Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sepintas lalu terlihat bahwa antara pembangunan dengan lingkungan hidup terdapat pertentangan (konflik). Karena bila dilihat dari segi yang luas setiap pembangunan selalu memiliki dampak terhadap lingkungan hidup. Kita ambil sebuah contoh, yaitu pembukaan sebuah jalan raya yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya yang jelas-jelas akan berdampak terhadap lingkungan hidup sekitarnya. Katakanlah dengan pembukaan jalan tersebut akan membawa pengaruh pada 2 (dua) hal, yaitu menebasi pohon-pohon hutan yang terkena peta pembukaan jalan dan terganggunya kestabilan tanah-tanah sekitarnya. Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya menyebabkan berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian, terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lain. Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah, erosi dan sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih tambang, permukaan tanah dikupas dan digali dengan menggunakan alat-alat berat. Para pengelola pertambangan meninggalkan areal bekas tambang begitu saja tanpa melakukan upaya rehabilitasi atau reklamasi. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong pula bertambahnya kotoran (pencemar) yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap sumber-sumber air bersih dan sebagai wahana penyebaran penyakit-penyakit menular. Pencemar pada air dapat berupa pencemar domestik dan pencemar non domestik. Pencemar domestik berasal dari sampah rumah tangga (selokan), pasar,

perkampungan, jalan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, perlu ada upaya-upaya penanggulangan terhadap pencemaran kota yang berasal dari selokan dengan zat-zat yang aman terhadap lingkungan (akrab lingkungan). Ini dapat dijadikan pembelajaran tentang bioremidiasi yang berkaitan dengan peran mikroorganisme yang menguntungkan bagi manusia. Sebenarnya antara pembangunan dan lingkungan hidup tidaklah

bertentangan. Hal-hal yang bertentangan baru akan terjadi apabila pembangunan yang dijalankan selalu membawa kerugian-kerugian yang lebih bila dibandingkan dengan pengorbanan-pengorbanan ekologis. Timbulnya berbagai risiko yang berasal dari aktivitas yang ditujukan terhadap lingkungan sebelumnya tidak dipertimbangkan seberapa jauh kemampuan suatu dapat menerima aktivitas (pembangunan) yang ada. Kita ketahui bahwa ligkungan memiliki sifat keterbatasan kemampuan. Makin produktif suatu alam semakin baik kualitas lingkungan itu. Semakin cepat suatu lingkungan beradaptasi atas aktivitas eksternal yang tertuju padanya, maka lingkungan itu juga disebut berkualitas. Sebaliknya, jika tingkat kemampuan lingkungan tetap terlampaui oleh aktivitas pembangunan, maka terjadilah kerusakan lingkungan. Faktor yang terjadi seringkali karena faktor eksternal lebih besar dari pada kemampuan suatu lingkungan. Misalnya ketika pabrik tekstil masih mencapai 10.000 m/hari, kondisi lingkungan masih mampu menerima segala aktivitas yang berhubungan dengan proses produksi. Tetapi ketika pabrik ditingkatkan mencapai 35.000 m/hari terjadi berbagai gangguan lingkungan di sekitar pabrik. Misalnya, rusaknya sawah ladang dan ternak penduduk karena limbah pabrik, jalan menjadi rusak karena sering dilintasi kendaraan berbobot besar untuk pengangkutan bahan-bahan produksi tekstil, atau kebisingan pabrik terjadi hingga malam had karena pabrik aktif hingga hari. Oleh karena itulah, untuk menghindari konflik yang terlalu besar antara kepentingan di atas, maka UUPLH 1982, menggariskan Prinsip Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Dalam pasal 1 butir ke 13 UUPLH dikatakan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan

yang kesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Makalah ini akan menjelaskan tentang konsep tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dan pembangunan yang menggunakan lingkungan sebagai konsepnya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis dapat mengidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apa itu pembangunan berwawasan lingkungan? 2. Apa ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan? 3. Apa tujuan pembangunan berwawasan lingkungan? 4. Bagaimana wujud pembangunan berwawasan lingkungan bagi kehidupan lingkungan di sekitarnya?

C. Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain: 1. Untuk mengetahui apa itu pembangunan berwawasan lingkungan. 2. Untuk mengetahui apa ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan. 3. Untuk mengetahui apa tujuan dari pembangunan berwawasan lingkungan. 4. Untuk mengetahui bagaimana wujud pembangunan berwawasan

lingkungan bagi kehidupan lingkungan di sekitarnya.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembangunan Berwawasan Lingkungan Komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan (dalam laporan Our Common Future, 1987) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah serta segenap sumber daya yang ada di dalamnya sedemikian rupa, sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia tidak terancam atau rusak. Dalam pasal 1 butir ke 13 UUPLH dikatakan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang kesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Dalam UU no.32 tahun 2009dikatakan bahwa "Pembangunan berkelanjutan (berwawasan lingkungan) adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan." Menurut Emil Salim (dalam buku Ekologi Industri, karangan Ir. Philip Kristanto hal:60) mendefinisikan pembangunan berwawasan lingkungan

merupakan upaya sadar dan berencana dalam menggunakan dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas hidup. Jadi, pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan

berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya.

B. Prinsip Dasar Pembangunan Berwawasan Lingkungan Menurut Surna T. Djajadiningrat dalam Jurnal Hukum Lingkungan, Tahun I No. 1/1994, ICEL, Jakarta, hal: 6-9, proses pembangunan berwawasan lingkungan bertumpu pada tiga faktor utama, yaitu: 1. kondisi sumber daya alam Agar dapat menopang proses pembangunan secara berkelanjutan perlu memiliki kemampuan agar dapat berfungsi secara berkesinambungan. Sumber daya alam tersebut perlu diolah dalam batas kemampuan pulihnya. Bila batas tersebut terlampaui, maka sumber daya alam tidak dapat memperbaharui dirinya. Karena itu pemanfaatannya perlu dilakukan secara efisien dan perlu dikembangkan dengan teknologi yang mampu mensubstitusi bahan substansinya. 2. kualitas lingkungan Semakin tinggi kualitas lingkungan maka akan semakin tinggi pula kualitas sumber daya alam yang mampu menopang pembangunan yang

berkualitas. 3. faktor kependudukan Merupakan unsur yang dapat menjadi beban sekaligus dapat menjadi unsur yang menimbulkan dinamika dalam proses pembangunan. Karena itu faktor kependudukan perlu dirubah dari factor yang menambah beban menjadi faktor yang dapat menjadi modal pembangunan. Menurut NHT Siahan (dalam Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan hal.235), menyatakan ada 3 unsur penting dalam prinsip pembangunan berwawasan lingkungan: 1. Penggunaan/pengelolaan sumber daya secara bijaksana; 2. Menunjang pembangunan yang berkesinambungan; 3. Meningkatkan mutu hidup; Pengertian sumber daya pada butir 1 tersebut harus diartikan lebih luas yaitu, bukan hanya mencakup pengertian ekonomis seperti sumber daya alam atau

sumber daya buatan, tetapi juga meliputi semua bagian lingkungan hidup kita sendiri, mulai dari surnber daya biotik (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, sumber daya abiotik (air, udara, cahaya, tanah, barang-barang tambang dan lainlain) sampai pada sumber daya buatan (mesin, hasil-hasil industri, gedung, dan sebagainya). Dalam GBHN terdapat garis yang jelas mengenai prinsip berwawasan lingkungan yang dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Dalam rangka pembangunan, sumber daya alam harus digunakan rasional

b. Pemanfaatan sumber daya harus diusahakan untuk tidak merusak lingkungan hidup. c. Harus dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. d. Memperhitungkan hubungan kait-mengait dan ketergantungan antara berbagai masalah.

C. Ciri-Ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan unsur lingkungan hidup termasuk sumber daya ke dalam proses pembangunan. Sumber daya yang mendukung pembangunan antara lain : 1. Sumber daya alam.yaitu air, tanah, udara. 2. Sumber daya manusia. 3. Ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan

berkelanjutan memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu adanya saling keterkaitan beberapa sektor, antara lain lingkungan dan masyarakat serta kemanfaatan dan pembangunan. Pembangunan akan selalu berkaitan dan saling berinteraksi dengan lingkungan hidup. Interaksi tersebut dapat bersifat positif atau negatif. Pengetahuan dan informasi tentang berbagai interaksi tersebut sangat diperlukan dalam pembangunan berwawasan lingkungan (Elizabeth IEHLT dalam artikel Abdul Latif).

Adapun ciri-ciri lain pembangunan berwawasan lingkungan antara lain: 1. Menjamin pemerataan dan keadilan. 2. Menghargai keanekaragaman hayati. 3. Menggunakan pendekatan integratif. 4. Menggunakan pandangan jangka panjang.

