Anda di halaman 1dari 34

KMB 2

ASKEP pada pasien DHF

Apa penyakit DBD itu?


Demam Berdarah Dengue

epidemiologi
Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk.

epidemiologi
Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)

Etiologi?
Virus dengue Vektornya : nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.00-10.00) sampai petang hari (16.00-17.00)

Gb. Virus dengue

Tanda dan gejala


1. Demam tinggi selama 5 7 hari 2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi. 3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma. 4. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati. 5. Sakit kepala.

Tanda dan gejala


7. Pembengkakan sekitar mata. 8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening. 9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah). 10. Kadang-kadang terjadi shock sebagai manifestasi pendarahan pada DHF, dimulai dari test torniquet positif dan bintik-bintik pendarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae ini bisa terjadi di seluruh anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi, juga bisa terjadi pendarahan hidung, gusi, dan pendarahan dari saluran cerna, dan pendarahan dalam urine.

Tanda dan gejala


11. Tes Tourniquet yang positif (+) jika > 10 dalam diameter 2,8 mm 12. Hematemesis atau melena 13. Trombositopenia (< 100.000 per mm3) 14. Perembesan plasma. Tanda perembesan plasma efusi pleura,asites, hipoproteinaemia

petechiae

Demam tapal kuda

klasifikasi DHF menurut gejala yang ditimbulkannya,


Derajat I: demam disertai gejala konstitusional tidak khas, manifestasi perdarahan hanya berupa uji tourniquet positif dan/atau mudah memar. Ditandai dengan demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan. Derajat II: ditandai dengan derajat I disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain. Derajat III: terdapat kegagalan sirkulasi seperti nadi cepat dan lemah atau hipotensi, disertai kulit dingin dan lembab serta gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung, dan ujung jari (tanda-tanda dini renjatan), Derajat IV: tekanan darah dan nadi tidak teratur, fase syok (Dengue Shock Syndrome).

patofisiologi
Virus dengue pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin, aktivasi sistem kalikrein peningkatan permeabilitas dinding kapiler ekstravasasi cairan intravaskular berkurangnya volume plasma, hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemi, efusi dan renjatan/Syok hipovolemik anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

Penanganan
1. 2. 3. 4. Tirah baring Pemberian makanan lunak. Pengantian cairan tubuh/ pemberian cairan melalui infus. Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan, mengandung Na + 130 mEq/ liter, K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/ liter, Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter. Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter sampai 2 liter dalam 24 jam. Gastroenteritis oral solution atau kristal diare yaitu garam elektrolid (oralit kalau perlu 1 sendok makan setiap 3 sampai 5 menit)

5. 6.

penanganan
7. Penderita sebaiknya dirawat di rumah sakit diperlukan untuk mencegah terjadinya syok yang dapat terjadi secara tepat. 8. Pemberian obat-obatan: antibiotik dan antipiretik 9. Anti konvulsi jika terjadi kejang 10. Monitor tanda-tanda vital (T, S, N, RR) 11. Monitor adanya tanda-tanda renjatan 12. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut 13. Periksa HB, HT, dan Trombosit setiap hari. 14. Pemasangan infus NaCl atau Ringer melihat keperluanya dapat ditambahkan, Plasma atau Plasma expander atau preparat hemasel. 15. Antibiotik diberikan bila ada dugaan infeksi sekunder.

pengobatan
1. gejala: antipiretik 2. Virus, antiviral nitrit oxide (S-nitroso-Nacetylpenicillamine (SNAP)) 3. Suportif: transfusi darah 4. Obat penghenti perdarahan

Komplikasi
Perembesan plasma dapat mengakibatkan syok, anoksia, dan kematian Perdarahan luas. Effusi pleura Penurunan kesadaran.

Upaya pencegahan
1. lingkungan: PSN dan PSM, 2. Biologi: ikan pemakan jentik 3. Kimiawi: Pengasapan atau fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthoin), dosis yang dipakai adalah 1 liter malathion 95% EC + 3 liter solar, pengasapan dilakukan pada pagi antara jam 07.00-10.00 dan sore antara jam 15.00-17.00 secara serempak.

Kimiawi: Memberikan bubuk abate (temephose) dengan cara menaburkan pada tempat penampungan air yang diulang 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 1 liter air (1 sendok makan berisi 10 gram untuk 100 liter air) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

Pathway??

Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian: - identitas - keluhan utama - riwayat kesehatan - lingkungan

Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernapasan Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles. 2. Sistem Persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran. 3. Sistem Cardiovaskuler Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

3. Sistem Pencernaan Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena. 4. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.

