Anda di halaman 1dari 28

BAB I

A. Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas dibandingkan dengan Negara Negara lain, yang terbentang mulai dari sabang sampai marauke. Diapit oleh dua benua dan dua samudera yang memiliki 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau ini memang Negara yang akan kekayaan daerahnya, lebih dari 300 suku tinggal di Indonesia mulai dari pelosok daerah hingga perkotaan yang sekarang mulai tertinggal oleh zaman dan digantikan dengan budaya barat. Hal ini juga memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia itu terdiri dari banyak suku bangsa yang multikultural (memiliki banyak suku), mempunyai bahasa yang berbeda-beda, kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda, kepercayaan yang berbeda, kesenian, ilmu pengetahuan, mata pencaharian dan cara berpikir yang berbedabeda. Pada zaman dahulu Negara Indonesia untuk menjadi sebuah negara yang merdeka dari semua penjajahan yang terjadi, Indonesia harus mempunyai wilayah, penduduk dan pemerintah. Karena cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan yang berdasarkan Pancasila dengan semua aspek kehidupan yang beragam mulai dari cara pandang bahasa, berpikir yang berbeda itulah yang membuat penulis bekeinginan untuk mempelajari dan mendalami tentang Wawasan Nusantara. Wawasan nusantara dibentuk dan dijiwai oleh geopol. Geopol adalah ilmu pengelolaan negara yang menitikberatkan pada keadaan geografis. Geopol selalu berkaitan dengan kekuasaan an kekuatan yang mengangkat paham atau mempertahankan paham yang dianut oleh suatu bangsa atau negara demi menjaga persatuan dan kesatuan.

BAB II
A. Pengertian Geopolitik
Geopolitik berasal dari kata geo dan politik. Geo berarti bumi dan politik berasal dari bahasa Yunani politeia. Poli artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dan teia artinya urusan. Geopolitik merupakan Ilmu penyelenggaraan negara yang setiap kebijakannya dikaitkan dengan masalah masalah geografi wilayah atau tempat tinggal suatu bangsa. Geopolitik biasa juga di sebut dengan wawasan nusantara. Geopolitik diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau territorial dalam arti luas) suatu Negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung kepada system politik suatu Negara. Sebaliknya, politik Negara itu secara langsung akan berdampak pada geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik bertumpu pada geografi sosial (hukum geografis), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala geografi sesuatu suatu yang dianggap Maka relevan dengan karakteristik Negara. kebijakan penyelenggaraan

bernegara didasarkan atas keadaan atau tempat tinggal negara itu. Geopolitik juga bisa disebut wawasan nusantara.

B. Perbandingan Geopolitik Dunia dengan Geopolitik Indonesia


a. Ajaran Frederick Ratzel (1884-1904) Ia adalah seorang ahli Geografi yang mendalami Biologi untuk memperluas cakrawalanya. Dalam bukunya : Anthropo 2

Geography dan Politische Geography, Ia menyatakan bahwa pertumuhan negara mirip dengan pertumbuhan organisme yang butuh ruang hidup untuk mencukupi agar tumbuh dan subur. Intinya adalah dalam pertumbuhan negara, berlaku hokum alam yaitu dimana yang kuat akan bertahan terus dan juga Ia membenarkan ekspansi dalam pertumbuhan negara. Batas batas negara adlah bersifat sementara, jadi apabila negara merasa ruang lingkupnya terbatas dan ingin kebih berkembang maka batas tersebut dapat diubah baik dengan jalan damai maupun dengan jalan paksa. b. Ajaran Rudolf Kjellen (1864 - 1922) Menurut Sarjana Politik Swedia ini, negara adalah suatu organisme. Bukan hanya sekedar mirip. Negara dalam system politik harus menyeluruh meliputi bidang geopolitik, ekonomi politik, demopolitik, krato politik, dan sosio politik. Selain membenarkan ekspansi, Ia juga mengajarkan bahwa sebuah negara harus mampu berswasembada dan memanfaatkan kebudayaan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan negara tersebut. c. Ajaran Karl Haushofer (1896 1946) Pendapat dari jendral yang pernah bertugas di Jepang ini adalah yang paling menuju ke peperangan. Terbukti dalam desertasinya (1914) mengutip Herakleitos yang menyatakan bahwa Perang adalah bapak dari segala hal yang dapat diartikan bahwa perang adalah jalan yang dapat digunakan untuk mendapatkan kejayaan negara. Ajarannya berkembang di bawah kekuasaan Hitler. Bencana Perang Dunia II antara lain disebabkan oleh ajaran Haushofer/Hitler yang ekspansionis dan rasialis. Inti ajaran Haushofer adalah sebagai berikut : Lebensraum (ruang hidup) Negara memerlukan ruang hidup untuk berkembang, hanya negara besar yang dianggap tumbuh sedangkan negara kecil akan mati terserap oleh yang besar. 3

