Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS VOLUMETRI

Laporan Praktikum Kimia Dasar II

Oleh: Lestina Sari 1008105016

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA BUKIT JIMBARAN 2011

I.

TUJUAN Menentukan kadar asam asetat pada cuka perdagangan

II.

DASAR TEORI Analisis volumetri merupakan teknik penetapan jumlah sampel melalui perhitungan volume. Sehingga dalam teknik alat pengukur volume menjadi bagian terpenting, dalam hal ini buret adalah alat pengukur volume yang dipergunakan dalam analisis volumetri. Penetapan sampel dengan analisa volumetri didasari pada hubungan stoikiometri sederhana dari reaksi-reaksi kimia, seperti dibawah ini cara ini sering disebut juga dengan titrasi. Untuk proses titrasi zat analit (A) dengan pereaksi (S) atau larutan standar, mengikuti reaksi : a A + b S hasil dimana a adalah molekul analit (A) yang bereaksi dengan b molekul pereaksi (S) atau larutan standar. Pereaksi (S), disebut juga dengan titran. Posisi titran atau larutan standar ada didalam buret, yang selanjutnya kita tambahkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan analit (A) yang ada dalam Erlenmeyer, dengan cara membuka kran yang ada dalam buret. Dalam larutan analit (A) kita menambahkan zat indikator yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa telah terjadi reaksi sempurna dari analit dengan pereaksi dengan adanya perubahan warna dari indikator. Analisis volumetri ini sering diistilah dengan titrimetri dengan satu dasar yaitu penetapan sebuah sampel merujuk pada jumlah volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalensi. Istilah ini untuk menghindari kerancuan, mengingat pengukuran volume tidak hanya terjadi pada reaksi dalam bentuk larutan, namun juga untuk reaksireaksi yang menghasilkan dimana titrasi tidak dilakukan. Indikator adalah suatu senyawa organik kompleks merupakan pasangan asam basa konyugasi dalam konsentrasi yang kecil indikator tidak akan mempengaruhi pH larutan. Indikator memiliki dua warna yang berbeda ketika dalam bentuk asam dan dalam bentuk basanya. Perubahan warna ini yang sangat bermanfaat, sehingga dapat dipergunakan sebagai indikator pH dalam titrasi. Berikut adalah indikator yang sering dipergunakan dalam titrasi sebagai berikut :

Indikator Thymol blue Methyl yellow Bromphenol blue Jingga metil Hijau bromkresol Methyl orange Litmus Phenol red Phenolftalein Thymolftalein

Perubahan Warna Merah ke kuning Merah ke kuning Kuning ke biru Merah ke kuning Kuning ke biru Merah ke kuning Merah ke biru Kuning ke merah Tak berwarna ke merah Tak berwarna ke biru

Kisaran pH 1,2-2,8 2,9-4,0 3,0-4,6 3,1-4,4 3,8-5,4 4,2-6,2 5,0-8,0 6,8-8,4 8,0-9,6 9,3-10,6

Tabel 2.1. Indikator dan perubahan warnanya pada pH tertentu Pada saat perubahan warna, maka telah terjadi reaksi sempurna antara analit dengan pereaksi dan pada kondisi ini terjadi kesetaraan jumlah molekul zat yang bereaksi sesua dengan persamaan reaksinya. Dari percobaan seperti ini kita dapat informasi awal, yaitu konsentrasi dan volume dari pereaksi atau larutan standar. Perhitungan atau penetapan analit didasari pada keadaan ekivalen dimana ada kesetaraan zat antara analit dengan pereaksi, sesuai dengan koofisien reaksinya. Kesetaraan tersebut dapat disederhanakan kedalam persamaan :

dimana, N(s) : Normalitas dari larutan standart (titran) Volume(s): Volume larutan standar (titran) yang dipergunakan dan terbaca dari buret. N(A) : Normalitas dari analit (yang dicari) Volume(A) : Volume analit, diketahui karena kita persiapkan

III.

