aset nilainya sangat peka terhadap perubahan suku bunga pasar. Jika suku bunga pasar naik maka harga obligasi akan turun, sebaliknya jika suku bunga pasar turun maka harga obligasi akan naik. Ironisnya hal ini tidak banyak diketahui dan dipahami oleh para investor Reksa Dana atau malahan mereka seperti yang disinyalir oleh Komisi IX DPR, banyak dibodohi oleh para agen penjual Reksa Dana yang mengatakan Reksa Dana Pendapatan Tetap sama dengan deposito yang nilainya akan selalu stabil. Ketika tren suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mulai awal tahun 2005 mempunyai kecenderungan naik mengikuti tren kenaikan suku bunga the Fed, kenaikan harga minyak dunia serta inflasi, maka petaka di industri Reksa Dana pun dimulai. Investor Reksa Dana yang panik melihat NAB Reksa Dana-nya turun drastis segera berbondongbondong mencairkan rekeningnya. Akibat rush ini Manajer Investasi kesulitan likuiditas sehingga menjual portofolio obligasi mereka secara obral di tengah pasar obligasi yang sedang lesu sehingga banyak obligasi terjual dengan harga dibawah nilai nominalnya. NAB Reksa Dana pun semakin tergerus bahkan beberapa telah melewati harga pembelian investor. Investor yang semula hanya berniat memindahkan investasi mereka dari Reksa Dana ke deposito yang mulai menawarkan imbal hasil lebih tinggi menjadi lebih panik dan lebih ingin mencairkan rekening mereka untuk meminimalisasi kerugian yang dideritanya. NAB Reksa Dana pun turun secara fantastis dari Rp. 110 trilliun pada pertengahan bulan Februari 2005 menjadi hanya sebesar Rp. 34,5 trilliun dalam waktu hanya enam bulan (E-monitoring Reksa Dana BAPEPAM 2005). Sebenarnya penurunan NAB akibat perubahan suku bunga adalah hal yang biasa, seharusnya investor lebih tenang dan baru mulai mencairkan rekeningnya ketika kondisi pasar membaik. Walaupun dalam keadaan seperti itu para investor juga tidak bisa mutlak disalahkan karena jika investor lain mulai mencairkan rekeningnya sedangkan dia terlambat mencairkan maka dia akan mengalami kerugian yang terbesar. Usaha bersama para pelaku pasar modal selama ini untuk memajukan industri Reksa Dana hampir dapat dikatakan hancur dalam waktu singkat. Hal ini berpangkal pada kurang berhasilnya sosialisasi dan pendidikan kepada para investor, bahkan juga berasal dari ketidaktahuan Agen Penjual Reksa Dana ketika menjelaskan detail produk-produk Reksa Dana yang mereka tawarkan. Untuk menyelamatkan Reksa Dana dari kehancuran, beberapa Manajer Investasi menawarkan konversi Reksa Dana nasabahnya ke dalam Reksa Dana Terproteksi. Sekilas dari namanya Reksa Dana ini sesuai dengan karakter investor Indonesia yang sangat mendewakan kepastian dan keamanan. Reksa Dana Terproteksi sebenarnya adalah Reksa Dana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal investor melalui mekanisme pengelolaan portofolio. Manajer Investasi selanjutnya akan menginvestasikan dana nasabah pada efek bersifat utang yang masuk kedalam kategori layak investasi (ratingnya BBB keatas). Cara kerja Reksa Dana Terproteksi dalam praktik lazim di pasar modal yang telah maju adalah Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian dana nasabah pada zero coupon bond sebagai alat proteksi nilai. Zero coupon bond adalah obligasi tanpa bunga sehingga sebagai kompensasinya obligasi ini akan dijual dengan harga diskon.

