Anda di halaman 1dari 35

1

MASTERPLAN PENGEMBANGAN WISATA KOTA PAGARALAM PROPINSI SUMATERA SELATAN I. PENDAHULUAN


Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keaneka- ragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan pemandangan alamnya merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya ini dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dengan tetap memperhatikan upaya konservasi. Sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai pelestarian alam dan sekaligus sebagai obyek wisata alam, adalah: gunung, taman laut, sungai, pantai, flora termasuk hutan, fauna, air terjun, danau dan pemandangan alam. Pengertian wisata alam meliputi obyek dan kegiatan yang berkaitan dengan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan ekosistemnya, baik dalam bentuk asli (alami) maupun perpaduan dengan buatan manusia. Akibatnya tempat-tempat rekreasi di alam terbuka yang sifatnya masih alami dan dapat mem-berikan kenyamanan semakin banyak dikunjungi orang (wisatawan). Meningkatnya kegiatan wisata alam ini ada kaitannya dengan perubahan pola hidup masyarakat, meningkatnya taraf kehidupan, adanya pertambahan waktu luang dan semakin meningkatnya fasilitas sarana dan prasarana sehingga dapat menjangkau tempat-tempat di-manapun lokasi wisata berada. Secara umum telah disadari bahwa dalam menunjang pengem-bangan sektor pariwisata yang memiliki beraneka ragam obyek serta daya tarik, kadar hubungan, lokasi serta ketersediaan

dana dan berbagai faktor penentu lainnya menyebabkan tingkat pengembangan yang tidak seragam. Oleh karena itu dalam penanganan, pengembangan dan pembinaannya perlu adanya keterpaduan lintas sektoral baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat. Dalam rangka memadukan pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan perlu ditetapkan skala prioritas. Sekala prioritas dalam pelaksanaan pembangunan dengan ruang lingkup tingkat Propindi Daerah Tingkat I. Sehingga dalam pelaksanaan pengembangan obyek-obyek wisata alam harus ditinjau dari wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Dengan adanya skala prioritas, maka dapat memanfaatkan ketersediaan tenaga dan dana yang terbatas, dimana obyek dan daya tarik wisata alam yang telah ditetapkan sebagai prioritas akan memberi manfaat secara optimal.

II. KONSEP DAN PENDEKATAN


2.1. Pengertian Pariwisata dan Rekreasi Pariwisata adalah kegiatan seseorang dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan perbedaan waktu kunjungan dan motivasi kunjungan (anonim, 1986). Menurut Pandit (l990), pari-wisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu meng-hasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktifitas lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang komplek juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya seperti industri kerajinan dan cinderamata, penginapan dan transportasi, secara ekonomis juga dipandang

sebagai industri. Hakekat pariwisata dapat dirumuskan sebagai seluruh kegiatan wisatawan dalam perjalanan dan persinggahan sementara dengan motivasi yang beraneka ragam sehingga menimbulkan permintaan barang dan jasa. Seluruh kegiatan yang dilakukan pemerintah di daerah dengan tujuan wisatawan untuk menyediakan dan menata kebutuhan wisatawan, dimana dalam proses keseluruhan menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan ekonomi , sosial-budaya, politik dan hankamnas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan bangsa dan negara" (Anonymous, 1987). Selanjutnya arti dari wisatawan adalah perjalanan seseorang yang karena terdorong oleh suatu atau beberapa keperluan melakukan pejalanan dan persinggahan lebih dari 24 jam di luar tempat tinggalnya, tanpa bermaksud mencari nafkah (Anonymous, 1987). Secara harfiah rekreasi berarti re kreasi, yaitu kembali kreatif. Sedang rekreasi itu sendiri merupakan kegiatan (bahkan kegiatan itu direncanakan) dan dilaksanakan karena seseorang ingin melaksanakan. Jadi dapat diartikan usaha atau kegiatan yang dilaksanakan pada waktu senggang untuk mengembalikan kesegaran fisik (Clawson dan Knetsch, 1966 dalam Basuni dan Sudargo, 1988). Basuni dan Soedargo (1988), menambahkan kegiatan rekreasi dapat dibedakan menurut sifatnya yaitu rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Rekreasi aktif adalah rekreasi yang lebih berorientasi pada manfaat fisik daripada mental, sedang rekreasi pasif adalah rekreasi yang berorientasi pada manfaat mental dari pada fisik. Menurut Direktorat Perlindungan dan Pelestarian Alam (1979) dalam Hemawan (1983) bahwa rekreasi alam atau wisata alam meru-pakan salah satu bagian dari kebutuhan hidup manusia yang khas dipenuhi untuk memberikan keseimbangan, keserasian, ketenangan dan kegairahan hidup, dimana rekreasi alam atau wisata alam adalah salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang berlandaskan atas prinsip kelestarian alam.

2.2. Pengertian Wisata Alam Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Sedangkan kawasan konservasi sendiri adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai sistem penyangga kehidupan, peng-awetan keaneka-ragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 31 dari Undang-undang No. 5 tahun 1990 menyebutkan bahwa dalam taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya dan wisata alam. Pasal 34 menyebutkan pula bahwa pengelolaan taman wisata dilaksanakan oleh Pemerintah. Wisata alam adalah bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budidaya, sehingga memungkinkan wisatawan memperoleh kesegaran jasmaniah dan rohaniah, men-dapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam (Anonymous, 1982 dalam Saragih, 1993). 2.3. Pengertian Obyek dan Potensi Wisata Alam Obyek wisata alam adalah perwujudan ciptaan manusia, tata hidup seni-budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi (Anonymous, 1986). Selanjutnya Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (1979) mengasumsikan obyek wisata adalah pembinaan terhadap ka-wasan beserta seluruh isinya maupun terhadap aspek pengusahaan yang meliputi kegiatan pemeliharaan dan pengawasan terhadap ka-wasan wisata. Obyek wisata yang