Autarki Suatu negara harus menghasilkan apa yang

diperlukannya Pan- region (perserikatan wilayah) Memperluas wilayah d. Sir Halford Mackinder (1861 - 1947) Pendapat ahli Geografi Inggris ini adalah kekuatan darat berkemungkinan menguasai maritime. Barang siapa yang menguasai daerah Eropa Timur akan menguasai daerah jantung (Eropa Tengah, Eropa Timur, Tibet dan Mongolia), barang siapa yang dapt mneguasai dareah jantung maka dapat menguasai pulau dunia (Eurasia Afrika) dan barang siapa yang menguasai pulau dunia maka dapat menguasai dunia. e. Sir Walter Raleigh (1554 1618) dan Alfred Thajer Mahan (1804 - 1914) Mencetuskan wawasan bahari, yakni siapa yang wilayah dengan membuat perserikatan

menguasai lautan maka akan menguasai perdagangan dan siapa nyang menguasai perdagangan maka akan menguasai dunia. f. W. Mitchel (1887 - 1896), A. Saversky (1894), Ciulio Douhet (1869 - 1930), dan JFC Fuller (1878) Mencertuskan wawasan dirgantara, yakni bahwa kekuatan di udara adalah kekuatan yang paling penting. g. Nicholas J Spykman (1893 - 1943) Mencetuskan wawasan daerah batas Itulah ekspansionisme geopolitik bebarapa dan adu pendapat kekuatan para pakar mengenai

Geopolitik. Sedangkan geopolitik Indonesia tidak mengembangkan melainkan untuk menggunakan plitik 4 sebagai pertimbangan menentukan

nasionalnya dengan mempertimbangkan kondisi geografi wilayah Indonesia yang merupakan Negara Kesatuan.

C. Dasar Pemikiran Wawasan Nasional Indonesia


Wawasan Nasional Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh pemahaman berdasarkan kekuasaan pemikiran bangsa Indonesia dan yang berdasarkan bangsa falsafah pancasila dan oleh pandangan geopolitik Indonesia yang kewilayahan kehidupan Indonesia. Karena dasar pemikiran wawasan nasional Indonesia terdiri atas dasar pemikiran berdasarkan filsafat, kewilayahan, sosial budaya, dan kesejarahan.

1. Dasar Pemikirian berdasarkan Falsafah Pancasila Manusia Indonesia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang mempunyai naluri, akhlak, dan daya dan pikir; sadar akan yang keberadaannya yang serba terhubung dengan sesamanya, lingkungannya, alam semesta, Penciptanya, menumbuhkan cipta, karsa, dan karya untuk mempertahankan eksistensinya. Nilai-nilai Pancasila tercakup dalam penggalian dan pengembangan Wawasan Nusantara(Wawasantara).

Sila Ke-1 : Ketuhanan Yang Maha Esa

- Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa - Hormat menghormati antar pemeluk agama dan toleransi - Kebebasan beragama
Sila Ke-2 : Kemanusiaan yang adil dan beradab

Memberi hak dan kewajiban yang sama kepada setiap warga negara dalam menerapkan HAM

Sila Ke-3 : Persatuan Indonesia

Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara namun tidak mematikan kepentingan individu, golongan, dan suku.
Sila Ke-4 : Kerakyatan dalam yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan

permusyawaratan/perwakilan

Keputusan diusahakan melalui musyawarah untuk mufakat, namun tidak menutup kemungkinan voting.
Sila Ke-5 : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Mengakui dan menghargai hak warga negara untuk mencapai kesejahteraan namun tidak merugikan kepentingan orang lain. Wawasan Nasional Indonesia menghendaki tercapainya persatuan dan kesatuan, namun tidak menghilangkan sifat, ciri, dan karakter kebinekaan. 2. Pemikiran berdasarkan Aspek Kewilayahan Nusantara Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pengaruh geografi terhadap sikap dan tatalaku negara yang bersangkutan merupakan suatu fenomena yang mutlak diperhitungkan. a) Hukum Laut Dalam hukum laut internasional dikenal dua konsep yang bertentangan, yaitu Res Nullius dan Res Communis. Res Nullius yang menyatakan bahwa laut tidak ada yang mem-punyainya, dan oleh karena itu dapat dimiliki tiap-tiap negara. Res Communis, menyatakan bahwa laut itu adalah milik masyarakat dunia dan karena itu tidak dapat dimiliki tiap-tiap negara. b) Deklarasi Juanda Kondisi objektif geografis Nusantara merupakan untaian ribuan pulau, terbentang di khatulistiwa berada pada posisi silang yang strategis. Wilayah Indonesia pada saat