10

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

STATISTIK
Misalnya jika ada zero coupon bond bernilai nominal Rp. 1 milyar berjangka waktu 3 tahun ditawarkan dengan diskon 30%, maka ini berarti bahwa untuk memperoleh obligasi tersebut investor hanya perlu mengeluarkan Rp. 700 juta dengan memperoleh pembayaran di akhir periode obligasi sebesar nilai nominal yaitu sebesar Rp. 1 milyar. Dalam kasus Reksa Dana Terproteksi , jika Manajer Investasi Reksa Dana Terproteksi mengelola dana sebesar Rp. 100 milyar maka dia akan menaruh dananya sebesar Rp. 70 milyar (70%) ke dalam zero coupon bond yang berdiskon 30% sebagai proteksi atas nilai investasi awal para nasabahnya. Kemudian sisa dana sebesar Rp. 30 milyar (30%) akan diinvestasikan dalam instrumen pasar modal berisiko tinggi seperti opsi saham, saham, warrant, hedge fund, dan lain sebagainya. Jikapun terjadi skenario terburuk yaitu dana yang diinvestasikan dalam aset berisiko tinggi ini benar-benar habis, investor masih bisa mengambil pokok investasinya karena telah diproteksi oleh zero coupon bond tadi. Sayangnya di Indonesia zero coupon bond ini belum banyak tersedia, sebagai gantinya Manajer Investasi menginvestasikan dana nasabah ke dalam aset SUN dan obligasi korporasi berperingkat tinggi. Selain itu instrumen pasar modal berisiko tinggi seperti option, hedge fund, dan warrant juga belum berkembang dengan baik. Menurut hemat penulis Reksa Dana Terproteksi tidak akan dapat berfungsi secara optimal dalam kondisi pasar modal Indonesia saat ini. Tetapi paling tidak Reksa Dana penyelamatan ini menurut Direktur Utama Trimegah Securities Rosinu diharapkan mampu membendung redemption Reksa Dana dikarenakan dengan scheme Reksa Dana Terproteksi, nasabah diminta disiplin menunggu jatuh tempo. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan Reksa Dana Terproteksi ini adalah jangan ada kebohongan lagi terhadap para nasabah. Nasabah harus dijelaskan dan dipahamkan tentang karakteristik Reksa Dana ini serta segala hak dan kewajiban nasabah dan pengelola Reksa Dana secara terbuka dan transparan. Dikarenakan walaupun dikatakan dana nasabah telah diproteksi, tetapi sebenarnya dana nasabah tersebut tidak benar-benar terproteksi. Nasabah Reksa Dana Terproteksi masih harus menanggung berbagai macam risiko investasi di pasar modal seperti risiko gagal bayar penerbit obligasi pada saat pembayaran bunga maupun pelunasan obligasi-obligasi yang dijadikan underlying aset Reksa Dana Terproteksi. Dengan adanya risiko-risiko tersebut, Manajer Investasi dituntut untuk mengelola dana nasabah secara hati-hati (prudent) untuk jangan sampai nasabah dirugikan pada waktu mereka mencairkan rekeningnya. Jika sampai kepercayaan sisa-sisa nasabah Reksa Dana ini tidak bisa dipertahankan serta ekspektasi mereka tidak teRp.enuhi, maka layaklah kita harus segera mengucapkan selamat jalan industri Reksa Dana!!!.(Bayu) Warta

Perkembangan P asar Modal Indonesia Pasar bulan Desember 2005


Pada dua minggu pertama di bulan terakhir di tahun 2005 Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta relatif berfluktuasi dan cenderung menurun. Hal ini dikarenakan adanya aksi profit taking dan window dressing atas sejumlah saham unggulan oleh para pelaku pasar guna mengantisipasi kondisi di penutupan tahun 2005. akan mampu dan lebih baik kinerjanya untuk mengatasi kondisi perekonomian Indonesia. Perdagangan di bursa juga dipengaruhi oleh membaiknya harga saham PT Telkom dan PT Indosat setelah Fitch Rating menyatakan pertumbuhan permintaan akan telepon selular di dalam negeri akan

Perdagangan saham pekan pertama bulan Desember 2005, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) relatif cenderung meningkat. Indeks ditutup pada level 1.160,068 atau naik 40,651 poin (3,63%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang mencapai level 1.119,417. Pada awal bulan penguatan indeks antara lain didorong oleh aksi beli pemodal yang dipicu oleh adanya sentimen positif pasar atas perekonomian Indonesia yang diperkirakan akan kembali membaik berkenaan dengan adanya kebijakan Presiden yang melakukan reshuffle kabinetnya. Jajaran kabinet yang baru dinilai para pelaku pasar dianggap

