Anda di halaman 1dari 122

1 TANGGUNG JAWAB NEGARA TERHADAP TINDAKAN PENCUCIAN UANG SEBAGAI TINDAK PIDANA INTERNASIONAL Magdariza,SH.

MH ABSTRACT The development of information technology, commnunication and transportation, makes the relationship among countries are getting closer. The international law takes the roles to manage the impact of life in international community.The law enforcement in a country to implement its authority and juridiction can involve other countries such as the case of money laundry. Money loundry is one of international dimension of crime which breaks its juridiction of a country. Thus, all countries , togetherness, have to fight against the kind of crime, bilateral and multilateral. All of countries around the world have a very important responsiblity to overcome this problem. It will make link many judicials in different systems of the law among the involved countries. PENDAHULUAN Memasuki era globalisasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan hubungan internasional antara anggota masyarakat internasional yang sebagian besar terdiri dari negara-negara. Kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi telah membawa umat manusia kepada sebuah era dimana batas-batas negara bukanlah hambatan. Berbagai masalah baru yang timbul akibat perkembangan ini memerlukan perhatian bersama masyarakat internasional. Selain masalah global yang merupakan kelanjutan dari masalah yang

sudah ada di masa lampau seperti pertumbuhan penduduk (populasi dunia) yang lebih besar dibanding pertambahan produksi makanan dan ketersediaan air, kemiskinan, kelaparan dan sebagainya, muncul masalah-masalah baru seperti pencemaran lingkungan hidup (environmental issues), persenjataan pemusnah massal (weapons of mass destruction), perkembangan industri dan berbagai dampak (positif dan negatif) dari globalisasi, liberalisasi perdagangan dunia dan Tripple T Revolution (Revolusi di bidang teknologi, transportasi dan telekomunikasi).1 Implikasi yang ditimbulkan oleh globalisasi di bidang hukum internasional terlihat jelas dalam aspek penegakan hukum dalam suatu wilayah negara berkaitan dengan suatu tindakan yang melibatkan negaranegara lain. Eksistensi negara-negara untuk melaksanakan kedaulatan negaranya dalam menerapkan yurisdiksi akan berbenturan dengan kedaulatan negara lain terkait suatu tindakan sebagai suatu bentuk tindak pidana internasional. Salah satu bentuk tindak pidana internasional yang dapat melibatkan lebih dari satu negara adalah tindak pidana pencucian uang (Money Laundering). Dalam perkembangannya, tindak pidana pencucian uang semakin marak akibat meningkatnya kegiatan perdagangan obat bius. Tindak pidana pencucian uang bukanlah merupakan kejahatan yang murni, tetapi merupakan kejahatan turunan dari kejahatan asli
T. May Rudi, hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-Masalah Global, Isu, Konsep, Teori dan Paradigma, Refika Aditama, Bandung, 2003, hal. 3
1

Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Andalas

2 seperti kejahatan narkoba, korupsi, perdagangan senjata dan lain sebagainya. Kejahatan pencucian uang merupakan aktifitas untuk menyamarkan asal usul uang yang berasal dari aktifitas kejahatan lain. Untuk melaksanakan penyamaran ini biasanya dilakukan bisnis legal, memasukkan dalam sistem perbankan atau cara-cara lain yang dapat mengaburkan asas usul uang tersebut, dan diharapkan uang hasil kejahatan ini bisa tersamarkan menjadi hasi kegiatan bisnis legal. Tindak pidana pencucian uang sebagai suatu tindak pidana yang berdimensi internasional, tidak lagi mengenal batas-batas yurisdiksi suatu negara.Oleh karena itu pemberantasan terhadap kejahatan ini harus dilakukan secara bersama-sama oleh negara-negara baik secara bilateral maupun multilateral. Sebagai suatu bentuk kejahatan yang berdimensi internasional maka pertanggung jawaban masyarakat internasional, dalam hal ini negara-negara, mempunyai peranan signifikan dalam upaya pemberantasannya. Keterlibatan negara-negara akan mempertautkan berbagai yurisdiksi dari berbagai sistem hukum yang berbeda. TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG SEBAGAI TINDAK PIDANA INTERNASIONAL 1. Pengertian Pencucian Uang Pencucian uang merupakan suatu tindakan pidana yang diatur oleh hukum nasional dan hukum internasional. Belum terdapat suatu kesepakatan mengenai pengertian pencucian uang yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembahasan mengenai pencucian uang. Pihak penuntut dan lembaga penyidikan kejahatan, kalangan pengusaha dan perusahaan, negara-negara yang telah maju dan negara-negara dari dunia ketiga dan lembaga-lembaga internasional masing-masing mempunyai defenisi sendiri berdasarkan prioritas dan perspektif yang berbeda.2 Menurut Welling3 (sebagaimana dikutip Sutan Remi Sjahdeni) mengemukakan bahwa : Money laundering is the process by which one conceals the existance illegal source or illegal application of income and than didguises that income to make it appear legitimate. Pamela H. Bucy dalam bukunya White Collar Crime :Cases and Materials memberikan pengertian pencucian sebagai berikut : Money laundering is concealment of the existance, nature or illegal source of illicit funds in such a manner that the funds will appear legitimate if discovered. Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF)4 dalam uraiannya mengenai money laundering, menyebutkan bahwa kejahatan pencucian uang sebagai processing of these criminal proceeds to disguise their illegal origin. Pencucian uang merupakan aktifitas keuangan untuk menyamarkan asal usul uang yang berasal dari aktifitas kejahatan. Aktifitas keuangan ini dilakukan dengan berbagai cara dalam bisnis legal, seperti melakukan investasi di pasar modal, investasi
Sutan Remi Sjahdeni, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme, Grafiti, Jakarta, 2004, hal. 2. 3 Ibid 4 FATF merupakan organisasi yang pertama internasional yang pertama menaruh perhatian terhadap masalah pencucian uang, sebagai lembaga yang didirikan oleh kelompok G7 Summit di Perancis pada bulan Juli 1989.
2

3 dalam pendirian suatu perusahaan, memasukkan dalam perbankan atau aktifitas legal lainnya.Dengan cara ini diharapkan uang hasil kejahatan yang ada dapat tersamarkan menjadi uang hasil bisnis legal. Dalam UU No 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU No. 25 tahun 2003 memberikan defenisi mengenai pencucian uang5, sebagai berikut : Pencucian uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pencucian uang merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap uang yang berasal dari suatu tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang tersebut dari pemerintah atau pihak berwenang untuk melakukan penindakan, dengan cara memasukkannya dalam suatu sistem keuangan legal atau melakukan kegiatan bisnis legal. Dalam upaya melakukan mencucian uang, biasanya dilakukan dengan beberapa tahap yaitu placement, layering dan integration. Dalam tahap placement, uang ditempatkan dalam sistem keuangan dengan cara didepositokan atau digunakan untuk
5

membeli instrumen moner seperti cek. Kemudian uang tersebut ditarik untuk didepositokan ke rekening lain, yang kemudian akan dipindahkan lagi ke bank lain di dalam negeri atau di luar negeri. Dalam tahap layering, pelaku berusaha untuk memutuskan uang hasil kejahatan dari sumbernya, dengan cara memindahkan uang tersebut dari suatu bank ke bank yang lain dari satu negara ke negara lain sampai berulang kali, dan memecah-mecah jumlah uangnya. Dengan pemindahan dan pemecahan jumlah uang berualang kali, asal usul uang sulit untuk dilacak oleh otoritas keuangan atau penegak hukum. Pada tahap ini, pelaku juga dapat mendirikan perusahaan fiktif di negara yang memiliki pengaturan mengenai kerahasiaan bank yang ketat atau di negara yang tidak memiliki pengaturan mengenai pencucian uang. Dalam tahap integration, uang yang telah dicuci dibawa kembali ke dalam sirkulasi pendapatan bersih dan akan digunakan selanjutnya dalam kegiatan bisnis lainnya. 2.Pengaturan Pencucian Uang 1. Pengaturan dalam lingkup internasional Peningkatan tindak pidana pencucian uang (Money Laundering) merupakan suatu fenomena yang menjadi tantangan dan ancaman bagi masyarakat internasional. Dunia dihadapkan pada suatu fenomena yang baru dan berbahaya, yang tidak mengenal batas-batas wilayah negara. Dampak dari kejahatan pencucian uang dapat menggangu stabilitas sistem keuangan dan perekonomian suatu negara. Tindak pidana pencusian uang dikategorikan sebagai tindak pidana

Pasal 1 butir 1 UU No. 25 tahun 2003.

4 internasional disebabkan kejahatan ini dilakukan melibatkan beberapa negara dalam kegiatannya, baik berkaitan dengan pelaku, dampak krugian yang timbul maupun tempat dilakukannya pencucian uang. Sehingga akibat dari kegiatan pencucian uang merugikan masyarakat internasional. Dalam perkembangannya, bentuk tindak pidana pencucian uang telah mulai disinggung dalam Konvensi mengenai narkotika yang bernama United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic 1988 (Vienna Convention 1988). Konvensi ini mengatur mengenai kejahatan narkotika dan pemberantasannya tidak hanya produksi barang (narkoba) saja, tetapi meliputi juga kejahatan pencucian uang sebagai hasil perdagangan narkotika, karena kejahatan pencucian uang merupakan kejahatan turunan yang mempunyai hubungan erat dengan kejahatan aslinya yaitu narkoba. Konvensi mewajibkan setiap negara yang telah meratifikasi konvensi untuk melakukan kriminalisasi pencucian uang melalui pengaturan nasional. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 (1) a, bahwa setiap negara anggota melakukan kriminalisasi pencucian uang yang berkaitan dengan peredaran gelap obat-obat bius, selain itu mengatur ketentuan tentang daftar pelanggaran yang berkaitan dengan industri,, distribusi atau penjualan gelap obat biusdan organisasi serta pengelolaannya atau keuangan, dari aktifitas perdagangan gelap obat bius. Bentuk pengaturan pencucian uang lainnya adalah dalam United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Palermo Convention 2000), yang diterima di Italia pada Agustus 2000. Konvensi mengharapkan para negara penandatangan untuk mengkriminalisasi kegiatan pencucian uang, korupsi oleh pejabat publik, pengrusakan dan konspirasi terhadap peradilan. Kriminalisasi pencucian uang dilakukan ke dalam hukum nasional masing-masing negara sebagai suatu laundering of proceed crime yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip hukum masing-masing negara.6 Diperlukan tindakan-tindakan yang nyata dalam pemberantasan money laundering seperti membentuk pengaturan terhadap institusi yang komprehensif dalam sistem keuangan, kerjasama untuk memonitoring setiap dana yang masuk dan keluar dari suatu wilayah negara.7 The Council of Europe Convention on Laundering, Search, Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime, juga merupakan salah satu ketentuan internasional untuk pemberantasan pencucian uang. Konvensi dibentuk oleh anggota Dewan Eropa, melalui Committe on Crime Problems, yang disahkan di Starsbourg pada 8 November 1990. Setiap negara anggota diminta untuk mengambil langkah-langkah dalam menangani peredaran uang yang diperoleh dari hasil kejahatan dan tidak hanya uang dari hasil obat bius. Dalam lingkup organisasi ASEAN terdapat ASEAN Declaration on transnational Crime (Manila Declaration, 20 Desember 1997) yang mendeklarasikan tentang kerjasama dalam ASEAN untuk pemberantasan kejahatan transnasional, salah satunya adalah pencucian uang.8 2. Pengaturan dalam lingkup hukum nasional Indonesia

Pasal 6 Palermo Convention 2000. Pasal 7, Idem. 8 Lihat web site ASEAN Secretary at www.asean.org
7

5 Indonesia sebagai bagian dari anggota masyarakat internasional, dalam upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang telah membentuk undangundang mengenai pencucian uang, yaitu UU No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, sebagaimana telah dirubah dan ditambah menjadi UU No. 25 tahun 2003. 3. Tindak Pidana Internasional Suatu tindak pidana dikatakan sebagai tindak pidana internasional apabila tindak pidana tersebut mengandung karakteristik internasional, dan tindak pidana ini biasa juga disebut kejahatan transnasional. Proses kejahatan transnasional terjadi tidak hanya terbatas dalam satu wilayah negara saja, tetapi melibatkan negara-negara lain. Menurut Bassiouni9 hukum pidana internasional adalah suatu hasil pertemuan pemikiran dua disiplin hukum yang telah muncul dan berkembang secara berbeda serta saling melengkapi dan mengisi. Kedua disiplin hukum ini adalah aspekaspek hukum pidana dari hukum internasional dan aspek-aspek hukum internasional dari hukum pidana. Aspek pidana di dalam hukum pidana internasional adalah aspek-aspek hukum internasional melalui tingkah laku atau tindakan yang dilakukan oleh perorangan sebagai pribadi atau dalam kapasitas sebagai perwakilan atau kolektif/kelompok yang melanggar ketentuan-ketentuan internasional dan dapat diancam dengan pidana. Aspek internasional di dalam hukum pidana internasional adalah aspek-aspek sistem hukum internasional dan sistem hukum nasional yang mengatur kerjasama internasional di dalam masalah-masalah
9

kejahatan yang melibatkan perorangan, yang melanggar hukum pidana dari negara-negara tertentu.10 Pencucian uang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana internasional disebabkan kejahatan pencucian uang dilakukan melibatkan beberapa negara, baik ditinjau dari pelakunya, dampak yang dirugikan ataupun tempat dilakukan pencucian uang. Apabila ditinjau dengan menggunakan pengertian tindak pidana internasional yang disebutkan oleh Bassiouni, maka pencucian uang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana internasional, dengan alasan sebagai berikut : - Melibatkan lebih dari satu negara Proses pencucian uangseringkali melibatkan lebih dari satu negara, baik dalam kegiatan kejahatan uang yang akan dicuci maupun kegiatan pencucian uang itu sendiri. Kejahatan pencucian uang merupakan tindak pidana turunan yang biasanya berasal dari kegiatan penjualan narkoba, terorisme, pemerasan atau kejahatan lainnya. Keterlibatan lebih dari satu negara dapat diartikan bahwa sejak mulai dari persiapan, perencanaan, kontrol dan pengarahan dilakukan pada negara yang berbeda.11 Proses pencucian uang yang dilakukan oleh para pelaku yang dilakukan pada wilayah beberapa negara, bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang yang berasal dari kejahatan dari aparat penegak hukum. Uang hasil kejahatan diusahakan jauh dari sumber asalnya, untuk itu pelaku membawa uang
Idem. Article 3, paragraph 2 point a, b Palermo Convention.
11 10

Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Pidana Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2003, hal. 27.

6 tersebut ke luar wilayah negara asalnya untuk kemudian dimasukkan dalam sistem keuangan negara lain. - Diatur oleh konvensi internasional Dalam beberapa konvensi internasional, pencucian uang disebutkan sebagai tindak pidana internasional, sebagaimana disebutkan Bassiouni12, International crime is any conduct which is designated as a crime in a multilateral convention will a significant number of state parties to it, provided the instrument contuins one of the ten penal characteristic. Dari pengertian di atas dijelaskan bahwa suatu tindak pidana disebut sebagai tindak pidana internasional apabila tindak pidana tersebut disebutkan oleh konvensi internasional yang multilateral. Demikian juga halnya dengan pencucian uang disebutkan sebagai suatu tindak pidana internasional oleh karena telah disebutkan dalam beberapa konvensi internasional, yaitu dalam United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic 1988, dalam pasal 3 ayat 1 konvensi ini mengharuskan setiap negara anggota untuk melakukan kriminalisasi terhadap pencucian uang. Konvensi internasional lainnya yang menyebut pencucian uang sebagai tindak pidana internasional adalah dalam United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Palermo Convention 2000), dimana dalam pasal 6 mengharuskan negara peserta untuk melakukan kriminalisasi pencucian uang. Dalam lingkup ASEAN terdapat pengaturan mengenai pencucian uang sebagai suatu tindak pidana internasional dalam ASEAN Declaration on
Sebagaimana dikutip oleh Romli Atmasasmita, op.cit, hal. 37.
12

transnational Crime 1997. Dalam deklarasi ini negara-negara anggota ASEAN harus mengupayakan kerjasama untuk memberantas tindak pidana pencucian uang. TANGGUNG JAWAB NEGARA TERHADAP TINDAKAN PENCUCIAN UANG SEBAGAI TINDAK PIDANA INTERNASIONAL 1.Pertanggungjawaban negara terhadap tindak pidana pencucian uang sebagai tindak pidana pencucian uang a. Tanggung jawab negara terhadap tindak pidana internasional Persoalan mengenai tanggunjawab negara telah berkembang melalui hukum kebiasaan internasional dan prinsip-prinsip hukum umum yang timbul dari praktek negara-negara dan keputusan hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi antara negara-negara. Tanggungjawab negara yang didasarkan pada hukum internasional merupakan konsekwensi logis dari keberadaan negara sebagai subjek hukum internasional. Menurut Malcom N. Shaw13, timbulnya tanggungjawb negara disebabkan oleh dua faktor mendasar yaitu adanya kewajiban internasional yang berlaku antara para pihak/negara dan adanya tindakan dari salah satu pihak yang berdiam diri yang melanggar kewajiban. Sedangkan

Shaw, Malcom, N,. International Law, 2nd, Groyius Publication Ltd, Llandysal, Dyfed, 1986 hal. 406.

13

7 menurut Browlie14 perbuatan yang yang dapat menimbulkan tanggungjawab negara adalah tindakan melawan hukum yaitu perbuatan yang melanggar perjanjian(internasional) dan melanggar kewajiban hukum. Starke memberikan penjelasan mengenai tanggungjawab negara dengan menyatakan bahwa tanggungjawab negara dapat diterapkan terhadap tindakan negara yang melanggar suatu perjanjian, dan tidak melaksanakan kewajiban yang ditentukan oleh perjanjian serta tindakan-tindakan negara yang menimbulkan kerugian terhadap negara dan warga negara lain. Sedangkan menurut Mc. Nair, negara bertanggungjawab terhadap segala perbuatan sebagaimana perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu perbuatan melawan hukum yang berdasarkan perjanjian (contractual) maupun berupa tindak pidana (delictual).15 Jadi perbuatan negara dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan manusia, yaitu tanggungjawab secara perdata maupun pidana. Perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara perdata dan pidana tersebut tidak hanya dilakukan secara langsung oleh negara, misalnya melalui kekuasaan pemerintahan tetapi dapat juga dilakukan oleh warganegaranya. Dengan demikian pertanggung jawaban negara terhadap suatu perbuatan pidana yang yang berdimensi internasional dapat dikategorikan telah terjadi suatu tindak pidana internasional dan akan diselesaikan menurut ketentuan-ketentuan hukum pidana internasional. Suatu tindak pidana disebut sebagai tindak pidana internasional karena tindak pidana tersebut melibatkan lebih dari satu negara dan telah diakui negara-negara melalui perjanjian-perjanjian internasional dan kebiasaan internasional. Konsep tindak pidana internasional merupakan perkembangan dari bentuk perbuatan melawan hukum internasional, sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 dari Draft Articles on State Responsibility16, yang menyatakan bahwa perbuatan melawan hukum internasional yang nyata-nyata merupakan pelanggaran berat terhadap perlindungan masyarakat internasional sebagai tindak pidana. Berdasarkan Draft Article, Bassiouni membagi tiga golongan tindak pidana internasional yang dikaitkan dengan pertanggungjawaban negara, yaitu international infraction, international delicts dan international crimes. Tanggung jawab negara terhadap suatu tindak pidana internasional dalam bentuk international infraction dan international delicts memiliki kesamaan dalam hal bentuk kewajiban yang dibebankan kepada negara. Negara memiliki tanggungjawab terhadap suatu peristiwa pidana internasional apabila negara membantu individu untuk melakukan tindak pidana internasional tertentu. Dalam hal ini negara dapat diminta tanggunjawabnya karena
Draft Articles on State Responsibility merupakan hasil kerja Komisi Hukum Internasional dari PBB (International Law Commission/ILC) yang belum disahkan sebagai suatu bentuk perjanjian internasional, tetapi sudah banyak digunakan sebagai hukum kebiasaan internasional dalam pembahasan mengenai tanggung jawab negara.
16

14 Brownlie, Ian, Principles of Public International Law, fifth ed, Clarendon Press, Oxford, 1998, hal. 436. 15 Sebagaimana dikutip Brownlie, Ian, idem, hal 437.

8 adanya kelalaian negara untuk mengambil tindakan pencegahan, pengusutan dan penghukuman terhadap pelaku tindak pidana internasional. Bentuk-bentuk international infraction adalah seperti international trafict in obscene materials, interference with submarine cables, falsification and counterfeiting, bribery of foreign public offecials dan theft of nuclear materials. Sedangkan bentuk international delics antara lain slavery and slave-related practies, torture, unlawful human experimentation, piracy, aircraft hijacking, threat and use force against internationally protected person, taking of civilian hostages, drugs offences, destruction and/or theft of national tresures, environmental protection, unlawful use of the mail, attacks upon comecial vessels and hostage-taking on board such vessels. Negara bertangjawab terhadap tindak pidana internasional dalam bentuk international infraction dan international delicts, karena adanya faktor kelalaian negara untuk mencegah, mengusut, menghukum dan mengekstradisi pelakunya. Dengan demikian sebenarnya negara tidak terlibat langsung dalam berbagai tindak pidana di atas. Oleh karena itu tanggungjawb negara terhadap berbagai tindak pidana internasional di atas merupakan tanggungjawab negara dalam bentuk vicarius responsibility of state. Tanggungjawab negara terhadap suatu tindak pidana dalam bentuk international crimes oleh karena tindak pidana ini secara langsung dilakukan oleh negara, yang dapat dilakukan karena kebijakan negara atau adanya kehendak negara. Berbagai bentuk tindak pidana ini antara lain aggression, war crimes, crime against humanity, unlawful use of weapons, genocide, apartheid dan mercenarism. b. Tanggung jawab negara terhadap pencucian uang Pencucian uang merupakan suatu tindak pidana yang bersifat lintas batas negara atau berdimensi internasional. Dalam kasus atau peristiwa pidana yang berdimensi internasional yang melibatkan dua negara atau lebih, maka persoalannya sudah merupakan persoalan antar negara yang tentu saja harus diselesaikan berdasarkan hukum internasional.17 Adanya unsur asing dalam suatu tindak pidana menyebabkan hukum pidana nasional harus memiliki berbagai ketentuan yang memberikan kewenangannya kepadanya untuk menjatuhkan sanksi pada pelaku tindak pidana tersebut. Berbagai ketentuan tersebut dikenal sebagai ketentuanketentuan mengenai yurisdiksi 18 ekstrateritorial. Dalam menerapkan yurisdiksi, terdapat beberapa prinsip yurisdiksi yang dapat digunakan oleh suatu negara19, yaitu : 1. Yurisdiksi berdasarkan prinsip teritorial Menurut prinsip ini setiap negara dapat menerapkan yurisdiksi nasionalnya terhadap semua orang, bagan hukum dan semua benda yang berada di dalam wilayahnya. Prinsip ini terbagi dua yaitu prinsip teritorial subjektif dan prinsip teritorial objektif.
I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi, Yrama Widya, Bandung, 2003, hal. 18. 18 Yudha Bhakti, Yurisdiksi Kriminal dalam Hukum Internasional, bahan kuliah Hukum Internasional Publik, pada program pascasarjana, semester 1, UNPAD, 2005, hal. 3. 19 Lihat Huala Adolf, Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002, hal 186.
17

9 2. Yurisdiksi berdasarkan prinsip nasionalitas Prinsip nasionalitas terdiri dari : - Prinsip nasionalitas aktif, yang menyatakan bahwa setiap negara dapat memberlakukan hukum pidana nasionalnya pada warganegaranya yang melakukan tindak pidana di wilayah negara lain. - Prinsip nasional pasif, yang menyatakan bahwa suatu negara memiliki yurisdiksi terhadap suatu tindak pidana yang dilakukan terhadap warganegaranya di suatu wilayah negara lain. 3. Yurisdiksi berdasarkan prinsip perlindungan yang menyatakan bahwa suatu negara mempunyai hak untuk menerapkan hukum pidana nasionalnya pada pelaku suatu tindak pidana sekalipun dilakukan di luar wilayah negara tersebut, apabila tindak pidana itu mengancam keamanan dan keutuhan negara yang bersangkutan. 4. Yurisdiksi berdasarkan prinsip universal, yang memberikan hak kepada semua negara untuk memberlakukan hukum pidananya, apabila tindak pidana yang dilakukan membahayakan nilai-nilai universal dan kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Pencucian uang sebagai suatu bentuk tindak pidana turunan yang berasal dari tindak pidana narkotika sebagai bentuk asli kejahatan. Berdasarkan penggolongan bentuk pertanggunjawaban negara yang dijelaskan Bassiouni, maka pencucian uang merupakan suatu bentuk internasional delicts. Oleh karena itu negara bertanggunjawan untuk mencegah, mengusut, menghukum ataupun mengekstradisi para pelaku tindak pidana pencucian uang. Berdasarkan penerapan beberapa prinsip yurisdiksi yang berlaku, maka terhadap tindak pidana pencucian uang sebagai suatu bentuk tindak pidana pidana internasional, ditetapkan negara mana yang paling berwenang untuk mengadili para pelakunya. Dalam menentukan negara yang berhak mengadili dan menghukum para pelaku, pertamatama adalah negara tempat orang itu berada atau ditangkap atau ditahan, sebab orang yang bersangkutan sudah berada ditangannya sendiri. Jika negara-negara lain juga bermaksud untuk mengadilinya, negara-negara itu dapat mengajukan permintaan ekstradisi atasi si pelaku tersebut kepada negara tempatnya berada.20 Permintaan ekstradisi para pelaku pencucian uang akan dikabulkan oleh negara tempat pelaku berada berdasarkan pertimbangan negara yang bersangkutan. Berdasarkan lembaga hukum tentang ekstradisi, ada beberapa butir pedoman yang dapat diikuti oleh negara yang diminta (negara tempat orang yang diminta itu berada) dalam mengambil keputusan21, yaitu : 1. dengan negara peminta yang manakah negara yang diminta telah terikat pada perjanjian ekstradisi, 2. Negara peminta yang manakah yang paling atau leih dahulu mengajukan permintaan ekstradisi, 3. Negara peminta manakah yang mengajukan permintaan berdasarkan kejahatan yang paling berat/berbahaya, jika si

20 21

I Wayan Parthiana, op.cit, hal. 20. Ibid, hal 21.

10 pelaku melakukan lebih dari satu macam peristiwa pidana, 4. Negara peminta yang manakah yang merupakan negara dimana si pelaku berkewarganegaraan, 5. dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA Buku-Buku Brownlie, Ian, Principles of Public International Law, fifth ed, Clarendon Press, Oxford, 1998. Cherif Bassiouni, International Criminal Law, Vol. I, Procedures, New York Transnational Publisher, 1986. Huala Adolf, Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002. I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi, Yrama Widya, Bandung, 2003. Miles Matrew dan A. Michael Huberman, Analisa Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohini, UI-Press, Jakarta, 1982. Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Pidana Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2003. Shaw, Malcom, N,. International Law, 2nd, Groyius Publication Ltd, Llandysal, Dyfed, 1986. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Babbab tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993. Sutan Remi Sjahdeni, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme, Grafiti, Jakarta, 2004. T. May Rudi, Hubungan Internasional Kontemporer dan MasalahMasalah Global, Isu, Konsep, Teori dan Paradigma, Refika Aditama, Bandung, 2003. Dokumen UU No 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU No. 25 tahun 2003 United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic 1988 (Vienna Convention 1988) United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Palermo Convention 2000)

11 EVALUASI IMPLEMENTASI PAKET KEBIJAKSANAAN DERGULASI TENTANG PERATURAN PENANAMAN MODAL ASING DI NEGARA INDONESIA Dra. Yenni Del Rosa, M.Si ABSTRACT The developing countries need a capital inflow from abroad to finance their economic development and grow due to the existence of current account balance together with the saving investment gap. Foreign direct investment is a kind of such capital inflow. This article discusses the flow of foreign direct private investment into the developing countries. Then the article reviews both the internal and external factors affecting the corresponding investment. Among the external factors, the yare 1) investment opportunities and policies in the source countries, 2) the shift in the source of found from industrial countries, 3) political will as well as economic motives of the foreign investors. Of the internal factors which have to be considered among the ethers, are 1) political and economic stability of the host countries, 2) development policies and strategies of the developing countries, 3) natural resources and domestic market in the developing countries. Keyword : outward looking policies and strategies. I. PENDAHULUAN Penanaman modal asing dari Negara-negara utama dunia terus mengalir ke negara-negara berkembang yang memberikan keuntungan bagi Negara pemasok modal. Perubahan
Dosen Pada Fakultas Ekonomi Univ. Tamansiswa Padang

jumlah arus penanaman modal asing dan penentuan Negara-negara tuan rumah terus berkembang seiring dengan perkembangan ekonomi, politik dan sosial. Di samping itu setiap Negara tuan rumah berusaha untuk mengambil manfaat yang maksimal dari kehadiran modal asing dinegerinya. Sedangkan Negara pemasok modal berupaya untuk menjaga keselamatan dan perkembangan modal yang ditanam dalam jangka panjang. Kehadiran modal asing telah memberikan dampak positif terhadap proses industrialisasi dan transfer teknologi dari Negara-negara penerima modal asing. Arus modal asing semakin meningkat sesuai dengan perkembangan ekonomi dan keterbukaan ekonomi Negaranegara tuan rumah dimana kelangkaan modal semakin dirasakan dalam meamacu pembangunan ekonomi nasional. Keterbukaan ekonomi juga menunjukkan semakin pentingnya peranan kekuatan pasar dan prinsip keunggulan komperatif dalam menentukan pemilihan lokasi untuk penanaman modal asing. Hal ini sesuai dengan tujuan utama dalam garis-garis besar penanaman modal asing di negara maju ataupun di negara berkembang yaitu : 1) Penanaman modal harus diterima oleh tuan rumah, 2) Penanaman modal harus dapat membantu kesejahteraan masyarakat. Dari kebijaksanaan tersebut terlihat bahwa rencana penanaman modal asing ke negara-negara tuan rumah sudah dipersiapkan secara mendasar untuk dapat menghindari

12 segala permasalahan yang mungkin dapat timbul baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan politik. Kehadiran modal asing semakin diperlukan setelah beberapa Negara berkembang menghadapi banyak permasalahan dalam pembangunan ekonomi seperti: rendahnya efisiensi sector produksi, terbatasnya dana pembangunan dalam negeri dan semakin ketatnya persaingan pemasaran produk di luar negeri. Semakin mapan pengelolaan ekonomi suatu Negara maka kekhawatiran terhadap modal asing semakin berkurang terutama sekali karena pemerintah dan mitra usaha local semakin berpengalaman dalam melakukan usaha kerja sama internasional. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa Negara tuan rumah sudah memberikan kebebasan penuh dalam melakukan operasional penanaman modal asing. Setiap Negara tetap mempunyai bentuk pengaturan dan batasan tertentu terhadap kegiatan penanaman modal asing sesuai dengan kepentingan atau kondisi pembangunan nasional. Penggairahan penanaman modal asing di Indonesia dimulai dengan diundangkannya Undang-Undang No.1/Tahun 1067 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan UndangUndang No.6/Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pemberlakuan kedua UndangUndang ini menyusul tampilnya rejim Orde Baru memegang tampak pemerintahan. Sebelumnya dalam pemerintahan Orde Lama Indonesia sempat menentang kehadiran modal asing dari luar negeri, karena modal asing hanya akan menggerogoti kedaulatan Negara. Kedua Undang-Undang tadi disempurnakan menjadi UU No.11/Tahun 1970 tentang PMA dan UU No.12/Tahun 1970 tentang PMDN. Perbaikan iklim penanaman modal asing tak hentinya dilakukan pemerintah. Melalui berbagai paket kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi dilakukan penyederhanaan mekanisme perizinan, penyederhanaan tata cara impor barang modal, pelunakan syarat-syarat penanaman modal serta perangsangan penanaman modal untuk sector-sektor di daerah tertentu. Dewasa ini kesempatan bagi PMA semakin terbuka di Indonesia dalam rangka menarik investasi langsung, keterbukaan ini sejalan pula dengan era perdagangan bebas yang akan dihadapi mulai tahun 2020 nanti. II. Perkembangan dan Sasaran Umum Investasi Semenjak diberlakukannya UU No.1/Tahun 1967 dan UU No.11/Tahun 1970 tentang PMA dan UU No. 6/Tahun 1968 dan UU No.12/Tahun 1970 tentang PMDN, investasi cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Walaupun demikian pada tahun-tahun tertentu sempat juga terjadi penurunan. Kecenderungan peningkatan buka hanya berlangsung pada investasi oleh sector swasta baik PMDN maupun PMA tapi juga penanaman modal oleh pemerintah. Ini berarti pembentukan modal domestic bruto meningkat dari tahun ke tahun. Penanaman modal oleh dunia usaha meningkat pesat terutama dalam dasawarsa 1980-an sesudah pemerintah meluncurkan sejumlah paket kebijaksanaan deregulasi dan

13 debirokratisasi. Selama penuh pertama dasawarsa 1990-an sebagian besar investasi domestik berasal dari dunia usaha dan masyarakat. Investasi oleh pemerintah sendiri juga tetap, bertambah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana serta pelayanan dasar lainnya. Periode awal 1980-an hingga tahun 1987 sejalan dengan merosotnya penerimaan pemerintah dari sector minyak bumi serta membengkaknya pembayaran hutang luar negeri, peranan investasi pemerintah menurun sebaliknya peranan investasi swasta meningkat. Kemudian sejajar dengan membaiknya lagi penerimaan pemerintah karena kenaikan pesat penerimaan pajak maka peranan investasi pemerintah meningkat kembali sehingga kontribusi relatif investasi swasta sedikit turun. Perkembangan investasi selama PJP I melebihi pertumbuhan produksi nasional dengan rasio dari 18% menjadi 30,5% ini merupakan pertanda kenaikan kapasitas produksi nasional. Semua itu dimungkinkan berkat digulirkannya kebijaksanaan-kebijaksanaan penyederhanaan prosedur dan pelunakan persyaratan sehingga calon-calon investor tertarik untuk menanam modal mereka. Namun tak kalah pentingnya kenaikan dalam sumber pembiayaan baik dari tabungan dalam negeri maupun dari dana luar negeri. Mayoritas investasi oleh pihak swasta tertanam di sektor sekunder atau sektor industri pengolahan (manufacturing) baik PMA maupun PMDN dilihat berdasarkan jumlah proyek berdasarkan nilai investasinya. Dalam hal ini diukur menurut nilai persetujuan investasi. Sub sektor industri kimia menempati urutan teratas baik untuk PMA maupun PMDN. Sub sektor industri tekstil lebih diminati oleh investor dalam negeri. Di lain pihak investor dari luar negeri lebih meminati sub sektor perhotelan dan restoran. Urutan terbawah diduduki oleh sektor perdagangan (PMDN) dan sub sektor tanaman pangan (PMA). Sub sektor yang sama sekali tidak menarik investor domestik dan investor asing adalah industri farmasi. Dilihat secara regional sebagian besar proyek-proyek PMDN dan PMA berlokasi di wilayah propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta (tepatnya kawasan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi atau Jabodetabek), baik tatkala persetujuannya diterkaitkan maupun sesudah proyek itu diwujudkan. Dalam perbandingan antar pulau 63,3% nilai PMDN terkonsentrasi di pulau Jawa dan 67,5% mulai PMA. Khusus mengenai PMA nilai investor terbesar berasal dari Jepang yang menguasai sekitar 1/s nilai PMA di Indonesia termasuk nilai proyek-proyek patungannya dengan beberapa negara. Nilai penanaman modal oleh investor Amerika Serikat hanya menempati urutan kalimat masih di bawah nilai PMA dari Inggris. Nilai gabungan PMA oleh Jerman dan Australia di negeri kita masih lebih kecil dibandingkan nilai PMA Singapura atau Belanda. Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam mencerahkan iklim investasinya di masa datang, baik secara internal di dalam negeri sendiri maupun secara eksternal dari negara lain. Di dalam negeri tantangan itu antara lain masih belum memadainya ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian berupa barang-barang

14 publik. Sementara keuangan pemerintah justru harus dikelola lebih efisien, kalangan swasta biasanya enggan untuk menanam modal bagi penyediaan barang publik. Tantangan lain adalah rendahnya produktivitas pekerja dan efisiensi produksi, kelangkaan tenaga kerja terampil serta kurang terjaminya kepastian hukum bagi investor khususnya investor asing. Tentunya eksternal antara lain berupa persaingan iklim investasi dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik terutama Cina, Vietnam, Thailand dan India. Seiring dengan tantangan yang dihadapi tentu saja terdapat beberapa peluang misalnya : kemantapan situasi politik di tanah air, perkembangan mengesankan dalam kualitas sumberdaya manusia, keterbukaan perekonomian serta keberhasilan pembangunan selama ini yang tentu saja merupakan kredibilitas tersendiri. Ditengah tantangan dan peluang itulah pemerintah mengancamkan target-target terbentuk untuk investasi di masa datang. Ditinjau dari sisi pembiayaan pencapaian target investasi diupayakan bersumber dari dana dalam negeri yakni berasal dari tabungan masyarakat dan tabungan pemerintah. Dalam kaitan ini ditargetkan 94,5% dari nial I total sasaran investasi akan dibiayai dengan sumber dana dalam negeri dan hanya 5,5% saja investasi yang akan dibiayai dengan dana luar negeri, meliputi pihak swasta dan pemerintah serta dalam arti netto yakni setelah memperhitungkan pelunasan hutang luar negeri. III. PEMBENTUKAN MODAL DOMESTIK BRUTO Untuk mendapatkan gambaran tentang perkembangan investasi dari waktu ke waktu ada 3 cara (berdasarkan 3 gugus data) yang dapat dilakukan yakni sebagai berikut : 1. Kontribusi pembentukan modal domestik bruto dalam konteks permintaan agregat dengan melihat kontribusi dan perkembangan variabel (i) dalam persamaan Y = C + I + G + X M dimana Y = pendapatan nasional, C = Konsumsi, I = Investasi, G = Pengeluaran pemerintah, X = Ekspor, M = Impor. Data I merupakan data keseluruhan investasi domestik secara bruto meliputi investasi swasta (PMDN dan PMA) maupun pemerintah. 2. Mengamati data-data PMDN dan PMA berarti mengamati investasi oleh kalangan dunia usaha swasta saja. 3. Menelaah perkembangan dana investasi yang disalurkan oleh dunia perbankan, cakupan data dengan cara ini tentu saja relatif lebih terbatas karena belum memperhitungkan modal sendiri yang ditanamkan oleh investor Data pembentukan modal domestik bruto mempunyai 2 unsur yaitu pembentukan modal tetap domestik bruto dan ditambah perubahan stock. Pembentukan modal tetap domestik bruto mencakup pengadaan, pembuatan atau pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan barang modal baru atau bekas dari luar negeri. Barang modal yang dibeli atau dibuat adalah barang tahan lama yang digunakan untuk berproduksi dan biasanya berusia pakai setahun atau lebih. Pembentukan modal tetap domestik bruto dibedakan atas 1) pembentukan modal tetap berupa bangunan/konstruksi,

15 2) pembentukan modal tetap berupa mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan yang berasal dari impor maupun hasil produksi dalam negeri. Metode yang dipakai oleh Biro Pusat Statistik dalam perhitungan pembentukan modal tetap domestik bruto adalah pendekatan arus barang (commodity flow approach). Dalam perbandingan internasional menurut The Word Bank proporsi pembentukan modal domestik bruto Indonesia terhadap PDB (Pembentukan Modal Domestik Bruto) relatif lebih besar dibandingkan proporsi serupa untuk India dan Amerika Serikat, namun lebih kecil bila dibandingkan dengan proporsi untuk Cina, Malaysia dan Jepang. Ditelaah dari segi perkembangannya pertumbuhan pembentukan modal domestik bruto di Indonesia relatif lebih tinggi dari pada di negara-negara yang diperbandingkan tadi. Angka ini lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan pembentukan modal domestik bruto India, Cina dan Malaysia bahkan juga dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. Kendati masih lebih tinggi dibandingkan dengan India, Malaysia, Jepang dan Amerika Serikat namun angka tersebut lebih rendah daripada pertumbuhan pembentukan modal domestik bruto di Cina (11,1%). Secara tak langsung gejala itu mengindentifikasikan bahwa sepanjang kurun waktu telah bagi investor asing relatif menarik untuk menanam modal di Cina dari pada di Indonesia. Tabungan nasional atau tabungan domestik setiap tahunnya meningkat. Kenaikan tabungan nasional disumbang oleh tabungan masyarakat dan tabungan pemerintah. IV. Investasi Swasta Peranan Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing Penanaman modal oleh pihak swasta di Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun seiring dengan situasi ekonomi di tanah air dan dunia internasional. Nilai investasi yang diajukan dan kemudian disetujui meningkat pesat terutama Penanaman Modal Dalam Negeri sejak tahun 1980. Baik dalam Pelita I maupun Pelita II mayoritas penanaman modal tertuju ke sektor industri pengelolaan. Selama Pelita I persetujuan Penanaman Modal Dalam Negeri masih terpusat di Jawa baru sejak Pelita II penyebaran ke luar Jawa mulai terlaksana terutama ke Sumatera. Walaupun demikian Jawa tetap dominan menyerap menyerap proyek-proyek PMDN dan PMA yang ada, khusus untuk PMA didominasi oleh investor-investor Jepang. Menjelang akhir Pelita I terjadi kerusuhan berbentuk perusahaan produk-produk buatan Jepang dan unjuk rasa atas kedatangan Perdana Menteri Kekuei Tanaka di Jakarta pada tanggal 15 Januari 1974 yang dikenal dengan peristiwa Malari Akan tetapi kasus itu tidak mengundurkan semangat investor investor Jepang untuk meningkatkan penanaman modal mereka di Indonesia dalam Pelita II bahkan dalam Pelita-Pelita selanjutnya. Tahun 1973 pemerintah membentuk BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menggantikan lembaga embrionalnya Team Teknis