Proklamasi Kemerdekaan Territoriale Zee en

masih mengikuti hukum laut Kringen Ordonantie

Maritieme

(TZEMKO) tahun 1939, dimana lebar laut wilayah Indonesia 3 Mil dari pantai tiap pulau. Hal ini tidak terjamin kesatuan wilayah NKRI. Pada Deklarasi tanggal Juanda 13 Desember 1957 diumumkanlah berdasarkan

yang

berbunyi

pertimbangan-pertimbangan maka pemerintah menyatakan bahwa segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk negara Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian yang wajar daripada wilayah daratan negara Indonesia dan dengan demikian bagian daripada perairan pedalaman atau nasional berada di bawah kedaulatan mutlak negara Indonesia. Lalu lintas dalam di perairan pedalaman bagi kapal-kapal asing dijamin selama tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan batas lautan territorial (yang lebarnya 12 mil) diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulaupulau negara Indonesia . Tujuan inti dari deklarasi juanda antara lain adalah : Perwujudan bentuk wilayah Negara Kesatuan RI yang utuh dan bulat Penentuan batas-batas wilayah negara Indonesia

disesuaikan dengan asas Negara kepualauan (Archipelagic State Principles). Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih

menjamin keamaan NKRI

Deklarasi

Juanda

ini

dikukuhkan

dengan

UU

no.4/Prp/1960, yang menyatakan : Laut wilayah Indonesia 12 mil diukur dari pangkal lurus (Straight Base Line) Semua kepulauan dan laut yang terletak diantaranya harus dianggap sebagai suatu kesatuan. Akibat dari UU tsb wilayah RI berubah luasnya dari 2 juta KM2 menjadi 5 juta KM2 yang terdiri atas + 65% wilayah laut dan + 35% wilayah darat. Wilayah darat terdiri dari 17.508 pulau pulau besar dan kecil dimana baru 6044 yang diberi nama. Kepulauan Indonesia terletak pada batas-batas astronomi sebagai berikut : Utara 6 08 LU ; Selatan 11 15 LS ; Barat 94 45BT ; Timur 141 05 BT ; Jarak utara-selatan sekitar 1.888 km ; Jarak Barat-Timur 5.110 km Melalui Internasional Konfrensi Tahun PBB tentang pokok Hukum asas Laut Negara

1982,

pokok

kepulauan diakui dan dicantumkan dalam konvensi PBB tentang hukum laut, yaitu United Nation Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS). Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 melalui UU no.17 tahun 1985, tanggal 31 Desember 1985. c) Hukum Ruang Udara/dirgantara Hukum udara adalah perangkat kaidah tentang matra udara yang dikaitkan dengan batas yurisdiksi Negara. Perkembangan hokum udara dimulai ketika Perang Dunia I berakhir. Pada saat itu Negara dihadapkan pada: Perlu penegasan konsep kedaulatan ruang udara, dan perlu memperketat pertahanan Negara melalui

control

ruang

udara.

Akhirnya

dicapai

suatu

kesepakatan Demi keselamatan penerbangan perlu ditetapkan standardisasi internasional yang berkaitan dengan prosedur teknis penerbangan (navigasi) udara. Menegaskan prinsip kedaulatan yang utuh dan penuh dari negara-negara atas ruang udara diatas wilayah nasional suatu negara, dilangsungkan jaringan penerbangan sipil internasional secara aman, tertib, teratur, dan nyaman. d) Pemikiran Berdasarkan Aspek Sosial Budaya Budaya merupakan hasil kekuatan budi manusia,

lengkapnya ialah cipta, rasa, dan karya. Budaya dilahirkan dari hubungan antar manusia yang membentuk pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang merangsang hubungan sosial di antara anggotanya. Cipta, karsa, dan karya sangat dipengaruhi oleh lingkungan alamiah tempat manusia hidup. Itulah sebabnya bangsa Indonesia yang mempunyai ruang hidup dengan kondisinya yang masing-masing membentuk karakter bangsa yang berbeda, dari segi etnis, alam, dan pendidikan. Heterogenitas karakter bangsa, secara budaya meliputi: Sistem religi/ keagamaan Sistem masyarakt / organisasi Sistem pengetahuan Sistem keserasian / budaya dalam arti sempit Sistem mata pencaharian / ekonomi, dan Sistem teknologi dan peralatan