terus berlanjut sampai dengan tahun 2007. Faktor lainnya yang turut memicu maraknya perdagangan saham di bursa adalah munculnya spekulasi akan segera diumumkannya reshuffle kabinet oleh Presiden seiring dengan akan adanya pertemuan antara Presiden dan Wakil Presiden di Yogyakarta. Peningkatan indeks terus berlanjut, berkenaan dengan sikap positif pemodal atas naiknya tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia yang relatif lebih rendah dari yang diperkirakan oleh pasar. Bank Indonesia menaikkan kembali tingkat

perkembangan RD........... Investasi. Sebagaimana telah dikemukan Ketua BAPEPAM di media bahwa keempat MI tersebut melanggar peraturan berkaitan dengan batas toleransi harga referensi. Dimana dari empat MI yang diperiksa satu Manajer Investasi yang dinilai melakukan pelanggaran berat itu diketahui berpuluh-puluh kali melakukan pelanggaran harga referensi dalam valuasi portofolio mereka, satu MI agak berat dan dua MI melakukan pelanggaran ringan. Dan proses pemberian sanksi sedang dalam pembahasan lebih lanjut dengan biro terkait. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan Reksa Dana yang masih terbilang muda ini perlu mendapatkan perhatian baik dari sisi peraturan maupun dari pelaku itu sendiri dan investor yang menanamkan dananya di Reksa Dana. Transparansi prosedur investasi, pengelolaan, dan transaksi serta pengawasan perlu ditingkatkan. Redemption secara besar-besaran tidak perlu terjadi apabila kenaikan suku bunga dapat diukur, harga obligasi relatif stabil, dan pengetahuan yang cukup bagi para nasabah dalam menempatkan portofolionya serta peranan agen penjual dalam memasarkan produk Reksa Dana dilakukan secara proporsional. Investor dan Agen Penjual Reksa Dana harus ditingkatkan edukasinya dalam memahami produk Reksa Dana. Namun redemption merupakan pembelajaran yang berharga dan perlu dicarikan solusi yang dapat memberikan dampak yang baik secara berkesinambungan. (riried)

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

11

STATISTIK
suku bunga untuk jangka waktu 1 bulan menjadi 12,75%. Disamping itu, nilai tukar rupiah juga relatif menguat seiring dengan munculnya optimisme para pemodal atas adanya jajaran menteri baru. Menguatnya nilai tukar rupiah juga akan mengurangi beban utang luar negeri dan biaya impor bahan baku. Pada penutupan minggu pertama, indeks kembali menguat 1,749 poin (0,15%) ke posisi 1.160,068. Kenaikan indeks antara lain didorong oleh membaiknya harga saham PT Aneka Tambang setelah adanya laporan dari Merril Lynch & Co yang menaikkan forecast atas tingginya harga emas dunia. Sementara nilai rata-rata perdagangan saham per hari di BEJ pada minggu ini Rp. 1.457,52 miliar, naik 29,02% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.129,71 miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal domestik yang mencapai 65,02% dibandingkan dengan pemodal asing 34,98% dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan pembelian, terlihat dari total posisi beli yang lebih besar daripada posisi jualnya sehingga terjadi aliran dana masuk sekitar Rp. 1.016,28 miliar. Pada pekan kedua Desember 2005, Indeks Harga Saham Gabungan di BEJ relatif cenderung menurun. Indeks ditutup pada level 1.143,426 atau turun 16,642 poin (1,43%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang mencapai level 1.160,068. Pada perdagangan saham hari pertama indeks mengalami peningkatan 14,939 poin (1,29%) ke posisi 1.175,007. Peningkatan ini antara lain didorong oleh adanya pernyataan dari menteri perdagangan bahwa Bank Indonesia akan dapat mengurangi tingkat suku bunga dalam semester pertama tahun 2006 karena inflasi juga diperkirakan akan mengalami penurunan. Turunnya tingkat suku bunga diharapkan dapat membantu perbankan mengurangi peningkatan non-performing loan (NPL) dan cost of fund sehingga mendorong aksi beli pemodal atas saham-saham sektor perbankan. Faktor lainnya yang turut memicu menguatnya indeks adalah adanya aksi beli atas saham PT Telkom seiring dengan adanya peningkatan debt rating perusahaannya oleh Standard & Poors . PT Telekomunikasi Selular sebagai unit bisnis PT Telkom yang menangani mobile-phone dinaikkan ratingnya sebanyak 2 level menjadi BB+ dari sebelumnya B+. Dengan adanya peningkatan rating akan memberikan manfaat bagi PT Telkom dimana PT Telkom mendapat tingkat bunga yang rendah bila ingin meminjam ke pihak ketiga sehingga akan berdampak pada menurunnya biaya modal. Namun pada akhir perdagangan saham pekan kedua bulan Desember, pergerakan indeks cenderung mengalami penurunan. Hal ini didorong oleh adanya aksi jual atas saham-saham berkapitalisasi besar terjadi berkenaan dengan adanya pernyataan dari Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kuartal keempat tahun 2005 ini akan melambat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sekitar 4% - 4.5% sejalan dengan adanya peningkatan harga minyak, tingginya inflasi dan tingkat suku bunga. Nilai rata-rata perdagangan saham perhari di BEJ pada minggu kedua adalah sebesar Rp. 1.221,48 miliar, turun 16,20% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.457,52 miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal domestik yang mencapai 72,01% dibandingkan dengan pemodal asing 27,99% dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan pembelian, terlihat dari total posisi beli yang lebih besar daripada posisi jualnya sehingga terjadi aliran dana masuk sekitar Rp. 96,43 miliar. Sementara itu, indeks di bursa regional ditutup bervariasi, indeks Singapura naik 25,28 poin atau 1,10% ke posisi 2.325,53, indeks Thailand naik 23,42 poin (3,51%) menjadi 691,17, sementara indeks Philipina melemah 52,18 poin (2,49%) menjadi 2.047,56. dan indeks Malaysia ditutup pada level 893,37 atau turun 2,76 poin (0,31%) dari bulan sebelumnya sebesar 896,13. (Riset)

