Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

MEKANISME SENSORIK

KELOMPOK A4

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Tahun Ajaran 2010/2011

Daftar Presensi Kehadiran Anggota Kelompok

Ketua Kelompok

: ..........................

GIL RANDY BUDIYANTO (102010054) Anggota Kelompok :

DANNY SUMARGO (102010004) ANTHONY HADI WIBOWO (102010012)

.......................... ..........................

ANDREINO ADYTHIA PAUSE (102010020) NOVITA (102010025) PRICILIA A. WANDANY (102010033) FATRECIA RITA YUNITA DS (102010046) KEZIA NATANIA SWS (102010041) MUHAMMAD HANIF (102010361)

.......................... .......................... .......................... .......................... .......................... ..........................

Tujuan Percobaan Alat dan Bahan

: :

1. 3 waskom dengan air bersuhu 20o, 30o, 40o

2. Gelas beker dan termometer kimia 3. Es 4. Alkohol dan eter 5. Kerucut kuningan + bejana berisi kikiran + kuningan + estesiometer rambut frey + jarum 6. Pensil + jangka + berbagai amplas + benda benda kecil + bahan-bahan pakaian.

Cara Kerja
I.

PERASAAN SUBYEKTIF PANAS dan DINGIN

1. Sediakan waskom yang berisi air dengan suhu 20,30 dan 40 2. Masukan tangan kanan kedalam air yang panas dan tangan kiri ke dalam air dengan suhu 200 selama 2 menit 3. Catat kesan secara alami 4. Dan setelah 2 menit masukan kedua tangan dengan serempak ke dalam air bersuhu 300 5. Tiup perlahan lahan punggung tangan dalam jarak 10 cm 6. Basahi punggung tangan dan tiup sekali lagi dan catat perbedaan rasa pada tiupan pertama dan kedua 7. Kemudian olesi dengan eter dan alkohol lalu tiup kembali dan catat apa yang dirasakan

II.

TITIK-TITIK PANAS, DINGIN, TEKAN, dan NYERI di KULIT

1. Letakan punggung tangan kanan di sehelai kertas dan lukis tangan akan di sebuah kertas 2. Gambarkan di telapak tangan itu sebuah kotak 3x3 cm dan gambarkan pula daerah itu di kertas. kotak 3x3cm, dibuat lagi menjadi 12x12,jadi jumlahnya ada 144 kotak kecil 3. Tutup mata OP dan letakan tangan kanannya santai di atas meja

4. Selidikilah kotak kotak itu mana yang memiliki rangsang panas dengan menggunakan kerucut kuninggan yang telah dipanasi, caranya adalah dengan menempatkan kuninggan di air yang bersuhu kira kira 500 tandai titik panas dengan tinta 5. Ulangi percobaan tadi namun dengan kerucut kuninggan yang dingin untuk mencari titik dingin pada telapak tangan 6. Selidikipula menurut cara di atas titik titik yang memberikan kesan tekan tengan menggunakan estesiometer rambut frey dan titik titik yang memberikan kesan nyeri pada jarum 7. Gambarkan simbol berbeda semua titik pada gambar

III.

LOKALISASI TAKTIL

1. Tutup mata OP dan tekankan ujung pensil pada suatu titik di kulit ujung jarinya. 2. Suruh sekarang orang percobaan melokalisasikan tempat yang baru dirangsang tadi dengan ujung sebuah pensil pula. 3. Tetapkan jarak antara titik rangsang dan titik yang ditunjuk. 4. Ulangi percobaan ini sampai 5 kali dan tentukan jarak rata-rata untuk kulit ujung jari, telapak tangan, lengan bawah, lengan atas dan tengkuk.

IV.

DISKRIMINASI TAKTIL

1. Tentukan secara kasar ambang membedakan dua titik ujung jari dengan menempatkan kedua ujung sebuah jangka secara serentak (simultan) pada kulit ujung jari. 2. Dekatkan kedua ujung jangka itu sampai dibawah ambang dan kemudian jauhkan berangsur-angsur sehingga kedua ujung jngka itu tepat dapat dibedakan sebagai 2 titik.

3. Ulangi percobaan ini dari satu jarak permulaan di atas ambang. Ambil jangka ambang terkecil sebagai ambang diskriminasi taktil tempat itu. 4. Lakukan percobaan diatas sekali lagi, tetapi sekarang dengan menempatkan kedua ujung jangka secara berturut-turut (suksesif). 5. Tentukan dengan cara yang sama (simultan dan suksesif) ambang membedakan dua titik ujung jari, tengkuk dan pipi. 6. Catat apa yang saudara alami.