mempunyai unsur fisik lingkungan berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan lain sebagainya serta suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggap-an manusia memiliki nilai tertentu seperti keindahan, keunikan, ke-langkaan, kekhasan, keragaman, bentangan alam dan keutuhan (Anonymous, 1987). Obyek wisata alam yang ada di Indonesia dikelompokkan menjadi dua obyek wisata alam yaitu obyek wisata yang terdapat di luar kawasan konservasi dan obyek wisata yang terdapat di dalam kawasan konsevasi yang terdiri dari taman nasional, taman wisata, taman buru, taman laut dan taman hutan raya. Semua kawasan ini berada di bawah tanggung-jawab Direktorat Jendral Perlindungan dan Pelestarian Alam DEPHUTBUN. Kegiatan rekreasi yang dapat dilakukan berupa lintas alam, mendaki gunung, mendayung, berenang, menyelam, ski air, menyusur sungai arus deras, berburu (di taman buru). Sedangkan obyek wisata yang terdapat di luar kawasan konservasi dikelola oleh Pemerintah Daerah, Pihak Swasta dan Perum Perhutani, salah satunya adalah Wana Wisata. Kelayakan sumberdaya alam merupakan potensi obyek wisata alam yang terdiri dari unsur-unsur fisik lingkungan berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan lain sebagainya, serta suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggapan manusia memiliki nilai-nilai tertentu seperti keindahan, keunikan, kelangkaan, atau ke-khasan keragaman, bentangan alam dan keutuhan (Anonymous, 1987). 2.4. Pronsip-prinsip Wisata Alam Menurut Undang-Undang Kepariwisataan No. 9 Tahun 1990, penyelenggaraan pariwisata dilaksanakan dengan tetap memelihara kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata itu sendiri, nilai-nilai budaya bangsa yang menuju ke arah kemajuan adab, mempertinggi derajat kema-nusiaan, kesusilaan dan ketertiban umum guna memperkokoh jati diri bangsa dalam rangka

mewujudkan wawasan Nusantara. Selanjutnya menurut John, dkk. (1986), prinsip wisata yang paling berhasil mengkombinasikan sejumlah minat yang berbeda diantaranya olah raga, satwa liar , pakaian setempat, tempat ber-seja-rah, pemandangan yang mengagumkan, makanan. Ditambahkan pula potensi wisata alam (kawasan yang dilindungi) akan turun dengan cepat bila biaya, waktu dan ketidak-nyamanan perjalanan meningkat atau bila bahaya selalu mengintai. Fasilitas-fasilitas yang memadai diperlukan agar pengunjung dapat menikmati keindahan atau kebudayaan daerah tersebut. Pene-rangan disampaikan kepada pengunjung mengingat akan pentingnya keselamatan pengunjung dan kelestarian alam dan kebersihan ling-kungan. 2.5. Pengertian Hutan wisata dan Wana Wisata Menurut Keputusan Menteri Kehutanan RI No: 687/Kpts II/ 1989 Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1 : bahwa hutan wisata adalah kawasan hutan diperuntukkan secara khusus, dibina dan dipelihara guna kepentingan pariwisata dan wisata buru, yaitu hutan wisata yang memiliki keindahan alam dan ciri khas tersendiri sehingga dapat dimanfaatkan bagi kepentingan rekreasi dan budaya disebut Taman Wisata. Wana wisata adalah obyek-obyek wisata alam yang dibangun dan dikembangkan oleh Perum Perhutani di dalam kawasan hutan produksi atau hutan lindung secara terbatas dengan tidak mengubah fungsi pokoknya (Anonimous, 1989). 2.6. Motivasi Pengunjung Kawasan yang ditunjuk sebagai obyek wisata alam harus mengandung potensi daya tarik alam baik flora, fauna beserta ekosistemnya, farmasi geologi, gejala alam. Kawasan yang demikian nantinya mampu mendukung pengembangan selanjutnya sesuai de-ngan fungsi dan memenuhi motivasi

pengunjung. Purba (1985), menegaskan motivasi pengunjung pada hakekatnya akan timbul 5 kelompok kebutuhan, yaitu (1) adanya daya tarik ; (2) Angkutan dan jasa kemudahan yang melancarkan perjalanan ; (3) Perjalanan; (4) akomodasi ; (5) Makanan dan minuman. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan pengembangan pariwisata adalah (1) tersedianya obyek dan atraksi wisata, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang yang mengunjungi suatu daerah wisata, misalnya keindahan alam, hasil kebudayaan suatu bangsa, tatacara hidup suatu masyarakat, adat istiadat suatu bangsa, fertival tradisional dan upacara kenegaraan ; (2) adanya fasilitas aksesibility, yaitu sarana dan prasarana perhubungan dengan segala fasilitasnya, sehingga memungkinkan para wisatawan dapat me-ngunjungi suatu daerah tujuan wisata tertentu ; (3) tersedianya fasilitas amenitas, yaitu sarana kepariwisataan yang dapat memberi pelayanan pada wisatawan selama dalam perjalanan wisata yang dilaksanakannya. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

III. METODOLOGI DAN PROSEDUR ANALISIS


3.1. Tempat dan Waktu Analisis Analisis dapat dilaksanakan di daerah wana wisata , seperti Pantai Bajul mati, RPH Bantur BKPH Sumber Manjing Kulon, BKPH Sengguruh termasuk dalam wilayah kesatuan pemangkuan Hutan (KPH) Malang. Secara geografis terletak di daerah Malang Selatan. 3.2. Peralatan dan Obyek Analisis Peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan kajian dan

analisis meliputi: Peta lokasi daerah wana wisata pantai KPH Malang untuk mengetahui letak daerah wana wisata pantai. Tabel ukuran baku sebagai dasar dalam penilaian prioritas pengembangan daerah wana wisata pantai dan daftar isian, kamera untuk mendokumentasikan potensi daerah wana wisata pantai, alat tulis menulis serta roll-meter untuk mengukur lebar pantai. Obyek yang digunakan selama analisis adalah lima pantai yang ada di KPH Malang meliputi : Pantai Bajul Mati, Pantai Kondang Merak dan Pantai Junggring Seloko. 3.3. Teknik Pengambilan Data Pengamatan lapang secara langsung meliputi penilaian potensi wana wisata pantai. Wawancara merupakan teknik pengambilan data secara langsung untuk mengetahui kadar hubungan, kondisi ling-kungan, perawatan dan dan pelayanan sarana dan prasarana penunjang dan hubungan dengan obyek alam. Wawancara dilakukan secara langsung kepada pengunjung dan petugas yang ada. Dalam rangka penelitian wawancari terbagi menjadi dua macam, yang berbeda sifat. Pertama wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi/informan. Ke dua wawancara untuk mendapatkan keterengan tentang pandangan dari individu yang diwawancarai untuk penyusunan sampel responden (Koentjaraningrat, 1994). Wawancara dilakukan dengan jalan memberikan sejumlah pertanyaan secara tertulis kepada responden dan dipersilahkan untuk mengisinya. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan metode accidental-sampling, yaitu pembagian kuisioner berdasarkan pengunjung yang secara kebetulan ditemui , pengambilan sampel tidak diteruskan apabila sudah mencukupi pengambilan data dihentikan (Nawawi, 1991). Teknik pengambilan data lain juga dilakukan dengan jalan mendokumentasikan obyek penelitian yang dijadikan sumber.