12

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

STATISTIK
Transaksi Pemodal Domestik dan Asing terhadap Total Perdagangan
Volume Perdagangan (juta saham) :
Periode 2004 2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des Total 411.768,3 50.924,1 35.042,0 62.671,5 28.099,0 26.779,2 26.603,7 34.809,3 43.083,9 26.986,6 26.453,3 14.934,4 15.683,0 Indonesia 330.746,9 38.073,5 26.610,4 49.979,6 22.271,5 19.477,2 20.433,4 27.143,9 35.328,9 18.721,2 19.292,1 10.286,2 12.985,4 ^% 80,32 74,77 75,94 79,75 79,26 72,73 76,81 77,98 82,00 69,37 72,93 68,88 82,80 Asing ^% Periode 2004 2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des 81.021,3 19,68 12.850,6 8.431,6 12.691,9 5.827,5 7.302,0 6.170,3 7.665,4 7.755,0 8.265,4 7.161,1 4.648,2 2.597,5 25,23 24,06 20,25 20,74 27,27 23,19 22,02 18,00 30,63 27,07 31,12 17,20

Nilai Perdagangan (Rp. milyar) :


Total 247.006,9 35.213,8 29.313,9 70.170,9 28.042,8 53.933,6 25.752,1 28.174,9 35.793,0 31.197,5 26.687,1 16.056,1 15.898,3 Indonesia 145.651,8 22.415,8 18.685,2 39.956,4 17.475,5 29.944,7 16.371,7 17.385,7 22.899,5 15.744,8 15.078,2 9.277,8 10.922,3 ^% Asing ^% 58,97 101.355,2 41,03 63,66 63,74 56,94 62,32 55,52 63,57 61,71 63,98 50,47 56,50 57,78 68,70 12.798,0 10.628,7 30.214,5 10.567,3 23.988,9 9.380,4 10.789,1 12.893,5 15.452,8 11.609,0 6.778,3 4.975,9 36,34 36,26 43,06 37,68 44,48 36,43 38,29 36,02 49,53 43,50 42,22 31,30

Nilai Kapitalisasi Pasar


Akhir Jumlah Periode Emiten 2004 331 2005 Januari 331 Pebruari 331 Maret 330 April 330 Mei 330 Juni 333 Juli 334 Agustus 334 September 336 Oktober 335 Nopember 335 Desember 335 BURSA EFEK JAKARTA Jumlah Nilai (saham) (Rp. M) 656.447.198.554 679.949,1 657.052.813.692 710.369,8 659.504.478.061 731.363,6 624.537.226.229 735.807,1 624.761.983.897 701.827,2 629.301.652.690 740.299,2 660.929.341.633 765.810,8 685.982.254.900 805.449,2 687.599.579.581 721,223,1 699.828.581.627 757.452,4 707.742.467.891 740.689,8 707.949.489.138 758.380,0 710.862.630.614 788.003,9 ^%
47,7 4,5 3,0 0,6 4,6) 5,5 3,5 5,2 10,5) 5,0 2,2) 2,4 1,3)