16 Penanaman Modal. Tanggal 22 Januari 1974 setelah melalui sidang dewan stabilisasi ekonomi nasional, terbit instruksi presiden yang mengharuskan investasi-investasi asing di masa datang berbentuk joint venture dengan pemodal pribumi. Instruksi tersebut dikeluarkan dalam rangka meningkatkan peran serta golongan ekonomi nasional termasuk golongan ekonomi lemah yang sebagian besar penduduk pribumi. Industri ini juga mengatur ketentuan perbandingan penguasaan saham PMDN antara pribumi dan non pribumi harus diusahakan agar mencapai keseimbangan minimal 50% : 50%. Selama Periode III jumlah PMDN berkembang pesat baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai investasinya. Mayoritas PMA bukan berasal dari Jepang tapi Luxemburg. Gairah investasi meningkat luar biasa dalam masa Pelita IV dimana jumlah proyek serta nilai investasi domestik dan asing meningkat hebat. Para investor Jepang kembali merajai PMA di Indonesia lalu menyusul pemodalpemodal dari Hongkong. Sektor yang menarik minat kalangan investor tetap saja sektor industri pengolahan dengan lokasi pilihan utama wilayah kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) Dalam periode Pelita IV (1 April 1984- 31 Maret 1989) terbit sejumlah keputusan penting tentang penanaman modal. Diantaranya Instruksi Presiden No. 5 / tahun 1984; Surat Keputusan Ketua BKPM No. 10 / Tahun 1985; Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 20 dan No. 21 / tahun 1986. Dokumendokumen tersebut berisi kebijaksanaan penyederhanaan prosedur perizinan penanaman modal serta penyempurnaan Daftar Skala Prioritas. Kebijaksanaan deregulasi inilah yang merangsang investasi sehingga perkembangan amat mengesankan. Penanaman modal oleh kalangan swasta semakin marak sepanjang Pelita IV dan pemerintah secara beruntun meluncurkan sejumlah kebijakan deregulasi dalam bidang penanaman modal. Diantaranya tentang pemanfaatan tanah hak guna usaha dan hak guna bangunan (Keppres No. 34 / Tahun 1992); penyederhanaan tata cara perizinan penanaman modal terutama di tingkat daerah (Keppres No. 97 / Tahun 1993); penyederhanaan impor mesin dan barang modal lain dalam keadaan bukan baru (SK Menteri Perdagangan No. 34 / Tahun 1993); rasionalisasi Daftar Negatif Investasi (SK Presiden No. 54 / Tahun 1993). Kebijakankebijakan ini dimaksudkan untuk lebih merangsang lagi minat berinvestasi. V. 1. Kebijakan Investasi Semasa Orde Lama Indonesia sempat menentang masuknya modal asing khususnya modal dari negara-negara Barat bahkan bersikap anti produk mereka. Karena rejim pemerintahan saat itu lebih condong bergaul dengan negaranegara blok Timur yang komunis sehingga modal asing dan barang impor yang membanjiri pasaran dalam negeri pada umumnya datang dari negara Uni Sovyet dan Republik Rakyat Cina. Pemerintahan Orde Baru yang tampil sesudah gagalnya kudeta oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) membuka diri kembali

17 terhadap modal asing. Pemerintah juga merangsang kalangan swasta dalam negeri untuk menanam modal. Pada tahun-tahun awal pemerintahan rejim Orde Batu penerbitan dua Undang-undang investasi yaitu UU No. 1 / Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan UU No. 6 / Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri. Pemerintah sengaja lebih dahulu membuat Undang-undang tentang modal asing dengan persyaratan yang amat ringan, mengingat saat itu investasi diperlukan sekali untuk membantu memulihkan perekonomian dalam negeri yang porak poranda. Dalam UU No. 1 / Tahun 1967 antara lain ditetapkan : 1. Penanaman modal dibebaskan dari pajak deviden serta pajak perusahaan selama lima tahun; keringanan pajak perusahaan PMA lebih besar dari 50% selama lima tahun; izin untuk menutup kerugian perusahaan sampai periode sesudah tax holiday ; pembebasan PMA dari bea impor atas mesin, perlengkapan, bahan baku. 2. Jaminan tidak akan dinasionalisasikannya perusahaanperusahaan asing dan kalaupun dinasionalisasikan akan diganti rugi. 3. Masa operasional PMA 30 tahun dengan perpanjangannya tergantung pada hasil perundingan ulang. 4. Keleluasaan bagi PMA untuk membawa serta atau memilih personil menamejennya dan untuk menggunakan tenaga ahli asing bagi pekerjaan yang belum bisa ditangani oleh tenaga-tenaga Indonesia. 5. Kebebasan untuk mentransfer valuta asing keuntungan dan dana penyusutan yang diperoleh dari penjualan saham disediakan bagi orang Indonesia. 6. Sektor-sektor atau bidang usaha yang dinyatakan tertutup bagi modal asing yaitu meliputi pekerjaan umum (pelabuhan dan pembangkit tenaga listrik) ; media massa, pengangkutan (pelayaran dan penerbangan) ; prasarana serta segala industri yang berhubungan dengan kegiatan produksi untuk keperluan pertahanan negara. Undang-Undang yang berisi 13 bab dan 31 pasal ini diundangkan per 10 Januari 1967 kemudian dilengkapi dengan UU No. 11/Tahun 1970. Undang Undang penyempurnaan ini lebih merinci lagi berbagai kelonggaran dalam bidang perpajakan bagi PMA. UU No.6/Tahun 1968 tentang PMDN berintikan pemberian sejumlah kemudahan dalam bidang perpajakan dan kredit kepada para PMDN. Undang-Undang inipun kemudian disempurnakan dengan UU No. 12/tahun 1970. V. 2 Deregulasi Investasi Penyederhanaan penyederhanaan peraturan di bidang penanaman modal berlanjut terus sepanjang tahun 1990-an. Pada bulan April 1992 keluar PP No. 17/Tahun 1992, isinya khusus menyangkut dikenal sebagai ketentuan disinvestasi mengatur antara lain : 1. Investor asing dapat mendirikan perusahan patungan dengan ketentuan modal minimal US$ 1 juta dan 20% sahamnya dimiliki oleh mitra indonesia, tapi dalam 20 tahun setelah berproduksi

18 pangsa modal indonesia harus ditingkatkan minimal 51%. 2. Pembukaan kesempatan penanaman modal asing 100% bersayarat, yaitu modal minimal US$ 50 juta dan berlokasi di kawasan Timur Indonesia, Bengkulu atau Jambi; atau berlokasi dikawasan berikat dengan hasil produksi seluruhnya untuik ekspor; dalam waktu 5 tahun setelah produksi komersial 5% sahamnya wajib dialihakn kepada pihak indonesia. Selanjutnya untuk Penanaman Modal Asing 100% yang berdiri diluar kawasan berikat dalam waktu 20 tahun 20% sahamnya harus dialihkan menjadi milik pihak Indonesia. Kemudian sebuah paket deregulasi yang terdiri atas sejumlah KEPRES dan Peraturan Menteri diluncurkan tanggal 7 Juli 1992 yang mngatur 10 bidang, 2 bidang tentang impor sednagkan 8 bidang tentang investasi atau produksi yaitu : 1. Impor mesin, perlataran mesin dan barang modal lainnya dalam keadaan bekas dapat diimporkan sendiri oleh perusahaan yang membutuhkannya atas izin Dirjen Perdagangan Luar Negeri atau Kakanwil setempat atau melalui PT Dharma Niaga, Kerta Niaga, Mega Eltra, Panca Niaga atau Cipta Niaga. Sebelum deregulasi hanya setengah niaga tertentu saja yang boleh mengimpornya. 2. Rencana penggunan tenaga kerja asing tidak lagi memerlukan rekomendasi dari departemen teknis. Izin perpanjangan yang sebelumnya hanya dikeluarkan oleh Departemen tenaga Kerja untuk non PMA/PMDN ke BKPMD untuk PMA dan PMDN serta cukup ke Kanwil. Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi untuk tenaga kerja di hotel dan restoran. 3. Daftar Negatif Investasi (DNI)dalam kebijaksanaan tahun sebelumnya tercantum 60 macam dikurangi menjadi 51 macam yang ditetapkan dnegan KEPPRES No. 32/Tahun 1992. 4. Hak Guna Usaha dapat diberikan kepada PMA patungan untuk jangka waktu 30 tahun dan dapat diperpanjang 25 Tahun serta dapat dijadikan jaminan. Ketentuan ini ditugaskan dalam KEPPRES No. 14 / Tahun 1992. 5. Penerbitan peratruan Menteri Dalam Negeri tentang rencana tapak tanah dan tata tertib pengusahaan kawasan industri dan di luar kawasan industri, lanjut dnegan peratruan Menteri Dalam Negeri No. 5 dan No. 7 / tahun 1992 serta Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3/Tahun 1992. 6. Izin mendirikan Bangunan dikawasan industri diberikan langsung oleh Bupati/Kepala Daerah Tingkat Dua dalam waktu 7-14 hari kerja. Izin UndangUndang gangguan perusahaan terkait dengan izin UU gangguan kawasan industri diberikan juga oleh Kepala Daerah dalam waktu 32 hari kerja. Sebelumnya belum ada ketentuan tentang IMB dan UUG di kawasan industri 7. Pelayanan IMB dan izin UUG diperlakukan sama untuk perusahaan PMA / PMDN maupun non PMA / PMDN. IMB diberikan oleh Bupati / Walikota dengan waktu yang lebih cepat 8. Pengaturan tentang izin lokasi dan perolehan tanah dikeluarkan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional, sebelumnya hal tersebut diatur oleh Menteri Dalam Negeri

19 untuk PMA/PMDN dan oleh masingmasing daerah untuk non PMA / PMDN Lima belas bulan kemdian pemerintah menderugalasi kembali sejumlah peraturan dalam bidang penanaman modal. Rangkaian kebijaksanaan yang diluncurkan tanggal 23 Oktober 1993 dikenal dengan sebutan PAKTO 1993, mengatur 6 bidang. Dua bidang berkaitan dengan penanaman modal khsusunya menyangkut pengalihan saham PMA dan perizinan. PAKTO 1993 diluncurkan sebagai tanggapan pemerintah atas reaksi dunia usaha terhadap PP No. 17 / Tahun 1992. Kalangan pengusaha menilai PP tersebut tidak menarik sehingga isi PAKTO 1993 bersifat pelunakan terhadap ketentuan di PP No. 17 / Tahun 1992, khususnya tentang alih saham atau disinvestasi bagi PMA 100% yaitu sebagai berikut : 1. Keharusan ekspor bagi PMA 100% di dalam kawasan berikat tidak lagi harus 100% tapi cukup 80% hasil produksi. Selain itu 25% realisasi ekspor dapat dipasarkan di dalam negeri. 2. Ketentuan alih saham kepada pihak Indonesia bagi PMA 100% di dalam kawasan berikat diperpanjang menjadi 10 tahun sejak produksi komersial, sebelumnya 5 tahun. Kemudian ditambah dalam waktu 20 tahun minimal 20% sahamnya wajib teralih kepada pihak Indonesia melalui pemilihan langsung atau saham pasar modal. 3. Ketentuan alih saham untu PMA 100% di luar kawasan berikat disamakan seperti PMA 100% di dalam kawasan berikat. Ketentuan modal setor minimal tidak berubah tetap US$ 50 Juta. 4. Adanya aturan tambahan tentang PMA 100% dengan modal setor minimal lebih kecil yaitu US$ 2 Juta khusus industri penunjang untuk PMA golongan ini berlaku ketentuan alih saham sebagaimana di atas. Selain menyangkut alih saham PAKTO 1993 juga mengatur ulang ketentuan perizinan yang sebelumnya diatur dalam PAKJUL 1992, inti isinya meliputi : 1. Penyederhanaan prosedur izin pencadangan tanah dan izin lokasi. Investor dapat berhubungan langsung dengan Badan Pertanahan Nasional Dati II untuk mendapatkan izin lokasi tanpa perlu melakukan pencadangan tanah. 2. Prosedur IMB untuk industri disederhanakan dan pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan tanpa harus menunggu terbitnya IMB. 3. Prosedur izin UUG juga disederhanakan untuk kawasan industri dan industri wajib AMDAL tidak lagi memerlukannya. Kendati deregulasi demi deregulasi selalu diluncurkan ternyata masih belum cukup baik oleh dunia usaha maupun oleh Pemerintah. PP No. 20 / Tahun 1994 menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat luas yang memperlunak lagi ketentuan tentang PMA 100% tentang modal, lokasi usaha, kegiatan usaha dan izin usaha yaitu sebagai berikut : 1. Besarnya modal investasi diserahkan sepenuhnya kepada investor yang bersangkutan. Selain diizinkan menambah modal usaha perusahaan PMA 100% yang sudah diproduksi komersial juga boleh mendirikan perusahaan baru; serta membeli saham perusahaan PMDN dan atau perusahaan yang didirikan

20 bukan dalam rangka PMDN atau PMA sepanjang bidang usahanya terbuka bagi penanam modal asing. 2. PMA 100% bebas untuk melaksanakan usaha dimana saja di seluruh Indonesia. Sebelumnya PMA langsung 100% dibatasi hanya boleh beroperasi di daerah tertentu seperti kawasan berikat, kawasan industri dan kawasan Timur Indonesia. 3. PMA patungan (Bukan PMA langsung 100%) diizinkan memasuki kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. Termasuk dalam kategori ini misalnya sektor jasa pelabuhan, pelayaran, penerbangan, telekomunikasi, media masa dan pembangkit tenaga atom. 4. perusahaan yang didikan dalam rangka PMA diberi izin usaha selama 30 tahun sejak produksi komersial. Perpanjangan izin dimungkinkan asalkan usahanya dinilai bermanfaat, dalam arti berdampak positif bagi ekspor, penciptaan kesempatan kerja, penerimaan pajak, lingkungan hidup dan perekonomian nasional. Paket kebijaksanaan 23 Mei 1995 menghapus 10 bidang usaha dari Daftar Negatif Investasi sehingga terbuka kembali bagi investor baru. Kesepuluh bidang usaha meliputi industri minyak goreng kelapa sawit, industri Block board, barang jadi atau setengah jadi rotan, katel uap, kendaraan bermotor, sigaret putih mesin, diposable gas lighter, formulasi obat, perbengkelan pesawat usaha serta jasa penunjang perdagangan periklanan. Selain pembukaan kembali 10 bidang usaha 5 bidang usaha dinyatakan tertutup mutlak baik bagi PMA, maupun PMDN. Kelima bidang tersebut adalah pengolahan barang jadi atau barang setengah jadi kayu bakar, industri siklamat dan sakarin, industri siklamat dan sakarin industri pulp dengan proses sulfit, industri chlor dengan proses merkuri serta industri chloro floro carbon (Freon). Disamping itu 5 bidang usaha lainnya lagi dinyatakan tertutup bagi PMA langsung 100% yaitu pembangunan dan pengusahaan pelabuhan, produksi transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum, telekomunikasi pelayaran, pembangunan dan pengusahaan air minum, kereta api umum, pembangkit tenaga atom dan usaha penunjang perdagangan dalam negeri. Dengan demikian sejumlah bidang usaha yang tadinya sudah dibuka bagi PMA 100% dipagari kembali. VI. KESIMPULAN Dinamika kebijaksanaan Penanaman Modal Asing di Indonesia terkesan bahwa pemerintah berada di persimpangan jalan yang sulit dimana deregulasideregulasi peraturan begitu mudah dan cepat berganti sehingga dapat dipastikan peraturan-peraturan baru dalam bidang Penanaman Modal Asing masih akan tetap diluncurkan. Salah satu determinan Penanaman Modal Asing adalah kebijaksanaan deregulasi peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam bentuk paket-paket deregulasi. Krisis hutang luar negeri yang dialami negara berkembang telah mempercepat hilangnya kepercayaan negara maju untuk memberikan hutang baru dalam jumlah yang lebih besar. Akibatnya maka aliran modal beralih ke negara maju karena jumlah tersebut lebih kecil dari jumlah cicilan dan bunga

21 hutang yang harus dibayar. Aliran modal asing ke negara berkembang dalam bentuk investasi langsung swasta asing bukanlah merupakan alternatif pengganti dari hutang luar negeri. Hal ini antar lain disebabkan karena investor swasta asing tidak akan tertarik menanamkan modalnya untuk membangun prasarana (social overhead capital) yang selama ini dibiayai dengan hutang luar negeri bersyarat lunak melalui official Development Assistance (ODA). Jumlah dana untuk investasi langsung swasta asing yang tersedia di negara maju diprediksi akan meningkat dalam beberapa tahun yang akan datang karena akan menurunnya tingkat bunga nominal pertahun. Dan tingkat bunga riil per tahun. Akibatnya dana pemilik modal dari negara anggota OPEC yang selama ini didepositokan di bank dan dana dari pemilik modal di negara maju untuk membiayai pinjaman komersial akan bergeser menjadi dana untuk investasi langsung di negara berkembang tapi bagaimanapun juga prospeknya di masa yang akan datang akan lebih banyak ditentukan oleh faktor prospeknya di masa yang akan datang akan lebih banyak ditentukan oleh faktor internal yang berada di negara berkembang sendiri terutama outward looking policies and strategies (kebijaksanaan pembangunan berorientasi pasar luar negeri). DAFTAR PUSTAKA Agarwal, An dan Kundar, 1993. Economics of Development and Planning. New Delhi : Vikan Publishing House. Internasional Menotary Fund, 2008. Foreign Private Investment in Developing Countries Occasional Paper No.83 Washington D.C Jorgensen, Dale W, 1997. The Theory Investment Behavior dalam Rober Ferber (ed) Determinants of Investment Behavior. New York : National Bureau of Economic Rescarch. Michalopoulos, Constantine, 2005. Private Direct Investment, Finance and Development, Asian Development Review Volume 5 No.2 Hal 59-71. Pearson, Lester B. 2002. Partners in Development. New York : Praeger Publishers. Prebisch, Rauld, 2004. Toward a New Policy for Development, Report by the Secretary General of UNCTAD, United Nation. Rana, PRadumna, 2005. Foreign Direct Investment and economic Growth in the Asian and Pacific Region, Asian Development Review Volumes No. 1 Hal 100115. Sekiguchi, Sue and Hawrence B. Krause, 2000. Direct Foreign Investment in ASEAN by Japan and the United States dalam ASEAN in a Changing World Economy. Canberra : Australian National Univercity Press.

22 PENANGANAN PERKARA POLITIK UANG (MONEY POLITIK) PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG DELFINA GUSMAN, SH. MH dan SUHARIZAL, SH. MH ABSTRACT The Act 32/2004 as law device which regulate the concern of local election should be expected can create the delicate regulation of bribery and tend it provide the opportunity for people to involved in the practice of bribery both in the political party level and each stage of election due. The handling mechanism of bribery case in the criminal court system stayed refer to criminal law regulation (KUHAP) and utilized the law sanction stated on Act UU 32/2004 as guide of criminal punishment will be verdict to defendant. Three ways is compatible to be performed in order to prevent the bribery practice, through mechanism of report and audit of campaign fund of election directly, through supremacy of law, and organizing voters by voter its self. PENDAHULUAN Salah satu perubahan mendasar dari hasil amandemen UUD 1945 adalah menyangkut masalah pengisian jabatan kepala daerah. Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 menyatakan bahwa gubernur, bupati dan walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis. Frasa dipilih secara demokratis mengisyaratkan bahwa proses pemilihan kepala daerah dengan sistem perwakilan (melalui institusi DPRD) yang berlangsung sebelum amandemen UUD 1945 masih sangat jauh dari demokratis.22 Menurut Jimly Asshiddiqie23 perkataan dipilih secara demokratis bersifat luwes, sehingga mencakup pengertian pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat ataupun oleh DPRD seperti yang pada umumnya sekarang dipraktekkan di daerahdaerah berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai suatu sistem, sistem pilkada langsung mempunyai bagianbagian yang merupakan sistem sekunder (secondary system) atau subsistem (subsystems). Bagian-bagian tersebut adalah electoral regulation, electoral process dan electoral law enforcement. Electoral regulation adalah segala ketentuan atau aturan mengenai pilkada langsung yang berlaku, bersifat mengikat dan menjadi pedoman bagi penyelenggara, calon dan pemilih dalam menunaikan peran dan fungsi masing-masing. Electoral process dimaksudkan seluruh kegiatan yang terkait secara langsung dengan pilkada yang merujuk pada ketentuan perundang-undangan baik yang bersifat legal maupun teknikal. Electoral law enforcement yaitu penegakkan hukum terhadap aturan-aturan pilkada baik politis, administratif atau pidana.24

Dosen pada Fakultas Hukum Univ. Andalas

22 Menurut Bagir Manan menjelaskan bahwa demokrasi bukan hanya substansi, tetapi juga prosedur dan tata cara (substantive democracy and procedural democracy). (lihat; Bagir Manan, DPR, DPD, MPR dalam UUD 1945 yang baru, FH UII Press, 2003. hlm. 78) 23 Jimly Asshiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Pusat Studi Hukum Tata Negara UI, 2002, hlm. 22 24 Joko J. Prihatmoko, (2005), Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Filosofi, sistem dan problematika Penerapan di Indonesia,

23 Ketiga bagian sistem pilkada langsung tersebut sangat menentukan sejauhmana kapasitas sistem dapat menjembatani pencapaian tujuan dari proses awalnya. Masing-masing bagian tidak dapat dipisah-pisahkan karena merupakan suatu kesatuan utuh yang komplementer. Termasuk halnya dengan sistem pendaftaran dan penetapan daftar pemilih. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru saja menyepakati pengganti Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan sudah disahkan oleh presiden menjadi Undang-undang No. 32 Tahun 2004. sebagian isi Undang-undang yang baru ini (Pasal 56 s/d Pasal 119) berisi prosedur dan mekanisme pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh rakyat.25 Ramlan Surbakti menjawab pertanyaan mengapa kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum? Jawaban yang pertama agar lebih konsisten dengan sistem pemerintahan presidensial.
penerbit Pustaka Pelajar bersama LP3M Univesitas Wahid Hasyim. Hal. 201 25 Ramlan Surbakti, Pemilihan Kepala Daerah Secara langsung Oleh Rakyat Merupakan Bagian Dari Pemilihan Umum. Beliau menjabat sebagai wakil ketua KPU, dalam pandangannya bahwa pengaturan pilkada dalam UU No.32 Tahun 2004 mengacu pada pasal-pasal pemda bukan pasal pemilu yang termasuk di dalam UUD 1945, sehingga pilkada bukan dianggap sebagai pemilu. Jalan pikiran pembuat UU seperti ini tidak tepat baik dari segi konstitusi maupun dari upaya pelembagaan system pemilu . dampaknya akan sangat buruk terhadap pengembangan system pemilu di negeri ini dan bahkan akan menghancurleburkan tata cara teknis proses penyelenggaraan pemilu yang sudah mulai di pahami oleh petugas pelaksana masyarakat. Karena itu, perlu diajukan uji materiil beberapa pasal UU No.32 Tahun 2004 ke Mahkamah Konstitusi atau meminta pemerintah merevisinya. Jakarta : Jurnal Pamong Praja edisi 2-2005. Hal 23

Sistem pemerintahan presidensial antara lain ditandai oleh pemilihan kepala pemerintahan secara langsung oleh rakyat. Kedua, untuk menciptakan pembagian kekuasaan yang seimbang dan saling mengecek antara DPRD dan kepala daerah/wakil kepala daerah. Salah satu ciri pemerintahan yang menganut pembagian kekuasaan yang seimbang dan saling mengecek adalah baik lembaga legislatif maupun eksekutif sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.26 Pilkada langsung di Indonesia yang dimulai Juni 2005 sering dikatakan sebagai lompatan demokrasi. Istilah ini bisa diartikan positif maupun negatif. Dalam pengertian positif, pilkada langsung sebagai sarana demokrasi memberikan kesempatan kepada rakyat sebagai infrastruktur politik untuk memilih kepala daerahnya secara langsung melalui mekanisme pemungutan suara. Sarana ini akan membuat keseimbangan dengan suprastruktur politik, karena melalui pemilihan langsung rakyat dapat menentukan jalannya pemerintahan dengan memilih pemimpin yang dikehendaki secara bebas dan rahasia.
Ramlan Surbakti, Pilkada Langsung dan Kepemimpinan Daerah Yang Efektif, Surabaya : Java Pustaka Media Utama. Hal v. System pemerintahan presidensial juga di tandai, presiden sebagai kepala pemerintahan dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum, maka kepala daerah untuk daerah otonom juga dipilih secara langsung oleh rakyat secara langsung melalui pemilihan umum. Antara DPRD dan Kepala daerah keduanya mempunyai kekuasaan yang seimbang dengan tugas dan kewenangan yang berbeda, keduanya saling mengontrol melalui pembuatan peraturan daerah dan APBD, dan keduanya memiliki legitimasi dari rakyat.
26

24 Dalam pengertian negatif, Pilkada langsung sebagai lompatan demokrasi mencerminkan penafsiran sepihak atas manfaat dan proses pilkada. Proses ini sering dianggap sebagai pesta demokrasi rakyat dimana rakyat berhak untuk membuat apa saja, termasuk tindakatindakan anarki, baik atas inisiatif sendiri maupun yang dimobilisasi oleh kandidat dan pendukungnya atau karena dorongan partai politik sebagai pihak yang mengajukan kandidat tersebut. Bagi masyarakat umum, pilkada langsung sering juga ditafsirkan sebagai kesempatan bagibagi uang. Mereka tahu bahwa tiap-tiap kandidat menyediakan anggaran yang cukup besar untuk memenangkan kompetisi.27 Itulah fenomena money politics dalam pilkada yang di tengah kegamangan lompatan demokrasi tersebut lahirnya cendrung ditoleransi keberadaannya. Dengan alasan, kedua belah pihak baik kandidat maupun rakyat sama-sama membutuhkannya. Sepanjang tidak ada unsur pemaksaan dan intimidasi atau bentuk-bentuk kekerasan politik lainnya, praktek politik uang semacam itu biasanya sulit untuk ditindak atau dikenai hukuman, kecuali yang tertangkap basah. Pelaku yang tidak tertangkap akan sulit melacaknya, apalagi jika mempertimbangkan suatu klausul bahwa calon pemilih bisa saja menerima pemberian uang oleh kandidat atau tim suksesnya, namun dia bebas
27 Amirudin dan Zaini Bisri, Pilkada Langsung Problem dan Prospek, Penerbit Pustaka Pelajar, 1 Januari 2006 , hal 1. Bahwa tiap-tiap kandidat menyediakan anggaran yang cukup besar, anggaran itu biasanya untuk pospos pengeluaran utama berupa pemeliharaan jaringan pendukung dari tim sukses samapi ketingkat kordinator lapangan di desa-desa, biaya untuk kampanye, biaya lobi dan promosi, biaya untuk konsumsi. Dengan rata-rata anggaran kandidat yang cukup besar, wajar apabila rakyat berharap dapat ikut merasakan kecipratan uang itu.

menentukan pilihannya. Klausul inilah yang biasanya dianggap sebagai jalan kompromi untuk menoleransi politik uang ditengah berlakunya hukum ekonomi pilkada, yaitu adanya supply and demand antara pihak kandidat dan pemilih.28 Harkristuti Harkrisnowo29 dalam diskusi bertema politik uang dalam pilkada di Jakarta menjelaskan bahwa: ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung dinilai masih terlalu longgar sehingga belum bisa menjerat para pelaku politik uang (money politics) dengan hukuman yang setimpal. Dengan Undang-undang yang masih mempunyai banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan kecurangan, termasuk praktek politik uang. Akibatnya, indikasi praktek politik uang oleh seorang
28 Ibid..hal 4. Fenomena politik uang, intimidasi, kekerasan dan anarki yang menyertai pelaksanaan pilkada langsung merupakan bentuk-bentuk distorsi dalam proses pilkada. Ketika elit politik nasional memutuskan untuk mengganti model pemilihan kepala daerah dari pemilihan lewat DPRD (system perwakilan) ke model pemilihan langsung, mereka berharap berbagai distorsi atau penyimpangan yang terjadi dalam model pemilihan lewat DPRD dapat dihilangkan lewat pilkada langsung. 29 Harkristuti Harkrisnowo, Perundangundangan Pilkada Tidak Tegas Pelaku Politik Uang Sulit Dijerat, www.komisihukum .go.id/news. 04 Juli 2005. beliau Guru Beasr Hukum Pidana UI menambahkan bahwa proses peradilan untuk kasus itu sangat terbatas karena belum banyak penegak hukum yang menganggap praktek politik uang sebagai tindak criminal. Kebanyakan dari mereka masih menganggap politik uang sebagai kenakalan politik.

25 calon kepala daerah bisa dengan mudah dipatahkan dengan alasan si pemberi materi atau uang bukanlah calon kepala daerah yang bersangkutan atau tim suksesnya. Saat ini tengah berlangsung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung di Indonesia. Tentu masyarakat Indonesia berharap pilkada langsung yang untuk pertama kali diselenggarakan ini dapat berjalan secara demokratis, jujur dan adil. Dari gambaran singkat diatas, sangat banyak faktor-faktor untuk terjadinya pelanggaran politik uang dalam pelaksanaan Pilkada secara langsung, dan juga sangat sukar untuk menjerat pelakupelaku politik uang dalam Pilkada sampai ke proses pengadilan. A.FAKTOR PENDORONG MUNCULNYA SUAP PILKADA Ruang sempit yang disediakan untuk calon independen hanya sekadar basa-basi guna menimbulkan kesan demokratis. Dikatakan demikian, kewajiban untuk memberikan kesempatan kepada calon perorangan tidak diikuti dengan sanksi yang tegas jika partai politik tidak melaksanakannya. Apalagi ada aturan bahwa proses seleksi calon perorangan harus sesuai dengan mekanisme internal partai politik. Pertanyaannya, sudah seberapa banyakkah partai politik membuat aturan internal yang memungkinkan calon perorangan bersaing secara fair?30 Persoalan ini merupakan pintu awal masukkan suap pada proses pilkada langsung.31
Saldi Isra, (2005), Menuju Pilkada yang Demokratis, Kompas, 21 Februari 2005 31 Menurut Syamsuddin Haris, paling kurang ada lima sumber konflik potensial, baik menjelang, saat penyelenggaraan, maupun pengumuman hasil pilkada. Dua diantaranya adalah; pertama konflik yang bersumber dari manipulasi dan kecurangan
30

Tidak hanya dalam masalah sanksi, ketentuan yang ada tidak melarang kemungkinan terjadinya praktik suap dalam seleksi calon kepala daerah. Artinya, dengan adanya keharusan partai politik menjadi satusatunya pintu yang dapat digunakan untuk menjadi calon kepala daerah, yang terancam bukan hanya pemilihan umum yang demokratis tetapi terbukanya kemungkinan terjadinya praktik suap besar-besaran dalam proses pengajuan pasangan calon.32 Bisa jadi, semakin besar persentase jumlah kursi partai politik, bandrol yang ditawarkan juga akan semakin tinggi. Ibarat sebuah tender terbuka, kata Teten Masduki, pembelian suara

penghitungan suara hasil pilkada. Konflik jenis ini terutama berpeluang muncul di daerahdaerah di mana kepala daerahnya maju kembali sebagai kandidat untuk jabatan kedua. Netralitas panitia pilkada di tingkat kecamatan (PPK) dan desa/kelurahan (PPS) amat menentukan. Potensi konflik juga bisa muncul jika aparat birokrasi (PNS, TNI, dan Polri) cenderung memobilisasi dukungan bagi kandidat dari unsur PNS, TNI, dan Polri. Kedua, konflik yang bersumber dari perbedaan penafsiran terhadap aturan main penyelenggaraan pilkada. Sejumlah ketentuan pilkada yang diatur dalam UU No 32 Tahun 2004, PP No 6 Tahun 2005, dan aturan main lain seperti Inpres, Keppres, Perpres, dan Kepmendagri, potensial mengundang konflik jika ditafsirkan secara berbeda oleh peserta (kandidat berikut partainya), penyelenggara pilkada (KPUD), dan pemda serta DPRD (Syamsuddin Haris, Mengelola Potensi Konflik Pilkada, Kompas, 10 Mei 2005) 32 seorang calon independen Wali Kota Denpasar I Gede Widiatmika mengaku diminta menyiapkan dana ratusan juta rupiah oleh seorang calo partai politik tertentu jika mau maju sebagai calon. Direktur Lembaga Bantuan Hukum Bali itu mengaku kaget dengan besarnya dana yang harus disiapkan dan akhirnya mundur. (Kompas, 20 April 2005)

26 biasanya akan dimenangkan oleh the highest bidder (Kompas, 11/2).33 Celakanya lagi, Definisi suap dalam Undang-Undang No 32/2004 dan PP No 6/2005 tidak terlalu jelas cakupannya. Definisi suap dalam UU No 32/2004 itu secara implisit tercantum dalam Pasal 82 Ayat (1) yang menyebutkan, Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. Kemudian Ayat (2), Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. Dengan definisi seperti itu sulit diaplikasikan di lapangan. Dalam kenyataannya suap terjadi sejak pasangan calon mendaftarkan diri pada partai politik hingga ke masa kampanye. Pencalonan kepala daerah yang harus melalui pintu partai politik yang memenuhi persyaratan tertentu diprediksi bakal menjadi pintu masuk terjadinya konflik. Karena calon nonpartai yang dikenal mempunyai pendukung kuat pun harus melalui pintu parpol, bisa timbul masalah jika keinginan tersebut ternyata tidak diakomodasi oleh parpol yang ada. Elite parpol yang berpikir pragmatis tentunya tidak akan dengan gampang memberi jalan kepada calon yang bukan kader partainya. Selain itu, polarisasi politik juga menjadi faktor pemicu konflik. Jika keragaman parpol, kelompok etnis, atau agama tidak menjadi pertimbangan parpol atau gabungan parpol dalam mengajukan pasangan calonnya, bisa muncul kekerasan dari kelompok yang merasa terancam eksistensinya akibat datangnya rezim monolitik itu. Konflik dalam pengertian longgar, yakni perbedaan sosiokultural, politik, dan ideologis di antara berbagai kelompok masyarakat, pada dasarnya tak bisa dipisahkan dari hakikat keberadaan manusia dalam kehidupan kolektif. Apalagi bangsa kita dianugerahi keanekaragaman sosio-kultural yang bahkan sering saling tumpang tindih. Karena itu wajar jika bangsa yang heterogen ini menyimpan potensi konflik tinggi. Masalahnya bukan saling menyalahkan karena perbedaan asal-usul, tetapi bagaimana mengelola perbedaan secara arif sehingga bisa menjadi modal sosio-kultural yang memperkokoh ikatan kebangsaan, tatapemerintahan, dan sistem demokratis.34 Dalam konteks memenuhi right to be candidate, apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan pemilihan kepala daerah yang demokratis? Dengan rentang waktu yang tersisa, partai politik seharusnya melakukan terobosan guna membuka kesempatan bagi orang-orang terbaik (baik kader partai maupun calon perseorangan) bersaing dalam seleksi internal partai politik. Kemudian, juga harus ada sikap bersama partai politik untuk mengharamkan praktik suap dalam mencari calon kepala daerah. B. POLA-POLA SUAP PILKADA Terbatasnya preferensi dari pemilih dalam mendapatkan figurfigur yang berkualitas. Karena banyak figur-figur yang memiliki kompetensi tinggi, justru pilihan politik mereka berada diluar, dan tidak bersedia masuk menjadi partisan partai politik.
Syamsuddin Haris, (2005), Mengelola Potensi Konflik Pilkada. Kompas, 10 Mei 2005
34

33

Ibid

27 Kalaupun calon perseorangan ini akhirnya masuk dalam bursa kompetisi intrenal partai politik maka posisi tawar mereka cenderung sangat lemah. Lebih jauh lagi, politik satu pintu cenderung akan memperluas konflik internal dalam partai politik. Dalam pertarungan internal sudah dapat dipastikan akan digunakan segala cara untuk memenangkan pertarungan; seperti penggunaan kekuatan uang, mobilisasi dukungan, premanisme dan juga manipulasi wacana. Hal di atas diperparah dengan fakta empirik yang menyatakan bahwa tidak semua parpol mau dan mampu mengembangkan mekanisme yang demokratis dalam menominasi calon yang diajukan. Seringkali yang justru muncul adalah cara-cara oligarkis yang memungkinkan segelintir elite memanfaatkan kesempatan untuk mendominasi proses pencalonan. Pada perspektif lain, UU Nomor 32 Tahun 2004 tidak memberi hak inisiatif kepada rakyat untuk mengajukan calonnya tanpa melalui partai politik. Dengan kata lain, rakyat hanya memiliki hak pilih dari calon-calon yang telah ditentukan oleh partai politik. Akibatnya, parpol masih tetap menjadi mesin politik utama menuju kekuasaan. Dan peran sebagai mesin kekuasaan inilah yang akan menjadi medan magnet terjadinya suap. Padahal UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu menyatakan setiap pemilih dan peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak mana pun. Menurut Indra J. Piliang, pusaran korupsi diperkirakan tidak sekuat pada masa 5 tahun kebelakang. Justru ada kecenderungan bahwa suap ini lebih menyebar dan menjangkau langsung kepada anggota masyarakat. Logikanya, suap akan mengikuti dimana suara berada. Pada saat berlakunya UU 5/1974, pemerintah pusat memiliki hak untuk memilih seorang Kepda dari 3 hingga 5 calon yang diajukan DPRD. Oleh karenanya tidak aneh jika sebagian terbesar kasus korupsi pada saat itu terjadi di tingkat pusat. Kemudian pada era UU 22/1999, korupsi dilakukan secara beramai-ramai oleh DPRD karena memang DPRD-lah pemegang hak pilih terhadap seorang kepala daerah. Kini, ketika suara (hak pilih) didistribusikan secara langsung kepada perseorangan, maka ranah korupsi-pun akan bergerak mengikuti pemilik suara tersebut. Dalam kaitannya dengan Putusan Perkara No. 005/PUUIII/2005 perihal pengujian atas penjelasan Pasal 59 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 terhadap UUD 1945 yang memberikan peluang kepada semua partai politik yang memperoleh suara (tanpa harus memiliki kursi di DPRD) untuk dapat mencalonkan pasangan calon kepala daerah, menurut penulis terasa amat janggal. C. PENANGANAN PERKARA SUAP Kiranya dapat dikemukakan bahwa sub sistem yang ada dalam sistem peradilan pidana adalah melibatkan unsur kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Hal ini juga berlaku dalam penangan perkara suap pilkada, Oleh karena itu mekanisme sistem peradilan pidana juga dapat dikatakan sebagai bekerjanya masing-masing unsur tersebut dalam kapasitas dan fungsinya menghadapi dan atau menangani tindak pidana suap pilkada yang terjadi. Dengan demikian tentunya dapat dipahami bahwa bekerjanya sistem peradilan pidana dimulai ketika adanya informasi-

28 informasi yang diterima oleh aparat Kepolisian baik melalui laporan, pengaduan, tertangkap tangan atau dilihat sendiri oleh penyidik tentang adanya dugaan kuat akan, sedang atau telah terjadi adanya tindak pidana suap pilkada, yang diformulasikan dalam pentahapan sebagai berikut: 1. tahap pertama Proses penyelesaian perkara pidana dimulai dengan suatu penyelidikan yang dilakukan oleh Penyelidik. Jika hasil penyelidikan menunjukan adanya dugaan keras tentang terjadi adanya tindak pidana selanjutnya diteruskan dengan penyidikan oleh aparat Penyidik. Dari semua rangkaian tindakan penyelidikan ataupun penyidikan tersebut sebagaimana diamanatkan menurut ketentuan Pasal 75 KUHAP masing-masing harus dibuatkan berita acaranya, misalnya : Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersangka, Berita Acara Penangkapan, Berita Acara Penahanan, Berita Acara Penggeladahan, Berita Acara Penyitaan dan lain sebagainya. Setelah selesai membuat masingmasing berita acara, kemudian berita acara tersebut disatukan dalam satu berkas dan diserahkannya berkas tersebut kepada Penuntut Umum tanpa disertai dengan barang bukti atau tersangkanya (vide Pasal 8 ayat (3) huruf a KUHAP). Sedangkan Tersangka dan barang bukti dalam suatu perkara pidana itu baru kemudian diserahkan kepada Penuntut Umum yaitu setelah penyidikan dianggap selesai (Vide Pasal 8 ayat (3) huruf b KUHAP). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bekerjannya sub sistem kepolisian dalam kapasitas fungsinya sebagai Penyidik berakhir sampai dilakukanya penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum. 2. Tahap Kedua Bekerjanya sub sistem Kejaksaan dimulai setelah menerima penyerahan tanggung jawab atas Tersangka dan barang bukti dari sub Kepolisian. Berdasarkan berkas perkara pemeriksaan dari sub Kepolisian sub Kejaksaan melalui organ Penuntut Umum terlebih dahulu melakukan pemeriksaan. Selanjutnya selama waktu yang telah ditentukan jika ternyata ada kekurangan pada penyidikan, maka Penuntut Umum memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan melalui lembaga prapenuntutan (Vide Pasal 110 ayat (3) jo. Pasal 138 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP). Istilah Prapenuntutan dalam KUHAP tercantum dalam Pasal 14 tentang wewenang penuntutan pada butir b yang berbunyi: mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan memberikan petunjuk dalam rangka penyempurnaan Penyidik. Sedangkan apa yang dimaksud dengan istilah Prapenuntutan ialah tindakan Penuntut Umum untuk memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan oleh penyidik. 35 Setelah Jaksa Penuntut Umum menganggap selesai prapenuntutan dan berkas perkara dinyatakan telah lengkap, Penuntut Umum membuat surat dakwaan yang bahan-bahannya dirumuskan dari berkas-berkas perkara yang telah diajukan oleh penyidik untuk kemudian dilanjutkan penuntutan (Vide Pasal 1 angka 7 KUHAP).
35 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana, Sapta Artha Jaya, Jakarta, 1996, hlm. 161

29 Berbicara tentang surat dakwaan adalah penting artinya bagi Penuntut Umum, hal ini dapat dihayati dari tujuan utama pembuatan surat dakwaan itu sendiri yaitu untuk menentukan batas-batas pemeriksaan di sidang Pengadilan yang menajdi dasar dari Penuntut Umum melakukan penuntutan terhadap pelaku kejahatan. 36 Sehingga dapat dikatakan bahwa surat dakwaan merupakan dasar ketentuan acara dimuka Pengadilan. 3. Tahap Ketiga Bekerjanya sub sistem Pengadilan berupa pemeriksaan perkara di muka Pengadilan, yang diawali dengan menerima pelimpahan perkara dari Penuntut Umum yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa, saksi serta kebenaran alat bukti yang ada diakhiri dengan memutus perkara pidana. Ketentuan ini didasarkan Pasal 147 KUHAP yang berbunyi : setelah Pengadilan Negeri menerima surat pelimpahan dari Penuntut Umum, Ketua mempelajari apakah perkara itu termasuk wewenang Pengadilan yang dipimpinnya. Atas dasar hal itu apabila Ketua Pengadilan berpendapat bahwa perkara yang dilimpahkan oleh Penuntut Umum kepadanya termasuk dalam wewenangnya, maka Ketua Pengadilan menunjuk Hakim yang akan menyidangkan (Vide Pasal 152 ayat (1) KUHAP). Selanjutnya Hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk menyidangkan perkara (khususnya dalam acara biasa), menentukan hari sidang dengan diikuti pemanggilan terhadap Terdakwa dan saksi-saksi melalui Penuntut Umum untuk didengar dalam sidang Pengadilan. Tahap berikutnya dalam persidangan diawali dengan membuka
36 Andi Hamzah dan Irdan Dahlan, Surat Dakwaan, Alumni, 1987, hlm. 18

sidang, sesuai asas pemeriksaan terbuka untuk umum, sehingga kaena jabatannya Hakim membuka sidang diteruskan dengan pemeriksaan identitas Terdakwa, dengan dilanjutkan pembacaan surat dakwaan oleh Penuntut Umum. Setelah selesai dilakukan pembacaan surat dakwaan ada kemungkinan terdakwa dan/atau bersama dengan penasehat hukumnya mengajukan eksepsi. Jika eksepsi ditolak (pada umumnya dalam praktek demikian) maka dilanjutkan tahap pembuktian terhadap terdakwa, para saksi, dan alat-alat bukti. Selesai pembuktian, jika terdakwa ternyata terbukti maka langkah berikutnya ketua majelis memberikan kesempatan kepada Penuntut Umum untuk mengajukan tuntutan pidana atau requisitoir. Kemudian jika hal ini ditanggapi oleh Terdakwa atau penasehat hukumnya maka diajukan pembelaan/pledoi. Dalam hal mengajukan pledoi di dalam KUHAP diatur dalam Pasal 182 ayat (1) huruf b yang berbunyi: Selanjutnya Terdakwa dan atau penasehat hukumnya mengajukan pembelaan yang dapat dijawab oleh Penuntut Umum . . . . Sedangkan dalam penjelasan Pasal tertulis cukup jelas, berarti KUHAP tidak menjelaskan cara pengajuan pledoi. Untuk hal ini dapat kita cermati dalam Keputusan Menteri Kehakiman Nomor : M.01.PW.07.03 Tahun 1982 tanggal 4 Februari 1982, Bidang Penuntutan, Bab III : Pemeriksaan di sidang Pengadilan, menjelaskan: sehubungan dengan itu apabila Hakim ketua