3.4. Data dan Informasi Data primer merupakan data yang didapat secara langsung di lapangan dengan membagikan daftar isian, penilaian potensi dan pendokumentasian. Data sekunder didapatkan dengan jalan menghimpun data yang ada serta dikumpulkan dari instansi atau lembaga yang terkait dengan analisis. |

3.5. Kriteria Penilaian


Untuk mengetahui prioritas pengembangan daerah wana wisata pantai dapat digunakan kriteria yang mendasari penilaiannya menurut Ditjen PHPA (1993): (1). Daya Tarik. Penilaian daya tarik kawasan areal obyek dibagi menjadi dua jenis, yaitu kawasan hutan dan pantai. Bobot kriteria daya tarik mendapat nilai 6 (enam). Unsur-unsur daya tarik tentang kawasan hutan meliputi : (a) Keindahan ; (b) Banyaknya jenis sumberdaya alam yang menonjol untuk wisata, (c) Keunikan sumberdava alam , (d) Keutuhan sumberdaya alam; (e) Pilihan keqiatan; (f) kebersihan udara; (g) Ruang gerak pengunjung; (h) Kepekaan sumberdaya alam. Unsur-unsur daya tarik wana wisata pantai meliputi : (a) lebar pantai tai diukur pada waktu air laut surut dengan panjang pantai minimal 1 km ; (b) Keselamatan peti paut pantai ; (c) Kebersihan laut ; (d) Keindahan; (e) Jenis pasir ; (f) Kebersihan dan (g) variasi kegiatan. (2). Potensi pasar, penilaian kriteria potensi pasar mempunyai bobot 5 (lima). Hal ini mengingat berhasil tidaknya pemanfaatan suatu obyek sebagai obyek wisata tergantung tinggi rendahnya potensi pasar. Unsur kriteria potensi pasar

10

meliputi: (a) jumlah penduduk kabupaten pada radius 75 km ; (b) jarak obyek dari terminal bus atau non-bus dan pintu gerbang udara regional dan Internasional. (3). Kadar hubungan, mempunyai bobot penilaian sebesar 5 (lima). Kriteria penilaiannya meliputi: (a) kondisi jalan, (b) jumlah kendaraan bermotor ; (c) Frekuensi kendaraan umum, (d) jumlah tempat duduk transportasi utama menuju lokasi per minggu. (4). Kondisi lingkungan. Kriteria kondisi lingkungan mempunyai nilai bobot 5 (lima), yang meliputi (a) tata guna lahan atau perencanaan, (b) status pemilikan lahan, (c) Kepadatan penduduk ;(d) sikap masyarakat, (e) Mata pencaharian : (g) Pendidikan ; (h) Media yang masuk ; (i) Dampak sum-berdaya alam biologis, dan (j) Sumberdaya fisik. (5). Pengelolaan perawatan dan pelayanan. Faktor ini merupakan hal yang harus ditingkatkan dalam pe-manfaatan obyek wisata alam, karena berkaitan dengan kepuasan pengunjung dan pelestarian obyek itu sendiri sehingga dalam pe-nilaian pengelolaan perawatan dan pelayanan diberi nilai 4 (empat). Kriteria penilaian tersebut meliputi unsur-unsur : (a) pemantapan orga-nisasi atau pengelola ; (b) Mutu pelayanan, dan (c) Sarana perawatan dan pelayanan. (6). Kondisi iklim. Kondisi iklim yang baik lebih mengundang pengunjung pada obyek wisata alam tertentu. Kondisi iklim diberi bobot angka 4 (empat). Unsurunsur tersebut meliputi: (a) Pengaruh iklim terhadap waktu kunjungan, (b) suhu udara pada musim kemarau, (c) jumlah bulan kering per tahun ; (d) rata-rata penyinaran matahari pada musim hujan ; (e) kecepatan musim angin ; dan (f) Kelembaban udara. (7). Akomodasi. Akomodasi merupakan salah satu yang diperlukan dalam

11

ke-giatan wisata khususnya pengunjung dari tempat yang jauh. Penilaian kriteria akomodasi mempunyai nilai bobot 3 (tiga). Unsur-unsur yang digunakan dalam kriteria ini didasarkan pada jumlah kamar yang berada pada radius 75 km dari obyek wisata (8). Prasarana dan sarana penunjang. Prasarana dan sarana pengunjung merupakan penunjang ke-mudahan dan kenikmatan bagi para Wisatawan. Karena sifatnya se-bagai penunjang dan pengadaannya tidak terlalu sulit, maka nilai bobotnya 2 (dua). Unsur-unsur tersebut meliputi : (a) Prasrana yang ada pada radius 2 km dari batas kawasan: (b)sarana penunjang; (c) Fasilitas Khusus; dan (d) Fasilitas kegiatan. (9). Tersedianya air bersih merupakan faktor yang perlu dalam pengembangan suatu obyek , baik untuk pengelolaan maupun pela-yanan. Unsur tersebut diberi bobot nilai 2 (dua). Macam-macam unsur yang digunakan dalam menilai kriteria ini adalah ; (a) Jarak sumber air terhadap lokasi obyek wisata; (b) Debit sumber air; (c) dapat tidaknya dialirkan. (10). Hubungan dengan wisata lain. Dalam pengembangan suatu obyek di suatu lokasi perlu mem-perhatikan adanya obyek lain di lingkungannya yang mencerminkan obyek wisata sehingga menunjang kunjungan para wisatawan. Sehingga dalam penilaian diberikan bobot paling rendah yaitu 1 (satu). Unsur-unsur yang dinilai dalam kriteria ini didasarkan ada dan tidaknya serta jumlah obyek wisata lain dengan nilai daya tarik minimal 100, dalam radius 75 Km dari obyek wisata yang dinilai.

3.6. Kriteria Evaluasi


1. Aspek Kepariwisataan Nilai angka setiap kriterla dalam Tabel Kriteria Penilaian dan Pengembangan wisata alam dapat ditetapkan dengan angka

12

indeks, dimana kisarannya antara 51 (nilai terendah) hingga 200 sebagai nilai tertinggi. Nilai 51 menunjukkan nilai terendah dari suatu kriteria penilaian dan ditinjau dari kriteria penilaian tertentu mendapatkan nilai terendah, sedangkan nilai 200 sebagai nilai tertinggi dari suatu kriteria dimana suatu obyek wisata tersebut mempunyai nilai tertinggi ditinjau dari kriteria penilaian. Besarnya masing-masing nilai kriteria merupakan jumlah dari nilai setiap unsur dan sub-unsur yang berkaitan. Perhitungan dari masing-masing obyek yang dinilai merupakan keseluruhan nilai dari setiap kriteria dikalikan dnegan bobot masing-masing. 2. Aspek Pengunjung Analisis yang dilakukan adalah menganalisis daftar isian yang dibagikan kepada pengunjung, dari hasil isian yang dilakukan perhi-tungan dan persentase. Selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel dan diuraikan. Potensi wisata, minat pengunjung dan tanggapan serta saran-saran akan dapat diketahui dengan melihat persentase tersebut.