V.

PERASAAN BERIRINGAN

1. Letakkan sebuah pensil antara kepala dan daun telinga dan biarkan di tempat itu selama saudara melakukan percobaan VI. 2. Setelah saudara selesai dengan percobaan VI angkatkah pensil dari daun telinga saudara dan apakah yang saudara rasakan setelah pensil diambil?

VI.

DAYA MEMBEDAKAN BERBAGAI SIFAT BENDA

A. Kekerasann Permukaan Benda 1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan meraba-raba permukaan ampelas yang mempunyai derajat kekasaran yang berbeda. 2. Perhatikan kemampuan orang percobaan untuk membedakan derajat kekasaran ampelas. B. Bentuk Benda 1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan memegang-megang benda-benda kecil yang saudara berikan (pensil, penghapus, rautan, koin, dan lain-lain). 2. Suruh orang percobaan menyebutkan nama/bentuk benda-benda itu.

C. Bahan Pakaian 1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan meraba-raba bahan pakaian yang saudara berikan. 2. Suruh orang percobaan setiap kali menyebutkan jenis/sifat bahan yang dirabanya itu. Bila OP membuat kesalahan dalam membedakan sifat benda (ukuran, bentuk, berat, permukaan), apa nama kelainan neurologis yang dideritanya.

VII.

TAFSIRAN SIKAP

1. Suruh orang percobaan duduk dan tutup mata. 2. Pegang dan gerakkan secara pasif lengan bawah orang percobaan ke dekta kepalanya, ke dekat dadanya, kedekat lututnya dan akhirnyaa gantungkan disisi badannya. 3. Tanyakan setiap kali sikap dan lokasi lengan orang percobaan. 4. Suruh orang percobaan dengan telunjuknnya menyentuh telinga, hidung, dahinya dengan perlahan-lahan setelah setiap kali mengangkat lurus lengannya. 5. Perhatikan apakah ada kesalahan. Bila OP membuat kesalahan dalam melokalisasikan tempat-tempat yang diminta, apa nama kelainan neurologisnya.

Hasil Percobaan
Percobaan I

:
:

Saat tangan kanan dimasukkan kedalam baskom yang berisis air yang bersuhu 20 o C, tangan terasa dingin sedangkan tangan kiri yang dimasukin kedalam baskom yang berisis air yang bersuhu 40o C, tangan terasa hangat.

Setelah dua menit tangan secara bersamaan dimasukkan ke baskom yang berisi air yang bersuhu 30o C maka tangan kanan secara langsung merasa hangat dan tangan kiri justru merasa dingin.

Kulit punggung tangan kering ditiup, hasil yang didapatkan adalah kulit punggung tangan kanan tidak merasakan apa-apa sedangkan tangan kiri terasa semakin dingin.

Setelah kulit punggung tangan dibasahi kembali dan ditiup, hasil yang didapatkan masih sama seperti yang di

Landasan Teori
l Fisiologi Reseptor

Pada dasarnya dalam tubuh manusia memiliki kemampuan untuk merasakan berbagai rangsangan yang ditimbulkan baik dari luar maupun dari dalam tubuh. Kemampuan ini disebut dengan kemampuan sensorik. Kemampuan sensorik masing-masing manusia ditunjang dengan keberadaan saraf-saraf sensorik yang mampu menerima rangsangan dan menghantarkannya ke pusat saraf untuk diolah lebih lanjut menjadi sinyal saraf. Proses perjalan rangsangan yang diterima oleh saraf ini secara singkat melalui sistem saraf perifer yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP dan bagian-bagian lain tubuh. Divisi aferen sistem saraf perifer mengirim informasi mengenai lingkungan internal dan eksternal ke SSP. Pada ujung-ujung perifernya, neuron aferen memiliki reseptor yang memberitahukan pada SSP mengenai perubahan-perubahan yang dapat dideteksi, atau rangsangan baik dari dunia luar maupun lingkungan dalam dengan membangkitkan potensial aksi sebagai respon terhadap rangsangan. Potensial aksi ini disalurkan melalui serat aferen ke SSP. Rangsangan terdapat dalam berbagai bentuk energi atau modalitas misalnya, panas, cuaca, suara, tekanan atau perubahan kimiawi. Karena satu-satunya cara yang dapat digunakan neuron aferen untuk