30 menyatakan pemeriksaan telah selesai, tuntutan pidana tertulis dibacakan Penuntut Umum, demikian juga jawaban atas pembelaan Terdakwa atau penasehat hukumnya dan setelah dibacakan diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunannya diserahkan kepada pihak yang berkepentingan. Dengan demikian jelas bahwa pledoi dibuat tertulis dan dibacakan dalam sidang. Sebagian jawaban atas Pledoi ini selanjutnya Penuntut Umum menanggapi dengan mengajukan Replik, sebaliknya Terdakwa atau penasehat hukumnya mengajukan duplik. Istilah Replik dalam kamus bahasa Indonesia diartikan jawaban Penuntut Umum atas tangkisan Terdakwa atau penasehat hukumnya. Sedangkan istilah Duplik diartikan jawaban kedua sebagai jawaban atas Replik.37 Selesainya Replik dan Duplik, keseluruhan proses pemeriksaan di akhiri dengan pengambilan keputusan oleh Hakim Ketua/Majelis Hakim dengan berpedoman sebagaimana dimaksud menurut Pasal 197 KUHAP. Sebagai konsekwensinya apabila tidak dipenuhinya ketentuan tersebut maka putusan batal demi hukum. Sehingga dengan dijatuhkannya putusan terhadap Terdakwa (tanpa pula melepaskan kontrol atas putusan Pengadilan tersebut oleh Hakim yang menanggani jalannya persidangan) berarti berakhirlah bekerjannya subsistem Pengadilan. 4. Tahap Keempat Bekerjanya sub sistem Lembaga Pemasyarakatan diartikan sebagai proses sejak seseorang Nara Pidana atau Anak
Leden Marpaung, Proses Penanganan Perkara Pidana Dikejaksaan dan Pengadilan Negeri Upaya Hukum dan Eksekusi Bagian Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 1992, hlm. 403.
37

Didik masuk ke Lembaga Pemasyarakatan sampai lepas kembali (menjalankan pemidanaan) dengan didasarkan konsep resosialisasi, yaitu : memasyarakatkan kembali Nara Pidana sehingga menjadi warga negara yang baik dan berguna. 38 Setelah dikeluarkannya terpidana dari tahanan berarti mengakhiri pula secara keseluruhan bekerjanya sub sistem peradilan pidana. Sejalan dengan itu Muladi dan Barda Nawawi berpendapat bahwa mengenai tahapan-tahapan pidana dalam sistem peradilan pidana tersebut di atas sangat berkaitan erat dengan masalah pemidanaan, dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mekanisme penegakan hukum di Indonesia. Hal ini disebabkan karena dalam sistem peradilan pidana (criminal justice sistem), masalahmasalah pemidanaan tersebut menempati posisi sentral, dengan alasan bahwa putusan di dalam pemidanaan akan mempunyai konsekwensi yang sangat luas baik yang mencakup pelaku pidana maupun masyarakat secara luas. 39 Selanjutnya jika dilihat dari mekanisme penegakan hukum, maka pemidanaan atau pemberian pidana tidak lain sebagai suatu proses kebijakan yang sengaja direncanakan. Artinya, supaya pemberian pidana itu dapat benar-benar terwujud dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian dilihat sebagai suatu proses mekanisme penegakan hukum, maka keempat tahapan pidana itu diharapkan menjadi suatu jalinan mata rantai yang saling berkaitan dalam suatu kebulatan sistem terhadap sistem pemeriksaan
Romli Atmasasmita, Op. Cit., hlm. 30 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan ..., Op. Cit hlm. 90
39 38

31 perkara pidana, oleh karena itu penyidikan mempunyai peranan yang sangat besar sebelum masuk pada tahapan-tahapan pidana tersebut di atas, yaitu sebagai awal dimulainya tahapa-tahapan pidana dalam sistem pemeriksaan perkara pidana. D. UPAYA YANG DILAKUKAN OLEH APARAT PENEGAK HUKUM UNTUK MENGATASI PROBLEMATIKA Opini publik yang berkembang pada saat aturan hukum pilkada dirumuskan bahwa pilkada langsung dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan praktek suap ternyata tidak dapat dipertahankan lagi.40 Sebagai ilustrasi berikut ini disajikan resume hasil penelitian permasalah pilkada;
Persentasi Permasalahan Pilkada Pembentukan Institusi 1.59 28.1 18.8 25 10.9 9.38 Anggaran Pilkada Pendaftaran Pemilih Logistik Pemilu 35.9 Pendaftaran&Penetapan Calon Kampanye Pemungutan Suara 35.9 50 21.9 Rekapitulasi Suara Penetapan Pemenang Sosialisasi

Sumber; cetro (www.cetro.or.id) Menurut Topo Santoso, salah satu kekurangan dari peraturan perundang yang mengatur pilkada adalah minimnya alasan
40 Wacana yang berkembangan ketika UU 22/1999 direvisi adalah bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung akan memangkas habis praktik suap. Sebab, tidak bisa dimungkiri jika pemilihan kepala daerah ada pada DPRD, suap akan mudah dilaksanakan. Sang calon tinggal "menyuap" anggota DPRD. Tetapi, jika dilakukan pemilihan secara langsung, suap akan sulit dilaksanakan. Bagaimana mungkin bakal calon kepala daerah akan melakukan kegiatan itu sebab ia harus menyediakan uang puluhan bahkan ratusan milyar rupiah sebagai konsekuensi atas jumlah penduduk yang punya hak memilih bagi kesuksesan pemilihan dirinya? (Nurudin, Saatnya Memilih Langsung Kepala Daerah, Artikel harian kompas, 14 Agustus 2002).

menggugat hasil pilkada. UU No 32 Tahun 2004 hanya mengenal satu alasan. Hasil pemilihan bisa digugat bila KPUD salah menghitung. Padahal, bisa saja terjadi kesalahan besar dalam pendaftaran pemilih sehingga pendukung salah satu kandidat kehilangan hak pilih, seperti terjadi di Cilegon. Salah seorang calon menduga, lebih dari 56.000 pendukungnya kehilangan hak pilih. Kecurangan lain yang berpotensi memengaruhi hasil adalah suap. Ini pun tidak bisa dijadikan alasan menggugat hasil pilkada. Juga kecurangan di tahapan pendaftaran pemilih, tahapan kampanye, kekerasan atau ancaman kekerasan, pelibatan PNS atau penyalahgunaan kekuasaan, menghalangi pemilih, dan aneka kecurangan lain. Solusi hukumnya jelas. Berikan hak kepada pihak yang merasa dirugikan untuk menyanggah penetapan KPUD dengan mekanisme hukum yang jelas. Sementara itu, dasar untuk menggugat hasil pilkada harus diperluas, bukan hanya terjadinya kesalahan penghitungan oleh KPUD, tetapi juga mencakup terjadinya kesalahan, kecurangan, manipulasi, atau tindak pidana pemilihan yang bisa memengaruhi hasil. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan memperbaiki atau melengkapi UU Pemerintah Daerah.41 Definisi suap dalam pemilihan kepala daerah langsung perlu diperjelas untuk menghindari kambuhnya "penyakit pemilu" itu dalam pilkada Juni 2005. Definisi suap dalam Undang-Undang No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No 6/2005 tentang Pemilihan, Pengesahan
Topo Santoso, Kosongnya Aturan dan Anarkisme Pilkada, Artikel di Harian Kompas12 Juni 2005
41

32 Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak terlalu jelas cakupannya. Definisi suap dalam UU No 32/2004 itu secara implisit tercantum dalam Pasal 82 Ayat (1) yang menyebutkan, Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. Kemudian Ayat (2), Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. Menurut penulis, definisi seperti itu sulit diaplikasikan di lapangan. Dalam kenyataannya suap terjadi sejak pasangan calon mendaftarkan diri pada partai politik hingga ke masa kampanye.42 Mengutip pendapat Ramlan Surbakti, setidak-tidaknya tiga cara dapat ditempuh untuk mencegah praktik suap, yaitu melalui mekanisme pelaporan dan audit dana kampanye pilkada langsung, penegakan hukum, dan melalui pengorganisasian pemilih (organize voters) oleh para pemilih sendiri. Cara pertama diadopsi oleh peraturan perundang-undangan, tetapi pengaturannya masih harus dilengkapi oleh KPU provinsi/KPU kabupaten/kota. Berdasarkan pengalaman menangani pelaporan dan audit dana kampanye pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun 2004, tujuh hal berikut perlu diadopsi oleh KPUD. Pertama, belum semua penerimaan dan pengeluaran tercatat dalam rekening khusus di bank yang sudah dilaporkan kepada KPU. Yang terjadi adalah sumbangan disampaikan kepada bendahara untuk kemudian digunakan atau langsung digunakan secara operasional tanpa melalui pencatatan bendahara. Akibatnya Rekening Khusus Dana Kampanye Pemilu di bank saja belum mampu menggambarkan seluruh transaksi dan kegiatan kampanye peserta pemilu. Berdasarkan pengalaman ini, KPUD perlu menegaskan dalam peraturan bahwa semua penerimaan dan pengeluaran harus tercatat dalam rekening khusus. Kedua, pasangan calon dan/atau tim kampanye pasangan calon ternyata sudah menerima sumbangan dari berbagai pihak dan/atau mengeluarkan uang untuk keperluan pencalonan jauh sebelum pasangan calon didaftarkan kepada KPU sebagaimana diidentifikasi di atas. Ketika KPU meminta pasangan calon melaporkan saldo awal dalam Rekening Khusus Dana Kampanye ternyata yang dilaporkan hanya dana minimal untuk membuka rekening. Dana yang sudah diterima dan digunakan sebelum pembukaan rekening khusus tidak dimasukkan ke dalam rekening khusus. Berdasarkan

42 Menurut Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Komisi Independen Pemantau Pemilu Indonesia dalam Diskusi Bulanan The Indonesian Institute tentang "Pilkada: Partai, Calon, atau Uang" di Jakarta, tanggal 18 April 2004. pada prapemilihan si calon pasti menyerahkan uang kepada partai politik yang nilainya bervariasi, dari Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar. Namun, itu tidak bisa dikatakan suap jika mengacu ke UU No 32/2004. Ketika Kompas memantau persiapan pilkada di Denpasar, awal April, seorang calon independen Wali Kota Denpasar I Gede Widiatmika mengaku diminta menyiapkan dana ratusan juta rupiah oleh seorang calo partai politik tertentu jika mau maju sebagai calon. Direktur Lembaga Bantuan Hukum Bali itu mengaku kaget dengan besarnya dana yang harus disiapkan dan akhirnya mundur. (Kompas, 20 April 2005

33 pengalaman ini, KPUD perlu membuat pengaturan yang tak hanya mewajibkan pasangan calon/tim kampanye mencatat transaksi tersebut dalam rekening khusus, yaitu dengan mencatatnya sebagai saldo awal, tetapi juga melaporkan seluruh transaksi sebelum pendaftaran pasangan calon dalam laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pilkada. Ketiga, pasangan calon/tim kampanye pasangan calon belum disiplin mencatat dan melaporkan sumbangan pihak ketiga, yaitu mereka yang melaksanakan sejumlah kegiatan kampanye (mengeluarkan dana) bagi pasangan calon tersebut dengan uang sendiri dan/ atau menggunakan sumbangan pihak lain. Sumbangan yang diterima dalam bentuk nonkas (in kind) juga belum dicatat dan dilaporkan oleh tim kampanye. KPUD perlu menegaskan ketentuan ini ketika melakukan sosialisasi kepada tim kampanye pasangan calon pemilihan kepala daerah. Keempat, menurut ketentuan laporan penerimaan dan pengeluaran pasangan calon merupakan laporan konsolidasi. Dari laporan kantor akuntan publik (KAP), terlihat belum semua penerimaan kas dan nonkas tim kampanye daerah dicatat dan dilaporkan. KPUD perlu mempertimbangkan pembuatan peraturan yang juga mewajibkan tim kampanye daerah (tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan untuk pemilihan gubernur serta tingkat kecamatan untuk pemilihan bupati/wali kota) mencatat dan melaporkan semua penerimaan dan pengeluaran, baik kas maupun nonkas, sehingga termasuk yang akan diaudit oleh KAP. Kelima, tidak semua sumbangan dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori sumber sumbangan menurut undangundang, yaitu partai politik/gabungan partai politik yang mencalonkan, pasangan calon, dan perseorangan dan badan hukum swasta. Bila sekelompok orang melakukan kegiatan usaha mencari dana dengan menjual barang tertentu dan hasilnya disumbangkan kepada pasangan calon tertentu, sedangkan sekelompok orang tersebut tidak mempunyai hubungan atau perjanjian apa pun dengan pasangan calon, ke dalam kategori apakah sumbangan ini dimasukkan. Sumbangan ini jelas tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori sumbangan perseorangan karena melibatkan sekelompok orang. Sumbangan ini juga tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori sumbangan badan hukum swasta karena sekelompok orang tersebut tidak membentuk badan usaha. Apabila pasangan calon/ tim kampanye dapat melakukan kegiatan usaha mencari dana, KPUD perlu mempertimbangkan hal berikut. Bila jenis usaha tersebut berupa penjualan barang, sebaiknya sumbangan ini dikelompokkan sebagai sumbangan dunia usaha walaupun tanpa status badan hukum. Bila jenis usaha tersebut berupa penggalangan sumbangan dari sejumlah orang, sumbangan ini harus dikategorikan sebagai sumbangan perseorangan. Keenam, karena waktu yang tersedia untuk proses pelaksanaan audit hanya 15 hari, maka pengecekan yang dilakukan KAP terhadap semua bentuk sumbangan, terutama penyumbang individual dan badan hukum swasta hanya secara acak dengan kuesioner sehingga kurang menyeluruh dan mendalam. Oleh karena itu, apabila memungkinkan, KPUD perlu mempertimbangkan waktu yang lebih memadai bagi KAP untuk melakukan audit. Keterbatasan waktu yang tersedia dapat pula diatasi dengan meminta lembaga pemantau,

34 yang khusus memantau dana kampanye pilkada, dan panwas, menyerahkan hasil pemantauan dana kampanye pilkada untuk digunakan sebagai bahan audit oleh KAP. Ketujuh, KAP perlu diberi kewenangan melakukan audit investigation bila terjadi kesenjangan pengeluaran dan penerimaan dari laporan pasangan calon. Dari segi penegakan hukum, berdasarkan hasil audit KAP terhadap laporan pasangan calon, KPUD berwenang mengenakan sanksi pembatalan calon apabila pasangan calon/tim kampanye terbukti: (a) menerima sumbangan/ bantuan lain dari pihak negara, swasta, LSM, dan warga asing, (b) menerima sumbangan/bantuan lain dari pihak yang tidak jelas identitasnya, dan (c) menerima sumbangan/bantuan lain dari pemerintah, BUMN, dan BUMD. Selain itu, apabila pengadilan menyatakan pasangan calon/ tim kampanye terbukti memberikan atau menjanjikan uang atau materi lainnya untuk memengaruhi pemilih, KPUD juga harus mendiskualifikasi pasangan calon tersebut. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi, kewenangan membatalkan calon seperti ini yang semula berada pada DPRD kini dialihkan kepada KPUD karena KPUD-lah yang menetapkan calon. Akan tetapi, UU No 32 Tahun 2004 dan PP No 6 Tahun 2005 ternyata tidak memberikan sanksi bagi penyumbang atau penerima sumbangan dana kampanye yang melebihi jumlah maksimal yang ditetapkan dalam UU No 32 Tahun 2004. Bila kekosongan hukum ini tidak segera diatasi, misalnya, mengaturnya dalam peraturan pemerintah pengganti undang- undang (perpu) yang kini tengah disiapkan oleh pemerintah, tidak saja tidak ada gunanya menetapkan batas maksimal sumbangan dalam UU, tetapi juga akan memperlakukan pasangan calon lain dan para pemilih secara tidak adil. Banyaknya aturan yang belum lengkap mengenai dana kampanye mengakibatkan sulitnya sumber dana kampanye dilacak KPUD. Apalagi, di dalam Peraturan Pemerintah No 6/2005 tidak memberikan sanksi kepada calon kepala daerah yang tidak memberikan laporan sumber dana kampanye kepada KPUD. Pasal 65 Ayat 6 PP No 6/2005 menyebutkan, sumbangan dana kampanye dilaporkan dan disampaikan pasangan calon kepada KPUD setelah diaudit kantor akuntan publik dalam waktu satu hari sebelum masa kampanye dimulai dan satu hari sesudah masa kampanye berakhir. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Sistem Peradilan Pidana Indonesia dalam penangan perkara suap amat menitikberatkan kepada permasalahan pembuktian. Kekuatan pembuktian dalam kasus suap pilkada yang melekat pada setiap alat bukti perlu ditelusuri terlebih dahulu apakah tindak pidana itu benar-benar terjadi atau tidak karena bisa saja fakta-fakta yang dihadapkan kepada pihak penyidik dan hakim di persidangan oleh salah satu pihak dibantah oleh pihak lain. Mekanisme penanganan perkara suap pada sistem peradilan pidana tetap mengacu kepada aturan hukum acara pidana (KUHAP) dan menggunakan sanksi hukum yang terdapat dalam UU 32/2004 sebagai acuan sanksi pidana yang akan dijatuhkan kepada terdakwa. Disamping itu, diperlukan keberanian para penegak hukum untuk melakukan terobosan

35 dalam melakukan penyidikan dan pembuktian suap pilkada. 2. Suap pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung relatif sulit untuk dibuktikan sehingga kasusnya sulit berlanjut lebih disebabkan karena masalah bukti dan pembuktian. Selain alat bukti yang sulit didapat, saksi pun tidak dijamin keberadaannya, sehingga proses peradilan suap pun sulit untuk dilaksanakan. Disamping itu, UU 32/2004 sebagai perangkat hukum yang mengatur masalah pilkada menciptakan aturan yang membuka peluang suap, baik di tingkat partai politik ataupun pada setiap tahapan Pilkada. Disamping itu, lemahnya pengaturan (tidak terperinci) masalah suap di dalam UU 32/2004 menjadikan pelaku suap dapat dengan leluasa melakukan kejahatan pidana pemilu ini. 3. Tiga cara dapat ditempuh untuk mencegah praktik suap, yaitu melalui mekanisme pelaporan dan audit dana kampanye pilkada langsung, penegakan hukum, dan melalui pengorganisasian pemilih (organize voters) oleh para pemilih sendiri B. Saran-saran 1. Bagi daerah yang sedang (dan akan) melakukan Pilkada, amat tepat bila KPUD menciptakan aturan hukum berupa Keputusan KPUD yang dapat mengurangi suap, seperti transparansi pencalonan dan penjaringan di tingkat partai politik dan pengaturan yang lebih jelas masalah dana kampanye. 2. Upaya mengatasi suap pada pilkada tidak saja menjadi peran dari para aparat penegak hukum untuk mengatasi problematika ini. Dibutuhkan peran semua pihak, khususnya dalam pihakpihak yang berwenang dalam merumuskan sistem dan aturan hukum Pilkada yang dapat meminimalisir terjadinya suap. DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia, Jakarta, 1982. Amirudin dan Zaini Bisri, Pilkada Langsung Problem dan Prospek, Penerbit Pustaka Pelajar,2006. Bintan R. Saragih, Proses Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dimuat dalam Roundtable Discussion diterbitkan oleh Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (Center for Local Government Innovation), Jakarta, 2003. Eko Sulistyo, Mekanisme Penjaringan dan Penetapan Calon Terpilih Dalam Pilkada Langsung, dalam Mulyana W. Kusuma, et.all. Agenda Pilkada Langsung dan Kesiapan Masyarakat Daerah, LSP3RA, 2004 Joko J. Prihatmoko, Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Filosofi, sistem dan problematika Penerapan di Indonesia, penerbit Pustaka Pelajar bersama LP3M Univesitas Wahid Hasyim. 2005. Leden Marpaung, Proses Penanganan Perkara Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 1995 -----------, Proses Penanganan Perkara Pidana Dikejaksaan dan Pengadilan Negeri Upaya Hukum dan Eksekusi Bagian Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 1992.

36 --------------, Korupsi, Good Governance dan Komisi Anti Korupsi di Indonesia, Departemen Kehakiman dan HAM RI, Jakarta, 2002. Ramlan Surbakti, Pemilihan Kepala Daerah Secara langsung Oleh Rakyat Merupakan Bagian Dari Pemilihan Umum. Jakarta : Jurnal Pamong Praja edisi 2-2005. B. Media Massa dan Internet N Ari Dwipayana, Pilkada Langsung dan otonomi Daerah, dimuat pada http://www.plod.ugm. ac.id/makalah/pilkadal_dan_otoda .htm, tanggall 28 Juni 2005. Fran Hendra Winarta, Pengalaman suap Dalam Pemilu Nyaris Tidak Terdengar Ada Sanksi Tegas, www.komisihukum.go.id/news. 01 Juli 2005. Harkristuti Harkrisnowo, Perundangundangan Pilkada Tidak Tegas Pelaku Suap Sulit Dijerat, www.komisihukum .go.id/news. 04 Juli 2005. Saldi Isra, Menuju Pilkada yang Demokratis, Kompas, 21 Februari 2005. Syamsuddin Haris, Mengelola Potensi Konflik Pilkada, Kompas, 10 Mei 2005. DINAMIKA HUKUM DALAM PERKEMBANGAN ZAMAN Fitriati,SH.MH Abstrac Law have old there is and its existence have been confessed and also used to various need. But really otonomous law is our society of course still become big question because existing meaning at the opposite of formed law ( other regulation or [code/law]) oftentimes more dominant ( like political element, economic and other importance) compared to law meaning which distinguishing justice. Autonomous of law require to be grown law to as a separate system have freedom to develop x'self as according to requirement of society in the form of science demand and justice in the form of incidence of more comprehensive law theory Key words: social control, social engineering, law fleksibilitas A. Pendahuluan Membicarakan sosiologi hukum tidak bisa dilepaskan dari fakta atau realitas karena sosiologi hukum berparadigma fakta sosial. Sosiologi hukum merupakan cabang khusus dari sosiologi yang berperhatian untuk mempelajari hukum tidak sebagai konsep-konsep normatif melainkan sebagai fakta sosial. Berparadigma fakta sosial berarti tidak mengkaji nilai, norma atau ide apapun tentang hukum 1
Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Tamansiswa Padang 1 Soetandyo Wignyosiebroto, /Sosiologi Hukum: Perannya Dalam Pengembangan Ilmu Hukum dan Studi Tentang Hukum/, Makalah

37 Hukum dari waktu ke waktu mengalami perkembangan. Sejak jaman Yunani dan Romawi sampai sekarang hukum mengalami perkembangan yang luar biasa yang mungkin saja orang Yunani dan Romawi dahulu tidak akan dapat memperkirakan hal-hal yang terjadi sekarang dalam bidang hukum. Perkembangan ini tidak bisa dilepaskan dari sifat hukum yang selalu berada di tengah-tengah masyarakat sedangkan masyarakat itu sendiri senantiasa mengalami perkembangan. Tesis yang hendak dikemukakan pada awal tulisan ini adalah apakah hukum itu berkembang mengikuti perkembangan masyarakat atau sebaliknya masyarakat berkembang karena adanya campur tangan hukum. Jika diikuti jalan pikiran yang pertama maka yang akan dipakai sebagai dasar pijakan adalah ajaran von Savigny mengenai hukum tumbuh, hidup dan berkembang dalam masyarakat dan jika yang dipakai adalah jalan pikiran yang kedua maka pendekatannya lebih mengarah kepada apa yang telah dikemukakan oleh John Austin yang memandang hukum sebagai perintah dari penguasa yang berdaulat. Austin memisahkan hukum dan keadilan, ini adalah kekeliruan besar karena bagaimanapun inti hukum adalah keadilan. Pemisahan ini tidak didasarkan pada pengertian baik atau buruk akan tetapi didasarkan pada kekuasaan dari sesuatu yang lebih kuat2. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa aliran hukum imperatif dari Austin tidak menghendaki hukum yang tumbuh, hidup dan berkembang dalam
pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 12-13 Nov.1996, hal. 1 2 W. Friedmann, Teori dan Filsafat Hukum (Susunan I), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 149

masyarakatnya sendiri. Hukumnya adalah hukum penguasa yang superior untuk kepentingan penguasa itu sendiri. Apa yang dikemukakan di atas hanyalah merupakan suatu gambaran adanya dua sisi yang berbeda dalam pandangan mengenai hukum yang berangkat dari dua sisi yang berbeda pula. Dua pandangan ini menjadi dasar pijakan untuk melihat lebih jauh hukum yang berkembang di Indonesia dalam menghadapi perkembangan jaman. B. Nuansa Kolonial Dalam Negara Nasional Hukum yang ada di Indonesia (minus hukum adat) sebagian besar masih didominasi oleh hukum peninggalan kolonial Belanda melalui produk-produknya yang sekarang masih berlaku dengan berbagai modifikasi, dilengkapi dengan undangundang baru untuk mengatur bidang yang baru muncul kemudian. Tidak dapat disangkal bahwa pada masa kolonial, hukum tidak digunakan dalam fungsinya yang positif, dalam pengertian tidak digunakan untuk tujuan hukum itu sendiri yaitu memberi keadilan tetapi lebih tepat disebut sebagai alat penjajah untuk memperkuat posisinya dan mendapatkan legitimasi dalam menghukum para pejuang kemerdekaan. Inti atau hal yang prinsipil dari hukum memang persoalan keadilan, tetapi pembicaraan mengenai keadilan juga harus berpandangan ke depan dan tidak menggunakan konsep-konsep lama. Dalam narasi yang lebih besar, hukum berfungsi untuk membikin hidup lebih mudah, lebih gampang dan tidak menyusahkan.

38 Hukum menjadi sub sistem dari sistem penjajahan sehingga hukum tidak mempunyai otonomi. Hukum dalam tahap ini menurut pandangan Nonet dan Selznick masih berada dalam tahap hukum represif atau jika dipandang dari teorinya Roscou Pound hukum dipandang sebagai alat penguasa (baik dalam fungsinya sebagai /social control/ maupun /as a tool as social engineering/) yang bertujuan untuk mengkooptasi rakyat Indonesia agar tidak melakukan tindakan yang merugikan penjajah. Pandangan hukum dari penjajah adalah pandangan hukum Austin yang imperatif. Kehidupan hukum yang demikian oleh Rudolf von Jhering dipandang terlalu sibuk dengan konsepkonsep sehingga ilmu hukum untuk kepentingan sosial sehingga hukum menjadi mandul apabila dipisahkan dari lingkungannya.3 Austin berpendapat hukum merupakan suatu proses sosial untuk mendamaikan perselisihan-perselisihan dan menjamin adanya ketertiban dalam masyarakat. Tugas ilmu pengetahuan hukum adalah untuk mempelajari dan berusaha untuk menjelaskan sifat hakekat dari hukum, perkembangan hukum serta hubungan hukum dengan masyarakat. Ilmu hukum (/science of jurisprudence/) mengani hukum positif atau /laws strictly so called/ tidak memperhatikan apa hukum itu baik atau tidak. Semua hukum positif berasal dari satu pembuat undang-undang yang terang, tertentu dan berdaulat Ketertiban bagi penjajah soverign4 merupakan hal yang sangat penting. Hal ini berkaitan dengan kegiatan bisnis mereka agar tidak terganggu dan uang hasil
3

penjualan rempah-rempah dan cengkeh tidak dihamburkan untuk biaya perang sehingga keuntungan yang diperoleh bisa diangkut ke Belanda. Bangsa Indonesia sebagai negara terjajah atau sebagai negara pinggiran tidak memiliki peran yang berarti dalam kehidupan hukum. Peran pinggiran bangsa Indonesia antara lain dapat dilihat dalam diskusi dan debat mengenai perlakuan terhadap hukum adat. Bangsa Indonesia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbicara mengenai suatu permasalahan besar yang menyangkut dirinya dan hanya menjadi penonton dan obyek kontrol oleh hukum. Sebagai negara pinggiran maka segala keputusan dan siasat ditentukan dari Den Haag.5 Sesudah Indonesia merdeka, hukum masih juga dipandang sebagai alat penguasa, ini terbukti dengan adanya UU No. 19/1964 yang menentukan bahwa hukum merupakan alat revolusi pancasila menuju masyarakat sosialis Indonesia. Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa kekuasaan yudikatif tidak berdaya menghadapi kekuatan eksekutif sehingga mekanisme check and balance tidak berjalan, Perubahan dari negara pinggiran ke negara sebagai pelaku penuh dalam kehidupan hukum tidak dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya oleh bangsa Indonesia malahan mewarisi sikap kolonial yang

Rudolf von Jhering dalam Soerjono Soekanto, /Kegunaan Sosiologi Hukum Bagi Kalangan Hukum/ Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991, hal. 20 4 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991

Satjipto Rahardjo, Pendayagunaan Sosiologi Hukum untuk Memahami Proses-proses Sosial Dalam Konteks Pembangunan dan Globalisasi, Makalah pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 12-13 Nov. 1996, hal. 6

39 tidak memajukan hukum sebagai instrumen membangun bangsa. Memasuki orde baru Indonesia mulai melakukan industrialisasi. Pemanfaatan tenaga manusia mulai ditinggalkan dan diganti dengan mesinmesin modern. Modernisasi dalam indutrialisasi membawa dampak yang tidak sedikit pada masyarakat. Jika modernisasi dipandang sebagai transisi menuju masyarakata modern, waktu dan pentahapan modernisasi seringkali dilalaikan. Bukti historis dan komparatif jelas mengungkap bahwa modernisasi tidak dapat berlangsung dua kali melalui cara yang sama. Variasi waktu dan pentahapan dapat dipengaruhi misalnya oleh inisiatif dan perencanaan pemerintah, oleh persaingan dan peniruan, oleh difusi kebudayaan dan ideologi.6 Sebenarnya hukum Indonesia perkembangannya sudah menuju pada hukum yang modern, ditandai dengan diterimanya hukum sebagai alat rekayasa sosial, sebagai sarana kebijakan negara. Diterimanya hukum sebagai sarana rekayasa sosial memperkuat pemahaman bahwa hukum adalah buatan manusia, sebagai keputusan politik hukum sangat diwarnai oleh tujuan-tujuan, kepentingankepentingan dan selektivitas serta dipengaruhi oleh konteks seperti kondisikondisi sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum dan hankam serta struktur-struktur yang ada.7
6 Reinhard Bendix, The Comparative Analysis of Historis Change, dalam Soscial Theory and Economic Change, disunting oleh T.Burns & S.B. Saul, Tavistock Publication, London, 1967, hal. 308-311.

Dalam bidang ilmu pengetahuan hukum, pemerintah orde baru tidak peduli dengan hal ini. Pemerintah terlalu sibuk dengan memanfaatkan hukum untuk kepentingannya. Justru yang dikembangkan adalah usaha mengganti produk undang-undang peninggalan kolonial tetapi subtansi dari peraturan itu kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang ada di Indonesia. Sebagai parameternya adalah berapa undangundang atau peraturan kolonial yang telah diganti. C. Hukum yang dinamis dan tuntutan perubahan Dalam kehidupan hukum, saat ini adalah masa transisi yang kedua setelah transisi yang pertama seperti tersebut di atas tidak membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan hukum yang masih diwarnai nuansa kolonial. Pada masa transisi yang kedua ini merupakan masa untuk membangun hukum secara baik, tetapi yang harus diperhatikan oleh pembuat undang-undang adalah perlu ditumbuhkan pengertian bahwa hukum bukanlah sesuai yang eksak, pasti dan steril. Sistem hukum sendiri mendapat sebutan yang tidak menyenangkan, yaitu sebagai dualisme dalam hukum. Istilah dualisme hukum ini memberikan gambaran tentang kontradiksi-kontradiksi antara hukum dalam teori dengan hukum dalam praktek, antara validitas dan efektivitas dari hukum, antara norma dan fakta sebagai kenyataan. Kontradiksikontradiksi ini sering membingungkan bagi orang-orang yang berniat untuk mempelajari ilmu hukum secara

] I.S. Sutanto, /Lembaga Peradilan dan Demokrasi, Makalah pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 12-13 Nov. 1996

40 mendalam. Mungkin ahli hukum akan menyangkal kenyataan ini dan bahkan akan menuduh bahwa ini hanyalah merupakan alasan yang dibuat-buat saja.8 Castberg F. memberikan reaksi terhadap pandangan yang dualistik dari karakter hukum ini, yaitu suatu fakta bahwa orang mengenal karakter normatif dari hukum sebagai suatu sistem normatif yang mengikat, tidak pernah berusaha membuat solusi yang dapat memecahkan problem yang menyangkut hubungan antara hukum dengan realitas. Dasar-dasar dari hukum adalah keputusan-keputusan faktual yang didasarkan pada fakta-fakta, bentuk-bentuk tindakan atau perilaku individu dan kesadaran akan kewajiban yang semuanya terletak di dalam kenyataan yang bersifat psycho-psycsical. Problem kemudian terjadi karena hukum seperti digambarkan Kelsen - muncul ke permukaan baik sebagai sollen dan sein. Suatu kenyataan bahwa kedua kategori itu secara logis berbeda dan terpisah satu sama lain. Persepsi normatif dogmatis pada hakekatnya menganggap apa yang tercantum dalam peraturan hukum sebagai deskripsi dari keadaan yang sesuangguhnya. Tetapi seperti dikatakan oleh Chamblis dan Seidman, kita sebaiknya mengamati tentang kenyataan bagaimana sesungguhnya pesan-pesan, janji-janji serta kemauan hukum itu dijalankan. Janganlah peraturan hukum itu diterima sebagai deskripsi dari kenyataan. Apabila yang demikian terjadi maka sesungguhnya kita telah membuat mitos tentang hukum padahal mitos yang demikian itu setiap hari dibuktikan kebohongannya. Agar tidak termakan oleh mitos-mitos itu maka kita harus mempelajari fakta atau relaitas yang ada di masyarakat. Fakta
8

sosial yang ada di masyarakat tak dapat dipelajari dan dipahami hanya melalui kegiatan mental murni atau melalui proses mental yang disebut dengan pemikiran spekulatif. Untuk memahaminya diperlukan suatu kegiatan penelitian empiris, sama halnya dengan ilmu pengetahuan alam (natural sciences) dalam mempelajari obyek studi. Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakan sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi obyek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Norma hukum merupakan fakta sosial seperti halnya arsitektur karena norma hukum adalah barang sesuatu yang berbentuk material. Sedangkan fakta sosial yang lain seperti opini hanya dapat dinyatakan sebagai barang sesuatu, tidak dapat diraba dan adanya hanya dalam kesadaran manusia. Kembali kepada permasalahan hukum di Indonesia dan ke arah mana hukum hendak di bangun, maka untuk itu harus diperhatikan beberapa hal yang agar perubahan dalam hukum betul-betul menyentuh masyarakat sebagai suatu kesatuan, bukan segelintir elit yang memegang kekuasaan. Untuk itu pertanyaan yang harus diajukan adalah darimanakah datangnya perubahan sosial yang sekarang terjadi dan apa sebab-sebab terjadinya perubahan itu.9 Perubahan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini dapat dipandang dari berbagai segi, misalnya dari segi ekonomi maka titik tolaknya adalah krisis moneter (yang bermula pada tahun 1997) dan jika dilihat dari segi
Castberg F., Problem of Legal Philosophy, Oslo University Press, London, 2^nd Edition, 1957, hal. 260.
9

Adam Podgorecki & Christoper J. Whelan, Pendekatan Sosiologi Terhadap Hukum, Bina Aksara, Jakarta, 1978, hal. 259.

41 politik maka titik tolaknya adalah kehidupan yang tidak demokratis dan melahirkan pemerintahan yang totaliter. Berbagai perkembangan itu berpengaruh terhadap kehidupan hukum. Jika pada masa kolonial dan orde lama hukum digunakan sebagai alat (sebagai alat kepentingan politik), demikian juga pada orde baru (sebagai alat kepentingan ekonomi). Dari ketiga masa yang telah dijalani oleh pemerintah Indonesia itu hukum menjadi sub sistem dari sistem yang lebih besar dan dari sini nampak bahwa hukum sesungguhnya tidak mempunyai fleksibilitas atau keluwesan untuk mengembangkan dirinya dan tuntutan masyarakat. Dalam masa reformasi, hukum seakan-akan mengalami chaos, artinya keberadaan hukum dipertanyakan dan disangsikan keefektifannya oleh masyarakat sehingga merebak apa yang dinamakan eigenrichting. Pandangan masyarakat yang demikian dapat dimaklumi dengan anggapan bahwa hukum itu buatan manusia, kenapa tidak boleh dilanggar dan dibuat hukum yang lebih baru dan bermanfaat. Fungsi dan tugas hukum dalam masa ini mengalami reorientasi dan reformasi untuk menyesuaikan perkembangan masyarakat. Saat ini sebenarnya saat yang tepat bagi hukum untuk menunjukkan otoritasnya sebagai satu kekuatan yang pantas diperhitungkan dalam perkembangan bangsa. Tetapi apa yang terjadi sepertinya tidak sesuai dengan harapan karena produk-produk yang muncul saat ini adalah produk yang mencerminkan kepentingan ekonomi (melalui IMF) dan kepentingan politik (tarik ulur partai politik). Kita sebenarnya mengharapkan agar hukum Indonesia yang dibangun berdasarkan pada kepentingan atau kemauan rakyat bukan penguasa. Hukum lama sudah terbukti tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada yang berdampak pada kesengsaraan rakyat. Hukum harus berubah dengan lebih banyak memperhatikan rakyat kecil yang selama ini menjadi korban pembangunan yang tidak pada tempatnya. Apa yang diharapkan tentu saja dapat terwujud apabila hukum benar-benar memiliki fleksibilitas dalam mengembangkan dirinya tanpa campur tangan kekuasaan. D. Penutup Hukum di Indonesia terbukti telah menjadi alat kekuasaan, hukum bukanlah sesuatu yang otonom karena menjadi sub sistem dari sistem lain yang lebih besar. Keadaan ini harus diperbaiki pada saat ini karena saat ini adalah momentum yang tepat untuk itu dimana hukum harus menunjukkan otoritasnya dan secara fleksibel mengikuti perkembangan dan tuntutan rakyat. Pengertian yang fleksibel dari hukum di sini jangan diartikan bahwa hukum itu plin-plan dalam menghadapi perkembangan jaman, tetapi pengertian yang benar dalam konteks ini adalah bagaimana hukum dapat menempatkan diri dalam posisinya sebagai institusi yang keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dalam sebuah negara yang demokratif. Jadi lebih tepatnya fleksibelitas hukum ini dapat dikaitkan dengan adaptasi hukum terhadap tuntutan rakyat.

Daftar Pustaka Soetandyo Wignyosiebroto, Sosiologi Hukum: Perannya Dalam Pengembangan Ilmu Hukum dan Studi Tentang Hukum, Makalah pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa

42 Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 1213 Nov.1996. W. Friedmann, Teori dan Filsafat Hukum (Susunan I), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1993. Rudolf von Jhering dalam Soerjono Soekanto, Kegunaan Sosiologi Hukum Bagi Kalangan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991. Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991. Satjipto Rahardjo, Pendayagunaan Sosiologi Hukum untuk Memahami Prosesproses Sosial Dalam Konteks Pembangunan dan Globalisasi, Makalah pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 1213 Nov. 1996. Reinhard Bendix, The Comparative Analysis of Historis Change, dalam Soscial Theory and Economic Change, disunting oleh T.Burns & S.B. Saul, Tavistock Publication, London, 1967. I.S. Sutanto, Lembaga Peradilan dan Demokrasi, Makalah pada seminar tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturisasi Global dan Pembentukan ASHI di Semarang, 12-13 Nov. 1996 Adam Podgorecki & Christoper J. Whelan, Pendekatan Sosiologi Terhadap Hukum, Bina Aksara, Jakarta, 1978. Castberg F., Problem of Legal Philosophy, Oslo University Press, London, 2^nd Edition, 1957. Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, Suatu Tinjauan Sosiologis, BPHN Depkeh dan Sinar Baru, Bandung, tanpa tahun. George Ritzer, Sosiologi, Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Penyunting Alimandan, Rajawali Press, Jakarta, 1995, hal. 2 dan 16. Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984.

