Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan Pustaka

Konjungtivitis Viral
Pendahuluan Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, parasit, alergi, iritasi, alergi, bahan kimia, maupun karena suatu penyakit idiopatik. Konjungtivitis viral akut merupakan penyakit yang umum dan merupakan self-limited disease. ini dapat disebabkan oleh adenovirus, enterovirus, ataupun virus herpes simpleks. Gambaran umum dari konjungtivitis viral yaitu mata merasa seperti ada benda asing, hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, pseudoptosis, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran dan pseudomembran, granulasi, flikten, adenopati preaurikular.1 Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai konjungtivitis viral akut. Anamnesis Pada anamnesis, ditanyakan nama, umur, jenis kelamin, keluhan utama, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit sekarang, riwayat sosial, riwayat keluarga, dan riwayat obat. Keluhan utama biasanya mata merah, berair, terasa seperti ada benda asing di mata. Untuk mencari tahu riwayat penyakit sekarang perlu ditanyakan apakah pasien menggunakan kacamata/lensa kontak, apakah ada penurunan tajam penglihatan, apakah terasa gatal atau tidak, sakit atau tidak, warna sekret mata, kelopak terasa lengket atau tidak, merasa silau (fotofobia) atau tidak. Tanyakan juga mengenai ada atau tidaknya demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar, batuk, bersin-bersin, pilek, sakit ketika menelan, suara serak, dan sakit telinga.

Pada riwayat sosial dan keluarga, perlu ditanyakan apakah pasien merokok, baru pergi ke daerah mana, dan ada tidaknya orang-orang terdekat yang mengalami gejala yang sama. Pada riwayat penyakit dahulu ditanyakan apakah sering menderita penyakit serupa secara berulang. Pada riwayat obat, ditanyakan apakah menggunakan obat-obatan tertentu dan apakah alergi terhadap suatu obat tertentu. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang diperlukan meliputi survei umum keadaan pasien, tingkat kesadaran, ekspresi wajah dan aktivitas motorik, tanda-tanda vital, pemeriksaan kelenjar limfe servikal dan preaurikuler, dan pemeriksaan mata. Bila dicurigai ada infeksi fokal seperti ada faringitis, maka pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok diperlukan. Pemeriksaan mata yang dilakukan antara lain: Ketajaman visus, menggunakan kartu Snellen Lapang pandang, dengan tes konfrontasi Palpebra, dilihat apakah ada edema, warna kemerahan, lesi, arah bulu mata, dan kemampuan palpebra untuk menutup sempurna Apparatus lakrimalis, dilihat apakah ada pembengkakan pada daerah kelenjar lakrimalis dan sakus lakrimalis Konjungtiva dan sclera, dilihat warnanya dan vaskularisasinya, cari setiap nodulus atau pembengkakan. Pada konjungtiva tarsus superior dicari kelainan seperti folikel, membran, papil, papil raksasa, pseudomembran, sikatriks, dan simblefaron. Pada konjungtiva tarsus inferior dicari kelainan seperti folikel, papil, sikatriks, hordeolum, kalazion. Pada konjungtiva bulbi dilihat ada tidaknya sekret. Bila ada amati warna sekret, kejernihan, dan volume sekret. Kemudian cari ada tidaknya injeksi konjungtival, siliar,

atau episklera, perdarahan subkonjungtiva, flikten, simblefaron, bercak degenerasi, pinguekula, pterigium, dan pseudopterigium. Kornea, lensa, dan pupil, dengan cahaya yang dipancarkan dari temporal dilihat apakah ada kekeruhan (opasitas) pada lensa melalui pupil, apakah ada bayangan berbentuk bulan sabit pada sisi medial, kemudian dilihat ukuran, bentuk dan kesimetrisan pupil. Gerakan ekstraokular, dengan mengikuti gerakan jari pemeriksa yang membentuk huruf H di udara, lihat apakah ada nistagmus, lid lag, dan tanyakan apakah ada rasa nyeri saat pergerakan.2 Fundus okuli, dengan oftalmoskop dilihat papil saraf optik, retina dan macula lutea. Untuk papil, dinilai batas papil, warna papil, ekskavasinya, dan cup/disc ratio. Untuk retina, dinilai pembuluh arteri dan vena, kemudian adanya eksudat, perdarahan, atau sikatrik. Untuk macula lutea, dilihat refleks cahaya pada macula. Pada konjungtivitis, hasil pemeriksaan fisik biasanya ditemukan visus yang normal, hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, eksudat, pseudoptosis akibat kelopak mata yang bengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, psudomembran, granulasi, flikten dan adenopati preaurikular.3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan sekret mata untuk mengetahui penyebab sekret, yaitu dengan pewarnaan Gram untuk mengidentifikasi organism bakteri atau pulasan Giemsa untuk menetapkan jenis dan morfologi sel. Dari pulasan Giemsa ini didapatkan kemungkinan penyebab sekret seperti terdapatnya: Limfosit dan monosit pada infeksi virus Leukosit PMN pada infeksi bakteri Eosinofil dan basofil pada alergi Sel epitel dengan badan inklusi pada sitoplasma basofil pada klamidia Sel raksasa multinuclear pada herpes
3