Kebudayaan generasi

yang

merupakan

warisan, dan

memaksa memelihara

berikutnya

untuk

menerima

norma-norma. Penerimaan ada yang bersifat emosional yang mengikat secara kuat dan sensitif sehingga dapat memicu konflik sosial, ras, antar golongan (SARA) secara tidak rasional. Keterikatan masyarakat dan daerahnya juga dapat membentuk sentimen daerah yang sering dijadikan perisai terhadap perubahan ketidakmampuan yang individu dalam menghadapi eksistensi dianggap mengancam

budayanya. Jika penerimaan secara emosional ini terus dikembangkan, konflik konflik akan bereskalasi menjadi konflik antar daerah yang bersifat nasional. Untuk itulah diperlukan rekayasa sosial dalam pembangunan karakter nasional (national and character building), yaitu Wawasan Nusantara yang dilandasi Bhineka Tunggal Ika. e) Pemikiran Berdasarkan Aspek Kesejarahan Perjuangan suatu bangsa didasarkan atas latar belakang sejarahnya. Indonesia diawali dari negara-negara kerajaan tradisional, misalnya Sriwijaya dan Majapahit. Rumusan filsafah negaranya belum jelas. Yang ada baru slogan yang ditulis Mpu Tantular : Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Nuansa kebangsaan mulai muncul sejak tahun 1900-an ditandai oleh lahirnya konsep baru dan modern (dasar dan tujuannya berbeda dengan penderitaan konsep dan lama). Penjajahan namun menimbulkan oleh Budi kepahitan,

menimbulkan semangat senasib sepenanggungan. Diawali Oetomo (20-5-1908) yang yang disenut dengan Kebangkitan Nasional menimbulkanwawasan

kebangsaan Indonesia, yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda tanggal 28-10-1928. Proklamasi Kemerdekaan 178-1945 Indonesia mulai menegara. Wilayah NKRI masih berdasarkan warisankolonial Belanda, yaitu batas wilayah perairan berdasarkan Teritoriale Zee 10

en Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939 ialah selebar 3 mil dari garis pangkal tiap pulau. Melalui proses perjuangan yang panjang (28 tahun) Indonesia berhasil mengubah batas wilayah perairan, yaitu 12 mil dari pantai pulau-pulau terluar (Deklarasi Juanda 13 Des 1957). Dengan demikian terwujudlah kesatuan wilayah RI yang disebutkan dengan istilah Konsepsi Nusantara, terdiri atas kata Nusa = pulau dan Antara, yaitu yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Konsepsi Nusantara mengilhami Angkatan-angkatan dalam tubuh TNI untuk mengembangkan wawasan berdasarkan mantranya: Angkatan Darat mengembangkan

Wawasan Benua Angkatan Laut mengembangkan

Wawasan Bahari Angkatan Udara mengembangkan

Wawasan Dirgantara Untuk menghindari ancaman terhadap kekompakan ABRI disusunlah Wawasan Hankamnas yang terpadu dan terintegrasi (merupakan hasil seminar Hankam I tahun 1966), yang diberi nama Wawasan Nusantara Bahari. Pada Raker Hankam tahun 1967, Wawasan Hankamnas dinamakan Wawasan Nusantara. Pada bulan November 1972 Lemhannas mengadakan pengkajian segala bahan dan data Wawasan Nusantara untuk terwujudnya suatu wawasan GBHN nasional. II Dalam Ketetapan Perjuangan MPR di N. dunia IV/MPR/1973 Wawasan Nusantara dimasukkan dalam (Bab huruf E). internasional untuk diakuinya wilayah Nuasantara, sesuai dengan Deklarasi Juanda, merupakan rangkaian perjuangan yang panjang: Dimulai sejak Konverensi PBB tentang

11

Hukum Laut I tahun 1958 kemudian yang II tahun 1960, akhirnya pada konverensi III tahun 1982, pokok-pokok asas negara kepulauan diakui dan dicantumkan dalam UNCLOS 1982.

D. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan

1. Kedudukan Wawasan Nusantara Wawasan Nusantara berkedudukan sebagai visi negara. Visi adalah keadaan atau rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan. Wawasan nasional merupakan visi bangsa yang bersangkutan dalam menuju masa depan. Visi bangsa Indonesia sesuai dengan konsep Wawasan Nusantara adalah menjadi bangsa yang satu dengan wilayah yang satu dan utuh pula. Selanjutnya Wawasan Nusantara dalam paradigma

nasional menurut Rahman HI (2008 : 145-146) dapat dilihat dari spesifikasinya sebagai berikut: 1. Pancasila sebagai falsafah, ideolohi bangsa dan dasar Negara berkedudukan sebagai landasan idiil. 2. Undang-Undang konstitusional 3. Wawasan Nusantara sebagai visi nasional. Dasar (UUD 1945) sebagai

konstitusi negara, bekedudukan sebagai landasan

Berkeddukan sebagai landasan konseptual 4. Ketahanan Nasional sebagai konsepsi nasional

berkedudukan sebagai landasan konsepsional 5. Dokumen Rencana Pembangunan sebagai kebijakan nasional, operasional. berkedudukan sebagai landasan

12

2. Fungsi Wawasan Nusantara Wawasan Nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan, serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijakan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah, maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3. Tujuan Wawasan Nusantara Dasar pemikiran disusunnya Wawawasan