ALAT DAN BAHAN A. BAHAN Larutan asam oksalat Larutan NaOH Indikator phenolphthalein Larutan cuka perdagangan B. ALAT Buret Pipet volume Erlenmeyer Becker gelas Gelas ukur Corong

IV.

SKEMA KERJA Percobaan 1 : Pembakuan larutan baku sekunder 1. Asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) dikeringkan dalam oven pada suhu 105110 selama 1-2 jam, kemudian didinginkan dalam desikator

2. Asam oksalat ditimbang dengan teliti 6,4327 gram, kemudian dimasukkan dalam labu 1000mL, selanjutnya ditambah air suling sampai tanda tera Pecobaan 2 : Pembakuan larutan baku sekunder NaOH 1. Pipet 10 mL larutan asam oksalat dan dimasukan ke dalam erlenmeyer, lalu ditambahkan 2-3 tetes indikator phenophthalein. 2. Larutan dititrasi dengan NaOH sampai timbul warna merah muda. 3. Volume NaOH yang digunakan dicatat dan diulangi percobaan sekali lagi. 4. Dihitung normalitas rata-rata dari larutan NaOH. Percobaan 3 : Penentuan kadar asam asetat 1. Pipet 10 mL larutan asam cuka perdagangan dan dimasukan ke dalam erlenmeyer, lalu ditambahkan 2-3 tetes indikator phenophthalein. 2. Larutan dititrasi dengan NaOH sampai timbul warna merah muda. 3. Volume NaOH yang digunakan dicatat dan diulangi percobaan sekali lagi.

4. Dihitung kadar asam asetat dalam setiap percobaan dan dihitung pula kadar asam asetat rata-rata dalam larutan cuka perdagangan tersebut

V.

DATA PENGAMATAN Percobaan 1 : Menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat Berat asam oksalat : 15,7588gr

Volume asam oksalat : 1000 mL = 1 L

Percobaan 2 : Menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH Indikator yang digunakan : phenolphthalein

Perubahan warna yang terjadi : merah muda No. 1. 2. Volume H2C2O4.2H2O (ml) 10 10 Volume NaOH (ml) 6,1 5,76

Hitunglah: a. Normalitas NaOH pada setiap percobaan! b. Normalitas rata-rata NaOH!

Percobaan 3 : Menentukan kadar asam asetat Indikator yang digunakan : phenolphthalein

Perubahan warna yang terjadi : ungu No. Volume Asam Asetat (ml) Volume NaOH (ml) 1. 2. 10 10 1,2 1

Hitunglah: a. Kadar asam asetat dalam setiap percobaan dalam gram/100mL! b. Kadar asam asetat rata-rata!

VI.

PERHITUNGAN Percobaan 1 : Menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat Pada percobaan ini digunakan asam oksalat dengan berat 15,7588 gr L-1. Asam oksalat ini digunakan sebagai larutan baku primer dan normalitas daripada asam oksalat ini dapat dihitung dengan cara: Diketahui: H2C2O4 Mr asam oksalat = 90 Volume larutan = 1 L 2H+ + C2O42-

Massa asam oksalat = 15,7588 gr

Ditanya: Nasam oksalat = ...? Jawab: 1 mol H2C2O4 mampu melepaskan 2 mol ion H+ yang berarti: 1 mol H2C2O4 = 2 gram ekivalen (grek), sehingga 1 grek = mol. Dengan demikian, Massa ekivalen H2C2O4 = 90 = 45 gr.