Sel Leber makrofag raksasa oleh trakoma1

Selain itu dapat dilakukan teknik amplifikasi asam nukleat seperti PCR yang sensitive dan spesifik untuk virus DNA. Kultur virus dan isolasi adalah referensi standar tapi mahal dan hasilnya lama (beberapa hari-minggu), dan membutuhkan media transport yang spesifik. Sensitivitas bervariasi tapi spesifisitas sekitar 100%. Dapat juga dilakukan tes imunokromatografi memerlukan waktu 10 menit untuk mendeteksi antigen adenovirus di air mata, sensitifitas dan spesifisitasnya baik sekali.4 Diagnosis Banding Dari hasil anamnesis adanya mata merah visus normal dan air mata warna merah, dan hasil pemeriksaan fisik adanya demam subfebris, limfadenopati preaurikular, kedua palpebra edema, perdarahan subkonjungtiva, injeksi konjungtiva dengan reaksi folikel, membrane warna keputihan pada konjungtiva palpebra kasus di atas, maka mengarah pada diagnosis banding sebagai berikut. Lihat tabel 1.

Tabel 1. Perbedaan secara sederhana kondisi pasien dengan diagnosis kerja dan banding Tanda & gejala Anamnesis Onset Mata merah Sekret Pasien 5 hari yang lalu (akut) + air + Air, serous + Purulen, mukopurulen, Visus Riwayat kontak Riwayat trauma Gatal Kelopak lengket Pemeriksaan Demam Normal + Tidak diketahui Tidak diketahui + Normal + + kadang hiperpurulen Normal + + ++ kadang Normal + (thd alergen) +++ Tidak + air Konj. viral akut Konj.bakterial akut Konj. alergik periodik

fisik Limfadenopati preaurikuler Edema palpebra Perdarahan subkonjungtiva Injeksi konjungtiva Folikel Membran Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang Pewarnaan Giemsa sekret mata Keterangan: + : tidak ada/ jarang : umumnya ada Pewarnaan Gram mata sekret

(Subfebris) + + + + + + Tidak diketahui + + + + + +/Tidak ditemukan kuman Tidak diketahui penyebab Limfosit dan monosit jarang + + + +/Ditemukan kuman penyebab Leukosit PMN

pernah _ + + Tidak ditemukan kuman penyebab Eosinofil dan basofil

++ : ada, cukup sering +++ : ada, sangat sering

Dari tabel diagnosis banding di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tanda dan gejala yang dialami oleh pasien mengarah pada diagnosis konjungtivitis viral. Diagnosis Kerja Diagnosis kerja ditetapkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari kasus di atas, hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cukup jelas, yaitu adanya onset 5 hari yang lalu, mata merah visus normal dengan demam subfebris, limfadenopati preaurikular, kedua palpebra edema, perdarahan subkonjungtiva, injeksi konjungtiva dengan reaksi folikel, membrane warna keputihan pada konjungtiva palpebra kasus di atas, maka mengarah pada diagnosis kerja konjungtivitis viral akut.
5

Definisi Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau radang selaput lender yang menutupi belakang kelopak dan bola mata, yang ditandai dengan hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat, edema palpebra, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti benda asing, dan adenopati preaurikular. Konjungtivitis dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu: Konjungtivitis akut, onset mendadak, durasi kurang dari 4 minggu Konjungtivitis kronik, durasi lebih dari 4 minggu.