( ( (

Jumlah Emiten 205 205 205 205 205 205 208 208 208 207 207 207 207

BURSA EFEK SURABAYA Jumlah Nilai ^% (saham) (Rp. M) 526.051.067.558 605.390,2 49,5 530.132.935.989 630.638,2 4,2 530.221.563.920 644.844,5 2,3 491.510.257.367 642.175,9 ( 0,4) 492.732.935.805 556.348,6 (13,4) 512.811.375.534 653.321,1 17,4 521.582.672.746 671.206,4 2,7 523.438.482.941 710.433,7 5,8 523.251.231.585 629.173,8 ( 11,4) 528.380.090.022 647.231,4 2,9 528.360.745.087 628.320,9 ( 2,9) 528.424.642.614 652.362,4 3,8 528.688.119.161 679.983,3 ( 1,3)

Perdagangan Obligasi
Akhir Periode
2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des

Obligasi Pemerintah RI / SUN Obligasi Nilai Hari Rata-rata Outstanding (Rp. M) Bursa per hari (Rp. M) (Rp. M)
399.304,2 428.227,3 408.236,4 408.236,4 400.187,0 417.825,7 404.985,1 404.985,1 406.545,1 405.466,1 401.416,3 386.563,2 20.270,6 9.939,9 10.896,9 14.705,4 8.927,9 11.888,0 8.277,7 7.478,0 15.341,4 7.354,0 896,8 488,4 20 18 21 20 20 22 21 22 21 21 17 12 1.013,5 552,2 518,9 735,3 446,4 540,4 394,2 339,9 730,5 350,2 52,7 40,7

Akhir Periode
2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des

Obligasi Korporasi Obligasi Nilai Hari Rata-rata Outstanding (Rp. M) Bursa per hari (Rp. M) (Rp. M)
61.800,2 62.700,2 62.950,2 63.600,2 62.327,1 62.924,1 65.524,1 63.770,9 63.570,9 63.295,9 63.230,9 63.230,9 3.346,5 1.062,0 1.297,3 3.111,3 1.394,0 23.528,4 1.328,1 1.666,0 3.424,5 3.517,5 1.025,9 987,8 20 18 21 20 20 22 21 22 21 21 17 12 165,7 82,5 68,8 155,6 69,7 1.069,5 63,2 75,7 163,1 167,5 60,4 82,3

Indeks Bursa Dunia


November - Desember 2005
Bursa
JSX SSX STI KLSE SETI PSE

+/+ + + + 46,76 26,19 25,25 2,83 23,35 52,24

30-11-05
1.096,64 581,01 2.300,25 896,13 667,75 2.099,74

16-12-05
1.143,4 607,2 2.325,5 893,3 691,1 2.047,5

^
+ + + + -

%
4,26 4,51 1,10 0,31 3,50 2,49

Bursa
KOSPI HSI N 225 TWSE DJIA FTSE ASX

+/+ 23,6 + 92,7 + 300,9 + 343,0 + 69,7 + 108,4 + 7,3

31-11-05
1.297,44 14.937,14 14.872,15 6.203,47 10.805,87 5.423,20 4.583,60

16-12-05
1.321,04 15.029,81 15.173,07 6.546,50 10.875,59 5.531,60 4.590,90

^ %
+ + + + + + + 1,82 0,62 2,02 5,53 0,64 2,00 0,16

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

13

Kinerja Reksa Dana


Akhir Periode
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November
Sumber : E-Monitoring

Jumlah Reksa Dana


25 77 81 81 94 108 131 186 246 250 257 272 272 279 290 292 303 311 322 325

Pemegang Saham / U.P


2.441 20.234 15.482 24.127 39.487 51.723 125.820 171.712 299.063 314.442 320.750 346.618 339.377 335.283 314.814 321.396 323.945 320.512 275.128 n.a

NAB (Rp. juta)