13

Tabel 1. Kriteria Penilaian Daya Tarik Obyek Wisata Alam Pantai


No Unsur/Subunsur Ada 5 1 Keindahan a. Variasi pandangan pulau /gunung di laut b. Keindahan relief c. Kerindangan tepi pantai d. Keserasian pandangan pantai dan sekitarnya e. Ada ciri khusus Keselamatan laut tepi pantai a. Tidak ada arus balik berbahaya b. Tidak ada kecuraman dasar c. Bebas gangguan binatang berbahaya d. Tidak ada kepercayaan yang mengganggu Jenis pasir Ada 4 Nilai Ada 3 Ada 2 Ada 1

35

30

25

20

15

Ada 4 30

Ada 3 25

Ada 2 20

Ada 1 15

Pasir karang 30 Lebih 6 Ada >4

Kuar sa putih 25 Ada 5-6 Ada 4

4. 5.

Variasi kegiatan Kebersihan air a. tdk ada pengaruh pelabuhan b. Tdk ada pengaruh pemukiman c. Tdk ada pengaruh sungai d. tdk ada pengaruh pelelangan ikan/pabrik/pasar e. Tdk ada sumber pencemaran f. Tdk ada pengaruh/akibat musim

Kuar sa hita m 20 Ada 3-4 Ada 3

Kuarsa berli at 15 Ada 12 Ada 2

Tdk ada/ sedi kit psir 10 Ada 1

25

20

15

10

14

6. 7.

Lebar pantai (diukur waktu surut, dan panjang pantai minimal 1 km ) dalam satuan meter Kebersihan atau kenyamanan a. Tdk ada sampah b. Tidak ada coret-coret (vandalisme) c. Bebas kebisingan d. Tidak banyak gangguan binatang e. Bebas bau yang mengganggu f. Sedikit kerikil/kerang tajam Jumlah

>150 Ada 5

100150 Ada 4

50-100 Ada 3

<50 Ada 2 Ada 1

25

20

15

10

150 x 6 = 900

15

Tabel 2. Kriteria Penilaian Potensi Pasar


Jumlah penduduk Dati II radius 75 km dari obyek Kepadatan penduduk /km2 100 101-200 201-300 301-400 401-500 501-600 700 >30 00 250 0300 0 200 0250 0 150 0200 0 100 0150 0 500100 0 <500

90 100 110 120 130 140 160

72 84 96 102 114 120 132

60 70 80 85 95 100 110

48 56 64 68 76 80 88

36 42 48 51 57 60 66

24 28 32 34 38 40 44

12 14 16 17 19 20 22

Pintu gerbang udara internasional/regional Jayapura / Pekanbaru / Ambon/ Kupang Medan / Menado / Surabaya Denpasar Jakarta Jumlah

s/d 150 15 25 30 40

Jarak dalam 151301300 450 10 5 20 25 35 15 20 30

km 451600 1 1 15 25

>600 5 10 20

16

Tabel 3. Kriteria Penilaian: Kadar Hubungan


N o Kondisi jarak Jalan Darat Baik Cukup Sedang Buruk

< 35 km 36 - 70 71 -100 > 100

80 60 40 20

60 40 20 10

40 25 15 5

20 15 5 1

> 7500 1 Jumlah kendaraan bermotor /perahudi kabupaten obyek berada (penumpang) dalam buah Frekuensi kendaraan umum dari pusat penyebaran wisata ke obyel (buah/hari) Jumlah tempat duduk transport umum menuju penyeberangan wisata terdekat/ minggu atau setiap 200 seat = 1 40

50017500 30

2501-5000 20

<2500 10

Mudah/ > 25 kali > 6000

Cukup/ 17-24 40016000

Sedang/ 916 2001-4000

Sukar s/d 8 2000

40

30

20

10

17

Tabel 4. Kondisi Lingkungan (Radius 1 km dari batas kawasan)


No 1 Unsur/Subunsur Tata guna lahan / Perencanaan Nilai Rencana mendukung 20 50 % tanah negara 20 71-100 20 Menunjang 20 30% 20 50% buruh tani 20 50% lulus SLTP yang 20 TV,Radio, Media cetak 20 kritis 20 Tdk ada bahan bangunan 20 Tataguna lahan mendukung 15 50% tanah desa 15 101-150/ 5170 15 Masa bodoh 15 21-30% 15 50% pedagang 15 50% lulus SD 15 Ada TV dan radio 15 Sedang 15 Ada sumber bahan bangunan 15 Belum ada tata guna lahan/ Tata lingkungn tak sesuai 10 50% tanah adat 10 151-200 / 26-50 10 Mnentang adat 5 9-20% 10 50% buruh jasa 10 50% tdk lulus SD 10 Ada radio 10 Subur 10 Ada mineral berharga 10

2.

Status pemilikan lahan Kepadatan penduduk Sikap masyarakat Tingkat pengaangguran Mata pencaharian penduduk Pendidikan

3 4 5 6

5 50% tnah milik pribadi 5 > 200 / < 25 5

9% 5 50% pemilik/ peg negri 5 50% tdk pernah sekolah 5 Tdk ada 5 Sangat subur 5 Ada bahan bangunan mineral 5

8 9 10

Media masuk

Dampak sumberdaya biologis Sumberdaya alam fisik

18

Tabel
No A. 1

5. Pengelolaan, Perawatan dan Pelayanan


Nilai KEMANTAPAN ORGANISASI/ PENGELOLAAN

Unsur/Subunsur

Status pengelolaan

2 3 4

Jumlah pegawai Pendapatan terendah pegawai (x Rp 1000) Dana anggaran a. Administrasi b. Perawatan c. Pengembangan d. Operasional/ Pemasaran Sumberdana

a. Pemerintah b. Perusahaan pemerintah: (1) Persero, (2) Perum, (3) Perjan, (4) PN, (5) PD, (6) lainya c. Perusahaan suasta: PT, CV, Koperasi, Firma, lainnya d. Belum ada pengelolaan >45 31-41 16-30 3-15 20 15 10 5 >40 30-39 20-29 10-19 20 Ada 4 15 Ada 3 10 Ada 2 5 Ada 1

3 1 <9

1 Tdk ada

6 7

Status pegawai (lebih 50%) Pergantian pimpinan harian dalam 5 th terakhir

20 100% income pengunju ng 20 tetap 20 s/d 1 x 20

15 Sbgian besar income pengunjung 15 Harian 15 2x 15

10 50% subsidi 10 Sambila n 10 3x 10

5 50% ioran 5 Musiman 5 > 3x 5

1 Tdk ada sbr dana 1 Tadk ada

19

B 1

MUTU PELAYANAN Mutu pelayanan 1. Kelancaran pelayanan 2. Keramahan staf 3. Kemampuan komunikasi 4. Penguasaan materi 5. Kerapian pakaian 6. Petugas penerangam Kemampuan bahasa: a. Daerah asal b. Indonesia c. Asing ada6 30 Ada5 25 ada 4 20 Ada 3 15 ada 2 10 ada 1 5 tdk ada 1

2.