Etiologi Penyebab konjungtivitis dapat dibedakan berdasarkan 2 kategori besar, yaitu: a) Infeksius Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis Virus, seperti jenis adenovirus, virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2, picornavirus (enterovirus dan virus coxsackie) Parasit, seperti Ascaris lumbricoides Fungi, seperti Coccidioides immitis, Candida Sp. b) Non-infeksius Iritasi persisten, seperti mata kering karena kekurangan air mata Alergi terhadap suatu bahan tertentu, seperti serbuk sari Bahan kimia atau iritan seperti asap, sinar ultraviolet, angin Tidak jelas, seperti sindrom Steven-Johnson dan psoriasis5 Berdasarkan kasus di atas, terdapatnya riwayat kontak dengan orang yang memiliki keluhan serupa mengindikasikan suatu penyakit yang infeksius. Sekret mata yang berupa air disertai adanya folikel, demam subfebris, limfadenopati

preaurikular dan onset penyakit 5 hari yang lalu lebih mempertegas bahwa penyakit tersebut merupakan konjungtivitis folikular viral akut. Konjungtivitis folikular viral akut dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus, antara lain: Adenovirus tipe 3 dan 7 dan serotipe lain yang menyebabkan demam faringkokonjungtivitis Adenovirus tipe 8 dan 19 yang menyebabkan keratokonjungtivitis epidemi Virus herpes simpleks yang menyebabkan konjungtivitis herpetik Enterovirus tipe 70, (atau lebih jarang) virus coxsackievirus tipe A24 (kedua jenis ni merupakan family picornaviridae) yang menyebabkan konjungtivitis hemoragik akut Konjungtivitis folikular viral kronik dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus antara lain: Virus moluskum kontagiosum yang menyebabkan konjungtivitis

moluskum kontagiosum Virus varicella-zooster yang menyebabkan konjungtivitis herpetik dan konjungtivitis varisela-zoster Virus Morbili/measles/campak yang menyebabkan keratokonjungtivitis campak1,3

Epidemiologi dan Faktor Risiko Konjungtivitis viral adalah penyakit mata yang umum di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Karena sangat umum, dan karena banyak kasus tidak mendapatkan perhatian medis, keakuratan statistik frekuensi dari penyakit ini tidak tersedia. Infeksi virus seringkali terjadi pada epidemi dalam keluarga, sekolah, kantor, dan organisasi militer. Konjungtivitis viral tidak mempunyai predileksi jenis kelamin, dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan perbandingan yang sama. Konjungtivitis viral dapat mengenai semua umur, tergantung dari etiologi virus
7

penyebab. Biasanya, adenovirus menyerang pasien usia 20-40 tahun. Virus herpes simpleks dan infeksi varisela-zoster primer biasanya mengenai anak kecil dan bayi. Herpes zoster oftalmikus berasal dari reaktivasi infeksi laten virus variselazoster dan dapat muncul pada semua usia. Khasnya, picornavirus menyerang anak-anak dan dewasa muda yang kelas sosioekonominya rendah. Epidemi tersebar melalui rute mata-tangan-mata.6,7 Virus masuk ke mata melalui benda-benda yang terkontaminasi, seperti tangan, waslap/handuk, kosmetik, lensa kontak, bulu mata palsu, air yang terkontaminasi. Karena itu risiko konjungtivitis ada pada orang yang jarang mencuci tangan, sering mengucek mata, menggunakan lensa kontak, menggunakan peralatan pribadi seperti handuk secara bersama-sama, berenang, dan menggunakan kosmetik mata.8

Patogenesis Konjungtiva merupakan lapisan mukosa yang melapisi permukaan palpebra bagian dalam dan sclera. Lapisan konjungtiva dari luar ke dalam adalah: Epitel konjungtiva, terdiri dari epitel superficial yang mengandung sel goblet yang menghasilkan musin yang menyusun lapisan terdalam dari air mata, dan epitel basal. Stroma konjungtiva, terdiri dari lapisan adenoid yang mengandung jaringan limfoid, dan lapisan fibrosa yang terdiri dari jaringan ikat, yang di atas tarsus jaringan ini padat dan di tempat lain jaringan ini longgar. Kelenjar pada konjungtiva terdiri atas kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring yang menyerupai kelenjar air mata. Pembuluh darah pada konjungtiva berasal dari a.siliaris posterior dan a.palpebralis. Pembuluh darah yang memperdarahi konjungtiva adalah a.konjungtiva posterior dan a.siliar anterior. Syaraf pada palpebra berasal dari n.oftalmikus (cabang n.trigeminus). Pembuluh limfe palpebra sangat banyak.9