2.782.322,5 4.916.604,8 2.992.171,4 4.974.105,0 5.515.954,1 8.003.769,8 46.613.833,2 69.477.719,8 104.037.824,6 110.130.237,1 113.721.016,8 105.382.373,8 86.450.940,7 84.930.128,4 83.293.827,9 78.926.526,4 65.682.746,8 34.011.822,2 32.286.866,1 30.750.428,4

Jumlah Saham/Unit yang beredar


2.942.232.210,518 6.007.373.758,547 3.680.892.097,256 4.349.952.950,816 5.006.049.769,659 7.303.771.880,360 41.665.523.049,213 60.020.745.572,816 84.700.701.702,709 90.462.181.500,134 91.388.765.614,909 82.706.198.519,840 67.296.428.325,250 64.961.787.457,380 62.806.021.756,480 58.957.959.365,684 49.460.623.826,140 24.703.096.431,230 23.819.715.104,146 22.335.423.465,530

96 97

98

99

00

01

02

03

04 05 J

Perubahan Aset Reksa Dana


Akhir Periode 2002 2003 2004 2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov NAB Perubahan NAB (Rp. T) (Rp. T) % 46,61 69,48 104,04 110,13 113,72 105,38 86,45 84,93 83,29 78,93 65,68 34,01 32,29 30,75 38,61 22,86 34,56 6,09 3,59 ( 8,34) (18,93) ( 1,52) ( 1,64) ( 4,24) (13,37) (31,67) ( 1.67) ( 1,59) 482,4 49,1 49,7 5,9 3,3 (7,3) (18,0) ( 1,8) ( 1,9) ( 5,1) (16,9) (48,2) ( 4,9) ( 4,9) RD Dana Awal Baru (Rp. M) 29 82 70 4 7 15 7 12 3 11 6 15 3 510,48 2.188,14 782,07 25,80 125,90 246,50 327,33 1.079,64 215,52 79,50 43,60 1.030,98 -

14

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

RAGAM

PERISTIWA

Seminar XBRL : Prespektif Baru Penyampaian Laporan Keuangan

Bertempat di Ruang Multi Fungsi Gedung Bursa Efek Jakarta, pada tanggal 6 Desember 2005 Tim Analisis Laporan Keuangan Secara Elektronik BAPEPAM telah menyelenggarakan seminar tentang XBRL dengan tema Prespektif Baru Penyampaian Laporan Keuangan Secara Elektronik. Seminar yang dihadiri sebanyak 121 peserta undangan yang datang dari berbagai instansi, seperti : SRO, Bank Indonesia, DJLK, BPK, BPKP, Depkominfo, PPATK, Himdasun, IAI, Akademisi (UI, ITB), Data Vendor, Emiten, dan Kantor Akuntan Publik tersebut menampilkan pembicara : Cornelis Poelman, Technical Advisor PriceWaterhouseCooper, Shunzo Kayanuma, Head of Overseas Relations Tokyo Stock Exchange, Benhard Sitohang, Dosen senior Departemen Teknik Informatika ITB, dan Yuichiro Ichikawa dan Toshimitsu Suzuki, Fujitsu Limited Japan.

Seminar Obligasi Daerah

Bertempat di ruang Perusahaan Publik, Gedung 16 Lantai Lt. 3, pada tanggal 13 Desember 2005 BAPEPAM telah menyelenggarakan seminar dengan mengambil tema Obligasi Daerah, Peluang, dan Tantangan. Seminar yang dibuka oleh Sekretaris BAPEPAM, Wahyu Hidayat tersebut dihadiri oleh para pejabat dan pegawai BAPEPAM. Acara seminar tersebut menampilkan tiga orang pembicara, yaitu MS Tumanggor, Kabag. Pengembangan Keterbukaan dan Tata Kelola Biro SAK, Nurhaida, Kabag. usaha Aneka Industri Biro PKP-SR, dan Edwin Syahruzad, Direktur Danareksa Securities, serta moderator Novira Indria Ningrum, Kasubag. Penelaahan Akuntansi Usaha Jasa Properti Biro PKP-SJ.