D. Tujuan dan Implementasi Pembangunan Berwawasan Lingkungan 1. Tujuan Pembangunan Berwawasan Lingkungan Tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya standar kesejahteraan hidup manusia dunia akhirat yang layak, cukup sandang, pangan, papan, pendidikan bagi anak-anaknya, kesehatan yang baik, lapangan kerja yang diperlukan, keamanan dan kebebasan berpolitik, kebebasan dari ketakutan dan tindak kekerasan, dan kebebasan untuk menggunakan hak-haknya sebagai warga negara. Taraf kesejahteraan ini diusahakan dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan alam serta tetap tersediannya sumber daya yang diperlukan. 2. Implementasi Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dewasa ini seringkali negara Indonesia dilanda bencana (seperti: lumpur lapindo, banjir, tanah longsor, gempa bumi,dll) dan muncul anggapan bahwa alam mulai marah pada manusia. Kejadian tersebut sebenarnya diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas manusia yang berlebihan terhadap lingkungan. Aktivitas manusia yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar bagi lingkungan meliputi beberapa kegiatan, berupa: a) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam; b) eksploitasi sumber-sumber yang terbarui maupun tak terbarui; c) proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta kemerosotan sumber-sumber alam dalam pemanfaatannya; d) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;

e) proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi konservasi sumber daya alam dan atau perlindungan cagar budaya; f) introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jasad renik

g) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati; h) penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup; i) Kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan atau mempengaruhi pertahanan negara. Implementasi pembangunan berwawasan lingkungan adalah dengan reboisasi, menanam seribu pohon dan gerakan bersih lingkungan tampaknya mengalami kendala yang berarti. Artinya, tidak seimbangnya antara yang ditanam dan yang dieksploitasi menjadi salah satu penyebabnya. Peraturan perudangudangan pun tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan ini, misalnya: a. UU No. 4 Tahun 1984 yang telah diratifikasi dengan UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup. b. UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. c. UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem pun tidak mampu menangkap cukong kayu kelas kakap. UU ini hanya mampu menangkap dan mengadili pekerja dan mandor kecil pembalakan liar. Sedangkan Maftuchah Yusuf (2000) dalam artikel Abdul Latif,

mengemukakan empat hal pokok dalam upaya penyelamatan lingkungan, antara lain: 1) Konservasi untuk kelangsungan hidup bio-fisik. 2) Perdamaian dan keadilan (pemerataan) untuk melaksanakan kehidupan seharihari dalam hidup bersama. 3) Pembangunan ekonomi yang tepat, yang memperhitungkan keharusan konservasi bagi kelangsungan hidup bio-fisik dan harus adanya perdamaian dan pemerataan (keadilan) dalam melaksanakan hidup bersama.

4)

Demokrasi yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk turut berpartisipasi dalam melaksanakan kekuasaan, kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam meningkatkan mutu kehidupan bangsa. Jika hal-hal tersebut di atas tidak segera ditindaklanjuti dan dilaksanakan dengan segera dengan menangkap, mengadili dan menghukum seberat-beratnya pembalak liar maka tidak lama lagi bumi akan musnah. Kemusnahan bumi juga berarti kematian bagi penduduk bumi termasuk di dalamnya manusia.

E. Alasan Munculnya Pembangunan Berwawasan Lingkungan Pada dewasa ini yang menjadi bahan perdebatan adalah bagaimana menyusun suatu pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Semakin meningkatnya populasi manusia mengakibatkan tingkat konsumsi produk dan energi meningkat juga. Permasalahan ini ditambah dengan ketergantungan penggunaan energi dan bahan baku yang tidak dapat diperbarui. Pada awal perkembangan pembangunan, industri dibangun sebagai suatu unit proses yang tersendiri, terpisah dengan industri lain dan lingkungan. Proses industri ini menghasilkan produk, produk samping dan limbah yang dibuang ke lingkungan. Adanya sejumlah limbah yang dihasilkan dari proses produksi, mengharuskan industri menambah investasi untuk memasang unit tambahan untuk mengolah limbah hasil proses sebelum dibuang ke lingkungan. Pengendalian pencemaran lingkungan dengan cara pengolahan limbah (pendekatan end of pipe) menjadi sangat mahal dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan ketika jumlah industri semakin banyak, daya dukung alam semakin terbatas, dan sumber daya alam semakin menipis. Persoalannya kemudian, pada era dewasa ini, apa pun sektor usaha yang dibangkitkan oleh sebuah bangsa maupun kota harus mampu siap bersaing pada tingkat global. Walaupun sebenarnya apa yang disebut dengan globalisasi baru dapat dikatakan benar-benar hadir dihadapan kita ketika kita tidak lagi dapat mengatakan adanya produk-produk, teknologi, korporasi, dan industri-industri nasional. Dan, aset utama yang masih tersisa dari suatu bangsa adalah keahlian dan wawasan rakyatnya, yang pada gilirannya akan mengungkapkan kemampuan