Infeksi konjungtivitis terjadi karena turunnya daya tahan tubuh hospes dan adanya kontaminasi eksternal. Epitel yang menutupi bagian yang terpajan dari sclera dan konjungtiva merupakan rute masuknya beberapa virus. Infeksi konjungtivitis virus diperkirakan disebabkan oleh droplet atau transfer langsung dari jari ke permukaan konjungtiva palpebra. Setelah masa inkubasi yang kurang lebih antara 5-12 hari, penyakit akan memasuki fase akut. Baik infeksi bakteri atau virus menginisiasi kaskade inflamasi leukosit atau limfositik yang menarik sel darah merah dan sel darah putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana melalui kapiler yang telah berdilatasi dan sangat permeabel.10 Tanda-tanda inflamasi pada konjungtivitis antara lain: Hiperemia dan injeksi konjungtiva: karena pelebaran a.konjungtiva posterior, dari bagian perifer konjungtiva bulbi menuju kornea dan ikut bergerak apabila konjungtiva bulbi digerakkan. Warna merah cerah mengindikasikan konjungtivitis bakterialis dan warna merah muda mengindikasikan konjungtivitis alergik. Hiperemia tanpa infiltrasi selular mengindikasikan iritasi oleh penyebab fisik, seperti angin, sinar matahari, asap, dll., tetapi kadang-kadang dapat terjadi dengan penyakit yang berkaitan dengan instabilitas vascular seperti acne rosacea. Lakrimasi: air mata yang keluar berlebihan sebagai hasil dari sensasi adanya benda asing, rasa terbakar, dan gatal.3 Sekret: sekret mukopurulen, purulen, dan hiperpurulen pada infeksi bakteri, air dan serous pada infeksi virus. Pada infeksi bakteri atau klamidia, palpebra biasanya sulit dibuka karena sekret yang lengket.1 Pseudoptosis : terjadi akibat kelopak yang membengkak, biasa terdapat pada trakoma dan keratokonjungtivitis epidemik. Hipertrofi papil: merupakan reaksi konjungtiva non spesifik yang terjadi karena konjungtiva terikat ke dasar tarsus atau limbus oleh fibril-fibril. Ketika seberkas pembuluh darah yang membentuk substansi papilla (bersama-sama dengan unsur-unsur selular dan eksudat) mencapai

membran dasar epithelium, bercabang-cabang dari papilla seperti jari-jari dalam kerangka paying. Eksudat dari proses inflamasi berakumulasi diantara fibril-fibril, menumpuk di konjungtiva menjadi timbunan. Pada penyakit nekrosis seperti trakoma, eksudat dapat diganti oleh jaringan granulasi atau jaringan ikat. Papil yang merah mengindikasikan infeksi klamidia atau bakteri. Papil raksasa yang disebut juga papil cobblestone biasa terdapat pada keratokonjungtivitis kernel karena gambarannya yang padat, permukaannya rata, polygonal, dan warnanya merah muda. Jika terdapat pada tarsus superior, keratokonjungtivitis vernal dan konjungtivitis papil raksasa diasosiasikan dengan senstitivitas akibat pemakaian lensa kontak, sedangkan pada tarsus inferior dicurigai keratokonjungtivitis atopic. Kemosis: edema konjungtiva mata, sangat memperkuat konjungtivitis akut alergik tapi dapat terjadi juga pada infeksi akut gonokokal atau mengingokokal dan khususnya pada konjungtivitis adenovirus. Kemosis pada konjungtiva bulbi terlihat pada pasien dengan trichinosis. Folikel: folikel terdiri dari hyperplasia limfoid fokal di dalam lapisan limfoid konjungtiva dan biasanya mengandung inti germinal. Secara klinis, folikel bentuknya bulat, avaskular dengan struktur putih atau abuabu. Folikel paling banyak terlihat pada kasus konjungtivitis viral, pada semua kasus konjungtivitis klamidia kecuali konjungtivitis inklusi neonatal, pada beberapa kasus konjungtivitis parasit, dan beberapa kasus konjungtivitis toksik karena pengobatan topikal seperti idoxuridine, dipivefrin, dan miotikum. Folikel pada fornix inferior dan pada tepi tarsus mempunyai nilai diagnostic yang terbatas, tapi ketika folikel terdapat pada tarsus, khususnya tarsus superior, konjungtivitis klamidia, viral, atau toksik harus dicurigai. Pseudomembran dan membran: merupakan hasil dari proses eksudatif. Pseudomembran merupakan bekuan di permukaan epithel, dan ketika diangkat, epitel tetap intak. Membran merupakan bekuan di seluruh epitel, dan jika diangkat akan terjadi perdarahan. Pseudomembran dan membran
10