Nusantara sebagai cara pandang Bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila adalah dalam rangka mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu tujuan Wawasan Nusantara pun harus sejalan dengan tujuan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Dengan untuk demikian, ikut serta maka dalam Wawasan usaha Nusantara memiliki dan tujuan dalam untuk kepentingan nasional, dan tujuan keluar penyelenggaraan membina kesejahteraan dan perdamaian dunia. Tujuan Wawasan Nusantara Adalah: 13

a. Kedalam,

adalah

untuk

mewujudkan

satu

kesatuan

segenap aspek kehidupan nasional baik alamiah (geografi, demografi, dan kekayaan alam) maupun aspek sosial yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan dan keamanan. b. Keluar, adalah ikut serta mewujudkan kebahagiaan,

ketertiban dan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

E. Unsur Dasar Wawasan Nusantara


Wawasan nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya merupakan fenomena (gejala social yang dinamis, memiliki tiga unsur dasar yaitu wadah, isi dan tata laku. Unsure dasar dan isi membentuk wawasan nusantara sedangkan tata laku merupakan konsepsi pelaksanaan mewujudkan Wawasan Nusantara. Ketiga unsure dasar tersebut akan diuraikan sebagai berikut. 1. Unsur wadah a. Wujud wilayah Wadah sebagai unsur terbentuknya konsepsi wawasan Nusantara adalah tempat atau organisasi dimana bangsa Indonesia memandang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berwujud sebagai satu kesatuan wilayah yang utuh bertupa Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan asas satu kesatuan Kata wilayah perairan berasal dan dari daratan sesuai Deklarasi Djuanda dan sejalan dengan archipelago. archipelago bahasa yunani archi berarti penting, dan pelages berarti lautan. Dengan demikian asas archipelago menganut bahwa, wilayah lautan lebih penting atau lebih dominan dari unsure daratan. Asas archipelago

14

mengandung

pengertian

wilayah

lautan

dengan

kumpulan pulau pulau di dalamnya, dengan kata lain lautan yang disertai pulau-pulau. Bagi orang orang Indonesia archipelago berarti satu kesatuan wilayah yang batas batasannya ditentukan oleh laut dan didalamnya terdapat pulau pulau atau gugusan pulau. Letak geografis negara Indonesia yaitu berada di posisi dunia antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dan antara dua benua, yaitu banua Asia dan benua Australia. Perwujudan wilayah Nusantara ini menyatu dalam kesatuan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan.

b. Tata Inti Organisasi Bagi Indonesia, tata inti organisasi negara didasarkan pada UUD 1945 yang menyangkut bentuk dan kedaulatan negara kekuasaaan pemerintah, sistem pemerintahan, dan sistem perwakilan. Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Kedaulatan di Rakyat menganut tangan rakyat yang Majelis Sistem presidensial. dilaksanakan Permusyawaratan pemerintahan, sepenuhnya oleh (MPR). sistem

Presiden memegang kekuasaan bersadarkan UUD 1945. Indonesia adalah Negara hukum ( Rechtsstaat ) bukan Negara kekuasaan (Machtsstaat).

c. Tata Kelengkapan Organisasi Wujud tata kelengkapan organisasi adalah

kesadaran politik dan kesadaran bernegara yang 15

harus dimiliki oleh seluruh rakyat yang mencakup partai politik, golongan dan organisasi masyarakat, kalangan pers seluruh aparatur negara. Yang dapat diwujudkan demokrasi yang secara konstitusional berdasarkan UUD 1945 dan secara ideal berdasarkan dasar filsafat pancasila.

2. Unsur isi Negara kesatuan Republik Indonesia sebagai Wadah Nusantara baik sebagai wujud wilalyah maupun organisasi Negara perlu diisi dengan kehendak atau aspirasi dari bangsa Indonesia dalam mewujudkan satu cara pandang bangsa Indonesia yang melihat Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh dalam rangka mencapai satu tujuan nasional. Isi merupakan suatu inspirasi suatu bangsa yang sangat berkembang di dalam suatu masyarakat dan suatu cita-cita serta tujuan nasional yang mana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Menyadari bahwa untuk mencapai aspirasi yang berkembang di masyarakat maupun cita-cita dan tujuan nasional seperti tersebut di atas bangsa Indonesia harus mampu menciptakan persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan dalam kehidupan nasional yang berupa politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam dalam kehidupan nasional. Isi menyangkut dua hal yang essensial, yaitu:

a.

Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama

serta pencapaian cita-cita dan tujuan nasional. b. Persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan yang meliputi semua aspek kehidupan nasional. 16

Isi wawasan nusantara tercemin dalam perspektif kehidupan manusia Indonesia meliputi : a. Cita-cita bangsa Indonesia tertuang di dalam

Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan : 1. Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,

berdaulat, adil dan makmur. 2. Rakyat Indonesia yang berkehidupan kebangsaan yang bebas. 3. Pemerintahan darah Negara dan Indonesia untuk melindungi memajukan

segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah Indonesia kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. b. Asas keterpaduan semua aspek kehidupan nasional berciri manunggal, utuh menyeluruh meliputi : 1. Satu kesatuan wilayah nusantara yang mencakup daratan perairan terpadu. 2. Satu kesatuan politik, dalam arti satu UUD dan politik pelaksanaannya serta satu ideologi dan identitas nasional. 3. Satu kesatuan sosial-budaya, dalam arti satu perwujudan masyarakat Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, satu tertib sosial dan satu tertib hukum. dan dirgantara secara

17

4.