Percobaan 2 : Menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH Volume asam oksalat (Va)= 10 ml Normalitas H2C2O4 (NA) = 0,35 N Volume NaOH (I) = 6,1 ml (II)= 5,76 ml

Ditanya: a) Normalitas NaOH tiap percobaan? b) Normalitas NaOH rata-rata? ~ Untuk Titrasi (I) [volume NaOH= 6,1 ml]

~ Untuk Titrasi (II) [volume NaOH= 5,76 ml]

b). Normalitas NaOH rata-rata

Percobaan 3 : Menentukan kadar asam asetat Dik: CH3COOH CH3COO- + H+

1 mol CH3COOH mampu melepaskan 2 mol ion H+ yang berarti: 1 mol H2C2O4 = 1 gram ekivalen (grek), sehingga 1 mol CH3COOH = 1 grek CH3COOH 25% = 250 gr/L

Pengenceran CH3COOH

V2= 250 ml (cuka+air) M2 = 0,16 M (asam asetat) Dari 250 ml larutan yang diperoleh, hanya 10 ml yang digunakan. Kadar asam asetat untuk pengenceran 25 kali Titrasi I (Vb= 2,5 ml)

[ Kadar CH3COOH

Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 4,176 gr/L = 0,4176 gr 0,4176% Titrasi II (Vb= 2,3 ml)

Kadar CH3COOH :

Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 3,48 gr/L = 0,348 gr 0,348 % B). Kadar cuka rata-rata :

VII.

PEMBAHASAN Dalam praktikum ini terdapat 3 jenis percobaan yaitu menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat, menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH, dan menentukan kadar cuka perdagangan. Tetapi dalam praktikum kali ini hanya dilakukan dua percobaan saja karena untuk penentuan massa asam oksalat sudah diberikan atau sudah ditentukan. Percobaan 2 dan 3 dilakukan dengan menggunakan metode titrasi asambasa dengan indicator phenolphthalein. Basa yang digunakan adalah basa kuat NaOH sebagai titran. Asam yang digunakan adalah asam lemah oksalat dan asam asetat (cuka) sebagai titrat. Pada percobaan ke-2 dengan metode titrasi asam-basa antara asam oksalat dengan NaOH dengan menggunakan penambahan indicator phenolphthalein, warna larutan asam oksalat dari bening menjadi berwarna merah muda. Ini menunjukkan sudah tercapainya titik ekuivalen dalam proses titrasi. Adapun reaksi yang terjadi saat asam oksalat direaksikan dengan NaOH adalah: H2C2O4 + 2 NaOH Na2C2O4 + 2H2O

Dari hasil perhitungan berdasar data yang kami peroleh, normalitas rata-rata NaOH adalah 0,57 N dan 0,6078 N, sehingga normalitas larutan baku sekunder NaOH rata-rata adalah 0,58 N Saat percobaan ke-3 dengan titrasi asam-basa antara CH3COOH dengan NaOH warna larutan cuka dari bening menjadi pink (merah jambu). Peristiwa ini membuktikan telah tercapainya titik ekuivalen di dalam titrasi asam lemah-basa kuat ini. CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Dan dari perhitungan yang kami lakukan didapatkan hasil kadar cuka sebesar 0,4176% dan 0,348% sehingga didapatkan kadar rata-ratanya adalah 0,383%

VIII.

KESIMPULAN Normalitas H2C2O4 yang didapatkan dalam praktikum ini adalah 0,102 N. Normalitas laruan baku sekunder NaOH adalah 0,076 N dan 0,0756 N sehingga normalitas rata-ratanya = 0,0758 N. Kadar larutan Cuka (asam asetat / CH3COOH) adalah 0,432% dan 0,432% sehingga kadar rata-ratanya adalah 0,432%. Terjadinya titik ekuivalen dalam titrasi (dengan penambahan indicator phenolphthalein) ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi merah muda / pink / merah jambu.

DAFTAR PUSTAKA

Tim laboratorium Kimia Dasar, 2008, Penuntun Praktikum Kimia Dasar II, Jurusan Kimia, F.MIPA, Universitas Udayana: Bukit-Jimbaran Petrucci, Ralph.H, 1999, KIMIA DASAR-Prinsip dan Terapan Modern, Edisi KeempatJilid 2, Erlangga: Jakarta. Pudjaatmaka, Buku VOGEL Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta http : // Volumetri _ Chem-Is-Try.Org _ Situs Kimia Indonesia _.htm