dapat bersama-sama dengan keratokonjungtivitis epidemik, konjungtivitis herpes simpleks primer, diftheri, cicatricial pemphigoid, dan eritema multiforme mayor. Dapat juga terjadi pada chemical burns, khususnya alkali burns. Granuloma: selalu mengenai stroma dan paling sering akibat kalazion. Penyebab lainnya yaitu sarcoidosis, sifilis, cat-scratch disease dan jarangnya koksidioidomikosis. Sindrom okuloglandular Parinaud termasuk granuloma konjungtiva dan limfadenopati preaurikular yang mencolok, dan penyakit ini membutuhkan biopsi untuk menegakkan diagnosis.3 Flikten: merupakan tonjolan berupa serbukan sel-sel radang kronik di bawah epitel konjungtiva atau kornea, berupa suatu mikro-abses, dimana permukaan epitel mengalami nekrosis. Warna flikten keputih-putihan, padat dengan permukaan yang tidak rata. Di sekitarnya diikuti pembuluhpembuluh darah. Flikten umumnya kecil, tetapi sering pula lebih besar dari 1 mm. Di atas flikten tidak terdapat pembuluh darah. Flikten paling sering didapatkan di limbus.5 Adenopati preaurikular: merupakan tanda penting konjungtivitis.

Terlihatnya pembesaran kelenjar limfe preaurikular terdapat pada sindrom okuloglandular Parinaud, dan jarang pada keratokonjungtivitis epidemik. Nodus limfe preaurikular yang besar atau kecil dan sedikit lunak tedapat pada konjungtivitis herpes simpleks primer, keratokonjungtivitis epidemik, konjungtivitis inklusi, dan trakoma. Nodus limfe preaurikuler yang kecil tapi tidak lunak terdapat pada demam faringokonjungtivitis dan konjungtivitis hemoragik akut. Kadang-kadang, limfadenopati preaurikular dapat dilihat pada anak-anak dengan infeksi kelenjar meibom. Manifestasi Klinis Secara umum, gejala penting dari konjungtivitis adalah adanya rasa benda asing di mata, rasa tercakar atau terbakar, rasa penuh di sekitar mata, gatal, dan fotofobia. Adanya gejala ini diasosiasikan dengan pembengkakan dan hipertrofi papil yang

11

normalnya bersamaan dengan hiperemia konjungtiva. Jika ada rasa sakit, mungkin kornea juga terkena. Manifestasi pada konjungtivitis folikular viral akut 1) Demam faringkonjungtivitis Demam faringokonjungtivitis ditandai dengan demam 38.3-40oC yang berakhir 45 hari, faringitis dengan keterlibatan khas jaringan limfoid faring, dan konjungtivitis folikular pada satu atau kedua mata.7 Folikel sering sangat mencolok pada konjungtiva dan mukosa faring. Penyakit ini dapat unilateral atau bilateral. Injeksi dan lakrimasi sering terjadi, dan dapat terjadi keratitis epitel superficial transien dan kadang-kadang opasitas subepitelial. Limfadenopati preaurikular yang tidak lunak merupakan karakteristiknya. Sindrom ini dapat tidak lengkap, hanya satu atau dua dari tanda kardinal. (demam, faringitis, dan konjungtivitis). 2) Keratokonjungtivitis epidemik Keratokonjungtivitis epidemik biasanya bilateral. Onsetnya sering dimulai hanya pada satu mata, dan mata yang pertama akan lebih parah. Terdapat injeksi konjungtiva, nyeri moderat, lakrimasi, diikuti 5-14 hari fotofobia, keratitis epithelial, dan opasitas subepitel. Sensasi kornea normal. Limfadenopati preaurikular yang lunak merupakan karakteristiknya. Edema palpebra, kemosis, hiperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan perdarahan subkonjungtiva sering terjadi dalam 48 jam. Pseudomembran (dan kadang-kadang membran) dapat muncul dan diikuti oleh scar yang rata atau pembentukan simblefaron. Konjungtivitisnya akan bertahan sampai 3-4 minggu seringkali. Opasitas subepitelial difokuskan di kornea sentral, dan dapat bertahan beberapa bulan tapi dapat sembuh tanpa scar. Keratokonjungtivitis epidemik pada orang dewasa terbatas hanya pada mata eksternal, tapi pada anak-anak mungkin terjadi gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.

12

3) Konjungtivitis herpes simpleks Konjungtivitis herpes simpleks, biasanya penyakit pada anak-anak kecil, ditandai dengan injeksi unilateral, iritasi, discharge mukoid, nyeri, dan fotofobia ringan. Keadaan ini terjadi selama infeksi primer HSV atau selama episode rekuren dari herpes okular. Penyakit ini sering diasosiasikan dengan keratitis herpes simpleks, dimana kornea menunjukkan lesi epithelial diskret yang biasanya bersatu untuk membentuk ulkus yang bercabang epitel single atau multipel (dendritik). Terdapat folikel, atau jarangnya, pseudomembranosa pada konjungtivitisnya. (pasien yang menerima antiviral topikal dapat berkembang menjadi konjungtivitis folikular yang dapat dibedakan karena konjungtivitis folikular herpetik onsetnya akut). Vesikel herpetik kadang-kadang dapat muncul pada kelopak dan tepi kelopak, diasosiasikan dengan edema palpebra yang berat. Biasanya ada nodus kecil kelenjar limfe preaurikular yang lunak. Jika konjungtivitisnya folikular, reaksi inflamasi yang predominan adalah mononuclear, tapi jika pseudomembranosa, reaksi predominannya polimorfonuklear. Ditemukannya sel epitel multinuclear raksasa mempunyai nilai diagnostik. Diagnosis dikesankan oleh adanya vesikel herpes pada kelopak mata, diagnosis ditegakkan dengan isolasi virus. Konjungtivitis herpes simpleks dapat bertahan sampai 2-3 minggu, dan jika pseudomembranosa dapat menyisakan bekas garis atau scar dan gangguan penglihatan. Komplikasi mencakup ikut terkenanya kornea dan adanya vesikel di kulit. Walaupun herpes virus tipe 1 merupakan penyebab mayor kasus-kasus pada mata, tipe 2 adalah penyebab umum pada bayi baru lahir dan jarang pada dewasa. Pada bayi baru lahir, mungkin terdapat penyakit yang menyeluruh seperti ensefalitis, korioretinitis, hepatitis, dll. Setiap infeksi HSV pada bayi baru lahir harus diobati dengan antiviral sistemik (asiklovir) dan di monitor di rumah sakit. 4) Konjungtivitis hemoragik akut Penyakit ini mempunyai karakterisik masa inkubasi yang pendek (4-48 jam) dan penyakitnya berlangsung selama 5-7 hari. Tanda dan gejala umumnya yaitu sakit/nyeri, fotofobia, terasa ada benda asing, lakrimasi yang banyak, hiperemi, edema palpebra, dan perdarahan subkonjungtiva. Kadang-kadang kemosis juga
13

terjadi. Perdarahan subkonjungtiva biasanya difus, tapi dapat punctata saat onset, dimulai dari konjungtiva bulbi superior dan menyebar ke inferior. Kebanyakan pasien mengalami limfadenopati preaurikular, folikel pada konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah dilaporkan; demam, malaise, dan mialgia di seluruh tubuh telah diobservasi pada 25% kasus; dan paralisis motorik di ekstremitas bawah juga terjadi pada kasus yang jarang di India dan Jepang. 3 Penatalaksanaan Penyakit ini dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simptomatik. a) Medikamentosa Untuk demam dapat diberikan parasetamol oral (tablet atau sirup) dengan dosis untuk anak usia 6-12 tahun yaitu 150-300 mg/kali dengan maksimum 1.2 g/hari, diberikan 3 kali sehari selama 3 hari. Pengobatan antibiotika spektrum luas, sulfasetamid dapat dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Sulfasetamid dapat diberikan dalam bentuk tetes mata 10% (atau salep mata 10%), diberikan 4 kali sehari 1-2 tetes pada masing-masing mata. Jika memberikan golongan sulfonamide, pastikan tidak ada alergi terhadap sulfa . Bila ada alergi sulfa, dapat digunakan tetes mata gentamisin 0.3% (atau salep mata 0.3%) setiap delapan jam.11 Prednisolon 0.5% empat kali sehari diperlukan untuk konjungtivitis adenovirus yang terdapat membran atau pseudomembran. 1,4 b) Non-medikamentosa Dapat diberikan kompres untuk demam. 4 Komplikasi Komplikasi meliputi keratitis punctata dengan infiltrat subepitelial, superinfeksi bakteri, ulserasi kornea dengan keratokonjungtivitis dan infeksi kronik. Keratitis epitelial dapat menyertai konjungtivitis viral. Erosi epitelial punctata yang diwarnai dengan fluoresein umumnya diasosiasikan dengan keratitis viral. Pada kasus infeksi adenoviral, Kelainan pada stromal dapat sampai bulanan hingga
14