Satu kesatuan ekonomi dengan berdasarkan atas asas usaha bersama dan asas kekeluargaan dalam satu sistem ekonomi kerakyatan.

5.

Satu kesatuan pertahanan dan keamanan dalam satu system terpadu, yaitu sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata).

6.

Satu kesatuan kebijakan nasional dalam arti pemerataan yang pembangunan aspek dan hasil-hasilnya mencakup kehidupananasional.

3. Tata laku Tata laku sebagai unsur dari Wawasan Nusantara adalah kegiatan atau perilaku Bangsa Indonesia dalam melaksanakan aspirasi guna mewujudkan Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh kesatuan yang menyeluruh dalam mencapai tujuan nasional. Tata laku merupakan dasar interaksi antara wadah dengan isi, yang terdiri dari tata laku tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia. Tata laku batiniah terwujud pengamalan Pancasila yang melahirkan sikap mental bangsa. Tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan , perbuatan, dan perilaku dari bangsa Indonesia. Tata laku lahiriah dan merupakan kekuatan yang utuh, dalam arti kemanunggalan. Meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan pengendalian. Tata laku lahiriyah adalah terwujud pelaksanaan dari UUD 1945 oleh seluruh masyarakat maupun aparat ur
Negara.

Kedua hal tersebut akan mencerminkan identitas jati diri atau kepribadian bangsa indonesia berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta kepada 18

bangga dan tanah air sehingga menimbulkan nasionalisme yang tinggi dalam segala aspek kehidupan nasional.

F. Implementasi Wawasan Nusantara


Implementasi atau penerapan wawasan nusantara harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, wawasan nusantara menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Imlementasi wawasan nusantara bertujuan untuk menerapkan wawasan nusantara dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan nasional. Implementasi wawasan nusantara senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh. 1) Implementasi dalam bidang Politik Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan wawasan nusantara, yaitu : a) Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang-undang, seperti UU Parpol, UU Pemilu, dan UU PilPres. Pelaksanaan undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan mementingkan persatuan bangsa. b) Pelaksanaan yang berlaku. kehidupan Seluruh bermasyarakat bangsa Indonesia dan harus

bernegara di Indonesia harus sesuai dengan hukum mempunyai dasar hukum yang sama bagi setiap warganegara tanpa pengecualian.

19

c) Mengembangkan sikap hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk mempersatukan berbagai suku, agama, ras, dan bahasa yang berbeda sehingga menumbuhkan sikap toleransi. 2) Implementasi dalam bidang Ekonomi Implementasi benar menjamin wawasan nusantara dan dalam bidang

ekonomi akan menciptakan tatanan ekonomi yang benarpemenuhan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata. Dan juga dapat mencerminkan tanggung jawab pengelolaan masyarakat SDA antar yang daerah memperhatikan secara timbal kebutuhan balik serta

kelestarian alam itu sendiri. 3) Implementasi dalam bidang Pertahanan dan Keamanan Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan memberikan untuk merupakan wawasan kepada karena setiap nusantara, stiap yaitu kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus kesempatan aktif, kewajiban warganegara tersebut seperti berperan kegiatan

warganegara,

memelihara lingkungan dan meningkatkan kedisiplinan. 4) Implementasi dalam bidang Sosial dan Budaya Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan wawasan nusantara, yaitu mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang berbeda dari segi budaya, status sosial maupun daerah. Contohnya dengan pemerataan pendidikan disemua daerah dan program wajib belajar harus diprioritaskan bagi daerah tertinggal. Beberapa tantangan Implementasi Wawasan Nusantara : 20

Dewasa ini kita menyaksikan bahwa kehidupan manusia baik secara individu dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara semuanya sedang mengalami suatu proses perubahan, dan kita juga menyadari bahwa faktor yang mendorong terjadinya proses perubahan globalnya. Tetapi jika kita menengok sejarah kehidupan manusia dan alam semesta itu sendiri, perubahan dalam kehidupan itu adalah suatu hal yang wajar, yang alamiah. Tidak ada kehidupan dunia itu yang abadi atau kekal kecuali berkaitan dengan Wawasan Nusantara yang sarat dengan nilai-nilai budaya bangsa dan dibentuk dalam proses panjang sejarah perjuangan bangsa. Akankah wawasan bangsa Indonesia tentang persatuan tersebut adalah nilai-nilai kehidupan baru yang dibawakan oleh negara-negara maju dengan kekuatan penetrasi