Ada 3

Ada 2 10 Ada 6

ada 1 5 Ada 5 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

C 1

10 Sarana perawatan & Pelayanan a. Kemudahan informasi b. Tempat peristirahatan c. Tempat parkir d. MCK e. Fasilitas kebersihan f. Sumber penerangan g. Catatan pengunjung Ada 7

35

30

25

20

15

10

20

Tabel 6. Kondisi Iklim


No Unsur Nilai

Pengaruh iklim terhadap waktu kunjungan Suhu udara pada musim kemarau (oC) Jumlah bulan kering dan lembab rata-rata per tahun (bulan) Rata-rata penyinaran matahari (%) pada musim hujan Kecepatan musim (knot/jam) angin pd kemarau

10-12 bln 50 20-21 30 8

7 - 9 bln 40 22-24 17-19 20 7

4-6 bln 30 25-27 14-16 10 6

4 bln 10 28-30 11-13 5 5

> 30 < 10 2 4

30 >65

20 64-60

15 59-55

10 54-45

5 < 45

30 Nyama n 1-2

20 Sdang 3-4 / 0.7-0.9

Rataan lembab udara per tahun

30 < 60 30

20 61-70 20

10 Krang/ag ak kurang 5-6 / 0.4 -0.6 10 71-80 10

5 Panas/ Kuat >7/ , 0.3 1 > 81 5

21

Tabel 7. Akomodasi (Radius 75 km dari obyek) Unsur/ Sub unsur Sampai dg 100 101-250 251-500 501-750 751-1000 1001-1250 1251-1500 1501-1750 1751-2000 Lebih dari 2000 Nilai 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

Jumlah kamar

Jumlah

22

Tabel obyek)
No

8. Prasarana dan sarana Pengunjung(Radium 2 km dari

Unsur/Subunsur
4 macam 3 macam

Macam 2 macam 1 macam Nilai

tdk ada

2.

3.

Prasarana a. Kantor por b. Kantor kawat c. Telepon umum d. Puskesmas/klinik Sarana penunjang: a. Rumah makan b. Pusat Pembelanjaan c. Bank d. Toko souvenir Fasilitas khusus a. Unt anak-anak b. Untuk ornag tua c. Untuk ornag cacat Fasilitas kegiatan: (minimal untuk 10 orang, bila kurang dianggap tidak ada)

50

40

30

20

10

50

40

30

20

10

8 macam

50 7-8 macam

40 5-6 macam

30 3-4 macam

10 3 macam

50

40

30

20

10

23

Tabel 9. Ketersediaan air bersih


N o Unsur/sub-unsur Sgt mudah 1. 2 Datap tidaknya air dialirkan ke obyek atau mudah dikirim dari tempat lain Jarak sujber air obyek wisata Debit sumber air terhadap lokasi 80 0 km 60 2 60 3 Mudah Nilai Agak mudah 50 5.1- 7 30 0.5-0.9 30 Sukar

65 3.1- 5 45 1-2 45

10 Jauh 10 0.5 15

24

Tabel 10. Hubungan dengan obyEk wisata lain (Radius 75 km) (BOBOT 1)
Nilai Obyek wisata lain 0 51 Sejenis Tdak sejenis Sejenis Tdak sejenis Sejenis Tdak sejenis Sejenis Tdak sejenis 100 90 80 70 1 80 10 0 10 0 80 2 60 90 80 90 3 40 80 60 100 4 20 70 40 90 Jumlah obyek wisata lain

5 1 60 20 80

6 50 1 70

7 40 60

8 30 50

9 20 40

10 10 30

11 1 20

12 10

51 100

101 105

60 50

80 60

10 0 70

80 80

60 90

40 10 0 60 80

20 90

1 80

70

60

50

40

30

151 200

40 30

60 40

80 50

100 60

80 78

40 90

20 10 0

1 90

80

70

60

50

3.7. Batasan istilah


(1). Sentra Pengembangan Sentra Pengembangan adalah suatu hamparan kawasan bersekala ekonomi di suatu wilayah agroekosistem, dimana wilayah terebut dilengkapi dengan sarana-prasarana yang dibutuhkan, kelembagaan, pengolahan/pemasaran, dan sektor lain yang menunjang perkembangan dari sentra aktivitas. (2). Komoditas Andalan Komoditas andalan adalah sejumlah komoditas yang dapat dibudidayakan /dikembangkan di suatu wilayah berdasarkan analisis kesesuaian agroekologi (tanah dan iklim)

25

(3). Komoditas Unggulan Komoditas unggulan adalah salah satu komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan/dikembangkan di suatu wilayah yang mempunyai prospek pasar dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani dan keluarga serta mempunyai potensi sumberdaya lahan yang cukup besar. (4). Komoditas Penunjuang Komoditas penunjang ialah komoditas-komoditas lain yang dapat dipadukan pengusahaannya dengan komoditas pokok (unggulan) yang dikembangkan di suatu lokasi/sentra komoditas unggulan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (lahan, tenagakerja, sarana / prasarana) dan peningkatan penda patan petani melalui peningkatan produksi maupun keterpaduan pengusahaannya akan meningkatkan efisiensi/saling memanfaat kan. (5). Agribisnis Agribisnis merupakan suatu kegiatan penanganan komoditas secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir (pengadaan dan penyaluran agro-input, proses produksi, pengolahan dan pema saran). (6). Sekala Ekonomi Komoditas Unggulan Suatu luasan/besaran usaha komoditas unggulan yang dapat menghasilkan volume aktivitas tertentu untuk memenuhi kebutuhan pasar (sekala kecil/sedang/besar) di wilayah agroekosistem tertentu. 3.2. Cakupan Analisis Beberapa aspek yang harus dicakup dalam Pewilayahan Kawasan Wisata adalah sbb: (1). Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Aktivitas Pemilihan lokasi didasarkan atas ketersediaan lahan, kesesuaian lahan serta agroklimatnya, kesiapan prasarana, ketersediaan tenagakerja serta sumberdaya lain yang membentuk keunggulan lokasi yang bersangkutan. Pemilihan aktivitas utama dan penunjang serta jenis usahanya didasarkan atas potensi menghasilkan keuntungan, potensi pemasarannya, kesiapan dan penerimaan masyarakat atas jenis usaha yang akan dikembangkan, serta keselarasan dengan kebijakan pembangunan daerah. Untuk menduga keunggulan wilayah serta komoditas yang akan

26

diplih dilakukan analisis kuantitatif dan kualitatif yang memperhatikan faktor-faktor ekonomi dan sosial. (2). Penentuan Kegiatan yang Dilakukan Penentuan kegiatan yang perlu dilakukan didasarkan atas analisis kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan, yang dirinci menurut komponen-komponen penting sistem kawasan wisata, yaitu target grup, ketersediaan dan kesesuaian lahan, dan prasarananya, ketersediaan sarana produksi, kemampuan pengelolaan budidaya, penanganan pasca panen, pemasaran, dukungan prasarana dan kelembagaan. Dari analisis tersebut dapat diketahui upaya dan kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan sentra agribisnis, dalam satuan volume yang jelas. Keseluruhan kegiatan etersebut selanjutnya diuraikan menurut tahapan per tahun, disesuaikan dengan kondisi fisik lokasi, kondisi sosial ekonomi serta tingkat kemampuan masyarakat. Desain lokasi sentra tersebut harus dilengkapi dengan gambar fisiknya untuk mengetahui volume serta lokasi yang tepat atas pembangunan dan kegiatan fisik yang diperlukan. (3). Rincian Kegiatan Sinergis Lintas Sektoral Tahapan kegiatan tahunan tersebut selanjutnya diuraikan menurut program/proyek serta institusi yang harus memberikan kontribusi terhadap pembangunan sentra wisata. Secara garis besar hal ini dapat disajikan dalam bentuk matriks keterpaduan pengembangan Sentra Wisata. Kegiatannya a.l. meliputi: (a). Pengembangan Aneka Budidaya Pengembangan budidaya, baik komoditas unggulan maupun komplementernya, diidentifikasi menurut volume fisik yang jelas. Garis besar kegiatannya meliputi persiapan lahan dan petani, pelatihan usahatani, penyediaan agroinput, alat pertanian, dan penyelenggaraan penyuluhan, terutama dilaksanakan melalui bagian proyek yang ada di kabupaten terpilih. Pembinaan teknis budidaya, cara memanen dan cara untuk mempertahankan kualitas produk, perlakuan pasca panen, dilaksanakan oleh bagian proyek yang berada pada Dinas teknis yang terkait. (b). Pembinaan Keaneka-ragaman Produk dan Pemasaran Peningkatan ketrampilan teknis dalam penanganan produk seperti cara memproduksi, mengumpulkan dan menyeleksi hasil serta peralatan yang diperlukan untuk mempertahnakan kualitas hingga cara pengolahan produk untuk meningkatkan nilai tambah serta meningkatkan kemampuan

27

pemasaran, khususnya yang menyangkut produk buah-buahan, dilaksanakan melalui program yang dikelola oleh Dinas Kabupaten. Untuk melaksanakan pembinaan dengan sarana yang tersedia di wilayah secara lebih optimal maka kerjasama dengna instansi perindustrian dan perdagangan setempat harus dilakukan. Sinergi kegiatan hanya dapat dicapai dengan koordinasi perencanaan dan pembagian tugas yang jelas. (c). Pembinaan Pengembangan Usaha Kelompok kegiatan yang menyangkut peningkatan kemampuan mengelola usaha dan melaksanakan kemitraan dengna pedagang, maupun industri pengolahan pangan dilaksanakan melalui pembinaan Kelompok Usaha Bersama ke arah Koperasi, pembentukan forum komunikasi, pelaksanaan temu-temu usaha, pelatihan kewira usahaan, dan peningkatan kemampuan pusat konsultasi dan pelayanan.

(d). Kegiatan Penunjang (1). Pelayanan Sarana Produksi Lembaga pelayanan ini diperlukan untuk membantu penyediaan sarana produksi dan peralatan yang dibutuhkan para petani , pedagang dan pengolah untuk melaksanakan kegiatan usahanya. Pelaytanan ini harus ada untuk menjamin keter sediaan sarana usahatani tepat waktu, jumlah, dan harga yang wajar. Instansi pemerintah setempat harus mampu menciptakan iklim usaha dan memberikan dukungan agar koperasi atau epengusaha dapat emenjalankan fungsinya secara wajar. Diperlukannya rekomendasi berbagai program insentif untuk mendorong tumbuhnya lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi yang terpencil. (2). Pelayanan informasi teknologi spesifik lokasi Diidentifikasi jenis teknologi spesifik yang diperlukan untuk pembangunan sentra agribisnis. Pelayanan ini mencakup pemilihan kultivar dengan kualitas tinggi yang secara ekonomis dapat diproduksi di lokasi setempat, teknologi perbanyakan benih, teknologi budidaya, pascapanen, pengolahan primer, sekunder hingga pengepakan buah segar maupun olahannya. Kerjasama peneliti-penyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus dilaukan secara intensif.

28

(3). Pelayanan Perlindungan Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pelaksanaan sentra agribisnis terutama adalah pengawasan sebagai tindakan preventif serta metode penanggulangan hama dan penyakit yang mungkin mengganggu tanaman atau ternak, serta komoditas pe-nunjangnya. Hal ini sangat epenting untuk mencegah kerugian akibat kegagalan panen atau penurunan kualitas produk. Pelayanan ini perlu dirinci dengan volume dan jenis kegiatan yang jelas, dialokasikan pada kegiatan yang dikelola Dinasdinas teknis atau institusi lain. (4). Pelayanan perbenihan/Pembibitan Balai benih di setiap lokasi harus dapat mengalokasikan kegiatan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan maupun penunjang pada wilayah sentra agribisnis. Kegiatan yang diperukan beragam dan perlu dirinci menurut volume dan jenis. Aspek ini mencakup pengadaan benih induk, benih utama, benih sebar, pengawasan dan sertifikasi benih, serta pembinaan petani penangkar benih, khususnya untuk tanaman, ikan atau ternak unggulan serta komoditas penunjangnya. (5). Pembinaan Penyuluhan BIPP ditingkatkan kemampuannya agar dapat memberikan kontribusi sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat bertanya, berlatih, berbagi pengalaman antar petani dan tempat pertemuan antara petani, pedagang dan pengelola agroindustri. Untuk itu perlu dipersiapkan SDM serta perangkat keras dan lunak yang memadai untuk menjalankan fungsi pusat pelayanan agribisnis. (6). Pengairan Sentra pengembangan agribisnis memerlukan air untuk budidaya , pasca panen, dan kegiatan penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan meningkat kalau telah terdapat ekegiatan epengolahan, terutama dalam bentuk industri pangan. Program pengairan yang dikelola oleh instansi pemerintah diminta untuk mengalokasikan kegiatan penyediaan sumber air dan saluran pengairan untuk kawasan sentra ini. Koordinasi dengan instansi terkait sangat penting untuk mengarahkan kegiatan fisik yang tepat pada lokasi yang tepat pula. (7). Transportasi Sarana transportasi sangat vital dalam membangun sentra agri-

29

bisnis, dengan demikian program pembangunan sarana transportasi yang dikelola oleh instansi teknis harus menjamin tersedianya prasarana jalan serta fasilitas transportasi yang memadai di kawasan sentra produksi, yang menghubungkannya dengan pusat-pusat pelayanan dan pemasaran. (8). Energi Energi diperlukan antara lain dalam proses budidaya unggas untuk mesin penetas dan inkubator, serta proses penanganan pasca panen hasil tanaman dan perikanan, terutama untuk alat pengeringan, pengupasan, sortasi, pengolahan, perlakuan pemanasan, pendinginan dan sebagainya. Energi yang dibutuhkan dapat berupa listrik, bahan bakar minyak, gas atau bahan bakar dari limbah tanaman seperti kulit, kayu dan ranting hasil pangkasan. (9). Sarana dan Prasarana Pemasaran Sarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alat penyimpanan dengan fasilitas pendingin, alat-alat pengepakan, informasi harga serta fasilitas fisik pasar yang memadai, sangat vital dalam pengembangan snetra agribisnis. Kebutuhan fasilitas ini sangat beragam sesuai dengna komoditas unggulannya. (10). Lembaga Keuangan/Permodalan Tersedianya lembaga keuangan dan permodalan sangat penting bagi para pelaku usaha agribisnis, sehingga harus diusahakan di lokasi sentra atau loaksi yang snagat mudah dicapai dari kawasan sentra, dengan biaya transportasi dan biaya administrasi yang minimum. Kerjasama antara Pemda dengan instansi terkait diperlukan untuk menyediakan sumber modal yang dapat diakses dengan prosedur yang cepat dan murah. 3.8. Pengumpulan dan Sumber Data Data dan informasi yang dikumpulkan diarahkan untuk dapat memberikan gambaran tentang tata ruang wilayah Kota serta peruntukannya untuk pengembangan pertanian. Dari peta kesesuaian lahan yang dihasilkan oleh RePPProT dan PPTA dapat diidentifikasikan kesesuaian lahan etersebut untuk pengembangan komoditas pertanian. Identifikasi komoditas yang dapat diusahakan pada kawasan pertanian tersebut juga penting sebagai bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana pengembangan.

30

Pengumpulan data dilakukan dengan cara: a. Menggunakan data sekunder, baik yang berasal dari data RUTR yang telah dikumpulkan instansi pemerintah daerah setempat maupun yang berasal dari studi-studi lain b. Peta sistem lahan dari hasil Studi RePPProT c. Peta Kesesuaian Lahan (kalau sudah ada). d. Peta Status lahan/penggunaan lahan dari BPN e. Mengumpulkan data langsung di wilayah melalui instansi/lembaga di kabupaten atau pengamatan langsung di lapangan.

3.9. Metode Analisis Pengkajian


Seleksi Komoditas: Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Dalam penelitian ini seleksi komoditas yang nantinya merupakan alternatif komoditas yang akan dikembangkan di suatu wilayah dengan kondisi sumberdaya alam dan lingkungan tertentu. Inventarisasi dilakukan terhadap komoditas yang banyak diusahakan oleh penduduk setempat di wilayah analisis. Seleksi dilakukan terhadap sejumlah komoditas yang terdapat pada sejumlah dokumen, baik yang berasal dari hasil-hasil penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi, maupun dari penelitian Badanbadan LITBANG di lingkungan Departemen Pertanian, Perdagangan, Industri dan BPS. Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi tertumpu pada segi tekniknya untuk dikembangkan lebih lanjut serta potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani serta dampaknya terhadap kesempatan kerja. Dari seleksi ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, ternak dan perikanan. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha Uraian tentang profil komoditas yang akan disajikan diusahakan agar pembaca memperoleh gambaran tentang persyaratan tumbuh, penyebaran komoditas saat ini, teknik budidaya yang cukup memadai dan tingkat kelayakan untuk diusahakan. Untuk beberapa komoditas tertentu juga akan disajikan informasi mengenai industri pengolahan baik dari aspek teknis, investasi maupun prospek pasarnya. Tujuan analisis ini terutama digunakan sebagai masukan guna

31

mengadakan estimasi terhadap dampak pengembangan komoditas yang terutama akan menggunakan tolok ukur penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan petani. Disamping itu informasi yang diperoleh dari profil komoditas diharapkan dapat digunakan sebagai indikator awal tentang kelayakan komoditas yang bersangkutan. Hal ini akan bermanfaat bagi investor , perbankan, para perencana serta pelaksana kebijakan di lapang. Sesuai dengan makna sebuah "profil" maka informasi yang disajikan masih memerlukan penelitian dan pengkajian yang lebih rinci atau lebih dalam lagi dari berbagai segi sebelum dapat digunakan untuk tujuan penerapan di lapangan. Uraian tentang teknik budidaya meliputi sejak persiapan, pemeliharaan sampai dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi budidaya yang diterapkan di lapang saat ini, dengan penyesuaian seperti yang dianjurkan oleh lembaga inovasi teknologi . Selain itu pemilihan teknologi terutama didasarkan pada kemampuan produsen , baik dari segi managerial maupun parsialnya. Pertimbanagn yang sama juga berlaku bagi industri pengolahan dengan mempertimbangkan skala yang memadai dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun industri pengolahan diasumsikan berasal dari perbankan, sehingga tingkat bunga harus disesuaikan. Lama analisis keuangan atau finansial yang dilakukan akan bervariasi disesuaikan selama satu siklus umur komoditas dengan sekala usaha tertentu (misalnya luasan satu hektar). Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahanya digunakan beberapa tolok ukur yaitu pendapatan B/C, NPV atau IRR, khusus untuk tanaman semusim dapat digunakan pendapatan dan R/C. Strategi Analisis Untuk memudahkan analisis dan evaluasinya, maka penelitian Pewilayahan Komoditas tanaman Pertanian Perkebunan - Kehutanan dibagi menjadi tujuh bidang meliputi : (1). Kesesuaian Lingkungan Hidup Suatu tanaman/ternak/ikan untuk dapat berproduksi secara baik harus hidup dan tumbuh pada daerah yang memenuhi persyaratan khusus. Di antara masing-masing komoditas tanaman memerlukan persyaratan yang berbeda. Tiga faktor lingkungan tumbuh yang paling berperan dalam pembudidayaan tanaman adalah kualitas tanah (Tanah kapur dan Tanah Vulkanik), Curah hujan (Daerah basah dan Daerah kering) dan Ketinggian