Pemeriksaan fisik
6. Sistem Integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

Pemeriksaan Penunjang
Darah: trombosit menurun, hemoglobin meningkat lebih dari 20%, hematokrit meningkat lebih dari 20%, leukosit menurun pada hari kedua dan ketiga, protein darah rendah. Serologi: HI (hemaglutination inhibition test), uji tes tourniket (+) pemeriksaan serologi imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM).

Diagnosa keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (viremia). Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat akibat anoreksia, mual, muntah. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan energy akibat asupan nutrisi tidak adekuat Konstipasi berhubungan dengan peningkatan penyerapan cairan akibat hipertermi Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi terhadap permasalahan kesehatan yang dialami klien

Perencanaan Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (viremia). Tujuan: suhu tubuh normal (36 370C), pasien bebas dari demam. Intervensi : Kaji saat timbulnya demam Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam.7) Berikan kompres hangat. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal. Ajarkan kepada keluarga tanda-tanda terhadap adanya kenaikan suhu tubuh. Ajarkan keluarga mengenai teknik kompres hangat yang tepat. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.


Tujuan : Volume cairan terpenuhi. Intervensi : Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi. Kaji intake dan output cairan. Berikan cairan untuk setiap pergantian (misalnya 1000 ml selama siang hari, 800 ml selama sore hari, 300 ml pada malam hari) Berikan cairan kesukaan dalam batasan diit Pantau masukan, pastikan sedikitnya 1500 ml. Cairan per oral setiap 24 jam. Pantau haluaran, pastikan sedikitnya 1000-1500 ml/ 24 jam. Pantau tehadap penurunan berat jenis urin. Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, selang dan drain. Ajarkan keluarga tentang tanda-tanda yang membahayakan akibat kekurangan volume cairan. Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan medis lebih lanjut.

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan mual, muntah, anoreksia Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan/dibutuhkan. - Intervensi : Kaji keluhan mual dan muntah yang dialami pasien Kolaborasi dengan tim gizi untuk rencana pemberian menu makanan tinggi nutrisi dan vitamin. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Hindari makanan yang dapat merangsang mual muntah. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan antiemetic. Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan pemberian nutrisi parenteral.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan energy akibat asupan nutrisi tidak adekuat Tujuan: Klien dapat melakukan aktivitas optimal dengan energy yang disesuaikan. Intervensi: - Pantau tanda-tanda vital. - Kaji respon terhadap aktivitas - Kaji pencetus terjadinya penyebab intoleransi aktivitas - Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang penyebab terjadinya intoleransi aktivitas - Bicarakan dengan klien dan keluarga tentang terapi yang akan digunakan. - Berikan tranfusi darah (PRC) pada klien sesuai instruksi dokter - Pantau pemberian tranfusi yang telah diberikan terhadap respon klien - Pastikan patensi set tranfusi yang diberikan - Pastikan patensi selang infus setelah pemberian tranfusi selesai, pastikan tidak ada gumpalan darah (ganti selang infus jika ada sumbatan/gumpalan) - Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan pada klien - Kaji respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan. - Beri informasi yang akurat tentang terapi yang telah dilakukan pada klien dan keluarga klien.

5. Konstipasi berhubungan dengan peningkatan penyerapan cairan akibat hipertermi Tujuan: 1. Pasien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi 2. Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik Intervensi: - Kaji pola eliminasi klien. - Anjurkan klien untuk meningkatkan hidrasi oral. - Berikan bantuan enema dengan cairan fisiologis NaCl 0,9 % - Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali - Observasi pengeluaran feces per rektal bentuk, konsistensi, jumlah - Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses - Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan - Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pencahar jika ada indikasi.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi terhadap permasalahan kesehatan yang dialami klien.

Tujuan: Pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit menjadi bertambah. Intervensi: - Kaji tingkat pengetahuan klien tentang masalah kesehatan yang dialaminya. - Jelaskan tentang konsep penyakit individu - Jelaskan prosedur terapi yang akan diberikan. - Diskusikan pemakaian obat, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan. - Ajarkan kepada klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

7. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh akibat proses inflamasi. Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan suhu pada pasien dapat turun pada standart normal dan terjadi penurunana skala nyeri Intervensi: Identifikasi penyebab atau factor yang dapat menimbulkan peningkatan suhu tubuh: dehidrasi, infeksi, efek obat, hipertiroid. Kaji skala nyeri pada pasien Berikan cairan dan karbohidrat yang cukup untuk meningkatkan hipermetabolisme akibat peningkatan suhu. Anjurkan pasien untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan bila suhu naik / bedrest total. Anjurkan dan bantu pasien menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat. Kolaborasi: Pemberian anti piretik, pemberian anti biotic, pemeriksaan penunjang Monitoring pulmonaly capillary/artery wedge pressure and central venous pressure if appropiate Monitoring peripheral pulsa, capillary refill and temperature and colour of extremities Ajarkan manajemen nyeri dan terapi distraksi.

wassalam