43 ASPEK HUKUM PENATAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN SERTA PELAKSANAANNYA DI SUMATERA BARAT Oleh Muhammad Hasbi ABSTRACT Basically aspect punish in area settlement of development of settlement and housing cannot dipisahkaqn of its execution aspect, this matter is caused, that aspect punish as meant to become guidance or reference which is very elementary the than its execution facet, in size measure meaning about what is the execution according to or do not, hence becoming its barometer is rules arranging. Relate to that, hence policy of Settlement of Housing and setlement represent very important matter done/conducted, so that/ to be action proposed by developer, remain to refer to rule, so that housing tatanan and settlement as according to allotment of it. In order to carrying out development of setlement and housing which remain to relate at one particular framework settlement of regional room that goes on order, organizational better, success and utilizable utilize, as according to requirement and rule of legislation going into effect. Target of idiil as law and regulation dimasudkan, will not reach [is] otherwise made a change in management of land;ground (start from registration, sertifikasi, Iiberation of land;ground, compensatory, [gift/ giving] of land right and [his/its] execution). Thereby, hence target of plan settlement of development of the setlement and housing have to in line with what have been

determined by considering requirement of environment and people. But from result of research, especially its execution, still there are matters him which disagree with elementary reference which is very as commended by code/law. Keyword : Aspect punish Settlement of Development of Housing and Settlement ___________________________ Latar Belakang Masalah Pada dasarnya masalah kependudukan tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek yang melingkupinya, terutama pembangunan bagi suatu negara dan bangsa. Berkaitan dengan itu, dalam Undang-undang No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, di mana pada Pasal 4 ayat (1) nya ditegaskan bahwa upaya perkembangan kependudukan diarahkan untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kuantitas, kualitas, persebaran penduduk dengan lingkungan hidup. Selanjutnya dalam Pasal 11 ketentuan ini menyatakan bahwa Pemerintah menetapkan kebijaksanaan yang diarahkan pada terwujudnya kualitas penduduk sebagai potensi sumber daya manusia, pengguna dan pemelihara lingkungan, dan pembina keserasian manusia dalam lingkungan hidup untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Hal di atas jika dikaitkan dengan kebijaksanaan di bidang kependudukan, khususnya masalah peningkatan kualitas penduduk dan

Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan (WR III) Universitas Tamansiswa, Padang, 2009;

44 kualitas lingkungan, akan terkait erat dengan persoalan perumahan dan permukiman. Dikatakan demikian, karena ketersediaan di bidang sarana perumahan dan permukiman yang layak huni dan tertata dengan baik merupakan syarat mutlak untuk dapat terwujudnya kualitas penduduk dan kualitas lingkungan yang baik. Dengan demikian jelaslah bahwa masalah kependudukan, perumahan dan permukiman serta lingkungan hidup merupakan satu kesatuan sistem, sehingga pendekatan hukum terhadap kebijaksanaan di bidang kependudukan akan sangat diperlukan, dalam arti bagaimana hukum dapat dipergunakan untuk mengimplementasikan kebijakan kependudukan melalui pendekatan sistem tersebut. Berkaitan dengan, menurut Siswono; pada dasarnya masalah perumahan dan permukiman manusia serta lingkungan hidupnya cenderung memburuk, karena pertambahan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan penambahan fasilitas pelayanan umum termasuk perumahan dan permukiman. Semua itu sebagai akibat keterbelakangan pembangunan sehingga tidak dapat mengantisipasi secara lebih awal. (Siswono, 1998; 7). Dengan adanya kecenderungan yang demikian, maka disinilah letak arti penting adanya penataan perumahan dan permukiman dari berbagai aspek hukum yang melingkupinya. Jika tidak demikian, hal ini dapat menyebabkan kondisi penataan sebagaimana dimaksudkan, dapat saja semakin parah dan menimbulkan dampak negatif bagi pembangunan secara keseluruhan Untuk mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak huni sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia (human settlement). Pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah kebijakan dan program-program yang diperlukan. Kebijakankan tersebut tertuang dalam UU No.4 Tahun 1992 Tentang Penataan Perumahan dan Permukiman, di mana dalam Pasal 4 ketentuan ini menegaskan beberapa hal penting berkaitan dengan penataan perumahan tersebut, yakni : a. Untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat; b. Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur; c. Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional; d. Menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya dan bidangnya. Untuk itu, menurut Hendro, bahwa kebijakan di bidang penataan perumahan dan permukiman harus mempunyai tujuan utama (ultimate goal) yang berpengaruh pada usaha peningkatan/perbaikan mutu kehidupan (the improvement of the quality of live). (Hendro, 2002: 32). Maka dalam rangka pencapaian tujuan dan cita utama kebijaksanaan penataan perumahan dan permukiman, yaitu meningkatkan kualitas hidup penduduk dan kualitas lingkungan, seringkali berbagai persoalan akan timbul, apabila hal-hal yang prinsip berkaitan dengan penataan itu tidak diperhatikan. Misalnya yang patut dipertanyakan adalah sejauhmana Pemerintah ataupun para pemrakarsa/pengembang (developer) dalam memperhatikan aspek pemerataan dalam hal kepemilikan rumah, demikian juga

45 spek lainnya, seperti lingkungan hidup dan pemerataan kepemlikan rumah yang sesuai dengan peruntukannya Dalam pada itu, jika dilihat dari aspek perlindungan konsumen, juga terkadang tidak mendapat perhatian dan perlindungan yang seimbang, seperti dalam merealisasikan transaksi jual beli/realisasi akad kredit yang dimungkinkan terjadinya perselisihan antara konsumen dengan pihak pengembang/developer. Demikian juga halnya dengan tingkat penyebaran penduduk, jumlah ketersedian rumah dan aspek kepedulian lingkungan hidup yang kurang memperhatikan daya dukung alam, daya tampung lingkungan binaan itu sendiri serta daya tampung lingkungan sosialnya. Walaupun dalam UU No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan itu sendiri tidak menentukan secara jelas batasan jumlah rumah, karena hal ini juga akan tergantung pada keinginan pihak pengembang/developer. Padahal penataan perumahan dan permukiman juga dimaksudkan untuk memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional. Hanya saja bila disimak ketentuan Pasal 7 ayat 1 huruf a UU No.4 tahun 1992 yang menentukan bahwa: Setiap orang atau badan usaha yang membangun rumah dan perumahan wajib mengikuti persyaratan teknis, ekologis dan administratif, maka secara tidak langsung akan terkait dengan dengan aspek lingkungan khususnya daya dukung lingkungan. Dalam penjelasan Pasal 7 ayat (1) huruf a merumuskan bahwa: persyaratan ekologis berkaitan dengan keserasian dan keseimbangan, baik antara lingkungan buatan dan lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya.... Namun permasalahannya adalah bgaimana ketentuan Pasal 7 ini dapat dijadikan instrumen oleh Pemerintah untuk melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan Perumahan dan pemukiman, karena pelaksanaannya juga erat kaitannya dengan ketentuan lingkungan hidup, penataan ruang dan ketentuan kesehatan. Sebagai contoh dalam Pasal 3 huruf c UU No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang disebutkan, bahwa Penataan ruang bertujuan tercapainya pemanfaatan ruang berkualitas untuk : 1. Mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur dan sejahtera; 2. Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas manusia. Dari penegasan ketentuan tersebut jika dikaitkan dengan pelaksanaannya, dimungkinkan tidak terlaksana sebagaimana seharusnya yang disebabkan berbagai faktor. Berkaitan dengan itu, penelitian dan tulisan ini mengkaji lebih jauh terutama berkaitan dengan aspek hukum penataan pembangunan perumahan serta pelaksanaanya di Sumatera Barat. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini lebih difokuskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan; aspek hukum yang dapat dijadikan pedoman dalam penataan pembangunan perumahan dan

46 pemukiman serta Sumatera Barat. pelaksanaannya di dan fasilitas sosial. Mengenai pengertian penataan perumahan dan permukiman menurut UU No.4 Tahun 1992, dalam Pasal 2 ayat 2 sebagai berikut: penataan perumahan adalah meliputi kegiatan pembangunan baru, pemugaran, perbaikan, perluasan, pemeliharaan dan pemanfaatannya. Sedangkan Penataan permukiman meliputi kegiatan pembangunan baru, perbaikan, peremajaan, perluasan, pemeliharaan dan pemanfaatannya. Pengertian kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan non fisik serta ketaqwaan terhadap Tuhan YME yang merupakan dasar untuk mengembangkan kemampuan dan untuk menikmati kehidupan sebagai manusia yang berbudaya, berkepribadian, dan layak (Pasal 1 angka 4 UU No.10 Tahun 1992). Hermien Hadiati Koeswadji menyatakan bahwa kualitas manusia dapat dibagi dalam kualitas fisik dan non fisik. Kualitas fisik berkaitan dengan derajat kesehatan manusia. Kualitas non fisik erat berkait dengan faktor-faktor kecerdasan, emosi, budi/akhlak, serta iman. (Hermien HK, 1999; 25). Sementara itu pengertian mengenai kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman. Sedangkan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

TINJAUAN PUSTAKA Kebijakan di bidang Penataan Perumahan dan permukiman merupakan hal yang sangat penting dilakukan, agar tindakan pemanfaatan lingkungan dan pelaksanaannya sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Berkaitan dengan itu, dalam Undang-undang No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan di tegaskan; bahwa rumah adalah sebagai bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga (Pasal 1 Huruf a); Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan (Pasal 1 huruf b). Hal ini berarti, istilah pemukiman dapat diartikan juga rumah, sarana dan fasilitas lingkungannya. Berkaitan dengan itu, N. Daldjoeni mendefenisikan istilah pemukiman dalam tiga cakupan : (N. Daldjoni, 1998; Hal. 17) 1. Supra struktur, Supra struktur tersebut terdiri dari berbagai komponen fisik tempat manusia mengaub; dalam bahasa Inggeris ini disebut shelter; 2. Infra Struktur, yaitu prasarana bagi gerak manusia, perhubungan dan komunikasi, sirkulasi tenaga dan materi untuk kebutuhan jasmani; 3. Pelayanan (service), yaitu segala hal yang mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, rekreasi, dan kebudayaan. Konsep mengenai permukiman jauh lebih luas dari rumah, sebab menunjuk kepada kawasan perumahan lengkap prasarana lingkungan, prasarana makna sekedar satuan dengan umum,

47 Pengertian di atas secara jelas menunjukkan bahwa basis Kebijakan Pemerintah Dalam Mendukung Pelaksanaan Kewenangan Kabupaten/ Kota Bidang Permukiman di Era Otonomi Daerah 2 pembangunan permukiman adalah pembangunan kawasan yang mengacu pada tata ruang. Oleh karena itu, rencana tata ruang kawasan sangat diperlukan untuk mencapai keserasian pertumbuhan antara kawasan yang satu dengan lainnya. Hal di atas dapat diartikan lebih jauh, bahwa kebijaksanaan penataan perumahan dan permukiman merupakan tindakan Pemerintah yang tujuannya diarahkan untuk mengatasi atau menyelesaikan persoalan perumahan dan permukiman sebagai sarana tempat tinggal yang layak dengan memperhatikan aspek pemerataan kesejahteraan rakyat (pemilikan rumah), ketenangan, keamanan, keserasian, keteraturan, ketertiban, persebaran dan penyebaran penduduk (distribusi penduduk), kesehatan dan keseimbangan lingkungan baik fisik maupun sosial (dalam arti fungsinya). Sasaran Kebijaksanaan Penataan Perumahan dan Permukiman ini pada dasarnya ditujukan bagi seluruh lapisan masyarakat, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat agar dapat meningkatkan kualitas penduduk, melalui penyediaan sarana perumahan dan permukiman. Hal ini sesuai dengan bunyi ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU No.4 Tahun 1992 yang menyebutkan: Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur. Akan tetapi berhubung dengan keterbatasan dana dan fasilitas yang dimiliki Pemerintah, maka perlu adanya prioritas penanganannya, tetapi, pada umumnya negara berkembang, termasuk Indonesia, prioritas utama diberikan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Sesuai dengan sasaran kebijaksanaan, maka bagi masyarakat di perkotaan arah kebijaksanaan ditentukan sebagai berikut: bagi golongan berpendapatan tinggi berusaha sendiri memenuhi kebutuhan perumahan dan permukimannya, tanpa bantuan dari Pemerintah. Golongan berpendapatan menengah dan sedang diharapkan dapat dilayani oleh pengusaha swasta dan lembaga non-profit (seperti BUMN, Koperasi, Yayasan), dan mendapat fasilitas tertentu dari Pemerintah misalnya fasilitas kredit (KPR-BTN). Bagi golongan berpenghasilan rendah diadakan program penyediaan tanah matang dengan prasarana lingkungan yang sederhana (site and service). Bahkan sekarang untuk golongan berpenghasilan rendah disediakan sarana perumahan sangat sederhana (RSS). Dalam rangka pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman akan melibatkan berbagai badan usaha maupun lembaga keuangan, seperti PERUMNAS, Developer Swasta yang tergabung dalam Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (REI), Bank Tabungan Negara (BTN), Badan Usaha Koperasi, dan PT. Papan Sejahtera. Berkaitan dengan itu, menurut Eko Budiarjdo, setidaktidaknya ada tiga kelompok utama yang berperan dalam usaha penataan pembangunan perumahan dan permukiman, yaitu: (1) Pemerintah, (2) Swasta, (3) Masyarakat. (Eko Budiardjo, 1994; 70).

48 METODE PENELITIAN 1. Tipe Penelitian Dalam usaha melakukan penelitian perlu ditegaskan tentang tipe dari penelitianya, dikatakan demikian gunanya adalah agar lebih terarahnya pendekatan masalah yang digunakan, sehingga jelas tujuan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Berkaitan dengan itu, penelitian ini termasuk kedalam tipe penelitian hukum sosiologis (socio Legal research), dengan demikian pendekatan masalah yang digunakan adalah yuridis sosiologis, dalam arti penelitian ini lebih terarah pada penelitian terhadap data primer dan data sekunder. 2. Jenis Data Dari perumusan masalah dan tipe penelitian yang telah ditentukan serta penggunaan pendekatan masalahnya, hal ini berpengaruh terhadap data yang akan digunakan, berkaitan dengan itu maka data yang diperlukan dalam penelitian ini, berupa data primer dan data sekunder. Menurut Amiruddin, bahwa dalam penelitian hukum sosiologis, data yang diperlukan, disamping data primer sebagai focus utamanya juga diperlukan data sekunder yang terdiri dari; bahan hukum primer seperti peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan judul dan permasalahan, bahan hukum sekunder seperti literatur pendukung dan bahan hukum tertier, seperti kamus atau ensiklopedi. (Amiruddin, 2004; 31 dan 32); 3. Teknik Pengumpulan Data Data sekunder yang berbentuk bahan-bahan hukum tersebut diperoleh dengan jalan melakukan inventarisasi, yakni dengan mempersiapkan buku catatan, kemudian dilakukan pencatatan dengan menggunakan daftar ikhtisar yang disusun secara sistematis dergan mengurutkannya sesuai abjadnya. Dalam hal data berupa dokumen hukum, dipersiapkan terlebih dahulu surat izin penelitiannya untuk selanjutnya dilakukannya pemfotokopian dan atau pencatatan pada kertas atau buku yang telah disediakan. Sebaliknya data primer diperoleh dengan terlebih dahulu melakukan observasi dan dilanjutnya pada jadwal yang telah ditentukan dilakukannya wawancara dengan responden yang telah dipilih sesuai dengan tujuan penelitiannya. 4. Pengolahan dan analisis data a. Pengolahan data Data yang telah diperoleh selanjutnya diolah, artinya data tersebut dibahas dengan menghubungkannya pada pokok permasalahannya. Pengolahan data dilakukan dengan cara mengedit dalam arti memilah mana data yang betul-betul relevan dan dibutuhkan serta mana yang tidak bibutuhkan. Data yang telah diedit, kemudian diberi tanda tertentu, tanda (V) merupakan data yang dibutuhkan dan tanda (X) tanda yang tidak dibutuhkan; b. Analisis Data Analisis yang digunakan dalam hal ini adalah analisis kualitatif hal ini disebabkan data yang diperoleh berbentuk uraian kalimat-kalimat baik berupa ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan, pendapat para ahli, kenyataan dilapangan maupun hasil analisis peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelola pembangunan perumahan dan permukiman di daerah wajib untuk memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan perumahan dan

49 pemukiman. Mengapa? karena perumahan dan pemukiman dapat dikategorikan sebagai infrastruktur kehidupan sosial dan ekonomi, hal ini disebabkan : 1. Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia selain pangan dan sandang. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah; 2. rumah merupakan sumberdaya kapital atau asset bagi usaha-usaha pengembangan kehidupan sosial dan ekonomi pemiliknya; 3. Dari sudut pandang lain, upayaupaya pengadaan perumahan baik yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah dan pengembang, mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri konstruksi dan kegiatan ekonomi nasional; 4. Kebijakan pembangunan perumahan / permukiman diarahkan ?sesuai dengan sistem pengadaan rumah (housing delivery) tampaknya terdapat potensi yang sangat besar dimasyarakat yang memerlukan uluran tangan dari pihak-pihak lain yang berfungsi sebagai enabler untuk menjembatani mereka dalam mengakses berbagai sumber daya yang diperlukan bagi pengadaan huniannya sendiri. Sejalan dengan kebijakan pemerintah, yang menempatkan pemerintah tidak lagi sebagai pengambil kebijakan belaka, maka pemerintah harus terus berupaya mendorong masyarakat menjadi provider bagi pembangunan perumahannya sendiri. Upaya tersebut harus dilakukan dengan berbagai tindakan dan strategi, agar dalam pelaksanaannya dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Misalnya bagi pemerintah daerah, di mana tugasnya adalah secara pro-aktif menyelenggarakan program-program pembangunan yang mampu menciptakan berbagai kondisi untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya berbagai inisiatif dan prakarsa pembangunan perumahan dan permukiman secara swadaya oleh masyarakat (warganya). Berkaitan dengan itu, pembangunan perumahan dan permukiman oleh pemerintah daerah dimaksudkan untuk mendorong pihakpihak yang ada dan memiliki kompetensi terkait agar dapat memahami lebih dalam terhadap perannya sehingga berbagai inisiatif dan prakarsa masyarakat (warganya) untuk melakukan pembangunan perumahan dan permukiman secara swadaya dapat terwujud secara efektif dan efisien. Dari hasil hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa secara sederhana pemahaman tentang penataan pembangunan perumahan dan pemukiman yang berasal dari inisiatif masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Perumahan atau pemukiman yang tumbuh secara bertahap diwujudkan dengan adanya pembangunan rumah-rumah yang dilakukan secara swadaya oleh perorangan, keluargakeluarga atau kelompok baik untuk keperluan sendiri maupun keperluan lainnya. (dengan atau tanpa pendampingan/bantuan terknis dari pihak lain); 2. Pola pembangunan secara swadaya ini biasanya dilakukan dalam periode waktu yang singkat (instant), dan dicirikan oleh adanya upaya pengadaan komponen-komponen produksi, misalnya: lahan, bahan bangunan, pembiayaan, tenaga kerja, rancang-bangun

50 dan lain-lain yang dilakukan sendiri oleh masyarakat baik secara individu mapun secara berkelompok dan diperoleh melalui mekanisme pasar; 3. Pembangunan perumahan dan permukiman swadaya perlu dilembagakan, dalam arti Pemerintah Kota/Kabupaten perlu dan bahkan menjadi penting untuk memasukkan pola pembangunan perumahan dan permukiman oleh masyarakat secara swadaya menjadi bagian yang integral dengan kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman di wilayahnya masing-masing, karena beberapa alasan berikut : a. Pembangunan perumahan ini juga ditujukan sebagai upaya memperbaiki kondisi ebagian masyarakat yang tidak mempunyai posisi dan kekuatan tawar dalam pembangunan perumahan dan lebih jauh lagi adalah untuk mengurangi kemiskinan; b. Agar pembangunan rumah dapat dilakukan secara lebih terjangkau dan mudah sesuai dengan aspirasi dan kemampuan masyarakat, sekaligus membantu masyarakat mewujudkan rumah dalam lingkungan yang layak huni; c. Dalam Jangka Panjang Penataan pembangunan perumahan dan pemukiman bertujuan untuk mendorong suatu gerakan pembangunan perumahan dan permukiman secara mandiri, yang lebih terorganisir dan melembaga. Dari apa yang dikemukakan di atas, hal ini disebabkan karena pada dasarnya Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih menghadapi berbagai permasalahan besar terutama dalam perkembangan dan pembangunan kota-kotanya. Demikian juga fenomena urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar yang mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan ruang kota, seperti fasilitas perumahan, sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia yang cenderung terus meningkat.. Perkembangan kota-kota yang pesat ini disebabkan oleh perpindahan penduduk dari desa ke kota, perpindahan dari kota lain yang lebih kecil, pemekaran wilayah atau perubahan status desa menjadi kelurahan. Ruang dilihat sebagai wadah dimana keseluruhan interaksi sistem sosial (yang meliputi manusia dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya) dengan ekosistem (sumberdaya alam dan sumberdaya buatan) berlangsung. Ruang perlu ditata agar dapat memelihara keseimbangan lingkungan dan memberikan dukungan yang nyaman terhadap manusia serta mahluk hidup lainnya dalam melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya secara optimal. Berkaitan dengan itu, maka pada tahun 1992 diberlakukanlah Undang-undang No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang yang telah diganti dengan berlakunya Undangundang No. 26 Tahun 2007 mengisyaratkan agar setiap kota menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Kota sebagai pedoman dalam pemanfaatan ruang bagi setiap kegiatan pembangunan. RTR Wilayah Kota merupakan rencana pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang disusun untuk menjaga keserasian pembangunan antar sektor dalam rangka penyusunan dan pengendalian program-program pembangunan perkotaan jangka panjang. Berkaitan dengan itu, maka fungsi RTR Wilayah

51 Kota adalah untuk menjaga konsistensi perkembangan kawasan perkotaan dengan strategi perkotaan nasional dan arahan RTRW Provinsi dalam jangka panjang, menciptakan keserasian perkembangan kota dengan wilayah sekitarnya, serta menciptakan keterpaduan pembangunan sektoral dan daerah. Muatan RUTR Kawasan Perkotaan meliputi tujuan, rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan, dan upayaupaya pengelolaan kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan fungsional perkotaan, dan kawasan tertentu, serta pedoman pengendalian pembangunan Kawasan Perkotaan. Dalam pelaksanaannya, RTR Wilayah Kota yang selayaknya menghasilkan suatu kondisi yang ideal pada umumnya masih sulit terwujud. Salah satu penyebabnya adalah masalah yang terkait dengan ruang daratan, dalam hal ini tanah. Pada kenyataan di lapangan, tanah tersebut telah dikuasai, dimiliki, digunakan, dan dimanfaatkan baik oleh perorangan, masyarakat, badan hukum, maupun pemerintah. Di satu sisi RTR Wilayah Kota telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah, tetapi di sisi lain ada yang telah menguasai dan memiliki tanah, sebagian bahkan memiliki kepastian hukum akan tanahnya dalam bentuk hak atas tanah (sertifikat tanah). Dengan mengingat hampir semua kegiatan pembangunan memang mengambil tempat di atas tanah, dan bahwa dalam rangka implementasi RTRW diperlukan pengaturan penggunaan dan pemanfaatan tanah yang tidak terpisahkan satu sama lain, maka Pemerintah telah menerbitkan PP No. 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah dalam rangka melaksanakan Pasal 16 ayat (2) UU No.26/2007 yang menyatakan perlu adanya ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. Tujuan penataan pembangunan perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksudkan adalah dalam rangka menyelenggarakan pembangunan perumahan dan permukiman yang mengacu pada suatu kerangka penataan ruang wilayah, sehingga dapat berlangsung tertib, terorganisasi dengan baik, berdaya guna dan berhasil guna, sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Tujuan ini tidak akan tercapai bila tidak dilakukan perubahan dalam pengelolaan tanah (pendaftaran, sertifikasi, pembebasan tanah, ganti rugi, pemberian hak atas tanah). Dengan demikian, maka sasaran dari rencana pembangunan perumahan dan permukiman antara lain : a. Tersedianya rencana pembangunan perumahan dan permukiman di daerah yang aspiratif dan akomodatif, yang dapat diacu bersama oleh pelaku dan penyelenggara pembangunan, yang dituangkan dalam suatu Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah (RP4D); b. Tersedianya skenario pembangunan perumahan dan permukiman yang memungkinkan terselenggaranya pembangunan secara tertib dan terorganisasi, serta terbuka peluang bagi masyarakat untuk berperan serta dalam seluruh prosesnya; c. Terakomodasinya kebutuhan akan perumahan dan permukiman yang dijamin oleh kepastian hukum, terutama

52 bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah; d. Tersedianya informasi pembangunan perumahan dan permukiman di daerah sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pemerintah serta bagi berbagai pihak yang akan terlibat/melibatkan diri. Dalam pada itu, keterkaitan antara pembangunan perumahan dan permukiman dengan penataan ruang adalah sebagai berikut : a. Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai hasil perencanaan tata ruang yang merupakan landasan pembangunan sektoral. Dengan kata lain setiap pembangunan sektoral yang berbasis ruang perlu mengacu pada rencana tata ruang yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar terjadi sinergi dan efisiensi pembangunan, sekaligus menghindari kemungkinan terjadinya konflik pemanfaatan ruang antar sektor yang berkepentingan dan dampak merugikan pada masyarakat luas; b. Dalam RUTR Kawasan Perkotaan diatur alokasi pemanfaatan ruang untuk berbagai penggunaan berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, keseimbangan, keserasian, keterbukaan, dan efisiensi agar tercipta kualitas permukiman yang layak huni; c. Untuk Kawasan Perkotaan, alokasi ruang untuk perumahan dan permukiman merupakan yang terbesar dibandingkan dengan alokasi penggunaan lainnya. Lingkup pembangunan perumahan dan permukiman senantiasa mencakup aspek penataan ruang dan aspek penyediaan prasarana dan sarana lingkungan; d. Dalam mendukung pelaksanaan UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah serta mewujudkan visi dan misi pembangunan perumahan dan permukiman yang tertuang dalam KSNPP (Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman), maka telah disiapkan Pedoman Penyusunan RP4D. RP4D pada dasarnya merupakan alat operasional untuk mewujudkan kebijakan dan strategi perumahan dan permukiman tersebut. Dalam pada itu, untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah serta mewujudkan visi dan misi pembangunan perumahan dan permukiman yang tertuang dalam KSNPP (Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman), maka telah disiapkan Pedoman Penyusunan RP4D. RP4D pada dasarnya merupakan alat operasional untuk mewujudkan kebijakan dan strategi perumahan dan permukiman tersebut. Hal ini berarti, bahwa Program penataan ruang menempati kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan nasional karena aspek-aspeknya meliputi bidang lingkungan hidup dan pertanahan yang terkait dengan hampir semua kegiatan dalam kehidupan manusia dan pembangunan. Oleh sebab itu, berbagai upaya dalam pelaksanaan pembangunan selayaknya selalu dikaitkan dengan kepentingan yang berkaitan dengan penataan ruang seperti pelestarian fungsi lingkungan hidup, pengembangan tata ruang dan

53 pengelolaan aspek pertanahannya. Khususnya dalam rangka pembangunan lingkungan hidup, di mana pembangunan lingkungan hidup merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh mahluk hidup di muka bumi. Untuk itu, pembangunan sektor ini perlu diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Dengan diterbitkannya UndangUndang Nomor 24 tahun 1992 tentang penataan ruang yang telah diganti dengan Undang-undang No. 26 Tahun 2007, secara sadar kita menjunjung tinggi pandangan bahwa ruang wilayah negara Indonesia ini merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinatif, terpadu, dan efektif dengan memperhatikan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan, serta kelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. Dalam konteks inilah kegiatan penataan ruang diselenggarakan. Di dalam kegiatan penataan ruang tersebut, berbagai sumberdaya alam tersebut ditata sebagai satu kesatuan sistem lingkungan hidup yang memperhatikan keseimbangan antara satu bentuk pemanfaatan terhadap bentuk pemanfaatan yang lain. Penataan pertanahan dalam hubungan ini memiliki kedudukan yang penting karena hampir setiap kegiatan pembangunan diselenggarakan dalam areal tertentu. Dengan mempertimbangkan bahwa kebutuhan akan tanah terus meningkat, sementara ketersediaannya semakin lama justru semakin berkurang, penerapan mekanisme pengaturan pemanfaatan tanah untuk menjamin bahwa pembangunan dan kehidupan manusia akan terpelihara terutama keberlanjutannya perlu terus diupayakan dan ditingkatkan kualitasnya. Keadaan ini merupakan wujud darinkeberadaan dari ruang dilihat sebagai wadah dimana keseluruhan interaksi sistem sosial (yang meliputi manusia dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya) dengan ekosistem (sumberdaya alam dan sumberdaya buatan) berlangsung. Ruang perlu ditata agar dapat memelihara keseimbangan lingkungan dan memberikan dukungan yang nyaman terhadap manusia serta mahluk hidup lainnya dalam melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya secara optimal. Dalam pelaksanaannya, RTR Wilayah Kota yang selayaknya menghasilkan suatu kondisi yang ideal pada umumnya masih sulit terwujud. Salah satu penyebabnya adalah masalah yang terkait dengan ruang daratan, dalam hal ini tanah. Pada kenyataan di lapangan, tanah tersebut telah dikuasai, dimiliki, digunakan, dan dimanfaatkan baik oleh perorangan, masyarakat, badan hukum, maupun pemerintah. Di satu sisi RTR Wilayah Kota telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah, tetapi di sisi lain ada yang telah menguasai dan memiliki tanah, sebagian bahkan memiliki kepastian hukum akan tanahnya dalam bentuk hak atas tanah (sertifikat tanah). Dengan mengingat hampir semua kegiatan pembangunan memang mengambil tempat di atas tanah, dan bahwa dalam rangka implementasi RTRW diperlukan pengaturan penggunaan dan pemanfaatan tanah yang tidak terpisahkan satu sama lain,

54 maka Pemerintah telah menerbitkan PP No. 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah dalam rangka melaksanakan Pasal 16 ayat (2) UU No.26/2007 yang menyatakan perlu adanya ketentuan mengenai pol pengelolaan tata guna tanah. Hal ini sejalan dengan Tujuan pembangunan perumahan dan permukiman adalah menyelenggarakan pembangunan perumahan dan permukiman yang mengacu pada suatu kerangka penataan ruang wilayah, sehingga dapat berlangsung tertib, terorganisasi dengan baik, berdaya guna dan berhasil guna, sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Tujuan ini tidak akan tercapai bila tidak dilakukan perubahan dalam pengelolaan tanah (pendaftaran, sertifikasi, pembebasan tanah, ganti rugi, pemberian hak atas tanah).Dalam UU No.26/2007 dinyatakan bahwa Ruang Wilayah Negara Indonesia sebagai wadah atau tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatannya. Ruang wilayah negara, khususnya ruang daratan sebagai suatu sumber daya alam dari berbagai subsistem ruang wilayah negara dalam pemanfaatan untuk berbagai kegiatan yang meliputi aspek poleksosbudhankam dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan lainnya di setiap wilayah, dalam implementasinya akan sangat terkait keberadaannya dengan penatagunaan tanah. Sesuai dengan ketentuan Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 52 UU No.5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, dan sejalan dengan ketentuan dalam UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang, dikembangkan penatagunaan tanah yang disebut juga pola pengelolaan tata guna tanah yang meliputi penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang tertuang dalam PP No. 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah. Secara garis besar PP ini memuat ketentuan yang mengatur implementasi RTRW di atas ruang daratan dalam hal ini tanah, terutama yang terkait aspek pengelolaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Dalam PP tersebut diatur mengenai kebijakan penatagunaan tanah dan penyelenggaraan penatagunaan tanah. Kebijakan penatagunaan tanah yang merupakan bagian terpenting dari penataan ruang bertujuan untuk mengatur dan mewujudkan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P4T) untuk berbagai kebutuhan kegiatan pembangunan sesuai dengan RTRW dan mewujudkan tertib pertanahan dengan tetap menjamin kepastian hukum atas tanah bagi masyarakat. Kebijakan penatagunaan tanah diselenggarakan terhadap seluruh bidang tanah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik di Kawasan Lindung mapun Kawasan Budidaya. Dalam rangka menjamin kepastian hukum atas tanah, PP Penatagunaan Tanah menegaskan bahwa penetapan RTRW tidak mempengaruhi status hubungan hukum atas tanah, dalam hal ini hak atas tanah tetap diakui. Namun demikian, pemegang hak atas tanah diwajibkan untuk menggunakan dan memanfaatkan tanah, yang dimaksudkan agar tanah tersebut digunakan dan dimanfaatkan sesuai dengan daya dukungnya, tidak dibiarkan terlantar serta diwajibkan untuk memelihara dan mencegah kerusakan tanah tersebut. Kebijakan penatagunaan tanah meliputi penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung dan budidaya. Dalam rangka penyelenggaraan penatagunaan tanah, dilaksanakan kegiatan sebagai berikut :

55 1. inventarisasi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah; 2. penetapan perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah menurut fungsi kawasan; 3. penetapan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dengan RTRW. Penentuan kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW didasarkan atas pedoman, standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah, yang kemudian dijabarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Pelaksanaan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dengan RTRW dapat dilakukan melalui : _ penataan kembali (konsolidasi tanah, relokasi, tukar menukar, dan peremajaan kota), _ upaya kemitraan, _ penyerahan dan pelepasan hak atas tanah kepada negara/pihak lain dengan penggantian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Konsolidasi Tanah yang juga telah diatur pelaksanaannya dalam Peraturan BPN No. 4 tahun 1992. Konsolidasi tanah adalah kebijakan pertanahan mengenai penataan kembali penguasaan, pemilikan, dan penggunaan tanah agar sesuai dengan RTRW, serta usaha-usaha pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup/pemeliharaan sumber daya alam, dengan melibatkan partisipasi, di mana tujuannya adalah untuk mencapai pemanfaatan tanah secara optimal, melalui peningkatan efisiensi dan produktifitas penggunaan tanah dengan sasaran untuk mewujudkan suatu tatanan penguasaan dan penggunaan tanah yang tertib danteratur, dalam arti untuk pengembangan kawasan baru maupun pembangunan kawasan kota (urban renewal). Khusus untuk kawasan perumahan dan kermukiman, konsolidasi tanah dapat memenuhi kebutuhan akan adanya : a. lingkungan permukiman yang teratur, tertib, dan sehat; b. kesempatan kepada pemilik tanah untuk menikmati secara langsung keuntungan konsolidasi tanah, baik kenaikan harga tanah maupun kenikmatan lainnya karena terciptanya lingkungan yang teratur; c. terhindar dari ekses-ekses yang sering timbul dalampenyediaan tanah secara konvensional; d. percepatan laju pembangunan wilayah permukiman, v) tertib administrasi pertanahan serta menghemat pengeluaran dana Pemerintah untuk biaya pembangunan prasarana, fasilitas umum, ganti rugi, dan operasional. Pada awalnya konsolidasi tanah dilakukan di daerah pinggiran kota. Dalam perkembangannya, konsolidasi tanah juga dapat diadaptasikan pada bagian wilayah kota yang lain untuk mendukung pengaturan persil tanah di perkotaan. Beberapa wilayah yang potensi untuk dikonsolidasi antara lain : a. Wilayah yang direncanakan menjadi kota/permukiman baru (Kasiba/Lisiba); b. Wilayah yang sudah mulai tumbuh; c. Wilayah permukiman yang tumbuh pesat; d. Wilayah bagian pinggir kota yang telah ada atau

56 direncanakan jalan penghubung; e. Wilayah yang relatif kosong; f. Wilayah yang belum teratur/kumuh; g. Wilayah yang perlu renovasi/rekonstruksi karena kebakaran/bencana, dan lain-lain. H. P E N U T U P 1. Kesimpulan Perencanaan penataan pembangunan perumahan dan permukiman serta perencanaan kawasan/wilayah agar terjadi keserasian perkembangan dan pertumbuhan kawasan diperlukan suatu upaya mengintergarsikannya dalam suatu system pembangunan yang menyeluruh. Dengan demikian pemahaman terhadap hubungan antara penyelenggaraan permukiman dengan perencanaan kawasan/wilayah yang fungsional dan responsif terhadap perkembangan dan tantangan yang dihadapi diharapkan dapat melahirkan keseimbangan antara pembangunan perumahan dan pemukiman baik diperkotaan maupun daerah penyangga serta pedesaan. Keseimbangan yang selaras dan saling mendukung tersebut diharapkan dapat ikut mengendalikan terjadinya urbanisasi, sehingga mutu dan daya dukung kawasan/lingkungan perkotaan dapat lebih terjaga. Dengan demikian pembangunan permukiman memerlukan koordinasi yang baik agar semua pelaku dan sektor yang terkait sehingga dapat terjalin kerja sama secara optimal untuk mewujudkan lingkungan yang serasi, harmonisdan produktif. Terindikasinya peran dan fungsi pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam pengaturan, pembinaan, pelayanan, serta pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman. Oleh karenannya masalah penataan pembangunan perumahan dan pemukiman melingkupi berbagai pengaturan atau aspek hukum sebagai payung hukumnya yang tidak saja bagi Negara, pengusaha pengembang perumahan tetapi juga masyarakat secara umum yang akan memanfaatkan dan atau membeli rumah 2. Saran Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang aspek hokum penataan pembangunan perumahan dan pemukiman serta pelaksanaannya, ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan : 1. Pemberian izin dalam pengembangan perumahan baik kepada perusahaan pengembang Negara yakni Perumnas maupun perusahaan swasta harus tetap mengacu kepada berbagai aturan yang sifatnya lebih komprehensif, terutama aturan tentang tata ruang, pemukiman yang sehat dan tetap memperhatikan lingkungan hidup agar tidak rusak, demikian juga aturanaturan daerah sejak berlakunya otonomi; 2. Pemukiman yang dibangun, terutama perumahannya harus memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan kondisi alam, terutama pada kawasan atau daerah yang rawan banjir dan gempa sehingga menggambarkan adanya perlindungan bagi masyarakat pemilik rumah; 3. Pihak perbankan yang memberikan kredir perumahan sebaiknya lebih selektif memberikan pinjaman kepada

57 perusahaan pengembang karena ada beberapa kasus yang mengakibatkan masyarakat dirugikan, misalnya adanya jaminan dari perusahaan yang berbentuk asset perusahaan kepada bank; 4. Bagi masyarakat calon pemilik rumah agar lebih hati-hati dalam melakukan pengikatan perjanjian pembelian rumah, karena fakta menunjukan ada perusahaan pengembang yang menunda-nunda pembangunan rumah dan atau tidak melanjutkan pembangunan dengan berbagai alas an seperti kenaikan bahan bangunan. DAFTAR PUSTAKA Amiruudin, 2004, Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung; Andi Hamzah, I Wayan Suandra, 2000, Dasar-Dasar Hukum Perumahan, BA. Manalu, 2000, Rineke Cipta, Jakarta; A.P. Parlindungan, A.P., 1999, Beberapa Pelaksanaan Kegiatan Dari UUPA, Mandar Maju, Bandung; Bambang Sunggono, 1994, Hukum dan Kebijaksanaan Publik, Sinar Grafika, Jakarta. BPHN, 1997, Seminar Segi-Segi Hukum Pembinaan Kota dan Daerah, Bina Cipta, Bandung; Daldjoeni, N., 2003, Manusia Penghuni Bumi, Bunga Rampai Geografi Sosial, Alumni, Bandung; Eko Budiardjo, 2002, Arsitektur dan Kota Di Indonesia, Alumni, Bandung; Emil Salim, 1996, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Mutiara Sumber Widya, Jakarta. Gautama, Sudargo, 1997, Komentar Atas Undang Undang Pokok Perumahan dan Peraturan Sewa Menyewa, Alumni, Bandung; Hermien Hadiati Koeswadji, 1994, Hukum dan Masalah Medik, Bagian Pertama, Airlangga University Press, Surabaya. Hukum, Dinamika Kependudukan dan Lingkungan Hidup,, Makalah, Disampaikan dalam forum kursus dasar-dasar Amdal, kerjasama KMN-KLH-PPKL UNAIR, Surabaya, 21 Juni - 4 Juli 1995. Rebecca Cook, J., 1983, Formulating Population Policy: A Legal Approach, in LAWASIA Vol.4 Number 1, University of Queensland Press, Queensland, Auatralia; Rozali Abdullah, 2005, Pelaksanaan Otonomi Luas dengan Pemilihan Kepala daerah Secara Langsung, Raja Grafindo Persada, Jakarta Siswono Yudohusodo, dkk, 1991, Rumah Untuk Seluruh Rakyat, INKPPOL, Unit Percetakan Bharakerta, Jakarta. Peraturan Perundang-undangan: Undang Undang No.4 Tahun 1992, tentang Perumahan dan Permukiman. Undang Undang No.10 Tahun 1992, Tentang Kependudukan Undang Undang No.23 Tahun 1992, tentang Kesehatan. Undang Undang No.24 Tahun 1992, tentang Penataan Ruang Undang-undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Undang-undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Undang-undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1994, tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

58 PROSES PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS DI PERSIDANGAN PENGADILAN NEGERI KELAS IA PADANG Fadillah Sabri, SH, MH, Siska Elvandari, SH, MH dan Rorif Desvyati Abstract Criminalist Abortus Provocatus is a conduct or action of stopping the pregnancy or killing the fetus before the delivery time, which is done illegally. In KUHP the action of criminalist abortus provocatus is regulated strictly in some articles: Article 283, Article 299, Articles 346-350. However, the rigid regulation in KUHP regarding criminalist abortus provocatus is balancing with Law No. 23/1992 concerning Health which allows the action of abortion with certain medical reasons. This criminalist abortus provocatus is an ordinary criminal conduct (gewone delichten), where this criminal conduct can be process without any report from the victim. As a criminal conduct, criminalist abortus provocatus is only known from the cases that have been reported, while in the reality the number is much more then the reported one. Looked at the cases that have been reported to Padang District Court, apparently from 1998 to 2008, there were only three cases of criminalist abortus provocatus that have been sentenced. This paper will answer the question of how is the process of proving in criminal case of criminalist abortus provocatus in Padang District Court and what are the barriers of the proving process. The research is using descriptive method with legal and sociologist approach, which means examining
Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang

regulation and related legal theories to be connected with the reality or the practical situation. Based on the research, it is known that the proving process in criminal case of abortus provocatus is in accordance to the regulation in KUHP. The proving process of the cases of criminalist abortus provocatus is done through the investigation of the witness, letter, clue, and the defendants arguments in the trial at Padang District Court. While the problems that are found in the process of proving are in presenting the witness and the noisy problem that is happen in the trial. A. Latar Belakang Masalah Pada zaman globalisasi ini, banyak terdapat penyimpanganpenyimpangan dalam setiap sisi kehidupan. Penetrasi budaya barat terhadap budaya timur telah memberi dampak yang sangat besar, terutama di kalangan anak muda. Salah satu bentuk pengaruh negatif itu adalah pergaulan yang semakin bebas, anakanak muda tidak lagi memperhatikan norma-norma yang menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Generasi muda bangsa Indonesia ini merupakan ujung tombak dalam melanjutkan upaya pembangunan bangsa (nation building), yang bertujuan mencari jati diri bangsa, mensosialisasikan kesadaran kebangsaan (nasionalisme), serta melakukan berbagai upaya konkrit untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa guna mewujudkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.43 Akan tetapi dengan
43

Suryono Ekotama dkk, 2001, Abortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif Viktimologi, Kriminologi, dan

59 alasan hak asasi, banyak generasi muda yang terjebak dalam kehidupan kelam seperti seks bebas, mereka tidak menyadari akibat terburuk dari gaya pergaulan bebas yang mereka jalani, yaitu besar kemungkinan untuk hamil di luar nikah. Pada dasarnya, pergaulan remaja masa kini tidak sesuai dengan langkah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang mengacu pada pembangunan landasan moral dan etik bangsa yang lebih bersifat psikis.44 Masih banyak generasi muda khususnya kaum perempuan yang menjadi korban dalam liberalisme pergaulan kawula muda dan merugikan bagi masa depan mereka juga bagi pihak keluarganya. Salah satu akibat fatal bagi kaum perempuan dari kebebasan tanpa batas dalam pergaulan itu adalah hamil di luar ikatan pernikahan yang sah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita yang hamil diluar nikah demi menutupi rasa malu dan menghindari pandangan negatif masyarakat terhadap keadaannya, memilih jalan untuk menggugurkan kandungannya (abortus), baik atas kehendak wanita itu sendiri maupun atas pengaruh bahkan paksaan dari keluarga atau pacarnya. Menurut Stephen Edmondson, saat ingin melakukan abortus seorang wanita biasanya berada dalam kebingungan dan kebimbangan, tapi akibat dorongan atau ancaman dari orang-orang sekelilingnya, maka seorang wanita tanpa pikir panjang akan langsung menyetujui proses pengguguran perlu digaris kandungannya.45Namun bawahi bahwa pelaku abortus provokatus bukan hanya dari kalangan remaja, tapi
Hukum Pidana, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, hal.1 44 Ibid hal. 5 45 http://www.aborsi.org , Sindrom Paska Aborsi Dari Sudut Pandang Seorang Dokter, diakses pada hari Kamis tanggal 30 Oktober 2008 pkl. 21.05 WIB

juga ibu-ibu rumah tangga. Sebuah studi di Bali menemukan 71 % perempuan yang melakukan abortus provokatus adalah perempuan menikah. Begitupun dengan hasil studi Population Council diyakini sekitar 98,8 % perempuan yang melakukan abortus provokatus di Jakarta adalah berstatus menikah dan memiliki anak, dengan alasan tidak ingin punya anak lagi.46 Perlu dikhawatirkan adalah pada umumnya para perempuan tersebut melakukan abortus provokatus secara tidak aman (unsafe abortion) tanpa memperhatikan resikonya. Data WHO menunjukkan dari 46 juta aborsi pertahun, 20 juta dilakukan secara tidak aman, 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi aborsi tidak aman dan memberi kontribusi pada Angka Kematian Ibu Global minimal 13 %.47 Kondisi seperti ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat perempuan adalah sumber kehidupan yang diharapkan akan melahirkan tunas-tunas bangsa yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan di masa mendatang.Salah satu penyebab dari maraknya praktek unsafe abortion itu adalah pelarangan tindakan abortus provokatus dalam hukum Indonesia. KUHP tidak memberi alasan yang dapat membenarkan tindakan abortus provokatus, bahkan mengancam dengan sanksi yang sangat berat bagi mereka yang terlibat dalam tindak pidana abortus provokatus tersebut.