Warta

BAPEPAM , E d i s i 12 / Desember 2 0 0 5

15

Emisi Saham dan Obligasi


s.d 16 Desember 2005
Jumlah Emiten Saham dan Obligasi
60 320 240 160 80 0 Kumulatif

Per tahun

Jenis Emisi IPO Saham Emisi II dst. Right Issue Pers. Publik Jumlah : IPO Obligasi Emisi II dst. Obl.Syariah Obl.Konversi Sek.Kredit Jumlah : Total Emisi : Obl. US $

Jumlah Emiten 423 7 430 147 2 7 1 157 511 2

Nilai (Rp. Tn) 45,152 0,483 219,743 1,754 267,132 38,048 49,487 1,717 1,825 0,003 91,080 358,213 $ 105 Jt

45 30 15 0

95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 per Tahun Kumulatif

umlah perusahaan yang memperoleh per nyataan efektif untuk menawarkan Saham dan Obligasi kepada publik sampai dengan tanggal 16 Desember 2005, 511 emiten (76 emiten selain menawarkan saham juga menerbit-

kan Obligasi), termasuk 7 (tujuh) perusahaan publik yang tidak tercatat di bursa dan emiten yang melakukan Right Issue (HMETD), dengan total nilai emisi meningkat 0,26% dari Rp. 357,28 triliun pada bulan sebelumnya menjadi Rp. 358,21 triliun.

400 350 300


(Rp Triliun)

250 200 150 100 50 0 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05

Kinerja Bursa Efek


BURSA EFEK JAKARTA BURSA EFEK SURABAYA

Akhir Volume Periode (Juta shm)

Nilai Hari Rata-rata per hari (Rp. M) Bursa Volume Nilai (Juta shm) (Rp. M)
35.213,8 30.814,5 70.170,9 28.042,8 53.933,6 25.752,1 22.657,6 35.793,0 31.197,5 26.687,1 16.056,1 15.898,3 20 18 21 20 20 22 21 22 21 21 17 12 2.546,2 2.026,4 2.984,4 1.404,9 1.339,0 1.209,3 1.657,6 1.958,4 1.285,1 1.259,7 878,5 1.306.9 1.760,7 1.711,9 3.341,5 1.402,1 2.696,7 1.170,6 1.078,9 1.627,0 1.485,6 1.270,8 944,5 1.324,9

Akhir Volume Nilai Periode (Juta shm) (Rp. M)

Hari Rata-rata per hari Bursa Volume Nilai (Juta shm) (Rp. M)
20 18 21 20 20 22 21 22 21 21 17 12 24,6 30,3 22,5 16,5 157,4 173,8 73,3 19,2 62,6 30,8 62,9 71,2 20,2 16,8 8,5 8,3 36,1 43,6 16,8 9,1 16,3 6,3 20,8 62,5

2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des

50.924,1 36.475,3 62.671,5 28.099,0 26.779,2 26.603,7 34.809,3 43.083,9 26.986,6 26.453,3 14.934,4 15.683,0

2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des

492,3 545,7 471,8 331,0 3.148,3 3.823,6 1.539,5 423,4 1.314,9 647,0 1.069,7 854,1

403,9 301,9 177,8 166,1 722,5 959,3 352,9 201,1 342,7 133,3 353,3 749,6

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)


BURSA EFEK JAKARTA
Akhir

BURSA EFEK SURABAYA


Akhir

IHSG 1.000,23 1.045,43 1.073,82 1.080,16 1.029,61 1.088,16 1.138,98 1.182,30 1.050,09 1.079,27 1.066,22 1.096,64 1.143,42 + + + + + + + + + +

Periode 2004 2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des

Perubahan +/% 308,33 + 44,56 45,20 + 4,52 28,38 + 2,71 6,34 + 0,59 50,55 - 4,68 58,55 + 5,69 50,82 + 4,67 43,32 + 3,80 132,21 - 11,18 29,18 + 2,78 13,05 - 1,21 30,15 + 2,83 46,78 + 4,26

IHSG 545,62 567,24 579,84 583,41 555,83 584,54 608,84 633,78 561,10 576,55 559,64 581,01 607,18 + + + + + + + + + +

Periode 2004 2005 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des

Perubahan + / % 170,60 + 45,49 21,62 + 3,96 12,60 + 2,22 3,57 + 0,62 27,58 - 4,73 28,71 + 5,17 24,30 + 4,16 24,94 + 4,10 72,68 - 11,47 15,45 + 2,75 16,91 - 2,93 20,49 + 3,66 26,17 + 4,50