mengirim informasi ke SSP adalah melalui pejalaran potensial aksi, reseptor harus merubah energy- energi itu menjadi energi listrik. Proses perubahan energi ini disebut transduksi. Setiap jenis reseptor mengkhususkan diri untuk lebih mudah berespon terhadap satu rangsangan, yaitu rangsangan adekuatnya, daripada rangsangan lain. Sebagai contoh, reseptor di mata paling peka terhadap cahaya, reseptor di telinga terhadap gelombang cahaya, reseptor panas di kulit terhadap energi panas. Kita tidak dapat melihat dengan telinga kita atau mendengar dengan mata kita. Karena perbedaan kepekaan reseptor tersebut, suatu prinsip yang dikenal dengan hukum energi saraf spesifik. Sebagian reseptor dapat berespons secara lemah terhadap rangsangan selain ransangan adekuatnya., tetapi jika diaktifkan oleh rangsanggan lain, maka suatu reseptor memberikan sensasi yangt biasanya ditimbulkan dideteksi oleh reseptor jenis tersebut. Contohnya, rangsangan adekuat untuk mata adalah cahaya, terhadap cahaya reseptor itu sangat peka tapi reseptor ini dapat diaktifkan dengan stimulasi mekanis. Sewaktu terpukul di mata seseorang akan sering melihat bintang bintang karena tekanan mekanis merangsang fotoreseptor. Dengan demikian, sensasi yang dirasakan bergantung pada jenis reseptor yang dirangsang bukan pada jenis rangsangan. Namun karena reseptor ini biasanya dirangsang oleh rangsangan adekuatnya, sensasi biasanya sesuai dengan modalitas rangsangan. Rangsangan yang diterima oleh saraf-saraf sensorik yang berasal dari permukaan tubuh disebut sebagai sensasi eksteroreseptif. Selain itu adapula sensasi proprioseptif yang berhubungan dengan keadaan fisik tubuh, meliputi sensasi posisi, sensasi tendon dan otot, sensasi tekan yang berasal dari tapak kaki, dan sensasi keseimbangan tubuh. Sensasi viseral merupakan sensasi yang berasal dari organ visera tubuh; secara khusus istilah ini seringkali dipakai untuk menyatakan sensasi yang berasal dari organ dalam. Dan jenis sensasi yang terakhir adalah sensasi dalam yang merupakan sensasi yang berasal dari organ-organ dalam, seperti fasia, otot, dan tulang. Sensasi terutama meliputi tekanan dalam, rasa nyeri dan getaran. Untuk masing-masing rangsangan ini, tubuh memilki reseptornya masing-masing. Bedasarkan jenis energi yang biasanya mereka tanggapi reseptor-reseptor dikategorikan sebagai berikut: 1. Fotoreseptor : Peka terhadap cahaya.

2. Mekanoreseptor : peka terhadap energi mekanis. Contohnya adalah reseptor otot rangka yang peka terhadap peregangan, reseptor ditelinga yang mengandung sel sel rambut halus yang menekuk akibat adanya gelombang suara dan baroreseptor pemantau tekanan darah. 3. Termoreseptor : peka terhadap perubahan suhu, yaitu suhu panas dan dingin. 4. Osmoreseptor : mendektesi perubahan konsentrasi zat zat terlarut dalam cairan tubuh dan perubahan aktivitas osmotik yang terjadi. 5. Kemoreseptor : peka terhadap zat zat kimia tertentu. Kemoreseptor mencakup reseptorreseptor untuk penghidu dan pengecapan serta reseptor yang terletak jauh di dalam tubuh yang mendeteksi konsentrasi O2 dan CO2 di dalam darah atau zat kimia yang terdapat di dalam saluran pencernaan. 6. Nosiseptor : reseptor nyeri yang peka tehadap kerusakan jaringan, misalnya akibat tuusukan atau terbakar atau terhadap ditorsi jaringan. Rangsangan yang berlebihan terhadap semua reseptor juga dirasakan sebagai nyeri.