kesatuan itu larut atau hanyut tanpa bekas atau akan tetap kokoh dan mampu bertahan dalam terpaan dan gempuran nilai global yang menantang Wawasan Persatuan Bangsa Indonesia? Tantangan implementasi wawasan nusantara antara lain adalah pemberdayaan rakyat yang optimal, dunia tanpa batas, serta era baru kapitalisme dan kesadaran warga negara. 1. Pemberdayaan Masyarakat. a. JOHN NAISBIT Dalam bukunya Global Paradox menulis To be a global powers, the company must give more role to the smallest part. pesan peranan Pada bahwa intinya negara global harus paradox dapat kepada memberikan memberikan

sebesar-besarnya

rakyatnya. Dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai tujuan nasional hanya dapat dilaksanakan oleh negara-negara yang sudah maju dengan Buttom Up Planning, sedangkan untuk negara-negara berkembang seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia masih melaksanakan program Top DownPlanning, mengingat 21

keterbatasan sumber daya alam, sehingga diperlukan landasan operasional berupa GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). b. Kondisi Nasional Pembangunan Nasional secara menyeluruh belum merata, sehingga masih ada beberapa daerah Kondisi ketertinggalan keterbelakangan di pola masyarakat, pikir, pola pembangunan dalam aspek yang mengakibatkan

kehidupannya. ini

tersebut menimbulkan kemiskinan dan kesenjangan sosial apabila sikap kondisi pola berlarut-larut mengingat aspek masyarakat di beberapa daerah tertinggal akan berubah dan tindak, masyarakat sudah tidak berdaya dalam

kehidupannya. Hal ini merupakan ancaman bagi tetap tegak dan utuhnya NKRI. Dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat maka diperlukan prioritas utama pembangunan daerah tertinggal, agar masyarakat dapat berperan dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan diseluruh aspek kehidupan, yang di dalam pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah 2. Dunia Tanpa Batas. a. Perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan

Teknologi).Perkembangan global saat ini sangat maju dengan pesat, didukung dengan perkembangan IPTEK yang sangat modern khususnya di bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi seakan akan dunia sudah menyatu menjadi kampung sedunia, dunia menjadi transparan tanpa mengenal batas negara, sehingga dunia menjadi tanpa batas. Kondisi yang demikian membawa dampak kehidupan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dapat mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan pola tindak seluruh masyarakat Indonesia di dalam aspek kehidupannya. Keterbatasan 22

kualitas

SDM

Indonesia

dibidang

IPTEK

merupakan

tantangan serius menghadapi gempuran global, mengingat penguasaan IPTEK merupakan nilai tambah untuk berdaya saing di percaturan global. b. KENICHI OMAHE. Dengan dua bukunya yang terkenal dengan Borderless World dan The End Of The Nation State, mengatakan bahwa, dalam perkembangan masyarakat global, batas-batas wilayah negara dalam arti geografi dan politik masih relatif tetap, namun kehidupan suatu negara tidak mungkin dapat membatasi kekuatan global yang berupa pesan informasi, bahwa investasi, dapat industri dan konsumen yang makin individual. Kenichi Omahe juga memberikan untuk menghadapi kekuatan global, suatu negara harus mengurangi peranan pemerintahan pusat dan lebih memberikan peranan kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Hal ini kiranya dapat dimengerti bahwa, dengan memberikan peranan yang lebih besar kepada pemerintah daerah, berarti memberikan kesempatan berpartisipasi yang lebih luas kepada seluruh masyarakat. Apabila masyarakat yang dilibatkan dalam upaya pembangunan, maka hasilnya akan lebih meningkatkan kemampuan dan kekuatan bangsa dalam percaturan global. 3. Era Baru Kapitalisme a. SLOAN AND ZUREKER. Dalam bukunya Dictionary Of Economics, menyebutkan tentang kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan atas hak milik swasta atasmacam-macam barang dan kebebasan individu untuk mengadakan perjanjian dengan pihak lain dan untuk berkecimpung untuk dalam aktivitas-aktivitas diri sendiri. ekonomi Di era yang baru dipilihnya sendiri berdasarkan kepentingan sendiri serta mencapai laba guna kapitalisme bahwa sistem ekonomi untuk mendapatkan keuntungan dengan melakukan aktivitas-aktivitas secara 23

luasdan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat, sehingga di dalam sistem ekonomi diperlukan strategi baru yaitu adanya keseimbangan.

b. LESTER THUROW. Didalam bukunya The Future Of Capitalism, ditegaskan antara lain bahwa untuk dapat bertahan dalam era baru kapitalisme harus membuat strategi baru yaitu keseimbangan (balance) antara paham individu dan paham sosialis. Dikaitkan dengan era baru kapitalisme tidak terlepas dari globalisasi, maka negaranegara kapitalis yaitu negara-negara maju dalam rangka mempertahankan eksistensinya dibidang ekonomi menekan negara-negara Manusia) dan berkembang lingkungan dengan hidup. menggunakan baru isu yang global yang mencakup demokratisasi, HAM (Hak Asasi Strategi ditegaskan oleh Lester Thurow pada dasarnya telah tertuang dalam falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila yang mengamanatkan keharmonisan kehidupan yang serasi,selaras dan seimbang antara individu, masyarakat, bangsa, manusia dan dalam semesta serta penciptanya. 4. Kesadaran Warga Negara. a. Pandangan Kewajiban. Bangsa Indonesia melihat bahwa hak tidak terlepas dari kewajiban, maka manusia Indonesia baik sebagai warga negara maupun sebagai warga masyarakat, mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Hak dan kewajiban dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu kesatuan. Tiap hak mengandung kewajiban kepulauan kesatuan, dan demikian sebaliknya, atas di kedua-duanya paham muka, negara sehingga 24 merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Negara Indonesia didasarkan kewajian menempatkan Bangsa Indonesia Tentang Hak dan

kepentingan umum atau masyarakat, bangsa dan negara harus didahulukan dari kepentingan pribadi dan golongan

b. Kesadaran

Bela

Negara.

Pada

waktu

merebut

dan

mempertahankan

kemerdekaan

Indonesia

menunjukkan

kesadaran bela negara yang optimal, dimana seluruh rakyat bersatu padu berjuang tanpa mengenal perbedaan, tanpa pamrih dan tidak mengenal menyerah yang ditunjukkan dalam jiwa heroisme dan patriotisme karena senasib sepenanggungan dan setia kawan melalui perjuangan fisik mengusir penjajah untuk merdeka. Di dalam mengisi kemerdekaan perjuangan yang dihadapi adalah perjuangan non fisik yang mencakup seluruh aspek kehidupan, khusunya untuk memerangi sosial, keterbelakangan, kemiskinan, kesenjangan

memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, mengusai IPTEK, meningkatkan kualitas SDM guna memiliki daya saing/kompetitif, transparan dan memelihara serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Didalam perjuangan non fisiksecara nyata kesadaran bela negara mengalami penurunan yang sangat tajam bila dibandingkan dengan perjuangan fisik. Hal ini dapat ditinjau dari kurangnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan adanya beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI, sehingga mengarah ke disintegrasi bangsa.

25

BAB III

Kesimpulan
Geopolitik adalah bagian dari Wawasan Nusantara. Geopolitik di Indonesia berbeda dengan geopolitik nazi yang ekspansionis dan rasialis. Geopolitik Indonesia adalah politik yang dipengaruhi oleh aspek geografi. Wawasan Nusantara merupakan bagian dan falsafah Negara Indonesia yang penting karena visi dan misi negara, serta sebagai alat penyatu bangsa. Unsur dasar Wawasan Nusantara didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, yang berisikan tentang terwujudnya Negara Republik Indonesia dan cara pandang masyarakat dalam beraprisiasi untuk mencapai tujuan nasional. Penerapan Wawasan Nusantara dapat dicerminkan dengan mendahulukan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Jadi, Wawasan Nusantara menjadi pola yang bertindak dalam mendasar cara berpikir bersikap dan yang menyangkut mengatasi masalah

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Wawasan Nusantara dipakai sebagai Wawasan Pembangunan yang rumusnya diresmikan dengan TAP MPR No. IV/1973, TAP MPR No. IV/1978, dan TAP MPR No. II/1983. Rumusan Wawasan Nusantara dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. 26

Daftar Pustaka
http://rahmatarifin93.wordpress.com/2012/04/26/kasus-implementasiwawasan-nusantara/ http://gantengbgt-tugas.blogspot.com/2012/03/hilangnya-pancasilapenyebab-hilangnya.html http://sfauziah81.blogspot.com/2011/05/arah-pandangan-wawasannusantara.html http://ekochayoo84.blogspot.com/2012/04/wawasan-nusantarasebagai-geopolitik.html http://fkipunmas.blogspot.com/2012/07/wawasan-nusantara-dangeopolitik.html http://www.slideshare.net/jayamartha/kewarganegaraan-12-13geopolitikindonesia

http://ogiezone.blogspot.com/2009/03/unsur-unsur-wawasannusantara.html http://asian-spirits.blogspot.com/2010/04/unsur-dasar-wawasannusantara.html http://mellygundar.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-falsefalse-in-x-none-x.html Lembaga Pertahanan Nasional, Kewiraan Untuk Mahasiswa,Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama 1993
27

Tim Dosen Kewarganegaraan Universitas Negri Jakarta, Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta, Unit Pelaksanaan Teknis UPT MKU UNJ,201

28