http://www.kesrepro.info, Aborsi di Indonesia, diakses pada hari Selasa tanggal 28 Oktober 2008 pkl. 13.15 WIB 47 http://www.google. co.id , Aborsi Dari Tiga Sudut, diakses pada hari Selasa tanggal 16 September 2008 pkl. 11.00 WIB

46

60 Tindak pidana abortus provokatus ini diatur dalam Buku II Bab XIV tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan khususnya Pasal 283 KUHP serta dalam Buku II Bab XIX tentang Kejahatan Tehadap Nyawa mulai dari Pasal 299, Pasal 346-350 KUHP. Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (UU Kesehatan), maka diberi pengecualian terhadap tindak pidana abortus provokatus. Ini terlihat dalam ketentuan Pasal 15 ayat (1) bahwa : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. Dalam pembuktian tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya meski data-data yang diperoleh sejumlah lembaga penelitian mengindikasikan maraknya terjadi tindak pidana abortus provokatus kriminalis di masyarakat, namun ternyata sangat sulit untuk mengungkap kasus ini dan menyeret pelaku sampai ke Pengadilan, dan kesulitan itu sudah dimulai sejak upaya pengumpulan bukti-bukti oleh penyidik. Hal ini disebabkan karena abortus provokatus termasuk victims less crimes sebab tidak ada yang mengadu, sulit dideteksi dan hampir tidak merugikan orang lain.48 Di samping itu, juga perlu diperhatikan peranan ilmu kedokteran forensik (gerechtelijke geneeskunde). Hal ini menyangkut isi pasal-pasal tentang
Syafruddin, 2003, Abortus Provocatus dan Hukum, USU, Sumatera Utara, hal. 2
48

tindak pidana abortus provokatus kriminalis dalam KUHP yang mensyaratkan adanya wanita yang mengandung, tentunya menjadi kewajiban ilmu kedokteran untuk dapat menetapkan kapan dan adanya wanita hamil.49 Jadi tindak pidana abortus provokatus sangat memerlukan bantuan ilmu kedokteran forensik, salah satunya dalam bentuk visum et repertum yang memiliki daya bukti dalam proses pembuktian di persidangan. Seperti yang diketahui bahwa dalam hukum acara pidana Indonesia, seseorang tidak bisa begitu saja dinyatakan bersalah dan dapat dihukum atas tuduhan yang didakwakan padanya. Hal ini merupakan bentuk dari penerapan asas praduga tak bersalah (presumption of innocent) yang diakui di Indonesia, sehingga harus ada pembuktian terlebih dahulu dalam menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa. Pada dasarnya ketentuan ini berlaku untuk semua pelaku tindak pidana, tidak terkecuali untuk pelaku tindak pidana abortus provokatus kriminalis. Proses pembuktian ini sangat penting artinya, karena berkaitan erat dengan penentuan status seorang terdakwa yang dihadapkan di muka persidangan dan akan mempertaruhkan masalah hak asasi manusia (HAM) serta memiliki korelasi dengan kualitas dari putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim. Mengenai masalah pembuktian ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Pasal 183 KUHAP bahwa ;
49

Bambang Poernomo, 1982, Hukum Pidana Kumpulan Karangan Ilmiah, Bina Aksara, Jakarta, hal. 143

61 Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Adapun alat-alat bukti yang sah seperti yang dimaksud dalam Pasal 183 KUHAP diatas diatur lebih lanjut dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, yaitu : 1. Keterangan saksi; 2. Keterangan ahli; 3. Surat; 4. Petunjuk; 5. Keterangan terdakwa Sehubungan dengan ketentuan Pasal 183 KUHAP tersebut di atas, diketahui bahwa ada batas minimum dalam mengajukan alat bukti di depan persidangan, yaitu minimal dua alat bukti yang sah, dan hakim memperoleh keyakinan bahwa benar telah terjadi tindak pidana serta terdakwalah yang bersalah melakukannya. Walaupun telah ada ketentuan yang demikian, tetap ada kendala dalam pelaksanaan proses pembuktian tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini, khususnya ketika alat-alat bukti yang sah tersebut dihadirkan di muka persidangan. Seringkali seorang wanita hamil yang melakukan abortus provokatus meminta bantuan pada seseorang, seperti dukun beranak, bidan, dokter, dan lain-lain. Mengingat bahwa tindak pidana abortus provokatus ini tidak hanya dapat menjerat orang yang membantu si wanita menggugurkan kandungannya tapi juga dapat menjerat si wanita itu sendiri, maka biasanya ketika para pihak yang terlibat dalam kejahatan ini dihadapkan di persidangan, mereka justru sangat berbelitbelit dalam memberikan keterangannya. Mereka saling melempar kesalahan demi menghindar dari jerat hukuman. Yang lebih rumit ketika hakim harus dihadapkan dengan terdakwa yang berprofesi sebagai dokter, sebab dokter akan memanfaatkan posisinya sebagai ahli medik dengan berdalih bahwa tindakan yang dilakukannya itu telah sesuai dengan ketentuan medis dan pertimbangan rasa kemanusiaan.50 Demikian halnya bila terdakwa didakwa dengan Pasal 347 KUHAP, karena dalam ketentuan Pasal ini terdapat unsur paksaan terhadap si wanita hamil untuk menggugurkan kandungannya. Disinilah sangat dibutuhkan kerja keras Penuntut Umum untuk dapat membuktikan adanya unsur paksaan tersebut dan hakimpun harus mampu bersikap objektif dalam menilai proses pembuktian terhadap setiap alat bukti yang ada di persidangan. Oleh karena itu, demi tercapainya tujuan hukum pidana yang mencari kebenaran sejati atau materiil waarheid, hakim dituntut untuk cermat, teliti dan hati-hati karena akan berpengaruh besar terhadap kualitas putusan yang akan diambil terhadap kasus abortus provokatus tersebut, tentunya dengan mempertimbangkan rasa keadilan baik bagi terdakwa, korban maupun masyarakat. Proses Pembuktian Tindak Pidana Abortus Provokatus Kriminalis di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang Dalam perkara pidana, masalah pembuktian berkaitan erat dengan tujuan hukum pidana itu sendiri yakni mencari kebenaran yang sesungguhnya
http://www. google. co. id, Dilema Dalam Pembuktian Abortus Provokatus, diakses pada hari Senin tanggal 29 September 2008 pkl. 16.23 WIB
50

B.

62 (kebenaran materil). Ini berbeda dengan tujuan hukum perdata yang lebih mencari kebenaran formil. Pembuktian tentang benar atau tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan merupakan bagian yang terpenting dalam acara pidana, karena mempertaruhkan hak asasi manusia.51 Adapun pembuktian berasal dari kata dasar bukti yaitu sesuatu untuk meyakinkan akan kebenaran suatu dalil, pendirian atau dakwaan. Dalam pembuktian itu sendiri terdapat upaya membuktikan yang menurut Van Bemmelen adalah memberikan kepastian yang layak menurut akal (redelijk) tentang : a. Apakah hal yang tertentu itu sungguh-sungguh terjadi; b. Apa sebabnya demikian halnya. Senada dengan hal tersebut, Martiman Prodjohamidjojo mengemukakan bahwa membuktikan mengandung maksud dan upaya untuk menyatakan kebenaran atas sesuatu peristiwa, sehingga dapat diterima akal terhadap kebenaran peristiwa tersebut.52 Definisi pembuktian tidak dapat kita ditemui dalam KUHAP yang menjadi dasar dalam proses beracara pidana di Indonesia. Namun menurut M. Yahya Harap, pembuktian adalah ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran. Dalam proses pembuktian, penuntut umum akan berupaya untuk meyakinkan hakim tentang surat dakwaan yang merupakan :53 1. Dasar penuntutan perkara ke pengadilan; 2. Dasar untuk pembuktian dan pembahasan juridis dalam tuntutan pidana (requisitoir); 3. Dasar untuk melakukan upaya hukum. Bagi terdakwa atau penasehat hukumnya, pembuktian dapat digunakan untuk melakukan pembelaan serta upaya meyakinkan hakim bahwa ia tidak bersalah. Bagi hakim, pembuktian digunakan untuk menilai terhadap kebenaran dakwaan Penuntut Umum dan pembelaan terdakwa atau penasehat hukumnya, sehingga hakim dapat memperoleh keyakinan akan bersalah atau tidaknya terdakwa dan menghasilkan suatu putusan (vonis). Pembuktian berpengaruh terhadap keyakinan hakim tentang bersalah atau tidaknya seorang terdakwa. Keyakinan hakim itu sendiri harus didasarkan pada sesuatu yang oleh Undang-undang disebut sebagai alat bukti.54 Yang dimaksud dengan alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.55 Abortus yang berasal dari bahasa Latin sama artinya dengan kata aborsi dalam bahasa Indonesia, yang merupakan terjemahan dari kata abortion dalam bahasa Inggris. Sedangkan dalam bahasa Arab, disebut

Andi Hamzah, 1996, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sapta Artha Jaya, Jakarta, hal. 257 52 Hari Sasangka, Lily Rosita, 2003, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung, hal. 11 53 Ibid hal. 4

51

R. Subekti, 1987, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 8 55 Hari Sasangka, Lily Rosita, op. cit, hal. 11

54

63 dengan isqat al-haml atau ijhad, yaitu pengguguran janin dalam rahim. 56 Dalam kamus Latin-Indonesia, abortus berarti wiladah sebelum waktunya atau keguguran, sedangkan dalam kamus Inggris-Indonesia, abortion berarti keguguran anak. 57 Perlu diketahui bahwa kata abortus atau aborsi itu memiliki makna yang sangat luas. Dalam Blacks Law Dictionary disebutkan bahwa abortus memiliki dua makna sebagai berikut : The spontaneous or artificially induced expulsion of an embryo or featus. As used in legal context refers to induced abortion. Bila diterjemahkan maka berarti bahwa keguguran yang berupa keluarnya embrio atau fetus semata-mata bukan karena terjadi secara alami (spontan), tapi juga karena disengaja atau terjadi karena ada campur tangan (provokasi) dari manusia. Dilihat dari sisi medis, yang dimaksud dengan abortus adalah berhentinya (mati) dan dikeluarkannya hasil konsepsi (pembuahan) sebelum usia kehamilan 20 minggu (dihitumg dari hari haid terakhir) atau sekitar 5 bulan, dengan berat janin (mudigah) kurang dari 500 gram atau panjang janin kurang dari 25 cm.58 Masalah abortus ternyata juga menjadi perhatian serius dari dunia Internasional, ini terlihat dari adanya definisi tentang abortus oleh World Health Organization (WHO), yaitu berakhirnya suatu kehamilan sebelum viability yakni sebelum janin mampu hidup sendiri di luar kandungan, yang diperkirakan usia kehamilannya di bawah usia 20 minggu. Sedangkan menurut Fact About Abortion Info Kit on Womens Health oleh Institute for Social Studies and Action, Maret 1991,
56 Maria Ulfah Anshor dkk, 2002, Aborsi Dalam Perspektif Fiqh Kontemporer, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 72 57 Suryono Ekotama dkk, op. cit, hal. 31 58 Maria Ulfah Anshor dkk, op. cit, hal. 3

abortus dalam istilah kesehatan didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu.59 Sementara itu, dari sisi hukum abortus dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau perbuatan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa membatasi usia kandungan si wanita. Ada dua pendapat tentang saat terjadinya abortus provokatus ini, yaitu :60 a. Abortus baru dapat dikatakan terjadi bila janin tersebut saat digugurkan masih dalam keadaan hidup; dan b. Abortus dapat dikatakan terjadi tanpa memandang apakah janin tersebut masih dalam keadaan hidup atau sudah mati saat digugurkan. Adapun abortus provokatus kriminalis sendiri merupakan bagian dari abortus (secara umum). Namun abortus provokatus kriminalis tersebut dapat diartikan sebagai tindakan aborsi yang dilakukan secara ilegal atau melawan hukum yang berlaku.61 Terjadinya abortus provokatus kriminalis ini bisa disebabkan antara lain karena : a. Standar nilai-nilai dalam keluarga yang menurun;

http://www. google. co. id, Aborsi dan Hak Atas Pelayanan Kesehatan, diakses pada hari Mingggu tanggal 25 Oktober 2008 pkl. 19.00 WIB 60 Adami Chazawi, 2007, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Jakarta; RajaGrafindo Persada. hal. 114 61 http://www. google. co. id, Kejahatan Aborsi, diakses pada hari Selasa tanggal 9 September 2008 pkl. 12.00 WIB

59

64 b. Seks bebas dalam pergaulan remaja; c. Kegagalan KB; dan d. Hamil akibat perkosaan. Terlepas dari semua definisi tentang abortus di atas, sangat disayangkan bahwa KUHP yang menjadi satu-satunya landasan utama untuk menjerat pelaku tindak pidana abortus provokatus, justru tidak memberi definisi yang jelas dan tegas tentang abortus provokatus itu sendiri, baik dalam pandangan medis maupun yuridis. Bahkan dalam KUHP tidak dibedakan antara istilah menggugurkan kandungan dan mematikan kandungan. Khusus mengenai masalah ini, kita dapat berpedoman pada konsep tata bahasa dan pendapat ahli, yaitu : 1.Menggugurkan berarti membuat gugur atau menyebabkan gugur yakni lepasnya kandungan dari rahim dan keluarnya kandungan tersebut dari tubuh wanita yang mengandung, di sini tidak dipersoalkan apakah kandungan yang digugurkan itu mati atau tidak. Sedangkan menurut Prof. Satochid Kartanegara, pengguguran adalah menyebabkan dilahirkannya si anak tidak menurut alam dan setelah anak dilahirkan lalu mati kerena belum saatnya untuk dilahirkan.62 2.Mematikan kandungan adalah jika kandungan tersebut lepas dari rahim dan keluar dari tubuh wanita yang mengandung serta kandungan tersebut harus mati.63 Musa Perdanakusuma memberi beberapa pengertian kandungan (vrucht) sebagai berikut : 64 1.Dalam arti janin pada umumnya yakni sejak berusia 2 minggu sampai 40 minggu dalam kandungan;
62 Leden Marpaung, 2002, Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 49 63 Suryono Ekotama dkk, op. cit, hal. 74 64 Ibid hal. 72

2.Dalam arti embrio murni; 3.Dalam arti embrio lanjutan; dan 4.Dalam arti foetus murni. Ahli ini berpendapat bahwa dalam poin 1, 2, dan 3 tersebut di atas, dapat terjadi apa yang disebut dengan menggugurkan kandungan, sedangkan dalam poin 4 barulah dapat terjadi apa yang disebut dengan mematikan kandungan. Sedangkan pengertian janin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah :65 a. Bakal bayi (masih dikandungan); dan b.Embrio setelah melebihi umur 2 bulan. Abortus dapat dibagi sebagai berikut : 1.Abortus Spontaneous (abortus spontan), adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya, bukan karena pengaruh perbuatan manusia untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Biasanya terjadi akibat kualitas sel sperma dan sel telur yang kurang baik dan hal ini tidak termasuk dalam tindak pidana. Abortus spontaneous (spontan) ini terdiri dari :66 a.Abortus Imminens, adalah peristiwa terjadinya perdarahan bercak dari uterus pada usia kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa ada dilatasi serviks. Dalam kondisi seperti ini, biasanya kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. b.Abortus Insipiens, adalah peristiwa perdarahan uterus pada usia
Leden Marpaung, op. cit, hal. 47 Abdul Bari Saifuddin dkk, 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPKKR-POGI, Jakarta, hal. 147-148
66 65

65 kehamilan sebelum 20 minggu, dan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, namun hasil konsepsi masih dalam uterus. c. Abortus Inkomplit, adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada usia kehamilan sebelum 20 minggu dan masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus. d.Abortus Komplit, adalah peristiwa keluarnya semua hasil konsepsi. 2.Abortus Provokatus adalah pengguguran kandungan yang disengaja, terjadi akibat adanya perbuatan manusia yang berusaha menggugurkan kandungannya. Abortus provokatus ini terdiri dari : a. Abortus Provokatus Medicinalis, adalah abortus yang dilakukan atas pertimbangan medis, di dalamnya tidak ada unsur kriminal. Ada beberapa sebab dilakukannya abortus provokatus 67 medicinalis ini, antara lain : 1) Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis; 2) Penyakit ganas pada saluran jalan lahir, seperti kanker serviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit ganas lainnya seperti kanker payudara; 3) Telah berulangkali melakukan operasi caesar; 4) Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, seperti jantung organik atau kegagalan jantung, hipertensi, tuberculosis paru aktif; 5) Epilepsi, skelerosis yang luas dan berat; 6) Penyakit-penyakit metabolik, seperti diabetes yang tidak terkontrol disertai komplikasi vaskuler; dan
http://www. google. co. id, Seputar Aborsi, diakses pada hari Senin tanggal 12 Januari 2008 pkl. 10.32 WIB
67

7) Gangguan jiwa disertai kecenderungan untuk bunuh diri. Akan tetapi, menurut dr. Soekono dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, ada beberapa alasan yang biasa dikemukakan oleh dokter dan si wanita hamil agar bisa melakukan abortus jenis ini, yaitu : a untuk menghentikan atau menghindari pengaruh yang buruk dari kehamilan atau persalinan terhadap kesehatan si ibu (baik secara fisik maupun mental); b untuk menghindari kemungkinan melahirkan bayi cacat (baik fisik, mental, atau keduanya); dan c untuk menghindari kelahiran bayi yang tidak diinginkan. Abortus provokatus merupakan tindak pidana biasa, bukan tindak pidana aduan. Ini berarti untuk dapat mengungkap kasus ini, pihak kepolisian tidak harus menunggu adanya pengaduan dari korban atau keluarganya, melainkan saat ada laporan dari masyarakat maka kepolisian harus segera menindaklanjuti laporan tersebut. Jadi dalam upaya untuk mengungkap kasus ini, tentunya sangat dibutuhkan sikap kooperatif masyarakat untuk mau melaporkan pada pihak kepolisian setempat bila masyarakat mengetahui bahwa telah terjadi tindak pidana abortus provokatus.68 Berdasarkan berbagai survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian, ditemukan bahwa abortus provokatus ini marak terjadi di masyarakat, baik yang dilakukan oleh
Hasil wawancara dengan Kristanto Budi Basuki, Penyidik di Polda Sumatera Barat, tanggal 31 Desember 2008 pkl 10.3711.50 WIB
68

66 para remaja yang hamil di luar nikah, maupun ibu-ibu rumah tangga dengan alasan mereka masing-masing. Disebabkan oleh ketatnya peraturan perundangundangan di Indonesia yang hanya membolehkan abortus provokatus dengan indikasi medik, maka banyak dari mereka yang terpaksa melakukan abortus provokatus kriminalis dengan cara yang tidak aman (unsafe abortion), meskipun ini berpotensi besar menimbulkan resiko komplikasi, antara lain perdarahan, tersengat aliran listrik, infeksi/sepsis, emboli udara,bahkan kematian69 Terkait dengan ketatnya pengaturan abortus provokatus, maka perlu diketahui bahwa ada beberapa kategori pelaku tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini, yaitu : 1.Wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu; 2.Orang lain yang menggugurkan kandungan seorang wanita, baik atas persetujuan maupun tanpa persetujuan wanita itu; 3. Dokter, bidan atau juru obat yang membantu seseorang menggugurkan kandungan; 4.Seseorang yang melalui suatu pengobatan menimbulkan harapan akan dapat menggugurkan kandungan; dan 5.Seseorang yang terang-terangan menunjukkan, menawarkan atau menyiarkan sarana pengguguran kandungan. Dari kelima kategori pelaku tindak pidana abortus provokatus kriminalis yang ditangani oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Padang adalah wanita yang menggugurkan kandungannya (2 kasus) serta orang lain yang menggugurkan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan si wanita itu (1
Hasil wawancara dengan Desmawati, spesialis kandungan dan kebidanan RS. M. Djamil Padang, tanggal 6 Januari 2009 pkl. 11.32-12.20 WIB
69

kasus). Menjadi sangat menarik, bahwa ketika banyak lembaga survei yang mensinyalir maraknya praktek abortus provokatus kriminalis di masyarakat, justru hal ini berbanding terbalik dengan jumlah kasus yang berhasil diungkap dan ditangani oleh aparat penegak hukum hingga sampai ke tingkat Pengadilan, seperti yang tercantum dalam tabel sebagai berikut : Kasus Tindak Pidana Abortus Provokatus Kriminalis Yang Telah Diputus Oleh Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang Tahun Kasus Putusan Pengadilan 1998 2 Pemidanaan 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 1 Pemidanaan 2007 2008 3 Kasus
Sumber Data : Pengadilan Negeri Kelas IA Padang

Dari tabel tersebut di atas, dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, yakni dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2008, hanya ada tiga kasus abortus provokatus kriminalis yang masuk ke Pengadilan Negeri Kelas IA Padang. Minimnya jumlah kasus abortus provokatus kriminalis ini biasanya disebabkan karena sulitnya untuk mengajak masyarakat bekerjasama dengan memberi laporan pada kepolisian tentang telah terjadinya tindak pidana abortus provokatus dilingkungannya. Padahal bila masyarakat mau melaporkannya, maka pihak kepolisian akan segera memulai

67 titik awal penyidikan terhadap kasus tersebut.70 Khusus mengenai rendahnya sikap kooperatif masyarakat dalam upaya membongkar kasus abortus provokatus, seorang hakim di Pengadilan Negeri Padang yang pernah menangani kasus abortus provokatus mengungkapkan keprihatinannya, bahwa ini sebenarnya bisa dimaklumi mengingat masih banyak masyarakat yang berpikir tindak pidana abortus provokatus adalah masalah yang sangat sensitif karena menyangkut aib yang sangat memalukan baik terhadap si pelakunya sendiri maupun keluarganya, terlebih lagi abortus provokatus ini dirasakan oleh masyarakat berpengaruh besar terhadap ketenangan dan ketentraman mereka karena lebih pada masalah internal keluarga yang bersangkutan.71 Untuk dapat menghukum pelaku tindak pidana abortus provokatus ini tentunya harus melalui proses pembuktian dipersidangan, sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan KUHAP. Untuk dapat sampai pada proses pembuktian tersebut, terlebih dahulu melalui berbagai proses awal, seperti tahap penyelidikan dan penyidikan dengan tetap memperhatikan hak-hak tersangka seperti hak untuk didampingi oleh Penasehat Hukum.72Setelah proses penyidikan itu selesai, pihak penyidik akan segera menyerahkan berkas perkara pada Penuntut Umum.73 Untuk selanjutnya Penuntut
70 Hasil wawancara dengan Kristanto Budi Basuki, Penyidik di Polda Sumatera Barat, tanggal 31 Desember 2008 pkl 10.37-11.50 WIB 71 Hasil wawancara dengan Amat Khusaeri, Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, tanggal 11 Desember 2008 pkl 13.42-14.55 WIB 72 Hasil wawancara dengan Johannes Lubis, Penyidik di Poltabes Padang, tanggal 5 Januari 2009 pkl. 13.40-14.35 WIB 73 Hasil wawancara dengan Kristanto Budi Basuki, Penyidik di Polda Sumatera Barat, tanggal 31 Desember 2008 pkl 10.37-11.50 WIB

Umum harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam memeriksa kelengkapan berkas perkara tersebut. Kecermatan dan ketelitian itu sangat penting, karena akan berpengaruh besar terhadap proses penuntutan terhadap terdakwa dipersidangan nantinya.74 Apabila berkas perkara yang diserahkan oleh penyidik itu dirasa Penuntut Umum masih belum lengkap, maka Penuntut Umum berhak untuk mengembalikan berkas perkara tersebut pada penyidik untuk segera dilengkapi dengan disertai petunjuk oleh Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan Pasal 138 ayat (1) dan (2) KUHAP. Dalam proses ini, tidak jarang terjadi bolak-balik berkas perkara antara penyidik dengan Penuntut Umum, dan biasanya disebabkan karena masih kurangnya keterangan saksi dan tersangka.75 Setelah semua tahap tersebut diatas selesai, selanjutnya dimulai proses persidangan melalui acara pemeriksaan biasa seperti yang telah diatur dalam Pasal 152-182 KUHAP tentang acara pemeriksaan biasa. Untuk dapat mengetahui bersalah atau tidaknya terdakwa tentunya dibutuhkan suatu proses pembuktian dipersidangan. Bila alat bukti ternyata tidak cukup untuk dapat membuktikan kesalahan terdakwa, maka terdakwa harus dibebaskan namun sebaliknya bila dari proses pembuktian itu bisa membuktikan kesalahan terdakwa sebagaimana dakwaan Penuntut
Hasil wawancara dengan Dodi Arifin, Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Padang, tanggal 12 Desember 2008 pkl 09.4511.00 WIB 75 Hasil wawancara dengan Johannes Lubis, Penyidik di Poltabes Padang, tanggal 5 Januari 2009 pkl 13.40-14-35 WIB
74

68 Umum, maka terdakwa akan dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana. Oleh karena itu, selain Penuntut Umum sebenarnya majelis hakim juga sangat dituntut untuk cermat dan teliti serta berhati-hati dalam menilai proses pembuktian tersebut.76 Adapun proses pembuktian terhadap tindak pidana abortus provokatus kriminalis di persidangan Pengadilan Negeri Kelas IA Padang dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Pembacaan surat dakwaan; 2. Pembacaan tanggapan oleh Penasehat Hukum (eksepsi) atas surat dakwaan dari Penuntut Umum; 3. Tanggapan Penuntut Umum atas eksepsi dari terdakwa atau Penasehat Hukumnya; 4. Putusan Sela oleh majelis hakim atas eksepsi dari Penasehat Hukum; 5. Pemeriksaan para saksi, barang bukti dan terdakwa; 6. Pembacaan tuntutan pidana (requisitor) oleh Penuntut Umum; 7. Pembacaan bantahan atas requisitor oleh Penasehat Hukum (pledoi); 8. Pembacaan bantahan Penuntut Umum (replik) atas pledoi dari Penasehat Hukum; 9. Pembacaan bantahan terhadap replik (duplik) oleh Penasehat Hukum; dan 10. Putusan oleh majelis hakim. Seperti yang diketahui bahwa sebelum majelis hakim membuat putusan, maka Penuntut Umum harus lebih dahulu membuktikan bahwa terdakwa itu bersalah sesuai dakwaan yang diajukan Penuntut Umum terhadapnya. Untuk membuktikan kesalahan terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, dilakukan beberapa cara sebagai berikut : 1. Pemeriksaan terhadap saksi-saksi 2. Pemeriksaan terhadap surat-surat 3. Petunjuk
Hasil wawancara dengan Dodi Arifin, Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Padang, tanggal 12 Desember 2008 pkl 09.45-11.00 WIB
76

4. Pemeriksaan terhadap terdakwa Kemudian, dari rangkaian pemeriksaan di persidangan itu maka diperolehlah yang disebut dengan keterangan saksi, keterangan terdakwa, seperti berikut ini : 1. Keterangan Saksi-saksi Mengenai keterangan saksi, bila kita melihat ketentuan Pasal 160 ayat (1) butir b bahwa yang pertama kali harus didengar keterangannya adalah korban yang menjadi saksi. Dari ketiga kasus yang ditangani oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, maka hanya ada satu kasus yang dapat diterapkan ketentuan Pasal tersebut, yaitu kasus dengan terdakwa bernama Juhermanto alias Juher dan yang menjadi korban adalah Ermi. Setelah didengar keterangan saksi korban tersebut, barulah didengar keterangan para saksi lainnya. 2. Surat Dari ketiga tindak pidana abortus provokatus tersebut, selalu ada Visum Et Repertum baik atas pemeriksaan terhadap korban maupun pelaku (dalam hal pelakunya adalah perempuan yang mengandung tersebut), di samping itu juga ada beberapa jenis surat lainnya seperti surat keterangan positif hamil dari seorang dokter praktek, serta surat pernyataan bahwa pelaku tidak perlu didampingi oleh Penasehat Hukum dalam tahap penyidikan. Terkait dengan visum et repertum atas pemeriksaan medik terhadap tubuh janin yang diabortus, biasanya hanya dilakukan pemeriksaan luar saja, tidak sampai pada pemeriksaan dalam, namun semuanya tetap tergantung pada surat permintaan

69 dari pihak kepolisian.77 Dalam ilmu kedokteran kehakiman, pemeriksaan dalam terhadap tubuh janin yang digugurkan tidaklah terlalu berpengaruh. Akan tetapi, bila tidak dilakukan pemeriksaan dalam terhadap tubuh janin tersebut, maka tidak akan diketahui apakah janin tersebut lahir dalam keadaan hidup atau memang sudah mati.78 3. Petunjuk Petunjuk ini dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa itu sendiri, seperti yang diatur dalam Pasal 188 ayat (2) KUHAP. 4. Keterangan Terdakwa Dari tiga kasus mengenai tindak pidana abortus provokatus tersebut, juga ada beberapa barang bukti yang berhasil ditemukan. Pada tingkat penyidikan, barang-barang bukti tersebut biasanya diperlihatkan pada tersangka dan para saksi termasuk saksi korban.79 Adapun barangbarang bukti tersebut meliputi : a. Obat berupa pil merk Searle yang dilarang bagi wanita hamil untuk meminumnya; b. Piring kecil yang digunakan oleh pelaku untuk meramu merica yang dioleskan ke perut si pelaku itu sendiri; c. Kain sarung yang digunakan oleh pelaku untuk membungkus janin yang digugurkannya; d. Tas jinjing berwarna merah yang digunakan pelaku untuk membawa bungkusan janin yang telah digugurkan oleh si pelaku; e. Sebuah celana Hawaii yang dipakai oleh pelaku sesaat setelah menggugurkan kandungannya tersebut; f. Sebuah remason; dan g. Plastik berwarna putih. Adapun semua barang bukti tersebut telah disita secara sah menurut hukum, jadi dapat dipergunakan untuk memperkuat pembuktian, dan majelis hakim dapat memperlihatkan barang bukti yang ada di persidangan kepada terdakwa lalu menanyakan kebenaran barang bukti tersebut langsung pada terdakwa. Setelah alat-alat bukti yang sah menurut Undang-undang diperiksa satu- persatu di persidangan, maka Penuntut Umum akan memberikan analisis yuridisnya yaitu pembuktian unsur pasal yang didakwakan pada terdakwa sesuai dengan fakta hukum yang telah dikemukakan sebelumnya. Dalam requisitornya berkesimpulan bahwa terdakwa terbukti secara sah menurut hukum telah melakukan tindak pidana abortus provokatus kriminalis sebagaimana yang diatur dalam KUHP, dengan unsur-unsur sebagai berikut : 1. Pasal 346 KUHP, unsur-unsur dari pasal ini yang telah dilanggar oleh terdakwa adalah : a. Dengan sengaja Yaitu mempunyai maksud atau tujuan pada terwujudnya suatu perbuatan oleh si pelaku. Dalam kasus ini terdakwa telah punya niat menggugurkan atau mematikan kandungannya sejak pacar terdakwa tidak pernah lagi menemui terdakwa sehingga terdakwa merasa malu akan melahirkan anak tanpa ayah, dan hal itu dilakukan terdakwa dengan cara mengolesi perutnya dengan merica selama empat hari. Oleh karena itu

Hasil wawancara dengan Rika Susanti, spesialis forensik di RS. M. Djamil Padang, tanggal 9 Januari 2009 pkl 11.00-11.37 WIB 78 Hasil wawancara dengan Rika Susanti, spesialis forensik di RS. M. Djamil Padang, tanggal 9 Januari 2009 pkl 11-00-11.37 WIB 79 Hasil wawancara dengan Johannes Lubis, Penyidik di Poltabes Padang, tanggal 6 Januari 2009 pkl 14.00-14.54 WIB

77

70 unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. b. Menyebabkan gugur atau matinya kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu Bahwa setelah terdakwa mengetahui dirinya hamil dan berusaha memberitahukannya pada pacar terdakwa, namun ternyata pacar terdakwa ingkar janji untuk bertanggungjawab, maka terdakwa berusaha menggugurkan kandungannya antara lain dengan menusuk-nusukkan batang daun ubi kayu ke dalam vaginanya serta mengoles perutnya dengan merica selama empat hari. Cara-cara tradisional seperti itu ternyata memang berpengaruh besar terhadap kandungan si ibu, karena merica dapat menimbulkan rasa panas di bagian perut dan batang ubi kayupun bila dimasukkan ke dalam vagina sampai ke uterus, akan bisa memecah selaput amnion.80 Terdakwa sangat menyadari dan mengetahui akibat dari perbuatannya tersebut dapat menyebabkan kandungannya gugur atau mati, dan sesuai dengan keterangan para saksi bahwa benar terdakwa telah melahirkan janinnya yang saat itu sudah tidak bernyawa lagi. Dengan begitu unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Berdasarkan uraian di atas, maka terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 346 KUHP. 2. Pasal 347 ayat (1) KUHP, unsur-unsur dari pasal ini yang telah dilanggar oleh terdakwa adalah: a. Barang siapa Dimaksud dengan barang siapa dalam hal ini adalah terdakwa yang bernama
Hasil wawancara dengan Syahredi, spesialis kandungan dan kebidanan RS. M. Djamil Padang, tanggal 6 Januari 2009 pkl 10.15-11.10 WIB
80

Juhermanto Pgl Juher dan memiliki identitas seperti dalam surat dakwaan Penuntut Umum, dan ternyata pada diri terdakwa tidak terdapat hal-hal yang dapat menghapuskan pidana. Jadi unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. b. Dengan sengaja Bahwa terdakwa telah membeli obat merk Searle yang dilarang untuk diminum wanita hamil, terdakwa yang memasukkan obat itu ke mulut saksi Ermi juga meminumkan air ragi pada saksi Ermi. Jadi unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. c. Menyebabkan gugur atau matinya kandungan seorang perempuan Bahwa setelah beberapa waktu kemudian, perut saksi Ermi terasa mulas, panas, muka pucat dan banyak mengeluarkan keringat lalu keluar gumpalan darah lebih dari satu kali. Setelah dilakukan pemeriksaan ke dokter, diketahui bahwa saksi Ermi sudah tidak hamil lagi, ini juga diperkuat dengan hasil Visum Et Repertum terhadap saksi Ermi. Jadi unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. d. Tanpa ijin perempuan yang bersangkutan Bahwa saksi Ermi tidak mau meminum obat yang diberi terdakwa padanya, dan saksi Ermi pernah membuang obat tersebut ke samping rumahnya, ini karena saksi tidak mau menggugurkan kandungannya dan saksi juga takut mati. Jadi unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Berdasarkan uraian tersebut maka Penuntut Umum dalam requisitor berkesimpulan bahwa

71 terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 347 ayat (1) KUHP.Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti bersalah sesuai dengan dakwaan Penuntut Umum terhadapnya, dan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan majelis hakim yaitu : 1. Hal-hal yang memberatkan : a.Terdakwa kurang mengakui terus terang atas perbuatannya, sehingga agak menyulitkan dalam pemeriksaan perkara ini; dan b.Terdakwa telah bersetubuh di luar nikah dengan saksi Ermi tetapi terdakwa tidak bertanggungjawab untuk menikahinya. 2. Hal-hal yang meringankan : a. Terdakwa bersikap sopan selama persidangan; dan b. Terdakwa masih muda dan masih dapat diharapkan merubah kesalahannya dikemudian hari. Dari seluruh penjelasan mengenai proses pembuktian terhadap kasus abortus provokatus kriminalis tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa proses pembuktian itu telah memenuhi ketentuan mengenai pembuktian yang diatur dalam KUHAP. C. Kendala Yang Dihadapi Dalam Proses Pembuktian Tindak Pidana Abortus Provokatus Kriminalis di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang Pada prinsipnya, keberhasilan dalam melaksanakan suatu proses pembuktian yang baik dan sesuai dengan ketentuan Undang-undang akan sangat membantu hakim dalam mengambil putusan terhadap terdakwa, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa itu sendiri. Tentunya keberhasilan tersebut akan sangat tergantung pula dengan koordinasi yang baik dan efisien antar aparat penegak hukum yang terkait, mulai dari tingkat penyidik hingga majelis hakim, khususnya menyangkut proses pembuktian dan alat-alat bukti. Sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia bahwa hakim tidak dapat begitu saja menghukum seseorang tanpa didukung oleh alat-alat bukti yang sah, yang dapat membuktikan bahwa terdakwa benar-benar telah secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, khususnya dalam hal ini adalah tindak pidana abortus provokatus kriminalis. Memang benar bahwa alat-alat bukti yang dihadirkan oleh Penuntut Umum dalam kasus-kasus tindak pidana abortus provokatus kriminalis di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, telah sesuai dengan ketentuan KUHAP khususnya Pasal 184 KUHAP. Akan tetapi, dalam proses pembuktian tersebut tetap terdapat beberapa kendala, yaitu : 1. Sulitnya menghadirkan saksi-saksi di persidangan Ini adalah kesulitan utama yang seringkali dihadapi oleh Penuntut Umum dalam proses pembuktian di persidangan.81 Padahal bila melihat ketentuan Pasal 184 KUHAP, ditegaskan bahwa saksi berada dalam urutan pertama untuk didengar keterangannya di persidangan. Dalam tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini, sekiranya yang meyebabkan saksi-saksi sulit untuk hadir dipersidangan adalah karena mereka masih berpikiran bahwa tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini sebagai suatu masalah yang sangat sensitif untuk dibicarakan di depan umum karena menyangkut aib
Hasil wawancara dengan Dodi Arifin, Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Padang, tanggal 12 Desember 2008 pkl 09.4511.00 WIB
81

72 seseorang dan keluarganya, terlebih lagi masih banyak yang menganggapnya sebagai masalah internal dalam keluarga yang bersangkutan. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan ketidakhadiran saksi dipersidangan akibat saksi yang awam hukum. Seringkali mereka berpikir bahwa bila mereka memberikan keterangannya dipersidangan justru mereka bisa terkena masalah yang lebih besar. Pemikiran yang seperti ini tentu sangat tidak rasional, tapi bisa dimaklumi karena tidak jarang yang menjadi saksi itu adalah orang yang tidak berpendidikan, seperti petani, pemulung, dan sebagainya. Disamping itu, selama ini ada indikasi bahwa saksi hanya sekedar ingin lepas tanggung jawab dari kewajibannya sebagai saksi, dengan memberikan keterangan yang tidak relevan, berbelitbelit bahkan saat dipersidangan saksi itu diperlihatkan kembali dengan keterangan yang telah dia berikan sebelumnya di tingkat penyidikan, saksi malah jadi bingung sendiri. Ini yang jadi penyebab adanya perbedaan antara keterangan saksi yang ada di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saat penyidikan dengan keterangan yang saksi berikan di persidangan. Sebagai upaya untuk mengatasi hal ini, adalah dengan adanya upaya paksa untuk menghadirkan saksi yang mangkir tersebut kepersidangan. Ini dapat dilakukan berdasarkan adanya penetapan dari majelis hakim yang nanti akan dilaksanakan oleh pihak Kejaksaan bekerja sama dengan Kepolisian. Biasanya terhadap saksi yang mangkir tersebut, akan dimasukkan sementara ke dalam sel di Kejaksaan agar saksi itu jera.82 Namun terkait dengan istilah upaya paksa tersebut, seorang hakim di Pengadilan Negeri Padang
Hasil wawancara dengan Dodi Arifin, Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Padang, tanggal 12 Desember 2008 pkl 09.45-11.00 WIB
82

membantah keras penggunaan istilah tersebut. Menurutnya di dalam KUHAP tidak ada istilah upaya paksa untuk mengadirkan saksi dipersidangan, yang ada hanya penetapan majelis hakim berisi perintah untuk menghadapkan saksi yang bersangkutan ke persidangan sesuai dengan ketentuan Pasal 159 ayat (2) KUHAP.83 2. Keributan yang terjadi saat persidangan Biasanya yang terlibat dalam keributan ini adalah pihak keluarga korban dengan keluarga terdakwa,84 atau antara keluarga terdakwa (perempuan yang menggugurkan kandungannya) dengan keluarga pacar terdakwa. Keluarga si perempuan merasa tidak terima atas perlakuan sang pacar yang telah menghamili si perempuan, tapi kemudian menolak untuk bertanggungjawab. Dalam hal ini, keluarga sang pacar justru mencaci maki si perempuan dengan mengatainya perempuan murahan dan tidak tahu diri. Akibatnya kedua pihak yang sama emosi terlibat adu mulut dan nyaris terjadi baku hantam di ruang persidangan.Untuk mengatasi hal ini, para pihak yang terlibat keributan akan dikeluarkan dari ruang sidang dan persidangan ditunda sementara waktu. Bila memungkinkan, persidangan dapat tetap dilanjutkan hari itu juga tapi bila tidak memungkinkan maka majelis hakim
Hasil wawancara dengan Yoserizal, Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, tanggal 18 Desember 2008 pkl 10.23-11.15 WIB 84 Hasil wawancara dengan Amat Khusaeri, Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA PAdang, tanggal 11 Desember 2008 pkl 13.42-14.55 WIB
83

73 dapat menunda sidang tersebut dan melanjutkan sidang sampai hari berikutnya.85 Pada prinsipnya, keributan yang terjadi dalam ruang persidangan saat persidangan sedang berlangsung merupakan bagian dari contempt of court, yang biasanya berpengaruh terhadap wibawa, martabat dan kehormatan lembaga peradilan itu sendiri. Ada beberapa bentuk contempt of court, yaitu :86 a. Penghinaan terhadap pengadilan melalui pemberitahuan dan publikasi (sub judice rule) b. Mengacaukan jalannya pengadilan (obstructing justice) c. Menyerang integritas dan impartialitas pengadilan (scandalizing of court) d. Tidak mematuhi perintah pengadilan (disobeying a court orde) e. Tidak berkelakuan baik dalam pengadilan (misbehaving in court) PENUTUP A. Kesimpulan 1.Pada prinsipnya proses pembuktian tindak pidana abortus provokatus kriminalis di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUHAP. Dalam kasus tindak pidana abortus provokatus kriminalis ini, dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, surat, dan terdakwa. Dengan adanya alat-alat bukti tersebut, majelis hakim memperoleh keyakinan bahwa benar-benar telah terjadi tindak pidana abortus provokatus kriminalis, dan terdakwalah yang bersalah melakukannya. Oleh karena itu, dalam tiga kasus abortus provokatus kriminalis
Hasil wawancara dengan Yoserizal, Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, tanggal 18 Desember 2008 pkl 10.23-11.15 WIB 86 http://www.hukum online. com, diakses pada hari Senin tanggal 29 Desember 2008 pkl 17.16 WIB
85

yang ditangani oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Padang dalam kurun waktu tahun 1998 hingga tahun 2008, setelah melalui proses pembuktian sesuai ketentuan KUHAP, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara terhadap pelaku masing-masing kasus tersebut. 2.Dalam proses pembuktian tindak pidana abortus provokatus kriminalis di Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, ditemui beberapa kendala, yaitu ketidakhadiran saksi dan keributan yang terjadi saat proses persidangan sehingga majelis hakim harus menunda jalannya persidangan selama beberapa waktu. Dari beberapa kendala tersebut, yang paling berarti adalah ketidakhadiran saksi dipersidangan, karena keterangan saksi merupakan alat bukti yang pertama kali diperiksa dipersidangan. B. Saran 1.Dalam proses pembuktian, khususnya tindak pidana abortus provokatus kriminalis, hakim harus benar-benar cermat, teliti dan hatihati dalam menilai alat-alat bukti yang dihadirkan selama proses pembuktian dipersidangan diharapkan nantinya akan menghasilkan suatu putusan yang mampu mengakomodir penegakan hukum dan keadilan, baik bagi negara, masyarakat, korban maupun pelaku tindak pidana tersebut. 2.Harus ada tindakan yang tegas terhadap saksi-saksi yang tidak mau atau menolak untuk hadir dan memberikan keterangannya di persidangan, begitu pula terhadap para pihak yang terlibat keributan dalam ruang persidangan