suatu bangsa dalam membangun keunggulan organisasi produksi dan organisasi dunia kerjanya. Tetapi akibat tindakan penyesuaian yang harus dipenuhi dalam memenuhi permintaan akan berbagai jenis sumber daya (resources), agar proses industri dapat menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia, seringkali harus mengorbankan ekologi dan lingkungan hidup manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan berbagai industri yang dibangun dalam rangka peningkatan pendapatan (devisa) negara dan pemenuhan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia. Teknologi memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara

berkembang) untuk memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negara dan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya merusak hutan tropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan beragam jenis fauna yang langka. Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect) akibat menipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernnya lapisan es di Kutub Utara dan Selatan Bumi dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinya pencemaran lingkungan kerena penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidak seimbang ( Toruan, dalam Jakob Oetama, 1990: 16 - 20). Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor indusri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang sedang berkembang seperti Gresik, Surabaya, Jakarta, bandung Lhoksumawe, Medan, dan sebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut mengalami peningkatan suhu udara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan walaupun di daerah tersebut tergolong berhawa sejuk dan tidak pesat industrinya. Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau

10

berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai peruntukannya. Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu: sumber perubahan oleh kegiatan manusia atau proses alam, bentuk perubahannya adalah berubahnya konsentrasi suatu bahan (hidup/mati) pada lingkungan, dan merosotnya fungsi lingkungan dalam menunjang kehidupan. Pencemaran dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk menurut pola pengelompokannya. Berkaitan dengan itu, Amsyari dalam Sudjana dan Burhan (ed.), 1996: 102, mengelompokkan pecemaran atas dasar: a).bahan pencemar yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, dan budaya, b). pengelompokan menurut medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan, dan sosial, c). pengelompokan menurut sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primer dan sekunder. Alasan munculnya pembangunan berwawasan lingkungan yaitu aktivitas manusia yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar bagi lingkungan meliputi beberapa kegiatan, berupa: pengubahan bentuk lahan dan bentang alam eksploitasi sumber-sumber yang terbarui maupun tak terbarui proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta kemerosotan sumber-sumber alam dalam

pemanfaatannya proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi konservasi sumber daya alam dan atau perlindungan cagar budaya introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jasad renik pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup

11

Kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan atau mempengaruhi pertahanan negara Menurut J. Barros dan J.M. Johnston dalam , menyebutkan bahwa munculnya pembangunan berwawasan lingkungan erat kaitannya dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan manusia, antara lain: 1. Kegiatan-kegiatan industri dalam bentuk limbah, zat-zat buangan yang berbahaya seperti logam berat, zat radio aktif dan lain-lain 2. Kegiatan pertambangan, berupa terjadinya perusakan instalasi, kebocoran, pencemaran buangan penambangan, pencemaran udara dan rusaknya lahan bekas pertambangan 3. Kegiatan transportasi, berupa kepulan asap, naiknya suhu udara kota, kebisingan kendaraan bermotor, tumpahan bahan bakar berupa minyak bumi darri kapal tanker. 4. Kegiatan pertanian terutama akibat dari residu pemakaian zat-zat kimia untuk memberantas serangga/tumbuhan pengganggu, seperti insektisida, herbisida, fungisida dan juga pemakaian pupuk organik.

12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Adapun yang dapat kami simpulkan dari makalah Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan yaitu : 1. Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan

berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya. 2. Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan unsur lingkungan hidup termasuk sumber daya ke dalam proses pembangunan. 3. Tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya standar kesejahteraan hidup manusia dunia akhirat yang layak, cukup sandang, pangan, papan dll. 4. Implementasi pembangunan berwawasan lingkungan adalah dengan reboisasi, menanam seribu pohon dan gerakan bersih lingkungan tampaknya mengalami kendala yang berarti. Artinya, tidak seimbangnya antara yang ditanam dan yang dieksploitasi menjadi salah satu penyebabnya.

B.

Saran Adapun saran yang dapat kami berikan dari makalah ini adalah : 1. Sebagai mahasiswa seharusnya lebih memperdalam ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya sehingga mempunyai skill. 2. Mahasiswa harus menjadi center learning student dalam perkuliahan sehingga mahasiswa yang lebih kreatif.

13

DAFTAR PUSTAKA
http://aryawanb.blogspot.com/ http://agustinarahmayani.wordpress.com/ http://digilib.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=in dex&req=viewdownloaddetails&lid=2233 http://riveryogya.wordpress.com/2008/02/27/pembangunan-berwawasanlingkungan/ http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=3 8932

14