l Macam-macam Reseptor Reseptor dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan kecepatan adaptasinya yaitu, reseptor tonik dan reseptor fasik. Reseptor tonik merupaka reseptor yang beradaptasi dengan lambat atau sama sekali tidak beradaptasi contohnya adalah reseptor regang otot, yang memantau kekuatan otot, dan proprioseptor sendi yang mengukur derajat fleksi sendi. Sedangkan Reseptor fasik adalah reseptor yang cepat beradaptasi. Reseptor-reseptor yang cepat beradaptasi antara lain adalah reseptor taktil (sentuh di kulit) yang memberitahu mengenai perubahan tekanan pada permukaan kulit. Salah satu organ yang berperan dalam menerima rangsangan dari luar tubuh adalah kulit. Kulit merupakan organ terbesar di tubuh, tidak hanya berfungsi sebagai sawar mekanis antara lingkungan eksternal dan jaringan dibawahnya, tetapi secara dinamis juga terlibat dalam mekanisme pertahanan dan berbagai fungsi penting lain. Kulit terdiri dari 2 lapisan, epidermis

dilapisan luar dan lapisan dermis di dalam. Terdapat beberapa jenis sensasi yang dapat dirasakan oleh kulit yaitu, sensasi raba, tekan, dingin, hangat dan nyeri. Pada kulit terdapat banyak reseptor taktil, namun yang paling dikenal ada 6 jenis reseptor. Yang pertama, beberapa ujung saraf bebas, yang dapat dijumpai di semua bagian kulit dan jaringan-jaringan lainnya, dapat mendeteksi rabaan dan tekanan. Contohnya kontak dengan cahaya pada kornea mata, yang tidak mengandung ujung saraf lain kecuali ujung saraf bebas, namun demikian dapat merasakan sensasi raba dan sensasi tekan. Kedua, reseptor raba dan sensitivitas khusus yakni badan meissner, yang merupakan juluran ujung saraf bermielin yang dapat merangsang serabut saraf sensorik besar mielin (jenis A). Di dalam selaput ini terdapat banyak percabangan ujung filamen saraf. Jenis reseptor ini dapat dijumpai pada bagian kulit yang tidak berambut dan terutama banyak sekali dijumpai di ujung jari, bibir, dan daerah kulit lain sehingga orang mampu membedakan sifat-sifat ruang dari sensasi raba yang sangat berkembang. Reseptor ini terutama sekali peka terhadap pergerakan objek yang sangat sedikit di atas permukaan kulit seperti juga terhadap getaran berfrekuensi rendah. Ketiga, ujung jari dan daerah-daerah lainnya yang mengandung banyak sekali badan meissner juga mengandung banyak reseptor taktil yang ujungnya meluas, dimana salah satu jenisnya adalah diskus Merkel. Bagian kulit yang berambut juga mengandung cukup banyak ujung reseptor yang melebar, walaupun bagian kulit ini hampir sama sekali tidak mengandung badan Meissner. Diskus merkel juga dipersarafi oleh satu jenis serabut saraf tunggal besar bermielin (jenis A). Reseptor in bersama-sama dengan badan Meissner, sangat berperan penting dalam melokalisasikan sensai raba di daerah permukaan tubuh yang spesifik dan menentukan bentuk apa yang dirasakan. Keempat, pergerakan sedikit saja pada setiap rambut tubuh akan merangsang serabut saraf yang pangkalnya melilit. Jadi, setiap rambut dan bagian dasar serabut saraf, yang disebut organ ujung rambut (hair end organ), juga merupakan reseptor raba. Reseptor ini dapat segera beradaptasi, oleh karena itu, seperti halnya badan meissner, reseptor terutama mendeteksi pergerakan objek pada permukaan tubuh atau kontak awal dengan tubuh.