74 DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku Abdul Bari Saifuddin dkk, 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPKKR-POGI, Jakarta, hal. 147-148 Adami Chazawi, 2007, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Jakarta; RajaGrafindo Persada Andi Hamzah, 1996, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sapta Artha Jaya, Jakarta, Bambang Poernomo, 1982, Hukum Pidana Kumpulan Karangan Ilmiah, Bina Aksara, Jakarta Hari Sasangka, Lily Rosita, 2003, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung Leden Marpaung, 2002, Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh, Sinar Grafika, Jakarta Maria Ulfah Anshor dkk, 2002, Aborsi Dalam Perspektif Fiqh Kontemporer, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 72 R. Subekti, 1987, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta Syafruddin, 2003, Abortus Provocatus dan Hukum, USU, Sumatera Utara Suryono Ekotama dkk, 2001, Abortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif Viktimologi, Kriminologi, dan Hukum Pidana, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta B. Media http://www. google. co. id, Aborsi dan Hak Atas Pelayanan Kesehatan, diakses pada hari Mingggu tanggal 25 Oktober 2008 pkl. 19.00 WIB http://www. google. co. id, Kejahatan Aborsi, diakses pada hari Selasa tanggal 9 September 2008 pkl. 12.00 WIB http://www. google. co. id, Seputar Aborsi, diakses pada hari Senin tanggal 12 Januari 2008 pkl. 10.32 WIB http://www.aborsi.org , Sindrom Paska Aborsi Dari Sudut Pandang Seorang Dokter, diakses pada hari Kamis tanggal 30 Oktober 2008 pkl. 21.05 WIB http://www.kesrepro.info, Aborsi di Indonesia, diakses pada hari Selasa tanggal 28 Oktober 2008 pkl. 13.15 WIB http://www.google. co.id , Aborsi Dari Tiga Sudut, diakses pada hari Selasa tanggal 16 September 2008 pkl. 11.00 WIB http://www. google. co. id, Dilema Dalam Pembuktian Abortus Provokatus, diakses pada hari Senin tanggal 29 September 2008 pkl. 16.23 WIB http://www.hukum online. com, diakses pada hari Senin tanggal 29 Desember 2008 pkl 17.16 WIB

75 PENERAPAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PRAKTEK PRAPENUNTUTAN (Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Padang) Nilma Suryani, SH, MH, Tenofrimer, SH, MSi dan Gusri Ramayana Mila Sari Abstract Indonesian criminal procedure law recognise some important principles as guidance in the rule of law. One of those principles is the principle of simple, quick and cheap trial. This principle supposed to be valid in every criminal proceeding, including in the process of Pretrial. Pretrial is a process of asking information from public prosecutors to the police. In this process, there could be some returning documents from and to prosecutors and police. This causes the investigation process took deliberate time and money. According to the research did at Padang Public Prosecution, the returning documents in the pretrial process happens regularly. Many of the criminal case documents are returned back to Padangs Police office with certain reasons. This condition seems to be in conflict with the defendants rights and the principle of simple, quick and cheap trial. Based on those backgrounds, it is interesting to investigate the practice of principle of simple, quick and cheap trial, particularly in the process of pretrial. This research employs legal and sociologist approach with the method of collecting data by interview and documents studies. The processing and analysing data is cumulative and descriptive. The result of
Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang

the research shows that the principle of simple, quick and cheap trial has already done in the best effort. However, it has not completely successful in the practice at Padang Public Prosecution. Therefore, it is very important that the public prosecutors and police to coordinate and consult each other to ensure that the principle of simple, quick and cheap trial is achieved. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana materiel, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana.87 Pada prinsipnya sistem peradilan pidana bertujuan untuk mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan, menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah telah dipidana, serta mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.88 Keberhasilan sistem peradilan pidana sebagai sarana penegakan hukum di Indonesia sangat tergantung pada kinerja dari masing-masing subsistem. Subsistem dalam sistem peradilan pidana ini adalah lembagalembaga penegak hukum. Ketertiban, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat sebagai salah satu keberhasilan sistem peradilan pidana dapat terwujud apabila lembaga87 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana (cryminal justice system) Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme, Bina Cipta, Jakarta, 2004, hal 16 88 Ibid, hal 15

76 lembaga dalam sistem peradilan pidana tersebut melaksanakan tanggung jawab dan fungsinya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini adalah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Tanggungjawab dan fungsi yang dilaksanakan oleh masing-masing lembaga tersebut haruslah didukung dengan adanya sinkronisasi atau keserampakan dan keselarasan. Keselarasan yang dimaksud disini adalah keselarasan antara lembagalembaga penegak hukum, keselarasan dalam kaitannya dengan hukum positif dan keselarasan dalam menghayati pandanganpandangan sikap dan falsafah yang secara menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan pidana.89 Keselarasan dalam kaitannya dengan hukum positif dapat terlihat dari substansi peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini adalah KUHAP dan peraturan perundang-undangan lainnya. Keselarasan ini memiliki arti penting dalam pelaksanaan hukum acara pidana agar tujuan hukum acara pidna itu dapat terwujud. Adapun tujuan dari hukum acara pidana tersebut antara lain dapat dibaca pada Pedoman Pelaksana KUHAP sebagai berikut : Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkaplengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan
89

apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan. Tujuan hukum acara pidana sebagaimana dimaksud di atas hanyalah merupakan tujuan antara. Tujuan akhir sebenarnya dari pelaksanaan hukum acara pidana adalah untuk mencapai suatu ketertiban, ketentraman, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan dalam masyarakat.90 Hukum acara pidana juga memberi perlindungan kepada hak asasi manusia dalam keseimbangannya dengan kepentingan umum, maka dalam KUHAP yang diutamakan adalah mengenai perlindungan terhadap hakikat dan martabat manusia.91 Perlindungan HAM yang ingin diwujudkan oleh hukum acara pidana terlihat dari beberapa prinsip penting dalam hukum acara pidana, yakni : 1. Asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan 2. Asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) 3. Asas Legalitas 4. Asas Keseimbangan 5. Asas Opportunitas 6. Prinsip pembatasan penahanan 7. Asas ganti rugi dan rehabilitasi 8. Asas unifikasi 9. Prinsip diferensiasi fungsional
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hal 9 91 Suharto RM, Penuntutan dalam Praktek Peradilan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hal 3
90

Ibid, hal 17

77 10. Prinsip koordinasi 11. Semua orang diperlakukan sama di depan hakim 12. Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap 13. Tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum 14. Asas akusator dan inkisitor (accusatoir dan inquisatoir) 15. Pemeriksaan yang langsung dan lisan Dari beberapa prinsip di atas, selanjutnya akan dibahas lebih dalam mengenai asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Sebagai salah satu prinsip penting, asas ini terlihat dari ketentuan Pasal-pasal didalam KUHAP yang banyak menggunakan istilah segera.92 Dari istilah tersebut terlihat bahwa peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini adalah KUHAP, menghendaki proses pemeriksaan suatu perkara dilaksanakan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan sehingga penyelesaian perkara tersebut tidak memakan waktu yang lama dan biaya yang banyak. Asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan semestinya berlaku dalam setiap proses pemeriksaan perkara. Hal ini tentu saja terkait pula dengan keselarasan antara lembaga penegak hukum, dalam hal ini dikhususkan pada penyidik dan penuntut umum, dapat terlihat pada saat penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum untuk diperiksa kelengkapannya oleh penuntut umum, baik kelengkapan syarat formil maupun kelengkapan syarat materiil. Sesuai dengan Pasal 138 ayat (1) KUHAP, maka dalam waktu 7 (tujuh) hari penuntut umum wajib memberitahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan tersebut telah lengkap atau belum. Jika berkas perkara diketahui belum
92

lengkap, maka penuntut umum mengembalikan berkas perkara tersebut kepada penyidik Polri untuk dilengkapi dalam jangka waktu yang telah ditentukan oleh Pasal 138 ayat (2) KUHAP, yakni dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal penerimaan berkas perkara disertai dengan petunjuk-petunjuk dari penuntut umum tentang hal yang harus dilakukan oleh penyidik Polri dalam rangka melengkapi berkas perkara tersebut. Setelah dilengkapi, maka penyidik Polri berkewajiban untuk menyerahkannya kembali kepada penuntut umum dalam waktu 14 (empat belas) hari. Selanjutnya berkas perkara yang telah dilengkapi dikembalikan lagi kepada penuntut umum untuk diperiksa sekali lagi. Apabila dirasa telah lengkap, maka penuntut umum segera memberitahukan hal ini kepada penyidik Polri, Sebaliknya, apabila belum lewat jangka waktu 14 (empat) belas hari dari tanggal penerimaan berkas perkara, penuntut umum masih berhak lagi mengembalikan berkas perkara kepada penyidik Polri.93 Proses tersebut diatas dikenal dengan prapenuntutan. Berdasarkan isi Pasal 14 huruf b KUHAP dapat disimpulkan bahwa prapenuntutan merupakan pemberian petunjuk oleh penuntut umum apabila ada kekurangan penyidikan dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik.94 Prapenuntutan dilakukan sebelum proses penuntutan. Proses ini
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2001, hal 348 94 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, Sinar Grafika Jakarta, 2004, hal 60
93

Andi Hamzah, op cit, hal 10

78 sesuai dengan tugas dan wewenang penuntut umum yang terdapat dalam Pasal 14 butir a KUHAP, yakni menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik polri atau penyidik pembantu. Mengenai prapenuntutan ini juga di atur dalam Pasal 110 ayat (1) sampai dengan ayat (4) KUHAP. Pada tahap prapenuntutan inilah mungkin terjadi bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik Polri. Bolak-balik berkas perkara ini dapat terjadi lebih dari dua kali. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan proses pemeriksaan suatu perkara memakan waktu yang lama. Berkas perkara hanya bolak-balik antara penuntut umum dan penyidik Polri saja, sehingga pelimpahan perkara dari kejaksaan ke pengadilan menjadi lambat, memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Kemungkinan Bolak-balik berkas perkara hingga berkali-kali ini seperti bertentangan dengan kepentingan tersangka serta berlawanan dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.95 A. Penerapan Asas Peradilan Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan dalam Praktek Prapenuntutan yang Terjadi Terhadap Suatu Kasus Pidana Asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan sebenarnya bukan merupakan hal baru dalam pelaksanaan sistem peradilan pidana di Indonesia. Prinsip ini terdapat dalam Pasal 4 UU Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU 4/2004) yang memuat bahwa : Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan. Pencantuman peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan (justice; speedy trial) ini di dalam KUHAP, juga cukup banyak diwujudkan dengan istilah segera.96
95 96

Istilah segera sebagai perwujudan dari asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan yang terdapat di dalam KUHAP tersebut bersifat relatif, untuk itu diperlukan penegasan mengenai pengertian istilah tersebut.97 Pengertian segera menurut petunjuk Mahkamah Agung dalam Rapat Kerja Mahkamah Agung dan Ketua Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia tahun 1984, diberikan petunjuk tentang pengertian segera sebagai berikut : a. Kata segera harus diartikan dalam waktu yang wajar (within a reasonable time). Waktu yang wajar ini tergantung dari situasi dan kondisi serta tidak mengulur-ulur waktu. Segera dengan demikian berarti kesempatan pertama apabila kondisi sudah memungkinkan. b.Batasan waktu segera. Mengenai batasan waktu segera ini tidak dapat dipastikan. Segera dan secepatnya diartikan dalam waktu yang wajar, begitu situasi dan kondisi sudah memungkinkan. c. Secara gramatika, kata segera berarti : lekas-lekas, buru-buru, gesagesa, cepat (tentang peralihan waktu).98 d.Dalam Rapat Koordinasi Penegak Hukum di beberapa daerah, pengertian segera dibatasi dalam waktu tujuh hari sampai dengan sepuluh hari setelah pemeriksaan tersangka.99
Hamrat Hamid dan Harun M. Husein, Pembahasan Permasalahan KUHAP Bidang Penyidikan (Dalam Bentuk Tanya Jawab), Sinar Grafika, Jakarta, 1992, hal 38 98 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka Jakarta, 1989, hal. 794 99 Hamrat Hamid dan Harun M. Husein, op. Cit., hal. 39
97

M. Yahya Harahap, op. cit, hal 346 Andi Hamzah, op.cit,

79 Sedangkan biaya ringan dalam prinsip ini mengandung makna penetapan biaya yang serendah mungkin sehingga dapat dipikul oleh masyarakat tanpa mengorbankan ketelitian untuk mencari kebenaran dan keadilan.100Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU Kekuasaan Kehakiman, prinsip peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan merupakan suatu bentuk pelaksanaan peradilan yang cepat, tepat dan mencapai sasaran. Seseorang yang menjadi korban kesalahan dalam proses penegakan hukum patut dibersihkan nama baiknya dan memperoleh ganti rugi. KUHAP mengatur mengenai tatacara penuntutan ganti rugi dan rehabilitasi. Alasan yang dapat dijadikan dasar tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi tersebut adalah :101 a. Penangkapan atau penahanan secara melawan hukum; b.Penangkapan atau penahanan dilakukan tidak berdasarkan undang-undang; c. Penangkapan atau penahanan dilakukan untuk kepentingan yang tidak dibenarkan menurut hukum; d.Terdapat kekeliruan dalam menahan/menangkap seseorang; e. Apabila penggeledahan atau penyitaan tidak sah menurut hukum (tanpa perintah dan surat izin dari Ketua Pengadilan). Prapenuntutan dilakukan sebelum proses penuntutan. Proses ini sesuai dengan tugas dan wewenang penuntut umum dalam Pasal 14 butir a KUHAP, yakni menerima dan memeriksa berkas acara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu. Tugas dan wewenang ini dilaksanakan
Suharto R.M., Penuntutan dalam Praktek Peradilan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hal 127-127 101 Voice of Human Rights New Centre, KUHAP Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, artikel diakses pada tanggal 8 juli 2009 dari http://www.VHRmedia.com
100

berdasarkan kekuasaan kehakiman yang independen dan mandiri yang harus terwujud dalam keseluruhan proses atau Sistem Peradilan Pidana Terpadu (integrated criminal justice system).102 Prapenuntutan merupakan suatu tahap yang menjadi satu bagian terpenting dari pemeriksaan suatu perkara. Praktek prapenuntutan itu sendiri dapat pula dikaitkan dengan penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Hal ini terlihat dari konsep prapenuntutan itu sesungguhnya adalah pengembalian berkas perkara dari penuntut umum kepada penyidik disertai dengan petunjuk-petunjuk agar berkas tersebut dilengkapi, sehingga dapat pula segera dilanjutkan ke tahap penuntutan dan pelimpahan berkas perkara ke pengadilan. Penggunaan istilah segera dalam konsep tersebut mempertegas landasan penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dalam praktek prapenuntutan. Pengembalian berkas perkara yang tidak lengkap dari penuntut umum kepada penyidik memang tidak dapat dihindari. Sebagai contoh, pengembalian berkas perkara oleh penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Padang kepada penyidik yang dalam hal ini dikhususkan kepada penyidik dari Poltabes (Kepolisian Kota Besar) Padang selama tahun 2008 dapat
dikategorikan cukup banyak. Hal tersebut dapat terlihat dalam tabel berikut ini: Tabel Berkas Perkara Pidana Tidak Lengkap yang Dikembalikan Oleh Penuntut Umum Kejaksaan
Barda Nawawi arief, Sistem Perdilan Pidana Terpadu dalam Kaitannya dengan Pembaruan Kejaksaan, Media Hukum, Jakarta, 2003, hal 27
102

80 Negeri Padang Kepada Penyidik (Poltabes Padang) Tahun 2008 Bulan Jumlah berkas yang dikembalikan Januari 9 berkas Februari 9 berkas Maret 9 berkas April 11 berkas Mei 11 berkas Juni 13 berkas Juli 4 berkas Agustus 13 berkas September 8 berkas Oktober 5 berkas November 8 berkas Desember 7 berkas Dalam praktek di lapangan, adakalanya pihak penuntut umum atau penyidik dihadapkan dalam situasi yang pada kenyataannya tidak memungkinkan. Jika asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan ini tetap diterapkan dalam situasi yang tidak memungkinkan sebagaimana tersebut di atas, maka dikhawatirkan akan terjadi hal-hal sebagai berikut :103 1. Penyidik hanya berusaha secepatnya dalam melakukan penyidikan dan melengkapi berkas perkara yang dikembalikan oleh penuntut umum dengan tergesagesa sehingga hasil penyidikan dan pemeriksaan tidak optimal. 2. Adakalanya berkas yang seharusnya dilengkapi tidak dikembalikan lagi oleh penyidik kepada penuntut umum tanpa adanya pemberitahuan, apakah petunjuk dari penuntut umum tidak jelas atau ada faktor lain yang menyebabkan berkas yang semestinya dilengkapi penyidik tidak kembali lagi ke tangan penuntut umum. 3. Penyidik dan penuntut umum yang merasa harus mengejar waktu demi penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, dalam melaksanakan tugasnya jadi cenderung mengabaikan prinsipprinsip dari penegakan hukum itu sendiri, yakni untuk mencari kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Bukan semata-mata hanya tepat waktu dalam hal prapenuntutan yang mengakibatkan terabaikannya

No.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Sumber : Kejaksaan Negeri Padang Data tersebut merupakan berkasberkas perkara yang dikembalikan oleh penuntut umum Kejaksaan Negeri Padang kepada penyidik dari Poltabes Padang. Masih banyak berkas yang dikembalikan oleh penuntut umum kepada penyidik dari instansi penyidik lain, misalnya Polsek, yang tidak tergambar dalam tabel di atas.Banyaknya berkas perkara yang dikembalikan oleh penuntut umum kepada penyidik sebagaimana tergambar dari tabel dapat memicu terjadinya bolak-balik berkas perkara dan seperti bertentangan dengan penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Meskipun dalam praktek prapenuntutan itu penuntut umum memberikan petunjuk-petunjuk kepada penyidik untuk melengkapi berkas perkara agar berkas tersebut dapat segera dilengkapi. Namun adakalanya pengembalian berkas tersebut diikuti dengan bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik. Disini terlihat bahwa asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan tidak sepenuhnya dapat diterapkan dalam praktek.

Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, S.H., Kepala Subseksi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Padang, Tanggal 29 April 2009

103

81 tujuan dan prinsip lain dari penegakan hukum itu sendiri. Kekhawatiran sebagaimana dimaksud di atas juga dapat terjadi misalnya dalam beberapa kasus yang tergolong sulit pembuktiannya. Berkas yang dikembalikan tersebut antara lain merupakan kasus pelanggaran terhadap beberapa pasal tertentu dalam KUHP yakni Pasal 372 yang merupakan tindak pidana penggelapan dan Pasal 378 KUHP terkait tentang tindak pidana penipuan yang berkas perkaranya sering dikembalikan lagi oleh penuntut umum kepada penyidik untuk dilengkapi kepada penyidik Poltabes Padang, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2 Berkas Perkara Terhadap Pelanggaran Pasal 372 dan Pasal 378 KUHP yang Dikembalikan Oleh Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Padang Kepada Penyidik (Poltabes Padang) Tahun 2008 No. Bulan Jumlah Berkas yang Dikembalikan 1. Januari 4 berkas 2. Februari 4 berkas 3. Maret 4. April 1 berkas 5. Mei 2 berkas 6. Juni 4 berkas 7. Juli 8. Agustus 5 berkas 9. September 10. Oktober 1 berkas 11. November 2 berkas 12. Desember 3 berkas Sumber : Kejaksaan Negeri Padang Tabel di atas menggambarkan banyaknya berkas kasus penipuan dan penggelapan yang dikembalikan oleh penuntut umum di Kejaksaan Negeri Padang kepada penyidik dari Poltabes Padang sepanjang tahun 2008. Hal ini dapat terjadi karena terdapat kesulitan dalam menarik garis tegas tentang apakah suatu tindakan yang dilakukan seseorang termasuk dalam ruang lingkup tindak pidana pelanggaran dan kejahatan. Kesulitan ini sering dijumpai dalam peristiwa-peristiwa yang dekat hubungannya dengan ruang lingkup hukum perdata. Misalnya, antara perjanjian utang piutang dengan penipuan, kreditur mengadukan debitur telah melakukan penipuan kepada penyidik atas alasan debitur tidak melaksanakan pembayaran utang seperti yang telah dijanjikan. Dalam peristiwa seperti ini seolah-olah keingkaran membayar utang seperti apa yang dijanjikan bisa dikonstruksi sebagai penipuan. Apabila aparat penyidik kurang cermat, penyidik dapat menerima pengaduan tersebut sebagai bentuk tindak penipuan dan sebagainya. Terhadap hal ini dapat terjadi perbedaan persepsi antara penuntut umum dan penyidik mengenai kasus tersebut. Penuntut umum meminta penyidik untuk dapat mencari bukti yang dapat menguatkan bahwa tindakan yang disangkakan terhadap seseorang memang merupakan tindak pidana. Inilah yang kadang kala mengakibatkan proses pemeriksaan pada tahap prapenuntutan ini memakan waktu yang cukup lama. Tentu saja ini dapat dianggap bertentangan dengan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan yang justru menghendaki penegakan hukum secara tepat dan cermat. Pada dasarnya, pemberian petunjuk oleh penuntut umum kepada penyidik untuk dapat segera melengkapi berkas perkara merupakan salah satu bentuk penerapan sekaligus perwujudan dari asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan.

82 Namun, pada kenyataannya masih ada terjadi bolak-balik berkas perkara dalam tahap prapenuntutan ini yang disebabkan oleh berbagai hal. Uraian di atas menunjukkan bahwa asas peradilan sederhana sudah diterapkan dalam praktek prapenuntutan, namun masih terdapat kendala penerapan asas ini dalam beberapa kasus tertentu sebagaimana telah diuraikan. B. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Bolak-Balik Berkas Perkara Antara Penuntut Umum dan Penyidik Polri Bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik dalam praktek prapenuntutan memang kadangkala tidak dapat dihindarkan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa prapenuntutan tersebut identik dengan bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik.104 Terkait dengan hal tersebut KUHAP memberi wewenang kepada penyidik untuk melakukan penghentian penyidikan yang sedang berjalan. Hal ini sesuai dengan Pasal 109 ayat (2) yang menyatakan : dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya. Alasan pemberian wewenang penghentian penyidikan ini antara lain 1.Untuk menegakkan prinsip peradilan yang cepat, tepat dan biaya ringan serta sekaligus untuk tegaknya kepastian hukum dalam kehidupan masyarakat. Jika penyidik berkesimpulan bahwa berdasar hasil penyelidikan dan penyidikan tidak cukup bukti atau alasan untuk menuntut tersangka, untuk apa berlarut-larut memeriksa tersangka. Lebih baik
Wawancara dengan Bapak Iptu Jasril, Kanit Harda (Kepala Unit Harta Benda), Tanggal 11 Mei 2009
104

penyidik secara resmi menghentikan pemeriksaan penyidikan, agar segera tercipta kepastian hukum bagi penyidik sendiri, terutama juga bagi tersangka dan masyarakat. 2.Supaya penyidikan terhindar dari kemungkinan tuntutan ganti kerugian. Apabila pemeriksaan perkara diteruskan, tapi ternyata tidak cukup bukti atau alasan untuk menuntut ataupun menghukum, dengan sendirinya memberikan hak kepada tersangka atau terdakwa untuk menuntut ganti kerugian berdasar Pasal 95 KUHAP. Selain hal tersebut di atas, berdasarkan Pasal 109 ayat (2) penghentian penyidikan dapat dilakukan dengan alasan : 1.Tidak diperoleh bukti yang cukup, apabila penyidik tidak memperoleh cukup bukti terhadap apa yang disangkakan kepada tersangka atau bukti yang diperoleh penyidik tidak memadai untuk membuktikan kesalahan tersangka jika diajukan ke depan sidang pengadilan maka penyidik berwenang untuk menghentikan penyidikan. 2.Peristiwa yang disangkakan bukan merupakan tindak pidana, apabila dari hasil penyidikan, penyidik berpendapat bahwa apa yang disangkakan terhadap tersangka bukan merupakan perbuatan pidana, maka penyidik berwenang menghentikan penyidikan. Atau tegasnya, jika yang disangkakan bukan merupakan kejahatan atau pelanggaran pidana yang termasuk kompetensi peradilan umum, tidak melanggar ketentuan dalam KUHP atau peraturan perundang-undangan tindak pidana khusus lainnya yang termasuk dalam ruang lingkup wewenang peradilan umum,

83 penyidikan dapat dihentikan. Bahkan dalam hal ini merupakan keharusan bagi penyidik untuk menghentikan penyidikan. 3.Penghentian penyidikan demi hukum, penghentian atas dasar alasan demi hukum sesuai dengan alasan-alasan hapusnya hak menuntut dan hilangnya hak menjalankan pidana yang diatur dalam BAB VIII KUHP, antara lain : a. nebis in idem, seseorang tidak dapat dituntut lagi untuk kedua kalinya atas perbuatan yang sama yang telah pernah diadili dan telah diputus oleh hakim pengadilan yang berwenang untuk itu di Indonesia serta telah memperoleh kekuatan hukum tetap. b.Tersangka meninggal dunia, merupakan penegasan pertanggungjawaban dalam hukum pidana yang mengajarkan bahwa tanggungjawab seseorang dalam hukum pidana tidak dapat dialihkan kepada ahli waris. c. Karena daluarsa, apabila telah dipenuhi tenggang waktu penuntutan seperti yang telah diatur dalam Pasal 78 KUHP, maka dengan sendirinya menurut hukum penuntutan terhadap pelaku tindak pidana tidak boleh lagi dilakukan. Meskipun penyidik memiliki wewenang untuk melakukan penghentian penyidikan agar pemeriksaan perkara tidak berlarut-larut, namun bolak balik berkas perkara dalam praktek prapenuntutan tetap saja dapat terjadi. Bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Padang dan Penyidik dari Poltabes Padang ini dapat terjadi karena dipicu oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut :105
Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, S.H, S.H., Kepala Subseksi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Padang, Tanggal 29 April 2009
105

a. Dalam kasus-kasus tertentu yang sulit pembuktiannya, penyidik akan mengalami kesulitan untuk melengkapi berkas perkara. Pencarian alat bukti untuk melengkapi suatu berkas perkara yang sulit pembuktiannya, dalam perkembangan penyidikan dapat memakan waktu yang cukup lama. b. Petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum kurang jelas atau tidak dapat dimengerti oleh penyidik, ditambah lagi dengan kurangnya koordinasi antara penyidik dan penuntut umum. c. Kurangnya kelengkapan syarat materiil dan formil dari berkas yang diserahkan oleh penyidik kepada penuntut umum. Agar penuntut umum dapat mengetahui kelengkapan dari berkas perkara yang diserahkan oleh penyidik, penuntut umum dapat melakukan penelitian terhadap berkas tersebut. Penelitian berkas perkara yang dilakukan oleh penuntut umum secara rinci didasarkan pada Pedoman Penelitian Berkas Perkara (Lampiran Surat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Nomor B-811/E/12/1992). Berdasarkan pedoman tersebut penuntut umum harus meneliti kelengkapan suatu berkas perkara yang diserahkan penyidik kepadanya sebagai berikut : Persyaratan Formil 1. Sampul Berkas perkara a. Nama tersangka b. Tempat lahir c. Umur/tanggal lahir d. Jenis kelamin e. Kebangsaan f. Tempat tinggal g. Agama h. Pekerjaan

84 i. Identitas lain kalau ada, seperti pendidikan, nomor KTP, nomor SIM, nomor passport dan lain sebagainya. 2. Daftar isi berkas perkara 3. Resume 4. Surat pengaduan 5. Laporan polisi 6. Surat perintah penyidikan 7. Berita acara pemeriksaan tambahan kejadian perkara 8. Surat pemberitahuan dimulainya penyidikan 9. Surat pemanggilan tersangka/saksi 10. Surat perintah membawa tersangka/saksi 11. Berita acara pemeriksaan saksi/ahli 12. Berita acara penyumpahan saksi 13. Berita acara pemeriksaan tersangka 14. Surat kuasa tersangka kepada penasihat hukum 15. Berita acara konfrontasi 16. Berita acara rekonstruksi 17. Surat permintaan Visum et Repertum 18. Surat keterangan dokter/Visum et Repertum 19. Berita acara hasil pemeriksaan oleh ahli (antara lain hasil pemeriksaan forensic laboratories) 20. Surat perintah penangkapan 21. Berita acara penangkapan 22. Surat perintah penahanan 23. Berita acara penahanan 24. Surat perintah penangguhan penahanan 25. Berita acara penangguhan penahanan 26. Surat perintah pencabutan penangguhan penahanan 27. Berita acara pencabutan penangguhan penahanan 28. Surat perintah pengalihan jenis penahanan 29. Berita acara pengalihan jenis penahanan 30. Surat permintaan perpanjangan penahanan kepada Kepala Kejaksaan 31. Surat ketetapan perpanjangan penahanan dari kejaksaan 32. Surat penolakan permintaan perpanjangan penahanan dari kejaksaan 33. Surat permintaan perpanjangan penahanan kepada Ketua PN 34. Surat ketetapan Perpanjangan penahanan dari Ketua Pengadilan Negeri 35. Surat penolakan permintaan perpanjangan penahanan dari Ketua Pengadilan Negeri 36. Surat perintah membawa tahanan 37. Berita acara pelaksanaan membawa tahanan 38. Surat perintah pengeluaran tahanan 39. Berita acara pengeluaran tahanan 40. Laporan/surat permintaan izin penggeledahan kepada Ketua PN 41. Surat persetujuan izin penggeledahan dari Ketua PN 42. Surat perintah penggeledahan rumah, badan/pakaian, daln lain-lain 43. Berita acara penggeledahan (pemalsuan) rumah, badan, pakaian, dan lain-lain 44. Laporan/surat permintaan izin penyitaan kepada Ketua PN 45. Persetujuan/surat izin penyitaan dari Ketua PN 46. Surat perintah penyitaan barang bukti 47. Berita acara penyitaan barang bukti 48. Surat perintah penyisihan barang bukti

85 49. Berita acara penyisihan barang bukti 50. Berita acara pembungkusan/penyegelan barang bukti 51. Surat perintah pelelangan barang bukti 52. Berita acara penerimaan hasil lelang 53. Surat perintah pengembalian barang bukti 54. Berita acara pengembalian barang bukti 55. Surat perintah pemeriksaan surat 56. Berita acara pemeriksaan surat 57. Surat perintah penyitaan surat 58. Berita acara penyitaan surat 59. Surat tanda penerimaan barang/surat bukti 60. Daftar perincian barang bukti berupa dokumen/uang 61. Petikan surat putusan pemindahan terdahulu 62. Daftar isi 63. Daftar tersangka 64. Daftar barang bukti 65. Berita acara tindakan-tindakan lain Persyaratan materiil 1. Tindak pidana yang disangka 2. Unsur delik apakah sudah diuraikan secara cermat a. Jelas b. Lengkap 3. Tempus delicti 4. Locus delicti 5. Peran kedudukan masing-masing tersangka terhadap perbuatan yang disangka 6. Alat bukti a. Keterngan saksi b. Keterangan ahli c. Surat petunjuk d. Keterangan terdakwa 7. Pertanggungjawaban pidana dari tersangka 8. Kaitan kejahatan dengan kekayaan Negara 9. Lain-lain a. Kompetensi absolute b. Kompetensi relative Setelah meneliti berkas suatu perkara dengan berpedoman kepada Lampiran Surat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Nomor B-811/E/12/1992 tersebut, penuntut dapat menyimpulkan kelengkapan berkas perkara tersebut serta perlu atau tidaknya berkas tersebut dikembalikan kepada penyidik dengan disertai petunjuk-petunjuk untuk melengkapi berkas perkara tersebut. d. Terhadap kasus tertentu, sebagaimana terdapat dalam gambaran tabel yang telah diuraikan sebelumnya, yakni terhadap tersangka yang disangkakan telah melanggar ketentuan pasal 372 KUHP mengenai penggelapan. Terhadap berkas yang diserahkan oleh penyidik kepada penuntut umum terdapat semacam perbedaan konsepsi mengenai unsur yang terdapat dalam pasal yang disangkakan terhadap kasus yang terjadi. Pasal 372 KUHP menyatakan : Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri (zich toeeigenen) barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam, karena penggelapan dengan pidana penjara paling lama empat

86 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Pada dasarnya penuntut umum tidak dapat mengatakan suatu kasus yang diserahkan berkasnya oleh penyidik kepadanya bukanlah perkara pidana, tetapi merupakan perkara perdata, namun penuntut umum dapat memberikan petunjuk mengenai unsur-unsur delik yang semestinya terpenuhi agar delik yang disangkakan kepada tersangka dalam berkas perkara dapat memenuhi unsur pidananya.Di lain pihak, penyidik merasa bahwa unsur delik yang dimaksud dalam berkas perkara telah memenuhi unsur-unsur pidana yang disangkakan. Apabila terjadi ketidaksamaan persepsi seperti ini antara penuntut umum dan penyidik, maka disinilah diperlukan adanya suatu koordinasi antara penyidik dan penuntut umum agar kelengkapan berkas perkas perkara dapat terpenuhi dan terlaksana sebagaimana mestinya. e.Tidak adanya pengaturan didalam KUHAP mengenai batas berapa kali berkas perkara dapat bolak-balik antara penuntut umum dan penyidik. Dalam hal ini memang terdapat polemik. Tidak adanya pengaturan mengenai hal tersebut didalam KUHAP seperti yang terjadi selama ini menyebabkan berkas perkara bolak-balik antara penuntut umum dan penyidik sampai lebih dari dua atau tiga kali. C. Upaya yang Dilakukan Untuk Menerapkan Asas Peradilan Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan Dalam Praktek Prapenuntutan. Upaya penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dalam praktek prapenuntutan memang terlihat dari pasal-pasal yang terkait dengan prapenuntutan itu sendiri. Pasal-pasal tersebut menggunakan istilah segera bagi penuntut umum untuk memberikan petunjuk dan bagi penyidik untuk melengkapi berkas perkara tersebut. Pasal 110 KUHAP menyatakan : (1) Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan, penyidik wajib segera menyerahkan berkas perkara itu kepada penuntut umum. (2) Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan ternyata masih kurang lengkap, penuntut umum segera mengembalikan berkas perkara itu kepada penyidik disertai petunjuk untuk dilengkapi. (3) Dalam hal penuntut umum mengembalikan hasil penyidikan untuk dilengkapi, penyidik wajib segera melakukan penyidikan tambahan sesuai dengan petunjuk dari penuntut umum. (4) Penyidikan dianggap telah selesai apabila dalam waktu empat belas hari penuntut umum tidak mengembalikan hasil penyidikan atau apabila sebelum batas waktu tersebut berakhir telah ada pemberitahuan tentang hal itu dari penuntut umum kepada penyidik. Dari bunyi pasal tersebut terlihat bahwa upaya penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan sudah dilandaskan dalam KUHAP. Namun, yang perlu ditelaah adalah dalam praktek prapenuntutan

87 itu sendiri. Untuk itu, koordinasi antara penuntut umum dan penyidik menjadi suatu upaya penerapan asas tersebut di atas dalam praktek prapenuntutan. Apabila petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum dalam melengkapi berkas perkara kurang jelas bagi penyidik, maka penyidik dapat berkoordinasi dengan penuntut umum mengenai kelengkapan berkas perkara tersebut.106 Bahkan penyidik dapat mengadakan pertemuan dengan penuntut umum untuk melakukan. gelar perkara, agar berkas perkara yang tidak lengkap dapat segera dilengkapi dan dilanjutkan pada tahap berikutnya serta dapat segera dilimpahkan ke pengadilan.107 Pada dasarnya, petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum kepada penyidik untuk melengkapi berkas perkara tersebut juga merupakan upaya untuk menerapkan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dalam praktek prapenuntutan. Maksud pemberian petunjuk tersebut adalah untuk mencegah terjadinya bolak-balik berkas perkara antara penyidik dan penuntut umum. Dalam hubungan koordinasi itulah dikenal pula istilah konsultasi penyidik dan penuntut umum dalam rangka penyidikan atau pemeriksaan suatu berkas perkara.108 Dasar pelaksanaan koordinasi dan konsultasi antara penyidik dan penuntut umum tersebut adalah Instruksi Bersama Jaksa Agung RI dan Kapolri Nomor : INSTR-006/J.A/10/1981-Nopol : INS/17/X/1981 tentang Peningkatan Usaha Pengamanan dan Kelancaran Penyidangan
Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, S.H, S.H., Kepala Subseksi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Padang, Tanggal 29 April 2009 107 Wawancara dengan Iptu Jasril, Kanit Harda (Kepala Unit Harta Benda), Tanggal 11 Mei 2009 108 Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, S. H., Kepala Subseksi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Padang, Tanggal 29 April 2009
106

Perkara-perkara Pidana, sebagaimana ditunjuk oleh Menteri Kehakiman RI dalam keputusan beliau Nomor : M.14-PW.07.03 Tahun 1983. Bahwa yang dimaksudkan dengan koordinasi dan konsultasi penyidik dan penuntut umum tersebut adalah hubungan kerjasama yang sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing, dalam rangka penanganan perkara pidana. Hubungan kerjasama tersebut diarahkan pada penanganan perkara ditingkat penyidikan sebagai usaha mempersiapkan hasil penyidikan yang benar-benar mendukung pelaksanaan tugas penuntutan. Manfaat pelaksanaan koordinasi dan konsultasi tersebut terlihat adanya berkas perkara yang setelah diteliti penuntut umum ternyata sudah lengkap, karena selama penyidikan berjalan penyidik selalu berkonsultasi dengan penuntut umum tentang kelengkapan hasil penyidikan yang harus dipersiapkan oleh penyidik. Dengan tidak terjadinya bolak-balik berkas perkara tersebut, maka dapat terlaksana penyidikan secara efektif dan efisien. Penuntutan atas perkara tersebut juga akan dapat dilaksanakan pula dengan baik, karena sejak dini penuntut umum telah mengikuti segala sesuatu yang dilakukan penyidik pada tingkat penyidikan. Disamping itu, dengan terlaksananya koordinasi dan konsultasi antara penyidik dan penuntut umum tersebut secara tidak langsung akan terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara penyidik dan penuntut umum dalam penanganan tugasnya masing-masing.

88 PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian yang telah disampaikan maka dapat disimpulkan bahwa : 1.Pada dasarnya asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan telah diupayakan dalam praktek prapenuntutan, namun belum sepenuhnya dapat terlaksana pada prakteknya. Hal ini dikarenakan banyaknya kondisi dan kenyataan dilapangan yang membuat asas ini tidak dapat sepenuhnya diterapkan. Kondisi ini juga menyebabkan pengembalian berkas perkara yang tidak lengkap oleh penuntut umum kepada peyidik tidak dapat dihindari, meskipun pengembalian berkas perkara tersebut diikuti dengan pemberian petunjuk-petunjuk oleh penuntut umum kepada penyidik, namun banyaknya berkas perkara yang dikembalikan karena tidak lengkap, adakalanya diikuti dengan bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik. 2. Bolak-balik berkas perkara antara penutut umum dan penyidik dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain : a. Kasus-kasus yang sulit pembuktiannya; b.Petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum kurang jelas atau tidak dapat dimengerti oleh penyidik, ditambah lagi dengan kurangnya koordinasi antara penyidik dan penuntut umum; c. Kurangnya kelengkapan syarat materiil dan syarat formil dari berkas yang diserahkan oleh penyidik kepada penuntut umum; d. Ketidaksamaan persepsi antara penyidik dan penuntut umum mengenai unsur-unsur delik dalam berkas perkara; e. Tidak adanya pengaturan KUHAP mengenai batas berapa kali berkas perkara dapat bolak-balik antara penyidik dan penuntut umum. 3.Upaya penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan sudah diatur dalam KUHAP. Pada prakteknya penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dapat diupayakan melalui koordinasi dan konsultasi antara penyidik dan penuntut umum mengenai kelengkapan berkas perkara. Dengan adanya koordinasi dan konsultasi antara penyidik dan penuntut umum maka berkas dapat dilengkapi tanpa harus terjadi bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik yang memakan waktu cukup lama. Melalui koordinasi dan konsultasi ini, penyidik dan penuntut umum dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan tugasnya masing-masing. B. Saran Dari hal tersebut memberikan saran sebagai berikut : 1. Agar Penyidik dalam melakukan penyidikan melakukan koordinasi dan konsultasi yang maksimal dengan penuntut umum, supaya berkas perkara yang akan diserahkan kepada penuntut umum dapat segera dilengkapi tanpa perlu terjadi bolak-balik berkas perkara antara penuntut umum dan penyidik. Dengan demikian, asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dapat diterapkan dalam melengkapi berkas perkara. 2. Agar Penuntut umum selaku pihak yang memeriksa dan meneliti berkas perkara, dalam memberikan petunjuk mengenai kelengkapan berkas

89 yang diserahkan oleh penyidik harus lebih cermat juga dapat berkonsultasi dengan penyidik mengenai petunjuk yang kurang jelas bagi penyidik sehingga bolakbalik berkas perkara dapat dihindarkan. 3. Penuntut umum dan penyidik lebih meningkat kinerja dan memperdalam ilmu pengetahuan lagi dalam melaksanakan tugasnya agar asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dapat diterapkan, khususnya dalam praktek prapenuntutankarena perbedaan prsepsi atas suatu kasus. DAFTAR KEPUSTAKAAN A. Buku Andi Hamzah, 2008, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. Bambang Sunggono, 2007, Metodologi Penelitian Hukum, RajaGrafindo Persada, Jakarta. Bambang Waluyo, 2004, Pidana dan Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta. Barda Nawawi Arief, 2003, Sistem Peradilan Pidana Terpadu dalam Kaitannya dengan Pembaruan Kejaksaan, Media Hukum, Jakarta Hamrat Hamid dan Harun M. Husein, 1992, Pembahasan Permasalahan KUHAP Bidang Penyidikan Dalam Bentuk Tanya-Jawab, Sinar Grafika, Jakarta. M. Yahya Harahap, 2007, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, PT. Sinar Grafika, Jakarta. Romli Atmasasmita, 2004, Sistem Peradilan Pidana (criminal justice sistem) Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme, Bina Cipta, Jakarta. Soerjono Soekanto, 2006, Penelitian Pengantar Hukum, UI-Press, Jakarta. Suharto RM, 2006, Penuntutan Dalam Praktek Peradilan, Sinar Grafika, Jakarta. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. B Media (CRP), Mencari Solusi Persoalan Tarik Ulur Berkas Perkara, Hukum Acara Pidana, artikel diakses pada tanggal 8 juli 2009 dari http://www.hukumonline.com Ismail Saleh, Pelajaran Apa yang Dapat Dipetik Dalam Kasus Majalah Time, artikel diakses pada tanggal 8 juli 2009 dari http://www.hupelita.com Voice of Human Rights New Centre, KUHAP Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, artikel diakses pada tanggal 8 juli 2009 dari http://www.VHRmedia.com

90 KENDALA-KENDALA PENUNTUT UMUM DALAM MENYUSUN SURAT DAKWAAN DI KEJAKSAAN NEGERI PADANG Yulmayetti, SH, MH, Diana Arma, SH, MH dan Salman Alfarisi Abstract Arranging indictment can be done if only the prosecutors believe that the document of the investigation has been completed. And if the prosecutors consider it is as incomplete, the documents would be sent back in order to make it perfect belong with simple, precise, and specific guide so that the documents will not be returned again. And also, the police should really understand guidance that has been given by the prosecutors thus can complete the documents according to the want of the public prosecutors. If the arrangement of the indictment is not in accordance with the materiel requirements, the result can be void, means that the criminal conduct is not describe correctly, clearly, and thoroughly and also if it does not mention the time and the place of the criminal conduct. Thus, the judge can conclude that the indictment is not clear and void (void ab initio). The up going effect is that the case become immature and these situations bring disadvantages and decrease the image of the legal representative. The indictment that is void should be tested and examined again so the public prosecutors have to correct the indictment and bring it back to the court. This paper tries to answer the question of what factors that could impede the prosecutors in arranging the indictment that can decrease the image of the public prosecutions. This research is a descriptive one. Collecting data is done with inspection
Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang

and interview at the Padangs Public Prosecutions. The result of the research indicates that the public prosecutors found some barriers in arranging the indictment but they also have done some effort to overcome the problems. Some problems that regularly occur in arranging the indictment are: a) the prosecutors are not so serious in arranging the indictment, b) less interest in following the new development of law, c) uncertainty in arranging the indictment, d) incomplete documents of criminal conduct, e) incomplete evidence, f) there is different perception among the legal representative. In overcome the problems depend on some steps taken by the public prosecution so the indictment can be finished perfectly and this can be indicated through the successful of the plea. A. PENDAHULUAN Pada awalnya suatu perkara terjadi dengan adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat maupun diketahui sendiri oleh pihak kepolisian. Pihak kepolisian setelah menerima laporan atau pengaduan dari masyarakat tersebut maka pihak kepolisian akan melakukan suatu proses hukum yang disebut dengan penyelidikan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 angka (5) KUHAP bahwa : Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidak dilakukan penyidikan menurut cara yang di atur dalam undangundang ini.