tahunan. Pada kasus seperti ini, infiltrat di subepitelial dapat menyebabkan reaksi antigen antibodi. Jika mengenai axis visual dapat menyebabkan penurunan penglihatan dan atau penglihatan kabur/buram. Prognosis Kebanyakan kasus konjungtivitis viral adalah akut, benign, dan self-limited, walaupun infeksi kronik pernah dilaporkan. Sekuele jangka panjang pada mata tidak lazim. Infeksi biasanya sembuh spontan dalam 2-4 minggu. Infiltrat subepitelial dapat berlangsung sampai beberapa bulan, dan jika mengenai axis visual dapat menyebabkan penurunan penglihatan dan atau penglihatan kabur/buram. 6 Preventif Tindakan preventif yang penting adalah menjaga kebersihan untuk mencegah penularan penyakit ini, antara lain: Cuci tangan sesering mungkin. Jangan menyentuh atau menggosok mata. Jangan menggunakan handuk/waslap/selimut bersana-sama dengan orang lain. Hindari berenang di kolam renang jika sedang menderita konjungtivitis Jangan pernah menggunakan obat mata yang diresepkan untuk orang lain. Jangan menggunakan lensa kontak selama gejala masih ada8

Kesimpulan Konjungtivitis viral akut merupakan suatu self-limited disease yang menular, yang ditandai dengan mata merasa seperti ada benda asing, hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, pseudoptosis, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran dan pseudomembran, granulasi, flikten, adenopati preaurikular. Penyakit ini dapat dicegah penularannya dengan menjaga kebersihan dan menghindari kontak tangan dengan mata.

15

Daftar Pustaka 1. Ilyas, S., Yulianti, S.R. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-4. Cetakan ke-1. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2006.h.35-6, 109-48. 2. Bickley, Lynn S. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan Bates. Edisi ke-8. Jakarta; EGC; 2009.h.147-57. 3. Riordan-Eva, P., Whitches, J.P. [editor]. Vaughan & asburys oftalmologi umum [terjemahan]. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009.h.97-124. 4. Kanski, J.J., Bowling, B. Clinical ophthalmology: a systematic approach [e-book]. Edisi ke-7. China: Elsevier Saunders; 2011. 5. Ilyas, S., Mailangkay, H.H.B.,Taim, H., Saman, R.R., Simarmata, K, Widodo, P.S. [editor]. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: CV Sagung Seto; 2002.h.91-106. 6. Scott, I.U. Viral conjunctivitis. Edisi 20 September 2011. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview#showall, Maret 2012 7. Kliegman, Behrman, Jenson, Stanton. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke- 18. USA: Elsevier Saunders; 2007.h.1115-6, 1458-9. 8. McKesson Health Solutions LLC. Viral or bacterial conjunctivitis. Edisi 2003. Diunduh dari: http://www.cumc.columbia.edu/student/health/pdf/C/Conjunctivitis.pdf , 9 Maret 2012. 9. Morosidi, S.A., Paliyama, M.F. Ilmu penyakit mata. Jakarta: FK Ukrida; 2011.h.14. 10. Patophysiology of acute conjunctivitis. Edisi 21 Juli 2011. Diunduh dari: http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/68/basics/pathophysiology.html, 12 maret 2012. 11. Genrich, J.L., Chan, P.D. Pediatric drug reference: dosages, side effects, and drug interactions [e-book]. USA: Current Clinical Strategies Publishing; 2004.h.35.
16