32

tempat (Dataran rendah, Dataran Menengah dan Dataran Tinggi). (2). Pewilayahan Daerah Penyebaran Kajian wilayah pengembangan secraa makro dilakukan di seluruh wilayah . Setelah diketahui syarat lingkungan tumbuh komoditas, maka perlu juga ditentukan wilayah yang kondisi lingkungannya memungkinkan untuk dikembangkan. Sehingga sentra produksi yang selama ini hanya terletak pada wilayah tertentu lokasinya dapat diperluas. Ini membuka peluang untuk meningkatkan kesempatan menciptakan lapangan kerja. Di samping itu usaha untuk meningkatkan volume eksport non-migas segera dapat terealisir. (3). Paket Teknologi Budidaya dan Kondisi Sosio-Teknologi Produktivitas komoditas dapat tercapai dengan baik apabila diupayakan dengan cara yang benar. Meskipun pemilihan lokasi sudah sesuai dengan syarat lingkungan tumbuh, namun apabila sistem budidaya yang diterapkan tidak tepat, maka produksi tanaman tidak akan sesuai dengan potensi yang ada. Oleh karena itu untuk optimasi produksi diperlukan penerapan teknologi budiaya secara terpadu mulai dari persiapan sampai pasca panen. Usaha-usaha yang dapat ditempuh meliputi, pengolahan tanah, penggunaan benih/bibit bermutu, sistem tanam, pemeliharaan serta pemungutan hasil. (4). Penanganan Pasca panen dan Industri Pengolahan Hasil bumi yang diperoleh petani, fluktuasi harganya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Ini sangat tergantung kepada daya serap pasar. Pada saat pasar kekurangan stok, harga komoditas pertanian melojak tinggi, namun sewaktu terjadi panen raya, harga akan turun drastis. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan teknologi pasca panen yang mampu mengubah bahan mentah menjadi bahan olah yang tahan lama. Sehingga kontinuitas dan kuantitas barang di pasar dapat diatur. (5). Analisis Finansial dan Ekonomi Pertama kali yang mendorong petani melakukan usaha tani adalah tingkat pendapat (income) yang diperoleh per luasan areal yang diusahakan per satuan waktu. Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh, maka minat petani untuk mengusahakan akan semakin tinggi pula. Oleh karena itu penentuan jenis komoditas yang diusahakan akan sangat ditentukan oleh analisis usahataninya. Dengan mengetahui analisis ushatani dengan

33

sendirinya petani akan megusahakannya. (6). Pemasaran Hasil Disamping analisis usaha tani, faktor lain yang sangat menentukan minat petani untuk melakukan usahatani adalah masalah pemasaran, terutama yang berkenaan dengan efisiensi pemasaran, peluang pasar, dan perimbangan supply/demand. Meskipun nilai keuntungan yang diperoleh petani tinggi, namun apabila pemasaran hasil sulit dilakukan, maka petanipun akan enggan untuk mengusahakan. Hal ini tentunya dapat diatasi dengan cara menciptakan pasar baru. Ini dapat ditempuh dengan cara memperbaiki kualitas atau mengembangkan komoditas yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri. Dengan demikian masalah pemasaran hasil dapat teratasi. (7). Analisis kelembagaan Tujuan dari analisis ini ialah untuk merekayasa kelem bagaan sosial-ekonomi di tingkat pedesaan yang mampu menunjang penerapan Konsep Penanganan Sistem Agribisnis. Hasil yang diharapkan ialah rancangan kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi di tingkat pedesaan yang dapat diakses oleh petani dan Kelompok Tani, serta dapat mengakses kelembagaan pada hierarkhi yang lebih tinggi. Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan, pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosial-ekonomi sebagai suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh para petani untuk dapat melakukan fungsinya. Lembaga sosial dapat dibedakan dengan organisasi atau seringkali disebut dengan istilah lembaga non-formal dan lembaga formal. Lembaga sosial timbul karena kebutuhan masyarakat, berakar pada norma sosial dan peralatan yang dimiliki oleh masyarakat, sedangkan organisasi pada umumnya dibentuk dengan tujuan tertentu, dengan kegiatan anggota yang saling mengisi dan tunduk pada aturanaturan yang dibuat, agar bagian-bagian yang ada dapat berfungsi efektif. Dalam konsep struktur pedesaan progresif sebagaimana dikemukakan Mosher (1976), lokalitas usahatani dikemukakan pula sebagai salah satu model yang dapat diterapkan untuk pencapaian tujuan. Beberapa komponen pokok dan penunjang adalah adanya sarana kelembagaan yang menunjang dan pentingnya pendidikan pembangunan bagi petani dalam proses transfer teknologi. Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan hubungan sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat diperlukan dalam

34

penanganan Sistem Agrikoman sehingga memberikan manfaat dan memungkinkan keterlibatan penuh anggota-anggotanya. Menemukan lembaga- lembaga tradisional yang tumbuh dalam komunitas pedesaan khususnya dalam pengusahaan komoditi andalan, sejak penanaman, pertanahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen dan pengolahan serta pemasaran hasil merupakan langhkah awal dalam upaya rekayasa dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya, keberhasilan dalam produksi menuntut adanya bentuk-bentuk kelembagaan yang lebih besar dan berorientasi ekonomis sehingga mampu mengelola sistem pertanian secara lebih efektif dan mampu meningkatkan kesejahteran masyarakat. Sebagaimana telah diberlakukan dalam pengelolaan tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan di pedesaan telah diintroduksi polapola hubungan pertanian kontrak, BIMAS, dan PIR, yang melibatkan Kelompok Tani, KUD, lembaga penyuluhan, lembaga pengolahan hasil (industri pengolah, dll.) dan lembaga pemasaran. Masing-masing model pengembangan kelembagaan tersebut dalam penerapannya mempunyai kelemahan dan keunggulan. Dalam wilayah pengembangan terdapat kelompok tani lahan kering dengan aktivitas sejak konservasi lahan hingga produksi pertanian. Agar kelompok tani yang ada dapat ditingkatkan fungsi dan peranannya diperlukan lembaga penunjang yang lebih luas khususnya dalam pengolahan hasil dan pemasaran. 3.10. JADWAL KERJA DAN PELAPORAN (1). Laporan Pendahuluan/Persiapan a. Tanggapan terhadap pokok acuan tugas dan pemahaman tim ahli terhadap pekerjaan b. Persiapan dan rencana pelaksanaan pekerjaan c. Metodologi yang digunakan dan jadwal pelaksanaan kegiatan d. Organisasi kerja dan rencana mobilisasi tenaga ahli. (2). Laporan Sementara a. Analisis hasil survei b. Gambaran umum tentang komoditi-komoditi andalan yang dapat dikembangkan dalam sekala ekonomi

35

c. Penyajian gambar: Peta-peta, wilayah penanganan usahatani komoditi andalan dengan sistem agribisnis d. Perumusan konsep terapan penanganan Sistem Agribisnis di wilayah terpilih e. Analisis pangsa pasar, peluang-peluang pengembangan pasar. (3). Dokumen Laporan Akhir Laporan ini merupakan hasil perbaikan dan penyempurnaan dari laporan sementara yang harus disampaikan kepada Pemerintah Daerah .