91 Proses penyelidikan ini bertujuan untuk menentukan apakah suatu peristiwa itu dipidana atau tidak. Tetapi dalam hal tertangkap tangan maka tidak perlu dilakukan proses penyelidikan tetapi langsung pada proses penyidikan karena peristiwa tersebut sudah ada bukti awalnya.Apabila berdasarkan proses penyelidikan yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa perbuatan tersebut merupakan suatu peristiwa pidana maka pihak kepolisian melanjutkan dengan proses penyidikan sebagaimana di atur dalam Pasal 1 angka (2) KUHAP : penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menentukan tersangkanya. Berdasarkan bunyi pasal tersebut tujuan dari proses penyidikan adalah mengumpulkan bukti-bukti dan guna menemukan tersangkanya. Bila penyidikan oleh pihak penyidik dianggap telah selesai maka berkas perkara di buat dalam satu bundel / berkas perkara yang disebut dengan Berita Acara Perkara (BAP), yang kemudian dilimpahkan pada pihak kejaksaan yang berwenang yang selanjutnya untuk dilakukan proses pelimpahan perkara ke Pengadilan Negeri yang berwenang.Penyerahan berita acara perkara dari penyidik kepada penuntut umum berdasarkan Pasal 8 ayat (3) KUHAP yaitu "penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan : 1. Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara. 2. Dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum. Berdasarkan bunyi Pasal 8 ayat (3) KUHAP tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa proses penyerahan berita acara perkara dapat dilakukan dengan beberapa tahap. Dimana pada tahap pertama pihak penyidik hanya menyerahkan berita acara perkara saja, tanpa diikuti penyerahan barang bukti dan tersangka kepada penuntut umum. Apabila penuntut umum menganggap berita acara yang dilimpahkan kepadanya kurang lengkap atau kurang jelas maka penuntut umum dapat menyerahkan kembali berita acara pemeriksaan kepada penyidik disertai petunjuk untuk dilakukan penyidikan tambahan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 138 KUHAP sebagai berikut : a. Penuntut umum setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik segera mempelajari dan menelitinya dalam waktu tujuh hari wajib memberitahukan kepada penyidik, apakah hasil penyidikan itu sudah lengkap atau belum. b. Dalam hal hasil penyidikan ternyata belum lengkap, penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang apa yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas, penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penutut umum. Berdasarkan bunyi Pasal 138 KUHAP di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa apabila dalam

92 waktu tujuh hari setelah berita acara perkara diserahkan oleh penyidik kepada penuntut umum dan pihak penuntut umum dalam waktu tujuh hari tidak mengembalikan berita acara pemeriksaan kepada penyidik, maka pihak penyidik menganggap berita acara perkara sudah lengkap kemudian menyerahkan barang bukti kepada penuntut umum. Apabila dalam tenggang waktu tujuh hari tersebut berita acara perkara diserahkan oleh penuntut umum kepada penyidik yang disertai petunjuk maka penyidik wajib melakukan penyidikan tambahan berdasarkan petunjuk-petunjuk tersebut. Hasil penyelidikan tersebut harus dilengkapi dalam jangka waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan Berkas Acara Perkara (BAP), penyidik harus sudah menyampaikan kembali Berkas Acara Perkara itu kepada penuntut umum, apabila penyidikan tersebut ditangani oleh tenagatenaga teknis yang sudah mapan, kiranya kejadian bolak balik perkara dari penyidik kepada penuntut umum begitu juga sebaliknya dapat ditiadakan. Bolak-balik perkara tersebut tidak sesuai dengan asas peradilan yang cepat, sederhana dan biaya ringan sebagaimana terkandung dalam KUHAP1. Kejadian bolak-balik perkara tersebut disebabkan hasil penyidikan yang diserahkan oleh penyidik kepada penuntut umum, setelah diteliti pada tahap prapenuntutan ternyata belum memenuhi persyaratan guna dilimpahkan kepada pengadilan. Berkas perkara yang bersangkutan dikembalikan oleh penuntut umum kepada penyidik untuk dilengkapi sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum. Agar tidak terjadinya pengembalian berkas perkara yang bersangkutan kepada penyidik untuk
1 Harun. M Husein Surat Dakwaan, Rhineka Cipta, Jakarta. 1994. hal 42

menanggulanginya maka penuntut umum dalam memberikan petunjuk tersebut menguraikan secara ringkas namun jelas dan terperinci tentang hal yang harus dilengkapi oleh penyidik, sebaliknya penyidik pun harus benarbenar memahami petunjuk penuntut umum tersebut, agar ia dapat melaksanakan petunjuk -petunjuk yang dimaksud2. Berdasarkan uraian diatas terlihat suatu gambaran betapa pentingnya hubungan antara penyidikan, penuntutan serta penyusunan surat dakwaan, dan penyusunan surat dakwaan yang baik sangat ditentukan oleh hasil penyidikan yang baik pula. Surat dakwaan mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam memeriksa suatu perkara pidana dipersidangan oleh seorang hakim dimana merupakan dasar bagi hakim dalam memutuskan suatu perkara dan memeriksa perkara dalam batasanbatasan yang termuat didalam surat dakwaan. Hal ini seperti yang dimuat di dalam Pasal 143 ayat (1) KUHAP menyatakan Penuntut umum melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan. Didalam pengetahuan Hukum Acara Pidana tidak ada memberikan penjelasan mengenai maksud dari surat dakwaan tersebut. Batasan atau pengertian surat dakwaan itu hanya dapat diketahui dari pendapat para sarjana, salah satunya dinyatakan Harun M.Husein Surat dakwaan adalah suatu surat yang diberi tanggal dan ditanda tangani oleh penuntut umum yang memuat uraian tentang identitas lengkap terdakwa, perumusan
2

Ibid.

93 tindak pidana yang didakwakan yang dipadukan dengan unsur-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan pidana dilakukan oleh terdakwa, surat mana menjadi dasar dan batas ruang lingkup didalam pengadilan3. Rumusan diatas, bila dihubungkan dengan Pasal 143 ayat (2) KUHAP dengan memperhatikan bunyi pasal tersebut, maksud dua syarat yang harus di penuhi dalam pembuatan surat dakwaan yaitu : 1. Persyaratan formil yakni identitas dan terdakwa seperti nama lengkap tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin dan lain lain (Pasal 143 ayat 2a KUHAP). 2. Persyaratan materil yakni, mengenai uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang dilakukan (Pasal 143 ayat 2b KUHAP). Berdasarkan Pasal 143 ayat (3) KUHAP disebutkan bahwa bila syarat materil tidak dipenuhi, mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum apabila tindak pidana tidak diuraikan secara cermat, jelas dan lengkap serta tidak menunjukkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan, maka surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum dapat dinyatakan oleh hakim tidak jelas dan kabur dan batal demi hukum. Hal ini dimaksudkan agar tersangka pelaku kejahatan mendapat perlakuan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia sekaligus sebagai usaha perwujudan kepastian hukum dalam masyarakat.Apa yang dimaksud diatas, terlihat mudah dipahami apabila mempelajari teori saja, namun apabila ada pertanyaan bagaimana bentuk uraian tidak cermat, tidak jelas dan lengkap suatu surat dakwaan, masih banyak praktisi-praktisi hukum yang belum lancar menjawabnya,
3

meskipun KUHAP sendiri sudah berjalan hampir selama dasarwarsa. Kesulitan yang dihadapi dalam praktek oleh para penuntut umum dan hakim adalah menentukan ukuran sejauh mana bentuk uraian dakwaan yang dinyatakan tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap4. Kecermatan ketepatan dan kejernihan redaksi surat dakwaan tidak hanya penting bagi kepastian hukum, tetapi ikut menentukan apakah keadilan dan harkat serta martabat manusia terkelola dengan baik, layak dan manusiawi. Surat dakwaan disamping mencerminkan upaya paksa apa saja yang telah dan masih akan menimpa terdakwa merupakan hasil penilaian hukum terhadap kejahatan yang dipersangkakan telah dilakukan terdakwa, yang selanjutnya juga akan menjadi dasar tuntutan jaksa penuntut umum dan putusan hakim. Bahwa adanya kekeliruan atau kekhilafan yang dilakukan oleh jaksa penuntut umum dalam membuat surat dakwaan, oleh hukum acara yang berlaku ditegaskan surat dakwaan berakibat batal demi hukum, surat dakwaan yang batal demi hukum dan surat putusan yang batal demi hukum merupakan pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan, akan tetapi pekerjaan tersebut tidak ada nilainya, karena kedua surat tersebut tidak mempunyai akibat hukum.dengan kata lain surat tersebut dianggap tidak pernah ada5.Akibat lebih lanjut, perkara pidana menjadi mentah kembali. Surat dakwaan yang batal demi hukum, supaya dapat diperiksa dan diadili sekali lagi perkaranya,
Gatot Supramono, Surat Dakwaan Dan Putusan Yang Batal Demi Hukum, Djambatan. Jakarta,1991. Hal 44 5 Ibid. hal 4
4

Ibid, hal 43

94 penuntut umum masih dapat kembali mengajukan kembali perkara yang bersangkutan dengan memperbaiki surat dakwaannya6. Penegak hukum dalam menjalankan tugasnya diharapkan mampu menjalankan tugasnya sebaik-baiknya, tingkah laku penegak hukum dianggap menjadi panutan masyarakat. Penegak hukum dalam menjalankan tugasnya membuat kesalahan dalam menjalankan tugasnya maka akan membawa kerugian warga masyarakat dan akan menurunkan citra dan wibawa penegak hukum7. Dari uraian diatas, timbul permasalahan yang sebenarnya faktorfaktor apa yang menghalangi penuntut umum dalam menyusun surat dakwaan sehingga dapat menurunkan wibawa dan citra penuntut umum ditengah-tengah masyarakat. B. Kendala Penuntut Umum Dalam Menyusun Surat Dakwaan Penyusunan surat dakwaan yang baik merupakan langkah awal dari penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke pengadilan. Penuntut umum dalam hal ini dituntut untuk memiliki tekhnis perumusan surat dakwaan yang professional, cermat dan hati-hati dalam menyusun atau merumuskan surat dakwaan mengingat pentingnya fungsi surat dakwaan yang menjadi dasar pemeriksaan di persidangan yaitu sebagai dasar pembuktian, dasar tuntutan pidana, dasar putusan pengadilan, dan dasar dalam melancarkan upaya hukum serta fungsi surat dakwaan dalam membatasi ruang lingkup pemeriksaan di persidangan pengadilan. Hasil penyidikan (berkas perkara) merupakan dasar dari penyusunan surat dakwaan, karena surat dakwaan disusun
6 7

Ibid. hal 4 Ibid. hal 3

berdasarkan bahan-bahan atau data dan fakta yang terungkap sebagai hasil dari penyidikan. Walaupun surat dakwaan sudah disusun sedemikian rupa dalam arti cermat, jelas dan lengkap, tetapi apabila fakta-fakta yang didakwakan tidak didukung oleh fakta-fakta dari hasil penyidikan, akan mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum, atau dapat menyebabkan timbulnya putusan pengadilan yang membebaskan terdakwa dari segala dakwaan maupun pelepasan terdakwa dari segala tuntutan hukum. Kesempurnaan hasil penyidikan merupakan foktor penentu terhadap keberhasilan penuntutan yang akan dilakukan oleh penuntut umum, maka hubungan dan kerja sama antara penyidik dengan penuntut umum harus dibina agar tercapainya kesempurnaan dan ketuntasan hasil penyidikan sesuai dengan pengarahan penuntut umum. Hubungan antara penuntut umum dengan penyidik walaupun sudah dibina untuk menyempurnakan suatu berkas perkara namun masih sering terjadinya pengiriman berkas perkara yang berlangsung sampai bolak-balik dan bahkan jangka waktu tujuh sampai empat belas hari (Pasal 138 KUHAP) masih dirasakan kurang. Tenggang waktu yang sangat dibatasi untuk tahap pra-penuntutan harus benar-benar menjadi perhatian bagi Jaksa Penuntut Umum supaya dapat terhindar dari lampau waktu, baik itu dalam hal pemberitahuan kepada pihak penyidik maupun terhadap pengembalian berkas perkara serta penyampaian petunjuk kepada penyidik. Apabila penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah dapat dilakukannya penuntutan, maka penyusunan atau

95 perumusan surat dakwaan baru dapat dilaksanakan. Dalam penyusunan surat dakwaan belum terdapat keseragaman, karena masih terlihat bahwa adanya penuntut umum yang hanya merumuskan kualifikasi yuridisnya dan kemudian unsurunsur deliknya tanpa adanya uraian perbuatan material yang dilakukan terdakwa. Perumusaan seperti ini tentunya tidak jelas. Sampai saat ini dalam prakteknya, penyusunan surat dakwaan belum ada ketentuan undang-undang yang mengatur mengenai ketentuan sikap bagaimana sistematika dan penyusunan surat dakwaan itu seharusnya dibuat. Oleh karena itu Jaksa Penuntut Umum sebagai pejabat yang bertanggung jawab dalam pembuatan surat dakwaan harus benar-benar faham dan memiliki kemampuan yang profesional agar tidak terjadinya keragu-raguan yang mengakibatkan terjadinya hambatan atau kendala dalam hal melakukan penyusunan surat dakwaan. Selain itu, kesalahan dalam penerapan bentuk surat dakwaan dapat menyebabkan surat dakwaan kabur atau samar-samar. Surat dakwaan yang kabur/samar-samar batal demi hukum. Penyusunan surat dakwaan, meskipun sudah merupakan pekerjaan rutinitas dari Jaksa Penuntu Umum tidak menutup kemungkinan akan munculnya kendala-kendala baik pada saat akan dimulainya penyusunan surat dakwaan, maupun pada saat penyusunan surat dakwaan itu berlangsung. Adapun kendala penuntut umum dalam menyusun surat dakwaan adalah sebagai berikut :109 1. Kendala Intern a. Kurangnya keseriusan penuntut umum Kurangnya keseriusan dalam menyusun surat dakwaan, dapat menghambat kelancaran untuk
Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, Jaksa Penuntut Umum Jumat, 5 September 2008, Pkl. 08.30 WIB
109

menyelesaikan surat dakwaan dengan waktu yang singkat sehingga jauh dari asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan. Hal ini dapat terlihat dengan masih adanya keterlambatan dalam melimpahkan surat dakwaan ke pengadilan. Selain itu surat dakwaan yang dihasilkanpun cendrung akan jauh dari kesempurnaan dimana tidak memenuhi surat dakwaan yang cermat, jelas, dan lengkap yang selanjutnya dapat mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum. Kurangnya keseriusan tersebut dapat terlihat pada jaksa yang bersikap santai dimana timbulnya sifat malas untuk segera melakukan penyusunan surat dakwaan sehingga waktu pembuatannya ditunda-tunda. b. Kurangnya minat dalam mengikuti perkembangan hukum Kurangnya minat untuk mengikuti perkembangan hukum dapat mengakibatkan tidak profesionalnya seorang Jaksa Penuntut Umum dalam menangani suatu perkara pidana. Salah satu contoh yang terjadi yaitu apabila seorang jaksa tidak mengikuti perkembangan hukum maka akan mengalami kesulitan dalam menangani suatu perkara yang harus diselesaikannya dimana perkara tersebut memiliki ketetapan hukum baru dan disinipun perumusan surat dakwaaan mengalami kendala yaitu tertundanya waktu penyusunan surat dakwaan dikarenakan jaksa tersebut harus mempelajarai terlebih dahulu tentang ketentuan hukum yang

96 baru terhadap kasus tersebut. Faktorfaktor yang menyebabkan seorang jaksa tidak dapat mengikuti perkembangan hukum biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti karena kesibukan sehari-hari sehingga tidak dapat meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan hukum, kurangnya minat baca sehingga tidak memahami ketentuan hukum yang telah berkembang, dan bahkan tidak jarang diantaranya yang merasa kemampuan tekhnisnya sudah cukup dan tidak perlu lagi untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan tekhnis profesionalnya. c. Adanya keraguan penuntut umum dalam menentukan bentuk/sistemstika surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum sebelum melimpahkan perkara ke pengadilan, terlebih dahulu menyusun surat dakwaan dengan menentukan bentuk/format surat dakwaan. Tetapi dalam kenyataannya masih saja ditemui adanya Jaksa Penuntut Umum yang ragu-ragu dalam menentukan format surat dakwaannya sehingga hal ini dapat memperlambat proses penegakan hukum. 2. Kendala Eksteren a. Berkas perkara yang tidak jelas atau belum lengakap Agar proses persidangan berjalan dengan lancar, salah satunya ditentukan oleh hasil penyidikan yang diberikan oleh penyidik. Apabila dalam penyidikan tindak pidana yang dilakukan Polri yang dirumuskan pada berkas perkara tidak jelas ataupun belum lengkap maka sesuai dengan prosedur, berkas perkara tersebut harus dikembalikan dengan tujuan untuk dilengkapi dan apabila waktu empat belas hari yang telah digariskan penuntut umum telah lewat sehingga tidak dapat melakukan pengembalian berkas penyidikan maka hal ini akan menyebabkan perumusan surat dakwaan akan terkedala yang berakibat proses penegakan hukum akan terganggu sehingga kebenaran materil berkemungkinan tidak tercapai. b. Kurangnya alat bukti Alat bukti merupakan salah satu alat untuk menunjang terbuktinya dakwaan yang disusun oleh Jaksa Penuntut Umum. Apabila alat bukti yang disebutkan dalam surat dakwaan tidak lengkap atau tidak didukung oleh sekurang-kurangya dua alat bukti maka pembuktian terdakwa tidak akan berhasil. Seandainya telah terjadi suatu kejahatan dan kasus sudah dalam tahap penyidikan, ternyata alat bukti yang dilampirkan pihak penyidik kurang atau setidaknya didukung oleh dua alat bukti yang sah, maka hal ini akan menimbulkan kendala bagi Jaksa Penuntut Umum untuk merumuskan surat dakwaan. c. Belum terdapatnya persamaan persepsi antara sesama aparat penegak hukum Sekalipun sudah dilakukannya konsultasi antara penyidik dan penuntut umum untuk menyempurnakan suatu berkas perkara, masih sering terjadi pengiriman bolak-baik suatu berkas perkara antara penyidik dengan penuntut umum. Bolakbaliknya suatu berkas perkara adalah karena masih terdapatnya perbedaan pemahaman antara penyidik dan penuntut umum tentang arti berkas perkara yang sempurna. Seperti halnya dalam penentuan pasal-pasal yang

97 disangkakan oleh penyidik dan yang akan didakwaakan oleh penuntut umum, dimana dalam praktek dari hasil penyidikan yang diserahkan kepada penuntut umum setelah diteliti ternyata perbuatan materil yang terungkap masih dapat dibuktikan perbuatan-perbuatan pidana lainnya selain dari yang tercantum dalam hasil penyidikan. Selain itu, perbedaan persepsi juga dapat terjadi antara Jaksa Penuntut Umum dengan hakim yaitu apabila hakim menyatakan surat dakwaan yang diajukan tidak diuraikan secara cermat, jelas dan lengkap maka surat dakwaan tersebut akan dinyatakan batal demi hukum dan dikembalikan lagi kepada pihak kejaksaan. Dalam hal ini penyusunan surat dakwaan menjadi terkendala apabila penuntut umum akan mengajukannya kembali ke pengadilan, karena penuntun umum akan melakukan pemeriksaan ulang kembali dan melakukan penyusunan surat dakwaan yang lebih sempurna. C. Upaya Yang Dilakukan Penuntut Umum Untuk Mengatasi KendalaKendala Dalam Menyusun Surat Dakwaan Meskipun penyusunan surat dakwaan sudah merupakan pekerjaan rutinitas Jaksa Penuntut Umum, masih saja ditemuinya kendala-kendala dalam menyusun surat dakwaan. Dengan tampaknya kendala-kendala seperti yang telah disebutkan pada pokok bahasan sebelumnya dapat menjadi pedoman bagi Jaksa Penuntut Umum untuk mengantisipasi terjadinya kendala-kendala dan melakukan tindak lanjut atau cara untuk mengatasi apabila menghadapi salah satu dari kendala-kendala tersebut agar terciptanya proses penegakan hukum dengan waktu yang singkat. Dalam hal terjadinya kendala-kendala dalam menyusun surat dakwaan, seorang penuntut umum harus dapat mengatasinya dengan melakukan hal-hal yang dapat menyelesaikan dengan baik terhadap kendala-kendala yang terjadi. Adapun hal-hal yang dapat mengatasi kendalakendala tersebut tergantung kepada bentuk-bentuk kendala yang muncul pada saat proses penyusunan surat dakwaan yang akan maupun sedang berlangsung. Hal-hal yang dilakukan penuntut umum dalam mengatasi kendala-kendala tersebut dalam rangka menyusun surat dakwaan adalah sebagai berikut: 1. Upaya Intern a. Meningkatkan kinerja dan kedisiplinan dalam tubuh kejaksaan Kebiasaan tidak tepat waktu dalam melimpahkan surat dakwaan ke pengadilan merupakan bukti bahwa masih adanya seorang jaksa yang tidak serius dalam melakukan penegakan hukum sehingga mengakibatkan terbengkalainya penyusunan surat dakwaan. Dilain hal, dapat kita perbandingkan dalam penanganan kasus-kasus korupsi, dimana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih mendominasi penanganan kasus-kasus korupsi dari pada pihak kejaksaan dan hal tersebut dengan jelas memberikan gambaran bahwa adanya ketidak seriusan penuntut umum dalam melakukan penegakan hukum selama ini. Dalam hal ini, untuk meningkatkan kinerja kejaksaan maka Kejaksaan Agung telah menerapkan aturan 5 : 3 : 1 dalam menangani kasus korupsi yang artinya Kejaksaan Tinggi minimal

98 harus menangani lima kasus korupsi dalam satu tahun, sedangkan Kejaksaan Negeri minimal harus menangani tiga kasus korupsi dalam satu tahun dan Kantor Cabang Kejaksaan Negeri minimal harus menangani satu kasus korupsi dalam satu tahun. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan setiap jaksa dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum dan juga dapat memotivasi untuk lebih serius dalam menangani setiap kasuskasus yang diembannya sehingga proses penuntutan sesuai dengan yang diharapkan110. b. Mengikuti perkembangan hukum Hal ini juga menandakan kurangnya keseriusan jaksa dalam melakukan penegakan hukum dan pada akhirnya penanganan kasus yang dihadapinya tidak berjalan dengan lancar. Dalam hal ini dituntut lebih seriusnya penuntut umum dalam melakukan penuntutan dan dengan keseriusan ini akan meningkatkan kinerja penuntut umum untuk menegakkan hukum dengan lebih baik yaitu salah satunya dengan selalu mengikuti perkembangan hukum agar tidak terjadinya kesulitan dalam menangani suatu kasus yang telah memiliki ketentuan hukum yang baru111. c. Menguasai materi, meneliti segala ketentuan perundang-undangan dan memperhatikan petunjuk serta bimbingan kejaksaan agung maupun pimpinan kejaksaan Keraguan Jaksa Penuntut Umum dalam penentuan bentuk/sistematika surat dakwaan ini biasanya terjadi
Wawancara dengan Ibu Daminar, Kasi Pidsus. Selasa, 9 September 2008. Pkl 09:30 WIB 111 Wawancara dengan Ibu Deswiarni, Kasubsi Penyidikan Pidsus. Kamis, 25 September 2008. Pkl 08:30 WIB
110

dalam menentukan bentuk dakwaan komulasi/kombinasi karena dalam hal ini dituntut kehati-hatian Jaksa Penuntut Umum agar tepatnya perpaduan antara bentuk surat dakwaan yang dipergunakan dan pembuktiannya pun tidak semudah pembuktian bentuk-bentuk dakwaan lain. Untuk itu, penuntut umum harus menguasai materi perkara yang ditanganinya dan untuk keperluaan penyusunan surat dakwaan dalam perkara yang bersangkutan penuntut umum tersebut juga harus meneliti segala ketentuan perundangundangan yang berhubungan dengan penuntutan tindak pidana yang bersangkutan, agar pertimbangan tentang bentuk/sistematik surat dakwaan dapat dilakukan dengan tepat. Selain itu dalam merumuskan konsep surat dakwaan penuntut umum juga harus memperhatikan segala petunjuk dan bimbingan dalam berbagai produk yang dikeluarkan Kejaksaan Agung maupun Pimpinan Kejaksaan di daerah112. 2.Upaya Eksteren113 a. Memberikan petunjuk yang mengarah kepada kelengkapan formil dan materil terhadap berkas perkara yang belum lengkap Kejadian bolak-baliknya berkas perkara disebabkan hasil penyidikan yang diserahkan oleh
Wawancara dengan Ibu Gusnefi, Kasubsi Pra-penuntutan Pidum. Selasa, 9 September 2008. Pkl 11.00 WIB 113 Wawancara dengan Bapak Dodi Arifin, Kasubsi Pra-penuntutan Pidum. Jumat, 10 Oktober 2008. Pkl 09:30 WIB
112

99 penyidik kepada penuntut umum setelah diteliti pada tahap prapenuntutan ternyata belum memenuhi persyaratan untuk dilimpahkan ke pengadilan. Oleh karena itu, berkas perkara yang bersangkutan dikembalikan oleh penuntut umum kepada penyidik untuk dilengkapi kembali sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum. Untuk mencegah agar tidak terjadinya pengembalian lagi berkas perkara bersangkutan kepada penyidik, agar penuntut umum dalam memberikan petunjuk tersebut menguraikan secara ringkas namun jelas dan terperinci tentang hal-hal yang harus dilengkapi oleh penyidik. Sebaliknya, penyidik pun harus benarbenar dapat memahami petunjuk penuntut umum tersebut agar ia dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk yang dimaksud. Untuk memperoleh berkas perkara yang sempurna, maka berkas perkara tersebut harus memiliki kelengkapan formil dan kelengkapan materiil maka petunjuk yang diberikan penuntut umum juga harus mengarah pada pencapaian konsensus tentang kelengkapan berkas perkara tersebut agar tidak terjadi kesalah pahaman dan pihak penyidik dengan mudah melengkapi berkas perkara sesuai dengan keinginan penuntut umum yang selanjutnya dapat dilimpahkan kembali dalam waktu yang singkat, maka penyusunan surat dakwaan pun dapat dilakukan. b. Pengarahan oleh penuntut umum dalam hal pencapaian alat bukti yang sempurna Demi keberhasilan pembuktian perbuatan dan kesalahan tersangka surat dawaan harus didukung dengan minimal dua alat bukti maka setelah menerima hasil penyidikan dari pihak penyidik, Jaksa Penuntut Umum harus mempelajari dan meneliti dengan seksama terutama dalam hal ini yaitu tentang kesempurnaan alat bukti yang sah sebelum disusunnya surat dakwaan. Dalam pencapaian alat bukti yang sempurna tergantung pada hasil penyidikan dari pihak penyidik, untuk itu hubungan kerja sama antara penyidik dengan penuntut umum, baik sebelum ataupun sesudah adanya pemberitahuan kepada penuntut umum tentang adanya penyidikan sebagaimana disebut dalam pasal 109 ayat 1 KUHAP harus terus dibina agar tercapainya kesempurnaan dan ketuntasan dalam melakukan penyidikan sesuai dengan pengarahan Jaksa Penuntut Umum. Dengan pengarahanpengarahan yang diberikan oleh penuntut umum, maka penyidik harus dapat melengkapi terhadap hal-hal yang dianggap belum lengkap oleh penuntut umum agar penyusunan surat dakwaan dengan segera dapat dilaksanakan. c. Konsultasi antara pihak penyidik dan penuntut umum Pelimpahan berkas perkara adalah kelanjutan dari pemeriksaan, maka selanjutnya penuntut umum lah yang berkewajiban membuktikan kesalahankesalahan terdakwa dalam arti bahwa perbuatan terdakwa adalah perbuatan pidana yang harus dikenakan sanksi. Oleh karena itu, demi keberhasilan pembuktian kesalahan terdakwa di pengadilan maka tidak ditutup kemungkinan penuntut umum

100 untuk dapat mendakwakan pasal-pasal lainnya selain pasal-pasal yang dipersangkakan oleh penyidik. Meskipun demikian seharusnya sudah sejak dini dilakukan konsultasi antara pihak penyidik dengan penuntut umum agar dapat memperkecil dan mensinkronkan perbedaan-perbedaan yang mungkin saja terjadi, sehingga dengan demikian fungsi penyidikan dan penuntutan sesuai dengan yang telah diatur dalam KUHAP dan dapat diselenggarakan seirama dan sebaikbaiknya. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dalam penyusunan surat dakwaan, seorang jaksa penuntut umum tidaklah selalu mengalami kesuksesan tanpa adanya suatu kendala-kendala yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu dalam proses penyusunan surat dakwaan tersebut. Adapun kendalakendala yang muncul dapat menghambat proses kelancaran dalam melakukan penyusunan surat dakwaan yang seharusnya dapat dilimpahkan ke pengadilan dengan tepat waktu. Meskipun penyusunan surat dakwaan sudah merupakan pekerjaan rutinitas jaksa penuntut umum namun masih saja ditemuinya kendala-kendala dalam menyusun surat dakwaan yang mana kendalakendala yang sering ditemui yaitu terdiri dari kendala intern dan kendala ekstern. 2.Adapun kendala intern yang sering ditemui yaitu : a. Kurangnya keseriusan penuntut umum dalam menyusun surat dakwaan sehingga terjadinya keterlambatan dalam melimpahkan surat dakwaan ke pengadilan. Kurangnya minat dalam mengikuti perkembangan hukum sehingga mengakibatkan kesulitan dalam menguasai materi perkara dan penyusunan surat dakwaan pun mengalami kendala. c. Terjadinya keraguan dalam menyusun surat dakwaan sehingga penyusunan surat dakwaan pun jadi terkendala. Kendala ekstern yang ditemui yaitu : a. Berkas perkara yang tidak jelas dan belum lengkap. b. Kurangnya alat bukti. c. Belum terdapatnya persamaan persepsi antara sesama aparat penegak hukum. B. Saran 1. Dalam menghadapi kendalakendala yang terjadi dalam menyusun surat dakwaan, maka jaksa penuntut umum harus dapat mengatasinya agar proses penegakan hukum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, penuntut umum harus mengambil langkahlangkah semaksimal mungkin dalam menghadapi hal tersebut yaitu dengan meningkatkan kedisiplinan dalam tubuh kejaksaan agar terciptanya keseriusan, mengikuti perkembangan hukum, menguasai materi dan mempelajari petunjuk serta bimbingan yang dikeluarkan Kejaksaan Agung maupun Kejaksaan, menjalin hubungan kerja sama yang harmonis dengan pihak penyidik agar tidak terjadi kesalah fahaman yang b.

101 mengakibatkan bolak-baliknya berkas perkara. 2. Setelah dilimpahkannya berkas perkara oleh pihak penyidik sebaiknya penuntut umum dngan segera mempelajari dan meneliti apakah sudah dapat dilakukannya penyusunan surat dakwaan berdasarkan berkas perkara yang diberikan. Apabila dirasakan belum lengkap maka dikembalikan dengan petunjuk-petunjuk yang jelas dan mudah dimengerti untuk menghindari pengembalian kembali berkas perkara tersebut. Dalam hal proses penyusunan surat dakwaan, penuntut umum harus serius dalam menangani perkara tersebut guna terciptanya penegakan hukum yang diharapkan dan terlebih dahulu mempelajari dengan seksama hasil penyidikan dari penyidik karena merupakan dasar dari penyusunan surat dakwaan yang sempurna. DAFTAR PUSTAKA 1. Buku A. Karim Nasution. 1972. Masalah Surat Tuduhan Dalam Proses Pidana, Percetakan Negara RI, Jakarta. Andi Hamzah. 2005. Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta Gatot Supratmono. 1991. Surat Dakwaan dan Putusan Hakim yang batal demi hukum, Djambatan, Jakarta. Hamit Hamrat dan Harun M. Husein. Pembahasan Permasalahan KUHAP Bidang Penuntutan dan Eksekusi, Sinar Grfika, Jakarta. Harun M. Husein. 1989. Dakwaan, Tekhnik Surat Penyusunan, Fungsi dan Permasalahan, Rineka Cipta, Jakarta. Martiman Djojo Pradjohami. 2002. Teori dan Tekhnik Mambuat Surat Dakwaan, Ghalia Indonesia, Jakarta. Prapto Soepardi. 1992. Surat Dakwaan, Usaha Nasional, Surabaya. 2. Undang-undang Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

102 Trademarks Harmonization and Challenges in ASEAN (Lessons from the EU) Nani Mulyati, SH., MCL ABSTRAK Wacana mengenai harmonisasi hukum trademark sudah menjadi pembicaraan dan diskusi yang cukup panjang disuluruh dunia. Secara rasional tujuan dari pengharminisasian ini adalah untuk efisiensi, kejelasan dan kepastian dibidang trademark. Upaya untuk melakukan harmonisasi ini dilakukan baik oleh dunia internasional maupun dilakukan secara regional. Untuk dunia internasonal usaha melakukan harmonisasi terhadap hukum trademark sudah mulai dilakukan semenjak dari lama. Dimulai dengan pembentukan Paris Convention pada tahun 1880an, diikuti dengan Madrid Agreement, Trademark Law treaty dan laian- lain. Secara regional, salah satu upaya untuk pengharmonisasian hukum trademark yang sangat sukses dilakukan oleh European Union dengan Komunitas trademarknya. Negara-negara ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations), yang terdiri dari sepuluh Negara yang terletak di Asia tenggara, juga punya keinginan yang sama untuk melakukan usaha pengharmonisasian terhadap sistem hukum interlektual propertynya. Keinginan ini sudah dimulai dengan ASEAN Framework Agreement on Intellectual Property Co-operation dideklarasikan pada 15 Desember 1995. Tetapi perkembangan dari usaha untuk pengharmonisasion ini dirasa berjalan lambat dan menemui cukup banyak permasalahan yang pelik. Untuk itulah penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah perkembangan
Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang

harmonisasi trademark di ASEAN, kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam usaha pengharmonisasian tersebut serta pelajaran apa yang bisa diambil dari kesuksesan yang telah dicapai oleh Eropean Union dalam usaha pengharmonisasian hukum trademarknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan perbandingan dan sejarah hukum dengan alat pengumpul data memakai cara studi dokumen dan diuraikan secara deskriptif. Hasil penelitian memperlihatkan kenyataan bahwa Usaha pengharmonisasian hukum trademark di ASEAN cukup berhasil dengan terbentuknya framework mengenai sistem pendaftaran trademark yang terpusat dan berlaku secara regional dinegara-negara ASEAN. Tetapi usaha lebih lanjut tidak berjalan cukup baik karena menemui beberapa permasalahan seperti: 1) tidak adanya keseragaman substansi hukum trademark di negaranegara anggota ASEAN, hal ini berbeda dengan perkembangan hukum trademark yang ada di EU dimana langkah pertama dalam pengharmonisasian adalah penyeragaman substantive hukumnya terlebih dahulu, 2) tidak adanya pengadilan yang berlaku secara transnational yang mengikat seluruh negara anggota ASEAN yang mampu menginterpretasikan pelaksanaan sistem trademark terpusat ini, 3) dan yang terakhir sebagai akibat dari permasalahan pertama dan kedua adalah standar dan kekomplexan yang berbeda-beda dari hukum trademark di Negara-negara anggota. Keywords: Trademarks harmonisation, ASEAN, intellectual property

103 cooperation, regional harmonisation I. Introduction Trademarks are understood to identify the origin of a product. Not only that, trademarks has gradually come to be understood as marks that serve to aid consumers with product of differentiation, evaluation of product quality, and brand identification. The role of trademark is becoming more important as goods increasingly travel to distant markets where brand recognition may be the only consumers assurance of quality and origin. Thus, trademark can make it easier and cheaper for consumers to locate products with desire qualities.114 The issue of harmonization of trademark laws is always on the discussion for quite long time worldwide. The rational of this harmonization is for efficiency, clarity and predictability. Further, this has largely been an effort to escape the disjunction between the dogmatic territoriality underlying the jurisdiction for the exercise of legislative and judicial power, and economic and practical realities of intellectual property law.115 This harmonization attempt is caring out internationally and regionally. Internationally, the developments of the harmonization of trademark law have been underway for the past century, started from the basic substantive and procedural innovations of the Paris Convention in the 1880s, followed by several developments such as Madrid Agreement, The Trade Mark Law Treaty and so on. Regionally,
114

one of the most successful attempts of harmonization of trademark laws occurs in European Union with its Community of Trade Mark. The Association of Southeast Asian Nations or ASEAN, comprises of ten countries which located in the South East Asia which are Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam, has also a desire to harmonize their IP systems. This effort has been expressed through ASEAN Framework Agreement on Intellectual Property Co-operation adopted on 15 December 1995. However, progress of this effort has been limited and moves in a slow pace.116 Therefore the aim of this paper is to examine the development of trademark harmonization focusing on ASEAN, identify problems and challenges occur in the process of this harmonization and learn from the success of European Union in harmonizing and unifying their trademark laws. The experience in the European Union with the creation and development of the Community of Trade Marks is a valuable precedent to study, as it gives a glimpse of the difficulties and obstacles that must be overcome to create the necessary framework to administer the system. The success of unitary trademark protection throughout the European
116

Stacey L. Dogan and Mark A. Lemley, A Search Cost Theory of Limiting Doctrines in Trademark Law (2007) 97 (6) Trademark Report 1223, 1224. 115 Timothy W. Blakely, Beyond the International Harmonization of Trademark Law as a Modal of Unitary Transnational Trademark Protection (2000) 149 University of Pennsylvania Law Review, 310.

Christoph Antons, Intellectual Property Law in Southeast Asia: Recent Legislative and Institutional Developments (Paper presented at the Second International Symposium on Information Law Alternative Frameworks for the Validation and Implementation of Intellectual Property in Developing Nations, UK, 3 February 2006) 9.

104 Union provides a valuable model for ASEAN because just like ASEAN, it also encompasses both common law and civil law systems, multilingual, a significant economic market and it joints countries that have different history of political and economic.117 This paper is arranged as follows, Part II of this paper introduces and defines the concept of harmonization and discusses the advantages as well as the inherent limitations of harmonization efforts internationally. This part is considered to be important for this paper because it gives a broader picture of trademark harmonization and also because international harmonization of trademark laws has given great influence to many countries including the ASEAN members. Part III explores the comprehensive development of the harmonization of trademark law in the European Union and then examines how the harmonization of trademark law in the European Union set the stage for the creation of a unitary trademark system in Europe. Part IV discusses ASEAN development of trademark harmonization, identified problems that influenced the harmonization. And finally Part V concludes with suggestions as to how the ASEAN countries can practice the harmonization of trademark law among its members. II. International Development of Trademark Harmonization Harmonization is the process by which the varying laws of different sovereign entities are changed to more closely reflect a common set of legal principles agreed to by those sovereign entities. Harmonized law is less than uniform law. It narrows the distinctions
117

between national laws while leaving differences in detail to national legislations. EU directives, for example, lead to harmonized state law and not really a unitary law.118 Therefore, the end product of harmonization is not a truly unitary body of law that governs a particular subject matter over a number of distinct jurisdictions. Instead, even after harmonization, the governing law of each jurisdiction is not the target set of legal principles, but the revised national law of each local jurisdiction. It can be said that harmonization can accomplish the reformation of the individual jurisdictions laws but still the interpretation and the enforcement leave to the national court. Problem can occur here because the courts of the independent jurisdictions are likely to interpret the changed national law not by the considerations which led to the harmonization effort, but rather by the nuances and traditions of that legal subject matter as they have evolved in that jurisdictions.119 This reality creates inherent weakness and shortcomings in harmonization efforts, which is the consistency in the meaning and application of the law because the interpretation and enforcement of the harmonized law of each jurisdiction will be governed by the law of each local government.120 However, apart from that weakness, it is clear that a reliable,
118

Blakely, under n. 2, 347.

Wolfgang Fikentscher, Global Intellectual Property, Competition and Cultural Traditions in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 3, 4. 119 Blakely, under n. 2, 312. 120 Ibid., 313.