Kelima, dilapisan kulit dan juga di jaringan yang lebih banyak dijumpai ujung organ Ruffini, yang bercabang banyak, ujungnya bermielin. Adaptasi ujung organ ini sangat kecil, sehingga reseptor ini berguna untuk menjalarkan sinyal perubahan kulit dan jaringan yang lebih dalam yang datang terus-menerus, misalnya sinyal raba dan tekan yang besar dan datangnya terus-menerus. Keenam, badan Paccini terletak tepat dibawah kulit dan juga di jaringan fasia tubuh. Reseptor ini hanya dapat dirangsang oleh pergerakan jaringan yang cepat karena reseptor ini dapat beradaptasi dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu, reseptor ini berguna untuk mendeteksi getaran jaringan atau perubahan mekanis yang cepat pada jaringan. l Sensasi Suhu Pada dasarnya manusia dapat merasakan bermacam-macam gradasi panas dan dingin, yakni mulai dari suhu yang paling dingin lalu suhu suhu dingin, sampai suhu yang sejuk, selanjutnya dari suhu hangat sampai panas dan akhirnya sampai panas yang menyengat. Gradasi termal dapat dibedakan oleh paling sedikit tiga macam reseptor sensorik yaitu reseptor dingin, reseptor hangat, dan reseptor rasa nyeri. Reseptor rasa nyeri hanya di rangsang oleh gradasi panas atau dingin yang ekstrem, karena itu bersama dengan reseptor dingin dan reseptor hangat bertanggung jawab terhadap terjadinya sensasi sangat dingin ( freezing cold) dan sensasi panas yang menyengat (burning hot). Reseptor dingin dan reseptor hangat terletak tepat di bawah kulit, yakni pada titik-titik yang berbeda dan terpisah-pisah, dengan diameter perangsangan kira-kira 1 mm. pada sebagian besar daerah tubuh, jumlah reseptor dingin kira-kira tiga sampai sepuluh kali reseptor hangat, dan pada berbagai daerah tubuh jumlah reseptor bervariasi, 15 sampai 25 titik dingin per sentimeter persegi pada daerah permukaan dada yang luas. Sedangkan jumlah titik hangatnya lebih sedikit. Terdapat dua jenis alat indera suhu yaitu alat yang terutama menajwab terhadap rangsangan suhu yang sedikit di atas suhu tubuh, dan alat yang terutama menjawab terhadap suhu yang sedikit di bawah suhu tubuh. Alat indewra yang pertama ini untuk reseptor suhu

panas dan yang kedua untuk reseptor suhu dingin. Meskipun demikian, rangsangan adekuat sebenarnya adalah beda antara dua derajat panas, karena dingin bukan suatu bentuk energi. Penelitian pemetaan kulit memperlihatkan adanya daerah peka dingin dan daerah peka panas yang terpisah di kulit. Daerah dingin 4-10 kali lebih banyak daripada daerah panas. Alat indera suhu adalah ujung-ujung saraf telanjang yang berespons terhadap suhu mutlak, bukan terhadap gradien suhu di kulit. Reseptor dingin di kulit berespons terhadap suhu dari 10 sampai 38o C, dan reseptor panas terhadap suhu dari 30 sampai 45 o C. Aferen untuk suhu suhu dingin adalah serat C dan A, sedangkan aferen untuk panas adalah serat C. aferen-afern ini meneruskan informasi ke girus postsentralis melalui traktus spinotalmikus lateral dan radiasi thalamus. Oleh karena alat-alat indra terletak di daerah subepitel, suhu jaringan subkutislah yang menetukan respon. Benda logam dingin terasa lebih dingin dari pada benda kayu dengan suhu yang sama karena logam menghantarkan panas dari kulit lebih cepat, sehingga menyebabkan jaringan subkutis lebih dingin. Pada suhu di bawah 20oC dan di atas 40oC tidak terjadi adaptasi, tetapi diantara suhu 20oC dan 40oC ada adaptasi, sehingga kesan yang ditimbulkan oleh perubahan suhu lama kelamaan akan menghilang menjadi kesan suhu netral. Ndi atas 45 oC, mulai terjadi kerusakan jaringan, dan sensasinya berubah menjadi nyeri. Reseptor kapsaisin mungkin merupakan mediator untuk rasa panas 43-50oC. l Titik-titik Panas, Dingin, Tekanan, dan Nyeri di Kulit l Lokalisasi Taktil dan Diskriminasi Taktil Setiap saraf somatosensorik hanya dapat merespon stimulus di daerah tertentu pada permukaan kulit. Daerah ini disebut receptive field. Ukuran receptive field bervariasi bergantung pada jumlah receptor dan ukuran receptornya. Semakin kecil ukuran receptornya, maka seseorang mampu membedakan 2 titik dalam jarak yang semakin kecil pula (receptive fieldnya kecil). Daerah tersebut memiliki receptor yang kecil namun banyak dan hal itu juga membuat daerah ini memiliki daerah representasi yang besar pada korteks somatosensorik. Dengan ketiga faktor ini, bagian ini mampu membedakan dua titik sensorik dengan baik. Sebagai contoh, cobalah lakukan percobaan diskriminasi taktil pada siku dan jari jari tangan. Pendiskriminasian taktil akan lebih baik pada jari jari tangan dibandingkan dengan siku, karena siku memiliki

saraf sensorik berujung bebas yang sedikit dan memiliki receptive field yang besar. Sedangkan pada jari jari tangan memiliki sekitar 17.000 mechanoreseptor taktil yang berukuran kecil kecil. Selain itu, ada juga faktor yang dinamakan lateral inhibition. Misalnya ketika kita menekan tangan kita dengan ujung sebuah pensil. Stimulus dari pensil tidak hanya merangsang receptive field di bawah pensil saja, namun juga daerah sekitar pensil juga terangsang. Apabila informasi dari serat serat aferen yang terangsang secara marginal di bagian tepi daerah rangsangan ini sampai korteks, lokalisasi ujung pensil tersebut akan kabur. Untuk mempermudah kemampuan lokalisasi dan mempertajam kontras, di dalam SSP terjadi inhibisi lateral. Jalur sinyal yang paling kuat diaktifkan yang berasal dari pusat rangsangan menghambat jalur jalur yang kurang terangsang yang berasal dari daerah sekitar pusat rangsangan. Hal ini terjadi melalui berbagai antarneuron inhibitorik yang berjalan secara lateral antara serat serat ascenden yang mempersarafi receptive field yang berdekatan. Penghambatan transmisi sinyal yang lebih lemah akan meningkatkan kontras antara informasi yang diinginkan dan tidak diinginkan sehingga lokasi ujung pensil dapat dengan tepat ditentukan. Kekuatan koneksi inhibisi lateral di dalam jalur jalur sensorik bervariasi sesuai modalitas. Modalitas yang memiliki inhibisi lateral paling hebat yaitu sentuhan dan penglihatan menghasilkan lokalisasi paling akurat. Pada sentuhan di daerah tengkuk dan ujung jari, walau memiliki lateral inhibition yang sama kuatnya sebagai saraf sensoris sentuhan, namun memiliki receptive field yang berbeda ukurannya. Seperti pada penjelasan untuk diskriminasi taktil, pada tengkuk memiliki receptive field yang besar (ukuran reseptor sensorisnya besar dan jumlahnya sedikit serta memiliki daerah representasi pada korteks somatosensorik yang cenderung kecil). Ketika lateral inhibition beraksi, maka daerah sentuh pensil pada titik di bawah pensil mulai terasa secara kontras. Namun karena daerah sentuh tersebut cukup besar (misalnya receptive fieldnya besar, yaitu sekitar 2 cm), maka secara tepat dimana pensil itu disentuhkan tidak dapat dirasakan secara persis. Perasaan sentuh itu akan dirasakan di receptive field itu (dalam daerah 2 cm) setelah tekanan pensil diangkat. Hal inilah yang menyebabkan jarak lokalisasi taktil pada daerah tengkuk cukup besar bila dibandingkan dengan ujung jari yang memiliki receptive field yang kecil. l Perasaan Iringan (After Image) l Indera Posisi

Indera posisi sering kali disebut juga sebagai indera propriseptif. Indera ini dapat di bagi menjadi dua tipe yaitu : (1) indera posisi statis, yang berarti dengan sadar mampu melakukan persepsi orientasi bagian-bagian tubuh satu sama lainnya, dan yang kedua adalah indera kecepatan gerakan yang juga disebut kinestesia atau propriosepsi dinamik. Reseptor indera posisi. Pengetahuan mengenai posisi, baik statik maupun yang dinamaik, bergantung pada pengetahuan mengenai derajat sudut semua sendi pada semua posisi dan kecepatan perubahannya. Oleh karena itu, berbagai jenis reseptor multipel yang berbeda membantu untuk menentukan sudut sendi dan digunakan bersama-sama untuk indera posisi. Reseptor raba kulit dan reseptor dalam disekitar sendi digunakan pula. Pada jari-jari, yang memilki reseptor kulit sangat banyak, sebagian pengenalan posisi diduga dilakukan oleh reseptor kulit. Sebaliknya, pada kebanyakan sendi besar, reseptor dalam bersifat lebih penting. Pada sudut sendi yang ekstrem, regangan ligamen dan jaringan dalam disekitar sendi adalah faktor tambahan penting dalam menentukan posisi. Jenis ujung-ujung sensorik yang digunkana dalam hal ini adalah korpuskel pacini, ujung-ujung Ruffini, dan reseptor yang serupa dengan reseptor tendo Golgi yang ditemukan pada tendon otot. Korpuskel pacini dan gelendong otot terutama diadaptasikan untuk mengenali perubahan dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, ada kecenderungan bahwa ini adalah reseptor yang paling bertanggung jawab untuk mengenali kecepatan pergerakan.