Anda di halaman 1dari 4

1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dalam beberapa waktu belakangan ini media massa, pemerintah, masyarakat, kaum intelektual bahkan masyarakat biasa disibukkan dengan kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah. Sebagai salah satu akademisi, kami akan mengkaji dan menelaah hal-hal yang menjadi landasan pengambilan kebijakan itu oleh pemerintah, bagaimana faktanya dilapangan, bagaimana tanggapan para ahli dan pakar pakar ekonomi serta dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat baik ditingkat makro ataupun mikro. UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 mengatur tentang alokasi anggaran yang berkaitan dengan subsidi BBM dan jelas menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM. Setelah menghitung harga pokok produksi BBM secara menyeluruh, pemerintah sampai pada kesimpulan bahwa harga jual BBM harus dinaikkan sebesar Rp 1.500 per liter. Jika dilihat pada harga premium yang sekarang Rp 4.500 per liter, berarti kenaikannya sekitar 30 persen. Dikarenakan rencana Pemerintah tersebut yang ingin menaikkan harga BBM pada 1 April 2012, maka haruslah dilakukan pembahasan RAPBN-P yang melibatkan DPR agar kenaikan itu mempunyai dasar (Kompas.com, 2012) Menurut analisa Kwik Kwan Gie, alasan pemerintah menaikkan harga BBM dikarenakan naik tajamnya harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang bulan Februari 2012 lalu mencapai $122/barel. Pemerintah memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa setiap kali harga minyak mentah di pasar internasional meningkat, dengan sendirinya pemerintah harus mengeluarkan uang ekstra, dengan istilah untuk membayar subsidi BBM yang membengkak. Faktanya, harga BBM yang dikenakan pada rakyat Indonesia tidak selalu sama dengan ekuivalen harga minyak mentahnya. Bilamana harga BBM lebih rendah dibandingkan dengan ekuivalen harga minyak mentahnya di pasar internasional, dikatakan bahwa pemerintah

merugi, memberi subsidi untuk perbedaan harga ini. Lantas dikatakan bahwa subsidi sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, sedangkan pemerintah tidak memilikinya. Maka APBN akan jebol, dan untuk menghindarinya, harga BBM harus dinaikkan (Metro Realitas 26/3/12). Pikiran tersebut adalah pikiran yang sesat ditinjau dari sudut teori kalkulasi harga pokok dengan metode apapun, karena sama sekali tidak memperhitungkan kenyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki minyak mentah sendiri di dalam perut buminya. Selain itu, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tersebut tidaklah tepat dan mencerminkan sikap pemerintah yang tidak memedulikan kegelisahan rakyat. Saat ini, masyarakat masih terbelenggu kemiskinan dan pengangguran, sehingga daya beli mereka rendah. Armida Nasional/Kepala Sjalsiah Badan Alisjahbana, Perencanaan Menteri Perencanaan Nasional Pembangunan (Bappenas),

Pembangunan

menuturkan bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak pada kenaikan harga pangan dan meningkatnya pengeluaran penduduk miskin. Implikasi lanjutannya dapat menurunkan daya beli dan tingkat konsumsi pangan masyarakat (Supriadi, 2012). Sebagaimana kita ketahui, BBM merupakan bahan baku bagi berbagai kegiatan masyarakat. Dengan naiknya harga BBM, maka pengaruhnya akan mendorong kenaikan harga umum secara komulatif. Pengaruh ini akan terjadi melalui beberapa cara. Pertama, terjadi secara lagsung melalui kenaikan biaya transport. Selain itu, implikasi kenaikan BBM tersebut, menurut Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, tentu berdampak luar biasa, khususnya bagi rakyat kecil. Kebijakan ini sudah pasti memicu kenaikan harga barang-barang, khususnya kebutuhan pokok rakyat sehingga kenaikan harga BBM akan semakin membuat rakyat kecil terpuruk. Bahkan, rencana kenaikan harga BBM yang jauh-jauh hari telah diwacanakan pemerintah telah

mendorong beberapa pihak untuk menimbun BBM. Ini menjadi pekerjaan rumah yang selama ini tidak mampu diselesaikan pemerintah (Kompas.com, 2012). Walaupun pemerintah menilai solusi dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang tengah digadang-gadangkan pemerintah adalah langkah perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, yakni mereka yang dipandang paling menderita akibat kenaikan harga, namun kenaikan harga BBM tersebut diperkirakan malah mendatangkan pengaruh besar pada tingkat kemiskinan masyarakat sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri bahwa Angka Kemiskinan Indonesia diperkirakan akan bertambah sekitar 1% sebagai dampak dari kenaikan harga BBM. Jumlah tersebut diperoleh jika dihitung dari perkiraan terdorongnya inflasi sebesar 1% setelah harga BBM dinaikan. Ia memastikan dampak dari kenaikan harga BBM akan terjadi inflasi yang bisa menurunkan daya beli masyarakat dan diperkirakan jumlah masyarakat yang sebelumnya masuk kategori menengah, namun pascakenaikan BBM justru masuk kategori miskin akan bertambah. Sedangkan menurut Armida Sjalsiah Alisjahbana, pertumbuhan ekonomi 6,5% dan kenaikan inflasi menjadi 7% akan menyebabkan peningkatan angka kemiskinan menjadi sekitar ll,93%-12,08% per Maret 2012 (Supriadi, 2012). Selain itu, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), kenaikan harga BBM diperkirakan akan memicu bertambahnya angka kemiskinan sebesar 1,5 persen. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2011 mencapai 30,02 juta jiwa (Bisnis.com, 2012).

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah

Bagaimanakah solusi terhadap dampak kenaikan harga BBM tersebut?

Dapus : Supriadi, Agus. 2012. BBM naik, angka kemiskinan meningkat. Available online at www.bisnis.co.id Kompas.com .2012. Kenaikan BBM. Available online at www.kompas.com/read/.../lipi.kenaikan.bbm Tribunnews. 2012. Warga Miskin Meningkat Pasca Kenaikan BBM. Available online at http://batam.tribunnews.com/2012/03/02/warga-miskin-meningkatpasca-kenaikan-bbm Bisnis.com. 2012. Kenaikan BBM angka kemiskinan akan bertampah 1 percent available online at http://www.bisnis.com/articles/kenaikan-bbm-angkakemiskinan-akan-bertambah-1-percent http://m.jpnn.com/news.php?id=119221 Metro Realitas (26/3/2012)