105 stable, and efficiently structured trademark system benefits consumer and business interests alike. Thus, internationally, several attempts have been made to achieve some measure of harmonization that provide greater certainty and predictability in the realm of trademark protection for those whose products cross national borders and for those who consume those products. A. The Paris Convention The beginning of harmonization efforts in the realm of international trademark law has its seeds in the nineteenth century. In 1883, with the passage of the Paris convention for the protection of industrial property, the first international effort to standardize the protection of intellectual property rights in member states is carried out. The Paris Convention to which 164 countries are members, contains, among other things, substantive provisions regarding national treatment stated that each contracting state must grant the same protection to nationals of other contracting states that is granted to its own nationals, also a sixth-month right of priority that the filing date of a first-filed regular trademark application in one contracting state may claimed in subsequent applications filed in other contracting state within six months of that first filing date.121 Even though Paris Convention achieved only a limited harmonization of international trademark law because it left the implementation of its directives to be applied through the national laws of the member states, it did provide progress toward the goal of harmonization by increasing the level of predictability and
121

certainty for trademark holders and consumers in the realm of international trade.122 B. The Madrid System The Madrid System comprises of International Registration of Marks or the Madrid Agreement and the Protocol Relating to the Madrid Agreement Concerning the International Registration of Marks or the Madrid Protocol. The Madrid Agreement was completed at the Madrid Revision Conference of the Paris Convention in 1890 and later revised at Stockholm in 1967. And the Madrid Protocol was signed on 27 June, 1989, and entered into force on 1 April 1996.123 The so called Madrid System substantially reduces the administrative burden and transaction costs involved in registering trademarks and maintaining them in multiple countries by allowing an applicant to file one international application and designate the countries in which protection is sought. It is administered by the World Intellectual Property Organization (WIPO) which is headquartered in Geneva.124 The Madrid System vision of a globally comprehensive international registration system for trademarks has never been so successful, due in large park to a lack of general acceptance in the international community. In any event, the Madrid system does not deal with the rules applicable to trademark protection that remain under the national law of each country of protection; the principal of
122 123

E. Baroncelli, C. Fink and B. S. Javorcik, The Global Distribution of Trademarks: Some Styled Facts (2005) 28 (6) The World Economy 765, 768.

Blakely, under n. 2, 316. Baroncelli, Fink and Javorcik, under n. 8, 768. 124 Ibid.

106 territoriality and the principle of Independence of rights are still firmly entrenched and govern the bulk of substantive trademark for member states. The Madrid Agreement then does not by itself confer any substantive rights; the substantive rights flow form the extensions of protection emanating from the international registration, and are therefore fully national or territorial in nature.125 C. The Trademark Registration Treaty In the mid-1960s, attempts to further harmonize international trademark practice were intended. The culmination of these attempts was the Trademark Registration Treaty (TRT), which was adopted in Vienna in 1973 and became effective in 1980. The goals of the TRT were to offer solutions to commonly cited concerns with the Madrid Agreement and to gain approval from those states that had refused to sign the Madrid Agreement. The TRT was never widely adopted, however, and in essence was little more than a filing treaty like the Madrid Agreement. The TRT provided that a formally correct filing would result in recordation of the mark on an international register, after which the different national laws would be used to evaluate the use of the marks, again leaving intact the principles of territoriality and independence of rights. However, as the TRT offered little advantage over the Madrid Agreement, and as its provisions did not fit the existing trademark laws of many nations, it was never well subscribed, and the international trademark community was forced to look in another direction to develop an international system of trademark registration and protection.126 D. The Trade Mark Law Treaty
125 126

In 1987 the WIPO began discussions concerning the issue of substantive harmonization with the goal of creating a new international trademark treaty. As the result of those efforts was Trademark Law Treaty (TLT). That treaty is become effective on 1 August 1996. 127 The TLT accomplishes greater procedural harmonization of trademark law by setting forth a list of maximum requirements that members may impose for various actions. As such, it is not merely an agreement providing for international registration of, or application for trademark rights. Instead, it is an agreement that seeks true harmonization of the procedural guidelines for trademark protection. For example, the TLT prevents member states from requiring confirmation, notarization, verification, legalization, or certification of any signature, except in the case of a surrender of a registration. Such administration requirements simply proved to be barriers to the efficient registration of international trademarks, and the TLT seeks to streamline the registration process.128 The TLT also simplifies post-registration requirements concerning changes in names, addresses and ownership of the registration. In addition, the TLT standardizes the renewal stage of trademark rights by setting forth provisions for the duration of both the initial period of the registration and the renewal period to ten years each. A further provision of the TLT requires member states to recognize and protect service marks as well as trademarks
127 128

Blakely, under n. 2, 317. Ibid., 318.

Ibid., 321. Ibid.

107 and to apply the provisions of the Paris Convention to service marks.129 Despite its initial goals of providing comprehensive and substantive harmonization of all aspects of international trademark law, in the end, the TLT has provided little more than a greater system of procedural harmonization for the registration and maintenance of trademark rights. Some efforts to harmonize international trademark laws have been done, even though it is still in progressing to find the most suitable laws worldwide, that provide more predictability and stability. There has been however some successful if more regional efforts at achieving procedural as well as substantive transnational harmonization of trademark law. The prime example of this is the development of the CTM (Community Trade Mark) in the European 130 Community. III. European Union on Trademark Harmonization European Union was established by the Treaty of Rome which was signed on 25 March, 1957. In the recitals of the treaty, the purpose is announced as being to ensure the economic and social progress of countries by common action to eliminate the barriers which divide Europe. As an essential objective toward that goal, the treaty calls for action to remove the existing obstacles to trade in order to guarantee steady expansion, balanced trade and fair competition.131 Soon after the creation of the treaty, it was recognized that in order to create a common market in Europe it would be necessary to harmonize trademark law throughout the continent. This harmonization would necessarily be
129 130

substantive in nature, as the ultimate goal was the creation of a unitary trademark system to govern the entire European Community. Without the harmonization of existing national laws, any system governing Community-wide trademark rights would face steep obstacles in the courts and legislatures of member states. The first step in creating a unitary system was then the creation of a directive requiring member states to harmonize their national trademark laws.132 A. Trademark Directive The first draft of Directive for the harmonization of European trademark law was published in 1980. After some changes in the following years, it was then approved on December 21, 1988. The purpose of the Trademark Directive is to eliminate disparities in the trademark laws of the member states by seeking to harmonize the different legislations existing in the member states.133 It was not intended as a final product, but as a necessary step in the process of promulgating a unitary trademark system to govern the whole of the European Union.134 As a harmonizing measure, the Trademark Directive did not establish a particular law to govern trademark issues in the European Union. Rather, it set forth standards under which the member states were to revise their national trademark laws. The only trademark laws that were enforceable
132 133

Ibid., 322. Ibid., 323. 131 Ibid.

Ibid., 324. B. Kunoy, Whats in a name that which We Call a Rose by Any Other Name Would Smell as Sweet? Reflections on ECJs Trade Mark Case Law (2007) 8 (6) German Law Journal 635, 636. 134 Blakely, under n. 2, 325

108 in the European Union were the national trademark laws of member states. The Trademark Directive charged each member state to bring into force the laws, regulations and administrative provisions necessary to comply with the Directive not later than 28 December 1991.135 In addition to that, the role of European Court of Justice or ECJ is very important in interpreting the harmonized laws among the member states. The decision by the ECJ, and the vary fact that such a decision was rendered at all, points to the great advantage that the Trade Mark Directive has over previous attempts at international harmonization efforts for trademarks law by providing a conclusive and binding interpretation of the terms of the harmonized measures so that the invariability different national interpretations of the laws can be reconciled and true harmonization can be achieved. The presence of the ECJ as a final arbiter and interpreter of the harmonized law provides not only for successful and substantive harmonization, but also sets the stage for creation of a unitary system of trademark protection that relies not on the national laws of the various member states for enforcement, but rather on new and unitary provision, that is the CTM.136 B. Community Trade Mark The ideal condition actually that the Community of Trade Marks or CTM is introduced at the same time as the Trade Mark Directive. However, because of so many different interests among the countries, the political problem arose and made this goal impractical. Therefore, in 1988, the European Council decided to adopt the Trade Mark Directive first.137
135

Some heated issues surrounded the making of CTM, for example related to the location of the Office for Harmonization in the Internal Market (OHIM), the issue of official operating language for OHIM, issue concerning the staffing of the OHIM.138 Having settled the political problems of the implementation of the Communitys system of trademark protection, the Trademark regulation was approved on December 20, 1993, and it came into force on March 15, 1994. When OHIM came into operation on January 1, 1996, the CTM was launched.139 The substantive provisions of the Trade Mark Regulation were intended to be the same as the provisions of the Trade Mark Directive. The innovation of the Trade Mark Regulation is not in its substantive provisions, but rather in its detailed procedural provisions that set forth the administrative procedures that will govern the registration, opposition, publication, and most importantly enforcement of the substantive rights conferred by CTM.
140

Trademark issued in accordance with the Trade Mark Regulation will be called Community Trade Marks, and establishes that CTM will have a unitary character with equal effect throughout the Community.141 The CTM is unitary in the sense that it can be registered, assigned, or licensed with a single filing with the OHIM. It is important to note that national trademark registrations and the rights that they
138

Ibid. 136 Ibid., 336. 137 Ibid. 337.

Ibid., 337-338. Ibid., 338. 140 Ibid. 141 Art 1(1) (2) Trade Mark Regulation
139

109 confer are not affected by the development of the CTM. Those rights are still enforceable as they were before, and the rights conferred by CTM are existed concurrently with the national rights.142 IV. The Development of Trademark Harmonization in ASEAN The Association of Southeast Asian Nations or ASEAN was established on 8 August 1967 in Bangkok by the five original member countries, namely Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore and Thailand. Brunei Darussalam joined on 8 January 1984, followed by Vietnam on 28 July 1995, Lao PDR and Myanmar on 23 July 1997, and finally Cambodia joined on 30 April 1999. As of 2006, the ASEAN region has population of approximately 560 million, with the total area of 4.5 million square kilometres, combined gross domestic product of almost US$1,100 billion, and total trade of about US$1,400 billion.143 ASEAN has been highly successful in the early 1990s; the member countries had a steady improvement in economic and social condition. However, the Asian crisis in 1997 has influenced its member countries development very badly that definitely brought severe effects to all members. Each country overcomes this situation with different approach; there are some countries that could recover quickly, but there also some members recover in a very slow pace. However, still ASEAN is a region economic importance that cannot be neglected. With its growing export-led economies and a fast developing domestic market of 530 million people, ASEAN countries are displaying impressive growth figures and are set to become one of the
142 143

most dynamic growth engines for the world economy.144 Further ASEAN had decided to establish the ASEAN Free Trade Area (AFTA) with tariffs between 0 and 5 percent by 2015, that can be predicted that ASEAN will become more economic valuable and stronger.145 A. ASEAN Framework Agreement on Intellectual Property Cooperation Realized that it is very important to tackle the intellectual property cooperation to facilitate the economic and technical advances in the region, ASEAN member countries has agreed to sign up the ASEAN Framework Agreement on Intellectual Property Cooperation on 15 December 1995.146 In order to drawing up the Framework Agreement, The ASEAN working Group on Intellectual Property Cooperation or WGIPC was set up. Further, it is also established to serve a forum for regular consultations to monitor regional and international developments in intellectual property. The WGIPC has formulated its programme of action to implement the activities contained in the Framework Agreement.147

144

Blakely, under n. 2, 339. www.aseansec.org

E. Botezatu, EU-ASEAN Free Trade Area: Regional Cooperation for Global Competitiveness (MPRA Paper No 4946, Munich Personal RePEc Achieve, 2007) 4. 145 C. Antons, Harmonization and Selective Adaptation as Intellectual Property Policies in Asia in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 110, 119. 146 Weerawit Weeraworawit, The Harmonization of Intellectual Property Rights in ASEAN in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 205, 208. 147 www.aseansec.org

110 The willingness to make the intellectual property cooperation dynamic resulted in few discussions on the scope of the cooperation, as several activities were quickly agreed on and highlighted. Among the activities agreed to in the programme were measures to enhance and strengthen intellectual property enforcement, protection, administration, legislation and activities to promote public awareness as well as private sector participation. Apart from improving the efficiency of intellectual property rights administration of member countries through new legislation, computerization, enforcement and human resource development, ASEAN recognized that the private sector and the public at large also need to be involved in the inculcation of intellectual property awareness. A private sector ASEAN Intellectual Property Association (AIPA) was officially inaugurated on 1 December 1996 in Kuala Lumpur, Malaysia. AIPA was granted the status of an ASEANaffiliated NGO in March 1997.148 Recommendation regarding the scope of the Framework Agreement has been made in two distinct areas; one was the establishment of an ASEAN Trademark system and another one is patent system.149 Further, the Framework Agreement envisages creating closer cooperation among the members in the making, administration and enforcement of trademark and patent laws. This paper however will not discuss further about the second area, therefore it will only focus on harmonizing trademark system. The concept paper on the Regional Trademark System deals with three
148 149

www.aseansec.org A. Endeshaw, The Momentum for Review of TRIPs and Harmonization of Intellectual Property in ASEAN in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 139, 144-145.

different levels of regional cooperation on trade marks, requiring different degrees of harmonization. The first one is to have one common form of domestic application for use by all participating members to make it more convenient for applicants who file for trade mark registration in several ASEAN countries. This should help to streamline procedures, since the model common form to be used as the reference would seek to eliminate cumbersome features. The second level is to have a regional filing of applications in the sense that the applicant can apply at any trade mark office in any ASEAN member country which will act as the receiving office and forward the application to the other ASEAN trade mark offices designated by the applicant. The third level is to have the ASEAN regional office or the ASEAN Trademark office to receive and process the applications. Any mark registered by these two offices will be effective in all of ASEAN. It is the realisation of the ultimate goal of having an ASEAN Trademark issued by the ASEAN Trademark Office.150 With so many considerations, the working group decided to proceed the second level of harmonization which is the creation of regional filling system. Because this will not require many changes in the substantive trade mark law of each member country. With this option the designated member would still use its preset trade mark law. But still of course there will be some changes in filling procedures to facilitate the concept of regional filing system.151
150 151

Weeraworawit, under n. 33, 211 Ibid.

111 Towards that objective, ASEAN has to overcome some problems such as which languages to deploy for the system. Learn from EU experience, it is dissuaded for ASEAN from imposing on applicants the burden of having to absorb costs for translations.152 Far more important, ASEAN would have to devise a workable arrangement as to where examination, validity hearings, opposition and appeal are to be carried out. Whether any of these is lodged at the national offices designated as part of the regional system or at some common centre. The fact that the whole exercise, particularly as regards creating a filing system, was to be completed by 1 January 2000 but failed to happen suggests that some of these issues could not be address in time or without difficulty.153 Eventually, after dealing with so many problems and heated discussion, the forms for domestic and regional filing system have been finalised by ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation.154 However, the enabling legal instruments for setting up the entire system are still lacking. Thus, work is still proceeding on the implementing regulations and agreement establishing an ASEAN Regional Trademark Filling System.155 B. Problems and Challenges in Harmonizing Process Many attempts have been done to pursuit the ideal harmonization of trademark laws in ASEAN countries. Some steps such as the setting up of the ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation and its sub-committees on trademarks. The working groups succeeded in developing drafts of regional filing forms
152

for trademarks, but progress in the introduction of the system has been slow. If comparing and contrasting EU efforts and ASEAN efforts on harmonizing its trademark laws, several factors seem to be coming together here: first, the absence of a common framework of substantive laws, on which the practices and procedures agreed upon and being developed are supposed to be based; secondly, there is no guidance from a supranational court as to an appropriate interpretation of the trademark system.; and thirdly, as the ultimate problem caused by the first and second problems, is the divergent levels in standards and complexity of trademark laws among the members.156 The original problem is the substantive harmonization that is absence in ASEAN harmonization process. Unlike EU, which has successfully harmonized the substantive laws of each member states, ASEAN harmonization process is absence of this step. The ideal condition of the trademark harmonization in ASEAN proposed during the process was that ASEAN countries formulated their own system on the use of trademarks that would still suit ASEANs needs, expectations and culture of its member countries.157 However, this idea seems to be too ambitious and could not suit with the reality, as the importance of international treaties such as Paris Convention or TRIPs or bilateral agreement, as far as ASEAN is concerned, is that many countries
156

Endeshaw, under n. 36, 145. 153 Ibid. 154 www.aseansec.org 155 Endeshaw, under n. 36, 145.

157

Ibid. A. Endeshaw, Harmonization of ASEAN Intellectual Property: Issues and Prospects (1999) 2 (1) Journal of World Intellectual Property 37

112 (contracting parties) have already incorporated the changes into their domestic law. As a consequence, any harmonization will have to start not from where the ASEAN member states find themselves most comfortable with but from the position that their trading partners, particularly those in WTO, have reached.158 The case is that, if the comparison with the EU harmonization process is taken, EU had the sufficient time to harmonize its substantive law, while ASEAN countries may not have such period. Any progress in the creation of formalities and administrative procedures for registration of rights will remain insignificant and ineffective if the substantive of rights is not measurable against a common legal instrument. Intellectual property rights are extremely dependent for their definition on detailed technical rules. In the absence of such rules and the elimitation of the boundary of the accompanying rights, it would be hard to make sense of the content or value of those rights.159 This is not to suggest that every attempt at harmonization should necessarily lead to, or start with, an agreement on substantive rules, although that would certainly make the objective easier to achieve. Apart from that situation, the harmonization may still ultimately be held up by the absence of a common framework of substantive laws. However, the creation of a regional registration system unaccompanied by common substantive rules agreed among ASEAN countries may serve to ease national offices of the administrative and financial burdens as well as the need for specially trained manpower.160
158 159

Another problem is that ASEAN created the trademark systems without guidance from a supranational court as to an appropriate interpretation and application of that system, there is unlikely to be any measurable improvement in the predictability of decision-making by national courts of the member countries.161 In the case of EU, when uncertain as to the interpretation of the Trademark Directive, the national courts of Member States may request a preliminary ruling from the European Court of Justice (ECJ), if they consider that a decision on the question is necessary to enable them to give judgment. The system of preliminary reference from national courts has allowed the ECJ to construct a formidable body of trademark jurisprudence since the introduction of the Trademark Directive in 1988. As a supranational court, the ECJ is also able to utilize the European Communitys membership of the WTO in order to interpret the TRIPS Agreement in a manner which will promote the substantive harmonization of trademark law throughout the European Union, particularly in those areas of law, such as unfair competition, where the Directive does not require an approximation of national laws. 162 Ultimately, the outstanding problems that have affected the rate of progress in the implementation of the
161

Ibid., 13. Endeshaw, under n. 36, 146. 160 Ibid.

Gail E Evans, Substantive Trademark Law Harmonization: on the Emerging Coherence between the Jurisprudence of the WTO Appellate Body and the European Court of Justice (2007) 41 Journal of World Trade New York 1127, 1130. 162 Ibid.

113 ASEAN Framework Agreement is the continuing disparity among the members in the levels of their current economic standing as well as divergent levels in standards and complexity of trademark laws among the members.163 Moreover, taking into account the varied socio cultural and political background of the member states, step by step harmonization in neutral areas such as trade and business that do not indirectly impact upon the cultural sensitivities and legal consciousness of the member states is also really important consideration. ASEAN efforts at harmonization will continue to progress at a slow pace until the member states have achieved parity in the level of trademark laws available in the domestic context.164 ASEAN countries are at quite different levels of intellectual property development and a country such as Singapore faces very different issues and problem than, for example, Laos and Cambodia. Apart from the ASEAN enlargement, the more diverse ASEAN intellectual property landscape of recent years has of course also to do with the TRIPS Agreement and the reaction of various countries to it and more recently with the Free Trade Agreements concluded by the US and others with countries of the region, which has targeted those economies that are regarded as more successful.165 The disparity in standard and complexity of its trademark laws is even worsen by the issues such as the lack of familiarity of judges, prosecutors and police with intellectual property principles which can often lead to situations where plaintiffs insisting on such rights are regarded as troublemakers. On this level, intellectual property rights cannot be separated from the general legal culture
163 164

prevailing in a country. As in other fields of law that also a heated issue in some of ASEAN member countries, corrupt court officials, lengthy procedures and gaps in the registration of intellectual property rights are often great obstacles to the enforcement of intellectual property rights.166 C. Progressing Efforts Temptation to overcome this situation is always there among the member countries, as the most recently adopted Intellectual Property Right Action Plan of ASEAN at the summit in Vientiane for the period 2004-2010 confirms the harmonization importance. It shows altogether with the focus for the time being on simplifying and harmonizing national procedures and creating opportunities for enhanced cooperation. But how and when do this goals be achieved in the meaning of cooperation among the members is not there.167 The missing steps in ASEAN harmonization that is presence in EU harmonization may not always be seen as problems. To catch up with the international standard and harmonize the trademark systems, ASEAN should always maintain its cooperation among members and also should pursue IPR cooperative activities with the World Intellectual Property Organization (WIPO), European Union (EU), and other countries in achieving that objective. IPR cooperation activities between ASEAN and WIPO ware actually already formalized since 1993. Through regular dialogue between WIPO and the ASEAN Geneva
166 167

Endeshaw, under n. 36, 145. Ibid., 140. 165 Antons, above n. 3, 2.

Fikentscher, above n. 5, 35. Antons, above n. 3, 9.

114 Committee represented by the ASEAN Ambassadors in Geneva. This forum has been a significant driving force in shaping the nature and scope of cooperation between WIPO and ASEAN by providing a regular review of the state of cooperation and identification of future areas of cooperation between ASEAN and WIPO. Such cooperation in the last decade has spanned the areas of institution and capacity building, legislative assistance, human resource development and training. The most recent WIPO-ASEAN consultation meeting, which was held on 15 September 2004, undertook a review of WIPO-ASEAN cooperation to date. Such cooperation has witnessed a shift to high gear with the implementation of policy, strategy and practical activities aimed at enhancing the capacity of governments, creators and private sector to use intellectual property for economic, social and cultural development.168 With the successful implementation of activities identified under the Program of action and under the Cooperation Program, will ensures that all ASEAN countries will eventually establish and maintain an efficient IPR administration system that conforms to international standards and norms. Effective IPR protection in the region will support the objectives of AFTA by assuring the owners of technology that the most recent developments brought into the region will be protected. This, in turn, will encourage foreign investors to introduce state-of-the-art manufacturing technology in the region. V. Conclusion Trade Mark Directive and the way it set the stage for the development of the unitary system, provides us with an example of how substantive harmonization
168

www.wipo.int

can be achieved. The Trade Mark Directive also provides us with the cautionary lesson that any effort at substantive harmonization will take time. After a harmonization effort has served to greatly narrow the gap between, and make substantially similar, the creation of a unitary transnational trademark system will require the creation of a consolidated legislative, administrative, and judicial framework that can serve to manage the new unitary trademark. It was indeed realised that the readiness among the ASEAN member countries varied for any kind of centrally issued trade mark which would have the region-wide protection. At the same time, it was also clear that ASEAN intended to ensure free trade among the member countries. This would require not only the tax free circulation of goods but also the efficient and effective protection of intellectual property rights inherent or intrinsic in many items of goods and services. Where ASEAN choose to harmonize its trademark systems, what can only be their adoption of international standards, ASEAN countries have serious issues to consider; given the divergence in trademark laws among members of ASEAN, success in such a harmonization might not be in the actual range or scope of rights they recognise as a basis for a regional trademark system, but in the achievement of a common minimal framework for all. Even though this effort may move very slowly, some efforts to achieve this objective are already on the way, and this should still be done with the cooperation from all member countries.

115 Bibliography Articles/Books/Reports Antons, C., Intellectual Property Law in Southeast Asia: Recent Legislative and Institutional Developments (Paper presented at the Second International Symposium on Information Law Alternative Frameworks for the Validation and Implementation of Intellectual Property in Developing Nations, UK, 3 February 2006) Antons, C., Harmonization and Selective Adaptation as Intellectual Property Policies in Asia in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 110 Baroncelli, Fink and Javorcik, The Global Distribution of Trademarks: Some Styled Facts (2005) 28 (6) The World Economy 765 Blakely, Timothy W., Beyond the International Harmonization of Trademark Law as a Modal of Unitary Transnational Trademark Protection (2000) 149 University of Pennsylvania Law Review Botezatu, E., EU-ASEAN Free Trade Area: Regional Cooperation for Global Competitiveness (MPRA Paper No 4946, Munich Personal RePEc Achieve, 2007) Dogan and Lemley, A Search Cost Theory of Limiting Doctrines in Trademark Law (2007) 97 (6) Trademark Report 1223 Endeshaw, A., Harmonization of ASEAN Intellectual Property: Issues and Prospects (1999) 2 (1) Journal of World Intellectual Property Endeshaw, A., The Momentum for Review of TRIPs and Harmonization of Intellectual Property in ASEAN in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 139 Evans, Gail E, Substantive Trademark Law Harmonization: on the Emerging Coherence between the Jurisprudence of the WTO Appellate Body and the European Court of Justice (2007) 41 Journal of World Trade New York 1127 Fikentscher, Wolfgang, Global Intellectual Property, Competition and Cultural Traditions in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (ed) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) Kunoy, B., Whats in a name that which We Call a Rose by Any Other Name Would Smell as Sweet? Reflections on ECJs Trade Mark Case Law (2007) 8 (6) German Law Journal 635 Weeraworawit, Weerawit, The Harmonization of Intellectual Property Rights in ASEAN in C. Anton, M. Blakeney, C. Heath (e d) Intellectual Property Harmonization Within ASEAN and APEC (2004) 205 www.aseansec.org www.wipo.int 2. Legislation/Treaties Trade Mark Regulation ASEAN Framework Agreement on Intellectual Property Cooperation

116 PERANAN HUKUM PERBANKAN DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA YASNIWATI, SH,MH Abstrac One of financial institution supported the movement the development is banking sector. Reviewing the aim of Act No. 7 in 1992 about banking sector and its amendments act showed clearly that the banking sector to be directed for supporting the continuity of development execution, in order to be able accommodate the demand of banking service, so that it is possible to improve the quality of people life, flat development and its output as well as the improving of economic growth and national stability can be manifested clearly in order the nation want to realize the people life to be justice and welfare based on Pancasila and Constitution 1945. Thus we will see that the nature and instrumental law function has been established well in the Act No. 7 in 1992 about banking sector and its amendment of it No. 10 in 1998. pula yang mengambarkan hukum telah berubah. Tumbuh berubah dan berkembangnya suatu lembaga hukum ditentukan oleh bermacam-macam factor ekonomi, politik, agama dan teknologi. Campur tangan hukum yang semakin luas dibidang kehidupan masyarakat menyebabkan perlunya dianalisa tentang Hukum itu sendiri dan tertib Hukumnya169. hukum dan perbankan merupakan salah satu fenomena pengabungan dua sub bidang keilmuan menjadi satu kenapa? Karena perbankan adalah lembaga keuangan yang dalam setiap ritmenya diatur oleh aturan yang ada sehingga dirasa perlu untuk mengetahui gejalagejala hukum yang terjadi didalam Bentuk peristiwa perbankan170. hubungan hukum yang terjadi dalam dunia perbankan tidak akan terlepas dari bentuk hubungan perkreditan yang terjadi. Proses kliring atau proses penyelesaian hubungan hutang piutang yang simpang siur antara banyak pilihan sehingga diperoleh perhitungan jumlah akhir yang masing-masing harus membayar atau menerima sebagai selisih antara jumlah total piutang masing-masing. Aturan hukum yang saat ini mengatur tentang Perbankan adalah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 yang merupakan Undang-undang Perbankan yang dibuat dengan maksud lebih menyempurnakan aturan-aturan perbankan yang ada. Tujuan penggantian dan penyempurnaan peraturan Perbankan tersebut dalam rangka upaya meningkatkan peranan
169 Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, Satjipto Rahatdjo, Angkasa Bandung, 1987, hlm 16 170 Muh. Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm 37

A. PENDAHULUAN Salah satu lembaga keuangan yang menyokong gerak laju pembangunan adalah perbankan. Perbankan merupakan lembaga keuangan yang sangat mempengaruhi perkembangan sektor perekonomian di suatu negara. Dalam perkembangan perbankan secara umum termasuk didalamnya bagian Hukum perbankan, maka hubungan yang erat sambung menyambung atau hubungan yang tidak terputus-putus antara Hukum perbankan sekarang dengan Hukum perbankan masa lampau. Perkembangan itu
Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang dan Dekan Pada Fakultas Hukum Univ . Mahaputra Muhammad Yamin Solok

117 lembaga Perbankan dalam mendukung pelaksanaan pembangunan, juga agar mampu berperan secara lebih baik dalam mendukung pembangunan nasional, sekaligus dapat menjawab tantangan perkembangan ekonomi internasional. B.Hukum Perbankan Hukum Perbankan Indonesia merupakan Hukum yang mengatur masalah-masalah perbankan yang berlaku sekarang di Indonesia. Dengan demikian berarti akan membicarakan aturan-aturan perbankan yang masih berlaku sampai saat ini. Hukum perbankan adalah sebagai kumpulan peraturan Hukum yang mengatur lembaga keuangan bank yang meliputi segala aspek baik segi esensi dan eksistensinya dalam mendukung pembangunan serta hubungannya dengan kehidupan yang lain,maka itu dalam pembangunan perlu Hukum perbankan untuk membantu pengaturan di bidang Perbankan yang antara lain: a. Dasar-dasar Perbankan yaitu menyangkut asas-asas kegiatan perbankan seperti; norma efisiensi; keefektivan; kesehatan bank profesionalisme perlaku perbankan maksud dan tujuan lembaga Perbankan serta hubungan Hak dan Kewajibannya. b. Kedudukan Hukum pelaku di bidang Hukum Perbankan seperti kaidahkaidah pengelolanya dalam dewan komisaris, direksi, karyawan maupun pihak yang terafiliasi juga mengenai bentuk badan Hukum yang mengelolanya serta mengenai kepemilikannya c. Kaidah-kaidah perbankan yang secara khusus memperhatikan kepentingan umum seperti kaidahkaidah yang mencegah persaingan yang tidak wajar. d. Kaidah-kaidah yang menyangkut struktur organisasi yang mengatur kebijakan ekonomi dan moneter pemerintah. e. Kaidah-kaidah yang mengarah kehidupan perekonomian yang berupa dasar-dasar untuk perwujudan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya melalui penetapan sanksi, insentif dan sebagainya. f. Keterkaitan satu sama lain dari ketentuan dan kaidah-kaidah Hukum tersebut sehingga tidak mungkin berdiri sendiri malahan keterkaitannya merupakan hubungan logis dari bagin-bagian lainnya. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa Hukum Perbankan itu merupakan system yaitu kesatuan yang bersifat komplek terdiri dari bagianbagian yang berhubungan satu sama lain. Pada Hukum Perbankan Indonesia banyak ditemukan kekhasan yang dipengaruhi oleh ideology Pancasila dan tujuan Negara yang tercantum pada Undang-Undang Dasar 1945 antara lain: i. Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehatianhatian dengan fungsi utamanya adalah sebagai penghimpun dan pengatur dana masyarakat dan bertujuan menunjang Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.

118 ii. Perbankan Indonesia sebagai sarana untuk memelihara kesinambungan Pelaksanaan pembangunan nasional, guna untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UndangUndang Dasar 1945, Pelaksanaan perbankan Indonesia harus banyak memperhatikan keserasian, keselarasan dan keseimbangan unsurunsur Trilogi Pembangunan. iii. Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya kepada masyarakat tetap harus senantiasa bergerak cepat guna menghadapi tantangan-tantangan yang semakin berat dan luas dalam perkembangan perekonomian nasional maupun Internasional. Perbankan yang didasarkan kepada demokrasi ekonomi mempunyai arti bahwa masyarakat harus memegang peranan aktif dalam kegiatan perbankan, sedangkan pemerintah bertindak memberikan pengarahan dan bimbingan terhadaap pertumbuhan dunia perbankan sekaligus menciptakan Iklim yang sehat bagi perkembangannya. Demokrasi yang menjadi dasar pembangunan harus memiliki ciri-ciri positif sebagai berikut: 1. Perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan oleh karena itu di dalam demokrasi ekonomi tidak dikenal system pertentangan kelas. 2. Sumber-Sumber kekayaan dan sumber-sumber alam serta keuangan Negara harus digunakan dengan pemufakatan perwakilan rakyat serta pengawasan terhadap kebijaksanaan yang bertalian dengan itu harus ada pada perwakilan rakyat. 3. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. 4. Warga Negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak. 5. Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat. 6. Potensi aktif dan daya kreasi setiap warga Negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum. 7. Fakir miskin dan anak-anak terlantar berhak memperoleh jaminan sosial. Mengingat perannya maka dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional tidak boleh berlebihan apabila perbankan kita ditempatkan begitu strategis, sehingga tidak berlebihan apabila terhadap lembaga perbankan tersebut pemerintah mengadkan pembinaan dalam pengawasan yang ketat. Semua itu didasari oleh landasan pemikiran agar lembaga perbankan di Indonesia mampu berfungsi secara efisien, sehat, wajar serta mampu melindungi secara baik dana yang dititipkan masyarakat kepadanya. Sumber Hukum dalam arti material adalah sumber hukum yang menentukan isi Hukum itu sendiri yang terdiri dari jenis-jenisnya sehingga bergantung dari sudut mana dilakukan peninjauan baik ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat dan lain sebagainya seorang ahli perbankan akan cendrung mrnyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan terhadap lembaga perbankan itulah menimbulkan isi hukum yang

119 bersangkutan. Sumber hukum formal dalam sumber perbankan Indonesia bisa tertulis dan tidak tertulis. Jika dilihat dari sudut sifatnya hukum perundang-undangan mungkin merupakan Hukum imperative atau falkutatif yang mana perbedaan tersebut didasarkan atas kekuatan sanksinya. Pada Hukum falkutatif pembentuk UndangUndang hanya melengkapi kekurangankekurangan yang mungkin ada pada pengaturan hubungan hukum yang terjadi yang penerapannya diserahkan pada pihak yang mengadakan hubungan hukum meskipun demikian pada hukum fakultatif pembentuk Undang-Undang juga memberikan perintah sebagaimana halnya dengan Hukum Imperatif. 171 C.Peranan Hukum Perbankan dalam Pembangunan. Gencarnya pembentukan Hukum Perbankan saat ini adalah merupakan bentuk upaya penyempurnaan Hukum yang telah ada. Hal itu dimaksudkan agar perbankan Indonesia memiliki landasan gerak yang kokoh yang membawa kearah sifat yang lebih tanggap terhadap perkembangan pembangunan nasional, sehingga perbankan nasional mampu berperan dalam peningkatan taraf hidup rakyat banyak, juga mampu menjadi pelaku pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional. Dengan demikian peranan perbankan nasional dapat terwujud lebih nyata dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Peranan yang diharapkan dari perbankan nasional seperti diatas mengarah kepada perbankan yang memiliki fungsi sebagai agen pembangunan (agent of
171

ibid hlm 1-9

development) yaitu sebagai lembaga yang bertujuan guna mendukung Pelaksanaan pembangunan nasional. Adanya peranan demikian membawa konsekuensi bahwa perbankan nasional dituntut untuk selalu dapat memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan melakukan pemerataan atas hasil-hasilnya sehingga tercipta stabilitas nasional yang menga5rah kepada peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Dalam rangka mengaktualisasi perananan tersebut, perbankan nasional tidak ketinggalan untuk menunjang sikap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Perbankan nasional telah mulai berketetapan untuk bersikap menjadi perbankan yang berwawasan lingkungan, sehingga kegiatan perbankan yang ada diarahkan untuk bisa turut memperbaiki lingkungan, juga turut untuk melestarikan lingkungan yang sehat. Maka itu Hukum perbankan sebagai Hukum modern mempunyai sifat dan fungsi instrumental yaitu bahwa Hukum merupakan sebagai sarana perubahan. Hukum akan membawakan perubahan-perubahan melalui pembuatan perundangundangan yang nantinya akan mendukung pembangunan serta dijadikan sarana menyalurkan kebijakan-kebijakan yang dengan demikian bisa berarti menciptakan keadaan-keadaan yang baru atau mengubah sesuatu yang sudah ada. Dari sini terlihat bagaimana peranan aktif dari Hukum yang dipakai sebagai sarana untuk menimbulkan akibat tertentu yaitu tujuan yang dikehendaki. Hanya saja demi tercapainya fungsi tersebut bekerjanya Hukum tidak bisa

120 dibebankan pada isi perundangundangannya saja melainkan juga aparat birokrasinya lebih dituntut untuk pelaksanaannya. Maka demikian pula penguasaan pengetahuan yang lebih seksama dari perbankan merupakan tuntutan yang tidak dapat ditinggalkan. Di Indonesia pandangan instrumental mengenai Hukum ini kelihatan lebih nyata diterapkan pula Repelita Kedua (1973-1979) dan terus diterapkan dengan segala perbaikannya sampai sekarang. Pandangan ini terlihat dari pembinaan Hukum yang diarahkan untuk menampung kebutuhan-kebutuhan Hukum sesuai dengan kesadaran Hukum masyarakat yang berkembang mengarah pada modrenisasi menurut tingkat-tingkat kemajuan pembangunan di segala bidang sehingga tercapai ketertiban dan kepastian Hukum. Melihat tujuan dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan undang-undang perubahannya terlihat jelas bahwa perbankan diarahkan untuk mendukung kesinambungan dan peningkatan Pelaksanaan pembangunan, juga agar mampu menampung tuntutan jasa perbankan, sehingga mampu berperan dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta peningkatan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional dapat terwujud secara lebih nyata dalam rangka kita mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Maka kita akan melihat bahwa sifat dan fungsi Hukum yang instrumental itu telah ditetapkan dengan baik dalam UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang perubahannya Nomor 10 Tahun 1998. Perubahan yang dilakukan berdasarkan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan sosial rakyat melalui kelembagaan perbankan tersebut di Indonesia juga menggantungkan harapannya pada kemampuan Hukum untuk menanganinya. Di Indonesia lembaga perbankan memiliki misi dan fungsi yang khusus, jadi perbankan Indonesia selain memiliki fungsi yang lazim juga punya fungsi yang diarahkan sebagai agent pembangunan yaitu sebagai lembaga yang bertujuan guna mendukung Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembagunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Fungsi tersebut sebagai penjabaran pasal 4 UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yaitu: Perbankan Indonesia bertujuan menunjang Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak Maka itu dunia perbankan melaksanakan program yang ditujukan guna mengembangkan sektor-sektor perekonomian tertentu seperti membantu ekonomi kecil dan menengah dengan memberikan kredit agar bisa berkembang dan dapat mendukung pembangunan dalam hal perekonomian. Sehingga dapat dikatakan bahwa peran perbankan sangatlah penting dalam membantu peningkatan perekonomian serta selalu menjaga agar dana yang terhimpun itu dapat kembali kepada masyrakat dan digunakan secara sebaik-baiknya dalam membantu pelaksanaan pembangunan.

121 D.Bentuk Pengawasan Perbankan dalam Menunjang Pembangunan Perekonomian Indonesia. Pembinaan dan Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersifat preventif dan replesif. Upaya prefentif dalam bentuk ketentuan-ketentuan, petunjuk, nasehat, bimbingan dan pengarahan. Upaya represif dalam bentuk pemeriksaaan yang disusul dengan tindakan perbaikan hal ini dilakukan agar dapat mendukung pembangunan nasional. Usahausaha yang dilakukan oleh Bank Indonesia sesuai dengan UU no 23 tahun 1999 adalah: 1. Menetapkan ketentuan-ketentuan Perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian. (Pasal 25 ayat (1) 2. Menyangkut perizinan perbankan meliputi kewenangan untuk memberikan izin dan mencabut izin usaha, memberikan izin pembukaan, penutupan, pemindahan kantor; memberikan persetujuan atas kepemilikan dan pengurusan bank; memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu ( Pasal 26) 3. Melakukan pemeriksaan terhadap bank, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan juga dapat mencakup pemeriksaan terhadap perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait pihak terafiliasi dan debitur bank (Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2)). 4. Memerintahkan bank untuk menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan transaksi tertentu apabila menurut penilaian bank Indonesia terhadap transaksi patut diduga merupakan tindak pidana dibidang perbankan (Pasal 31 ayat 2). 5. Mengatur dan mengembangkan sistem informasi antar bank (Pasal 31 ayat 2) Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang undang nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan menyatakan tentang tugas pembinaan dan pengawasan bank; 1. Menetapkan dan menentukan tentang kesehatan perbankan, tata cara pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah serta kegiatan usaha lainya dari bank, tata cara penyediaan informasi oleh bank untuk para nasabah (Pasal 29 ayat (5)). 2. Memeriksa buku-buku dan berkas pada bank yang dibinanya (Pasal 31) 3. Menugaskan Akuntan Public untuk dan atas nama Bank Indonesia melaksanakan pemeriksaan (Pasal 31A). 4. Melakukan tindakan tertentu terhadap bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, diperkirakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya (Pasal 37 ayat (1)). 5. Mencabut izin usaha dan memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum dan membentuk tim likuidasi terhadap bank yang tidak mampu memperbaiki kinerjanya sehingga membahayakan sector perbankan.

122 6. Meminta Pemerintah untuk membentuk badan khusus yang bersifat sementara dalam rangka penyehatan perbankan nasional (Pasal 37 A ayat (1)). 7. Mengeluarkan perintah tertulis agar bank memberikan keterangan dan memperhatikan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpanan tertentu kepada pejabat pajak (Pasal 41 ayat (1)). 8. Memberikan izin kepada pajabat BUPLN/PUPN untuk memproleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank (Pasal 41A) 9. Memberikan izin kepada Polisi, Jaksa, atau Hakim untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank (Pasal 42 ayat (1). 10. Memberikan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Sanksi adminsitrasi yang dapat diberikan kepada bank berupa antara lain; denda uang; teguran tertulis; penurunan tingkat kesehatan bank; larangan untuk turut serta dalam kegiatan kliring; pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor cabang tertentu maupun untuk bank secara keseluruhan; mengangkat penganti sementara sampai RUPS atau Rapat angota untuk mengangkat pengganti yang tetap dengan persetujuan Bank Indonesia; pencantuman anggota pengurus, pegawai bank, pemegang saham dalam daftar orang tercela di bidang perbankan (Pasal 52). 11. Menetapkan pengecualian bagi bank Perkreditan Rakyat mengenai ketentuan kewajiban bank untuk mengaudit neraca dan perhitungan laba rugi tahunan untuk di audit oleh akuntan public (Pasal 36 UUNo. 7/1992) System bisnis perbankan dikenal sebagai Prudential Banking yang maksudnya perbankan harus beroperasi dengan memperhatikan rambu-rambu kehati-hatian yang disusun sendiri.172 Bentuk system yang diciptakan oleh perbankan terutama dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang bertugas untuk mengatur dan 173 mengawasi perbankan untuk melaksanakan pengaturan bank, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia yang nantinya akan membantu perekonomian sebagai peyanggah yang kokoh dalam pembangunan.. Peraturan Bank Indonesia yaitu Ketentuan Hukum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan mengikat setiap orang atau badan hukum dan dimuat dalam lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Bank Indonesia, pada Sistem Pengawasan Perbankan yang mengunakan prinsip kehati-hatian didasari Pasal 25 ayat (1), Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, pada penjelasannya menyatakan Ketentuan-ketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian bertujuan untuk memberikan rambu-rambu
172

173

Sukowaluyo Mintoraharjo, BLBI Simalakama, Peraturan Kekusaan Presiden Suharto, Riset Ekonomi Sosial Indonesia (RESI), Jakarta, 2001, hlm 7. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia